KAJIAN TERHADAP KEBERADAAN JEMBATAN PENYEBERANGAN JALAN RAYA

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Monday, 25 May 2015 Published Date Written by tukiman

KAJIAN TERHADAP KEBERADAAN JEMBATAN PENYEBERANGAN

JALAN RAYA

tukimanvedc@yahoo.com

 ABSTRAK

Betapa besar fungsi jembatan penyeberangan jalan raya bagi pejalan kaki, karena dapat menyelamatkan penyeberang dari bahaya kecelakaan hal ini telah diketahui semua bahwa jembatan penyeberangan sangat membantu pejalan kaki untuk menyeberang jalan, , dengan berkembangnya kota menjadi kota besar akan mengakibatkan peningkatan aktivitas masyarakat kota, hal itu diiringi bersamaan dengan meningkatnya jumlah kendaraan, sehingga mobilitas jalan raya yang sangat padat telah terjadi.

Memperhatikan hal tersebut, terlihat perilaku pejalan kaki yang tidak memfaatkan fasilitas yang ada dalam menyeberang jalan jiwanya bisa terancam keselamatanya karena.jembatan penyeberangan telah banyak disediakan diberbagai lokasi padat yang rawan kecelakaan/ aktivitas ramai seperti : pasar, sekolah, perempatan, depan rumahsakit, depan Mall, stasiun dll.

Namun hal itu sama sekali belum dimanfaatkan secara optimal oleh pejalan kaki, mereka cenderung senang melompat/ menerobos pembatas jalan, atau langsung menyeberang jalan, tampa menghiraukan keselamatan diri sendiri,hal ini menjadi fenomena yang terjadi didalam lingkungan pengguna jalan raya

Penelitian dilakukan dengan membuat kajian dari jembatan penyeberangan jalan yang ada di jalan Achmad Yani, (depan Masjid Sabillilah:1), Blimbing dan di Jalan Merdeka ,(samping Supermarket Sarinah yang menghubungkan dengan alun- alun: 2), dan jalan Basuki rachmad,(depan Kantor Telkom lama:3),Tujuan penelitian untuk mengetahui keberadaan jembatan penyeberangan jalan  tersebut,  ditinjau dari aspek:  kemanfaatan bagi pengguna, identifikasi dari kekuatan konstruksi, serta faktor keamanan dan kenyamanan

Hasil penelitian menunjukan:

Aspek kemanfaatan dan rancangan,bahwa keberadaan Jembatan penyeberangan1, 2 dan Jembatan penyeberangan-3 masih diperlukan.

Aspek peryaratan konstruksi bangunan dan tata letak, bahwaJembatan 1 konstruksi buruk, dan tata letak baik, sedang 2 dan 3 tidak memenuhi persyaratan. 

Aspek keamanan dan kenyamanan, bahwa Jembatan1,2 dan 3 faktor perlindungan semuanya buruk karena tidak ada atap, kalau jalan sendiri takut dll.

Kata Kunci   : lalulintas, penyeberangan, keselamatan

 

 I.    PENDAHULUAN

1.1.       Latar belakang

Peningkatan kepadatan transportasi memerlukan penanganan secara menyeluruh, mengingat bahwa transportasi timbul karena adanya perpindahan manusia dan barang dari satu tempat ke tempat lain, meningkatnya perpindahan tersebut dituntut penyediaan fasilitas penunjang guna membantu laju perpindahan manusia maupun barang agar memenuhi ketentuan, kecepatan dan keselamatan, dalam kondisi perkotaan yang selalu berkembang mobilitas manusia dari tempat ketempat lain adalah tidak lepas kegiatan yang harus dilakukan menyeberang jalan, dimana pejalan kaki merupakan salah satu komponen lalu lintas yang sangat penting yang harus di jaga keselamatanya.

Jembatan penyeberangan jalan dipasang apabila diharuskan tidak ada pertemuan sebidang antara arus pejalan kaki dengan arus lalu lintas agar pejalan kaki mau untuk menggunakan jembatan penyeberangan  harus dijamin keamanan dan jarak berjalan tidak terlalu bertambah jauh, serta jembatan penyeberangan dirancang dengan kriteria tertentu selain dapat memenuhi dari segi fungsi, kemanfaatan, stardar konstruksi, keamanan, kenyamanan juga faktor lain  yang berhubungan dengan keselamatan pengguna maupun kelengkapan lainya atau jembatan juga sebagai street furniture di lokasi jalan tersebut.

Sibuknya jalan raya di kota, menjadikan kota tersebut tidak nyaman bagi pejalan kaki, karena dimana- mana jalan tersebut dipenuhi kendaraan bermotor dan tidak memberi kesempatan sedikitpun pada pejalan kaki. Sedangkan  masih rendahnya kesadaran masyarakat memanfaatkan fasilitas penyeberangan yang ada sebagai sarana penyeberangan aman, nyaman.

Jembatan penyeberangan mempunyai fungsi besar sebagai sarana perpindahan moda transportasi pejalan kaki yang akan menyeberang, disini peranan jembatan penyeberangan sangat penting bagi penyeberang disekitar daerah yang rawan kecelakaan lalu-lintas ( fast moving ). Oleh karena itu jika sarana Zebra cross sudah tidak dapat mengatasi, peranan jembatan penyeberangan dapat menggantikannya sebagai alternative keselamatan dalam menghindari kecelakaan lalu-lintas dan kemacetan jalan.

Selainfungsi pokok, fungsi dan peranan sekunder dari jembatan penyeberangan yaitu sebagai elemen / bagian dari street furniture dan pelengkap kota yang keberadaanya harus tepat dan berfungsi dengan baik.

 

1.2.       Perumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:

a)  Bagaimana keberadaan Jembatan penyeberangan  pada lokasi yang berbeda, dilihat dari kemanfaatan dan rancangan ?

b)  Bagaimana kondisi fisik Jembatan peyeberangan dilihat, dari kekuatan konstruksi  dan tata letak ?

c)  Bagaimana kondisi fisik Jembatan penyeberangan  dilihat ,dari aspek keamanan dan kenyamanan ?

 

1.3.       Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk :

a)Mengidentifikasi keberadaan Jebatan penyeberangan dengan lokasi yang berbeda dilihat dari kemanfaatan dan rancangan

b)  Mengidentifikasi kondisi fisik Jembatan penyeberangan dilihat dari konstruksi bangunan dan tata letak

c)Mengidentifikasi Jembatan penyeberangan dilihat dari  keamanan dan kenyamanan pengguna.

 

    TINJAUAN PUSTAKA

2.1.       Menurut Lynch (1960), Elemen- elemen pembetuk ruang kota diantaranya adalah Path atau jaluryaitu merupakan rute-rute sirkulasi yang biasanya digunakan orang untuk melakukan pergerakan secara umum, yakni jalan, gang-gang utama, jalan transit, lintasan kereta api, saluran dan lain sebagainya.

   Karakteristik Path meliputi pola Jaringan jalan, pencapaian bangunan, dan kekhasan Jalan.sedangkan Nodes merupakan simpul atau lingkaran daerah strategis yang arah atau aktivitasnya saling bertemu dan dapat dirubah ke arah atau ke aktivitas lain, misalnya persimpangan lalu lintas, pasar, taman dan lain sebagainya.adalah suatu tempat dimana orang mempunyai perasaan “masuk” dan “keluar” dalam tempat yang sama. Nodes mempunyai identitas yang lebih baik jika tempatnya memiliki bentuk yang jelas karena lebih mudah diingat serta tampilan berbeda dari lingkungannya.

 2.2.    Tata cara Perencanaan Jembatan Penyeberangan Ditjen Bina Marga(1995),

      Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan teknik jembatan penyeberangan untuk pejalan kaki di perkotaan berdasarkan ketentuan tata cara perencanaan adalah sebagai berikut:

       Ketentuan pembangunan Jembatan penyeberangan dari aspek lokasi disarankan memenuhi kriteria sebagai berikut :

a)Bila fasilitas penyeberangan dengan menggunakan zebra cross dan pelikan cross sudah mengganggu lalu lintas kendaraan yang ada.

b)      Pada ruas jalan dimana frekuensi terjadinya kecelakaan yang melibatkan pejalan kaki cukup tinggi.

c)        Pada ruas jalan yang mempunyai arus lalu lintas dan arus pejalan kaki yang tinggi, serta arus kendaraan memiliki kecepatan tinggi.

 2.3.       Menurut John J. Fruin (1971), Dalam perencanaan fasilitas bagi pejalan kaki, termasuk fasilitas penyeberangan haruslah memperhatikan tujuh sasaran utama yaitu: keselamatan (safety), keamanan (security), kemudahan (convenience), kelancaran (continuity), kenyamanan (comfort), keterpaduan sistem (system coherence), dan daya tarik (attractiveness). Ketujuh faktor tersebut saling berhubungan (inter-related) dan saling tumpang tindih (overlapping). Berubahnya salah satu faktor akan mempengaruhi perubahan faktor yang lain

 2.4.  Menurut Hartanto (1986),Pejalan kaki enggan menggunakan jembatan karena malas dan capai serta kondisi jembatan yang tidak menyenangkan semisal, ketinggian jembatan, sempit dan terjalnya tangga, kondisi kotor dan suram, serta adanya pengemis

 

   METODE PENELITIAN

       Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Data kuantitatif akan dianalisis dengan tabulasi dan data kualitatif dianalisis secara naratif sedangkan pengumpulan data dari lapangan akan menggunakan pengukuran langsung, pengamatan langsung di lapangan, serta studi literature dengan skema alur penelitian seperti tergambar dibawah ini

 

  

             Gambar 1: Skema alur penelitian

 

 ANALISA DAN PEMBAHASAN

Penggunaan Jembatan Penyeberangan dalam analisa ini berguna untuk mengetahui dampak keberadaan Jembatan ditinjau dari aspek kemanfaatan dan rancangan, aspek persyaratan  konstruksi dan tata letak, persyaratan keamanan dan kenyamanan untuk penyeberangan sebagaimana terlihat pada tabel dibawah:

4.1.Aspek kemanfaatan dan rancangan

Dalam aspek kemanfaatan, Kami membagi beberapa poin penting antara lain

Barang                       = 1

Orang                         = 2

Anak                           = 3

Kursi roda                  = 4

Sedangkan Aspek rancangan, kami titik beratkan pada:

Proporsi                     = 5

Keseimbangan         = 6

Sustainabelitas         = 7

Dari grafik di bawah dapat di jelaskan, bahwa aspek kemanfaatan untuk orang adalah mendapat nilai sangat baik, ini berarti jembatan penyebarangan ini sangat bermafaat untuk penyeberangan orang, sedangkan untuk kursi roda dan barang mendapat nilai buruk, ini berarti jembatan yang ada, ini tidak layak untuk kursi roda dan barang.

 

 Gambar 2: Grafik kemanfaatan jembatan penyeberangan

 

4.1.Aspek peryaratan konstruksi bangunan dan tata letak

Aspek Konstruksi disini kami titik beratkan pada:

Kualitas bahan                     = 1

Pengerjaan                           = 2

Aturan/ Syarat                      = 3

Aspek tata letak, difokuskan pada:

Keterjangkauan                   = 4

Kemudahan penggunaan  = 5

Dari grafik dibawah, dapat dijelaskan bahwa, nilai aspek pengerjaan dan nilai aspek kemudahan penggunaan, berada paling bawah/ buruk, ini berarti ketiga jembatan yang ada, pengerjaanya masih kurang baik ,sedang penggunaanya masih kurang, karena anak tangganya tidak nyaman, naiknya terlalu tinggi, tidak ada atap, panas asesnya sulit dll.

 

 

Gambar 3: Grafik Persyaratan konstruksi dan tata letak

 

4.1.Aspek keamanan dan kenyamanan .

Keselamatan                      = 1

Ancaman                              = 2

Gangguan                             = 3

Perlindungan                       = 4

Normalisasi/ standar           = 5

Dari ketiga jebatan yang dipakai untuk penelitian adalah hasinya sebagai berikut: aspek perlindunan mendapat penilaian buruk, ini artinya pemakai tidak merasa tidak terlindungi dalam menggunakan jembatan tersebut, misal takut ada orang usil, takut jatuh, takut apabila jalan sendirian dll

 

 Gambar 4: Grafik aspek keamanan dan kenyamanan

 

 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1.Kesimpulan

Dari hasil penelitian jembaan penyeberangan tersebut bahwa masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihan, sehingga penggunaanya perlu dioptimalkan agar jembatan yang sudah ada tersebut menjadi sarana penyeberangan yang disukai oleh pejalan kaki sehingga masih perlu  dilakukan renovasi dan memperbaiki kekurangan yang ada yang berupa fisik teknis dengan menyesuaikan standar pembangunan, desain yang menarik dan penyadaran terhadap pejalan kaki, agar mau menggunakan sarana tersebut

5.2.Rekomendasi

Hasil penelitian yang telah dilakukan dirasakan masih jauh dari sempurna, maka perlu dilakukan penelitian lanjutan yang mencakup aspek-aspek lain yang lebih lengkap. Untuk meneliti aspek lainya agar mendapatkan hasil yang lebih sempurna, dapat dilakukan penelitian di seluruh jembatan yang ada di kota Malang dengan  pengelompokan zona yang berbeda, material dan system penyeberanan yang berbeda

 

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Binamarga,(1995). Tata Cara Perencanaan Jembatan Penyeberangan untuk Pejalan kaki di perkotaan, Departemen Pekerjaan Umum.

Endah Wahyuni, (2012) Studi Kelakuan Dinamis Struktur Jembatan Penyeberangan Orang Akibat Beban Individual Manusia Bergerak, Journal Teknik Sipil Vol. 19 No. 3 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya

Rudy Setiawan, ST., MT.(2006) Faktor- faktor yang mempengaruhi pemanfaatan jembatan penyeberangan, simposium IX FSTPT, Universitas Brawijaya, Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan Jurusan Teknik Sipil Universitas Kristen Petra, Surabaya

Hartanto, Budi S.,(1986) “Betulkah Jembatan-Jembatan Penyeberangan di Bandung Kurang Dimanfaatkan”. Majalah Teknik Jalan dan Transportasi, no. 035.Bandung 

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG