RUANG STUDIO MUSIK DARI LIMBAH GERGAJIAN KAYU DAN GYPSUM

RUANG STUDIO MUSIK DARI LIMBAH GERGAJIAN KAYU DAN GYPSUM

Oleh; Bambang Sugiyanto (Widyaiswara PPPPTK BOE Malang) 

 

Studio musik makin menjamur dimana mana , bukan hanya di perkotaan tetapi sudah sampai ke pedesaan, kegemaran anak anak muda saat ini hampir tidak bisa dibedakan antara yang tinggal di kota dengan yang didesa.komunitas anak anak musik atau anak band makin banyak dari masa kemasa, hal ini banyak dipengaruhi oleh faktor globalisasi dimana informasi berbagai macam kebutuhan sangat mudah di akses.

 

Anak anak musik dari berbagai aliran tentu membutuhkan tempat bermain atau berlatih yang layak sehingga dapat mengekpresikan kegemaran atau hoby mereka secara utuh.untuk kebutuhan tersebut tentu membutuhkan banyak hal diantaranya adalah ruanng atau tempat yang disebut “studio”, studio musik yang dianggab layak haruslah memenuhi kaidah akustik.

 

      Akustik berasal dari bahasa inggris” A’coustics” yang artinya ilmu gelombang suara , ilmu bunyi, sifat khas bunyi dalam suatu ruangan yang dapat di dengar dengan jelas. Untuk mendapatkan suara yang bisa diterima dengan jelas diperlukan bahan yang dapat mengendalikan gelombang bunyi, dan ini akan diperoleh dari bahan yang lunak atau berongga sehingga gelombang bunyi dapat terurai.seperti yang tertulis pada buku akustik lingkungan bahwa karakteristik akustik dasar adalah semua bahan berpori seperti papan serat, plesteran lembut, mineral wools, dan selimut isolasi merupakan suatu jaringan seluler dengan pori pori yang saling berhubungan, namun bahan bahan tersebut relatif sulit didapat dan kalaupun ada harganya cukup mahal.

 

      Bata akustik yang terbuat dari limbah gergajian kayu dengan gypsum bisa menjadi alternatif (murah) serta mampu untuk kedua nya yaitu ringan dan dapat berfungsi sebagai  pengendali gelombang suara atau bunyi dalam suatu ruangan.

                Suatu ruang berakustik baik salah satu kriteria dasarnya adalah distribusi bunyi di dalam ruang yang merata, setiap ruangan memiliki kriteria yang berbeda tergantung pada fungsi ruang tersebut. Ruangan untuk konser musik memiliki kriteria yang berbeda dengan ruang untuk studio musik atau percakapan , Kondisi ruangan yang digunakan sebagai studio musik  dipengaruhi juga oleh berbagai macam faktor, seperti bentuk ruang, dimensi dan volume serta isi dari ruang tersebut. 

 

Pengertian limbah gergajian kayu

 

Limbah atau juga disebut sampah adalah barang yang sudah tidak dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhanya atau efek lain dari sebuah proses pembuatan suatu benda (kamus istilah lingkungan untuk manajemen, Ecolink,1996), begitu juga dengan limbah gergajian kayu, limbah ini terjadi karena proses pembuatan atau pengolahan kayu dari masih glondong  (loging) hingga menjadi kayu kayu batangan dengan aneka ukuran sesuai dengan kebutuhanya. Dari proses tersebut terdapat atau terjadi material yang harus dikurbankan  akibat adanya penggergajian, dengan digergaji kayu glondong bisa dibelah atau dipotong, pada proses tersebut ada kayu yang termakan gergaji dan jadilah bubukan kayu yang kemudian disebut limbah gergajian kayu.

 

Limbah gergajian kayu bisa digolongkan menjadi :

 

1.Limbah gergajian kayu keras

 

Yaitu limbah yang terjadi akibat penggergajian kayu kayu keras seperti kayu jati, sono keling, klengkeng, nangka, ulin dan lain lain atau kayu kelas II sampai kelas I,

 

2.Limbah gergajian kayu lunak

 

Yaitu limbah yang terjadi akibat penggergajian kayu  kelas  III dan IV seperti : mahoni, kamper, meranti, jengkol, Sengon dll.

 

Warna limbah gergajian kayu sangat  tergantung dari dominasi jenis kayunya, secara umum kayu berwarna merah keputih putihan akan tetapi ada beberapa jenis kayu yang memiliki warna mencolok seperti kayu nangka yang berwarna kuning pada bagian galihnya,  kayu sono keling yang berwarna hitam dan lain lain.  

 

Dimensi limbah gergajian kayu

 

Dimensi sangat dipengaruhi oleh kekerasan kayu, jenis atau type gergaji dan arah pemotonganya, semakin keras kayu yang digergaji akan makin kecil demensi limbahnya, sebaliknya makin lunak kayu yang digergaji akan makin besar dimensi limbahnya, arah potong melintang akan menghasilkan limbah gergajian berdimensi lebih kecil dari pada arah memanjang atau searah dengan batang kayunya. 

 

Gypsum berbentuk serbuk yang dikenal dengan sebutan casting plaster, merupakan  bubukan gypsum yang biasa digunakan untuk pembuatan asessories seperti lis lis sudut antara dinding dan plafon, gantungan lampu, hingga souvenir dengan berbagai macam bentuk. Casting plaster merupakan pruduk gypsum dari pabrik yang dijual dalam kemasan per 20 kg berbentuk sak .

 

Sifat sifat gypsum adalah tidak mudah terbakar seperti yang tertulis pada buku Jayaboard (2005), ramah lingkungan tetapi tidak tahan terhadap air, casting plaster mudah dan cepat mengeras jika dicampur air dengan perbandingan 2 gypsum :1 air, mudah dibentuk sesuai dengan cetakan atau yang dikehendaki.

 

Jadi paduan antara limbah gergajian kayu dengan gypsum akan menjadi material yang ramah lingkungan pula sehingga jika digunakan untuk studio tentu tidak akan terjadi masalah dengan kesehatan. 

 

Dari hasil uji berat bata akustik yang terbuat dari  Limbah gergajian kayu dengan gypsum berperbandingan 1 gypsum : 3 serbuk gergajian kayu dengan dimensi 10x10x20 cm memiliki berat kering 1,25 kg/buah atau 650 kg/ m3. Sedangkan  bata tanah liat biasa atau bata merah memiliki berat antara 1600-1800/m3 menurut Standar Industri Indonesia (SII), dengan demikian bata akustik tergolong bata ringan.

 

Bata akustik bisa digunakan sebagai dinding peredam suara pada studio musik, dari hasil penelitian yang telah dilakukan untuk ketebalan diding 10 cm dengan frekwensi 50Hz sampai dengan 8000Hz dalam waktu yang berbeda beda ternyata  bata akustik ini mampu meredam suara rata rata 16,18 Db dan mulai meredam suara diatas 10Db pada frekwensi 225. Dengan hasil tersebut menunjukkan bahwa bata akustik kurang baik untuk redaman suaranya akan tetapi memiliki daya serap atau meneruskan bunyi yang cukup baik yaitu kebalikan dari bunyi yang dapat ditahan atau diredam. Dengan daya redam yang kecil berarti memiliki daya serap (absorbsi) bunyi yang besar karenanya pembuatan studio menggunakan  bata akustik ini masih harus dilapisi denngan dinding dari material lain yang bentuknua masif atau padat seperti pasangan bata yang diplester, dinding beton, dinding kaca dan lain lain

 

Bata akustik mudah dipotong dengan gergaji kayu serta mudah dipasang seperti batu bata biasa dengan perekat campuran antara lem kayu dengan kalsium perbandingan 1 lem : 10 kalsium atau menggunakan total cote produk gypsum jayaboard dengan tebal spesi 3 – 5 mm.

Referensi

 

1.    Agungsuprihatin, dkk.. 1999. Sampah dan Pengelolaanya. Edisi ke 2. PPPGT/VEDC Malang.

2.    Husein A.Akil.1996, Pengukuran Akustik Ruangan Dengan Teknik Pemodelan Skala Fisik, Puslitbang KIM-LIPI

3.   Koesnadi Hardjosoemantri. 1997. Hukum Tata Lingkungan. Edisi ke 6 Cetakan ke 13. Jogjakarta, Gajah Mada University Pess.

4.    Leslie L.Doelle, Lea Prasetio.1985 Akustik Lingkungan, Erlangga, Jakarta 

5.    Prastowo Satwiko. 2004. Fisika Bangunan 2. Andi Jogjakarta

6.    .........................1997.Kantor Menteri Negara ingkungan Hidup,Agenda 21 Indonesia Strategi Nasional Untuk Pembagunan Berkelanjutan. Jakarta, Palangi rafika.

7.    ........................ 2005, Petunjuk Penggunaan, Jayaboard, Majalah Solusi Sistem

8.    Bambang Sugiyanto. 2012. Pemanfaatan limbah gergajian kayu dengan gypsum menjadi bata akustik. PPPPTK/VEDC Malang

 


Kiat Menjadi Guru Profesional

Kiat Menjadi Guru Profesional

Hartiyono (Widyaiswara Madya Departemen Bangunan PPPPTK BOE / VEDC Malang)

Saya ingin memetik sebuah falsafah Inggris yang menjadi pegangan mereka yang jaya dalam bidangnya. “Nobody plans to fail, but many fail to plan. So let us work and work aur plan”–“Seseorang yang gagal merancang tindakan, ia akan gagal pula dalam bekerja. Oleh karena itu marilah kita rancang langkah kita”.

Mencermati berbagai model perkembangan institusi pendidikan terkini, maka terbentang masa yang menggugah nyali para pendidik untuk mengoptimalkan potensi generasi berkualitas. Guru dengan mentalitas pendidik (nurturer/educator) yang mumpuni di bidangnya, adalah tuntutan dalam dunia pendidikan.  Jadi, bukan hanya menjadi dambaan lembaga sekolah. Subyek didik pun menganggapnya sebagai ‘guru favorit’. Jika demikian halnya, lalu bagaimana untuk mewujudkannya?   Sudahkah Anda berpuas hati dengan prestasi sebagai guru? Bagaimana respon peserta didik  saat kegiatan pembelajaran berlangsung? Dan bagaimana hasil evaluasi organisasi? Apapun jawaban  yang Anda berikan, akan tetap memicu serta memacu diri, bahwa kita senantiasa perlu memperbaiki dan mengislahkan kompetensi (pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional) diri. Islah adalah satu konsep yang sangat ditekankan dalam Islam.

Tips Guru Profesional

1.      Merancang strategi pembelajaran terbaik

Hasan Basri (Abdul Rahman,1998) menyatakan bahwa: “Orang yang bekerja tanpa pengetahuan dan rencana, sama seperti orang yang berjalan meraba-raba di jalan raya yang terbentang.” Orang yang bekerja tanpa tujuan, lebih banyak merusak daripada membangun.” Program pembelajaran sangat penting dipersiapkan serta diaplikasikan sesuai kondisi di lapangan. Agar pola mengajar dapat terarah, maka perlu mencatat peristiwa harian, misalnya: tugas, ulangan, laporan, dst. Sebuah tindakan akan menghasilkan produk yang berkualitas jika  dipersiapkan secara optimal. Agar menjadi siswa terdidik dan unggul, maka perlu dibiasakan untuk merencanakan segala pekerjaan yang akan dilakukan.

Mempersiapkan faktor internal peserta didik dengan menyalakan ‘nyali’ lebih awal adalah hal yang sangat diutamakan. Sebelum menanam, lihat dulu lahannya. Menurut Rasulullah  ada tiga  tipe. Pertama “laqiyatun” – suci dan baik mudah menerima kucuran dan limpahan air. Kedua “ajadib” – tanaman tidak bisa tumbuh, namun bermanfaat bagi yang lain. Dan  ketiga adalah “qianun” bak padang pasir.  

2.      Jernihkan visi dan peran sebagai guru

Apakah yang melatarbelakangi guru bertindak? Guru sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter. Strateginya? Mempraktikkan pembelajaran kolaboratif, menumbuhkan kejujuran akademis, mengembangkan sekolah sebagai komunitas belajar profesional, membangkitkan kultur kemandirian yang bertanggung jawab.  Jadi, mengedepankan perubahan paradigma sebagai guru profesional. Pada tataran teknis guru berperan sebagai pengajar dengan tugas utama mengajar, mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai peserta didik pada satuan pendidikan tertentu. Apa saja yang dipertontonkan guru kepada para siswanya adalah termasuk proses pendidikan. Mereka akan merekam sedemikian rupa  segala  peristiwa yang ada di sekelilingnya.

3.      Hakikat anak didik

Hakikat anak didik menurut al-Ghazali merupakan anak yang sedang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan sesuai fitrahnya masing-masing. Mereka memerlukan bimbingan serta pengarahan dari pendidik secara konsisten menuju titik yang optimal berdasarkan potensi fitrahnya. Karena kemampuan anak didik sangat ditentukan oleh usia dan perkembangannya.

Sulit menyebut siswa bodoh, yang ada adalah guru belum maksimal dalam mengajar !

Dengan proses sedemikian rupa, sesuatu yang sederhana menjadi luar biasa! Barang yang kelihatan murah akan menjadi sangat tinggi nilainya jika isi dan kemasannya hebat. Pohong (ubi kayu) misalnya, hanya barang lokal jika dikemas dengan teknologi modern bisa menjadi seribu macam produk yang bernuansa global.   

Ingat lagi kondisi peserta didik!

Refleksi! Dengan mengkaji kelemahan dan kekuatan dalam menjalankan proses pembelajaran guru berhadapan dengan subyek didik yang unik, beraneka ragam intelegensinya, kekuatan daya pikir dan nalarnya serta kecenderungannya. Multikarakter subyek didik, akan menjadikan bahan bagi guru untuk ‘menanaknya’ sedemikian rupa. Mereka sedang mengalami proses perkembangan. Oleh karena itu, mereka membutuhkan bimbingan, arahan, teladan secara konsisten ke arah titik yang optimal sesuai fitrahnya.

4.      Guru sebagai apa?

Guru sebagai motivator yang mendorong siswa melakukan sesuatu. Adakalanya cukup dengan penjelasan sekedarnya, namun ada pula yang memerlukan contoh serta teladan agar mudah diikuti siswa.  Guru harus terus menerus berintuisi serta menggali berbagai macam informasi untuk menemukan inovasi baru dengan cara mendapatkan sumber pembelajaran dari mana saja. Observasi media informasi, serta melibatkan teknologi harus terus dikembangkan.

 

Guru sebagai fasilitator?

Sebagai fasilitator, guru melayani, membimbing membina dengan piawai serta menghantarkan siswa ke gerbong kesuksesan. Guru selayaknya dengan ringan hati  memfasilitasi siswa untuk menunjang proses pembelajaran. Hendaknya ia memberikan bimbingan dan arahan kepada peserta didik terhadap perilaku tertentu. Berikan kemandirian untuk beraktivitas secara kreatif dan inovatif. Temukan metodologi yang tepat sebagai sarana pembelajaran.

5.      Menentukan metode pembelajaran

Untuk  menentukan metode pembelajaran hendaknya guru berangkat dari masalah yang dihadapi, baik dari perspektif guru maupun subyek didik. Bagi guru misalnya, rendahnya disiplin siswa, minat belajar tidak maksimal, interaksi belajar yang tidak efektif, cara mengajar yang membosankan, partisipasi belajar rendah, atau intensitas bertanya minim. Dari siswa dapat dilihat dari partisipasi belajar menurun, meremehkan guru, atau motivasi belajar yang bergelombang/tidak konsisten.

Apapun kondisinya, guru hendaknya mengedepankan pemahaman, bahwa metode belajar siswa sekurangnya ada tiga macam jenis. Auditoris, visual, dan terakhir mekanis/kinetis. Maksudnya? Pertama, anak lebih mudah  memahami dengan uraian yang langsung ia dengar. Kedua, mereka lebih mudah menyerap materi pelajaran jika disampaikan dengan peragaan langsung/gambar atau imitasi dari tampilan objek yang sebenarnya. Selanjutnya, penjelasan dengan gerak atau ekspresi yang terhayati (gerakan sholat, seni suara, kungfu). Desain belajar bisa  di mana saja asal lingkungannya mendukung ke arah  KBM.   

6.      Menyelenggarakan program bimbingan bagi siswa yang belum tuntas

Realita membuktikan bahwa ada sebagian siswa yang lamban dalam mengapresiasi bidang studi yang sedang dipelajari. Oleh karena itu, guru perlu mengadakan pendekatan untuk mencari ‘api’ atau ‘gurem’ dalam sekam. Terdapat faktor intrinsik yang harus digali, selanjutnya solusi akan terkuak. Hendaknya guru pintar menyederhanakan persoalan yang rumit, sehingga mudah dimengerti oleh peserta didik.

7.      Memperhatikan adab pendidik

Berikut ini adalah adab bagi pendidik yang ideal :

1.      Memperlakukan murid bagaikan anaknya sendiri. “Sesungguhnya aku bagi kalian seperti ayah terhadap anaknya.” (R. Abu Dawud).

2.      Tidak merendahkan ilmu  lain yang bukan bidangnya.

3.      Mengamalkan ilmu. Jangan sampai perkataannya sendiri diingkari oleh perbuatannya.  

8.      Meneguhkan keyakinan kepada Allah .

Kita tentunya lebih bermotivasi sekiranya kita sadar bahwa Allah  akan senantiasa menolong hamba-Nya dalam setiap tindakan. Sekiranya benar-benar ikhlas mengharapkan ridho-Nya. Jika hati belum ‘jinak’, sulit rasanya hidayah akan meresap. Bukankah Rasulullah pernah bersabda, “Tidak (sempurna) iman di antara kamu, sehingga hawa nafsunya tunduk terhadap apa yang aku bawa”.

Kesuksesan itu berawal dari hati dan pikiran seseorang dalam memandang sesuatu. Jika internalnya positif, maka eksternalnya juga akan mengiringinya. Epictetus mengatakan, “Kita tidak terganggu oleh hal-hal di luar kita, melainkan oleh bagaimana pikiran kita dalam memandang sesuatu.” Kata kuncinya adalah, jernih dalam memandang dan cermat dalam mencatat. Sudah berulang kali terbukti bahwa pikiran negatif senantiasa menciptakan emosi negatif. EQ Tinggi = Berpikir Jernih  + Emosi sehat + Tindakan Pantas.

Referensi :

Ahmad, Sabri.2006. Melakar Kejayaan dalan Belajar. Sintok: University Utara Malaysia

Brotowidjoyo, Mukayat D.1985. Penulisan Karangan Ilmiah.Jakarta: Akademika Pressindo.

Bakar, Usman Abu.2009.Pemikiran Pendidikan Islam Klasik Dan Modern.Diktat Kuliah.

Majalah Solusi No. 18. September 2010.

Majalah Hidayatullah.Edisi Khusus I/2011.

Martin,Anthony Dio. 2008.Emotional Quality Management. Jakarta: HR Excellency. 

Konstruksi Atap Dan Penutup Atap

KONSTRUKSI ATAP DAN PENUTUP ATAP

Disajikan Oleh Drs. Andreas Mulyono, MT

( Widyaiswara P4TK BOE Malang )

 

A.     Pengertian Struktur Konstruksi Atap

 

Atap adalah bagian dari suatu bangunan yang berfungsi sebagai penutup seluruh ruangan yang ada di bawahnya terhadap pengaruh panas, debu, hujan, angin atau untuk keperluan perlindungan.

Bentuk atap berpengaruh terhadap keindahan suatu bangunan dan pemilihan tipe atap hendaknya disesuaikan dengan iklim setempat, tampak yang dikehendaki oleh arsitek, biaya yang tersedia, dan material yang mudah didapat.

Konstruksi rangka atap yang digunakan adalah rangka atap kuda-kuda. Rangka atap atau kuda–kuda adalah suatu susunan rangka batang yang berfungsi untuk mendukung beban atap termasuk juga berat sendiri dan sekaligus memberikan bentuk pada atap. Pada dasarnya konstruksia kuda–kuda terdiri dari rangkaian batang yang membentuk segitiga. Dengan mempertimbangkan berat atap serta bahan penutup atap, maka konstruksi kuda–kuda akan berbeda satu sama lain. Setiap susunan rangka batang haruslah merupakan satu kesatuan bentuk yang kokoh yang nantinya mampu memikul beban yang bekerja padanya tanpa mengalami perubahan.

 

B.    Syarat-Syarat Konstruksi Atap

 

Adapun syarat-syarat konstruksi atap yang harus dipenuhi antara lain :

1.  Konstruksi atap harus kuat menahan berat sendiri dan tahan terhadap beban-beban yang bekerja padanya. Pemilihan bentuk atap yang sesuai sehingga menambah keindahan serta kenyamanan bagi penghuninya.

2.  Bahan penutup atap harus sesuai dengan fungsi bangunan tersebut, dan tahan terhadap pengaruh cuaca.

3.  Sesuai dengan ciri khas arsitektur tradisional bangunan sekitar.

4.  Kemiringan atau sudut atap harus sesuai dengan jenis bahan penutupnya. Makin rapat jenis bahan penutupnya, maka kemiringannya dapat dibuat lebih landai, seperti bahan dari seng, kaca, asbes dan lain – lainnya.

C.    Syarat-Syarat Umum Penutup Atap

Adapun syarat-syarat umum penutup atap antara lain :

1. Bahan bersifat isolasi terhadap panas, dingin dan bunyi

2. Rapat terhadap air hujan dan tidak tembus air

3. Tidak mengalami perubahan bentuk akibat pergantian cuaca

4. Tidak terlalu banyak memerlukan perawatan khusus.

5. Tidak mudah terbakar

6. Bobot ringan dan mempunyai kedudukan yang mantap setelah dipasang

7. Awet.

D.    Macam – Macam Tipe Atap

 Macam-macam tipe atap antara lain :

1.    Atap datar (platdak), biasanya menggunakan beton bertulang yang dihitung tersendiri sesuai dengan bentangan dan tebal plat. Meskipun tipe ini dikatakan datar, namun permukaan atap selalu dibuat miring untuk menyalurkan air hujan kelubang talang.

Gambar Atap datar (platdak),

2.    Atap strandar (lessenaar), terdiri dari sebuah bidang atap miring kebagian tepi atasnya menempel pada dinding bangunan induk, pada bentuk ini menggunakan konstruksi setengah kuda-kuda.

Gambar Atap strandar (lessenaar),

3.    Atap pelana (Zadeldak), terdiri dari dua bidang miring atap yang tepi atasnya bertemu pada satu garis lurus yang disebut bubungan. Tipe ini banyak digunakan untuk rumah sederhana dan banyak dijumpai di daerah pedesaan Bali, Jawa Barat, Jawa timur, dan Jawa Tengah.

Gambar Atap pelana (Zadeldak)

4.    Atap perisai (schildak), merupakan menyempurnaan dari bentuk atap pelana dengan menambahkan dua bidang atap miring yang membentuk segitiga pada ujung akhir atap bangunan.

Gambar Atap perisai (schildak)

5.    Atap tenda (tentdak), biasa dipakai pada bangunan yang ukuran panjang dan lebarnya sama, ini berarti atap terdiri dari empat bidang atap dan empat jurai dengan bentuk, ukuran dan lereng yang sama yang bertemu pada satu titik tertinggi, yaitu pada tiang penggantung.

Gambar Atap tenda (tentdak)

6.    Atap Gergaji

Atap ini terdiri dari dua bidang atap yang tidak sama lerengnya. Atap ini

bisa digunakan untuk bangunan pabrik, gudang atau bengkel.

Gambar Atap Gergaji

7.    Atap Setengah Bola ( Kubah )

Bentuk atap melengkung setengah bola. Atap ini banyak digunakan untuk

bangunan masjid dan gereja.

Gambar Atap Setengah Bola ( Kubah )

8. Bentuk Atap Joglo

Atap joglo hampir sama dengan atap limas tersusun sehingga atpnya seperti bertingkat. Atap ini banyak dibangun di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat

Gambar Atap Joglo

9.    Atap Minangkabao

Atap minangkabau seolah – olah berbentuk tandukpada tepi kanan dan

kiri. Bentuk atap ini banyak kita jumpai di Sumatra

Gambar Atap Minangkabau

10.   Atap mansard

Bentuk atap ini seolah – olah terdiri dari dua atap yang terlihat bersusun atau bertingkat. Atap mansard jarang digunakan untuk bangunan rumah di daerah kita, kerna sebetulnya atap ini dibangun oleh pemerintah belanda saat menjajah di negara kita.

Gambar  Atap mansard

11.   Atap Menara

Bentuk atap menara sam dengan atap tenda, bedanya atap menara puncaknya lebih tinggi sehingga kelihatan lebih lancip. Atap ini banyak kita jumpai pada bangunan – bangunan gereja, atap menara masjid dan lain – lain.

Gambar Atap Menara

12.  Atap Piramida

Bentuk atap ini terdiri lebih dari empatbidang yang sama bentuknya.

Bentuk denah bangunan dapat segi 5, segi 6, aegi 8 dan seterusnya

Gambar Atap Piramida

E.       Kriteria Pemilihan Jenis Bahan Penutup Atap

Jenis bahan penutup atap merupakan factor yang sangat mempengaruhi keserasian atap. Dalam pemilihan jenis penutup atap ini ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan yaitu sebagai berikut :

1. Tinjauan terhadap ikllim setempat

2. Bentuk keserasian atau

3. Fungsi dari bangunan tersebut

4. Bahan penutup atap mudah diperoleh

5. Dana yang tersedia

F.    Kemiringan Atap

Kemiringan dari suatu bentuk atap dibuat dengan maksud :

1. Agar air hujan yang jatuh pada permukaan bidang atap dengan cepat dapat mengalir meninggalkan bidang atap tersebut, sehingga kemungkinan rembes sangatlah kecil.

2. Menambah keindahan pandangan dari suatu bangunan.

3. Didapat ruangan atas yang sekaligus dapat berfungsi sebagai isolasi terhadap iklim.

Dan bila dalam keadaaan memaksa dapat dipakai untuk gudang penyimpanan barang-barang kecil dan ringan.

Hubungan antara jenis bahan penutup dengan Besar-kecilnya sudut lereng (kemiringan) atap.

Atap Beton                     kemiringannya         = 1 – 2

Atap Kaca                       kemiringannya         = 10 – 20

Atap Semen Asbes       kemiringannya         = 15 – 25

Atap Seng                      kemiringannya         = 20 – 25

Atap Genteng                kemiringannya         = 30 – 40

Atap Sirap                      kemiringannya         = 25 – 40

Atap Seng, Ijuk              kemiringannya         >= 40

 

 

Referensi :

Sumber : http://fandicivilba89.blogspot.com/2011/06/konstruksi-atap-dan-penutup-atap_307.html

Sumber : https://www.google.com/search?q=gambar+konstruksi+atap+plat+kaca&tbm=isch&tbo=u&source=univ&sa=X&ei=rUnXUruYIeWWiQf794HwCA&ved=0CG8QsAQ&biw=1352&bih=634#facrc=_&imgdii=_&imgrc=_bG9bpYImCtP_M%253A%3BoP2f27roNNewGM%3Bhttp%253A%252F%252Fwww.arsindo.com%252Fwp-content%252Fuploads%252F2012%252F05%252Fatapkaca.jpg%3Bhttp%253A%252F%252Fselebritiindonesia.info%252Fjenis%252Fjenis-besi-konstruksi.html%252Fpage%252F3%3B433%3B325

MESIN DASAR INDUSTRI KAYU

 MESIN DASAR INDUSTRI KAYU
Oleh : 
Bambang Wijanarko,S.Pd,MT 

(Widyaiswara PPPPTK BOE Malang) Spesialist Teknologi Kayu

 

Pada pekerjaan kayu ada    bermacam-macam mesin kayu untuk membantu pekerjaan tukang kayu dalam proses produksi.

Teknologi mesin hingga saat ini justru sudah menggunakan sistem komputerisasi pada berbagai mesin besar dan mesin kombinasi. Selengkap apapun jenis mesin industri, dalam hal ini adalah mesin untuk proses produksi, adalah merupakan pengembangan dari berbagai fungsi dasar kerja mesin kayu.

Untuk itu sebaiknya kita perlu memahami dahulu bagaimana prinsip dasar kinerja mesin kayu yang terdiri dalam beberapa kategori dasarMari kita lihat satu persatu Kategori tersebut.

 

Gergaji Belah & Potong

 Mesin jenis ini bisa berupa circle saw atau band saw (gergaji pita) dengan fungsi utamanya adalah membelah kayu atau logs. Terdiri dari satu bilah gergaji lingkaran pada satu poros motor penggerak. Konfigurasi pemasangannya pada mesin bisa bermacam-macam. Anda bisa melakukan berbagai pekerjaan kayu dengan mesin ini misalnya: membelah kayu, memotong papan dalam berbagai sudut, membuat pen dan alur.

Prinsip kerja mesin ini adalah untuk membelah kayu hingga pada ukuran mendekati ukuran jadi. harus disisakan beberapa milimeter untuk proses pengetaman dengan mesin serut (planner)

Mesin Ketam (Planner)


Berfungsi untuk menghaluskan sisi kayu setelah proses penggergajian. Mesin ketam standar bekerja dengan menghaluskan permukaan satu demi satu sisi kayu. Hanya satu meja kerja yang terdapat pisau penyerut. Pada perkembangannya mesin ini bisa sekaligus menyerut 4 sisi kayu dan dikombinasi dengan jenis pisau lainnya.
Poros pisau terpasang horisontal dengan meja penghantar vertikal. Hasil kerja dari mesin ini harus menjadi ukuran final yang tidak mungkin lagi dikurangi kecuali dengan amplas. Hasil permukaan dari kerja mesin ini akan halus, lebih halus dari mesin gergaji karena tidak akan terdapat cuttermark sebesar gergaji.


Mesin Bor (Drilling)


Terdiri dari satu poros motor pada prinsipnya untuk membuat lubang pen, dowel atau lubang untuk sekrup dan alat tambahan lain yang berbentuk bulat. Perkembangannya saat ini mesin bor bisa untuk melakukan pengeboran beberapa lubang sekaligus pada satu permukaan secara horisontal maupun vertikal. Pengeboran sebaiknya dilakukan setelah seluruh permukaan kayu diserut dan dipotong pada ukuran jadi yang diinginkan.


Mesin Profile (Spindle)


Poros pisau terpasang vertikal (menghadap ke atas) pada sebuah permukaan meja mesin dan berfungsi untuk membuat bentuk profile pada sisi samping kayu. Jenis pisau bisa diganti sesuai dengan desain yang diinginkan. Pada kombinasi lain jumlah pisau bisa lebih dari satu dan seluruhnya terpasang secara vertikal. Proses bisa dilakukan setelah proses penggergajian karena hasil kerja mesin ini hampir sama dengan mesin serut, permukaan halus dan cukup dengan mesin amplas sebelum proses finishing.

Mesin Router


Prinsip dasarnya mirip dengan mesin bor vertikal namun kepala pisaunya memiliki bentuk dan desain yang berbeda. Karena router ini berfungsi untuk membuat alur pada permukaan kayu maka pisau berada pada posisi vertikal ke arah bawah. (berbalikan dengan mesin profile (spindle). Mesin Router didesain dengan kecepatan putar (rpm) jauh lebih tinggi dari mesin bor biasa.
Mesin-mesin yang disebutkan di atas adalah dasar dari semua mesin kayu yang saat ini terdapat di pabrik ataupun perusahaan penjual mesin. Banyak beberapa desain mesin menggabungkan fungsi dasar dari mesin di atas sehingga timbul nama mesin baru. Namun apabila anda sudah mengerti prinsip kerja dari mesin-mesin di atas akan sangat mudah untuk memahami cara kerja dari mesin yang lain.

 Referensi :

-          Walter Ehrmann,2010, Fachkunde Holztechnik, Europe Lehrnmittel.

-          Budi Martono Dkk,2008, Teknik Perkayuan, Direktorat PSMK Jakarta.

 

PENGUKURAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA

 PENGUKURAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA

Oleh Budi Martono

 

1.    Pengertian Produktivitas

Produktivitas kerja merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan untuk memenuhi keinginan konsumen.

Produktivitas dimulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada persepsi pelanggan.

Hal ini dapat diimplementasikan interaksi antara tenaga kerja dan pelanggan

yang mencakup (a) ketepatan waktu, berkaitan dengan kecepatan memberikan tanggapan terhadap keperluan-keperluan pelanggan; (b) penampilan tenaga kerja, berkaitan dengan kebersihan dan kecocokan dalam berpakaian; (c) kesopanan dan tanggapan terhadap keluhan, berkaitan dengan bantuan yang diberikan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang diajukan pelanggan (Gaspersz, 2003:130). Berarti produktivitas yang baik dilihat dari persepsi pelanggan bukan dari persepsi perusahaan. Persepsi pelanggan terhadap produktivitas jasa merupakan penilaian total atas kebutuhan suatu produk yang dapat berupa barang ataupun jasa.

Produktivitas berasal dari kata “produktiv” artinya sesuatu yang mengandung potensi untuk digali, sehingga produktivitas dapatlah dikatakan suatu proses kegiatan yang terstruktur guna menggali potensi yang ada dalam sebuah objek. Filosofi produktivitas sebenarnya dapat mengandung arti keinginan dan usaha dari setiap individu atau kelompok untuk selalu meningkatkan mutu kehidupannya dan penghidupannya.

Secara umum produktivitas diartikan atau dirumuskan sebagai perbandingan antara keluaran (output) dengan pemasukan (input), sedangkan menurut Ambar Teguh Sulistiani dan Rosidah (2003:126) mengemukakan bahwa produktivitas adalah “Menyangkut masalah hasil akhir, yakni seberapa besar hasil akhir yang diperoleh di dalam proses produksi, dalam hal ini adalah efisiensi dan efektivitas”. Sedangkan menurut Malayu S.P Hasibuan (2003:126) produktivitas adalah : “Perbandingan antara output (hasil) dengan input (masukan). Jika produktivitas naik ini hanya dimungkinkan oleh adanya peningkatan efesiensi (waktu,bahan,tenaga) dan sistem kerja, teknik produksi dan adanya peningkatan keterampilan dari tenaga kerjanya”.

Dari beberapa pendapat tersebut di atas sebenarnya produktivitas memiliki dua dimensi, pertama efektivitas yang mengarah kepada pencapaian untuk kerja yang maksimal yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas, dan waktu. Kedua yaitu efesiensi yang berkaitan dengan upaya membandingkan input dengan realisasi penggunaanya atau bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan.

Efesiensi merupakan suatu ukuran dalam membandingkan input yang direncanakan dengan input sebenarnya. Apabila ternyata input yang sebenarnya digunakan semakin besar penghematannya, maka tingkat efesiensi semakin tinggi. Sedangkan efektivitas merupakan ukuran yang memberikan gambaran suatu target yang dicapai. Apabila kedua hal tersebut dikaitkan satu dengan yang lainnya, maka terjadinya peningkatan efektivitas tidak akan selalu menjamin meningkatnya efesiensi.

Teori-teori yang membahas tentang produktivitas kerja sangatlah bervariasi tetapi makna pokok dari produktivitas kerja adalah kemampuan seorang tenaga kerja dalam menghasilkan suatu pekerjaan, keadaan tersebut tercapai apabila tenaga kerja tersebut mendapat perhatian yang besar dari pimpinan atas segala kebutuhannya.

Ada beberapa definisi mengenai produktifitas kerja antara lain :

Menurut Hasibuan (2003:105) “produktivitas kerja adalah perbandingan antara output dengan input di mana output harus mempunyai nilai tambah dan teknik pengerjaannya yang lebih baik“. Sedangkan menurut Kusriyanto (2000:2) “produktivitas kerja adalah perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja per-satuan waktu“.

Istilah produktivitas mempunyai arti yang berlainan untuk tiap orang yang berbeda, hal ini berarti lebih banyak hasil dengan mempertahankan biaya yang tetap, mengerjakan segala sesuatu dengan benar, bekerja lebih cerdik dan lebih keras. Pengoperasian secara otomatis untuk mendapatkan hasil yang lebih cepat dan lebih baik. Sinungan (2003:12) mengemukakan bahwa “produktivitas adalah kemampuan seperangkat sumber-sumber ekonomi untuk menghasilkan sesuatu sebagai perbandingan antara pengorbanan (input) dengan menghasilkan output”.

Dalam arti yang sederhana pengertian mengenai produktivitas seperti yang telah dijelaskan di atas sering diungkapkan dalam arti bawah produktivitas adalah rasio dari pengeluaran dan pemasukan yang terpakai. Mulyono (2004: 3) berpendapat bahwa “produktivitas adalah hasil yang terdapat dari setiap proses produksi dengan menggunakan satu atau lebih faktor produksi”.

Sebagaimana dinyatakan oleh Sinungan (2003: 72) disebutkan “kualitas kerja juga harus diperhatikan dalam menilai produktivitas tenaga kerja, sebab sekalipun dalam segi waktu tugas yang dibebankan kepada tenaga kerja atau perusaaan itu tercapai, kalau mutu kerjanya tidak baik, maka produktivitas kerja itu tidak bermakna”.

 

2.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja,

Konsep produktivitas kerja dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi individu dan dimensi organisasi. Dimensi individu melihat produktivitas dalam kaitannya dengan karakteristik-karakteristik kepribadian individu yang muncul dalam bentuk sikap mental dan mengandung makna keinginan dan upaya individu yang selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Sedangkan dimensi keorganisasian melihat produktivitas dalam kerangka hubungan teknis antara masukan (input) dan keluaran (out put). Oleh karena itu dalam pandangan ini, terjadinya peningkatan produktivitas tidak hanya dilihat dari aspek kuantitas, tetapi juga dapat dilihat dari aspek kualitas.

Kedua pengertian produktivitas tersebut mengandung cara atau metode pengukuran tertentu yang secara praktik sukar dilakukan. Kesulitan-kesulitan itu dikarenakan, pertama karakteristik-karakteristik kepribadian individu bersifat kompleks, sedangkan yang kedua disebabkan masukan-masukan sumber daya bermacam-macam dan dalam proporsi yang berbeda-beda.

Produktivitas kerja sebagai salah satu orientasi manajemen dewasa ini, keberadaannya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap produktivitas pada dasarnya dapat diklasifikasikan ke dalam dua jenis, yaitu pertama faktor-faktor yang berpengaruh secara langsung, dan kedua faktor-faktor yang berpengaruh secara tidak langsung.

Produktivitas tenaga kerja adalah salah satu ukuran perusahaan dalam mencapai tujuannya. Tenaga kerja merupakan elemen yang paling strategik dalam organisasi, harus diakui dan diterima oleh manajemen. Peningkatan produktivitas kerja hanya mungkin dilakukan oleh manusia (Siagian, 2002, p.2). Oleh karena itu tenaga kerja merupakan faktor penting dalam mengukur produktivitas. Hal ini disebabkan oleh dua hal, antara lain; pertama, karena besarnya biaya yang dikorbankan untuk tenaga kerja sebagai bagian dari biaya yang terbesar untuk pengadaan produk atau jasa; kedua, karena masukan pada faktor-faktor lain seperti modal (Kussriyanto, 1993, p.1).

Menurut Anoraga dan Suyati, (1995, p.119-121) produktivitas mengandung pengertian yang berkenaan dengan konsep ekonomis, filosofis dan sistem. Sebagai konsep ekonomis, produktivitas berkenaan dengan usaha atau kegiatan manusia untuk menghasilkan barang atau jasa yang berguna untuk pemenuhan kebutuhan manusia dan masyarakat pada umumnya.

Sebagai konsep filosofis, produktivitas mengandung pandangan hidup dan sikap mental yang selalu berusaha untuk meningkatkan mutu kehidupan di mana keadaan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan mutu kehidupan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Hal inilah yang memberi dorongan untuk berusaha dan mengembangkan diri. Sedangkan konsep sistem, memberikan pedoman pemikiran bahwa pencapaian suatu tujuan harus ada kerja sama atau keterpaduan dari unsur-unsur yang relevan sebagai sistem.

Dapat dikatakan bahwa produktivitas adalah perbandingan antara hasil dari suatu pekerjaan tenaga kerja dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sondang P. Siagian bahwa produktivitas adalah: “Kemampuan memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari sarana dan prasarana yang tersedia dengan menghasilkan output yang optimal bahkan kalau mungkin yang maksimal.”

Banyak hasil penelitian yang memperlihatkan bahwa produktivitas sangat dipengaruhi oleh faktor: knowledge, skills, abilities, attitudes, dan behaviours dari para tenaga kerja yang ada di dalam organisasi sehingga banyak program perbaikan produktivitas meletakkan hal-hal tersebut sebagai asumsi-asumsi dasarnya (Gomes, 1995, p.160).

Menurut Manuaba (1992) peningkatan produktivitas dapat dicapai dengan menekan sekecil-kecilnya segala macam biaya termasuk dalam memanfaatkan sumber daya manusia (do the right thing) dan meningkatkan keluaran sebesar-besarnya (do the thing right). Dengan kata lain bahwa produktivitas merupakan pencerminan dari tingkat efisiensi dan efektivitas kerja secara total (Tarwaka, Bakri, dan Sudiajeng, 2004, p.138).

Menurut Sinungan, (2003, p.12), secara umum produktivitas diartikan sebagai hubungan antara hasil nyata maupun fisik (barang-barang atau jasa) dengan masuknya yang sebenarnya. Produktivitas juga diartikan sebagai tingkatan efisiensi dalam memproduksi barang-barang atau jasa-jasa. Produktivitas juga diartikan sebagai:

(a) perbandingan ukuran harga bagi masukan dan hasil; (b) perbedaan antara kumpulan jumlah pengeluaran dan masukan yang dinyatakan dalam satuan-satuan (unit) umum.

Ukuran produktivitas yang paling terkenal berkaitan dengan tenaga kerja yang dapat dihitung dengan membagi pengeluaran oleh jumlah yang digunakan atau jam-jam kerja orang.

 

3.    Pengukuran Produktivitas Tenaga Kerja

Pengukuran produktivitas tenaga kerja menurut sistem pemasukan fisik perorangan/perorang atau per jam kerja orang diterima secara luas, namun dari sudut pandangan/pengawasan harian, pengukuran-pengukuran tersebut pada umumnya tidak memuaskan, dikarenakan adanya variasi dalam jumlah yang diperlukan untuk memproduksi satu unit produk yang berbeda. Oleh karena itu, digunakan metode pengukuran waktu tenaga kerja (jam, hari atau tahun). Pengeluaran diubah ke dalam unit-unit pekerja yang biasanya diartikan sebagai jumlah kerja yang dapat dilakukan dalam satu jam oleh pekerja yang terpercaya yang bekerja menurut pelaksanaan standar.

Karena hasil maupun masukan dapat dinyatakan dalam waktu, produktivitas tenaga kerja dapat dinyatakan sebagai suatu indeks yang sangat sederhana = Hasil dalam jam-jam yang standar : Masukan dalam jam-jam waktu.

Untuk mengukur suatu produktivitas perusahaan dapatlah digunakan dua jenis ukuran jam kerja manusia, yakni jam-jam kerja yang harus dibayar dan jam-jam kerja yang dipergunakan untuk bekerja. Jam kerja yang harus dibayar meliputi semua jam-jam kerja yang harus dibayar, ditambah jam-jam yang tidak digunakan untuk bekerja namun harus dibayar, liburan, cuti, libur karena sakit, tugas luar dan sisa lainnya. Jadi bagi keperluan pengukuran umum produktivitas tenaga kerja kita memiliki unit-unit yang diperlukan, yakni: kuantitas hasil dan kuantitas penggunaan masukan tenaga kerja (Sinungan, 2003, p.24-25).

Menurut Wignjosoebroto, (2000, p.25), produktivitas secara umum akan dapat diformulasikan sebagai berikut:

Produktivitas = Output/input (measurable)+ input (invisible).

Invisible input meliputi tingkat pengetahuan, kemampuan teknis, metodologi kerja dan pengaturan organisasi, dan motivasi kerja.

 

PUSTAKA/REFERENSI

Gaspersz, Vincent. 2003. Total Quality Management. Jakarta: PT Gramedia Pustaka

Utama.

http://id.shvoong.com

http://jurnal-sdm.blogspot.com

http://makalahdanskripsi.blogspot.com

http://massofa.wordpress.com

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG