SINERGI ANTARA DINAS PU CIPTA KARYA JATIM, PT. SEMEN GRESIK, DAN VEDC MALANG UNTUK MENCETAK PEKERJA KONSTRUKSI MENJADI JUARA NASIONAL

SINERGI ANTARA DINAS PU CIPTA KARYA JATIM, PT. SEMEN GRESIK, DAN VEDC MALANG UNTUK MENCETAK PEKERJA KONSTRUKSI MENJADI JUARA NASIONAL

Oleh: Supono, S.Pd., ST., MT. (Widyaiswara Departemen Bangunan PPPPTK BOE/VEDC Malang)

 

 Tradisi menjadi juara umum sejak tahun 2008 kembali ditorehkan oleh kontingen Jawa Timur pada Lomba Pekerja Konstruksi Tingkat Nasional 2012. Lomba ini diselenggarakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta pada tanggal 9 sampai dengan 11 Oktober 2012. Dengan mengirimkan 11 kompetetitor, kontingen Jawa Timur berhasil mempertahankan sebagai juara umum dengan meraih Juara I untuk 4 bidang lomba, Juara II dan Juara III masing-masing untuk 1 bidang lomba.

                                              

     Kontingen Jawa Timur Berpose Bersama Setelah Menerima Piala dan Penghargaan

Tabel Daftar Juara

Delegasi Jawa Timur didampingi oleh offisial 3 orang dari Dinas PU Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa Timur dan 1 orang dari PT. Semen Gresik . Sedangkan pendamping untuk masing-masing bidang lomba berasal dari PPPPTK/VEDC Malang yaitu Perkayuan (Drs. Singgih Budi Sayoga), Plambing (Supono, S.Pd., S.T., M.T.), Pemasangan Batu (Bambang Sugiyanto, S.Pd., S.T., M.M.Pd.), Pembesian (Amin Zainullah, S.Pd., S.T., M.T.), dan Elektrikal (Jaka Kiryanta, S.T.).

Sebelum diberangkatkan ke Jakarta, para kompetitor menjalani pelatihan selama 3 hari di VEDC Malang mulai tanggal 2 sampai dengan tanggal 4 Oktober 2012. Materi yang diberikan sebagian besar adalah praktek, dan hanya sebagian kecil berupa materi teori pendukung. Pelatihan ini bertujuan untuk melatih para kompetitor dalam hal keterampilan, ketepatan dan kecepatan dalam bekerja.

Tiga Pihak yang Berperan

Pada kegiatan lomba ini, ada tiga pihak yang berperan yaitu:

1.  Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa Timur.

Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa Timur merupakan pihak pengirim delegasi ini mewakili Provinsi Jawa Timur. Disamping itu Dinas PU juga sebagai penyandang dana. Dana tersebut untuk keperluan kontingen seperti biaya training kompetitor, transport dan lain-lain. Ada 3 offisial yang berasal dari Dinas PU yaitu Ir. Nuraini Maimurti, M.M., Hariati Asmarantaka dan Bambang Sukardono, S.T., M.T.

2.  PT. Semen Gresik, Tbk.

PT. Semen Gresik Tbk. berperan sebagai sponsor pada kegatan lomba ini. Dari total biaya yang dikeluarkan untuk keperluan lomba, sebagian didanai oleh PT. Semen Gresik Tbk. Ada 1 offisisial dari PT. Semen Gresik Tbk. yaitu Fery Hukom dan didampingi oleh 1 orang Event Organizer (EO) yaitu Hery Supriyanto.

3.  PPPPTK/VEDC Malang.

PPPPTK/VEDC Malang mempunyai peran untuk mengorganisir dalam rangka mencari calon kompetitor dari seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Timur, melakukan seleksi calon kompetitor, dan melatih kompetitor di  PPPPTK/VEDC Malang. Disamping itu tugas lainnya yaitu menyiapkan peralatan yang akan digunakan untuk lomba dan menyiapkan pendamping yang mendampingi kompetitor selama lomba. Delegasi dari PPPPTK/VEDC Malang dipimpin oleh Amin Zainullah, S.Pd., S.T., M.T.

Lomba Pekerja Konstruksi

Lomba Pekerja Konstruksi Tingkat Nasional tahun 2012 ini bertujuan agar para tenaga kerja konstruksi dapat bersaing secara sehat dalam meningkatkan kompetensi kerja sesuai bidang kerja yang digelutinya, sehingga dapat meningkatkan respon pasar kerja Jasa Konstruksi untuk dapat memanfaatkan tenaga terampil yang kompeten dari para pekerja konstruksi.

Selain itu, kegiatan lomba ini juga bertujuan untuk meningkatkan jejaring kerja (networking) antara para pelaku konstruksi dan pembinanya di tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan nasional. Dengan terselenggaranya kegiatan ini diharapkan dapat mendukung perkuatan institusi daerah (institutional strengthening) dengan mendorong pembentukan asosiasi/paguyuban untuk tukang dan mandor sebagai wadah berhimpunnya para pekerja konstruksi dalam memperjuangkan kepentingan serta meningkatkan kualitas diri dan sekaligus sebagai wadah untuk bertukar informasi maupun mendapatkan informasi bursa kerja jasa konstruksi.

Peserta yang mengikuti lomba ini adalah para pekerja konstruksi sesuai dengan bidang yang dilombakan yang berasal dari utusan/wakil-wakil dari:

1.    Asosiasi Perusahaan

2.    Asosiasi Profesi

3.    Pembina Jasa Konstruksi di setiap provinsi

4.    Praktisi/Vendor dari produsen

Ada 7 bidang lomba yang dilombakan dalam Lomba Pekerja Konstruksi Tingkat Nasional 2012 yaitu:

1.    Perkayuan

2.    Plambing

3.    Pemasangan Batu

4.    Pembesian

5.    Elektrikal

6.    Installer Baja Ringan

7.    Operator Excavator

Kegiatan lomba ini bersifat perseorangan dimana kegiatan lomba didasarkan kepada kemampuan perseorangan dalam menyelesaikan tugasnya, kecuali untuk Installer Baja Ringan yang dilaksanakan beregu yaitu 3 orang (1 Installer dan 2 Asisten).

Pelaksanaan Lomba Pekerja Konstruksi Tingkat Nasional 2012 ini diselenggarakan di Balai Pelatihan Konstruksi dan Peralatan Jakarta, Jalan Dr. Suratmo No. 1 Jakarta Pusat.

Kriteria penilaian yang digunakan pada Lomba Pekerja Konstruksi Tingkat Nasional 2012 yaitu:

1.    Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), sebesar 20%

2.    Penilaian Obyektif Hasil (Mutu), sebesar 40%

3.    Penilaian Subyektif (Mutu), sebesar 30%

4.    Penilaian Ketepatan Waktu, sebesar 10%

                      

Kontingen foto bersama dengan Kepala Dinas PU Cipta Karya dan Tata Ruang Prov. Jatim Bpk Ir. Gentur Prihantono, S.P., M.T (duduk nomor dua dari kiri)

 

 

TEKNIK FINISHING KAYU

TEKNIK FINISHING KAYU

Hartiyono (Widyaiswara Madya )
Departemen Bangunan PPPPTK BOE / VEDC Malang

 

ABSTRAK

Pekerjaan finishing kayu adalah rangkaian terakhir dari seluruh proses produksi di dalam industri perabot kayu, rotan, dan juga bagian bangunan yang menggunakan bahan dari kayu. Yang dimaksud dengan pekerjaan finishing kayu adalah melakukan pelapisan atau pengolesan resin atau suatu zat ke permukaan kayu sehingga mendapatkan manfaat tertentu.

Manfaat dari pekerjaan finishing kayu adalah meningkatkan nilai: keindahan substrat kayu; keawetan bahan kayu; keteguhan gesek dan pukulan; guna bahan kayu; dan komersial kayu. Agar manfaat finishing dapat dicapai secara maksimal, maka perlu mengantisipasi hal-hal yang sangat merugikan selama proses aplikasi,

 

A.   Latar Belakang

Ketergantungan pada jenis-jenis kayu komersil tersebut menyebabkan penggunaan kayu menjadi tidak efisien dan kurang menguntungkan. Upaya untuk tetap memenuhi jumlah permintaan yang terus meningkat yaitu dengan mengganti jenis kayu komersil dengan jenis kayu lain yang memiliki kualitas sama dengan jenis kayu komersil.

Kelemahan yang dimiliki kayu non komersil yaitu mudah terserang oleh faktor perusak, baik faktor biologis maupun non biologis. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu perlakuan khusus, salah satunya yaitu dengan melakukan finishing. Finishing yaitu melapisi bagian permukaan kayu dengan bahan berasal dari cat. Selain itu dilakukan perbaikan terhadap sifat-sifat tertentu dari jenis kayu non komersil yang diharapkan dapat menjadi produk subsitusi dari jenis kayu komersil yang bermutu tinggi ( Amarullah, 2005).

 

B. Tujuan Finishing Kayu

  1. Memberikan nilai estetika yang lebih baik pada perabot kayu dan juga berfungsi untuk menutupi beberapa kelemahan kayu dalam hal warna, tekstur atau kualitas ketahanan permukaan pada material tertentu.
  2. Melindungi kayu dari kondisi luar (cuaca, suhu udara dll) ataupun benturan dengan barang lain
  3. Memberi nilai tambah pada suatu produk meubel (memperindah produk agar memeliki nilai jual yang tinggi), Dan memberi perlindungan pada meubel tsb.
  4.  Meningkatakan nilai keindahan subtract kayu,keawetan kayu,keteguhan gesek,dan pukulan.

 

C. Pengertian Finishing Kayu

Finishing untuk kayu (wood finish) adalah suatu proses pelapisan akhir pada permukaan kayu atau material lain yang berbahan dasar kayu dengan tujuan untuk : Meningkatkan nilai estetika Melindungi permukaan kayu dari kerusakan memberi lapisan yang mudah untuk pemeliharaan/perawatan. 

 

D.   Aplikasi Finishing Kayu

Bahan yang mahal tidak menjamin hasil finishing yang baik dan berkualitas. Banyak faktor yang ikut menentukan kualitas hasil finishing. Cara aplikasi merupakan  salah satu faktor yang penting menentukan kualitas hasil. Ada beberapa cara aplikasi finishing menyesuaikan dengan jenis bahan dan kualitas akhir yang diinginkan. Satu jenis bahan finishing tidak menutup kemungkinan untuk memakai lebih dari satu cara aplikasi. Berikut ini beberapa cara aplikasi finishing.

 

 

1. Dipping (celup) .Lebih dikenal juga dengan istilah perendaman. Bahan finishing diletakkan dalam suatu bejana/tangki kemudian benda kerja dicelupkan ke dalam tangki tersebut. Proses in bertujuan agar seluruh permukaan benda kerja, terutama pada bagian sudut & tersembunyi bisa terlapisi bahan finishing. Seperti pada gambar 1

                          

 
 

( Gambar 1 ) Finishing Dipping / Celup

 

2. Wiping (pemolesan dengan kain) Proses ini sebaiknya tidak dipakai sebagai proses awal/dasar. Walaupun demikian beberapa bahan finishing tertentu hanya bisa diaplikasikan dengan cara ini, misalnya politur. Kualitas permukaan lebih baik dari proses celup tapi membutuhkan waktu lebih lama. Seperti pada gambar 2.

 

Description: http://2.bp.blogspot.com/-LKlTFoxdblE/T4Jrr1wznFI/AAAAAAAAA7g/mVsDPDGv6mM/s1600/wood.jpg                

 
 

( Gambar 2) Finishing Pemolesan dengan  kain

 
       3. Brush (kuas).Merupakan cara paling murah dan mudah di antara yang lain.      Hanya saja harus hati-hati dalam memilih kuas yang berkualitas. Bahan finishing yang cocok untuk cara ini termasuk cat, varnish dan pewarna. Sebagaimana ujung kuas, hasil permukaan finishing tidak sehalus dan serata aplikasi spray atau poles. Seperti pada gambar 3

Description: http://3.bp.blogspot.com/-OENvzYM7f40/T3lGcCAHXKI/AAAAAAAAA5A/o9_AjngHRAw/s1600/finishing+kayu.jpg               

 

 
 

( Gambar 3 ) Finishing  Brus / Kuas

 
 
 
 
 
 
4.Dengan pengaturan tertentu pada kekuatan tekanan, jumlah material yang disemprotkan, cara ini menghasilkan bidang permukaan yang sangat baik, halus dan cepat. Saat ini metode spray menjadi dasar dari hampir semua jenis bahan finishing lacquer dengan berbagai variasi jenis alat semprot (sprayer), dari yang manual hingga otomatis.Proses yang bisa dilakukan dengan cara spray meliputi lapisan dasar, pewarnaan (lapisan kedua) hingga lapisan akhir. Seperti gambar 4.                       Description: Furniture Finishing Semprot Melamine

                                                                       

 
 

( Gambar 4 ) Finishing Spray /  Semprot

 
 

5. Shower (curah) Metode ini diimplementasikan pada mesin finishing curtain (tirai), bahan finishing dicurahkan ke permukaan benda kerja dengan volume dan kecepatan tertentu sehingga membentuk lapisan tipis di atas permukaan benda kerja. Cara pengeringannya tergantung bahan finishing yang digunakan. Kebanyakan digunakan oleh pabrik flooring (parket) atau furniture indoor lainnya yang memakai papan buatan.

6. Rolling. Prinsipnya sama  dengan roller yang dipakai untuk mengecat tembok, tetapi yang dimaksud disini adalah alat aplikasi sebuah mesin roller yang seluruh permukaannya terbalut dengan bahan finishing cair dan benda kerja (papan) mengalir di bawahnya. Hanya roller bagian atas yang terbalut dengan bahan finishing, sedangkan roller bagian bawah hanya berfungsi untuk mengalirkan benda kerja ke dalam mesin. Jenis bahan finishing yang digunakan adalah UV lacquer,melamine,NC lacquer.Seperti pada gambar 5.

 

 
 

( Gambar 5 ) Finishing  Rolling

 

ESpraygun Sebagai Alat Aplikasi

 

Spraygun atau pistol semprot adalah alat yang biasa digunakan untuk mengaplikasikan bahan finishing pada furnitur. Berbagai jenis pistol semprot yang biasa digunakan untuk aplikasi finishing furnitur kayu, diantaranya adalah pistol semprot bertabung dibawah ( gambar 1), pistol semprot bertabung diatas

 ( gambar 2) dan pistol semprot bertabung sentral berupa tangki ( gambar 3). Masing-masing jenis ada kelemahan dan kelebihannya

 

Jenis Pistol Semprot

Kelebihan

 

Tabung Bawah ( 1 )

Isi tabung 0,5 liter atau 1 liter.

Cocok untuk aplikasi bidang yang agak luas dengan warna yang sama

 

Tabung Atas ( 2 )

Isi tabung 0,2 liter.

Tabung dapat distel atau diatur kemiringannya, artinya semprotan bisa kesemua arah

 

Tabung Sentral ( 3 )

Isi tabung cukup banyak, bisa mencapai 20 liter. atau lebih, jadi cocok untuk produksi massal.

Semprotan kesemua arah

 

 

( Gambar 6 ). Jenis Pistol Semprot

 

F.    Teknik Semprot  Menggunakan Sprigun

Penyemprotan  sangat mempengaruhi  hasil finishing, dimana pistol  semprot yang telah dipersiapkan  dengan baik  tidak akan berarti  apabila tidak disertai  pengendalian yang  benar selama  proses aplikasi.Di samping itu, perlakuan terhadap bermacam-macam bentuk, posisi, dimensi  dan keadaan benda  kerja  harus dikuasai. Agar diperoleh hasil yang optimal dalam aplikasi dengan menggunakan spraygun, haruslah dikuasai hal-hal sbb :

     

a.    Perlengkapan  Pistol Semprot

Perlu diperhatikan  akan kelengkapan  atau  fasilitas  yang dimiliki oleh  pistol semprot, hal ini akan  berguna  bagi  peningkatan kuantitas  maupun kualitas hasil penyemprotan.   Pistol semprot dikatakan  mempunyai  kelengkapan yang  baik jika  memiliki minimal seperti gambar - 7

 
 

( Gambar 7 ) Pistol Semprot

 
 

 

 


Pistol semprot dikatakan mempunyai kelengkapan yang baik bila memiliki:

1. Saluran Udara                                        8. Jarum Pembuka Cairan

2. Katup Penutup Udara                           9. Tudung Semprot Cairan           

3. Pengatur Volume Cairan .                   10.Tudung Semprot Udara

4. Pengatur Bentuk Pancaran                 11.Udara untuk Pancaran Melebar

5. Tingkat Pancar Pengatur                     12.Udara untuk Pancaran Bundar

Bundar-Lebar.                                             13.Pengatur 

6. Tabung Atas Cairan                              14.Penarik Semprotan

7. Aliran Cairan .                                        15.Penutup Udara

b.   Jenis Pancaran

Jenis pancaran  harus sesuai  dengan kedudukan  dan bentuk  benda kerja. Pancaran  datar  dan tegak  dipakai  untuk benda  lebar serta kedudukannya  vertical dan mendatar,  sedang untuk benda  sempit (kecil) digunakan pancaran  yang bundar  atau vertical, dengan  gerakan  penyemprotan  yang cepat seperti gambar-8

 

 
 

c.  Jarak  Semprot

Description: http://4.bp.blogspot.com/-J8u3joRzjdo/UQXmZp2J8-I/AAAAAAAAAKk/449cnc7nxHU/s320/jarak+semprot.JPGJarak semprot  antara  ujung pistol dengan  permukaan benda kerja, umumnya 15-20 cm. Bila  jarak  semprot  terlalu kecil, serta volume  keluaran  tidak disesuaikan, akan timbul cat yang meleleh  atau  mengalir kebawah. Bila jarak pistol  terlalu jauh, partikel cat  menjadi kering  sebelum menempel dipermukaan kayu atau benda kerja, lihat gambar-9

                           

( Gambar 8 ) Jenis Pancaran

 
              (Gambar . 9) Jarak Semprot

d.    Sudut Semprot

Pistol semprot  sedapat mungkin diarahkan  tegak lurus  pada benda kerja. Pistol semprot yang miring  mengakibatkan  penyemprotan cat tidak merata.

Hanya gerakan pistol  yang sejajar dan tegak  lurus  dengan bidang semprot menjamin hasil penyemprotan yang merata, 

gambar - 10

           

 
 

( Gambar 10 ) Sudut Semprot Semprot

 
 

 


e.    Tekanan Angin

Description: http://www.nbyuanding.com/tubig/ac3000.jpgTekanan  angin, diatur sebesar    1 – 5  bar. Bagi  pistol yang tanpa  alat  pengatur  tekanan udara, dapat  dilakukan pengaturan tekanan dengan menyetelan  pada regulator udara, yang pada umumnya  menjadi satu dengan  filter penampung  air pipa instalasi, seperti gambar - 11

                     

 
 

( Gambar 11 ) Regulator Semprot

 
 

 

 


F. Kesimpulan

 

1.    Memilih jenis pistol yang sesuai,  Memeriksa Kelengkapan  Pistol Semprot, Mengatur  Bentuk  Pancaran, Mengatur Bidang Pancaran, Tekanan Angin, Menyesuaikan Jenis Pancaran, Mengatur  Jarak  Semprot, Mengatur Sudut Semprot, Mengatur Kecepatan Semprot, Mengatur Jumlah Volume  Bahan yang Keluar, dan Mengatur Tekanan Angin

 

2.    Pelapis transparan sangat cocok digunakan untuk jenis kayu yang memiliki serat alami yang halus dan indah sehingga dengan menggunakan pelapis transparan ini keindahan dari kayu masih tampak jelas. Tetapi dari ke empat jenis pelapis di atas, Anda perlu memperhatikan sirkulasi udara pada ruangan Anda jika Anda menggunakan pelapis melamine.

 

3.    sedangkan sistem melamine lapisan film bersifat lebih rapat dan

    datar menutup semua permukaan    pori-pori kayu (close pore )

Daftar Pustaka

1.    Agus Sunaryo, (1995). Peningkatan Produktivitas Bagian Finishing Melalui Aspek Aplikasi. Semarang: Pusat Pengembangan & Pelatihan Industri Kayu (PPPIK-PIKA).

2.    Agus Sunaryo. ( 1997).Reka Oles Mebel Kayu, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

3.    Derrick, Crump (1993). The Complete Guide to Wood Finishes. Australia: Simon&         Shuster

4.    http://www.tentangkayu.com/2008/01/jenis-bahan-finishing-kayu.htm

5.    http://www.tentangkayu.com/2008/01/aplikasi-finishing-kayu-saat-ini.html

6.    Dumanauw, J. F. 2003. Mengenal Kayu. Kanisius. Yogyakarta.

7.    H. Lanz. “ Fachkunde Tischler, Mobel fur Buro, Haus und Garten “    Mannheim

8.    Khoilid. Bahan Ajar “ Finishing Sistim Melamin “ PPPPTK Medan

9.    Meiji.  “ Buku Manual Spraygun “

10.Propan Raya. PT. “ Brosur Finishing  Melamin Kayu  dan Rotan “

11.         Sunaryo. Agus.. “ Reka Oles Mebel Kayu “. Kanisius Yogyakarta.

ASPEK – ASPEK PEMELIHARAAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH

ASPEK – ASPEK PEMELIHARAAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH

Oleh : Santoso Ahmad

 

1.            Pendahuluan

 

            Terdapat banyak potensi gangguan keselamatan kerja di sekeliling instalasi pengolahan limbah cair. Berfikir keselamatan dapat mengurangi timbulnya kecelakaan. Seseorang harus melindungi dirinya dari kemungkinan kecelakaan dengan jalan memakai pelindung kaki, menjaga bidang jalan bebas (agar bersih), segera membersihkan potongan-potongan yang berserakan, mematikan atau mengunci tenaga listrik sebelum merawat mesin/peralatan.

Para pekerja operator harus bertindak hati-hati guna mencegah terinfeksi oleh penyakit menular melalui air. Pada setiap saat, terdapat beberapa orang di masyarakat dalam kondisi sakit, bakteri penyakit dan virus dari orang-orang ini dalam limbah cair akan mencapai instalasi limbah. Bila mencuci peralatan seperti pompa, bar screens, dan kanal butiran pasir,operator harus memasukkan tangannya ke dalam limbah cair mentah. Demikian pula alat-alat yang digunakan dalam bekerja sering menjadi terkontaminasi. Oleh karena itu, semua operator harus memelihara kebersihan masing-masing dengan sebaik-baiknya. Mencuci tangan sebelum makan merupakan keharusan.

Praktek yang baik adalah mengganti baju kerja sebelum pulang ke rumah. Baju kerja yang telah dipakai di instalasi pengolahan limbah cair harus dicuci secara terpisah dengan cucian keluarga.

 

 

2.            Keselamatan Kerja

 

            Seseorang pekerja sebagai operator mempunyai tanggung jawab melindungi diri sendiri maupun karyawan lainnya serta para pengunjung dengan cara membuat prosedur keselamatan di instalasinya dan memantau apakah prosedur tersebut dijalankan.

            Pekerja harus melatih diri sendiri untuk menganalisa pekerjaan, lingkungan kerja, dan prosedur-prosedur lainnya dari sisi keselamatan kerja. Dia harus mampu mengenali tindakan atau kondisi yang berpotensi berbahaya. Ketika mengetahui suatu resiko/bahaya, langkah cepat harus diambil untuk mengeliminasinya dengan tindakan yang benar. Jika pembetulan tidak mungkin dilakukan, dia harus mengantisipasi resiko/bahaya dengan penggunaan peralatan dan tanda bahaya yang tepat dengan cara membuat dan menetapkan prosedur keselamatan.

Dibalik setiap kasus kecelakaan selalu terdapat  rangkaian kejadian yang berasal dari tindakan, kondisi yang tidak aman, atau kombinasi dari keduanya.

 

“KECELAKAAN TIDAK TERJADI BEGITU SAJA, MELAINKAN ADA PENYEBABNYA”

 

 

 

3.            Pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air Limbah

 

            Operator instalasi pengolahan air limbah mempunyai banyak tugas. Sebagian besar dari mereka terkait erat dengan pengoperasian instalasi secara efisien.Seseorang operator memiliki tanggung jawab  untuk membuang limbah yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan untuk instalasi tersebut. Dengan melakukan hal ini, operator tersebut telah melakukan hubungan kerja yang baik dengan pihak-pihak pembuat kebijakan, perekreasi/pengelola wisata air, pengguna air, dan tetangga yang berdekatan dengan instalasi tersebut.

            Tugas lain seorang operator adalah pemeliharaan instalasi. Suatu program pemeliharaan yang baik merupakan keharusan untuk mempertahankan keberhasilan pengoperasian instalasi. Program pemeliharaan yang berhasil meliputi semuanya dari peralatan mekanik hingga kepedulian terhadap lingkungan instalasi, bangunan, dan strukturnya.

Pemeliharaan mekanik merupakan hal utama, karena peralatan harus dijaga pada kondisi operasional yang baik agar instalasi berada pada puncak penampilannya.

            Pabrik pembuat peralatan menyediakan informasi dalam bentuk buku manual tentang pemeliharaan mekanik dari peralatan yang dibuatnya. Operator harus membaca secara menyeluruh buku manual untuk peralatan yang ada di instalasinya dan memehami prosedur operasionalnya. Instruksi-instruksi yang ada harus diikuti dengan seksama ketika melakukan pemeliharaan peralatan. Operator juga harus mengenali tugas yang diluar kemampuannya maupun fasilitas perbaikan, dan dia harus meminta bantuan bila diperlukan.

 

3.1.        Pencatatan Pemeliharaan Preventif

 

            Program pemeliharaan preventif membantu karyawan untuk menjaga peralatan dalam kondisi siap operasi dan juga merupakan alat bantu pendeteksian serta pembetulan fungsi bila peralatan-peralatan kurang berfungsi dengan baik, sebelum permasalahan berkembang menjadi lebih besar.

            Kejadian yang sering terjadi dalam suatu program pemeliharaan preventif adalah kegagalan operator mencatat pekerjaan setelah selesai. Bila ini terjadi operator hanya dapat mengandalkan pada ingatannya untuk mengetahui kapan pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan preventif terebut. Dengan bergesernya waktu, lama kelamaaan program ini akan terlupakan begitu saja.

            Agar hal tersebut tidak terjadi, maka sebuah kartu purna tersebut harus diisi setelah selesai service peralatan yang ada pada setiap instalasi . Setiap kartu harus ditulis dengan mencantumkan nama peralatan masing-masing seperti misalnya: pompa lumpur, kompresor, bak ipal dan sebagainya.

 

Yang perlu diperhatikan :

 

·        Catatlah setiap service peralatan yang diperlukan dan diberi nomor.

·        Catatlah setiap service peralatan dalam susunan frekwensi penampilan, misalnya nomor 1, 2,  dan 3 menunjukkan service harian, nomor 4 dan 5 service mingguan, 6, 7, 8, dan 9 service bulanan dan seterusnya.

·        Jelaskan masing-masing jenis service pada kolom pekerjaan.

 

            Pastikan untuk diperlihatkan semua inspeksi dan service yang diperlukan. Untuk data referensi daftar nomor seksi dan frekwensi pelayanan seperti ditunjukkan dalam kolom jadwal. Informasi kartu service dapat dirubah sesuai dengan kebutuhan unit individu terhadap peralatan seperti tercantum dalam manual dari pabrik pembuat produk. Pastikan juga bahwa informasi yang tercantum pada kartu sudah lengkap dan benar.

            Kartu pencatatan service harus mencantumkan tanggal dan jenis pekerjaan yang dilakukan, dilengkapi dengan nomor item serta ditanda tangani oleh operator pelaksana pekerjaan.

 

 

3.1.1 Kartu service peralatan

 

Peralatan : Pompa utama

Item No.

Apa yang perlu dikerjakan

Referensi

Periode

Waktu

1

Perksa packing

 

mingguan

senin

2

Periksa pelumas motor

 

bulanan

1/2/3/4

3

Periksa impeler pompa

 

3 bulanan

1/4/7/10

4

Service pompa

 

6 bulanan

04 Des.

5

dst.

 

 

 

 
 
3.1.2 Kartu riwayat service

 

Peralatan : Pompa utama

Tanggal

Dikerjakan (Item No.)

Pelaksana

Keterangan

Parap

14.4.99

1

Operator

ganti packing

 

14.4.99

3

Inst. 40

perbaikan impeler

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

dst.

 

 

 

 

 

 

4.            Proses Pemeliharaan Unit

 

4.1.        Penyaringan (Screen)

 

            Bar screen/penangkap lemak memerlukan perhatian terus menerus. Ketika kotoran mengumpul di bar, ia akan menyumbat kanal dan menyebabkan limbah cair kembali ke dalam saluran limbah. Semakin banyak kotoran yang mengumpul di bar, semakin besar headloss yang melalui bar screen. Ketika aliran kembali, limbah organik cenderung mengumpul di kanal dan saluran, serta merusakkan oksigen terlarut yang ada di dalam limbah cair. Oleh karena itu berkembanglah kondisi septik, yaitu kondisi terinfeksi oleh bakteri.

            Kondisi septik ini menghasilkan hidrogen sulfat yang menimbulakan bau telur busuk, yang menyebabkan korosi terhadap betonan, logam dan cat, serta kadang – kadang menghasilakn suatu racun dan bersifat eksplosif di udara dalam ruangan  berventilasi jelek. Bila pembersihan bar screen jarang dilakukan, limbah cair dapat mengalir kembali dan menggenangi kanal limbah. Sebaliknya jika bar screen dibersihakan, aliran tiba – tiba limabah cair septik dapat menimbulkan suatu “beban guncangan” pada proses pengolahan limabh. Jadi, kegagalan dalam guncangan limbah cair septik dilepaskan.

 

            Pengoperasian screen dan rak-rak secara rutin akan bergantung pada ukuran instalasi pengolahan limbah, jumlah kotoran dalam libah cair, jumlah limbah cair, serta head loss yang melalui unit.

 

            Bahan yang akan dibuang dari screen sangat bersifat ofensif dan berbahaya. Bahan ini berbau sangat menyengat dan menarik bagi tikus dan lalat. Metode pembuangan yang umum dilakukan adalah dengan penimbunan atau pembakaran.

 

4.2.        Sedimentasi dan Flotation

 

            Setiap tahun selama waktu aliran rendah, masing-masing penjernih harus ditutup untuk keperluan inspeksi, pemeliharaan rutin maupun perbaikan lain yang diperlukan. Meskipun penjernih dan semua peralatan bekerja secara tepat, inspeksi tahunan membantu mencegah timbulnya masalah serius dan kegagalan opersional di masa – masa mendatang.

 

            Sebelum memulai sebuah unit baru atau lama, yang sudah harus menjalani service pembersihan atau reparasi, tangki harus diinspeksi secara hati-hati.

 

            Hal-hal yang harus dicek adalah pintu kontrol agar bekerja baik tangki penjernih untuk pasir dan kotoran, alat-alat mekanik di bawah air agar terpasang dan beroperasi baik, tangki oli atau hoppers, saluran balik untuk kotoran dan barang endapan lain, struktur tangki untuk kemungkinan korosi dan retak, serta indikasi-indikasi lain yang mengarah pada kegagalan struktural.

 

            Sebagian besar pengolahan air limbah yang tidak dapat menghasilkan limbah sesuai harapan pada umumnya dikarenakan oleh kesalahan operator atau kegagalan peralatan. Pekerjaan operator sangat sederhana.

            Dia harus menjamin bahwa endapan padatan yang terakumulasi dibuang dari bagian dasar penjernih sebelum terjadinya daya septik dan gasififkasi. Operator tersebut juga harus menjamin bahan mengambang permukaan (minyak dan gemuk) secara terus menerus atau teratur dihilangkan dan dibuang dari permuakaan air untuk mencegah agar bahan tersebut tidak mencapai aliran pengolahan sekunder.

 

            Kegagalan proses dan peralatan yang disebabkan oleh kesalahan operator meliputi waktu atau frekwensi pembuangan lumpur yang tidak cukup, pemeliharaan dan pengaturan peralatan yang buruk, pengetahuan tentang peralatan dan/atau proses pengolahan yang tidak memadai, ketidakmampuan mengenali masalah kelistrikan-mekanik.

 

            Strategi operasional terbaik adalah mengembangkan serta melaksanakan suatu program pemeliharaan preventif yang baik, memantau kondisi operasional, serta menanggapi berbagai hasil laborat mengindikasikan bahwa masalah sedang berkembang.

 

4.3.        Proses Lumpur Aktif

 

            Instalasi lumpur aktif harus diperiksa setiap hari. Setiap kali kunjungan meliputi pengecekan adanya aerasi dan klarifikasi kompartemen akhir, unit aerasi agar berfungsi baik serta pelumasan, saluran lumpur balik ( jika kift udara tidak mengalir dengan lancar, segera tutup katup outlet, yang mendorong usara mengalir ke bawah serta ke luar. Ini akan menghembuskan udara ke luar dan membersihakan berbagai kotoran. Buka kembali katup buang dan stel aliran lumpur balik yang dikehendaki ), slang bawah tangki aerasi dan kompartemen akhir, tanggul penggosok, serta instalasi pembuangan.

 

            Peralatan aerasi harus diopersikan terus menerus. Pengolahan yang baik jarang dihasilkan dari operasi yang terinterupsi dan karena itu tidak perlu dicoba. Jika peralatan aerasi berfungsi baik hal ini dapat diketahui dari keberadaan air di kompartemen pengendapan serta limbah yang mengalir ke tanggul. Bila airnya berwarna abu-abu dan kompartemen aerasi berbau busuk (H2S), berarti terdapat pasokan air yang tidak cukup. Pasokan udara atau aerasi harus ditingkatkan. Tetapi bila airnya jernih di kompartemen pengendapan, berarti kecepatan aerasi (DO = 2 mg/I).

 

5.            Pemeliharaan Kolam

 

            Pemeliharaan terutama meliputi pengontrolan pertumbuhan vegetasi, pemeliharaan pagar pelindung sekitar kolam, penghilangan gelembing buih yang mungkin terbentuk. Vegetasi cenderung tumbuh ke bawah plengsengan dan ke dalam tepi kolam. Maka perlu menjaga agar plengsengan bebas dari vegetasi sekelilingnyabersih. Jika kolam ada tumbuhan liar, bukan saja penampilannya menjadi jelek, tetapi situs pengembangbiakan nyamuk dan bekicot akan terbentuk menimbulkan bau tidak sedap. Untuk sistem kolam satu atau dua pekerja, dibawah pengawasan yang baik sangatlah memadai untuk melaksanakan tugastugas pemeliharaan.

 

            Karena kolam-kolam kelihatannya sederhana, mereka mungkin lebih diabaikan daripada jenis proses limabah cair lainnya. Berbagai keluhan yang timbul berkaitan dengan kolam adalah hasil dari pengabaian atau pemeliharaan yang buruk.

 

 

 

Kesimpulan:

 

            Catatan-catatan yang menunjukkan bahwa suatu aliran limbah bermutu tinggi tidak akan berdampak kurang baik bagi pengunjung jika fasilitas pengolahan limbah sebuah masyarakat seperti Rumah Sakit kelihatan bersih dan dipelihara dengan baik serta aliran limbahnya tampak jernih.

 

            Hal ini selain memerlukan pembersihan secara manual serta pekerjaan pemeliharaan, juga keterampilan manajemen dan administrasi.

 

            Berkaitan dengan suatu pengolahan limbah efektif, tanggung jawab harus dibebankan kepada seseorang yang diberi wewenang seperlunya untuk penegakan suatu operasi limbah cair yang ramah lingkungan di dalam lingkup.

 

 

QUALITY CONTROL BETON

QUALITY CONTROL BETON

 

1.     Tujuan

Untuk menjamin tercapainya kualitas pekerjaan beton yang memenuhi syarat, maka quality control melalui pengujian-pengujian harus dijadikan bagian yang tak terpisahkan dari proses/tahapan pekerjaan pembetonan. Pada umumnya, spesifikasi untuk beton dan material penyusunnya, menentukan detail syarat minimal yang dapat diterima. Persyaratan tersebut menyangkut :

·         Karakteristik campuran beton seperti diameter maksimum agregat dan minimum

cement content

·         Karakteristik dari semen, air, agregat dan bahan tambah

·         Karakteristik dari beton segar dan beton dalam proses pengerasan seperti

temperatur, slump, kadar udara atau kuat tekan.

 

Semen, diuji kelulusannya terhadap standar yang berlaku serta untuk menghindarkan terjadinya karakter abnormal seperti kekakuan segera, perlambatan pengikatan, atau kuat tekan yang lemah pada beton.

 

Agregat diuji dengan 2 tujuan utama yaitu :

1. Menentukan kesesuaian dari agregat tersebut untuk digunakan pada beton. Tes

           tersebut meliputi: abrasi, soundness, berat jenis, analisa kimia mineral.

2. Menjamin keseragaman mutu agregat selama proses pekerjaan pembetonan, tes

           tersebut meliputi: gradasi, kepipihan dan kepanjangan, kadar lumpur

 

Beton diuji dengan 2 tujuan utama:

1.    Diuji untuk mengevaluasi performance dari material penyusun beton. Tes tersebut

            meliputi: slump, kadar udara dan berat jenis.

2.    Diuji untuk mengevaluasi performance pelaksanaan pekerjaan di lapangan seperti

            slump dan kuat tekan serta deviasi standar.

 

2.  Pengujian agregat

2. 1. Sampling agregat

Dilaksanakan untuk mengambil sample agregat dari suatu deposit material untuk

dilakukan pengujian lanjutan. Sampel agregat harus dapat mencerminkan/mewakili

kondisi deposit agregat secara keseluruhan. Metode yang biasa digunakan ada 2 yaitu

metode quartering dan alat spliter sampel.

 

2.   2. Tes kadar organik

Kadar organik diuji pada agregat halus untuk menentukan jumlah bahan organik yang terkandung dalam agregat halus tersebut. Bahan organik berpengaruh terhadap kuat tekan dan durability dari beton yang dihasilkan. Di laboratorium, kadar organik diuji dengan membandingkan warna larutan sodium hydroxide dan pasir uji dengan warna standar.

 

     2. 3. Kadar Lumpur

Seperti kadar organik, kadar lumpur juga berpengaruh terhadap kuat tekan beton.

Kadar lumpur mempengaruhi lekatan antara mortar semen dengan agregat. Kadarlumpur adalah bahan yang lolos saringan diameter 0,075 mm. Di laboratorium diuji dengan cara mencuci agregat yang diuji kemudian membandingkan berat awal terhadap berat setelah dicuci.

 

     2. 4. Gradasi

Gradasi (susunan butiran) agregat berpengaruh terhadap proporsi campuran betondan workability. Di laboratorium gradasi diuji dengan cara melewatkan agregat uji melalui susunan ayakan dari diameter terbesar s/d diameter terkecil. Masing-masing proporsi persentase agregat tertahan, menunjukkan susunan butiran agregat tertentu. Hasil dari tes gradasi memungkinkan kita menentukan:

·           Apakah material tersebut memenuhi spec gradasi

·           Pencampuran beberapa jenis material

·           Variasi gradasi yang terjadi selama proses pembe

     2. 5. Kadar air agregat

Kadar air agregat di lapangan harus dapat diperkirakan sehingga dapat dilakukan

penyesuaian jumlah air per m3 campuran, mendekati rencana. Pengujian kadar air agregat yang akurat memakan waktu lama yaitu ± 12 jam. Sebab harus melalui proses

pengeringan dengan oven di laboratorium. Pada batching plant modern, kadar air agregat sudah bisa dideteksi dengan memasang detector kelembaban pada material yang hasilnya dapat dibaca langsung di monitor.

 

Diluar pengujian-pengujian di atas tentu saja untuk menghasilkan mutu beton yang baik, masih terdapat sejumlah pengujian tambahan dengan tujuan-tujuan tertentu yaitu misalnya: abrasi, soundness, flakiness dan elongation, kandungan mineral, dll.


100_3146.JPG - 1.53 MB

 

Read more: QUALITY CONTROL BETON

PELAKSANAAN PENGERINGAN KAYU

PELAKSANAAN PENGERINGAN KAYU

 

Oleh : Singggih Budi Sayogo
( Widyaiswara PPPPTK BOE Malang)

 

 Dalam pekerjaan pengeringan kayu dengan kiln dibagi menjadi 4 tahap yaitu :

  1. Tahap penyediaan alat – alat
  2. Tahap penumpukan/penyusunan kayu
  3. Tahap pengambilan contoh – contoh kayu pengamatan
  4. Tahap pekerjaan selama pengeringan berlangsung yang mencakup : penggunaan jadwal pengeringan, pengaturan dan pengawasan suhu serta kelembaban udara di dalam kiln.

 

1.    1. Tahap Penyediaan Alat

 

 

 

   Selain mesin pengering yang sudah lengkap dengan peralatannya, ada beberapa alat lagi yang masih perlu disediakan, antara lain alat pengukur kadar air kayu (Hydrometer) untuk mengetahui kadar air di dalam kayu setiap waktu diperlukan. Batas pembacaan alat tersebut tidak lebih dari 60% yang dikandung oleh kayu. Atau bila kita tidak memiliki alat ini, dapat digunakan alat timbangan dan oven (tungku pemanas) untuk mengeringkan potongan contoh – contoh kayu pengamatan hingga tercapai tingkat kering mutlak. Sebagai sumber pemanas dalam kiln pada umumnya digunakan uap panas dengan menggunakan ketel uap. Uap panas yang dihasilkan dialirkan melalui radiator (pemancar panas) ke dalam kiln. Sebab pemberian uap panas ke dalam kiln pada tumpukan kayu, akan mempercepat proses keringnya kayu tersebut. Untuk mengukur suhu dan kelembaban udara digunakan 2 alat termometer : termometer kering (dry bulb temperature) dan termometer basah (wet bulb temperature).

 

            Penunjukan suhu pada termometer basah selalu lebih rendah daripada suhu termometer kering. Selisih kedua suhu pada termometer ini akan menunjukkan kelembaban udara (RH) = Relative Humidity. Selain sumber panas, peredaran udara di dalam kiln berperanan pula, sebab dengan adanya peredaran udara, suhu dan kelembaban udara di dalam kiln dapat merata. Di samping peredaran udara itu bertujuan juga untuk mengeluarkan uap air yang telah keluar dari permukaan kayu dari ruang kiln. Dengan sirkulasi ini, udara yang panas dapat mencapai seluruh bagian permukaan kayu, sehingga pengeringan dapat berlangsung cepat dan merata. Kecepatan peredaran udara yang tinggi diutamakan pada saat permulaan pengeringan, terutama untuk kayu yang masih basah agar tidak terserang jamur. Peredaran udara di dalam kiln dapat ditimbulkan oleh :

 

  • Perbedaan temperatur : karena pemanasan (sebab udara panas lebih ringan daripada udara dingin)
  • Tenaga kipas (fan) yang dibedakan atas 2 macam yaitu radial fan (centrifugal blowers) dan axial fan. Fan ini terpasang di dalam ataupun di luar kiln (external fan dan internal fan).

 

2.    2. Tahap Penumpukan/ Penyusunan Kayu

 

 

 

 Sebagai syarat mutlak, fondasi dan lantai harus kuat dan datar, agar tidak mempengaruhi kerusakan kayu dan tumpukan kayu secara keseluruhan. Kayu yang akan dikeringkan harus diseragamkan dalam hal : jenis kayu, kualitas kayu, ketebalan kayu, kadar air awal. Dengan keseragaman ini, maka pelaksanaan pengeringan akan lebih sempurna. Kayu ada yang diletakkan langsung diatas pondasi, tapi ada pula dengan menggunakan lori. Pada umumnya cara terakir lebih banyak dipakai. Agar peredaran udara merata pada seluruh bagian permukaan kayu, maka lapisan papan tingkat demi tingkat harus diberi ganjel. Tumpukan kayu secara keseluruhan hendaknya merupakan bentuk persegi dengan ganjel lurus, baik secara vertical maupun horizontal. Selanjutnya pada bagian teratas tumpukan diletakkan beban pemberat yang merata keseluruh bagian tumpukan kayu untuk menghindari kemungkinan perubahan bentuk selama proses pengeringan.

3. Tahap Pengambilan Contoh-contoh Pengamatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Yang terpenting dalam pembuatan contoh kayu pengamatan adalah bagaimana caranya agar benar – benar kayu itu mewakili kelompoknya. Karena contoh pengamatan sangat berguna sebagai petunjuk dalam menentukan langkah – langkah perubahan kondisi pengeringan. Kadar air kayu awal yang akan dikeringkan, perlu diketahui lebih dahulu, sebab langkah – langkah perubahan suhu dan kelembaban udara selama pengeringan berlangsung, didasarkan atas besarnya kangdungan kadar air sebelum dikeringkan. Contoh pengamatan diletakkan di dalam tumpukan kayu sedemikian rupa, sehingga memudahkan pemeriksaan. Contoh pengamatan ini sebagai petunjuk nantinya secara periodic diamati perubahan – perubahannya, yang menjurus pada kerusakan yang mungkin timbul selama pengeringan berlangsung. Sehingga dengan demikian dapat diketahui apakah pengeringan tersebut berjalan terlalu cepat atau lambat, apakah kadar air kayu yang diinginkan telah tercapai dan apakah ada kerusakan yang terjadi sebelum proses pengeringan berakhir.

4. Penggunaan Jadwal Pengeringan (Skema Pengeringan)

 

 

                
            Skema pengeringan merupakan suatu daftar yang memuat tahap-tahap perubahan suhu dan kelembaban udara dalam proses pengeringan berdasarkan kayu. Berdasarkan sifat-sifat kayu secara umum maka skema pengeringan untuk beberapa jenis kayu dapat dikelompokkan dalam beberapa macam. Dari skema pengeringan dapat dilihat, bahwa pada awal mulainya pengeringan, ketika kayu masih mengandung banyak air, dipergunakan suhu yang rendah dengan kelembaban yang tinggi. Selanjutnya secara bertahap suhu pengeringan dinaikkan, kelembaban udara diturunkan bertahap. Dengan naiknya suhu, kadar air kayu akan menurun secara bertahap sampai kadar air sesuai yang diharapkan.
            Agar dicapai pengeringan yang sempurna dengan kerusakan yang tak berarti, maka suhu dan kelembaban udara di dalam kiln perlu diamati, diatur sesuai dengan skema pengeringan yang digunakan selama pengeringan berlangsung. Pada kiln yang modern dengan perlengkapan yang lebih lengkap, alat-alat dapat mengatur sendiri secara otomatis sesuai kondisi yang diinginkan, sehingga perkembangannya selalu dapat diikuti. Cepat atau lambatnya muatan kayu dikeringkan tergantung dari beberapa faktor seperti kadar air kayu awal, kadar air kayu akir yang diinginkan, jenis kayu yang dikeringkan, tebal tipisnya kayu, kipas angin, dan kualitas alat kiln itu sendiri
Kadang kadar air kayu menjelang tahap-tahap terakir pengeringan tidak merata. Dengan adanya perbedaan kadar air terutama pada bagian permukaaan dan bagian dalam kayu, maka akan timbul tegangan-tegangan pada kayu, akirnya pada kayu akan timbul cacat. Sehingga dalam hal ini perlu adanya tindakan penyamaan.

 

            Dengan istilah lain perlu proses equalizing dan conditioning, yang mempunyai tujuan menghilangkan tegangan-tegangan yang timbul pada kayu selama proses proses pengeringan berlangsung, agar diperoleh kadar air kayu yang sama pada setiap papan. Pelaksanaan equalizing dan conditioning harus didasarkan pada kenyataan yang ada dari contoh-contoh kayu pengamatan.
Pada tahap penggunaan jadwal pengeringan, perlu dilakukan pencatatan jalannya pengeringan. Agar pengeringan berhasil dengan baik maka setiap langkah perlu dicatat. Tujuan pencatatan ini untuk mengawasi hasil pengeringan, sebagai tindakan penyesuaian pemakaian jadwal pengeringan, sehingga kerusakan yang mungkin terjadi akibat pengeringan dapat diperkecil. Adapun data-data yang perlu dicatat adalah

 

  • Pengeringan : nomor urut muatan/kiln, nama pengawas.
  • Kayu : jenis kayu, sortimen, kubikasi, kadar air kayu akhir yang dikehendaki.
  • Perubahan kondisi pengeringan : suhu dan kelembaban udara dari waktu ke waktu tertentu dengan menyesuaikan perkembangan keadaan kayu.
  • Jadwal pengeringan yang digunakan.
  • Cacat-cacat yang terjadi selama dan setelah kayu dikeringkan.

 

Selain pencatatan data-data teknis diatas, perlu pula dicatat data-data ekonomis, antara lain pemakaian bahan bakar atau listrik, lamanya pengeringan dan lain sebagainya yang termasuk biaya pengeluaran.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.    Dry Kiln Operator’s Manual, Edited by William T. Simpson, Research Forest Products Technologist, United States Department of Agriculture, Forest Service, Forest Products Laboratory , Madison, Wisconsin, Revised August 1991, Agriculture Handbook 188.

 

2.     Wood handbook—Wood as an Engineering Material. Forest Products Laboratory. 1999. Gen. Tech. Rep. FPL–GTR–113. Madison, WI: U.S. Department of Agriculture, Forest Service, Forest Products Laboratory

 

3.     Haygreen, J.G., and Bowyer, J.L., 1996, Forest Product and Wood Science, 3rd Edition, Iowa University Press, Iowa.

 

4.    Abdurrohim, S. dan Djarwanto. 2000. Pengawetan Kayu Rendaman. Jakarta: RinekaCipta.

 

5.    Singarimbun (Eds.) 1999. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES

 

6.    Arikunto, S. 1999. Prosedur Penelitian: Sesuatu Pendekatan Praktek. Jakarta: RinekaCipta.

 

7.    Tim Penyusun Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Negeri Malang. 2007.

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG