Login Form

Berita

EVALUASI IMPLEMETASI ZONA SELAMAT SEKOLAH ( ZoSS ) DI JALAN LETJEN. S. PARMAN DEPAN SD PURWANTORO I KOTA MALANG

EVALUASI IMPLEMETASI ZONA SELAMAT SEKOLAH ( ZoSS )

 

 DI JALAN LETJEN. S. PARMAN  DEPAN SD PURWANTORO I KOTA MALANG

Dalono

 

Departemen Bangunan PPPPTK/VEDC Malang

 

Email : dalono_arwana@yahoo.com.au

 

 

PENDAHULUAN

 

Masalah keselamatan lalu-lintas merupakan bahasan menarik ditinjau dari sisi kemanusiaan maupun ekonomi. Milyaran rupiah telah dibelanjakan akibat kecelakaan lalu-lintas. Di Indonesia tahun 2000 sampai dengan tahun 2005 terjadi peningkatan jumlah kecelakaan jalan raya sebesar 11% per tahun.

 

Prosentase kecelakaan dari sisi jenjang pendidikan rata-rata tahun (Perhubungan Darat 2006) tingkat Sekolah Dasar sebesar 16,80%, tingkat Sekolah Menengah Pertama sebesar 31,76%, tingkat Sekolah Menengah Atas sebesar 44,29% dan Perguruan Tinggi sebesar 7,15%. Untuk mereduksi peningkatan angka maupun resiko kecelakaan tersebut di atas dilakukan strategi dan program aksi keselamatan transportasi jalan, strategi-startegi yang ditempuh (Dirjen Hubdat,2008) salah satunya adalah:

 

Menciptakan masyarakat yang sadar dan menghargai keselamatan di jalan melalui pendidikan salah satu program aksinya adalah program Zona Selamat Sekolah.

 

Kota Malang telah menerapkan program ZoSS terletak di Jalan Letjen. S Parman di depan SD Purwantoro I Kota Malang yang berlokasi pada ruas jalan arteri sekunder. Untuk mengetahui efektifitas penerapan ZoSS telah dilakukan evaluasi tahap pertama (Dirjen Hubdat,2007) dengan hasil sebagai berikut:

 

§   Keberadaan fasilitas ZoSS memberikan dampak positif yaitu kemudahan dan rasa aman bagi anak/orang tua saat menyebarang.

 

§   Memberikan dampak menurunnya tingkat kecepatan kendaraan pada saat melintasi area ZoSS sehingga dapat meningkatkan keselamatan.

 

Tujuan yang ingin dicapai penelitian ini adalah:

 

Mengetahui pengaruh adanya penerapan Zona Selamat Sekolah di Kota Malang terhadap perilaku pengguna jalan serta keselamatan anak-anak sekolah. 

 

Zona Selamat Sekolah

 

Zona Selamat Sekolah (ZoSS) adalah lokasi di ruas jalan tertentu yang merupakan zona kecepatan berbasis waktu untuk mengatur kecepatan kendaraan di lingkungan sekolah (Lamp.Peraturan Dirjen Perhudat, 2006).

 

Tipe Zona Selamat Sekolah

 

Tipe ZoSS (Lamp.Peraturan Dirjen Perhudat, 2006)., ditentukan berdasarkan tipe jalan, jumlah lajur, kecepatan rencana jalan dan jarak pandangan henti yang diperlukan.     Berdasarkan tipe ZoSS dapat ditentukan batas kecepatan ZoSS, panjang ZoSS dan perlengkapan jalan yang dibutuhkan. Apabila terdapat lebih dari 1 (satu) sekolah yang berdekatan (jarak < 80 meter) maka ZoSS dapat digabungkan sesuai dengan kriteria panjang yang diperlukan, beberapa tipe ZoSS anata lain diperlihatkan dalam Tabel 1.

 

        Tabel 1. Tipe ZoSS

 

Tipe Jalan

Tipe ZoSS

Panjang ZoSS (m)

tak terbagi (2/2UD)

2UD-25

150

2UD-20

80

4 lajur Tak Terbagi (4/2UD)

4UD-25

150

4UD-20

802 lajur

4 lajur Terbagi (4/2D)

4D-25

200

4D-20

100

 

                           Sumber : Dirjen Perhudat (2006)

 

 METODE

 

Metode Analisis ZoSS

 

Data sekunder dibandingkan dengan analisis evaluatif dan deskriptif dari hasil penelitian yang saat ini dilakukan.

 

a)  Analisis Perilaku Penyeberang

 

Analisisini bertujuan untuk mengetahui perilaku Penyeberang. Analisis dilakukan dengan memperhatikan tentang prosedur baku menyeberang (tunggu sejenak, tengok kanan, tengok kiri, tengok kanan lagi), cara menyeberang, penggunaan fasilitas dan stastus Penyeberang.   Metode yang digunakan adalah deskripsi eksplanatori dengan teknik pendeskripsian sederhana menggunakan tabel dan diagram, selain itu analisis data juga dilakukan dengan menggunakan uji normal, yaitu :

 

                              

 

                                 n = ukuran sampel

 

Berdasarkan nilai Zhit dibandingkan dengan Ztabel dengan tingkat kesalahan 5%, maka dapat diambil kesimpulan:

 

·          Cara menyeberang di lokasi ZoSS tersebut sudah benar jika Zhit ≥ Ztabel 

 

·          Cara menyeberang di lokasi ZoSS tersebut belum benar.jika Zhit < Ztabel

 

 

 

b)  Analisisi Perilaku Pengendara Kendaraan

 

Analisis pengukuran perilaku Pengendara kendaraan ini meliputi arah kedatangan kendaraan, lokasi berhentinya kendaraan serta menaikan atau menurunkan anak sekolah dari kendaraan seperti pada Tabel 4.4.

 

Analisis pengukuran perilaku Pengendara dilakukan dengan menggunakan uji Z seperti tersebut diatas.

 

Kemudian nilai Zhit dibandingkan dengan Ztabel dengan tingkat kesalahan 5%,  maka dapat diambil kesimpulan:

 

·          Perilaku Pengendara di lokasi ZoSS tersebut sudah selamat jika Zhit ≥ Ztabel.

 

·          Perilaku Pengendara di slokasi ZoSS tersebut belum selamat jika Zhit < Ztabel.

 

c)  Analisis Kecepatan Kendaraan

 

Kecepatan kendaraan sesuai dengan ketentuan tipe ZoSS yang beroperasi (25 km/jam).Analisis pengukuran kecepatan kendaraan meliputi jenis dan kecepatan kendaraan

 

Analisis pengukuran kecepatan kendaraan dilakukan dengan menggunakan uji Z

 

       

 

dimana n = ukuran sampel

 

Untuk tingkat kepercayaan 95%, maka akan didapat nilai Ztabel = 1,645. Nilai Zhitdibandingkan dengan Ztabel dengan tingkat kesalahan 5%, maka kesimpulan yang didapat :

 

·      Zhit≤ Ztabel  maka pengguna jalan di lokasi ZoSS  tersebut sudah selamat

 

·      Zhit > Ztabel  maka pengguna jalan di lokasi ZoSS  tersebut belum selamat

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Evaluasi Efektifitas Zona Selamat Sekolah

 

Evaluasi Penerapan ZoSS

 

Evaluasi penerapan ZoSS yang berlokasi di jl. Lenjend. S. Parman di depan SDN Purwantora I, dengan pemenuhan kreteria ZoSS adalah sebagai berikut:

 

1)    Perilaku Penyeberang

 

a. Prosedur baku menyeberang

 

Pagi hari kondisi eksisting prosedur T1 = 100 % sebelumnya T1 = 100%, kondisi eksisting prosedur T2 = 84 % sebelumya T2 = 100 % terjadi penurunan sebesar 16 %.  Kondisi eksisting prosedur T3 = 18 % sebelunya T3 = 90 % terjadi penurunan sebesar 72 %, sedangkan kondisi eksisting prosedur T4 = 58 %  sebelumnya T4 = 0 %, terdapat peningkatan 58 %. 

 

Pada waktu siang hari kondisi eksisting prosedur T1 = 100 % sebelumnya T1 = 0 % kondisi eksisting prosedur T2 = 94 % sebelumya T2 = 0 % terjadi peningkatan sebesar 94 %.  Kondisi eksisting prosedur T3 = 49 % sebelunya T3 = 0 % terjadi peningkatan sebesar 49 %, sedangkan kondisi eksisting prosedur T4 = 63 %  sebelumnya T4 = 0 %, terdapat peningkatan 63%, seperti diperlihatkan pada Gambar 1.

 

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Temuan ini diperkuat hasil wawancara Penyeberang jalan kurang memahami prosedur 4T, disebabkan kurangnya informasi dan pengetahuan tentang ZoSS. Tetapi Penyeberang memahami ZoSS sebagai tempat aman untuk menyeberang  dan sarana kemudahan akses ke lokasi sekolah.

 

 

b.    Cara menyeberang

 

Pada waktu pagi kondisi eksisting penyeberang menyeberang dengan cara berlari sebesar 19 % sebelum sebesar 10 %, terjadi penurunan sebesar 9 %, kondisi eksisting menyeberang  berjalan sebesar81 % sebelumnya  sebesar 90 % terjadi penurunan sebesar 9%.

 

Pada waktu  siang hari kondisi eksisting menyeberang berlari sebesar 17 % sebelunya 0 % terjadi penurunan sebesar 17 %, sedangkan kondisi eksisting menyeberang  berjalan sebesar 83 % sebelumnya sebesar 0 %,  terjadi peningkatan sebesar 83 %., seperti diperlihatkan pada Gambar 2.

 

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Temuan ini diperkuat hasil wawancara Penyeberang jalan kurang informasi dan pengetahuan tentang ZoSS. Tetapi penyenyeberang memahami ZoSS adalah tempat aman untuk menyeberang dan sarana akses ke lokasi sekolah sangat mudah.

 

a.  Fasilitas Penyeberangan

 

Pada waktu pagi kondisi eksistingpenyeberang yang menggunakan zebra cross sebesar98 % sedangkan pada kondisi sebelumnya adalah sebesar 65 %, berarti telah terjadi peningkatan sebesar 33 %. Menyeberang  tanpa menggunakan zebra cross kondisi eksisting sebesar 2 %  sedangkan pada kondisi sebelumnya adalah sebesar 35 %, disini terjadi penurunan sebesar 33 %.

 

Pada waktu siang hari kondisi eksisting penyeberang menggunakan zebra cross sebesar 94 % sedangkan pada kondisi sebelumnya adalah sebesar 0 %, terjadi peningkatan sebesar 94 %. Sedangkan cara menyeberang  tanpa menggunakan zebra cross kondisi eksisting sebesar 6 % sedangkan kondisi sebelumnya sebesar0 %, dalam hal ini terjadi penurunan sebesar 6 %, seperti diperlihatkan pada Gambar 3.

 

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Temuan ini diperkuan hasil wawancara dengan Penyeberang sangat memahami menyeberang menggukan zebra cross.  Penyeberang memahami ZoSS adalah tempat aman untuk menyeberang dan sarana akses ke lokasi sekolah sangat mudah.

 

b.  Status Penyeberang

 

Pada waktu pagi hari untuk penyeberang dengan status mandiri terjadi penurunan sebesar 18%. Yakni bila pada kondisi sebelumnya adalah sebesar 95%  namun pada kondisi eksisting turun menjadi 77%,  sedangkan untuk penyeberang dengan cara menyeberang  tidak mandiri naik sebesar 18% yakni dari kondisi sebelumnya sebesar 5%.  menjadi 23% pada kondisi eksisting.

 

Pada kondisi siang hari untuk penyeberang dengan status mandiri terjadi peningkatan sebesar 77% yakni bila pada kondisi sebelumnya adalah sebesar 0%  namun pada kondisi eksisting naik menjadi 77%,  sedangkan untuk penyeberang dengan cara menyeberang  tidak mandiri naik sebesar 23% yakni dari kondisi sebelumnya sebesar 0% menjadi 23% pada kondisi eksisting, seperti diperlihatkan pada Gambar 4.

 


                                                                                        

 

  Temuan  ini diperkuat hasil wawancara dengan penyebarang masih kurang informasi dan pengetahuan tentang ZoSS. Penyeberang memahami ZoSS adalah tempat aman untuk menyeberang dan sarana akses ke lokasi sekolah sangat mudah.

 

Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi ZoSS semakin siang mendekati jam 07.00 WIB kecendurungan anak menyeberang dengan tergesa – gesa mengabaikan persyaratan keselamatan menyeberang  karena takut terlambat masuk ke kelas.

 

Dari uji statistik dengan tingkat kesalahan 5 %   Z hit >Ztabel, dengan demikian perilaku anak sekolah saat menyeberang jalan belum merasa ”Aman”.

 

Maka persyaratan Penyeberang jalan yang dipersyaratkan ZoSS belum terpenuhi atau dengan kata Penyeberang jalan di lokasi ZoSS belum merasa ”aman”

 

2)  Kecepatan sesaat

 

Kondisi eksisting pada waktu pagi hari arah Surabaya – Malang kecepatan kendaraan dibawah 25 km/jam sebesar 1.94 % kecepatan diatas 25 km/jam sebesar 98.06 %, kecepatan rata – rata sesat 29.61 km/jam. Arah Malang – Surabaya kecepatan kendaraan dibawah 25 km/jam sebesar 4.17 % kecepatan diatas 25 km/jam sebesar 95.83 %, kecepatan rata – rata sesat 42.02 km/jam.

 

Pada waktu siang hari arah Surabaya – Malang kecepatan kendaraan dibawah 25 km/jam sebesar 0 % kecepatan diatas 25 km/jam sebesar 100 %, kecepatan rata – rata sesaat 31.52 km/jam. Arah Malang – Surabaya kecepatan kendaraan dibawah 25 km/jam sebesar 46.67 % kecepatan diatas 25 km/jam sebesar 53.33 %, kecepatan rata – rata sesat 26.40 km/jam.

 

Dengan membandingkan kondisi eksisting dengan sebelumnya ditemukan perbaikan perilaku ditandai dengan penurunan kecepatan rata – rata sebesar 1.33 km/jam atau setara dengan 2.99 %.

 

Hal tersebut diperkuat hasil wawancara terhadap Pengendara, Pengendara belum memahami kecepatan di area ZoSS sebesar 25 km/jam. Pengendara kurang informasi danpengetahuan tentang ZoSS, tetapi dengan adanya ZoSS dirasakan masih memberi kemudahan mengakses perjalanan di area ZoSS serta tidak menggagu Pengendara.

 

Sedang dari uji statistik dengan tingkat kesalahan 5 %  Z hit.>Ztabel, dengan demikian kecepatan kendaraan yang melintasi area ZoSS belum memberikan rasa ”Aman” terhadap anak sekolah.

 

 

3)  Perilaku Pengendara

 

a.  Arah kedatangan kendaraan

 

Pada waktu pagi hari kondisi eksisting arah kedatangan kendaraan Pengendara diseberang jalan sebesar 28 % didepan sekolah sebesar 72 %.  Pada waktu siang hari kedatangan kendaraan Pengendara diseberang jalan sebesar 15 % di depan sekolah 85 %

 

Pada pagi hari arah kedatangan kendaraan pengendara diseberang jalan kondisi eksisting sebesar 28% sebelumnya sebesar 15% terjadi penurunan sebesar 13%. Sedangkan untuk arah kedatangan kendaraan pengendara di depan sekolah terjadi penurunan sebesar 13% yakni dari 85% pada kondisi sebelumnya menjadi 72% pada kondisi eksisting. Seperti diperlihatkan pada Gambar 5.

 

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Berdasarkan pengamatan di lokasi banyak Pengendara kendaraan roda dua kedatanngannya arah kanan sekolah.

 

Hal ini diperkuat hasil wawancara dengan Pengendara, Pengendara kurang informasi dan pengetahuan tentang ZoSS, tetapi dengan adanya ZoSS dirasakan masih memberi kemudahan mengakses perjalanan di area ZoSS serta tidak menggagu Pengendara.

 

b.  Lokasi berhentinya kendaraan

 

Pada waktu pagi hari kondisi eksisting pengendara yang telah menghentikan kendaraan di lokasi yang sesuai pada tempatnya adalah sebesar 89%sedangkan pada kondisi sebelumnya adalah sebesar 90%, jadi dalam hal ini terjadi penurunan sebesar 1%. Adapun kendaraan pengendara yang berhenti tidak pada tempatnya terjadi kenaikan sebesar 9%. yakni dari kondisi eksisting sebesar 19% sedangkan sebelumnya sebesar 10%, seperti diperlihatkan pada Gambar 6.

 

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Berdasarkan pangamatan pada saat pengamatan Pengendara mengantarkan anak sekolah banyak yang berhenti di bahu jalan, belum ada sarana parkir khusus untuk kendaraan pengantar.

 

Hal ini diperkuat hasil wawancara dengan Pengendara, Pengendara kurang informasi dan pengetahuan tentang ZoSS, tetapi dengan adanya ZoSS dirasakan masih memberi kemudahan mengakses perjalanan di area ZoSS serta tidak menggagu Pengendara.

 

c.   Naik/Turun dari kendaraan

 

Pada kondisi pagi hari naik/turunnya anak sekolah disebelah kiri kendaraan pada kondisi eksisting adalah sebesar 78% sedangkan pada kondisi sebelumnya adalah sebesar 80%,sehingga terjadi penurunan sebesar 2%. Naik/turunnya anak sekolah dari sisi kanan kendaraan pada kondisi eksisting adalah sebesar 22% dan pada kondisi sebelumnya adalah sebesar 2 %, disini terlihat terjadi kenaikan sebesar 2%.

 

Pada waktu siang  hari tidak dapat dibandingkan karena tidak tersedia data sebelumnya. Dengan demikian secara umum bisa dikatakan bahwa terjadi penurunan perilaku pengendara saat memilih tempat untuk menaikkan atau  menurunkan anak sekolah yaitu sebesar 2 %.seperti diperlihatkan pada Gambar 7.       

 

 

 

 Hal ini diperkuat hasil wawancara dengan Pengendara, Pengendara kurang informasi dan pengetahuan tentang ZoSS, tetapi dengan adanya ZoSS dirasakan masih memberi kemudahan mengakses perjalanan di area ZoSS serta tidak menggagu Pengendara.

 

Dari uji statistik dengan tingkat kesalahan 5 %  Zhit.< Ztabel, maka diduga perilaku pengantar/pengendara masih belumbisa memberikan rasa aman/keselamatan pada anak sekolah/penyeberang jalan.

 

Dengan demikian dari hasil analisis yang telah dilakukan terkait dengan penerapan  ZoSS di Jl. Letjend. S Parman (depan SDN Purwantoro I) Kota Malang baik dinilai dari perilaku penyeberang jalan, kecepatan sesaat kendaraan dan perilaku pengendara kendaraan ternyata  hampir semua persyaratan belum terpenuhi, sehingga secarakeseluruhan keberadaaan ZoSS masih belum bisa memberikan rasa ”aman” terhadap penyeberang Jalan

 

 

 

REKOMENDASI                                            

 

·      Dipertimbangkan untuk meninjau ulang penerapan ZoSS dengan mengkoordinasikan berbagai pihak yang terkait diantaranya Dinas Pendidikan, Dinas Perhubungan, Dinas Bina Marga, Kepolisian dan para akademisi untuk memperoleh  hasil yang lebih maksimal.

 

·      Pada area ZoSS diusulkan dipasang alat kontrol kecepatan, untuk mengontrol kecepatan kendaraan yang lewat sebagai bukti penindakan hukum.

 

·      Peningkatan pemahaman Zona Selamat Sekolah, bagi  Pengendara kendaraan melalui pembinaan secara edukatif terhadap para pelanggar rambu dan marka ZoSS. Untuk anak sekolah melalui pendidikan yang terintegrasi dengan kurikulum. Untuk para Pengendara dengan penyuluhan secara berkala bekerjasama dengan berbagai pihak yang terkait.

 

 KESIMPULANDAN SARAN

 

Kesimpulan

 

Dari hasil temuan penelitian berkenaan dengan kajian program aksi keselamatan transportasi jalan: kasus Zona Selamat Sekolah (ZoSS) dan potensi lajur sepeda motor di kota Malang dapat disimpulkan sebagai berikut:

 

         Dari hasil anailisis yang telah dilakukan ditemukan penerapan  ZoSS di jl. Letjend. S Parman di depan SDN Purwantoro I kota Malang masih kurang memberikan pengaruh ”positif” terhadap perilaku pengguna jalan dan keselamatan anak – anak sekolah.  Hal ini ditunjukan dari ke tiga persyaratan ZoSS yaitu Penyeberang jalan belum merasa aman, kecepatan sesaat kendaraan dari semua arah di area ZoSS sebesar 97,96% diatas kecepatan maksimum yang disyaratkan (25 km/jam) dan Pengendara kendaraan/pengantar belum memberikan rasa aman terhadap anak sekolah.

 

Ditemukan pula penurunan perilaku Penyeberang jalan dan Pengendara kendaraan serta perbaikan penurunan kecepatan kendaraan sesaat di lokasi ZoSS dibandingkan evaluasi sebelumnya.

 

Hal ini didukung hasil wawancara terhadap Penyeberang dan Pengendara kendaraan kurang pemahamannya terhadap ZoSS.  Tetapi ZoSS sebagai tempat menyeberang dan sarana akses yang mudah ke lokasi  sekolah serta Pengendara tidak merasa terganggu dengan keberadaan ZoSS.

 

 Saran

 

·      Rambu jalan yang terpasang secara berkala dibersihkan dari penghalang terutama daun dan ranting pohon, demikian juga marka jalan secara berkala dilakukan pengecatan ulang supaya terlihat dengan jelas oleh pengguna jalan.

 

·      Diperlukan lokasi parkir kendaraan pengantar untuk naikan/turunkan anak sekolah sehingga tidak menggunakan bahu jalan.

 

·      Agar dilakukan studi lebih lanjut dengan analisis perilaku Penyeberang dan karakteristik lalulintas, terutama perilaku anak sekolah dengan membandingkan jam-jam 06.00 – 7.30, jam 12.00 – 13.30 WIB dengan durasi waktu per 30 (tiga puluh) menit.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim, 2006, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: KM 14 tahun 2006 tentang Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas di Jalan, Jakarta.

 

Bina Marga, 1997. Manual Kapasitas Jalan Indonesia: Jalan Perkotaan, Bina marga, Bandung

 

Departemen perhubungan, 2007. Laporan Monitoring dan Evaluasi Zona Selamat Sekolah, Jakarta. http:?? www.hubdat.web.id/webktd/file/zoss2007.pdf, tanggal 22 april 2008, Evaluasi & monitoring ZoSS.

 

Harnen,S, 2007. Keselamatan Transportasi Jalan, Strategi, Kelembagaan dan Program Aksi dalam dalam Pembentukan Dewan Transportasi Jalan Universitas Brawijaya. Malang.

 

Perhubungan Darat, 2006. Lampiran Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Darat No: SK 3236/AJ 403/DRJD/2006 tentang Uji Coba Penerapan Zona Selamat Sekolah di 11 ( sebelas ) Kota di Pulau Jawa, Perhubungan Darat, Jakarta.

 

Radin,U et  al, 2005 , Multivariate Analysis of Exclusive Motorcycle Accidents and the Effectsof Exclusive Lanes in Malaysia. J Crash Prevention and Injury Control, vol.2(I), pp. 11-17, Malaysia

 

Teik Hua LAW and Radin Umar, 2005. Determination Of Comfortable Safe Width In An Exclusive Motorcycle Lane, Journal of EASTS Vol. 6, pp. 3372 - 3385,Malaysia

 

 




PPPPTK BOE. Jl.Teluk Mandar, Tromol Pos 5 Telp.0341-491239, 495849, Fax.0341-491342, Arjosari Malang Jawa Timur Indonesia