MENGAPA DI INDONESIA BANYAK BANGUNAN RUNTUH SAAT GEMPA?

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Wednesday, 07 January 2015 Published Date Written by Suwardaya Aji

MENGAPA DI INDONESIA BANYAK BANGUNANRUNTUH SAAT GEMPA?

 
 

 

Oleh: SUWARDAYA AJI

 

 

 

Sedikitnya 44.000 rumah di Jawa Barat yang tersebar di empat belas kabupaten/kota, rusak berat akibat gempa pada 2 September 2009. Rumah-rumah rusak akibat gempa berkekuatan 7,3 skala Richter. (Kompas. 2009. Tanpa Struktur Tahan Gempa, 44.000 Rumah Rusak. regional.kompas.com. 24 Nopember 2014).

 

 

 

"Kita cenderung berfokus pada ukuran gempa bumi, namun kematian justru lebih terkait dengan kualitas bangunan. Kemiskinan, dan bahkan pemerintahan yang buruk serta korupsi, menjadi pengganda akibat dari bencana alam. Itulah mengapa bagian selatan Asia Tengah menjadi salah satu tempat yang paling rapuh di dunia.".(Tabita Diela. 2013. Peneliti: Kematian Erat Kaitannya dengan Kualitas Bangunan! properti.kompas.com. 24 Nopember 2014).

 

 

 

A.     Mengapa Indonesia rawan gempa?

 

Dari teori tektonik lempeng dijelaskan bahwa permukaan bumi ini terbagi menjadi kira-kira dua puluh pecahan besar yang disebut lempeng. Lempeng tersebut sifatnya kaku dan lempeng-lempeng itu bergerak dan berinteraksi diatas astenosfer yang lebih cair yang akan menimbulkan gempa.

 

 

 

 

Gambar 1.  Lempeng utama bumi.

 

Lempeng-lempeng tektonik utama bumi adalah: lempeng Afrika, Antarktika, Australia, Eurasia, Amerika Utara, Amerika Selatan dan lempeng Pasifik. Secara geografis Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng utama bumi yaitu lempeng Australia, Eurasia, dan Pasifik. Lempeng Eurasia dan Australia bertumbukan di barat pulau Sumatera, selatan pulau Jawa sampai dengan selatan kepulauan Nusa Tenggara, dan berbelok ke arah utara ke Maluku. Antara lempeng Australia dengan Pasifik terjadi tumbukan di sekitar pulau Papua. Pertemuan antara ketiga lempeng itu terjadi di sekitar pulau Sulawesi. Hal itulah penyebab sering terjadinya gempa bumi Indonesia.

 

 

 

B.    Bagaimana filosofi bangunan tahan gempa?

 

Filosofi bangunan tahan gempa adalah bangunan yang didesain apabila terjadi gempa bumi, bangunan harus tetap menjamin keamanan (keselamatan) dan kenyamanan penghuni, pengguna bangunan yang berada di dalamnya. Bangunan tahan gempa filosofinya dapat dijelaskan sebagai berikut:

 

   Bangunan tidak mengalami kerusakan pada elemen struktural maupun non-struktural saat terjadi gempa ringan.

 

   Bangunan boleh mengalami kerusakan yang dapat diperbaiki pada elemen non-struktural, sedangkan elemen struktural tidak boleh mengalami kerusakan pada saat terjadi gempa sedang.

 

   Bangunan boleh mengalami kerusakan pada elemen struktural dan non-struktural, tetapi bangunan tidak boleh runtuh pada saat terjadi gempa kuat.

 

 

 

 

Gambar 2.  Kerusakan bangunan akibat gempa bumi.

 

 

 

C.    Ketidaktepatan pendetailan konstruksi.

 

Bangunan direncanakan dengan suatu kombinasi pembebanan yang terdiri dari beban mati, beban hidup dan beban sementara yang dapat berupa gempa. Berawal dari pembebanan itu dan kondisi lingkungan maka bangunan direncanakan oleh konsultan dan dibangun oleh kontraktor. Banyak tenaga kerja bangunan di Indonesia yang pendidikannya tidak sesuai bidangnya dan hanya berdasarkan pengalaman yang tidak memadai serta kurangnya disiplin dalam mentaati peraturan bangunan.

 

 

 

Di Indonesia gempa bumi merupakan salah satu fenomena alam yang sering terjadi, yang hampir selalu menelan cukup banyak korban jiwa. Korban jiwa tersebut bukan diakibatkan secara langsung oleh gempa, tetapi diakibatkan oleh keruntuhan bangunan pada saat terjadi gempa. Runtuhnya bangunan saat terjadi gempa akan menimpa orang yang berada didalamnya yang dapat menimbulkan luka-luka bahkan korban jiwa.

 

 

 

Jiwa manusia tidak ternilai harganya dibandingkan dengan harta benda. Untuk itu korban jiwa saat terjadinya gempa harus dapat dikurangi dengan membuat suatu bangunan dengan konstruksi yang benar. Keruntuhan bangunan terutama yang dibangun dengan konstruksi beton bertulang salah satunya dikarenakan ketidaktepatan dari pendetailan konstruksi.

 

 

 

D.    Bagaimana seharusnya detail konstruksi?

 

Banyak berbagai sebab keruntuhan bangunan saat terjadi gempa bumi hal ini dapat dilihat pada beberapa contoh pendetailan yang tidak baik dari:

 

   Aspek perencanaan.

 

Kekurangpahaman perencana akan persyaratan detailing dan material untuk bangunan. Dari aspek perencanaan ada beberapa contoh ketidakpahaman perencana konstruksi seperti terlihat pada penjelasan dan foto berikut ini.

 

   Penulangan pada pertemuan kolom dengan balok.

 

 

 

 

Gambar 3.  Pertemuan kolom dengan balok di gambar perencanaan.

 

Dari gambar rencana pertemuan konstruksi kolom dengan balok dan kolom dengan balok gevel ini tersebut ada beberapa kekurangan:

 

Pengakhiran tulangan longitudinal kolom pada pertemuan kolom dengan balok ataupun balok gevel tidak ada penjangkaran.

 

     Pada pertemuan kolom dengan balok tersebut tidak dipasang sengkang.

 

 

 

Dari kekurangan konstruksi tersebut ada beberapa yang perlu diperbaiki:

 

Pengakhiran tulangan kolom pada pertemuan kolom dengan balok diperlukan penjangkaran sepanjang panjang penyaluran.

 

Gambar 4.  Pengakhiran tulangan kolom pada balok.

 

Pada pertemuan tersebut penulangan kolom perlu dipasang sengkang. Sengkang harus dipasang sepanjang kolom, termasuk pada pertemuan dengan sloof, balok atau konstruksi lainnya.

 

 

 

 

Gambar 5.  Penulangan pada pertemuan kolom dengan balok.

 

 

 

   Aspek pelaksanaan.

 

Kekurangpahaman kontraktor akan standar pelaksanaan bangunan. Ditinjau dari aspek pelaksanaan ada beberapa contoh ketidakpahaman atau bahkan ketidaktahuan pelaksana konstruksi di lapangan seperti terlihat pada foto-foto berikut ini:

 

   Penulangan sloof dan kolom.

 

Dari dua foto pelaksanaan penulangan sloof dan kolom berikut ini ada beberapa kekurangannya:

 

    Diameter dan jemis tulangan utama tidak memenuhi persyaratan.

 

Jarak dan pemasangan sengkang yang terlalu jarang, tidak teratur (miring dan tegak).

 

Tidak dipasang “beton tahu” (beton pengganjal tulangan untuk membentuk pelindung beton untuk tulangan) pada sloof yang menyentuh pada pondasi.

 

 

 

 

Gambar 6.  Penulangan pertemuan sloof dengan kolom.

 

Tidak dipasang tulangan penyambung pada pertemuan konstruksi berbentuk “T” ini. Tulangan sloof atau balok yang akan diakhiri ujungnya tidak ada penjangkaran yang cukup.

 

 

 

 

Gambar 7.  Penulangan pertemuan sloof dengan sloof dan           ring balok dengan ring balok.

 

Dari konstruksi penulangan di lapangan tersebut ada beberapa hal yang perlu diperbaiki:

 

  Diameter tulangan longitudinal pondasi, balok, kolom dan konstruksi struktural lainnya minimal 12 mm ulir.

 

     Pemasangan sengkang pertama dan terakhir yang dipasang pada sloof atau balok maksimal 50 mm dari permukaan kolom.

 

 

 

 

Gambar 8.  Pemasangan sengkang pertama dan terakhir balok.

 

Untuk mengantisipasi retak miring di dekat tumpuan maka perlu dipasang tulangan geser lentur yang berupa sengkang. Sengkang dipasang minimal sejauh 2d (d tinggi efektif balok) atau 1/5 bentang.

 

 

 

 

Gambar 9.  Penulangan geser lentur pada balok.

 

Letak kait sengkang pada balok dan kolom posisi pemasangannya tidak satu garis (berputar posisinya).

 

 

 

 

Gambar 10.  Pemasangan sengkang balok dan kolom.

 

Beton tahu merupakan salah satu cara untuk membuat ukuran ketebalan dari pelindung beton untuk tulangan pada bagian bawah dan samping konstruksi beton bertulang.

 

 

 

 

Gambar 11.  Pelindung beton pada sloof, ring balok dan kolom.

 

Pertemuan sloof dengan sloof atau ring balok dengan ring balok perlu dipasang tulangan penyambung “L” yang panjang ujung-ujungnya dibuat sebesar panjang penyaluran tulangan tarik. Pemasangan tulangan penyambung adalah salah satu ujung tulangan penyambung pada bagian tarik dan ujung satunya berada pada daerah tekan.

 

 

 

 

Gambar 12.  Tulangan penyambung L antara kolom-balok dan balok-balok.

 

 

 

   Sengkang.

 

Dari foto sengkang yang ada di lapangan berikut ini ada beberapa kekurangan:

 

     Bentuk sengkang dan ukuran kait sengkang tidak sesuai dengan rencana dan tidak memenuhi persyaratan?

 

     Ukuran radius bengkokan sengkang tidak sesuai persyaratan.

 

 

 

 

Gambar 13.  Sengkang yang dibuat di lapangan.

 

Dari sengkang yang dibuat di lapangan tersebut ada beberapa yang perlu diperbaiki:

 

  Kait standar untuk tulangan sengkang dan kait pengikat dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

 

Batang D-16 dan yang lebih kecil, bengkokan 90° ditambah perpanjangan 6db pada ujung bebas kait.

 

Batang D-25 dan yang lebih kecil, bengkokan 135° ditambah perpanjangan 6db, namun tidak kurang dari 50 mm pada ujung bebas kait.

 

 

 

 

Gambar 14.  Kait standar untuk sengkang.

 

Kait gempa untuk kait pada sengkang, sengkang tertutup, atau pengikat silang yang mempunyai bengkokan tidak kurang dari 135º. Kait harus diberi perpanjangan 6dbnamun tidak kurang dari 75 mm yang mengait tulangan longitudinal dan mengarah pada bagian dalam sengkang atau sengkang tertutup.

 

 

 

 

Gambar 15.  Kait sengkang gempa.

 

   Sambungan lewatan sloof.

 

Pelaksanaan penyambungan pada sloof ini ada kekurangannya:

 

     Panjang sambungan lewatan pada sloof ini tidak memenuhi syarat panjangnya, bentuk kaitnya.

 

 

 

 

Gambar 16.  Sambungan lewatan pada sloof yang tidak sesuai aturan.

 

Dari sambungan lewatan yang dilaksanakan di lapangan tersebut ada beberapa yang perlu diperbaiki:

 

     Sambungan lewatan tulangan dalam kondisi tarik.

 

Panjang minimum sambungan lewatan tarik harus diambil berdasarkan persyaratan kelas yang sesuai tetapi tidak kurang dari 600 mm untuk tulangan polos dan 300 mm untuk tulangan ulir.

 

Ujung dari tulangan yang disambung dapat dibuat kait ataupun tanpa kait.

 

 

 

 

Gambar 17.  Sambungan lewatan tulangan dalam kondisi tarik.

 

 

 

   Aspek pengelolaan.

 

Kekurangpahaman perencana, kontraktor dan masyarakat akan pengelolaan selama pelaksanaan pembangunan. Ditinjau dari aspek pengelolaan ada beberapa contoh ketidaktahuan pelaksana konstruksi di lapangan seperti terlihat pada foto-foto berikut ini dan pertanyaan:

 

Bagaimana kualitas pelaksanaan pembangunan rumah tinggal seperti dalam foto-foto berikut ini?

 

 

 

 

Gambar 18.  Pelaksanaan pembangunan rumah tinggal.

 

 

 

Dari pelaksanaan bangunan tersebut ada beberapa yang perlu diperbaiki:

 

     Untuk menjaga kualitas pelaksanaan perlu adanya spesifikasi material yang jelas, tahapan pelaksanaan yang benar, tenaga kerja yang mempunyai kompetensi, manajemen pelaksanaan dan pengawasan yang terus menerus yang ketat serta mentaati peraturan bangunan yang berlaku.

 

 

 

E.     Kerusakan gedung akibat gempa.

 

Berikut ini ada beberapa foto tentang kerusakan bangunan akibat gempa bumi:

 

   Kerusakan pada pertemuan kolom dengan balok yang diakibatkan tidak dipasang sengkang pada tempat tersebut.

 

 

Gambar 19.  Kerusakan pada pertemuan kolom dengan balok.

 

   Kerusakan pada kolom yang diakibatkan kurangnya kekangan sengkang.

 

 

 

 

Gambar 20.  Kerusakan kolom karena kurangnya kekangan sengkang.

 

   Kerusakan pada kolom yang diakibatkan oleh kurangnya lekatan antara beton dengan tulangan (penggunaan tulangan polos).

 

 

 

 

Gambar 21.  Kerusakan kolom karena kurangnya lekatan.

 

   Kerusakan pada pertemuan kolom dengan ring balok yang diakibatkan tidak memadainya sambungan kolom dengan ring balok.

 

 

 

 

Gambar 22.  Dinding roboh karena kurangnya ikatan pada ring balok3.

 

   Kerusakan konstruksi beton bertulang oleh korosi yang diakibatkan oleh tipisnya pelindung beton untuk tulangan, pengecoran yang keropos.

 

 

 

 

Gambar 23.  Korosi pada konstruksi beton bertulang karena pelindung beton tipis.

 

 

 

 


 

 

KEPUSTAKAAN

 

 

 

Direktur Jenderal Cipta Karya. Juni 2006. Pedoman Teknis Rumah dan Bangunan Gedung Tahan Gempa.

Build Earthquake Resistant Houses. Change Construction Practice Permanently.  www.buildchange.org. 10 Desember 2013.

Iswandi Imran dan Bambang Boediono. 2010. Mengapa Gedung-gedung Kita Runtuh Saat Gempa. KK-RS, FTSL Institut Teknologi Bandung, Seminar HAKI 2010. 30 Juli 2010.

Kompas. 2009. Tanpa Struktur Tahan Gempa, 44.000 Rumah Rusak. regional.kompas.com. 24 Nopember 2014).

Roberto Leon, Dr. Earthquake Engineering. www.sem.cee.vt.edu.  16 Desember 2013.

Tabita Diela. 2013. Peneliti: Kematian Erat Kaitannya dengan Kualitas Bangunan! properti.kompas.com. 24 Nopember 2014).

Tektonika Lempeng. id.wikipedia.org. 9 Nopember 2011.