PENGGUNAAN VARIASI METODE MENGAJAR DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIKLAT SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9001:2008 DI PPPPTK BIDANG OTOMOTIF DAN ELEKTRONIKA MALANG

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Wednesday, 15 April 2015 Published Date Written by dalono

PENGGUNAAN VARIASI METODE MENGAJAR DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIKLAT SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9001:2008
DI PPPPTK BIDANG OTOMOTIF DAN ELEKTRONIKA MALANG

 

Dalono

VEDC Malang, Jl Teluk Mandar Arjosari Malang

Email : dalono_arwana@yahoo.com.au

 

 

ABSTRAK

 

Suatu kenyataan bahwa banyak pengajar yang melakukan pengajaran dengan berapi-api atas penguasaan materi hanya dengan orasi-orasi saja tanpa memperhatikan keterlibatan peserta dalam keaktifannya, misal dengan memberikan peluang bagi peserta pendidikan dan pelatihan untuk mencoba menyampaikan paparan, mendiskusikan isi materi untuk mengkonsolidasikan pemahaman. Terjadi kesenjangan bahwa tingkat kemampuan peserta yang rendah dikarenakan kemonotonan metode yang digunakan oleh pengajar, pada akhirnya melalui pendidikan dan pelatihan yang melaksanakan variasi aktivitas maka peserta akan mendapatkan pengalaman yang berharga dan pemahaman akan didapatkan.

 

Penelitian tindakan pendidikan dan pelatihan ini memiliki tujuan sebagai berikut: a. meningkatan hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 di PPPPTK/VEDC Malang. b. mengidentifikasi pengaruh penggunaan metode yang bervariasi terhadap peningkatan hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 di PPPPTK/VEDC Malang

 

 

 

Dampak positif terhadap peningkatan hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan yang antara lain ditandai dengan:

 

Ketuntasan belajar pada; kondisi awal sebesar 39.47 %,  siklus 1 sebesar 100 %, siklus 2 sebesar 100 %. Nilai rata-rata pada kondisi awal adalah 2.17; nilai rata-rata siklus 1 adalah 2,48; nilai rata-rata siklus 2 adalah 2,73). Tingkat keberhasilan pendidikan dan pelatihan bila dibandingkan dengan sasaran mutu PPPPTK/VEDC Malang antara lain: pada kondisi awal adalah 0 %, pada siklus 1 adalah 32 %, sedangkan pada siklus 2 adalah 87 %.

 

Penggunaan metode mengajar yang bervariasi (ceramah, Tanya Jawab, Kerja Kelompok, Diskusi, Penugasan, dan Latihan atau Dril) memiliki pengaruh yang positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi peserta pendidikan dan pelatihan.

 

Berdasarkan data empirik maka hipotesis tindakan yang menyatakan melalui penggunaan metode mengajar yang bervariasi dapat meningkatkan hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 yang diselenggarakan oleh PPPPTK bidang Otomotif dan Elektronika Malang bertempat di SMK Negeri 2 Bondowoso diterima.

 

 

 

Kata Kunci: Vriasi, Metode Mengajar, Diklat, Sistem Manajemen Mutu,ISO 9001;2008

 

PENDAHULUAN

 

Kemampuan berinteraksi dan metode yang dipilih oleh pengajar untuk menyampaikan suatu pesan kepada audiennya (penerima pesan) tentu akan menjadi hambatan bagi audiennya dalam memahami isi pesan dan akhirnya membuahkan masalah terutama sehubungan dengan serapan pemahaman atau hasil belajar.

 

Suatu kenyataan bahwa banyak pengajar yang melakukan pengajaran dengan berapi-api atas penguasaan materi hanya dengan orasi-orasi saja tanpa memperhatikan keterlibatan peserta dalam keaktifannya, misal dengan memberikan peluang bagi peserta pendidikan dan pelatihan untuk mencoba menyampaikan paparan, mendiskusikan isi materi untuk mengkonsolidasikan pemahaman.

 

Pengajar diharapkan memanfaatkan strategi pembelajaran dengan memperhatikan pola induk belajar setiap peserta pendidikan dan pelatihan agar semua bentuk perbedaan kebiasaan atau kareteristik ketertarikan peserta dalam kemudahan memahami isi pesan yang disampaikan oleh pembicara atau pengajar dapat terwadahi dengan cara membuat variasi aktivitas dan tidak dengan cara yang monoton dalam menyampaikan materi. Hal itu dapat ditempuh melalui penggunaan metode yang bervariasi dalam mengajar.

 

Berdasarkan uraian diatas maka terjadi kesenjangan bahwa tingkat kemampuan peserta yang rendah dikarenakan kemonotonan metode yang digunakan oleh pengajar, pada akhirnya melalui pendidikan dan pelatihan yang melaksanakan variasi aktivitas maka peserta akan mendapatkan pengalaman yang berharga dan pemahaman akan didapatkan.

 

Untuk memecahkan masalah tentang rendahnya kemampuan peserta pendidikan & pelatihan dan masih kurang variasinya metode pembelajaran yang digunakan oleh pengajar maka diperlukan penelitian tindakan untuk meningkatkan kemampuan peserta pendidikan dan pelatihan.

 

Penelitian tindakan pendidikan dan pelatihan ini memiliki tujuan sebagai berikut: a. meningkatan hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 di PPPPTK/VEDC Malang. b. mengidentifikasi pengaruh penggunaan metode yang bervariasi terhadap peningkatan hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 di PPPPTK/VEDC Malang.

 

Pendidikan dan Pelatihan

 

Beberapa pakar mengkonsepkan pengertian tentang gabungan antara peristilahan pendidikan dan pelatihan. Menurut Pusdiklat Pegawai Depdiknas 2003Pendidikan dan Pelatian didfinisikan sebagai bagian dari manajemen sumberdaya manusia (MSM) yang mencakup pendayagunaan sumberdaya manusia, manajemen peningkatan kemampuan sumberdaya manusia dan manajemen lingkungan kerja sumberdaya manusia. Leonard Nadler (1980) mendefinisikan bahwa pendidikan dan pelatihan adalah pengalaman belajar yang disiapkan oleh organisasi untuk meningkatkan kinerja pegawai pada saat sekarang. Sementara menurut Robert L. Graigh (1996) pendidikan dan pelatihan merupakan pengalihan pengetahuan dan ketrampilan dari seseorang kepada orang lain. Sebenarnya intinya dari sekian pakar tentang konsep pengertian tersebut adalah peningkatan kemampuan sumberdaya manusia yang menjadi bagian dari pengalaman belajar yang teroganisasi, yang dilaksanakan dalam waktu tertentu, untuk meningkatkan kemungkinan bagi pegawai, peningkatan kinerja dan berkembang dalam organisasi.

 

Hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan merupakan capaian akhir dari suatu periode tertentu yang berupa perubahan tingkah laku dan biasanya disebut dengan kemampuan atau kompetensi yang diukur dengan ukuran tertentu. Dengan demikian belajar dapat membawa suatu perubahan pada individu peserta pendidikan dan pelatihan. Perubahan ini merupakan pengalaman tingkah laku dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Pengalaman dalam belajar merupakan pengalaman yang dituju pada hasil yang akan dicapai peserta pendidikan dan pelatihan dalam proses belajar di tempat pelatihan. Menurut Poerwodarminto (1991), prestasi belajar adalah hasil yang dicapai (dilakukan, dekerjakan), dalam hal ini prestasi belajar merupakan hasil pekerjaan, hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian kerja serta perjuangan yang membutuhkan pikiran.

 

Menurut Pasaribu (1986) pengajaran tidak memberikan kekuatan baru kepada anak yang sebelumnya tidak memilikinya dan secara sempit juga tidak memindahkan sesuatu kepadanya, melainkan hanya membangkitkan dan mendorong kekuatan-kekuatan dalam kegiatannya dan memimpinnya serta mengasahkan kepada macam-macam nilai, karena peserta belajar tidak dapat menemukan kekuatannya sendiri. Alvin W. Howard dalam Rostiyah (1989:4) memberikan definisi tentang mengajar adalah suatu aktivitas untuk mencoba menolong/membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan skill, attitudes, ideals (cita-cita), appreciations dan knowledge.

 

Metode

 

Metode adalah merupakan cara atau jalan yang harus ditempuh untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan tujuan untuk, dalam belajar metode digunakan dengan tujuan untuk mendapatkan pengetahuan, kecakapan dan keterampilan (Slameto, 1987 : 84). Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) bergantung pada cara/mengajar gurunya. Mengingat metode mengajar banyak ragamnya, kita sebagai pendidik tentu harus memiliki metode mengajar yang beraneka ragam, agar dalam proses belajar mengajar tidak menggunakan hanya satu metode saja, tetapi harus divariasikan, yaitu disesuaikan dengan tipe belajar siswa dan kondisi serta situasi yang ada pada saat itu, sehingga tujuan pengajaran yang telah dirumuskan oleh pendidik dapat terwujud/tercapai.

 

Sebagai kerangka berfikir dalam penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Diklat (PTD) sebenarnya merupakan konversi dari classroom action research. Dalam penelitian tindakan ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam I Wayan Dasna, 2007: 9) yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Oleh karena itu kondisi awal peserta Diklat harus diidentifikasi terlebih dahulu agar tindakan yang dilakukan oleh peneliti sesuai dengan yang diharapkan dapat dilakukan, selanjutnya kondisi akhirnya diidentifikasi pula, untuk mendapatkan hasil simpulan dari penelitian tindakan Diklat tersebut.

 

Hipotesis dalam penelitian adalah: melalui penggunaan metode mengajar yang bervariasi dapat meningkatkan hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 yang diselenggarakan oleh PPPPTK bidang Otomotif dan Elektronika Malang bertempat  di SMK Negeri 2 Bondowoso.

 

 

 

 

 

METODE PENELITIAN

 

Setting Penelitian

 

Waktu penelitian tindakan Diklat adalah waktu berlangsungnya penelitian tindakan pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 di PPPPTK/VEDC Malang mulai persiapan hingga penyusunan laporan direncanakan mulai tanggal 1 September sampai dengan 23 Oktober 2010. Pengambilan data penelitian tindakan diklat tentang penggunaan metode mengajar yang bervariasi dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta pendidikan pelatihan dilaksanakan pada tanggal 21 September 2010 di SMK Negeri 2 Bondowoso.

 

Subyek Penelitian

 

Sebagai subyek penelitian tindakan pendidikan dan pelatihan tentang penggunaan metode mengajar yang bervariasi adalah semua peserta pendidikan dan pelatihan program pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 yang terdiri dari pengelola sekolah, guru, tenaga adminitrasi, dan tenaga pembatu pelaksana yang berasal dari SMK Negeri 2 Bondowoso.

 

Sumber Data

 

Sumber data yang dipergunakan dalam penelitian tindakan Diklat berasal dari data primer berupa nilai kemampuan peserta pendidikan dan pelatihan, hasil pengamatan proses.

 

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

 

Data kuantitatif dari hasil pembelajaran pendidikan dan pelatihan dengan menggunakan teknik tes. Untuk data kualitatif menggunakan teknik pengamatan selama pelaksanaan pendidikan dan pelatihan berlangsung.

 

Validasi Data

 

Validasi data dalam penelitian tindakan pendidikan dan pelatihan ini menyesuaikan dengan data yang direncanakan yaitu data kuantitatif dan data kualitatif.

 

 Analisa Data

 

Analisis data menggunakan analisis diskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai tes kondisi awal dengan nilai tes akhir siklus 1, dan nilai tes akhir siklus1 dengan nilai tes akhir siklus 2. Sedangkan data kualitatif hasil pengamatan maupun hasil perbuatan kerja kelompok menggunakan analisis diskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi dan refleksi dari tiap-tiap siklus

 

Prosedur Penelitian

 


 

HASIL PENELITIAN

Deskripsi Kondisi Awal

 

Kondisi kemampuan peserta sejumlah 76 orang pada saat awal secara umum oleh peneliti dapat diperlihatkan pada hasil tes terendah yang mencapai nilai 1.40 sebanyak 1 orang, nilai tertinggi 2,30 sebanyak 3 orang (yang mencapai ketuntasan belajar 60.53 %) dan nilai rata-rata 2.17.

 

Deskripsi Hasil Siklus 1

 

1.    Perencanaan Tindakan : Agar peserta pendidikan dan pelatihan mendapatkan prestasi belajar yang baik, maka pengajar (peneliti) membuat apersepsi. Dalam kegiatan inti peneliti melaksanakan pengajaran dengan menggunakan beberapa metode mengajar yang divariasikan. Metode yang digunakan dalam kegiatan inti pada siklus 1 anatara lain metode ceramah, metode tanya jawab, metode kerja kelompok dan dilanjutkan dengan diskusi dan metode penugasan. Sedangkan pada penutup dilakukan tes formatif untuk melihat tingkat keberhasilan belajar peserta pendidikan dan pelatihan.

 

2.    Pelaksanaan Tindakan : Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I yang dilaksanakan pada tanggal 21 Septembert 2010 di kelas program pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 dengan jumlah peserta 76 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Tindakan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 pada siklus pertama ini secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut: a) pengkondisian peserta, b) Penyampaian ceramah materi awal dan diselingi tanya jawab, c) Tugas kelompok, d) Presentasi hasil kerja kelompok, e) konsolidasi materi, f) tes formatif.

 

3.    Hasil pengamatan : a) Proses Pendidikan dan Pelatihan (Hasil pengamatan selama proses pendidikan dan pelatihan yang berlangsung pada siklus 1, b) Hasil Pendidikan dan Pelatihan diuraikan sebagai berikut:

 

·         Nilai terendah pada hasil tes dengan nilai 2,00 sebanyak 3 orang, nilai tertinggi 2.40 sebanyak 2orang dan nilai rata-rata 2,48.

 

·         Frekuensi nilai kompetensi akhir pada siklus 1 pada skala nilai 0 – 0,99 sejumlah 0 orang, skala nilai 1 – 1,99 sejumlah 0 orang, skala nilai 2 – 2,54 sejumlah 52 orang, skala nilai 2,55 – 3,54 sejumlah 24 orang, sedangkan pada skala nilai 3,55 – 4,0 tidak seorangpun yang mencapainya.

 

 ·         Persentase ketuntasan belajar peserta pendidikan dan pelatihan 100 %.

 

·         presentase keberhasilan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan sesuai dengan target sasaran mutu PPPPTK/VEDC Malang pada siklus 1 ini sejumlah 32 %.

 

4.    Refleksi : refleksi ini dikaji dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif/ komparatif dengan cara membandingkan proses Diklat pada kondisi awal dengan siklus 1 dan hasil Diklat pada kondisi awal dengan siklus 1. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dari refleksi ini maka dapat dilihat pada tabel dibawah.

 

 

 

NO

KONDISI AWAL

SIKLUS 1

1

Tindakan

 

·     Pengajar (peneliti) belum menggunakan metode mengajar yang bervariasi

·      peneliti telah menggunakan metode mengajar yang bervariasi yaitu ceramah, tanya jawab, kerja kelompok, diskusi, dan penugasan

2

Proses pendidikan dan pelatihan

 

·     Peserta nampak pasif dan cenderung diam 

·     Peserta cenderung mengantuk

·     Banyak peserta pendidikan dan pelatihan yang memperlihatkan keaktifannya

·     Setiap orang berkontribusi terhadap keaktifan kelompok

·     Terjadi dinamika kelompok yang tinggi

·     Kerja kelompok 1 kali

3

Hasil pendidikan dan pelatihan

 

·      Kondisi nilai terendah 1.40 dan tertinggi 2,0 sedangkan nilai rata-rata 2,17

·     46 orang mencapai nilai ketuntasan minimal (setara dengan 39,47 %)

·     Keberhasilan pelaksanaan Diklat 0 % (dari hasil tes awal tidak ada yang mencapai kualifikasi Baik)

·     Kondisi nilai terendah 2.00 dan tertinggi 3,00 sedangkan nilai rata-rata 2,48

·     76 orang dari 76 mencapai nilai ketuntasan belajar (setara dengan 100 %)

·     Terjadi peningkatan prestasi belajar dari hasil nilai akhir formatif pada siklus 1.

·     Peningkatan nilai rata-rata sebesar 0.31 dan peningkatan ketuntasan Diklat sebesar 32 %.

·     Keberhasilan Diklat 32 %

 

 

 

Deskripsi Hasil Siklus 2

 

Siklus 2 ini pada tahap perencanaan dan tindakan kegiatan yang ditempuh hampir sama walaupu ada pengembangan pada metode yang digunakan misal frekeuensi kerja kelompok dengan jumlah anggota diubah dan latihan diperbanyak. Oleh karena itu hasil refleksainya pengamatannya dan refleksinya sebagai berikut:

 

1.    Hasil pengamatan : Hasil Pendidikan dan Pelatihan diuraikan sebagai berikut:

 

a.    Nilai terendah pada hasil tes dengan nilai 2,20 sebanyak 3 orang, nilai tertinggi 3,40 sebanyak 2 orang dan nilai rata-rata 2,73

 

b.    Frekuensi nilai kompetensi akhir pada siklus 1 pada skala nilai 0 – 0,99 dan 1 – 1,99 tidak ada, skala nilai 2 – 2,54 sejumlah 10 orang, skala nilai 2,55 – 3,54 sejumlah 66 orang, sedangkan pada skala nilai 3,55 – 4,0 tidak ada.

 

c.Persentase ketuntasan belajar peserta pendidikan dan pelatihan 100 %.

 

d.    presentase keberhasilan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan sesuai dengan target sasaran mutu PPPPTK/VEDC Malang pada siklus 1 ini sejumlah 87 %.

 

2.    Refleksi : dengan cara membandingkan proses Diklat pada siklus 1 dengan siklus 2 dan hasil Diklat pada siklus 1 dengan siklus 2.

 

 

 

NO

SIKLUS 1

SIKLUS 2

1

Tindakan

 

·     Peneliti menggunakan metode ceramah yang dipadu dengan metode kerja kelompok, diskusi, tanya jawab dan penugasan, namun belum menggunakan metode latihan

·      Peneliti telah menggunakan metode mengajar yang bervariasi yaitu ceramah, tanya jawab, kerja kelompok, diskusi, penugasan dan terutama latihan

2

Proses pendidikan dan pelatihan

 

·     Peserta aktif secara berkelompok

·     Dinamika kelompok tinggi

·     Keaktifan peserta belum optimal masih ada yang tidak ikutserta dalam kegiatan diskusi.

·     Banyak peserta pendidikan dan pelatihan aktif

·     Setiap orang aktif dalam kegiatan interaksi kelompok

·     Dinamika kelompok yang sangat tinggi

·     Setiap individu menjadi berkontribusi terhadap hasil karena penerap kegiatan latihan

·     Frekuensi kerja kelompok sebanyak 3 kali

3

Hasil pendidikan dan pelatihan

 

·      Kondisi nilai terendah 2.00 dan tertinggi 3,00 sedangkan nilai rata-rata 2,48

·      76 orang dari 76 mencapai nilai ketuntasan belajar (setara dengan 100 %)

·      Presentase ketuntasan belajar mencapai 32 %

·      Keberhasilan pelaksanaan Diklat sesuai dengan sasaran mutu 32 %

·     Kondisi nilai terendah 2,20 dan tertinggi 3,40 sedangkan nilai rata-rata 2,73

·     Mencapai nilai ketuntasan belajar 100 %

·     Terjadi peningkatan prestasi belajar dari hasil nilai akhir formatif pada siklus 2.

·     Peningkatan nilai rata-rata sebesar 10 %

·     Keberhasilan pelaksanaan Diklat 87 % (kenaikan 55% dari 32 % ke 87 %)

·     Terjadi peningkatan prestasi belajar yang berarti dari hasil nilai akhir formatif pada siklus 2

 

 

 

Pembahasan

 

Menggunakan analisis deskripsi komporatif dengan cara membandingkan antara kondisi awal, siklus 1 dan siklus 2.

 

1.  Tindakan pendidikan dan pelatihan

 

KONDISI AWAL

SIKLUS 1

SIKLUS 2

·     Pengajar (peneliti) belum menggunakan metode mengajar yang bervariasi


 

·      Peneliti dalam menyampaikan pemahaman ke peserta Diklat telah menggunakan metode mengajar yang bervariasi yaitu ceramah, tanya jawab, kerja kelompok, diskusi, dan penugasan

Peneliti dalam menyampaikan pemahaman ke peserta Diklat telah menggunakan metode mengajar yang bervariasi yaitu ceramah, tanya jawab, kerja kelompok (ada kelompok kecil dan besar), diskusi, penugasan dan terutama latihan

 

 

2.  Proses pendidikan dan pelatihan

 

 

 

KONDISI AWAL

SIKLUS 1

SIKLUS 2

·      Peserta nampak pasif dan cenderung diam sebagai pendengan pasif.

·      Peserta cenderung mengantuk


 

·      Sudah banyak peserta pendidikan dan pelatihan yang memperlihatkan keaktifannya.

·      Setiap orang berkontribusi terhadap keaktifan kelompok.

·      Banyak peserta pendidikan dan pelatihan aktif

·      Setiap orang aktif dalam setiap kegiatan interaksi kelompok

·      Dinamika kelompok yang sangat tinggi.

·       

·      Terjadi dinamika kelompok yang tinggi.

·      Frekuensi kerja kelompok 1 kali

·      Setiap individu menjadi berkontribusi terhadap hasil karena penerapan kegiatan latihan

·      Frekuensi kerja kelompok 3 kali

 

 

 

3.  Hasil pendidikan dan pelatihan

 

 

 

KONDISI AWAL

SIKLUS 1

SIKLUS 2

·      Kondisi nilai terendah 1.40 dan tertinggi 2,30 sedangkan nilai rata-rata 2,17

·     46 orang mencapai nilai ketuntasan minimal (setara dengan 39,47 %)

·      Keberhasilan pelaksanaan Diklat 0 % (dari hasil tes awal tidak ada yang mencapai kualifikasi Baik)

·     Kondisi nilai terendah 2.00 dan tertinggi 3,00 sedangkan nilai rata-rata 2,48

·     76orang dari 76 mencapai nilai ketuntasan belajar (setara dengan 100 %)

·     Peningkatan nilai rata-rata sebesar 0.31

·     Peningkatan ketuntasan Diklat sebesar 32 %.

·     Keberhasilan pelaksanaan Diklat 32 %

·     Peningkatan keberhasilan Diklat 32 % (dari 0 % ke 32 %)

·     Terjadi peningkatan prestasi belajar dari hasil nilai akhir formatif pada siklus 1.

·     Kondisi nilai terendah 2,20 dan tertinggi 3,40 sedangkan nilai rata-rata 2,73

·     Seluruh peserta pendidikan dan pelatihan mencapai nilai ketuntasan belajar 100 %

·     Terjadi peningkatan prestasi belajar dari hasil nilai akhir formatif pada siklus 2.

·     Peningkatan nilai rata-rata sebesar 10.08 %

·     Keberhasilan pelaksanaan Diklat 87 %

·     Kenaikan keberhasilan Diklat 55% (dari 32 % ke 87 %)

 

 

 

Hasil Penelitian

 

Bila dilihat dari kondisi awal peserta, siklus 1 dan siklus 2 maka terjadi peningkatan hasil belajar peserta melalui pengkajian data nilai rata-rata (2.17, 2.48, 2.73), ketuntasan hasil belajar (39,47 % - 100 % - 100 %), frekuensi (lihat tabel 4.5. dan 4.8) dan keberhasilan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan (0 % - 32 % - 87 %)

 

PENUTUP

 

Kesimpulan

 

1.    Dampak positif terhadap peningkatan hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan yang antara lain ditandai dengan:

 

a.      Ketuntasan belajar pada:

 

1)                              kondisi awal sebesar 39.47 %

 

2)                              siklus 1 sebesar 100 %

 

3)                              siklus 2 sebesar 100 %

 

b.      Nilai rata-rata pada kondisi awal adalah 2.17; nilai rata-rata siklus 1 adalah 2,48; nilai rata-rata siklus 2 adalah 2,73)

 

c.      Tingkat keberhasilan pendidikan dan pelatihan bila dibandingkan dengan sasaran mutu PPPPTK/VEDC Malang antara lain: pada kondisi awal adalah 0 %, pada siklus 1 adalah 32 %, sedangkan pada siklus 2 adalah 87 %.

 

2.    Penggunaan metode mengajar yang bervariasi (ceramah, Tanya Jawab, Kerja Kelompok, Diskusi, Penugasan, dan Latihan atau Dril) memiliki pengaruh yang positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi peserta pendidikan dan pelatihan.

 

3.    Berdasarkan data empirik maka hipotesis tindakan yang menyatakan melalui penggunaan metode mengajar yang bervariasi dapat meningkatkan hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 yang diselenggarakan oleh PPPPTK bidang Otomotif dan Elektronika Malang bertempat di SMK Negeri 2 Bondowoso diterima.

 

Saran

 

  1. Bagi peserta pendidikan dan pelatihan

 

a.    Untuk melaksanakan kegiatan interaksi secara aktif dan lebih proaktif untuk menciptakan dinamika kelompok yang tinggi.

 

b.    Aktivitas yang tinggi dimaksudkan untuk mendinamikakan kelompok dalam berinteraksi, sehingga motivasi belajar dan bersaing dalam kelompok menjadi tercipta.

 

  1. Bagi sekolah asal peserta pendidikan dan pelatihan

 

a.    Mendapatkan kontribusi kompetensi melalui peserta yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekolah.

 

b.    Dapat memeberikan masukan yang berarti dalam persiapan dan pengelolaan dokumen maupun rekaman di sekolah.

 

 

  1. Bagi PPPPTK/VEDC Malang

 

a.    Mendapatkan kontribusi kompetensi widyaiswara sebagai bagian dari upaya pengembangan sumber daya manusia.

 

b.    Mendapatkan pengalaman yang dapat disebarluaskan bagi pemanfaatan pendidikan dan pelatihan, disamping itu kredibiltas meningkat.

 

c.    Lebih aktif untuk mengontrol dan melaksanakan tindakan penelitian Diklat sekontinyu dan seajeg mungkin.

 

d.    Merencanakan program penelitian tindakan Diklat secara rutin.

 

 Bagi pengajar dan peneliti

 

a.    Untuk mengembangkan diri agar mendapatkan mutu dan dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan diri.

 

b.    Mendapatkan pengalaman belajar dalam menghadapi segala karakter situasi interaksi dalam mendewasakan diri.

 

c.    Diperlukan adanya penelitian tindakan Diklat lebih lanjut.

 

d.    Dalam menghasilkan keberhasilan belajar peserta pendidikan dan pelatihan dapat menggunakan metode mengajar yang bervariasi.

 

 DAFTAR KEPUSTAKAAN

 

Astu, Mundiatun, Fatmawati. 1996. Metode Kerja Kelompok. PPPGT/VEDC Malang.

 

Ahmad Rohani, Abu Ahmadi. 1995. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta. Rineka Cipta.

 

Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung. Sinar Baru Algesindon.

 

Daryanto, Mundiatun, Suryanto. 1995. Metode Latihan. PPPGT/VEDC Malang.

 

Hartono. 31 Januari 07. Strategi Pembelajaran Active Learning. Situs Pendidikan - The education articles archieve box. http://edu-articles.com

 

I Wayan Dasna, Ach. Fatchan. 2007. Penelitian Tindakan Kelas dan Karya Ilmiah. Malang. Pusat Penelitian Pendidikan, Lembaga Pendidikan – Universitas Negeri Malang.

 

Idama, Tutik, Fatmawati. 1995. Metode Tanya Jawab. PPPGT/VEDC Malang

 

Jusuf Djajadisastra. 1985. Metode-Metode Mengajar 1. Bandung. Penerbit Angkasa.

 

Jusuf Djajadisastra. 1985. Metode-Metode Mengajar 2. Bandung. Penerbit Angkasa.

 

Nasution. 1986. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Bandung. Jemmars.

 

Ngalim Purwanto. 1987. Ilmu Pendidikan. Teori dan Praktis. Bandung. Remaja Karya.

 

Pepak. 2000. Prinsip Dasar Dalam Metode Mengajar. http://pepak.sabda.org.

 

Pasaribu & Simanjuntak. 1986. Didaktik Metodik. Bandung. Tarsito.

 

Rostiyah. 1989. Didaktik Metodik. Bina Aksara. Jakarta.

 

Rustam, Mundilarto. 2004. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan Dan Ketenagaan Perguruan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.

 

Soebagio Atmodiwirio. 2002. Manajemen Pelatihan. Jakarta. PT Ardadizya Jaya.

 

Soedijarto. 1989. Menuju Pendidikan Nasional Yang Relevan Dan Bermutu. (Kumpulan tulisan tentang pemikiran dan usaha meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan nasional). Jakarta. Balai Pustaka.

 

Sukmadinata, NS. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

 

Suryanto, Daryanto, Tutik. 1995. Metode Diskusi. PPPGT/VEDC Malang

 

Syaiful Bahri Djamarah. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta. Rineka Cipta.

 

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka.

 

Tutik, Astu, Idama. 1995. Metode Ceramah. PPPGT/VEDC Malang.

 

Winarno Surakhmad. 1986. Pengantar Interaksi Mengajar –p Belajar. Dasar dan Teknik Metodologi Pengajaran. Bandung. Tarsito.

 

Wiraadmadja, R. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung.. PT Kenanga Rosedakarya..

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG