ANALISIS PERCEPATAN WAKTU DAN BIAYA PROYEK DENGAN MENGGUNAKAN METODE CRASHING

Print
Category: ARTIKEL
Last Updated on Monday, 02 February 2015 Published Date Written by Pak Yo

ABSTRAK

               Analisis waktu dan biaya pelaksanaan proyek merupakan unsur penting dalam pelaksanaan suatu proyek, terjadinya keterlambatan dalam suatu pelaksanaan proyek akan menyebabkan pembiayaan melampaui batas anggaran yang direncanakan, bila jadwal dan waktu tidak terkendali sebagaimana mestinya maka akan merugikan berbagai pihak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari waktu pelaksanaan konstruksi yang optimal dan mengevaluasi biaya atau dana pelaksanaan konstruksi dalam kaitannya dengan waktu pelaksanaan yang telah dioptimalkan pada pelaksanaan pembangunan Gedung Pendidikan dan Pelatihan Tahap IV P4TK / VEDC Malang Adapun metode yang digunakan untuk menganalisis adalah dengan menggunakan metode Crashing,  Kurva S, Diagram batang atau Gant Chart. Pada pelaksanaan pembangunan Gedung Pendidikan dan Pelatihan Tahap IV P4TK /VEDC Malang terjadi percepatan waktu pelaksanaan proyek sehingga terjadi pengurangan biaya dari anggaran yang sudah direncanakan. Konsep nilai hasil atau yang lebih dikenal dengan earned value method, yang secara umum dapat juga dikenal sebagai teknik integritas biaya dan waktu, mempunyai konsep dasar tentang penilaian progres pelaksanaan lapangan dengan skala yang terdiri dari dua variabel yaitu biaya dan waktu  sehingga dari hasil penelitian terjadi selisih biaya sebesar Rp 51.793.943.77  yang didapat dari rencana anggaran semula sebesar Rp 958.990.797.23 menjadi Rp 1.010.784.741.00 . Berdasarkan perhitungan waktu didapatkan perkiraan waktu total proyek adalah 213 hari. Sedangkan menurut rencana sesuai dengan schedule selesainya proyek adalah 303 hari, sehingga terjadi percepatan waktu sebesar 90 hari dari rencana semula.

Kata kunci : biaya dan konsep nilai hasil, percepatan, waktu pelaksanaan

       Pada industri konstruksi ketentuan mengenai biaya, mutu dan waktu penyelesaian pekerjaan konstruksi sudah terikat di dalam kontrak dan ditetapkan sebelum pelaksanaan pekerjaan konstruksi dikerjakan. Seperti diketahui, waktu penyelesaian yang dibutuhkan untuk proses pekerjaan konstruksi selalu dicantumkan dalam dokumen kontrak karena akan berpengaruh penting terhadap nilai pelelangan dan pembiayaan pekerjaannya sendiri.

Waktu pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang tidak terkendali  sebagaimana mestinya akan dapat menyebabkan pemilik akan mengalami kesulitan biaya dalam penyelesaian pekerjaan suatu proyek, demikian pula dengan kontraktor akan dapat mengalami kerugian biaya sehingga kontraktor dalam hal ini harus selalu berusaha untuk mengendalikan waktu pelaksanaan  yang dituangkan dalam jadwal rencana kerja yang telah ditentukan, dalam proses pekerjaan konstruksi tanpa mengabaikan pengendalian mutu. Waktu, biaya dan mutu ketiganya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan .

Rangkaian dalam kegiatan konstruksi adalah saling berurutan dan saling berkaitan. Dalam perencanaan suatu proyek, seorang pengambil keputusan seringkali dihadapkan pada suatu pilihan dalam menetapkan sumber daya yang tepat, misalnya jumlah tenaga kerja, peralatan, metode dan teknologi untuk melaksanakan suatu kegiatan proyek konstruksi.

Setiap pemilihan aktivitas yang ditetapkan akan bermuara pada waktu, biaya, dan mutu dari suatu kegiatan proyek. Untuk proyek konstruksi pada umumnya mutu merupakan elemen yang harus tetap dipertahankan agar selalu sesuai dengan perencanaan, sedangkan apabila terjadi adanya keterlambatan waktu pelaksanaan proyek atau karena atas permintaan dari owner/pemilik proyek untuk mempersingkat waktu pelaksanaannya, maka perlu dilakukan usaha percepatan waktu pelaksanaan proyek.

Pelaksanaan 35 Proyek Pemerintah Mengalami Keterlambatan Serius. Lembaga donor yang tergabung dalam CGI, seperti Bank Dunia, ADB, JBIC menemukan adanya 35 proyek yang dimonitor Bappenas menglami keterlambatan serius dalam pelaksanaannya. Keterlambatan tersebut selain disebabkan keterlambatan penerbitan dokumen anggaran pengeluaran pembangunan, masalah pembebasan tanah, tidak mencukupinya dana pendamping dalam bentuk rupiah, lemahnya manajemen proyek, jaminan simpanan (backlog) yang cukup tinggi, dan adanya penolakan sebagian masyarakat di beberapa daerah. Proyek Departemen Kimpraswil yang mengalami keterlambatan serius antara lain Segara Anakan Conservation & Development Project, Northern Sumatera Irrigation Agricultural Sector (ADB) dan Bili-Bili Irrigation (JBIC), Kompas, 2003.

 Dengan perencanaan yang tepat, maka seluruh kegiatan proyek dapat dimulai  dan selesai pada waktu yang secepatnya dengan alokasi waktu yang cukup, dengan biaya yang serendah mungkin, serta dengan mutu yang dapat diterima.

1. Kurva S Sebagai Pengendali Proyek

       Curve S dapat dimanfaatkan untuk mengungkapkan secara grafis arus kas pembiayaan suatu proyek konstruksi. Hal tersebut dimungkinkan karena lazimnya pembiayaan pembayaran untuk kontraktor didasarkan pada prestasi kemajuan pekerjaan, baik secara berkala bulanan/persentase prestasi.

 

Arus kas pembiayaan konstruksi dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Arus kas pembiayaan konstruksi (Dipohusodo, 1996)

Untuk mendapatkan kemajuan pekerjaan menurut curve (a), kontraktor harus mampu membiayai kegiatannya terlebih dahulu sesuai curve (b), selanjutnya dilakukan realisasi pembayaran kepada kontraktor yang pada gambar diestimasikan sesuai dengan curve (c).

Ada 2 cara pengolahan jadwal pekerjaan proyek (Badri, 1991), yaitu :

a. Network Planning

Sistem ini dimaksudkan untuk merencanakan dan mengendalikan sejumlah besar kegiatan yang memiliki hubungan ketergantungan kompleks dalam masalah design-engineering, konstruksi, dan pemeliharaan. Usaha-usaha ditekankan untuk mencari metode yang dapat memperkecil biaya dalam hubungannya dengan kurun waktu penyelesaian suatu kegiatan.

b. Bar Chart

Diagram balok/bar chart disusun dengan maksud mengidentifikasi unsur waktu dan urutan dalam merencanakan suatu kegiatan, yang terdiri dari saat mulai dan saat penyelesaian. Agar ukuran yang digunakan untuk setiap pekerjaan dalam menghitung bobot sama, maka satuan tiap pekerjaan dinyatakan dalam satuan uang (rupiah).

2. Jalur Kritis

       Untuk menentukan kegiatan yang bersifat kritis, dan kemudian menentukan jalur kritis, dapat dilakukan hitungan ke depan (Forward Analysis) dan hitungan ke belakang (Backward Analysis). Hitungan ke depan (Forward Analysis) dilakukan untuk mendapatkan besarnya Earliest Start (ES) dan Earliest Finish (EF). Sebagai kegiatan predecessor adalah kegiatan i, sedangkan kegiatan yang dianalisis adalah kegiatan j, (Bennett, 1996).

Besarnya ESjdan EFj dihitung sebagai berikut :

 ESj = ESi + SSij atau

ESj  = EFi + FSij                                                                     (1)                    

EFj = ESi + SFij atau Efj = EFi + FFij atau ESj + Dj               (2)

Catatan :

a. Jika ada Iebih dan satu anak panah yang masuk dalam suatu kegiatan, maka diambil nilai terbesar.

b. Jika tidak ada diketahui FSij atau SSijdan kegiatan non splitable, maka ESj dihitung dengan cara berikut:

ESj = EFj – Dj                                                                         (3)                                                    

Perhitungan ke belakang (Backward Analysis) dilakukan untuk mendapatkan besarnya Latest Start (LS) dan Latest Finish (LF), sebagai kegiatan successor adalah kegiatan j sedangkan kegiatan yang dianalisis adalah kegiatan i.

Besarnya nilai LSjdan LFjdihitung sebagai berikut:

 LFi = LFj -  EFij atau

LFi =  LSj – FSij                                                                      (4)

 LSi = LSj - SSij atau

LSj =  LFj -  SFij atau LFi – Di                                                 (5)

 

Catatan :

a. Jika ada lebih dari satu anak panah yang masuk dalam suatu kegiatan, maka   diambil nilai terkecil.

b. Jika tidak ada diketahui FFijatau FSijdan kegiatan non splitable, maka LFjdihitung dengan cara berikut:

LFj = Lsi – Di                                                                           (6)                                                                   

Jalur kritis ditandai oleh beberapa keadaan sebagai berikut:

 ES = LS                                                                                  (7)

 SF = LF                                                                                  (8)

 LF - ES = Durasi kegiatan                                                      (9)

 

3. Metode Percepatan Proyek

        Untuk mempercepat pelaksanaan proyek dilapangan ada beberapa metode yang bisa digunakan yaitu :

Ø Metode Crashing

Ø TCTO (Time Cost Trade Of Analysis)

Ø Metode Fast Track

Ø Metode Least Cost Analysis

 

a.    Metode Crashing

            Kondisi yang paling sering di alami pada suatu proyek konstruksi adalah terbatasnya waktu pelaksanaan. Berdasarkan kenyataan yang ada dilapangan, sering terjadi perpanjangan waktu pelaksanaan akibat kurang cermatnya perencanaan, kurang rapinya manajemen pelaksanaan, kurang logis dan realitisnya hubungan antar aktivitas yang membawa dampak perpanjangan waktu serta membengkaknya biaya penyelesaian proyek.

     Dasar pertimbangan seorang manajer proyek dalam memutuskan  percepatan waktu dengan menggunakan  metode crashing adalah sebagai berikut :

a)    Waktu pelaksanaan proyek yang sudah terlambat dari jadwal semula,  sehingga perlu dilakukan percepatan waktu.

b)    Waktu proyek normal dipercepat dengan menerapkan metode Crashing agar waktu penyelesaian lebih awal untuk meningkatkan performance dan profil dari pengembang/kontraktor.

Cara crashing hampir selalu berarti peningkatan biaya. Pertambahan biaya yang diakibatkan percepatan waktu/crashing adalah jumlah biaya langsung untuk menyelesaikan atau melaksanakan kegiatan dengan durasi yang dipercepat.

     Project crashing ini melibatkan empat langkah yaitu :

1.    Tentukan critical path normal dan identifikasi aktivitas kritis.

 

2.    Hitung crash cost per periode untuk seluruh aktivitas dalam jaringan proyek (dengan asumsi bahwa crash cost bersifat linier), rumus yang digunakan adalah :

      

 

1.               3. Pilih aktivitaspada jalur kritis yang memililki crash cost/periode minimum.                    Percepat aktivitas tersebut semaksimal mungkin atau sesuaikan dengan                     batas waktu yang diinginkan.

2.                      4. Periksalah, apakah aktivitas yang dipercepat tersebut masih merupakan                     aktivitas kritis. Seringkali, percepatan pada jalur kritis dapat menyebabkan                  jalur lain yang tidak kritis menjadi jalur kritis. Apabila jalur kritis tersebut                       masih tetap menjadi jalur terpanjang, maka ulangi langkah 3, jika tidak                        tentukan jalur kritis baru dan ulangi langka 3.

Metode Penelitian

     Pada penelitian ini menggunakan dengan metode deskriptif yaitu pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif (Whitney 1960).

Pembahasan

   a. Analisa Jaringan (Network Analysis)

         Untuk mengontrol atau mengendalikan suatu kegiatan proyek bisa dilakukan dengan menggunakan Kurve S, sehingga dengan menggunakan Kurve S diharapkan kegiatan proyek bisa selesai sesuai dengan waktu yang direncanakan. Namun demikian untuk lebih teliti lagi dalam mengontrol kegiatan proyek tersebut bisa dibuat analisa jaringan atau jaringan kerja, karena dengan adanya jaringan kerja maka pelaksana bisa mengetahui mana pekerjaan yang harus didahulukan atau diprioritaskan.

            Pada umumnya jaringan kerja hanya dibuat oleh kontraktor yang berskala Nasional atau Internasional, sedangkan untuk kontraktor kecil atau kontraktor daerah cukup menggunakan dengan kurva S saja. Pembuatan jaringan kerja dalam pelaksanaan pembangunan gedung diklat ini dibuat  dari master schedule pelaksanaan yang ada dari kontraktor menjadi diagram batang (Gant Chart), kemudian dijabarkan kedalam analisa jaringan.

        b. Mencari Jalur Kritis.

Jalur kritis dapat dicari dengan terlebih dahulu menghitung ealiest start time (ES), latest start (LS), earliest finish (EF) dan latest finish (LF).

- ES adalah waktu memulai suatu pekerjaan yang tercepat tanpa harus mengganggu penyelesaian pekerjaan yang mendahuluinya,

- EF adalah waktu menyelesaikan suatu pekerjaan yang tercepat,

- LS adalah waktu yang paling lambat untuk memulai suatu pekerjaan tanpa harus menunda waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan,

- LF adalah waktu yang paling lambat untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tanpa harus menunda waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan.

• Aturan dalam menghitung ES dan EF:

Hanya ada satu basis aturan untuk menghitung ES dan EF, yaitu : sebelum suatu pekerjaan dapat dimulai, seluruh pekerjaan yang mendahuluinya harus telah diselesaikan. Dengan kata lain, mencari jalur terpanjang dalam setiap aktivitas dapat menentukan ES. EF dihitung dengan formula :

EF = ES + t

Untuk menghitung ES dan EF seluruh pekerjaan, dimulai dari awal sampai ke akhir proyek (forward pass).

 

Kesimpulan

     Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan data tentang percepatan waktu dan biaya dalam pembangunan gedung pendidikan dan pelatihan P4TK / VEDC Malang tahap 4 dengan metode crashing maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Perencanaan waktu pelaksanaan proyek pembanguanan gedung pendidikan dan pelatihan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan / P4TK Malang selama 24 minggu, sedangkan waktu pelaksanaan dilapangan (existing) selama 21 minggu dan setelah dipercepat dengan metode crashing menjadi 17 minggu atau setara dengan 117 hari. Selisih antara waktu perencanaan dengan waktu percepatan adalah 29,16% sedangkan selisih antara waktu pelaksanaan (existing) dengan waktu percepatan adalah 19,05%.
  2. Perencanaan biaya pelaksanaan proyek pembanguanan gedung pendidikan dan pelatihan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan / P4TK Malang selama 21 minggu adalah Rp 958.990.793,- sedangkan biaya percepatan selama 17 minggu adalah Rp 966.635.861,- sehingga setelah dilakukan percepatan pada lintasan kritis terjadi selisih antara biaya perencanaan dengan biaya percepatan sebesar Rp 7.645.064,- atau ada kenaikan biaya 0,79%.
  3. Berdasarkan hitungan konsep nilai hasil (earned value) diketahui curve S biaya progres berada diatas biaya aktual pekerjaan dan curve S biaya pekerjaan sesuai dengan rencana, maka dapat disimpulkan bahwa pekerjaan atau pelaksanaan proyek pembangunan gedung pendidikan dan pelatihan pada Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan / P4TK Bidang Otomotif dan Elektronika Malang tidak mengalami keterlambatan maupun pertambahan biaya. Indek kinerja jadwal pada minggu pertama sampai dengan minggu ke sepuluh sesuai dengan rencana yaitu lebih dari 1.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alifen, R, S., Analisa ”What If” Sebagai Metode Antisipasi Keterlambatan Durasi  Proyek, http://puslit.petra.ac.id/journal/civil.

Badri, S., 1991, Dasar-dasar Network Planning, Penerbit Renika Cipta, Yogyakarta.

Dipohusodo, I., 1996, Manajemen Proyek dan Konstruksi, Cetakan kedua, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Ervianto, W.I., 2004, Manajemen Proyek Konstruksi, Penerbit ANDI, Yogyakarta.

Harold, K., Ninth Edition., Project Management A Systems Approach to Planning, Scheduling, and Controlling, John Wiley & Sons, Inc.

Hartono, H, 2005, Analisis Percepatan Waktu dan Biaya Pada Pembangunan Gedung FKIP UMS dengan Presedence Diagram Method, dinamika TEKNIK SIPIL, Volume 5, Nomor 1, Januari.

Imam, K., Operation Management,http://elearning.unej.ac.id.

Kompas, 2003, Kreditor CGI : Pelaksanaan 35 Proyek Pemerintah Mengalami  Keterlambatan Serius.

Nasmul Islam, M, dkk, 2004, Crashing Project Time with Least Cost : A Linear Programming Approach, Journal of Business Research, Volume 6.

 

Nazir, M., 2005,  Metode Penelitian, Penerbit Ghalia Indonesia, Bogor.

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG