OPTIMALISASI HASIL DIKLAT FINISHING KAYU SISTEM MELAMIN MELALUI PRAKTIK PEMBUATAN FRAGMEN BAGI PESERTA DIKLAT GURU SMK DI PPPPTK BOE MALANG

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Tuesday, 22 April 2014 Published Date Written by Budi martono

OPTIMALISASI HASIL DIKLAT FINISHING KAYU SISTEM MELAMIN MELALUI PRAKTIK PEMBUATAN FRAGMEN BAGI PESERTA DIKLAT GURU SMK DI PPPPTK BOE MALANG

Oleh: Budi Martono*

Abstract: Wood finishing job iseach otherBasic CompetencyonExpertise Competencyof Wood Construction Technique on Expertise Study Program Building Techniquebased on ExpertiseSpectrume of Dikmenjurmust be managed by training participant on SMK. The reality, there are still many Teacher of SMK teaching onexpertise competencymentioned not yet controlled by either, so that training participant not be able achieve minimum of competency standard required by both. Action research with the tittle Optimalization of Training Result on Melamine System of Wood Finishing through Fragment Made Practice for Training Participant at PPPPTK BOE Malang focused on12 Participant of Wood Finishing Training. The research result show there is improvement of average score on each step start from pre condition result = 2,15; 1st cycle = 2,56; 2nd cycle = 2,76; and the final condition = 3,00. There is an improvement even if it is few, but the result of final condition of the measurement show all of the participant who has graduated at good qualification with the lowest grade achieved is 2,87and the highest grade achieved is 3,13. So, method of fragment made practice be able to optimize training result on wood finishing of melamine system.

Key words: optimize training result, melamine system of wood finishing job, fragment made practice.

 

Melaksanakan pekerjaan finishing kayu merupakan salah satu Standar Kompetensi pada Kompetensi Keahlian Teknik Konstruksi Kayu dan Teknik Furnitur pada Program Studi Keahlian Teknik Bangunan berdasarkan Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan tahun 2008. Kompetensi tersebut merupakan salah satu standar minimal yang harus dikuasai oleh peserta diklat (siswa) di SMK untuk Kompetensi Keahlian Teknik Konstruksi Kayu dan Teknik Furnitur.

Kenyataannya masih banyak guru SMK yang mengajar pada kompetensi keahlian Teknik Konstruksi Kayu dan Teknik Furnitur untuk Standar Kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu belum menguasai dengan sangat baik standar kompetensi tersebut, sehingga peserta diklat tidak dapat meraih standar kompetensi minimal yang disyaratkan dengan baik.

Diklat Tingkat Menengah Finishing Kayu merupakan salah satu diklat dalam lingkup Program Studi Teknologi Kayu yang sering diselenggarakan dan mendapat animo banyak dari guru-guru SMK Program Studi Keahlian Teknik Bangunan, tetapi pada Kompetensi Dasar Melaksanakan Pekerjaan Melamine secara rata-rata mendapat hasil diklat yang belum optimal (kualifikasi cukup).

Kondisi akhir yang diharapkan untuk peserta diklat sebagai subyek yang diteliti adalah seluruh peserta diklat dapat lulus dengan kualifikasi baik yaitu antara nilai 2,55 – 3,54. Kondisi akhir yang diharapkan untuk peneliti (Widyaiswara) adalah dapat memperbaiki metode pembelajaran pada Kompetensi Dasar Melaksanakan Pekerjaan Melamin dengan metode praktik pembuatan fragmen sebanyak 2 lembar tripleks untuk sistem melamin natural transparan dan 2 lembar tripleks untuk sistem melamin warna transparan pewarnaan cara langsung yang berukuran A4 (21x29,5) cm bagi setiap peserta diklat.

Salah satu solusi untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran finishing kayu sistem melamin yaitu melalui metode pembelajaran praktik pembuatan fragmen bagi peserta diklat pada 2 lembar tripleks untuk sistem melamin natural transparan dan 2 lembar tripleks untuk sistem melamin warna transparan pewarnaan cara langsung yang berukuran A4 (21x29,5) cm bagi setiap peserta.

Dari permasalahan dan harapan tersebut di atas maka peneliti mencoba untuk mencari solusi melalui penelitian yang berjudul: ”OptimalisasiHasil Diklat Finishing Kayu Sistem Melamin Melalui Praktik Pembuatan Fragmen Bagi Peserta Diklat Guru SMK di PPPPTK BOE Malang”

Permasalahan dirumuskan melalui identifikasi pada latar belakang, berikut ini: Belum optimalnya hasil pembelajaran finishing kayu sistem melamin; Belum tepatnya metode mengajar yang diterapkan untuk pembelajaran finishing kayu sistem melamin; Belum lengkapnya peralatan yang mendukung optimalnya hasil pembelajaran finishing kayu; Belum terkondisinya bengkel untuk praktik finishing kayu secara baik; Belum digunakannya teknik aplikasi bahan finishing kayu yang tepat.

Pembatasan masalah perlu dilakukan untuk penelitian ini, dengan  pertimbangan supaya dapat menemukan solusi pemecahan masalah secara spesifik dan teknis.

Dalam penelitian tindakan pada umumnya dapat diambil variabel bebas atau independen (x) lebih dari satu, tetapi untuk penelitian ini hanya diambil satu variabel bebas atau independen (x) yaitu praktik pembuatan fragmen.

Variabel terikat atau dependen (y) untuk penelitian tindakan pada umumnya dapat ditentukan lebih dari satu variabel terikat atau dependen, namun untuk penelitian ini diambil hanya satu variabel terikat atau dependen (y) yaitu optimalisasi hasil diklat finishing kayu sistem melamin.

Dari penjelasan di atas, maka rumusan masalahnya sebagai berikut: Apakah melalui praktik pembuatan fragmen dapat mengoptimalkan hasil diklat finishing kayu sistem melamin bagi peserta diklat guru SMK di PPPPTK BOE Malang?

Tujuan Umum penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan hasil diklat finishing kayu sistem melamin.

Secara khusus tujuan penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan hasil diklat finishing kayu sistem melamin melalui praktik pembuatan fragmen.

Manfaat penelitian ini terdiri dari dua hal, yaitu kegunaan teoritis yang berkaitan dengan teori pembelajaran dalam kediklatan dan pengetahuan yang mendukung untuk mendapatkan kompetensi pekerjaan finishing kayu sistem melamin. Sedangkan kegunaan praktis ditujukan bagi peserta diklat sebagai subyek penelitian untuk mendapatkan cara belajar secara efektif dalam menguasai kompetensi finishing kayu sistem melamin sehingga dapat diterapkan untuk pilihan metode mengajar di SMK. Juga bermanfaat bagi widyaiswara sebagai peneliti untuk dapat mengembangkan salah satu metode mengajar yaitu metode praktik melalui pembuatan fragmen. Begitu juga manfaat bagi institusi, yaitu dengan memfasilitasi kegiatan pengembangan profesi widyaiswara melalui penelitian adalah menumbuhkan citra baik institusi sebagai pusat pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan khususnya untuk guru-guru SMK.

Pengertian diklat diuraikan dari sumber yang diambil dari internet berikut ini: (http://www.bkn.go.id/penelitian.htm)

Secara garis besar, Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) dapat diartikan sebagai akuisisi dari pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), dan sikap (attitudes) yang memampukan manusia untuk mencapai tujuan individual dan organisasi saat ini dan di masa depan (Bambrough, 1998:1).

Dalam terminologi lain, Diklat dipisahkan secara tegas, yakni Pendidikan dan Pelatihan. MenurutNasution (2000:71), Pendidikan adalah suatu proses, teknis dan metode belajar mengajar dengan maksud mentransfer suatu pengetahuan dari seseorang kepada orang lain sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan menurut Pont (1991:46), Pelatihan adalah mengembangkan orang-orang sebagai individu dan mendorong mereka menjadi lebih percaya diri dan berkemampuan dalam hidup dan pekerjaannya.

Dalam perspektif Ahwood dan Dimmoel (1992:32), pendidikan lebih bersifat teoritis dalam pengetahuan umum, sosial dan berkiblat pada kebutuhan perorangan. Sedangkan pelatihan adalah suatu proses pengembangan keterampilan pegawai untuk melakukan pekerjaan yang sedang berjalan dan pekerjaan di masa yang akan datang. Paralel dengan terminologi teoritis di atas, Nadler dan Nadler dalam Atmosoeprapto (2000:29), Mondy dan Noe (1989:224-225), serta Megginson (1985:229) mendefinisikan Diklat sebagai berikut :

Pendidikan adalah proses pembelajaran untuk mempersiapkan seseorang untuk mampu mengidentifikasi pekerjaan, menambah wawasan dan pengetahuan. Pelatihan adalah proses pembelajaran yang terkait dengan pekerjaan spesifik saat ini, proses desain, keahlian, dan teknis pekerjaan untuk mempertahankan dan meningkatkan efektifitas masing-masing individu dan kelompok dalam suatu organisasi.

Pengembangan merupakan proses pembelajaran untuk pertumbuhan seseorang, mengaplikasikan informasi, penge-tahuan, dan keahlian, serta lebih sering dikaitkan dengan pendidikan level manajerial dalam area yang lebih luas, seperti komunikasi, kepemimpinan, motivasi, dan lain-lain.

Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa pendidikan lebih bersifat umum dan untuk kebutuhan seseorang, sedangkan pelatihan lebih bersifat khusus dan bertujuan untuk pengembangan keterampilan pegawai sehingga mampu melakukan pekerjaan yang sedang berjalan dan yang akan datang.

Finishing kayu merupakan proses akhir dari seluruh tahap produksi di industri perabot kayu, rotan, dan bagian bangunan yang berbahan dari kayu dengan cara melapisi permukaan benda kerja dengan suatu zat/resin dalam proses aplikasi ke permukaan yang akan mengering dan membentuk suatu lapisan tipis.

Finishing merupakan lapisan paling akhir pada permukaan kayu. Proses ini bertujuan untuk (1) memberikan nilai estetika yang lebih baik pada perabot kayu dan jugaberfungsiuntuk menutupi beberapa kelemahan kayu dalam hal warna, tekstur atau kualitas ketahanan permukaan pada material tertentu. Tujuan kedua adalah (2) untuk melindungi kayu dari kondisi luar (cuaca, suhu udara, dll.) ataupun benturan dengan barang lain. Dengan kata lain untuk menambah daya tahan dan keawetan produk kayu (http://tentangkayu.blogspot.com).

Finishing melamin natural transparan, disebut pula melamine clear, adalah salah satu jenis finishing berbahan baku 2 komponen. Lapisannya mempunyai ketebalan yang bagus, hingga dapat menutup serat kayu. Jarak antara serat kayu menjadi rata halus. Demikian pula, sesuai dengan sebutannya natural transparan, ia memiliki penampilan yang bening hingga warna kayu asli kelihatan alami bahkan makin cemerlang dan hidup (Agus Sunaryo, 1997: 113-115).

Tahapan kerja untuk aplikasi finishing melamin natural transparan seperti pada Gambar 1 Gambar 1. Tahapan Aplikasi Finishing Melamine Natural Transparan

Catatan : Ruang harus ada sirkulasi udara dan dihindarkan dari debu dan lalu lalang orang;Perbandingan campuran antara base dengan hardener 10:1; Top – coat dapat diulangi dengan diamplas dahulu dengan amplas no. 400.

Sedangkan finishing melamin warna transparan adalah jenis finishing yang memiliki keindahan pola serat kayu yang hangat dengan latar belakang warna nuansa yang sesuai. Zat pewarna yang dipakai dalam proses finishing melamine warna transparan adalah jenis pewarna yang tembus pandang (Agus Sunaryo,1997:120-123).

Proses pengerjaan atau disebut juga dengan istilah aplikasi di dalam finishing, pada umumnya dilakukan dengan pengaosan dengan kain kaos, penguasan dengan kuas bulu, pengerolan dengan rol bulu, penyemprotan dengan pistol semprot/spray-gun, pencelupan dalam bak finishing. Sedangkan aplikasi finishing yang dipilih untuk penelitian ini adalah aplikasi penyemprotan dengan pistol semprot (spray-gun) menggunakan bahan finishing melamin.

Tahapan kerja untuk aplikasi finishing melamin natural warna transparan pewarnaan langsung adalah seperti pada Gambar 2.

Gambar 2. Tahapan Aplikasi Finishing Melamine Warna Transparan Pewarnaan Cara Langsung

Catatan : Ruang harus ada sirkulasi dan dihindarkan dari debu serta lalu lalang orang;Perbandingan campuran antara base dengan hardener 10:1; Top – coat dapat diulangi dengan diamplas dahulu dengan amplas no. 400.

Fragmen adalah bagian atau pecahan sesuatu (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, 1994) yang digunakan sebagai uji coba atau latihan finishing berjumlah empat lembar tripleks berukuran selebar kertas A4 (21x29,5) cm, untuk sistem melamin transparan 2 lembar tripleks dan sistem melamin warna transparan 2 lembar tripleks bagi setiap peserta diklat yang berjumlah 12 orang.

Berdasarkan hasil pembelajaran peserta Diklat Tingkat Menengah Finishing Kayu pada Materi Finishing Kayu Sistem Melamin yang telah beberapa kali dilaksanakan pada periode yang lalu, didapatkan hasil secara rata-rata belum optimal yaitu dengan kualifikasi cukup.

Sedangkan kompetensi finishing kayu merupakan salah satu kompetensi kejuruan untuk mata diklat produktif, termasuk di dalamnya adalah finishing kayu sistem melamin ini harus dikuasai oleh peserta diklat yaitu Guru-guru di SMK pada Program Studi Keahlian Teknik Bangunan.

Supaya hasil pembelajaran peserta Diklat Tingkat Menegah Finishing Kayu pada Materi Finishing Kayu Sistem Melamin mendapatkan hasil sangat baik maka dianggap perlu untuk segera dilaksanakan langkah-langkah optimalisasi pada proses pembelajarannya.

Berdasarkan analisis ini diduga untuk dapat mengoptimalkan hasil diklat Finishing Kayu Sistem Melamin bagi peserta diklat supaya mendapatkan hasil sangat baik maka dapat dilakukan melalui praktik pembuatan fragmen.

Skema kerangka berpikir dapat dilihat pada Gambar 3.

 

 Gambar 3. Skema Kerangka Berpikir

 Melalui praktik pembuatan fragmen dapat mengoptimalkan hasil diklat finishing kayu sistem melamin bagi peserta diklat guru SMK di PPPPTK Bidang Otomotif dan Elektronika Malang.

Tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah membuat fragmen yang digunakan sebagai uji coba atau latihan finishing berjumlah empat lembar tripleks berukuran selebar kertas A4 (21x29,5) cm, untuk sistem melamin transparan 2 lembar tripleks dan sistem melamin warna transparan 2 lembar tripleks bagi setiap peserta diklat yang berjumlah 12 orang.

METODE

Penelitian dilaksanakan pada Diklat Tingkat Menegah Finishing Kayu bagi Guru SMK periode 10 Maret s.d. 4 April 2008 bertempat di bengkel Prodi Teknologi Kayu P4TK Bidang Otomotif dan Elektronika Malang.

Subyek penelitian adalah Peserta Diklat Tingkat Menengah Finishing Kayu bagi Guru SMK periode 10 Maret s.d. 4 April 2008 sebanyak 12 peserta yang berasal dari beberapa SMK yang tersebar di seluruh Indonesia.

Tabel 1. Nilai Pre test dan Post test

 Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan non tes. Data tes diambil dari hasil tes tertulis pada pre test dan post test peserta Diklat Tingkat Menengah Finishing Kayu bagi Guru SMK periode 10 Maret s.d. 4 April 2008.

Data non tes didapatkan dari hasil wawancara dan pengamatan terhadap peserta Diklat sebagai subyek yang diteliti.

Untuk mengumpulkan data tes tertulis diambil dari Daftar Nilai peserta. Sedangkan alat pengumpul data non tes dibuatkan Panduan Pengamatan terhadap peserta diklat sebagai subyek penelitian.

Validasi data diperlukan agar diperoleh data yang valid dari subyek penelitian. Validasi data kuantitatif yang berasal dari Daftar Nilai Peserta akan divalidasi instrument/ kriteria penilaian hasil pembelajarannya. Untuk melakukan hal tersebut di atas maka dibuatlah kisi-kisi agar terpenuhi validitas teorinya.

Data kualitatif yang dikumpulkan dari hasil wawancara dan pengamatan terhadap subyek penelitian dapat divalidasi melalui triangulasi sumber dan metode.

Analisis data kuantitatif menggunakan analisis deskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai pre test, dan pengamatan sebelum dilakukan tindakan yang diasumsikan sebagai kondisi awal dengan nilai yang dihasilkan pada siklus 1. Untuk siklus 2, nilai yang dibandingkan adalah nilai siklus 1 dengan nilai siklus 2.

Data kualitatif yang didapatkan dari pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan membandingkan hasil pengamatan proses diklat dari kondisi awal, siklus 1, dan siklus 2.

Seluruh peserta diklat dapat menguasai kompetensi finishing kayu sistem melamin secara optimal sehingga menghasilkan kualifikasi baik. Skala

Penilaian peserta diklat menurut standar institusi adalah seperti pada Tabel 2.

Tabel 2. Skala penilaian

 

 Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan (action research), dalam hal ini adalah metode penelitian diklat yaitu melakukan penelitian dalam proses pembelajaran untuk mendapatkan hasil yang optimal bagi peserta diklat.

Tindakan yang dilakukan terdapat pada 2 siklus. Siklus 1 adalah membandingkan hasil finishing kayu langsung ke benda kerja berupa barang jadi dengan hasil tindakan pertama melalui pembuatan fragmen finishing kayu sistem melamin natural transparan dan warna transparan pada tripleks yang pertama.

Pengamatan dilaksanakan terhadap proses dan hasil akhir finishing sistem melamin melalui pembuatan fragmen yang pertama dan kedua oleh peneliti serta mencatat hasil pengamatan secara deskriptif.

Refleksi yang dilakukan pada siklus 1 yaitu membandingkan hasil finishing kayu langsung ke benda kerja berupa barang jadi dengan finishing melalui pembuatan fragmen dengan mengamati hasil akhir dari proses finishing, sebagai perbandingan hasil kondisi awal dengan kondisi siklus 1.

Pada siklus 2 dilakukan perencanaan tindakan pada kegiatan inti berupa pembuatan fragmen finishing sistem melamin dengan mengamati dan membandingkan hasil akhir dari proses finishing pada pembuatan fragmen pertama dengan fragmen kedua, serta mencatat hasil tersebut secara deskriptif.

HASIL

Untuk mengawali suatu kegiatan diklat yang akan masuk pada kegiatan belajar mengajar, maka dilakukan pre-test guna mengetahui kondisi awal seluruh peserta diklat terhadap materi diklat yang akan diterima. 

Hasil pre-test ini digunakan sebagai data pada kondisi awal peserta Diklat Tingkat Menengah Finishing Kayu bagi Guru SMK periode 10 Maret s.d. 4 April 2008 selaku obyek penelitian, seperti terlihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Pre-test Peserta Diklat

 

  Perencanaan pada siklus 1 meliputi pengarahan tentang langkah kerja pembuatan fragmen finishing, pembuatan fragmen finishing pada tripleks 1, pengamatan proses finishing, penilaian hasil finishing, dan refleksi darihasil pengamatan pada tindakan yang dilaksanakan pada siklus 1.

Untuk mengetahui secara lebih terperinci tentang kegiatan pada siklus 1, maka dijelaskan tahapan kegiatan mulai dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, hasil pengamatan, dan refleksi seperti uraian berikut ini:

Perencanaan tindakan pada siklus 1 meliputipengarahan tentang langkah kerja pembuatan fragmen finishing pada tripleks 1, yang dimulai dari persiapan permukaan kayu, pengisian pori-pori kayu, pewarnaan cara langsung untuk tripleks yang difinishing melamin warna transparan, pelapisan antar media menggunakan melamine sanding sealer, pelapisan akhir permukaan menggunakan melamine clear.

Perencanaan tindakan ini juga meliputi pembuatan lembar pengamatan yang nantinya digunakan oleh peneliti pada saat peserta diklat melaksanakan kegiatanpembuatan fragmen finishing pada tripleks 1.

Lembar pengamatan ini digunakan untuk mengobservasi dan menilai hasil kegiatan setiap peserta diklat yang dicapai pada setiap tahap tindakan di siklus 1 maupun siklus 2.

Pelaksanaan tindakan pada siklus 1 adalah pembuatan fragmen finishing pada tripleks 1, yang dimulai dari persiapan permukaan kayu, pengisian pori-pori kayu, pewarnaan cara langsung untuk tripleks yang difinishing melamin warna transparan,pelapisan antar media menggunakan melamine sanding sealer, pelapisan akhir permukaan menggunakan melamine clear.

Dari hasil pelaksanaan tindakan ini, maka peneliti menggunakan lembar pengamatan untuk melaksanakan observasi guna menilai setiap peserta diklat dalam melaksanakan kegiatan pembuatan fragmen finishing pada tripleks 1.

Pengamatan dilaksanakan terhadap setiap peserta diklat yang sedang dalam proses finishing dan hasil akhir finishing sistem melamin melalui pembuatan fragmen yang pertama oleh peneliti serta mencatat hasil pengamatan secara deskriptif dan ditulis apa adanya, belum ada refleksi maupun kesimpulan. Hasil pengamatan oleh peneliti terhadap setiap peserta diklat, disajikan secara lengkap dan terperinci dalam lampiran.

Hasil pengamatan tersebut di atas dicatat hasilnya pada lembar pengamatan yang dirangkum dalam penilaian kualitatif  seperti pada Tabel 4.

Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Pengamatan Siklus 1 terhadap Peserta Diklat

 

 Tindakan yang dilaksanakan pada siklus 1 ini yaitu setiap peserta diklat melaksanakan pembuatan fragmen finishing kayu sistem melamin natural transparan dan warna transparan pada tripleks 1, dengan hasil penilaian seperti pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil Fragmen Tripleks 1 untuk Melamine Natural Transparan

 

Tabel 6. Hasil Fragmen Tripleks 1 untuk Melamine Warna Transparan

 

 Tabel 7. Hasil Rata-rataFragmen Triplek 1

 

 Berdasarkan hasil pengamatan dan penilaian yang disajikan dalam Tabel 7. pada siklus 1 bisa diperoleh kesimpulan sementara bahwa hasil pembuatan fragmen finishing kayu sistem melamin pada tripleks 1, didapatkan hasil paling rendah adalah2,10(kualifikasi Cukup)danpaling tinggi2,92 (kualifikasi Baik) serta nilai rata-rata kelasnya adalah2,56 (kualifikasi Baik).

Hasil nilai kondisi awal yang rata-rata kelasnya adalah 2,15 bila dibandingkan dengan hasil tindakan pertama yang rata-rata kelasnya adalah 2,56 maka didapatkan peningkatan indikator kinerja sebesar 0,41 dan secara rata-rata kelas mendapat kualifikasi baik.

Perencanaan pada siklus 2 meliputipengarahan tentang langkah kerja pembuatan fragmen finishing, pembuatan fragmen finishing pada tripleks 1, pengamatan proses finishing, penilaian hasil finishing, dan refleksi dari hasil pengamatan pada tindakan yang dilaksanakan pada siklus 2.

Untuk mengetahui secara lebih terperinci tentang kegiatan pada siklus 2, maka dijelaskan tahapan kegiatan mulai dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, hasil pengamatan, dan refleksi seperti uraian berikut ini:

Perencanaan tindakan pada siklus 2 meliputipengarahan tentang langkah kerja pembuatan fragmen finishing pada tripleks 2, yang dimulai dari persiapan permukaan kayu, pengisian pori-pori kayu, pewarnaan cara langsung untuk tripleks yang difinishing melamin warna transparan, pelapisan antar media menggunakan melamin sanding sealer, pelapisan akhir permukaan menggunakan melamine clear.

Perencanaan tindakan ini juga meliputi pembuatan lembar pengamatan yang nantinya digunakan oleh peneliti pada saat peserta diklat melaksanakan kegiatan pembuatan fragmen finishing pada tripleks 2.

Lembar pengamatan ini digunakan untuk mengobservasi dan menilai hasil kegiatan setiap peserta diklat yang dicapai pada setiap tahap tindakan di siklus 1 maupun siklus 2.

Pelaksanaan tindakan pada siklus 2 adalah pembuatan fragmen finishing pada tripleks 2, yang dimulai dari persiapan permukaan kayu, pengisian pori-pori kayu, pewarnaan cara langsung untuk tripleks yang difinishing melamin warna transparan, pelapisan antar media menggunakan melamine sanding sealer, pelapisan akhir permukaan menggunakan melamine clear. Dari hasil pelaksanaan tindakan ini, maka peneliti menggunakan lembar pengamatan untuk melaksanakan observasi guna menilai setiap peserta diklat dalam melaksanakan kegiatan pembuatan fragmen finishing pada tripleks 2.

Pengamatan dilaksanakan terhadap setiap peserta diklat yangsedang dalam proses finishing dan hasil akhir finishing sistem melamin melalui pembuatan fragmen yang pertama oleh peneliti serta mencatat hasil pengamatan secara deskriptif dan ditulis apa adanya, belum ada refleksi maupun kesimpulan

Hasil pengamatan oleh peneliti terhadap setiap peserta diklat, disajikan secara lengkap dan terperinci dalam lampiran.

Hasil pengamatan tersebut di atas dicatat hasilnya pada lembar pengamatan yang dirangkum dalam penilaian kualitatif  seperti pada Tabel 8.

 Tabel 8. Rekapitulasi Hasil Pengamatan Siklus 2 Terhadap Peserta Diklat

 

 Tindakan yang dilaksanakan pada siklus 2 ini yaitu setiap peserta diklat melaksanakan pembuatan fragmen finishing kayu sistem melamin natural transparan dan warna transparan pada tripleks 1, dengan hasil penilaian seperti pada Tabel 9.

 Tabel 9. Hasil Fragmen Tripleks 2 untuk Melamin Natural Transparan

 

 Tabel 10. Hasil Fragmen Tripleks 2 untuk Melamin Warna Transparan

 

 Tabel 11. Hasil Rata-rata Fragmen Tripleks 2

 

 Berdasarkan hasil pengamatan dan penilaian yang disajikan dalam Tabel11. pada siklus 2 bisa diperoleh kesimpulan sementara bahwa hasil pembuatan fragmen finishing kayu sistem melamine pada tripleks 2, didapatkan hasil paling rendah adalah 2,55 (kualifikasi Baik) dan paling tinggi 3,03 (kualifikasi Baik) serta nilai rata-rata kelasnya adalah2,76 (kualifikasi Baik).

Hasil nilai rata-rata pada Siklus 2 yang didapat dari hasil rata-rata fragmen tripleks 2 adalah 2,76 bila dibandingkan dengan hasil nilai rata-rata pada Siklus 1 yang rata-rata kelasnya adalah 2,56 maka didapatkan peningkatan indikator kinerja sebesar 0,20 dan secara rata-rata kelas mendapat kualifikasi baik

Pembahasan tiap siklus dan antar siklus merupakan pembahasan oleh peneliti tentang pelaksanaan tindakan yang dimulai dari kondisi awal ke siklus 1 dan dari siklus 1 ke siklus 2 dan selanjutnya dari siklus 2 ke kondisi akhir.

Data kondisi awal didapatkan dari nilai pre-test yang berbentuk essay test maupun objective test dan selanjutnya  dirata-rata yang menggambarkan kondisi awal peserta diklat sebagai subyek penelitian.

Data tindakan terdiri dari nilai pembuatan fragmen pada lembar tripleks 1 pada siklus 1 dan nilai pembuatan fragmen pada lembar tripleks 2 pada siklus 2. Nilai pada siklus 1 didapatkan dari penilaian peneliti pada saat subyek penelitian selesai pembuatan fragmen pada lembar tripleks1. Nilai pada siklus 2 didapatkan dari penilaian peneliti terhadap hasil pembuatan fragmen pada lembar tripleks 2 yang telah dilakukan oleh subyek penelitian.

Data kondisi akhir didapatkan dari hasil rata-rata setiap subyek penelitian terhadap nilai post-test berbentuk essay test dan nilai hasil finishing perabot kayu.

Antara data kondisi awal dengan data tindakan pertama dibandingan dan dilihat hasilnya. Apakah antara data kondisi awal dengan data tindakan pertama menunjukkan peningkatan? Begitu juga antara data tindakan pertama dengan tindakan kedua, apakah menunjukkan kenaikan yang berarti? Selanjutnya data kondisi akhir dibandingkan dengan data tindakan kedua, data tindakan pertama, dan data kondisi awal, apakah menunjukkan kecenderungan meningkat? Data tersebut di atas diolah dengan MS Exell dan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram batang.

Hasil penelitian disajikan mulai dari hasil pengukuran kondisi awal, hasil pengukuran tindakan pertama, hasil pengukuran tindakan kedua, dan hasil kondisi akhir dalam bentuk tabel dan diagram batang yang diolah dengan MS Exell.

Data tersebut di atas dalam bentuk tabel rekapitulasi dari hasil pengukuran kondisi awal, tindakan pada siklus 1, tindakan pada siklus 2, dan hasil kondisi akhir yang dapat dilihat pada Tabel 12. Rekapitulasi pengukuran dari kondisi awal sampai dengan kondisi akhir.

Tabel 12.

Rekapitulasi pengukuran dari kondisi awal sampai dengan kondisi akhir

           Dari hasil pengukuran kondisi awal terdapat 5 peserta yang mempunyai kualifikasi kurang dengan nilai 1,40dan sebanyak 3 peserta mendapat nilai 1,80,serta terdapat seorang peserta yang mendapatkan nilai 1,95. Berikutnya juga terdapat 5 peserta yang mendapat  kualifikasi Cukup dengan nilai 2,20 dan 2,40 masing-masing untuk 2 peserta dan seorang mendapat nilai 2,35. Dengan demikian belum seluruh peserta memenuhi target yang diinginkan untuk kondisi akhir yaitu dengan kualifikasi minimal baik (nilai antara 2,55 sampai dengan 3,54). 

 

 Grafik 1. Hasil pengukuran kondisi awal

 Dari hasil pengukuran tindakan pertama terdapat 4 peserta yang mempunyai kualifikasi cukup dengan nilai 2,25 sebanyak 3 peserta dan seorang peserta dengan nilai 2.10,  selebihnya yaitu 12 peserta mempunyai kualifikasi baik, dengan nilai 2,60 dan 2,65 masing-masing seorang peserta serta  nilai 2,70 untuk 4 peserta. Dengan demikian masih 4 peserta yang belum memenuhi target yang diinginkan untuk kondisi akhir yaitu dengan kualifikasi minimal baik (nilai antara 2,55 sampai dengan 3,54).

 

 Grafik 2. Hasil pengukuran tindakan pertama pada siklus 1

 Dari hasil pengukuran tindakan kedua terdapat seluruh peserta mempunyai kualifikasi baik dengan nilai 2,55 untuk 1 peserta; 2,56 untuk 3 peserta; 2,76 untuk 1 peserta; 2,80 untuk 3 peserta; 2,83 untuk 1 peserta; 2,85 untuk 1 peserta; dan paling tinggi dengan nilai 3,02 untuk 1 peserta. Dengan demikian seluruh peserta telah memenuhi targetyang diinginkan untuk kondisi akhir yaitu dengankualifikasi minimal baik (nilai antara 2,55 sampai dengan 3,54).

 

 Grafik3. Hasil pengukuran tindakan kedua pada siklus 2

 Dari hasil pengukuran kondisi akhir terdapat seluruh peserta telah mempunyai kualifikasi baik dengan nilai 2,87 untuk 1 peserta; 2,90 untuk 1 peserta; 2,96 untuk 2 peserta; 2,97 untuk 1 peserta; 2,99 untuk 1 peserta; 3,02 untuk 1 peserta; 3,07 untuk 1 peserta; 3,08 untuk 1 peserta; 3,11 untuk 1 peserta; 3,12 untuk 1 peserta; dan yang paling tinggi mendapat nilai 3,13 untuk 1 peserta. Dengan demikian seluruh peserta telah memenuhi target yang diinginkan untuk kondisi akhir yaitu dengan kualifikasi minimal baik(nilai antara 2,55 sampai dengan 3,54).

 

 Grafik 4. Hasil pengukuran kondisi akhir

Perbandingan hasil pengukuran rata-rata setiap tahapan ini adalah melihat tingkat kenaikan nilai/indikator kinerja mulai dari hasil pengukuran kondisi awal, hasil pengukuran tindakan pertama pada siklus 1, hasil pengukuran pada tindakan kedua pada siklus 2, dan hasil pengukuran kondisi akhir. Dengan demikian , hasil pengukuran rata-rata tersebut bisa dibandingkan setiap tahapannya, apakah terdapat peningkatan nilai/indikator kinerja yang baik? Ternyata hasilnya menunjukkan adanyapeningkatan nilai rata-rata kelas, hal ini ditunjukkan oleh nilai-nilai yang meningkat seperti berikut ini: 2,15  2,56 → 2,76 → 3,00.

 

 Grafik 5. Hasil pengukuran rata-rata setiap tahapan

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mulai dari pengukuran kondisi awal, pengukuran tindakan pertama pada siklus 1, pengukuran tindakan kedua pada siklus 2, dan pengukuran kondisi akhir, menunjukkan ada kecenderungan yang posistif  yaitu ada kenaikan nilai rata-rata/indikator kinerja yang baik, dan akhirnya telah memenuhi harapan/target yaitu pada kondisi akhir seluruh peserta diklat/subyek penelitian dapat lulus dengan kualifikasi minimal baik yaitu diantara nilai/angka 2,55 – 3,54.

Peneliti menyampaikan rekomendasi bahwa berdasarkan simpulan tersebut di atas yang menunjukkan ada kecenderungan yang posistif yaitu ada kenaikan nilai rata-rata/indikator kinerja yang baik, dan akhirnya telah memenuhi harapan/target penelitian yaitu pada kondisi akhir seluruh peserta diklat/subyek penelitian dapat lulus dengan kualifikasi minimal baik, maka optimalisasi hasil Diklat Finishing KayuSistem Melamin melaluipraktik pembuatan fragmen bagi peserta Diklat Guru SMK di PPPPTK BOE Malang dapat diaplikasikan pada proses pembelajaran diklat sejenis berikutnya.

Beberapa saran dari peneliti berdasarkan pengalaman melaksanakan penelitian tindakan ini hingga menghasilkan simpulan dan implikasi/rekomendasi, maka dapat disampaikan seperti berikut ini:

Sebaiknya peneliti dan subyek penelitian telah mempunyai referensi dan pengalaman yang berkaitan dengan materi finishing kayu sistem melamin sehingga memperlancar dan mempermudah dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar maupun penelitian.Peneliti sebaiknya mempersiapkan alat pengumpul data penelitian dengan lebih terperinci dan lengkap sehingga mudah dalam penggunaannya

DAFTAR RUJUKAN

Agus Sunaryo, SH.,MBA. 1997.Reka Oles Mebel Kayu.Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Pupuh Fathurrohman, Prof., M.Sobry Sutikno, M.Pd. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: PT. Refika Aditama.

Rochiati Wiriaatmadja, Prof.Dr. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas: Untuk meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung: PPS-UPIbekerjasama dengan PT. Remaja Rosdakarya Offset.

Sugiyono, Prof.Dr. 2008. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. Cetakan Ketiga 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka.

http://www.bkn.go.id/penelitian/buku%20penelitian%202003/Buku%20Efektivitas%20Diklat%20%20Struktural/3BABII.htm

ardhana12.wordpress.com/2008/01/25/belajar-penelitian-tindakan-kelas-yuuuk/

http://www.andragogi.com/document/psikologi_pendidikan.html