RUANG STUDIO MUSIK DARI LIMBAH GERGAJIAN KAYU DAN GYPSUM

Print
Parent Category: ARTIKEL Category: Bangunan
Last Updated on Friday, 03 May 2013 Published Date Written by Bambang Sugiyanto

RUANG STUDIO MUSIK DARI LIMBAH GERGAJIAN KAYU DAN GYPSUM

Oleh; Bambang Sugiyanto (Widyaiswara PPPPTK BOE Malang) 

 

Studio musik makin menjamur dimana mana , bukan hanya di perkotaan tetapi sudah sampai ke pedesaan, kegemaran anak anak muda saat ini hampir tidak bisa dibedakan antara yang tinggal di kota dengan yang didesa.komunitas anak anak musik atau anak band makin banyak dari masa kemasa, hal ini banyak dipengaruhi oleh faktor globalisasi dimana informasi berbagai macam kebutuhan sangat mudah di akses.

 

Anak anak musik dari berbagai aliran tentu membutuhkan tempat bermain atau berlatih yang layak sehingga dapat mengekpresikan kegemaran atau hoby mereka secara utuh.untuk kebutuhan tersebut tentu membutuhkan banyak hal diantaranya adalah ruanng atau tempat yang disebut “studio”, studio musik yang dianggab layak haruslah memenuhi kaidah akustik.

 

      Akustik berasal dari bahasa inggris” A’coustics” yang artinya ilmu gelombang suara , ilmu bunyi, sifat khas bunyi dalam suatu ruangan yang dapat di dengar dengan jelas. Untuk mendapatkan suara yang bisa diterima dengan jelas diperlukan bahan yang dapat mengendalikan gelombang bunyi, dan ini akan diperoleh dari bahan yang lunak atau berongga sehingga gelombang bunyi dapat terurai.seperti yang tertulis pada buku akustik lingkungan bahwa karakteristik akustik dasar adalah semua bahan berpori seperti papan serat, plesteran lembut, mineral wools, dan selimut isolasi merupakan suatu jaringan seluler dengan pori pori yang saling berhubungan, namun bahan bahan tersebut relatif sulit didapat dan kalaupun ada harganya cukup mahal.

 

      Bata akustik yang terbuat dari limbah gergajian kayu dengan gypsum bisa menjadi alternatif (murah) serta mampu untuk kedua nya yaitu ringan dan dapat berfungsi sebagai  pengendali gelombang suara atau bunyi dalam suatu ruangan.

                Suatu ruang berakustik baik salah satu kriteria dasarnya adalah distribusi bunyi di dalam ruang yang merata, setiap ruangan memiliki kriteria yang berbeda tergantung pada fungsi ruang tersebut. Ruangan untuk konser musik memiliki kriteria yang berbeda dengan ruang untuk studio musik atau percakapan , Kondisi ruangan yang digunakan sebagai studio musik  dipengaruhi juga oleh berbagai macam faktor, seperti bentuk ruang, dimensi dan volume serta isi dari ruang tersebut. 

 

Pengertian limbah gergajian kayu

 

Limbah atau juga disebut sampah adalah barang yang sudah tidak dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhanya atau efek lain dari sebuah proses pembuatan suatu benda (kamus istilah lingkungan untuk manajemen, Ecolink,1996), begitu juga dengan limbah gergajian kayu, limbah ini terjadi karena proses pembuatan atau pengolahan kayu dari masih glondong  (loging) hingga menjadi kayu kayu batangan dengan aneka ukuran sesuai dengan kebutuhanya. Dari proses tersebut terdapat atau terjadi material yang harus dikurbankan  akibat adanya penggergajian, dengan digergaji kayu glondong bisa dibelah atau dipotong, pada proses tersebut ada kayu yang termakan gergaji dan jadilah bubukan kayu yang kemudian disebut limbah gergajian kayu.

 

Limbah gergajian kayu bisa digolongkan menjadi :

 

1.Limbah gergajian kayu keras

 

Yaitu limbah yang terjadi akibat penggergajian kayu kayu keras seperti kayu jati, sono keling, klengkeng, nangka, ulin dan lain lain atau kayu kelas II sampai kelas I,

 

2.Limbah gergajian kayu lunak

 

Yaitu limbah yang terjadi akibat penggergajian kayu  kelas  III dan IV seperti : mahoni, kamper, meranti, jengkol, Sengon dll.

 

Warna limbah gergajian kayu sangat  tergantung dari dominasi jenis kayunya, secara umum kayu berwarna merah keputih putihan akan tetapi ada beberapa jenis kayu yang memiliki warna mencolok seperti kayu nangka yang berwarna kuning pada bagian galihnya,  kayu sono keling yang berwarna hitam dan lain lain.  

 

Dimensi limbah gergajian kayu

 

Dimensi sangat dipengaruhi oleh kekerasan kayu, jenis atau type gergaji dan arah pemotonganya, semakin keras kayu yang digergaji akan makin kecil demensi limbahnya, sebaliknya makin lunak kayu yang digergaji akan makin besar dimensi limbahnya, arah potong melintang akan menghasilkan limbah gergajian berdimensi lebih kecil dari pada arah memanjang atau searah dengan batang kayunya. 

 

Gypsum berbentuk serbuk yang dikenal dengan sebutan casting plaster, merupakan  bubukan gypsum yang biasa digunakan untuk pembuatan asessories seperti lis lis sudut antara dinding dan plafon, gantungan lampu, hingga souvenir dengan berbagai macam bentuk. Casting plaster merupakan pruduk gypsum dari pabrik yang dijual dalam kemasan per 20 kg berbentuk sak .

 

Sifat sifat gypsum adalah tidak mudah terbakar seperti yang tertulis pada buku Jayaboard (2005), ramah lingkungan tetapi tidak tahan terhadap air, casting plaster mudah dan cepat mengeras jika dicampur air dengan perbandingan 2 gypsum :1 air, mudah dibentuk sesuai dengan cetakan atau yang dikehendaki.

 

Jadi paduan antara limbah gergajian kayu dengan gypsum akan menjadi material yang ramah lingkungan pula sehingga jika digunakan untuk studio tentu tidak akan terjadi masalah dengan kesehatan. 

 

Dari hasil uji berat bata akustik yang terbuat dari  Limbah gergajian kayu dengan gypsum berperbandingan 1 gypsum : 3 serbuk gergajian kayu dengan dimensi 10x10x20 cm memiliki berat kering 1,25 kg/buah atau 650 kg/ m3. Sedangkan  bata tanah liat biasa atau bata merah memiliki berat antara 1600-1800/m3 menurut Standar Industri Indonesia (SII), dengan demikian bata akustik tergolong bata ringan.

 

Bata akustik bisa digunakan sebagai dinding peredam suara pada studio musik, dari hasil penelitian yang telah dilakukan untuk ketebalan diding 10 cm dengan frekwensi 50Hz sampai dengan 8000Hz dalam waktu yang berbeda beda ternyata  bata akustik ini mampu meredam suara rata rata 16,18 Db dan mulai meredam suara diatas 10Db pada frekwensi 225. Dengan hasil tersebut menunjukkan bahwa bata akustik kurang baik untuk redaman suaranya akan tetapi memiliki daya serap atau meneruskan bunyi yang cukup baik yaitu kebalikan dari bunyi yang dapat ditahan atau diredam. Dengan daya redam yang kecil berarti memiliki daya serap (absorbsi) bunyi yang besar karenanya pembuatan studio menggunakan  bata akustik ini masih harus dilapisi denngan dinding dari material lain yang bentuknua masif atau padat seperti pasangan bata yang diplester, dinding beton, dinding kaca dan lain lain

 

Bata akustik mudah dipotong dengan gergaji kayu serta mudah dipasang seperti batu bata biasa dengan perekat campuran antara lem kayu dengan kalsium perbandingan 1 lem : 10 kalsium atau menggunakan total cote produk gypsum jayaboard dengan tebal spesi 3 – 5 mm.

Referensi

 

1.    Agungsuprihatin, dkk.. 1999. Sampah dan Pengelolaanya. Edisi ke 2. PPPGT/VEDC Malang.

2.    Husein A.Akil.1996, Pengukuran Akustik Ruangan Dengan Teknik Pemodelan Skala Fisik, Puslitbang KIM-LIPI

3.   Koesnadi Hardjosoemantri. 1997. Hukum Tata Lingkungan. Edisi ke 6 Cetakan ke 13. Jogjakarta, Gajah Mada University Pess.

4.    Leslie L.Doelle, Lea Prasetio.1985 Akustik Lingkungan, Erlangga, Jakarta 

5.    Prastowo Satwiko. 2004. Fisika Bangunan 2. Andi Jogjakarta

6.    .........................1997.Kantor Menteri Negara ingkungan Hidup,Agenda 21 Indonesia Strategi Nasional Untuk Pembagunan Berkelanjutan. Jakarta, Palangi rafika.

7.    ........................ 2005, Petunjuk Penggunaan, Jayaboard, Majalah Solusi Sistem

8.    Bambang Sugiyanto. 2012. Pemanfaatan limbah gergajian kayu dengan gypsum menjadi bata akustik. PPPPTK/VEDC Malang

 


Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG