Analisis Produktifitas Tukang Kayu Dalam Membuat Daun Pintu Panil

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Monday, 20 April 2015 Published Date Written by Hery Tarno

ANALISIS PRODUKTIFITAS tukang kayu dalam membuat daun PINTU PANIL

Oleh : Drs. Hery Tarno, Dipl. HBT, MT

Widyaiswara Madya, PPPPTK BOE Malang

 

 

 

Abstract :

Productivity is one of factors, which influences the progress of work assumed that if the work is executed quicker or that if the work is executed as planed; hence it represents a positive indication to the contractor. A fabrication method becomes more effective because of complete equipments, work atmospheres and good process controls.In this study, researchers wanted to know the productivity model of the door manufacture. Primary data was drawn from observations at 52 workshops and, 99 respondents. Factor analysis resulted three factors as follows: personal factor (F.1); age, experience and family responsibility variables, competence factor (F.2); ability and skill variables and management factor (F.3); material and observation variables. The productivity model of door producing was productivity = 1,350 - 0,261 personal + 0,045 competence + 0,051 management. Minus score on the personal factors indicate if other factors are assumed to zero, then any increase in the unit of private factors will reduce the productivity.

 

Keyword: Productivity Model, Factor analysis

 

 

Pendahuluan

Produktivitas adalah salah faktor yang mempengaruhi kemajuan pekerjaan di lapangan, yang dapat diasumsikan bahwa apabila pekerjaan dilaksanakan lebih cepat atau sesuai dengan skedul rencana, maka hal itu berarti indikasi positif bagi kontraktor.  Peningkatan produktifitas akan mengurangi waktu kerja, yang berarti akan dapat mereduksi biaya teaga kerja (Labor-Cost).

Produktivitas dalam ekonomi mengacu pada pengukuran keluaran dari proses produksi, setiap unit masukan. Produktivitas tenaga kerja, sebagai contoh, adalah di ukur secara tipikal yang  merupakan perbandingan antara keluaran (output) setiap jam pekerja sebagai masukan (input), sehingga dapat dipahami sebagai  suatu ukuran menyangkut efisiensi produksi rancangan bangunan  atau teknis.

Analisa Harga Satuan Pekerjaan (SNI) mengekspresiakan bentuk produktifitas melalui koefisien-koefisien yang mencerminkan nilai produktifitas tenaga kerja, yang  secara implisit terkandung nilai keuntungan perusahaan pada jenis pekerjaan tersebut. Untuk itu tingkat keuntungan bagi kontraktor tergantung seberapa efektif dan efisien perusahaan mengoptimalkan sumber dayanya dan memerlukantingkat produktifitas yang tinggi guna memperoleh dan meningkatkan keuntungan perusahaan.

Pada proyek capital pembangunan industri, biaya tenaga kerja mencapai 20 – 30% dari total biaya proyek, sehingga mengelola penggunaan tenaga kerja secara tepat merupakan salah satu “Lingkup Kerja” yang sangat penting bagi pimpinan proyek. Salah satu faktor yang sangat penting dalam mengelola penggunaan tenaga kerja adalah pengertian mengenai produktivitas tenaga kerja dan mengidentifikasi factor-faktor yang mempengaruhinya (Suharto, 1990).

 

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produktifitas tukang kayu dan mendifinisikan model produktifitas pembuatan daun pintu kayu pada bengkel home industri kayu konstruksi di Kota Malang

 

METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode survey dan dilakukan sesuai dengan bagan alir di bawah.

Data primer hasil observasi maupun hasil kuesioner adalah merupakan data  metrik.  Analisa dekriptif yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang obyek yang akan diteliti yaitu tentang responden, bengkel kayu konstruksi dan hasil kuesioner, dan dalam statitisk inferensial berfungsi sebagai data primer dalam analisis faktor maupun analisis regresi berganda. Melihat kondisi riil pada bengkel kayu konstruksi home industry di  lapangan, peneliti telah mengamati dengan seksama faktor-faktor yang secara simultan mempengaruhi produktivitas tukang sebagai variabel bebas  dan sebagi variabel terikat adalah produktivitas. Sebagai variabel bebas yang merupakan hasil observasi adalah : Umur , pendidikan, pengalaman, tanggungan, peralatan, dan kondisi bengkel. Sedangkan data primer yang merupakan hasil kuesioner adalah : Kemampuan, ketrampilan, penghargaan, pengawasan, hubungan, bahan/material dan  K-3.


Skala pengukuran dalam teknik wawancara dan kuesioner dalam penelitian ini digunakan skala Likert pada kuesioner yang diisi oleh responden atau pewawancara pada bahan wawancara. Untuk menghindari timbulnya kecenderungan menjawab dibagian tengah (central tendency effect), maka digunakan modifikasi skala Likert dengan interval 4 alternatif jawaban. (Hadi, 1990).

 

Dari tiga belas variabel yang diperhitungkan mempengaruhi produktivitas akan direduksi menjadi beberapa faktor yang memuat sebagian besar informasi yang terkandung dalam variable asli dengan metode Principal Component Analysis dengan memperhitungkan varian maksimum dalam data untuk dipergunakan di dalam analisis multivariate selanjutnya.

Fi = W12 X1 +   W12 X2 +   …… +  Wij Xi + ……+ W1p Xp

F2 = W21 X1 +   W22 X2 +   …… +  W2j Xi + ……+ W2p Xp

………..

 Fi = Wi1 X1 +   Wi2 X2 +   …… +  Wij Xj + ……+ Wip Xp

…………

 Fim = Wm1 X1 +   Wm2 X2 +  .… +  Wmj Xj + ……+ Wmp Xp   

Suatu asumsi dalam analisis regresi berganda adalah bahwa antar variable bebas (prediktor) tidak boleh saling berkolerasi. Jika terdapat korelasi antar variable (multikolinier), maka taksiran parameter model menjadi tidak tepat.

Suatu model regresi linear berganda dapat ditulis sebagai berikut :

  Y = Bo + B1X1 + B2X2 + B3X3 +… + BjXj+…+BKXK+ ε

HASIL

Prosentase tertinggi tukang kayu konstruksi pada Home Industri sebagai responden  berumur antara 22 – 26 tahun berjumlah 22.60 %. Dari tabel  ini terlihat bahwa mayoritas tukang dalam usia yang produktif, yang mempunyai kekuatan fisik yang optimal.

45.20% responden berpendidikan SLTP, yang memiliki tingkat pendidikan SLTA sebanyak 45 responden atau 29%, sedangkan 40 responden atau sebesar 25.80% adalah merupakan lulusan SD.

25.80 % atau 40 responden telah mempunyai pengalaman sebagai tukang kayu konstruksi antara 4.00 – 7,90 tahun. Sebaliknya yang berpengalaman lebih dari 27.90 tahun sangat sedikit, yaitu sebanyak 0.60 %.

Rata-rata responden menyatakan bahwa telah mempunyai beban hidup yang harus ditanggung, baik karena sudah berkeluarga dan mempunyai anak sebanyak 28,40 % atau 44 responden mempunyai tanggunan tiga orang.

Skor rasio peralatan terhadap tukang terbesar adalah antara 2.00 – 2.90, yaitu sebesar 34,60%, yang berarti seorang tukang senantiasa dilayani oleh 2 sampai dengan 3 peralatan kayu elektrik portabel. Sehingga semakin tinggi angka rasio peralatan maka asumsinya semakin tinggi tingkat produktifitasnya.

Luas area kerja per orang dalam bengkel  terbanyak adalah sebesar 40,40 % atau sebanyak 21 bengkel mempunyai luas area kerja per orang antara 10.00  - 19.90 m2.

Dari data primer diketahui bahwa bengkel kayu sebanyak 25 bengkel atau 48,00 % mempunyai ruang setinggi antara 4,00 – 4,90 meter.

Kerataan, kualitas dan kenyamanan lantai tempat kerja dimungkinkan akan mempengaruhi lingkungan kerja. 46,20% atau 24 bengkel mempunyai jenis lantai yang diplester. Secara visual lantai yang diplester akan meningkatkan motivasi dan seringkali kerataan lantai bengkel digunakan untuk

44,20% atau 23 bengkel telah berdinding batu bata meskipun tidak diplester dan dicat. Bengkel lainnya rata-rata menggunakan papan, seng, bambu, triplek dll. yang terkesan non permanen.

 

Observasi langsung dalam bengkel tentang produktifitas tukang sebagai variabel terikat dalam analisis regresi, ditunjukkan pada gambar 5 di bawah tentang produktifitas masing-masing responden. Produktifitas rata-rata dalam membuat daun pintu panil adalah 1,1315 m2 per hari dengan standar deviasi 0,0751 , seperti digambarkan pada grafik di bawah.


Pada grafik di samping menunjukkan produktifitas pembuatan daun pintu panil. Sumbu-X adalah responden dan sumbu-Y menunjukkan produktifitasnya m2 per hari

Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat empat faktor hasil ekstraksi sebagai variabel bebas yang mempengaruhi produktifitas tukang kayu  (Yp) dalam membuat daun pintu yaitu : faktor Personal (F.1), Kompetensi (F.2), dan Menejemen (F.3) sehingga  model regresi yang dapat digunakan untuk meramalkan produktifitas pembuatan daun pintu panil, menghasilkan model produktifitas :

Yp =  1,350 – 0,261 F.1 +  0,045 F.2  +  0,051 F.3          

Yang berarti :

Produktifitas = 1,350 - 0,261 SKOR PERSONAL + 0,045 SKOR KOMPETENSI + 0,051 SKOR MENEJEMEN

Perbandingan produktivitas pembuatan daun pintu panil antara SNI dengan Hasil Penelitian adalah   1,00  :  2,81

PEMBAHASAN

Model persamaan pembuatan daun pintu adalah :

Produktifitas = 1,350 - 0,261 SKOR PERSONAL + 0,045 SKOR KOMPETENSI + 0,051 SKOR MENEJEMEN

Konstanta 1,350 menunjukkan bahwa produktifitas tukang kayu dalam membuat daun pintu adalah bersifat konstan yaitu sebesar 1,350 m2 per hari, apabila variabel bebas sama dengan nol. Angka - 0,261 pada variabel personal menunjukkan bahwa apabila faktor-faktor lain yang mempengaruhi produktifitas dianggap nol, setiap kenaikan sebesar satu unit pada faktor personal, akan menurunkan produktifitas sebesar 0,261 m2 per hari. Diasumsikan dengan bertambahnya umur, maka kekuatan fisik semakin lemah. Pekerjaan tukang kayu konstruksi pada home industry ini senantiasa melakukan pekerjaan yang bersifat monoton, dengan demikian tidak dituntut untuk mempunyai pendidikan tinggi. Dengan bertambahnya umur dan lamanya pengalaman berakibat munculnya kejenuhan dan dapat berakibat turunnya produktifitas. Solusi yang mungkin dapat digunakan adalah dengan memberikan tanggungjawab yang lebih besar, misalnya diangkat sebagai kepala tukang atau kepala bengkel.

Koefisien 0,045 pada faktor kompetensi menyatakan bahwa apabila faktor-faktor lain yang mempengaruhi produktifitas dianggap tidak ada, maka setiap kenaikan satu unit faktor kompetensi menyebabkan kenaikan produktifitas sebesar 0,045 m3 per hari.

Apabila faktor personal dan faktor kompetensi dianggap tidak berpengaruh, maka setiap kenaikan satu unit faktor menejemen akan meningkatkan produktifitas tukang kayu dalam membuat daun pintu sebesar 0,051 m2 per hari. Semakin efektif menejemen pengawasan dan menejemen bahan/material bengkel, maka produktifitas tukang akan semakin meningkat.

Terdapat perbedaan cukup signifikan antara Standar Nasional Indonesia (SNI) 2001 dengan hasil penelitian, yaitu sebesar 1  :  2,81 

Kurva belajar. Jenis pekerjaan yang dilakukan yang relatif monoton menjadikan sarana belajar yang kontinyu dan pada akhirnya  mengurangi kesalahan pengerjaan.  Ketika tenaga kerja melakukan pekerjaan, maka kebutuhan menejerial dalam hal pengawasan berkurang, sisa bahan dapat dikurangi dan menjadi lebih efisien atau bahkan dihilangkan, dan produktifitas menjadi naik.

Peralatan. Dalam bengkel kayu jenis peralatan elektrik portabel maupun stasioner senantiasa digunakan dalam proses kerja. Jelas sekali bahwa peralatan memegang peranan penting dalam peningkatan kecepatan dan kualitas hasil kerja.

Menejemen bahan/material. Efisiensi karena tersedianya bahan yang cukup kering dan regulasi penggunaan.Pengawasan. Di lapangan, faktor pengawasan inilah yang menjadi kendala. Kurang profesionalnya pelaksana lapangan dan tidak efektifnya sistem pengawasan sangat portensial  terhadap rendahnya kuantitas dan kualitas hasil kerja. Berbeda dengan di bengkel kayu konstruksi, kepala bengkel yang biasanya sekaligus sebagai pemilik bengkel sangat peduli terhadap target penyelesaian pekerjaan dan kualitas hasilnya. Kontrol pelaksanaan yang kontinyu akan meningkatkan produktivitas tukang. Pengawasan adalah sebagai upaya yang sistematik dalam meningkatkan produktifitas dengan mengamati dan memantau aktifitas. Dengan kata lain mengurangi kesalahan dan penyimpangan dengan pengawasan yang kontinyu dan membandingkan dengan target penyelesaian yang telah ditetapkan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan analisa dan pembahasan , maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

·         Tiga faktor yang mempengaruhi produktifitas tukang kayu dalam membuat daun pintu panil adalah faktor personal (F.1), faktor kompetensi (F.2), dan faktor menejemen (F.3).

·         Model produktifitas pembuatan pembuatan daun pintu adalah :

Produktifitas   =   1,350 - 0,261 Skor Personal + 0,045 Skor Kompetensi + 0,051 Skor Menejemen

·         Perbandingan produktifitas pembuatan daun pintu antara SNI 2001 dengan  Hasil Penenelitian adalah  1,00 : 2,81

 

Saran

·         Bagi pemilik bengkel kayu konstruksi home industry dan tukang kayu yang lain.

·         Perlu meningkatkan kompetensi tukang kayu melalui training, karena peningkatan kompetensi tukang akan meningkatkan produktifitasnya.

·         Keterlibatan menejemen dalam pengawasan karyawan, pengaturan dan persediaan bahan/material diperlukan.

·         Perlunya motivasi bagi karyawan karena dengan bertambahnya umur, tingginya tingkat pendidikan, kebosanan sebagai tuang kayu dan tuntutan kehidupan keluarga justru menurunkan tingkat produktifitas.

·         Bagi para Akademisi

·         Melakukan penelitian tentang produktifitas dengan variabel yang lebih detail dan mencakup area regional maupun nasional.

 

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pengawasan Pembangunan Propinsi jawa Timur. 2004. Harga Satuan Pokok Kegiatan (HPSK), Surabaya, h.71

Dessler, G., 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Bahasa Indonesia Jilid I, Prenhallindo,

Kerzner, H., 2006. Project Management, Ninth Edition, John Wiley and Son, Inc., Hoboken, New Jersey.

Mangkunegara, A. P., 2006. Evaluasi Kinerja SDM, Edisi Kedua, Refika Aditama, Bandung.

Siagian, S. P., 2002. Kiat Meningkatkan Produktivitas kerja,Edisi Pertama Cetakan Pertama, Rineka Cipta, Jakarta.

Sedarmayanti, 2001. Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja, Mandar Maju, Bandung.

Sudriamunawar, H., 2006. Kepemimpinan, Peran Serta dan produktivitas, Mandar maju, Bandung.

Sinungan, M., 1995. Produktivitas : Apa dan Bagaimana, edisi Kedua Cetakan Kedua, Bumi Aksara, Jakarta.