Desain Tangga untuk Rumah Minimalis Modern

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Tuesday, 30 September 2014 Published Date Written by Budi martono

DESAIN TANGGA UNTUK RUMAH MINIMALIS MODERN

 

Budi Martono*

 

Abstraksi

 

Untuk mendesain tangga rumah minimalis modern memerlukan perencanaan yang baik pada beberapa hal sebagai berikut: (1) mengetahui tentang bagian-bagian tangga, yaitu anak tangga, ibu tangga, pagar dan pegangan tangga, serta bordes; (2) memilih jenis bahan konstruksi tangga bisa dari besi, beton, kayu, atau kombinasi dari bahan trsebut; (3) mengetahui prinsip-prinsip perancangan tangga, yaitu kelandaian tangga, ruang pengantar dan penerima, material anti slip pada anak tangga, dan pencahayaan; (4) memilih bentuk tangga sesuai dengan ketersediaan ruangan; (5) dan menghitung jumlah anak tangga. Dengan memenuhi beberapa hal tentang perencanaan tangga maka dihasilkan suatu tangga ideal yang kuat, aman, nyaman, dan bernilai estetika tinggi.

 

Kata kunci: tangga rumah minimalis modern, desain/perencanaan, tangga ideal.

 

 

 

I.      PENDAHULUAN

 

Tangga tidak hanya sekedar bermanfaat secara fungsional sebagai sarana dalam suatu bangunan bertingkat untuk menghubungkan antar lantai. Selain itu, tangga bermanfaat pula sebagai elemen dekoratif yang mempunyai nilai estetika tinggi dalam interior rumah. Untuk merencanakan sebuah tangga yang berfungsi dengan baik dan indah dilihat, marilah kita cermati hal-hal yang berkaitan dengan tangga di bawah ini.

 

Tangga yang ideal adalah tangga yang apabila dilalui orang/barang tidak merasa kesulitan dan kelelahan serta aman. Pada prinsipnya, siapapun yang menggunakan tangga, maka mereka harus merasa aman dan nyaman. Untuk memberikan rasa aman dan nyaman ketika melalui tangga, maka ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan saat perencanaannya, antara lain : (1) tinggi dan ukuran anak (pijakan) tangga; (2) kemiringan (kecuraman) tangga; (3) pegangan dan pagar tangga (railing dan baluster); (4) penggunaan bordes; (5) pemilihan material anti slip pada anak tangga; dan (6) pencahayaan pada ruang/area tangga.

 

Persyaratan yang harus dipenuhi pada perencanaan tangga, meliputi hal-hal sebagai berikut: (1) tangga berada pada area yang mudah dijangkau; (2) pencahayaan yang baik untuk ruang/area tangga; (3) sudut kemiringan (kecuraman) untuk tangga biasa antara 24˚ - 45˚; dan (4) tangga aman dan nyaman dilalui oleh orang dan barang.

 

II.      BAGIAN-BAGIAN TANGGA

 

1.      Anak Tangga

 

Istilah yang biasa dipakai dalam merencanakan tangga adalah ukuran “tinggi” dan “lebar” anak tangga. Yang dimaksud dengan lebar anak tangga adalah ukuran area pada anak tangga dimana kaki menapak di atasnya. Sedangkan tinggi anak tangga adalah perbedaan tinggi antara satu anak tangga dengan anak tangga lainnya.

 

Anak tangga berfungsi sebagai pijakan. Anak tangga harus menggunakan material yang tidak licin, terutama pada bagian tepinya yang disebut nosing. Bila menggunakan keramik, pilihlan keramik unpolish atau keramik yang bertekstur atau mempunyai alur.

 

 

Gambar 1. Tangga Dengan Bordes Seperempat

2.      Ibu Tangga

 

Ibu tangga adalah penyokong kekuatan utama pada konstruksi sebuah tangga. Ibu tangga bisa menyatu dengan anak tangga (tangga beton) atau terletak di tengah atau di tepi anak tangga (tangga besi dan kayu). Pada beberapa konstruksi tangga yang anak tangganya seakan terlihat melayang, sebetulnya ibu tangga tetap ada, yaitu berupa balok beton yang disembunyikan di dalam dinding.

 

3.      Pagar dan Pegangan Tangga

 

Ada yang mengatakan pegangan tangga (railing) tidak diperlukan, asal tingkat kenyamanan dan keamanan cukup tinggi. Artinya, aspek kenyamanan dititikberatkan pada pengaturan ukuran lebar dan tinggi anak tangga. Namun, demi keamanan, terutama jika memiliki anggota keluarga yang masih kecil atau orang lanjut usia, maka railing tetap dipergunakan.
Sedangkan tiang pada pagar tangga (baluster) berfungsi sebagai pengaman.
Bila balustrade terdiri dari kisi-kisi, maka jarak maksimal antar kisi adalah 15cm. Pada bagian atas yang menjadi pegangan tangan, haruslah memenuhi standar ergonomis yang aman dan nyaman untuk digenggam. Dengan adanya baluster, orang akan terhindar dari resiko terjatuh saat menaiki atau menuruni tangga. Oleh karenanya baluster harus dibuat cukup rapat, tinggi 90 – 100 cm, dan tidak ada bagian yang tajam, agar anak - anak tidak terluka bila harus memegang pada baluster.

 

 

4.      Bordes

 

Bordes berfungsi sebagai tempat untuk beristirahat selama menaiki tangga. Setiap ketinggian maksimum 12 anak tangga (setinggi 1,5 – 2m) harus dibuat bordes (landing), yaitu suatu platform datar dengan lebar bordes 90 cm yang cukup untuk 3 – 4 langkah secara mendatar sebelum mendaki ke anak tangga berikutnya.

 

 III.      BAHAN KONSTRUKSI TANGGA

 

1.      Tangga beton.

 

        Beton adalah bahan konstruksi tangga yang paling sering dipakai. Kelebihan tangga beton adalah kuat dan mudah dibentuk apa saja. Kelemahan tangga beton adalah kerepotan ketika masih dalam proses perakitan bekisting dan pengecoran, serta waktu pengerjaan yang cukup lama, karena harus menunggu beton kering betul. Untuk konstruksi tangga yang dibuat bersamaan dengan konstruksi bangunan, material beton lebih disarankan. Pemilihan semen yang baik sebagai bahan utama penyusun beton sangat penting untuk memperoleh tangga beton yang baik dan kuat.

 

 

 

      

Gambar 2.

Tangga beton dg.anak tangga & railing kayu serta baluster besi

 

2.      Tangga Kayu.

 

        Tangga kayu biasanya dipilih untuk memunculkan kesan eksotis atau etnik. Kelemahan tangga kayu adalah bentuknya kurang fleksibel. Saat ini juga sulit untuk menemukan material kayu dengan kualitas yang baik dengan harga yang terjangkau. Selain aspek estetika, waktu pengerjaan yang cepat juga merupakan pilihan digunakannya material kayu.

 

 Gambar 3.

Tangga kayu (kiri) & tangga kayu dg. ibu tangga dari baja(kanan)

 

 

3.      Tangga Besi/Baja.

 

        Material baja dipilih untuk memunculkan kesan ringan, minimalis, dan moderen. Tangga besi juga unggul dalam kekuatan dan kecepatan pengerjaan. Tangga kayu dan baja disarankan untuk konstruksi tangga yang dibuat menyusul kemudian pada saat renovasi bangunan, karena pengerjaan dengan material tersebut lebih bersih dan cepat.


 Gambar 4. Tangga baja dengan anak tangga dari kayu

 

 

Ketiga bahan konstruksi utama tangga tersebut dapat digabungkan dengan material yang lain sebagai pegangan tangga. Material pegangan tangga bisa berupa dinding bata, beton, kaca, kayu, besi galvanized, besi tempa, atau aluminium.

 

Dalam memilih bentuk tangga, material konstruksi dan pegangan tangga, hendaklah memperhatikan ketersediaan ruang, gaya bangunan, dan pertimbangan biaya. Untuk rumah dengan gaya modern dan minimalis, bentuk tangga lurus, tangga L, tangga U, dan material baja mungkin lebih sesuai. Tangga beton yang berbentuk spiral lebih sesuai untuk bangunan dengan gaya mediteran atau kolonial. Sementara tangga dengan material kayu akan menunjang aspek estetis bangunan dengan gaya tropis.

 

IV.      PRINSIP PERANCANGAN TANGGA

 

1. Kelandaian tangga

 

Ukuran tinggi dan lebar anak tangga mempengaruhi kelandaian sebuah tangga. Semakin besar tinggi anak tangga, akan semakin curam tangga tersebut. Sedangkan jika Anda ingin tangga yang landai, maka lebar tangga harus besar.

 

Berdasarkan perbandingan kelandaian, maka didapati jenis-jenis tangga berikut:

 

a. tangga landai   20˚ - 24˚

 

b. tangga biasa    24˚ - 45˚

 

c. tangga curam   45˚ - 75˚

 

2. Ruang pengantar dan penerima.

 

Ruang ini adalah area imajiner yang terletak tepat sebelum dan setelah tangga. Meskipun secara fisik ruang ini tidak terlihat, tetapi berperan penting untuk menunjang fungsi tangga dan keselamatan pemakai. Idealnya terdapat clearance sebesar minimal 90cm di awal dan di akhir tangga.

 

3. Material anti slip (step nosing) pada anak tangga

 

Bahaya yang sering mengancam saat orang saat menggunakan tangga adalah tergelincir (slip), biasanya terjadi pada ujung siku anak tangga. Untuk mencegah hal ini, terdapat material anti slip yang disebut step nosing yang fungsinya membuat ujung siku anak tangga lebih kasar.

 

Step nosing ada yang terbuat dari karet, aluminium, atau keramik. Permukaannya bergerigi agar langkah pemakai terhenti pada ujung tangga dan tidak terpeleset. Step nosing dari bahan keramik dipasang saat memasang ubin keramik di anak tangga beton. Caranya, pada bagian ujung siku disisakan celah yang belum tertutup keramik. Pada bagian tepi inilah dipasang step nosing dari keramik.
Pemasangan step nosing berbahan lain, seperti karet atau aluminium, dilakukan setelah anak tangga jadi. Caranya, step nosing disekrupkan pada anak tangga.

 

Beberapa gedung pertunjukan yang ruangannya gelap, seperti bioskop dan teater, bahkan memanfaatkan step nosing sebagai pemandu langkah saat orang menaiki tangga. Step nosing ini menggunakan bahan fluorescent yang mampu menyala dalam gelap.

 

4. Pencahayaan

 

Pencahayaan termasuk faktor penting yang patut dicermati saat merancang tangga. Pencahayaan pada area tangga, selain akan membuat penampilan tangga lebih terlihat, juga membantu para pengguna lebih merasa aman dan nyaman terutama pada malam hari.

 

Pencahayaan pada siang hari sebaiknya memanfaatkan cahaya alami. Oleh karena itu area tangga harus diberi bukaan yang cukup sehingga memungkinkan cahaya matahari masuk dan menerangi area ini.

 

Pada malam hari, pencahayaan sepenuhnya bersumber pada lampu. Pemasangan lampu pada area tangga, selain mempertimbangkan aspek keamanan dan kenyamanan, perlu diperhatikan aspek estetika. Sehingga tampilan tangga menjadi lebih bagus.

 

Lampu untuk menerangi area tangga bisa dipasang di plafon, di atas tangga atau di bawah tangga. Sakelar lampu (tombol on/off) sebaiknya dipasang pada dinding lantai bawah dan lantai di atas dan dihubungkan secara paralel. Cara ini untuk memudahkan pemakai tangga untuk mematikan dan menyalakan lampu saat akan naik maupun turun dari tangga.

 

Jenis lampu pada area tangga sebaiknya dipilih lampu yang memancarkan cahaya berwarna hangat agar atmosfer di dalam rumah benar-benar terasa akrab dan ramah. Lampu-lampu yang memberikan cahaya berwarna hangat adalah kuning atau jingga atau yang mendekati warna cahaya alami.

 

    V.        MACAM-MACAM BENTUK TANGGA

Gambar 5. Tangga Dengan Bordes Seperempat

 

Gambar 6. Tangga Dengan Dua Bordes Seperempat

 

Gambar 7. Tangga Dengan Dua Belokan Seperempat

 

Gambar 8. Tangga Dengan Belokan Seperempat Bawah

 

Gambar 9. Tangga Dengan Belokan Seperempat Atas

 

VI.      PERHITUNGAN JUMLAH ANAK TANGGA

 

Apakah sebuah tangga dapat dinaiki dan dituruni dengan aman dan nyaman? Seluruhnya tergantung dari perbandingan kenaikannya, yaitu perbandingan antara tinggi anak tangga dengan lebar anak tangga.

 

Untuk menentukan perbandingan ini digunakan sebagai dasar lebar langkah rata-rata orang dewasa. Pada bidang datar dengan langkah lambat, maka ukuran langkahnya antara 60 - 65 cm, sedangkan pada bidang mendaki, maka lebar langkah akan berkurang selalu dengan lipat duanya pendakian yang harus ditempuh.

 

Kalau tinggi anak tangga 17 cm, maka langkah selebar 63 cm akan diperpendek dengan dua kali tinggi anak tangga, yaitu 2x17 cm = 34 cm, sehingga lebar langkah menjadi 63 cm – 34 cm = 29 cm. ukuran ini menunjukkan lebar anak tangga.

 

Maka terdapatlah rumus berikut:

 

2 x kenaikan (tinggi anak tangga) + 1 x lebar anak tangga = 63 cm.

 

 Gambar 10. Tinggi dan lebar anak tangga

 

Contoh Perhitungan :

 

 

Setelah menemukan angka yang ideal, maka jumlah anak tangga yang disarankan adalah (320 : 17) -1 = 18,82 - 1 = 17,82 buah anak tangga. Jumlah anak tangga dibulatkan ke atas menjadi 18 buah. Selisih beda tinggi anak tangga dibagi merata, yaitu 320 : t - 1 = 16,77 cm. Mengingat selisih tinggi kurang dari 1 cm, tidak akan terasa, maka beda tinggi anak tangga diletakkan pada satu anak tangga yang paling bawah atau paling atas.

 

VII.          KESIMPULAN

 

Desain tangga untuk rumah minimalis modern memerlukan beberapa perencanaan guna mendapatkan hasil yang maksimal, meliputi antara lain: (1) pengetahuan tentang bagian-bagian tangga; (2) jenis bahan konstruksi tangga; (3) prinsip perancangan tangga; (4) macam-macam bentuk tangga; (5) dan perhitungan jumlah anak tangga. Dengan memenuhi beberapa hal tentang perencanaan tangga maka dihasilkan suatu tangga ideal yang kuat, aman, nyaman, dan indah.


REFERENSI :



 Ir. Heinz Frick, Ilmu Konstruksi Bangunan Kayu, cetakan kedelapan, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1991.
http://maygunrifanto.blogspot.com/2011/04/merencanakan-tangga-yang-nyaman.html

http://www.gudangart.com/2010/10/cara-menghitung-dan-menentukan-jumlah.html

http://belajarserbaneka.blogspot.com/2013/11/menggambar-konstruksi-tangga.html

http://ritalaksmitasari.wordpress.com/2013/05/13/rencana-tangga-dari-bentuk-ukuran-sampai-konstruksi/

http://rumahmodelsekarang.blogspot.com/2014/01/design-tangga-kayu.html

http://septanabp.wordpress.com/2012/09/09/bangga-dengan-tangga/