Sambungan Ekor Burung (Dove Tail Joint) pada Furnitur Kayu

Sambungan Ekor Burung (Dove Tail Joint) pada Furnitur Kayu

Oleh : Amin Suminto (Widyaiswara Madya PPPPTK BOE Malang) 

 

Abstraksi:

 

Sambungan ekor burung (dove tail joint) pada furnitur kayuyaitu sambungan sudut yang paling bagus dan sangat digemari oleh banyak orang, karena sambungan sudut ini sambungan sudut yang paling sulit dibandingkan sambungan-sambungan sudut yang lain.

 

Agar dalam pembuatan sambungan ekor burung ini tidak sering terjadi kesalahan pada waktu melakukan pembagian lubang maupun pen ekor burungnya, maka sebaiknya dibuat acuan perhitungan pembagian lubang dan pen ekor burung yang sama besarnya dan benar.

 

Disini dibuatkan acuan atau langkah-langkah cara melukis pada benda kerja dan membuat sambungan sudut ekor burung yang benar dan bagus, agar hasilnya sangat memuaskan.

Kata kunci: Dove tail joint, lubang, pen ekor, masif.

 

Adapun urutan langkah-langkah pembuatan sambungan sudut ekor burung (dove tail joint) adalah sebagai berikut:

 

1. Sambungan ekorburung:

Ekor burung adalah sambungan sudut yang sudah lama dikenal. Terutama digunakan untuk benda dari kayu masifKadang-kadang juga digunakan pada benda kerja dari bahan block board (kayu olahan).

 

2. Sambungan ekor burung sederhana/ terbuka:

Pada ekor burung sederhana bagian hubungannya, pen dan lubangnya terbuka. Karena pen ekor burung berbentuk baji, sambungan ini dapat dilem tanpa pres. Kalau diinginkan terlihat sisi depan verstek (perabot masif), maka ekor burung yang pertama dapat dipotong verstek. Ekor burung sederhana digunakan pada laci, rak, perabot kayu masif.

 

2.1.        Pembagian ekor burung dilakukan pada garis tengah ekor burung

(lihat gambar):

Digunakan rumus:

Jumlah pen ekor burung    =  (Lebar kayu) / (3 x ½ tebal  kayu)                                                 

Jumlah pen sisi lain            =  Jumlah pen ekor burung + 1

Jumlah bagian                     =  2 x jumlah pen + 1 x jumlah pen yang lain

     1 (satu) bagian                    (lebar kayu)  / (Jumlah bagian).

 

Kemiringan ditentukan seperti terlihat pada gambar.

Contoh:

Lebar papan                          = 120 mm,        

Tebal papan                           = 20 mm. 

Jumlah pen ekorburung         = 120 / (3 x ½ x 20)  = 120 / 30= 4

Jumlah pen sisi lain               =  4 + 1 = 5

Jumlah bagian                        =  (2 x 4) + (1 x 5) = 8 + 5 = 13

1 bagian                                  =  120: 13              = 9,2 mm.                                     

Kemungkinan 1                      = Pembagian ekor burung

 

                         

 

 

1.    Pembagian ekor burung, dilakukan pada sisi dalam.

Lubang dan pen dibagi sama lebar. Cara kedua ini lebih mudah dari pada cara yang pertama, tetapi pen sisi samping /  tepi lebih lebar.

 

Pembagian ekor burung       =   (Lebar kayu/ (Tebal kayu)

                                                 =  120 / 2=  6 + 1 = 7

                                                             

      Jika hasilnya gasal, bisa dibulatkan keatas atau kebawah. Kemiringan ekor burung dilakukan engan siku-siku swai (siku-siku goyang) yang sudah disetel kemiringannya dengan perbandingan 1 : 7.

 

Kemungkinan 2

       

 

2.2. Ekor burung setengah tertutup / terbenam:

Sambungan ini dipakai jika ekor burung tidak dikehendaki kelihatan pada satu  sisi. Tebal yang menutupi hendaknya1/3 sampai ¼ tebal kayu.

Penutup ini menutup kepala kayu pen ekor burung. Pembagian ekor burung dapat dilakukan seperti cara di atas tetapi tebal kayu T diganti A. Jika ekor burung setengah tertutup digunakan pada papan laci muka yang miring, harus diperhatikan, setengah pen ekor burung dan pen sisi lain sejajar dengan arah serat samping.

 

                    Kemungkinan 1

 

 

 

                     Kemungkinan 2

 

 

 

 

 

 

 

       

 

 

2.3. Ekor burung tersembunyi (verstek):

Ekor burung verstek disebut juga ekor burung tersembunyi. Sangat jarang digunakan karena elemen penghubung tidak kelihatan, maka sambungan ekor burung dapat diganti dengan sambungan yang lebih praktis misalnya pen bulat atau pen isian.

 

                              

 

 

2.4. Pengerjaan Konstruksi Ekor Burung dengan Mesin:

Ekor burung manual (dikerjakan dengan tangan) membutuhkan waktbanyak. Jika di kehendaki sambungan ekor burung dalam jumlah banyak, kita mengerjakannya dengan mesin ekor burung.

Sebuah pisau frais (girik) ekor burung pada mesin girik atas melalui pengantar menggirik langsung dengan satu kali jalan pen dan lubangnya.

Melalui bentuk pisau dihasilkan dasar ekor burung terbuka atau setengah tertutup. Pada konstruksi ½ ekor  burung tertutup, dasar ekor burung (yang bundar) akan tertutup sehingga tidak ada bedanya dengan ekor burung manual.

 

    

 

 

2.5.Kontruksi Ekor Burung Memanjang dan Menyudut:

Baik untuk kontruksi yang menahan tarikan. Kedalaman ekor burung 1/3 tebal papan. Untuk hubungan di tengah seperti lidah alur. Titik henti alur ekor burung dari ujung 7 mm. Bila terlalu lebar, sambungan pada bagian ini akan terbuka kalau kayu menyusut.

 

 

                           

 

 

Kesimpuan:

Bila dalam pembuatan sambungan ekor burung ini tidak sering terjadi kesalahan pada waktu melakukan pembagian lubang maupun pen ekor burungnya, maka sebaiknya dibuat acuan perhitungan pembagian lubang dan pen ekor burung yang sama besarnya dan yang benar.

 

Disini dibuatkan acuan atau langkah-langkah cara melukis pada benda kerja dan membuat sambungan sudut ekor burung yang benar dan bagus, agar hasilnya dapat baik, untuk itu apabila membuat perabot kayu dengan sambungan sudutnya menggunakan sambungan ekor burung yang benar dan baik, maka hasilnya akan lebih kuat, lebih bagus, lebih menarik, lebih memuaskan, dan lebih layak jual. 

 

 

Referensi :

-          Yuswanto, 2000, Finishing Kayu, Yayasan Kanisius, Jogyakarta.

-          Herbst, 2005, HOLZTECHNIK Fahkunde EUROPA LEHRMITTEL,

halaman 211 s.d 215.

 

 

BAGAIMANA MERANCANG DAPUR RUMAH YANG ERGONOMIS?

BAGAIMANA MERANCANG DAPUR RUMAH YANG ERGONOMIS?

Budi Martono

Abstraksi

Merancang dapur rumah yang ergonomis merupakan upaya kreatif dan inovatif dengan memperhatikan standar, ukuran, dan ketentuan yang berlaku.

Rancangan dapur rumah yang ergonomis harus memenuhi beberapa aspek, yaitu: aspek kesehatan, aspek kenyamanan, aspek keamanan, dan aspek efisiensi.

Dengan rancangan dapur rumah yang ergonomis maka ruangan menjadi efektif dan efisien serta mendapatkan kenyamanan beraktivitas di dalam dapur.

Kata kunci: Merancang dapur, ergonomis.

                                                                                                                        

I.        PENDAHULUAN

Dapur merupakan salah satu dari beberapa ruangan yang harus ada di dalam rumah tinggal. Dapur tidak hanya sekedar tempat menyiapkan makanan, tetapi dapat juga dipakai rekreasi dan tempat berkomunikasi bagi keluarga. Kegiatan memasak merupakan kegiatan rutin setiap hari. Bekerja di dapur dilakukan sejak pagi hari hingga pada malam hari, mulai menyiapkan sarapan pagi, makan siang dan makan malam. Maka dari itu, dapur harus didesain secara efisien, efektif, dan fungsional sehingga mudah untuk dikelola serta menghindari kecelakaan atau masalah kesehatan akibat kelalaian kerja.

Ergonomis adalah kesesuaian antara fungsi tubuh manusia (pengguna) dengan alat atau fasilitas yang berinteraksi langsung dalam sebuah aktivitas yang sedang berlangsung. Pada intinya adalah untuk mendapatkan kenyamanan fisik pengguna dalam melakukan aktivitas dengan menggunakan fasilitas yang sesuai. Aplikasi konsep ergonomis berbeda-beda untuk setiap penggunanya. Hal ini berdasarkan ukuran fisik pengguna dan fasilitas yang digunakan. Ukuran fisik pengguna ditentukan oleh usia, ras dan karakter khusus masing-masing, sehingga fasilitasnya pun akan disesuaikan dengan ukuran pengguna.
Dengan ergonomi kita mampu menekan dampak negatif pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ergonomi hendaknya dimasukkan sedini mungkin bahkan dari mulai rancangan, sehingga dapat menekan kesalahan sesedikit mungkin.

Rancangan dapur yang sudah ada sekarang mempunyai  beberapa aspek dalam ergonomi yang belum dipenuhi, yaitu:

a. Aspek Kesehatan

- Ketinggian unit dapur yang dibeli secara built in, atau yang disediakan pihak

pengembang perumahan biasanya dibuat seragam, yaitu 85 cm, sehingga orang yang berpostur lebih tinggi dari itu atau lebih pendek, jadi kurang nyaman dalam bekerja.

- Kompor dua tungku yang diletakkan begitu saja di atas meja menyebabkan tinggi penggorengan bertambah + 20 cm, yang menyebabkan proses menggoreng tidak terjadi dalam postur tubuh ideal.

b. Aspek Kenyamanan

- Pencahayaan perlu didesain sedemikian rupa, sehingga bagian yang paling lama digunakan mendapat pencahayaan terbesar.

c. Aspek Keamanan

- Yang masih perlu diperbaiki dari dapur yang ada saat ini adalah aspek keamanan dari kemungkinan terjadinya kebakaran.

d. Aspek Efisiensi

- Desain dapur yang meliputi sistem perletakan peralatan di dapur serta desain furniturnya seringkali kurang memperhatikan alur kerja, sehingga menyebabkan pekerjaan di dapur menjadi kurang efisien.

 

II.        RANCANGAN DAPUR RUMAH YANG ERGONOMIS

1.    Tinjauan dari aspek kesehatan

Menurut Gilly Love dalam bukunya Membuat Dapur Idaman, idealnya ketinggian area kerja ini adalah sama tinggi dengan pinggang. Sedangkan ukuran tinggi meja untuk aktifitas menguleg yang sesuai dengan postur tubuh berdasarkan antropometri adalah minimal 70 cm. Tinggi meja lebih rendah karena digunakan untuk aktifitas yang lebih berat.

Pada kegiatan ini, ketinggian meja yang cukup rendah akan membuat lengan lebih mudah bekerja saat mengaduk atau membolak-balik makanan di penggorengan atau panci.

Untuk postur tubuh ideal saat memasak, ukuran tinggi meja kompor yang ideal dan sesuai dengan postur tubuh berdasarkan antropometri adalah 70 cm, dengan tinggi tersebut posisi kompor tidak menumpang seperti biasa sehingga nantinya tinggi kompor akan sejajar dengan tinggi meja racik yang sesuai dengan posisi ideal postur tubuh.

Permukaan meja kerja juga harus diperhatikan berapa lebarnya. Daya jangkau tangan manusia, khususnya wanita, ke depan adalah 85 cm, sementara ke samping antara 42cm - 62cm.

Almari penyimpanan juga sering dibuat tanpa memperhitungkan ukuran yang pas. Dalam Kitchens That Work yang ditulis oleh Martin Edic dan Richard Edic dikatakan, bahwa tinggi almari penyimpanan yang masih bisa dijangkau tangan adalah 2m. Tinggi setiap rak di dalam almari pun perlu diperhatikan, ukuran yang ideal adalah sekitar 65cm - 180cm.

Area berikutnya adalah area cuci piring (kitchen sink). Imelda Akmal dalam bukunya Seri Menata Rumah: Ruang Makan menuliskan, bahwa tinggi bak cuci sebaiknya antara 70cm - 80cm dari lantai. Jadi, penggunanya tidak perlu membungkuk untuk menjangkau dasar bak.

 

 

Gambar 1. Standard dimensi kitchenset

Sumber:  http://queenzakitchenset.com/standard-dimensi-kitchenset.html

 

2.    Tinjauan dari aspek kenyamanan

Memasak akan menghasilkan asap yang cukup banyak. Jika ventilasi dan bukaan jendela tidak memadai, asap dapat mengganggu pernafasan kita.  Solusinya, anda dapat menambahkan kipas angin (exhaust fan), penghisap asap (cooker hood) dan penyaring udara (air filter). Untuk pencahayaan, manfaatkan cahaya yang didapatkan melalui bukaan dan jendela dinding. Jika ingin menghemat listrik, anda dapat membuat jendela pada langit-langit dapur. Selain sebagai penerangan, cahaya matahari yang masuk melalui jendela langit-langit akan mengurangi kelembaban pada dapur dan mencegah munculnya jamur.

 

 

Gambar 2. Pencahayaan dan sirkulasi udara alami pada dapur berasal dari pintu kaca

Sumber:

http://www.disukai.com/2012/08/contoh-desain-dapur-minimalis-modern-sederhana.html

 

 

Gambar 3. Pencahayaan alami pada dapur berasal dari atap dan pintu kaca

Sumber:

https://rhilyzoro.wordpress.com/2014/10/29/dapur-sehat-dan-ramah-lingkungan/

 

 

3.    Tinjauan dari aspek keamanan

Untuk keamanan pada area masak yaitu kemungkinan terjadinya kebakaran dan ledakan pada tabung gas LPG, maka penyimpanan tabung LPG sebaiknya jangan terlalu dekat dengan kompor dan harus ada saluran udara yang cukup.

Posisi selang dan regulator yang tidak terpasang dengan sempurna juga seringkali menjadi penyebab terjadinya ledakan pada tabung gas. Karena itu, sebelum menyalakan kompor gas, pastikan selang sudah terpasang dengan baik pada regulator maupun kompor. Pastikan pula regulator sudah terpasang dengan baik pada mulut tabung gas. Jika terdengar suara mendesis atau bau gas, itu berarti regulator belum terpasang dengan sempurna. Perbaikilah posisinya terlebih dahulu dengan menekan tuas pengaturnya hingga terdengar bunyi “klik”, sebelum kamu menyalakan kompor.

Selain itu, pastikan selang gas tidak tertekuk atau terjepit karena bisa menyebabkan aliran gas dari tabung ke kompor menjadi terhambat, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi nyala api. Selang yang tertekuk atau terjepit juga bisa membuat selang mudah rapuh, pecah dan kebocoran gas.

 

Gambar 4. Pastikan selang dan regulator terpasang dengan baik

Sumber:

https://blog.tokopedia.com/2015/01/9-tips-aman-memasak-dengan-kompor-gas/

 

Kompor dan tabung gas diletakkan di tempat yang permukaannya datar dan kokoh. Karena jika diletakkan pada permukaan yang tidak rata ataupun di atas tumpukan benda lainnya, tabung gas bisa saja terjatuh yang menyebabkan selang dan regulator tertarik sehingga menjadi longgar. Longgarnya regulator ini pada akhirnya bisa menyebabkan gas keluar, walaupun sedang tidak digunakan.

4.    Tinjauan dari aspek efisiensi

Dalam perencanaan tata letak/lay-out dapur, dikenal sebuah konsep yang disebut ‘kitchen work triangle’. Pola gerak seseorang yang bekerja di dapur seakan-akan membentuk ‘pola segitiga’ yang menghubungkan tiga komponen utama dari sebuah dapur, yaitu mencuci (sink), memasak (kompor), dan menyimpan (kulkas/regrigerator, cabinet).  

Tata letakdapur merupakan susunan komponen peralatan agar tercipta tempat kerja yang aman, efisien, efektif, dan ergonomis. Untuk menghasilkan sebuah dapur yang ergonomis dan nyaman, ada beberapa hal yang harus dipenuhi, yaitu:

·         Jarak masing-masing antara ketiga komponen di atas adalah antara 4-9 feet (100-228 cm.)

·         Total jarak ketiga komponen dalam pola segitiga tersebut maksimal adalah 12-26 feet (305-660 cm.)

·         Pola segitiga gerak tersebut tidak terganggu di jalur sirkulasi ruangan.

Bila terlalu dekat dari jarak di atas, maka dapur akan terasa sempit, sementara bila terlalu jauh akan menimbulkan kelelahan bagi pengguna dapur.

 

 

Gambar 5. Tiga fungsi utama dapur

Sumber:http://this-mymind.blogspot.com/2008/11/yuk-bikin-dapur.html

 

Berdasarkan konsep di atas, ada beberapa bentuk tata letak/lay out dapur yang biasa digunakan yaitu:

·         ‘L shaped kitchen’.

Penataan meja dapur yang menempel pada dua bidang dinding yang menyudut sehingga berbentuk seperti huruf L.

·         ‘U shaped kitchen’.

Penataan meja dapur yang menempel pada tiga bidang dinding yang berbentuk seperti huruf U.

·         ‘G shaped kitchen’.

Pengembangan dari bentuk U shaped, yaitu penataan meja dapur yang menempel pada dua bidang dinding dan satu bidang meja lepas, sehingga berbentuk seperti huruf G.

·         ‘Island Kitchen’.

Pengembangan dari dapur berbentuk U, tetapi dengan kompor terpisah sehingga seakan-akan membentuk pulau tersendiri.

 

·         ‘Single Wall / Straight Kitchen’.

Meja dapur yang menempel hanya pada satu bidang dinding.

·         ‘Corridor / Gallery Kitchen’.

Meja dapur yang menempel pada dua bidang dinding yang berseberangan, dan menyisakan jalur sirkulasi di tengahnya.

 

 

Gambar 6. Bentuk tata letak/lay-out dapur

Sumber: https://septanabp.wordpress.com/tag/menata-dapur/

 

III.        KESIMPULAN

Salah satu dari beberapa ruangan yang harus ada di dalam rumah tinggal adalah dapur.  Untuk itu dapur harus dirancang secara efisien, efektif, dan fungsional sehingga mudah untuk dikelola serta menghindari masalah kesehatan akibat kelalaian kerja.

Ada beberapa aspek untuk merancang dapur rumah yang ergonomis, yaitu: aspek kesehatan, aspek kenyamanan, aspek keamanan, dan aspek efisiensi.

Rancangan dapur rumah yang ergonomis dan dibuat secara kreatif dan standar, maka ruangan menjadi efektif serta mendapatkan kenyamanan dan keamanan beraktivitas di dalam dapur.

 

IV.        REFERENSI

http://ergonomi-fit.blogspot.com/2011/03/antropometri.html                                            

https://bambangwisanggeni.wordpress.com/2010/03/02/antropometri/

http://this-mymind.blogspot.com/2008/11/yuk-bikin-dapur.html

https://septanabp.wordpress.com/tag/menata-dapur/

http://www.rihants.com/2011/07/aspek-ergonomis.htmlhttp://properti.kompas.com/read/2013/03/04/1434420/Inikah.Ukuran.Standar.Dapur.yang.Ideal.

https://blog.tokopedia.com/2015/01/9-tips-aman-memasak-dengan-kompor-gas/

 

PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI DALAM PEKERJAAN PROYEK

PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI

 DALAM PEKERJAAN PROYEK

 

Bambang Wijanarko

 

Abstraksi

 Alat pelindung diri (APD) adalah suatu kewajiban dimana biasanya para pekerja atau buruh bangunan yang bekerja disebuah proyek atau pembangunan sebuah gedung, diwajibkan menggunakannya. Alat-alat demikian harus memenuhi persyaratan tidak mengganggu kerja dan memberikan perlindungan efektif terhadap jenis bahaya. Alat Pelindung Diri yang disediakan oleh pengusaha dan dipakai oleh tenaga kerja harus memenuhi syarat pembuatan, pengujian dan sertifikat. Tenaga kerja berhak menolak untuk memakainya jika APD yang disediakan jika tidak memenuhi syarat. Alat Pelindung diri berperan penting terhadap Kesehatan dan Keselamatan Kerja, serta mencegah berguna untuk mencegah pekerja dari kecelakaan seperti: Tertimpa benda keras dan berat, tertusuk atau terpotong benda tajam, terjatuh dari tempat tinggi, terbakar atau terkena aliran listrik, terkena zat kimia berbahaya pada kulit atau melalui pernafasan, pendengaran menjadi rusak karena suara kebisingan, penglihatan menjadi rusak diakibatkan intensitas cahaya yang tinggi, terkena radiasi dan gangguan lainnya.Macam alat pelindung diri antara lain adalah: Masker alat pelindung hidung, topi pengaman, sarung tangan, sepatu pengaman sebagai alat pelindung kaki, pakaian kerja, tali pengaman untuk melindungi pekerja dari kemungkinan jatuh.

 

Kata Kunci: Alat pelindung diri, pekerjaan proyek

 

 

 A.     Pendahuluan.

      Dalam setiap kegiatan melakukan pekerjaan seseorang yang terlibat dengan pekerjaan yang dimaksud tidak akan lepas dengan kemungkinan kecelakaan ataupun pengaruh yang berdampak pada kesehatan itu sendiri. Keselamatan dan kecelakaan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan. Kecelakaan adalah kejadian yang tak terduga dan yang tak diharapkan yang dapat menyebabkan kerugian material ataupun penderitaan dari yang paling ringan sampai yang yang paling berat.

      Upaya kesehatan kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat sekelilingnya, agar diperoleh produktifitas kerja yang optimal.

 Hazard adalah suatu potensi bahwa dari suatu urutan kejadian akan timbul suatu kerusakan atau dampak yang akan merugikan. Ruang lingkup upaya kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun psikis dalam hal cara maupun metode kerja dan kondisi yang bertujuan untuk :

 1.   Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja disemua lapangan kerja.

 2.   Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pekerja yang diakibatkan oleh keadaan atau kondisi lingkungan pekerjaannya.

 3.   Memberikan perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari kemungkinan dari bahaya yang disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan kesehatan.

 4.   Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.

 B.    Pengertian alat pelindung Diri

     Alat pelindung diri (APD) adalah suatu kewajiban dimana biasanya para pekerja atau buruh bangunan yang bekerja disebuah proyek atau pembangunan sebuah gedung, diwajibkan menggunakannya. Kewajiban itu sudah disepakati oleh pemerintah melalui Departemen tenaga Kerja Republik indonesia. Alat-alat pelindung diri yang demikian harus memenuhi persyaratan tidak mengganggu kerja dan memberikan perlindungan efektif terhadap jenis bahaya yang akan terjadi.

    Alat Pelindung diri (APD) berperan penting terhadap Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Dalam pembangunan nasional, tenaga kerja memiliki peranan dan kedudukan yang penting sebagai pelaku pembangunan. Sebagai pelaku pembangunan perlu dilakukan upaya-upaya perlindungan baik dari aspek ekonomi, politik, sosial, teknis, dan medis dalam mewujudkan kesejahteraan tenaga kerja.

 Bahaya yang mungkin terjadi pada proses produksi dan diprediksi akan menimpa tenaga kerja adalah sebagai berikut:

 a.  Tertimpa benda keras dan berat

 b.  Tertusuk atau terpotong benda tajam

 c.   Terjatuh dari tempat tinggi

 d.  Terbakar atau terkena aliran listrik

 e.  Terkena zat kimia berbahaya pada kulit atau melalui pernafasan.

 f.    Pendengaran menjadi rusak karena suara kebisingan

 g.  Penglihatan menjadi rusak diakibatkan intensitas cahaya yang tinggi

 h.  Terkena radiasi dan gangguan lainnya.

 Sedangkan kerugian yang harus ditanggung oleh pekerja maupun pihak pemberi kerja apabila terjadi kecelakaan adalah :

 -   Produktifitas pekerja berkurang selama sakit

 -   Adanya biaya perawatan medis atas tenaga kerja yang terluka, cacat, bahkan meninggal dunia.

 -   Kerugian atas kerusakan fisilitas mesin dan yang lainnya.

 -   Menurunnya efesiensi perusahaan.

 Alat Pelindung Diri (APD) bukanlah alat yang nyaman apabila dikenakan tetapi fungsi dari alat ini sangatlah besar karena dapat mencegah penyakit akibat kerja ataupun kecelakaan pada waktu bekerja. Pada kenyataannya banyak pekerja yang masih belum menggunakan alat pelindung diri ini karena merasakan ketidak nyamanan.

 C.    Penggunaan Alat Pelindung Diri

 Peraturan yang mengatur penggunaan alat pelindung diri ini tertuang dalam pasal 14 Undang-undang Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja, dimana setiap pengusaha atau pengurus perusahaan wajib menyediakan Alat Pelindung Diri secara cuma-cuma terhadap tenaga kerja dan orang lain yang memasuki tempat kerja. Berdasarkan peraturan tersebut secara tidak langsung setiap pekerja diwajibkan untuk memakai APD yang telah disediakan oleh perusahaan.

 Alat Pelindung Diri yang disediakan oleh pengusaha dan dipakai oleh tenaga kerja harus memenuhi syarat pembuatan, pengujian dan sertifikat. Tenaga kerja berhak menolak untuk memakainya jika APD yang disediakan jika tidak memenuhi syarat.

 D.    Macam-macam alat pelindung diri

 Macam-macam alat pelindung diri yang dibutuhkan untuk mencegah agar anggota tubuh terhindar dari kecelakaan pada saat bekerja adalah sebagai berikut dibawah ini :

 1). MASKER

 Masker digunakan untuk pada tempat-tempat kerja tertentu dan seringkali udaranya kotor yang diakibatkan oleh bermacam-macam hal antara lain :

 a.  Debu-debu kasar dari penggerinderaan atau pekerjaan sejenis

 b.  Racun dan debu halus yang dihasilkan dari pengecatan atau asap

 c.   Uap sejenis beracun atau gas  beracun dari pabrik kimia

 d.  Gas beracun seperti CO2 yang menurunkan konsentrasi oksigen diudara.

 

               

 Gambar 1. Pelindung Pernafasan

 Untuk mencegah masuknya kotoran-kotoran tersebut, kita dapat menggunakan alat yang biasa desebut dengan “masker” (pelindung pernafasan). Adapun hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan masker yaitu :

 a.  Bagaimana cara menggunakan secara benar

 b.  Macam dan jenis dari kotoran yang perlu dihindari

 c.   Lamanya menggunakan alat tersebut

 Jenis-jenis masker dan penggunaanya adalah :

 a). Masker Penyaring Debu

 Masker penyaring debu ini berguna  untuk melindungi pernafasan dari serbuk-serbuk logam, penggerindaan atau serbuk kasar lainnya.

 b). Masker berhidung

 Masker ini dapat menyaring debu atau benda lain sampai ukuran 0,5 mikron, bila kita sulit bernafas waktu memakai alat ini maka hidung-hidungnya harus diganti karena filternya telah tersumbat oleh debu.

 Hal yang perlu diingat dalam penggunaan masker berhidung adalah: Memasang masker ini harus menempel baik pada wajah. Untuk memeriksa ini tempelkan selembar kertas atau telapak tangan pada hidung. Bila masker terpasang baik pada wajah, maka kertas atau telapak tangan akan tertarik.

 a.Karena hidungnya dua buah, maka dalam pemasangannya jangan terbalik.

 b.  Bersihkanlah masker setelah pemakaian dan lepaskan hidung-hidungnya.

 2). KACAMATA

 Kacamata pengaman digunakan untuk melindungi mata dari debu kayu, batu, atau     serpihan  besi yang berterbangan di tiup angin. Mengingat partikel-partikel debu berukuran sangat kecil dan halus yang terkadang tidak terlihat oleh kasat mata. Pada bagian mata perlu mendapat perhatian dan diberikan perlindungan dengan alat pelindung mata, biasanya pekerjaan yang membutuhkan kacamata yaitu pekerjaan mengelas atau pekerjaan yang lainnya. Masalah tersulit dalam pencegahan kecelakaan adalah pencegahan kecelakaan yang menimpa mata dimana jumlah kejadiannya demikian besar.

  

                                                  

            Gambar 2. Alat Pelindung Muka

       Kebanyakan tenaga kerja merasa enggan memakai kaca mata karena ketidak nyamanan sehingga dengan alasan tersebut merasa mengurangi kenyamanan dalam bekerja. Sekalipun kaca mata pelindung yang memenuhi persyaratan demikian banyaknya. Upaya untuk pembinaan kedisiplinan pada pekerja, atau melalui pendidikan dan keteladanan, agar tenaga kerja memakainya. Tenaga kerja yang berpandangan bahwa resiko kecelakaan terhadap mata adalah besar akan memakainya dengan kemauan dan kesadarannya sendiri. Sebaliknya tenaga kerja yang merasa bahwa bahaya itu kecil, maka mereka tidak begitu mengindahkannya dan tidak akan mau memakainya. Kesulitan akan pemakaian kacamata ini dapat diatasi dengan berbagai cara. Pada beberapa perusahaan, tempat kerja dengan bahaya pekerjaan mata hanya boleh di masuki jika kaca mata pelindung di kenakan. Sebagaimana fungsi sebagai tempat kerja tersebut, maka suatu keharusan setiap tenaga kerja akan selalu  memakai kaca mata pelindung selama jam kerja, dan bagi barang siapa tidak memakai kaca mata pelindung akan merasa kalah bersaing bila dibandingkan tenaga kerja yang memakai kaca mata.

 3). SEPATU PENGAMAN

    Sepatu pengaman harus dapat melindungi tenaga kerja terhadap kecelakaan-kecelakaan yang disebabkan oleh beban berat yang menimpa kaki, paku-paku atau benda tajam lain yang mungkin terinjak, logam pijar, larutan asam dan sebagainya. Biasanya sepatu kulit yang buatannya kuat dan baik cukup memberikan perlindungan, tetapi  terhadap kemungkinan tertimpa benda-benda berat masih perlu sepatu dengan ujung berttutup baja dan lapisan baja didalam solnya. Lapisan  baja dalam sol sepatu perlu untuk melindungi pekerja dari tusukan benda runcing khususnya pada pekerjaan bangunan.

 

                                   

 Gambar 3. Alat Pelindung Kaki

 Untuk keadaan tertentu kadang-kadang harus diberikan kepada tenaga kerja sepatu pengaman yang lain. Misalnya, tenaga pekerja yang bekerja dibidang listrik harus mengenakan sepatu konduktor, yaitu sepatu tanpa paku dan logam, atau tenaga kerja ditempat yang menimbulkan peledakan diwajibkan memakai sepatu yang tidak menimbulkan loncatan bunga api.

 4). SARUNG TANGAN

 Sarung tangan harus disediakan dan diberikan kepada tenaga kerja dengan pertimbangan akan bahaya-bahaya dan persyaratan yang diperlukan. Antara lain syaratnya adalah bebannya bergerak jari dan tangan. Macamnya tergantung pada jenis kecelakaan yang akan dicegah yaitu tusukan, sayatan, terkena benda panas, terkena bahan kimia, terkena aliran listrik, terkena radiasi dan sebagainya.

 

                                               

   Gambar 4. Sarung tangan

 Harus diingat bahwa memakai sarung tangan ketika bekerja pada mesin pengebor, mesin pengepres dan mesin lainnya yang dapat menyebabkan tertariknya sarung tangan kemesin adalah berbahaya.

     Sarung tangan juga sangat membantu pada pengerjaan yang berkaitan dengan benda kerja yang panas, tajam ataupun benda kerja yang licin. Sarung tangan juga dipergunakan sebagai isolator untuk pengerjaan listrik. 

 5). TOPI PENGAMAN

 Topi pengaman (helmet) harus dipakai oleh tenaga kerja yang mungkin tertimpa  pada kepala oleh benda jatuh atau melayang atau benda-benda lain yang bergerak. Topi pengaman harus cukup keras dan kokoh, tetapi ringan. Bahan plastik dengan lapisan kain terbukti sangat cocok untuk keperluan ini.

 

                                                          

       Gambar 5. Topi Pengaman

     Topi pengaman dengan bahan elastis seperti karet atau plastik pada umumnya dipakai oleh wanita. Rambut wanita yang panjang memiliki potensi resiko ditarik oleh mesin. Oleh karena itu penutup kepala harus dipakai agar rambut tidak terbawa putaran mesin dengan cara rambut diikat dan ditutup oleh penutup kepala.

 6). PERLINDUNGAN TELINGA

      Alat ini digunakan untuk menjaga dan melindungi telinga dari bunyi-bunyi yang yang bersumber atau dikeluarkan oleh mesin yang memiliki volume suara yang cukup keras dan bising. Alat perlindungan telinga harus dilindungi terhadap loncatan api, percikan logam, pijar atau partikel yang melayang. Perlindungan terhadap kebisingan dilakukan dengan sumbat atau turup telinga.

 

                                                                                     

                                           Gambar 6. Alat Pelindung  Pendengaran

 7). ALAT PELINDUNG DIRI LAINNYA

     Masih banyak terdapat alat-alat pelindung diri lainnya seperti “tali pengaman” bagi tenaga kerja yang mungkin terjatuh, selain itu mungkin pula diadakan tempat kerja khusus bagi tenaga kerja dengan segala alat proteksinya. Juga ‘’pakaian khusus’’ bagi saat terjadinya kecelakaan atau untuk proses penyelamatan.

                                                             

               Gambar 7. Alat Pelindung  Tubuh

   Pakaian kerja harus dianggap suatu alat perlindungan terhadap bahaya-bahaya kecelakaan. Pakaian tenaga kerja pria yang bekerja melayani mesin seharusnya berlengan pendek, pas (tidak longgar) pada dada atau punggung, tidak berdasi dan tidak ada lipatan-lipatan yang mungkin mendatangkan bahaya. Bagi tenaga kerja wanita sebaiknya memakai juga  celana panjang, ikat rambut, baju yang pas dan tidak memakai perhiasan-perhiasan yang dapat mengganggu saat bekerja. Pakaian kerja sintetis hanya baik terhadap bahan-bahan kimia korosif, tetapi justru berbahaya pada lingkungan kerja dengan bahan-bahan yang dapat meledak oleh aliran listrik statis.

 E.  Kesimpulan

 -       Alat pelindung diri (APD) adalah suatu kewajiban dimana biasanya para pekerja atau buruh bangunan yang bekerja disebuah proyek atau pembangunan sebuah gedung, diwajibkan menggunakannya.

 -       Alat-alat demikian harus memenuhi persyaratan tidak mengganggu kerja dan memberikan perlindungan efektif terhadap jenis bahaya.

 -       Alat Pelindung Diri yang disediakan oleh pengusaha dan dipakai oleh tenaga kerja harus memenuhi syarat pembuatan, pengujian dan sertifikat. Tenaga kerja berhak menolak untuk memakainya jika APD yang disediakan jika tidak memenuhi syarat.

 -       Alat Pelindung diri berperan penting terhadap Kesehatan dan Keselamatan Kerja, serta mencegah berguna untuk mencegah pekerja dari kecelakaan seperti: Tertimpa benda keras dan berat, tertusuk atau terpotong benda tajam, terjatuh dari tempat tinggi, terbakar atau terkena aliran listrik, terkena zat kimia berbahaya pada kulit atau melalui pernafasan, pendengaran menjadi rusak karena suara kebisingan, penglihatan menjadi rusak diakibatkan intensitas cahaya yang tinggi, terkena radiasi dan gangguan lainnya.

 -       Macam alat pelindung diri antara lain adalah: Masker alat pelindung hidung, Topi pengaman, sarung tangan, sepatu pengaman sebagai alat pelindung kaki, pakaian kerja, tali pengaman untuk melindungi pekerja dari kemungkinan jatuh.

 Referensi :

 -       - www.sistimmanajemenkeselamatankerja.blogspot/com/2013/10/alat-pelindung-diri-apd.html

 -       - Anizar. 2009. Teknik Keselamatan  dan Kesehatan Kerja  di Industri. Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu.

 -      -  http://id.wikipedia.org/wiki/Alat_pelindung_diri

 -http://www.academia.edu6688313BAB_I_ALAT_PELINDUNG_DIRI

 -http://referensi-bisnis.blogspot.com/2013/09/cara-mencegah-kecelakaan-kerja.html

-     http://www.hsecoal.com/2014/08/mengenal-apd-beserta-fungsinya.html

-  http://nadzibillah.blogspot.com/2014/01/alat-pelindung-diri-dalam-k3.html

-   https://superthowi.wordpress.com/2013/07/20/macam-macam-alat-perlindungan-diri-k3/

-http://k3tium2013.blogspot.com/2013/1/v-ehaviorurldefaultvmlo_18.html

 

 

PENTINGNYA MEMILIKI PENGETAHUAN DASAR TENTANG BEKISTING PADA PEKERJAAN BETON

 PENTINGNYA MEMILIKI PENGETAHUAN DASAR TENTANG BEKISTING PADA PEKERJAAN BETON

Uberlin

Abstraksi

Bekisting adalahkonstruksi bersifat sementara yang  merupakan cetakan untuk menentukan bentuk dari konstruksi beton pada saat beton masih segar.  Menurut Stephens (1985), formwork atau bekisting adalah cetakan sementara yang digunakan untuk menahan beton selama beton dituang dan dibentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Dikarenakan berfungsi sebagai cetakan sementara, bekisting akan dilepas atau dibongkar apabila beton yang dituang telah mencapai kekuatan yang cukup.

Ada beberapa hal penting yang harus dipertimbangkan dalam membangun dan merancang bekisting, yaitu : Bekisting harus didesain dan dibuat dengan kekakuan (stiffness) dan keakurasian sehingga bentuk, ukuran, posisi, dan penyelesaian dari pengecoran dapat dilaksanakan sesuai dengan toleransi yang diinginkan.
Bekisting harus didirikan dengan kekuatan yang cukup dan faktor keamanan yang memadai sehingga sanggup menahan atau menyangga seluruh beban hidup dan mati tanpa mengalami keruntuhan atau berbahaya bagi pekerja dan konstruksi beton.Bekisting harus dibuat secara efisien, meminimalisasi waktu dan biaya dalam proses pelaksanaan dan jadwal demi keuntungan kontraktor dan owner (pemilik).

Memiliki pengetahuan dasar tentang bekisting dapat meningkatkan produktivitas, kekuatan, kualitas dan keawetan dari bekisting sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pekerjaan bekisting. Disamping itu d

Kata kunci : cetakan beton segar, kualitas, keamanan, ekonomis, konvensional, sistem

 

A.           Definisi Bekisting

Bekisting adalah merupakan suatu konstruksi pendukung pada pekerjaan konstruksi beton dan biasanya terbuat dari bahan kayu,allmunium dan sebagainya. Berbagai material dapat digunakan namun pemilihan jenisnya harus mempertimbangkan dari segi teknis dan nilai ekonomisnya

Berdasarkan cara pengerjaannya bekisting dapat dibentuk secara konvensional yang langsung dikerjakan dilapangan maupun dengan sistem pabrikasi atau merupakan pengembangan dari sebuah sistem bekisting yang mudah dipasang, kuat, awet dan mudah dibongkar.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa konstruksi bekisting adalah sebuah konstruksi non permanent yang mampu memikul beban sendiri berat beton basah, beban hidup dan sebagai sarana pendukung dalam mencetak konstruksi beton sesuai dengan ukuran, bentuk, rupa serta bentuk permukaan yang diinginkan, dengan demikian bekisting berperan dalam proses produksi konstruksi beton.

Menurut Stephens (1985), formwork atau bekisting adalah cetakan sementara yang digunakan untuk menahan beton selama beton dituang dan dibentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Dikarenakan berfungsi sebagai cetakan sementara, bekisting akan dilepas atau dibongkar apabila beton yang dituang telah mencapai kekuatan yang cukup.

Menurut Blake (1975), ada beberapa aspek yang harus diperhatikan pada pemakaian bekisting dalam suatu pekerjaan konstruksi beton.

Aspek tersebut adalah :

Aspek pertama adalah kualitas bekisting yang akan digunakan harus tepat dan layak serta sesuai dengan bentuk pekerjaan struktur yang akan dikerjakan. Permukaan bekisting yang akan digunakan harus rata sehingga hasil permukaan beton baik.

Aspek kedua adalah keamanan bagi pekerja konstruksi tersebut, maka bekisting harus cukup kuat menahan beton agar beton tidak runtuh dan mendaangkan bahaya bagi pekerja sekitarnya

Aspek yang ketiga adalah biaya pemakaian bekisting yang harus direncanakan seekonomis mungkin

B.           Fungsi Bekisting

Dengan mendasarkan pada pengertian sebelumnya bahwa bekisting merupakan  konstruksi bersifat sementara maka hakekat dari pada bekisting itu adalah konstruksi sederhana tapi harus kuat, dan mampu menahan beban yang bekerja selama proses pekerjaan bekisting, pengecoran serta pasca pengeoran.

Pada dasarnya konstruksi bekisting memiliki tiga hal fungsi:

1.            Menentukan bentuk dari konstruksi beton yang dibuat.

2.            Memikul dengan aman beban yang  ditimbulkan oleh spesi beton serta beban luar lainya yang menyebabkan perubahan bentuk pada beton. Namun perubahan ini tidak melampui batas toleransi yang ditetapkan.

3.            Bekisting harus dapat dengan mudah dipasang, dilepas dan dipindahkan. Mempermudah proses produksi beton masal dalam ukuran yang sama.

Berdasarkan fungsi, konstruksi bekisting dapat dibagi dalam 3 bagian konstruksi ,

1.            Bekisting kontak

2.            Konstruksi penopang

3.            Bracing / skur (penjaga kestabilan).

Dalam proses desain cetakan perlu memperhatikan beberapa hal ,

1.            Kualitas material cetakan yang digunakan harus mampu menghasilkan permukaan beton yang baik dan ketepatan ukuran bekisting yang sesuai.

2.            Keamanan dari cetakan harus diperhitungkan dari perubahan pembebanan yang akan terjadi, tanpa menimpulkan bahaya bagi material maupun pekerja konstruksi itu sendiri.

3.            Memperhatikan faktor ekonomis agar dapat mereduksi biaya operasional bekisting.

C.           Jenis-Jenis Bekisting  

1.            Bekisting Konvensional (Bekisting Tradisional)Bekisting konvesional adalah bekisting yang menggunakan kayu ini dalam proses pengerjaannya dipasang dan dibongkar pada bagian struktur yang akan dikerjakan. Pembongkaran bekisting dilakukan dengan melepas bagian-bagian bekisting satu per satu setelah beton mencapai kekuatan yang cukup. Jadi bekisting tradisional ini pada umumnya hanya dipakai untuk satu kali pekerjaan, namun jika material kayu masih memungkinan untuk dipakai maka dapat digunakan kembali untuk bekisting pada elemen struktur yang lain :                                             Kekurangan bekisting konvensional adalah:

  • Material kayu tidak awet untuk dipakai berulang-ulang kali;
  • Waktu untuk pasang dan bongkar bekisting menjadi lebih lama;
  • Banyak menghasilkan sampah kayu dan paku, sehingga lokasi menjadi kotor;
  •  Bentuknya tidak presisi.

Berikut contoh penggunaan bekisting konvensional :

 

Gbr. 1. Bekisting  konvensiona

2.            Bekisting sistem                                                                  Bekisting sistem sering juga disebut bekisting modern, dimana dalam pengerjaannya memiliki keunggulan dibanding bekisting konvensional.

Keunggulan dari bekisting sistem adalah : mudah dipasang dan dibongkar, ringan, dapat dipakai berulang kali, kualitas pengecoran baik dengan siklus pembongkaran yang cepat serta dapat dipakai pada pekerjaan konstruksi beton yang besar.

Adapun kekurangan dari bekisting sistem adalah mahal, sulit didapat serta membutuhkan keahlian dan peralatan berat.                                                                                               Berikut contoh penggunaan bekisting konvensional :

Gbr. 2. Bekisting  sistem/modern

 

D.           Persyaratan Konstruksi Bekisting

Bekisting merupakan unsur yang sangat penting dalam mekanisme pengecoran beton, persyaratan terpenting adalah bahwa dimensi beton harus akurat dan tepat. Dibawah ini disebutkan beberapa persyaratan konstruksi bekisting,

1.            Konstruksi harus kuat

2.            Presisi

3.       Bentuk bekisting harus sesuai dengan bentuk konstruksi beton yang akan dicor dan memiliki unsur ketepatan yaitu: ukuran, ketegakan, kelurusan, kesikuan dan kerataan sehingga mendapatkan dimensi yang akurat.

4.            Tidak bocor

5.            Kedap air,

6.            Mudah dibongkar ,

7.            Awet,

8.     Aman, struktur bekisting harus menjamin keaman bagi pekerja maupun bagi beton itu sendiri.

9.        Bersih,  memungkinkan  hasil finishing permukaan beton      yang baik.

10.         Ekonomis.

11.         Daya lekat yang rendah,

Oleh sebab itu, sebuah bekisting harus diperhitungkan atas kekuatan,kekakuan serta kestabilan bagian – bagian dari konstruksi bekisting. Perubahan-perubahan yang terjadi yang menyebabkan perubahan bentuk pada beton tidak boleh melampui toleransi yang ditentukan.

Persyaratan teknis diatas merupakan mutu dan kualitas bekisting yang harus dikendalikan, sehingga perlu dikalukan pengontrolan agar kualitas bekisting dapat dicapai.

E.           Pembenanan

Berbagai beban yang perlu diperhatikan dalam merencanakan sebuah bekisting,pada prinsipnya berawal dari beban vertical dan beban horizontal serta pengaruh khusus angin dan getaran yang ditimbulkan oleh vibrator. Dengan demikian sebuah bekisting harus diperhitungkan terhadap kekuatan, kekakuan dan kestabilan

Beban yang dipikul dan harus diperhitungkan dalam perencanaan bekisting adalah sebagai berikut :

  •  Beban tetap, yaitu berat sendiri dari bekisting, beton segar serta besi tulang
  • Beban tidak tetap, adalah berat peralatan, pekerja, dan barang lainnya.

Beban ini harus mampu dipikul oleh bekisting dan hanya diperbolehkan terjadi lendutan sebesar maksimum yang diijinkan. Perhitungan beban vertikal yang direkomendasikan oleh Commitee ACI, sebagai dasar perhitungan adalah :      

  • Beton bertulang       : 2400 kg/m3
  • Bekisting                   :70 kg/m2
  •  Beban hidup            : 235kg/m2                                                                                    
  • Beban hidup min     : 150-250 kg/m2

 

 

Gbr. 3. Pembebanan bekisting

Sedangkan beban horisontal terjadi pada proses pengecoran sebagai akibat dari tekanan hidrostatis. Jadi tekanan horisontal dipengaruhi oleh :

  •  Mortal beton, berat volume, plastisitas dan kecepatan pengerasan
  • Proses pengeoran, temperatur lapangan, kecepatan pengecoran,metode kerja serta pemadatan
  • Beksiting, tinggi,bentuk dan dimensi
  •  Kondisi tulangan : jarak dan besar tulangan.

 

Gbr. 4. grafik tekanan horisontal beton

Besarnya defleksi yang diperkenankan pada konstruksi beton dan dapat dipakai pada konstruksi bekisting adalah antara 1/300 -1/360 L. Dan beberapa bagian bekisting yang harus dikontrol defleksinya antara lain:

  • Lapis penutup
  • Balok pembagi
  • Pendukung joist/stud dan juga waler (klem)

 

F.            Kestabilan dan Kekakuan Bekisting

Stabilitas merupakan suatu yang sangat penting bagi sebuah konstruksi bekisting.Sering terjadi keruntuhan pada bekisting akibat kurang memperhatikan kekuatan dan kestabilan bekisting, oleh sebab itu penting untuk diperhatikan dalam perencanaan bekisting yang disertai dengan penekanan pada bracing atau penguat

Untuk menjaga kestabilan bekisting,maka perlu penempatan skur yang cukup dan tepat sehingga dapat mengantisipasi kemungkinan terjadi tekuk.

Tidak stabilnya  bekisting dapat diakibatkan oleh beberapa hal sebagai berikut:

Ketidakstabilan juga terjadi akibat cara pengecoran, kecepatan pengecoran tidak terkendali akan mengakibatkan penumpukan beton segar sehingga akan terjadi ketidakmampuan bekisting pada saat memikul beban

Di bawah ini digambarkan stabilitas dalam sebuah prinsip skema-skema

Skema 1

Gbr. 5. Skema Stabilitas bekisting

Skema  2

Gbr. 6. Skema Stabilitas bekisting

Skema 3

Gbr. 7. Skema Stabilitas bekisting

Skema 4

Gbr. 8. Skema Stabilitas bekisting

Skema 5

 

 

 

 


Gbr. 9. Skema Stabilitas bekisting

Skema 6

 

 

 

 

 

 

Gbr. 10 skema kestabilan bekisting

Disamping skema seperti diatas ada juga beberapa faktor yang mempengaruhi kestabilan bekesting, diantaranya landasan untuk mendirian perancah, kekuatan material bekiating, dimensi dan jarak beam dan staiger, dll

Dengan memahami beban yang harus dipikul oleh bekisting atau kestabilan bekisting, maka dapat dilakukan antisipasi dan pengendalian terhadap kualitas dari bekisting tersebut

Dengan demikian bekisting dan perancah harus memenuhi unsur-unsur seperti tersebut diatas yaitu : material berkualitas, aman, awet, efesien, kekuatan dan kestabilan. Dengan terpenuhinya unsur-unsur tersebut diatas dapat menjamin kualitas beton yang akan dicor menjadi baik.

G.           Kesimpula

Bekisting adalah merupakan konstruksi bersifat sementara yang berfungsi untuk  mencetak beton pada saat masih segar. Bekisting harus didesain dan dibuat dengan kekakuan (stiffness) dan keakurasian sehingga bentuk, ukuran, posisi, dan penyelesaian dari pengecoran dapat dilaksanakan sesuai dengan toleransi yang diinginkan dengan memperhatikan faktor keamanan dan nilai ekonomis yang tinggi. Bekisting dibagi dua jenis yaitu konvensional dan sistem namun harus memiliki kestabilan dan daya dukung yang tinggi sehingga dapat dilakuakn antisipasi dan pengendalian terhadap kualitas dari bekisting tersebut.

 

H.           Daftar Pustaka

 

  • Frick, Heinz., Pujo.L Setiyawan. Ilmu Konstruksi perlengkapan dan Utilitas Bangunan, Yogyakarta. Kanisius. 2002.
  • Wigbout Ing.F. Buku Pedoman Tentang Bekisting  (kotak cetakan) .Jakarta ,Erlangga 1992.
  • Peter S. McAdam PhD MIEAust, CPEng. Formwork, Australia. Stuart Publications Brisbane
  • Asiyanto, Formwork for Concrete, Jakarta. Penerbit Universitas Indonesia. 2010
  • Sajkti, Amien, Metode Kerja Bangunan Sipil. Yogyakarta. Graha Ilmu.2009.
  • http://sukamabar.blogspot.com/2014/08/pekerjaan-bekisting.html

 

 

ANALISIS KEDIKLATAN DEPARTEMEN BANGUNAN Tahun 2012 sd 2014

ANALISIS KEDIKLATAN DEPARTEMEN BANGUNAN
Tahun 2012 sd 2014

 

DALONO
Dalono_arwana@yahoo.com.au

 

ABSTRAK

 

Visi Departemen Bangunan menjadi Departemen yang mampu menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan tenaga terampil dalam bidang keahlian bangunan dengan pengakuan kualitas internasional. Kegiatan Departeman bangunan pada tahun 2012 sd 2014 terdiri dari kegiatan Diklat untuk Pendidik dan Tenaga kependidikan, Pengembangan organisasi, dan pengembangan Sumber Daya Manusia.

 

Analisis ini dilakukan untuk mengetahui tingkat tetercapaian program kegiatan selama tahui 2012 sd 2014 dan rekomendasi yang dapat disampaikan untuk mengambil kebijakan manajemen ditahun mendatang.

 

Dari hasil analisis direkondasikan regenerasi pada tahun 2016 Widyaiswara di Departemen Bangunan sudah ada yang pensiun, berturut – turut tahun 2017, tahun 2018 dan seterusnya sampai dengan tahun 2022 Widyaiswara akan habis. Perlu dipikirkan suatu strategi regenerasinya.

 

Kata Kunci:Departemen Bangunan, Visi, Misi, Diklat

 

 A.    PENDAHULUAN

 

1.      Latar Belakang

 

Departeman Bangunan dengan menggunakan kode Unit Kerja Departemen 30 dibawah organisasi Proyek Pengembangan Penataran Guru Teknologi atau VEDC Malang.Berdiri sejak tahun 1985 berlokasi menjadi satu dengan STM Negeri Malang di Jalan Raya Mondoroko, dengan tiga program keahlian yang diprakarsai oleh para Expert dari Swiss.Ketiga program keahliannya adalah Program Keahlian Gambar Teknik, Program Keahlian Kerja Batu dan Program Keahlian Kerja Kayu. Masing masing mempunyai tenaga ahli dari Swiss yang didampingi para Instruktur dari dalam negeri.

 

Pada tahun 1986, menempati kampus baru di jalan Teluk Mandar Arjosari dengan kegiatan mendidik calon Guru dengan Program DIII bekerjasama dengan IKIP Negeri Malang.Dalam perkembangannya berturut- turut terjadi penambahan Program Studi Gambar Arsitektur dan Program Studi Ukur Tanah. Program DIII berakhir sampai dengan tahun 1992 karena kebutuhan guru yang berbasis teknik bangunan telah terpenuhi. Dilanjutkan dengan program pelatihan untuk guruguru teknik dibidang bangunan khususnya untuk Indonesia bagian timur.

 

Untuk mengantisipasi tuntutan perkembangan kebutuhan akan pelatihan maka dikembang penambahan satu program keahlian yaitu program studi Plumbing. Departemen Bangunan telah berganti nama beberapa kali dalam upaya menyesuaikan perkembangan yang terjadi pada saat itu, begitu pula program Keahlian ikut serta dalam perubahan namanya, sehingga sampai saat itu nama Unit Kerja yang digunakan adalah Departemen Bangunan dengan Program Keahlian Desain dan Perencanaan, Program Keahlian Survey dan Pemetaan, Program Keahlian Teknologi Batu dan Beton, Program Keahlian Teknologi Kayu, dan Program Keahlian Plumbing dan Sanitasi.

 

2.      VISI Departemen Bangunan

 

Menjadi Departemen yang mampu menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan tenaga terampil dalam bidang keahlian bangunan dengan pengakuan kualitas internasional.

 

3.      MISI Departemen Bangunan

 

-        Meningkatkan keterampilan Pendidik dan Tenaga  kependidikan bidang keahlian bangunan.

 

-        Mencetak supervisor muda dalam Program Keahlian Plumbing, Teknologi Batu dan Beton, Teknologi Kayu, Survey Pemetaan serta Desain dan Perencanaan.

 

-        Meningkatkan keterampilan tenaga pelaksana lapangan pada bidang keahlian bangunan.

 

-        Mengirimkan tenaga ahli ke beberapa daerah dalam rangka meningkatkan keterampilan SDM di bidang keahlian bangunan.

 

-        Bekerjasama dengan instansi terkait dalam menyelenggarakan pelatihan dibidang konstruksi nasional Indonesia.

 

-        Bekerjasama dengan lembaga sertifikasi profesi dalam menyelenggarakan uji kompetensi dibidang keahlian bangunan.

 

-        Menjadi Tempat Uji Kompetensi (TUK) bidang keahlian Bangunan.

 

-        Menyelenggarakan pendidikan formal setingkat Diploma IV dengan Program Study Economic Engeenering Building.

 

4.      Tujuan Departemen Bangunan

 

-        Mampu mendidik dan melatih Pendidik dan tenaga Kependidikan untuk bidang keahlian bangunan.

 

-        Mampu mendidik, melatih dan membimbing para generasi muda menjadi tenaga terampil tingkat teknisi bangunan.

 

-        Mampu mendidik dan melatih keterampilan yang dibutuhkan customer/pelanggan sesuai dengan kebutuhannya dibidang pekerjaan bangunan.

 

-        Mampu mengirimkan tenaga ahli / konsultan ke beberapa daerah guna meningkatkan keterampilan SDM daerah di bidang keahlian bangunan.

 

-        Mampu mentransfer keahlian di bidang pengelolaan bengkel pelatihan kepada daerah lain.

 

-        Mampu menguji kompetensi dan mensertifikasi guru SMK, tenaga supervisor dan tenaga pelaksana untuk bidang pekerjaan bangunan.

 

-        Mampu bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dalam mengelola Tempat Uji Kompetensi (TUK).

 

-        Mampu mendidik, melatih dan membimbing Community College program keahlian Finishing Bangunan Gedung, Perabot Kayu (Mebeler), Hotel Engeenering, Survey Building Construction, dan Gambar Bangunan.

 

-        Mampu mendidik, melatih dan membimbing mahasiswa Diploma IV.

 

B.    RENCANA DAN REALISASI

 

1.      PELAKSANAAN DIKLAT

 

Kegiatan diklat di Departemen Bangunan dibagi menjadi tiga kegiatan utama.Selama periode pertengahan tahun 2012  sampai dengan akhir tahun 2014 rencana dan realisasi kegiatan diklat tersebut adalah sebagai berikut:

 

a.      Diklat DIPA

 

Kegiatan Diklat tahun 2012 terdiri dari Diklat Uji Kompetensi terdiri dari 18 kelas atau 216 orang peserta dari rencana tersebut.Peserta yang hadir sejumlah 210 orang peserta atau 97,22 %. Sedangkan kegiatan Diklat Non Uji Kompetensi terdiri dari empat kelas atau36 orang peserta.Dari rencana tersebut peserta yang hadir sejumlah 34 orang atau setara dengan 94,44%.

 

Kegiatan Diklat tahun 2013 terdiri dari Diklat Uji Kompetensi terdiri dari 12 kelas atau 157 orang peserta. Dari rencana tersebut peserta yang hadir sejumlah 156 orang peserta atau 99,36%. Sedangkan kegiatan Diklat Non Uji Kompetensi pada tahun ini tidak diselenggarakan.

 

Kegiatan Diklat tahun 2014 terdiri dari Diklat Uji Kompetensi terdiri dari 3 kelas atau 36 orang peserta. Dari rencana tersebut peserta yang hadir sejumlah 35 orang peserta atau 97,22 %. Sedangkan kegiatan Diklat Non Uji Kompetensi pada tahun ini tidak diselenggarakan.

 

Berikut secara lebih rinci dapat dilihat dalam grafik dibawah ini:

 

           b.      IHT

 

Kegiatan IHT di Departemen Bangunan baru diadakan pada tahun 2014 dikarenakan kebutuhan pemenuhan kekurangan angka kredit bagi Widyaiswara yang belum bisa terpenuhi dari kegiatan diklat dengan menggunakan alokasi dana DIPA P4TK/VEDC Malang.

 

Sehingga tahun 2012 dan tahun 2013 belum ada kegiatan, sedangkan kegiatan IHT pada tahun 2014 terdapat kegiatan Diklat 5 kelas atau dengan jumlah peserta78 orang dari rencana tersebut yang hadir sebanyak 77 orang peserta atau 98,72 %.

 

Berikut secara lebih rinci dapat diperlihatkan dalam grafik dibawah ini:

 


C.      Diklat Non DIPA

 

Kegiatan Diklat Non DIPA tahun 2012 terdiri dari dua kelas dengan jumlah peserta 20 orang peserta. Dari rencana tersebut peserta yang hadir sebanyak 20 orang peserta atau 100%.

 

Pada tahun 2013 terdiri dari empat kelas dengan jumlah 46 orang peserta. Dari rencana tersebut peserta yang hadir  sebanyak 46 peserta atau setara dengan 100%.

 

Sedangkan pada tahun 2014 terdiri dari15 kelas dengan jumlah 186 peserta dari rencana yang hadir sejumlah 183 orang peserta atau setara 98,39%.

 

Berikut secara lebih rinci dapat diperlihatkan dalam grafik dibawah ini:

 


 2.      PENGEMBANGAN ORGANISASI

 

a.      Pengembangan Bahan Ajar

 

Pengembangan bahan ajar dalam bentuk Mapping sampai dengan akhir tahun 2014 secara administrasi belum jelas yang bertanggung jawab, baik tingkat Departemen maupun tingkat institusi. Sehingga pelaporan terkait dengan kepastian modul yang telah disetujui secara institusi belum ada aliran sampai dengan di Departemen terkait.

 

Berikut sebagai gambaran kasar mapping yang dimiliki Departemen Bangunan seperti dalam tabel berikut :

 

No

Prodi

Kompetensi Keahlian

Modul yang belum dibuat

Jumlah yang Dibuat

Sisa

Modul

Uji Kompetensi

Jumlah

1

30

6

340

340

680

27

653

2

32

1

81

81

162

5

157

3

33

1

19

19

38

4

34

4

34

1

61

61

122

7

115

5

35

2

142

142

284

7

277

5

36

1

37

37

74

4

70

 

 b.      Pengembangan Peralatan

 

Pengembangan peralatan di Departemen Bangunan terbagi menjadi tiga sumber dana, yaitu dana dari DIPA, dana dari USK dan dana dari BSK. Secara berturut – turut disampaikan penambahan peralatan bengkel per Program Keahlian mulai tahun 2012, 2013, dan tahun 2014 sebagai berikut :

 

No

Program Studi

2012

USK 2013

2014

TOTAL

1

Departemen

5 Unit

7 Unit

3 Unit

15 Unit

2

Prodi 32

2 Unit

14 unit

-

16 Unit

3

Prodi 33

8 Unit

3 Unit

-

11 Unit

4

Prodi 34

11 Unit

3 Unit

32 Unit

46 Unit

5

Prodi 35

6 Unit

3 Unit

-

9 Unit

6

Prodi 36

12 Unit

18 unit

-

30 Unit

 

c.      Pengembangan Departemen

 

Pengembangan organisasi di Departeman Bangunan terkait dengan pengembangan peningkatan operasional Departeman Bangunan terkait dengan fasilitasi pendidikan dan pelatihaan.

 

Berikut disampaikan pengembangan yang diprogramkan di Departemen Bangunan :

 

No

Kegiatan

Realisasi

1

Pembuatan logo Departemen Bangunan

Masih dalam konsep

2

Desain Bengkel 34,35 dan 36

Belum ada realisasi

3

Perencanaan peralatan Training Center

Belum ada realisasi

4

Penulisan Modul Mapping

Realisasi 23 modul

5

Rencana penggantian peralatan bengkel

4 prodi terealisasi 1 prodi masih dalam usulan

6

Pengembangan ruang kelas eksklusif

Terrealisasi

7

Bekerjasama dengan lembaga sertifikasi

Terrealisasi dengan 3 lembaga

8

Sebagai tempat uji kompetensi

Masih dalam rintisan

9

Menyelenggarakan pendidikan formal setingkat Diploma IV

Belum ada realisasi

10

Pengembangan Smart Building

Pra Desain

 

 

3.      SUMBER DAYA MANUSIA

 

a.      Keberadaan Sumber Daya Manusia

 

Sumber daya manusia di Departemen Bangunan terdiri dari Laboran 3 orang dan Widyaiswara 27 orang serta Instruktur muda 1 orang. Dalam perkembangannya pada akhir tahun 2014 Sumber daya manusia di Departemen Bangungan terdiri dari 3 orang Laboran, satu orang Widyaiswara pindah di Departemen Edukasi dan 1 orang Widyaiswara meninggal dunia sehingga Widyaiswara yang masih eksis sejumlah 25 Orang. Sedang satu orang Instruktur Muda ditarik menjadi Pengembang Teknologi pembelajaran, lebih rinci diperlihatkan pada grafik sebagai berikut :

 

 

 

b.      Umur

 

Struktur umur Sumber Daya Manusia Departemen Bangunan, usia 36 s.d 40 tahun berjumlah 1 orang, usia 41 s.d 45 tahun berjumlah 1 orang, usia 46 s.d 50 tahun berjumlah 5 orang, usia 51 s.d 55 tahun berjumlah 55 tahun, usia 56 s.d 60 tahun berjumlah 5 orang. Sehingga pada tahun 2022 mendatang Sumber Daya Manusia Di Departemen bangunan tinggal 7 orang kalau tidak diantisipasi dengan regenerasi. Berikut diperlihatkan struktur umur Sumber Daya Manusia di Departemen Bangunan :

 

 

 

c.      Pangkat dan Golongan

 

Struktur Golongan Kepangkatan Sumber Daya Manusia di Departemen Bangunan adalah golongan IIb 2 orang, golongan IIIa 1 orang, golongan IIIb 3 orang, golongan IIId 2 orang, golongan IVa 6 orang, golongan IVb 11 orang, golongan IVc 6 orang. Berikut diperlihatkan struktur golongan kepangkatan sebagai berikut :

 

 

 

d.    Latar Belakang Pendidikan

 

Sumber Daya Manusia di Departemen Bangunan dilihat dari struktur pendidikan adalah, lulusan SMP 1 orang, lulusan SMA/SMK 2 orang lulusan S1 9 orang, lulusan S2 18 orang. Berikut diperlihatkan struktur pendidikan sebagai berikut :

 

 

 

e.      Dinas Luar

 

Selama 3 tahun terakhir jumlah Dinas Luar Sumber daya manusia di Departemen Bangunan terendah selama 3 hari, paling banyak 171 hari. Berikut diperlihatkan grafik dinas luar di Departemen Bangunan :       

 

Program Studi Desain dan Perencanaan

 

 

 

 

 

Program Studi Survey dan Pemetaan

 

 

 

 

 

 

 

Program Studi Teknologi Batu dan Beton

 

 

 

Program Studi Teknologi Kayu

 

 

 

Program Studi Plumbing Dan Sanitasi

 

C.   REKOMENDASI

 

1.      Regenerasi

 

Pada tahun 2016 Widyaiswara di Departemen Bangunan sudah ada yang pensiun, berturut – turut tahun 2017, tahun 2018 dan seterusnya sampai dengan tahun 2022 Widyaiswara akan habis. Perlu dipikirkan suatu strategi regenerasinya.

 

2.      Pengembangan Organisasi

 

Pengembangan organisasi perlu ditindaklanjuti oleh manajemen Departemen Bangunan di masa mendatang, adalah sebagai berikut :

 

No

Kegiatan

Realisasi

1

Pembuatan logo Departemen Bangunan

Masih dalam konsep

2

Desain Bengkel 34,35 dan 36

Belum ada realisasi

3

Perencanaan peralatan Training Center

Belum ada realisasi

4

Penulisan Modul Mapping

Realisasi 23 modul

5

Rencana penggantian peralatan bengkel

4 prodi terrealisasi 1 prodi masih dalam usulan

6

Pengembangan ruang kelas eksklusif

Terrealisasi

7

Bekerjasama dengan lembaga sertifikasi

Terrealisasi dengan 3 lembaga

8

Sebagai tempat uji kompetensi

Masih dalam rintisan

9

Menyelenggarakan pendidikan formal setingkat Diploma IV

Belum ada realisasi

10

Pengembangan Smart Building

Pra Desain

 

 

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG