6 JENIS KAYU UNTUK MEMBUAT MEBEL YANG TELAH DIUJI OLEH BALAI PENELITIAN KAYU

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Friday, 19 April 2013 Published Date Written by Andreas Mulyono

6 JENIS KAYU UNTUK MEMBUAT MEBEL YANG TELAH DIUJI OLEH BALAI PENELITIAN KAYU

Oleh : Drs. Andreas Mulyono,MT.
( Widyaiswara PPPPTK BOE Malang )

1. Kayu jati

Gambar 1. Permukaan kayu jati

Dalam bahasa botani/latin disebut Tectona grandis,dibeberapa daerah menyebut deleg,dodolan,jate,jatos,kulidawa.Daerah pertumbuhannya  Jawa,Sulawesi,NTT,Maluku dan Lampung.Pohon jati mempunyai ketinggian hingga 45 meter dengan panjang bebas cabang berkisar 15 hingga 20 meter,dengan diameter hingga 220 cm. Permukaan kayu jati mempunyai warna coklat muda ,coklat kelabu,sampai coklat merah tua atau merah coklat.

Tekstur kayu jatiagak kasar tetapi tidak merata,arah serat lurus kadang agak terpadu.Dengan kesan licin bila diraba kadang seperti berminyak.Berat jenis kayu jati berkisar 0,62 hingga 0,75, termasuk golongan kelas kuat II.

Kayu jati mempunyai penyusutan ke arah radial 2,8 % dan ke arah tangensial 5,2 %.

Papan kayu jati dengan ketebalan 2,5 cm dari kadar air awal 40 % dapat dikeringkan cara alami memerlukan waktu 31 hari untuk mencapai kadar air kering udara ( 18 – 25 % ).

Dengan pengeringan dapur pengering ,dari kadar air awal 40 % memerlukan waktu 5-6 hari untuk mencapai kadar air 10 % dengan suhu 60°C hingga 80°C dengan kelembaban nisbi 80 % hingga 40 %.

Kegunaan kayu jati adalah untuk konstruksi,mebel dan alat alat olah raga.

 

2. Kayu Mahoni

Gambar 2. Permukaan kayu mahoni

Kayu mahoni dalam bahasa botani/latin disebut Swietenia di beberapa wilayah/daerah disebut mahoni.Pertumbuhannya tersebar diseluruh Pulau Jawa.Tinggi pohon mahoni bisa mencapai 35 meter,dengan diameter bisa mencapai 125 cm.Tekstur kayu agak halus,dengan arah serat berpadu kadang kadang bergelombang, Permukaan licin dan mengkilap.

Kayu mahoni mempunyai berat jenis berkisar 0,53 hingga 0,72, termasuk kelas kuat III hingga kelas kuat II.Kayu mahoni mempunyai penyusutan ke arah radial 0,9 % hingga 3,3 % dan ke arah tangensial 1,3 % hingga 5,7 %.

Pengeringan secara alami kayu mahoni dengan tebal 2,5 cm dari kadar air awal 40 %,selama 40 hari bisa mencapai kadar air kering udara. Sedangkan dengan dapur pengering kayu mahoni dengan tebal 2,5 cm, bisa mencapai kadar air hingga 10 % denga suhu berkisar 43°C hingga 76°C dengan kelembaban nisbi berkisar 75 % hingga 33 %.

Kegunaan kayu mahoni adalah untuk mebel,patung,ukiran dan kerajinan lain.

 

 

3. Kayu Nyatoh

Gambar 3. Permukaan kayu nyatoh

Dalam bahasa botani/latin disebut Ganua, di beberapa daerah orang menyebut kayu balam, balem, bengku, mentiu, mayang, nato, semaram, jengkot, kawang, kibangkong, kisawo, tanjungan, baringin, getah merah, hangkang, mergetahan, nato, sodu sodu, soko, tofiri, maneo keaaf. Pertumbuhan kayu nyatoh tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Ketinggian pohon nyato mencapai 30 meter hingga 45 meter, panjang batang bebas cabang mencapai 15 hingga 30 meter dengan diameter mencapai 100 cm. Tekstur kayu nyatoh agak halus sampai agak kasar dan merata,arah serat lurus sampai berpadu, warna kayu bervariasi dari coklat kuning, coklat muda, coklat ungu, coklat merah sampai coklat atau merah tua. Permukaan kayu licin dan kadang kadang mengkilap.

Berat jenis kayu dari berbagai kelompok  nyatoh berkisar 0,42 hingga 0,91,termasuk golongan kelas kuat IV,III,II dan ada yang masukkelas kuat I,terutama yang berat jenis diatas 0,9. Penyusutan kayu nyatoh ke arah radial berkisar 2,4 % dan ke arah tangensial 3,0 %. Kayu nyatoh termasu kayu yang sukar dikeringkan, mempunyai kecenderungan retak ujung dan  mudah menggeleding. Pengeringan dengan sistim alami kayu dengan tebal 2,5 cm memerlukan waktu 68 hari untuk mencapai kadar air kering udara. Dengan menggunakan pengering modern untuk mencapai kadar air hinggga 12 % memerlukan waktu 5 hari dengan suhu pengeringan dari 48 °C hingga 77°C dengan kelebaban nisbi berkisar 85 % hingga 40 %.

Kegunaan kayu nyatoh biasanya dipakai untuk konstruksi perumahan, dinding, lantai, dan mebel halus.

 

4. Kayu Ramin

Gambar 4. Permukaan kayu ramin

Dalam bahasa botani / latin disebut Gonystylus, di beberapa wilayah / daerah menyebut kayu gaharu buaya, lapis kulit, medang ramuan, menamang, penggatutup, pinang baek,  pulai miang, gaharu, garu buaya, gerima, medang keladi,  merang, ramin. Pertumbuhan kayu ramin tersebar di wilayah Sumatera Utara, Rriau, Sumatera Selatan, Jambi dan Seluruh Kalimantan. Ketinggian pohon ramin mencapai 40 hingga 50 meter dengan panjang batang bebas cabang mencapai 20 hingga 30 meter,diameter mencapai 30 cm hingga 120 cm.Tekstur kayu agak halus dan merata,warna putih,putih krem, putih kekuning –kuningan, dengan arah serat lurus kadang agak berpadu,permukaan licin agak mengkilap. Berat jenis kayu ramin berkisar 0,46 hingga 0,84, kayu ramin termasuk golongan kelas kuat III hingga kelas kuat II. Penyusutan kayu ramin ke arah radial berkisar 2,6 % hingga 4,4 % dan ke arah tangensial berkisar 5,8 % hingga 9,6 %. Kayu ramin sangat mudah dikeringkan tanpa cacat yang berarti. Pada sistim pengeringan alami kayu ramin dengan ketebalan 4 cm untuk mencapai kadar air kering udara memerlukan waktu 70 hari. Sedangkan dengan pengering modern, tebal kayu 2,5 cm untuk mencapai kadar air 12 % memerlukan waktu hanya 7 hari dengan suhu 40°C hingga 66°C dengan kelembaban nisbi 85 % hingga 40 %. Kegunaan kayu ramin adalah untuk konstruksi ringan, kayu lapis, mebel.  

 

5. Kayu Sono keling

Gambar 5. Permukaan kayu sono keling

Dalam bahasa botani/latin disebut Dalbergia latifolia,dibeberapa daerah orang menyebut sonobrit,sonokeling. Pertumbuhan kayu sonokeling tumbuh di seluruh Pulau Jawa. Ketinggian pohon mencapai 43 meter,panjang batang bebas cabang hingga 3 sampai 5, meter.diameter mencapai 150 cm. Tekstur kayu hampir halus,warna coklat ungu tua, bergaris hitam,arah serat berpadu. Permukaan licin,agak mengkilap. Berat jenis kayu sonokeling berkisar 0,77 hingga 0,86,termasuk golongan kelas kuat II. Penyusutan ke arah radial 2,9 % dan penyusutan ke arah tangensial 6,4 %. Pada saat pengeringan, kayu sono keling yang masih basah mudah pecah pada ujungnya. Sebaiknya pengeringan dengan pengering modern dilakukan pada saat kadar air awal mecapai 40 hingga 50 %, suhu yang disarankan berkisar 43,3°C hingga 71,1°C dengan kelembaban nisbi 84 % hingga 38 %.Kegunaan kayu sono keling adalah untuk mebel,barang ukiran, panil.  

 

6. Kayu Sono Kembang

Gambar 6. Permukaan kayu sonokembang

Dalam bahasa botani/latin disebut Pterocarpus indicus, di beberapa daerah menyebut kayu angsana, sonokembang, asana, cendana, linggoa,leinara, nala, tema, kayu merah, bemiang, etawa, sieka, wainari. Pertumbuhan kayu sonokembang tersebar di  Pulau Jawa, Sulawesi, Maluku, Bali, NTB, NTT dan Papua. Ketinggian pohon mencapai 45 meter, dengan panjang batang bebas cabang  berkisar 2 meter hingga 16 meter,dengan diameter mencapai 150 cm.Tekstur kayu agak halus sampai agak kasar, arah serat lurus atau bergelombang tidak teratur,warnanya kuning jerami, coklat karat muda, sampai coklat karat tua. Permukaan licin dan mengkilap indah. Berat jenis berkisar 0,39 hingga 0,94, termasuk golongan kelas kuat IV hingga kelas kuat I. Penyusutan ke arah radial 3,0 % dan ke arah tangensial 5,9 %. Dengan pengering modern, kayu sonokembang dapat mengering dengan baik tanpa cacat.

Kegunaan kayu sonokembang adalah untuk mebel,konstruksi perumahan, dan kayu vinir.

 

Referensi :

ATLAS KAYU INDONESIA JILID 1,Abddurahim Mertawijaya dkk, BALAI PENELITIAN HUTAN, BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN,BOGOR – INDONESIA.