MEMBUAT BATA AKUSTIK DARI LIMBAH GERGAJIAN KAYU

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Monday, 06 May 2013 Published Date Written by Bambang Sugiyanto

 MEMBUAT BATA AKUSTIK DARI LIMBAH GERGAJIAN KAYU

Oleh : Bambang Sugiyanto

 

Keberadaan limbah gergajian kayu yang tergolong sampah organik (seperti yang tertulis di buku Sampah dan Pengelolaannya terbitan PPPGT/VEDC Malang. 1999) di Indonesia pada umumnya cukup banyak, terutama pada daerah yang memiliki industri penggergajian atau pengolahan kayu. Namun sejauh ini pemanfaatan limbah tersebut masih terbatas misalnya untuk peningkatan bahan bakar, media penanaman jamur seperti penelitian yang dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor.

Meskipun limbah gergajian kayu hingga saat ini bukan merupakan limbah yang mengganggu secara serius terutama pada lingkungan, bahkan keberadaanya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kepentingan tertentu, namun perlu adanya minimisasi pembuangan dan maksimisasi daur ulang (seperti yang tertulis di buku terbitan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup,1996).

Pendaur ulangan limbah gergajian kayu dipandang perlu jika memang memiliki manfaat lebih dan bisa dipertanggungjawabkan secara teknis dan terlebih jika mampu menjadikan bahan yang murah serta mudah diaplikasikan.

Sebenarnya  manfaat limbah gergajian kayu masih bisa ditingkatkan jika kita mengerti bahan mana yang bisa dicampurkan dengannya sehingga menjadi masa padat yang kemungkinan bisa digunakan sebagai pasangan dinding .     Kebutuhan material atau bahan untuk dinding peredam suara hingga saat ini masih cenderung sulit didapatkan, dan kalaupun ada biasanya dengan harga cukup mahal. Sedangkan kebutuhan akan bahan peredam suara semakin banyak dibutuhkan bukan hanya di studio, tempat konser musik, ruang meeting dll, tetapi sampai ditingkat rumah tangga pun diperlukan karena kebisingan bisa mengganggu seseorang dalam beraktivitas (seperti yang ditulis Prasasto Satwiko, dalam buku Fisika Bangunan 2).

 

Bata ringan akustik yang akan dibuat ini terdiri dari limbah gergajian kayu ditambah gypsum sebagai bahan perekat dan air serta dicetak dengan ukuran tertentu  yang diharapkan bisa menjadi pilihan untuk pembuatan dinding penyekat  dan yang memerlukan redam suara.

 

       Limbah atau juga disebut sampah adalah barang yang sudah tidak dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhanya atau efek lain dari sebuah proses pembuatan suatu benda (kamus istilah lingkungan untuk manajemen,Ecolink,1996), begitu juga dengan limbah gergajian kayu, limbah ini terjadi karena proses pembuatan atau pengolahan kayu dari masih glondong  (loging) hingga menjadi kayu kayu batangan dengan aneka ukuran sesuai dengan kebutuhanya. Dari proses tersebut terdapat atau terjadi material yang harus dikurbankan  akibat adanya penggergajian, dengan digergaji kayu glondong bisa dibelah atau dipotong, nah pada proses tersebut ada kayu yang termakan gergaji dan jadilah bubukan kayu yang kemudian disebut limbah gergajian kayu.

     Warna limbah gergajian kayu sangat  tergantung dari dominasi jenis kayunya, secara umum kayu berwarna merah keputih putihan akan tetapi ada beberapa jenis kayu yang memiliki warna mencolok seperti kayu nangka yang berwarna kuning pada bagian galihnya, kayu sono keling yang berwarna hitam dan lain lain.

 

     Dimensi limbah gergajian kayu dimensi sangat dipengaruhi oleh kekerasan kayu, jenis atau type gergaji dan arah pemotonganya, semakin keras kayu yang digergaji akan makin kecil demensi limbahnya, sebaliknya makin lunak kayu yang digergaji akan makin besar dimensi limbahnya, arah potong melintang akan menghasilkan limbah gergajian berdimensi lebih kecil dari pada arah memanjang atau searah dengan batang kayunya .

 

Gypsum

 

Gypsum berbentuk serbuk yang dikenal dengan sebutan casting plaster, merupakan  bubukan gypsum yang biasa digunakan untuk pembuatan asessories seperti lis lis sudut antara dinding dan plafon, gantungan lampu, hingga souvenir dengan berbagai macam bentuk. Casting plaster merupakan pruduk gypsum dari pabrik yang dijual dalam kemasan per 20 kg berbentuk sak .

Sifat sifat gypsum adalah tidak mudah terbakar, ramah lingkungan tetapi tidak tahan terhadap air seperti yang tertulis pada buku petunjuk pemakaian papan gypsum Jayaboard”, casting plaster mudah dan cepat mengeras jika dicampur air dengan perbandingan 2 gypsum :1 air, mudah dibentuk sesuai dengan cetakan atau yang dikehendaki.

Air

Air adalah bahan pembantu pengerasan, casting plaster akan dapat mengeras jika dicampur dengan air ber  perbandingan tertentu. Yang digunakan adalah air yang dapat diminum atau air bersih,

      Bata ringan akustik

 

             Bata ringan adalah bata yang memiliki berat dibawah bata merah yaitu 1700 Kg/m3 (menurut Pedoman Pembebanan Indonesia 1983)

      Sedangkan Akustik berasal dari bahasa inggris” A’coustics” yang artinya ilmu gelombang suara , ilmu bunyi, sifat khas bunyi dalam suatu ruangan yang dapat di dengar dengan jelas.Untuk mendapatkan suara yang bisa diterima dengan jelas diperlukan bahan yang dapat mengendalikan gelombang bunyi, dan ini akan diperoleh dari bahan yang lunak atau berongga sehingga gelombang bunyi dapat terurai.seperti yang tertulis pada buku akustik lingkungan bahwa karakteristik akustik dasar adalah semua bahan berpori seperti papan serat, plesteran lembut, mineral wools, dan selimut isolasi merupakan suatu jaringan seluler dengan pori pori yang saling berhubungan.

      Jadi bata ringan akustik adalah bata yang mampu untuk kedua nya yaitu ringan dan dapat berfungsi sebagai

      pengendali gelombang suara atau bunyi dalam suatu ruangan

 

Proses pembuatan bata akustik

Awal pembuatan bata akustik dimulai dari penyiapan material dan peralatan kemudian dilanjutkan dengan pencetakan, ukuran bata akustik adalah  5 X 10 X 20,6 cm.sedangkan tempat pelaksanaan pembuatan dibengkel Teknologi Batu dan Beton PPPPTK/VEDC Malang

Limbah gergajian kayu yang diambil (dibeli) dari tempat penggergajian kayu dikumpulkan pada bak dan ditempatkan pada tempat terlindung, hal ini utuk mempertahankan kondisi limbah gergajian kayu dalam kondisi kering normal.sedangkan casting plaster beli dalam bentuk sak sakan dengan berat 20 kg menggunakan merk jaya board,  merk ini dipilih karena peneliti sudah lebih famlier dibandingkan dengan merk lain, air yang dipakai menggunakan air yang ada di PPPPTK BOE/VEDC Malang

 

         Gambar. 1. Serbuk gergajian kayu   Gambar.2. Gypsum (casting plaster)

 

Peralatan yang digunakan adalah: ember, sekop, cetok, kapi baja, kuas, kotak adukan, cetakan batakhusus, palu karet

Gambar. 3 . Peralatan yang digunakan

 

Sebelum membuat bata akustik terlebih dahulu mempersiapkan material danperalatan yang akan digunakan, langkah langkah pembuatan bata akustik adalahsebagai berikut : 

1.    Menakar limbah gergajian kayu dengan ember sebanyak 3 bagian (3 ember) 

2.    Menakar gysum sebanyak 1 bagian (1 ember) 

3.    Menyiapkan air 1 ember 

 

Gambar. 4. Menyiapkan material

 

    4.    Tuang ketiga bahan tersebut kedalam bak adukan secara berurutan yaitu dimulai dari limbah gergajian kayu, gypsum, kemudian diaduk aduk dan setelah tercampur merata baru ditambahkan air sambil  diaduk kembali hingga merata

 

 

 

Gambar 5. Menuang meterial  ke tempat adukan   Gambar 6. Mencampur adukan kering

 

Gambar7. Campuran kering homogin    Gambar 8. Campuran kering ditambah air

               

5.    Pencetakan  bata akustik

 

Siapkan cetakan dalam kondisi bersih  kemudian tuang adukan kira kra 1/3 cetakan sambil dipadatkan dengan bilah kayu atau sejenisnya , tuang lagi hingga mencapai kira kira 2/3 cetakan sambil dipadatkan seperti  tahap pertama, lanjutkan hingga penuh dan selalu dipadatkan, khusus yang terakhir harus diratakan pada bagian permukaanya.

Menuangkan adukan dan pemadatan harus dengan kecepatan tinggi karena adukan akan mengeras kira kira 30 menit sejak dicampur dengan air

 

 Gambar.9.Mencetak bata ringan akustik

 6.    Hasil cetakan dibiarkan kira kira 1 jam (untuk pengerasan) kemudian dibuka

 

Gambar.10. Mengeluarkan bata ringan akustik dari cetakan 

7.    Setelah dibuka dari cetakan, bata ringan akustik ditempatkan di palet dan dibiarkan mengering

 

Gambar.11. Hasil pencetakan bata ringan 

 

 

Gambar.12. Bata akustik setelah kering, siap dipasang sebagai peredam

No

Beratbasah

(kg)

Beratkering

(kg)

Keterangan

1

2,3

1,22

 

2

2.21

1,2

 

3

2,22

1,23

 

4

2,2

1,22

 

5

2,24

1,23

 

6

2.15

1,17

 

7

2.13

1,19

 

8

2.33

1,24

 

9

2.2

1,2

 

10

2.17

1,18

 

11

2,16

1,21

 

12

2,1

1,17

 

13

2,24

1,22

 

14

2,3

1,24

 

15

2,23

1,21

 

16

2,23

1,22

 

17

2,16

1,18

 

18

2,19

1,19

 

19

2,18

1,18

 

20

2,22

2,21

 

Rata2

2.208

1.25

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel pengujian berat bata akustik 

HasilPengujian

 

Pengujian yang dilakukan dibatasi pada pengujian berat dan kekerasan secara visual, serta hanya diambil 20 buah sebagai sampel, pengambilan sampel dilakukan pada hari yang sama dari beberapa kali pencetakan.

 

1.  Berat basah rata rata 2.21 kg

2.  Berat kering rata rata 1.25 kg

3.  Pengeringan dengan dijemur alami selama 8 jam tiap hari dimulai dari jam 07.00 sampai jam 15.00 (8 jam/hari) butuh waktu 4 hari.

4.  Pengeringan di ruangan terbuka beratap atau diangin anginkan butuh waktu 4 minggu (satu bulan)

5.  Warna batu bata akustik sangat dipengaruhi warna serbuk kayunya, kurang lebih berwarna keputih putihan dan kemerah merahan.

6.  Kekerasan tidak diuji, karena  bata akustik ini hanya digunakan sebagai dinding penyekat yang berfungsi sebagai peredam suara (bunyi) 

 

Dari hasil pengujian diatas dapat disimpulkan bahwa :

 

1.    Limbah gergajian kayu dicampur dengan gypsum dengan perbandingan 1 gypsum: 3 serbuk gergajian kayu bisa dicetak (dibuat) menjadi bata ringan akustik

2.    Limbah gergajian kayu bisa dimanfaatkan sebagai bahan finishing bangunan gedung khususnya untuk dinding penyekat atau peredam suara

3.    Dengan diciptakanya bata ringan yang terbuat dari limbah gergajian kayu, secara otomatis akan mengurangi pencemaran lingkungan yang berupa limbah padat dan asap akibat pembakaran.

 

 

Refensi

 

1.Agung suprihatin, Dwiprihatno,Michel Gelbert. 1999. Sampah dan Pengelolaanya. Edisi ke2.PPPGT/VEDC  Malang.

2.Kantor Menteri Negara ingkungan Hidup   1997.Buku publikasi awal,Agenda 21   Indonesia Strategi Nasional Untuk   Pembagunan Berkelanjutan. Jakarta,  Palangi rafika.

3..Koesnadi Hardjosoemantri, 1997.  Hukum Tata Lingkungan. Edisi ke 6  Cetakan ke 13. Jogjakarta, Gajah Mada  University Pess.

4.Leslie L.Doelle, Lea Prasetio, Akustik Lingkungan, Erlangga, Jakarta 1985 hal.15-22

5.Prasasto Satwiko, 2004, Fisika Bangunan 2. Andi Jogjakarta, hal 14-162

6.Solusi Sistem, 2005, Petunjuk  Penggunaan, Jayaboard, Majalah

 

 

 

 

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG