Penerapan Teknik dan Manajemen Industri pada Kegiatan Produksi UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA MELALUI ERGONOMI

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Friday, 28 March 2014 Published Date Written by Budi martono

Penerapan Teknik dan Manajemen Industri pada Kegiatan Produksi

UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA MELALUI ERGONOMI

Oleh Budi Martono*)

 

1.      Pendahuluan

Banyak cara yang telah dilakukan manusia dalam usahanya untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Salah satunya melalui penerapan ergonomi, yaitu ilmu yang menyelaraskan pekerjaan dengan manusia sesuai dengan kondisi alamiah, sehingga mempermudah manusia dalam melaksanakan pekerjaannya, sekaligus meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan produktivitas.

 

2.      Asal Kata Produktivitas

Dalam pengertian formal, mungkin pertama kali kata “produktivitas” disebut dalam sebuah artikel oleh Quesnay pada tahun 1766. Lebih dari satu abad kemudian, pada tahun 1833, Littre mendefinisikan produktivitas sebagai “kemampuan untuk menghasilkan (faculty to produce)”, itu adalah keinginan untuk menghasilkan. Tidak sampai abad 20, istilah itu memperoleh arti lebih tepat sebagai hubungan antara output dan cara mempekerjakan untuk menghasilkan output itu (a relationship between output and the means employed to produce that output). Pada tahun 1950, sebuah organisasi untuk kerjasama ekonomi Eropa (Organization for European Economic Cooperation/OEEC) menawarkan definisi lebih formal dari produktivitas, berikut ini: Productivity is the quotient obtained by dividing output by one of the factors of production. In this way it is possible to speak of the procuctivity of capital, invesment, or raw materials according to whether output is being considered in relation to capital, invesment or raw materials, etc.

 

3.      Pengertian Produktivitas

Dalam arti luas, pengertian produktivitas menyangkut hubungan antara keluaran (output) dengan masukan (input) yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut. Produktivitas ialah rasio dari beberapa output dengan beberapa input dan dapat dituliskan dalam rumus pada Bagan 1.

Dari rumus pada Bagan 1 menjadi jelas, bahwa produktivitas bukanlah merupakan ukuran dari produksi atau output yang dihasilkan, melainkan ukuran tentang tingkat penggunaan sumber-sumber untuk mencapai hasil yang diharapkan.


Dengan kata lain, hasil yang dimaksud di sini berhubungan dengan efektivitas untuk mencapai suatu misi atau prestasi. Sedangkan sumber-sumber yang digunakan berhubungan dengan efisiensi dalam memperoleh hasil dan menggunakan sumber yang minimal. Dengan demikian dapat dinyatakan, dalam produktivitas terdapat hubungan antara efisiensi dan efektivitas.

Berdasarkan uraian tadi, maka dalam produktivitas tenaga kerja terkandung pengertian tentang perbandingan antara hasil yang dicapai melalui peran serta tenaga kerja dengan menggunakan sumber yang minimal dalam satuan waktu yang telah ditetapkan.

Tenaga kerja dinilai produktif jika mampu menghasilkan output yang lebih banyak dari tenaga kerja yang lain dengan menggunakan sumber minimal yang sama dalam waktu yang telah ditetapkan bersama. Produktivitasnya dinilai tinggi karena mampu menghasilkan produk standar dengan sumber yang minimal dalam waktu yang lebih singkat.

Bila ukuran produktivitas hanya satuan waktu saja, maka produktivitas tenaga kerja sangat tergantung pada keterampilan dan keahlian kerja secara fisik. Tapi dengan kualitas peralatan berbeda akan berbeda pula tingkat produktivitasnya. Sekarang, apakah teknologi lalu menjadi penting? Tidak selalu. Teknologi bukan satu-satunya pilihan untuk meningkatkan produktivitas, namun harus diakui andilnya cukup besar. Meskipun demikian, tingkat teknologi yang digunakan dapat mempengaruhi iklim kerja perusahaan/industri dan jajaran manajemen. Makin maju teknologi yang digunakan, makin diperlukan tenaga kerja yang berkualifikasi tinggi serta manajemen yang berkualitas untuk menanganinya. Makin tinggi kualifikasi, makin berbeda pula motivasi, disiplin, sikap, dan etika kerja individual.

 

1.      Konsep Dasar Sistem Produktivitas

Apabila ukuran keberhasilan produksi hanya dipandang dari sisi output, maka produktivitas dipandang dari dua sisi sekaligus, yaitu sisi input dan sisi output. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produktivitas berkaitan dengan efisiensi penggunaan input dalam memproduksi output (barang dan/atau jasa).

Vincent Gaspersz dalam bukunya yang berjudul Manajemen Produktivitas Total (2000) menuliskan pendapat Mali (1978) yang menyatakan bahwa produktivitas tidak sama dengan produksi, tetapi produksi, performansi kualitas, hasil-hasil, merupakan komponen dari usaha produktivitas.

Persepsi pada banyak orang adalah semakin tinggi produksinya maka akan semakin tinggi pula tingkat produktivitasnya. Padahal pada kenyataannya tidaklah selalu demikian; bisa jadi suatu tingkat produksi yang tinggi mengakibatkan tingkat produktivitas yang rendah. Produksi berkaitan dengan aktivitas menghasilkan suatu produk atau jasa, sedangkan produktivitas berkaitan dengan efisiensi utilisasi dari sumber-sumber daya (input) dalam menghasilkan produk ataupun jasa (output).

Dapat dikatakan bahwa jika efisiensi berorientasi pada input yang lebih sedikit dan efektivitas berorientasi pada output yang lebih baik, maka produktivitas berorientasi pada keduanya. Jika efisiensi membandingkan input sumber daya yang digunakan dan efektivitas membandingkan output yang dicapai, maka produktivitas membandingkan hasil yang dicapai  dan sumber daya yang digunakan. Secara skematis, ketiga hal di atas yaitu efisiensi, efektivitas, dan produktivitas dapat digambarkan pada Bagan 2.

 Bagan 2 : Hubungan Efisiensi, Efektivitas, dan Produktivitas

 

1.      Pengertian Ergonomi

Istilah “ergonomi” berasal dari bahasa Latin yaitu ergon (kerja) dan nomos (hukum alam) dan dapat didefinisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain/perancangan.

Ergonomi berkenaan pula dengan optimasi, efisiensi, kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan manusia di tempat kerja, di rumah, dan tempat rekreasi. Di dalam ergonomi dibutuhkan studi tentang sistem di mana manusia, fasilitas kerja dan lingkungannya saling berinteraksi dengan tujuan utama yaitu menyesuaikan suasanya kerja dengan manusianya. Ergonomi juga digunakan oleh berbagai macam ahli/profesional pada bidangnya, misalnya: ahli anatomi, arsitektur, perancangan produk industri, fisika, fisioterapi, terapi pekerjaan, psikologi, dan teknik industri. Definisi di atas adalah berdasar pada International Ergonomic Association.

Selain itu ergonomi juga dapat diterapkan untuk bidang fisiologi, psikologi, perancangan, analisis, sintesis, evaluasi proses kerja dan produk bagi wiraswastawan, manajer, pemerintah, militer, dosen, dan mahasiswa.

Penerapan ergonomi pada umumnya merupakan aktivitas rancang bangun (design) ataupun rancang ulang (redesign). Hal ini dapat meliputi perangkat keras seperti misalnya perkakas kerja, bangku kerja, kursi, pegangan alat kerja, sistem pengendali, alat peraga, jalan/lorong, pintu, jendela, dan lain-lain. Masih dalam kaitan dengan hal tersebut di atas adalah bahasan mengenai rancang bangun lingkungan kerja (working environment), karena jika sistem perangkat keras berubah maka akan berubah pula lingkungan kerjanya.

Ergonomi dapat berperan pula sebagai desain pekerjaan pada suatu organisasi, misalnya: penentuan jumlah jam istirahat, pemilihan jadual pergantian waktu kerja, meningkatkan variasi pekerjaan, dan lain-lain. Ergonomi dapat pula berfungsi sebagai desain perangkat lunak karena dengan semakin banyaknya pekerjaan yang berkaitan erat dengan komputer. Penyampaian informasi dalam suatu sistem komputer harus pula diusahakan sekompatibel mungkin sesuai dengan kemampuan pemrosesan informasi oleh manusia.

Di samping itu ergonomi juga memberikan peranan penting dalam meningkatkan faktor keselamatan dan kesehatan kerja, misalnya: desain suatu sistem kerja untuk mengurangi rasa ngeri dan ngilu pada sistem kerangka dan otot manusia, desain stasiun kerja untuk alat peraga visual. Hal ini adalah untuk mengurangi ketidaknyamanan visual dan postur kerja, desain perkakas kerja untuk mengurangi kelelahan kerja, desain suatu peletakan instrumen dan sistem pengendalian agar didapat optimasi dalam proses transfer informasi dengan dihasilkannya suatu respon yang cepat dengan meminimalkan resiko kesalahan, serta supaya didapat optimasi, efisiensi kerja, dan hilangnya resiko kesehatan akibat metoda kerja yang kurang tepat.

Penerapan faktor ergonomi lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah untuk desain dan evaluasi produk. Produk-produk ini haruslah dapat dengan mudah diterapkan pada sejumlah populasi masyarakat tertentu tanpa mengakibatkan bahaya/resiko dalam penggunaannya.

 

2.      Dasar Keilmuan dari Ergonomi

Banyak penerapan ergonomi yang hanya berdasarkan sekedar  dianggap suatu hal yang sudah biasa terjadi, dan hal itu benar, jika sekiranya suatu keuntungan yang besar bisa didapat  hanya sekedar dengan penerapan suatu prinsip yang sederhana. Hal ini biasanya merupakan kasus di mana ergonomi belum dapat diterima sepenuhnya sebagai alat untuk proses desain, akan tetapi masih banyak aspek ergonomi yang jauh dari kesadaran manusia. Karakteristik fungsional dari manusia seperti kemampuan penginderaan, waktu respon/tanggapan, daya ingat, posisi optimum tangan dan kaki untuk efisiensi kerja otot, dan lain-lain adalah merupakan suatu hal yang belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat  awam. Agar didapat suatu perancangan pekerjaan maupun produk yang optimum daripada tergantung dan harus dengan “trial and error”, maka pendekatan ilmiah harus segera diadakan.

 

3.      Perancangan Tempat Kerja dengan pendekatan Ergonomi

Tujuan pendekatan ergonomi dalam perancangan tempat kerja adalah agar terjadi keserasian antara manusia dengan sistem kerja atau dapat dikatakan bahwa desain sistem kerja harus menjadikan tenaga kerja dapat bekerja secara layak. Ini memerlukan keahlian desain alat dan perlengkapan, penataan ruang kerja, penataan organisasi kerja sehingga tenaga kerja dapat bekerja dengan baik dan efisien.

Tenaga kerja akan bekerja secara terus menerus pada setiap hari kerja di tempat kerja tersebut. Oleh karena itu perancangan tempat kerja menjadi penting, karena berhasil tidaknya penyelesaian suatu pekerjaan ditentukan oleh keoptimalan tenaga kerja. Dianne (2004) memberikan 12 prinsip ergonomik dalam perancangan tempat kerja agar efisien, antara lain:

(1)    Pastikan semua benda yang ada mudah digunakan

(2)    Bekerja dengan ketepatan yang tinggi

(3)    Hindarkan ekses kerja terulang-ulang (mengulangi tugas karena ada kesalahan)

(4)    Postur kerja harus baik (tepat)

(5)    Hindarkan atau kurangi dari paparan getaran

(6)    Minimkan kelelahan dan ketegangan otot (hindarkan kerja melebihi jam kerja)

(7)    Minimkan dari tekanan secara langsung

(8)    Peralatan dalam ruang kerja dapat disetel (adjustable)

(9)    Perlengkapan kerja harus standar

(10)Perbaiki organisasi kerja

(11)Perbaiki desain tempat kerja

(12)Berilah latihan (training) bila bekerja masih belum sempurna.

 

4.      Peningkatan Produktivitas Kerja melalui Ergonomi

Suma’mur (1989) mengatakan bahwa penerapan ergonomi pada berbagai bidang pekerjaan telah terbukti menyebabkan kenaikan produktivitas secara jelas. Besarnya kenaikan mencapai 10 % atau lebih. Gempur (1999) dari hasil penelitian pada tenaga kerja kerajinan kayu bagian gosok dengan posisi kerja lesehan di lantai diubah menjadi posisi duduk di kursi dan meja kerja ergonomis ternyata dapat meningkatkan produktivitas kerja 21,8 % dan menurunkan kelelahan 8,4 %.

Sebagai usaha peningkatan produktivitas kerja atau efisiensi kerja adalah dengan mempercepat waktu yang digunakan untuk mengerjakan satu satuan berdasarkan tingkat konstanta tertentu. Untuk meningkatkan produktivitas kerja menurut Sritomo (2000) ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu faktor teknis dan faktor manusia. Faktor teknis yaitu faktor yang berhubungan dengan pemakaian dan penerapan fasilitas produksi secara lebih baik, penerapan metode kerja yang lebih efektif dan efisien, dan atau penggunaan bahan baku yang lebih ekonomis. Faktor manusia yaitu faktor yang mempunyai pengaruh terhadap usaha-usaha yang dilakukan manusia di dalam menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya. Di sini ada dua hal pokok yang menentukan, yaitu kemampuan kerja (ability) dari pekerja tersebut dan yang lain adalah motivasi kerja yang merupakan pendorong ke arah kemajuan dan peningkatan prestasi kerja atas seseorang.

Sutalaksana (1979) mengatakan bahwa keberhasilan kerja (produktivitas) secara garis besar dipengaruhi oleh dua kelompok, yaitu kelompok faktor individual dan faktor situasional. Faktor individual datangnya dari pekerja itu sendiri dan sering kali sudah ada sebelum pekerja yang bersangkutan datang di tempat kejanya kecuali pendidikan dan pengalaman. Faktor situasional ini dapat diatur dan diubah, baik dari segi sosial dan keorganisasian serta fisik pekerjaan yang bersangkutan.

Memperhatikan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa peningkatan produktivitas dapat dilakukan dengan cara memperbaiki fasilitas produksi (faktor teknis), mengubah dan mengatur secara fisik (faktor situasional), sehingga kemampuan pekerja (faktor manusia) dapat meningkat. Apabila kemampuan kerja (ability) dapat meningkat, maka kelambatan kerja dapat diperkecil atau waktu yang diperlukan mengerjakan sesuatu dalam satu satuan dapat diperpendek, dengan demikian produktivitas dapat meningkat.  

 

 

Daftar Pustaka

Budi Martono. Pengukuran Produktivitas Perusahaan Menggunakan Pendekatan Total Productivity Measurement. Tesis, Magister Manajemen Teknologi, ITS, Surabaya, 2003.

Eko Nurmianto. Ergonomi, Konsep Dasar dan Aplikasinya. Surabaya: Penerbit Guna Widya, Cetakan Pertama, 2004.

Gempur Santoso. Ergonomi, Manusia Peralatan dan Lingkungan. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, Cetakan Pertama, 2004.

Sritomo Wignjosoebroto. Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu. Surabaya: Penerbit Guna Widya, Edisi Pertama, Cetakan Kedua, 2000.

Vincent Gaspersz. Manajemen Produktivitas Total: Strategi Peningkatan Produktivitas Bisnis Total. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000.

*) Penulis adalah Widyaiswara pada Prodi Teknologi Kayu, Dept. Bangunan, P4TK/VEDC Malang, alumni Magister Manajemen Teknologi (MMT-ITS) Surabaya Tahun2003.

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG