Cara Pembengkokan Pada Proses Pengolahan Kursi Rotan

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Thursday, 07 May 2015 Published Date Written by cahyo

CARA PEMBENGKOKAN  PADA PROSES PEMBUATAN KURSI ROTAN 

Cahyo Kuncoro, Widyaiswara PPPPTK BOE Malang

 

Abstraksi

          Rotan merupakan hasil hutan non kayu yang mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi dan dapat digunakan hampir disemua segi kehidupan manusia, tetapi lebih dikenal secara umum digunakan untuk mebel atau furniture. Rotan merupakan bahan  baku dalam pembuatan produk mebel yang  masih digemari  oleh masyarakat  luas.  Salah satunya berupa kursi yang  digunakan sebagai fasilitas tempat duduk. Hal tersebut didasari oleh keunggulan bahan baku rotan yang  mudah dibentuk  dan dilengkungkan atau dibengkokkan. Penggunaan teknologi  dalam pengolahan rotan merupakan salah satu kunci berkembangnya industri furniture terutama  di  sebagian  pulau Jawa. Teknologi  yang  digunakan  pun menyesuaikan dengan sifat mekanis rotan.

          Salah satu penggunaan teknologi tersebut berupa teknik pelengkungan/bending rotan yang mampu menciptakan berbagai macam bentuk organis yang berkesan dinamis pada desain kursi rotan. Keunggulan bahan rotan pun menjadi  alasan mengapa  sampai  saat  ini  kursi berbahan rotan  tetap  digandrungi  oleh  peminatnya. Kelebihan  tersebut disebabkan oleh sifat rotan yang ringan, mampu menyerap pewarna dengan baik, serta elastis sehingga mudah dibentuk dan menghasilkan ragam desain yang sesuai dengan karakter tanaman tersebut.

 

Kata kunci: Rotan, Elastisitas, Teknik Pelengkungan, Kursi

 

PENDAHULUAN

Hutan Indonesia memiliki potensi hasil hutan bukan kayu yang cukup tinggi. Walaupun demikian, hasil hutan bukan kayu (HHBK) masih kurang optimal dimanfaatkan karena pengusahaan hutan selama ini cenderung terorientasi pada hasil hutan kayu. Penggunaan teknologi  dalam pengolahan kursi  merupakan bagian  dari  proses terciptanya bentuk yang sesuai dengan kebutuhan desain. Dalam hal ini, bahan baku yang  digunakan  dalam pengolahan adalah  rotan  dengan mengaplikasikan  teknologi sederhana  berupa sistem  bending. Teknik  ini  dilakukan untuk  mendapatkan bentuk lengkung yang maksimal. Kajian Sistem pelengkungan pada Proses Pengolahan Kursi Rotan di pulau Jawa ini muncul dengan alasan bahwa rotan sebagai bahan alam yang memiliki sifat elastisitas tinggi memiliki kemampuan untuk dapat menahan tekanan tertentu dengan perlakuan pelengkungan guna menciptakan variasi bentuk pada komponen kursi rotan yang berasal dari kawasan pulau Jawa, proses  pembengkokan rotan  dapat disampaikan  dengan pemaparan  yang  mudah dipahami.

Tujuan  yang  hendak  dicapai  melalui  penulisan  ini  adalah  bagaimana proses berlangsungnya dimulai  dari  pengolahan  rotan  mentah  sampai  menjadi  bahan  baku  siap  pakai  yang dimanfaatkan oleh pengrajin maupun disainer untuk dijadikan sebuah produk pelengkap kebutuhan interior dalam kasus ini berupa kursi sebagai fasilitas duduk.

 

PEMBAHASAN

1.    Karakteristik Rotan

Rotan  berwarna  kuning  langsat  atau  kuning  keputih-putihan  kecuali  beberapa jenis  seperti  Rotan Semambu (coklat kuning)  dan Rotan Buyung  (kecoklat-coklatan). Rotan yang bagus memantulkan cahaya sehingga menimbulkan kilap. Kilap dan suram dapat memberikan  ciri  yang  khusus  dari  suatu jenis  rotan  serta dapat  menambah keindahan dari rotan tersebut. Kilap rotan tergantung pada struktur anatomi, kandungan zat ekstraktif, sudut datangnya sinar, kandungan air, lemak dan minyak. Makin tinggi kadar air maka makin suram, makin tinggi lemak dan minyak maka makin suram. Sifat khusus yang dimiliki rotan adalah ke-elastisitannya yang mampu menahan  gaya/tekanan tertentu. 

Karakter elastis tersebut yang menjadikan daya tarik rotan untuk dibuat berbagai macam produk kerajinan dan mebel. Karena rotan mempunyai sifat yang fleksibel, terdapat berbagai  macam  keuntungan dalam pengolahannya menjadi  sebuah  produk  furnitur.

Rotan dapat ditempel menggunakan lem dan dapat digabungkan dengan material lain dengan cara  dipaku. Rotan mempunyai beberapa kriteria  dari  segi  pengolahan, dari bahan mentah menjadi bahan yang siap diolah menjadi produk furnitur. Rotan mentah, masih mengandung air getah dan berwarna hijau atau kekuning-kuningan. Kemudian mengalami tahap penggorengan, penjemuran  dan pengeringan, maka  jenis  tersebut dikenal sebagai rotan asalan atau rotan Washed and Sulfure.

Di samping rotan asalan yang telah siap diolah menjadi produk kerajinan maupun furnitur, terdapat pula bagian-bagian lain dari tanaman rotan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan furnitur khususnya kursi. Bagian tersebut di antaranya adalah rotan bulat/ketam yang pada umumnya digunakan dalam pembuatan rangka furnitur.

Kemudian kulit rotan atau yang dikenal dengan peel sebagai bahan untuk berbagai jenis anyaman  dan seringkali  digunakan  untuk  bahan  pengikat.  Hati  rotan, untuk bahan berbagai perabotan keranjang serta tali pengikat. Dan yang terakhir berupa limbah kulit rotan sebagai keperluan industri pengisian jok kursi dan lainnya.

2.    Penggunaan Rotan Sebagai Bahan Baku Kursi

      Rotan dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan perabot rumah

tangga. Beberapa  di  antaranya berupa kursi, meja, dan perabot lainnya. Hanya terdapat beberapa  jenis  rotan  yang  dapat  dijadikan bahan  untuk  membuat kursi. Rotan telah dikenal sejak lama dan digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi perlengkapan hidup sehari-hari. Penggunaannya dikarenakan  karakteristik  rotan  yang  memiliki  tingkat keuletan serta kekokohan. Di samping itu, rotan mudah menyesuaikan bentuk dengan tingkat kerumitan desain yang tinggi. Hampir seluruh bagian rotan dapat digunakan baik sebagai konstruksi kursi, pengikat, maupun komponen desainnya.

 

3.    Proses Pengolahan Rotan

Proses pengolahan rotan batang setengah jadi adalah pengerjaan lanjutan dari rotan asalan menjadi barang setengah jadi yang siap digunakan untuk keperluan pembuatan barang, furniture atau perabot. Rotan yang dijadikan sebagai bahan baku industri produk jadi rotan adalah rotan yang yang telah melalui pengolahan. Kegiatan pengolahan adalah pengerjaan lanjutan dari rotan bulat (rotan asalan) menjadi barang setengah jadi dan barang jadi atau siap dipakai atau dijual. 

Tahapan pengolahan rotan ini sering juga disebut merunti yang prosesnya adalah sebagai berikut :

 

A.   PENGGORENGAN.

Bertujuan untuk menurunkan kadar air dan untuk mencegah terjadinya serangan jamur. Cara penggorengannya adalah potongan batang rotan diikat menjadi suatu bundelan, kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang berbentuk sedemikian rupa (pada bagian bawahnya terdapat tungku untuk memanaskan campuran solar dan minyak kelapa).

 

B.   PENGGOSOKAN DAN PENCUCIAN. 

Rotan yang telah digoreng, ditiriskan beberapa menit lalu digosok dengan kain perca (sabut kelapa) yang dicampur dengan serbuk gergaji dan tanah atau pasir, agar sisa kotoran terutama getah yang masih menempel pada kulit rotan dapat dilepaskan, sehingga kulit rotan menjadi bersih dan akan dihasilkan warna rotan yang berwarna cerah dan mengkilap.

 

 

 

 

 

C.   PENGERINGAN.

Pengeringan dilakukan dengan menjemur rotan pada panas matahari sampai kering dengan kadar air berkisar 15% – 19%. Pada rotan manau dan rotan semambu, menunjukkan bahwa lama pengeringan secara alami dari kedua jenis rotan tersebut berkisar 22 hari sampai 65,3 hari. Dalam tahap ini rotan sudah dapat dipergunakan sebagai bahan baku dengan istilah rotan asalan. Akan tetapi kebanyakan rotan jenis batang  cane diproses untuk dipoles dengan menghilangkan kulit luarnya dan menyeragamkan ukuran.

 

 

 

D.   PENGUPASAN DAN PEMOLESAN.

     Pengupasan dan pemolisan umumnya dilakukan pada rotan batang pada keadaan kering,      dengan menggunakan alat poles berupa kain amplas berbentuk selendang  yang                      berputar gunanya adalah untuk menghilangan kulit rotan tersebut, sehingga diameter dan         warna menjadi lebih seragam dan merata.

 

E.   PENGAWETAN.

    Proses perlakuan kimia atau fisis terhadap rotan yang bertujuan meningkatkan masa pakai rotan merupakan hal yang terjadi saat pengawetan rotan. Selain berfugsi untuk mencegah atau memperkecil kerusakan rotan akibat oganisme perusak, juga memperpanjang umur pakai rotan. Bahan pengawet yang digunakan harus bersifat racun terhadap organisme perusak (pada rotan basah maupun rotan kering), permanen dalam rotan, aman dalam pengangkutan dan penggunaannya, tidak bersifat korosif, tersedia dalam jumlah banyak dan murah. Serangan bubuk rotan dapat dikenal karena adanya tepung halus bekas gerekan bubuk tersebut. Serangga ini paling banyak ditemukan menyerang rotan antara lain Dinoderus minutus Farb., Heterobostrychus aequalis Wat., dan Minthea sp.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

F.  PELURUSAN . 

Dilakukan dengan menekuk rotan pada dua buah tonggak agar batang rotan menjadi lurus dan mudah untuk disusun atau diikat dalam satu bendel ikatan yang siap untuk didistribusikan.

 

 

 

 

 

 

 

       4.    Proses Pelengkungan Rotan

 

Pada tahap ini, rotan mengalami proses pelengkungan sesuai dengan kebutuhan yang  diinginkan. Pembengkokan dilakukan menggunakan  bantuan  panas  dengan di steam terlebih dahulu. Kemudian setelah tercapai waktu pemanasan selama 1-2 jam, rotan  dilengkungkan menggunakan  catok  sesuai  dengan  bentuk  yang dikehendaki. Setelah dilengkungkan, rotan  didiamkan  sampai  dingin dengan diberi  penahan agar bentuk lengkungannya tidak berubah.

Pelengkungan rotan dapat  dilakukan  dengan cara  dipanaskan menggunakan kompor semprot.  Jika menggunakan  teknik  ini, rotan  yang  dipanaskan tidak  boleh sampai gosong. Teknik ini menggunakan drum yang diisi air sekitar 2/3 bagiannya dan menutup  lubang  keluarnya  uap pada drum. Kemudian kompor dinyalakan untuk memanaskan air dalam drum sampai mendidih dan uap air disalurkan melalui selang pada tabung berdiameter sekitar 30-35 cm dengan panjang 3-3,5 m. Setelah mendidih dan panas,  tabung  kemudian  diisi rotan dan dibiarkan kurang  lebih selama  satu jam sampai rotan menjadi lentur dan siap untuk dilengkungkan.

Namun  kini, para  pelaku  industri  olahan  rotan  berskala menengah ke atas

menggunakan teknik pemanasan rotan dengan bantuan gelombang micro. Hal tersebut  dilakukan untuk  menghindari  terjadinya  retak atau  cacat pada potongan  rotan. Gelombang  mikro  berupa  gelombang  elektromagnetik  yang  berukuran sangat kecil dengan frekuensi antara  300  MHz dan 300  GHz.  Rotan yang  mengalami proses pemanasan  menggunakan  gelombang  mikro  dimasukkan  pada  wadah berupa oven.

 

5.                                5. Kursi Rotan

    Pemilihan rotan sebagai bahan pembuatan furnitur kursi merupakan solusi dari kekurangan yang  dimiliki  oleh bahan  kayu maupun besi.  Rotan memiliki berat yang ringan sehingga  mudah  untuk  dipindahkan.  Sifat rotan  yang  kuat dan tahan lama menjadikannya banyak  digemari  oleh  masyarakat. Kekerasan/elastisitas  rotan membuatnya mudah untuk  dibentuk  sehingga  produk rotan  memiliki  banyak perkembangan bentuk.  Rotan dapat menyerap pewarna  dengan  baik  namun tetap memunculkan karakternya. Cocok digunakan pada negara yang beriklim tropis karena rotan memiliki sifat menyerap dingin. Berbeda hal nya dengan bahan kayu dan besi yang berat. Maka tak heran bahwa furnitur terutama kursi yang terbuat dari bahan rotan lebih dipilih dan disukai. Dari beberapa jenis kursi rotan yang ditemui di industri olahan rotan di Jawa, desainnya  memiliki  motif  yang menarik,  berbeda dari pola  anyaman  rotan pada umumnya. Dengan  cara menyusun hati  rotan  secara  vertikal, horisontal, diagonal, organis ataupun melingkar. Maka terciptalah pola atau motif rotan yang memiliki nilai estetik, sehingga produk furnitur berupa berbagai macam kursi yang dibuat oleh perajin di  pulau Jawa  memiliki tempat  dihati  konsumen manca negara.  Tidak  kalah  pentingnya adalah  peran desainer yang  menjadi  inspirasi  bagi  para  perajin furnitur kursi  rotan di Jawa. Dengan memproduksi kursi hasil rancangannya di kawasan sentra industri rotan di pulau Jawa, secara  langsung  mampu mengangkat  daerah tersebut  dengan segala potensinya untuk tampil dikancah industri furnitur rotan nasional maupun internasional.

Pemilihan rotan sebagai bahan pembuatan furnitur kursi merupakan solusi dari kekurangan yang  dimiliki  oleh bahan  kayu maupun besi.  Rotan memiliki berat yang ringan sehingga  mudah  untuk  dipindahkan. Sifat rotan  yang  kuat dan tahan lama menjadikannya banyak  digemari  oleh  masyarakat. Kekerasan/elastisitas  rotan membuatnya mudah untuk  dibentuk  sehingga  produk rotan  memiliki  banyak perkembangan bentuk.  Rotan dapat menyerap pewarna  dengan  baik  namun tetap memunculkan karakternya. Cocok digunakan pada negara yang beriklim tropis karena rotan memiliki sifat menyerap dingin. Berbeda hal nya dengan bahan kayu dan besi yang berat. Maka tak heran bahwa furnitur terutama kursi yang terbuat dari bahan rotan lebih dipilih dan disukai.

Dari beberapa jenis kursi rotan yang ditemui di industri olahan rotan di Jawa, desainnya  memiliki  motif  yang menarik,  berbeda dari pola  anyaman  rotan pada umumnya. Dengan  cara menyusun hati  rotan  secara  vertikal, horisontal, diagonal, organis ataupun melingkar. Maka terciptalah pola atau motif rotan yang memiliki nilai estetika, sehingga produk furnitur berupa berbagai macam kursi yang dibuat oleh perajin di  Jawa  memiliki tempat  dihati  konsumen mancanegara.  Tidak  kalah  pentingnya adalah  peran desainer yang  menjadi  inspirasi  bagi  para  perajin furnitur kursi  rotan di Jawa. Dengan memproduksi kursi hasil rancangannya di kawasan sentra industri rotan di Jawa, secara  langsung  mampu mengangkat  daerah tersebut  dengan segala potensinya untuk tampil dikancah industri furnitur rotan nasional maupun internasional.

Terlepas dari keunggulan kursi rotan pada umumnya, kursi rotan yang diproduksi di  beberapa  kawasan  industri  olahan rotan  di  Jawa  memiliki  keunggulan  yang menjadikannya laris  di  pasar Eropa.  Keunggulan  tersebut  di  antaranya  adalah desain yang  simpel  berkesan natural  namun up  to date menyesuaikan  dengan tren  yang berkembang.  Penggunaan cara pembengkokan dapat menghasilkan  keleluasaan  bentuk yang sesuau dengan keinginan.

Proses finishing pun menampilkan warna-warna yang lebih bervariasi, sehingga kesan kuno furnitur rotan dapat ter-kamuflase-kan. Gaya nya pun dapat disesuaikan dengan desain interior agar terlihat memiliki kesatuan dan terpenuhinya elemen-elemen desain. Sehingga  furniture rotan dapat membuat gaya yang sesuai dengan tempat di mana ia diletakan. Dari gaya etnik yang berkesan kuno sampai desain furnitur kontemporer.

Di samping hal tersebut, proses pembuatan kursi dengan melengkungkan rotan sesuai  desain yang  dikehendaki  menjadikan kursi  rotan  tidak  terlihat kaku.  Finishing yang detail, halus dan menggunakan bahan yang aman merupakan poin penting dari populernya furniture kursi  rotan  di Jawa. Finishing yang  halus terbukti  mampu memperhatikan kenyamanan pengguna. Karena di samping harus memiliki nilai estetika yang tinggi, kursi berbahan rotan pun harus memenuhi syarat kenyamanan baik secara ergonomi maupun penggunaan bahan finishing yang berkualitas tinggi.

 

KESIMPULAN

 1. Rotan memiliki  berat yang  ringan, kekerasan atau elastisitasnya  rotan  menunjukkan              bahwa bahan ini mampu menahan gaya tertentu sehingga mudah untuk dilengkungkan.

 2. Karakter rotan  lainnya menjadikan rotan sebagai  bahan pengganti  kayu  dalam                      pembuatan kursi.

 3. Teknik pelengkungan atau bending rotan merupakan salah satu cara yang sudah ada              sejak lama  digunakan  untuk  membuat komponen-komponen  melengkung pada perabot      rumah tangga  terutama  kursi pada industri mebel  di  kawasan sekitar Jawa.

3.                    4. Dengan penggunaan teknologi tersebut, bentuk yang dihasilkan akan terkesan dinamis.                 Pada  pumumnya  teknik  pelengkungan rotan  dapat  menggunakan  bantuan panas.

4.                  5. Tingkat ke elastisitasan  rotan  dapat  mencapai  kelengkungan yang  maksimal sampai                membentuk  lingkaran. Keunggulan ini  lah yang  membuat  kursi  rotan di Jawa                                memiliki  desain yang  menarik  dan bernilai  lebih. Di  samping  hal  tersebut,                                  finishing secara detail dengan memberikan warna yang variatif, dapat menunjang desain               kursi.

 

 

Daftar Perpustakaan

http://rattanwikipedia.blogspot.com/

https://bamboeindonesia.files.wordpress.com/2012/06/teknologi-budidaya-rotan-dan-bambu.pdf

http://pustekolah.org/data_content/attachment/PELENGKUNGAN ROTAN_DENGAN_GELOMBANG_MIKRO.pdf.

 

https://jualfurniturerotan.files.wordpress.com/2014/04/kursi-tamu-blimbing-1.jpg

 

http://noerdblog.wordpress.com/2011/11/23/alasan-konsumen-membeli-mebel-kursi-rotan/.

 

https://noerdblog.wordpress.com/2011/06/20/pengolahan-rotan/

 

International Network for Bamboo and Rattan. Transfer of Technology Model, Rattan Furniture Making Unit

http://jubilee101.com/subscription/pdf/Furniture/Rattan-Furniture-Making---10pages.pdf

 

Iyus Kusnaedi, Ajeng Sekar Pramudita, Sistem Bending Pada Proses Pengolahan Kursi Rotan Cirebon, Jurnal Rekajiva 1, Desain Interior Itenas, No. 02, Vol.01, Januari 2013.

 

     Krisdianto dan Jasni (2006): Pelengkungan dalam Industri Pengolahan Rotan. Info Hasil Hutan. Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor [PDF].