Berita

Kita Ingin Kembalikan Hakikat Guru Sebagai Pendidik

Print
Category: BERITA
Created on Wednesday, 14 June 2017 Last Updated on Wednesday, 14 June 2017 Published Date Written by Super User

Kompas, 14 Juni 2017 Penerapan lima hari sekolah, yakni dari Senin hingga Jumat dan delapan jam per hari menuai

pro-kontra.Menurut rencana, kebijakan tersebut mulai diberlakukan Juli mendatang bersamaan dimulainya tahun ajaran 2017-2018. Seperti apa konsep lima hari sekolah dan bagaimana wujud penerapannya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy memberikan penjelasan dalam wawancara dengan Kompas di Jakarta, Selasa (13/6). Berikut petikannya: Apa esensi dari kebijakan lima hari sekolah tersebut? Kebijakan ini berupa program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) pada semua jenjang persekolahan.

Wujudnya bukan berupa materi pelajaran yang diajarkan di depan kelas, melainkan dalam bentuk kegiatan di bawah tanggung jawab guru dan sekolah. Untuk itu, jam sekolah yang biasanya 5-6 jam per hari, ditambah menjadi 8 jam. Waktu efektif persekolahan yang biasanya berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 13.00, diperpanjang hingga pukul 15.00. Tambahan dua jam tersebut diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler, termasuk kegiatan krida, karya ilmiah, latihan olah bakat atau olah minat. Tujuannya, untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerja sama, dan kemandirian peserta didik. Bisa disebutkan contohnya? Di lingkungan persekolahan, guru bisa menggali daya nalar siswa dalam bentuk permainan yang lebih santai. Kegiatan tersebut tak hanya dilakukan di sekolah, tetapi bisa juga di luar kompleks sekolah sesuai dengan lingkungan dan konteksnya.

Untuk menggali bakat-minat siswa di bidang seni, misalnya guru dapat mengarahkan siswa berkunjung ke pedepokan seni yang terdekat dari sekolah. Tentang toleransi, siswa dapat diarahkan untuk berkunjung ke rumah ibadah lintas agama atau komunitas. Mengapa guru jadi titik sentral? Mengoptimalkan peran guru merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Selama ini, guru-guru sering mengeluh tidak mampu memenuhi kewajiban mengajar (tatap muka) minimal 24 jam seminggu. Itu karena jam sekolah dan mata pelajaran terbatas. Sejumlah guru mengeluh tak mendapatkan tunjangan. Untuk mengejar tunjangan itu para guru harus mengajar di sekolah lain.

Situasi seperti ini tak sehat. Harus segera dibenahi. Mestinya, beban kerja guru bukan semata-mata diukur dalam jumlah jam tatap muka mengajar di depan kelas. Membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler juga tercakup sebagai beban dan tanggung jawab guru. Regulasi hari sekolah tertuang dalam peraturan Mendikbud Nomor 23 Tahun 2017 yang diterbitkan 12 Juni 2017. Penerapannya bersamaan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017 tentang guru.

Mengapa diberlakukan bersamaan? Kedua regulasi tersebut saling menopang dan terkait. Keduanya memungkinkan guru mengoptimalkan perannya sebagai aparatur sipil negara dengan jumlah jam kerja 37,5 jam per minggu (atau 40 jam per minggu jika waktu istirahat juga dihitung). Kita ingin mengembalikan hakikat guru sebagai pendidik, bukan sekadar pengajar di depan kelas.

Dalam program PPK nanti, hari sekolah yang waktu totalnya mencapai 40 jam, guru dapat mengoptimalkan beban kerja mereka, mencakup perencanaan pembelajaran, pembimbingan, dan pengawasan. Lalu, bagaimana dengan hari Sabtu yang lowong bagi siswa? Apakah justru itu tidak berbahaya bagi perkembangan siswa jika akhir pekan itu diisi dengan kegiatan yang tak terkontrol? Di sinilah peran orangtua untuk mendidik anak dalam keluarga. Dua hari libur di akhir pekan, Sabtu-Minggu, sungguh sangat ideal bagi orangtua untuk mengokohkan nilai-nilai kebersamaan dalam keluarga.

Orangtua tentunya makin sadar untuk tidak terlalu membebani anak- anaknya untuk ikut les ini dan les itu. Pihak sekolah dan orangtua pun hendaknya terus terjalin komunikasi tentang tumbuh kembang sang anak. Beban biaya Bagaimana dengan konsekuensi biaya yang ditimbulkan? Bukankah tambahan jam sekolah berarti menambah risiko pengeluaran makan siang bagi siswa? Mestinya, konsekuensi biaya itu ditanggung oleh pemerintah daerah melalui dana APBD ataupun dana APBN yang disalurkan ke daerah. Satu hal yang menggembirakan, daerah-daerah tampak antusias. Tahun 2017 ditargetkan 5.000 sekolah yang menjadi perintis.

Ternyata, jumlah sekolah yang menyatakan diri siap berdasarkan usulan pemerintah daerah mencapai 9.830 sekolah. Artinya, di luar dugaan, banyak sekolah yang mampu menerapkannya, tersebar di sejumlah provinsi dan kabupaten/kota. Usulan ini sifatnya bottom up (dari bawah), bukan tekanan dari atas. Sudahkah kebijakan ini diperhitungkan dampak penerapannya di semua daerah? Sekali lagi, kebijakan ini tak bersifat paksaan. Kebijakan ini bersifat opsional. Artinya, hanya berlaku untuk sekolah yang benar-benar siap dari segi sumber daya dan kondisi lingkungan sekitar. Kita menyadari betul adanya disparitas sekolah dan daerah beserta aspek sosiologisnya.

Ada yang menganggap kebijakan ini menggerus kekhasan pendidikan keagamaan tertentu termasuk diniyah yang pada sore hari siswanya harus mengikuti pelajaran tambahan? Ini tak perlu dibenturkan. Program penguatan karakter tetap bisa disinkronkan dengan pendidikan yang memiliki kekhasan seperti itu. Para ustaz yang mengajar bisa diajak berkoordinasi untuk mengonversi pelajaran tambahan sore hari dengan materi kegiatan luar kelas.

Para ustadz tentu sudah punya konsep pembelajaran dan evaluasi yang berbasis pada kompetensi psikomotorik siswanya tanpa hanya mengacu pada kompetensi kognitif dan afektif. Mengapa Anda sangat bersemangat memulai program ini pada Juli mendatang? Ya, kita memanfaatkan momentum tahun ajaran baru. Memulai program pada awal tahun ajaran baru, jauh lebih mudah ketimbang memulainya di pertengahan tahun.

Secara jangka panjang apa sasaran program ini? Kelak kepala sekolah akan menjadi manajer yang baik tanpa dibebani tugas mengajar. Selanjutnya kita menata pengawas sekolah. Dengan demikian, metode, proses, dan target mutu pembelajaran dapat dioptimalkan. (ELN/NAR)

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

 

Copyright 2017. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG