BAHAN PENUTUP ATAP PADA BANGUNAN / RUMAH

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Wednesday, 09 September 2015 Published Date Written by Hartiyono

BAHAN PENUTUP ATAP PADA BANGUNAN / RUMAH

Hartiyono (Widyaiswara Madya )

Departemen Bangunan PPPPTK BOE / VEDC Malang

 

Bahan Atap Rumah.jpg - 63.11 KB

 

ABSTRAK

 

Atap merupakan bagian dari bangunan gedung (rumah) yang letaknya berada dibagian paling atas, sehingga untuk perencanaannya atap ini haruslah diperhitungkan dan harus mendapat perhatian yang khusus dari si perencana (arsitek).Karena dilihat dari penampakannya ataplah yang paling pertama kali terlihat oleh pandangan setiap yang memperhatikannya.Untuk itu dalam merencanakan bentuk atap harus mempunyai daya arstistik.Bisa juga dikatakan bahwa atap merupakan mahkota dari suatu bangunan rumah. Atap sebagai penutup seluruh ruangan yang ada di bawahnya, sehingga akan terlindung dari panas, hujan, angin dan binatang buas serta keamanan.

 

Atap merupakan bagian dari struktur bangunan yng berfungsi sebagai penutup/pelindung bangunan dari panas terik matahari dan hujan sehingga memberikan kenyamanan bagi penggunaan bangunan. 

 

Kata kunci : Bahan, Penutup atap, Bangunan/Rumah

 

 

 

A.           Latar Belakang

 

Pembangunan sarana dan prasarana fisik, terutama perumahan ataupun gedung tentu membutuhkan penutup atap. Pengertian umum tentang atap adalah  suatu bahan yang menutupi bagian atas perumahan dan berfungsi sebagai pelindung bangunan terhadap pengrusakan yang disebabkan oleh siraman air hujan, terpaan sinar matahari, serta tiupan angin. Oleh karena itu sangat dibutuhkan bahan penutup atap yang baik, yaitu penutup atap yang memenuhi persyaratan kuat, ringan dan kedap air. Atap rumah biasanya menggunakan seng atau genteng. Genteng merupakan bahan bangunan sebagai alternatif pengganti seng yang dibuat dari campuran, semen, pasir dan air dengan komposisi tertentu.

 

Pemakaian genteng beton oleh masyarakat cukup beralasan karena hanya membutuhkan sedikit pemeliharaan, mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan konstruksi, mampu memikul beban yang berat, tahan terhadap temperatur yang tinggi dan tahan terhadap serangan api serta tahan korosi.

 

 

 

B.         Perancangan Atap Yang Baik

 

Atap dapat dikatakan berkualitas jika strukturnya kuat/kokoh dan awet/tahan lama.Faktor iklim menjadi bahan pertimbangan penting dalam merancang bentuk dan konstruksi atap/bangunan.

 

Keberadaan atap pada rumah sangat penting mengingat fungsinya seperti payung yang melindungi sisi rumah dari gangguan cuaca (panas, hujan dan angin). Oleh karena itu,sebuah atap harus benar-benar kokoh/kuat dan kekuatannya tergantung pada struktur pendukung atap. Mengacu pada kondisi iklim perancangan atap yang baik ditentukan 3 faktor, yakni jenis material,bentuk/ukuran,dan teknik pengerjaan.

 

 

 

1.           Jenis Material Struktur Dan Penutup Atap

 

Penentuan material tergantung pada selera penghuni,namun harus tetap memerhatikan prinsip dasar sebuah struktur yaitu harus kuat,presisi,cukup ringan,dan tidak over design. Atap yang kuat harus mampu menahan besarnya beban yang bekerja pada elemen struktur atap.

 

Ada 3 jenis beban yang bekerja pada atap yaitu:

 

a.      beban berat sendiri (bahan rangka,penopang rangka,dan penutup atap),

 

b.      beban angin tekan dan angin hisap,dan

 

c.      beban bergerak lain (berat manusia saat pemasangan dan pemeliharaan).

 

Pemilihan bahan tertentu harus diikuti oleh pengetahuan yang lengkap akan karakteristik setiap bahan.

 

1.         Bentuk & ukuran

 

Dibandingkan hujan dan panas,angin merupakan faktor yang paling

 

 diperhitungkan demi menjamin atap yang kuat. Beberapa masalah akibat angin kencang antara lain:penutup atap yg terbang,gording terlepas,kuda-kuda terangkat,dan kolom kayu bergeser atau terangkat.

 

Atap yang baik adalah yang dapat menerima beban angin yang sama dari segala arah (idealnya adalah bentuk atap bulat). Bentuk ini sangat berpengaruh pada besarnya tekanan angin yang bekerja pada bangunan. Semakin tinggi bangunan akan semakin besar tekanan angin. Tekanan angin bekerja lebih ringan bila tinggi bangunan lebih kecil dari setengah lebar bangunan.Kemiringan atap yang memberikan beban angin yg rendah adalah antara 10°-30°. Untuk sudut yang lebih besar dari dari 30°,perlu kekuatan yg lebih baik dan penutup yg sesuai.

 

 

 

2.            Teknik Pengerjaan

 

Penutup atap dari seng dan asbes gelombang harus diikat pada gording dengan paku paling sedikit 6 paku tiap 1 m2.

 

 genteng harus diikat dengan kawat tiap 5 jalur genteng, sedangkan untuk genteng yang ada lubangnya dapat dipakukan ke reng.

 

Pengerjaan atap harus dibuat secermat mungkin sesuai dengan karakteristik yang mengikuti setiap jenis bahan.Beberapa contoh persyaratan berikut ini harus diikuti.

 

a.      Bentang Maksimal

 

Setiap jenis material memiliki karakteristik tersendiri.Rangka atap baja memiliki kemampuan bentang lebih panjang daripada material kayu. Baja atau kayu,dapat disambung dengan sambungan khusus dengan memerhatikan dimensi/ukuran batang dan perilaku gaya pada batang yang akan disambung.

 

b.       Teknik Sambungan

 

Kekuatan sambungan antar elemen yang digunakan untuk rangka juga harus diperhatikan. Misalnya,kayu yang mempunyai keterbatasan ukuran maka penyambungan yang baik dan benar adalah kunci kekuatan atap.

 

 

 

 

 

Ada 2 metode menyambung kayu,yaitu :

 

1.  Baut (tanpa plat/dengan plat T/dengan plat L) pilih diameter yang tepat agar kayu tidak pecah ketika dibaut. Jumlah baut disesuaikan dengan kekuatan struktur yang akan membebani sambungan tersebut dan dimensi kayunya.

 

2.  Paku dimensi paku disesuaikan dengan dimensi kayu,yakni 2x ketebalan kayu yg disambung.

 

 

 

3.     Pemasangan

 

Kerapian pemasangan penutup atap (presisi), jika menggunakan genteng, maka

 

jarak reng harus sesuai spesifikasi dan rekomendasi dari produsen.Beberapa contoh pengerjaan atap yang tidak cermat sering terjadi pada jurai dalam, yaitu terdapatnya sambungan tekuk ke bagian dalam; susunan atap yang tidak berpresisi; atau bidang atap yang bergelombang akibat dari pemasangan reng yg tidak rapi.Semua ini mengakibatkan munculnya gangguan pada atap dan mempengaruhi kekuatan atap.

 

 

 

4.  Keawetan material

 

Awet atau tidaknya atap dikaitkan dengan faktor lingkungan termasuk cuaca dan organisme perusak yang dapat menyebabkan menurunnya kemampuan struktur. Misalnya,serangan rayap terhadap kayu. Kayu yang diserang akan terlihat masih utuh meski bagian dalamnya keropos. Maka,untuk menciptakan atap yang kuat perlu dilakukan teknik perlindungan terhadap material bangunan. Contohnya,sebelum digunakan kayu harus diberi treatment yang dapat meningkatkan daya tahan kayu. Bahan dari metal biasanya diberi coating atau lapisan khusus yang melindungi material dari korosi atau karat.

 

 

 

C.        Macam dan Jenis penutup atap

 

1. Atap ijuk dan alang-alang

 

Kalau Anda pernah ke Bali, pasti akan sangat familiar dengan bahan atap ijuk yang diigunakan pada arsitektur tradisional Bali. Boleh saja Anda gunakan jenis atap ini apabila ingin membuat bangunan dengan nuansa tradisional atau vernakular.Atap ijuk dibuat dari serabut palem aren. Ijuk digunakan sebagai bahan penutup atap dengan dibentuk ikatan sepanjang 120cm dan diameter 6cm. Ikatan tersebut dijepit dengan bilah bambu, lalu diikatkan ke reng. Lapisan ijuk minimal 2 lapis, semakin tebal lapisannya akan semakin lama daya tahannya. Atap ijuk dengan kualitas yang baik bisa mencapai umur hingga 30 tahun.

 

 

 

2. Atap Rumbia

 

Atap Rumbia terbuat dari helai daun rumbia yang dirangkaikan hingga berbentuk sisir lalu diikat pada sebatang tongkat atau bambu yang berfungsi sebagai reng setiap 20 cm. Atap rumbia hanya memiliki daya tahan sekitar 3-4 tahun.

 

Baik atap ijuk dan alang-alang mempunyai kelebihan terutama pada aspek estetika dan nuansa tradisionalnya.Kelemahannya adalah ketersediaan bahan dengan kualitas yang baik di pasaran, sistem pemasangan yang sedikit rumit, dan umur yang relatif pendek (untuk bahan atap rumbia).

 

 

 

 

3. Atap Sirap.

 

Sirap yang tersedia di pasaran terbuat dari 2 jenis bahan.Sirap alami yang berbahan dasar kayu dan sirap buatan yang berbahan dasar fiber-cement.Sirap kayu terbuat dari kayu kelas awet yang berserat lurus, bebas dari mata kayu dan retak. Terdapat sirap kayu kecil dengan panjang 50-60cm, lebar 7-10cm, tebal 1-3cm, dan sirap kayu besar yang berbentuk seperti papan dengan panjang 40-93cm, lebar 10-47cm, tebal 3-5mm. Sedangkan sirap buatan dari bahan fiber-cement tersedia dalam ukuran yang bermacam-macam. Cara pemasangan sirap alami dan sirap buatan hampir sama. Sirap dipasang selang-seling sebanyak 2,3, atau 4 lapis dengan dipaku pada reng. Terdapat juga sirap tradisional yang terbuat dari bambu yang dibelah, lalu dipotong sepanjang 40cm dan diruncingkan ujungnya.Atap sirap banyak dipergunakan untuk bangunan-bangunan dengan style kolonial.Selain itu, seperti telah dibahas pada bagian pertama, atap sirap mempunyai kelebihan bisa dipasang pada atap dengan sudut yang hampir mendekati vertikal.Kekurangannya adalah pada aspek biaya.Atap sirap alami cukup mahal karena harus terbuat dari kayu dengan kualitas baik.

 

 

 

4. Atap Asbes

 

Asbes sering digunakan untuk bangunan berbiaya rendah.Tidak hanya karena harga materialnya yang murah.Atap asbes juga memerlukan rangka atap yang lebih jarang.Asbes langsung dipasang pada gording, sehingga tidak memerlukan usuk dan reng.

 

Asbes tersedia dalam 2 jenis, yaitu asbes gelombang besar dan asbes gelombang kecil. Untuk asbes gelombang besar, ukuran yang tersedia adalah panjang 100, 125, 150, 180, 210, 240, 270, 300cm, dengan lebar 108cm. Untuk asbes gelombang besar, overlap sambungan di ujung adalah 25cm, dan 8 cm di bagian tepi. Untuk asbes gelombang kecil, ukuran yang tersedia adalah 150, 180, 210, 240, 270, 300cm dengan lebar 105cm. Untuk asbes gelombang kecil, overlap sambungan di ujung adalah 25cm dan 7,5cm di bagian tepi.

 

 

 

5. Atap Seng dan Aluminium Gelombang

 

Atap seng gelombang tersedia dalam ukuran 183 x 76cm, sedangkan atap aluminium gelombang tersedia dalam ukuran 200 x 83,6cm dengan tebal 0.5, 0.7, 0.8, atau 1.0 mm. Ketika dipasang memerlukan overlap sebesar 20cm pada bagian panjang, dan 11,4 cm pada bagian tepi.

 

 

 

 

6. Atap Metaldeck

 

Atap jenis ini mempunyai banyak nama alias d pasaran, yaitu spandek, bondek, trimdek, kliplok, hingga galvalum dan zincalume yang sebetulnya lebih ke arah nama jenis material penyusunnya. Atap metal deck ini biasa dipergunakan untuk bangunan-bangunan dengan bentang atap lebar, misalnya pabrik, swalayan, dll.Tersedia dalam lebar 600mm s/d 1000mm dengan berbagai jenis profil permukaan. Panjangnya biasanya hampir tidak terbatas, karena supplier material ini dapat langsung membawa mobil yang memuat roll material ke lokasi proyek.

 

Atap asbes, seng, aluminium, dan metaldeck mempunyai karakter yang hampir sama. Kelebihannya adalah biaya yang hemat dan beban konstruksi yang ringan.Tapi kelemahannya juga cukup banyak, yang pertama adalah aspek estetika.Asbes dan seng sudah terlanjur identik dengan rumah bagi golongan yang kurang mampu. Yang kedua adalah atap asbes dan seluruh atap dengan bahan dasar metal mempunyai sifat meneruskan radiasi panas matahari yang cukup besar pada ruangan di bawahnya. Kelemahan lain adalah bahan metal akan berisik apabila ditimpa hujan. Bahan asbes sendiri cukup banyak dihindari, karena partikelnya yang diduga bersifat karsinogenik, yaitu menyebabkan kanker.Untuk mengatasi kelemahan berbagai jenis atap lembaran ini, lahirlah jenis atap yang berbahan dasar bitumen selulose.

 

Selain itu saat ini juga sudah tersedia material serupa asbes gelombang asbestos free (partikel penyebab kanker) yang terbuat dari bahan fiber-cement.Kandungan semen dalam jenis material ini menimbulkan karakteristik material yang waterproof, kuat, dan memiliki insulasi panas yang cukup baik.             

 

 

 

7. Atap Bitumen Selulose

 

Jenis material atap ini, terbuat dari fiber selulosa, bitumen, dan resin, memiliki berbagai kelebihan.Atap ini lentur, sehingga mudah dibentuk menyesuaikan bentuk atap, berbobot ringan sehingga tidak membebani konstruksi bangunan, insulasi panas yang baik karena karakteristik bahan penyusunnya, tidak bising ketika ditimpa hujan, dan memiliki variasi warna yang cukup banyak.Apakah ada kelemahannya?Tentu ada, yaitu relatif lebih mahal daripada jenis atap lembaran lainnya.Tersedia dalam lembaran dengan cetakan berbentuk seperti genteng atau asbes gelombang dengan berbagai warna.

 

 

 

D.        Kesimpulan

 

Dalam kondisi lingkungan sangat memegang peranan penting. Lingkungan dengan kerimbunan pepohonan dapat meredusir panas dan menghasilkan temperatur lingkungan yang lebih rendah dari sekitarnya yang tidak terlindung oleh kerimbunan pohon. Dengan demikian memberikan konstribusi positif bagi pengaruh kenyamanan di dalam suatu bangunan.

 

 

 

Bentuk atap yang tidak memiliki sirkulasi udara di dalam atap, memberikan konstribusi panas di ruang dibawahnya, yang mempengaruhi kenyamanan. Namun tanpa upaya memberikan sirkulasi udara yang baik, akan menurunkan kwalitas bangunan itu sendiri.

 

 

 

E.        Referensi

 

-     Frank, W.,Raumklima und thermische Behaglichkeit Berlin, Verlag Wilhelm Ernst & Sohn K.G.1975.

 

-     Iqbal, M.,An Introduction to Solar Radiation, Aca-demic Press, Canada. 1983.

 

-     Koentjaraningrat,Kebudayaan Jawa, Jakarta, PNBalai Pustaka. 1984.

 

-     K Ismunandar, R,Joglo Arsitektur Rumah Tradisio-nal Jawa, Semarang, Dahara Prize. 1990.

 

-     Mehra, S.R.,Umdruck zur Vorlesung: Bauphysik f ̧rStudenten des Bauingenieurwesens Univ.Stuttgart, Stuttgart. 1998.

 

-     Purwanto, L.M.F.,Arsitektur Pemukiman Tropis,Handout Program Pasca Sarjana S2, MagisterTeknik Arsitektur, Universitas Katolik Soegi-japranata. 2005.