Pembelajaran Staf Berbasis Unit Kerja Program Input (I)

Pembelajaran Staf Berbasis Unit Kerja

Program Input (I)

Oleh Jojon Suherman

 

} Staf dalam suatu organisasi merupakan ujung tombak menyelesaikan pekerjaan terutama pekerjaan yang bersifat rutin, sehingga dapat dikatakan baik dan tidaknya hasil pekerjaan tergantung dari kemampuan staf. Pernyataannya ini tidak mengenyampingkan peran pimpinan dalam menghasilkan kualitas pekerjaan, karena pimpinan dalam hal ini masih berperan langsung dalam input program dan   finishing task dari sebuah pekerjaan. Realita dalam sebuah organisasi baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar tidak semua staf dapat melakukan pekerjaan dengan baik, tidak semua staf dapat dihandalkan untuk menyelesaikan pekerjaan, atau bahkan dirasakan beban dengan adanya staf tersebut bagi organisasi. Kondisi yang demikian ada sesuatu yang perlu diperbaiki, karena kondisi tersebut belum tentu kesalahan dari staf semata namun juga dapat terjadi konstribusi kesalahan dari pimpinan. Untuk itu tulisan ini memberikan panduan  pada pimpinan dan staf  unit kerja atau organisasi  untuk menyadari pentingnya keutuhan tim dalam unit kerja dalam memperoleh kinerja yang maximum dalam kondisi kerja yang kondusif.

Perlu disadari oleh  pimpinan unit kerja atau organisasi, bahwa pimpinan dan staf  adalah suatu keutuhan tim yang perlu kerjasama dan secara bersama harus memahami tugas dan fungsi unit kerja dalam tujuan organisasi. Apabila pimpinan dan staf  masih mendapatkan kesulitan dalam implentasi tugas dan fungsi untuk mencapai tujuan organisasi,  atau ingin mendapatkan kinerja unit kerja yang efisien, efektif  dalam implentasi tugas dan fungsi tersebut, maka tulisan ini memberikan bantuan panduan sebuah program dengan nama “pengembangan staf berbasis unit kerja” (tulisan pertama bagian I tentang program input). Tujuan program ini adalah melatih dan mengembangkan staf untuk mencapai performance yang oftimal pada tugas  dan fungsi unit kerja dalam organisasinya.

Pengembangan staf dibagi menjadi 4 cluster yaitu 1) training, 2) clinical supervision, 3) organization, dan 4) production.  Training,   bahwa setiap staf memerlukan training berbasis pekerjaan sebelum melaksanakan tugasnya dan dalam upaya peningkatan kemampuan, sikap dan keterampilan kerja. Training sebagai pola membangun hubungan antara tujuan organisasi, kemampuan staf dan pimpinan, strategi pencapaian tujuan dan expectation unit kerja, sehingga pelaksanaan training perlu sebuah provider yang terpercaya, namun training yang memberikan efek langsung adalah training yang diberikan oleh pimpinannya melalui pembelajaran staf rutin. Clinical supervision, setiap pekerjaan staf diperlukan supervisi untuk memberikan apresiasi pada pekerjaan oleh pimpinan, tipe supervisi dalam pembelajaran staf adalah supervisi klinis yang dilakukan pimpinan yang dapat memberikan rasa percaya diri staf dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. Organization, kebiasaan staf cenderung menerima perintah, namun dalam konsep pembelajaran staf diarahkan pada melalukan pengorganisasian kerja dalam menjalankan tugas dan fungsi tersebut, keberhasilan pekerjaan dalam kegiatan unit kerja dicapai melalui keberhasilan pengorganisasian pekerjaan dalam unit kerja tersebut dan keberhasilan organisasi dicapai melalui keberhasilan pengorgaisasian pekerjaan setiap unit kerja. Oleh karena itu pengorganisasian pekerjaan  perlu diajarkan dan perlu dipahami oleh setiap staf dan pimpinan sehingga tercapai kemudahan melakukan mekanisme bekerja. Production, unit kerja dapat diukur kinerjanya berdasarkan produk yang dihasilkan unit kerja tersebut, staf dan pimpinan sangat harus paham bahwa produk yang dihasilkan menentukan keberhasilan organisasi, oleh karena ini staf dan pimpinan secara bersama belajar memfocuskan pencapaian tujuan organisasi dalam menentukan produk unit kerja.  Produk unit kerja tersebut  yang  menjadi sasaran sebagai bahan training, supervisi dan pengorganisian dalam mekanisme bekerja unit kerja.   

Keempat cluster tersebut  yang harus dilakukan oleh unit kerja untuk tercapai situasi unit kerja yang siap menjalankan tugas dan fungsinya, selanjutnya dalam melaksanakan keempat cluster tersebut dilakukan proses pembelajaran staf melalui tahapan-tahapan pembelajaran  dalam beberapa program pembelajaran yaitu 1) program input (mengidentifikasi tujuan organisasi untuk program pengembangan staf), 2) program pengembangan (mengidentifikasi perencanaan tugas dan prosedur untuk mendesain sebuah program pembelajaran efektif) dan  3) program pertumbuhan (mengidentifikasi hasil yang dapat diharapkan dari implementasi efektif program pengembangan staf  fokus pada tujuan).

Dengan pembatasan  jumlah kata dalam naskah ini, maka tulisan ini hanya dibatasi dalam pembelajaran staf tahap I dengan judul Program Input. Program input  sebagai tahap awal dalam pembelajaran staf yaitu  mengidentifikasi tujuan organisasi untuk program pengembangan staf terdiri dari  1) rumusan tujuan unit kerja  2) pelaksana, 3) Tujuan pengembangan staf.  Tujuan unit kerja, tujuan unit kerja adalah turunan dan penjabaran dari tujuan organisasi dalam rangka oprasional kerja.  oleh karena itu setiap unit kerja mengidentifikasi tujuan unit kerja yang sasarannya pada kemudahan dalam mekanisme pelaksanaan kerja untuk mencapai produktifitas kerja sebagai hasil kinerja unit kerja. Hasil identifikasi tujuan ini selanjutnya dirumuskan kedalam tugas dan fungsi unit kerja (job discription). Pelaksana, dalam unit kerja yang cukup besar perlu dibuat tim pelaksana pengembangan staf,  tim ini bertugas untuk mengorganisaikan pelaksanaan pengembangan staf dengan segala sumber dayanya, sedangkan untuk unit kerja yang kecil, pimpinan  bertanggung jawab langsung pelaksanaan pengembangan staf yang dibuat secara terprogram kegiatan pengembangan staf.  Tujuan Pengembangan Staf, tugas dan fungsi unit kerja  selanjutnya diturunkan kedalam kompetensi-kompetensi yang diperlukan dalam pekerjaan tersebut, dalam menentukan kompetensi perlu diperhatikan kompetensi untuk  mencapai citra dan hasil produk unit kerja tersebut yaitu secara utuh profesional dalam pekerjaan tersebut.  tahap selanjutnya dilakukan mapping kompetensi pada staf dan pimpinan dan hasil mapping kompetensi ini sebagai alat pengembangan staf, dengan demikian akan diperoleh tujuan pengembangan staf dari kompetensi yang akan dicapai. Sampai ketemu pada tulisan bagian ke II tentang “Program Pengembangan”

PERALATAN MANUAL TEKNIK PENGUKURAN DAN PEMATOKAN (SETTING OUT)

PERALATAN MANUAL

TEKNIK PENGUKURAN DAN PEMATOKAN  (SETTING OUT)

 

DRS. SURYANA, MT

WIDYAISWARA DEPARTEMEN BANGUNAN

 

1.                      1.     Jenis Alat dan Penggunaan

a.    Patok Referensi

Patok referensi digunakan untuk menandai lengkungan dan level jalan. dibuat dari kayu, cabang atau batang pohon yang dipotong panjang, idealnya panjang 40 cm dan diameter 5 cm atau 5 cm x 5 cm persegi. Dianjurkan untuk dicat putih atau kuning untuk visibilitas dan cat disiapkan di muka. Untuk menghindari kerugian kerusakan, atau patok akan hilang, Patok harus ditancapkan ke dalam tanah hingga kokoh untuk menghindari pencurian.

 b.   Patok Survey

Patok survey biasanya di tetapkan pada garis tengah jalan dan pada lebar jalan sebelum pelaksanaan pekerjaan tanah, patok harus ditancapkan dengan kokoh dan kuat. Patok serbaguna diperlukan untuk dipancangkan pada bagian melintang. Panjang patok biasanya 30 cm serta salah satu ujungnya diruncingkan, patok digunakan dengan bantuan garis benang untuk menentukan lengkungan horizontal atau lengkungan vertikal.

c.    Pita Ukur

Pita ukur terbuat dari baja atau linen, panjang maksimum adalah 20 , 30, dan 50 meter. Pita baja harganya lebih mahal dari pada pita linen, dengan penggunaan yang sering dan lama dan tidak memperhatikan keselamatan pita ukur akan mengakibatkan kerusakan dan tidak terbaca. Pita kain linen direkomendasikan untuk dipergunakan, meskipun tidak begitu akurat seperti baja. Pita sangat penting untuk penetapan ukuran panjang dan lebar pada pekerjaan pengukuran dan pematokan.


 

 Pita yang lebih kecil dengan panjang, 2 m, 3 m atau 5 m, yang berguna untuk mengukur bagian konstruksi, seperti tinggi dan lebar profil saluran dll.

 

d.    Papan Profil dan Jalon

berguna untuk menentukan kedataran. Jalon digunakan untuk menetapkan garis lurus dan lengkungan. Papan profil terbuat dari pelat baja tipis yang dilas pada tabung logam, bisa diatur ke atas dan ke bawah sesuai kebutuhan serta dapat  dijepit dengan logam jalon. Ukuran maksimum profil papan logam adalah panjang 40 cm dan lebar 10 cm, yang dicat merah untuk memudahkan dilihat.

 

Papan profil, jalon tidak mahal harganya dan dapat dibuat dengan mudah oleh bengkel pengerjaan logam. Jalon terbuat dari logam berongga tabung, seperti pipa galvanis dengan diameter 12.5 mm, dengan ujung runcing dari tulangan baja. Jalon biasanya panjang 2 meter, dan dicat merah dan putih agar jalon mudah untuk dilihat selama pemancangan. Sebelum mulai melaksanakan pekerjaan pengukuran dan pematokan, pastikan bahwa anda memiliki persiapan persedian papan profil dan jalon. Persedian dengan jumlah 20 jalon dan 20 papan profil dianggap sebagai persiapan yang  minimum untuk melaksanakan pekerjaan secara efektif.

e.    Garis Level

Kedataran masing-masing level profil dapat dikontrol menggunakan garis level, yang dipasang alat waterpas pendek (sekitar 100 mm)  dengan pengait di setiap ujung untuk dipasang pada benang nilon seperti gambar dibawah.

 

 

 

 

Untuk mengoperasikan alat ini dibutuhkan dua orang,  satu orang di akhir garis, dan orang kedua untuk melihat waterpas. Garis basis benang digerakan ke atas atau ke bawah sampai gelembung tersebut berada di tengah-tengah antara tanda waterpas. kemudian garis benang akan menunjukkan garis horisontal.

            1)     level dapat digunakan untuk:

a)  Mentransfer level dari satu papan profil ke  profil lainnya, sehingga memastikan bahwa keduanya pada level yang sama,

b)  mengukur naik atau turun dari level horisontal yang diketahui, dan menetapkan level baru,

c)menentukan kemiringan antara dua papan profil tetap, dan menentukan satu lebih tinggi.

Garis level memiliki jangkauan maksimum 50 meter. Sangat mudah untuk dibawa disekitar lokasi dengan hati-hati serta dapat digunakan untuk menetapkan level dan kemiringan.

2)     Poin yang harus diingat ketika menggunakan garis level:

a)Benang yang digunakan harus snur tipis, memungkinkan untuk kedataran garis dan mudah digeser sepanjang benang.

b)  Garis level harus ditempatkan di tengah jalan antara dua jalon. Gunakan pita ukur untuk menentukan titik tengah yang tepat.

c)  benang yang digunakan harus ditarik ketat - jangan dibiarkan melendut.

d)  Garis level merupakan suatu instrumen yang halus, jangan memperlakukannya dengan kasar.

e)  Periksa akurasi garis level secara teratur di lapangan.

3)     Memeriksa Garis Level

a)  Mengammbil dua jalon, di mulai dari jalan melintang dan memindahkan level dari jalan ke tempat yang lain. Tandai level pada kedua jalon.

b)  Menjaga benang pada posisi sama di jalon pertama, mengambil garis level dan turunkan seputar benang. Sesuaikan benang pada kedua jalon sampai gelembung tersebut di tengah lagi dan menandai level baru.

c)  Memeriksa apakah dua tanda berada di tempat yang sama. Jika tidak, ukur perbedaan antara dua tanda.

d)Jika perbedaan antara kedua tanda kurang dari 10 cm, Anda bisa mendapatkan level yang tepat dengan mengambil titik setengah jalan antara dua tanda.

e) Jika perbedaannya lebih besar dari 10 cm, Anda memperbaiki garis level baru dengan yang  lebih akurat.

 


Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-fareast-language:EN-US;}

f.      Boning Rods

Boning Rods pada umumnya dibuat dari bahan kayu meranti dengan profil "T" dengan ukuran  sama tinggi. Sebuah alas sederhana juga dapat dibuat.

Boning rods yang digunakan berjumlah 3 unit  dan  setiap papan  melintang boning rods dicat dengan warna yang berbeda. Boning rods digunakan untuk menetapkan level tambahan diantara level tetap. Boning rods sangat berguna untuk memeriksa kemiringan dari selokan dan gorong-gorong. Pada gambar di bawah ini, dapat dilihat bahwa permukaan tanah pada titik 3 terlalu rendah dan boning rod ditempatkan terlalu jauh ke kanan. Dengan menaikkan boning rod dan segaris lurus dengan rods 1 dan 2, permukaan bawah rods 3 menunjukkan level yang dibutuhkan dan posisinya berada pada garis lurus.

 

 

 

 

Latihan yang sama dapat dilakukan dengan menggunakan papan profil, dengan memerlukan dua orang untuk melakukan tugas tersebut.

 

g.     Metode Papan Profil

Prosedur umum pengukuran dan pematokan didasarkan pada penggunaan alat papan profil dan garis level benang , dengan peralatan tersebut dapat  mengontrol kedataran selama pelaksanaan konstruksi. Prinsip dasar menggunakan papan profil adalah kita menempatkan rangkaian papan level yang menunjukkan tinggi 1 meter di atas level konstruksi. direncanakan bahwa selokan harus digali dari A ke B dengan tinggi ditunjukkan oleh tanda garis:

 

 

Untuk memastikan bahwa level di selokan ditetapkan dengan  akurat, papan profil ditempatkan di posisi A dan B,  dan direncanakan level di atas parit 1 meter lihat gambar di bawah:

 

h.     Traveller

Traveller digunakan untuk memperoleh kedataran  antara dua papan profil. boning jalon atau profil dapat digunakan sebagai traveler. Sepanjang garis dari A ke B, lubang digali pada level parit. Dengan menempatkan traveller pada lubang dan bidikan dari papan profil pada posisi A ke papan profil pada posisi B, kita dapat melihat apakah traveler segaris lurus dengan dua papan profil tetap. Jika traveller terlalu rendah, lubang diurug, Jika traveller jalon di atas garis pandang,  lubang yang dibutuhkan digali lebih dalam.

Untuk memberikan arah yang baik, lubang digali secara teratur, misalnya pada setiap 4 meter sampai 5 meter sepanjang garis pandang. Ketika lubang yang ada telah digali, pekerja dapat mulai menggali parit dengan penggabungan lubang. Traveller kemudian dapat digunakan untuk memeriksa bahwa pekerjaan level selokan yang benar telah selesai.

 i.     Travellers Sementara

Cara ini juga memungkinkan untuk menentukan ukuran yang di bawah garis pandang antara dua papan profil dengan menggunakan traveler sementara.

Traveler sementara mudah distel di tempat dengan cara mengukur panjang yang dibutuhkan dari ujung tumpul jalon sampai ke tepi atas papan profil, dengan posisi dijepit. Traveler sementara kemudian siap untuk digunakan. Bila digunakan dengan pemasangan profil tetap, Traveller akan menunjukan hasil pengukuran level konstruksi telah selesai di sepanjang garis pandang dari profil yang sudah ditetapkan.

Hal ini sangat berguna bagi perencanaan supervisor ketika pematokan. Pada pelaksanaan pematokan supervisor paling sering menggunakan traveller sementara, untuk menandai level pekerjaan tanah pada patok tepi jalan.

1)     Kegunaan lain traveller adalah untuk:

a)    Memandu dan memeriksa penggalian tanah di bawah level pekerjaan tanah (misalnya untuk penggalian konstruksi dasar saluran),

b)    Mengetahui apakah permukaan tanah keras berada di atas atau di bawah level jalan sebelum level jalan ditetapkan,

c)    Memperkirakan jumlah urugan yang diperlukan jika jalan menanjak, atau ketika jalan melintasi daerah yang menurun

d)    Memperkirakan pekerja yang terlibat dan menetapkan level jalan yang optimal,

e)    Menentukan awal dan akhir saluran

f)     Mengecek dengan  cepat pada pekerjaan level garis benang, dll

untuk mengarahkan pekerjaan drainase pemimpin tim kerja harus menggunakan traveller khusus atau boning rod. karena profil pada traveler sementara bisa menjadi longgar dan supervisor tidak dapat memeriksa dan mengatur kembali traveller.

 

j.     Segitiga

Profil segitiga dapat dibuat di tempat oleh tukang kayu dari bahan kayu meranti dan digunakan untuk berbagai tujuan:

1)     Untuk mengatur sebuah sudut kanan pada garis tengah (yang harus dilakukan ketika bagian melintang ditetapkan);

2) Untuk mengontrol atau memperkirakan kemiringan permukaan tanah – pada  pengukuran  ini diperlukan kedataran atau garis tegak lurus.

 

 

Pada elevasi digambarkan sebagai perbandingan tinggi dan jarak datar.

Contoh : sebuah elevasi 2 : 1 berarti dua meter horizontal dan satu meter vertikal. Elevasi yang ada diukur dengan menggunakan prinsip segitiga, menggabungkan waterpas untuk mengontrol kedataran dengan segitiga siku-siku. segitiga ini juga dapat berguna dalam membentuk sudut kanan pada garis tengah jalan dan diilustrasikan pada gambar dibawah.

 

k.    Optical Square

Optical square adalah alat kecil yang menggunakan cermin atau prisma untuk menetapkan sudut siku-siku seperti yang diilustrasikan pada gambar di bawah.

Pengamat dapat melihat kedua titik B dan titik C, melalui celah sempit kiri pada optik persegi di cermin atau prisma. Ketika dua jalon mulai ditempatkan di titik-titik B dan C, pengamat akan melihat langsung mulai jalon B dan jalon C di cermin seperti yang diilustrasikan pada gambar dibawah.

Bila titik A dan B pada garis survei diketahui dan titik C harus ditentukan, seperti ditunjukkan pada gambar di atas, orang yang memegang jalon C harus mulai bergerak maju atau mundur sampai pengamat melihat bayangan jalon C dalam satu baris langsung  dengan melihat jalon B. Pada sudut titik CAB adalah sudut yang benar.

 

l.     Batang Ukur

Batang ukur adalah sebuah balok sederhana, biasanya dari bahan kayu, yang dibantu dengan alat waterpas dan pita pengukur, dapat digunakan untuk mengukur elevasi badan  jalan. Batang ukur biasanya panjang 3 meter dan untuk mengukur kedataran dengan bantuan waterpas. Metode ini digunakan untuk pengukuran elevasi yang menerus dengan jarak pendek, misalnya gorong-gorong, kemiringan saluran dan badan jalan.

 

Gambar di bawah ini menunjukkan bagaimana elevasi diukur dengan perbandingan 1:15.


 

m.     Slang Ukur

Slang ukur adalah instrumen yang sangat akurat dan sederhana untuk mengukur perbedaan tinggi  antara dua buah titik. Kedataran antara dua titik , diilustrasikan pada gambar di bawah, terdiri dari panjang slang plastik bening dipotong pada setiap ujung untuk meratakan papan kayu. Kedua papan kayu harus rata dan sama panjang, panjangnya sekitar 1,5 m. Tabung diisi dengan air sampai ketinggian sekitar 1 m dari tanah, slang ukur tidak boleh mengandung gelembung udara. Ujung tabung dipasang sumbat karet untuk mencegah air tumpah. Panjang total selang sangat bervariasi, tapi panjangnya biasanya terbatas pada sekitar 15 m sehingga tidak kesulitan bergerak pada waktu pengukuran.

Kedua papan slang dibawa dan disatukan di titik awal, dan bacaan yang ditetapkan sejajar dengan garis permuakan air bagian  bawah. Pembacaan harus sama (misalnya di titik A bacaan = 50 cm, di titik B bacaan = 50 cm). surveyor mengambil / papan selangnya pada titik yang sedang diukur dan menentukan bacaan yang lain. Perbedaan antara kedua bacaan adalah perbedaan tinggi (misalnya bacaan A = 30 cm dan bacaan B = 70 cm, perbedaan tinggi menjadi 70-30 = 40 cm). Kedua Perbedaan ketinggian yang telah diukur tidak perlu dilihat salah satu. Ketinggian dengan slang ukur  memberikan hasil yang akurat dan dapat digunakan untuk menetapkan level garis atau elevasi.

 

n.     Abney Level

Abney level dapat digunakan untuk pengukuran sudut vertikal untuk menetapkan ketinggian. sudut vertikal, diukur sebagai berikut: Garis bidik harus ditentukan pada titik yang berada pada ketinggian yang sama di atas permukaan tanah setinggi mata pengamat. Garis bidik kemudian akan sejajar dengan permukaan tanah antara A dan B (lihat gambar bawah).

abney level di posisi ini (benang silang memotong target), gelembung udara pada tabung level abney harus ditempatkan di tengah-tengah dengan cara memutar skrup penggerak. Sudut garis pandang horizontal dapat dibaca pada teropong. Abney Level juga dapat digunakan untuk mengukur elevasi. Teropong harus ditetapkan pada sudut yang diperlukan atau elevasi (misalnya 5° 40') dan tinggi papan profil dapat diukur dengan cara digerakkan ke atas atau bawah sampai permukaan atas papan profile tingginya sama., abney level dapat digunakan juga untuk mengukur jarak dan ketinggian. Tingkat ketelitian hasil pengukuran  yang dapat dicapai, tidak terlalu tinggi. Jika tingkat ketelitian yang diperlukan lebih tinggi dianjurkan untuk menggunakan pita ukur untuk jarak dan alat sipat datar untuk elevasi serta teodolit untuk sudut

o.    Alat Sipat Datar (Waterpass)

Alat sipat datar digunakan untuk mengukur perbedaan tinggi dikombinasikan dengan rambu ukur. ketinggian dapat ditransfer dari titik tetap yang memiliki data ketinggian sehingga tinggi titik baru baru dapat ditetapkan dengan akurat hingga jarak 70 meter. Ada beberapa jenis alat sipat datar di pasaran, dengan sistem dan spesifikasi yang berbeda. Disarankan para surveyor harus memiliki kompetensi menggunakan alat sipat datar, sebelum alat sipat datar dipergunakan pengukuran, penting dan perlu  untuk dilaksanakan  kalibrasi yang akurat.

  p.    Batang Profil  Jalan

Batang profil jalan  digunakan untuk menentukan kemiringan bahu jalan. Panjang batang profil jalan biasanya dari garis tengah ke bahu jalan. Dalam hal ini bahu jalan memiliki elevasi yang sama dengan permukaan jalan, panjang batangprofiljuga dapat mencapai bahu. Gambar di bawah ini menunjukkan sebuah batangprofildenganpanjang 2,50 meter menunjukkan elevasi 6 persen (1:20). Panjang batangprofildan elevasi harus dapat diubah agar sesuai dengan profil yang dibutuhkan.

 

batangprofil digunakan dengan  bantuan waterpas seperti yang ditunjukkan di bawah ini:

 

q.       Template Saluran

Pada umumnya profil trapesium dibuat dari kayu meranti, kayu lapis digunakan untuk memeriksa profil selokan, saluran, kemiringan atas, dll.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.    Markus Gerig, Vermesungskunde und Feldmessen Fur das Baugewerbe, SKBU Zurich, 1984.

2.  Soetomo Wongsotjitro, Ilmu Ukur Tanah, Kanisius, Yogyakarta, 1980.

3. W. Schofield, Engineering Surveying 2, Second Edition, London, 1984.

4.   Ir. Indra Simarga, M. Surv. Sc, Pengukuran dan Pemetaan Pekerjaan Konstruksi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1997.

5.    S G Brighty, Setting Out A Gide For Site Engineers, Granada, London, 1975

TEKNIK PELAKSANAAN DINDING DIAFRAGMA (DIAPHRAGM WALLS) PADA KONSTRUKSI GEDUNG

TEKNIK PELAKSANAAN DINDING DIAFRAGMA
(  DIAPHRAGM   WALLS  )
PADA KONSTRUKSI GEDUNG

 

Oleh : SUWARDAYA AJI

 

 

1.     PENGANTAR.

 

Dalam pembangunan setiap proyek bangunan akan mempunyai karakteristik yang berbeda-beda antara satu proyek dengan proyek yang lain. Oleh karena itu teknik pelaksanaaan setiap gedung tidak akan sama, hal ini sangat tergantung dari kesulitan keadaan site, sumber daya dan waktu yang akan menentukan dari metode pelaksanaannya.

 

Pada suatu proyek yang terletak di tengah kota yang lahannya sempit dan berbatasan langsung dengan bangunan lain atau jalan yang tidak boleh terganggu aktivitasnya memerlukan suatu pemecahan dalam teknik pelaksanaan gedung.

 

 

Gambar 1. Toko pakaian Feldpausch, Bahnhofstrasse 88 di Zuerich.

 

Seperti pada kasus pembangunan toko pakaian Feldpausch yang terletak di tengah kota Zuerich yang mempunyai tiga lantai di bawah permukaan tanah.  Dengan dibangunnya tiga lantai di bawah permukaan tanah maka diperlukan pekerjaan galian tanah yang cukup dalam.  Ada problem lain yang akan muncul dengan galian terbuka yang cukup dalam yaitu tekanan tanah, beban bangunan dan jalan dengan beban kendaraan yang lewat.  Dengan kondisi site yang demikian maka dipilih dinding diafragma (diaphragm walls) untuk pembangunan gedung tersebut.

 

2.    TEKANAN TANAH LATERAL DAN LUMPUR BENTONIT.

 

a.     Tekanan tanah lateral untuk tanah kohesif.

 

 

  • Tanah urugan yang berupa tanah kohesif seperti tanah lempung, besarnya tekanan tanah aktif menjadi berkurang.
  • Hitungan didasarkan pada persamaan Rankine dan Coulomb dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi tegangan pada lingkaran Mohr.
  • Terdapat kemungkinan bahwa galian tanah pada tanah kohesif dapat dibuat dengan tebing galian yang vertikal.
  • Nilai negatif memberikan pengertian adanya gaya tarik yang bekerja, dimulai kedalaman tertentu dari permukaan.
  • Kedalaman di mana tekanan tanah aktif total sama dengan nol  akan memberikan kedalaman retakan tanah urugan akibat gaya tarikan.
  • Karena tanah mengalami tarikan sampai kedalaman bc  dari permukaan, pada galian tanah-tanah yang kohesif, sering terlihat adanya retakan disepanjang galiannya.

 

 

Gambar 2. Galian pada tanah kohesif.

 

Keterangan : 

 

Pa       = Tekanan tanah aktif total.

 

Pp       = Tekanan pasif total.

 

H         = Tinggi dinding penahan tanah.

 

γ          = Berat volume tanah.

 

c          = Kohesi.

 

 

 

 

  • Retakan yang terisi oleh air hujan dapat mengurangi kohesi dan juga menambah tekanan lateral akibat tekanan hidrostatis.
  • Faktor lingkungan dapat mengurangi nilai kohesi dari tanah lempung, sehingga mengurangi tinggi hc.

 

b.     Pengaruh beban beban terbagi rata di atas tanah urugan.

 

 

  • Kadang-kadang tanah urugan di belakang dinding penahan tanah dipengaruhi oleh beban terbagi rata.
  • Dengan menganggap beban terbagi rata q sebagai beban tanah setebal bs dengan berat volume (γ) tertentu, maka tinggi lapisan ntanah bs  = q/γ.
  • Diagram gaya tambahan tekanan aktif akibat beban terbagi rata ini akan berupa segi empat tinggi H dan lebar sisi q Ka.

 

 

Gambar 3. Tekanan tanah lateral akibat beban terbagi rata q.

 

Keterangan : 

 

Pa       = Tambahan tekanan tanah aktif akibat beban terbagi rata.

 

q          = Beban terbagi rata.

 

H         = Tinggi dinding penahan.

 

Ka       = Koefisien tekanan tanah aktif.

 

c.     Lumpur bor bentonit.

 

Bentonit adalah istilah pada lempung yang mengandung monmorillonit dalam dunia perdagangan dan termasuk kelompok dioktohedral.  Penamaan jenis lempung tergantung dari penemu atau peneliti, misal ahli geologi, mineralogi, mineral industri dan lain-lain.

 

Bentonit dapat dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan kandungan aluminium silikat hydrous, yaitu :

 

 

  • Activated clay.

 

Activated clayadalah lempung yang kurang memiliki daya pemucat, tetapi daya pemucatnya dapat ditingkatkan melalui pengolahan tertentu.

 

 

  • Fuller's earth.

 

Fuller's earthdigunakan di dalam fulling atau pembersih bahan wool dari lemak.

 

 

 

Sedangkan berdasarkan tipenya, bentonit dibagi menjadi dua, yaitu :

 

  • TipeWyoming (Na-bentonit – Swelling bentonite).

 

Na bentonit memiliki daya mengembang hingga delapan kali apabila dicelupkan ke dalam air dan tetap terdispersi beberapa waktu di dalam air. Dalam keadaan kering berwarna putih atau cream, pada keadaan basah dan terkena sinar matahari akan berwarna mengkilap. Perbandingan soda dan kapur tinggi, suspensi koloidal mempunyai pH: 8,5-9,8, tidak dapat diaktifkan, posisi pertukaran diduduki oleh ion-ion sodium (Na+).

 

  • Tipe Mg, (Ca-bentonit – non swelling bentonite).

 

Tipe bentonit ini kurang mengembang apabila dicelupkan ke dalam air, dan tetap terdispersi di dalam air, tetapi secara alami atau setelah diaktifkan mempunyai sifat menghisap yang baik. Perbandingan kandungan Na dan Ca rendah, suspensi koloidal memiliki pH: 4-7. Posisi pertukaran ion lebih banyak diduduki oleh ion-ion kalsium dan magnesium. Dalam keadaan kering bersifat rapid slaking, berwarna abu-abu, biru, kuning, merah dan coklat. Penggunaan bentonit dalam proses pemurnian minyak goreng perlu aktivasi terlebih dahulu.

 

 

 

Endapan bentonit Indonesia tersebar di pulau Jawa, Sumatera, sebagian di pulau Kalimantan dan Sulawesi, dengan cadangan diperkirakan lebih dari 380 juta ton, serta pada umumnya terdiri dari jenis kalsium (Ca-bentonit) .  Beberapa lokasi yang sudah dan sedang dieksploitasi, yaitu di Tasikmalaya, Leuwiliang, Nanggulan. Indikasi endapan Na-bentonit terdapat juga di Pangkalan Brandan, Sorolangun-Bangko dan Boyolali.

 

 

Gambar 4. Penambangan bentonit, bentonit dan produk di pasaran.

 

Pemanfaatan Na-bentonit sebagai bahan perekat, pengisi (filler), lumpur bor, sesuai sifatnya mampu membentuk suspensi kental setelah bercampur dengan air.  Sedangkan Ca-bentonit banyak dipakai sebagai bahan penyerap.  Untuk lumpur pemboran, bentonit bersaing dengan jenis lempung lain, yaitu atapulgit, sepiolit dan lempung lain yang telah diaktifkan.

 

Dengan penambahan zat kimia pada kondisi tertentu, Ca-bentonit dapat dimanfaatkan sebagai bahan lumpur bor setelah melalui pertukaran ion, sehingga terjadi perubahan menjadi Na-bentonit dan diharapkan terjadi peningkatan sifat reologi dari suspensi mineral tersebut.  Agar mencapai persyaratan sebagai bahan lumpur sesuai dengan spesifikasi standar, perlu ada penambahan polimer.  Hal itu dapat dilakukan melalui aktivasi bentonit untuk bahan lumpur bor.

 

3.    PERALATAN PELAKSANAAN DINDING DIAFRAGMA.

 

Peralatan-peralatan utama yang dipakai pada pelaksanaan dinding diafragma adalah sebagai berikut ini :

 

  • Mobile crane untuk mengoperasikan penggalian dan pemasangan tulangan.
  • Peralatan gali dinding diafragma.
  • Silo bentonit dan pompa untuk mensuplai dan menyedot bentonit.
  • Dump truck untuk membawa tanah galian ke luar site proyek.
  • Concrete mixer truck untuk mensuplai kebutuhan beton pengecoran dinding diafragma.
  • Peralatan pembesian / penulangan konstruksi beton bertulang untuk menyiapkan penulangan dinding diafragma.
  • Peralatan konstruksi baja penopang untuk memasang dan membongkar konstruksi baja penopang sementara .
  • Peralatan gali tanah / excavator untuk menggali tanah pada bagian yang akan dibangun gedung apabila dinding diafragma telah selesai.

 

 

Gambar 5. Peralatan utama pada pelaksanaan dinding diafragma.

 

4.    TEKNIK PELAKSANAAN DINDING DIAFRAGMA.

 

Secara garis besar teknik pelaksanaan dinding diafragma adalah sebagai berikut ini :

 

  • Penggalian dengan peralatan khusus penggalian untuk dinding diafragma.
  • Pengisian lubang penggalian dengan konstruksi beton bertulang.
  • Penggalian tanah yang direncanakan.
  • Pemasangan penahan sementara dari konstruksi baja.
  • Pelaksanaan struktur gedung.

 

Tahap pelaksanaan dinding diafragma pada gedung secara terperinci adalah sebagai berikut ini :

 

a.     Persiapan alur dinding diafragma.

 

  • Pembersihan sesuatu yang menghalangi alur dinding diafragma.  Tahap ini dapat berupa pemotongan bagian permukaan tanah yang diperkeras atau permukaan aspal.
  • Penggalian secukupnya untuk alur dinding diafragma.

 

 

Gambar 6. Persiapan alur dinding diafragma.

 

b.     Penggalian dinding diafragma.

 

  • Penggalian dilaksanakan elemen demi elemen dengan peralatan khusus.
  • Penggalian dilakukan sedikit demi sedikit sampai mencapai kedalaman tertentu yang direncanakan.
  • Untuk menghindari keruntuhan galian karena tekanan tanah, maka lubang galian diisi dengan bentonit.  Bentonit akan menahan (memberi reaksi) tekanan tanah.
  • Bentonit akan dialirkan dari silo ke lubang galian sesuai dengan volume galian yang dicapai.

 

 

Gambar 7. Penggalian dinding diafragma yang telah telah terisi bentonit.

 

c.     Pemasangan tulangan dinding diafragma.

 

  • Tulangan dipasang pada galian setelah lubang galian satu elemen selesai digali.
  • Setelah tulangan dirakit, dengan bantuan mobile crane tulangan dipasang pada lubang dinding diafragma yang telah siap.
  • Pemasangan tulangan tidak harus sekaligus, tetapi dapat dipasang beberapa tahap sesuai dengan kedalaman galian dan kemampuan tinggi mobile crane.  Penyambungan tulangan pada setiap tahap dengan sambungan lewatan.

 

 

Gambar 8. Pemasangan tulangan dinding diafragma.

 

d.     Pengecoran dinding diafragma dengan beton.

 

  • Setelah tulangan terpasang lalu beton dituangkan kedalam lubang dengan bantuan corong beton sampai ketinggian pengecoran tertentu.  Sambil dilakukan pengecoran bentonit diatas permukaan pengecoran dipompa keluar sedikit demi sedikit.
  • Pemasangan tulangan dan pengecoran dilakukan sekaligus atau dengan beberapa tahap sampai rata dengan permukaan tanah.

 

 

Gambar 9. Pengecoran dinding diafragma dengan beton.

 

e.     Penggalian tanah.

 

  • Penggalian tanah untuk bangunan gedung di bawah permukaan tanah dilakukan apabila dinding diafragma telah selesai dikerjakan pada keliling bangunan yang direncanakan.
  • Penggalian tahap awal sampai pada kedalaman tertentu selama dinding diafragma (tanpa penopang) masih mampu menahan tekanan tanah.

 

 

Gambar 10. Penggalian tanah untuk gedung bawah permukaan tanah.

 

f.       Pemasanganpenopang sementara dari konstruksi baja.

 

  • Apabila selama penggalian dinding diafragma diperhitungkan sudah tidak mampu menahan tekanan tanah, maka diafragma perlu diperkuat dengan penopang dari konstruksi baja.  Konstruksi baja dilakukan apabila dengan dengan anker tanah prestress atau konstruksi lainnya tidak dapat dilakukan atau lebih mahal biayanya.
  • Pemasangan konstruksi baja dimulai dari konstruksi teratas.
  • Setelahkonstruksi baja teratas selesai terpasang, dilanjutkan penggalian.
  • Pemasangan konstruksi baja dilakukan lagi dibawah konstruksi teratas.
  • Penggaliandilanjutkan lagi dan pemasangan konstruksi baja dipasang pada bagian terbawah yang direncanakan.

 

 

Gambar 11. Pemasangan penopang sementara dinding diafragma

 

dari konstruksi baja.

 

g.     Pelaksanaan struktur gedung.

 

  • Pelaksanaan struktur pondasi dapat dimulai, apabila penggalian tanah telah selesai.
  • Pelaksanaan struktur gedung bawah tanah dikerjakan mulai dari lantai terbawah.
  • Pelaksanaan struktur gedung bawah tanah dikerjakan secara bertahap lantai demi lantai.
  • Pelepasan konsruksi baja dilakukan tahap demi tahap dengan mengikuti tahap pelaksanaan konstruksi beton bertulang dari gedung di bawah tanah.

 

 

Gambar 12. Pelaksanaan struktur gedung di bawah permukaan tanah.

 

 


DAFTAR PUSTAKA.

 

  • Hary Christady Hardiyatmo.  1994.  Mekanika Tanah 2. Edisi 1. PT Gramedia Pustaka Utama.  Jakarta.
  • Bentonit.  www.tekmira.esdm.go.id.  23 Desember 2013.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TENTANG SIFAT- SIFAT KAYU

TENTANG SIFAT- SIFAT KAYU

Disajikan Oleh : Singgih Budi Sayogo.

( Widyaiswara PPPPTK BOE Malang )

Sifat Kimia Kayu.

Sifat Kimia Kayu  yang dimaksud adalah :

Lignin

Merupakan bagian yang bukan karbohidrat, sebagai persenyawaan kimia yang jauh dari sederhana, tidak berstruktur, bentuknya amorf. Dinding sel tersusun oleh suatu rangka molekul selulosa, antara lain terdapat pula lignin. Kedua bagian ini merupakan suatu kesatuan yang erat, yang menyebabkan dinding sel menjadi kuat menyerupai beton bertulang besi. Selulosa laksana batang-batang besi dan lignin sebagai semen betonnya. Lignin terletak terutama dalam lamella tengah dan dinding primer. Kadar lignin dalam kayu gubal lebih tinggi daripada kayu teras. (Kadar selulosa sebaliknya).

Hemiselulosa :

Selain kedua bahan tersebut di atas, kayu masih mengandung sejumlah zat lain sampai 15- 25%. Antara lain hemiselulosa, semacam selulosa berupa persenyawaan dengan molekul-molekul besar yang bersifat karbohidrat. Hemiselulosa dapat tersusun oleh gula yang bermartabat lima dengan rumus C5H10O5 disebut pentosan atau gula bermanfaat enam C6H12O6 disebut hexosan. Zat-zat ini terdapat sebagai bahan bangunan dinding-dinding sel juga sebagai bahan zat cadangan.

Zat ekstraktif

Umumnya adalah zat yang mudah larut dalam pelarut seperti: eter, alcohol, bensin dan air. Banyaknya rata-rata 3 – 8% dari berat kayu kering tanur. Termasuk didalamnya minyak-minyakan, resin, lilin, lemak, tannin, gula, pati dan zat wsarna. Zat ekstraktif tidak merupakan bagian struktur dinding sel, tetapi terdapat dalam rongga sel. Zat ekstraktif memiliki arti yang penting dalam kayu karena:

1.  Dapat mempengaruhi sifat keawetan, warna, bau dan rasa sesuatu jenis kayu

2.  Dapat digunakan untuk mengenal sesuatu jenis kayu

3.  Dapat digunakan sebagai bahan industri

4.  Dapat menyulitkan dalam pengerjaan dan mengakibatkan kerusakan pada alat-alat pertukangan.

Abu

Di samping persenyawaa-persenyawaan organik, di dalam kayu masih ada beberapa zat organik, yang disebut bagian-bagian abu (mineral pembentuk abu yang tertinggal setelah lignin dan selulosa habis terbakar). Kadar zat ini bervariasi antara 0,2 – 1% dari berat kayu.

Komponen kimia kayu di dalam kayu mempunyai arti yang penting, karena menentukan kegunaan sesuatu jenis kayu. Juga dengan mengetahuinya, kita dapat membedakan jenis-jenis kayu. Susunan kimia kayu digunakan sebagai pengenal ketahanan kayu terhadap serangan makhluk perusak kayu. Selain itu dapat pula menentukan pengerjaan dan pengolahan kayu, sehingga didapat hasil yang maksimal. Pada umumnya komponen kimia kayu daun lebar dan kayu daun jarum terdiri dari 3 unsur:

1.  Unsur karbohidrat terdiri dari selulosa dan hemiselulosa

2.  Unsur non- karbohidrat terdiri dari lignin

3.  Unsur yang diendapkan dalam kayu selama proses pertumbuhan dinamakan zat ekstraktif

Distribusi komponen kimia tersebut dalam dinding sel kayu tidak merata. Kadar selulosa dan hemiselulosa banyak tedapat dalam dinding sekunder. Sedangkan lignin banyak terdapat dalam dinding primer dan lamella tengah. Zat ekstraktif terdapat di luar dinding sel kayu. Komposisi unsur-unsur kimia dalam kayu adalah:

1.  Karbon 50%

2.  Hidrogen 6%

3.  Nitrogen 0,04 – 0,10%

4.  Abu 0,20 – 0,50%

5.  Sisanya adalah oksigen.

Komponen kimia kayu sangat bervariasi, karena dipengaruhi oleh faktor tempat tumbuh,iklim dan letaknya di dalam batang atau cabang.

Selulosa

Adalah bahan kristalin untuk membangun dinding-dinding sel. Bahan dasar selulosa ialah glukosa, gula bermartabat enam, dengan rumus C6H12O6. Molekul-molekul glukosa disambung menjadi molekul-molekul besar, panjang dan berbentuk rantai dalam susunan menjadi selulosa. Selulosa merupakan bahan dasar/bahan baku  yang penting bagi industri- industri yang memakai selulosa sebagai bahan baku misalnya: pabrik kertas, pabrik sutera tiruan dan lain sebagainya.

Sifat Mekanik Kayu

Sifat sifat mekanik kayu yang dimaksud  adalah :

e. Kekakuan

Kekakuan kayu baik yang dipergunakan sebagai blandar ataupun tiang ialah suatu ukuran kekuatan nya untuk mampu menahan perubahan bentuk atau lengkungan. Kekakuan tersebut dinyatakan dengan istilah modulus elastisitas yang berasal dari pengujian-pengujian keteguhan lengkung statik.

f. Keuletan

Keuletan ialah suatu istilah yang biasa dipergunakan bagi lebih dari satu sifat sifat  kayu. Misalnya kayu yang sukar dibelah, dikatakan ulet. Ada pula pengertian bahwa kayu yang ulet itu adalah kayu yang tidak akan patah sebelum bentuknya berubah karena beban-beban yang sama atau mendekati keteguhan maksimumnya, atau kayu yang telah patah dan dilekuk bolak-balik tanpa kayu tersebut putus terlepas. Dalam uraian ini keuletan kayu diartikan sebagai kemmpuan kayu untuk menyerap sejumlah tenaga yang relative besar atau tahan terhadap kejutan-kejutan atau tegangan-tegangan yang berulang-ulang yang melampaui batas proporsional serta mengakibatkan perubahan bentuk yang permanen dan kerusakan sebagian. Keuletan kebalikan dari kerapuhan kayu dalam arti bahwa kayu yang ulet akan patah secara berangsur-angsur dan memberi suara peringatan tentang kerusakannya. Sifat keuletan itu terutama merupakan faktor yang penting untuk menentukan kepastian suatu jenis kayu tertentu untuk digunakan sebagai tangkai alat pemukul, alat-alat olahraga dan lain penggunaan sebagai bagian alat untuk mengerjakan sesuatu.

g. Kekerasan

Yang dimaksud dengan kekerasan kayu ialah suatu ukuran kekuatan kayu menahan suatu gaya yang membuat takik atau lekukan padanya. Juga dapat diartikan sebagai suatu  kemampuan kayu untuk menahan kikisan (abrasi). Dalam arti yang terakhir suatu kekerasan kayu bersamaan keuletannya merupakan suatu ukuran tentang ketahanannya terhadap pengausan kayu. Hal ini merupakan suatu pertimbangan dalam menentukan suatu jenis kayu untuk dipergunakan sebagai lantai rumah, balok pengerasan, pelincir sumbu,dan lain-lain. Kekerasan kayu dalam arah sejajar serat pada umumnya melampaui kekerasan kayu dalam arah lain.

h. Keteguhan belah

Sifat ini digunakan untuk menyatakan kekuatan kayu menahan gaya-gaya yang berusaha membelah kayu. Tegangan belah adalah suatu tegangan yang terjadi karena adanya gaya yang berperan sebagai baji. Suatu sifat keteguhan belah kayu  yang rendah sangat baik dalam pembuatan sirap atau atap rumah .sebaliknya keteguhan belah yang tinggi sangat baik untuk pembuatan jenis ukir-ukiran (patung). Contoh: kayu ulin baik untuk pembuatan sirap, kayu sawo baik untuk pembuatan patung ataupun popor senjata dan lain sebagainya. Perlu diketahui bahwa kebanyakan kayu lebih mudah terbelah sepanjang jari-jari (arah radial) daripada dalam arah sejajar lingkaran tahun (tangensial). Ukuran-ukuran yang dipakai untuk menjabarkan sifat-sifat kekuatan kayu atau sifat-sifat mekaniknya dinyatakan dalam kg/cm2. Faktor- faktor yang mempengaruhi sifat-sifat mekanik secara garis besar dapat digolongkan dalam dua kelompok yaitu:

Faktor-faktor luar (eksternal) antara lain: pengawetan kayu, kelambaban lingkungan, pembebanan dan cacat-cacat yang disebabkan jamur serta serangga perusak kayu. Faktor kedua yaitu faktor dalam kayu (internal) yang bersangkutan antara lain: dan lain sebagainya. Sifat kekuatan tiap-tiap jenis kayu berbeda-beda. Berdasarkan kekuatannya, jenis-jenis kayu digolongkan ke dalam 5 kelas kuat yaitu: kelas kuat I sampai dengan kelas kuat V. kayu dari kelas kuat I memiliki kekuatan lebih dari kayu kelas II, dan seterusnya. Untuk penggunaan konstruksi berat dianjurkan dipakai jenis-jenis kayu dengan kelas kekuatan I. Untuk perumahan dapat dipakai jenis-jenis dari kelas II. Kesimpulannya ialah bahwa tiap-tiap penggunaan harus disesuaikan dengan kelas kekuatannya.

Sifat-sifat mekanik atau kekuatan kayu ialah kemampuan kayu untuk menahan muatan dari luar. Yang dimaksud dengan muatan dari luar ialah gaya-gaya di luar benda yang mempunyai kecenderungan untuk mengubah bentuk dan besarnya benda. Kekuatan kayu memegang peranan penting dalam penggunaan kayu untuk bangunan, perkakas dan lain penggunaan. Hakekatnya hampir pada semua penggunaan kayu, dibutuhkan syarat kekuatan, beberapa kekuatan yaitu:          

a. Keteguhan  tarik:

Kekuatan atau keteguhan tarik suatu jenis kayu ialah kekuatan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha menarik kayu itu. Kekuatan tarik terbesar pada kayu ialah sejajar arah serat. Kekuatan tarik tegak lurus arah serat lebih kecil daripada kekuatan tarik sejajar arah serat dan keteguhan tarik ini mempunyai hubungan dengan ketahanan kayu terhadap pembelahan.

b. Keteguhan tekan/kompresi:

Keteguhan tekan suatu jenis kayu ialah kekuatan kayu untuk menahan muatan jika kayu itu dipergunakan untuk penggunaan tertentu. Dalam hal ini dibedakan 2 macam kompresi yaitu kompresi tegak lurus arah serat dan kompresi sejajar arah serat. Keteguhan kompresi tegaklurus serat menentukan ketahanan kayu terhadap beban. Seperti halnya berat rel kereta api oleh bantalan di bawahnya. Keteguhan ini mempunyai hubungan juga dengan kekerasan kayu dan keteguhan geser. Keteguhan kompresi tegaklurus arah serat pada semua kayu lebih kecil daripada keteguhan kompresi sejajar arah serat.

c. Keteguhan geser

Yang dimaksud dengan keteguhan geser ialah suatu ukuran kekuatan kayu dalam hal kemampuanya menahan gaya-gaya, yang membuat suatu bagian kayu tersebut bergeser atau bergelingsir dari bagian lain di dekatnya. Dalam hubungan ini dibedakan 3 macam keteguhan geser sejajar arah serat, keteguhan geser tegaklurus arah serat dan keteguhan geser miring. Pada keteguhan geser tegaklurus arah serat jauh lebih besar daripada keteguhan geser sejajar arah serat.

d. Keteguhan lengkung (lentur)

Ialah kekuatan untuk menahan gaya-gaya yang berusaha melengkungkan kayu atau untuk menahan beban-beban mati maupun hidup selain beban pukulan yang harus dipikul oleh kayu tersebut, misalnya blandar. Dalam hal ini dibedakan keteguhan lengkung static dan keteguhan lengkung pukul. Yang pertama enunjukkan kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara perlahan-lahan, sedangkan keteguhan pukul adalah kekuatan kayu yang menahan gaya yang mengenainya secara mendadak seperti pukulan.

Sifat – Sifat Fisik Kayu 

Beberapa hal yang tergolong dalam sifat fisik kayu adalah : Berat Jenis, Keawetan Alami, Warna, Higroskopik, Berat, Kekerasan dan lain-lain.

Berat kayu

Berat sesuatu jenis kayu tergantung dari jumlah zat kayu yang tersusun, rongga-rongga sel atau jumlah pori-pori, kadar air yang dikandung dan zat-zat ekstraktif di dalamnya. Berat suatu jenis kayu ditunjukkan dengan besarnya berat jenis kayu yang bersangkutan, dan dipakai sebagai patokan berat kayu. Berdasarkan berat jenisnya, jenis-jenis kayu digolongkan ke dalam kelas-kelas sebagai berikut:

1.  Sangat berat = lebih besar dari 0,90

2.  Berat = 0,75 - 0,90

3.  Agak berat = 0,60 - 0,75

4.  Ringan = lebih kecil dari 0,60

Sebagai contoh jenis kayu yang termasuk dalam kelas sangat berat adalah giam, balau, dan lain-lain. Masuk kelas berat misalnya kulim,sedangkan agak berat misalnya bintangur dan yang termasuk ringan misalnya pinus,kayu sengon, kayu ramin, kayu agatis dan kayu balsa.

 

Kekerasan

Pada umumnya terdapat hubungan langsung antara kekerasan kayu dan berat kayu. Kayu-kayu yang keras juga temasuk kayu-kayu yang berat. Sebaliknya kayu ringan adalah juga kayu yang lunak. Berdasarkan kekerasannya, jenis-jenis kayu digolongkan sebagai berikut:

1.  Kayu sangat keras, contoh: balau,giam, dan lain-lain.

2.  Kayu keras, contoh: kulim, pilang dan lain-lain.

3.  Kayu sedang kekerasannya, contoh: mahoni, meranti, dan lain-lain.

4.  Kayu lunak, contoh: pinus, balsa, dan lain-lain

Cara menetapkan kekerasan kayu ialah dengan memotong kayu tersebut arah

melintang dan mencatat atau menilai kesan perlawanan oleh kayu itu pada saat pemotongan dan kilapnya bidang potongan yang dihasilkan. Kayu yang sangat keras akan sulit dipotong melintang dengan pisau. Pisau tersebut akan meleset dan hasil potongannyaakan member tanda kilauan pada kayu.

Kesan raba

Kesan raba sesuatu jenis kayuadalah kesan yang diperoleh pada saat kita meraba permukaan kayu tersebut. Ada kayu bila diraba member kesan kasar, halus, licin, dingin dan sebagainya. Kesan raba yang berbeda-beda itu untuk tiap-tiap jenis kayu tergantung dari: tekstur kayu, besar kecilnya air yang dikandung, dan kadar zat ekstraktif di dalam kayu. Kesan raba ialah licin, apabila tekstur kayunya halus dan permukaannya mengandung lilin. Sebaliknya apabila keadaan tekstur kayunya kasar. Kesan raba dingin ada pada kayu bertekstur halus dan berat jenisnya tinggi, sebaliknya terasa panas bila teksturnya kasar dan berat jenisnya rendah. Jati member kesan agak berlemak atau berlilin kalau diraba; sedangkan kayu renghas memberi kesan gatal pada kulit (alergi).

Bau dan Rasa

Bau dan rasa kayu mudah hilang bila kayu itu lama tersimpan di udara luar. Untuk mengetahui bau dan rasa kayu perlu dilakukan pemotongan atau sayatan baru pada kayu atau dengan membasahi kayu tersebut. Sebab ada jenis-jenis kayu mempunyai bau yang cepat hilang, atau memiliki bau yang merangsang. Sifat bau dari kayu dapat digambarkan sesuai dengan bau yang umum dikenal. Untuk menyatakan bau kayu yang dihadapi, sering kali kita gunakan bau sesuatu benda yang umum dikenal, misalnya: bau bawang putih (kulim), bau keasam-asaman (ulin), bau zat penyamak (jati), bau kamper (kapur) dan lain sebagainya. Kesan raba dan bau tidak jauh berbeda. Adanya persamaan di antara kesan bau an rasa disebabkan oleh adanya hubungan erat yang terdapat pada indera pembau dan indera perasa.

Nilai dekoratif

Umumnya menyangkut jenis-jenis kayu yang akan dibuat untuk tujuan tertentu yang hanya mementingkan nilai keindahan tertentu pada kayu tersebut. Nilai dekoratif sesuatu jenis kayu tergantung dari penyebaran warna, arah serat kayu, tekstur dan pemunculan ria-riap tumbuh yang bersama-sama muncul dalam pola atau bentuk tertentu. Pola gambar inilah yang membuat sesuatu jenis kayu yang memilikinya mempunyai suatu nilai dekoratif. Kayu-kayu yang memiliki nilai dekoratif antara lain: sonokeling, sonokembang, renghas, eboni, dan lain sebagainya.

Sifat-sifat lain

Sifat lain antaranya sifat pembakaran. Semua jenis kayu dapat terbakar,tergolong dalam tingkatan menjadi arang dan sampai menjadi abu. Sifat mudah terbakar ini pada satu pihak memberi keuntungan, misalnya kalau kayu itu akan dipergunakan sebagai bahan pembakar. Di lain pihak ada sifat yang merugikan, misalnya kalau kayu itu dipakai sebagai bahan perabot atau bangunan. Walaupun demikian kayu tidak dapat ditinggalkan, karena kayu memiliki sifat-sifat menguntungkan yang lebih besar bila dibandingkan dengan sifat-sifat logam. Proses pembakaran sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor fisik, kimia dan anatomi kayu. Umunya jenis-jenis kayu dengan pembuluh-pembuluh besar lebih mudah terbakar daripada jenis-jenis kayu yang berat. Selanjutnya kandungan dammar yang banyak mempercepat pula pembakaran. Dengan adanya sifat-sifat ini, maka jenis kayu yang dapat digolongkan ke dalam kelas daya tahan bakar misalnya kayu: merbau, ulin, jati dan lain sebagainya. Daya tahan bakar yang kecil, misalnya kayu: balsa, sengon, pinus dan lain sebagainya. Daya tahan bakar kayu dapat ditingkatkan dengan membuat kayu itu menjadi anti api (fire proof) antara lain:

1.  Menutup kayu itu dengan bahan lapisan yang tidak mudah terbakar, yang berfungsi melindungi lapisan kayu di bawahnya terhadap api. (Asbes, pelat logam dan lain sebagainya).

2.  Menutup kayu itu dengan bahan-bahan kimia yang bersifat mencegah terbakarnya kayu, misalnya: jenis cat tahan api, persenyawaan garam antara lain amoniun dan boor zuur

3.  Dengan mengimpregnir kayu itu dengan macam-macam bahan kimia yang bersifat mengurangi terbakarnya kayu. Ada juga bahan-bahan lain yang menghasilkan gas yang dapat mencegah api tersebut.

Sifat kayu tehadap suara  :

1.  Sifat akustik : sifat akustik kayu sangat penting dalam hubungan dengan alat-alat music dan konstruksi bangunan. Dasar akustik menunjukkan, bahwa kemampuan untuk meneruskan atau tidak meneruskan suara erat hubungannya dengan elastisitas kayu. Jadi sepotong kayu dapat bergetar bebas, jika dipukul akan mengeluarkan suara tingginya tergantung pada frekuensi alami getaran kayu tersebut. Frekuensi ini ditentukan oleh kerapatan/elastisitas dan ukuran kayu tersebut. Kayu yang telah kehilangan elastisitas misalnya akibat serangan jamur, jika dipukul akan memberikan suara yang keruh, sedang kayu yang sehat suaranya akan nyaring.

2.  Sifat resonansi : yaitu turut bergetarnya dengan gelombang sxuara, karena kayu memiliki sifat elastisitas. Kualitas nada yang dikeluarkan oleh kayu sangat baik. Oleh sebab itu banyak kayu dipakai untuk alat-alat music: kulintang, piano, biola, guitar, dan lain-lain. Kemampuan benda untuk mengabsorpsi suara tergantung pada masa dan pada sifat-sifat akustik permukaan benda, yaitu mampu tidaknya permukaan benda mengabsorpsi suara atau memantulkan suara. Struktur kayu mempunyai sifat demikian, sehingga kalau kayu tidak dapat bergetar dengan mudah, permukaannya mempunyai sifat meredam gelombang suara. Karena itu kayu serupa ini baik kalau dipakai sebagai lantai atau parket.

Referensi :

ATLAS KAYU INDONESIA JILID 1,Abddurahim Mertawijaya dkk, BALAI PENELITIAN HUTAN, BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN,BOGOR – INDONESIA.

Analisis Optimasi Biaya Material Pelaksanaan Pekerjaan Proyek Konstruksi Di Kota Malang

Analisis Optimasi Biaya Material

Pelaksanaan Pekerjaan Proyek Konstruksi Di Kota Malang

Singgih Setyohadi, Widyaiswara Madya PPPPTK/VEDC BOE Malang

 

 

ABSTRAK

 

Perencanaan pengadaan material semen dan pasir yang baik, sangat membantu kelancaran pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi. Semen dan pasir dipesan dalam jumlah besar dan dikirim terlalu awal dapat memberi keuntungan bagi kontraktor, seperti potongan harga, ongkos pengiriman material serta ongkos administrasi. Namun demikian kerugiannya adalah diperlukan tempat penyimpanan dan biaya perawatan material, bahkan sebagian modal proyek akan tertanam dalam bentuk material. Penelitian optimasi biaya material semen dan pasir ini dilakukan pada 6 kontraktor yang sedang melasanakan pekerjaan proyek konstruksi di kota Malang.

Konsep EOQ (Economic Order Quantity)digunakan untuk menjawab pertanyaan berapa jumlah dan kapan material semen dan pasir harus dipesan. Biaya pemesanan dan penyimpanan yang relevan dipertimbangkan dalam model EOQ. Pada Analisis dengan EOQ dilakukan perhitungan: persediaan material, pemesanan kembali (ROP) material, biaya persediaan maupun rekapitulasi biaya material yang telah dikeluarkan oleh kontraktor. Sedang untuk menentukan adanya selisih antara persediaan semen dan pasir kontraktor dan EOQ digunakan analisis statistik Uji t.

Hasil analisis menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan antara persediaan material semen dan pasir masing-masing kontraktor dengan persediaan semen dan pasir berdasar EOQ. Tidak ada perbedaan yang signifikan biaya persediaan material pasir yang dikeluarkan masing-masing kontraktor dengan biaya persediaan material pasir berdasar EOQ, sedangkan untuk material semen adanya perbedaan persediaan signifikan terjadi pada 3 kontraktor sedang 3 kontraktor yang lain tidak.

 

Kata kunci: Economic Order Quantity, ROP

  1. Latar Belakang

Pengadaan material oleh kontraktor dilapangan umumnya belum menggunakan perhitungan secara cermat (waktu dan kuantitas) hanya didasarkan pada pengalaman, sehingga menimbulkan penggunaan sumber dana yang berlebihan. Material dipesan dalam jumlah besar dan dikirim terlalu awal akan memberi keuntungan dan sekaligus kerugian bagi kontraktor, seperti diperlukan tempat penyimpanan dan biaya perawatan.

Perencanaan pengadaan material yang baik sangat membantu kelancaran pelaksanaan sebuah proyek konstruksi.

Kegiatan optimasi proyek konstruksi dilakukan manajemen untuk menjamin kontinuitas kegiatan konstruksi berjalan lancar sesuai jadual dan biaya yang ekonomis.

Konsep Economic Order Quantity (EOQ) diharapkan dapat memberikan jalan keluar pada para kontraktor dalam melakukan kegiatan persediaan material khususnya semen dan pasir.

  1. Identifikasi Masalah

Pembahasan ini ditekankan pada faktor penentu inventori yang cukup penting seperti :

·         Pemesanan material oleh kontraktor atau pengembang yang berlebihan tidak berdasar pada perhitungan yang teliti.

·         Pembelian material yang berlebihan menyebabkan biaya penyimpanan bertambah.

·         Berlebihnya persediaan akhir seharusnya lebih dioptimalkan, sehingga keuntungan kontraktor atau pengembang akan bertambah.

·         Kurangnya persediaan material oleh pemasok karena meningkatnya kegiatan pekerjaan konstruksi dari berbagai proyek oleh beberapa kontraktor disaat yang sama.

·         Karena pengaruh adanya ketidak pastian tenggang waktu pemesanan

  1. Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian:

·         Berapa jumlah dan waktu yang dibutuhkan untuk pemesanan ekonomis material semen dan pasir berdasar perhitungan Economic Order Quantity untuk setiap kontraktor ?.

·         Berapa jumlah pemesanan kembali atau Reorder Point material semen dan pasir untuk setiap kontraktor?

·         Berapa biaya persediaan ekonomis material semen dan pasir yang dibutuhkan berdasarkan Economic Order Quantity setiap kontraktor ?.

·         Berapa selisih antara total biaya persediaan material kontraktor dan total biaya material berdasar metode Economic Order Quantity ?.

  1. Batasan Masalah

Batasan-batasan pada penelitian ini adalah:

a.    Data yang digunakan adalah data persediaan material pekerjaan konsruksi gedung bertingkat (berlantai 3) dan 3 buah perumahan di kota Malang.

b.    Perhitungan digunakan Software DS for windows, Version 2.0.

c.    Optimasi terhadap biaya jumlah pesanan material semen dan pasir yang telah dipenuhi.

d.    Biaya yang dibahas adalah biaya persediaan

e.    Data yang digunakan pada pekerjaan pemesanan, penggunaan dan pembelian

  1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah:

Menghitung jumlah dan waktu pesanan ekonomis material semen dan pasir dengan metode Economic Order Quantity (EOQ) pada setiap kontraktor.

Menghitung jumlah pemesanan kembali atau Reorder Point (ROP) material semen dan pasir berdasar Economic Order Quantity (EOQ).

Menghitung biaya persediaan ekonomis material semen dan pasir yang dibutuhkan berdasar Economic Order Quantity (EOQ).

Menghitung selisih antara total biaya persediaan setiap kontraktor dan total biaya persediaan berdasar Economic Order Quantity (EOQ).

  1. Manfaat Penelitian

Manfaat yang di harapkan pada pelaksanaan penelitian ini adalah :

Bagi Kontraktor

·         Sebagai masukan pada manajemen kontraktor bahwa dengan dilakukan optimasi biaya material pengelolaan lebih efisien dan efektif,

 

·        Sebagai masukan pada pelaksana agar memahami pentingnya data dan langkah-langkah optimasi biaya persediaan material semen dan pasir.

Bagi Peneliti

·         Menambah pengetahuan dan  pemahaman pentingnya analisis optimasi biaya persediaan material semen dan pasir

  1. Kerangka Pemikiran

Model inventori Economic Order Quantity digunakan untuk menentukan kuantitas tertentu terhadap material yang dipesan agar meminimumkan biaya iventori total.

  1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada 6 kontraktor yang sedang melaksanakan pekerjaan pembangunan gedung dikota Malang dengan proyek yang berbeda.

Tempat penelitian berada di 3 kecamatan yang berada diwilayah Kota Madya Malang meliputi: Blimbing, Lowokwaru dan Sukun dengan durasi pelaksanaan proyek (7 sampai 12 bulan).

  1. Metode Penelitian

Statistik deskriptif digunakan untuk memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel.

Dalam pengumpulan data primer digunakan teknik:wawancara,observasi dan studi dokumen.

Data sekunder penelitian ini berupa: gambar perencanaan dan pelaksanaan, jadual dan dokumen kontrak.

  1. Identifikasi Variabel

Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini berkaitan dengan optimasi kuantitas pembelian material guna meningkatkan efisiensi biaya persediaan, adalah:

Kuantitas pembelian material untuk semen dan pasir yang optimal, dinyatakan dalam satuan masa (kg, m3)

Kuantitas saat pembelian material semen dan pasir harus dilakukan kembali, yang dinyatakan dalam satuan masa dan volume (kg, m3)

Total biaya dari persediaan material semen dan pasir ekonomis, yang dinyatakan dalam Rp (Rupiah).

  1. Analisis Data

 Analisis data dilakukan dengan menggunakan software DS for Window sedang pengujian hipotesis menggunakan uji statistik dengan uji t.

Gambar1 Diagram Alir Optimasi

 

Pemodelan yang digunakan adalah pemodelan deterministik dimana jumlah permintaan material dianggap sudah diketahui.

Diskriptif kuantiatif masing-masing variabel sebagai dasar analisis data, dilakukan dengan menggunakan model EOQ seperti berikut:

-Menghitung kuantitas pemesanan ekonomis untuk setiap kali pesan

-Menghitung biaya persediaan semen dan pasir

         TC = biaya penyimpanan + biaya pemesanan

} 12. Analisis Statistik

Berikutnya melakukan analisa statistik guna membandingkan antara model EOQ dengan model yang telah dilakukan oleh kontraktor. Analisis uji t digunakan untuk menguji hipotesa model EOQ lebih optimal dibandingkan dengan model yang dilakukan oleh kontraktor.

Standar deviasi sampel tidak diketahui, menggunakan rumus thitung :

 

Thitung= harga dihitung dan menunjukkan  standar  deviasi dari distribusi t (Tabel t)

 x = Rata-rata nilai yang diperoleh dari hasil  pengumpulan data

µ0 = Nilai yang dihipotesiskan

σ=Standar deviasi sampel yang dihitung

            n  = Jumlah sampel penelitian

 

13. Hasil Dan Pembahasan

Ditetapkan uji t sebagai metode analisis statistik  yang digunakan untuk keputusan uji beda antara persediaan material (riel) kontraktor dengan  persediaan material berdasar EOQ . Sebelum uji t pada masing-masing kontraktor maka terlebih dahulu dilakukan uji t terhadap seluruh kontraktor dengan menghitung selisih antara persediaan, ROP, biaya dan total biaya material semen dan pasir rata-rata kontraktor dengan persediaan, ROP, biaya dan total biaya material semen dan pasir rata-rata berdasar EOQ

 

Tabel 1. hasil perhitungan uji t selisih persediaan material Antara Rata-rata Kontraktor Dengan Berdasar EOQ

Karena t hitung terletak pada daerah Ho ditolak, disimpulkan adanya selisih yang signifikan antara rata-rata persediaan material semen dan pasir (riel) yang dilakukan oleh seluruh kontraktor dengan rata-rata persediaan material semen dan pasir berdasar perhitungan EOQ.

 

Tabel 2. hasil perhitungan uji t selisih persediaan material masing-masing kontraktor dengan berdasar EOQ

Karena t hitung terletak pada daerah Ho ditolak, disimpulkan adanya selisih yang signifikan antara persediaan material semen dan pasir (riel) yang dilakukan oleh PT.Prambanan Dwipaka, CV. Handrian Putra, PT. Gramulia, PT. Wastu Citra H.K., PT.Mandiri Cipta Graha dengan persediaan berdasar perhitungan EOQ. Berarti ke 6 kontraktor memiliki persediaan material semen dan pasir berlebih selama pelaksanaan pekerjaan konstruksi

 

Tabel 3. hasil perhitungan uji t selisih  pemesanan  kembali material antara rata-rata kontraktor dengan berdasar EOQ

 Karena t hitung terletak pada daerah Ho ditolak, disimpulkan adanya selisih yang signifikan antara rata-rata persediaan material semen dan pasir (riel) yang dilakukan oleh seluruh kontraktor dengan rata-rata persediaan material semen dan pasir berdasar perhitungan EOQ.

 

Tabel 4.  hasil perhitungan uji t selisih pemesanan kembali   material   masing-masing  kontraktor dengan  berdasar EOQ.

Karena t hitung terletak pada daerah Ho ditolak, maka disimpulkan bahwa terdapat selisih yang signifikan antara persediaan akhir material semen dan pasir PT.Gramulia, CV.Handrian P., PT.Gramulia, PT, Wastu Citra H.K., PT. Mandiri Cipta Graha dengan pemesanan kembali atau reorder point berdasar EOQ. Artinya pada pelaksanaan pekerjaan konstruksi persediaan akhir material pasir dan semen ke 6 kontraktor berlebih


800x600

 Tabel 5. hasil perhitungan uji t selisih biaya persediaan material antara rata-rata kontraktor dengan berdasar EOQ

 

 Hasil t hitung material semen dan pasir:·                                            t hitung terletak pada daerah Ho ditolak, disimpulkan adanya selisih yang signifikan antara rata-rata biaya persediaan material semen (riel) yang dilakukan oleh seluruh kontraktor dengan rata-rata persediaan material semen berdasar perhitungan EOQ.                                                                                   t hitung terletak pada daerah Ho diterima, disimpulkan tidak adanya selisih yang signifikan antara rata-rata biaya persediaan material pasir (riel) yang dilakukan oleh seluruh kontraktor dengan rata-rata persediaan material pasir berdasar perhitungan EOQ


Tabel 6. hasil perhitungan uji t selisih biaya persediaan material masing-masing kontraktor dengan berdasar EOQ

 

  biaya persediaan semen: t hitung terletak pada daerah Ho ditolak, maka disimpulkanadanya selisih secara signifikan biaya persediaan material semen  yang dikeluarkan PT.Prambanan Dwipaka, CV.Handrian Putra dan PT.Wastu Citra H.K. dengan biaya persediaan material semen berdasar EOQ. Artinya bahwa ke tiga kontraktor telah mengeluarkan biaya material semen berlebih tetapi masih dalam batas toleransi.

·         biaya persediaan pasir: t hitung terletak pada daerah Ho diterima, maka disimpulkan tidak adanya selisih secara signifikan biaya persediaan material pasir yang dikeluarkan PT.Prambanan Dwipaka, CV.Handrian Putra,PT.Gramulia, PT.Wastu Citra H.K., PT. Mandiri Graha Cipta dengan biaya persediaan material pasir berdasar EOQ. Artinya bahwa ke lima kontraktor yang telah melaksanakan pekerjaan di 6 proyek berbeda telah mengeluarkan biaya material pasir relatip sama dengan biaya material berdasarkan EOQ.

Ditetapkan uji t sebagai metode analisis statistik yang digunakan untuk keputusan uji beda antara persediaan material (riel) kontraktor dengan persediaan material berdasar EOQ . Sebelum uji t pada masing-masing kontraktor maka terlebih dahulu dilakukan uji t terhadap seluruh kontraktor dengan menghitung selisih antara persediaan, ROP, biaya dan total biaya material semen dan pasir rata-rata kontraktor dengan persediaan, ROP, biaya dan total biaya material semen dan pasir rata-rata berdasar EOQ

 

    14. Kesimpulan

     Kesimpulan yang berhubungan dengan persediaan material    semen dan pasir adalah sebagai berikut :                                      Bahwa hasil perhitungan persediaan material semen dan pasir  dengan menggunakan metode pesanan ekonomis (EOQ) lebih efisien dibandingkan dengan metode yang telah di gunakan oleh kontraktor

·  Waktu yang dibutuhkan pada pemesanan semen dengan menggunakan EOQ tidak efektif, disebabkan karena biaya bongkar (biaya pemesanan) material pada perhitungan menggunakan Software DS for Windows dimasukkan nilai nominal Rp1,-, sehingga frekuwensi pemesanan setiap periode (minggu) menjadi banyak.

·     Hasil perhitungan volume tingkat pemesanan kembali material (ROP) menggunakan metode EOQ lebih sedikit dibanding dengan persediaan akhir material kontraktor. Rekapitulasi volume material semen dan pasir hasil perhitungan pemesanan kembali menggunakan EOQ dan persediaan akhir kontraktor .

15.Saran

 

Hasil analisa optimasi biaya persediaan dengan menggunakan metode EOQ telah memberikan pemahaman dan manfaat kepada :

Perlunya prediksi secara cermat kebutuhan persediaan semen dan pasir pada setiap periode sehingga pembelian yang dilakukan tidak berlebihan.

Perlunya evaluasi kelebihan material setiap akhir minggu agar tidak terjadi kelebihan stok material.

Perlu memperhitungkan tingkat inflansi yang akan mempengaruhi naik turunya harga material.

Perencanaan yang lebih baik ( mengurangi human eror ) akan mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, sehingga biaya yang dikeluarkan kontraktor lebih optimal.

 

      16.Daftar Pustaka

 

1.Asiyanto.2004 Manajemen Produksi Untuk Jasa Konstruksi. Cetakan Pertama. PT.Pradnya Paramitra. Jakarta. Hal. 87-132.

2.    Damiri. 2005. Manajemen Pembelian, Penerimaan dan Penyimpanan. Cetakan Pertama. Graha Ilmu. Yogyakarta. Hal. 1-53.

3.   Dipohusodo. 2006. Manajemen Proyek dan Konstruksi. Cetakan ketujuh. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Hal. (414 : 415)

4.Ervianto. 2004. Teori Aplikasi Manajemen Proyek Konstruksi. Cetakan Pertama. ANDI Yogyakarta. Hal. 107-127

5.    Gaspersz. 1996. Analisis Sistem Terapan Berdasarkan Pendekatan Teknik Industri. Edisi Pertama. Penerbit Tarsito. Bandung. Hal.151

6.    Gitosudarmo, Agus Mulyono. 2000. Manajemen Bisnis Logistik. Cetakan Pertama. BPFE Yogyakarta. Yogyakarta. Hal. 1-35.

7.Yamit. 2003. Manajemen Kuantitatif Untuk Bisnis. Cetakan keenam. BPFE . Yogyakarta. Hal. 288-352

8.Marwan. 2004. Manajemen Pergudangan. Cetakan kelima. CV. Muliasari. Jakarta. Hal. 1-23.

9.Mulyono,2004.Teknologi Beton. Penerbit Andi. Yogyakarta. Hal.27-67

10.Nazir. 2005. Metode Penelitian. Cetakan  Keenam. Ghala Indonesia. Hal. 25-287.

 

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG