Produktivitas pekerja pada pengerjaan atap baja ringan di perumahan Green Hills Malang

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Wednesday, 24 September 2014 Published Date Written by dwitanto

PRODUKTIVITAS PEKERJA PADA PENGERJAAN ATAP BAJA RINGAN

DI PERUMAHAN GREEN HILLS MALANG

 

Oleh: Drs. Dwi Tanto, ST, MT. Widyaiswara P4TK BOE Malang

 

ABSTRAK

Kendala utama bagi perusahaan konstruksi baja ringan Inersia Construktion dewasa ini dalam usaha pengembangan produktivitas pekerjaan konstruksi, adalah belum adanyastandar produktivitas untuk pengerjaan rangka atap baja ringan, karena setiap perusahaan mempunyai karakter dan ke kususanmasing-masing. Penelitian ini menganalisis pengaruh upah yang diterima pekerja, pendidikan, kemampuan kerja dan disiplin kerja terhadap produktivitas pekerja struktur rangka atap baja ringan di  Perumahan Green Hills Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah pekerja rangka atap baja ringan pada proyek pembangunan yang sedang berlangsung,  Pembangunan Perumahan di Green Hills dengan pekerja yang berjumlah 37 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling jenuh, artinya sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah keseluruhan dari jumlah populasi. Analisis data menggunakan regresi berganda.

Hasil penelitian dan analisa data menunjukkan bahwa upah yang diterima pekerja, pendidikan, kemampuan kerja serta disiplin kerja berpengaruh signifikan terhadap produktivitas pekerjaan struktur rangka atap baja ringan di  Perumahan Green Hills Malang  sebesar 64,2%, dan sisanya 35,8% dijelaskan oleh variable yang tidak dimasukkan dalam model.

Guna meningkatkan produktivitas kerja, maka manajemen pelaksanaan proyek konstruksi perlu memperhatikan kemampuan kerja karyawan/ pekerja, dengan kemampuan pekerja yang memadai akan mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik, untuk membangkitkan semangat kerja manajemen harus memperhatikan upah selain itu perlu adanya peraturan yang tegas guna meningkatkan kedisiplinan para pekerja.

 

Kata kunci : upah, pendidikan, kemampuan kerja, disiplin kerja dan produktivitas

 

 

Pendahuluan.

 

Perkembangan Teknologi membawa perubahan yang baik dan benar terhadap kemajuan di bidang konstruksi. baja ringan memiliki potensi besar untuk melindungi kerusakan alam yang makin drastis akibat penggunaan kayu yang berlebihan. Selain itu material ini juga menawarkan solusi yang sesungguhnya ekonomis dibandingkan dengan penggunaan material seperti kayu.

Rangka atap baja ringan diciptakan untuk memudahkan perakitan dan konstruksi. Dengan sistem pabrikasi (pemasangan) yang begitu efisien dan praktis, rangka kuda kuda atap baja ringan dapat memenuhi tuntutan akan efisiensi waktu dalam penyelesaian suatu gedung. Baja ringan merupakan baja mutu tinggi yang memiliki sifat ringan dan tipis namun memililki fungsi setara baja konvensional. Rangka atap baja ringan yang di produksi denganroll forming system/cold forming system tahan terhadap rayap, tidak mudah muai, tahan karat danuntuk mengatasi kelemahan pada rangka atap kayu dan rangka atapbaja konvensional Sekaligusuntuk menjawab kebutuhan rangka atapmasa depan. Rangka atap baja ringan diciptakan untuk memudahkan perakitan dan konstruksi. Meskipun tipis baja ringan memiliki kekuatan tarik 550 Mpa, sementara baja biasa sekitar 300 Mpa.

Berkaitan dengan pemasangan konstruksi baja ringan, diperlukan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan khusus dengan harapan untuk memperoleh hasil yang terbaik. Oleh sebab itu perlu dilakukan suatu pengukuran produktivitas di lapangan yang bertujuan untuk mengetahui tolok ukur produktivitas yang telah dicapai dan merupakan dasar dari perencanaan bagi peningkatan produktivitas pemasangan konstruksi baja ringan di masa datang.

 

Sumber Daya Manusia memegang peranan yang sangat penting, sebab dengan tidak adanya tenaga kerja/karyawan yang profesional/kompetitif, perusahaan tidak dapat melakukan aktivitasnya secara maksimal meskipun semua peralatan modern yang diperlukan telah tersedia. Bertitik tolak dari karyawan sebagai sumber daya manusia itulah, maka perusahaan perlu mengetahui bahwa tenaga kerja memerlukan penghargaan serta diakui keberadaannya, juga prestasi kerja yang mereka ciptakan dan harga diri yang mereka miliki karena sumber daya manusia bukan mesin yang siap pakai. Salah satu cara memberikan penghargaan terhadap prestasi kerja karyawan yaitu dengan melalui upah. Tingkat pendidikan karyawan sangat penting untuk diperhatikan karena tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi pola pikir, sikap dan tingkah laku mereka.

Tujuan dari penelitian yang dilakukan ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengaruh presepsi upah yang diterima pekerja terhadap produktivitas pekerjaan struktur rangka atap

2.    Untuk mengetahui pengaruh pendidikan terhadap produktivitas pekerjaan struktur rangka atap

3.    Untuk mengetahui pengaruh kemampuan kerja terhadap produktivitas pekerjaan struktur rangka atap

4.    Untuk mengetahui pengaruh disiplin kerja terhadap produktivitas pekerjaan struktur rangka atap

 

Berdasarkah hasil kajian tersebut, penelitian ini ingin menguji apakah presepsi upah, pendidikan, kemampuan kerja dan disiplin kerja memberikan kontribusi terhadap produktivitas pekerjaan struktur rangka atap baja ringan di perumahan Geen Hills Kota Malang.         Dipilihnya lokasi perumahan Geen Hills sebagai obyek penelitihan adalah karena pada perumahan ini menggunakan bahan atap dari rangka kayu dan rangka baja ringan pada type rumah yang sama, dengan durasi pembangunan pada setiap unit rumah sekitar 3 – 4 bulan untuk pekerjaan konstruksi type Klasik 60 dengan luas atap 91,50 m²,  berdasarkan data lapangan dapat diketahui untuk pekerjaan atap rangka kayu diselesaikan dalam waktu 3 minggu dan untuk atap baja ringan diperlukan waktu 1 minggu, Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis akan melakukan sebuah penelitian tentang produktivitas tenaga kerja pada pengerjaan atap baja ringan di sebuah proyek Pembangunan Perumahan Green Hills, Malang, Jawa Timur.

Penelitianpresepsi upah, pendidikan, kemampuan kerja dan disiplin kerja terhadap produktivitas pekerjaan struktur rangka atap

Produktivitas diartikan sebagai tingkatan efisiensi dalam memproduksi barang atau jasa. (Iman Soeharto, 1995 ;294). “ Produktivitas adalah suatu pendekatan interdisipliner untuk menentukan tujuan yang efektif, pembuatan rencana, aplikasi penggunaan cara yang produktif untuk menggunakan sumber-sumber secara efisien, dan tetap menjaga adanya kualitas yang tinggi.

Mengingat bahwa pada umumnya proyek berlangsung dengan kondisi yang berbeda-beda, maka dalam merencanakan tenaga kerja hendaknya dilengkapi dengan analisis produktivitas dan indikasi variable yang mempengaruhi (Iman Soeharto, 1995).

Upah merupakan faktor yang sangat penting bagi perusahaan, karena jumlah upah atau balas jasa yang diberikan perusahaan kepada karyawannya akan mempunyai pengaruh yang tidak kecil terhadap jalannya perusahaan.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Dalam Bab I Pasal 1 angka 30 dijelaskan Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan,

pendidikan menurut Undang–undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah sebagai berikut : “Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang”.

Menurut (Gibson, 1984), kemampuan menunjukkan potensi orang untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan. Kemampuan berhubungan erat dengan kemampuan fisik dan mental yang dimiliki orang untuk melaksanakan pekerjaan. Kemampuan (ability).  (Bolman et al. 1999) juga menyatakan bahwa kemampuan individu untuk menjadi lebih bernilai, terkendali, dan lebih efektif harus dengan dukungan pelatihan, pengalaman.

untuk memperoleh kemampuan dalam melaksanakan pekerjaan dapat melalui pendidikan yang relevan dengan pekerjaan. Pelatihan memang mutlak perlu dilakukan karena manfaatnya tidak hanya bagi karyawan yang bersangkutan seperti memberikan kepada seseorang kepercayaan diri, meningkatkan pengetahuan, keterampilan sehingga akan dapat meningkatkan prestasi kerjanya yang pada akhirnya akan terwujud produktivitas kerja yang baik

Disiplin yang baik mencerminkan besarnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Hal ini mendorong kegairahan kerja, semangat kerja dan terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat. Menurut (Hasibuan, 2006,193) kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku. ketidakdisiplinan karyawan di dalam suatu perusahaan maka, secara tidak langsung akan berakibat negatif bagi pihak perusahaan tersebut. Adapun akibat dari ketidakdisiplinan karyawan didalam suatu perusahaan menurut (Kartono, 2000,178) adalah sebagai berikut :

a    Target Produksi Tidak Tercapai

b    Biaya Produksi Semakin Besar

c    Tujuan Jangka Panjang Terhambat

(Aprilian, T. 2010) melakukan penelitian dengan judul Analisis Produktivitas Tenaga Kerja Pada Pekerjaan Struktur Rangka Atap Baja (Studi Kasus Proyek Pembangunan Rumah Sakit Dr. Moewardi, Surakarta Jawa Tengah). Dengan menggunakan analisis regresi berganda ditemukan bukti bahwa variabel yang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap besarnya tingkat produktivitas tenaga kerja adalah variabel kesesuaian upah, pengalaman kerja dan variabel keahlian pekerja.

(Hidayat, F. 2009) melakukan penelitian tentang Motivasi Pekerja Pada Proyek Konstruksi Di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, secara umum, tingkat kebutuhan pekerja adalah physiological need (kebutuhan fisik) karena mereka masih melakukan pekerjaan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar.

 

Metode

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian penjelasan (explanatory) dengan pendekatan survei. Penelitian eksplanatif (explanatory research) yaitu penelitian yang berusaha menjelaskan hubungan kausal dan menguji keterkaitan yang terjadi antara fakta-fakta  Metode survei adalah merupakan upaya pengumpulan informasi secara sistematis dari sebagian populasi yang dianggap dapat mewakili populasi tertentu dengan menggunakan kuesioner sebagai alat bantu pengambilan data primer dari responden (Palestin, 2008).

Populasi dalam penelitian ini adalah pekerja pada sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung, pada proyek Pembangunan Perumahan di Green Hills, Malang .Selanjutnya teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling jenuh. Teknik sampling jenuh / sensus adalah teknik penentuan sample bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel menurut (Sugiyono, 2010).Sehingga sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah keseluruhan dari jumlah popluasi yaitu seluruh pekerja pada sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung, pada proyek Pembangunan Perumahan di Green Hills, Malang yang berjumlah 37 orang.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, yang mana merupakan teknik pengumpulan data dengan memberi daftar pertanyaan tertulis kepada responden untuk memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian.  Kuesioner tersebut diberikan langsung kepada pekerja responden pekerja rangka baja ringan pada sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung, pada proyek Pembangunan Perumahan di Green Hills, Malang.  Hal ini bertujuan untuk mengumpulkan fakta-fakta yang berupa pendapat atau persepsi.

    

Bagan Alir Penelitian

Berdasarkan rumusan permasalahan berikut  adalah gambaran skema kerangka pikir dari kajian empirik  untuk penelitian pengaruh penggunaan rangka baja ringan terhadap produktifitas proyek, seperti pada gambar 1.Diagram alir penelitian.

 

 

Gambar 1. Diagram Alir Kerangka Pemikiran.

 

Dari uraian yang disampaikan, maka model penelitian ini digambarkan pada gambar 2. sebagai berikut :

 

Gambar 2. Model Penelitian

 

presepsi upah (X1), tingkat pendidikan (X2), kemampuan kerja (X3), dan disiplin kerja (X4) terhadap produktivitas kerja pada sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung, pada proyek Pembangunan Perumahan di Green Hills, Malang (Y).

 

HASIL PENELITIAN

 

Dalam proses validasi dilakukan beberapa kali perubahan susunan? Bentuk pertanyaan pada kuesioner, sehingga didipatkan suatu susunan pertanyaan pertanyaan yang mudah dimengerti dan dipahami oleh responden, dan akhirnya akan diperoleh kuesioner yang dapat mengungkapkan tujuan kuesioner secara keseluruhan dan untuk pengujian menggunakan 30 responden. Menurut Arikunto (2004) suatu instrument dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan mengungkapkan data variabel yang diteliti secara tepat. Dalam penelitian ini uji validitas dilakukan dengan teknik korelasi product moment pearson’s. Suatu item dinyatakan valid jika indek korelasi product moment pearson (r) ≥ 0,3. (Sugiyono, 2002)

Hasil uji validitas item instrumen dapat dilihat pada Tabel 1.

 

 

 
 

Tabel 1. Uji Validasi Instrumen

 


 

 
 

Sumber: data primer 2014

 

 

  

Berdasarkan hasil uji validitas yang dilakukan terhadap item instrumen yang digunakan dalam penelitian,

menunjukan bahwa semua item instrumen penelitian dapat dikatakan

valid, karena telah memenuhi kriteria pengujian validitas item instrumen yang digunakan yaitu nilai indeks korelasi product moment pearson          (r) ≥ 0,3.

Alat ukur dikatakan memiliki reliabilitas apabila instrumen yang digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Hal ini berarti reliabilitas berhubungan dengan

konsistensi, akurasi atau ketepatan peramalan dari hasil riset. Menurut

menghasilkan data yang sama. Hal ini berarti reliabilitas berhubungan dengan

konsistensi, akurasi atau ketepatan peramalan dari hasil riset. Menurut

konsistensi, akurasi atau ketepatan peramalan dari hasil riset. Menurut Malhotra (1996) suatu instrument dikatakan handal apabila nilai Alpha Cronbach besarnya sama atau lebih besar    dari 0,6.

 

 
 

Tabel 2. Uji Reliabilitas Item Instrumen

 

 

 


 

 

 

                Sumber : Data Primer, 2014

 

 

Pada Tabel 2. Hasil uji reliabilitas yang dilakukan terhadap item instrumen yang digunakan dalam penelitian menunjukan bahwa semua item instrumen penelitian dapat dikatakan reliabel, karena telah memenuhi kriteria pengujian reliabilitas item instrument yang digunakan, yaitu nilai Alpha Cronbach lebih besar atau sama dengan 0,6.

 

Deskripsi Jawaban Responden

Bagian ini menyajikan distribusi frekuensi skor masing-masing item variabel dan mean setiap item variabel. Untuk mendeskripsikan nilai mean setiap butir, indikator dan variabel dalam penelitian ini digunakan kriteria dengan interval kelas yang diperoleh dari hasil perhitungan :

 

 

Nilai skor jawaban responden dalam penelitian ini mengacu pada skala 5 poin dari Likert, sehingga nilai skor jawaban responden tertinggi adalah 5 dan untuk nilai skor jawaban terendah adalah 1, sedangkan jumlah kelas/kategori yang digunakan dalam penyusunan kriteria tersebut disesuaikan dengan skala yang digunakan yaitu 5 kelas, sehingga interval yang diperoleh untuk setiap kelas adalah (5-1) : 5 = 0,8. Dengan demikian kriteria untuk mendiskripsikan nilai mean yang diperoleh setiap butir, indikator maupun variabel dapat disusun sebagai berikut, lihat pada Tabel 3.

 

 

Tabel 3. Nilai Skor dan Kategori

Sumber : Sudjana (2001)

 

Berikut ini akan dipaparkan hasil analisis diskriptif terhadap variabel-variabel penelitian berdasarkan persepsi 37 orang responden melalui kuesioner yang disebarkan.

 

Upah  (X1)

Berdasarkan data yang terkumpul melalui kuesioner terlihat bahwa distribusi frekuensi dari item-item variabel upah di sajikan tampak pada tabel 4.  dibawah ini :

 

Tabel  4. Distribusi frekwensi variable Upah (X1)

 

 

Sumber data primer 2014

 

Berdasarkan tabel 4. dapat dijelaskan bahwa indeks persepsi rerata responden terhadap upah adalah 3,24. Hal ini berarti pekerja memberikan persepsi yang cukup baik berkaitan dengan upah yang diterimanya. Persepsi responden terhadap upah tercermin dari rerata tiap-tiap indikator. Dari ketiga indikator yang terkuat membentuk upah adalah upah yang diterima sudah termasuk asuransi kesehatan dengan nilai rerata sebesar 3,38. artinya asuransi kesehatan dan kecelakaan kerja sudah termasuk dalam upah yang dibayarkan. bonus dan upah tambahan akan diberikan perusahaan,

Indikator kedua yang membentuk upah adalah upah yang diterima sudah termasuk asuransi dengan nilai rerata sebesar 3,19. artinya upah yang diterima saat ini sudah termasuk asuransi kesehatan dan kecelakaan kerja, dimana upah yang diterima dipotong untuk jamsostek.

Indikator terakhir yang membentuk upah adalah upah yang diterima sesuai dengan tingkat kemampuan dengan nilai rerata sebesar 3,14 artinya upah yang diterima saat ini sudah sesuai dengan tingkat kemampuan/ keahlian, dimana upah yang diterima senilai Rp  75.000,- / hari.

 

Kemampuan kerja (X3)

Berdasarkan data yang terkumpul melalui kuesioner, terlihat bahwa distribusi frekuensi dari item-item variabel kemampuan kerja tampak pada Tabel 5.

 

Tabel  5.  Distribusi frekwensi variable kemampuan kerja (X3)

 

 

Sumber data primer 2014

Berdasarkan tabel 5. dapat dijelaskan bahwa indeks persepsi rerata responden terhadap kemampuan kerja adalah 3,60 Hal ini berarti pekerja memberikan persepsi yang baik berkaitan dengan kemampuan kerja. Persepsi responden terhadap kemampuan kerja tercermin dari rerata tiap-tiap indikator. Dari keempat indikator yang terkuat membentuk kemampuan kerja adalah gambar kerja proyek yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pekerjakan dengan nilai rerata sebesar 3,70. artinya dalam pelaksanaan pekerjaan, gambar kerja sebagai pedoman kerja dilihat bila ada masalah.

Indikator kedua yang membentuk kemampuan kerja adalah  menghadapi masalah di tempat kerja dengan nilai rerata sebesar 3,57. artinya pekerja dalam menghadapi suatu masalah lingkungan di tempat kerja, mampu untuk segera menyelesaikan.

Indikator ketiga yang membentuk kemampuan kerja adalah menangani masalah pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya dan wewenang dengan nilai rerata sebesar 3,51. artinya dalam mengatasi masalah pekerjaan di proyek mampu menangani antara individu dsan rekan kerja.

Indikator keempat yang membentuk kemampuan kerja adalah memahami tugas dan tanggung jawab masalah konstruksi dilapangan dengan nilai rerata sebesar 3,65. artinya pekerja benar memahami tugas, tanggung jawab dan hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan konstruksi dilapangan, dimana mampu mengatasi masalah konstruksi dilapangan hingga pekerjaan selesai dengan tanpa kesalahan

 

Disiplin Kerja (X4)

Berdasarkan data yang terkumpul melalui kuesioner, terlihat bahwa distribusi frekuensi dari item-item variabel disiplin kerja tampak pada Tabel 6.

 

Tabel 6. Distribusi frekwensi variable Disiplin kerja  (X4)

 

 

 

 

Sumber data primer 2014

 

Berdasarkan tabel 6. dapat dijelaskan bahwa indeks persepsi rerata responden terhadap disiplin kerja adalah 3,19. Hal ini berarti pekerja memberikan persepsi yang cukup baik berkaitan dengan disiplin kerja. Persepsi responden terhadap disiplin kerja tercermin dari rerata tiap-tiap indikator. Dari kelima indikator yang terkuat membentuk disiplin kerja adalah menetapkan tahapan standar yang ditetapkan perusahaan dengan nilai rerata sebesar 3,43 artinya pekerja dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi/ proyek, selalu menerapkan SOP sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan oleh perusahaan.

Indikator kedua yang membentuk disiplin kerja adalah  menerima sangsi bila hadir terlambat dengan nilai rerata sebesar 3,08. artinya jika terlambat hadir bersedia dikenakan sanksi administrasi sesuai dengan peraturan yang berlaku, dalam kondisi ini pekerja menerima sangsi

administrasi bila terlambat hadir 15 menit – 1 jam  (pemotongan seper lima dari gaji yang diterima).

Indikator ketiga yang membentuk disiplin kerja adalah  mengenakan APD (Alat Pelindung Diri) bila masuk pada areal kerja dengan nilai rerata sebesar 3,03 artinya bila tidak mengenakan APD (Alat Pelindung Diri) maka anda tidak boleh masuk pada areal kerja. Kondisi dilapangan menunjukan bahwa pekerja memberikan pernyataan bahwa menggunakan APD dalam bekerja bila ditegur.

Indikator keempat kehadir kerja adalan pekerja menerapkan tahapan standar perusahaan dalam pekerjaan dengan nilai rerata sebesar 3,30 artinya  dalam bekerja selalu hadir tepat waktu, sesuai ketentuan perusahaan.

Indikator keempat yang membentuk disiplin kerja adalah ketidak disiplinan berakibat negatif pada pekerjaan dengan nilai rerata sebesar 3,11 artinya  ketidak disiplinan dalam suatu pekerjaan, secara tidak langsung akan berakibat negatif bagi pekerjaan tersebut (pekerjaan terlambat dan terjadi incident), kondisi dilapangan menunjukan bahwa pekerja cukup disiplin dalam menyelesaikan pekerjaan.

 

Produktivitas Kerja (Y)

Produktivitas kerja dari masing-masing pekerja dinilai oleh mondor sebagai pengawas pekerjaan. Hasil distribusi frekuensi dari item-item variabel produktivitas kerja tampak pada

Tabel 7.

 

Tabel  7. Distribusi frekwensi Produktivitas kerja  (Y)

Sumber data primer 2014

 

Berdasarkan tabel 7. dapat dijelaskan bahwa indeks persepsi rerata responden terhadap produktivitas kerja adalah 3,45 Hal ini berarti mandor memberikan persepsi yang baik berkaitan dengan produktivitas kerja para pekerjanya. Persepsi mandor terhadap produktivitas kerja tercermin dari rerata tiap-tiap indikator. Dari kelima indikator yang terkuat membentuk produktivitas kerja adalah penggunaan peralatan dengan nilai rerata sebesar 3,57 artinya pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan dibantu dengan menggunakan peralatan listrik portebel.

 Indikator kedua yang membentuk produktivitas kerja adalah  jadual/ sekedul dengan nilai rerata sebesar 3,46 artinya dalam melaksanakan tugas mengikut jadual yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

Indikator ketiga yang membentuk produktivitas kerja adalah menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dengan nilai rerata sebesar 3,51 artinya artinya pimpinan/mandor memberikan jawaban bahwa pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan selalu tepat waktu

Indikator keempat yang membentuk produktivitas kerja adalah kerja sama dengan nilai rerata sebesar 3,62, artinya dalam melaksanakan tugas mematuhi perintah pimpinan/mandor.

Indikator kelima yang membentuk produktivitas kerja adalah pekerjaan melebihi standart yang telah ditentukan sehingga dapat memuaskan perusahaan dengan nilai rerata sebesar 3,51 artinya pimpinan/mandor memberikan jawaban bahwa  pekerjaan yang dikerjakan pekerja cukup melebihi standart kerja yang telah ditentukan sehingga dapat memuaskan perusahaan

 

Uji Asumsi Klasik

Model pengujian hipotesis berdasarkan analisis regresi yang digunakan dalam penelitian ini harus memenuhi asumsi klasik agar menghasilkan nilai parameter yang sahih. Asumsi klasik tersebut antara lain uji normalitas, multikolinearitas dan heteroskedastisitas.

 

Uji Normalitas

Untuk mengetahui apakah data

sampel berdistribusi normal dapat diketahui dengan uji kolmogorov-smirnov. Pengambilan keputusan bahwa data tersebut berdistribusi normal jika nilai sig. uji kolmogorov-smirnov > 0.05, maka distribusi data dikatakan normal. Hasil pengujian normalitas data disajikan pada Tabel 8.  berikut:

 

         Tabel  8.  Hasil Pengujian Normalitas

 

 Sumber : Data Primer Diolah 2014

 

Berdasarkan pada Tabel 8. diperoleh kesimpulan bahwa data sampel yang diambil telah mengikuti sebaran distribusi normal, karena nilai Asymp. Sig. (2-tailed) > 0.05.

 

Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas adalah penunjukkan adanya hubungan linear diantara variabel independen.  Kondisi ini harus dihindari agar hasil pengujian tidak bias. Pengujian multikolinearitas dalam penelitian ini akan menggunakan nilai varian inflation factor (VIF) yang diperoleh dari pengujian hipotesis.  Apabila nilai VIF lebih besar dari 10 berarti terjadi masalah yang berkaitan dengan multikolinearitas, sebaliknya model regresi tidak mengandung multikolinearitas jika nilai VIF-nya dibawah 10. Hasil pengujian multikolinearitas ini disajikan pada tabel 9. dibawah ini.

                      

Tabel  9.  Hasil Pengujian Multikolinearitas

 

  

Sumber : Data Primer Diolah 2014

 

 

Berdasarkan pada tabel 9. tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwa model regresi dalam penelitian ini tidak mengandung gejala (masalah) multikolinearitas, karena nilai varian Inflation Factor (VIF) adalah dibawah batas kriteria tentang adanya masalah multikolinearitas, yaitu 10. Dengan

demikian, data tersebut dapat memberikan informasi yang berbeda untuk setiap variabel independennya.

 

Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas dalam penelitian ini diuji dengan metode

Korelasi Spearman’s rho antara nilai residu (disturbance error) dari hasil regresi dengan masing-masing variabel independennya. Apabila nilai korelasi Spearman’s rho dibawah 0,7 berarti model regresi menunjukkan tidak adanya permasalahan heteroskedastisitas. Sebaliknya, jika nilai korelasi Spearman’s rho diatas 0,7 berarti model regresi menunjukkan adanya permasalahan heteroskedastisitas (Gujarati, 1992). Hasil pengujian asumsi Heteroskedastisitas ini disajikan pada  tabel 10 di bawah ini.


            Tabel 10  Heteroskedastisitas

 

   Sumber : Data Primer, 2014


Hasil analisis korelasi Spearman’ rho pada tabel 10 diatas menunjukkan bahwa antara varian pengganggu (unstandardized residual) dengan setiap variabel independen tidak ada yang menunjukkan nilai diatas 0,7. Ini berarti bahwa varian faktor pengganggu variabel prediktor adalah sama atau konstan, sehingga heterokedastisitas tidak terjadi dalam model regresi penelitian ini.

 

Analisis Regresi Berganda

Analisis ini digunakan untuk mengetahui pengaruh upah (X1), tingkat pendidikan (X2), kemampuan kerja (X3), dan disiplin kerja (X4) terhadap produktivitas kerja (Y). Tabel berikut adalah hasil perhitungan dari uji regresi berganda dengan bantuan Statistical Package for Social Science (SPSS) 15.0 for windows.

 

             Tabel 11. Rekapitulasi hasil analisa regresi berganda

         

    Sumber : Data Primer, 2014

 

 

Berdasarkan Tabel 11. dapat dijelaskan bahwa Uji F dalam penelitian ini digunakan untuk menguji ketepatan atau keberartian model penelitian. Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa nilai F dalam penelitian ini sebesar 14.372 dengan nilai probabilitas sebesar 0.000 dan signifikan pada alpha (α) sebesar 5% (0,05). Hal ini mempunyai makna bahwa upah, tingkat pendidikan, kemampuan kerja, dan disiplin kerja mempunyai pengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja.

Koefisien Determinasi R² (R Square) yang dibentuk dalam pengujian ini memiliki nilai 64,2%, artinya perubahan pada variabel produktivitas kerja dapat dijelaskan oleh variabel upah, tingkat pendidikan, kemampuan kerja, dan disiplin kerja sebesar 64,2%, sedangkan sisanya 35,8% dijelaskan oleh variabel yang tidak dimasukkan dalam model

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bentuk model persamaan sebagai beri kut:

Y =  1, 232 + 0.113 X1 + 0.404 X2 + 0.476 X3 + 0.316 X4

 

Besarnya nilai konstanta sebesar 1,232 menunjukan bahwa apabila variabel independen konstan atau sama dengan nol maka produktivitas kerja sebesar  1,232

Besarnya nilai koefisien upah sebesar 11,3% dan pengaruh ini arahnya positif. Hal ini mempunyai makna bahwa apabila upah yang diterima sesuai dengan tingkat kemampuan, pemberian bonus bila pekerjaan cepat dan sempurna dan upah yang diterima sudah termasuk asuransi, maka akan meningkatkan produktivitas kerja sebesar 11,3%.

Besarnya nilai koefisien tingkat pendidikan sebesar 40,4% dan pengaruh ini arahnya positif. Hal ini mempunyai makna bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan pekerja akan meningkatkan kinerja pegawai sebesar 40,4%

Besarnya nilai koefisien kemampuan kerja sebesar 47,6% dan pengaruh ini arahnya positif. Hal ini mempunyai makna bahwa apabila mengerjakan sesuai dengan gambar kerja, dapat mengatasi masalah pekerjaan permasalahan dilapangan, menghadapi masalah lingkungan tempat kerja dan memahami pelaksanaan pekerjaan di lapangan, maka akan meningkatkan produktivitas kerja sebesar 47,6%.

Besarnya nilai koefisien disiplin kerja sebesar 31,6% dan pengaruh ini arahnya positif. Hal ini mempunyai makna bahwa apabila pekerja menerima sangsi bila hadir terlambat, mengenakan APD (Alat Pelindung Diri) bila masuk pada areal kerja, kehadiran yang tepat waktu, menerapkan tahapan pekerjaan standar dan kedisiplinan dalam pekerjaan maka akan meningkatkan produktivitas kerja sebesar 31,6%.

 

Pengujian Hipotesis

Seperti tampak pada tabel 5.20, diperoleh nilai t hitung untuk variabel upah sebesar 1.052 dengan probabilitas sebesar 0,301. Nilai probabilitas tersebut lebih kecil dari signifikan statistik pada α = 5%, sehingga menolak H0 yang artinya bahwa upah berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja.

Nilai t hitung untuk variabel tingkat pendidikan sebesar 3.635 dengan probabilitas sebesar 0,001. Nilai probabilitas tersebut lebih kecil dari signifikan statistik pada α = 5%, sehingga menolak H0 yang artinya bahwa tingkat pendidikan berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja.

Nilai t hitung untuk variabel kemampuan kerja sebesar 4.288 dengan probabilitas sebesar 0,000. Nilai probabilitas tersebut lebih kecil dari signifikan statistik pada α = 5%, sehingga menolak H0 yang artinya bahwa kemampuan kerja berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja.

Nilai t hitung untuk variabel disiplin kerja sebesar 2.955 dengan probabilitas sebesar 0,006. Nilai probabilitas tersebut lebih kecil dari signifikan statistik pada α = 5%, sehingga menolak H0 yang artinya bahwa disiplin kerja berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja.

                                                                 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan dan Saran

 

kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut ;

1.a. Upah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja pada sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung, pada pengerjaan atap baja ringandi Perumahan Green Hills, Malang, Jawa Timur, sebesar 11,3% sehingga untuk meningkatkan produktivitas kerja, dibutuhkan sebuah dorongan atau motivasi dalam bentuk pemenuhan kebutuhan. Pemenuhan kebutuhan bagi pekerja dapat berupa pemberian upah yang merupakan balas jasa yang berupa uang atau balas jasa lain yang diberikan perusahaan kepada pekerjanya.

b. Tingkat pendidikan/  keahlian mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja rangka atap baja ringan pada sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung, pada proyek Pembangunan Perumahan di Green Hills, Malang, Jawa Timur, sebesar 40,4% sehingga Tingkat pendidikan/  keahlian karyawan sangat penting untuk diperhatikan karena tingkat pendidikan/ keahlian yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi pola pikir, sikap dan tingkah laku mereka.

c. Kemampuan kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja pada sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung, pada pengerjaan atap baja ringan proyek Pembangunan Perumahan di Green Hills, Malang, Jawa Timur, sebesar 47,6% sehingga untuk meningkatkan produktivitas kerja, dibutuhkan kemampuan yang tinggi dari pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya

d. Kedisiplinan kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja pada sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung, pada pengerjaan atap baja ringan proyek Pembangunan Perumahan di Green Hills, Malang, Jawa Timur, sebesar 31,6% sehingga untuk meningkatkan produktivitas kerja, dibutuhkan tingkat kedisiplinan yang tinggi dari pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya

 

2.a Berdasarkan hasil perhitungan, maka didapat persamaan regresi sebagai berikut :

              Y = 1.232 + 0.113. X1 + 0.404 .X2 + 0.476. X3 + 0.316 .X4 

    Yang menggambarkan bahwa :

     Produktivitas = 1.232 + 0.113 . Upah + 0.404 . Pendidikan + 0.476.

                              Kemampuan kerja + 0.316 . Disiplin

 

 

Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka saran dan implikasi penelitian ini adalah

1.    Manajemen pelaksanaan proyek konstruksi perlu memperhatikan kemampuan kerja karyawan, dengan mempunyai keahlian pekerja dapat mengatasi permasalahan konstruksi dan lingkungan di dilapangan dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan.

2.    Guna membangkitkan motivasi kerja, pekerja ikut serta dalam manajemen pelaksana proyek (ikut memiliki saham), sehingga dengan menjadi bagian dari manajemen, pekerja akan termotivasi untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan tepat waktu sehingga akan mendapatkan keuntungan dari proyek yang dikerjakan.

3.    Besarnya pengaruh upah, tingkat pendidikan, kemampuan kerja, dan disiplin kerja terhadap produktivitas kerja sebesar 64,2% dan sisanya 35,8% dipengaruhi oleh faktor atau variabel lain yang tidak dimasukan dalam model penelitian ini. Hal ini dapat dijadikan sebagai dasar bagi peneliti yang akan datang untuk menambah variabel penelitian.


 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto Suharsini, 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Penerbit Rineka Cipta, Edisi Revisi VI, Cetakan XIII, Jakarta.

Aprilian, T. 2010. Analisis Produktivitas Tenaga Kerja Pada Pekerjaan Struktur Rangka Atap Baja (Studi Kasus Proyek Pembangunan Rumah Sakit Dr. Moewardi, Surakarta Jawa Tengah). SKRIPSI (Tidak Dipublikasikan), Surakarta, Universitas Sebelas Maret

Bolman, Lee, G. Deal, and Terry, E. 1999. 4 Steeps to Keeping Change Efforts Heading in The Right Direction, Journal for Quality & Participation (QCJ), Vol: 22, ISS: 3, Page: 6-11.

Deierlein, Bob. 1996. Pop Quiz: How to Peg a Productive Mechanic, Journal World Wastes (WWA), vol: 39, ISS: 11, Page: 13-15.

Dessler, G. 1996. Manajemen Personalia. Erlangga, Jakarta.

Gibson. 1997. Manajemen. Penerjemah: Zuhad Ichyaudin. Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Grossman Robert J, 2000. Emotions at Work, Journal of Health Forum, (HPF) Vol : 43 Iss:5.

Hidayat,F. 2009. Motivasi Pekerja Pada Proyek Konstruksi Di Kota Bandung. Media Teknik Sipil, Volume IX, Januari 2009.

Iman. Soeharto, 1995. Manajemen Proyek : Dari Konseptual Sampai Operasional. Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

Kartono, Kartini. 1992. Kepemimpinan dalam Manajemen, Jakarta: Rajawali Press.

Kriswanto Joni, Penanggulangan Multikolinearitas 2, jonikriswanto.blogspot.com, 21 Desember 2007

Kriswanto Joni, Uji Asumsi Klasikjonikriswanto.blogspot.com 21 Desember 2007.

Lestari, Andri Reni. 2001. Pengaruh faktor Motivasi dan kediplinan Terhadap Prestasi Kerja Pegawai Pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tulungagung. Tesis. Universitas Brawijaya. Malang

Martoyo, Susilo, 1994. Manajemen Sumber Daya Manusia, BPFE-UGM, Yogyakarta.

Merryardani dan Leo Willyanto. 2008. Relevansi Pemberlakuan Standar Sertifikasi Ketrampilan Mandor Dan Tukang Pada Proyek Konstruksi Indonesia. Tugas Akhir S1 Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung

Muchdarsyah. Sinungan., 2003. Produktivitas Apa Dan bagaimana. Jakarta : Bumi Aksara.

Randy K. Chiu dan Vivienne dan Wai Mei Luk dan Thomas Li-Ping Tang.,2002. Retaining and motivating employees Compensation preferences in Hong Kong and China. Personnel Review, Vol. 31 No. 4, pp. 402-431.

Robbins, Stephen P., 1996. Perilaku Organisasi, Jilid I, PT.Prenhallindo, Alih Bahasa: Hadyana Pujaatmaka, Jakarta.

Saydam, Gouzali. 1996. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Ketiga. Cetakan Pertama. Jakarta :Balai Pustaka

Sugiyono,  2007,  Metode Penelitian Administrasi,  Penerbit Alfabeta,  Cetakan ke 15, Bandung.

Soedarmayanti. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia Reformasi Birokrasi dan Manajemen Pegawai Negeri Sipil. Bandung : PT. Rafika Aditama.

Undang-undang No : 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

Wikianswers, What_is_explanatory_research, wiki.answers.com, 12 Januari 2008.

Widdy Vinsensius, Uji Korelasi, vinsensiuswiddy.wimamadiun.com, 5 Januari 2007.

Winardi. 1990. Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta: Renika Cipta

 

Zaeni Asyhadie, 2007. Hukum Kerja, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada.