BEDAH RUMAH

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Tuesday, 10 February 2015 Published Date Written by Andreas Mulyono

BEDAH RUMAH

( PEMBANGUNAN RUMAH LAYAK HUNI )

A.  Abstrak.

Pemerintah Kota Malang pada tahun 2013 telah menganggarkan untuk meningkatkan hunian layak bagi warganya, seperti halnya pada tahun tahun sebelumnya yang disebut dengan istilah bedah rumah. Pemerintah Kota Malang yang sekarang diJabat  Mohammad Anton atau yang dikenal dengan sebutan Abah Anton meneruskan program bedah rumah dengan sedikit meningkatkan sumbangan untuk bedah rumah sebesar Rp 12 juta per unit rumah, ini berarti ada kenaikan sebesar Rp 1 juta  per unit rumah. Sumbangan sebesar Rp 12 juta per unit rumah dengan ukuran 4 x 10 m tentunya belum cukup untuk membangun rumah layak huni. Sumbangan tersebut sebenarnya bermaksud untuk membantu warganya untuk membangun rumahnya, sedangkan kekurangannya dipenuhi dengan swadaya masyarakat yang dikelola oleh panitia Pelaksana Pembangunan rumah layak huni. Pada tanggal 15 Desember 2013 di RT 06 RW 01 Kelurahan Arjosari Kecamatan Blimbing, telah dilakukan bedah rumah dilanjutkan dengan pembangunan rumah layak huni milik Bapak Bejo.

Adapun Panitia Pembangunan Rumah Layak huni adalah sebagai berikut :

Ketua Pelaksana         : Drs. Andreas Mulyono, MT

Bendahara                  : Rusyadi

Sekretaris                    : Suparman

Seksi Donasi               : H. Ir Tasrip

                                      Tentrem Raharjo

                                      Usup ( Bp. RT 06 )

Atas kerja keras Panitia Pelaksana dan ridhlo Alloh Swt, pembangunan rumah layak huni telah terlaksana dengan baik dan lancar sesuai renana, dan berkat bantuan dari masyarakat baik berupa material, uang, konsumsi dan tenaga serta doa, kami panitia pelaksana bisa merealisasikan pembangunan rumah layak huni milik Bapak Bejo.

Kata kunci : Hunian layak huni bagi warga kota Malang.

 

 

 

 

 

 

 

B.  Pembahasan.

 

Definisi Rumah Tinggal

1. Dalam pengertian yang luas, rumah bukan hanya sebuah bangunan (struktural), melainkan juga tempat kediaman yang memenuhi syarat-syarat kehidupan yang layak, dipandang dari berbagai segi kehidupan masyarakat. Rumah dapat dimengerti sebagai tempat perlindungan, untuk menikmati kehidupan, beristirahat dan bersuka ria bersama keluarga. Di dalam rumah, penghuni memperoleh kesan pertama dari kehidupannya di dalam dunia ini. Rumah harus menjamin kepentingan keluarga, yaitu untuk tumbuh, memberi kemungkinan untuk hidup bergaul dengan tetangganya, dan lebih dari itu, rumah harus memberi ketenangan, kesenangan, kebahagiaan, dan kenyamanan pada segala peristiwa hidupnya. (Frick,2006:1).

 

2.  Rumah merupakan sebuah bangunan, tempat manusia tinggal dan melangsungkan kehidupannya. Disamping itu rumah juga merupakan tempat berlangsungnya proses sosialisasi pada saat seorang individu diperkenalkan kepada norma dan adat kebiasaan yang berlaku di dalam suatu masyarakat.Jadi setiap perumahan memiliki sistem nilai yang berlaku bagi warganya.Sistem nilai tersebut berbeda antara satu perumahan dengan perumahan yang lain, tergantung pada daerah ataupun keadaan masyarakat setempat. (Sarwono dalam Budihardjo, 1998 : 148).

 

3. Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. (UU No.4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman).

 

4.   Rumah adalah bangunan untuk tempat tinggal (Kamus Bahasa Indonesia, 1997).

 

5.  Dalam arti umum, rumah adalah bangunan yang dijadikan tempat tinggal selama jangka waktu tertentu. Rumah bisa menjadi tempat tinggal manusia maupun hewan, namun tempat tinggal yang khusus bagi hewan biasa disebut sangkar, sarang, atau kandang. Sedangkan dalam arti khusus, rumah mengacu pada konsep-konsep sosial-kemasyarakatan yang terjalin di dalam bangunan tempat tinggal, seperti keluarga, tempat bertumbuh, makan, tidur,beraktivitas, dll. (Wikipedia, 2012).

 

6. Rumah merupakan suatu bangunan, tempat manusia tinggal dan melangsungkan kehidupannya. Disamping itu rumah juga merupakan tempat berlangsungnya proses sosialisasi pada saat seorang individu diperkenalkan kepada norma dan adat kebiasaan yang berlaku di dalam suatu masyarakat. Jadi setiap perumahan memiliki sistem nilai yang berlaku bagi warganya. Sistem nilai tersebut berbeda antara satu perumahan dengan perumahan yang lain, tergantung pada daerah ataupun keadaan masyarakat setempat. (Sarwono dalam Budihardjo, 1998 : 148)

 

Fungsi Rumah Tinggal

 1.  Turner (dalam Jenie, 2001 : 45), mendefinisikan tiga fungsi utama yang terkandung       dalam sebuah rumah tempat bermukim, yaitu :

a. Rumah sebagai penunjang identitas keluarga (identity) yang diwujudkan pada kualitas    hunian atau perlindungan yang diberikan oleh rumah. Kebutuhan akan tempat tinggal  dimaksudkan agar penghuni dapat memiliki tempat berteduh guna melindungi diri dari iklim setempat.

b. Rumah sebagai penunjang kesempatan (opportunity) keluarga untuk berkembang  dalam kehidupan sosial budaya dan ekonomi atau fungsi pengemban keluarga. Kebutuhan berupa akses ini diterjemahkan dalam pemenuhan kebutuhan sosial dan kemudahan ke tempat kerja guna mendapatkan sumber penghasilan.

c. Rumah sebagai penunjang rasa aman (security) dalam arti terjaminnya. keadaan keluarga di masa depan setelah mendapatkan rumah. Jaminan keamanan atas lingkungan perumahan yang ditempati serta jaminan keamanan berupa kepemilikan rumah dan lahan (the form of tenure).

 

2.  Rumah berfungsi sebagai wadah untuk lembaga terkecil masyarakat manusia,yang sekaligus dapat dipandang sebagai “shelter” bagi tumbuhnya rasa aman atau terlindung. Rumah juga berfungsi sebagai wadah bagi berlangsungnya segala aktivitas manusia yang bersifat intern dan pribadi. Jadi, rumah tidak semata-mata merupakan tempat bernaung untuk melindungi diri dari segala bahaya, gangguan dan pengaruh fisik belakang melainkan juga merupakan tempat bernaung untuk melindungi diri dari segala bahaya, gangguan, dan pengaruh fisik belaka, melainkan juga merupakan tempat tinggal, tempat berisitirahat setelah menjalani perjuangan hidup sehari-hari. (Ridho, 2001 : 18)

 

3.    Secara garis besar, rumah memiliki fungsi (Doxiadis dalam Dian, 2009), yaitu:

a. Rumah harus memenuhi kebutuhan pokok jasmani manusia.

b. Rumah harus memenuhi kebutuhan pokok rohani manusia.

c. Rumah harus melindungi manusia dari penularan penyakit.

d. Rumah harus melindungi manusia dari gangguan luar.

e. Rumah menunjukan tempat tinggal.

f. Rumah merupakan mediasi antara manusia dan dunia.

 

 g. Rumah merupakan arsenal, yaitu tempat manusia mendapatkan kekuatan kembali.

 

 

Mengenal Tema dan Konsep Rumah Tinggal

Sebuah rumah tinggal layaknya mampu menampung aktivitas penghuni di dalamnya. Bukan hanya itu, sebuah rumah tinggal idealnya tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dan kenyamanan penghuni, namun juga bangunan rumah tersebut ´pas´ dengan selera dan karakter penghuni rumah tersebut. Hal ini tidak hanya mencakup fungsi dan ruangan di dalamnya, namun juga meliputi desain, bentuk dasar, atribut, hingga warna dan elemen lainnya yang serta merta mengisi rumah tersebut. Sebuah rumah yang menjadi naungan bagi pemiliknya, apabila sesuai dengan selera dan karakter penghuninya, akan terasa sangat nyaman ketika menghuni rumah tersebut.

 

Sebelum memasuki tahap merencanakan, apalagi membangun sebuah rumah, ada baiknya bagi pemilik rumah untuk terlebih dahulu mengetahui dan memiliki ´wish list´ untuk rumah yang nantinya akan dibangun. Daftar ini dapat menyangkut hal apa saja yang terkait dengan bangunan rumah yang diinginkan oleh penghuninya, mulai dari konsep gaya / tema bangunan seperti apa, bentuk dan warna bangunan, hingga susunan ruangan dan fungsi-fungsi ruangan yang ada dan suasana yang ingin dibentuk, untuk menunjang aktivitas penghuni nantinya. Tentunya penyusunan daftar ini perlu juga disesuaikan dengan keadaan lahan yang tersedia, karena perlakuan arsitek akan selalu berbeda terhadap posisi lahan bangunan yang berbeda-beda pula. Hal ini akan mempermudah arsitek untuk dapat mengerti kebutuhan penghuninya yang akan dituangkan dalam desain arsitektural bangunan.

 

Suasana ruang dalam rumah tropis kontemporer dengan sentuhan krapyak tradisional memberikan kesan lokal yang unik (www.archdaily.com)

 

Tema bangunan menjadi garis besar dalam membuat desain rumah. Hal ini sangatlah bervariasi, karena hal ini sangat berantung kepada kecocokan selera antara pemilik rumah dan juga bagaimana sang arsitek menginterpretasikannya dalam bentuk desain. Ada beberapa tema-tema bangunan yang umum dipakai pada hunian, yang juga saat ini menjadi populer. Salah satu contohnya adalah arsitektur tropis (arsitektur tropis tradisional maupun kontemporer), yang mengambil aspek-aspek desain dari prinsip-prinsip penerapan bangunan pada daerah tropis. Daerah tropis memiliki sifat-sifat tertentu yang berbeda dengan daerah lain yang memiliki 4 musim, di antaranya adalah kelembapan dan curah hujan yang relatif tinggi, sinar matahari yang cukup berlimpah sepanjang tahun, dan arsitektur tropis membentuk prinsip-prinsip utama yang memanfaatkan iklim tropis menjadi ide-ide untuk mencapai kenyamanan dalam rumah tinggal, seperti penggunaan kanopi dan kantilever pada sisi luar bangunan untuk mengurangi tampias air hujan, penggunaan sistem pengudaraan alami yang optimal untuk pertukaran udara, serta penggunaan atap miring agar air hujan tidak tertampung terlalu lama pada daerah atap rumah.

 

Rumah bergaya kontemporer dengan sentuhan atap tradisional karya TWS & Partners (www.archdaily.com)

 

Selain itu, saat ini masih banyak juga rumah yang dibuat dengan desain tampak, denah, dan interior secara sederhana dan mengambil unsur garis dan bentuk geometris dasar yang lebih dikenal dengan istilah ´minimalis´. Penggunaan material pada rumah ‘minimalis’ juga mengacu pada sesuatu yang bersih, rapi, dan seringkali bernuansa warna putih. Namun demikian, rumah dengan desain serupa banyak memberikan nilai-nilai estetis yang menjadi favorit banyak keluarga.

 

Rumah bergaya minimalis dengan permainan cahaya pada malam hari (www.airows.com)

 

Selain dua tema diatas, banyak juga tema-tema lainnya yang lebih subjektif dan mengarah pada suatu kesukaan bentuk tertentu, seperti klasik, art deco, dekonstruksi, dan sebagainya. Masing-masing tema dan gaya tersebut tentunya memiliki karakter yang berbeda-beda, yang juga terkait dengan produk arsitektur yang dihasilkan. Produk ini terkait secara menyeluruh, mulai dari bentuk dan susunan ruang, ruang dalam yang terbentuk, ruang luar bangunan, hingga nuansa atau atmosfir yang tercipta pada bangunan.

Rumah bergaya klasik yang memberikan sentuhan kemegahan dan kemewahan (jual-granit.blogspot.com)

 

Sebagai contoh, sebuah rumah bergaya tropis tradisional memiliki karakter-karakter yang kuat pada elemen-elemen penyusun dan pengisi bangunan, misalnya pada bentuk atap, kusen pintu dan jendela, hingga perabot yang akan dipakai dapat mendukung terciptanya nuansa tradisional yang sesungguhnya. Lain halnya dengan tropis kontemporer, yang lebih menguaung tema ´kekinian´, dan menggunakan elemen-elemen modern di dalam rumah. Misalnya saja, penggunaan lantai dek kayu pada teras ya tetap memunculkan kesan tropis dipadukan dengan elemen beton dan kaca yang memunculkan nuansa yang modern dan kuat. Contoh lainnya, adalah penggunaan elemen-elemen klasik pada rumah, dimana dapat memunculkan kesan kemewahan, kemegahan yang kuat pada sisi luar bangunan, dan nuansa yang lebih hangat dan mewah pada ruang dalamnya.

 

 

Suasana yang bersih, modern dan simple mencerminkan gaya modernitas pada rumah tinggal (www.archdaily.com)

 

Penentuan tema dan konsep oleh pemilik rumah tidaklah terlepas dari kehadiran arsitek, dimana arsitek memegang peran yang sangat penting dalam membantu pemilik rumah untuk mewujudkan rumah impiannya. Arsitek berperan dalam menemukan kesesuaian antara kebutuhan ruang yang dibutuhkan pemilik rumah dengan lahan yang tersedia, apakah seluruh kebutuhan pemilik rumah itu dapat dengan nyaman diisi ke dalam lahan rumah yang tersedia. Selain itu, arsitek juga memegang peranan penting dalam menjaga aspek-aspek penting dalam bangunan, yang meliputi besaran dan skala bangunan, nuansa ruangan yang tercipta di dalam bangunan, hingga yang terpenting adalah mempertahankan prinsip-prinsip dasar bangunan bagi kita yang tinggal di daerah tropis, antara lain prinsip-prinsip dasar pencahayaan dan pengudaraan alami. Dengan mempertahankan prinsip-prinsip dasar ini, arsitek juga turut membantu pemilik rumah untuk menciptakan desain rumah tinggal yang nyaman, sehat, dan memiliki karakter tema bangunan yang kuat dan sesuai. (Vincent Heryanto)

 

 

C.  Pendanaan  Bedah Rumah

Sumber dana pembangunan/renovasi rumah  bapak Bejo dalam rangka program bedah rumah oleh Wali kota Malang.

Sumber dana :

Sumbangan Wali Kota Malang                                                                  : Rp 12.000.000,-

Sumbangan dari Masyarakat ( material,konsumsi dan uang ) senilai      : Rp 28.500.000,-

Total Nilai uang pembangunan renovasi rumah                                        =Rp 40.500,000,-

( empat puluh juta lima ratus rupiah )

 

D.  Denah Rumah

 

 

 

E.  Pembangunan Rumah bapak Bejo

 

 

      

Pembongkaran rumah

 

 

Pembersihan lokasi rumah

 

     

Pasangan pondasi

 

 

Hasil akhir bedah rumah

 

F.  Kesimpulan.

Ada perubahan pada gambar denah rumah karena menyesuaiakn ukuran tanah dan besar biaya yang ada,semula 4 x 10 m²  menjadi 4 x 15 m².

 

Renovasi rumah bapak bejo melalui program bedah rumah sudah selesai dengan rincian : 1 ruang tamu , 2 kamar tidur , 1 kamar dapur dan 1 kamar mandi/WC ( semula tidak ada ) dengan lantai keramik serta cat dinding.

 

Rumah milik bapak Bejo menjadi rumah yang sehat dan layak huni dengan penerangan listrik dengan daya 450 Watt.

 

G.Referensi :

 

1.       http://dellyani.blogspot.com/2013/05/definisi-dan-fungsi-rumah-tinggal.html

2.       http://www.membangunbersama.com/post/step-by-step/pra-perencanaan/mengenal-tema-dan-konsep-rumah-tinggal/

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG