MENGENAL JENIS-JENIS LEM KAYU

MENGENAL JENIS-JENIS LEM KAYU

Drs. Cahyo Kuncoro, MT.  Widyaiswara Madya 

PPPPTK Bidang Otomotif dan Bangunan Malang

 

Memperbaiki sendiri perabot dan furnitur yang berbahan kayu bukan hanya soal keahlian, namun  juga perlu menggunakan peralatan dan bahan yang tepat.

Salah satu peralatan atau bahan yang akan sangat dibutuhkan adalah perekat atau lem kayu. Lem kayu dapat terbuat dari bahan-bahan alami dan sintetis. Namun, ada baiknya bila mengetahui dengan jelas kegunaan perabot tersebut sebelum memilih jenis perekat kayu yang tepat. Jika tidak, beberapa kelemahan perekat dapat menyulitkan Saudara. Perhatikan beberapa jenis lem kayu sintetis yang ada dipasaran berikut ini :

Secara garis besar, Saudara dapat menemukan dua jenis lem kayu sintetis. Pertama, Saudara akan menemukan jenis lem dengan kecepatan kering yang cenderung lambat.

Kedua, Saudara akan menemukan jenis-jenis lem yang dapat mengering dengan cepat. Lem lambat kering cenderung lebih kuat dan awet dibandingkan dengan lem yang cepat kering. Pasalnya, lem yang lambat kering memiliki waktu untuk meresap terlebih dahulu ke dalam pori-pori kayu.

Namun, umumnya, lem jenis ini diencerkan lebih dahulu dengan air. Karena itu, lem jenis ini cenderung melemah ketika terendam atau mendapat kontak dengan air. Sebagai saran, ada baiknya Saudara menggunakan lem ini untuk konstruksi utama yang terhindar dari kontak langsung dengan air.

Di Indonesia, ada beberapa jenis lem kayu yang dapat dengan mudah Anda dapatkan, seperti jenis-jenis lem berikut ini:

1. Lem Aica Aibon

Gambar 1. Lem Aica Aibon

Lem ini adalah lem perekat serbaguna yang dapat Anda gunakan untuk melekatkan melamin, logam, beton, papan fiber, kulit, kayu, dan karpet. Di dalam lem ini terkandung karet sintetis dan pelarut organik.

Untuk pemakaiannya, pertama-tama Anda perlu menghapus kotoran, gemuk, dan minyak pada kedua sisi yang akan dilem. Ratakan lem pada permukaan tersebut. Biarkan lem mengering dalam 10 hingga 20 menit. Setelah itu, baru rekatkan kedua permukaan.

2. Lem putih PVAc

Gambar 2. Lem Putih PVAc

Lem ini dapat Anda gunakan untuk merekatkan kayu, kertas, koraltex, bahan, dan bahkan dapat Anda gunakan sebagai plamur tembok. Umumnya, ketika Anda mendengar istilah "lem kayu", yang dimaksud adalah lem PVA atau lem PVAc (polyvinyl acetate).

Lem ini sering disebut dengan "lem putih" atau "lem kuning" yang dapat dibersihkan dengan menggunakan air. Namun, tersedia pula beberapa merek perekat PVA yang tahan air.

Perlu diingat, ketika merekatkan kayu dengan lem ini, jangan lupa untuk membiarkan permukaan lem mengering selama sekitar 10 menit sebelum merekatkan sisi-sisi permukaannya.

3. Lem Ethyl Cyanocrylate

Lem dari bahan ethyl cyanocrylate sering juga disebut dengan "Lem Korea". Lem ini bisa Anda gunakan untuk melekatkan plastik, kayu, karet, logam, kulit, dan keramik.

Gambar 3. Lem Ethyl Cyanocrylate

4. Lem Dextone Epoxy Adhesives

Gambar 4. Lem Dextone Epoxy Adhesives

Lem jenis ini sering juga disebut dengan lem Dextone. Lem ini memiliki dua komponen, resin dan hardener (pengeras). Namun, sebelum Anda mengaplikasikannya pada kayu, Anda harus mencampur kedua jenis lem ini.

Lem ini mampu bertahan pada temperatur tinggi. Selain cocok untuk merekatkan besi, lem ini juga cocok untuk baja, tembaga, plastik, kayu, keramik, dan bahan lainnya.

5. Lem Sealant Silicone Rubber

Gambar 5. Lem Sealant Silicone Rubber

Sealant memiliki daya rekat luar biasa terhadap kaca, kayu, karet, kanvas, beberapa jenis plastik, dan keramik. Umumnya, lem silikon ini digunakan untuk konstruksi akuarium.

6. Lem Polyurethane

Gambar 6. Lem Polyurethane

Lem polyurethane dapat Anda gunakan dalam berbagai proyek, baik indoor maupun outdoor.Sebelum menggunakan lem ini, basahi permukaan kayu dengan lap basah. Setelah Anda sudah mengaplikasikan lem tersebut, segeralah menempelkan kedua sisi permukaan kayu dan biarkan 24 jam hingga lem mengering.

 

Sumber : dari berbagai sumber

properti.kompas.com/read/xml/2013

 

PROSES PENGERINGAN KAYU Hartiyono (Widyaiswara Madya ) Departemen Bangunan PPPPTK BOE / VEDC Malang

PROSES PENGERINGAN KAYU

 

Hartiyono (Widyaiswara Madya )

 

Departemen Bangunan PPPPTK BOE / VEDC Malang

 

 

 

 

Pergerakan air di dalam kayu terjadi dari daerah berkelembapan tinggi ke daerah yang berkelembapan lebih rendah. Kayu akan mongering dan bagian luar ke dalam kayu. Dengan kata lain permukaan kayu lebih cepat mengering daripada bagian dalamnya. Proses keluarnya air dalam proses pengeringan disebut proses evaporasi. Evaporasi akan terjadi bila kadar air di dalam kayu lebih besar dari kadar air keseimbangan (EMC).

 

Selama proses pengeringan kayu berlangsung, yang terlebih dahulu keluar adalah air bebas yang terdapat dalam rongga sel. Setelah itu menyusul air yang terikat pada dinding-dinding sel. Keadaan titik air bebas telah habis keluar, tetapi air terikat masih dalam keadaan jenuh, dinamakan keadaan pada titik jenuh serat (FSP=Fiber Saturation Point). Perubahan kadar air yang dialami kayu pada keadaan di atas titik jenuh serat ini tidak mempengaruhi bentuk dan ukuran kayu. Tetapi segala perubahan bentuk dan ukuran kayu. Oleh sebab itu perubahan-perubahan kadar air di bawah titik ini sangat mempengaruhi sifat-sifat fisik dan mekanik kayu

 

Macam - Macam Pengeringan
Kita mengenal dua cara pengeringan yang umum dipergunakan yaitu:

 

1.     Pengeringan alam - udara

 

2.     Pengeringan buatan

 

1. Pengeringan Kayu dengan Alam atau Udara

 

Yang dimaksud pengeringan alami adalah proses pengeringan dengan cara mengangin-anginkan kayu yang bersangkutan. Dalam pengeringan ini ketiga faktor  penentu kecepatan pengeringan seperti temperatur, kelembaban dan sirkulasi udara diserahkan pada keadaan alam disekitar. ( seperti gambar.1)

 

                         

                  Gambar .1 penumpukan kayu secara silang

Keuntungan :

 

  • biaya relative murah, tanpa peralatan yang mahal
  •  pelaksanaannya lebih mudah, tanpa memerlukan tenaga ahli
  •  pengeringan dengan tenaga alam / udara (matahari)
  •  kapasitas dan sortimen kayu tidak terbatas 

Kerugian :

 

  • waktu yang dipergunakan cukup lama (tergantung cuaca)
  •  memerlukan areal / lapangan yang cukup luas
  •  memerlukan persediaan kayu lebih banyak
  •  cacat – cacat yang timbul sulit diperbaiki kembal
  •  kadar air akhir umumnya masih cukup tinggi

    Cepat atau lambatnya kayu mengering tergantung dari beberapa faktor yaitu :

 

  1. Iklim: yaitu besar/kecilnya curah huja, intensitas penyinaran matahari, ada/tidaknya kabut
  2. Suhu: Didalam keadaan udara yang tetap, makin tinggi suhu, makin cepat kayu mengering.
  3. Kelembaban udara : Dalam keadaan suhu yang tetap, makin rendah kelembaban udara, makin cepat proses pengeringan.
  4. Peredaran udara : Berfungsi mengganti udara yang basah dengan udara yang kering sehingga pengeringan dipercepat.
  5. Jenis kayu : Beberapa jenis kayu akan lebih cepat mengering, umumnya kayu lunak akan lebih cepat mongering daripada kayu yang lebih keras.
  6. Letak kayu : Umumnya kayu gubal lebih cepat mengering daripada kayu teras.
  7. Ukuran kayu : Tebal tipisnya kayu yang akan dikeringkan.
  8. Cara penyusunannya dengan menggunakan ganjal/sticker

 

2. Pengeringan Kayu dengan Cara Buatan (Kiln Drying)

 

Pengeringan ini merupakan lanjutan hasil perkembangan pengeringan udara. Dengan kemajuan dan perkembangan teknologi modern, meningkatkan permintaan akan kayu berkualitas tinggi, maka timbul usaha pengeringan buatan yang lebih efektif dan lebih efisien dari pada pengeringan buatan yang lebih efektif dan lebih efisien daripada pengeringan udara. ( seperti gambar.2)

 

                                     Gambar .2 kiln drying

Keuntungan:

 

  • Waktu pengeringan sangat singkat
  • Kadar air akhir dapat diatur sesuai dengan keinginan, disesuaikan dengan tujuan penggunaan
  • Kelembaban udara (RH), temperature dan sirkulasi udara dapat diatur sesuai dengan jadwal pengeringan
  • Terjadinya cacat kayu dapat dihindari dan beberapa jenis kayu dapat diperbaiki
  • Kontinuitas produksi tidak terganggu dan tidak diperlukan persediaan kayu yang banyak
  • Tidak membutuhkan tempat yang luas
  • Kualitas hasil jauh lebih baik

 

Kerugian:

 

  • Memerlukan investasi/modal yang besar
  • Memerlukan tenaga ahli pengalaman
  • Sortimen kayu yang akan dikeringkan tertentu

 

Pekerjaan pengeringan kayu dengan kilndapat dibagi dalam 4 tahap yaitu :

 

  1. Tahap penyediaan alat – alat
  2. Tahap penumpukan/penyusunan kayu
  3. Tahap pengambilan contoh – contoh kayu pengamatan
  4. Tahap pekerjaan selama pengeringan berlangsung yang mencakup : penggunaan jadwal pengeringan, pengaturan dan pengawasan suhu serta kelembaban udara di dalam kiln

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.    Dry Kiln Operator’s Manual, Edited by William T. Simpson, Research Forest Products Technologist, United States Department of Agriculture, Forest Service, Forest Products Laboratory , Madison, Wisconsin, Revised August 1991, Agriculture Handbook 188.

 

2.     Wood handbook—Wood as an Engineering Material. Forest Products Laboratory. 1999. Gen. Tech. Rep. FPL–GTR–113. Madison, WI: U.S. Department of Agriculture, Forest Service, Forest Products Laboratory

 

3.     Haygreen, J.G., and Bowyer, J.L., 1996, Forest Product and Wood Science, 3rd Edition, Iowa University Press, Iowa.

 

4.    Abdurrohim, S. dan Djarwanto. 2000. Pengawetan Kayu Rendaman. Jakarta: RinekaCipta.

 

5.    Singarimbun (Eds.) 1999. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES

 

6.    Arikunto, S. 1999. Prosedur Penelitian: Sesuatu Pendekatan Praktek. Jakarta: RinekaCipta.

 

7.    Tim Penyusun Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Negeri Malang. 2007. \

 

 

Jenis-Jenis Plafon Rumah Keunggulan dan Kelemahannya

Jenis-Jenis Plafon Rumah Keunggulan dan Kelemahannya

Oleh : Drs. Cahyo Kuncoro, MT - Widyaiswara PPPPTK BOE Malang

 

Semua bahan untuk jenis plafon rumah merupakan bahan–bahan yang baik dan berkualitas. Tinggal anda saja yang menentukan bahan yang mana yang cocok sesuai dengan desain interior plafon diinginkan.

Sebelum memilih model dan bahan dasar plafon rumah yang akan Anda pakai dalam desain nantinya, ada baiknya Anda mempelajari keunggulan dan kelemahan dari  tiap jenis plafon tersebut.

1.    Plafon Tripleks

Plafon berbahan tripleks merupakan  jenis penutup plafon yang sering dipakai. Ukuran tripleks dipasaran adalah 122 cm x 244 cm dengan ketebalan 3 mm, 4 mm dan 6 mm. Pemasangan plafon ini dapat dipasang lembaran tanpa dipotong-potong maupun dapat dibagi menjadi empat bagian supaya lebih mudah dalam penataan dan pemasangannya. Rangka plafon dapat menggunakan kasau 4/6 atau 5/7 dengan ukuran rangka kayu 60 cm x 60 cm.

Keunggulan, jenis plafon tripleks proses pengerjaannya lebih mudah dan dapat dilakukan oleh tukang kayu sehingga Anda tidak kesulitan dalam pengerjaannya. Material tripleks mudah didapatkan di pasaran dengan harga yang relatif murah dan bahan yang ringan memudahkan pengguna  dalam perbaikan apabila terjadi kerusakan untuk menggantinya.

Kelemahan, bahan tripleks tidak tahan terhadap api sehingga mudah terbakar dan apabila sering terkena air atau rembesan maka akan mudah rusak.

 

2.    Plafon Eternit atau Asbes


Dalam pasaran ukuran plafon eternit  adalah 1.00 m x 1.00 m dan 0.50 m x 1.00 m. Cara pemasangan pun sama dengan plafon tripleks. Anda dapat menggunakan kasau 4/6 atau 5/7 dengan ukuran rangka kayu 60 cm x 60 cm untuk rangka plafon.

Keunggulannya, selain mudah didapat dipasaran, proses pengerjaan pun mudah sehingga tidak menemui kendala. Bahannya yang ringan memudahkan pengguna untuk dapat mengganti apabila terjadi kerusakan.

Kelemahan, bahan dari eternit atau asbes tidak tahan terhadap goncangan dan benturan sehingga harus berhati-hati dalam proses pemasangan plafon supaya tidak patah atau retak.

 

3.     Plafon Fiber


Saat ini plafon fiber sudah banyak digunakan. Dalam aplikasi untuk plafon rumah menggunakan papan GRC (Glassfiber Reinforced Cement Board). Harganya relatif murah dibandingkan dengan tripleks. GRC Board mempunyai ukuran 60 cm x 120 cm dengan ketebalan standar 4 mm. Rangka plafon dapat mengunakan kasau 4/6 atau 5/7 maupun besi hollow 40 mm x 40 mm.

Keunggulan, plafon GRC tahan terhadap api dan air, lebih kuat, ringan dan luwes. Proses pengerjaanya cukup mudah.

Kelemahan, sama dengan plafon eternit atau asbes tak tahan benturan. Material GRC di beberapa daerah masih jarang di jumpai.

 

4.    Plafon Gypsum

Plafon gypsum salah satu jenis plafon yang sudah banyak digunakan pula untuk penutup plafon.
Ukuran untuk plafon adalah 122 cm x 244 cm. Untuk rangka seperti GRC Board anda dapat menggunakan kasau maupun besi hollow.

Keunggulan, pada saat terpasang plafon gypsum memiliki permukaan yang terlihat tanpa sambungan sehingga banyak diminati masyarakat. Proses pengerjaanya pun lebih cepat. Mudah diperoleh, diperbaiki serta diganti.

Kelemahan, tidak tahan terhadap air sehingga mudah rusak ketika terkena air atau rembesan air. Tidak semua tukang dapat mengerjakannya, perlu keahlian khusus.

 

5.    Plafon Akustik


Plafon akustik solusi bagi Anda yang merencanakan sebuah ruangan yang dapat meredam kebisingan. Karena plafon akustik merupakan plafon yang tahan terhadap batas ambang kebisingan tertentu. Ukuran yang tersedia adalah 60 cm x 60 cm dan 60 cm x 120 cm. Plafon akustik dapat dipasang dengan rangka kayu atau bahan metal pabrikan yang sudah jadi.

Keunggulan, dapat meredam suara sehingga untuk kebutuhan ruangan tertentu banyak dipakai oleh masyarakat. Bobotnya relatif ringan sehingga mudah untuk perbaikan atau diganti dan proses pengerjaannya cepat.

Kelemahan, tidak tahan air dan di daerah tertentu masih jarang dijumpai serta harganya relatif lebih mahal.

 

 

Diambil dari sumber :

1.    aryapersada.com/jenis-jenis-plafon-rumah

2.    ww.aryaniarts.com/2012/.../desain-atap-plafon

3.    artikelproperti.blogspot.com

4.    info-bangunan.blogspot.com/.../pilih-plafon

TEKNIK PEMASANGAN PLAFON GYPSUM (1)

TEKNIK PEMASANGAN PLAFON GYPSUM (1)

 

Drs. Cahyo Kuncoro, MT. Widyaiswara PPPPTK BOE Malang

 

Jenis plafon gypsum merupakan material yang banyak diminati konsumen. Hal ini dikarenakan banyak kelebihan yang dimiliki plafon gypsum. Selain pemasangannya yang mudah dan desainnya yang cantik dan elegan, harga material gypsum bisa dibilang murah. Selain itu desainnya pun bermacam-macam, sangat variatif. Perawatannya pun mudah.

Dengan proses pemasangan yang mudah, tentunya sistem rangka plafonnya pun mudah. Rangka plafon gypsum dibedakan menjadi dua berdasarkan jenis rangkanya, yaitu menggunakan rangka kayu dan metal. Namun penggunaan rangka kayu saat ini sudah sangat jarang digunakan karena memiliki banyak kelemahan. Selain susah didapat dan tidak tahan akan rayap, rangka kayu harus diserut terlebih dahulu dengan rata untuk mendapatkan pekerjaan yang rapi. Sedangkan penggunaan rangka metal seperti hollow atau pun metal furing, selain tahan rayap juga menghasilkan pekerjaan yang lebih cepat dan lebih rapi.


Rangka plafon gypsum dari metal furing menggunakan sistem suspended ceiling. Sistem ini menghasilkan kisi-kisi dari metal yang digantung di bawah atap atau dak beton menggunakan rangkaian kawat. Kisi-kisis tersebut kemudian akan ditutup dengan papan gypsum. Sistem suspended ceiling ini dibagi menjadi dua sistem ekspos, yaitu ekspos grid yang menonjolkan kisi-kisi rangka plafon, dan sistem tanpa sambungan (concealed grid) yang menghasilkan penampilan mulus dan bersih.

 


Untuk memasang rangka plafon metal furing memang tidak terlalu sulit, hanya saja dibutuhkan ketelitian, bahan, alat, serta teknik pemasangan yang tepat.

 Pada dasarnya ada beberapa langkah pemasangan plafon berikut ini :

1.    Sebelum pengerjaan plafon dilakukan, seluruh pekerjaan di atas plafon harus sudah terselesaikan terlebih dahulu.

2.    Langkah pertama yang terpenting dari pemasangan rangka adalah mengukur garis ketinggian plafon di sekeliling ruangan yang akan dipasang rangka. Dapat digunakan pengukur water pass pada beberapa titik di sekeliling ruangan. Gambar garis untuk menyatukan titik tersebut.

3.    Selanjutnya pemasangan wall angle (siku metal) sebagai penyangga metal furing. Tempatkan siku metal pada tanda garis. Dimulai dari dinding dengan luas terpanjang. Bor siku metal dengan jarak antar baut/sekrup 40 cm. Pastikan siku dibaut dengan kencang agar kuat menyangga metal furing.

4.    Selanjutnya pemasangan siku metal pada dinding yang lain. Perlu diperhatikan bahwa pada sudut dinding siku metal sebaiknya dipasang saling tindih sepanjang 40 cm. Bentuk siku metal menjadi L di ujung dengan menggunakan gunting hollow. Kencangkan semua daerah metal yang bertindihan tersebut.

5.    Setelah siku metal terpasang, beri garis menggunakan pensil atau spidol pada setiap 40 cm sebagai tanda bagi pemasangan metal furing. Jarak antar metal furing sebaiknya 40 cm atau jika ingin lebih longgar, maksimum 60 cm. Semakin besar jarak metal furing akan beresiko menghasilkan plafon yang tidak rata atau melengkung.

6.    Potong metal furing dengan panjang yang direncanakan dan tempatkan di atas siku metal. Kencangkan dengan baut.

7.    Rangka utama, yaitu main channel (main tee) atau C channel (cross tee) digantung pada kawat penggantung menggunakan U clamp. Kemudian tempatkan metal furing dengan posisi menyilang. Kaitkan persilangan kedua jenis metal tersebut dengan menggunakan channel clamp.

8.    Langkah terakhir dari pemsangan rangka adalah penguatan rangka dengan pemasangan bracket dan hanger.

 

Sumber : dari berbagai sumber dan http://andalan68.wordpress.com

CARA PENGAWETAN BAMBU

CARA PENGAWETAN BAMBU

 

Hartiyono (Widyaiswara Madya )

 

Departemen Bangunan PPPPTK BOE / VEDC Malang

 

 

 

 

A.Latar Belakang

 

Bambu adalah bahan alami yang besifat organic. Tanpa perlakuan tertentu untuk melindunginya, daya tahan bambu akan kurang dari tiga tahun. Tidak seperti kayu keras lainnya misalnya jati atau meranti, struktur batang bambu tidak memiliki unsur toksik atau racun. Ditambah lagi dengan hadirnya unsur zat gula yang banyak terkandung dalam bambu yang mengundang mikro organisme. Kerusakan bologis bambu dapat mempengaruhi kegunaan, kekuatan dan nilai bambu atau produk bambu. Kerusakan dapat mengakibatkan: lapuk, Retak atau pecah, noda dan lobang

 

Dengan demikian pengawetan sangat penting jika bambu dimaksudkan untuk keperluan struktur bangunan dimana keselamatan menjadi pertimbangan yang utama. Selain itu penggantian komponen rusak akibat tidak diawetkan akan membutuhkan waktu dan biaya. Peningkatan usia bambu karena pengawetan akan lebih menguntungkan dalam jangka panjang.

 

B. Manfaat dan tujuan dari pengawetan bambu adalah:

 

  • Meningkatkan daya tahan dan waktu pemanfaatan bambu.
  • Menahan dan menunda kerusakan
  • Mempertahankan stabilitas struktur bambu dan kekuatannya
  • Menambah ketahanan lain misalnya lebih tahan terhadap api.
  • Meningkatkan mutu bambu secara estetika.

 

                                  

 

C.Cara Pengawetan Bambu

 

Berikut ini adalah berberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan pilihan metoda dan bahan pengawet:

 

  • Kondisi bambu yang ada (kering atau basah)
  • Bentuk bambu ketika akan diawetkan apakah utuh, bambu belah atau
  • sudah dalam bentuk produk kerajinan.
  • Tujuan penggunaan, apakah untuk struktur atau non struktur.
  • Skala pengawetan atau jumlah kebutuhan bambunya sendiri

 

1.Pengawetan Tradisional

 

Yang dimaksud dengan pengawetan tradisional di sini adalah praktik dan perlakuan terhadap yang dilakukan olah masyakat secara turun temurun yang bertujuan untuk meningkatkan masa pakai bambu. Berbagai cara pengawetan tersebut diantaranya berupa:

 

1.1     Pengendalian waktu tebang.

 

Adalah pengawturan waktu penebangan bambu pada saat-saat tertentu yang menurut kepercayaan atau kebiasaan masyarakat dapat meningkakan daya tahan bambu dibandingkan dengan penebangan pada sembarang waktu. Pengendalian waktu tebang di Indonesia ada banyak versi, diantaranya:

 

  • penebangan pada bulan tertentu (mongso/mangsa) dalam bahasa jawa/sunda, umumnya pada mongso 9 (bulan maret) dianggap sebagai waktu yang paling tepat untuk memotong bambu.
  • penebangan pada jam tertentu, misalnya penebangan dilakukan pada waktu menjelang subuh dipercaya dapat meningkatkan ketahanan bambu.
  • Penebangan pada waktu tertentu, misalnya penebangan pada waktu bulan purnama dibeberapa daerah dipercaya dapat mengurangi serangan hama pada bambu.

 

1.2      Perendaman bambu,

 

 bambu yang telah ditebang direndam selama berbulan-bulan bahkan tahunan agar bambu tesebut tahan terhadap pelapukan dan serangan hama. Perendaman dilakukan baik di kolam, sawah, parit, sungai atau di laut.penebangan waktu pada bulan tertentu (mongso/mangsa) dalam bahasa jawa/sunda, umumnya pada mongso 9 (bulan maret) dianggap sebagai waktu yang paling tepat untuk memotong bambu. Kelemahan dari sistem ini adalah, bambu yang direndam dalam waktu lama, ketika diangkat akan mengeluarkan lumpur dan bau yang tidak sedap, akan butuh waktu yang cukup lama setelah perendaman untuk mengeringkan hingga bau berkurang dan dapat dipakai sebagai bahan bangunan.

 

1.3     Pengasapan bambu,

 

 selain pengendalian waktu penebangan dan perendaman, secara tradisional bambu juga kadangkala diasap untuk meingkatkan daya tahannya. Secara tradisional bambu diletakkan di tempat yang berasap (dapur atau tempat pembakaran lainnya), secara bertahap kelembaban bambu berkurang sehingga kerusakan secara biologis dapat dihindari. Saat ini sebenarnya cara pengasapan sudah mulai dimodernisasi, beberapa produsen bambu di Jepang dan Amerika Latin telah menggunakan sistem pengasapan yang lebih maju untuk mengawetkan bambu dalam skala besar untuk kebutuhan komersil.

 

1.4     Pencelupan dengan kapur.

 

 Bambu dalam bentuk belah atau iratan dicelup dalam larutan kapur (CaOH2) yang kemudian berubah menjadi kalsium karbonat yang dapat menghalangi penyerapan air hingga bambu terhindar dari serangan jamur.

 

1.5     Pemanggangan/pembakaran.

 

 Biasanya dilakukan untuk meluruskan bambu yang bengkok atau sebaliknya. Proses ini dapat merusak struktur gla yang ada dalam bambu membentuk karbon , sehingga tidak disenangi oleh kumbang atau jamur.

 

2. Pengawetan Moderen

 

Yang dimaksud dengan cara pengawetan moderen di sini adalah pengawetan yang memanfaatkan input barupa bahan kimia. Efisiensi pengawetan kimia terhadap peningkatan umur bambu dipengaruhi oleh struktur anatomi bambu itu sendiri. Pengawetan bambu lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan pengawetan kayu karena kondisi berikut ini:

 

  • Tidak ada jalur serapan radial (horizontal ketika bambu dalam posisi tegak) sebagaimana yang dimiliki kayu, sehingga perpindahan larutan dari sel ke sel tergantung pada proses difusi secara perlahan.
  • Sel batang bambu yang berperan dalam proses transportasi bahan pengawet hanya 8% dibandingkan dengan kayu lunak yang mencapai 70%, karu keras 20% atau rotan 30%, ini menyebabkan proses pengawetan bambu membutuhkan waktu yang lebih lama.
  • Penyerapan radial dari bahan penawet melalui bagian kulit luar bambu terhalang oleh lapisan keras kulit bambu (cortex), sedangkan dari bagian dalam dihalangi oleh struktur lignin yang tebal.
  • Meski poros vertical yang ada memungkinkan larutan mudah melewati sel bambu, namun keberadaan buku-buku diantara ruas bambu mengisolasi dan memperlambat penyerapan ke bagian lainnya.
  • Ketika bambu dipotong, cairan bambu beraksi menutupi “luka” yang ada sehingga membatasi akses bahan pengawet. Sehingga bambu harus segera diawetkan ketika kondisinya masih basah.
  • Dalam kondisi kering cairan bambu yang mongering di dalam batang bambu menghalangi proses difusi antar sel, sehingga memperlambat proses penyerapan pengawet.

 

 

 

3. Metode Pengawetan

 

Berdasarkan jangka waktu dan tujuan pemakaian bambu, metode pengawetan dapat dibagi menjadi dua jenis yakni pengawetan untuk keperluan jangka pendek dan pengawetan untuk keperluan jangka panjang. Di sini kita hanya akan membahas pengawetan untuk keperluan jangka panjang.

 

3.1.Perendaman Pangkal Bambu.

 

 Prinsip utama metode ini adalah penyerapan bahan pengawet oleh bambu melalui kapiler bambu. Bambu yang baru dipoting diletakkan vertical dalam larutan pengawet yang ditempatkan dalam drum atau tangki, hanya sebagian dari bambu yang terendam. Waktu perendama tergantung pada panjang bambu dan kelembabannya, umumnya antara 7 hingga 14 hari. Panjang bambu yang cocok untuk pengawetan jenis ini adalah maksimal 2 meter. Metode ini cocok untuk mengawetkan bambu dalam jumlah kecil dan bisa diaplikasikan pada bambu utuh maupun belah.

 

3.2. Perendaman Difusi.

 

Cocok digunakan untuk bambu utuh dan belah. Prinsip utamanya adalah proses difusi, dimana bahan penawet masuk ke dalam bambu akibat adanya perbedaan konsentrasi larutan dan keluarnya cairan bambu akibat tekanan osmosis. Percepatan proses perendaman difusi dapat terjadi dengan peningkatan kadar larutan dan pemecahan penyekat bagian dalam (buku) bambu. Karena melalui bagian yang dipecahkan tersebut larutan pengawet akan cepat masuk ke dalam ruas-ruas bambu yang berbeda. Pengawetan jenis ini cocok untuk skala besar, minimal 100 batang bambu sekali proses. Dibutuhkan kolam atau wadah yang besar untuk mengawetkan bambu dalam jumlah banyak. Pengembangan dan alternative lain sistem ini dapat berupa:

 

·        Perendaman dengan Pemanasan.

 

Bambu direndam dalam larutan pengawet sambil dipanaskan untuk mempercepat proses penetrasi obatnya.

 

·        Perendaman vertical.

 

Bambu dilobangi, ditegakkan lalu diisi larutan pengawet. Tekanan air akan mempercepat proses penyerapan larutan pengawet. Pengawetan cara ini cocok diaplikasikan untuk bambu utuh dan panjang.

 

·        Penggantian cairan bambu dengan bahan pengawet.

 

Metode ini dikenal dengan proses Boucherie yang dimodifikasi. Caranya adalah dengan memberikan tekanan untuk mengeluarkan cairan yang ada pada bambu yang masih basah dan pada saat bersamaan menggantikannya dengan larutan pengawet. Metode ini membutuhkan alat seperti pompa atau tangki tekanan, pipa-pipa atau selang karet yang di tempatkan di salah satu ujung bambu. Cocok untuk pengawetan bambu utuh dan masih basah. Karena jika bambu sudah kering proses penggantian cairan tidak akan terjadi.

 

3.3. Pengawetan Dengan Tangki Bertekanan.

 

 Pengawetan dengan tangki bertekanan cocok untuk bambu yang sudah kering dan dapat memastikan penyerapan yang cepat dan sempurna. Prinsipnya adalah memaksa bahan pengawet masuk ke dalam bambu. Bahan pengawet yang dapat digunakan denga sistem ini adalah BoraxBoric, CCB, CCA dan Ter. Prosedur pengawetan dengan tangki bertekanan meliputi:

 

  • Proses vakum, bambu yang ditempatkan didalam tangki divakum untuk mengeluarkan udara yang ada.
  • Proses pengisian tangki dengan bahan pengawet sekaligus memberikan tekanan pada larutan agar masuk ke dalam bambu. Proses pengisian ini juga biasaya dikombinasi dengan sistem fluktuasi tekanan, dimana tekanan dinaik-turunkan agar dapat mempercepat dan menjamin penyerapan secara sempurna.

 

Kelebihan metode ini adalah pada waktu pengawetan bambu yang lebih cepat. Sedangkan kelemahannya adalah dibutuhkan banyak peralatan yang cukup mahal.

 

 

4.Pengeringan Bambu

 

Pengeringan bambu membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pengeringan kayu yang memiliki kepadatan struktur yang sama. Ini disebabkan bambu memiliki komponen yang sangat mudah menyerap kelembaban.Saat bambu mulai mengering, batang bambu akan berkontraksi dan mengkerut. Proses pengkerutan ini dimulai sejak bambu ditebang, dan dapat mengurangi diameter bambu hingga 16% dan mengurangi ketebalannya hingga 17%. Bambu muda sebaiknya tidak digunakan untuk keperluan konstruksi, karena tingkat pengerutannya sangat tinggi, selain itu bambu muda juga sangat rentan terhadap serangan serangga dan organisme lain.

 

Cara yang paling umum dilakukan untuk kebutuhan komersil adalah pengeringan alami dengan di angin-anginkan. Ketika bambu diangkat dari tempat pengawetan, bambu tersebut haruslah disusun dengan baik dan disimpan di tempat yang terlindung.

 

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan ketika mengeringkan bambu:

 

  • Hindari bambu kontak langsung dengan tanah untuk menghindari jamur dan serangga, serta menghindari kelembaban.
  • Disarankan hanya menggunakan bambu yang cukup tua, yakni yang berumur sekitar 3 tahun untuk mencegah pengerutan bambu.
  • Singkirkan bambu yang terserang hama atau bubuk supaya tidak menjangkiti bamblain.
    Upayakan ada ventilasi yang baik untuk sirkulasi udara
  • Hindari perubahan kelembaban yang drastis, misalnya dengan menjemur bambu pada sinar matahari secara langsung, karena ini akan dapat membuat bambu retak dan bahkan pecah terutama pada bambu utuh. Pengeringan dengan matahari dapat dilakukan pada bambu belah.
  • Penyimpanan secara vertical adakn dapat mengeringkan bambu lebih cepat dan menghindari kemungkinan terserang jamur. Namun bambu yang dikeringkan secara tegak terlalu lama dapat membuat bambu menjadi kurang lurus dan bengkok.
  • Pengeringan secara horizontal dapat dilakukan untuk bambu dalam jumlah besar. Bambu harus diletakkan diatas struktur umpak atau alas agar tidak kontak langsung dengan tanah. Ini berguna untuk menghindari kelembaban. Disaranakn diantara tumpukan bambu diberi alas agar ada sirkulasi yang baik antara batang bambu.
  • Bolak-balik bambu agar pengeringannya merata.

 

Daftar Pustaka

 

1.    Basri, E. dan Saefudin.2006 Sifat kembang susut dan kadar air keseimbangan bambu tali (Gigantochloa apuskurtz) pada berbagai umur dan tingkat kekeringan. Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 24 (3): 241-250. Pusat Litbang Hasil Hutan, Bogor

 

2.    Widjaja, E.A, N.W. Utami dan Saefudin. 2004. Buku panduan membudidayakan bambu.

 

Pusat Penelitian Biologi LIPI(Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia),  Bogor. hlm 1-10.

 

3.    http://www.bambuawet.com/tentang-bambu/cara_mengawetkan_bambu/cara-pengeringan-bambu/

 

4.    http://bamboeindonesia.wordpress.com/pengawetan/artikel-keanekaragaman-bambu/bambu-awet/

 

5.    http://www.translate.com/english/waktu-yang-disarankan-untuk-pengeringan-bambu-secara-alami-dengan-diangin-angin-adalah-sekitar-1-2-b/19755085

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG