EVALUASI KEPUASAN PESERTA DIKLAT TERHADAP KOMPETENSI WIDYAISWARA PROGRAM STUDI PLAMBING DAN SANITASI DEPARTEMEN BANGUNAN P4TK BIDANG OTOMOTIF DAN ELEKTRONIKA MALANG

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Monday, 20 April 2015 Published Date Written by supono

EVALUASI KEPUASAN PESERTA DIKLAT TERHADAP KOMPETENSI WIDYAISWARA PROGRAM STUDI PLAMBING DAN SANITASI DEPARTEMEN BANGUNAN P4TK BIDANG OTOMOTIF DAN ELEKTRONIKA MALANG

 

Supono

Widyaiswara Madya, Departemen Bangunan PPPPTK BOE Malang

 

Abstrak. Sebagai aparatur negara, Widyaiswara harus memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan tuntutan tugas mereka. Menurut Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 5 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Widyaiswara menyebutkan bahwa standar kompetensi Widyaiswara terdiri dari: (1) Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran, (2) Kompetensi Kepribadian, (3) Kompetensi Sosial, dan (4) Kompetensi Substantif.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kepuasan dan tingkat kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara yang terdiri dari Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran, Kompetensi Kepribadian, dan Kompetensi Substantif.

Penelitian ini dilakukan pada peserta diklat sebanyak 34 orang yang sedang mengikuti diklat di Program Studi Plambing dan Sanitasi Departemen Bangunan PPPPTK BOE Malang pada bulan Mei 2012 sampai dengan bulan September 2012. Data kepuasan dan kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara yang terdiri dari Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran, Kompetensi Kepribadian dan Kompetensi Substantif diambil menggunakan kuesioner. Jawaban kuesioner dari responden dianalisis dengan rerata responden, dan Importance Performance Analysis (IPA).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata tingkat kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara sebesar 4,38 dan nilai ini termasuk kategori puas, sedangkan tingkat kepentingan peserta diklat sebesar 4,68 dan nilai ini termasuk kategori sangat penting. Hasil Importance Performance Analysis (IPA) menunjukkan bahwa variabel Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran berada pada kuadran I, artinya bahwa variabel tersebut tidak memuaskan peserta padahal peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Variabel Kompetensi Kepribadian berada pada kuadran II, artinya variabel tersebut telah memuaskan peserta dan peserta juga menganggap keberadaannya sangat penting. Sedangkan variabel Kompetensi Substantif berada pada kuadran III, artinya variabel tersebut tidak memuaskan peserta tetapi peserta menganggap keberadaannya tidak penting

 

Kata Kunci: Kepuasan Peserta Diklat, Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran, Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Substantif

 

 

Menurut Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara nomor 14 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya disebutkan bahwa Widyaiswara adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk mendidik, mengajar dan/atau melatih PNS pada Lembaga Diklat Pemerintah. Dari peraturan tersebut sangat jelas terlihat peran dan fungsi dari seorang Widyaiswara yaitu Widyaiswara merupakan ujung tombak dalam pembinaan dan pengembangan aparatur negara.

Ada tuntutan yang logis dari besarnya tugas Widyaiswara untuk bisa menjalankan kewajiban-kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya. Widyaiswara harus mempunyai kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan bidang spesialisasinya. Kompetensi ini harus ada pada seorang Widyaiswara agar kegiatan diklat bisa berjalan lancar dan menghasilkan keluaran (output) diklat yang bermutu. Tuntutan mutu ini sudah menjadi keharusan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi, karena lingkungan lokal, nasional, regional, dan bahkan global menuntut hal yang demikian.

Jaminan mutu yang diberikan oleh Widyaiswara harus dijaga secara terus menerus keberlangsungannya untuk memenuhi ketercapaian tujuan diklat. Seorang Widyaiswara akan bisa memberikan pelayanan yang bermutu apabila kompetensi yang dimilikinya mumpuni. Widyaiswara dapat dianggap kompeten jika pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang dimilikinya dapat diwujudkan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Dengan demikian, kompetensi yang dimiliki oleh setiap Widyaiswara akan menunjukkan kualitas Widyaiswara yang sebenarnya. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan maupun sikap profesional dalam menjalankan fungsi sebagai Widyaiswara.

Widyaiswara harus memilki standar kompetensi agar dapat bisa memerankan fungsinya dengan baik. Standar adalah kesepakatan-kesepakatan yang telah didokumentasikan yang di dalamnya terdiri antara lain mengenai spesifikasi-spesifikasi teknis atau kriteria-kriteria yang akurat yang digunakan sebagai peraturan, petunjuk, atau definisi-definisi tertentu untuk menjamin suatu barang, produk, proses, atau jasa sesuai dengan yang telah dinyatakan. Saat ini, jabatan fungsional Widyaiswara sudah mempunyai standar kompetensi tersendiri dan dibuat dalam bentuk aturan yaitu Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Standar Kompetensi Widyaiswara. Pada pasal 1 disebutkan bahwa standar kompetensi Widyaiswara adalah kemampuan minimal yang secara umum dimiliki oleh seorang Widyaiswara dalam melaksanakan tugas, tanggungjawab dan wewenangnya untuk mendidik, mengajar, dan/atau melatih PNS. Sedangkan pasal 5 menyebutkan bahwa standar kompetensi Widyaiswara terdiri atas: (1) kompetensi pengelolaan pembelajaran; (2) kompetensi kepribadian; (3) kompetensi sosial; dan (4) kompetensi substantif.

Untuk mencapai kompetensi yang standar, Widyaiswara harus melakukan uji kompetensi untuk menguji kompetensinya. Sudah ada peraturan yang mengatur tentang hal itu, tetapi sampai saat ini masih belum dilaksanakan, yaitu peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor: 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Sertifikasi Widyaiswara. Namun demikian peraturan tersebut segera akan diberlakukan. Setiap Widyaiswara mulai sekarang dituntut untuk bersiap dalam rangka menyongsong pemberlakuan peraturan tersebut. Kesadaran tentang standar kompetensi sebenanya adalah juga kesadaran tentang mutu. Sehingga apabila Widyaiswara bisa lulus pada uji kompetensi, seharusnya Widyaswara tersebut juga bermutu dan pada akhirnya membawa dampak pada kualitas keluaran (output) diklat.

Kondisi ideal dari seorang Widyaiswara yang disebutkan di atas, pada kenyataannya tidak selalu sama seperti yang diharapkan. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kompetensi Widyaiswara belum sepenuhnya baik. Temuan penelitian yang dilakukan oleh Waspodo (1999) pada diklat SPAMA di Pusdiklat Pegawai Depdikbud, Sawangan, Jawa Barat menyebutkan bahwa Widyaiswara kurang memiliki kompetensi kependidikan, pelaksanaan pembelajaran menjadi kurang bermutu sehingga mengakibatkan pembelajaran diklat menjadi monoton dan kurang menarik. Senada dengan hasil penelitian ini, Harun (2000) meneliti diklat SDM PT POS Indonesia (Persero) yang diselenggarakan di Pusdiklatpos Bandung,  salah satu temuannya mengatakan bahwa  kompetensi Widyaiswara masih rendah dalam pelaksanaan PBM. Penelitian yang dilakukan oleh Pranoto (2003) juga menyebutkan bahwa kompetensi Widyaiswara di bidang kependidikan (mendidik, mengajar, mengembangkan kurikulum, training need assessment, membimbing peserta dan Widyaiswara yang muda, memilih dan menggunakan metoda & media, manajemen kelas, menggembangkan bahan ajar, menulis modul, mengevaluasi program, proses, hasil dan dampak pembelajaran) masih kurang mengembirakan.

Diklat dapat dikategorikan sebagai layanan jasa. Karena peserta diklat mendapatkan manfaat dari produk yang tidak terlihat. Seperti yang dikemukakan oleh Kotler (1997) dalam Nasution (2001) bahwa jasa (service) adalah aktivitas atau manfaat yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apapun. Produksinya mungkin terikat atau tidak pada produk fisik. Proses belajar mengajar merupakan aktivitas yang berusaha untuk mentransfer ilmu, sikap, dan keterampilan kepada peserta diklat.

Di dalam proses belajar mengajar terdapat interaksi yang aktif antara peserta diklat dengan Widyaiswara. Komunikasi dilakukan dengan model dua arah. Hal ini dimaksudkan agar transfer ilmu, sikap, dan keterampilan dapat lebih optimal. Bila materi yang diajarkan adalah keterampilan, model komunikasi dua arah ini akan lebih intensif lagi.

Setelah proses belajar mengajar dilakukan, maka peserta diklat akan merasakan transfer ilmu, sikap, dan keterampilan dari Widyaiswara. Kondisi ideal seharusnya bahwa peserta diklat mendapatkan ilmu, sikap, dan keterampilan seperti yang telah ditentukan sebelum pelajaran dimulai. Selain itu peserta diklat juga akan mempunyai pengalaman belajar yang menyenangkan selama mengikuti diklat. Perasaan dan persepsi peserta diklat terhadap Widyaiswara selama mengikuti diklat, semuanya terangkum dalam rasa kepuasan peserta diklat. Secara mutlak, ada dua kemungkinan yang dirasakan peserta diklat yaitu rasa puas dan tidak puas.

Bila ditelaah lebih jauh, kepuasan peserta diklat terhadap Widyaiswara, sebenarnya cerminan dari tingkat kompetensi yang dimiliki oleh Widyaiswara itu sendiri. Kompetensi yang dimiliki oleh Widyaiswara akan menunjukkan kualitas yang dimilikinya. Semakin kompeten seorang Widyaiswara, maka mestinya dia juga akan semakin berkualitas dan pada gilirannya akan membuat peserta diklat merasa puas. Seperti pendapat yang dikemukakan oleh Feigenbaum (1986) dalam Nasution (2001) bahwa kualitas adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full custumer satisfaction). Suatu produk dikatakan berkualitas apabila dapat memberi kepuasan sepenuhnya kepada konsumen, yaitu sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen atas suatu produk. Dalam hal ini yang dimaksud produk adalah layanan dari Widyaiswara yang merupakan cerminan dari kompetensinya, sedangkan konsumen adalah peserta diklat yang merasakan kinerja dari Widyaiswara berdasarkan kompetensi standar yang telah dimilikinya.

Dalam penelitian ini yang akan diteliti dan menjadi variabel adalah kompetensi pengelolaan pembelajaran, kompetensi kepribadian dan kompetensi substantif. Hal ini disebabkan karena penelitian ini mengambil sudut pandang dari peserta diklat yaitu apa yang dirasakan peserta diklat atau persepsi peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara. Sedangkan kompetensi sosial tidak diteliti karena kompetensi tersebut pengambilan datanya dari sudut pandang rekan sejawat.

Disamping itu pada kompetensi pengelolaan pembelajaran pada sub kompetensi Membuat Garis-garis Besar Program Pembelajaran (GBPP)/Rancang Bangun Pembelajaran Mata Diklat (RBPMD) dan Satuan Acara Pembelajaran (SAP)/Rencana Pembelajaran (RP); dan pada kompetensi substantif pada sub kompetensi Menulis KTI Yang Terkait Dengan Lingkup Kediklatan Dan/Atau Pengembangan Spesialisasinya, tidak termasuk dalam sub variabel penelitian ini karena sub kompetensi tersebut tidak bisa diambil datanya karena tidak berkaitan dengan peserta diklat.

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis tingkat kepuasan dan kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi pengelolaan pembelajaran Widyaiswara; menganalisis tingkat kepuasan dan kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi kepribadian Widyaiswara; menganalisis tingkat kepuasan dan kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi substantif Widyaiswara.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan bertujuan untuk menggambarkan ciri tertentu dari suatu fenomena. Metode penelitian deskriptif digunakan untuk mengumpulkan data dan memberikan gambaran atau penegasan suatu konsep atau gejala dan juga menjawab pertanyaan – pertanyaan sehubungan dengan status subyek penelitian pada saat ini, misalnya sikap atau pendapat terhadap individu, organisasi, dan sebagainya. Penelitian ini menggunakan kuesioner untuk mengetahui tanggapan peserta Diklat tentang kepentingan dan kepuasan terhadap kompetensi Widyaiswara yang kemudian dianalisis dengan Importance Performance Analysis (IPA).

Populasi  pada penelitian ini adalah peserta diklat yang mengikuti diklat di Program Studi Plambing dan Sanitasi, Departemen Bangunan, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Bidang Otomotif dan Elektronika Malang pada Tahun Anggaran 2012. Jumlah populasi pada penelitian ini sebanyak 34 orang. Rincian peserta diklat ditampilkan pada tabel di bawah.

 Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling jenuh. Menurut Sugiyono (2010), teknik sampling jenuh/sensus adalah teknik sampling apabila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Sehingga sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah keseluruhan dari jumlah populasi.

Pada penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan yaitumetode kuesioner yang digunakan untuk mengambil data tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan peserta diklat terhadapkompetensi Widyaiswara Prodi Plambing dan Sanitasi Departemen Bangunan. Sedangkan metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah:

a. Analisis deskriptif

Bagian ini menyajikan distribusi frekuensi skor dan mean masing-masing item variabel dan aspek. Untuk mendeskripsikan nilai mean setiap variabel dan aspek dalam penelitian ini digunakan dengan interval kelas yang diperoleh dari hasil perhitungan.

Nilai skor jawaban responden dalam penelitian ini mengacu pada skala 5 poin dari Likert, sehingga nilai skor jawaban responden tertinggi adalah 5 dan untuk nilai skor terendah adalah 1. Sedangkan jumlah kelas/kategori yang digunakan dalam penyusunan kriteria tersebut disesuaikan dengan skala yang digunakan yaitu 5 kelas. Sehingga interval yang diperoleh untuk setiap kelas (5-1) : 5 = 0,8. Dengan demikian kriteria untuk mendeskripsikan nilai mean yang diperoleh setiap variabel dan aspek dapat disusun seperti berkut ini:

 

 

b. Importance Performance Analysis (IPA).

Analisis ini dilakukan terhadap peserta menggunakan kuesioner kepuasan dan kepentingan. Terdapat dua dimensi dalam diagram Cartesius yakni sumbu mendatar X (tingkat kepuasan) dan sumbu tegak Y (tingkat kepentingan). Indikator kepuasan dan kepentingan kompetensi Widyaiswara dijabarkan ke dalam 4 (empat) kuadran. Arti masing-masing kuadran sebagai berikut:

Kuadran I. Dalam kuadran ini penanganannya perlu diprioritaskan, karena ketersediaannya dinilai sangat penting, sedangkan tingkat pelaksanaannya belum memuaskan, atau tingkat kepuasan rendah.

 

Kuadran II. Indikator pada kuadran ini perlu dipertahankan, karena tingkat pelaksanaannya telah sesuai dengan kepentingan. Pada kuadran ini tingkat kepentingan tinggi dan tingkat kepuasan tinggi, sehingga telah memuaskan peserta diklat.

Kuadran III. Indikator pada kuadran ini tingkat kepentingannya rendah (dinilai kurang penting), tingkat kepuasannya juga rendah. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaannya sudah sesuai dengan tuntutan kepentingan yang rendah.

Kuadran IV. Indikator dalam kuadran ini dinilai kurang penting, namun pelaksanaanya telah memuaskan bahkan berlebihan. Menunjukan bahwa, tingkat kepentingan rendah namun tingkat kepuasan tinggi, yang mana kualitas pelaksanaannya melebihi harapan peserta.

HASIL

Deskripsi Frekuensi Kepuasan

Analisis ini menggunakan tabel distribusi frekuensi tanggapan responden pada variabel kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara. Terdapat 3 variabel yang diukur pada kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara yakni: Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran (X1), Kompetensi Kepribadian (X2), dan Kompetensi Substantif (X3), serta kepuasan peserta diklat terhadap seluruh variabel yaitu kepuasan terhadap Kompetensi Widyaiswara (X).

 

Secara umum peserta diklat sudah puas terhadap kompetensi Widyaiswara, karena  56,2% responden menyatakan puas dan 41,6% menyatakan sangat puas, hanya 2,1% yang menyatakan kurang puas dan 0,1% menyatakan tidak puas. Kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara ini ditunjang oleh variabel:

a. Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran (X1). Peserta sudah merasa puas terhadap kompetensi pengelolaan pembelajaran karena 60,4% merasa puas, dan 34,8% responden menyatakan sangat puas; hanya 4,5% menyatakan kurang puas dan 0,2% menyatakan tidak puas.

b. Kompetensi Kepribadian (X2). Peserta sudah merasa puas terhadap kompetensi kepribadian, karena 45,0% merasa puas, dan 53,2% responden menyatakan sangat puas; hanya 1,8% menyatakan kurang puas.

c. Kompetensi Substantif (X3). Peserta sudah merasa puas terhadap kompetensi substantif, karena 63,2% merasa puas, 36,8% responden menyatakan sangat puas.

 

Peserta diklat sudah merasa puas terhadap kompetensi pengelolaan pembelajaran, karena 60,9% merasa puas, dan 33,8% responden menyatakan sangat puas; hanya 5,0% menyatakan kurang puas dan 0,3% menyatakan tidak puas. Kepuasan peserta terhadap Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran ini terbagi menjadi 5 aspek yaitu:

 a.   Menyusun Bahan Ajar (X1.1). Peserta sudah merasa puas terhadap aspek ini, karena 67,6% merasa puas, dan 31,4% responden menyatakan sangat puas; hanya 1,0% menyatakan kurang puas.

b.   Menerapkan Pembelajaran Orang Dewasa (X1.2). Peserta sudah merasa puas terhadap aspek ini, karena 56,6% merasa puas, dan 36,8% responden menyatakan sangat puas; hanya 6,6% menyatakan kurang puas.

 c.   Melakukan Komunikasi yang Efektif dengan Peserta (X1.3). Peserta sudah merasa puas terhadap aspek ini, karena 50,0% merasa puas, dan 44,1% responden menyatakan sangat puas; hanya 4,4% menyatakan kurang puas dan 1,5% . menyatakan tidak puas.

d.   Memotivasi Semangat Belajar Peserta (X1.4). Peserta sudah merasa puas terhadap aspek ini, karena 62,7% merasa puas, dan 33,3% responden menyatakan sangat puas; hanya 3,9% menyatakan kurang puas.

 e.   Mengevaluasi Pembelajaran (X1.5). Peserta sudah merasa puas terhadap aspek ini, karena 67,6% merasa puas, dan 23,5% responden menyatakan sangat puas; hanya 8,8% yang menyatakan kurang puas.

 

Peserta diklat sudah merasa puas terhadap Kompetensi Kepribadian, karena 45,4% merasa puas, dan 53,1% responden menyatakan sangat puas; hanya 1,5% menyatakan kurang puas. Kepuasan peserta terhadap kompetensi kepribadian ini terbagi menjadi 2 aspek yaitu:

a.    Menampilkan Pribadi yang Diteladani (X2.1).Peserta sudah merasa puas terhadap aspek ini, karena 46,3% merasa puas, dan 52,9% responden menyatakan sangat puas; hanya 0,7% yang menyatakan kurang puas.

Melaksanakan Kode Etik dan Menunjukkan Etos Kerja sebagai Widyaiswara yang Profesional (X2.2).Peserta sudah merasa puas terhadap aspek ini, karena 44,4% merasa puas, dan 53,3% responden menyatakan sangat puas; hanya 2,3% menyatakan kurang puas.

 

Hanya ada 1 aspek yang bisa diambil datanya dari kompetensi substantif ini berdasarkan persepsi peserta diklat yaitu aspek Menguasai Keilmuan dan Keterampilan Mempraktekkan sesuai dengan Materi Diklat yang Diajarkan, sehingga nilai kepuasannya sama antara variabel dan aspeknya yaitu bahwa peserta diklat sudah merasa puas terhadap kompetensi substantif, karena 59,6% merasa puas, dan 36,8% responden menyatakan sangat puas; hanya 3,7% menyatakan kurang puas.

Deskripsi Frekuensi Kepentingan

Sama seperti analisis yang digunakan pada analisis frekuensi kepuasan, analisis ini juga menggunakan tabel distribusi frekuensi tanggapan responden pada variabel kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara. Terdapat 3 variabel yang diukur pada kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara yakni: Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran (Y1), Kompetensi Kepribadian (Y2), dan Kompetensi Substantif (Y3), serta kepentingan peserta diklat terhadap seluruh variabel yaitu kepentingan terhadap Kompetensi Widyaiswara (Y).

 

Secara umum peserta diklat mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap kompetensi Widyaiswara, karena 32,3% responden menyatakan penting dan 67,6% menyatakan sangat penting, hanya 0,1% yang menyatakan kurang penting. Kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara ini ditunjang oleh variabel:

a. Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran (Y1). Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap kompetensi pengelolaan pembelajaran karena 31,0% merasa penting, dan 69,0% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting.

b. Kompetensi Kepribadian (Y2). Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap kompetensi kepribadian, karena 28,5% merasa penting, dan 71,3% responden menyatakan sangat penting; hanya 0,2% menyatakan kurang penting.

c. Kompetensi Substantif (Y3). Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap kompetensi substantif, karena 37,5% merasa penting, dan 62,5% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting.

 

Peserta diklat mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran, karena 30,0% responden menyatakan penting, dan 70,0% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting. Kepentingan peserta terhadap Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran ini terbagi menjadi 5 aspek yaitu:

 a.   Menyusun Bahan Ajar (Y1.1). Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap aspek ini, karena 32,4% merasa penting, dan 67,6% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting.

b.   Menerapkan Pembelajaran Orang Dewasa (Y1.2). Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap aspek ini, karena 28,7% merasa penting, dan 71,3% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting.

 c.   Melakukan Komunikasi yang Efektif dengan Peserta (Y1.3). Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap aspek ini, karena 16,2% merasa penting, dan 83,8% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting.

d.   Memotivasi Semangat Belajar Peserta (Y1.4). Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap aspek ini, karena 43,1% merasa penting, dan 56,9% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting.

 e.   Mengevaluasi Pembelajaran (Y1.5). Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap aspek ini, karena 29,4% merasa penting, dan 70,6% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting.

 

Peserta diklat mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap Kompetensi Kepribadian, karena 29,6% responden menyatakan penting, 70,3% responden menyatakan sangat penting; hanya 0,2% responden yang menyatakan kurang penting. Kepentingan peserta terhadap Kompetensi Kepribadian ini terbagi menjadi 2 aspek yaitu:

a.    Menampilkan Pribadi yang Diteladani (Y2.1).Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap aspek ini, karena 32,4% merasa penting, dan 67,6% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting.

Melaksanakan Kode Etik dan Menunjukkan Etos Kerja sebagai Widyaiswara yang Profesional (Y2.2).Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap aspek ini, karena 26,8% merasa penting, dan 72,9% responden menyatakan sangat penting; hanya 0,3% menyatakan kurang penting.

 

Hanya ada 1 aspek yang bisa diambil datanya dari Kompetensi Substantif ini berdasarkan persepsi peserta diklat yaitu aspek Menguasai Keilmuan dan Keterampilan Mempraktekkan sesuai dengan Materi Diklat yang Diajarkan, sehingga nilai kepentingannya sama antara variabel dan aspeknya yaitu bahwa peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap aspek ini, karena 39,3% merasa penting, dan 60,7% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting.

Importance Performance Analysis (IPA)

Berdasarkan analisis terlihat bahwa kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara yang terdiri dari Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran, Kompetensi Kepribadian, dan Kompetensi Substantif berada menyebar pada kuadran yang ada. Rata-rata total kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara sebesar 4,38 dan rata-rata kepentingannya sebesar 4,68. Adapun penjelasannya adalah seperti berikut ini:

 

a.    Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran (1).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara, peserta diklat merasa puas dan IPA berada pada kuadran I, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,28 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,70 (di bawah rata-rata total kepuasan (4,38) dan di atas rata-rata total kepentingan (4,68) peserta). Variabel tersebut tidak memuaskan peserta padahal peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta tidak puas terhadap variabel Pengelolaan Pembelajaran.

b.   Kompetensi Kepribadian (2).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara, peserta diklat merasa puas dan IPA berada pada kuadran II, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,52 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,70 (di atas rata-rata total kepuasan (4,38) dan di atas rata-rata total kepentingan (4,68) peserta). Sehingga variabel tersebut telah memuaskan peserta dan peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta puas terhadap variabel Kompetensi Kepribadian.

c.    Kompetensi Substantif (3).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara, peserta diklat merasa tidak puas dan IPA berada pada kuadran III, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,33 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,63 (di bawah rata-rata total kepuasan (4,38) dan di bawah rata-rata total kepentingan (4,68) peserta). Variabel tersebut tidak memuaskan peserta tetapi peserta juga menganggap keberadaannya tidak penting. Artinya peserta tidak mempermasalahkan terhadap variabel Kompetensi Substantif.

Selanjutnya untuk kompetensi Widyaiswara pada Pengelolaan Pembelajaran dapat dianalisis lagi berdasarkan kelima aspeknya. Rata-rata total kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara aspek Pengelolaan Pembelajaran sebesar 4,28 dan rata-rata kepentingannya sebesar 4,70. Kelima aspek tersebut berada menyebar pada semua kuadran yang ada. Adapun rincian penjelasannya adalah seperti berikut ini:

 

a.    Aspek Menyusun Bahan Ajar (A).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Pengelolaan Pembelajaran Widyaiswara aspek Menyusun Bahan Ajar, peserta diklat merasa tidak puas dan IPA berada pada kuadran IV, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,30 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,68 (di atas rata-rata total kepuasan (4,28) dan di bawah rata-rata total kepentingan (4,70) peserta). Sehingga aspek tersebut telah memuaskan peserta walaupun pelaksanaannya dianggap terlalu berlebihan oleh peserta. Artinya peserta merasa puas terhadap aspek Menyusun Bahan Ajar.

b.   Aspek Menerapkan Pembelajaran Orang Dewasa (B).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Pengelolaan Pembelajaran Widyaiswara aspek Menerapkan Pembelajaran Orang Dewasa peserta diklat merasa puas dan IPA berada pada kuadran II, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,30 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,71 (di atas rata-rata total kepuasan (4,28) dan di atas rata-rata total kepentingan (4,70) peserta). Sehingga aspek tersebut telah memuaskan peserta dan peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta merasa puas terhadap aspek Menerapkan Pembelajaran Orang Dewasa.

c.    Melakukan Komunikasi yang Efektif dengan Peserta (C).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Pengelolaan Pembelajaran Widyaiswara aspek Melakukan Komunikasi yang Efektif dengan Peserta, peserta diklat merasa puas dan IPA berada pada kuadran II, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,37 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,84 (di atas rata-rata total kepuasan (4,28) dan di atas rata-rata total kepentingan (4,70) peserta). Sehingga aspek tersebut telah memuaskan peserta dan peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta merasa puas terhadap aspek Melakukan Komunikasi yang Efektif dengan Peserta.

d.   Aspek Memotivasi Semangat Belajar Peserta (D).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Pengelolaan Pembelajaran Widyaiswara aspek Memotivasi Semangat Belajar Peserta, peserta diklat merasa tidak puas dan IPA berada pada kuadran IV, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,29 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,57 (di atas rata-rata total kepuasan (4,28) dan di bawah rata-rata total kepentingan (4,70) peserta). Sehingga aspek tersebut telah memuaskan peserta walaupun pelaksanaannya dianggap terlalu berlebihan oleh peserta. Artinya peserta merasa puas terhadap aspek Memotivasi Semangat Belajar Peserta.

e.    Aspek Mengevaluasi Pembelajaran (E).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara aspek Mengevaluasi Pembelajaran, peserta diklat merasa puas dan IPA berada pada kuadran III, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,15 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,71 (di bawah rata-rata total kepuasan (4,28) dan di atas rata-rata total kepentingan (4,70) peserta). Aspek tersebut tidak memuaskan peserta padahal peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta tidak puas terhadap aspek Mengevaluasi Pembelajaran.

Untuk kompetensi Kepribadian Widyaiswara dapat dianalisis lagi berdasarkan kedua aspeknya. Rata-rata total kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara aspek Kepribadian sebesar 4,52 dan rata-rata kepentingannya sebesar 4,70. Kedua aspek tersebut berada pada kuadran yang berbeda. Adapun rincian penjelasannya adalah seperti berikut ini:

 

a.       Aspek Menampilkan Pribadi yang Diteladani (A).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Kepribadian Widyaiswara aspek Menampilkan Pribadi yang Diteladani, peserta diklat merasa puas dan IPA berada pada kuadran IV, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,52 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,68 (di bawah rata-rata total kepuasan (4,52) dan di bawah rata-rata total kepentingan (4,70) peserta). Sehingga aspek tersebut telah memuaskan peserta walaupun pelaksanaannya dianggap terlalu berlebihan oleh peserta. Artinya peserta merasa puas terhadap aspek Menampilkan Pribadi yang Diteladani

b.   Aspek Melaksanakan Kode Etik dan Menunjukkan Etos Kerja Sebagai Widyaiswara yang Profesional (B).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Kepribadian Widyaiswara aspek Melaksanakan Kode Etik dan Menunjukkan Etos Kerja Sebagai Widyaiswara yang Profesional peserta diklat merasa tidak puas dan IPA berada pada kuadran I, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,51 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,73 (di bawah rata-rata total kepuasan (4,52) dan di atas rata-rata total kepentingan (4,70) peserta). Aspek tersebut tidak memuaskan peserta padahal peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta tidak puas terhadap aspek Melaksanakan Kode Etik dan Menunjukkan Etos Kerja Sebagai Widyaiswara yang Profesional.

 

PEMBAHASAN

Secara umum peserta diklat sudah merasa puas terhadap kompetensi Widyaiswara Program Studi Plambing dan Sanitasi, Departemen Bangunan PPPPTK BOE Malang. Hal ini bisa dilihat dari hasil analisis deskriptif yang menyatakan bahwa 56,2% responden menyatakan puas dan 41,6% menyatakan sangat puas, hanya 2,1% yang menyatakan kurang puas dan 0,1% yang menyatakan tidak puas.Hasil yang hampir sama ditemukan pada analisis deskriptif untuk variabel kompetensi Widyaiswara yang meliputi Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran, Kompetensi Kepribadian, dan Kompetensi Subsantif. Analisis lebih lanjut kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara ditemukan bahwa kepuasan peserta diklat termasuk kategori puas dengan rerata 4,38.

Fakta di atas menunjukkan bahwa sebenarnya sebagian besar Widyaiswara yang ada di Program Studi Plambing dan Sanitasi Departemen Bangunan PPPPTK BOE Malang mempunyai kompetensi yang memadai. Hal ini dibuktikan dengan adanya banyaknya peserta diklat yang menyatakan puas dan sangat puas terhadap kompetensi yang dimiliki oleh Widyaiswara. Memang harus diakui bahwa ada sebagian kecil peserta diklat yang menyatakan kurang puas dan tidak puas terhadap kompetensi Widyaiswara. Hal ini bisa dijadikan bahan introspeksi Widyaiswara untuk terus selalu melakukan peningkatan terhadap kompetensi yang dimilikinya.

Dari analisis tingkat kepentingan peserta diklat, secara umum diketahui bahwa  peserta diklat mempunyai tingkat kepentingan yang tinggi terhadap kompetensi Widyaiswara Program Studi Plambing dan Sanitasi, Departemen Bangunan PPPPTK BOE Malang. Hal ini bisa dilihat dari hasil analisis deskriptif yang menyatakan bahwa 32,2% responden menyatakan penting dan 67,6% menyatakan sangat penting, hanya 0,1% yang menyatakan kurang penting. Hasil yang hampir sama ditemukan pada analisis deskriptif untuk variabel kompetensi Widyaiswara yang meliputi kompetensi pengelolaan pembelajaran, kompetensi kepribadian, dan kompetensi subsantif. Analisis lebih lanjut kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara ditemukan bahwa kepentingan peserta diklat termasuk kategori sangat penting dengan rerata 4,68.

Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa peserta diklat mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap kompetensi Widyaiswara Program Studi Plambing dan Sanitasi, Departemen Bangunan PPPPTK BOE Malang. Hal ini dibuktikan dengan adanya banyaknya peserta diklat yang menyatakan penting dan sangat penting terhadap kompetensi yang dimiliki oleh Widyaiswara. Hanya sebagian kecil peserta diklat yang menyatakan kurang penting. Dan juga dengan memperhatikan rerata tingkat kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara sebesar 4,68, hal ini menunjukkan bahwa peserta diklat mempunyai harapan yang tinggi terhadap kompetensi yang dimiliki Widyaiswara, baik menyangkut keilmuannya maupun metode mengajarnya.

Dari hasilImportance Performance Analysis (IPA) untuk Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran menunjukkan bahwa kompetensi tersebut berada pada kuadran I. Variabel tersebut tidak memuaskan peserta padahal peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta tidak puas terhadap variabel Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran. Fakta ini menunjukkan bahwa kompetensi Pengelolaan Pembelajaran dari Widyaiswara perlu mendapat perhatian di masa mendatang agar dapat memuaskan peserta diklat.

Selanjutnya hasilImportance Performance Analysis (IPA) untuk Kompetensi Kepribadian didapatkan hasil bahwa kompetensi tersebut berada pada kuadran II. Hal ini berarti bahwa variabel tersebut telah memuaskan peserta dan peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta puas terhadap variabel Kompetensi Kepribadian. Sehingga prestasi tersebut harus dipertahankan ketika melayani peserta diklat pada masa mendatang.

Sedangkan hasilImportance Performance Analysis (IPA) diketahui bahwa Kompetensi Substantif berada pada kuadran III. Hal ini berarti bahwa variabel tersebut tidak memuaskan peserta, tetapi peserta menganggap keberadaannya kurang penting. Artinya peserta merasa tidak puas terhadap variabel Kompetensi Substantif tetapi peserta tidak mempermasalahkannya. Ini artinya bahwa upaya untuk meningkatkan atau memperbaiki kompetensi tersebut prioritasnya rendah.

Sementara itu Importance Performance Analysis (IPA) lebih lanjut untuk Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran pada aspek-aspeknya ditemukan hal-hal seperti berikut ini:

 

a.       Aspek Mengevaluasi Pembelajaran berada pada kuadran I. Aspek tersebut tidak memuaskan peserta padahal peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Sehingga Widyaiswara harus memperhatikan lebih serius terhadap aspek itu di masa mendatang agar dapat memuaskan peserta diklat.

b.      Aspek Menerapkan Pembelajaran Orang Dewasa dan aspek Melakukan Komunikasi yang Efektif dengan Peserta berada pada kuadran II. Hal ini menunjukkan bahwa kedua aspek tersebut telah memuaskan peserta dan peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Sehingga prestasi tersebut harus dipertahankan ketika melayani peserta diklat pada masa mendatang.

c.       Aspek Menyusun Bahan Ajar dan aspek Memotivasi Semangat Belajar Peserta berada pada kuadran IV. Kedua aspek tersebut telah memuaskan peserta walaupun pelaksanaannya dianggap terlalu berlebihan oleh peserta. Sehingga pada kedua aspek ini sebenarnya tidak diperlukan upaya perbaikan atau peningkatan yang sifatnya segera untuk memenuhi kepuasan peserta diklat, karena kondisinya telah melampaui harapan peserta diklat. Namun demikian tetap harus dijaga untuk memuaskan kepada peserta diklat pada kedua aspek ini di masa mendatang.

Sedangkan Importance Performance Analysis (IPA) lebih lanjut untuk Kompetensi Kepribadian pada aspek-aspeknya ditemukan hal-hal seperti berikut ini:

 a.       Aspek Melaksanakan Kode Etik dan Menunjukkan Etos Kerja Sebagai Widyaiswara yang Profesional berada pada kuadran I. Aspek tersebut tidak memuaskan peserta padahal peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Sehingga Widyaiswara harus memperhatikan lebih serius terhadap aspek itu di masa mendatang agar dapat memuaskan peserta diklat.

b.       Aspek Menampilkan Pribadi yang Diteladani  berada pada kuadran IV. Aspek tersebut telah memuaskan peserta walaupun pelaksanaannya dianggap terlalu berlebihan oleh peserta. Sehingga pada aspek ini sebenarnya tidak diperlukan upaya perbaikan atau peningkatan yang sifatnya segera untuk memenuhi kepuasan peserta diklat, karena kondisinya telah melampaui harapan peserta diklat. Namun demikian tetap harus dijaga untuk memuaskan kepada peserta diklat pada aspek ini di masa mendatang.

 

Dari analisis deskriptif dan Importance Performance Analysis (IPA) diketahui bahwa hasil rerata kepuasan secara deskriptif ternyata masih harus dikonfirmasikan lagi dengan hasil Importance Performance Analysis (IPA) agar fakta tersebut tidak menjebak atau menimbulkan kesalahan dalam mengambil kesimpulan. Sebagai contoh, hal ini bisa kita lihat pada Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran. Rerata kepuasan peserta diklat sebesar 4,28 dan nilai ini termasuk dalam kategori puas. Namun apabila hal ini dilihat pada hasil Importance Performance Analysis (IPA), ternyata kompetensi tersebut berada pada kuadran I (tidak memuaskan dan perlu mendapat penyelesaian segera). Sehingga harus diambil sikap yang hati-hati untuk menyimpulkan fenomena yang ada di lapangan. Artinya bahwa peserta diklat sebenarnya sudah merasa puas dengan kondisi yang ada namun ternyata hal tersebut pada kenyataannya masih berada di bawah harapannya. Atau sebaliknya bisa saja kompetensi Widyaiswara berada pada kuadran yang tidak memerlukan lagi perhatian (kuadran III), namun pada kenyataannya peserta diklat tidak puas. Saling keterkaitan analisis inilah diperlukan agar kedua kondisi tersebut jelas permasalahannya sehingga penyelesaian masalahnyapun menjadi jelas.

Temuan-temuan pada penelitian ini ternyata tidak sejalan dengan hasil-hasil penelitian terdahulu. Seperti hasil penelitian oleh Waspodo (1999), Harun (2000), dan Pranoto (2003) yang menemukan bahwa kompetensi Widyaiswara rendah. Salah satu temuannya adalah bahwa Widyaiswara kurang memiliki kompetensi kependidikan, pelaksanaan pembelajaran menjadi kurang bermutu sehingga mengakibatkan pembelajaran diklat menjadi monoton dan kurang menarik. Hal ini akan berbanding terbalik apabila kita melihat pada hasil penelitian ini. Rerata kepuasan peserta diklat pada penelitian ini menunjukkan angka 4,38 dan nilai ini masuk kategori memuaskan. Sehingga temuan ini menunjukkan bahwa kompetensi para Widyaiswara di Program Studi Plambing dan Sanitasi Departemen Bangunan PPPPTK BOE Malang sudah memuaskan peserta diklat.

Perbedaan temuan pada penelitian ini barangkali disebabkan oleh latar belakang dari Widyaiswara. Sebagaian besar Widyaiswara yang ada di PPPPTK BOE Malang mempunyai latar belakang kependidikan dan mempunyai spesialisasi di bidangnya, sehingga temuan pada penelitian ini menguatkan kondisi tersebut. Artinya latar belakang pendidikan Widyaiswara yang ada di PPPPTK BOE Malang, khususnya di Program Studi Plambing dan Sanitasi Deparemen Bangunan turut memberi andil terhadap kepuasan kepada peserta diklat. Fakta ini didukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Sujarwo (2006) dengan judul Optimalisasi Penerapan Konsep Andragogi Dalam Diklat Aparatur Pemerintah Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Lulusan di Badan Diklat Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu temuannya adalah bahwa faktor-faktor yang menjadi kendala optimalisasi penerapan konsep andragogi dalam diklat aparatur pemerintah antara lain: a). sebagian besar Widyaiswara tidak memiliki pengalaman pendidikan yang berlatar belakang pendidikan, sehingga dalam pengelolaan kelas dalam proses pelatihan kurang kondusif dan kaku. b). sebagian besar Widyaiswara merupakan mantan pejabat dari beberapa intansi pemerintah, sehingga masih ada Widyaiswara yang berpenampilan seperti pejabat.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan , maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1.   Rerata tingkat kepuasan peserta diklat sebesar 4,38 dan nilai ini termasuk kategori puas, artinya peserta diklat merasa puas dengan kompetensi Widyaiswara. Sedangkan rerata tingkat kepentingan peserta diklat sebesar 4,68 dan nilai ini termasuk kategori sangat penting, artinya peserta diklat menganggap sangat penting terhadap kompetensi Widyaiswara.

2.   Hasil analisis frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap variabel Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran menunjukkan bahwa rerata tingkat kepuasan peserta diklat sebesar 4,28, hal ini berarti bahwa peserta diklat merasa puas terhadap variabel Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran. Hasil Importance Performance Analysis (IPA) pada Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran menunjukkan bahwa variabel tersebut berada pada kuadran I. Variabel tersebut tidak memuaskan peserta padahal peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta tidak puas terhadap variabel Pengelolaan Pembelajaran.

3.   Hasil analisis frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap variabel Kompetensi Kepribadian menunjukkan bahwa rerata tingkat kepuasan peserta diklat sebesar 4,52, hal ini berarti bahwa peserta diklat merasa sangat puas terhadap variabel Kompetensi Kepribadian. Hasil Importance Performance Analysis (IPA) pada Kompetensi Kepribadian menunjukkan bahwa variabel tersebut berada pada kuadran II. Sehingga variabel tersebut  telah memuaskan peserta dan peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta puas terhadap variabel Kompetensi Kepribadian.

4.   Hasil analisis frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap variabel Kompetensi Substantif menunjukkan bahwa rerata tingkat kepuasan peserta diklat sebesar 4,33, hal ini berarti bahwa peserta diklat merasa sangat puas terhadap variabel Kompetensi Substantif. Hasil Importance Performance Analysis (IPA) pada Kompetensi Substantif menunjukkan bahwa variabel tersebut berada pada kuadran III. Variabel tersebut tidak memuaskan peserta tetapi peserta juga menganggap keberadaannya tidak penting. Artinya peserta tidak mempermasalahkan terhadap variabel Kompetensi Substantif.

Saran

1.   Semua pihak, terutama Widyaiswara untuk mencermati hasil analisis Importance Performance Analysis (IPA) ini terutama variabel Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran, karena variabel ini perlu mendapat perhatian untuk dicarikan pemecahannya agar pada diklat berikutnya dapat memuaskan peserta diklat.

2.   Pada penelitian berikutnya disarankan agar semua variabel dan aspek dari kompetensi Widyaiswara diteliti semuanya agar didapatkan kesimpulan yang lebih baik. Di samping itu jumlah populasi diperbanyak agar tingkat generasisasinya lebih luas dan lebih akurat.

DAFTAR RUJUKAN

Harun, C.Z. 2000. . Pendidikan dan Pelatihan sebagai Sarana Pengembangan Sumber Daya Manusia di PT POS Indonesia (Persero), Analisis Sistem Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan di Pusdiklatpos Bandung, (Online), (http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd-1202105-084810/, diakses 3 Nopember 2010)

Nasution, M.N. 2001. Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management). Penerbit Ghalia Indonesia. Jakarta.

Pranoto, J. 2003. Perspektif Jabatan Fungsional Widyaiswara dalam Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Negeri Sipil, (Online), (http://perpustakaan.upi.edu/abstrak/administrasi/upload/juni_pranoto_perspektif_jabatan_fungsional_Widyaiswara_dalam_pendidikan_dan_pelatihan_pegawai_negeri_sipil.pdf, diakses 3 Nopember 2010)

Sugiyono. 2008. Statistika untuk Penelitian. Penerbit Alfabeta. Bandung.

Sujarwo. 2006. Optimalisasi Penerapan Konsep Andragogi Dalam Diklat Aparatur Pemerintah Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Lulusan Di Badan Diklat Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, (Online), (http://eprints.uny.ac.id/4393/), diakses 21 Juni 2011.

Waspodo, M. 1999. Peranan Widyaiswara Dalam Implementasi Kurikulum Diklat SPAMA : Studi Deskriptif Analitik Pada Implementasi Kurikulum Diklat SPAMA Di Pusdiklat Pegawai Depdikbud, Sawangan, Jawa Barat, (Online), (http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd-0922106-092226/, diakses 3 Nopember 2010

_______Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 14 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya

_______ Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Standar Kompetensi Widyaiswara

_______ Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor: 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Sertifikasi Widyaiswara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG