SENI MEMASANG BATA (BRICKLAYING) ADA SEJAK KERAJAAN SINGOSARI HINGGA VEDC MALANG

Print
Parent Category: ARTIKEL Category: Bangunan
Last Updated on Wednesday, 17 April 2013 Published Date Written by Bambang Sugiyanto

SENI MEMASANG BATA (BRICKLAYING)

ADA SEJAK KERAJAAN SINGOSARI HINGGA VEDC  MALANG

Oleh:Bambang Sugiyanto

             Seni memasang bata atau keahlian memasang bata (bricklaying) sesungguhnya telah ada sejak abad 13 yang lalu yaitu ketika kerajaan Majapahit diperintah prabu Jayanegara pada tahun 1309 - 1328 , hal ini bisa dilihat pada peninggalan Candi Penataran yang berada di Blitar seperti yang tertulis pada buku komplek percandian PENATARAN oleh dinas Purbakala , kemudian cadi Tikus di Mojokerto, candi Jabung di Paiton dan lain lain.Bahkan pada tahun tahun sebelumya seperti pemandian Watu Gede di Singosari Malang tetapi tidak jelas tahun pembangunanya. 

Candi Candi dan pemandian tersebut terbuat dari batu bata berukuran relatif besar dengan perekat yang diperkirakan menggunakan tras,kapur,putih telor dan gula.Berbeda dengan batu bata dijaman sekarang pada umumnya yang berukuran kecil yaitu tebal 3,5 – 6 cm, lebar 10 – 12 cm, dan panjang 20 – 25 cm.

  

Gambar : pemandian Watu Gede,Singosari,Malang

 

Gambar: Candi Tikus di Mojokerto

 

 Gambar: Candi Jabung di Paiton

Seni memasang bata yang pada jaman dulu merupakan keahlian langka atau hanya orang orang tertentu yang bisa melaksanakan karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan sarana, akhirnya menjadi sebuah bidang keahlian yang tidak asing lagi terutama bagi para praktisi dibidang teknik sipil. Namun belakangan ini ilmu tersebut seperti kurang diminati lagi oleh para generasi muda dengan berbagai fenomena yang terjadi, teknologi yang lebih menjanjikan masa depan seolah olah menjadi alasan untuk meninggalkannya. 

Bricklaying (seni memasang bata) adalah nama popular dari salah satu kompetensi dibidang teknologi batu dan beton, istilah ini menjadi begitu terkenal khususnya untuk kalangan guru dan pelajar di jurusan bangunan gedung, setelah adanya lomba kompetensi siswa (LKS) dimana lomba untuk bidang tersebut mengacu pada lomba-lomba ditingkat yang lebih tinggi yaitu ASEAN SKILLS COMPETITION (ASC) dan WORLDSKILLS COMPETITION (WSC). 

Sejak Kemendikbud menyelenggarakan lomba ditingkat nasional yang disebut LKS (Lomba Kompetensi Siswa), dan regional ( ASEAN SKILLS), serta tingkat Internasional (WORLD SKILLS), nama bricklaying semakin berkibar seiring dengan prestasi yang telah dicapai pada event Asean Skills competition (ASC) yaitu pada th 2004 memperoleh medali perak di Vietnam, th 2006 medali emas di Brunai Darusalam, th 2008 medali emas di Malaysia, dan medali emas di Thailand  pada th 2010, Sedangkan di tingkat Internasional pada th 2007 berhasil memperoleh Medal for Excelenc yang diselenggarakan di Jepang dan th 2011 di London juga memperoleh Medal for Excelenc.Prestasi tersebut diperoleh dengan adanya pelatihan di PPPPTK/VEDC Malang prodi Teknologi Batu dan Beton.

 

Gambar: Pasangan bata memperoleh medali emas di Bangkok 2010

 

Gambar: Pasangan bata memperoleh Medal for Excelence di London 2011

 Pada akhirnya semua pihak harus menyadari bahwa keahlian bricklaying masih tetap diperlukan baik untuk kepentingan pendidikan maupun kebutuhan proyek bangunan pada umumnya, memang tidak mudah untuk membuat ketertarikan generasi muda pada bidang ini karena sudah terlanjur ada image yang kurang menyenangkan, yaitu kata kata tukang batu yang dalam hal ini bricklayer adalah tenaga kasar dan mungkin masih ada lagi sebutan yang kurang enak didengar. 

Disadari sepenuhnya jika tenaga kasar biasanya mendapatkan gaji rendah pada suatu pekerjaan dibandingkan tenaga pemikir (tenaga halusan), belum lagi generasi muda sekarang cenderung ingin tampil “wah”. Inilah yang sebenarnya menjadi tanggung jawab para pelaku pendidikan dan pengguna jasa (kontraktor) yang semua itu harus mengacu pada kebijakan pemerintah tentang upah tenaga kerja. 

Bisa di bayangkan jika tenaga bricklaying (ahli memasang batu) digaji mahal seperti di Negara Negara maju tentu akan banyak generasi muda mencari peluang tersebut, contoh dari sumber yang layak dipercaya di Negara Malaysia ahli memasang bata per hari bisa digaji minimal Rp 150 ribu, dan apa lagi di Canada per hari bisa mencapai Rp 1.4 juta, bagaimana dengan di Indonesia? Sebuah pertanyaan besar yang susah dijawab. 

Ketika penulis survey ke proyek cukup besar di Jakarta pada bulan April-Mei 2010 ternyata masih ditemukan gaji tukang dengan upah Rp 50.000 per hari, sungguh memilukan, dan ketika penulis tanyakan kepada pengelola proyek hanya cukup dijawab sudah “mengikuti Upah Minimum Regional”. 

Jadi standar Upah Minimum Regional harus ditinjau kembali dan benar benar mengacu pada kelayakan hidup di daerah yang bersangkutan, andaikan yang demikian ini bisa tercapai tentu akan sedikit mengangkat derajat Briclayer. 

Referensi 

1.    East java.com:Jabung Temple

2.    Cakrawala news Candi Jabung Dibangun saat Hayam Wuruk

3.    Majalah Skills dan Teknologi edisi 08.2012.PPPPTK/VEDC Malang

4.    Cakrawala news Candi Jabung Dibangun saat Hayam Wuruk

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG