Cara praktis mencegah dan membasmi rayap

Cara praktis mencegah dan membasmi rayap

Oleh : Drs. Cahyo KUncoro, MT. Widyaiswara Madya PPPPTK / VEDC Malang

 

Rayap atau semut putih adalah makhluk yang senantiasa selalu ada di kehidupan manusia, namun rayap ini adalah makhluk yang dibenci oleh manusia karena merusak semua kayu-kayu yang ada dalam bangunan karena di tempati bersarang. Namun demikian rayap juga berfungsi sebagai pengurai kayu di ekosistem. Tanpa kehadiran mereka, bumi ini akan penuh oleh sampah kayu yang membusuk.

Di sini akan dibahas tentang cara mencegah dan membasmi rayap di rumah anda. Rumah bisa ambruk karena di huni oleh rayap dengan cara melobangi semua kayu-kayu yang ada dalam bangunan. Anda tidak perlu khawatir karena ada cara praktis mencegah dan membasmi rayap yang ada di rumah anda.

Tempat gelap dan lembab merupakan daerahyang sangat disenangi oleh rayap untuk hidup. Negara kita adalah daerah yang banyak di huni oleh serangga ini karena negara kita adalah negara yang bersuhu hangat dengan kelembaban yang tinggi sehingga sangat di sukai oleh serangga ini.

Jika musim hujan tiba maka akan banyak laron yang akan mengelilingi lampu di malam hari. Lebih baik sediakan kantong yang transparan lalu diberi minyak goreng di dalamnya agar laron-laron tersebut terjebak dan mati. Karena laron – laron ini akan menjadi rayap setelah sayap-sayap mereka lepas, dan akan menyusup ke bagian – bagian kayu di rumah anda dan menjadikannya sarang.

Rayap ini akan menyerang bagian dari bangunan yang terbuat dari kayu, seperti kusen, penyangga seng, pintu, kayu-kayu penyangga plafon rumah anda dan lain sebagainya yang terbuat dari kayu meskipun kayu tersebut terkenal kuat namun lambat laun akan lebur juga.

Secara umum, ada 4 jenis rayap yang merusak bangunan kita, antara lain :     

1.Macrotermes sp,                               2. Coptotermes sp

 

                

Gambar 2. Rayap Macrotermes sp                      Gambar 3. Rayap Cacrotermes sp

3. Microtermes sp                                       4. Cyrptotermes sp.

              

Gambar 4. Rayap Microtermes sp                      Gambar 5. Rayap Cryptotermes sp    

Diantara keempat jenis ini, hanya jenis Coptotermes sp yang paling tangguh dan mempunyai kecepatan merusak paling cepat. Bahkan pernah ditemui serangan rayap Coptotermes sp pada bangunan lantai 56 di suatu hotel di Hawai.

Cara mencegah dan membasmi rayap.

Anda seharusnya mengetahui tanda-tanda apabila rumah anda sudah ada rayap. Contohnya ada gumpalan kecil seperti lumpur yang ada di perabot anda dari kayu. Tanda-tanda lain adalah serbuk yang bertebaran di mana-mana. Sebaiknya anda memeriksa bagain-bagian kayu rumah anda sesering mungkin paling tidak seminggu sekali. Dibawah ini adalah cara praktis mencegah dan membasmi rayap dengan cara yang baik :

PENCEGAHAN

1. Sebaiknya anda membeli obat anti rayap dan lihat cara pemakaiannya dan apabila anda ingin total dan tidak khawatir lagi lebih baik anda memakai profesional yang tahu tentang rayap agar lebih aman.

2. Bahan yang Alami yang perlu di lakukan dengan NaCl atau garam dapur yang halus dan kering. caranya mudah yaitu memberikan garam dalam lubang atau anda bisa menggunakan kapur sirih yang di campur dengan air dan lakukan seperti pada halnya garam. Lambat laun rayap akan pergi ke rumah anda. Agar tidak terlalu menyebar sebaiknya antara perabot rumah anda tidak berdekatan.

MEMBASMI

Gunakan bahan kimia atau umpan rayap mudah didapat di pasaran. Sebutlah misalnya alfametrin, sipermetrin, imidaclotrin, lamdasalotrin dan venfalarat.

Penyemprotan

1. Semprotlah bagunan anda dengan semprot yang sudah mengandung anti rayap yaitu termisida. Semprot ini akan menghilangkan atau membasmi rayap di bangunan anda. Rayap yang termasuk jenis Cryptotermes akan hilang dengan sendirinya setelah disemprot pada sarang serangga ini. Namun anda perlu memberikan injeksi termisida pada tanah anda agar serangga ini tidak bersarang di bawah bangunan anda dan sewaktu-waktu akan naik kembali ke bangunan anda.

2. Teknologi Sentrion. Cara ini lebih ramah lingkungan sebab pas atau tepat pada sarang serangga ini. Alat ini terdiri dari dua buah bagian yaitu yang pertama adalah umpan yang berada pada dinding atau bagian kayu yang di serang oleh rayap dan satunya lagi ditempatkan di dalam tanah. Pada alat ini terdapat semacam tisu yang mengandung heksaflumuron, zat ini berguna untuk menekan metabolisme pertumbuhan searngga ini dan akhirnya akan mati. Jika alat ini terpasang maka dengan sendirinya rayap akan memakan dan mendistribusikannya pada koloninya maka dengan sendirinya akan meracuni koloni serangga ini secara perlahan-lahan, meski membutuhkan waktu yang banyak namun efektif untuk membunuh sekuruh koloni rayap yang menjadi sasaran.

Jika anda tidak sempat melakukan pembasmian dengan cara diatas karena di daerah anda tidak ada di jual alat tersebut maka anda bisa menggantinya dengan bahan alami di sekitar anda sehingga menjadi murah dan mudah.

Membasmi secara alami yang ramah lingkungan antara lain dengan :

1.  Puntung Rokok

Ambil dua gelas air dan ditambah dengan seperdua sendok makan garam. Rendamlah 10 putung rokok dan biarkan bermalam selama semalam. Kemudian saringlah dan masukkan pada alat semprot anda. Lakukan seperti apa yang dilakukan jika menggunakan bahan kimia termisida tadi.

2.  Air Bekas Mencuci Beras

Ada lagi yang lebih gampang yaitu dengan mengambil air bekas cucian pada kayu dan tanah dengan air bekas cucian beras yang pertama namun air ini hanya bisa membuat rayap meninggalkan sarangnya dan tidak mati.

3.  Daun Pepaya dan Daun Sirih

Mixerlah daun pepaya dengan daun sirih dalam alat mixer atau blender. Adapun perbandingannya adalah 2 berbanding satu, 2 daun pepaya dengan 1 daun sirih. Berikan air yang cukup. Setelah tercampur rata dan lembut maka saringlah. Kemudian air hasil saringan ditambahkan alkohol 70% dengan ukuran perbandingan sekitar 2 banding 3. Kemudian lakukan cara yang sama seperti pada anda menyemprotnya dengan termisida.

Demikianlah cara praktis mencegah dan membasmi rayap di rumah anda. Semoga berguna bagi anda.

 

Disadur  dari :

1.www.alliafurniture.com › Tips Furniture

2.armanefendi.com/.../cara-mencegah-dan-membasmi-rayap-di-rumah-anda

3.www.eskeepass.com/web.php?l=en...cara+membasmi+rayap+kayu‎

 

 

Air Bersih Rumah Tangga

Air Bersih Rumah Tangga

Oleh : Hery Tarno

 

Pendahuluan

Air adalah sumber segala kehidupan dan peradaban manusia, dimana ia adalah salah satu elemen yang paling menarik di alam, yang mana hal ini memiliki fitur yang tidak akan mungkin tanpa kehidupan di bumi.

Air dari sudut pandang teknis, air adalah zat yang tidak hanya terdiri dari H2O , unsur-unsur hidrogen dan oksigen, akan tetapi pada saat yang sama adalah pembawa unsur dan informasi. Sebuah atom lemah oksigen bermuatan negatif diikat oleh dua atom lemah hidrogen positif . Ini terhubung pada sudut 104,5 derajat satu sama lain dan menyebabkan dipolarity.

Ketersediaan air Indonesia mencapai 15.500 meter kubik per kapita per tahun, masih jauh di atas ketersediaan air rata-rata di dunia yang hanya 8.000 meter kubik per tahun. Data terakhir yang diperoleh Bappenas, jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan pada tahun 2010 berjumlah 128 juta jiwa atau mencapai 50% dari total populasi Indonesia. Kendala yang dihadapai oleh Indonesia sekarang adalah pengelolaan sumber daya air yang buruk yang mengakibatkan tidak meratanya penyebaran air, sehingga kita masih saja mengalami kelangkaan air bersih. Sekitar 119 juta rakyat Indonesia belum memiliki akses terhadap air bersih.

Lemahnya pengelolaan lingkungan di Indonesia, memberikan dampak negatif terhadap sektor air bersih dan sanitasi. Terbatasnya ketersediaan air baku menjadi salah satu masalah yang dihadapi dalam penyediaan layanan air bersih di Indonesia. Laporan MDGs 2010 yang diterbitkan oleh Bappenas, jumlah rumah tangga yang memiliki akses terhadap air bersih yang layak sebanyak 47,71% dan rumah tangga yang memiliki akses sanitasi sebanyak 51,19%. Target yang ingin dicapai Indonesia pada tahun 2015 sebesar 68,87% untuk air bersih dan 62,41% untuk sanitasi. Widianarko (2009) menyatakan bahwa banyaknya permasalahan dalam pengelolaan sumber daya air akibat kurang memperhatikan relasi kompleks antara air, ekosistem dan manusia. Hal ini dapat terjadi karena paradigma dominan dalam pengelolaan sumber daya air adalah pendekatan manajemen dan ekonomi.

Pengertian Air Bersih dan Air Minum

Undang-Undang RI No.7 Tahun 2004 dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002, disebutkan bahwa difinisi air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Dengan kata lain air bersih merupakan salah satu jenis sumber daya berbasis air bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka sehari hari termasuk diantaranya adalah sanitasi.

Air bersih dapat diartikan air yang memenuhi persyaratan untuk pengairan sawah, untuk treatment air minum dan untuk treatmen air sanitasi.

Persyaratan disini ditinjau dari persyaratan kandungan kimia, fisika dan biologis. Atau memenuhi syarat sebagai berikut :

1.    Secara Umum adalah air yang aman dan sehat yang bisa dikonsumsi manusia.

2.    Secara Fisik : Tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.

3.    Secara Kimia : PH netral, tidak mengandung racun dan logam berat berbahaya, dan parameter-parameter seperti : BOD, COD, DO, TS, TSS dan konduktivitasnya memenuhi aturan pemerintah setempat.

Air dapat dikatakan bersih apabila memenuhi Parameter sebagai berikut, yaitu :

1.    Kesadahan. Kesadahan merupakan petunjuk kemampuan air untuk membentuk busa apabila dicampur dengan sabun.

2.    Alkalinitas. Alkalinitas secara umum menunjukkan konsentrasi basa atau bahan yang mampu menetralisir keasaman yang ada dalam air.

3.    pH. pH sangat penting sebagai parameter kualitas air karena ia mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan didalm air.

4.    Karbon Dioksida (CO2). Karbon dioksida dalam air pada umumnya merupakan hasil respirasi dari ikan dan phytoplankton.

5.    Salinitas. Salinitas merupakan parameter penunjuk jumlah bahan terlarut dalam air.

Air Minum (drinking water) adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.

Saat ini kualitas air minum di kota-kota besar di Indonesia masih memprihatinkan. Kepadatan penduduk, tata ruang yang salah dan tingginya eksploitasi sumber daya air sangat berpengaruh pada kualitas air. Pemerintah telah mengeluarkan Kepmenkes No 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum. Syarat air minum sesuai Permenkes yaitu harus bebas dari bahan-bahan anorganik dan organik, dengan kata lain kualitas air minum harus bebas bakteri, zat kimia, racun, limbah berbahaya dan lain sebagainya.
Organisasi Kesehatan Dunia menyarankan untuk minum 2-3 liter air murni. Aturan praktis untuk jumlah yang tepat air adalah :
Setidaknya 30-40 mililiter air per kilogram berat badan . Ini berarti pada manusia dengan 50 kg berat badan 2 liter air per hari , dengan berat badan 75 kg , ini berarti 2,5 liter dan 100 kilogram berat badan 3 liter air per hari .

Sumber Air Bersih

Sumber air bersih adalah sumber air yang akan digunakan oleh masyarakat untuk keperluan sehari-hari. Air adalah kebutuhan dasar untuk kehidupan manusia, terutama untuk digunakan sebagai air minum, memasak makanan, mencuci, mandi dan kakus. Ketersediaan sistem penyediaan air bersih merupakan bagian yang selayaknya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat baik di perkotaan maupun pedesaan. Hingga saat ini penyediaan oleh pemerintah menghadapi keterbatasan, baik sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya.

Air merupakan zat cair yang dinamis bergerak dan mengalir melalui siklus hidrologi yang abadi. Pertama-tama, penguapan sebanyak 502.800 km3 dari air laut dan penguapan dari daratan sebanyak 74.200 km3 ke udara per tahun. Kemudian turun curah hujan yang jatuh ke laut sebanyak 458.000 km3 dan ke daratan 119.000 km3 per tahun. Selanjutnya air daratan berjumlah 44.800 km3 terbagi menjadi 42.700 km3 mengalir di permukaan tanah dan 2,100 km3 mengalir di dalam tanah selanjutnya semua berkumpul di laut.

Sumber air bersih yang akan digunakan oleh masyarakat untuk keperluan sehari-hari dapat berasal dari :

1.    Air Tanah, adalah air yang berada di bawah tanah yang mengalir melalui rongga-rongga tanah. Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) 2009, sekitar 70 persen warga masih mengandalkan air tanah. Namun, jumlah itu terus merosot. Pada periode yang sama, penggunaan air minum dalam kemasan (AMDK) dan air isi ulang naik tiga kali lipat, dari 4,1 persen menjadi 12,2 persen dari rumah tangga nasional (lihat grafik).

2.    Air Permukaan, adalah air yang mengalir dipermukaan bumi, pada umumnya akan mendapatkan pengotoran selama pengalirannya, misalnya oleh batang kayu, kotoran industri, lumpur dan lainya. untuk bisa diminum harus melewati proses yang benar-benar sempurna. Air Permukaan Sebagai Sumber Air Untuk Sistem Penyediaan Air Bersih.

3.    Mata Air. Mata air yaitu sumber air yang berada di atas permukaan tanah dan debitnya sulit untuk diduga. Sama seperti air tanah yang keluar dengan sendirinya ke permukaan tanah dan hampir tidak dipengaruhi oleh musim. Sumber air semacam ini yang terbesar di Jawa Timur terdapat di daerah Umbulan - Pasuruan yang berhulu di Gunung Bromo.

4.    Air Hujan. Air hujan juga termasuk kedalam sumber air jika ingin menjadikan air hujan menjadi air minum hendaknya jangan pada saat air hujan baru mulai turun, karena air hujan yang baru turun masih mengandung banyak sekali kotoran. Air hujan juga memiliki sifat agresif terutama terhadap pipa penyalur ataupun bak sehingga akan terjadi karatan ataupun korosi.

5.    Air Laut. Air laut ini mengandung garam (NaCl) sehingga terasa asin. Kadar garam (NaCl) didalam air laut sekitar 3%. Dengan demikian air laut tidak memenuhi syarat untuk bisa diminum.

Kebutuhan air untuk rumah tangga

Air adalah yang paling penting makanan pokok dan juga masuk ke produksi hampir semua makanan. Tanpa makanan seseorang bisa bertahan sekitar 2 bulan, tanpa air hanya bisa bertahan selama beberapa hari. Air dalam tubuh untuk melakukan tugas-tugas penting. Ia bekerja sebagai pelarut dan transportasi, membantu dalam ekskresi produk metabolik beracun dan garam melalui ginjal dan mengatur suhu tubuh.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang tepat untuk suatu rumah tangga, harus direncanakan dengan benar agar distribusi air dalam rumah berjalan lancar dan efisien. Sistem perpipaan yang banyak belokannya kurang baik, karena akan mengurangi tekanan dan debit pada ujung pipa. Oleh karena itu yang perlu diperhatikan dalam merencanakan sistem air bersih bagi suatu bangunan rumah tinggal adalah :

Kebutuhan Air.Kebutuhanyaitu menghitung berapa banyak kebutuhan air dalam rumah per hari. Sebagai referensi adalah dengan menghitung kebutuhan air rata rata untuk satu orangnya berkisar antara 80 – 200 liter per orang per hari. Suatu contoh, dalam satu rumah tinggal dihuni oleh 5 orang, maka kebutuhan air bersihnya antara 400 – 1000 liter/hari.

Sumber Air. Debit air yang berasal dari suatu sumber harus dapat memenuhi kebutuhan air bersih dalam keluarga dalam satu rumah tangga serta memenuhi persyaratan sebagai sumber air menurut peraturan yang berlaku, debit air sumbernya dan tentu saja kontinyuitasnya. Sumber air ini bisa berasal dari sumur dangkal, PDAM atau sumber-sumber lain. Kecuali sumber air dari PDAM, pada umumnya air ditampung dalam suatu tangki air (dalam tanah) yang nantinya didistribusikan ke titik-titik keluaran dengan menggunakan pompa atau sistem gravitasi. Dari sisi volume, tangki penampung air ini bisa bervariasi, tergantung dari debit air yang akan mengisi tangki air tersebut.

Sistem pengaliran (distribusi). Sistem distribusi menyatakan bagaimana supaya air bersih yang telah memenuhi persyaratan tersebut dapat didistribusikan ke ujung pipa (peralatan plambing, kran dll.) dengan debit dan tekanan minimal yang memenuhi. Minimal 1.5 kPa. Pipa yang digunakan untuk mendistribusikan air ini bisa menggunakan Pipa Galvanis, Polyvinyl Chloride (PVC), Polyethyelene (PE), Polybutyelene (PB), atau Acrylonitrite Butadiene Styerene (ABS). Polyphropiline Reinforce (PPR), Stainlessteel, dll. Untuk pipa instalasi dari PVC, instalasi harus terlindung dari sinar matahari dan temperatur yang lebih dari 50 ºC.

Dimensi pipa yang digunakan untuk instalasi menyesuaikan dengan hasil perencanaan, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan air peralatan plambing dimensi minimalnya menyesuaikan dengan persyaratan dari alat plambing tersebut. Untuk lebih sederhananya, diameter minimal untuk pipa distribusi utama dalam suatu rumah tinggal adalah 1 inchi. Pemasangan alat sambung sesuai dengan jenis pipa yang digunakan harus dilakukan dengan cara yang benar untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Untuk memudahkan pengecekkan, perawatan dan keamanan maka diusahakan instalasi dipasang/diletakkan di luar dinding atau di tempat tertentu (shaft) dengan menggunakan klem.

Kesimpulan

Air adalah kebutuhan dasar untuk kehidupan manusia, terutama untuk digunakan sebagai air minum, memasak makanan, mencuci, mandi dan kakus. Kendala yang dihadapai oleh Indonesia sekarang adalah pengelolaan sumber daya air yang buruk yang mengakibatkan tidak meratanya penyebaran air, sehingga kita masih saja mengalami kelangkaan air bersih. Lemahnya pengelolaan lingkungan di Indonesia, memberikan dampak negatif terhadap sektor air bersih. Air bersih dapat diartikan air yang memenuhi persyaratan untuk pengairan sawah, untuk treatment air minum dan untuk treatmen air sanitasi. Persyaratan disini ditinjau dari persyaratan kandungan kimia, fisika dan biologis.

Ketersediaan sistem penyediaan air bersih merupakan bagian yang selayaknya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat baik di perkotaan maupun pedesaan. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang tepat untuk suatu rumah tangga, harus direncanakan dengan benar agar distribusi air dalam rumah berjalan lancar dan efisien. Dalam perencanaan sistem air bersih harus diperhatikan Kebutuhan airrata rata untuk satu orangnya berkisar antara 80 – 200 liter per orang per hari, suatu sumber harus dapat menjamin debit dan kontinyuitasnya. distribusi air bersih harus menjamin bahwa debit dan tekanan air (minimal 1.5 kPa) pada peralatan saniter atau ujung pipa memenuhi persyaratan. Pada umumnya pipa distribusi yang digunakan antara lain : Pipa Galvanis, Polyvinyl Chloride (PVC), Polyethyelene (PE), Polybutyelene (PB), atau Acrylonitrite Butadiene Styerene (ABS). Polyphropiline Reinforce (PPR), Stainlessteel. Secara sederhana, diameter minimal untuk pipa distribusi utama dalam suatu rumah tinggal adalah 1 inchi.

 

Sumber :

agathaastyarini , Makalah Air Bersih, http://athaagatha.wordpress.com/2012/11/ 28/makalah-air-bersih/

SNI-03-6481-2000, Sistem Plambing, 2000

Reca Denis, Kualitas dan Kuantitas Air Bersih Untuk Pemenuhan Kebutuhan Manusia, 2010, http://uripsantoso.wordpress.com/2010/01/18/kualitas-dan-kuantitas-air-bersih-untuk-pemenuhan-kebutuhan-manusia-2/

http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-16528-2208100660-Chapter2.pdf

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/rekayasa_lingkungan/bab2_sistem_penyedian_air_bersih.pdf

 

Mengenal Jenis Bahan Finishing Kayu

Mengenal Jenis Bahan Finishing Kayu

Oleh : Bambang Wijanarko,S.Pd,MT

Widyaiswara PPPPTK BOE Malang -  Departemen Bangunan

Program Studi Teknologi Kayu

 

A.     Bahan Finishing Kayu

Sebelum menentukan jenis bahan finishing, kita perlu melihat dan menentukan hasil seperti apakah yang kita inginkan. Dengan kata lain alasan mana yang paling menjadi prioritas kita menerapkan finishing pada sebuah produk kayu. Apakah (1) keawetan, (2) estetika, (3) kemudahan aplikasi, (4) biaya atau (5) lingkungan.
Oleh sebab itu  sebelum menentukan pilihan  kita sebaiknya mengenal terlebih dahulu  berbagai jenis bahan finishing kayu yang ada dipasaran
.

Untuk mendapatkan hasil permukaan finishing yang baik ditentukan banyak fakor, salah satunya pengetahuan adalah pemilihan bahan finishing untuk kayu tersebut.

                                     

Gambar 1. Aplikasi dan hasil Finishing

Bahan-bahan finishing yang dikategorikan dan digolongkan  pada beberapa jenis yang sederhana yaitu sebagai berikut:

1. Oil

Jenis bahan finishing paling sederhana dan mudah aplikasinya. Bahan finishing ini  tidak membentuk lapisan 'film' pada permukaan kayu.

Oil meresap ke dalam pori-pori kayu dan tinggal di dalamnya dan berfungsi untuk mencegah air keluar atau masuk dari pori-pori kayu.

Aplikasinya sangat mudah dengan cara menyiram, merendam atau melumuri dan mengoleskan benda kerja dengan oil.  setelah didiamkan beberapa saat  kemudian dibersihkan dan dilap dengan menggunakan kain yang kering.Bahan ini tidak memberikan keawetan pada aspek benturan, terhadap goresan ataupun benturan fisik lainnya. Pada prinsipnya jenis finishing dengan oil ini sangat sederhana dalam penggunaanya dan hasil dari finishing tidak tahan terhadap air, demikian juga terhadap goresan dan benturan. 

2. Politur

Bahan dasar finishing ini adalah Shellac yang berwujud serpihan atau batangan kemudian dicairkan dengan alkohol. Anda juga bisa memperolehnya dalam bentuk siap pakai (sudah dicampur alkohol pada proporsi yang tepat). Di sini alkohol bekerja sebagai pencair (solvent). Setelah diaplikasikan ke benda kerja, alkohol akan menguap. Aplikasi dengan cara membasahai kain (sebaiknya yg mengandung katun) dan memoleskannya secara berkala pada permukaan layu hingga mendapatkan lapisan tipis finishing (film) pada permukaan kayu. Semakin banyak polesan yang berulang-ulang akan membuat lapisan finishing politur ini menjadi semakin tebal. 

                                                               

                                                              

Gambar 2. Bahan finishing

3. NC Lacquer

Jenis yang saat ini populer dan mudah diaplikasikan adalah NC (NitroCellulose) lacquer. Bahan finishing ini terbuat dari resin Nitrocellulose/alkyd yang dicampur dengan bahan 'solvent' yang cepat kering, yang kita kenal dengan sebutan thinner. Bahan ini tahan air (tidak rusak apabila terkena air) tapi masih belum cukup kuat  untuk mengantisipasi dan menahan goresan. Kekerasan lapisan film NC (Nitrocellulose)ini juga  tidak cukup keras untuk menahan benturan yang bersifat fisik. Bahkan walaupun sudah kering, NC bisa 'dikupas' menggunakan bahan pencairnya (solvent/thinner). Untuk digunakan pada permukaan kayu cara aplikasinya dengan system spray (semprot) dengan menggunakan tekanan udara (Kompresor). Alat untuk menyemprot bahan NC ini menggunakan spraygun atau b biasa disebut juga dengan pistol semprot. 

4. Melamine

Sifatnya hampir sama dengan bahan lacquer. Memiliki tingkat kekerasan lapisan film lebih tinggi dari lacquer akan tetapi bahan kimia yang digunakan akhir-akhir ini menjadi sorotan para konsumen karena berbahaya bagi lingkungan. Melamine mengandung bahan Formaldehyde paling tinggi di antara bahan finishing yang lain. Formaldehyde ini digunakan untuk menambah daya ikat molekul bahan finishing. Namun dalam hal pewarnaan finishing melamine ini  lebih bervariasi dan memiliki banyak pilihan warna yang dapat diaplikasikan pada bahan ini. 

5. PU (PolyUrethane)

Jenis bahan finishing menggunakan PU (PolyUrethane) ini lebih awet dibandingkan dengan jenis finishing sebelumnya dan lebih tebal lapisan filmnya. Bahan finishing jenis polyurethane ini  membentuk lapisan dan dapat  benar-benar menutupipori-pori pada permukaan kayu, sehingga terbentuk lapisan yang menyerupai  plastik. Lapisan ini memiliki daya tahan terhadap air dan panas yang sangat tinggi. Bahan finishing polyurethane ini sangat baik untuk finishing produk outdoor, kusen dan pintu luar atau pagar.Proses pengeringannya juga menggunakan bahan kimia cair yang cepat menguap.

 6. UV Lacquer

Jenis finishing Ultra Violet Laquer merupakan satu-satunya aplikasi finishing yang paling efektif saat ini dengan 'curtain method'. Dimana dengan curtain method ini adalah suatu metode aplikasi finishing seperti air curahan yang membentuk tirai. Benda kerja yang akan difinishing  diluncurkan melalui 'tirai' tersebut dengan kecepatan tertentu sehingga membentuk lapisan yang cukup tipis pada permukaan kayu. Proses finishing ini disebut UV lacquer karena bahan finishing ini hanya bisa dikeringkan oleh sinar Ultra Violet (UV).Aplikasi finishing ini paling tepat digunakan untuk benda kerja dengan permukaan lebar yaitu seperti papan atau plywood.yang lebar.

 7. Waterbased Lacquer

Jenis finishing yang paling populer akhir-akhir ini digunakan bagi para konsumen di Eropa. Menggunakan bahan pencair air murni (yang paling baik) dan cairan resin ini akan tertinggal di permukaan kayu. Proses pengeringannya otomatis lebih lama dari jenis bahan finishing yang lain karena penguapan air jauh lebih lambat daripada penguapan alkohol ataupun thinner. Namun kualitas lapisan film yang diciptakan tidak kalah baiknya  dengan NC(Nitrocellulose) atau bahan finishing dari jenis bahan melamine. Jenis finishing ini sangat tahan terhadap air,  dan bahkan sekarang sudah ada jenis finishing yang disebut dengan waterbased lacquer yang tahan terhadap benturan-benturan  maupun   goresan-goresan.
     Keuntungan utama yang diperoleh dari bahan jenis ini adalah aman terhadap lingkungan dan sosial. Di samping itu keuntungan lainnya adalah para karyawandapat terhindar dari bahan-bahan yang beracun, selain itu manfaat lainnya adalah   ruang finishing kondisi udaranya  jauh lebih sehat karena bahan pengencernya adalah air.Demikian juga dengan reaksi penguapan bahan kimia juga lebih kecil bila digunakan dilingkungan kediaman  rumah konsumen.

 Referensi :

-       Agus Sunaryo. ( 1997).Reka Oles Mebel Kayu. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

     http://www.tentangkayu.com/2008/01/jenis-bahan-finishing-kayu.html

      - Job Sheet VEDC Malang. Cara finishing

 

 

PENGALAMAN MENJADI PENDAMPING LOMBA PEKERJA KONSTRUKSI NASIONAL

PENGALAMAN MENJADI PENDAMPING LOMBA PEKERJA KONSTRUKSI NASIONAL

Oleh :Amin Zainullah,   aminz_pwt@yahoo.de

Widyaiswara Departemen Bangunan PPPPTK/VEDC Malang

 

Pendahuluan:

Sejak tahun  2008 Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya dan Tata Ruang selalu mengirimkan tukang-tukangnya untuk mengikuti Lomba Pekerja Konstruksi Nasional di Jakarta yang diselenggarakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum  . Selama 6 tahun berturut-turut  dari tahun 2008-2013, delegasi Jawa Timur selalu berhasil memborong juara satu terbanyak dibanding delegasi dari Provinsi lain.

Sebagai widyaiswara (instruktur bangunan) yang selama ini menangani pelatihan tukang dan menjadi pendamping peserta lomba maka penulis memiliki pengalaman dalam menyiapkan delegasi yang biasanya terdiri dari bermacam-macam lomba seperti:

a.    a. Lomba pasang bata (tukang batu)

b.    b. Lomba pembesian (tukang besi)

c.    c. Lomba perkayuan (tukang kayu)

d.    d. Lomba plambing (tukang plambing)

e.    e. Lomba tukang listrik (tukang listrik)

 

Dan beberapa lomba lainnya yang tiap tahun bervariasi seperti lomba instaler baja ringan, lomba operator alat berat, dan lomba juru ukur

Masing-masing lomba diikuti oleh peserta dari berbagai provinsi dan persaingan dari tahun ke tahun semakin ketat karena kualitas pekerja yang dikirimkan semakin baik dan ambisi dari peserta semakin tinggi.

Untuk bisa memenangkan kejuaraan Lomba Konstruksi Nasional maka dilaksanakan berbagai tahapan :

Seleksi Peserta

Peserta yang akan dikirim haruslah pekerja yang berkualitas, terampil, cekatan, dan memiliki mental juara. Pendidikan formal minimal SD dengan catatan bahwa meskipun ijazah minimal namun performancenya haruslah type orang  yang penuh percaya diri dan bisa berbahasa Indonesia dengan baik.

Cara seleksi dilaksanakan dengan mengadakan test praktek untuk mengetahui kemampuan keterampilan (skill) , untuk mengetahui pengetahuan (knowledge) dilaksanakan dengan test tulis dan tanya jawab, sedangkan untuk mengetahui sikap (attitude) dilaksanakan dengan wawancara dan pengamatan selama melaksanakan test praktek.

Kriteria penilaian untuk masing-masing lomba ada bermacam-macam , disesuaikan dengan jenis lombanya , sebagai contoh sebagai berikut :

1.    Lomba pasang bata (tukang batu)

Untuk menilai pekerjaan pasangan bata dilakukan penilaian yang meliputi ketepatan ukuran panjang, lebar, tinggi pasangan, kesikuan, kerataan, kedataran kerapian lapisan, kesesuaian dengan gambar , kebersihan dan waktu yang digunakan untuk menyelesaikan.

 

Foto  1: Seleksi tukang batu, membuat pasangan bata

 

2.    Lomba pembesian (tukang besi)

Pekerjaan pembesian dinilai dari cara mengukur dan memotong besi, cara membengkok dan merangkai sesuai gambar kerja yang diberikan . Teknik pengikatan harus benar sehingga menghasilkan rangkain besi yang kuat tidak bergoyang serta penggunaan waktu .

 

 

    Foto  2 : Seleksi tukang besi, membuat sepatu kolom

 

3.    Lomba perkayuan (tukang kayu)

Penilain lomba perkayuan meliputi ketepatan ukuran, kerataan ketaman, kesikuan, kerapian, teknik penyambungan, kesesuaian dengan gambar  dan waktu.

 

 

            Foto  3: Seleksi tukang kayu, membuat kusen jendela

 

4.    Lomba plambing (tukang plambing)

Penilaian lomba plambing meliputi teknik pemotongan pipa, pembuatan ulir, intalasi air kotor dan air bersih serta pemasangan alat-alat saniter seperti wastafel, urinal yang harus sesuai gambar serta kerapian pemasangan dalam waktu yang ditentukan.

 

5.    Lomba tukang listrik (tukang listrik)

Penilaian tukang  instalasi listrik  meliputi pemasangan skaklar, fiting serta stop kontak dengan rangkaian kabel dengan rapi, benar, dan berfungsi dengan baik dalam waktu yang ditentukan sesuai standar Peraturan Umum Instalasi Listrik Indonesia

 

Dalam seleksi ini diperlukan kecermatan dan kejelian dalam memilih calon peserta yang akan dikirim ke Jakarta agar hasilnya optimal.

 

Pemusatan latihan

 

Setelah mendapatkan calon untuk peserta lomba, berikutnya adalah diberi pembekalan meliputi teori dan praktek minimal selama 3 hari guna meningkatkan skill dan pengetahuan peserta. Peserta diberi pelatihan untuk melaksanakan praktek seolah-olah sedang mengikuti lomba dengan kecepatan dan disiplin tinggi.

     

                 

Foto  4 : peserta sedang menjalani pemusatan latihan pasang bata

 

                  

                   Foto 5 : pemusatan latihan pasang besi

Pendampingan dan motivasi

Agar peserta memiliki kepercayaan diri yang tinggi maka harus didampingi agar sewaktu lomba di Jakarta senantiasa merasa tenang dan terarah tidak seperti anak ayam kehilangan induknya.

Pendampingan ini meliputi pengontrolan jam istirahat, pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti pakaian kerja, peralatan, tiket , penginapan dsb.

Hal yang paling penting dalam pendampingan adalah pemberian motivasi agar semangat peserta lomba selalu tinggi .

Hasil Lomba selama 2008 – 2013 untuk Provinsi Jawa Timur :

Prestasi Lomba Tukang Nasional yang diikuti Jawa Timur pertama kali tahun 2008:

1.   1.Lomba mandor bangunan, juara 1 Basuki dari Malang

2.    2. Lomba tukang batu, juara 1 Warjito dari Tuban

3.    3.Lomba tukang plambing, juara 1 Hendrik dari Malang

4.    4.Lomba tukang kayu, juara 1 M.Khudori dari Malang

5.    5.Lomba mandor taman, juara 2  Adi dari Batu

6.    6.Lomba mandor kayu, juara 2 Nurkholik dari Malang

7.    7.Lomba tukang besi, juara 2 Malik dari Malang

8.    8.Lomba tukang baja ringan, Iwan dari Surabaya

 

Prestasi Lomba Tukang Nasional tahun 2009:

1.    1.Lomba mandor kayu, juara 1 M.Khudori dari Malang

2.    2.Lomba tukang batu, juara 1 Supiyat dari Sidoarjo

3.    3.Lomba Tukang Plambing, juara 1 Aditya dari Malang

4.    4.Lomba tukang kayu, juara 1 Agus Susiyanto dari Pamekasan

5.    5.Lomba tukang besi, juara 1 Warjito dari Tuban

6.    6.Lomba tukang listrik, juara 2 Nurul Huda dari Malang

7.     

Prestasi Lomba Tukang Nasional tahun 2010:

1.    1.Lomba tukang plambing, juara 1 Kasiyanto dari Malang

2.    2.lomba tukang batu, juara 1 Gatut Sasmeni dari Tulungagung

3.    3.Lomba tukang kayu A, juara 2 Sugianto dari Pasuruan

4.    4.Lomba tukang kayu, juara 3 Anang Setiyanto dari Malang

5.    5.Lomba tukang besi, juara harapan 1 Cecep dari Surabaya

6.6.Lomba operator alat berat, juara harapan 1 Sugiyanto dari Ponorogo

7.    7.Lomba baja ringan, juara harapan 1 Suheri dari Surabaya

 

Prestasi Lomba Tukang Nasional tahun 2011:

1.    1.Lomba tukang kayu A, juara 1 Mudhofar Yusuf dari Malang

2.    2.Lomba operator alat berat, juara 1 Suyatno Umar dari Tuban

3.    3.Lomba tukang plambing, juara 2 Dian Wahyudi dari Malang

4.    4.Lomba tukang besi A, juara 3 Sugiyanto dari Ponorogo

5.    5.Lomba tukang batu A, juara 3 Munaji dari Gresik

6.6.Lomba tukang batu B, juara  harapan 1 Suwignyo dari Banyuwangi

7.  7.Lomba tukang kayu B, juara harapan 2 Rahmatullah Akbar dari Situbondo

8.  8.Lomba tukang listrik, juara harapan 1 Samsul Hadi dari Lamongan

9.    Lomba tukang besi B, juara harapan 1 Joni dari Lumajang

 

Prestasi Lomba Pekerja Konstruksi Nasional tahun 2012:

1.    1.Lomba tukang kayu A, juara 1 Riyanto dari Sidoarjo

2.    2.Lomba tukang batu A, juara 1 Anto Sulistyono dari Ngawi

3.    3.Lomba tukang plambing, juara 1 Supriadi dari Malang

4.    4.Lomba tukang besi, juara 1 Wijiono dari Ponorogo

5.    5.Lomba tukang listrik, juara 2 Solikin dari Pasuruan

6.   6.Lomba tukang besi B, juara 3 Rahamatullah Akbar dari Situbondo

 

Prestasi Lomba Pekerja Konstruksi Nasional tahun 2013:

1.    1.Lomba tukang batu, juara 1 M. Abdul Rokhim dari Tuban

2.    2.Lomba tukang besi, juara 1 Munaji dari Gresik

3.    3.Lomba tukang plambing, juara 1 Heri Subechi dari Malang

4.    4.Lomba tukang besi B, juara 3 Durahman dari Malang

5.    5.Lomba operator eksavator A, juara 3 Puspito dari Tuban

6.    6.Lomba operator eksvator B, juara harapan 1 Yudi dari Tuban

7.7.Lomba tukang listrik, juara harapan 2 Mokhamad Solihin dari Pasuruan

 

Foto 6 : Peserta lomba dengan gembira membawa pulang trophy,  tampak penulis ( paling kiri tak bertopi ) dengan delegasi tukang Jatim .

 

Demikianlah gambaran pengalaman penulis menjadi instruktur dan pendamping  Lomba Pekerja Konstruksi Nasional dari tahun 2008-2013, sebagai informasi bahwa pembiayaan untuk kegiatan semacam ini bisa dilaksanakan dengan adanya tambahan biaya sponsor dari PT Semen Gresik . Untuk itu kami ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang menyeponsori kegiatan ini.

 

 

Partisipasi DU / DI

PARTISIPASI DUNIA INDUSTRI DALAM PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI (PRAKERIN) BAGI SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DI KOTA MALANG

 

Misto Supriadi

 

Abstrak: Berbagai upaya peningkatan mutu pendidikan telah banyak dilakukan, tetapi masih dihadapkan berbagai permasalahan. Salah satu permasalahan yang paling krusial adalah rendahnya mutu pendidikan. Salah satu faktor penyebab permasalahan tersebut yakni minimnya peran serta masyarakat dalam menentukan kebijakan sekolah. Dunia pendidikan Indonesia saat ini setidaknya menghadapi empat tantangan besar yang kompleks. Pertama, tantangan untuk meningkatkan nilai tambah (added value). Kedua, tantangan untuk melakukan pengkajian secara komprehensif dan mendalam terhadap terjadinya transformasi (perubahan) struktur masyarakat, dari masyarakat agraris ke masyarakat industri yang menguasai teknologi dan informasi sehingga berimplikasi pada tuntutan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Ketiga, tantangan dalam persaingan global yang semakin ketat, yaitu bagaimana meningkatkan daya saing bangsa dalam meningkatkan karya-karya yang bermutu dan mampu bersaing sebagai hasil penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS). Keempat, munculnya kolonialisme baru di bidang iptek dan ekonomi menggantikan kolonialisme politik.

Penelitian ini memiliki tiga tujuan. Pertama, mengetahui partisipasi dunia industri dalam persiapan program Prakerin. Kedua, mengetahui partisipasi dunia industri dalam pelaksanaan program Prakerin. Ketiga, mengetahui partisipasi dunia industri dalam kegiatan evaluasi program Prakerin. Rancangan penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa SMK di kota Malang dengan jumlah sampel 156. Secara random, data penelitian dikumpulkan melalui angket.

Dari analisis data, diperoleh tiga hasil penelitian. Pertama,  perencanaan program Praktik Kerja Industri, menunjukkan mean sebesar 36,25 yang berarti kecenderungan persepsi siswa di atas rerata ideal, yaitu 30,00 sebagai norma pembanding. Kedua, pelaksanaan program Praktik Kerja Industri, menunjukkan mean sebesar 74,04 yang berarti kecenderungan persepsi siswa di atas rerata ideal, yaitu 60,00 sebagai norma pembanding. Ketiga,  evaluasi program Praktik Kerja Industri, menunjukan mean sebesar 15,39 yang berarti kecenderungan persepsi siswa di atas rerata ideal, yaitu 12,00 sebagai norma pembanding.

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh tiga saran. Pertama, pihak DU/DI dan sekolah diharapkan dapat mempertahankan kerjasama yang sudah berjalan dengan baik. Kedua, Bagi pembimbing dan pendamping industri perlu meningkatkan intensitas bimbingan, karena peserta prakerin masih kurang memiliki kemandirian. Ketiga, perlu memberikan penekanan pada penguasaan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi di dunia kerja. Sekolah juga perlu memberikan penekanan pada masalah budaya kerja yang berlaku pada instansi pemerintah maupun swasta.

Kata Kunci: Partisipasi Dunia Usaha dan Dunia Industri, Pendidikan Sistem Ganda, Prakerin.

Eksistensi SMK dapat dikatakan berhasil apabila lulusan yang dihasilkan selalu dibutuhkan oleh dunia usaha atau dunia industri. Oleh karena itu,  mutu pendidikan dan relevansi kelulusan dengan kebutuhan konsumen perlu mendapat perhatian secara serius dalam menyiapkan sumber daya manusia yang bermutu.

Suriansah (2007:1) mengatakan bahwa berbagai upaya peningkatan mutu telah banyak dilakukan, tetapi pendidikan masih dihadapkan pada berbagai permasalahan antara lain yang paling krusial adalah rendahnya mutu pendidika. Salah satu faktor penyebabnya adalah minimnya peran serta masyarakat dalam menentukan kebijakan sekolah.

Dunia pendidikan Indonesia saat ini sedang menghadapi empat tantangan besar yang kompleks. Pertama, tantangan untuk meningkatkan nilai tambah (added value), yaitu bagaimana meningkatkan nilai tambah dalam rangka meningkatkan produktivitas, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan pembangunan yang berkelanjutan. Kedua, tantangan untuk melakukan pengkajian secara komprehensif dan mendalam terhadap terjadinya transformasi (perubahan) struktur masyarakat, dari masyarakat yang agraris ke masyarakat industri yang menguasai teknologi dan informasi, yang implikasinya pada tuntutan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Ketiga, tantangan dalam persaingan global yang semakin ketat, yaitu bagaimana meningkatkan daya saing bangsa dalam meningkatkan karya- karya yang bermutu dan mampu bersaing sebagai hasil penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS). Keempat, munculnya kolonialisme baru di bidang iptek dan ekonomi menggantikan kolonialisme politik.

Tugas pendidikan adalah membawa generasi ini mampu merengkuh sedemikian dekat agar manusia tidak kehilangan kemampuannya dalam menghadapi kontradiksi alam di mana yang kekal adalah perubahan. Globalisasi sebagai proses terkait dengan istilah globalution, yaitu paduan dari kata globalization dan evolution. Dalam hal ini, globalisasi adalah hasil perubahan dari hubungan masyarakat yang membawa kesadaran baru tentang hubungan antarmanusia. Perubahan pemikiran ke arah pematangan dan kemajuan yang mendorong produktivitas dan kreativitas ditimpakan pada pendidikan. Manajemen sekolah yang selama ini terstruktur dari pusat telah menghambat kran komunikasi setidaknya terjadinya distorsi informasi antara pusat dan daerah, sehingga menimbulkan mis-implementation pada tataran riil di sekolah. Hal ini yang menjadi bahan dilahirkannya sebuah sistem manajemen yang mampu menanggulangi permasalahan tersebut, yaitu suatu manajemen yang diberi kewenangan penuh kepada sekolah untuk mengatur dirinya sendiri dalam batas-batas yang rasional.

Pengembangan kompetensi siswa dengan konsep pendekatan sistem terutama sistem manajemen berbasis sekolah akan sangat mudah dan efektif untuk mengevaluasi sistem apa yang perlu ditinjau, dimodifikasi atau diubah menurut kebutuhan. Manajemen berbasis sekolah merupakan sebuah sistem yang memberikan hak atau otoritas khusus kepada pihak sekolah untuk mengelola sekolah sesuai dengan kondisi, lingkungan dan tuntutan atau kebutuhan masyarakat.

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan lembaga pendidikan yang mempersiapkan siswa sebagai tenaga yang siap pakai, yaitu lulusan yang memiliki kemampuan berpikir rasional, obyektif dan kompetitif dalam mencari lapangan pekerjaan. Sebagai sistem sosial, maka SMK tidak akan bisa lepas dari kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, masyarakat yang dimaksud tidak hanya sebatas lingkungan secara fisik di mana lembaga pendidikan itu berada, namun lebih pada masyarakat global. Dalam pengertian ini, SMK harus mampu menyiapkan sumber daya manusia yang siap berkompetisi untuk merebut peluang dan memenangkan kompetisi baik lokal maupun global. Bila tidak, SMK sama saja gagal menyiapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh tuntutan dan kebutuhan pasar kerja.

SMK dapat memberikan kontribusi yang diharapkan. Lembaga pendidikan kejuruan memiliki kesempatan yang sangat besar untuk membekali calon tenaga kerja dengan keterampilan tertentu yang dibutuhkan. Seyogyanya Sekolah Kejuruan melakukan kerjasama dengan Pemerintah Daerah untuk pembangunan daerah. Kerjasama itu perlu karena dalam pembangunan daerah pemanfaatan teknologi tepat guna (apllied technology) sangat penting. Dengan demikian, tenaga kerja akan lebih bernilai jual (marketable) dan profesional dalam bidang pekerjaannya. Oleh karena itu, Lembaga Pendidikan Kejuruan sangat dituntut untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat yang sebenarnya, pendidikan SMK selama ini apakah masih dikatakan sebagai sekolah terminal, sekolah lulus langsung kerja jika diterima, jika tidak akan mengganggur. Dengan sebuah predikat tersebut, Sekolah Kejuruan hendaknya lebih merubah dan meningkatkan kualitas lulusan sebagai tenaga siap kerja dengan segala potensi dan profesional untuk berperan di tengah kehidupan masyarakat.

Pendidikan kejuruan bertujuan untuk membantu individu memperoleh dan mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dalam lapangan pekerjaan. Konsekuensi dari peraturan pemeintah dan teori mengharuskan SMK dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran yang dapat memberi kemampuan yang dibutuhkan dan dipersyaratkan oleh lapangan kerja kepada peserta didiknya. Keadaan tersebut dapat dicapai bilamana sarana dan prasarana yang ada di SMK mampu mendukungnya. Sementara itu, sarana yang dimiliki oleh SMK sangat terbatas. Kekurangan fasilitas praktik menyebabkan siswa hanya mempunyai bekal keterampilan yang terbatas. Hal ini merupakan jurang pemisah antara dunia kerja dengan lulusan SMK.

Faktor yang menyebabkan kesenjangan antara SMK dengan dunia kerja adalah perkembangan teknologi. Dunia sekolah, mempunyai kurikulum sementara dunia usaha/industri berkembang secara melompat-lompat dan terus menerus.

Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, salah satu upaya yang efektif adalah mencari kemitraan dengan pihak lain atau pihak dunia usaha/industri yaitu dalam suatu kerjasama antar lembaga pendidikan (SMK) dengan dunia usaha/industri sehingga SMK tidak hanya bertumpu pada keterbatasan sumber daya yang dimilikinya.

SMK merupakan lembaga pendidikan yang berpotensi untuk mempersipkan SDM yang dapat dengan mudah terserap oleh dunia kerja, karena materi baik teori maupun praktik yang bersifat aplikatif telah diberikan sejak dini, dengan harapan lulusan SMK memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Salah satu bentuk konsepsi pendidikan kejuruan yang sedang aktual dewasa ini adalah Prakerin (Praktek Kerja Industri) bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Prakerin adalah salah satu  bentuk pelaksanaan konsep Pendidikan Sistem Ganda (PSG) yang diadopsi dari sistem pendidikan di Jerman yang disebut dengan dual sistem, dan di Australia disebut dengan apprentice system. Berkaitan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan khususnya sekolah kejuruan perlu adanya suatu pelaksanan program praktik kerja industri atau Pendidikan Sistem Ganda (PSG) yang ideal.

Pendidikan Sistem Ganda ini adalah implementasi kurikulum yang sesungguhnya antara sekolah dengan dunia kerja/industri sebagaimana salah satu programnya adalah prakerin. Praktik kerja industri yang dilaksanakan di sekolah-sekolah kejuruan memiliki peranan yang sangat penting dalam peningkatan kompetensi yang dicapai siswa, khususnya siswa SMK Teknologi Industri, terlebih apabila dalam praktik industri tersebut siswa benar-benar berperan aktif mengerjakan pekerjaan yang sesuai dengan apa yang didapat di meja sekolah. Pengetahuan praktis dan aplikatif dapat mereka peroleh pada saat pelaksanaan program prakerin tersebut.

Pelaksanaan praktik kerja industri tersebut secara tidak langsung akan memberikan pengalaman serta bekal pengetahuan siswa dalam bekerja. Selain mempelajari cara mendapatkan pekerjaan, siswa juga diajarkan bagaimana memiliki pekerjaan yang relevan dengan bakat dan kemampuannya. Selain itu, siswa juga diajarkan untuk bekerja dengan kemampuan sendiri sehingga mereka akan mandiri. Melalui kegiatan tersebut, siswa bisa mendapatkan hasil/prestasi yang sesuai dengan kemampuannya.

Reeve and Gallacher (2005: 13) menyebutkan empat konsep yang menjadi bagian penting dari pelaksanaan praktik kerja industri, yaitu: (1) partnership, (2) flexibility, (3) relevance, dan (4) accreditation. Pelaksanaan prakerin bukan sekedar penempatan siswa pada industri dan mendapatkan pengalaman bekerja. Dalam kegiatan ini, diharapkan sekolah dapat menyediakan kebutuhan industri akan sumber daya yang memiliki keterampilan dasar sebagai modal awal bagi siswa untuk dapat dilibatkan dalam pengalaman kerja dan berinteraksi dengan karyawan lainnya. Oleh karena itu, perjanjian kerjasama antara sekolah dan industri seharusnya mencakup kemampuan siswa untuk dapat bekerja dan membantu perusahaan dalam meningkatkan produksinya.

Berbagai usaha telah dilakukan oleh berbagai pihak, baik pemerintah maupun SMK untuk meningkatkan mutu pelaksanaan prakerin tersebut. Usaha-usaha yang telah dilakukan antara lain melalui pelatihan-pelatihan dan peningkatan kualitas guru sebagai pembimbing prakerin, pengadaaan prasarana serta sarana pendidikan kejuruan yang distandarkan dengan DU/DI dan menjalin kerjasama dengan DU/DI. Hal tersebut dilakukan supaya pelaksanaan prakerin sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.

Namun demikian, usaha tersebut belum menunjukkan adanya peningkatan mutu pendidikan kejuruan secara merata terutama pada pencapaian kompetensi siswa pada pelaksanaan prakerin. Upaya pembaharuan penyelenggaraan pendidikan kejuruan yang selama ini dilakukan oleh pemerintah Kota Malang masih mengalami hambatan-hambatan di lapangan yang perlu dicari alternatif pemecahannya. Berdasar hasil kajian pengamatan penelitian para pakar hambatan-hambatan itu di antaranya, yaitu : (1) kurangnya pemahaman konsep kurikulum, (2) belum mengerti pelaksanaannya, (3) kesanggupan yang lemah, (4) keterbatasan Sarana dan prasarana, (5) keterbatasan kapabilitas SDM sekolah dan (6) keterbatasan biaya atau pendanaan.

Sehubungan dengan kondisi yang dikemukakan di atas, beberapa tantangan muncul. Pertama, perlunya upaya agar sekolah dapat menjaring informasi kebutuhan dan persyaratan yang dikehendaki oleh lapangan kerja. Kedua, perlunya upaya agar informasi yang diperoleh senantiasa dapat seiring dengan perkembangan yang terjadi. Ketiga, perlunya upaya agar informasi yang diperoleh dapat diterjemahkan ke dalam program atau kurikulum sekolah sehingga pembelajaran dapat dilaksanakan dengan mengacu kepada kebutuhan dan persyaratan lapangan kerja. Salah satu upaya yang perlu dilakukan agar lulusan SMK mampu terserap oleh lapangan kerja adalah keterampilan (skill) yang memadai.

Selama ini belum ada pengukuran secara empiris tentang tanggapan atau keterlibatan DU/DI dalam rangka pelaksanaan prakerin di Kota Malang, khususnya pada aspek: sejauh mana keterlibatan DU/DI dalam proses perencanaan program dan penyusunan kurikulum, sehingga terjadi keterkaitan antara sekolah dan kebutuhan dunia kerja? Sejauh mana keterlibatan DU/DI dalam hal pelaksanaan prakerin? sejauh mana keterlibatan DU/DI dalam hal evaluasi proses dan evaluasi hasil prakerin? Sejauh mana prakerin memberikan kontribusi terhadap kompetensi siswa?

Dari latar belakang permasalahan tersebut penelitian ini ingin mengkaji tentang  permasalahan sebagai berikut: (1) Bagaimanakah tingkat partisipasi dunia industri dalam hal persiapan program pelaksanaan Praktik Kerja industri (Prakerin) bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Malang. (2) bagaimanakah tingkat partisipasi dunia industri dalam hal pelaksanaan program Praktik Kerja industri (Prakerin) bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Malang. (3) bagaimanakah tingkat partisipasi dunia industri dalam hal kegiatan evaluasi program pelaksanaan Praktik Kerja industri (Prakerin) bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Malang?

 

METODE

Rancangan Penelitian

Sejalan dengan permasalahan dan tujuan penelitian sebagaimana dikemukakan pada bab I, maka penelitian ini dirancang sebagai penelitian deskriptif kuantitatif karena berupaya memberikan atau mendeskripsikan fenomena sosial yang ada di lapangan khususnya yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan Prakerin. Penelitian pada tahap permulaan mengumpulkan gejala-gejala yang diselidiki agar jelas kondisinya. Penemuan fakta-fakta berarti tidak sekedar mendeskripsikan distribusi dan tetapi termasuk mengukur hubungan satu sama lainnya di dalam aspek-aspek yang diselidiki.

Jenis dari penelitian ini termasuk dalam kategori survey, sedangkan menurut Van Dalen (dalam Arikunto, 1992) penelitian survey bertujuan untuk mencari status (kedudukan), gejala (fenomena) dan menemukan kesamaan status   dengan cara membandingkan dengan standar yang telah ditentukan. Oleh karena itu, tujuan utama dari penelitian ini adalah menggambarkan sifat atau yang sementara sedang berjalan pada saat penelitian berlangsung  dan memeriksa sebab-sebab dari suatu dari tertentu .

Selanjutnya informasi yang dikumpulkan secara faktual dan secara rinci yang betul-betul melukiskan  fenomena yang sedang terjadi di lapangan dan mempertimbangkan pelaksanaan dan korelasi gejala yang sedang berlangsung (Isaac, 1984).

 

Populasi dan Sampel

Populasi adalah seluruh subyek dari penelitian (Arikunto, 1992), sedangkan menurut Gay (dalam Latunussan, 1988) populasi ialah sekelompok obyek individu atau peristiwa yang menjadi perhatian peneliti yang akan dikenai generalisasi penelitian. Populasi pada  penelitian ini adalah siswa SMK Teknologi di Kota Malang yang sedang atau telah melaksanakan praktik kerja industri.

selanjutnya dilakukan pengambilan sampel pada masing-masing SMK. Pada tahapan ini digunakan teknik proportional random sampling yaitu teknik sampling probabilitas, di mana masing-masing elemen populasi memiliki probabilitas terpilih yang diketahui dan setara. Setiap elemen dipilih secara independen dari setiap elemen lain dan sampel tersebut diambil melalui prosedur acak.

Data dikumpulkan melalui dua teknik, yaitu: (1) angket yang diisi langsung oleh responden dan (2) wawancara tidak terstruktur.  Kedua teknik disebutkan merupakan pendukung yang hasilnya digunakan dalam interpretasi hasil penelitian. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk mengetahui tanggapan responden.

 

Instrumen Penelitian

Instrumen Penelitian  adalah alat penggali data  yang akan digunakan sebagai pengumpul dan pengolah data dalam kegiatan penelitian ini. Instrumen penelitian memegang peranan yang sangat penting untuk memperoleh informasi dengan tepat dan hasil yang relevan. Sehubungan pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik survey maka pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner/angket dan observasi/wawancara, di mana kuesioner/angket sebagai instrumen pokok dalam menjaring data penelitian ini. Dalam bukunya yang berjudul Research Method in Educational, Louis Cohen dan Lawrence Manion menyatakan :

“An ideal quassionnaire possesses the same properties as a good law.: It is clear, Unambiguous and uniformal workable, its deige must minimize potential errors from respondents … and coders. And since people’s particionnaire has to help in engaion, and eliciting answer as close as possible to the truth.

Dengan berdasarkan pemikiran di atas, penulis menyusun angket yang dipakai sebagai alat pengumpul data pelaksanaan prakerin.  Pengumpulan data menggunakan angket terstruktur dengan bentuk jawaban tertutup (closed form)

Pengumpulan data di lapangan mengenai data siswa, yang aplikasinya dalam bentuk angket dan gradasinya  disusun menurut aturan skala likert. Skala likert ini digunakan untuk mengukur sikap yang terkait dengan pelaksanaan program prakerin. Angket sikap ini mengacu model skala likert yang terdiri dari pertanyaan yang mendukung dan tak mendukung dengan jumlah yang seimbang, sehingga responden dalam menjawab lebih hati-hati.

Prosedur pengembangan angket skala sikap adalah mengacu pada respon yang diberikan berupa taraf yang bervariasi, yaitu: Sangat setuju, Setuju, Ragu-ragu, Tidak setuju dan Sangat tidak setuju. Pemberian skor untuk pertanyaan yang positif diberi urutan bobot yaitu: 5, 4, 3, 2, 1 sedangkan untuk pertanyaan yang negatif diberi nilai yaitu : 1, 2, 3, 4, 5  (Suryabrata, 2000). Tidak menjadi persoalan dalam memberikan skor angka  (5) untuk nilai tinggi dan skor (1) untuk nilai rendah, yang penting adalah konsistensi dari arah diperlihatkan (Nasir, 1998).

 

Pengumpulan Data

Sebelum data dikumpulkan dilakukan uji coba instrumen terhadap beberapa sampel dalam penelitian ini peneliti terlibat langsung dengan dibantu oleh guru dan instruktur DU/DI. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua macam metode, yaitu kuesioner/angket sebagai data primer dan dokumentasi melalui observasi/wawancara sebagai data sekunder.

 

Analisis Data

Penelitian ini adalah termasuk penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode survei, maksudnya hasil dari penelitian ini nantinya adalah memotret dan menggambarkan pelaksanaan prakerin SMK di Kota Malang yang sementara ini sedang atau telah berjalan.

 

Analisis Statistik Deskriptif

Bagian ini menyajikan distribusi frekuensi skor masing-masing variabel, Untuk mendeskripsikan nilai variabel dalam penelitian ini digunakan kriteria dengan interval kelas yang diperoleh dari hasil perhitungan :

 

 
 

 

 

Interval skor jawaban responden dalam penelitian ini mengacu pada skala 5 poin dari Likert (Sugiyono, 2003),  sehingga interval  yang diperoleh untuk setiap kelas adalah berbeda pada setiap variabel sesuai dengan nilai skor jawaban responden. Pedoman kreteria interprestasi data adalah jumlah responden yang menjawab skor pada interval kelas dibagi dengan Jumlah responden. Kemudian hasil perhitungan persentase skor perolehan dikonsultasikan.

Perolehan nilai tendensi sentral rerata (Mean) dari setiap variabel menggunakan rerata ideal sebagai norma pembanding untuk menentukan persepsi, Untuk menghitung besarnya rerata ideal (M) digunakan rumus:1/2 (skor nilai ideal tertinggi + skor nilai ideal terendah). Dengan demikian, untuk mendeskripsikan nilai yang diperoleh setiap variabel dapat disusun menggunakan nilai rerata ideal (Mean) sebagai norma pembanding.

Berikut ini akan dipaparkan hasil analisis deskriptif terhadap variabel-variabel penelitian berdasarkan persepsi 156 orang responden melalui kuesioner yang disebarkan.

 

 

HASIL PENELITIAN

Deskriptif Data

Pada bagian ini diuraikan secara deskriptif beberapa faktor yang terkait dengan prakerin, yaitu persiapan prakerin, pelaksanaan dan evaluasi prakerin. Penjelasan lebih lanjut diuraikan berikut ini:

Tabel 1 Tingkat Pencapaian Prakerin

Variabel

Tingkat Pencapaian

Persiapan

72,49 %

Pelaksanaa

74,05 %

Evaluasi

76,96 %

Sumber data:lampiran 5

Persiapan Prakerin

Untuk mengetahui kondisi persiapan prakerin dapat dilihat pada Tabel 3. Dalam tabel berikut dijelaskan bahwa persiapan  prakerin siswa/siswi SMK Teknologi dibentuk oleh lima indikator yaitu perencanaan waktu, perencanaan tempat, perencanaan kurikulum/kompetensi, pembekalan siswa/siswi dan kerjasama antar pihak sekolah dengan DU/DI.

 

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Kumulatif Variabel Persiapan Prakerin

Kurang Dari

FrekuensiKumulatif

Kurang dari 28

10

Kurang dari 33

30

Kurang dari 38

88

Kurang dari 43

151

Kurang dari 48

156

 

Tabel 3 Distribusi Frekuensi Relatif Variabel Persiapan Prakerin

Interval

Frekwensi

Relatif (%)

23-27

10

6.41

28-32

20

12.82

33-37

58

37.18

38-42

63

40.38

43-47

5

3.21

Jumlah

156

100.00

 

Tabel 4 Distribusi Frekuensi Kumulatif Relatif Variabel Persiapan Prakerin

Kurang Dari

Frekuensi Kumulatif Relatif (%)

Kurang dari 28

6.41

Kurang dari 33

19.23

Kurang dari 38

56.41

Kurang dari 43

96.49

Kurang dari 48

100.00

 

Analisis yang telah dilaksanakan mendapatkan hasil persiapan prakerin disajikan dalam Tabel 5

Tabel 5 Hasil Analisis Variabel Persiapan Prakerin

Indikator

Mean

Perencanaan Waktu

6.42

Perencanaan Tempat

7.21

Perencanaan Kurikulum/Kompetensi

7.37

Pembekalan  Siswa/siswi

7.13

Kerjasama pihak sekolah dg DU/DI

8.12

Jumlah

36.25

 

Hasil analisis pada Tabel 5 mengenai variabel Persiapan prakerin menunjukan Mean sebesar 36,25 dengan demikian kecenderungan persepsi siswa di atas rerata ideal yaitu 30,00 sebagai norma pembanding.

Secara umum untuk mengetahui nilai persiapan prakerin yang telah dilakukan oleh SMK di kota Malang mencapai 72,49 % dari yang diharapkan (Tabel 1).

 

Pelaksanaan Prakerin

Kondisi pelaksanaan prakerin dapat dilihat pada Tabel 7 dijelaskan bahwa untuk pelaksanaan prakerin siswa/siswi SMK Teknologi, dibentuk oleh tujuh indikator yaitu penerimaan/penempatan siswa/siswi oleh sekolah di DU/DI, kesesuaian antara DU/DI dengan sekolah, kompetensi yang diberikan/diterima oleh siswa/siswi prakerin, kompetensi yang diberikan/diterima oleh siswa/siswi prakerin, fasilitas yang disediakan oleh sekolah/DU/DI, bimbingan/Monitoring yang dilakukan oleh pihak sekolah/DU/DI, tanggapan kepada sekolah terhadap pelaksanaan prakerin, serta tanggapan kepada DU/DI terhadap pelaksanaan prakerin.

 

Tabel 6 Distribusi Frekuensi Kumulatif Variabel Pelaksanaan Prakerin

Kurang Dari

Frekuensi Kumulatif

Kurang dari 59

8

Kurang dari 67

25

Kurang dari 75

74

Kurang dari 83

137

Kurang dari 91

156

 

Tabel 7  Distribusi Frekuensi Relatif Variabel Pelaksanaan Prakerin

Interval

Frekuensi

Relatif (%)

51 - 58

8

5.13

59 - 66

17

10.90

67 - 74

49

31.41

75 - 82

63

40.38

83 - 90

19

12.18

Jumlah

156

100.00

 

Tabel 8 Distribusi Frekuensi Kumulatif Relatif Variabel Pelaksanaan Prakerin

Interval

Frekuensi Kumulatif Relatif (%)

Kurang dari 59

5.13

Kurang dari 67

16.03

Kurang dari 75

47.44

Kurang dari 83

87.82

Kurang dari 91

100

 

Analisa yang telah dilakukan mendapatkan hasil pelaksanaan prakerin disajikan dalam Tabel 9

 

Tabel 9 Hasil Analisa Variabel Pelaksanaan Prakerin

Indikator

Mean

Penerimaan/Penempatan

6.89

Kesesuaian Antara DU/DI dg Sekolah

6.92

Kompetensi yang Diberikan/Diterima

15.78

Fasilitas Yang Disediakan Sekolah/DU/DI

17.58

Bimbingan/Monitoring

7.51

Tanggapan Kepada Sekolah

7.07

Tanggapan Kepada DU/DI

12.29

Jumlah

74.04

 

Hasil analisis pada Tabel 9 mengenai variabel Pelaksanaan prakerin menunjukan Mean sebesar74,04 dengan demikian kecenderungan persepsi siswa diatas rerata ideal yaitu 60,00 sebagai norma pembanding.

Secara umum untuk mengetahui nilai yang dicapai mengenai pelaksanaan prakerin yang telah dilakukan oleh SMK di kota Malang yaitu 74,05 % dari yang diharapkan (Tabel 1).

 

Evaluasi Prakerin

Untuk mengetahui kondisi evaluasi prakerin dapat dilihat pada Tabel 11 dijelaskan bahwa untuk evaluasi prakerin dibentuk oleh dua indikator yaitu bentuk evaluasi dan uji kompetensi.

 

Tabel 10 Distribusi Frekuensi Kumulatif Variabel Evaluasi Prakerin

Kurang Dari

Frekuensi Kumulatif

Kurang dari 5

1

Kurang dari 9

4

Kurang dari 13

17

Kurang dari 17

82

Kurang dari 21

52

 

Tabel 11 Distribusi Frekuensi Relatif Variabel Evaluasi Prakerin

Interval

Jumlah

Relatif (%)

1 - '4

1

0.64

5 - '8

4

2.56

9 - '12

17

10.90

13 - 16

82

52.56

17 - 20

52

33.33

Jumlah

156

100.00

 

Tabel 12 Distribusi Frekuensi Kumulatif Relatif Variabel Evaluasi Prakerin

Kurang Dari

Frekuensi Kumulatif Relatif (%)

Kurang dari 5

0.64

Kurang dari 9

3.20

Kurang dari 13

14.10

Kurang dari 17

66.66

Kurang dari 21

100.00

 

Analisa yang telah dilaksanakan mendapatkan hasil evaluasi prakerin disajikan dalam Tabel 13

 

Tabel 13 Distribusi Frekuensi Variabel Evaluasi Prakerin

Indikator

Mean

Bentuk Evaluasi

7.98

Uji Kompetensi

7.41

Jumlah

15.39

 

Hasil analisis penelitian pada Tabel 13 mengenai variabel evaluasi prakerin Mean sebesar 15,39 dengan demikian kecenderungan persepsi siswa di atas rerata ideal yaitu 12,00 sebagai norma pembanding.

Secara umum untuk mengetahui nilai yang dicapai mengenai evaluasi prakerin yang telah dilakukan oleh SMK di kota Malang yaitu 76,96 % dari yang diharapkan (Tabel 1).

 

PEMBAHASAN

Persiapan Prakerin

Praktik Kerja Industri (Prakerin) adalah kegiatan pendidikan, dan pembelajaran yang dilaksanakan di dunia usaha dan dunia industri yang masih relevan dengan kompetensi siswa. Adapun fungsi diadakannya prakerin adalah untuk mengimplementasikan materi yang selama ini dipelajari di sekolah, membentuk pola pikir yang konstruktif, melatih siswa untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara profesional di dunia kerja yang sebenarnya,
membentuk etos kerja yang baik serta menjalin kerjasama yang baik antara sekolah dengan Dunia Usaha atau Dunia Industri (DU/DI).

Industri merupakan sebuah laboratorium yang berada di luar lingkungan sekolah, tempat yang nyata untuk beraktivitas belajar baik segi pengetahuan atau keterampilan yang berhubungan dengan bidang studi (akademik) maupun keterampilan menghadapi situasi kerja (lingkungan baru) dan manusia lain (sosial) dengan demikian siswa/siswi langsung dihadapkan pada dunia kerja yang sebenarnya untuk menambah keterampilan dan menerapkan teori-teori yang telah didapat pada objek secara langsung.

Pengaturan pelaksanaan Praktik Kerja Industri dilakukan oleh sekolah dengan mempertimbangkan kesediaan lembaga atau dunia kerja untuk dapat menerima siswa/siswi melaksanakan Prakerin. Struktur program kurikulum, kalender pendidikan pada tahun ajaran tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi keadaan setempat.

Diadakannya Praktik Kerja Industri saat ini sangat baik dan berguna bagi setiap siswa/siswi SMK. Mereka mendapatkan suatu gambaran yang nyata di dalam menjajaki dunia kerja dan menerapkan materi yang telah didapatkan dari sekolah. Untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja dan mewujudkan tujuan, harus dilakukan persiapan yang matang dengan mempertimbangkan kepentingan siswa, sekolah dan juga dunia usaha atau dunia industri.

Secara umum, siswa mempunyai persepsi persiapan yang dilakukan oleh pihak siswa, sekolah maupun DU/DI adalah baik. Dengan demikian, dapat dikatakan  pihak terkait di atas telah berperan sebagaimana mestinya, sehingga siswa bisa mematangkan dan mempersiapkan diri guna melaksanakan prakerin dalam jangka waktu tertentu.

Perencanaan tempat yang baik harus memperhatikan waktu prakerin itu sendiri. Terkadang DU/DI pada waktu tertentu belum siap untuk menerima prakerin, akan tetapi di lain waktu dapat menerima prakerin dengan baik.

Perbedaan ini adalah suatu hal yang wajar, karena durasi waktu yang direncanakan oleh pihak sekolah serta daya tampung DU/DI yang harus disesuaikan di satu sisi menginginkan adanya durasi waktu yang lama sedangkan yang lain durasi waktunya adalah pendek sehingga siswa mempersepsikan hal itu adalah tidak baik, sedangkan perencanaan tempat prakerin di sekitar sekolah adalah sudah sebanding antara jumlah siswa/siswi yang melaksanakan prakerin hal itulah dikatakan baik  yang dipersepsi oleh siswa.

Pola penyusunan kurikulum model kompetensi disusun secara terpadu antara tingkat kemampuan atau kompetensi dalam pekerjaan dan proses belajar mengajar siswa. Kurikulum mengacu pada tuntutan sebagai pengguna lulusan, serta masyarakat luas. Lulusan SMK dirancang untuk memenuhi kebutuhan industri, sehingga keterlibatan industri sangat dibutuhkan dalam menetapkan berbagai standar ketrampilan.

Sistem pendidikan kejuruan telah dipahami dengan baik oleh semua pihak, baik siswa, sekolah, maupun DU/DI. Sehingga prakerin yang dilakukan tetap diarahkan untuk pembentukan karakter peserta didik yang dipersiapkan terjun ke pangsa kerja, karena itulah prakerin tetap diarahkan untuk penambahan penguasaan teknis dan pengalaman siswa bekerja. Lokasi prakerin yang selama ini dipilih adalah disesuaikan keadaan DU/DI, dengan kata lain ada kesesuaian antara kompetensi yang diajarkan di sekolah dengan lokasi prakerin. Pembekalan ini dijadikan sebagai materi awal guna menghadapi dunia kerja secara nyata ketika prakerin, sehingga jangan sampai ketika melaksanakan prakerin siswa hanya menjadi penonton saja, atau tidak banyak yang dapat dilakukan.

Siswa mempersepsikan bahwa sistem kerjasama yang dilakukannya sudah baik. Dalam kenyataan di lapangan DU/DI tidak diajak untuk membahas prakerin dengan waktu yang cukup, seringkali tugas kerja yang ada harus diadakan penyesuaian. Di sisi lain, sekolah lebih banyak berkoordinasi dengan siswa/siswinya saja, maka terjadilah perbedaan persepsi mengenai kerjasama menjelang prakerin.

Kondisi persiapan yang tidak sinkron terjadi pada sistem kerjasama, DU/DI dinilai masih bersifat pasif dalam mekanisme prakerin, walaupun sebenarnya dari pihak DU/DI semua proses prakerin akan lebih dioptimalkan karena tugas yang akan dilakukan siswa ketika prakerin lebih banyak ditentukan oleh DU/DI.

Melihat penjelasan tersebut tampak jelas bahwa ada beberapa masalah dalam persiapannya. DU/DI masih menilai dirinya sebagai pihak yang menerima siswa/siswi saja karena sebagian besar proses prakerin dimonopoli oleh sekolah karena sekolah mempunyai alur waktu tertentu. Sedangkan pihak DU/DI mempunyai waktu yang terus menerus sehingga persiapan yang demikian akan sangat mempengaruhi kelanjutan parkerin di masa mendatang, mengingat DU/DI dapat saja menolak prakerin di tempatnya. Karena itulah sistem kerjasama dan perencanaan tempat harus kembali dimatangkan, agar tujuan prakerin dapat tercapai dengan baik.

 

Pelaksanaan Prakerin

Tujuan Pelaksanaan Praktik Kerja Industri yaitu menaikkan level kompetensi dengan memperluas serta memantapkan keterampilan sebagai bekal untuk memasuki lapangan kerja sesuai keahlian yang dipilih. Prakerin juga dimaksudkan untuk menumbuh kembangkan dan memantapkan sikap profesional siswa yang diperlukan dunia usaha maupun dunia industri. Hal ini untuk mempermudah siswa memasuki berbagai dunia industri dan terlibat langsung pada suatu bidang usaha dengan mengenal secara utuh sistem, tata kerja serta melakukan kegiatan produksi dengan pemaksimalan unsur disiplin kerja dan memasyarakatkan diri pada iklim kerja industri sesuai kesepakatan dan kesediaan industri bekerjasama dengan sekolah.

Tujuan lain pelaksanaan prakerin adalah meningkatkan, memperluas, dan memantapkan proses penyerapan teknologi baru dari dunia industri ke sekolah, mendapatkan sebanyak mungkin masukan dari industri melalui siswa, sebagai sarana perbaikan sistem pembelajaran dan kompetensi yang dibutuhkan industri serta memberikan gambaran awal kepada industri tentang tenaga kerja yang dapat dipakai industri (calon karyawan) dan membangun kerjasama yang saling menguntungkan. Selain itu, prakerin diharapkan mampu membekali peserta didik agar dapat bekerja, baik secara mandiri atau mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan dunia industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah, sesuai dengan bidang dan program keahlian yang diminati. 

Lapangan pekerjaan yang tersedia di dunia industri membutuhkan kompetensi yang sesuai dengan bidang garapannya, sehingga pemenuhan kompetensi menjadi bagian penting dari lulusan SMK. Hal tersebut berkaitan erat dengan industri yang membutuhkan tenaga kerja dengan produktivitas tinggi harus memberikan kesempatan belajar sehingga peserta didik dapat menguasai kompetensi secara langsung yang tidak seluruhnya diperoleh atau tersedia di sekolah, kesadaran kedua belah pihak merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri.

Proses belajar kompetensi dengan prinsip mastery learning, mengharuskan siswa melaksanakan belajar yang relevan dan tuntas termasuk kegiatan di industri. Kegiatan belajar yang telah tersusun pada kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan memiliki bagian penting untuk keberhasilannya, sejumlah kegiatan industri yang tidak dapat dilakukan di sekolah. Kompetensi yang sesuai tujuan pendidikan dapat dilakukan di industri berdasarkan kerjasama yang telah direncanakan dan disepakati.

Dengan program ini diharapkan siswa memiliki tambahan kemampuan dan pengalaman, dengan bekal tersebut dirinya akan lebih optimal ketika memasuki dunia kerja. Berangkat dari kenyataan inilah, betapa pentingnya prakerin bagi siswa, sehingga pelaksanaan harus tertata dan disusun sebaik mungkin, dengan harapan siswa akan memiliki ketrampilan yang lebih dibandingkan sebelum mengikuti prakerin.

Siswa menilai bahwa pelaksanaan prakerin selama ini sudah baik. Walaupun pihak DU/DI menilai bahwa siswa yang mengikuti prakerin di tempatnya masih terlihat kaku dalam mengoperasionalkan peralatan kerja, sehingga proses pembimbingan masih memiliki porsi yang besar dibandingkan kemandirian para peserta prakerin. Hal ini tentu saja menghambat tugas kerja yang dilakukan oleh pegawai yang menjadi pendamping, artinya pembimbing  melihat prakerin yang dilakukan selama ini menuntut siswa untuk langsung dapat mengoperasikan peralatan kerja, padahal untuk dunia kerja yang relatif baru bagi siswa hal itu merupakan suatu proses yang membutuhkan bimbingan yang lebih mendalam.

Kenyataan tersebut sedikit berbeda dengan kondisi yang dialami oleh siswa. Sebagai subyek prakerin, siswa merasakan sesuatu yang sangat baru ditemuinya ketika prakerin, dan seacra otomatis akan menambah kemampuan, ketrampilan serta pengalamannya dalam dunia kerja. Kondisi inilah membuat siswa merasakan pelaksanaan prakerin yang selama ini, dapat dirasakan manfaatnya walaupun pada awalnya mereka merasakan kaku dan memerlukan waktu adaptasi.

Bagi siswa, dirinya mengharapkan mampu melaksanakan prakerin pada lokasi yang tepat dan sesuai dengan jurusannya, namun kenyataan yang terjadi tidak demikian seperti yang diharapkan karena sebagian siswa melaksanakan prakerin tidak sesuai dengan jurasan di sekolah. Hal inilah membuat sebagian siswa mempersepsikan penempatan prakerin yang masih ada kelemahan walaupun sebagian besar pada umumnya mempersepsikan penerimaan atau penempatan siswa/siswi di dunia usaha dan dunia industri adalah baik. Pelaksanaan prakerin terkadang dilakukan pada saat yang kurang tepat, sehingga akhirnya menghambat proses kerja perusahaan.

Sampai saat ini proses prakerin tetap dilakukan secara tepat, yaitu disesuaikan dengan jurusan setiap siswa. Langkah ini dilakukan untuk tujuan prakerin dapat tercapai, sehingga tujuan untuk memberikan tambahan kemampuan akan ketrampilan dari prakerin dapat terlaksana dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian tergambar bahwa siswa menilai bahwa kesesuaian antara kompetensi maupun materi yang dimiliki oleh siswa dengan lokasi prakerin sudah baik. Serta menilai adanya kesesuaian antara tuntutan yang ada di DU/DI tempat prakerin  dengan kurikulum yang didapat di bangku sekolah.

Salah satu tujuan prakerin lainnya adalah bagaimana siswa mampu meningkatkan kompetensi setelah prakerin atau menyelami dunia kerja, dan dengan sendirinya pada saat prakerin mereka akan secara terus menerus akan melaksanakan tugas yang dilakukan adalah mengerjakan pekerjaan bagian dari DU/DI sehingga siswa dapat   mencoba menggali potensi yang ada dalam dirinya, setidaknya ada yang mampu diambil dari pelaksanaan prakerin sehingga dapat meningkatkan kompetensi.

Pelaksanaan prakerin yang selama ini diikuti, siswa mampu memberikan kontribusi pada peningkatan kemampuan dan ketrampilan maupun pengalamannya, dengan kata lain mereka menilai kompetensi prakerin sudah baik dan sesuai harapan serta  mereka menilai kompetensi prakerin sudah cukup memadai. Hal ini disesuaikan dengan kemampuan siswa itu sendiri dan juga waktu yang disediakan DU/DI, oleh karena itulah untuk pelaksanaan prakerin, siswa diberi tugas tidak terlalu berat dan mengandung banyak resiko, yang kelak juga tidak akan membuat sistem DU/DI terganggu.

Siswa menilai bahwa fasilitas prakerin yang dimiliki oleh DU/DI sudah baik memadai. Siswa tidak mengalami kesulitan dalam menggunakan peralatan,  baik dari segi jumlah maupun kualitasnya sesuai dengan kebutuhan, dimana sekolah menginginkan ketika prakerin usai kelak akan ada penambahan kemampuan dalam pengoperasian perlengkapan kerja, yang tentunya diharapkan memiliki karakter yang lebih baik dari yang dimiliki oleh sekolah.

Intensitas bimbingan yang dilaksanakan  ketika prakerin adalah baik persepsi ini dirasakan oleh siswa berdasarkan atas adanya proses prakerin yang secara langsung siswa dituntut untuk mampu bekerja secara mandiri. Akan tetapi, penjelasan proses kerja yang hanya diberikan secara sekilas pada awal kerja saja ternyata masih jauh dari yang diharapkan siswa, dengan demikian selanjutnya diawasi secara terus pada proses kerja. Mereka menginginkan proses transformasi ilmu tetap dilakukan selama prakerin berlangsung. 

Siswa menyadari bahwa dalam pelakanaan prakerin, instruktur atau pegawai tidak mampu memberikan bimbingan secara total, mengingat tugas yang dimilikinya juga banyak. Karena itulah proses pembimbingan yang telah dilakukan dianggap memadai dan proposional. Jadi proses pembimbingan prakerin dilakukan disela-sela mereka melaksanakan rutinitas kerjanya, antara pelaksanaan tugas dan pembimbingan dapat berjalan beriringan.

Pada proses pelaksanaan prakerin, yang membutuhkan adalah pihak sekolah sehingga yang menjadi pemrakarsa adalah pihak sekolah itu sendiri. Sekolah adalah pihak yang akan menyusun perencanaan pembekalan, mengurus prakerin dan melakukan evaluasi pada hasil prakerin. Karena itulah kinerja sekolah tidak dapat dikesampingkan dari pelaksanaan prakerin. Sebagian besar siswa menilai bahwa sekolah sudah baik dalam menerapkan sistem prakerin,  yang ada selama ini.

Tanggapan kepada DU/DI terhadap pelaksanaan prakerin adalah sudah baik. Kondisi ini disebabkan karena selama ini instuktur dan pembimbing industri memberikan pelayanan selama siswa melaksanakan praktik kerja dan di samping hal tersebut pembimbing industri sangat menguasai kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri di tempat prakerin, serta bersikap dan berpenampilan memberikan teladan yang baik bagi siswa.

Secara umum, siswa mempunyai persepsi pelaksanaa yang dilakukan oleh pihak siswa, sekolah maupun DU/DI adalah baik.

 

Evaluasi Prakerin

Program Praktik Kerja Industri adalah program kerjasama antara pihak sekolah dan dunia industri. Setiap tahapan program harus terlaksana dengan baik agar hasil yang dicapai maksimal. Untuk mengetahui apakah suatu program sudah berhasil atau tidak, perlu dilakukan evaluasi pada setiap tahapan program tersebut. Evaluasi program dimaksudkan untuk melihat pencapaian target dilihat dari tujuan yang dirumuskan dalam tahap perencanaan kegiatan.

Karena itulah diperlukan sistem evaluasi yang memungkinkan untuk menemukan kelemahan yang terjadi, yang menyebabkan adanya tujuan yang tidak tercapai. Langkah ini juga dapat diterapkan dalam melakukan evaluasi prakerin yang berhubungan dengan pihak yang terkait, yaitu siswa, sekolah maupun DU/DI.

Siswa menilai evaluasi terhadap pelaksanaan  prakerin adalah baik, hal ini dapat diketahui dari bentuk evaluasi setiap kegiatan atau tes keterampilan yang dilaksanakan oleh instruktur atau pembimbing industri di tempat prakerin. Sistem evaluasi dilakukan secara tertulis maupun kompetensi, terutama yang dilakukan oleh DU/DI. Bentuk  evaluasi yang diterapkan selama ini adalah  pada nilai harian dan juga tes lisan yang dilakukan oleh instruktur. Bentuk lain  penilaian ini juga masih ditambah dengan penilaian dari uji kompetensi yang dilaksanakan pada masa akhir pelaksanaan prakerin. Semua disesuaikan dengan karakteristik tugas yang diberikan selama prakerin. Penilaian uji kompetensi terhadap hasil prakerin dilakukan secara objektif, yaitu tidak hanya dinilai dari satu sisi aspek teknis  saja yang berupa keterampilan, tetapi juga penguasaan aspek nonteknis yaitu disiplin, etika, inisiatif, kerjasama, dan tanggung jawab lainnya yang telah ditentukan sebelumnya.

 

PENUTUP

Kesimpulan

1.      Partisipasi dunia industri pada persiapan program pelaksanaan praktik kerja industri (Prakerin) bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Malang adalah baik, hal ini dapat ditinjau melalui perencanaan tempat, perencanaan waktu, perencanaan kurikulum/kompetensi, pembekalan siswa/siswi dan kerjasama antar pihak sekolah dengan DU/DI, indikator yang dinilai memiliki kontribusi terbesar atau paling kuat membentuk variabel persiapan prakerin adalah kerjasama antara pihak sekolah dengan DU/DI. Hasil ini menunjukan bahwa persiapan prakerin sekolah perlu membuat target peningkatan kompetensi yang harus dicapai selama melaksanakan prakerin. Selain itu, kompetensi yang diperoleh siswa/siswi di sekolah sesuai  dengan kondisi tempat prakerin.

 

2.      Partisipasi dunia industri pada pelaksanaan program praktik kerja industri (Prakerin) bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Malang. sudah baik, hal ini dapat dilihat melalui penerimaan/penempatan siswa/siswi di DU/DI, kesesuaian antara DU/DI dengan sekolah, kompetensi yang diberikan/diterima oleh siswa/siswi prakerin, fasilitas yang disediakan oleh sekolah/DU/DI, bimbingan/Monitoring yang dilakukan oleh pihak DU/DI, indikator yang dinilai memiliki kontribusi terbesar atau paling kuat membentuk variabel pelaksanaan prakerin adalah bimbingan/monitoring yang dilakukan DU/DI. Hasil ini menunjukan bahwa pelaksanan prakerin perlu melakukan intensitas pembimbingan dan pengawasan oleh pembibing industri. Selain itu, perlu dilakukan monitoring yang dilakukan oleh guru sekolah saat berlangsungnya pelaksanaan prakerin.

 

 

3.      Partisipasi dunia industri pada kegiatan evaluasi program Praktik Kerja Industri (Prakerin) bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Malang. sudah baik, hal ini dapat diketahui dari bentuk evaluasi setiap kegiatan atau tes keterampilan yang dilaksanakan oleh instruktur atau pembimbing industri . Sistem evaluasi dilakukan secara tertulis maupun uji kompetensi, bentuk evaluasi yang diterapkan adalah dari nilai harian dan juga tes lisan yang dilakukan oleh instruktur. Bentuk lain  penilaian adalah uji kompetensi yang dilaksanakan pada masa akhir pelaksanaan prakerin. Penilaian uji kompetensi terhadap hasil prakerin dilakukan secara objektif, tidak hanya dinilai dari sisi aspek skill  saja yang berupa keterampilan, tetapi juga penguasaan aspek sikap yaitu disiplin, etika, inisiatif, kerjasama, dan tanggung jawab , indikator yang dinilai memiliki kontribusi terbesar atau paling kuat dalam membentuk variabel evaluasi prakerin adalah uji kompetensi.

 

Saran

Berdasarkan hasil yang diperoleh serta kesimpulan tersebut, maka saran-saran sebagai berikut:

 

1.      Kepada pihak DU/DI dan sekolah diharapkan dapat mempertahankan kerjasama yang sudah berjalan dengan baik, hasil ini menunjukkan bahwa persiapan prakerin sesuai target peningkatan kompetensi yang harus dicapai selama melaksanakan prakerin. Selain itu kompetensi yang diperoleh siswa/siswi disekolah sesuai dengan kondisi tempat prakerin.

 

2.      Bagi pembimbing dan pendamping industri perlu meningkatkan intensitas bimbingan, karena peserta prakerin masih kurang memiliki kemandirian, dan dunia kerja yang relatif baru bagi siswa, hal itu merupakan suatu proses yang membutuhkan bimbingan yang lebih mendalam dan hendaknya pihak sekolah memperhatikan agenda monitoring siswa peserta prakerin agar kegiatan prakerin siswa di industri bisa optimal.serta pihak industri memberikan penekanan pada masalah budaya kerja yang berlaku pada instansi pemerintah maupun swasta. sehingga para siswa akan dapat menyesuaikan diri dengan mudah.

 

3.      Evaluasi dan uji kompetensi yang dilaksanakan pada saat prakerin oleh industri sudah tersusun dengan baik, penilaian uji kompetensi terhadap hasil prakerin dilakukan secara objektif, tidak hanya dinilai dari sisi aspek skill saja yang berupa keterampilan, tetapi juga penguasaan aspek sikap yaitu disiplin, etika, inisiatif, kerjasama, dan tanggung jawab , hal tersebut perlu dipertahankan untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam penguasaan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi di dunia kerja. Dengan demikian, peserta Prakerin dapat mengaplikasikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh secara maksimal.

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. 1992. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta: Rineka Cipta.

Augusty, Ferdinand. 2006. Pedoman Penelitian Untuk Penulisan Skripsi, Tesis dan Disertasi Ilmu Manajemen. Semarang: Universitas Diponegoro.

Depdikbud. 1994. Konsep Sistem Ganda pada Pendidikan Menengah Kejuruan di Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Depdikbud. 1995. Pendidikan Sistem Ganda Strategi Operasional Link and Match pada Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdikbud.

Djojonegoro, Wardiman. 1994. Pengembangan Sumber Daya Manusia Melalui Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdiknas.

Hasibuan, Malayu. 1991. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Husein, Umar. 2002. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Latunussan, I. 1988. Penelitian Pendidikan Suatu Pengantar. Jakarta: Proyek Pengembangan LPTK

Muharam, La Ode. 1995. Mekanisme Pelaksanaan Pendidikan dengan Sistem Magang Sebagai Implementasi Link and Match. Jurnal Pendidikan, Haluoleo. 8 (14): 69-78.

Nazir, Moh. 1998. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Nurharjadmo, Wahyu. 2008. Evaluasi Implementasi Kebijakan Pendidikan Sistem Ganda Di Sekolah Kejuruan. Jurnal Pendidikan, Spirit Publik,  Volume 4, Nomor 2, Halaman: 215 – 228.

Pakpahan, Jorlin. 1994. Sistem Ganda pada Sekolah Menengah Kejuruan: Implementasi Link and Match dalam Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Disajikan dalarn Seminar Nasional Forum Komunikasi FPTR se Indonesia 28 November 1994 di Surabaya.

Peraturan Pemerintah. No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, Jakarta:Republik Indonesia.

Sadiman, A., dan Haryono, Rahardjito. 2005. Media Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Setiaji, Bambang. 2004. Panduan Riset dengan Pendekatan Kuantitatif. Surakarta: Pascasarjana UMS.

Singarimbun, Masri. & Effendi, Sofyan. 1989. Metode Penelitian Survai.

Jakarta: LP3ES.

Sudjana. 1992. Metoda Staistika. Bandung: Tarsito.

Sugiono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatifdan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2009. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sumadi, Suryabrata. 2000. Metode Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sunaryo. 1996. Tanggapan Dunia Usaha Terhadap Program Link and Match. Jurnal Kependidikan. 26 (1): 25-36.

Suriansah, Ahmad. 2007. Manajemen Peran Serta Masyarakat Dalam Pengembangan Pendidikan Persekolahan. Jakarta: Depdiknas.

 

 

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG