BAGAIMANAKAH PENGARUH KELEMBABAN UDARA TERHADAP DAYA TAHAN FINISHING ?

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Wednesday, 22 April 2015 Published Date Written by singgihbudi sayogo

BAGAIMANAKAH  PENGARUH KELEMBABAN UDARA TERHADAP DAYA TAHAN FINISHING ?

Drs. Singgih Budi Sayogo, Widyaiswara Madya PPPPTK BOE Malang

 

ABSTRAKSI

         Pada umumnya masyarakat saat ini terhadap pengaruh lingkungan di sekitar kayu ternyata rata-rata berpandangan bahwa hanya suhu udara atau temperatur yang membuat MC (kadar air) kayu berubah. Udara panas yang akan menarik air di dalam kayu terlepas ke udara. Kondisi ini yang memang memiliki pengaruh paling besar.  Negara subtropis cenderung memiliki suhu udara lebih dingin tapi apabila kita ekspor produk furniture ke sana justru kontrol masalah MC (kadar air) harus lebih hati-hati. Udara di sekitar kita mengandung air yang berupa uap air, dan khususnya daerah tropis seperti Indonesia memiliki kelembaban udara yang cukup tinggi.

         Pada keadaan normal, kandungan air di udara masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan kandungan air di dalam kayu ketika masih basah sehingga pada saat kayu dikeringkan di dalam Kiln Dry (oven pengering kayu), masih terdapat ruang di udara untuk menampung uap air. Hal ini pula salah satu alasan mengapa sistem sirkulasi udara di dalam ruang pengeringan harus berjalan dengan baik.

         Ketika musim (turun) hujan kelembaban udara meningkat drastis dan hingga pada titik tertentu tidak lagi ada 'ruang' bagi uap air dari kayu. Apabila anda memiliki masalah proses pengeringan yang lebih lama pada saat musim hujan, bukan lain adalah karena masalah kelembaban udara. Pada kasus tertentu bahkan kayu yang telah dikeringkan pada level 14% ketika diletakkan di gudang penyimpanan yang lembab atau luar ruangan, level MC (kadar air) bisa beranjak naik ke level 18% bahkan 20%.

Kata Kunci : Pengaruh iklim, material bahan finishing, kadar air

 

Pendahuluan

Finishing adalah kegiataan untuk melaburkan berbagai  bahan-bahanfinishing (cat, pernis, stain) pada permukaan produk kayu untuk melindungi, memelihara penampilan dan memungkinkan permukaan untuk dibersihkan. Meskipun kayu dapat digunakan didalam maupun diluar ruangan tanpa di finishing, banyak permukaan kayu yang tidak di finishingbila terkena pengaruh cuaca akan berubah warna karena terjadi pencucian zat-zat ekstraktif, serangan jamur, dan menjadi kasar karena terkena sinar matahari dan pecah permukaan yang lambat laun akan terdegradasi (Feist 1982).

Penggunaan kayu sebagai bahan struktural maupun bahan perkakas rumah tangga (furniture) belum dapat tergantikan seluruhnya sampai sekarang. Kayu merupakan bahan hayati yang awet, meskipun ditanam dalam tanah, dipaparkan terhadap cuaca terbuka, atau disimpan dalam makam-makam kuno namun kayu dapat bertahan selama bertahun-tahun. Hal ini dapat dipertegas oleh banyaknya bangunan-bangunan peninggalan jaman dulu yang terbuat dari kayu masih bertahan sampai sekarang (Hoadley 2000). Selain kuat dan awet, kayu juga memiliki penampilan yang menarik dengan corak dan pola khas yang tidak dapat dijumpai pada bahan lain. Namun demikian, kayu yang terdiri dari bahan organik (selulosa, hemiselulosa, lignin, dan zat ekstraktif dapat terdegradasi oleh pengaruh lingkungan baik secara fisik karena perubahan kadar air yang terus-menerus maupun secara kimiawi karena pengaruh radiasi ultra violet (Kalnins dan Feist 1993). Kayu ditempatkan  di dalam atau di luar  ruangan membutuhkan perlindungan dari bahan kimia, panas.

 Salah satu cara untuk menjaga agar daya tahan kayu seperti kekuatan dan penampilanya tetap terpelihara adalah dengan mengaplikasikan bahan finishingke permukaan kayu. Produk-produk kayu (kayu gergajian, kayu lapis, papan serat, papan partikel, balok laminasi) dapat di finishing dengan berbagai bahan finishing kayu. Karakteristik hasil finishing dipengaruhi oleh substrat  kayu (pola serat, tekstur, warna, dan aspek kimia), sifat-sifat bahan finishing (kualitas & kuantitas), dan metode pelaburan (Williams 1999). Salah satu persyaratan untuk mendapatkan penampilan kayu yang memuaskan dari bahan finishing adalah sifat melekat bahan finishing yang baik pada permukaan kayu. Kemampuan kayu untuk mempertahankan bahan finishing dipengaruhi oleh karakteristik alami setiap jenis kayu (sifat anatomi, fisis, dan tahan lapisan finishing yang terbentuk dari dua jenis bahan kimia) dan tekstur permukaan (papan tangensial, papan radial).

Faktor-faktor alami kayu yang mempengaruhi hasil finishing sangat bervariasi, tidak hanya antar jenis tetapi juga pada satu pohon dari jenis yang sama. Kondisi struktur anatomi kayu menjadi penyebab pertama tekstur permukaan kayu (trakeida atau diameter vesel dan tebal dinding sel). Penyebab tekstur kedua adalah metode pemesinan kayu (bekas gigitan bilah gergaji pita atau pisau mesin ketam). Penyebab ketiga ditentukan oleh variasi dalam metoda pemesinan karena vibrasi, kesalahan setting dan mata gergaji yang tumpul, (Richter et al. 1995).

Tekstur permukaan kayu dapat berupa permukaan kasar hasil penggergajian (rough-sawn lumber) dan permukaan halus karena diserut (smooth-sawn lumber). Papan yang dihasilkan dari penggergajian gergaji pita tidak persis berupa papan radial (quarter sawn) ataupun papan tangensial (plain sawn), tetapi yang sering dihasilkan adalah kombinasi dari kedua jenis papan tersebut (bastard-sawn). Dengan memperhatikan kenyataan ini dan fakta bahwa Indonesia memiliki berbagai macam jenis kayu yang penampilan dan daya tahannya rendah, serta memiliki kondisi iklim yang mendukung terjadinya degradasi, maka perlu dilakukan penelitian khusunya daya tahan finishing eksterior terhadap pengaruh cuaca. Salah satu bahan finishing yang dapat membentuk lapisan tipis pada permukaan kayu adalah pernis (varnish). Penampilan alami corak kayu masih nampak jelas melalui penggunaan pernis transparan (clear vanishes). Namun pernis membutuhkan perawatan yang lebih sering untuk menjaga penampilan kayu, dan kemampuan lapisan pernis menolak air masih terbatas karena sinar ultra violet (UV) dapat menembus lapisan pernis secara perlahan.

Menurut Williams (1999) perubahan cuaca saat pemaparan dapat menyebabkan degradasi pada semua bahan organik termasuk bahan finishing yang terdiri dari polimer organik, yang diakibatkan oleh adanya perubahan kelembaban (relative humidity) yang cepat dan radiasi ultra violet pada permukaan kayu. Beberapa hasil penelitian yang dirangkum oleh Feist (1982) menunjukkan bahwa lapisan finishing berupa pernis mulai mengalami kerusakan setelah dipaparkan pada cuaca terbuka selama satu tahun pada kondisi pemaparan yang ekstrim, dan untuk mempertahankan fungsi perlindungan lapisan finishing tersebut maka harus dilakukan kegiatan finishing ulang.

 

Pembahasan

1.      Pengaruh Kondisi Permukaan terhadap Daya Tahan LapisanFinishing

Rata-rata rating daya tahan lapisan finishing terhadap cacat mikroba dan retak untuk kayu diketam dan tidak diketam mengindikasikan bahwa rating daya tahan terhadap cacat mikroba maupun terhadap cacat retak untuk kayu yang diketam sedikit lebih baik dibandingkan dengan kayu yang tidak diketam. Semakin besar cacat retak pada lapisan finishing maka akan mengakibatkan mikroba dapat tumbuh dan berkembang lebih cepat menembus ke permukaan kayu. Adanya kecenderungan bahwa daya tahan lapisan finishing kayu yang diketam lebih baik dibandingkan lapisan kayu tidak diketam dapat disebabkan oleh terbentuknya ketebalan lapisan cat yang seragam pada permukaan kayu yang diketam. Pengetaman dapat menghasilkan permukaan kayu yang lebih rata dan halus, sehingga ketebalan lapisan bahan finishing yang terbentuk pada permukaan yang rata dan halus ini lebih seragam. Dengan ketebalan bahan finishing yang seragam, fungsi perlindungan lapisan finishing terhadap perubahan kelembaban akan lebih baik sehingga stabilitas dimensi kayu dapat terjaga. Richter et al. (1995) menyatakan bahwa daya tahan lapisan finishing terhadap retak lebih baik pada permukaan kayu yang diketam daripada permukaan yang tidak diketam.

Williams (1999) menambahkan bahwa permukaan kayu yang kasar atau tidak diketam akan menyerap bahan finishing yang lebih banyak sehingga lebih boros akan bahan cat.

 

2.      Pengaruh Jenis Bahan Finishing terhadap Daya Tahan Lapisan Finishing

Rating daya tahan terhadap cacat-cacat mikroba dan retak menurun dengan menyolok mulai dari bulan pertama pemaparan. Pada masa pemaparan selama enam bulan, kerusakan yang terjadi pada permukaan kayu yang tidak di finishing terlihat sangat nyata bila dibandingkan dengan kayu yang dilindungi dengan lapisan finishing. Hal ini mengindikasikan bahwa lapisan finishing eksterior mampu memberikan perlindungan pada kayu dan secara tidak langsung akan mampu memperpanjang masa pakai kayu untuk penggunaan di luar ruangan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa setelah enam bulan pemaparan daya tahan lapisan finishing terhadap cacat mikroba dan retak baik yang menggunakan Ultran Lasur UV maupun Ultran Politur P-03 UV pada umumnya sangat baik. Namun pada akhir bulan keenam permukaan kayu yang tidak di finishing telah mengalami kerusakan yang sangat berarti akibat cacat mikroba dan retak. Persentase permukaan bercacat pada kayu yang tidak di finishing masing-masing sebesar 95% karena cacat mikroba dan 81% karena cacat retak. Hal ini mengindikasikan dengan jelas bahwa kayu yang tidak dilindungi lapisanfinishing akan terkena dampak langsung dari perubahan cuaca yang mengakibatkan permukaan kayu menjadi kasar akibat dari serat-serat kayu terangkat dan munculnya retak-retak pada permukaan tersebut.

Pemakaian bahan finishing telah dapat menghambat terjadinya kerusakan permukaan kayu, sehingga masa pakai kayu akan menjadi lebih lama. Masa pakai kayu bahkan dapat dipertahankan dengan melakukan pemeliharaan berupa kegiatan finishing ulang pada permukaan kayu begitu tanda-tanda kerusakan mulai terlihat.

Meskipun serangan mikroba tersebut masih pada lapisan cat dan belum sampai pada permukaan kayu, namun karena retak lapisan cat sudah semakin hebat maka mikroba akan lebih mudah dan cepat dapat masuk kepermukaan kayu. Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa lapisan cat ini (Ultran Lasur dan Ultran Politur) sudah seharusnya dilapisi kembali dengan lapisan baru sebelum masa pemaparan mencapai 2 tahun, sehingga kualitas dan penampilan kayu akan tetap terjaga.

 

     KESIMPULAN

1.  Lapisan finishing dari bahan Ultran Lasur UV dan Ultran Politur P-03 UV secara nyata dapat melindungi permukaan kayu dari degradasi baik oleh cacat mikroba (microbial disfigurement) maupun retak (cracking).

2.  Secara sederhana, kelembaban udara mempengaruhi level MC bisa dilihat pada table berikut. Tinggi rendahnya kelembaban udara akan mempengaruhi maksimal MC yang bisa dicapai oleh kayu.

3.  Meranti batu dengan berat jenis paling tinggi memiliki daya tahan lapisanfinishing paling rendah dibandingkan dengan jenis kayu kamper dan keruing. Kayu yang diketam memperlihatkan daya tahan lapisan finishing sedikit lebih baik daripada kayu yang tidak diketam Kayu dengan penampang radial menunjukkan daya tahan lapisanfinishing lebih baik dibandingkan dengan penampang tangensial.

4.  Perencanaan packaging yang baik akan sangat membantu menyelamatkan produk kayu dari kerusakan karena kadar air level yang terlalu tinggi. Plastik merupakan bahan packing yang baik untuk membantu melindungi produk dari pengaruh udara lembab masuk kembali ke dalam kayu. Namun perlu diingat bahwa tetap diperlukan beberapa lubang udara untuk ventilasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.tentangkayu.com/2008/08/jenis-bahan -finishing kayu.

 

http:ww.tentangkayu.com/2008/04/pengaruh-kelembapan-udara-terhadap-mc

 

 

Wayan Darmawan,Itan Iskova Purba,Daya Tahan Lapisan Finishing Exterior Beberapa Jenis Kayu Terhadap Pengaruh Cuaca, Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan 2(1):1-8(2009)

 

 

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG