PENERAPAN SELF ASSESSMENT DALAM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN Studi Kasus pada Diklat Plumbing And Heating bagi Kandidat Kompetitor Asean Skills Competition (ASC)

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Thursday, 20 November 2014 Published Date Written by supono

PENERAPAN SELF ASSESSMENT DALAM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN

Studi Kasus pada Diklat Plumbing And Heating bagi Kandidat Kompetitor Asean Skills Competition (ASC)

 

 

Oleh: Supono, S.Pd., ST., MT.

 

Widyaiswara Madya pada Program Studi Plambing dan Sanitasi Departemen Bangunan PPPPTK Bidang Otomotif dan Elektronika Malang

 

 

 

Abstrak

 

Belajar merupakan proses transfer sikap, pengetahuan, dan keterampilan kepada peserta didik. Keberhasilan pembelajarandipengaruhi banyak hal agar kegiatan tersebut bisa mencapai tujuan secara maksimal. Mulai dari kesiapan peserta didik, sarana, bahan ajar, metode, pengayaan, sampai dengan cara evaluasinya.

 

Belajar keterampilan memerlukan pendekatan yang berbeda bila dibandingkan dengan belajar yang menitik beratkan aspek pengetahuan. Sebagai contoh, pembelajaran keterampilan bagi kandidat competitor yang akan mengikuti lomba Asean Skills Competition (ASC).  Asean Skills Competition (ASC) adalah ajang kompetisi untuk menunjukkan keunggulan keterampilan bagi para competitor yang berasal dari Negara-negara Asean. Ada strategi tertentu untuk mempersiapkan competitor yang akan berlomba, khususnya dalam hal pembelajarannya. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan menerapkan self assesment  (penilaian diri) pada proses belajarnya..

 

Self assesment  (penilaian diri) adalah menilai hasil belajar peserta didik dengan cara melibatkan mereka dalam penilaian. Self assessment mencakup dua elemen kunci dalam setiap penilaian hasil belajar yaitu pertama, penentuan kriteria atau standar yang diterapkan untuk menilai hasil belajar peserta didik dan kedua, melakukan penilaian terhadap sejauh mana hasil belajar telah dicapai berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

 

Dari penerapan self assesment diketahui bahwa self assessment dapat menimbulkan motivasi yang tinggi bagi peserta didik dalam belajar, karena mereka mengetahui dengan jelas target belajar yang harus diraih. Di samping itu, dengan menerapkan  self assessment mereka dapat memahami posisi kompetensi yang sudah mereka raih, baik itu kelebihan dan kelemahannya sehingga bisa menentukan target tujuan dan rencana tindakan pada pembelajaran berikutnya.

 

Kata kunci: Self Assessment, Pembelajaran Keterampilan

 

 

 

Pendahuluan

 

Sejak tahun 2000, PPPPTK Bidang otomotif dan Elektronika Malang mendapat kepercayaan dari Kemnakertrans RI untuk mempersiapkan kandidat kompetitor yang berlomba pada Asean Skills Competition (ASC). Lomba ini diadakan setiap 2 tahun sekali. Untuk menghadapi ASC ke-9 yang diselenggarakan di Jakarta tahun 2012, ada beberapa bidang lomba yang kandidatnya dipersiapkan oleh PPPPTK Bidang otomotif dan Elektronika Malang yaitu Brick Laying, Wall and Floor Tiling, dan Plumbing and Heating. Kepercayaan ini diberikan kepada PPPPTK Bidang otomotif dan Elektronika Malang karena beberapa bidang lomba tersebut biasanya bisa meraih medali dan penghargaan, baik itu medali emas, medali perak, medali perunggu, maupun penghargaan Diploma Certificates.

 

Prestasi terbaik yang pernah diraih oleh para peserta lomba ASC yang dipersiapkan oleh PPPPTK Bidang otomotif dan Elektronika Malang itu sebenarnya tidak terlepas dari model pembelajaran yang diterapkan kepada peserta didik, dan juga termasuk di dalamnya adalah cara mengevaluasi hasil belajarnya. Salah satu cara yang diterapkan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta adalah self assessment atau penilaian diri. Pendekatan evaluasi ini dipilih karena ternyata dari pengalaman sebelumnya terbukti bahwa cara ini lebih memberikan pengaruh yang positif bagi perkembangan belajar peserta didik, terutama hasil belajarnya. Berikut ini akan dipaparkan teori dan konsep self assessment, tahap-tahap pelaksanaan, refleksi dari tahapan pelaksanaan, kesimpulan dan saran.

 

Self Assessment (Penilaian Diri)

 

Menurut Boud & Falchikov(1989), self-assessment(penilaian diri) yaitumenilai peserta didik dengan cara melibatkan mereka dalam membuat penilaian tentang belajar mereka sendiri, terutama tentang prestasi mereka dan hasil dari pembelajaran mereka. Self assessment memberikan kontribusi pada proses belajar peserta didik terutama untuk mengarahkan semua kemampuannya dalam mencapai target belajar yang telah ditentukan. Disamping itu self assessment juga dapat dipergunakan untuk melakukan perbaikan terhadap kompetensi peserta didik yang diketahui belum mencapai hasil seperti yang diharapkan selama proses belajar berlangsung. Tentu saja hasil self assessment juga bisa dipakai untuk menentukan nilai akhir dari peserta didik.

 

Penggunaan istilah self assessment mencakup dua elemen kunci dalam setiap penilaian hasil belajar yaitu pertama, penentuan kriteria atau standar yang diterapkan untuk menilai hasil belajar peserta didik dan kedua, melakukan penilaian terhadap sejauh mana hasil belajar telah dicapai berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Dalam kasus yang akan dibahas berikut ini, sebagian besar kriteria ditentukan oleh pengajar berdasarkan acuan yang sudah ada. Sedangkan peserta didik hanya terlibat dan melakukan self assessment terhadap hasil belajar yang telah mereka lakukan, kecuali kriteria aspek waktu.

 

Penerapan self assessment dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Keuntungan penerapan self assessment di kelas antara lain:

 

a.  dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik, karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri.

 

b.  peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya, karena ketika mereka melakukan penilaian, harus melakukan introspeksi diri terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya.

 

c.  dapat mendorong membiasakan dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur, karena mereka dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan penilaian.

 

Biasanya ada kecenderungan peserta didik akan menilai diri terlalu tinggi dan subyektif. Oleh karena itu self assessment harus dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan objektif. Menurut Komalasari (2010: 167) penilaian diri (self assessment) oleh peserta didik di kelas perlu dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

 

a.  menentukan kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai

 

b.  menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan

 

c.  merumuskan format penilaian, dapat berupa pedoman penskoran, daftar tanda cek atau skala penilaian.

 

d.  meminta siswa untuk melakukan penilaian diri

 

e.  guru mengkaji hasil penilaian secara acak, untuk mendorong siswa supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif

 

f.   menyampaikan umpan balik kepada siswa berdasarkan hasil kajian terhadap sampel penilaian yang diambil secara acak

 

Sementara itu Rolheiser dan Ross (2011) membagi langkah-langkah melakukan self assessment ke dalam empat tahap yaitu:

 

a.  Tahap 1 yaitu melibatkan peserta didik dalam mendefinisikan kriteria yang akan digunakan untuk menilai kinerja mereka.Langkah-langkah khusus untuk memandu tahap ini adalah sebagai berikut:

 

·      peserta didikmelakukan curah pendapat (brainstorming) untuk menentukan kriteria penilaian

 

·      guru dan peserta didikberdiskusi untuk menentukan kriteria penilaian yang telah didapat dari hasil curah pendapat (brainstorming) peserta didik

 

·      menggunakan bahasa peserta didik untuk bersama-sama mengembangkan kriteria atau rubrik penilaian.

 

b.  Tahap 2 yaitu mengajarkan kepada peserta didikcara menerapkan kriteria yang telah dibuat untuk menilai pekerjaan mereka sendiri. Langkah-langkah spesifik pada tahap ini adalah sebagai berikut:

 

·      menunjukkan contoh-contoh kasus yang biasanya dinilai

 

·      peserta didik melakukan praktekmenilai sebuah kasus menggunakan kriteria yang telah dibuat.

 

c.  Tahap 3 yaitu memberi umpan balik kepada peserta didik terhadap self assessment yang telah mereka lakukan. Langkah-langkah spesifik yang dapat memandu tahap ini adalah:

 

·      menyediakan data pembanding atau hasil penilaian yang sudah ada

 

·      diskusi tentang persamaan dan perbedaan antara self assessment yang telah dilakukan peserta didik dengan pedoman acuan penilaian atau penilaian yang dilakukan orang lain.

 

d.  Tahap 4yaitu membantu peserta didik untuk mengembangkan tujuan yang lebihbaik dan membuat rencana tindakan. Langkah-langkah spesifik yang dapat memandu tahap ini adalah:

 

·      peserta didik mengidentifikasi kekuatanatau kelemahan yang didasarkan pada data pembanding

 

·      peserta didik menentukan tujuan

 

·      guru memandu peserta didik untuk mengembangkan tindakan yang spesifik untuk mencapai tujuan mereka

 

·      mencatat tujuan yang ingin diraih oleh peserta didik dan rencana tindakannya.

 

Penerapan Self Assessment (Penilaian Diri) dalam Pembelajaran Keterampilan

 

Penerapan self assessment pada diklat Plumbing and Heating bagi kandidat kompetitor Asean Skills Competition (ASC) ini, langkah-langkahnya mengadopsi teori yang dikemukan oleh Rolheiser dan Ross (2011), yaitu terdiri dari empat tahap. Namun demikian kegiatan pada setiap tahapnya mengalami modifikasi, disesuaikan dengan situasi dan kondisi pembelajaran keterampilan. Misalnya pada tahap satu, saat awal pelajaran dimulai tidak langsung membuat kriteria penilaian, namun kepada peserta diklat dijelaskan terlebih dahulu tujuan belajar, kompetensi yang ingin dicapai dan tentu saja cara menilainya.

 

Pelaksanaan pembelajaran ini dilakukan pada tanggal 21 Nopember 2011 sampai dengan tanggal 25 Nopember 2011 dengan jumlah peserta diklat sebanyak 3 (tiga) orang. Pekerjaan yang dilakukan oleh peserta diklat yaitu membuat instalasi pipa air bersih, instalasi pipa air kotor, instalasi pipa air panas dan instalasi pipa gas. Semua instalasi pipa tersebut harus terpasang pada dinding papan. Bahan dan sambungan pipa yang digunakan yaitu untuk instalasi pipa air bersih menggunakan pipa galvanis dengan sambungan ulir, instalasi pipa air kotor menggunakan pipa PVC dengan sambungan lem PVC, instalasi pipa air panas menggunakan pipa tembaga dengan sambungan brazing (perak) dan instalasi pipa gas menggunakan pipa besi hitam (BMS) dengan sambungan las dan ulir. Di samping itu dalam pekerjaan tersebut juga ada pekerjaan spesifik yaitu membengkok pipa tembaga dan membengkok pipa BMS.

 

Tahap 1

 

Pada tahap 1 ini, kegiatan dimulai dengan pekerjaan menggambar. Peserta diklat menyalin dan menggambar ulang pekerjaan yang akan dikerjakan dengan skala: 1:5. Maksud dari kegiatan ini adalah bahwa peserta diklat diharapkan lebih memahami maksud dari gambar kerja yang akan dikerjakan secara detail, baik mengenai bahan pipa, sambungan pipa, ukuran, detail belokan, dan lain-lain. Setelah menggambar gambar detail, selanjutnya mereka bisa menghitung kebutuhan bahan berupa pipa, fitting dan bahan-bahan tambahan seperti kertas gosok, bahan tambah las, batang perak, dan lain-lain.

 

Sebelum gambar kerja dikerjakan, langkah berikutnya yaitu menentukan kriteria penilaian. Untuk menilai pekerjaan yang akan dikerjakan oleh peserta diklat ini, kriteria penilaian mengadopsi dari pedoman penilaian dari World Skills Competition (WSC) ke 41 tahun 2011 di London Inggris dengan beberapa perubahan dan penyesuaian dengan kondisi yang ada. Jadi pada tahap ini proses penentuan kriteria penilaian lebih difokuskan pada pemahaman aspek, bobot, dan kriteria penilaian kepada peserta diklat. Aspek, bobot, dan kriteria penilaian ditampilkan seperti pada Tabel 1.  Ada satu pengecualian yaitu aspek waktu yaitu bahwa peserta diklat menentukan sendiri waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan pekerjaan itu. Keputusan waktu yang diperlukan ditentukan setelah ketiga peserta diklat tersebut berdiskusi diantara mereka, dan menyepakati total waktunya yaitu 9 jam.

 

Tabel 1. Aspek, Bobot, dan Kriteria Penilaian

 

No

Aspek

Bobot

Kriteria

Nilai

    A.         

Ukuran

42

a. x ≤ 1 mm

1.00

b. 1 mm < x ≤ 2 mm

0.50

c. 2 mm < x ≤ 3 mm

0.25

d. x > 3 mm

0.00

    B.         

Tes Tekanan

12

a. 0 bocor

1.00

b. 1 bocor

0.50

c. 2 bocor

0.25

d. > 2 bocor

0.00

    C.         

Kualitas Sambungan

10

Mengikuti gambar sambungan di Buku Manual untuk Kompetitor dan Expert

    D.         

Radius

6

a. x < 1 mm

1.00

b. 1 mm < x < 1.5 mm

0.50

c. 1.5 mm < x < 2 mm

0.25

d. x > 2 mm

0.00

    E.         

Keselamatan Kerja

6

Lihat keterangan di bawah

    F.         

Ketegakan dan Kedataran

10

a. x ≤ ± 0.20

1.00

b. ± 0.20 < x ≤ ± 0.30

0.50

c. ± 0.30 < x ≤ ± 0.40

0.25

d. x > ± 0.40

0.00

   G.         

Penggunaan Material

4

a. Setiap penambahan pipa sepanjang 1 m, dikurangi 1.0

b. Setiap penambahan 1 fitting dikurangi 0.5

    H.         

Waktu

6

a. + ≤ 5 menit

1.00

b. > 5 menit

0.00

     I.          

Pekerjaan sesuai Gambar

4

a. semua bagian sesuai gambar

1.00

b. ada yang tidak sesuai gambar

0.00

Total

100

 

 

 

Kriteria dan nilai aspek keselamatan kerja:

 

Kaleng thinner terbuka ketika tidak dipakai = -1; thinner tercecer = -1; kaleng lem PVC terbuka ketika tidak dipakai = -1; lem PVC tercecer = -1; botol gas tidak ditutup = -2; potongan pipa tercecer = -1; pipa terjepit ketika ditinggalkan = -1; tidak memakai alat pelindung diri = -1; tidak memberi oli ketika mengulir = -1; oli tercecer di lantai = -1; alat atau bahan tidak tertata rapi = -1; meninggalkan benda panas = -2

 

Semua bentuk penilaian pada pekerjaan ini diusahakan bersifat obyektif, sehingga siapapun yang menilai diharapkan mendapatkan hasil penilaian yang sama dan tidak bisa. Semua aspek penilaian bisa diukur dengan alat ukur atau kriteria yang jelas misalnya aspek ukuran diukur dengan meteran, aspek tes tekanan diukur dengan pompa tekan, aspek kualitas sambungan dengan menggunakan contoh atau gambar sambungan dengan keputusan ya atau tidak, aspek radius dengan menggunakan plat mal dan batang logam dengan diameter 1 mm, 1.5 mm, dan 2 mm, aspek keselamatan kerja dengan melihat daftar hal-hal yang harus diperhatikan sewaktu praktek, aspek ketegakan dan kedataran dengan menggunakan waterpas digital, aspek penggunaan material dengan melihat jumlah tambahan bahan yang digunakan, aspek waktu dengan menjumlahkan total waktu yang digunakan, dan aspek pekerjaan sesuai gambar kerja diukur dengan membandingkan hasil pekerjaan dengan gambar kerja.

 

Tahap 2

 

Pada tahap kedua ini peserta diklat diajari cara mengukur pekerjaan yang akan mereka lakukan berdasarkan kriteria yang telah dibuat. Misalnya mengukur aspek ukuran. Ukuran panjang diukur dari as pipa sampai garis referensi, baik ke arah tegak maupun ke arah datar. Aspek ukuran tersebut diukur dengan menggunakan peralatan ukur seperti meteran, siku berpelurus, dan waterpas kecil.

 

Langkah berikutnya adalah menentukan bagian atau titik yang akan diukur. Hal pertama yang dilakukan adalah membuat format atau tabel. Setiap aspek dibuatkan satu tabel. Berikutnya mendiskripsikan setiap titik yang diukur pada setiap aspeknya. Setelah itu peserta diklat diajari cara memasukkan hasil pengukuran ke dalam format penilaian.

 


Setelah semua kriteria dan cara mengukurnya dipahami oleh peserta diklat, maka mereka bisa melakukan atau mengerjakan pekerjaannya berdasarkan gambar kerja. Di sinilah mulai nampak fungsi dari pemahaman kriteria penilaian oleh peserta diklat, yaitu ketika mereka  mengerjakan pekerjaannya. Peserta diklat akan terbantu dan dipandu oleh pengetahuan dan keterampilan yang harus dicapai melalui kriteria penilaian yang telah mereka ketahui. Dengan demikian semangat dan motivasi kerja akan terarah untuk mencapai kualitas kerja yang terbaik. Dan hasil akhir pekerjaan peserta diklat seperti pada Gambar 1.

 

 

 

 

 

 

 Gambar 1: Hasil Kerja

Sesudah peserta diklat menyelesaikan pekerjaannya, langkah selanjutnya adalah mereka  menilai pekerjaannya sendiri. Pelaksanaan pengukuran terhadap pekerjaan mereka tidak bisa dilakukan sendiri. Mereka melakukannya bertiga. Dua orang membantu melakukan pengukuran, sedangkan satu orang lainnya yang merupakan pemilik pekerjaan tersebut mencatat hasil pengukuran pada format yang telah dibuat, seperti pada Gambar 2.

 

 

 

 

Gambar 2: Penilaian Hasil kerja

Kegiatan berikutnya adalah membuat perhitungan berdasarkan kriteria, misalnya setelah dilakukan pengukuran tes kebocoran, diketahui instalasi pipa galvanis ada kebocoran pada 2 titik, maka nilainya adalah 4 dikalikan 0.25 sama dengan 1. Titik-titik atau bagian yang lain diukur dan dihitung dengan cara yang sama seperti itu. Langkah terakhir pada tahap ini adalah membuat rekapitulasi total, sehingga didapatkan hasil akhir dengan skala nilai antara 0 sampai dengan 100 dan dihitung juga prosentase pencapaiannya. Rekapitulasi hasil penilaian dari ketiga peserta didik ditampilkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Penilaian

 

No

Aspek

Nilai Max.

Perolehan Nilai

Peserta A

Peserta B

Peserta C

Nilai

%

Nilai

%

Nilai

%

  A.           

Ukuran

42

2,73

5,93

27,75

66,08

33,33

79,34

  B.           

Tes Tekanan

12

12

100

8

66,67

12

100

  C.           

Kualitas Sambungan

10

5,12

51,2

9,28

92,8

9,68

96,8

  D.           

Radius

6

3,89

69,75

4,94

82,85

5,57

92,85

  E.           

Keselamatan Kerja

6

6

100

6

100

6

100

  F.           

Ketegakan dan Kedataran

10

3,4

34

6,21

62,05

8,45

84,48

 G.           

Penggunaan Material

4

4

100

4

100

4

100

  H.           

Waktu

6

3

50

6

100

6

100

   I.            

Pekerjaan sesuai Gambar

4

4

100

3

75

4

100

Total

100

33,18

-

77,17

-

89,02

-

 

Tahap 3

 

Setelah data pengukuran dan penilaian diperoleh, hasil akhir sudah direkapitulasi, maka hasil tersebut perlu dikalibrasi atau dikontrol kembali oleh pengajar untuk mendapatkan hasil  pengukuran dan penilaian yang valid. Pengontrolan kembali dilakukan pada aspek, titik atau bagian tertentu secara acak. Fungsi kontrol ini adalah untuk melihat ketepatan dan kebenaran penilaian yang telah dilakukan oleh peserta diklat. Disamping itu fungsi kontrol ini juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri kepada peserta diklat. Peserta diklat akan merasa pecaya diri bila hasil dari pengukuran yang dilakukan oleh pengajar sama dengan yang dilakukannya, baik mengenai cara maupun hasilnya. Sehingga hal ini akan mempengaruhi cara bekerja mereka pada pekerjaan berikutnya, tentunya menjadi lebih baik.

 

Langkah berikutnya adalah pemberian umpan balik kepada peserta diklat tentang hasil kerja yang telah mereka lakukan. Pemberian umpan balik dimulai dari membahas keselamatan kerja. Masalah keselamatan kerja merupakan hal yang pokok dalam bekerja, baik menyangkut masalah keselamatan orang yang bekerja, alat yang dipakai bekerja, bahan yang dikerjakan, maupun keselamatan lingkungan tempat bekerja. Umpan balik berikutnya yaitu masalah cara kerja yang dilakukan oleh peserta diklat. Umpan balik ini merupakan hal-hal yang harus diperhatikan dan diperbaiki pada pekerjaan berikutnya menyangkut sikap dan cara dalam bekerja, misalnya teknik mengelas, cara menggunakan alat, dan lain-lain. Selanjutnya adalah umpan balik menyangkut hasil kerja. Pengajar menunjukkan kembali hasil kerja yang baik sesuai kriteria yang sudah ditentukan, misalnya sambungan ulir yang benar, sambungan las yang benar, dan lain-lain.

 

Tahap 4

 

Berdasarkan rekapitulasi penilaian hasil kerja yang sudah dikerjakan oleh peserta diklat dan umpan balik yang diberikan oleh pengajar, maka dari sana peserta diklat bisa membuat dan menentukan kelemahan dan kelebihan tentang hasil kerja yang telah diperoleh. Peserta diklat menganalisis sendiri hal-hal yang menurut mereka sudah dicapai dan hal-hal yang belum dicapai dan masih memungkinkan untuk ditingkatkan pada proses belajar berikutnya. Sebagai contoh yaitu peserta A. Pada Tabel 3 ditunjukkan hasil analisis kelemahan dan kelebihan yang dilakukan peserta A.

 

Tabel 3. Daftar Kelebihan dan Kelemahan Peserta A.

 

No

Aspek

Kelebihan

Kelemahan

1.          

Ukuran

-

Setiap sambungan kelebihan ukuran 2 mm – 4 mm

2.          

Tes Tekanan

Tidak ada sambungan yang bocor

-

3.          

Kualitas Sambungan:

 

·   Pipa tembaga

-

Di setiap sambungan ada pasta dan timah yang meluber

 

·   Pipa galvanis

-

Di setiap sambungan pipa galvanis ada kekurangan dan kelebihan ulir 1 mm – 3 mm

 

·   Pipa BMS

-

Sambungan las BMS kurang baik dan tidak membentuk alur

4.          

Sudut dan Radius

-

Sudut dan radius kurang sesuai dengan gambar dan ada belokan dengan R longgar 2 mm

5.          

Ketegakan dan Kedataran

-

Banyak yang kurang tegak dan datar disebabkan karena gambar dinding tidak tepat

6.          

Waktu

Pengerjaan pipa galvanis dan pipa BMS sesuai dengan waktu yang ditentukan

Pengerjaan gambar, pipa PVC, dan pipa tembaga waktunya melebihi yang ditentukan

 

Langkah terakhir dari proses self assessment adalah setiap peserta diklat membuat rencana tindakan untuk pekerjaan selanjutnya. Rencana tindakan yang spesifik ini adalah semacam komitmen dari peserta diklat untuk melakukan tindakan yang lebih baik pada pekerjaan selanjutnya. Pengajar bisa berperan untuk membantu peserta diklat dalam proses ini. Daftar rencana tindakan yang dibuat peserta diklat ditampilkan seperti pada tabel 4.

 

Tabel 4. Daftar Rencana Tindakan Perbaikan Peserta A.

 

No

Aspek

Tujuan

Rencana Tindakan Perbaikan

1.          

Ukuran                  

Membuat ukuran antar as pipa sesuai dengan yang ditentukan

·      Pipa galvanis sebelum dipotong ditentukan titik potongnya, kemudian buat ulir sesuai ukuran standar

·      Pipa tembaga dipotong sesuai dengan ukuran sebelum dibrazing

·      Pipa PVC dipotong sesuai dengan ukuran

·      Pipa BMS sebelum disambung dengan las, ukur panjangnya dengan teliti agar tidak ada kelebihan panjang saat dilas.

2.          

Kualitas Sambungan

Membuat sambungan pipa sesuai dengan kriteria yang ditentukan

·     Bersihkan pasta yang ada pada pipa tembaga sebelum dipatri agar timah tidak meluber

·     Pipa BMS sebelum dilas, diberi tanda dengan kapur agar bisa membentuk alur

3.          

Sudut dan Radius

Membuat sudut dan radius sesuai kriteria

·     Sudut dan radius harus diperhatikan dengan cara mengukurnya harus tepat.

4.          

Ketegakan dan Kedataran

Membuat instalasi pipa yang tegak dan datar

·     Ketegakan dan kedataran pipa harus selalu dikontrol dengan waterpas saat pemasangan.

5.          

Waktu

Mengerjakan pekerjaan masih dalam toleransi waktu yang ditentukan

·     Kecepatan pengerjaan pipa dan gambar lebih ditingkatkan.

 

Refleksi                               

 

Dalam penerapan self assessment yang telah dilakukan pada semua tahapan pembelajaran mulai tahap 1 sampai dengan tahap 4 dapat dikemukakan beberapa hal sebagai refleksi dari kegiatan yang telah dilakukan yaitu:

 

a.  beberapa hal yang menjadi kunci penerapan self assessment adalah keterlibatan peserta diklat dalam menyusun kriteria penilaian, pemahaman mereka terhadap kriteria penilaian, dan cara mengukur hasil kerja mereka berdasarkan kriteria penilaian yang telah dibuat.

 

b.  hasil pengamatan pengajar terhadap peserta diklat secara kualitatif terlihat bahwa mereka bekerja dengan motivasi yang tinggi berdasarkan kriteria yang sudah mereka ketahui. Mereka mengerahkan segala kemampuannya untuk mencapai hasil yang optimal dengan panduan kriteria yang ada. Salah satu contohnya bisa dilihat pada aspek keselamatan kerja pada daftar rekapitulasi penilaian. Mereka tidak ada yang melanggar rambu-rambu keselamatan kerja yang telah dibuat, karena pedomannya jelas sehingga mereka cenderung untuk mematuhinya.

 

Kesimpulan

 

Dari tahapan penerapan self assessment  yang telah dilakukan di atas dapat disimpulkan seperti berikut ini:

 

a.    self assessment dapat menimbulkan motivasi yang tinggi bagi peserta diklat dalam bekerja karena mereka mengetahui dengan jelas target belajar yang harus diraih.

 

b.    penerapan self assessment dapat dilakukan peserta diklat dengan baik pada setiap tahapnya dan peserta diklat dapat memahami posisi kompetensi yang sudah mereka raih, baik itu kelebihan dan kelemahannya sehingga bisa menentukan target tujuan dan rencana tindakan pada pembelajaran berikutnya.

 

Saran

 

Berdasarkan kajian teori, tahapan pelaksanaan, refleksi, dan kesimpulan yang telah dikemukakan, ada beberapa saran yang bisa disampaikan yaitu:

 

a.    untuk pembelajaran keterampilan diusahakan kriteria penilaian bersifat obyektif dan terukur sehingga siapapun yang melakukan pengukuran dan penilaian tidak mengalami bias.

 

b.    meskipun dalam self assessment ini keterlibatan peserta didik lebih dominan, namun pengajar tetap harus melakukan pendampingan secara optimal.  Self assessment jangan dijadikan alasan oleh pengajar untuk mengurangi tanggung jawabnya dalam menilai hasil belajar peserta didik.

 

Referensi

 

Boud, D. & Falchikov, N. 1989. Quantitative studies of student self-assessment in higher education: a critical analysis of findings. http://www.springerlink.com/content/x7h8l15 v0q573856/

 

Komalasari, K. 2010. Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi. Penerbit: PT Refika Aditama. Bandung.

 

Rolheiser , C. and Ross, J. A. 2011. Student Self-Evaluation: What Research Says And What Practice Shows.http://www.cdl.org/resource-library/articles/self_eval.php

 

Worldsklills International. 2011. Technical Description Plumbing and Heating. Assessment Criteria of Joint Quality. Skill 15 Plumbing and Heating. Manual for Experts and Competitors.