BAGAIMANA MERANCANG DAPUR RUMAH YANG ERGONOMIS?

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Monday, 25 May 2015 Published Date Written by Budi martono

BAGAIMANA MERANCANG DAPUR RUMAH YANG ERGONOMIS?

Budi Martono

Abstraksi

Merancang dapur rumah yang ergonomis merupakan upaya kreatif dan inovatif dengan memperhatikan standar, ukuran, dan ketentuan yang berlaku.

Rancangan dapur rumah yang ergonomis harus memenuhi beberapa aspek, yaitu: aspek kesehatan, aspek kenyamanan, aspek keamanan, dan aspek efisiensi.

Dengan rancangan dapur rumah yang ergonomis maka ruangan menjadi efektif dan efisien serta mendapatkan kenyamanan beraktivitas di dalam dapur.

Kata kunci: Merancang dapur, ergonomis.

                                                                                                                        

I.        PENDAHULUAN

Dapur merupakan salah satu dari beberapa ruangan yang harus ada di dalam rumah tinggal. Dapur tidak hanya sekedar tempat menyiapkan makanan, tetapi dapat juga dipakai rekreasi dan tempat berkomunikasi bagi keluarga. Kegiatan memasak merupakan kegiatan rutin setiap hari. Bekerja di dapur dilakukan sejak pagi hari hingga pada malam hari, mulai menyiapkan sarapan pagi, makan siang dan makan malam. Maka dari itu, dapur harus didesain secara efisien, efektif, dan fungsional sehingga mudah untuk dikelola serta menghindari kecelakaan atau masalah kesehatan akibat kelalaian kerja.

Ergonomis adalah kesesuaian antara fungsi tubuh manusia (pengguna) dengan alat atau fasilitas yang berinteraksi langsung dalam sebuah aktivitas yang sedang berlangsung. Pada intinya adalah untuk mendapatkan kenyamanan fisik pengguna dalam melakukan aktivitas dengan menggunakan fasilitas yang sesuai. Aplikasi konsep ergonomis berbeda-beda untuk setiap penggunanya. Hal ini berdasarkan ukuran fisik pengguna dan fasilitas yang digunakan. Ukuran fisik pengguna ditentukan oleh usia, ras dan karakter khusus masing-masing, sehingga fasilitasnya pun akan disesuaikan dengan ukuran pengguna.
Dengan ergonomi kita mampu menekan dampak negatif pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ergonomi hendaknya dimasukkan sedini mungkin bahkan dari mulai rancangan, sehingga dapat menekan kesalahan sesedikit mungkin.

Rancangan dapur yang sudah ada sekarang mempunyai  beberapa aspek dalam ergonomi yang belum dipenuhi, yaitu:

a. Aspek Kesehatan

- Ketinggian unit dapur yang dibeli secara built in, atau yang disediakan pihak

pengembang perumahan biasanya dibuat seragam, yaitu 85 cm, sehingga orang yang berpostur lebih tinggi dari itu atau lebih pendek, jadi kurang nyaman dalam bekerja.

- Kompor dua tungku yang diletakkan begitu saja di atas meja menyebabkan tinggi penggorengan bertambah + 20 cm, yang menyebabkan proses menggoreng tidak terjadi dalam postur tubuh ideal.

b. Aspek Kenyamanan

- Pencahayaan perlu didesain sedemikian rupa, sehingga bagian yang paling lama digunakan mendapat pencahayaan terbesar.

c. Aspek Keamanan

- Yang masih perlu diperbaiki dari dapur yang ada saat ini adalah aspek keamanan dari kemungkinan terjadinya kebakaran.

d. Aspek Efisiensi

- Desain dapur yang meliputi sistem perletakan peralatan di dapur serta desain furniturnya seringkali kurang memperhatikan alur kerja, sehingga menyebabkan pekerjaan di dapur menjadi kurang efisien.

 

II.        RANCANGAN DAPUR RUMAH YANG ERGONOMIS

1.    Tinjauan dari aspek kesehatan

Menurut Gilly Love dalam bukunya Membuat Dapur Idaman, idealnya ketinggian area kerja ini adalah sama tinggi dengan pinggang. Sedangkan ukuran tinggi meja untuk aktifitas menguleg yang sesuai dengan postur tubuh berdasarkan antropometri adalah minimal 70 cm. Tinggi meja lebih rendah karena digunakan untuk aktifitas yang lebih berat.

Pada kegiatan ini, ketinggian meja yang cukup rendah akan membuat lengan lebih mudah bekerja saat mengaduk atau membolak-balik makanan di penggorengan atau panci.

Untuk postur tubuh ideal saat memasak, ukuran tinggi meja kompor yang ideal dan sesuai dengan postur tubuh berdasarkan antropometri adalah 70 cm, dengan tinggi tersebut posisi kompor tidak menumpang seperti biasa sehingga nantinya tinggi kompor akan sejajar dengan tinggi meja racik yang sesuai dengan posisi ideal postur tubuh.

Permukaan meja kerja juga harus diperhatikan berapa lebarnya. Daya jangkau tangan manusia, khususnya wanita, ke depan adalah 85 cm, sementara ke samping antara 42cm - 62cm.

Almari penyimpanan juga sering dibuat tanpa memperhitungkan ukuran yang pas. Dalam Kitchens That Work yang ditulis oleh Martin Edic dan Richard Edic dikatakan, bahwa tinggi almari penyimpanan yang masih bisa dijangkau tangan adalah 2m. Tinggi setiap rak di dalam almari pun perlu diperhatikan, ukuran yang ideal adalah sekitar 65cm - 180cm.

Area berikutnya adalah area cuci piring (kitchen sink). Imelda Akmal dalam bukunya Seri Menata Rumah: Ruang Makan menuliskan, bahwa tinggi bak cuci sebaiknya antara 70cm - 80cm dari lantai. Jadi, penggunanya tidak perlu membungkuk untuk menjangkau dasar bak.

 

 

Gambar 1. Standard dimensi kitchenset

Sumber:  http://queenzakitchenset.com/standard-dimensi-kitchenset.html

 

2.    Tinjauan dari aspek kenyamanan

Memasak akan menghasilkan asap yang cukup banyak. Jika ventilasi dan bukaan jendela tidak memadai, asap dapat mengganggu pernafasan kita.  Solusinya, anda dapat menambahkan kipas angin (exhaust fan), penghisap asap (cooker hood) dan penyaring udara (air filter). Untuk pencahayaan, manfaatkan cahaya yang didapatkan melalui bukaan dan jendela dinding. Jika ingin menghemat listrik, anda dapat membuat jendela pada langit-langit dapur. Selain sebagai penerangan, cahaya matahari yang masuk melalui jendela langit-langit akan mengurangi kelembaban pada dapur dan mencegah munculnya jamur.

 

 

Gambar 2. Pencahayaan dan sirkulasi udara alami pada dapur berasal dari pintu kaca

Sumber:

http://www.disukai.com/2012/08/contoh-desain-dapur-minimalis-modern-sederhana.html

 

 

Gambar 3. Pencahayaan alami pada dapur berasal dari atap dan pintu kaca

Sumber:

https://rhilyzoro.wordpress.com/2014/10/29/dapur-sehat-dan-ramah-lingkungan/

 

 

3.    Tinjauan dari aspek keamanan

Untuk keamanan pada area masak yaitu kemungkinan terjadinya kebakaran dan ledakan pada tabung gas LPG, maka penyimpanan tabung LPG sebaiknya jangan terlalu dekat dengan kompor dan harus ada saluran udara yang cukup.

Posisi selang dan regulator yang tidak terpasang dengan sempurna juga seringkali menjadi penyebab terjadinya ledakan pada tabung gas. Karena itu, sebelum menyalakan kompor gas, pastikan selang sudah terpasang dengan baik pada regulator maupun kompor. Pastikan pula regulator sudah terpasang dengan baik pada mulut tabung gas. Jika terdengar suara mendesis atau bau gas, itu berarti regulator belum terpasang dengan sempurna. Perbaikilah posisinya terlebih dahulu dengan menekan tuas pengaturnya hingga terdengar bunyi “klik”, sebelum kamu menyalakan kompor.

Selain itu, pastikan selang gas tidak tertekuk atau terjepit karena bisa menyebabkan aliran gas dari tabung ke kompor menjadi terhambat, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi nyala api. Selang yang tertekuk atau terjepit juga bisa membuat selang mudah rapuh, pecah dan kebocoran gas.

 

Gambar 4. Pastikan selang dan regulator terpasang dengan baik

Sumber:

https://blog.tokopedia.com/2015/01/9-tips-aman-memasak-dengan-kompor-gas/

 

Kompor dan tabung gas diletakkan di tempat yang permukaannya datar dan kokoh. Karena jika diletakkan pada permukaan yang tidak rata ataupun di atas tumpukan benda lainnya, tabung gas bisa saja terjatuh yang menyebabkan selang dan regulator tertarik sehingga menjadi longgar. Longgarnya regulator ini pada akhirnya bisa menyebabkan gas keluar, walaupun sedang tidak digunakan.

4.    Tinjauan dari aspek efisiensi

Dalam perencanaan tata letak/lay-out dapur, dikenal sebuah konsep yang disebut ‘kitchen work triangle’. Pola gerak seseorang yang bekerja di dapur seakan-akan membentuk ‘pola segitiga’ yang menghubungkan tiga komponen utama dari sebuah dapur, yaitu mencuci (sink), memasak (kompor), dan menyimpan (kulkas/regrigerator, cabinet).  

Tata letakdapur merupakan susunan komponen peralatan agar tercipta tempat kerja yang aman, efisien, efektif, dan ergonomis. Untuk menghasilkan sebuah dapur yang ergonomis dan nyaman, ada beberapa hal yang harus dipenuhi, yaitu:

·         Jarak masing-masing antara ketiga komponen di atas adalah antara 4-9 feet (100-228 cm.)

·         Total jarak ketiga komponen dalam pola segitiga tersebut maksimal adalah 12-26 feet (305-660 cm.)

·         Pola segitiga gerak tersebut tidak terganggu di jalur sirkulasi ruangan.

Bila terlalu dekat dari jarak di atas, maka dapur akan terasa sempit, sementara bila terlalu jauh akan menimbulkan kelelahan bagi pengguna dapur.

 

 

Gambar 5. Tiga fungsi utama dapur

Sumber:http://this-mymind.blogspot.com/2008/11/yuk-bikin-dapur.html

 

Berdasarkan konsep di atas, ada beberapa bentuk tata letak/lay out dapur yang biasa digunakan yaitu:

·         ‘L shaped kitchen’.

Penataan meja dapur yang menempel pada dua bidang dinding yang menyudut sehingga berbentuk seperti huruf L.

·         ‘U shaped kitchen’.

Penataan meja dapur yang menempel pada tiga bidang dinding yang berbentuk seperti huruf U.

·         ‘G shaped kitchen’.

Pengembangan dari bentuk U shaped, yaitu penataan meja dapur yang menempel pada dua bidang dinding dan satu bidang meja lepas, sehingga berbentuk seperti huruf G.

·         ‘Island Kitchen’.

Pengembangan dari dapur berbentuk U, tetapi dengan kompor terpisah sehingga seakan-akan membentuk pulau tersendiri.

 

·         ‘Single Wall / Straight Kitchen’.

Meja dapur yang menempel hanya pada satu bidang dinding.

·         ‘Corridor / Gallery Kitchen’.

Meja dapur yang menempel pada dua bidang dinding yang berseberangan, dan menyisakan jalur sirkulasi di tengahnya.

 

 

Gambar 6. Bentuk tata letak/lay-out dapur

Sumber: https://septanabp.wordpress.com/tag/menata-dapur/

 

III.        KESIMPULAN

Salah satu dari beberapa ruangan yang harus ada di dalam rumah tinggal adalah dapur.  Untuk itu dapur harus dirancang secara efisien, efektif, dan fungsional sehingga mudah untuk dikelola serta menghindari masalah kesehatan akibat kelalaian kerja.

Ada beberapa aspek untuk merancang dapur rumah yang ergonomis, yaitu: aspek kesehatan, aspek kenyamanan, aspek keamanan, dan aspek efisiensi.

Rancangan dapur rumah yang ergonomis dan dibuat secara kreatif dan standar, maka ruangan menjadi efektif serta mendapatkan kenyamanan dan keamanan beraktivitas di dalam dapur.

 

IV.        REFERENSI

http://ergonomi-fit.blogspot.com/2011/03/antropometri.html                                            

https://bambangwisanggeni.wordpress.com/2010/03/02/antropometri/

http://this-mymind.blogspot.com/2008/11/yuk-bikin-dapur.html

https://septanabp.wordpress.com/tag/menata-dapur/

http://www.rihants.com/2011/07/aspek-ergonomis.htmlhttp://properti.kompas.com/read/2013/03/04/1434420/Inikah.Ukuran.Standar.Dapur.yang.Ideal.

https://blog.tokopedia.com/2015/01/9-tips-aman-memasak-dengan-kompor-gas/