Bagaimana Proses Pengeringan Kayu ?

Bagaimana Proses Pengeringan Kayu ?

oleh: Budi Martono, Widyaiswara Madya

Program Studi Teknologi Kayu, Departemen Bangunan, PPPPTK BOE Malang.

 

Proses Pengeringan Kayu

Proses pengeringan kayu yang akan dibahas berikut ini adalah pengeringan kayu buatan menggunakan Pengering Kayu Konvensional (Conventional Kiln Dryer). Pengeringan kayu alami maupun buatan merupakan proses evaporasi kandungan air dalam kayu dengan waktu tertentu sesuai dengan kondisi udara di sekitarnya. Karena pengeringan kayu merupakan suatu proses, semua faktor pendukung proses pengeringan sangat berkaitan dan saling mempengaruhi.

Lamanya pengeringan tidak dapat dipersingkat dengan hanya menaikkan temperatur ruang oven (chamber). Pemaksaan ini tidak akan membawa hasil yang memuaskan melainkan akan menimbulkan cacat kayu seperti retak atau pecah. Bahkan dapat terjadi kayu tidak dapat dipakai sama sekali.
 
Faktor pendukung proses pengeringan kayu

Proses pengeringan kayu sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung, antara lain faktor kayu, faktor penyusunan kayu (stacking), faktor ruang oven (chamber). Faktor kayu meliputi jenis kayu, struktur pori-pori kayu, ketebalan kayu, kadar air kayu awal, dan kadar air akhir. Faktor penyusunan kayu sehubungan dengan ukuran tebal ganjal dan cara penyusunannya dalam oven dan palet. Faktor ini juga dipengaruhi oleh kecepatan sirkulasi udara dalam ruang oven. Faktor ruang oven meliputi sirkulasi udara dalam ruang, energi panas yang dipasok, dan pengaturan kelembaban relatif dalam ruang untuk mengabsorbsi uap air dari dalam kayu.

Faktor-faktor tersebut mempengaruhi kayu dalam menyesuaikan kondisi bagian dalam kayu dengan udara yang ada di sekitarnya, sesuai dengan sifat alami kayu yang higroskopis. Bila kondisi di sekitar kayu terlalu jauh berbeda dengan kondisi dalam kayu, akan timbul ketegangan dalam kayu. Tegangan dalam kayu timbul karena pelepasan kandungan air yang tidak merata dalam kayu. Bila tegangan ini tidak dapat diatasi dengan cara kembang susut sel kayu, struktur sel kayu akan pecah atau retak.

Pengendalian proses penyesuaian kayu terhadap lingkungan di sekitarnya merupakan dasar sistem kerja alat pengering kayu. Pengaturan lingkungan sekitar kayu merupakan juga pengaturan cuaca atau iklim sehingga alat pengering kayu juga disebut sebagai alat pengatur atau pengontrol iklim.

Pada prinsipnya, penyesuaian kayu pada kondisi iklim yang dibuat, tidak boleh terlalu dipaksakan. Seperti yang telah diuraikan di depan, faktor pembanding tingkat penyesuaian kayu terhadap kondisi iklim di sekitarnya disebut gradient pengeringan. Besar nilai gradient pengeringan menunjukkan perbandingan antara kadar air kayu saat ini dan kadar air keseimbangan yang dituju sesuai dengan iklim yang diprogramkan pada oven.

 

Skema kurva program pengeringan kayu dengan oven kayu

 

       Kurva pengeringan kayu secara teoritis

Proses pengeringan kayu secara umum

Proses pengeringan kayu buatan  secara umum ada 6 tahap, yaitu pemanasan awal (preheating), pengeringan sampai titik jenuh serat (drying down to fiber saturation point), pengeringan dari titik jenuh serat sampai kadar air akhir (drying down from fiber saturation point to final moisture content), pengkondisian pada kadar air akhir (conditioning at final moisture content), pemerataan atau penyamaan kadar air kayu (equalizing),pendinginan dan pembongkaran kayu (cooling down and discharge of timber stack).

 

 

Penampang ruang oven

1.    Pemanasan awal (preheating);

Kadar air kayu di atas titik jenuh serat mempunyai kandungan air ≥ 30%. Kayu yang akan melalui proses pengeringan buatan mempunyai kadar air antara 40% –70%, sedangkan kadar air rata-rata berkisar antara 50% - 60%.

Pada tahap pemanasan awal, kayu dibasahi lebih dulu dengan jalan menyemprotkan air ke dalam oven dan temperatur diatur agak panas, kira-kira 35˚– 40˚C. Air akan menguap dan membentuk kabut uap air yang pekat sehingga udara akan menjadi berkelembaban tinggi.

Permukaan kayu akan menjadi basah, sehingga tegangan dalam kayu akan mengendur. Proses ini dapat menghilangkan perbedaan tegangan dalam kayu yang timbul pada saat pengeringan alami.

Lama proses pemanasan awal berkisar antara 2 – 12 jam, bergantung pada jenis kayu dan tebal kayu. Kayu yang berwarna terang dan mudah terserang jamur atau kayu yang mempunyai zat ekstraktif minyak, sebaiknya tidak disemprot dengan air, cukup dengan pengkondisian temperatur awal yang rendah 30˚C.

 

2.    Pengeringan sampai titik jenuh serat (drying down to fiber saturation point);

Titik jenuh serat berkisar antara 21˚C–30˚C, bergantung dengan jenis kayu yang dikeringkan. Kayu dikeringkan mulai dari kadar air 50˚C–60˚C menjadi 21˚C–30˚C. Dengan demikian, nilai gradient pengeringannya sangat tinggi dan mempunyai resiko terjadinya tegangan dalam kayu karena air inti kayu yang terblokir tidak dapat keluar. Penggunaan temperatur tinggi harus dihindarkan. Kipas-kipas udara untuk mensirkulasikan udara dalam oven harus dimanfaatkan. Temperatur maksimal yang digunakan berkisar 40˚C–55˚C.

 

3.    Pengeringan dari titik jenuh serat sampai kadar air akhir (drying down from fiber saturation point to final moisture content);

Tahap pengeringan bawah titik jenuh serat sangat riskan karena pada tahap ini, kayu mulai melepaskan kandungan air terikatnya. Bila kandungan air terikat dalam dinding sel mulai terevaporasi, kayupun akan bergerak menyusut. Untuk itu yang harus diwaspadai adalah perubahan bentuk. Proses evaporasi harus dikendalikan agar tetap merata pada keseluruhan permukaan kayu sehingga tidak terjadi perbedaan ketegangan dalam kayu.

Temperatur dan kelembaban relatif dikendalikan dengan gradient pengeringan yang tidak terlalu besar. Kadar air 21% 30% harus dapat diturunkan lagi sampai kadar air akhir 6% 8%, sesuai dengan kebutuhan. Temperatur yang digunakan untuk kayu yang mempunyai kandungan zat ekstraktif, sebaikanya antara 55°C 60°C,untuk menghindarkan noda-noda warna atau perubahan warna kayu. Pada kayu normal, temperatur diprogramkan mulai dari 55°C 70° atau 80°C. Sedangkan pada kayu lunak (pinus, sengon) dapat diatur lebih tinggi lagi, 90°C 120°C,untuk mempercepat proses pengeringan kayu (sistem pengeringan kayu temperatur tinggi).

 

4.    Pengkondisian pada kadar air akhir (conditioning at final moisture content);

Tahap ini adalah tahap penurunan sedikit persentase kadar air kayu di bawah target yang ditetapkan dengan cara sedikit menaikkan temperatur dan mengendalikan kelembaban relatif sedikit kering. Dengan demikian kadar air kayu maksimum adalah kadar air yang ditargetkan. Kayu yang kering akan mempunyai kadar air kayu lebih rendah dari target.

 

5.    Pemerataan atau penyamaan kadar air kayu (equalizing);

Tahap ini adalah penyemprotan air ke dalam oven sehingga permukaan kayu menjadi sedikit basah. Proses ini adalah untuk menghilangkan tegangan-tegangan dalam kayu akibat kurang meratanya kadar air dalam dan permukaan kayu.

Pada akhir proses, kadar air permukaan kayu mencapai 5% 6%, tetapi pada bagian inti kayu masih 8%. Perbedaan 2% atau 1% dapat disamakan dengan cara pembasahan (water spray) sehingga permukaan kayu juga mempunyai kadar air 8%. Tegangan dalam kayu akan terbebaskan.

 

6.    Pendinginan dan pembongkaran kayu (cooling down and discharge of timber stack).

Tahap ini adalah tahap penurunan temperatur perlahan-lahan dan penjagaan ketetapan sirkulasi udara dalam ruang oven. Kemudian pintu oven dibuka sedikit sementara kipas sirkulasi tetap dijalankan. Kayu yang panas dapat pecah atau retak bila perubahan udara di sekelilingnya terlalu mendadak. Setelah proses pendinginan, sebaiknya kayu didiamkan ± 1 (satu) minggu sebelum proses produksi berikutnya.

Tahap-tahap pengeringan kayu secara khusus harus menyesuaikan jenis kayu yang dikeringkan pada kelompok jenis kayu. Pengelompokan jenis kayu ini berbeda-beda menurut teknologi produsen alat kontrol oven (electronic kiln controller).

Jenis-jenis kayu dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), 5 (lima), dan 7 (tujuh) kelompok proses pengeringan. Tetapi yang penting adalah gradient pengeringan dan jenis kayu itu sendiri. Makin tinggi nilai gradien pengeringan kayu, berarti kayu harus makin mudah dan cepat dikeringkan. Bila nilai gradient kayu sangat rendah, berarti kayu tersebut tergolong sulit dan lama dikeringkan, berpori-pori kecil, serta mudah pecah.

Sumber:

1.    A.Dodong Budianto, Sistem Pengeringan Kayu, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1996.

2.    http://www.tentangkayu.com/2008/02/proses-pengeringan-kayu.html, diunduh tgl 29 April 2011

 

 

UPAYA MENINGKATKAN HASIL DIKLAT FINISHING KAYU SISTEM MELAMINE MELALUI PRAKTIK PEMBUATAN FRAGMEN BAGI PESERTA DIKLAT GURU SMK DI PPPPTK BIDANG OTOMOTIF DAN ELEKTRONIKA (P4TK BOE) MALANG

 

Oleh: Bambang Wijanarko, S.Pd,MT

Widyaiswara Departemen Bangunan PPPPTK BOE Malang

 

 

 

Abstrak: Diklat tingkat lanjut Teknik furnitur untuk aplikasi finishing dalam lingkup program pelatihan yang diselenggarakan di program Teknologi kayu mendapat respon yang baik dari guru keterampilan kejuruan program Teknik Bangunan khususnya pada kompetensi keahlian furnitur teknik konstruksi kayu, terutama dalam  menyelesaikan finishing kayu sistem melamin, rata-rataguru di Sekolah Menengah Kejuruan masih banyak yang belum mendapat  nilai yang baik . Penelitian tindakan kelas ini dilakukan untuk meningkatkan hasil diklat   sistem finishing kayu sistim melamine melalui praktik oleh guru SMK terutama untuk kompetensi keahlian finishing , melalui metode  praktik membuat  fragmen pada dua lembar kayu lapis untuk  sistem  melamin transparan dan melamine warna  secara langsung . Penelitian ini mengamati dan menganalisis total 12 orang peserta  pelatihan untuk teknik furnitur untuk  periode 23 Juli s.d 8 Agustus 2012 di program Studi  Teknologi Kayu  Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang otomotif dan Elektronika ( P4TK BOE ) Malang. Data dianalisis dan diamati meliputi: data pretest sebelum tindakan apapun sebagai prasyarat, siklus 1 dan siklus 2 data yang ada yaitu perencanaan , pelaksanaan, observasi dan refleksi direkam dan diamati hasil masing-masing ukuran nilai dalam setiap kondisi. Hasil pengukuran setiap kondisi dicatat peningkatannya dan di nilai . Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan dapat ditingkatkan melalui praktek menyelesaikan fragmen pembuatan melamin sistem finishing. Hal ini dibuktikan dengan perolehan nilai peserta pelatihan mebel aplikasi finishing, dari rentang nilai 2,99-3,96 dengan rincian 11 orang peserta mendapat  kualifikasi baik, dan  1 (satu) peserta mendapat  kualifikasi yang sangat baik  . Penelitian  menunjukan bahwa persiapan yang matang dan  peralatan yang baik, strategi dan metode serta perhatian yang fokus pada penelitian ternyata dapat meningkatan hasil yang baik.

 

1.    Latar Belakang

 

Undang-undang Negara Repuplik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional, bahwa jabatan guru sebagai pendidik merupakan jabatan profesional. Dengan demikian profesional guru dituntut terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman,perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kebutuhan masyarakat.

 

Diklat Tingkat Lanjut Teknik Furniture  merupakan salah satu diklat dalam lingkup Program Studi Kerja Kayu yang sering diselenggarakan dan mendapat animo banyak dari guru-guru SMK Program Keahlian Teknik Bangunan, pada Kompetensi Keahlian Teknik Furniture/Cabinet Making  dan Kompetensi keahlian Teknik Konstruksi Kayu, terutama pada materi finishing kayu sistem melamine secara rata-rata masih banyak yang belum mendapatkan nilai yang baik.

 

Kondisi akhir yang diharapkan untuk peserta diklat sebagai subyek yang diteliti adalah seluruh peserta diklat dapat lulus dengan kualifikasi sangat baik yaitu antara nilai 3,55 – 400.

 

Hasil yang diharapkan untuk peneliti (widyaiswara) adalah dapat memperbaiki metode pembelajaran pada materi finishing kayu sistem melamine dengan metode praktik pembuatan fragmen sebanyak2 lembar tripleks dengan ukuran 21 cm x 29,5 cm untuk sistem melamine natural transparan maupun sistem melamine warna transparan pewarnaan cara langsung.

 

Salah satu cara untuk meningkatkan hasil pembelajaran finishing kayu yaitu melalui metode pembelajaran praktik dengan pembuatan fragmen pada 2 lembar tripleks untuk sistem melamine natural transparan dan melamine warna transparan dengan pewarnaan cara langsung.

 

Dari permasalahan dan harapan tersebut di atas maka peneliti mencoba untuk mencari solusi melalui penelitian yang berjudul:

 

”UPAYA MENINGKATKAN HASIL DIKLAT FINISHING KAYU SISTEM MELAMINE MELALUI PRAKTIK PEMBUATAN FRAGMEN BAGI PESERTA DIKLAT GURU SMK DI PPPPTK BIDANG OTOMOTIF DAN ELEKTRONIKA (P4TK BOE) MALANG”

 

 

 

2.    Tujuan

 

Tujuan Umum penelitian ini adalah untuk meningkatkan kompetensi dan membekali Guru dalam mengajar diSekolah Menengah Kejuruan terutama pada mata pelajaran finishing kayu sistem melamine.

 

Manfaat Penelitian

 

Ø  Menemukan cara yang baru dalam meningkatkan proses pembelajaran yaitu praktik pembuatan fragmen dalam meningkatkan hasil Diklat Finishing Kayu Sistim Melamine.

 

Ø  Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai referensi oleh peneliti selanjutnya yang akan meneliti dalam hal yang sejenis.

 

3.    Kajian Teori

 

Pengertian diklat menurut (http://www.bkn.go.id/penelitian.htm) sebagai berikut: Secara garis besar, Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) dapat diartikan sebagai akuisisi dari pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), dan sikap (attitudes) yang memampukan manusia untuk mencapai tujuan individual dan organisasi saat ini dan di masa depan (Bambrough, 1998:1).

 

Dalam terminologi lain, Diklat dipisahkan secara tegas, yakni Pendidikan dan Pelatihan. Menurut Nasution (2000:71), Pendidikan adalah suatu proses, teknis dan metode belajar mengajar dengan maksud mentransfer suatu pengetahuan dari seseorang kepada orang lain sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan menurut Pont (1991:46), Pelatihan adalah mengembangkan orang-orang sebagai individu dan mendorong mereka menjadi lebih percaya diri dan berkemampuan dalam hidup dan pekerjaannya.

 

Dalam perspektif Ahwood dan Dimmoel (1992:32), pendidikan lebih bersifat teoritis dalam pengetahuan umum, sosial dan berkiblat pada kebutuhan perorangan. Sedangkan pelatihan adalah suatu proses pengembangan keterampilan pegawai untuk melakukan pekerjaan yang sedang berjalan dan pekerjaan dimasa yang akan datang. Paralel dengan terminologi teoritis di atas, Nadler dan Nadler dalam Atmosoeprapto (2000:29), Mondy dan Noe (1989:224-225), serta Megginson (1985:229) mendefinisikan Diklat sebagai berikut :

 

Pendidikan adalah proses pembelajaran untuk memper-siapkan seseorang untuk mampu mengidentifikasi pekerjaan, menambah wawasan dan pengetahuan.

 

Pelatihan adalah proses pembelajaran yang terkait dengan pekerjaan spesifik saat ini, proses desain, keahlian, dan teknis pekerjaan untuk mempertahankan dan meningkatkan efektifitas masing-masing individu dan kelompok dalam suatu organisasi.

 

Finishing Kayu Sistem Melamine

 

Finishing kayu merupakan proses akhir dari seluruh tahap produksi di industri perabot kayu, rotan, dan bagian bangunan yang berbahan dari kayu dengan cara melapisi permukaan benda kerja dengan suatu zat/resin dalam proses aplikasi ke permukaan yang akan mengering dan membentuk suatu lapisan tipis.

 

Proses ini bertujuan untuk (1) memberikan nilai estetika yang lebih baik pada perabot kayu dan juga berfungsi untuk menutupi beberapa kelemahan kayu dalam hal warna, tekstur atau kualitas ketahanan permukaan pada material tertentu. Tujuan kedua adalah (2) untuk melindungi kayu dari kondisi luar (cuaca, suhu udara, dll.) ataupun benturan dengan barang lain. Dengan kata lain untuk menambah daya tahan dan keawetan produk.

 

Tahapan kerja untuk aplikasi finishing melamine natural transparan adalah sebagai berikut:

 

 

 

Sedangkan finishing melamine warna transparan adalah jenis finishing yang memiliki keindahan pola serat kayu yang hangat dengan latar belakang warna nuansa yang sesuai. Zat pewarna yang dipakai dalam proses finishing melamine warna transparan adalah jenis pewarna yang tembus pandang (Agus Sunaryo, 1997: 120-123).

 

Proses pengerjaan atau disebut juga dengan istilah aplikasi di dalam finishing, pada umumnya dilakukan dengan pengaosan dengan kain kaos, penguasan dengan kuas bulu, pengerolan dengan rol bulu, penyemprotan dengan pistol semprot/spray-gun, pencelupan dalam bak finishing. Sedangkan aplikasi finishing yang dipilih untuk penelitian ini adalah aplikasi penyemprotan dengan pistol semprot (spray-gun) menggunakan bahan finishing melamine.

 

4.    Kerangka Berpikir

 

Berdasarkan analisis ini diduga untuk dapat meningkatkan hasil diklat Finishing Kayu Sistem Melamine bagi peserta diklat Guru SMK supaya mendapatkan hasil sangat baik maka dapat dilakukan melalui praktik pembuatan fragmen.

 

Skema kerangka berpikir dapat dilihat sebagai berikut:

 

 

 

 

 

5.    Metode

 

Penelitian ini dilakukan di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan TenagaKependidikan Bidang Otomotif dan Elektronika Malang. Penelitian dilaksanakan padaDiklat Tingkat Lanjut Aplikasi Finishing Furniture Bagi Guru Bidang Studi BangunanPeriode 23 Juli s.d 8 Agustus 2012 di Bengkel Prodi Teknologi Kayu P4TK  Malang.

 

Subyek Penelitian

 

Subyek penelitian adalah Peserta Diklat Tingkat  Aplikasi Finishing Furniture Bagi GuruBidang Studi Bangunan Periode 23 Juli s.d 8 Agustus 2012 sebanyak 12 Orang Guru.SMK yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang terdaftar pada tabel berikut ini:

 

No.

Nama Peserta

Asal sekolah

No. Telphon

01

Agus Ratmono,S.PdNIP. 197008202006041014

SMKN 2 Kandangan Hulu Sungai selatan-KALSEL

081348384342

02

Drs.TrisnoNIP.196502172000031001

SMKN 3 Merauke   PAPUA

085244165185

03

Widya Kurniawan,ST NIP.197808072010011018

SMKN 3 Bondowoso   Jawa Timur

08816006942

04

 

Andarias Mallisa,STNIP.197606252009021006

SMKN 1 Mamasa Sulawesi Barat         

081354941228

05

Antonius Lawotan,S.PdNIP.196412071990031012

SMKN 2 Kupang - NTT

082144241555

06

Eka Warini,S.PdNIP.197705202007012013

SMK Dharma Wirawan  Pasuruan - JATIM

 

07

Agus Wahidin,S.PdNIP.197408302006041006

SMKN 2 Kendal         Jawa Tengah

081390591551

08

Kurniawan Nyaring,S.PdNIP.196708241994021001

SMKN 1 Palangkaraya  Kalimantan Tengah

085249478434

09

Agus Sugianto,ST

NIP.

SMKN Pasirian Lumajang. Jawa Timur

081231701333

10

H.Mohamad Yusuf,S.PdNIP.196412271995121001

SMKN 1 Kalianget    Sumenep - JATIM

085231730946

11

Yayuk Sri Rahayu,S.PdNIP.197207122008012014

SMKN 3 Buduran   Sidoarjo - JATIM

 

12

Noski Gusliko,S.SnNIP.198208112009041003

SMKN 1 Rengat Barat   Indragiri Hulu - RIAU

085278079219

 

Tabel.1. Tabel Peserta Diklat Aplikasi Finishing Furniture

 

 

 

Sumber Data

 

Data yang dipakai untuk penelitian ini adalah hasil Nilai Pre test tentang Praktik pembuatan fragmen aplikasi Finishing Melamine Natural, sebagai (Kondisiawal) nilai materi aplikasi finishing furniture bagi guru bidang studi bangunan Periode 23 Juli s.d 8 Agustus 2012 di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikdan Tenaga Kependidikan Malang  dengan data nilai praktik pembuatan fragmen aplikasi finishing melamine natural transparan, sebagai silklus 1, serta data nilai praktik pembuatan fragmen aplikasi finishing melamine warna transparan pewarnaan langsung, sebagai siklus 2 diklat aplikasi finishing furniture tahun 2012 yang dalam penyampaian materi praktik pembuatan fragmen. sebagai siklus akhir.

 

Data yang didapatkan dari hasil pretest tertulis maupun praktik pada diklat Aplikasi Finishing Furniture bagi guru bidang studi bangunan Periode 23 Juli s.d 8 Agustus 2012 Di Pusat Pengembangan dan pemberdayaan  Pendidik dan Tenaga Kependidikan disajikan sebagai mana dalam tabel dibawah ini :

 

No.

Nama Peserta

Nilai Pretest Tertulis

Nilai Pretest Praktik

Nilai Rata-rata

1

Agus Ratmono,S.Pd

2,46

2,21

2,33

2

Agus Sugianto,ST

2,42

1,57

1,99

3

Agus Wahidin,S.Pd

2,31

2,08

2,19

4

Andarias Malisa,ST

1,92

1,42

1,67

5

Antonius Lawotan,S.Pd

2,22

1,68

1,93

6

Eka Warini,S.Pd

2,37

1,54

1,95

7

H.Moh.Yusuf,S.Pd

2,37

1,54

1,95

8

Kurniawan Nyaring,S.Pd

2,71

2,26

2,48

9

Noski Gusliko,S.Sn

2,36

1,42

1,89

10

Drs.Trisno

2,07

1,64

1,85

11

Widya kurniawan,ST

1,48

1,62

1,55

12

Yayuk Sri Rahayu,S.Pd

2,22

1,46

1,84

 

Tabel.2. Hasil Nilai Pre Test Tertulis dan Pre Test Praktik finishing

 

TeknikPengumpulan Data

 

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui Tes Tertulis dan non Test. Data test diambil dari hasil Test tertulis dan non Test diambil dari hasil praktik danpengamatan peserta Diklat Tingkat Lanjut Aplikasi Finishing Furniture Bagi Guru Bidang Studi Bangunan Periode 23 Julis.d 8 Agustus 2012.

 

Untuk mengumpulkan data test tertulis diambil dari Daftar Nilai peserta Diklat dengan alat yang dipakai adalah berupa butir Soal tertulis berupa Eseise banyak 5 (lima)  buti soal. Sedangkan alat pengumpul data non test dibuatkan Panduan Wawancara dan Pengamatan untuk menilai Hasil Test praktik Pembuatan Fragmen Finishing Melamine setiap peserta diklat sebagai subyek penelitian.

 

 

 

IndikatorKinerja

 

Seluruh peserta diklat dapat menguasai kompetensi finishing kayu sistem melamine secara optimal sehingga menghasil kankualifikasi sangat baik. Skala Penilaian peserta diklat adalah angka 0 – 4 sesuai dengan standar penilaian institusi.

 

ProsedurPenelitian

 

Penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan (action research), dimana metode penelitian diklat yaitu melakukan penelitian dalam proses pembelajaran untuk mendapatkan hasil yang optimal bagi peserta diklat.

 

Refleksi yang dilakukan pada siklus 1 yaitu membandingkan hasil finishing kayu langsung kebenda kerja berupa barang jadi dengan finishing melalui pembuatan fragmen dengan mengamati hasil akhir dari proses finishing, sebagai perbandingan hasil kondisi awal dengan kondi sisiklus 1.

 

Pada siklus 2 dilakukan perencanaan tindakan pada kegiatan inti berupa pembuatan fragmen finishing sistem melamine dengan mengamati dan membandingkan hasil akhir dari proses finishing pada pembuatan fragmen pertama dengan fragmen kedua, sertamencatat hasil tersebut secara deskriptif.

 

Peneliti telah menyusun Prosedur Penelitian sebagai berikut :

 

Ø  Melakukan Persiapan Penelitian Tindakan Diklat.

 

Ø  Melaksanakan pengamatan hasil Nilai Pre tes (kondisi awal

 

Ø  Melaksanakan pengamatan hasil Nilai Praktek (Siklus 1) .

 

Ø  Melaksanakan pengamatan hasil nilai Praktek (Siklus 2 ) pembuatan fragmen

 

Ø  Melakukan refleksi dan analisa dengan membandingkan kondisi awal     dan  siklus 1.

 

Ø  Melakukan refleksi/ analisa dengan membandingkan hasilsiklus 1 dengan siklus 2.

 

Ø  Melakukan refleksi/analisa dengan membandingkan Siklus 2 dan siklus Hasil akhir.

 

Ø  Membuat kesimpulan hasil penelitian kepada   Institusi sebagai lembaga Diklat.

 

 

 

6.    Pembahasan

 

Hasil penelitian tindakan diklat dari mulai kondisi awal, hasil Nilai pondisi pertama / siklus 1 dan hasil nilai kondisi/ siklus 2 serta Hasil nilai kondisi akhir disajikan dalam tabel berikut ini :

 

Hasil pengukuran kondisi awal

 

Dari data hasil pengukuran kondisi awal yang tertuang dalam tabel diatas menunjukkan terdapat 9 (sembilan) orang peserta diklat yang mendapat nilai Kurang (1,55 – 1,95),dan 2(dua) orang yang mendapat nilai Cukup (2,19 – 2,33) serta 1 (satu) orang mendapatnilai Baik (3,36).

 

Dengan demikian secara keseluruhan peserta diklat belum memenuhi Kompetensi Yang diinginkan seperti yang ada pada kondisi akhir yaitu dengan kompetensi minimal Baik (2,55 – 3,54), seperti terlihat dalam grafik berikut ini:

 

Hasil pengukuran kondisi /siklus pertama

 

Dari data hasil pengukuran kondisi / siklus pertama yang tertuang dalamtabel 4.7 menunjukkan terdapat 10 (sepuluh) orang peserta diklat yang mendapat nilai baik  (2,74 – 3,47), dan 2 (dua) orang yang mendapat nilai cukup, disini ada peningkatan jumlah orang yang mendapat nilai cukup (nilai 2,00 – 2,54). Dengan demikian seluruh peserta diklat masih belum memenuhi kompetensi yang diinginkan seperti yang ada pada kondisi akhir yaitu dengan kompetensi minimal Baik (nilai 2,55 – 3,54), seperti terlihat dalam grafik berikut ini:

 

 

 

 

 

Hasil pengukuran kondisi /siklus kedua

 

Dari data hasil pengukuran kondisi/siklus kedua yang tertuang dalam tabel 5 menunjukkan terdapat sebelas orang peserta diklat yang mendapat nilaibaik (3,20), dan satu orang yang mendapat nilai cukup (2,53) disini terlihatadanya peningkatan kompetensi yang sangat menonjol. Dengan demikian seluruh peserta diklat sudah memenuhi kompetensi yang diinginkan seperti yang ada pada kondisi akhir yaitu dengan kompetensi minimal   Baik (nilai 2,55 – 3,54), seperti terlihat dalam grafik berikut ini :

 

Perbandingan hasil pengukuran rata-rata setiap kondisi /siklus adalah untuk melihat tingkat kenaikkan nilai yang diperoleh para peserta diklat mulai dari kondisi awal sampai dengan kondisi akhir.

 

7. Kesimpulan

 

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mulai dari pengukuran pada kondisi awal, siklus 1 dan siklus 2 sampai dengan pengukuran /penilaian hasil akhir dapat disimpulkan sebgai berikut :

 

  •  Hasil Diklat finishing dapat ditingkatkan melalui praktik pembuatan fragmen finishing sistim melamine.
  •  Peningkatan hasil perolehan nilai peserta Diklat Aplikasi finishing Furniture yaitu dari nilai terendah 2,99 – 3,96 dan telah memenuhi harapan kriteria kelulusan pada kondisi akhir dengan kata lain ada peningkatan hasil diklat, dan semua peserta diklat dinyatakan lulus.

 

Saran

 

Pada kesempatan ini peneliti ingin memberikan masukan dan  saran dan berdasarkan pengalaman selama peneliti melakukan kegiatan penelitian, antara lain:

 

  • Mempersiapkan semua peralatan yang dibutuhkan dalam penelitian dan format-format pengamatan serta format penilaian, agar memudahkan dalam pelaksanan proses penelitian berlangsung.
  •   Peneliti sebaiknya merencanakan strategi dan teknik pengumpulan data penelitian secara efektif.
  • Sebagai seorang peneliti fokus terhadap penelitian, dan sebaiknya peneliti diberikan waktu yang longgar dalam meneliti dan tidak melakukan tugas-tugas yang dapat mengganggu penyelesaian penelitian.

 

 

 

Daftar Pustaka :

 

-       Agus Sunaryo, SH.,MBA. 1997.Reka Oles Mebel Kayu.Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

 

-       Pupuh Fathurrohman, Prof., M.Sobry Sutikno, M.Pd. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: PT. Refika Aditama.

 

-       Rochiati Wiriaatmadja, Prof.Dr. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas: Untuk meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung: PPS-UPI bekerjasama dengan PT. Remaja Rosdakarya Offset.

 

-    Sugiyono, Prof.Dr. 2008. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta.

 

-     Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. Cetakan Ketiga 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka.

 

-       http://www.andragogi.com/document/psikologi_pendidikan.htm

 

EVALUASI IMPLEMETASI ZONA SELAMAT SEKOLAH ( ZoSS ) DI JALAN LETJEN. S. PARMAN DEPAN SD PURWANTORO I KOTA MALANG

EVALUASI IMPLEMETASI ZONA SELAMAT SEKOLAH ( ZoSS )

 

 DI JALAN LETJEN. S. PARMAN  DEPAN SD PURWANTORO I KOTA MALANG

Dalono

 

Departemen Bangunan PPPPTK/VEDC Malang

 

Email : dalono_arwana@yahoo.com.au

 

 

PENDAHULUAN

 

Masalah keselamatan lalu-lintas merupakan bahasan menarik ditinjau dari sisi kemanusiaan maupun ekonomi. Milyaran rupiah telah dibelanjakan akibat kecelakaan lalu-lintas. Di Indonesia tahun 2000 sampai dengan tahun 2005 terjadi peningkatan jumlah kecelakaan jalan raya sebesar 11% per tahun.

 

Prosentase kecelakaan dari sisi jenjang pendidikan rata-rata tahun (Perhubungan Darat 2006) tingkat Sekolah Dasar sebesar 16,80%, tingkat Sekolah Menengah Pertama sebesar 31,76%, tingkat Sekolah Menengah Atas sebesar 44,29% dan Perguruan Tinggi sebesar 7,15%. Untuk mereduksi peningkatan angka maupun resiko kecelakaan tersebut di atas dilakukan strategi dan program aksi keselamatan transportasi jalan, strategi-startegi yang ditempuh (Dirjen Hubdat,2008) salah satunya adalah:

 

Menciptakan masyarakat yang sadar dan menghargai keselamatan di jalan melalui pendidikan salah satu program aksinya adalah program Zona Selamat Sekolah.

 

Kota Malang telah menerapkan program ZoSS terletak di Jalan Letjen. S Parman di depan SD Purwantoro I Kota Malang yang berlokasi pada ruas jalan arteri sekunder. Untuk mengetahui efektifitas penerapan ZoSS telah dilakukan evaluasi tahap pertama (Dirjen Hubdat,2007) dengan hasil sebagai berikut:

 

§   Keberadaan fasilitas ZoSS memberikan dampak positif yaitu kemudahan dan rasa aman bagi anak/orang tua saat menyebarang.

 

§   Memberikan dampak menurunnya tingkat kecepatan kendaraan pada saat melintasi area ZoSS sehingga dapat meningkatkan keselamatan.

 

Tujuan yang ingin dicapai penelitian ini adalah:

 

Mengetahui pengaruh adanya penerapan Zona Selamat Sekolah di Kota Malang terhadap perilaku pengguna jalan serta keselamatan anak-anak sekolah. 

 

Zona Selamat Sekolah

 

Zona Selamat Sekolah (ZoSS) adalah lokasi di ruas jalan tertentu yang merupakan zona kecepatan berbasis waktu untuk mengatur kecepatan kendaraan di lingkungan sekolah (Lamp.Peraturan Dirjen Perhudat, 2006).

 

Tipe Zona Selamat Sekolah

 

Tipe ZoSS (Lamp.Peraturan Dirjen Perhudat, 2006)., ditentukan berdasarkan tipe jalan, jumlah lajur, kecepatan rencana jalan dan jarak pandangan henti yang diperlukan.     Berdasarkan tipe ZoSS dapat ditentukan batas kecepatan ZoSS, panjang ZoSS dan perlengkapan jalan yang dibutuhkan. Apabila terdapat lebih dari 1 (satu) sekolah yang berdekatan (jarak < 80 meter) maka ZoSS dapat digabungkan sesuai dengan kriteria panjang yang diperlukan, beberapa tipe ZoSS anata lain diperlihatkan dalam Tabel 1.

 

        Tabel 1. Tipe ZoSS

 

Tipe Jalan

Tipe ZoSS

Panjang ZoSS (m)

tak terbagi (2/2UD)

2UD-25

150

2UD-20

80

4 lajur Tak Terbagi (4/2UD)

4UD-25

150

4UD-20

802 lajur

4 lajur Terbagi (4/2D)

4D-25

200

4D-20

100

 

                           Sumber : Dirjen Perhudat (2006)

 

 METODE

 

Metode Analisis ZoSS

 

Data sekunder dibandingkan dengan analisis evaluatif dan deskriptif dari hasil penelitian yang saat ini dilakukan.

 

a)  Analisis Perilaku Penyeberang

 

Analisisini bertujuan untuk mengetahui perilaku Penyeberang. Analisis dilakukan dengan memperhatikan tentang prosedur baku menyeberang (tunggu sejenak, tengok kanan, tengok kiri, tengok kanan lagi), cara menyeberang, penggunaan fasilitas dan stastus Penyeberang.   Metode yang digunakan adalah deskripsi eksplanatori dengan teknik pendeskripsian sederhana menggunakan tabel dan diagram, selain itu analisis data juga dilakukan dengan menggunakan uji normal, yaitu :

 

                              

 

                                 n = ukuran sampel

 

Berdasarkan nilai Zhit dibandingkan dengan Ztabel dengan tingkat kesalahan 5%, maka dapat diambil kesimpulan:

 

·          Cara menyeberang di lokasi ZoSS tersebut sudah benar jika Zhit ≥ Ztabel 

 

·          Cara menyeberang di lokasi ZoSS tersebut belum benar.jika Zhit < Ztabel

 

 

 

b)  Analisisi Perilaku Pengendara Kendaraan

 

Analisis pengukuran perilaku Pengendara kendaraan ini meliputi arah kedatangan kendaraan, lokasi berhentinya kendaraan serta menaikan atau menurunkan anak sekolah dari kendaraan seperti pada Tabel 4.4.

 

Analisis pengukuran perilaku Pengendara dilakukan dengan menggunakan uji Z seperti tersebut diatas.

 

Kemudian nilai Zhit dibandingkan dengan Ztabel dengan tingkat kesalahan 5%,  maka dapat diambil kesimpulan:

 

·          Perilaku Pengendara di lokasi ZoSS tersebut sudah selamat jika Zhit ≥ Ztabel.

 

·          Perilaku Pengendara di slokasi ZoSS tersebut belum selamat jika Zhit < Ztabel.

 

c)  Analisis Kecepatan Kendaraan

 

Kecepatan kendaraan sesuai dengan ketentuan tipe ZoSS yang beroperasi (25 km/jam).Analisis pengukuran kecepatan kendaraan meliputi jenis dan kecepatan kendaraan

 

Analisis pengukuran kecepatan kendaraan dilakukan dengan menggunakan uji Z

 

       

 

dimana n = ukuran sampel

 

Untuk tingkat kepercayaan 95%, maka akan didapat nilai Ztabel = 1,645. Nilai Zhitdibandingkan dengan Ztabel dengan tingkat kesalahan 5%, maka kesimpulan yang didapat :

 

·      Zhit≤ Ztabel  maka pengguna jalan di lokasi ZoSS  tersebut sudah selamat

 

·      Zhit > Ztabel  maka pengguna jalan di lokasi ZoSS  tersebut belum selamat

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Evaluasi Efektifitas Zona Selamat Sekolah

 

Evaluasi Penerapan ZoSS

 

Evaluasi penerapan ZoSS yang berlokasi di jl. Lenjend. S. Parman di depan SDN Purwantora I, dengan pemenuhan kreteria ZoSS adalah sebagai berikut:

 

1)    Perilaku Penyeberang

 

a. Prosedur baku menyeberang

 

Pagi hari kondisi eksisting prosedur T1 = 100 % sebelumnya T1 = 100%, kondisi eksisting prosedur T2 = 84 % sebelumya T2 = 100 % terjadi penurunan sebesar 16 %.  Kondisi eksisting prosedur T3 = 18 % sebelunya T3 = 90 % terjadi penurunan sebesar 72 %, sedangkan kondisi eksisting prosedur T4 = 58 %  sebelumnya T4 = 0 %, terdapat peningkatan 58 %. 

 

Pada waktu siang hari kondisi eksisting prosedur T1 = 100 % sebelumnya T1 = 0 % kondisi eksisting prosedur T2 = 94 % sebelumya T2 = 0 % terjadi peningkatan sebesar 94 %.  Kondisi eksisting prosedur T3 = 49 % sebelunya T3 = 0 % terjadi peningkatan sebesar 49 %, sedangkan kondisi eksisting prosedur T4 = 63 %  sebelumnya T4 = 0 %, terdapat peningkatan 63%, seperti diperlihatkan pada Gambar 1.

 

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Temuan ini diperkuat hasil wawancara Penyeberang jalan kurang memahami prosedur 4T, disebabkan kurangnya informasi dan pengetahuan tentang ZoSS. Tetapi Penyeberang memahami ZoSS sebagai tempat aman untuk menyeberang  dan sarana kemudahan akses ke lokasi sekolah.

 

 

b.    Cara menyeberang

 

Pada waktu pagi kondisi eksisting penyeberang menyeberang dengan cara berlari sebesar 19 % sebelum sebesar 10 %, terjadi penurunan sebesar 9 %, kondisi eksisting menyeberang  berjalan sebesar81 % sebelumnya  sebesar 90 % terjadi penurunan sebesar 9%.

 

Pada waktu  siang hari kondisi eksisting menyeberang berlari sebesar 17 % sebelunya 0 % terjadi penurunan sebesar 17 %, sedangkan kondisi eksisting menyeberang  berjalan sebesar 83 % sebelumnya sebesar 0 %,  terjadi peningkatan sebesar 83 %., seperti diperlihatkan pada Gambar 2.

 

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Temuan ini diperkuat hasil wawancara Penyeberang jalan kurang informasi dan pengetahuan tentang ZoSS. Tetapi penyenyeberang memahami ZoSS adalah tempat aman untuk menyeberang dan sarana akses ke lokasi sekolah sangat mudah.

 

a.  Fasilitas Penyeberangan

 

Pada waktu pagi kondisi eksistingpenyeberang yang menggunakan zebra cross sebesar98 % sedangkan pada kondisi sebelumnya adalah sebesar 65 %, berarti telah terjadi peningkatan sebesar 33 %. Menyeberang  tanpa menggunakan zebra cross kondisi eksisting sebesar 2 %  sedangkan pada kondisi sebelumnya adalah sebesar 35 %, disini terjadi penurunan sebesar 33 %.

 

Pada waktu siang hari kondisi eksisting penyeberang menggunakan zebra cross sebesar 94 % sedangkan pada kondisi sebelumnya adalah sebesar 0 %, terjadi peningkatan sebesar 94 %. Sedangkan cara menyeberang  tanpa menggunakan zebra cross kondisi eksisting sebesar 6 % sedangkan kondisi sebelumnya sebesar0 %, dalam hal ini terjadi penurunan sebesar 6 %, seperti diperlihatkan pada Gambar 3.

 

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Temuan ini diperkuan hasil wawancara dengan Penyeberang sangat memahami menyeberang menggukan zebra cross.  Penyeberang memahami ZoSS adalah tempat aman untuk menyeberang dan sarana akses ke lokasi sekolah sangat mudah.

 

b.  Status Penyeberang

 

Pada waktu pagi hari untuk penyeberang dengan status mandiri terjadi penurunan sebesar 18%. Yakni bila pada kondisi sebelumnya adalah sebesar 95%  namun pada kondisi eksisting turun menjadi 77%,  sedangkan untuk penyeberang dengan cara menyeberang  tidak mandiri naik sebesar 18% yakni dari kondisi sebelumnya sebesar 5%.  menjadi 23% pada kondisi eksisting.

 

Pada kondisi siang hari untuk penyeberang dengan status mandiri terjadi peningkatan sebesar 77% yakni bila pada kondisi sebelumnya adalah sebesar 0%  namun pada kondisi eksisting naik menjadi 77%,  sedangkan untuk penyeberang dengan cara menyeberang  tidak mandiri naik sebesar 23% yakni dari kondisi sebelumnya sebesar 0% menjadi 23% pada kondisi eksisting, seperti diperlihatkan pada Gambar 4.

 


                                                                                        

 

  Temuan  ini diperkuat hasil wawancara dengan penyebarang masih kurang informasi dan pengetahuan tentang ZoSS. Penyeberang memahami ZoSS adalah tempat aman untuk menyeberang dan sarana akses ke lokasi sekolah sangat mudah.

 

Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi ZoSS semakin siang mendekati jam 07.00 WIB kecendurungan anak menyeberang dengan tergesa – gesa mengabaikan persyaratan keselamatan menyeberang  karena takut terlambat masuk ke kelas.

 

Dari uji statistik dengan tingkat kesalahan 5 %   Z hit >Ztabel, dengan demikian perilaku anak sekolah saat menyeberang jalan belum merasa ”Aman”.

 

Maka persyaratan Penyeberang jalan yang dipersyaratkan ZoSS belum terpenuhi atau dengan kata Penyeberang jalan di lokasi ZoSS belum merasa ”aman”

 

2)  Kecepatan sesaat

 

Kondisi eksisting pada waktu pagi hari arah Surabaya – Malang kecepatan kendaraan dibawah 25 km/jam sebesar 1.94 % kecepatan diatas 25 km/jam sebesar 98.06 %, kecepatan rata – rata sesat 29.61 km/jam. Arah Malang – Surabaya kecepatan kendaraan dibawah 25 km/jam sebesar 4.17 % kecepatan diatas 25 km/jam sebesar 95.83 %, kecepatan rata – rata sesat 42.02 km/jam.

 

Pada waktu siang hari arah Surabaya – Malang kecepatan kendaraan dibawah 25 km/jam sebesar 0 % kecepatan diatas 25 km/jam sebesar 100 %, kecepatan rata – rata sesaat 31.52 km/jam. Arah Malang – Surabaya kecepatan kendaraan dibawah 25 km/jam sebesar 46.67 % kecepatan diatas 25 km/jam sebesar 53.33 %, kecepatan rata – rata sesat 26.40 km/jam.

 

Dengan membandingkan kondisi eksisting dengan sebelumnya ditemukan perbaikan perilaku ditandai dengan penurunan kecepatan rata – rata sebesar 1.33 km/jam atau setara dengan 2.99 %.

 

Hal tersebut diperkuat hasil wawancara terhadap Pengendara, Pengendara belum memahami kecepatan di area ZoSS sebesar 25 km/jam. Pengendara kurang informasi danpengetahuan tentang ZoSS, tetapi dengan adanya ZoSS dirasakan masih memberi kemudahan mengakses perjalanan di area ZoSS serta tidak menggagu Pengendara.

 

Sedang dari uji statistik dengan tingkat kesalahan 5 %  Z hit.>Ztabel, dengan demikian kecepatan kendaraan yang melintasi area ZoSS belum memberikan rasa ”Aman” terhadap anak sekolah.

 

 

3)  Perilaku Pengendara

 

a.  Arah kedatangan kendaraan

 

Pada waktu pagi hari kondisi eksisting arah kedatangan kendaraan Pengendara diseberang jalan sebesar 28 % didepan sekolah sebesar 72 %.  Pada waktu siang hari kedatangan kendaraan Pengendara diseberang jalan sebesar 15 % di depan sekolah 85 %

 

Pada pagi hari arah kedatangan kendaraan pengendara diseberang jalan kondisi eksisting sebesar 28% sebelumnya sebesar 15% terjadi penurunan sebesar 13%. Sedangkan untuk arah kedatangan kendaraan pengendara di depan sekolah terjadi penurunan sebesar 13% yakni dari 85% pada kondisi sebelumnya menjadi 72% pada kondisi eksisting. Seperti diperlihatkan pada Gambar 5.

 

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Berdasarkan pengamatan di lokasi banyak Pengendara kendaraan roda dua kedatanngannya arah kanan sekolah.

 

Hal ini diperkuat hasil wawancara dengan Pengendara, Pengendara kurang informasi dan pengetahuan tentang ZoSS, tetapi dengan adanya ZoSS dirasakan masih memberi kemudahan mengakses perjalanan di area ZoSS serta tidak menggagu Pengendara.

 

b.  Lokasi berhentinya kendaraan

 

Pada waktu pagi hari kondisi eksisting pengendara yang telah menghentikan kendaraan di lokasi yang sesuai pada tempatnya adalah sebesar 89%sedangkan pada kondisi sebelumnya adalah sebesar 90%, jadi dalam hal ini terjadi penurunan sebesar 1%. Adapun kendaraan pengendara yang berhenti tidak pada tempatnya terjadi kenaikan sebesar 9%. yakni dari kondisi eksisting sebesar 19% sedangkan sebelumnya sebesar 10%, seperti diperlihatkan pada Gambar 6.

 

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Berdasarkan pangamatan pada saat pengamatan Pengendara mengantarkan anak sekolah banyak yang berhenti di bahu jalan, belum ada sarana parkir khusus untuk kendaraan pengantar.

 

Hal ini diperkuat hasil wawancara dengan Pengendara, Pengendara kurang informasi dan pengetahuan tentang ZoSS, tetapi dengan adanya ZoSS dirasakan masih memberi kemudahan mengakses perjalanan di area ZoSS serta tidak menggagu Pengendara.

 

c.   Naik/Turun dari kendaraan

 

Pada kondisi pagi hari naik/turunnya anak sekolah disebelah kiri kendaraan pada kondisi eksisting adalah sebesar 78% sedangkan pada kondisi sebelumnya adalah sebesar 80%,sehingga terjadi penurunan sebesar 2%. Naik/turunnya anak sekolah dari sisi kanan kendaraan pada kondisi eksisting adalah sebesar 22% dan pada kondisi sebelumnya adalah sebesar 2 %, disini terlihat terjadi kenaikan sebesar 2%.

 

Pada waktu siang  hari tidak dapat dibandingkan karena tidak tersedia data sebelumnya. Dengan demikian secara umum bisa dikatakan bahwa terjadi penurunan perilaku pengendara saat memilih tempat untuk menaikkan atau  menurunkan anak sekolah yaitu sebesar 2 %.seperti diperlihatkan pada Gambar 7.       

 

 

 

 Hal ini diperkuat hasil wawancara dengan Pengendara, Pengendara kurang informasi dan pengetahuan tentang ZoSS, tetapi dengan adanya ZoSS dirasakan masih memberi kemudahan mengakses perjalanan di area ZoSS serta tidak menggagu Pengendara.

 

Dari uji statistik dengan tingkat kesalahan 5 %  Zhit.< Ztabel, maka diduga perilaku pengantar/pengendara masih belumbisa memberikan rasa aman/keselamatan pada anak sekolah/penyeberang jalan.

 

Dengan demikian dari hasil analisis yang telah dilakukan terkait dengan penerapan  ZoSS di Jl. Letjend. S Parman (depan SDN Purwantoro I) Kota Malang baik dinilai dari perilaku penyeberang jalan, kecepatan sesaat kendaraan dan perilaku pengendara kendaraan ternyata  hampir semua persyaratan belum terpenuhi, sehingga secarakeseluruhan keberadaaan ZoSS masih belum bisa memberikan rasa ”aman” terhadap penyeberang Jalan

 

 

 

REKOMENDASI                                            

 

·      Dipertimbangkan untuk meninjau ulang penerapan ZoSS dengan mengkoordinasikan berbagai pihak yang terkait diantaranya Dinas Pendidikan, Dinas Perhubungan, Dinas Bina Marga, Kepolisian dan para akademisi untuk memperoleh  hasil yang lebih maksimal.

 

·      Pada area ZoSS diusulkan dipasang alat kontrol kecepatan, untuk mengontrol kecepatan kendaraan yang lewat sebagai bukti penindakan hukum.

 

·      Peningkatan pemahaman Zona Selamat Sekolah, bagi  Pengendara kendaraan melalui pembinaan secara edukatif terhadap para pelanggar rambu dan marka ZoSS. Untuk anak sekolah melalui pendidikan yang terintegrasi dengan kurikulum. Untuk para Pengendara dengan penyuluhan secara berkala bekerjasama dengan berbagai pihak yang terkait.

 

 KESIMPULANDAN SARAN

 

Kesimpulan

 

Dari hasil temuan penelitian berkenaan dengan kajian program aksi keselamatan transportasi jalan: kasus Zona Selamat Sekolah (ZoSS) dan potensi lajur sepeda motor di kota Malang dapat disimpulkan sebagai berikut:

 

         Dari hasil anailisis yang telah dilakukan ditemukan penerapan  ZoSS di jl. Letjend. S Parman di depan SDN Purwantoro I kota Malang masih kurang memberikan pengaruh ”positif” terhadap perilaku pengguna jalan dan keselamatan anak – anak sekolah.  Hal ini ditunjukan dari ke tiga persyaratan ZoSS yaitu Penyeberang jalan belum merasa aman, kecepatan sesaat kendaraan dari semua arah di area ZoSS sebesar 97,96% diatas kecepatan maksimum yang disyaratkan (25 km/jam) dan Pengendara kendaraan/pengantar belum memberikan rasa aman terhadap anak sekolah.

 

Ditemukan pula penurunan perilaku Penyeberang jalan dan Pengendara kendaraan serta perbaikan penurunan kecepatan kendaraan sesaat di lokasi ZoSS dibandingkan evaluasi sebelumnya.

 

Hal ini didukung hasil wawancara terhadap Penyeberang dan Pengendara kendaraan kurang pemahamannya terhadap ZoSS.  Tetapi ZoSS sebagai tempat menyeberang dan sarana akses yang mudah ke lokasi  sekolah serta Pengendara tidak merasa terganggu dengan keberadaan ZoSS.

 

 Saran

 

·      Rambu jalan yang terpasang secara berkala dibersihkan dari penghalang terutama daun dan ranting pohon, demikian juga marka jalan secara berkala dilakukan pengecatan ulang supaya terlihat dengan jelas oleh pengguna jalan.

 

·      Diperlukan lokasi parkir kendaraan pengantar untuk naikan/turunkan anak sekolah sehingga tidak menggunakan bahu jalan.

 

·      Agar dilakukan studi lebih lanjut dengan analisis perilaku Penyeberang dan karakteristik lalulintas, terutama perilaku anak sekolah dengan membandingkan jam-jam 06.00 – 7.30, jam 12.00 – 13.30 WIB dengan durasi waktu per 30 (tiga puluh) menit.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim, 2006, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: KM 14 tahun 2006 tentang Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas di Jalan, Jakarta.

 

Bina Marga, 1997. Manual Kapasitas Jalan Indonesia: Jalan Perkotaan, Bina marga, Bandung

 

Departemen perhubungan, 2007. Laporan Monitoring dan Evaluasi Zona Selamat Sekolah, Jakarta. http:?? www.hubdat.web.id/webktd/file/zoss2007.pdf, tanggal 22 april 2008, Evaluasi & monitoring ZoSS.

 

Harnen,S, 2007. Keselamatan Transportasi Jalan, Strategi, Kelembagaan dan Program Aksi dalam dalam Pembentukan Dewan Transportasi Jalan Universitas Brawijaya. Malang.

 

Perhubungan Darat, 2006. Lampiran Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Darat No: SK 3236/AJ 403/DRJD/2006 tentang Uji Coba Penerapan Zona Selamat Sekolah di 11 ( sebelas ) Kota di Pulau Jawa, Perhubungan Darat, Jakarta.

 

Radin,U et  al, 2005 , Multivariate Analysis of Exclusive Motorcycle Accidents and the Effectsof Exclusive Lanes in Malaysia. J Crash Prevention and Injury Control, vol.2(I), pp. 11-17, Malaysia

 

Teik Hua LAW and Radin Umar, 2005. Determination Of Comfortable Safe Width In An Exclusive Motorcycle Lane, Journal of EASTS Vol. 6, pp. 3372 - 3385,Malaysia

 

 

Tips Memilih Mebel Yang Tepat Untuk Rumah Anda

Tips Memilih Mebel Yang Tepat Untuk Rumah Anda

Disajikan oleh : Drs. Andreas Mulyono,MT

( Widyaiswara P4TK BOE Malang )

1.  Memilih Kebutuhan Mebel  Untuk Rumah Anda

Gambar Kursi dan Meja Tamu

Anda pasti kesal ketika memilih lemari kayu kemudian pintunya sulit dibuka, padahal belum genap sebulan anda membelinya. Nah, itu tadi hanya satu keluhan yang lazim kita jumpai, selain itu masih sering kita jumpai lapisan cat mengelupas, retak-retak, bengkok, melengkung, patah, berjamur, dan sebagainya.

Ada beberapa saran  sebelum anda membeli mebel dari kayu, antaralain yaitu :

a.  Amati Harganya.

Semakin miring harga yang di tawarkan oleh Toko Mebelpadahal kayu yang ditawarkan adalah jati, anda harus curiga karena kayu yang digunakan kemungkinan besar tidak mengalami proses pengeringan dengan oven. Apabila anda menghendaki kualitas, carilah harga mebel dengan harga yang wajar dengan membandingkan antar toko mebel.

b.  Amati Prosentase Gubal Pada Mebel.

Sebaiknya pilihlah kayu tanpa gubal atau apabila dompet anda tidak tebal, pilihlah dengan rasio 60 kayu tua : 40 gubal. Anda dapat melakukannya dengan memperhatikan beberapa bagian kayu secara sepintas. Apabila telah terlatih, anda dapat dengan segera menilai kualitas mebel yang ditawarkan. Nah, akan lebih sulit untuk mengamati gubal pada mebel dengan finish gelap. Hal ini sebenarnya tidak sulit apabila anda sudah membanding-bandingkan harga antar toko. Apabila selisih jauh, sebenarnya anda sudah bisa menerka kualitasnya.

 

c.  Ketika Anda Tidak Memiliki Cadangan Budget Yang Cukup.

Sebenarnya anda memiliki pilihan untuk membeli mebel dari bahan kayu sungkai, ramin, atau Kalimantan di toko mebel. Umumnya harga-harga mebel tersebut lebih murah dibandingkan jati dan usia tebang pohon biasanya tua. Memang keindahan serat kayu pasti kalah dibandingkan jati, tetapi daya tahan justru lebih baik daripada anda membeli jati murahan. Selain itu anda dapat memilih mebel dari bahan lain, misalkan fiberglass, kaca, plastik, particle board, MDF, atau mungkin malah perpaduan kayu dengan teak wood board. Kualitas yang terakhir ini biasanya justru lebih baik dibandingkan anda memaksakan membeli mebel jati dengan kualitas yang rendah.

d.  Jika Anda Masih Tetap Memilih Bahan Jati Sebagai Bahan Mebel Favorit.

Sebaiknya anda memilih serat kayu yang lurus. Hindari mata kayu yang terlalu banyak karena meskipun si penjual berkilah bahwa mebel jadi lebih “nyeni”, namun apabila kering mata kayu dapat meninggalkan lubang yang cukup mengganggu.

    Apabila mebel ditawarkan dalam harga miring di toko mebel, hindari memilih sambungan papan pada bidang yang lebar. Biasanya apabila musim berubah, sambungan akan meninggalkan garis menganga yang cukup lebar. Hal ini masih diperburuk lagi dengan bekas dempul yang pecah. Masih lebih baik apabila anda memilih mebel ?tanpa sambungan? atau dengan kata lain si pengrajin atau toko mebel memang sengaja hanya menyejajarkan bidang papan dengan memberi jarak seperlunya untuk menghindari efek kembang susut kayu.

e.  Usahakan Untuk Membeli Mebel Di Toko Mebel Kepercayaan Anda.

Apabila reputasi toko mebel ini baik, tentu saja si pemilik tidak akan meresikokan dirinya terkena komplain dari pelanggannya bukan? Nah, mudah-mudahan setelah membaca artikel ini anda tidak salah lagi memilih mebel kayu.

 

 

 

 

 

 

 

2.  Memilih Tempat Tidur Yang Baik Untuk Anak

 

Gambar Tempat Tidur Anak

Memilih ranjang tidur untuk anak tidak semudah dalam memilih ranjang tidur untuk orang dewasa karena tempat tidur anak harus dipenuhi dengan kebutuhan tidur anak – anak. Satu hal yang pasti diperhatikan adalah masalah kenyamanannya.

Tempat Tidur Anak

Tempat tidur untuk anak harus dibuat sesuai dengan prosedur kebutuhan anak mulai dari tingkat kenyamanan hingga tingkat keamanannya perlu dijaga. Dalam dekorasi ruang tidur anak, design dan warna dari tempat tidur pun mempengaruhi dekorasi ruang.  Karenanya design dan warnanya pun harus di sesuaikan dengan kebutuhan anak dan estetika ruang tidur.

Variasi Tempat Tidur

Variasi tempat tidur anak sekarang ini masih lebih sedikit dibandingkan variasi tempat tidur untuk orang dewasa baik dari segi model maupun pemilihan kasur. Design ranjang untuk anak –anak sekarang ini masih umum seperti gambar tokoh kartun atau yang berbentuk mobil. Jika Anda membelikan ranjang anak ini hanya dengan model seperti itu, maka ranjang tersebut tidak dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama sebab anak – anak ke depannya pasti berkembang.

Pemilihan Bahan Tempat Tidur

Ketika Anda ingin membeli tempat tidur untuk buah hati sebaiknya pilih material yang bisa menyokong tubuh anak yang mungil. Salah satu material yang direkomendasikan adalah kayu. Kayu merupakan material yang paling aman digunakan untuk tempat tidur, tetapi kualitas dari kayunya perlu juga diperhatikan. Gunakanlah kayu jati dan oak untuk tempat tidur  anak .

Selain pemilihan bahan, faktor keamanan dan kenyamanan harus juga diperhatikan. Pilihlah tempat tidur yang dapat bertahan lama dengan mengatur ukuran dari tempat tidur  tersebut agar bisa digunakan dalam jangka waktu lama.

Kesimpulan

Seperti apapun bentuk dan model tempat tidur si buah hati, hal yang paling utama diperhatikan adalah kenyamanan tidurnya. Hal ini disebabkan karena tidur merupakan salah satu kebutuhan anak dalam berkembang. Oleh karena itu, kebutuhan akan kenyamanan kasur menjadi pelengkap untuk membuat si kecil dapat tidur dengan baik.

3.  Memilih Furniture Tepat Untuk Teras Anda

Gambar Sofa Teras Dan Kolam Renang

Membeli furniture teras yang tepat tidaklah mudah. Banyak sekali jenis furniture teras yang ada, karena itu buatlah keputusan. furniture teras dapat terbuat dari kayu, metal, atau jenis granit. Bisa juga terdiri dari berbagai material. Kayu dengan metal, kayu dengan kain, kayu dan garnit dan seterusnya. furniture teras yang terbuat dari jati mempunyai pesona tersendiri. Anda harus mempelajari setiap material, kelebihan dan kekurangan, kemudian cari yang anda inginkan. Jadi temukan furniture teras yang tepat sesuai kemampuan dan keuangan.

Pertama :

Yang pertama anda harus memvisualisasi desain teras atau taman anda. termasuk landscape, warna dari furniture yang anda inginkan. Setelah itu anda bisa memilih material yang anda inginkan. furniture teras diletakan di luar rumah, jadi perawatannya harus lebih tekun karena lebih banyak berhubungan langsung dengan alam. Jika daerah anda berangin, maka hindari furniture yang ringan. Jika daerah anda sering hujan maka hindari furniture metal karena bisa berkarat. Kayu jati merupakan bahan yang paling diminati untuk furniture.

Kedua :

Selanjutnya, putuskan furniture apa yang anda butuhkan. Jika anda mempunyai taman yang ingin anda nikmati maka sebuah meja dan payung akan tampil menawan. Carilah furniture yang kokoh dan tidak terbang diterjang angin atau badai. Jika anda ingin taman anda menjadi daerah yang tenang, sunyi, dimana anda bisa membaca ditemani kicauan burung, maka pilihlah wicker chair (kursi anyaman) dan sebuah meja.

Ketiga :

Bantal yang lembut dan empuk pada kursi akan menambah kenyamanan saat duduk. Pastikan warnanya sesuai dengan furniture teras anda. jangan lupa menguji kualitas busa bantal. Anda juga dapat merubah gaya anda dengan mengganti cover bantal. Meja kayu yang panjang dan sebuah bangku akan membuat suasana alami.

Kesimpulan

Apapun jenis furniture yang anda pilih, haruslah menyatu dengan pemandangan dan objek dari kekaguman tamu anda. Furniture teras anda seharusnya membuat anda bangga dan merasa nyaman.

4.  Memilih Meja Makan Yang Tepat


Gambar Meja Makan

Furniture yang yang harus ada di ruang makan adalah meja makan, dikarenakan fungsinya yang yang sangat penting di saat Anda dan keluarga Anda melakukan aktivitas sarapan dan makan. Desain meja makan sekarang ini pun beragam mulai dari bentuk tradisional hingga modern. Corak dan warnyanya pun beragam. Tetapi bahan meja makan yang masih paling banyak digemari oleh kebanyakan orang adalah meja kayu. Alasannya karena kuat dan tahan lama dibandingkan dengan meja berbahan dasar lain.

Dalam pemilihan meja makan untuk ruang makan Anda, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan diantaranya adalah :

a.  Desain Meja

Pilihlah desain meja yang selaras dengan perabot dan dekorasi di ruang makan. Desain yang artistik memang menarik tetapi harus diperhitungan apakah cocok dengan yang lain. Pilihlah desain minimalis yang cocok ditempatkan pada bentuk ruang apapun.

b.  Ukuran Meja Makan

Pilihlah meja makan yang mempunyai ukuran lebih kecil dari ukuran ruang makan. Jangan sampai meja makan terlalu besar hingga membuat suasana ruang tampak penuh.

c.  Bentuk Meja Makan

Bentuk meja makan beragam, ada yang berbentuk persegi, persegi panjang, oval ataupun lingkaran. Bentuk oval dan persegi panjang cocok untuk ditempatkan pada ruangan yang luas dan yang menampung banyak orang. Untuk ruangan yang tidak terlalu luas, gunakanlah meja makan yang berbentuk persegi atau lingkaran.

d.  Warna Meja Makan

Pilihlah warna yang serasi dengan dekorasi ruangan, seperti warna dinding dan lantainya. Gunakanlah warna natural yang lebih mudah dipasangkan dengan dekorasi warana seperti apapun. Tetapi jangan gunakan warna gelap pada ruang yang sempit.

e.  Bahan Meja

Pilihlah bahan meja yang kuat dan tahan lama yang bisa menopang tekanan dari tangan saat makan di meja makan. Meja makan rotan bisa menjadi pengganti tepat bagi meja makan kayu, apalagi jika menggunakan meja makan berbahan rotan sintetis. Hal ini dikarenakan bahan rotan sintetis mudah perawatannya dan tahan lama.

Keterangan :

Beberapa tips di atas bisa Anda gunakan jika Anda sedang menginginkan meja makan untuk ruang makan Anda. Tetapi jangan lupa, ada meja makan ada juga kursinya. Jika ingin memilih kursi makan, pilhlah yang desain dan warnanya selaras dengan meja makan tetapi harus nyaman.

 

Referensi :

Sumber : http://furnitureinteriorjazidha.blogspot.com/2012/07/trik-cara-memilih-kebutuhan-furniture.html

Sumber : http://furnitureinteriorjazidha.blogspot.com/2012/07/memilih-furniture-tepat-untuk-teras-anda.html

Sumber : http://furnitureinteriorjazidha.blogspot.com/2012/07/tips-memilih-meja-makan-yang-tepat.html

Sumber : http://furnitureinteriorjazidha.blogspot.com/2012/07/memilih-lemari-pakaian-untuk-ruang-yang.html

Sumber : http://furnitureinteriorjazidha.blogspot.com/2012/07/tips-menata-dan-memilih-furniture-ruang.html

Sumber : http://furnitureinteriorjazidha.blogspot.com/2012/07/tips-memilih-kursi-jati-istimewa.html

Sumber : http://furnitureinteriorjazidha.blogspot.com/2012/07/memilih-furniture-yang-tepat-untuk.html

POTENSI PENERAPAN LAJUR KENDARAAN SEPEDA MOTOR DI KOTA MALANG

POTENSI PENERAPAN LAJUR KENDARAAN SEPEDA MOTOR

  DI KOTA MALANG

 Dalono

 

Departemen Bangunan PPPPTK/VEDC Malang

Email : dalono_arwana@yahoo.com.au

 

 PENDAHULUAN

 

Masalah keselamatan lalu-lintas merupakan bahasan menarik ditinjau dari sisi kemanusiaan maupun ekonomi. Milyaran rupiah telah dibelanjakan akibat kecelakaan lalu-lintas. Di Indonesia tahun 2000 sampai dengan tahun 2005 terjadi peningkatan jumlah kecelakaan jalan raya sebesar 11% per tahun. Jenis kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan lalu lintas sebagian besar adalah sepeda motor rata-rata 62,62% kemudian diikuti mobil penumpang 36%, kendaraan barang 29,62% dan bus 10,56%.

 

Untuk mereduksi peningkatan angka maupun resiko kecelakaan tersebut di atas dilakukan strategi dan program aksi keselamatan transportasi jalan, strategi-startegi yang ditempuh (Dirjen Hubdat,2008) salah satu diantaranya adalah:

 

Memberikan dampak menurunnya tingkat kecepatan kendaraan pada saat melintasi area ZoSS sehingga dapat meningkatkan keselamatan.

Kondisi eksisting di Kota Malang terdapat lajur kiri sepeda motor yang terdapat di ruas Jalan Jaksa Agung Suprapto, selain ruas jalan tersebut belum dilakukan pemisahan lajur sepeda motor di sepanjang ruas jalan utama Kota Malang.  Pada tahap awal perlu dilakukan kajian untuk mengetahui potensi lajur sepeda motor pada ruas jalan utama    Kota Malang dengan menggunakan parameter karakteristik lalu lintas dan geometrik jalan untuk menentukan perlu tidaknya lajur sepeda motor di ruas jalan utama Kota Malang.

 

Tujuan yang ingin dicapai penelitian ini adalah mengetahui potensi penerapan lajur sepeda motor di ruas jalan utama Kota Malang.

Tipe Lajur Sepeda Motor

 

Undang – undang No 38 – 2004 tentang jalan maupun PP No 34 – 2006 belum mengatur tentang lajur sepeda motor, di beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, surabaya dan Malang   kendaraan sepeda motor menggunakan lajur kiri.  Yang di maksud lajur kiri menurut PP No 43 tahun 1993  pasal 51 ayat 1 adalah: tata cara berlalu lintas di jalan dengan mengambil jalur jalan sebelah kiri.      Sedangkan pasal 61 ayat 1, lajur yang memiliki dua atau lebih lajur searah, kendaraan yang berkecepatan lebih rendah daripada kendaraan lain harus mengambil lajur sebelah kiri.  Pada lajur ini masih ada pergerakan pengendara sepeda motor beresiko terutama pada saat meyeberang ke arah berlawanan .

Pengalaman di negara Malaysia terdapat dua tipe lajur sepeda motor (Teik Hua Law dan Radin Umar, 2005) yaitu:

 a.  Lajur Khusus Sepeda Motor (Exclusive Motorcycle Lane)

 

Pembangunan lajur khusus sepeda motor (Exclusive motorcycle lanes) dibangun khusus untuk lajur sepeda motor yang memisahkan dengan kendaraan lainnya khususnya kendaraan roda empat.  Lajur khusus ini  dibatasi dengan pagar atau median, lajur tersebut dapat membantu mengurangi konflik pada suatu persimpangan. Karena pada persimpangan tetap dibuat terpisah dengan bentuk overpass atau underpas, seperti Gambar 1

 

 Lajur dibangun di bagian jalan eksisting yang diperkeras dan biasanya dibuat pada sisi kiri jalan (bahu jalan yang diperkeras atau lajur darurat/emergency lane). Antara lajur sepeda motor dengan lajur bukan sepeda motor diberi marka jalan untuk memisahkan pergerakan/arus,  pengendara sepeda motor akan berbagi lajur dengan kendaraan lain.  Ilustrasi lajur tidak khusus (Non-exclusive motorcycle lanes) seperti Gambar 2

METODE

 

Analisis Potensi Lajur Sepeda Motor diawali dengan penetapan lokasi survei primer dengan cara melakukan kajian geometrik dari data sekunder yang berupa peta jaringan jalan Kota Malang.  Baru setelah lokasi ditetapkan dilakukan survei primer dan analisa potensi lajur sepeda motor

a)  Analisis GeometriJalan

 

Analisisgeometri dilakukan terhadap ruas jalan arteri sekunder dan kolektor primer terkait dengan ruas jalan itu sendiri yang meliputi fungsi ruas jalan, bentuk geometris jalan. Untuk mengetahui kemungkinan masih ada ruang yang dapat dipergunakan sebagai lajur sepeda motor, dengan membandingkan kondisi eksisting dengan kriteria lebar lajur sepeda motor yang telah dijelaskan sebelumnya. Analisis ini diperlukan untuk mengetahui lokasi yang berpotensi diterapkannya lajur sepeda motor berdasarkan ukuran geometrik jalan.

b)  Analisis Karakteristik Lalu Lintas

 

Analisisdilakukan setelah dilakukan survei primer karakteristik lalul lintas pada ruas jalan–ruas jalan di Kota Malang yang telah ditetapkan sebagai lokasi penelitian berdasarkan hasil analisis geometri ruas jalan. Analisis karakteristik lalu lintas terkait dengan:·      Volume Lalu Lintas

Ruas jalan diperlukan  lajur sepeda motor atau tidak, setelah dilakukan analisis terhadap volume lalu lintas pada ruas jalan tersebut dengan membandingkan berdasar kriteria volume lalu lintas yang sesuai dengan tipe jalan.

Proporsi Sepeda Motor

Ruas jalan diperlukan  lajur sepeda motor atau tidak, dilakukan analisis terhadap proporsi dan atau volume sepeda motor pada ruas jalan tersebut dengan membandingkan kriteria proporsi dan atau volume sepeda sepeda motor

   Analisa Kinerja Ruas Jalan Kondisi Eksisting

 

Penetapan adanya potensi suatu ruas jalan diterapkan  lajur sepeda motor  juga dilihat dari analisis kinerja ruas jalan kondisi eksisting berdasarkan V/C ratio (DS eksisting). Pedomanyang digunakan dalam menganalisa adalah MKJI 1997 dan Keputusan Menteri No.14 tahun 2006 tentang Manajemen Rekayasa Lalu lintas.

 

 Besarnya kapasitas jalan dihitung menggunakan rumus sebagai berikut

 

C = Co x FCw x FCSP x FCSF x FCCS

 

Dengan :

 

C       :  Kapasitas aktual (smp/jam)

 

Co       :  Kapasitas dasar (smp/jam)

 

FCW   :  Faktor penyesuai lebar jalan

 

FCSP:  Faktor arah (hanya untuk undivided road)

 

FCSF:Gesekan samping dan faktor penyesuaian bahu/kerb jalan

 

FCCS    :  Faktor besarnya kota

 

Derajat kejenuhan adalah suatu ukuran yang digunakan untuk mengetahui kualitas suatu ruas jalan tertentu dalam melayani arus lalu lintas yang melewatinya.

 

DS = V/C

 

dengan :

 

   DS    :Derajat kejenuhan

 

   V       :Volume Lalu Lintas (smp)

 

   C      :  Kapasitas Jalan

 

·      Analisa Kinerja Ruas Jalan Kondisi Skenario

 

Skenario penerapan lajur sepeda motor direncanakan dengan memperhatikan kondisi eksisting kinerja ruas jalan dan penggunaan lahan di lokasi penelitian. Skenario lajur sepeda motor direncanakan sebagai berikut:

 

-     Lajur khusus sepeda motor menggunakan bahu jalan dengan lebar 2 m dan badan jalan lebar 0,6 m.

 

-    Lajur non khusus sepeda motor menggunakan bahu jalan dengan lebar 2 m dan badan jalan lebar 0,6 m.

 

Penetapan menggunakan skenario lajur khusus atau lajur non-khusus didasarkan pada perhitungan derajat kejenuhan kondisi eksisting (DSeksisting). Apabila DSeksisting0,86, ditetapkan sebagai ruas jalan dengan lajur khusus sepeda motor. Dan sebaliknya, apabila 0,65 DSeksisting0,86 ditetapkan sebagai lajur non-khusus sepeda motor.

SelanjutnyaDSscen masing-masing kondisi skenario dihitung dan dibandingkan lagi dengan DSeksisting. Apabila DSeksisting  DSscen maka ruas jalan tersebut berpotensi diterapkan lajur sepeda motor sedangkan apabila sebaliknya maka kebutuhan ruang untuk menerapkan lajur sepeda motor perlu dilakukan kaji ulang yang dapat berupa.penataan jaringan jalan atau penataan ulang tata guna lahan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis geometri ruas jalan arteri dan kolektor  bahwa di Kota Malang terdapat: 10 ruas jalan arteri primer, 14 ruas jalan arteri sekunder, 5 ruas jalan kolektor primer dan 25 ruas jalan kolektor sekunder.  Dari seluruh ruas jalan-jalan utama tersebut tidak semua dipilih sebagai lokasi penelitian, karena ada yang tidak memenuhi persyaratan minimal yang ditetapkan, juga karena kondisi lalu lintas yang tidak memungkinkan berdasar  hasil pengamatan visual serta keterbatasan waktu, biaya dan tenaga.

Berdasarkan alasan tersebut maka dipilih 10 ruas jalan untuk dikaji potensinya sebagai lajur sepeda motor, seperti dapat dilihat pada Tabel 2 dan Tabel 3.

 

 Analisa Skenario Lajur Sepeda Motor   

Analisis karakteristik lalu lintas kondisi eksisting dan rencana bentuk (scenario) lajur sepeda motor,  diperlihatkan pada Tabel 4.

Berdasarkan hasil analisa tersebut, selanjutnya dibuat skenario untuk masing-masing tipe lajur agar potensi tersebut benar-benar dapat diterapkan dengan mempertimbangkan ketersediaan ruang masing-masing ruas jalang yang telah ditetapkan dan persyaratan lebar lajur untuk dua sepeda motor dengan ukuran lebar 2.60 m. Skenario lajur sepeda motor yang direncanakan adalah sebagai berikut:

Untuk lajur khusus sepeda motor akan memanfaatkan bahu jalan dengan lebar 2 m dan badan jalan lebar 0,6 m. Sedangkan untuk lajur non khusus sepeda motor memanfaatkan bahu jalan dengan lebar 2 m dan badan jalan lebar 0,6 m, namun pengendara sepeda motor masih bercampur dengan angkutan kota (mikrolet).

Selanjutnya untuk pemeriksaan derajat kejenuhan masing-masing kondisi skenario (DSscen) dihitung dan dibandingkan lagi dengan  derajatkejenuhan kondisi eksisting (DS eksisting).

Adapun hasil analisis dari nilai derajat kejenuhan tiap-tiap periode puncak untuk kondisi skenario dan perbandingan hasilnya dengan derajat kejenuhan kondisi eksisting (DSeksisting), seperti diperlihatkan pada Tabel 5.

Dengan demikian menunjukkan bahwa ada kecenderungan nilai DS eksisting ≥ DS scen atau tingkat pelayanan (level of service) pada kondisi skenario lebih baik dari tingkat pelayanan kondisi eksisting. Rata-rata derajat kejenuhan terjadi  penurun sebesar 55 % setelah skenario untuk masing-masing tipe yang digunakan. Berdasar hasil tersebut maka pada kedelapan ruas jalan  yang ditinjau benar-benar memiliki potensi untuk diterapkan  lajur sepeda motor.

 

 

REKOMENDASI

Ada kecenderungan volume kendaraan sepeda motor di kota Malang terus meningkat dimungkinkan menambah kemacetan dan tingkat kecelakaan lalu lintas maka perlu dipertimbangkan:

·      Penerapan lajur khusus dan lajur non khusus sepeda motor dengan ukuran lebar lajur 2,60 m, menggunakan lebar bahu jalan 2.00 m ditambah lebar badan jalan 0.60 m pada ruas jalan arteri dan kolektor di Kota Malang.

·      Lajur khusus sepeda motor dibatasi dengan sparator untuk memisahkan dengan lajur kendaraan roda empat, sedangkan untuk lanjur non khusus dpisahkan dengan marka jalan dengan garis menerus untuk memisahkan dengan lajur kendaraan selain mikrolet.

·      Penerapan lajur sepeda motor dimungkinkan tidak menerus seluruh ruas jalan, dapat menyesuaikan dengan kondisi ruas jalan tersebut.

·      Diperlukan dukungan produk hukum seperti peraturan yang mendukung dan melindungi lajur sepeda motor dan pengendaranya.

KESIMPULANDAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil temuan penelitian berkenaan dengan potensi lajur sepeda motor di kota Malang dapat disimpulkan sebagai berikut:

Potensi Penerapan Penerapan Lajur Sepeda Motor

Dari hasil analisis ditemukan bahwa kota Malang berpotensi diterapkan lajur sepeda motor pada ruas jalan utama.  Hal ini ditunjukan terdapat 3 (tiga) lajur kusus sepeda motor pada ruas jalan Jendral Basuki Rahmat, Letjend. S Parman dan Mayjend. Sungkono dan terdapat 5 (lima) lajur non khusus ( lajur bersama dengan Angkutan Kota/Mikrolet) pada ruas jalan Panji Suroso, Kyai Ageng Gribig, Madyo Puro, Mayjend. Sungkono dan Urip Somoarjo.

 

DAFTAR PUSTAKA

Teik Hua LAW and Radin Umar, 2005. Determination Of Comfortable Safe Width In An Exclusive Motorcycle Lane, Journal of EASTS Vol. 6, pp. 3372 - 3385,Malaysia

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG