PROSES PEMBUATAN MEBEL BAMBU

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Wednesday, 24 September 2014 Published Date Written by Hartiyono

PROSES PEMBUATAN MEBEL BAMBU

Hartiyono (Widyaiswara Madya )

Departemen Bangunan PPPPTK BOE / VEDC Malang

 

ABSTRAK

Perancangan produk mebel bambu yang ada selama ini tampak masih belum banyak yang memperhatikan dan mempertimbangkan kelayakan ergonomic Padahal keergonomisan sebuah produk ataupun fasilitas kerja yang nantinya akan digunakan oleh manusia sungguh sangat penting agar bisa memenuhi kriteria kriteria efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien (ENASE).Rancangan produk mebel bambu yang banyak dijumpai dan diperjualbelikan lebih terfokus pada aspek fungsional dan kurang melihat parameterparameter yang terkait dengan keinginan maupun kepuasan konsumen parameter parameter yang mampu memberikan kepuasan konsumen untuk kemudian dijadikan dasar penentuan parameter parameter teknis dalam proses perancangan produk mebel bambu..Dengan melakukan analisa dan evaluasi ergonomic antropometri dan biaomekanik terhadap prototipe yang dibuat dapat diperoleh kesimpulan apakah rancangan baru mebel bambu tersebut benar benar memiliki kelayakan ergonomis dibandingkan dengan yang selama ini ada. Kata kunci: Rancangan Produk Mebel Bambu, Kepuasan Konsumen, Quality

 

1.    PENDAHULUAN

Bambu merupakan bahan lokal yang sudah sangat dikenal di Indonesia dan  memegang peranan sangat penting dalam kehidupan masyarakat, ini dapat dilihat dari banyaknya penggunaan bambu pada berbagai keperluan masyarakat kita sejak nenek moyang kita ada. Di Indonesia ditemukan sekitar 60 jenis dan bambu  banyak ditemukan di dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian sekitar 300 m diatas permukaan laut.   Pada umumnya ditemukan ditempat-tempat terbuka dan daerahnya bebas dari genangan air. Dari kurang lebih 1.000 species bambu dalam 80 genera, sekitar 200 species dari 20 genera ditemukan di Asia Tenggara (Dransfield dan Widjaja, 1995). Di Indonesia bambu hidup merumpun (symphodial), kadang-kadang ditemui berbaris membentuk suatu garis pembatas dari suatu wilayah desa yang identik dengan batas desa. Di Jawa, penduduk  sering menanam bambu disekitar rumahnya dicampur dengan tanaman lain untuk berbagai keperluan. Bambu dikenal memiliki sifat-sifat yang sangat menguntungkan untuk dimanfaatkan karena,  batangnya kuat, ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan mudah dikerjakan serta ringan sehingga mudah diangkut. Selain itu bambu juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain seperti kayu.

 

2. TUJUAN PENGAWETAN BAMBU

Untuk meningkatkan daya tahan dan performanya bambu dan produk dari bambu perlu diawetkan, baik dengan bahan pengawet yang bersifat kimiawi atau pun tanpa bahan kimia, dengan cara tradisional ataupun yang lebih moderen. Adapun tujuan dari pengawetan bambu adalah:

  • Meningkatkan daya tahan dan waktu pemanfaatan bambu.
  • Menahan dan menunda kerusakan
  • Mempertahankan stabilitas struktur bambu dan kekuatannya
  • Menambah ketahanan lain misalnya lebih tahan terhadap api.
  • Meningkatkan mutu bambu secara estetika.

3.    PERSIAPAN BAHAN BAKU

Bahan baku dalam kegiatan usaha ini adalah bambu wulung hitam (Gigantochloa verticillata) yang masih dapat diperoleh dengan mudah. Pihak pengrajin dimudahkan dalam penyediaan bahan baku tersebut, karena petani bambu telah menyiapkan kebutuhan batang bambu hingga pengangkutan ke sanggar bambu.
Kebutuhan bahan pembantu berupa rotan tali, rotan gelondong dan rotan antik umumnya diperoleh dari Jepara dan Cirebon melalui pedagang langsung. Ada beberapa pengrajin yang bertindak sebagai pedagang juga, sehingga pada saat pengangkutan produk mebel ke Jepara atau Cirebon, maka pada saat kembali selalu mendapatkan titipan dari sesama pengrajin untuk berupa tali rotan tersebut.


4. PENGERINGAN

Bambu yang digunakan untuk pembuatan mebel umumnya dipotong setelah berumur 13 bulan dengan pertimbangan bahwa bambu tersebut telah memiliki umur dan ketebalan batang yang cukup untuk diolah menjadi produk kerajinan. Pada daerah tropis, tanaman bambu biasanya kurang tahan lama karena mengandung kanji yang disukai oleh rayap dan menjadi tempat tumbuh yang baik bagi cendawan akibat suhu dan kelembaban tinggi sehingga diperlukan proses pengeringan dan pengawetan bambu agar menjadi lebih keras dan mampu bertahan hingga lebih dari 10 tahun.
Bambu yang telah dipotong cukup disandarkan dalam keadaan berdiri agak tegak (kemiringan 75 derajat) ditempat yang cukup teduh dan dibiarkan sampai kadar airnya berkurang. Posisi bambu pada saat proses pengeringan diupayakan jangan sampai terkena sinar matahari langsung secara terus menerus karena batang bambu bisa melengkung dan membentuk warna yang tidak dikehendaki, sesekali perlu dilakukan penyusunan ulang dengan membalikkan posisi sandar sehingga bambu dapat kering secara merata. Untuk menghindari kelembaban tanah yang naik ke batang, sebaiknya batang bambu dilindungi dengan menggunakan batu pada bagian bawah batang yang telah dipotong. Proses pengeringan ini memakan waktu 4-7 hari, apabila hari sering turun hujan makan proses pengeringan akan berjalan lebih lama.

5. PENGAWETAN

Yang dimaksud dengan pengawetan tradisional di sini adalah praktik dan perlakuan terhadap yang dilakukan olah masyakat secara turun temurun yang bertujuan untuk meningkatkan masa pakai bambu. Berbagai cara pengawetan tersebut diantaranya berupa :

5.1. Pengendalian waktu tebang

Adalah pengawturan waktu penebangan bambu pada saat-saat tertentu yang menurut kepercayaan atau kebiasaan masyarakat dapat meningkakan daya tahan bambu dibandingkan dengan penebangan pada sembarang waktu. Pengendalian waktu tebang di Indonesia ada banyak versi, diantaranya:

  • penebangan pada bulan tertentu (mongso/mangsa) dalam bahasa jawa/sunda, umumnya pada mongso 9 (bulan maret) dianggap sebagai waktu yang paling tepat untuk memotong bambu.
  • penebangan pada jam tertentu, misalnya penebangan dilakukan pada waktu menjelang subuh dipercaya dapat meningkatkan ketahanan bambu.
  • Penebangan pada waktu tertentu, misalnya penebangan pada waktu bulan purnama dibeberapa daerah dipercaya dapat mengurangi serangan hama pada bambu.

5.2. Perendaman bambu

bambu yang telah ditebang direndam selama berbulan-bulan bahkan tahunan agar bambu tesebut tahan terhadap pelapukan dan serangan hama. Perendaman dilakukan baik di kolam, sawah, parit, sungai atau di laut.penebangan waktu pada bulan tertentu (mongso/mangsa) dalam bahasa jawa/sunda, umumnya pada mongso 9 (bulan maret) dianggap sebagai waktu yang paling tepat untuk memotong bambu. Kelemahan dari sistem ini adalah, bambu yang direndam dalam waktu lama, ketika diangkat akan mengeluarkan lumpur dan bau yang tidak sedap, akan butuh waktu yang cukup lama setelah perendaman untuk mengeringkan hingga bau berkurang dan dapat dipakai sebagai bahan bangunan.

 

5.3. Pengasapan bambu

selain pengendalian waktu penebangan dan perendaman, secara tradisional bambu juga kadangkala diasap untuk meingkatkan daya tahannya. Secara tradisional bambu diletakkan di tempat yang berasap (dapur atau tempat pembakaran lainnya), secara bertahap kelembaban bambu berkurang sehingga kerusakan secara biologis dapat dihindari. Saat ini sebenarnya cara pengasapan sudah mulai dimodernisasi, beberapa produsen bambu di Jepang dan Amerika Latin telah menggunakan sistem pengasapan yang lebih maju untuk mengawetkan bambu dalam skala besar untuk kebutuhan komersil.

 

 

5.4. Pencelupan dengan kapur

Bambu dalam bentuk belah atau iratan dicelup dalam larutan kapur (CaOH2) yang kemudian berubah menjadi kalsium karbonat yang dapat menghalangi penyerapan air hingga bambu terhindar dari serangan jamur.

 

5.5. Pemanggangan/pembakaran

Biasanya dilakukan untuk meluruskan bambu yang bengkok atau sebaliknya. Proses ini dapat merusak struktur yang ada dalam bambu membentuk karbon , sehingga tidak disenangi oleh kumbang atau jamur.

6. PROSES PRODUKSI

Dalam menjalankan proses produksi, para pengrajin mebel bambu memiliki teknik yang sama, yaitu pembuatan rangka mebel, pengikatan dengan rotan tali, penyusunan iratan pada alas kursi dan meja serta iratan pada sandaran kursi yang sudah diukir. Pada tahapan akhir dilakukan proses finishing dengan cara mengampelas, memberi vernis atau melamin serta proses pengeringan. Tahapan-tahapan tersebut akan dibahas

berikut ini :

6.1. Pembuatan bagian-bagian mebel

Dari keseluruhan proses produksi pembuatan kerajinan mebel bambu, tahapan pembuatan rangka merupakan tahapan paling kritis dalam usaha ini, karena perlu perhitungan yang tepat dalam ukuran maupun pembuatan lubang untuk sendi/siku. Beberapa pengrajin memiliki tenaga kerja terampil khusus untuk pembuatan rangka ini sehingga tingkat kerusakan/kegagalan dapat ditekan.  Untuk membuat satu set kursi model Sudut diperlukan sekitar 6 batang bambu dan 12 batang untuk model Sofa. Batang bambu yang telah diukur untuk masing-masing bagian dalam rangka mebel akan dipotong dengan menggunakan gergaji kayu. Batang bambu dengan diameter terbesar (bagian bawah bambu) difungsikan sebagai kaki-kaki kursi (posisi vertikal) karena bagian ini memiliki ketebalan batang paling besar sehingga memiliki kekuatan yang paling besar pula. Sementara untuk batang bambu yang lebih kecil akan digunakan untuk palang bilah dengan posisi horizontal.

 

6.2. Perakitan

Proses perakitan mebel bambu dimulai dengan pekerjaan memasukkan bambu kedalam bagian kaki kursi yang telah dilubangi Ukuran lobang harus disesuaikan dengan ukuran batang bambu yang akan dimasukkan agar rangka kursi tidak bergoyang, dan proses ini harus dilakukan dengan hati-hati agar bambu tidak retak dan rangka mebel dapat berdiri dengan kokoh. Hingga tahapan ini setiap rangka akan diperiksa secara teliti oleh pengrajin karena hasil ini akan sangat mempengaruhi kualitas akhir.  Untuk memperkuat posisi sudut dari rangka, maka dilakukan pengikatan dengan menggunakan rotan tali,. Pengikatan ini selain agar posisi sambungan sudut lebih kuat juga memberikan sentuhan seni yang dapat meningkatkan nilai jual produk ini. Ikatan dengan tali rotan akan dilakukan pada bagian rangka yang dinilai cukup banyak dipandang mata sehingga menambah daya tarik mebel tersebut.  Untuk model Sudut, jumlah bagian mebel yang diikat dengan rotan berjumlah 42 buah, dengan rincian 2 buah kursi dengan 2 sandaran masing-masing 9 ikatan, kursi 1 sandaran terdapat 8 ikatan, meja sudut 12 ikatan dan meja tengah 4 ikatan. Berat rotan tali yang dibutuhkan untuk satu set mebel kayu model Sudut sekitar 85 gram, sedangkan untuk model Sofa dibutuhkan sekitar 100 gram rotan tali. Sedangkan untuk model Sofa dibutuhkan 32 ikatan dengan rincian kursi dengan sandaran 3, 2, 1 dan meja masing-

masing memiliki jumlah ikatan 8 buah.


6.3. Pelupuh

Pelupuh atau papan bambu adalah susunan dari batangan bambu yang dibelah dengan menggunakan parang pada satu sisi dari atas ke bawah dan berbentuk iratan/belahan batang dengan ukuran lebar sekitar 2 cm. Iratan tersebut kemudian disusun hingga berbentuk seperti papan atau dinding. Bentuk ini juga memberikan nilai seni tersendiri dan memudahkan sirkulasi udara khususnya untuk bagian bawah kursi maupun meja. Pada kerajinan mebel bambu ini pelupuh terdiri dari 2 macam, yaitu pelupuh polos dan pelupuh ukir. Tidak ada perlakukan khusus untuk pelupuh polos karena batang bambu hanya dipotong sesuai ukuran yang diperlukan. Untuk pelupuh pada alas duduk ditata sejajar dan diikat rotan antik dengan cara membentuk huruf "X" dan diikatkan ke batang bambu yang dipasang dibawah susunan iratan tersebut sehingga masing-masing iratan dapat terikat dengan erat

Sementara itu proses penyusunan pelupuh ukir diberlakukan beberapa tahapan :

  • Batang bambu yang akan dijadikan pelupuh ukir harus dipilih dari bagian batang yang baik;
  • Batang bambu diukir oleh tenaga terampil yang memang memiliki keterampilan khusus untuk melakukan ukiran pada batang bambu.
  • Batang bambu yang telah diukir akan diserut/seset menggunakan pisau raut untuk menghilangkan kulit bambu yang berwarna hitam pada bagian-bagian yang telah ditentukan, sehingga motif ukiran akan terlihat dengan jelas.
  • Proses selanjutnya adalah pemotongan batang bambu tersebut menjadi iratan-iratan dan disusun menjadi pelupuh.

Bila bambu yang telah diukir dan diseset/serut kulit bagian luar dengan menggunakan pisau raut selanjutnya dipotong-potong menjadi iratan-iratan dan disusun hingga berbentuk pelupuh/papan bambu. Pemotongan bambu ukir tersebut harus dilakukan dengan hati-hati agar bentuk potongan lurus sehingga mudah untuk disusun pada sandaran kursi atau alas meja. Apabila pelupuh sudah tersusun rapi dilakukan pengikatan dengan rotan gelondong pada bagian pinggir pelupuh yang mengitari sandaran kursi.

7. FINISHING
Proses finishing dilakukan apabila seluruh proses perakitan sudah selesai dilaksanakan dan telah mendapat pengecekan dari pengrajin. Proses finishing yang dilakukan meliputi kegiatan :

  • mengampelas seluruh ruas bambu agar halus. Cara mengampelas tidak boleh terlalu keras karena bisa merusah warna bambu yang sudah alami;
  • memberi vernis atau melamin pada seluruh lapisan bambu menggunakan kuas, dengan maksud untuk mempercantik mebel serta memberikan lapisan kepada kulit bambu agar kuat dan tahan lama/awet.

Setelah proses finishing dilakukan, mebel bambu tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung karena akan memudahkan terjadinya pecah-pecah pada lapisan yang telah divernis/melamin, mebel cukup ditata di tempat penyimpanan atau di ruang pamer sehingga dapat terkena hembusan angin secara langsung. Vernis/melamin tersebut akan kering dalam waktu 2-3 jam dan mebel siap untuk dijual.

 8. KESIMPULAN 

1.  Bambu merupakan bahan yang ramah lingkungan (green materials) yang dapat   digunakan sebagai pengganti kayu karena, mudah diperbarukan (renewable), mudah diperbaiki (restorative) dan mudah dibentuk (versatile).

2. Potensi bambu sangat banyak dan hampir di seluruh wilayah Indonesia ada dan     sudah familiar dengan masyarakat sejak nenek moyang kita ada.

3. Harganya murah dan tidak memerlukan peralatan yang mahal dan tenaga kerja dengan skill tinggi.

4.  Dengan teknologi yang maju sekarang ini, kelemahan bambu sudah dapat di atasi misalnya dengan pengawetan atau menjadikan produk sebagai produk bambu komposit.

5.  Kekuatan bambu komposit sudah teruji dan dapat disetarakan dengan kayu konstruksi. 

 

9. DAFTAR PUSTAKA 

1.   British Standard, Code of Practice 112 (1971)

2.   Indian Standard 6874 (1973), Methods of Tests for Round Bamboos

3.   Sulthoni A., 1983, Petunjuk Ilmiah Pengawetan Bambu Tradisional dengan perendaman Dalam Air, International Development Research Center Ottawa, Canada.

4.   Morisco, 1996 ; Bambu sebagai Bahan Rekayasa, Pidato Pengukuhan Jabatan Lektor Kepala Madya dalam Bidang Ilmu Teknik Sipil, Fakultas Teknik UGM.

5.   ISO 22156 (2004) Bamboo – Structure Design and ISO 22157-1: 2004 (E) Bamboo – Determination of physical and mechanical properties – Part 1: Requirements and Part 2: Laboratory manual. INBAR – 2004.    

 

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG