KERUSAKAN KAYU AKIBAT PROSES PENGERINGAN

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Friday, 27 March 2015 Published Date Written by Hartiyono

KERUSAKAN KAYU AKIBAT PROSES PENGERINGAN

Hartiyono (Widyaiswara Madya )

Departemen Bangunan PPPPTK BOE / VEDC Malang

 

Abstrak

     Perkembangan teknologi pengeringan kayu di Indonesia sangat pesat, mulai dari cara alami sampai penggunaan mesin pengering kayu modern. Tahapan proses pengeringan kayu secara umum, yaitu pemanasan awal pengeringan sampai titik jenuh serat, pengeringan sampai kadar air akhir, pengkondisian penyamaan atau pemerataan kadar air kayu (equalizing), dan pendinginan Ada beberapa cacat kayu dalam proses pengeringan, yaitu retak ujung dan permukaan; pengerasan kayu; retak dalam; perubahan bentuk; cacat kadar air tidak merata; dan perubahan warna kayu.

      Kata kunci : pengeringan, proses, cacat kayu.

 

1.        Pendahuluan

Perkembangan teknologi pengeringan kayu di Indonesia sangat pesat, mulai dari cara alami dengan memanfaatkan matahari sampai penggunaan mesin-mesin pengering kayu canggih dan modern.

Umumnya kesalahan utama yang sering terjadi adalah lemahnya perencanaan awal, yaitu perkiraan kapasitas produksi dan besarnya modal investasi yang terhitung dalam bentuk biaya pengoperasian mesin. Juga keterampilan operator sangat penting karena kesalahan pengendalian proses pengeringan berarti kerugian, seperti kayu pecah, melengkung, atau retak-retak. Lebih parah lagi bila terjadi kesalahan memilih mesin pengering, yang akan membawa kerugian investasi dan bahan kayu yang cacat.

 

2. Tujuan
Kayu sebagai bahan alam yang populer, mudah didapat, dan murah mampu ditingkatkan nilai ekonominya melalui pemberian perlakuan awal dengan proses pengeringan kayu yang baik, mudah, dan murah sehingga mudah dilakukan dan terjangkau bagi produsen maupun konsumen kayu.

3  . Manfaat
Kayu melalui proses pengeringan dapat menurunkan kadar air kayu sehingga terbentuk dimensi kayu yang stabil, mudah dalam pengerjaannya, dan menghindari cacat pada kayu sehingga nilai ekonomi dan nilai pakai kayu akan meningkat sehingga harga jual kayu akan semakin tinggi.

 

4. Dalam garis besar kerusakan yang timbul disebabkan oleh 3 hal :

4.1.        Akibat penyusutan kayu

4.2.        Serangan jamur pembusuk

4.3.        Bahan kimia di dalam kayu (zat ekstraktif)

 

4.1. Kerusakan Akibat Penyusutan Kayu

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

Terjadi pada saat kayu mengering. Umumnya pada pengeringan dengan kiln atau secara alami dapat timbul kerusakan akibat penyusutan ini, disebabkan kurang hati-hati dalam pelaksanaan. Di antara ketiga golongan kerusakan kayu, kerusakan oleh penyusutan adalah yang paling banyak terjadi. Hal ini perlu mendapat perhatian, agar kerusakan tersebut dapat dicegah dengan jalan menurunkan suhu atau menaikkan kelembaban udara. Kerusakanny biasanya bisa berupa retak pecah atau yang lainnya.

Cacat-cacat serupa yang diakibatkan penyusutan antara lain adalah :

·         Pecah ujung (end checks) dan pecah permukaan (surface checks)

·         Pecah dimulai pada bagian ujung kayu dan menjalar sepanjang papan

·         Retak di bagian dalam kayu (honeycombing)

·         Casehardening

·         Bentuk mangkok (cupping) : perubahan bentuk melengkung pada arah lebar kayu

·         Bentuk busur (bowing) : perubahan bentuk melengkung pada arah memanjang kayu

·         Menggelinjang (twist)

·         Perubahan bentuk penampang kayu (diamonding)

Cacat-cacat bentuk ini sukar dihindari, tetapi dapat dikurangi dengan cara penumpukan yang baik dan meletakkan beban pemberat pada bagian atas tumpukan serta tidak memberikan suhu yang terlalu tinggi selama proses pengeringan.

 

4.2. Kerusakan Akibat Serangan Jamur Pembusuk

 

 
 

 

 

 

 

 

 


Kerusakan ini terjadi pada permulaan pengeringan. Jamur itu sendiri sebenarnya telah melekat sebelum kayu tersebut dikeringkan dalam kiln. Yang banyak diserang umumnya adalah bagian kayu gubal. Karena jamur dapat tumbuh subur pada suhu yang rendah dan kelembaban yang tinggi, maka untuk mengendalikan kerusakan ini ialah dengan mempercepat pengeringan pada suhu lebih tinggi. Umumnya kerusakan ini hanya mengubah warna kayu, tidak menurunkan sifat mekanik kayu.

4.3. Kerusakan Akibat Bahan Kimia Di Dalam Kayu

 

                

 

5.  Kesimpulan

Teknologi pengeringan kayu yang cukup dikenal, yaitu Solar Kiln, Conventional Kiln, Vacuum Kiln dan Dehumidification Kiln. Proses pengeringan kayu secara umum melalui beberapa tahap, yaitu pemanasan awal (preheating); pengeringan sampai titik jenuh serat; pengeringan sampai kadar air akhir; pengkondisian (conditioning); penyamaan atau pemerataan kadar air kayu (equalizing); dan pendinginan (cooling down). Cacat pengeringan kayu dapat diakibatkan oleh faktor kondisi kayu sebelum diproses; mesin dan teknologi pengeringannya; atau kemampuan operator oven.

 

6. Referensi

Arganbright, D.G. 1989. Drying Process.In:Arno P. Schniewind, Robert W. Cahn dan Michael B. Bever (Eds.), Concise Encyclopedia of Wood & Wood-Based Materials,. Pergamon Press,Oxford, England. Budianto, A. Dodong. 1996. Sistem Pengeringan Kayu. Penerbit Kanisius, Semarang. Tsoumis, G. 1991. Science and Technology of Wood; Structure, Properties, Utilization. Van NostrandReinhold, New York. Wood Handbook. Wood as an Engineering. 1999. Forest Product Laboratory.

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG