Mengenal Teknologi Pengeringan Kayu

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Tuesday, 07 April 2015 Published Date Written by Budi martono

Mengenal Teknologi Pengeringan Kayu

Budi Martono

Abstraksi

Perkembangan teknologi pengeringan kayu di Indonesia sangat pesat, mulai dari cara alami sampai penggunaan mesin-mesin pengering kayu modern. Tahapan proses pengeringan kayu secara umum, yaitu pemanasan awal (preheating), pengeringan sampai titik jenuh serat, pengeringan sampai kadar air akhir, pengkondisian (conditioning), penyamaan atau pemerataan kadar air kayu (equalizing), dan pendinginan (cooling down). Ada beberapa cacat kayu dalam proses pengeringan, yaitu retak ujung dan permukaan; pengerasan kayu; retak dalam; perubahan bentuk; cacat kadar air tidak merata; dan perubahan warna kayu.

Kata kunci: teknologi pengeringan kayu, tahapan proses pengeringan kayu, cacat kayu dalam proses pengeringan.

I.        PENDAHULUAN

Hasil produk perkayuan menuntut bahan kayu yang telah dikeringkan, dengan kadar air maksimal 16% - 20%. Tuntutan penggunaan kayu kering ini sangat bervariasi dan disesuaikan dengan kondisi iklim, cuaca, dan keadaan udara tempat produk kayu tersebut ditempatkan.

Perkembangan teknologi pengeringan kayu di Indonesia sangat pesat, mulai dari cara alami dengan memanfaatkan matahari sampai penggunaan mesin-mesin pengering kayu canggih dan modern.

Umumnya kesalahan utama yang sering terjadi adalah lemahnya perencanaan awal, yaitu perkiraan kapasitas produksi dan besarnya modal investasi yang terhitung dalam bentuk biaya pengoperasian mesin. Juga keterampilan operator sangat penting karena kesalahan pengendalian proses pengeringan berarti kerugian, seperti kayu pecah, melengkung, atau retak-retak. Lebih parah lagi bila terjadi kesalahan memilih mesin pengering, yang akan membawa kerugian investasi dan bahan kayu yang cacat.

 

II.        PROSES PENGERINGAN KAYU SECARA UMUM

Proses pengeringan kayu secara umum ada beberapa tahap, yaitu pemanasan awal (preheating), pengeringan sampai titik jenuh serat, pengeringan sampai kadar air akhir, pengkondisian (conditioning), penyamaan atau pemerataan kadar air kayu (equalizing), dan pendinginan (cooling down).

1.    Pemanasan Awal (Preheating)

Kadar air kayu di atas titik jenuh serat mempunyai kandungan air lebih dari 30%. Kayu yang akan melalui proses pengeringan buatan mempunyai kadar air kira-kira 70% - 40%, sedangkan kadar air rata-rata berkisar antara 50% - 60%.

Pada tahap pemanasan awal, kayu dibasahi lebih dulu dengan cara menyemprotkan air ke dalam oven dan temperatur diatur agak panas, kira-kira 35˚ - 40˚C. Air akan menguap dan membentuk kabut uap air yang pekat sehingga udara akan menjadi berkelembaban tinggi.

Permukaan kayu akan menjadi basah, sehingga tegangan dalam kayu akan mengendur. Proses ini dapat menghilangkan perbedaan tegangan dalam kayu yang timbul pada saat pengeringan alami.

Tujuan proses pemanasan awal adalah (a) menyamakan kadar air awal kayu agar dapat diproses dalam tahapan proses yang sama; (b) menghilangkan tegangan-tegangan dalam kayu selama kayu ditimbun atau dikeringkan secara alami (air dryer).

Lama proses pemanasan awal berkisar antara 2 – 12 jam, bergantung pada jenis kayu dan tebal kayu. Kayu yang berwarna terang dan mudah terserang jamur atau kayu yang mempunyai zat ekstraktif minyak, sebaiknya tidak disemprot dengan air, cukup dengan pengkondisian temperatur awal yang rendah 30˚C.

 

2.    Pengeringan Sampai Titik Jenuh Serat

Titik jenuh serat kayu berkisar antara 21% - 30%, bergantung pada jenis yang dikeringkan. Kayu dikeringkan mulai dari kadar air 50% - 60% menjadi 21% - 30%. Dengan demikian, nilai gradien pengeringannya sangat tinggi dan mempunyai resiko terjadinya tegangan dalam kayu karena air inti kayu yang terblokir tidak dapat ke luar (case hardening). Penggunaan temperatur tinggi harus dihindarkan. Kipas-kipas udara untuk mensirkulasikan udara dalam oven harus dimanfaatkan. Temperatur maksimal yang digunakan hendaknya berkisar antara 40˚ - 55˚C.

Tujuan proses ini adalah (a) mengeluarkan kandungan air bebas dari dalam kayu sehingga kayu mencapai titik jenuh serat; (b) menghindarkan keluarnya zat ekstraktif yang dapat mengubah warna kayu (discolouration).

Beberapa kendala yang dihadapi pada proses pengeringan sampai titik jenuh serat adalah (a) terjadinya cacat tegangan dalam kayu. Permukaan kayu lebih cepat mengering daripada bagian inti kayu, sehingga terjadi perbedaan tegangan di dalam dan pada permukaan kayu. Air bebas di dalam kayu tidak dapat terevaporasi ke luar karena sel-sel permukaan kayu sudah menyusut dan menyempit. Proses pengeringan menjadi lambat dan bila diteruskan dengan temperatur tinggi maka kayu akan retak dan pecah; (b) penurunan kadar air kayu yang tidak merata. Hal ini dapat diatasi dengan penyemprotan air pada kayu untuk menghilangkan tegangan pada permukaan kayu. Ulangi kembali proses pengeringan dengan temperatur yang rendah. Gejala ini sering terjadi karena pencampuran berbagai jenis kayu dalam satu proses pengeringan. Kayu yang cepat mengering (biasanya kayu lunak), akan lebih cepat menyesuaikan kondisinya sendiri daripada kayu keras yang lebih lambat kering.

Hal-hal yang perlu diperhatikan bila kadar air kayu turun tidak merata adalah (a) apakah ada perbedaan jenis atau ketebalan kayu yang diproses?; (b) apakah letak dan pemakuan paku sensor (electrode) sesuai dengan peraturan?; (c) apakah kipas impeller ada yang rusak sehingga sirkulasi udara terganggu?; dan (d) apakah ada kesalahan pada sistem penumpukan kayu?

 

3.    Pengeringan Sampai Kadar Air Akhir

Tahap pengeringan di bawah titik jenuh serat sangat riskan karena pada tahap ini, kayu mulai melepaskan kandungan air terikatnya. Bila kandungan air terikat dalam dinding sel mulai terevaporasi, kayu pun akan bergerak menyusut.

Saat kayu menyusut yang harus diwaspadai adalah perubahan bentuk. Proses evaporasi harus dikendalikan agar tetap merata pada keseluruhan permukaan kayu sehingga tidak terjadi perbedaan tegangan dalam kayu.

Temperatur dan kelembaban relatif dikendalikan dengan gradien pengeringan yang tidak terlalu besar. Kadar air 21% - 30% harus dapat diturunkan lagi sampai kadar air akhir 6% - 8%, sesuai dengan kebutuhan. Temperatur yang digunakan untuk kayu yang mempunyai kandungan zat ekstraktif, sebaiknya antara 55˚C - 60˚C, untuk menghindarkan noda-noda warna atau perubahan warna kayu (discolouration). Pada kayu normal, temperatur diprogramkan mulai dari 55˚C sampai 70˚C atau 80˚C. sedangkan pada kayu lunak (pinus, sengon) dapat diatur lebih tinggi lagi, 90˚C - 120˚C, untuk mempercepat proses pengeringan kayu (sistem pengeringan kayu temperatur tinggi).

Tujuan proses ini adalah (a) mengeluarkan kandungan air terikat dalam dinding sel kayu sehingga kayu dapat dikeringkan sesuai dengan kebutuhan; (b) menghindarkan cacat-cacat akibat perubahan bentuk atau pecah-pecah; (c) menghindarkan keluarnya zat ekstraktif yang akan merusak warna kayu (discolouration).

Kendala yang sering dihadapi dalam proses ini adalah (a) terjadinya cacat tegangan dalam kayu (case hardening) atau cacat lainnya (melengkung, retak-retak atau pecah ujung); (b) perubahan warna kayu (discolouration); penurunan kadar air yang tidak merata.

 

4.    Pengkondisian (Conditioning)

Conditioning adalah tahap penurunan sedikit persentase kadar air kayu di bawah target yang ditetapkan dengan cara sedikit menaikkan temperatur dan mengendalikan kelembaban relatif sedikit kering. Dengan demikian kadar air kayu maksimum adalah kadar air yang ditargetkan. Kayu yang kering akan mempunyai kadar air kayu lebih rendah dari target.

 

5.    Penyamaan atau Pemerataan Kadar Air Kayu (Equalizing)

Equalizing adalah penyemprotan air ke dalam oven sehingga permukaan kayu menjadi sedikit basah. Proses ini adalah untuk menghilangkan tegangan-tegangan dalam kayu akibat kurang meratanya kadar air dalam dan permukaan kayu.

Pada akhir proses, kadar air permukaan kayu mencapai 5% - 6%, tetapi pada bagian inti kayu masih 8%. Perbedaan 2% atau 1% dapat disamakan dengan cara pembasahan (water spray) sehingga permukaan kayu juga mempunyai kadar air 8%. Tegangan dalam kayu akan terbebaskan.

 

6.    Pendinginan (Cooling Down)

Cooling Down adalah tahap penurunan temperatur perlahan-lahan dan penjagaan ketetapan sirkulasi udara dalam ruang oven. Kemudian pintu oven dibuka sedikit sementara kipas sirkulasi tetap dijalankan. Kayu yang panas dapat pecah atau retak bila perubahan udara di sekelilingnya terlalu mendadak. Setelah proses pendinginan, sebaiknya kayu didiamkan ± 1 minggu sebelum proses produksi berikutnya.

Tahap-tahap pengeringan kayu secara khusus harus menyesuaikan jenis kayu yang dikeringkan pada kelompok jenis kayu. Pengelompokan jenis kayu ini berbeda-beda menurut teknologi produsen electronic kiln controller.

Jenis-jenis kayu dapat dikelompokkan menjadi 3, 5, dan 7 kelompok proses pengeringan. Tetapi yang penting adalah gradien pengeringan dan jenis kayu itu sendiri. Makin tinggi nilai gradien pengeringan kayu, berarti kayu harus makin mudah dan cepat dikeringkan. Bila nilai gradien kayu sangat rendah, berarti kayu tersebut tergolong sulit dan lama dikeringkan, berpori-pori kecil, serta mudah pecah.

 

III.        JENIS TEKNOLOGI PENGERINGAN KAYU

Apa saja jenis teknologi pengeringan kayu yang cukup dikenal masa kini? Teknologi pengeringan kayu saat ini yang cukup dikenal ada 4 jenis yaitu Solar Kiln, Conventional Kiln, Vacuum Kiln dan Dehumidification Kiln.

 

1.    Solar Kiln

Ada beberapa tipe pengering kayu menggunakan tenaga matahari tapi pada dasarnya memiliki prinsip yang sama yaitu mengumpulkan energi panas matahari sehingga mencapai suhu tertentu dan suhu ini digunakan untuk mengeluarkan air dari dalam kayu. Ukuran dan kapasitas tentu saja berbeda dengan penghasil energi dari sinar matahari di rumah kita.

Gambar 1. Solar Kiln

Sumber: http://www.americanwoodworker.com  

 

Kelemahan tipe pengering ini adalah kecepatan dan kapasitas pengeringan. Volume kayu dan lama pengeringan sangat tergantung dengan keberadaan panas matahari. Untuk di negara yang memiliki empat musim hal ini akan kurang menguntungkan tapi termasuk jenis pengeringan yang paling murah dalam hal investasi awal. Oleh karena itulah teknis ini lebih populer di negara yang memiliki 4 musim.

 

2.    Conventional Kiln

Pengering Kayu Konvensional menggunakan uap air panas yang didorongkan ke dalam ruangan dan disirkulasikan oleh kipas ventilasi di dalamnya. Tipe pengeringan ini hanya mengalirkan uap panas dan kemudian mengalirkan keluar udara lembab melalui ventilasi yang terdapat di dalamnya. Proses ini menghasilkan hasil pengeringan dengan kualitas yang baik karena proses dilakukan secara bertahap dan stabil. Akan tetapi apabila dibandingkan dengan sistem lain tipe ini membutuhkan energi yang cukup besar, aliran uap air ke dalam ruangan pengering tidak boleh terhenti.

Gambar 2. Conventional Kiln

Sumber: http://www.brunner-hildebrand.com

 

Teknis pengeringan ini paling dikenal di Indonesia dan negara asia lainnya. Terutama pada industri skala menengah ke bawah bahkan industri rumah tangga.

 

3.    Vacuum Kiln

Proses berjalan dengan cepat, lebih cepat daripada pengering yang konvensional karena air di dalam kayu juga menguap dengan cepat sekali. Ini adalah keunggulan sistem pengeringan vacuum dibanding dengan yang lain dan masih tetap menghasilkan kualitas yang baik pada kayu yang dikeringkan.


 

 

 

Gambar 3. Vacuum Kiln

Sumber: http://www.isve.com/en/vacuum-dry-kilns-model-em2v   

 

Kekurangannya adalah pada ukuran kayu yang dikeringkan tidak bisa besar karena kapasitas vacuum kiln (tabung) cukup terbatas. Volume total dalam sekali proses juga jauh lebih kecil daripada kiln konvensional.
Sistem ini mutlak membutuhkan operator yang berkualitas karena tidak boleh ada kesalahan sama sekali dan berbiaya operasional cukup besar dibandingkan kiln konvensional. Lagipula biaya investasinya juga besar, bisa 3 hingga 4 kali investasi kiln dry konvensional.
Jadi mengapa memilih vacuum kiln? Ketika waktu dan lingkungan menjadi prioritas utama, vacuum kiln adalah pilihan terbaik. Menggunakan tenaga listrik yang tidak menimbulkan polusi udara sebagaimana kiln konvensional yang menggunakan kayu atau gas untuk pembakaran.

 

4.    Dehumidification Kiln
Sebagai satu-satunya keunggulan sistem ini adalah karena dehumidificaton kiln mendaur ulang suhu udara panas di dalam ruangan pengering untuk berputar kembali melalui sela-sela tumpukan kayu. Ini berarti penghematan energi panas yang pada sistem kiln konvensional senantiasa mengalir tanpa henti. Kalau di sistem konvensional udara lembab yang berasal dari penguapan air dari dalam kayu disalurkan/dibuang keluar melalui ventilasi output, maka dalam dehumidification kiln udara tersebut dialirkan melalui koil pendingin sehingga uap air terurai kembali.


Gambar 4. Dehumidification Kiln

Sumber: http://lumber.nyle.com/medium-dry-kiln-systems    

 

Air yang terurai dialirkan melalui saluran khusus pembuangan dan udara panas mengalir kembali ke dalam ruangan pengering. Apabila suhu udara berlebih di dalam ruangan, ada fan khusus yang akan mengalirkan suhu tersebut keluar.
Waktu pengeringan tidak berbeda dengan kiln jenis konvensional, dan cara penanganannya-pun cukup mudah.
Peralatan yang digunakan untuk tipe ini sedikit lebih mahal daripada tipe konvensional, namun biaya akhir setelah tambahan beberapa komponen biaya pada saat anda harus membangun boiler sistem ini lebih murah.

 

IV.        PENCEGAHAN TERJADINYA CACAT KAYU SETELAH DIKERINGKAN

Setiap proses pengeringan kayu selalu memiliki risiko kerusakan atau cacat pengeringan. Risiko inilah yang harus ditekan sekecil mungkin. Cacat pengeringan kayu dapat diakibatkan oleh faktor kondisi kayu sebelum diproses; mesin dan teknologi pengeringannya; atau kemampuan operator oven. Cacat kayu dalam proses pengeringan, misalnya: (a) retak ujung dan permukaan; (b) pengerasan kayu; (c) retak dalam; (d) perubahan bentuk; (e) cacat kadar air tidak merata; dan (f) perubahan warna kayu.

 

1.    Retak ujung dan permukaan (end and surface checks)

Retak ujung dan permukaan serta retak rambut dapat terjadi bila kelembaban udara dalam ruang tidak diperhatikan pada saat oven sudah mulai beroperasi. Pada saat permukaan kayu mengering, bagian luar kayu mulai menyusut, tetapi bagian dalam kayu masih basah. Akibatnya, terjadi tegangan dan retak-retak pada permukaan dan ujung kayu.

Pencegahannya adalah dengan mengoleskan oli pada ujung kayu atau lebih baik menggunakan resin urea atau polyethiline glycol. Pada awal operasional, gunakan temperatur rendah. Bila perlu semprotlah dengan air supaya kelembaban udara cukup untuk membasahi permukaan kayu. Kemudian suhu dinaikkan sedikit demi sedikit.

Kayu bercacat retak rambut tidak dapat dipakai untuk produk yang dicat, karena bagian yang retak akan merusak permukaan cat pada saat kayu kembang susut oleh udara sekitar.

 

2.    Pengerasan kayu (case hardening)

Pengerasan kayu disebabkan oleh tingginya kadar air dalam kayu pada saat sebelum mulai dikeringkan dan sangat cepatnya proses pengeringan kayu. Permukaan kayu mencapai titik keseimbangan lebih cepat daripada bagian dalam kayu, sehingga kayu mulai menyusut.

Penyusutan permukaan ini menyebabkan tegangan pada permukaan kayu dan menyebabkan retak. Sebaliknya, bila permukaan kayu tetap elastis dan tidak timbul cacat retak permukaan, proses evaporasi air dalam kayu terhambat. Sel-sel permukaan kayu yang kering akan memblokir jalan air sel bagian dalam kayu keluar ke permukaan.

Bila proses pengeringan ini diteruskan, bagian luar kayu akan mengeras dan kedap. Kalau bagian permukaan kayu tidak bertegangan lagi, sifat kayu permukaan sudah tidak normal. Timbul pengerasan kayu bila kayu bagian dalam mencapai titik keseimbangan dan mulai menyusut.

Tanda-tanda bahwa terjadi pengerasan kayu adalah: (a) waktu pengeringan lama, sedangkan persentase kandungan air kecil waktu penurunan; (b) bila dibelah, kayu akan melengkung.

Pencegahan case hardening sebagai berikut: (a) Lakukan conditioning lebih dulu sebelum proses pengeringan dimulai. Kemudian, temperatur diatur dari bawah (35˚C), perlahan-lahan naik sesuai dengan kadar air kayu; (b) gunakan temperatur 55˚- 60˚C sesudah kayu mencapai kadar air keseimbangan 20% - 25%; (c) pengerasan kayu yang masih berupa perbedaan tegangan dalam kayu dapat diatasi dengan penyemprotan air atau uap ke dalam ruang oven, untuk meningkatkan kelembaban udara dan membasahi permukaan kayu. Setelah perbedaan tegangan dalam kayu berkurang, barulah diatur temperatur rendah lagi. Gunakan kecepatan gerak udara yang cukup kuat untuk menurunkan kadar air sampai titik keseimbangan, kemudian baru digunakan temperatur sedang dan tinggi untuk mencapai kadar air akhir; (d) untuk pengujian terjadinya pengerasan, ambil kayu dari dalam oven dan belah di tengah. Kemudian lihat pola getah yang terjebak dalam kayu di tengah. Ukurlah kadar air bagian masing-masing mulai dari tepi sampai tengah dengan menggunakan alat pengukur kadar air.

 

3.    Retak dalam (honey combing)

Cacat retak dalam adalah cacat akibat kesalahan pengendalian mesin pengering, tetapi cacat ini dapat dihindarkan. Keadaan ini adalah kelanjutan dari cacat pengerasan bagian luar. Bila kesalahan pengendalian mesin pengering tidak cepat diatasi, kayu menjadi kering dan cacat retak-retak. Cacat retak dalam tidak dapat diperbaiki dan kayu tidak dapat dipakai.

 

4.    Perubahan bentuk (distorsi)

Perubahan bentuk pada papan atau pada balok saat pengeringan kayu adalah normal dan tidak mutlak kesalahan pengeringan kayu. Namun, merupakan suatu keharusan untuk menekan perubahan bentuk ini sekecil mungkin dengan menggunakan mesin pengering. Tegangan dalam kayu dapat dieliminasi melalui pengaturan oven.

Perubahan-perubahan bentuk kayu yang mungkin terjadi adalah melengkung (bowing), cekung (cupping), memuntir (twisting).

Perubahan bentuk ini disebabkan oleh tidak meratanya persentase penyusutan bagian-bagian kayu. Perbedaan persentase penyusutan selalu terjadi karena perbedaan arah pemotongan kayu (tangensial, radial, dan aksial). Untuk meratakan persentase penyusutan kayu dan persentase kadar air kayu, dipakai cara pengkondisian akhir sebelum oven dibuka.

 

5.    Cacat kadar air tidak merata

Seringkali hasil proses pengeringan tidak merata kadar airnya, terutama pada bagian tengah tumpukan, kayu masih basah. Sebab utama cacat tersebut adalah tidak meratanya distribusi panas ke seluruh bagian kayu. Oleh sebab itu periksa cukupkah kecepatan sirkulasi udara dalam ruang cukup untuk membawa energi panas ke dalam tumpukan-tumpukan kayu. Bila ternyata kecepatan sirkulasi dan pengarahan sirkulasi udara menjadi masalah, atasilah dengan mendesain ulang sistem sirkulasi udara tersebut dengan baik.

Pada oven yang baik, bila tiba-tiba terjadi cacat oleh tidak meratanya kadar air, harus diperiksa kipas-kipas di atas, apakah motornya masih bekerja dengan baik. Sebab lain yang mungkin terjadi adalah ketebalan kayu yang berbeda dalam suatu proses pengeringan atau jenis kayu tidak sejenis. Patokannya pada kayu yang tertebal atau jenis kayu yang paling keras atau sulit dikeringkan. Juga, harus diukur kadar air sebelum kayu masuk ke dalam oven. Perbedaan kadar air saat masuk yang terlalu besar juga akan menghambat proses pengeringan.

 

6.    Perubahan warna kayu (discolouration)

Perubahan warna dapat terjadi pada saat proses pengeringan kayu. Perubahan warna kayu dapat berupa perubahan warna total atau berupa noda-noda udara, yang sedikit banyak juga sampai ke dalam kayu. Noda-noda warna pada permukaan kayu masih dapat dihilangkan dengan cara menyerut kayu, tetapi perubahan warna yang sampai ke dalam, sulit dihilangkan.

Sebab-sebab utama perubahan warna adalah karena temperatur atau uap yang tinggi dan menyebabkan zat tanin kayu bereaksi sehingga terjadi proses oksidasi yang menyebabkan warna kayu berubah. Temperatur yang tinggi lebih banyak berpengaruh pada perubahan warna daripada menurunkan kadar air dengan cepat. Temperatur 50˚C atau 60˚C lebih cenderung mengubah warna kayu. Makin tinggi temperatur digunakan, warna kayu akan makin gelap.

Cara pencegahannya adalah (a) sebaiknya digunakan temperatur 60˚C sesudah kayu mencapai titik keseimbangan yaitu 20% - 25%; (b) proses uap atau penyemprotan air untuk melembabkan udara dalam kamar oven dilakukan seperlunya saja.

 

V.        KESIMPULAN

Teknologi pengeringan kayu yang cukup dikenal, yaitu Solar Kiln, Conventional Kiln, Vacuum Kiln dan Dehumidification Kiln. Proses pengeringan kayu secara umum melalui beberapa tahap, yaitu pemanasan awal (preheating); pengeringan sampai titik jenuh serat; pengeringan sampai kadar air akhir; pengkondisian (conditioning); penyamaan atau pemerataan kadar air kayu (equalizing); dan pendinginan (cooling down). Cacat pengeringan kayu dapat diakibatkan oleh faktor kondisi kayu sebelum diproses; mesin dan teknologi pengeringannya; atau kemampuan operator oven.

VI.        REFERENSI

A.Dodong Budianto, 1996, Sistem Pengeringan Kayu, Penerbit Kanisius, Yogyakarta. ISBN: 979-497-596-6.

Istanto, Suyitno, Santoso, Novi Caroko, Suyono, Wibawa Endra Juwana, 2003, Pengembangan Mesin Pengering Kayu Sistem Air Panas: Kaji Tindak Pengering Kayu di PT. X Ngawi Jawa Timur, Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian Balai Penelitian dan Pengembangan Propinsi Jawa Tengah tanggal 16 Desember 2003. ISBN: 979-3434-06-6.

Suyitno, Tri Istanto, Wibawa, E.J., 2004, Pengaruh Kadar Air Awal Kayu Pada Kandungan Air Kritik dan Laju Pengeringan Sistem Pengering Konvensional Air Panas, Jurnal POROS Univ. Tarumanagara, Vol. 7 Nomor 1, Januari 2004, Terakreditasi No. 395/DIKTI/Kep/2000. ISSN 1410-6841

Wibawa Endra Juwana, Tri Istanto, Suyitno, 2007, Koefisien Difusi Pada Proses Pengeringan Kayu Mahoni di Sekitar Kandungan Air Kritik, Jurnal Gema Teknik, Nomor 2 Tahun X Januari 2007 Terakreditasi No. 39/DIKTI/Kep/2004 ISSN 0854-2279

Tri Istanto, 2009, “Pengaruh Kadar Air Awal dan Tekanan Pembriketan Terhadap Densitas dan Ketahanan Briket Serbuk Gergajian Kayu Kalimantan”, Prosiding Seminar Nasional Kluster Riset Teknik Mesin 2009, Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik UNS, 13-14 Oktober 2009, ISBN 978-602-95597-0-5

http://www.tentangkayu.com/2008/03/metodologi-pengeringan-kayu.html, diakses tgl 17.2.2012

 

 



Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG