METODE PENGAWETAN KAYU

Hartiyono (Widyaiswara Madya Departemen Bangunan PPPPTK BOE / VEDC Malang)

ABSTRAK
Keawetan kayu berhubungan erat dengan pemakaiannya. Kayu dikatakan awet bila mempunyai umur pakai lama. Kayu berumur pakai lama bila mampu menahan bermacam-macam factor perusak kayu. Dengan kata lain: keawetan kayu ialah daya tahan suatu jenis kayu terhadap factor-faktor perusak yang datang dari luar tubuh kayu itu sendiri. Kayu diselidiki keawetannya pada bagian kayu terasnya, sedangkan kayu gubalnya kurang diperhatikan. Pemakaian kayu menentukan pula umur keawetannya. Kayu, yang awet dipakai dalam konstruksi atap, belum pasti dapat bertahan lama bila digunakan di laut, ataupun tempat lain yang berhubungan langsung dengan tanah. Demikian pula kayu yang dianggap awet bila dipakai di Indonesia. Serangga perusak kayu juga berpengaruh besar. Kayu yang mampu menahan serangga rayap tanah, belum tentu mampu menahan serangan bubuk. Oleh karena itu tiap-tiap jenis kayu mempunyai keawetan yang berbeda pula. Misalnya keawetan kayu meranti tidak akan sama dengan keawetan kayu jati. Ada kalanya pada satu jenis kayu terdapat keawetan yang berbeda, disebabkan oleh perbedaan ekologi tumbuh dari pohon tersebut.

Read more: METODE PENGAWETAN KAYU

METODE PERBAIKAN RUMAH

METODE PERBAIKAN RUMAH

Oleh: Drs.Tukiman,MT

 

A.  PENDAHULUAN

Metode perbaikan rumah adalah suatu cara penyelesaian masalah yang terjadi pada kerusakan rumah akibat tidak fungsinya komponen rumah secara maksimal dengan demikian metode peraikan rumah ini dimaksudkan untuk  memberikan wawasan dan dapat digunakan sebagai acuan bagi perencana, pelaksana maupun masyarakat  dalam perencanaan dan pelaksanaaan bangunan gedung dan rumah tinggal

1.  Rumah sederhana

adalah bangunan rumah layak huni yang bagian huniannya berada langsung di atas permukaan tanah, berupa rumah tunggal, rumah kopel dan rumah deret. Harganya terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah dan sedang. Luas lantai bangunan tidak lebih dari 70 m2, yang dibangun di atas tanah dengan luas kaveling 54 m2 sampai dengan 200 m

 2.  Rumah bertingkat

adalah rumah tinggal berlantai dua (2) atau lebih, rumah susun (rusun) baik untuk golongan berpenghasilan rendah (rumah susun sederhana sewa), golongan berpenghasilan menengah (rumah susun sederhana) maupun golongan berpenghasilan atas (rumah susun mewah ≈ apartemen)

 3.  Bangunan gedung sederhana

adalah bangunan gedung dengan karakter sederhana serta memiliki kompleksitas dan teknologi sederhana, klasifikasi bangunan Gedung sederhana adalah

a.    Gedung kantor yang sudah ada disain prototipenya, atau bangunan gedung kantor dengan jumlah lantai s.d. lantai 2 dengan luas sampai dengan 500 m2.

b.    Gedung pelayanan kesehatan: seperti contoh puskesmas

c.    Gedung pendidikan tingkat dasar dan/atau lanjutan dengan jumlah lantai s.d. 2 lantai.

 4.  Bangunan gedung bertingkat

adalah bangunan gedung berlantai lebih dari 2 (dua

 

 B.MENGATEGORI  KERUSAKAN RUMAH DAN TINDAKAN YANG PERLU DILAKUKAN

1.  Kerusakan Ringan Non-Struktur

Suatu bangunan dikategorikan mengalami kerusakan nonstruktur apabila terjadi hal-hal sebagai berikut :

a.    retak halus (lebar celah lebih kecil dari 0,075 cm) pada plesteran

b.    serpihan plesteran berjatuhan

c.    mencakup luas yang terbatas

Tindakan yang perlu dilakukan adalah perbaikan (repair) secara arsitektur tanpa mengosongkan bangunan.

 2.  Kerusakan Ringan Struktur

Suatu bangunan dikategorikan mengalami kerusakan struktur tingkat ringan apabila terjadi hal-hal sebagai berikut : :

a.    retak kecil (lebar celah antara 0,075 hingga 0,6 cm) pada dinding.

b.    plester berjatuhan.

c.    mencakup luas yang besar.

d.    kerusakan bagian-bagian nonstruktur seperti cerobong, lisplang, dsb.

e.    kemampuan struktur untuk memikul beban tidak banyak berkurang.

f.     Laik fungsi/huni

Tindakan yang perlu dilakukan adalah perbaikan (repair) yang bersifat arsitektur agar daya tahan bangunan tetap terpelihara. Perbaikan dengan kerusakan ringan pada struktur dapat dilakukan tanpa mengosongkan bangunan.

 3.  Kerusakan Struktur Tingkat Sedang

Suatu bangunan dikategorikan mengalami kerusakan struktur tingkat sedang apabila terjadi hal-hal sebagai berikut :

a.    retak besar (lebar celah lebih besar dari 0,6 cm) pada dinding;

b.    retak menyebar luas di banyak tempat, seperti pada dinding pemikul beban, kolom; cerobong miring; dan runtuh;

c.    kemampuan struktur untuk memikul beban sudah berkurang sebagian;

d.    laik fungsi/huni.

Tindakan yang perlu dilakukan adalah :

a.    restorasi bagian struktur dan perkuatan (strenghtening) untuk menahan beban gempa;

b.    perbaikan (repair) secara arsitektur;

c.    bangunan dikosongkan dan dapat dihuni kembali setelah proses restorasi selesai.

4.  Kerusakan Struktur Tingkat Berat

Suatu bangunan dikategorikan mengalami kerusakan struktur tingkat berat apabila terjadi hal-hal sebagai berikut :

a.    dinding pemikul beban terbelah dan runtuh;

b.    bangunan terpisah akibat kegagalan unsur-unsur pengikat;

c.    kira-kira 50% elemen utama mengalami kerusakan;

d.    tidak laik fungsi/huni.

Tindakan yang perlu dilakukan adalah merubuhkan bangunan. Atau dilakukan restorasi dan perkuatan secara menyeluruh sebelum bangunan dihuni kembali. Dalam kondisi kerusakan seperti ini, bangunan menjadi sangat berbahaya sehingga harus dikosongkan

 5.  Kerusakan Total

Suatu bangunan dikategorikan sebagai rusak total /roboh apabila terjadi hal-hal sebagai berikut :

a.  Bangunan roboh seluruhnya ( > 65%)

b.  Sebagian besar komponen utama struktur rusak

c.   Tidak laik fungsi/ huni

Tindakan yang perlu dilakukan adalah merubuhkan bangunan, membersihkan lokasi, dan mendirikan bangunan baru.

 

C.METODE PERBAIKAN DAN SAMBUNGAN TULANGAN KOLOM, BALOK

1.  Perbaikan dinding retak diagonal

Untuk retak kecil (retak dengan lebar celah antara 0,075 cm dan 0,6 cm:

- Plesteran lama di sekitar retak dikupas lalu retak tersebut diisi dengan air semen.

- Setelah celah rapat dinding diplester kembali dengan campuran spesi 1 semen : 3 pasir

      

Gambar: 1                                     Gambar: 2

 

Untuk retak yang besar (retak yang mempunyai lebar celah lebih besar dari 0,6 cm):

- Plesteran lama di sekitar retak dikupas lalu retak tersebut diisi dengan air semen

- Setelah celah rapat, pada bagian bekas retakan dipasang kawat anyaman yang dipaku kuat.

- Dinding diplester kembali dengan campuran spesi 1 semen : 3 pasir

 

2.  Penulangan balok dan kolom pada Rumah Bertingkat dengan Dinding Tembok Penuh dengan Konstruksi dan Lantai Beton Bertulang

Penempatan dan pengaturan tulangan, terutama pada sambungan-sambungan harus mendapat perhatian atau pengawasan khusus. Ujung-ujung tulangan harus dijangkarkan dengan baik. (Lihat Gambar 2)  merupakan contoh bangunan rumah bertingkat yang menggunakan struktur beton bertulang.

 

 

Gambar: 3

Gunakan kekuatan tekan beton minimum 175 kg/cm2, dan kekuatan tarik baja 2400 kg/cm2. Diameter tulangan sengkang minimum baik untuk balok maupun kolom adalah 8 mm, jarak sengkang dan luas tulangan atas dan tulangan bawah dari balok dan plat harus dihitung berdasarkan peraturan yang berlaku, begitu juga untuk luas tulangan untuk kolomnya. Pada setiap penampang balok dan kolom harus terpasang minimum empat batang besi tulang.

a.  Metode penyambungan tulangan pada persilangan balok berbeda ukuran dan balok.

        

Gambar: 4a                                         Gambar: 4b

 

Pada pertemuan penulangan dua balok dan penuangan kolom adalah sangat rumit pengerjaanya maka, cara yang sederhana dapat digunakan adalah rangkaian tulangan kolom merupakan rangkaian kolom utuh sedangkan untuk balok rangkaian penulangan yang terputus, kemudian dibutuhkan tulangan penyambung dengan panjang sesuai dengan panjang lewatan sesuai dengan peraturan (Gambar 4a dan 4b)

b.  Metode penyambungan tulangan pada pertemuan sudut balok dan ujung kolom

    

Gambar: 5a                                         Gambar: 5b

  

Gambar: 5c

dibutuhkan  2 tulangan sambung berbentuk U untuk balok besar dan 2 tulangan berbentuk L untuk kolom dan 2 untuk balok kecil

 

c.  Metode penyambungan tulangan pada pertemuan balok dan ujung kolom

     

Gambar: 6a                                      Gambar: 6b

 

Gambar: 6c bentuk penyambung

Pada penyambungan tulangan pada pertemuan balok dan ujung kolom tulangan penyambung yang dibutuhkan pada balok kecil adalah 4 potong tulangan lurus dengan panjang sesuai dengan peraturan sambungan lewatan, dan pada balok besar 2 buah tulangan berbentuk U, serta pada ujung tulangan kolom dibengkokan keluar semuanya dikat seperti gambar 6a dan 6b

d.  Metode penyambungan tulangan pada persilangan balok dan ujung kolom

      

Gambar: 7a                                         Gambar: 7b

Penyambungan tulangan ini berbentuk 4 potong tulangan lurus untuk balok kecil dan  4potong tulangan lurus untuk balok besar denan panjang sesuai dengan peraturan, sedangkan ujung tulangan kolom dibengkokan keluar.(gambar 7a dan 7b)

 

e.  Metode penyambungan tulangan pada pertemuan sudut balok dan kolom

     

Gambar: 8a                                        Gambar: 8b

 

 

Gambar: 8c

Bentuk tulangan penyambung untuk balok kecil dan untuk balok besar adalah sama hanya yang berbeda adalah tinggi h

 

KESIMPULAN

Metode perbaikan rumah merupakan tata cara perbaikan akibat dari usia rumah yang sudah tua, kesalahan konstruksi pada waktu pelaksanaan, bencana alam dan perubahan akibat pengaruh lain misalnya kelebihan beban, perbahan akibat dari renovasi yang tidak diperhitungkan dengan baik.

Rumah dapat dikategorikan rusak apabila telah mengalami penurunan fungsi, sehingga kalau bicara tentang rumah adalah mulai dari pondasi, dinding(kolom,balok) dan atap, namun disini baru dikupas sebagian atau hanya bagian yang sering timbul kerusakan dan cara- cara perbaikan,  hal tersebut dipandang penting karena sering terjadi dan cukup vital dalam suatu rumah.

Pertemuan penulangan kolom, balok itu sering terjadi kesulitan, sering terjadi keropos akibat banyaknya besi tulangan dibengkokan kedalam yang membuat kerikil menumpuk sehingga hasil pengecoran menjadi keropos.

 

DAFTAR PUSTAKA

Pedoman Teknis Rumah dan Bangunan Gedung Tahan Gempa,  Direktur Jenderal Cipta Karya, Jakarta 2006

http://www.bd.gov.hk/english/documents/code/bmg/bmg.htm

http://www.youtube.com/watch?v=vc4_5M1rhFg ,3D Animation of the construction of a Multi Story Building

Cara Mengkalibrasi Pesawat Penyipat Datar

 Cara Mengkalibrasi Pesawat Penyipat Datar.

Oleh : Drs. Andreas Mulyono,MT

( Widyaiswara PPPPTK BOE Malang)

 

A.  Cara Menyetel Pesawat Penyipat Datar

 

Pada prinsipnya penyetelan alat pesawat penyipat datar atau wate pas adalah mendirikan pesawat diatas statif. Adapun caranya adalah sebagai berikut :

1.    Dirikankan tripod atau statip pada permukaan tanah yang datar,upayakan kepala statif pada kondisi datar .

2.    Pastikan kaki-kaki statip masuk ke dalam tanah dengan cara menginjak sepatu pada kaki statif, tinggi statip disesuaikan dengan orang yang akan membidik dan permukaan kepala statip diusahakan relatif datar.

3.    Letakkan  pesawat penyipat datar  diatas statif kemudian dikunci.

4.    Mengatur ketiga buah sekrup penyetel ( A, B, C), untuk menentukan gelembung nivo posisi ditengah.

                  Posisi  gelembung nivi di tengah lingkaran

 

5.    Sejajarkan teropong dengan dua buah sekrup A dan B (kadudukan I), kemudian sekrup diputar searah (jika masuk, masuk semua; jika keluar, keluar semua) agar kedudukan gelembung nivo tepat di tengah-tengah.

6.    Putar teropong 90 derajat supaya posisinya tegak lurus terhadap dua sekrup A, B (kedudukan II), kemudian putar sekrup C agar kedudukan gelembung nivo tepat di tengah-tengah.

7.    Dirikan rambu ukur secara tegak lurus didepan (rambu A) dan dibelakang (rambu B )pesawat penyipat datar berjarak ± 30 meter.

8.    Arahkan teropong pesawat penyipat datar ke rambu A,kemudian baca benang tengah( misal 1.568 ).

9.    Putar dan arahkan teropong pesawat penyipat datar ke rambu B,kemudian baca benang tengah ( misal 1.244 ).

 

10.Pindahkan pesawat penyipat datar didepan rambu B berjarak ± 5 meter,lalu stel pesawat dengan baik sehingga gelembung nivo ditengah-tengah.

11.Arahkan teropong pesawat ke rambu A,lalu baca benang tengah ( misal 1.688 ), kemudian arahkan teropong pesawat ke rambu B, lalu baca benang tengah ( misal  1.369 ).

12.Hitunglah beda tinggi kedua titik yang diukur pada dua posisi ! Dari contoh hasil pembacaan kedua posisi diatas didapat Beda tinggi posisi I = 1.568 – 1.244 = 0.324 ,  Beda tinggi posisi II = 1.688- 1.369 = 0.329

13.Dari hasil kedua  pengukuran didapatkan beda tinggi yang tidak sama atau ada perbedaad  sebesar 0.329 – 0.324 = 0.005 m atau 5 mm, kalau pesawat penyipat datar tersebut pada kondisi laik pakai,maka kedua beda tinggi tersebut harus sama. Bisa dikatakan bahwa pesawat penyipat datar tersebut tidak laik/tidak presisi.

 

B.Cara Mengkalibrasi Pesawat Penyipat Datar

 

1.  Bukalah penutup lensa okuler pada teropong pesawat penyipat datar,pada posisi II arahkan teropong ke rambu A.

2.  Putarlah pengatur koreksi benang tengah dengan tuas yg tersedia di kotak pesawat , sehingga bacaan rambu A berkuarng setengah kesalahan ( 2 mm ) sehingga bacaac benang tengah menjadi 1. 686.

3.  Pindahkan pesawat penyipat datar ditengah-tengan antara rambu A dan rambu B ( posisi I ),kemudian stel gelembung nivo berada ditengah,siap untuk melakukan pembacaan.

4.  Arahkan teropong pesawat ke rambu A,lakukan pembacaan benang tengah (misal 1.544 ).

5.  Putar teropong pesawat dan arahkan ke rambu B, lalu lakukan pembacaan benang tengah ( misal 1.221 ).

 

 

6.  Pindahkan pesawat penyipat datar didepan rambu B ( posisi I) ± 5 meter,kemudian stel gelembung nivo berada ditengah,siap untuk melakukan pembacaan.

7.  Arahkan teropong pesawat ke rambu A,lakukan pembacaan benang tengah (misal 1.665 ).

8. Putar teropong pesawat dan arahkan ke rambu B, lalu lakukan pembacaan benang tengah ( misal 1.330).

9.  Pindahkan pesawat penyipat datar didepan rambu B ± 5 meter,kemudian stel hingga gelembung nivo berada ditengah.

 

              Posisi gelembung nivo ditengah

              Apabila pada posisi ini gelembung nivo tidak bisa berada ditengah lingkaran, maka nivo kotak tidak presisi. Nivo kotak perlu dikalibrasi, caranya adalah sebagai berikut :

Dengan menggunakan ketiga skrup koreksi nivo, gelembung nivo distel ditengah-tengah  secara perlahan-lahan.

10.    Arahkan teropong ke rambu B  ,kemudian baca benang tengah (misal 1.441 ),kemudian arahkan teropong ke rambu A,lalu baca benang tengah (misal 1.765 ).

11.    Hitunglah beda tinggi kedua posisi pengukuran tersebut, yaitu beda tinggi posisi I = 1.655-1.330 = 0.325 dan beda tinggi posisi II = 1.765-1.441= 0.324  ada selisih sebesar 0.001 atau 1 mm.

Kalau pesawat penyipat datar memiliki acurasi 1-2 mm, maka kesalahan ini masih dalam toleransi atau dengan kata lain pesawat sudah laik pakai.

 

Referensi :

1.  Diundo dari www.ilmutekniksipil.com/ilmu-ukurtanah/Cara menyetel pesawat penyipat datar.

2.  Buku Manual Pesawat Penyipat Datar Merk TOPCON.

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  

 

Pembuatan obyek 3 Dimensi dengan Printer 3D

3D PRINTER UNTUK MEMBUAT MODEL 3D

Oleh 

Alpha,ST (Widyaiswara PPPPTK BOE Malang)

 

Sejak tahun 2003 telah ada pertumbuhan dan perkembangan fungsi besar dalam printer khususnya printer 3 dimensi sehingga menghasilkan sebuah prototype obyek mendekati sesungguhnya. Teknologi ini juga menemukan penggunaan di bidang perhiasan, alas kaki, desain industri, arsitektur (membuat maket ), interior , furnitur, animasi modelling ,rekayasa dan konstruksi (AEC), otomotif, dirgantara, industri gigi dan medis, pendidikan,  teknik sipil, dan banyak lainnya. Bahan dasar yang digunakan sangat bervariasi mulai dari plastik, bubuk gipsum , kayu , dan metal. Adapun keuntungan lain dari 3D printer adalah  relatif lebih cepat membutuhkan waktu proses mencetak  arah vertikal sekitar 1 jam / 2.5 - 5 cm, tenaga operasional membutuhkan hanya 1 orang , tingkat kedetailan sangat presisi dan tinggi ( tebal sampai 1 mm ), dapat mempermudah komunikasi antara owner dengan designer dan mudah dalam mengoperasikan mesin . Untuk urusan vendor/penjual mesin 3D printer sudah banyak sekali yang memproduksi seperti Zcorporation,3D system,EOS,Mcor,Arcam, dan lain-lain. Yang dimana menawarkan keunggulan masing-masing. Ukuran kotak pencetakan mempunyai ruang maximum panjang = 25 cm, lebar=25 cm , tinggi = 30 cm

Metode proses pembuatan obyek 3D dengan mesin 3D printter adalah  :

1.      Tahap Pra Printing , yang meliputi  :

Pembuatan Model 3D

-    membuat model 3D dengan software design seperti AutoCAD, Revit, Sketchup, 3DS Max, Maya,Mechanical desktop , dll. kemudian file di import  dan di simpan dalam bentuk Stereolitho ( STL ) file,

Bahan material

-          Menyiapkan bahan material untuk model 3D yang digunakan akan digunakan.khusus bahan bubuk gypsum diperlukan cairan perekat ( cth : zb®60 merupakan produk dari Zcorp)

 

2.      Tahap Printing , yang meliputi  :

-      Proses mencetak dengan mesin 3D printer dan scaning cetak model 3D berdasarkan layer yang telah dibuat ,bergerak secara horizontal dan vertikal ( sumbu z axis )

 

3.      Tahap Pasca Printing , yang meliputi  :

-     Proses pembersihan sisa bahan pada obyek 3D dengan mesin compressor

-      Pemberian cairan resin sebagai penguat dan penggaku agar tidak mudah patah.(khususnya dengan bahan bubuk gypsum dengan G8-super Yachtcare) kemudian dikeringkan

Mengenal Karakteristik Kayu


MENGENAL  KARAKTERISTIK  KAYU

 

Oleh : Bambang Wijanarko,S.Pd,MT

Widyaiswara PPPPTK BOE Malang – Departemen Bangunan

 

 Kayu adalah bagian batang atau cabang serta ranting tumbuhan yang mengeras karena mengalami lignifikasi (pengayuan).

Kayu digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari memasak, membuat perabot (meja, kursi, lemari), bahan bangunan (pintu, jendela, rangka atap), bahan kertas, kerajinan dan banyak lagi. Kayu juga dapat dimanfaatkan sebagai hiasan-hiasan rumah tangga dan sebagainya.

 

Penyebab terbentuknya kayu adalah akibat akumulasi selulosa dan lignin pada dinding sel berbagai jaringan di batang.

Ilmu perkayuan (dendrologi) mempelajari berbagai aspek mengenai klasifikasi kayu serta sifat kimia, fisika, dan mekanika kayu dalam berbagai kondisi penanganan.

Pengenalan Kayu

Untuk mengenal/menentukan suatu jenis kayu, tidak selalu dilakukan dengan cara memeriksa kayu dalam bentuk log (kayu bundar), tetapi dapat dilakukan dengan memeriksa sepotong kecil kayu. Penentuan jenis kayu dalam bentuk log, pada umumnya dengan cara memperhatikan sifat-sifat kayu yang mudah dilihat seperti penampakan kulit, warna kayu teras, arah serat, ada tidaknya getah dan sebagainya.

Penentuan beberapa jenis kayu dalam bentuk olahan (kayu gergajian, moulding, dan sebagainya) masih mudah dilakukan dengan hanya memperhatikan sifat-sifat kasar yang mudah dilihat. Sebagai contoh, kayu jati (Tectona grandis) memiliki gambar lingkaran tumbuh yang jelas). Namun apabila kayu tersebut diamati dalam bentuk barang jadi dimana sifat-sifat fisik asli tidak dapat dikenali lagi karena sudah dilapisi dengan cat, maka satu-satunya cara yang dapat dipergunakan untuk menentukan jenisnya adalah dengan cara memeriksa sifat anatomi/strukturnya. Demikian juga untuk kebanyakan kayu di Indonesia, dimana antar jenis kayu sukar untuk dibedakan, cara yang lebih lazim dipakai dalam penentuan jenis kayu adalah dengan memeriksa sifat anatominya (sifat struktur).

Pada dasarnya terdapat 2 (dua) sifat utama kayu yang dapat dipergunakan untuk mengenal kayu, yaitu sifat fisik (disebut juga sifat kasar atau sifat makroskopis) dan sifat struktur (disebut juga sifat mikroskopis). Secara obyektif, sifat struktur atau mikroskopis lebih dapat diandalkan dari pada sifat fisik atau makroskopis dalam mengenal atau menentukan suatu jenis kayu. Namun untuk mendapatkan hasil yang lebih dapat dipercaya, akan lebih baik bila kedua sifat ini dapat dipergunakan secara bersama-sama, karena sifat fisik akan mendukung sifat struktur dalam menentukan jenis.

Sifat fisik/kasar atau makroskopis adalah sifat yang dapat diketahui secara jelas melalui panca indera, baik dengan penglihatan, penciuman, perabaan dan sebagainya tanpa menggunakan alat bantu. Sifat-sifat kayu yang termasuk dalam sifat kasar antara lain adalah :

Warna, umumnya yang digunakan adalah warna kayu teras,

  1. Tekstur, yaitu penampilan sifat struktur pada bidang lintang,
  2. Arah serat, yaitu arah umum dari sel-sel pembentuk kayu,
  3. Gambar, baik yang terlihat pada bidang radial maupun tangensial
  4. Berat, umumnya dengan menggunakan berat jenis
  5. Kesan raba, yaitu kesan yang diperoleh saat meraba kayu,
  6. Lingkaran tumbuh,
  7. Bau, dan sebagainya.

Sifat struktur/mikroskopis adalah sifat yang dapat kita ketahui dengan mempergunakan alat bantu, yaitu kaca pembesar (loupe) dengan pembesaran 10 kali. Sifat struktur yang diamati adalah :

  1. Pori (vessel) adalah sel yang berbentuk pembuluh dengan arah longitudinal. Dengan mempergunakan loupe, pada bidang lintang, pori terlihat sebagai lubang-lubang beraturan maupun tidak, ukuran kecil maupun besar. Pori dapat dibedakan berdasarkan penyebaran, susunan, isi, ukuran, jumlah dan bidang perforasi).
  2. Parenkim (Parenchyma) adalah sel yang berdinding tipis dengan bentuk batu bata dengan arah longitudinal. Dengan mempergunakan loupe, pada bidang lintang, parenkim (jaringan parenkim) terlihat mempunyai warna yang lebih cerah dibanding dengan warna sel sekelilingnya. Parenkim dapat dibedakan berdasarkan atas hubungannya dengan pori, yaitu parenkim paratrakeal (berhubungan dengan pori) dan apotrakeral (tidak berhubungan dengan pori).
  3. Jari-jari (Rays) adalah parenkim dengan arah horizontal. Dengan mempergunakan loupe, pada bidang lintang, jari-jari terlihat seperti garis-garis yang sejajar dengan warna yang lebih cerah dibanding warna sekelilingnya. Jari-jari dapat dibedakan berdasarkan ukuran lebarnya dan keseragaman ukurannya.
  4. Saluran interseluler adalah saluran yang berada di antara sel-sel kayu yang berfungsi sebagai saluran khusus. Saluran interseluler ini tidak selalu ada pada setiap jenis kayu, tetapi hanya terdapat pada jenis-jenis tertentu, misalnya beberapa jenis kayu dalam famili Dipterocarpaceae, antara lain meranti (Shorea spp), kapur (Dryobalanops spp), keruing (Dipterocarpus spp), mersawa (Anisoptera spp), dan sebagainya. Berdasarkan arahnya, saluran interseluler dibedakan atas saluran interseluler aksial (arah longitudinal) dan saluran interseluler radial (arah sejajar jari-jari). Pada bidang lintang, dengan mempergunakan loupe, pada umumnya saluran interseluler aksial terlihat sebagai lubang-lubang yang terletak diantara sel-sel kayu dengan ukuran yang jauh lebih kecil.
  5. Saluran getah adalah saluran yang berada dalam batang kayu, dan bentuknya seperti lensa. Saluran getah ini tidak selalu dijumpai pada setiap jenis kayu, tapi hanya terdapat pada kayu-kayu tertentu, misalnya jelutung (Dyera spp.)
  6. Tanda kerinyut adalah penampilan ujung jari-jari yang bertingkat-tingkat dan biasanya terlihat pada bidang tangensial. Tanda kerinyut juga tidak selalu dijumpai pada setiap jenis kayu, tapi hanya pada jenis-jenis tertentu seperti kempas (Koompasia malaccensis) dan sonokembang (Pterocarpus indicus).
  7. Gelam tersisip atau kulit tersisip adalah kulit yang berada di antara kayu, yang terbentuk sebagai akibat kesalahan kambium dalam membentuk kulit. Gelam tersisip juga tidak selalu ada pada setiap jenis kayu. Jenis-jenis kayu yang sering memiliki gelam tersisip adalah karas (Aquilaria spp), jati (Tectona grandis) dan api-api (Avicennia spp).

 

       
   

     Terdapat perbedaan yang mendasar antara sifat struktur kayu daun lebar dan sifat struktur kayu daun jarum. Kayu-kayu daun jarum tidak mempunyai pori-pori kayu seperti halnya kayu-kayu daun lebar.

     Untuk menentukan jenis sepotong kayu, kegiatan pertama yang harus dilakukan adalah memeriksa kayu tersebut dengan memeriksa sifat kasarnya

 
 

       Apabila dengan cara tersebut belum dapat ditetapkan jenis kayunya, maka terhadap kayu tersebut dilakukan pemeriksaan sifat strukturnya dengan mempergunakan loupe.

Untuk memudahkan dalam menentukan suatu jenis kayu, kita dapat mempergunakan kunci pengenalan jenis kayu. Kunci pengenalan jenis kayu pada dasarnya merupakan suatu kumpulan keterangan tentang sifat-sifat kayu yang telah dikenal, baik sifat struktur maupun sifat kasarnya. Sifat-sifat tersebut kemudian didokumentasikan dalam bentuk kartu (sistim kartu) atau dalam bentuk percabangan dua (sistem dikotom).

     Pada sistem kartu, dibuat kartu dengan ukuran tertentu (misalnya ukuran kartu pos). Disekeliling kartu tersebut dicantunkan keterangan sifat-sifat kayu, dan pada bagian tengahnya tertera nama jenis kayu. Sebagai contoh, kayu yang akan ditentukan jenisnya, diperiksa sifat-sifatnya. Berdasarkan sifat-sifat tersebut, sifat kayu yang tertulis pada kartu ditusuk dengan sebatang kawat dan digoyang sampai ada kartu yang jatuh. Apabila kartu yang jatuh lebih dari satu kartu, dengan cara yang sama kartu-kartu itu kemudian ditusuk pada sifat lain sesuai dengan hasil pemeriksaan sampai akhirnya tersisa satu kartu. Sebagai hasilnya, nama jenis yang tertera pada kartu terakhir tersebut merupakan nama jenis kayu yang diidentifikasi.

     Dikotom berarti percabangan, pembagian atau pengelompokan dua-dua atas dasar persamaan sifat-sifat kayu yang diamati. Kayu yang akan ditentukan jenisnya diperiksa sifat-sifatnya, dan kemudian dengan mempergunakan kunci dikotom, dilakukan penelusuran sesuai dengan sifat yang diamati sampai diperolehnya nama jenis kayu yang dimaksud.

     Kunci cara pengenalan jenis kayu di atas, baik sistem kartu maupun dengan sistem dikotom, keduanya mempunyai kelemahan. Kesulitan tersebut adalah apabila kayu yang akan ditentukan jenisnya tidak termasuk ke dalam koleksi. Walaupun sistem kartu ataupun sistem dikotom digunakan untuk menetapkan jenis kayu, keduanya tidak akan dapat membantu mendapatkan nama jenis kayu yang dimaksud. Dengan demikian, semakin banyak koleksi kayu yang dimiliki disertai dengan pengumpulan mengumpulkan sifat-sifatnya ke dalam sistem kartu atau sistem dikotom, akan semakin mudah dalam menentukan suatu jenis kayu.

Referensi :

- www.dephut.go.id/Halaman/…/INFO_III01/III_III01.htm

- Abdur Wahin Mertawijaya,Dkk,1981, Atlas kayu Indonesia, Penerbit Badan Penelitian danPengembangan pertanian, Bogor

-  Haroen,1981. Teknologi Kerja Kayu. Penerbit Erlangga, Jakarta

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG