MENGENAL KEBISINGAN DITEMPAT KERJA

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Wednesday, 29 April 2015 Published Date Written by BW

MENGENAL KEBISINGAN DI TEMPAT KERJA

Bambang Wijanarko

 

Abstraksi

 

Kebisingan adalah semua bunyi atau suara yang tidak dikehendaki yang dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan Kerja. Kebisingan yang ditimbulkan oleh daerah industri dapat dibedakan menjadi tiga seperti yang dijelaskan oleh McDonalds sebagai berikut: bising yang berfrekuensi tinggi (wide band noise), bising yang berfrekuensi rendah (narrow band noise) dan bising yang tiba-tiba dan keras (impulse noise).Kebisingan dapat menyebabkan kehilangan pendengaran, mengganggu pidato dan pendengaran, menyebabkan kejengkelan, dan merusak pekerjaan pada sejumlah batas. Kehilangan pendengaran, juga dikenal sebagai permulaan yang berubah, mungkin bersifat sementara atau bersifat tetap, tergantung pada lamanya dan kesederhanaan yang didapat.Frekuensi bunyi yang bisa diterima oleh telinga manusia terbatas mulai frekuensi 16– 20.000 Hertz, frekuensi adalah bilangan dari variasi tekanan suara per sekon. Frekuensi biasanya dinyatakan dalam satuan Hertz (Hz) atau dalam putaran per sekon (pps). Telinga manusia yang tidak dilindungi sangat berbahaya jika terpapar suara dengan intensitas lebih dari 115 dBA, Jika masih dibawah 80 dBA pendengar masih berada pada tahap aman. Jika terpapar kebisingan diatas 80 dBA telalu lama harus dilindungi dengan Alat Pelindung Diri (APD).Fungsi alat pelindung telinga adalah menurunkan tingkat kebisingan yang mencapai alat pendengar, serta pemeriksaan kesehatan diperlukan untuk mencegah terhadap bahaya bising.

 

Kata kunci: kebisingan, tempat kerja

 

A.  PENDAHULUAN

       Peningkatan industrialisasi tidak terlepas dari peningkatan teknologi modern. Disaat kita memerima peningkatan dan perubahan dari pada teknologi, maka kita pun akan juga harus menerima efek samping dari teknologi tersebut. Seiring dengan adanya mekanisasi dalam dunia industri yang menggunakan teknologi tinggi, diharapkan industry dapat berproduksi secara maksimal sehingga dapat meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi yang akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pemilihan teknologi dalam bidang produksi dimaksudkan untuk menggantikan posisi manusia dari aktor utama kegiatan  produksi menjadi pengendali kegiatan produksi. Ini terjadi karena keterbatasan yang dimiliki manusia sebagai tenaga kerja misalnya kecepatan, tenaga, dan lain-lain. Namun perubahan posisi ini tidak bisa mengabaikan manusia begitu saja, karena manusia adalah human centered dalam kegiatan produksi.

      Namun banyak perusahaan/industri lebih berorientasi pada kegiatan produksi dibandingkan mengelola sumber daya manusia. Antara lain pemakaian mesin otomatis menimbulkan suara yang cukup besar, memberikan dampak gangguan komunikasi, konsentrasi dan kepuasan kerja bahkan sampai pada cacat. Atas dasar tersebut dibuat kebijakan tentang kebisingan dilingkungan kerja dengan maksud memberi pedoman dan bagi pengusaha, tenaga kerja tentang bahaya kebisingan ditempat kerja.

      Kebisingan adalah salah satu faktor fisik berupa bunyi yang dapat menimbulkan akibat buruk bagi kesehatan dan keselamatan kerja. Sedangkan dalam keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia ‘’ Bising adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran ‘’. Dari kedua defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa kebisingan adalah semua bunyi atau suara yang tidak dikehendaki yang dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan.

B. PENGERTIAN KEBISINGAN

Untuk memahami permasalahan kebisingan, kita perlu mengetahui  arti dari beberapa istilah tentang pengertian kebisingan itu sendiri.

1)   Bunyi

Bunyi adalah rangsangan yang diterima olehtelinga karena getaran media elastis. Sifat bunyi ini ditentukan oleh frekuensi dan intensitasnya. Frekuensi bunyi adalah jumlah gelombang bunyi yang lengkap yang diterima oleh telinga setiap detik. Frekuensi bunyi yang bisa diterima oleh telinga manusia terbatas mulai frekuensi 16 – 20.000 Hertz. Bunyi dengan frekuensi kurang dari 16 Hz disebut infrasonic dan di atas 20.000 Hz disebut ultrasonic. Frekuensi bunyi yang terutama penting untuk komunikasi (pembicaraan) yaitu sekitar 250 Hz – 3.000 Hz. Intensitas bunyi adalah besarnya tekanan yang dipindahkan oleh bunyi. Tekanan ini biasa diukur dengan microbar. Untuk mempermudah pengukuran digunakan satuan decibel. Satuan oksibel diukur dari 0 – 140, atau bunyi terlemah manusia bisa mendengar hingga tingkat bunyi yang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada telinga manusia. Kata desibel biasa disingkat dB dan mempunyai 3 skala yaitu A, B dan C dimana skala yang terdekat dengan pendengaran manusia adalah skala A atau dBA.    

2) Desibel ( dB )

     Desibel adalah satuan untuk mengukur tekanan suara, dan intensitas suara. Desibel hampir sama dengan derajat kecil dari perbedaan kekerasan yang biasa di deteksi oleh telinga manusia. Pada skala desibel, 1 mewakili suara lemah yang terdengar 120 dB umumnya dianggap permulaan dari kesakitan.Skala desibel adalah skala logaritmik, maka dari itunilai ini tidak dapat ditambah atau dikurangi perhitungannya. Dalam penggabungan lebih dari tingkat decibel, dua tingkat yang paling tinggi harus digabungkan dulu.

     Penting untuk kita sadari bahwa suara-suara dari tekanan suara yang sama mungkin bukan suara dengan kekerasan yang sama. Pada tekanan mendekati 100 desibel, frekuensi antara 20 dan 1000 putaran per sekon suara dengan kekerasan yang sama. Pada tingkat tekanan suara yang paling rendah, frekuensi suara terendah tidak kelihatan sama kerasnya dengan 1000 putaran per sekon nada.

3) Frekuensi (Hz)

     Frekuensi adalah bilangan dari variasi tekanan suara per sekon. Frekuensi biasanya dinyatakan dalam satuan Hertz (Hz) atau dalam putaran per sekon (pps). Telinga anak muda yang sehat dapat mendeteksi suara dalam 20 sampai 20.000 putaran per sekon jarak. Ketika proses penuaan terjadi, beberapa kerusakan pendengaran berlangsung. Frekuensi yang berisikan pidato ditemukan antara 250 dan 3.000 putaran per detik.

4) Jenis Kebisingan

- Bising secara terus menerus adalah bising yang mempunyai perbedaan tingkat intensitas

  bunyi diantara maksimum dan minimum yang kurang dari 3 dBA.

- Bising fluktuasi ialah bunyi bising yang mempunyai perbedaan tingkat di antara intensitas

   yang tinggi dengan yang rendah lebih dari 3 dBA.

- Bising impuls ialah bunyi bising yang mempunyai intensitas yang sangat tinggi dalam waktu

   yang singkat seperti tembakan senjata api.

- Bising bersela adalah bunyiterjadi dalam jangka waktu tertentu dan berulang. Contoh: bising

   ketika memotong besi akan berhenti apabila gergaji itu dihentikan.

5) Ciri-ciri Suara

    Suara adalah perubahan tekanan yang dapat dideteksi oleh telinga. Pada umumnya, suara adalah perubahan tekanan di udara. Namunsuara dapat juga merupakan perubahan tekanan pada air atau tekanan pada benda yang sensitif. Bising adalah suara yang tidak diinginkan atau tidak dikehendaki.Satuan pengukuran yang digunakan untuk mengukur tingkatan yang masih dapat dinyatakan sebagai suara atau telah dikategorikan sebagai kebisingan yang berbahaya kita gunakan satuan decibel atau satu persepuluh bel.Tabel1 menyatakan tingkatan decibel untuk berbagai suara yang sering digunakan. Kebisingan yang ditimbulkan oleh daerah industri dapat dibedakan menjadi tiga seperti yang dijelaskan oleh McDonalds sebagai berikut: bising yang berfrekuensi tinggi (wide band noise), bising yang berfrekuensi rendah (narrow band noise) dan bising yang tiba-tiba dan keras (impulse noise).

    

 Sumber

Decibel(dBA)

Berbisik

20

Kantor yang tenang

50

Percakapan normal

60

Kantor yang bising

80

Gergaji

90

Mesin gerindra

100

Truk yang lewat

100

Pesawat jet

150

    Tabel1.Tingkatan Suara yang Digunakan

 

C.EFEK KEBISINGAN

1) Bahaya kebisingan

    Kebisingan dapat menyebabkan kehilangan pendengaran, mengganggu pidato dan pendengaran, menyebabkan kejengkelan, dan merusak pekerjaan pada sejumlah batas. Kehilangan pendengaran, juga dikenal sebagai permulaan yang berubah, mungkin bersifat sementara atau bersifat tetap, tergantung pada lamanya dan kesederhanaan yang didapat. Kebisingan yang tidak terlalu kuat untuk menyebabkan kerusakan pendengaran mungkin masih mengganggu pudato dan yang lain yang masih menginginkan suara. Ketika komunikasi penting dibanyak tempat pekerjaan, tingkat penerimaan berubah dengan alam dari kesulitan bekerja. Untuk bisa berkomunikasi dengan berteriak, sebagai contoh, mungkin puas ketika melakukan pekerjaan merawat pada mesin. Pada sisi lain, meningkatkan suara sedikit untuk mengatasi ciri khas kebisingan kantor yang sama sekali tidak diinginkan dalam ruang konferensi.

      Mungkin reaksi kebisingan yang tersebar luas adalah kejengkelan. Beberapa karakter kebisingan kelihatan lebih menjengkelkan daripada yang lain. Demikian, suara kuat lebih menjengkelkan daripada yang kurang keras. Dengan cara yang sama, nada yang tinggi mengandung lebih banyak frekuensi diatas 1500 lingkaran per sekonlebih menjengkelkan daripada nada rendah dari kekerasan yang sama. Suara yang terjadi secara acak, berubah kuatnya atau nadanya, ataupun berulang-ulang, kelihatannya untuk mengganti lokasi mereka lebih menjengkelkan daripada mereka yang terus berlanjut, tidak berubah atau setara.

     Efek dari kebisingan yang berlebihan kepada efisiensi dan hasil bekerja relative kecil. Pekerjaan yang dikerjakan serta cara kerja berulang sederhana tidak dapat muncul pengaruhnya oleh kebisingan, sedangkan hilangnya dalam efisiensi pada banyak himpunan pekerjaan cenderung menghilang dengan datangnya waktu. Hubungan antara bising yang berlebihan dan faktor seperti perbandingan kecelakaan, pembolosan, dan penggantian pegawai belum ditetapkan dengan jelas.

2)  Faktor-faktor yang berpengaruh

Faktor-faktor yang mempemgaruhi resiko kehilangan pendengaran berhubungan dengan terpaparnya kebisingan. Bagian yang paling terpenting adalah :

    Dikarenakan faktor yang bervariasi ini, yang paling berbahaya adalah tingkat suara, frekuensi, lama terpapar, dan penyebarannya. Telinga manusia yang tidak dilindungi sangat berbahaya jika terpapar suara dengan intensitas lebih dari 115 dBA. Jika masih dibawah 80 dBA pendengar masih berada pada tahap aman. Jika terpapar kebisingan diatas 80 dBA telalu lama harus dilindungi dengan alat pelindung diri (APD).

    Untuk mengurangi resiko kehilangan pendengaran, terpapar kebisingan harus dibatasi selama maksimal delapan jam dengan kebisingan sekitar 90 dBA. McDonalds menyatakan peraturan umum yang perlu kita ketahui jika kita berada pada tempat kerja yang bising :

D. IDENTIFIKASI DAN EVALUASI KEBISINGAN

    Identifikasi dan evaluasi kondisi kebisingan yang berbahaya pada tempat kerja berkaitan dengan mengadakan peninjauan kebisingan secara berkala dan followup atau tindak lanjut. Disemua tempat kerja harus dilakukan pengukuran kebisingan, untuk kemudian diadakan penilaian apakah ruang kerja tersebut memenuhi persyaratan atau harus diambil tindakan-tindakan pencegahan terhadap bahaya kebisingan.

a)  Pengaruh Kebisingan

Dalam beberapa industri terdapat berbagai intensitas kebisingan, misalnya pada:

Mengadakan peninjauan berkaitan dengan pengukuran tingkat kebisingan di berbagai tempat yang berada ditempat kerja. Alat yang biasanya digunakan untuk mengukur tingkat kebisingan adalah sound level meter dan dosimeter. Sebuah sound level meter menghasilkan pembacaan langsung yang menyatakan tingkat kebisingan yang spesifik dalam waktu yang singkat. Dosimeter memberikan rata-rata watu pemaparan. Dosimeter alat yang paling sering digunakan karena dapat mengukur jumlah pemaparan, dan telah memenuhi standar yangditetapkan oleh badan OSHA (Occupation Safety and Health Administration) dan ANSI (American National Standards Institute). Menggunakan dosimeter diberbagai daerah kerja dan memberikan dosimeter pada satu atau lebih pekerja adalah anjuran ke depan untuk menjamin keakuratan pembacaan.

b)  Alat Pengukur Kebisingan

Ada 2(dua) cara untuk mengukur tingkat kebisingan ditempat kerja, yaitu :

1. Instrumen Pembaca Langsung

    Instrumen Pembaca Langsung disebut juga ‘’sound level meter’’yang beraksi terhadap suara atau bunyi, mendekati kepekaan telinga manusia. Alatdipakai untuk mengukur tingkat kebisingan pada saat tertentu. Biasanya alat ini digunakan untuk mengidentifikasi tempatyang tingkat kebisingannya lebih tinggi dari aturan batas maksimum yakni 85 dBA. Alat ini terdiri dari microphone, alat penunjuk elektronik, amplifier, 3 skala pengukuran A, B, C.

Ada 2(dua) jenis sound level meter yang sering digunakan yaitu :

 E. PENGENDALIAN BAHAYA KEBISINGAN

Dalam hal pengendalian suara yang menjadi bagian utamanya adalah sumber, penghubung dan penerima. Secara skematik adalah sebagai berikut :

 

                                                        

                Gambar 1. Skematik sumber, penghubung dan penerima

Sumber (source) adalah tempat dimana suara tersebut dihasilkan dan penghubung (path) adalah jalur suara di udara sehingga suara dapat sampai ke penerima (receiver) atau telinga. Situasi yang lebih kompleks jelas memiliki sumber , penghubung dan penerima yang bermacam-macam pula.

     Kebisingan dapat dikurangi dengan pengendalian yang dilakukan oleh pihak ahli teknik atau pihak manajemen mempergunakan salah satu atau kedua-duanya. Pengendalian kebisingan yang paling penting adalah bagaimana mengurangi kebisingan yang ditimbulkan oleh sumber.

(1) Pengendalian Suara Pada Sumber

Memodifikasi sumber suara adalah solusi yang paling tepat. Kebisingan berasal dari sumber dan jika suara yang dihasilkan bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan maka tidak ada yangdikhawatirkan lagi dalam hal pengontrolan di penghubung dan penerima.

Pengontrolan suara dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain :

Apabila tingkat kebisingan sudah di atas 85 Dba untuk shift 8 jam, 40 jam perminggu maka koreksi dapat dilakukan dengan cara melakukan penanaman pohon-pohon dan pengaturan tata letak ruang harus sedemikian rupa agar tidak menimbulkan kebisingan. Menempatkan sumber bunyi sedemikian rupa sehingga terpisah dengan ruang sehingga tenaga kerja berada, bekerja dengan menggunakan pemisah terbuat dari bahan/kontruksi yang dapat yang dapat mengurangi penjalaran suara baik berupa tabir atau ruangan tertutup.

 (2) Pengendalian Suara Pada penghubung

Dalam berbagai situasi dan kondisi jika peralatan sudah ada maka tidak mungkin lagi untuk memodifikasi mesin yang merupakan sumber suara. Dalam hal ini yang mungkin dilakukan adalah mengubah jalur penerus gelombang suara (acoustic transmission path) yang ada antara sumber suara dan penerima atau pendengar.

Cara tersebut diantaranya adalah :

     Pengontrolan suara pada penghubung membutuhkan modifikasi antara sumber dan penerima. Secara tidak langsung dapat digunakan bahan yang bersifat menyerap dipermukaan materi untuk menyerap energy suara tersebut. Bahan-bahan tersebut diantaranya adalah karet, bahan dari logam, gabus dan udara.Dinding penghalang terletak antara sumber suara dan penerima yang berfungsi untuk mereduksi suara langsung yang diterima oleh pendengar.

(3) Pengendalian Suara pada penerima

     Penerima suara adalah telinga manusia dan sangat disayangkan tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengontrol suara yang diterima. Jika semua usaha yang dilakukan untuk mengurangi intensitas suara tidak berhasil ditempat yang harus ada manusia maka hanya tinggal beberapa cara saja. Tetapi jika tingkat suara tersebut sangat tinggi dan tidak bisa dikurangi maka satu-satunya cara adalah tidak meletakkan manusia di area tersebut dan menggunakan remote control untuk mengoperasikan mesin yang ada.

    Ketika alat pelindung telinga harus dipakai, maka harus ada sosialisasi dan pendidikan kepada pekerja agar pekerja memahami bahaya apa yang ditimbulkan dan cara pemakaian yang benar. Pencegahan terhadap bahaya kebisingan pada prinsipnya adalah mengurangi tingkat dan / atau lamanya pemaparan terhadap kebisingan.

Usaha yang dapat ditempuh adalah :

(4) Pengurangan Waktu Pemaparan

Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405 / MENKES / SK / XI / 2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri maka lamanya pemaparan yang diizinkan yaitu sebagaimana terdapat pada tabel berikut ini.

 

Waktu Pemaparan per Hari

IntensitasKebisingan

dB (A)

4

2

1

 

Jam

88

91

94

30

15

7,5

3,75

1,88

0,94

 

 

 

Menit

97

100

103

106

109

112

28,12

14,06

7,03

3,52

1,76

0,88

0,44

0,22

0,11

 

 

 

Detik

115

118

121

124

127

130

133

136

139

 

                     Tabel 2. Waktu Paparan dan Intensitas Kebisingan

Beberapa aturan yang harus dipenuhi adalah :

F. PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG TELINGA

Fungsi alat pelindung telinga adalah menurunkan tingkat kebisingan yang mencapai alat pendengar. Terdapat dua alat pelindung telinga yang dipergunakan yaitu:

1.  Sumbat Telinga (Ear plug)

Sumbat telinga yang paling sederhana terbuat dari kapas yang dicelup dalam lilin sampai dengan bahan sintetis sedemikian rupa sehingga sesuai dengan liang telinga pemakai. Sumbat telinga ini dapat menurunkan intensitas kebisingan sebesar 25 dB sampai 30 dB. Dan sebagai peringatan kapas kerja tidak bisa digunakan sebagai sumbat telinga karena tidak efektif.

Alat ini dimasukkan ke dalam lubang telinga dengan maksud untuk mengurangi suara dari udara sebelumsampai pada gendang telinga. Alat ini mungkin terbuat dari karet, plastik, neoprene, atau kapasyang dilapisi dengan lilin. Bahan dan bentuk memiliki keefektifan yang sedikit dari penyumbat yang tersedia. Berlawanan terhadap pendapat yang popular, kapas yang kering memberikan perlindungan yang lebih sedikit.

2.  Penutup Telinga (Ear muff)  

Penutup telinga lebih baik daripada penyumbat telinga, karena selain menghalangi hambatan suara melalui udara, juga menghambat hantaran melalui tulang tengkorak. Penutup telingadapat menurunkan intensitas kebisingan sebesar 30 dB sampai 40 dB.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh penutup telinga adalah :

                                                           

 Gambar 2. Alat Pelindung Telinga

G. PENYAKIT AKIBAT KEBISINGAN

(1) Presbycucis

Kehilangan pendengaran karena proses menuanya seseorang disebut presbycucis. Penyakit ini terjadi karena meningkatnya frekuensi minimal yang dapat didengar.

(2) Tinnitus

Tinnitus dapat dikatakan sebagai peringatan ringan terhadap kerusakan pendengaran. Tinnitus  adalah bunyi dalam telinga tanpa rangsangan diluar. Bunyi-bunyi telah digambarkan sebagai bunyi berdering, mendenging, berdengung, berdesis, suara ‘’seasheel’’, ‘’cricket sound’’, ‘’motor sound’’ ataupun seperti suara gemuruh.Tinnitus  jelas dirasakan jika berada diruangan yang sunyi senyap atau malam pada waktu tidur.

(3) Kerusakan Pendengaran Sementara

Kehilangan pendengaran mungkin saja bukan akibat dari tuanya usia tetapi juga akibat kebisingan yang sangat keras. Kerusakan yang terjadi akibat dari kebisingan yang sangat keras pertama kali di batas frekuensi 4000 Hz – 6000 Hz dan ini adalah batas paling sensitif untuk telinga manusia. Kerusakan pendengaran sementara ini disebut ‘’Temporary Threshold Shift (TTS)’’ atau kelelahan pendengaran. 

(4) Kerusakan Pendengaran Total

Secara berulang sebelum pemulihan kerusakan pendengaran sementara selesai maka akibatnya adalah kerusakan pendengaran total. Kerusakan pendengaran total ini disebut ‘’Permanen Threshold Shift (PTS)’’.

H. PROGRAM PENDIDIKAN KESELAMATAN

Para pekerja sering tidak mengerti mengapa mereka penting untuk memakai pelindung telinga. Karena ituprogram pendidikan diperlukan untuk meyakinkan mereka dari pentingnya perlindungan telinga. Pekerja tidak boleh kerja ditempat yang bising apabila yang bersangkutan mempunyai penyakit-penyakit telinga tengah yang kronis, epilepsy dan kelainan lainnya.Pemeriksaan kesehatan diperlukan untuk mencegah terhadap bahaya bising adalah :

-   Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja (pre employment) meliputi: Riwayat penyakit, Pemeriksaan klinis secara umum, Pemeriksaan klinis terhadap telinga.

-  Test audiometer yang sederhana (screening I simplified audiometric test) meliputi: (1) Pemeriksaan berkala: Riwayat penyakit secara pendek, Pemeriksaan klinis terhadap telinga, Tes audiometer yang sederhana (2) Pemeriksaan khusus: Riwayat penyakit, Pemeriksaan klinis secara umum, Pemeriksaan klinis yang menyeluruh terhadap telinga, hidung dan tenggorokan, Tes audiometer yang kompleks.

Tenaga kerja dapat menentukan tingkat suara, termasuk bising melalui cara yaitu:

KESIMPULAN

-    Kebisingan adalah semua bunyi atau suara yang tidak dikehendaki yang dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan Kerja.

-     Kebisingan yang ditimbulkan oleh daerah industri dapat dibedakan menjadi tiga seperti yang dijelaskan oleh McDonalds sebagai berikut: bising yang berfrekuensi tinggi (wide band noise), bising yang berfrekuensi rendah (narrow band noise) dan bising yang tiba-tiba dan keras (impulse noise).

-  Kebisingan dapat menyebabkan kehilangan pendengaran, mengganggu pidato dan pendengaran, menyebabkan kejengkelan, dan merusak pekerjaan pada sejumlah batas. Kehilangan pendengaran, juga dikenal sebagai permulaan yang berubah, mungkin bersifat sementara atau bersifat tetap, tergantung pada lamanya dan kesederhanaan yang didapat.

-    Frekuensi bunyi yang bisa diterima oleh telinga manusia terbatas mulai frekuensi 16 – 20.000 Hertz, frekuensi adalah bilangan dari variasi tekanan suara per sekon. Frekuensi biasanya dinyatakan dalam satuan Hertz (Hz) atau dalam putaran per sekon (pps). Telinga manusia yang tidak dilindungi sangat berbahaya jika terpapar suara dengan intensitas lebih dari 115 dBA, Jika masih dibawah 80 dBA pendengar masih berada pada tahap aman. Jika terpapar kebisingan diatas 80 dBA telalu lama harus dilindungi dengan alat pelindung diri (APD).

-  Fungsi alat pelindung telinga adalah menurunkan tingkat kebisingan mencapai alat pendengar, serta pemeriksaan kesehatan diperlukan untuk mencegah bahaya bising.

 

Referensi:

https://www.google.com ?gws_rd=ssl#q=alat%20pelindung%20telinga

-     Anizar. 2009. Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Industri. Graha Ilmu: Yogyakarta.

-     Andrianto, Petrus. 1986. Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC

-     https://darwis97.wordpress.com/2013/12/17/mengenal-kebisingan-noise/

-http://www.bppp-tegal.com/web/index.php/artikel/100-artikel/artikel-manajemen/138-mengenal-lingkungan-kerja

-     Chandra YA.dkk. 2002. Kesehatan dan Keseamatan Kerja. Universitas Indonesia, Jakarta.

-isnuekos.blogspot.com/2012/09/alat-pelindung-telinga-dan-pernafasan.html

-http://www.academia.edu/6907565/Tujuan_menggunakan_Alat_Pelindung_Diri_Pemakaian.

-http://www.hsecoal.com/2014/08/mengenal-apd-beserta-fungsinya.html

-http://www.bppp-tegal.com/web/index.php/artikel/100-artikel/artikel-manajemen/138-mengenal-lingkungan-kerja