PEMANAS AIR TENAGA SURYA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT KOLEKTOR PLAT DATAR

 

 

PEMANAS AIR TENAGA SURYA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT

KOLEKTOR PLAT DATAR

 

 

ABSTRAK

 

Energi matahari khususnya energi elektromagnetik yang dipancarkan matahari adalah energi yang sangat atraktif karena tidak bersifat polutif, tak dapat habis, dapat dipercaya, dan gratis serta merupakan energi yang berjumlah besar dan bersifat kontinu. Energi matahari dapat dikonversi secara langsung menjadi bentuk energi lain dengan tiga proses yang terpisah yaitu proses heliochemical, proses holioelectrical dan proses heliothermal. Reaksi heliochemical yang utama adalah fotosintesis , proses helioelektrical yang utama adalah produksi listrik oleh sel surya, sedangkan proses heliothermal yang utama adalah proses penyerapan (absorbsi) radiasi sinar matahari dan pengkonversian energi ini menjadi energi thermal.

 

Dari hasil penelitian ini, pemanfaatan panas matahari dalam aplikasi memanaskan air guna kepentingan industri yang menggunakan air panas, misalnya industri hunian (perhotelan), industri pabrik-pabrik akan mereduksi (penghematan) penggunaan energi selain  non renewable (listrik, gas bumi, minyak bumi, batu bara) dan lain-lain.

 

Kata kunci : Kolektor plat datar, proses heliochemical, proses holioelectrical dan proses heliothermal.

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Pemanfaatan energi matahari sebagai sumber energi yang bersifat renewable telah lama diinginkan manusia. Karena tidak akan ada kehidupan di permukaan bumi tanpa energi matahari, maka sebenarnya pemanfaatan energi matahari sudah berusia setua kehidupan itu sendiri. Bahkan sudah berabad-abad yang lalu banyak kota yang memanfaatkan panasnya sinar matahari, misalnya untuk mengeringkan buah-buahan dan pangan, menguapkan air laut untuk mendapatkan garam, dan lain-lain.

 

Sesuai dengan letak geografis kepulauan Indonesia di daerah sekitar katulistiwa. Kondisi lingkungan indonesia sangat potensial dan ideal untuk pemanfaatan energi matahari. Karena di Indonesia intensitas matahari sangat berlimpah, sehingga dapat dimanfaatkan untuk pemanas air tenaga surya, sedangkan kelemahannya selama enam bulan di Indonesia mengalami musim hujan, sehingga banyak awan yang menutupi jalannya sinar matahari menuju ke bumi.

 

Energi matahari khususnya energi elektromagnetik yang dipancarkan matahari adalah energi yang sangat atraktif karena tidak bersifat polutif, tak dapat habis, dapat dipercaya, dan gratis serta merupakan energi yang berjumlah besar dan bersifat kontinu. Energi matahari dapat dikonversi secara langsung menjadi bentuk energi lain dengan tiga proses yang terpisah yaitu proses heliochemical, proses holioelectrical dan proses heliothermal.

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

 

Gambar 3.2 Instalasi Kolektor plat datar ( Plate Solar  Heater )

 

Keterangan :

 

1.  Kolektor            4. Katup pengaman             7. Pipa Air Panas

2.  Tangki               5.Katup Searah                  8. Sumber Air

3.  Reservoar          6. Pipa Air Masuk                9. Stop Kran

 

Dalam  pembahasan pemannas air tenaga surya yang digunakan adalah tipe kolektor plat datar, adapun data-data pemanas air tenaga surya adalah

 

1. Fluida kerja yang digunakan adalah air

2. Kolektor Surya

a.       Cover (Penutup Kaca)

 

·         Bahan                                   : Kaca Bening

·         Jumlah                                  : Satu

·         Ketebalan                              : 5 mm

·         Transmisitas                           : 0,79

·         Emisitas                                  : 0,88

 

b.      Absorber (Plat Penyerap)

 

·         Bahan                                   : Baja

·         LapisanPermukaan                  : Cat

·         Emisivitas                              : 0,8

·         Konduktifitas                         : 55 W/m °C

·         Tebal Plat                             : 2 mm

·         Panjang x lebar                      :1,62 x 1,00 m

 

c.       Pipa Saluran

·         Ukuran Nominal                      : 1”

·         Diameter luar                         : 21,30 mm

·         Diameter dalam                      : 16,92 mm

·         Tebal                                    : 2,19 mm

·         Bahan                                   : Pipa Schedule

·         Jumlah                                  : 9

 

d.      Isolasi

·         Bahan                                   : Glass Woll

·         Konduktivitas                         : 0,038 W/m °C

·         Tebal Bawah                          : 9 cm,   Samping    : 9 cm

 

e.       Kotak Kolektor

·         Bahan                                   : Baja ST 37

·         Lapisan Luar                           : Cat

·         Luas                                      : (1,62 x 1,00) meter

 

 

Perhitungan Kolektor Plat Datar

Koefisiensi Kerugian Menyeluruh (UL)

Untuk menentukan harga koefisien total pada pemanas air tenaga surya tipe plat datar diperoleh dengan cara menjumlah kan kerugian atas (Top Loses) dan Kerugian Bawah (Back Loses). Dimisalkan menentukan koefesiensi total pada pengujian kolektor Plat datar  adalah:      

 

a.Koefisiensi Kerugian Atas (Utop)

Misal dalam penelitian diperoleh data sebagai berikut :

·         Temperatur plat (Tp)                     = 65º C

·         Temperatur lingkungan (Ta)            = 28,5 º C

·         Kecepatan angin                            = 0 m/detik

·         Emisivitas plat penyerap (Ep)           = 0,10

·         Kemiringan kolektor β                     = 19,76 º

 

Maka koefisien kerugian atas plat datar adalah :

 

UT       +  

 

Dimana :

  • Jumlah penutup (N)    = 1 buah
  • Koefisien konveksi luar (ho)

 

 

 

Sedangkan untuk koefisien kerugian belakang pada plat datar adalah:

 

Uback

 

Uback = 0,761 W/m2 ºC

 

      Jadi koefisien kerugian total dari pemanas air tenaga surya tipe plat datar adalah

      UL = UT + Uback

             = 4,006 + 0,671 = 4,677 W/m2 ºC

 

 Efisiensi Sirip (F)

            Dari data yang ada pada kolektor plat datar untuk sebuah penyerap dengan pipa schedule setebal 2,19 mm dan 9 buah pipa schedule paralel dengan diameter luar 21,30 mm dan diameter dalam 16,92 mm, pipa schedule dipisahkan pada jarak 10 cm dan

 

dimana: h = koefisien perpindahan panas konveksi dari pipa schedule ke cover

 

 Untuk menentukan nilai koefisien konveksi pipa schdule ke cover, dalam pengujian kolektor, misal didapatkan temperatur fluida keluaran 48,5ºC, dari lampiran A-9 (Wiranto Arismunandar), didapatkan viskositas dinamik µ = 5,643 . 10-4 Pa.s. Laju aliran massa perpipa m = 0,020639/4 = 5,16 . 10-3 kg/detik. Maka bilangan Reynolds adalah:

 

Re =

 

Re = 688,445

 

Bilangan Prandtl adalah:

 

Pr =

 

Pr = 3,66

 

dan

 

Re Pr =di/L= 688,445 x 3,66*

             = 5,23

 

 

 

Sehingga factor efisiensi ( F)

 

 

. Faktor Pelepasan Panas

            Dari perhitungan – perhitungan data pengujian kolektor sebelumnya didapatkan

 

- laju aliran massa fluida                     

- panas jenis pada tekanan konstan     

- Luasan Kolektor                               

- Faktor efisiensi                                 

- Kerugian Total                                 

 

Maka factor pelepasan panas kolektor plat datar adalah

 

 

 

 

Perhitungan Sudut Timpa

 Dalam pengujian system kolektor yang dilakukan pada posisi maka sudut Timpa pada kolektor adalah

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

            Kesimpulan

·                  Dari hasil penelitian ini, pemanfaatan panas matahari dalam aplikasi memanaskan air guna kepentingan industri yang menggunakan air panas, misalnya industri hunian (perhotelan), industri pabrik-pabrik akan mereduksi (penghematan) penggunaan energi selain  non renewable (listrik, gas bumi, minyak bumi, batu bara) dan lain-lain.

Sehingga  secara makro merupakan sumbangsih alternativ yang dapat membantu mengatasi krisis energi yang sedang dialami bangsa Indonesia tercinta selama ini

 

            Saran

·                  Untuk metode selanjutnya dapat dilakukan pengembangan dari alat ini yang dilengkapi dengan sistem penyimpanan hasil air yang dipanaskan dalam sebuah penyimpanan (tangki air panas) yang dilengkapi dengan isolator melalui suatu penelitian kehilangan energi dalam tangki air panas tersebut, sehingga akan didapat angka efisiensi yang akurat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Noerbambang, M. Soufyan., Morimura, Takeo. (peter).1991. Prancangan dan pemeliharaan Sistem Plambing. Jakarta : PT. Pradnya Paramita

Blickle, Siegfried. Harterich, Manfred. Jungmann, Friedrich. Merkle, Helmut. Schuler, Karl. Uhr, Ulrich. 2006. Fachfunde Sanitaertechnik.  Verlag Europa-Lehrmittel. Nourney, Vollmer GmbH & Co. KG Düsselberger straße 23. 42781 Haan – Gruiten

Baur, Georg. Mayer, Rudolf. Polte, Dieter. Rothenfelder. Wawra, Peter. 1981. Technologie Für Gas – Und Wasserinstallateure. Schulbuchverlag: Hannover.

Gassner, Alfons. 1989. Technologie Sanitaerinstallateure. Verlag Handwerk und Technik G.m.b.H, Lademannbogen Hamburg.

Prof. Dietzel, Fritz. 1990. Technische Waermelehre. Vogel Buchverlag Wurzburg.

Fux, Otto. Berchtold, Bernhard. Reist, Jürg. Stauber, Christian. Zehender, Emanuel.1993. Handbuch. VSSH

 

 

 

 

 

 

 

Memahami Dasar-Dasar Pekerjaan Finishing Bangunan Gedung

Memahami Dasar-Dasar Pekerjaan Finishing Bangunan Gedung

Uberlin

Abstrak

pekerjaan finishing adalah pekerjaan akhir dari sebuah kegiatan pembangunan dalam rangka menutupi, melapisi dan memperindah dari sebuah bangunan atau konstruksi tersebut. Dalam rangka melakukan efisiensi terhadap pekerjaan finishing maka kesalahan-kesalahan pekerjaan awal harus dihindari.

Manfaat dari pekerjaan finishing adalah menambah nilai estetika, merapikan, melapisi dan meningkatkan keawetan bangunan gedung.

Pekerjaan finshing terdiri dari pekerjaan finishing basah dan pekerjaan finishing kering, finishing basah meliputi : pasangan batu bata, plesteran, acian, pekerjaan cat, pasangan tegel keramik dan pasangan granit, sedangkan finishing kering adalah pekerjaan yang dalam aplikasinya tidak menggunakan air sebagai medianya yang meliputi : pekerjaan Wall Paper, dinding partisi, karpet, dinding enamel dll

Kata kunci : pekerjan finishing, finishing kering,finishing basah, dekorasi.

A.           Pengertian dasar pekerjaan finishing.

Pada dasarnya pekerjaan finishing adalah pekerjaan akhir dari sebuah kegiatan pembangunan gedung, jembatan, jalan maupun sebuah kegiatan lainnya.

Pekerjaan finishing merupakan pekerjaan yang memakan biaya yang tidak sedikit oleh sebab itu seharusnya di hindari, untuk mereduksi pekerjaan finishing memang tidak mudah tetapi dapat dilakukan dengan mengurangi kesalahan dan meningkatkan kualitas produksi serta kompetensi tenaga kerja pada pekerjaan tersebut.

Pekerjaan finishing adalah upaya untuk menghaluskan dengan menambah beberapa assesoris sehingga bangunan tersebut menjadi lebih indah.

Dengan melihat pemahaman tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa pekerjaan finishing adalah pekerjaan akhir dari sebuah kegiatan pembangunan dalam rangka menutupi, melapisi dan memperindah dari sebuah bangunan atau konstruksi tersebut

Adapun pekerjaan finishing dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :

a.            Pekerjaan finishing basah yaitu pekerjaan finishing yang dalam aplikasinya menggunakan air sebagai medianya yang meliputi pasangan batu bata, plesteran,acian, pasangan tegel keramik, pasangan granit dan pekerjaan pengecatan.

b.     Sedangkan pekerjaan finishing kering yaitu pekerjaan yang dalam aplikasinya tidak menggunakan air sebagai medianya yang meliputi : pekerjaan Wall Paper, dinding partisi, karpet, dinding enamel dll.

 

Gbr.1. Salah satu pekerjaan finishing basah

Finishing basah adalah seluruh kegiatan pekerjaan finishing yang pada proses pengerjaan bahan dasarnya berhubungan dengan bahan cair, contohnya pada pekerjaan pengecatan dimana untuk mencampurnya agar dapat diaplikasikan menggunakan air.

  Gbr.2 Salah satu pekerjaan finishing pasang bata ringan

Sedangkan finishing kering adalah seluruh kegiatan pekerjaan finishing yang pada proses pengerjaan bahan dasarnya tidak berhubungan secara langsung dengan bahan cair, contohnya pada pekerjaan pemasangan wall paper, parket dan dinding partisi.

 

                   Gbr.3. Pekerjaan finishing kering pasang parket

B.           Fungsi Pekerjaan Finishing.

Berdasar penjelasan diatas maka pekerjaan finshing cukup mahal namun tetap dibutuhkan sebab pekerjaan tersebut memberi nilai tambah dari sebuah konsep membangun dari sebuah kegiatan pemabngunan.

Adapun fungsi dari pekerjaan finshing adalah :

  • Menambah nilai estetika pada sebuah objek atau gedung agar terlihat menarik dan indah

 

Gbr.5.Hasil dari pekerjaan finishing

  • Merapikan setiap bagian konstruksi agar terlihat sempurna sesuai dengan standar yang beralku.
  • Melapisi bagian-bagian yang harus ditampilkan dengan bahan lain agar bagian tersebut diganti dengan bahan lainnya.
  • Menambah keawetan bangunan gedung.

C.           Jenis dan Macam Pekerjaan Finishing .

Seperti penjelasan diatas bahwa pekerjaan finishing basah adalah merupakan pekerjaan finishing yang dalam proses pengerjaannya berhubungan dengan bahan cair sehingga dapat diidentifikasikan sebagai berikut, antara lain:

 

1.            Pekerjaan Finishing Basah

  • Pasangan batu bata (bricklaying).

Pasangan batu bata dapat dikategorikan pekerjaan finishing dengan mengacu pada pengertian pekerjaan finishing yaitu untuk menutupi bagian bangunan dan jika pasangan bata tersebut di ekspose atau tanpa diplester sehingga nampak keindahan pasangan batu batanya.

 

                      

Gbr.6. Pasangan bata ekspose

  •  Pasangan tegel keramik (wall and floor tiling).

Pasangan tegel keramik berfungsi untuk memberikan keindahan dan kebersihan dari sebuah bangunan gedung, dengan corak warna dan pola yang dipilih maka bangunan mejadi indah dan berkualitas.

Pemasangan tegel keramik pada dinding dan lantai dapat diaplikasikan dengan dua cara yaitu cara tebal dan cara tipis.

Cara tebal yaitu cara mengaplikasikan keramik dimana spesi adalah campuran semen dan pasir dengan komposisi 1 pc : 2 ps dengan ketebalan spesi 1 cm – 2cm.

Sedangkan cara tipis adalah metode mengaplikaiskan tegel keramik dengan mengunakan bahan dry mix (campuran kering yang sudah siap pakai), dimana komposisi sudah sesuai dengan standar industri dan memiliki tingkat keplastisan yang bagus.

 

                                      

 Gbr.7.Pasangan tegel keramik

  •  Pekerjaan plesteran dan acian.

Plesteran merupakan salah satu lapisan penutup yang berfungsi untuk melindungi dan menutupi permukaan batu bata agar permukaan menjadi rata dan terlindung dari pengaruh cuaca, sehingga bangunan menjadi lebih awet dan sehat.

  • Pekerjaan pasangan batu alam/granit.

Pasangan granit menrupakan lapisan penutup yang terdiri dari dua macam cara pengerjaan yaitu cara basah dan cara kering, jadi keramik atau granit dapat dikelompokan pada dua jenis pekerjaan finishing.

 

                                                     

 

 

 

 

 

 

 

Gbr.8.Pasangan batu alam pada tembok

  • Pekerjaan pengecatan.

Pengecatan akan memperindah konstruksi bangunan dengan variasi warna yang berbeda membuat bangunan akan menjadi indah namun ketahanan terhadap pengaruh cuaca menjadikan pekerjaan finishing ini tidak awet.

 

     

 

  

   

Gbr.9.Aplikasicat pada tembok

  •     Finishing permukaan beton.

Finishing permukaan beton dilakukan agar permukaan menjadi rata, padat dan halus sehingga terlihat lebih bagus, disamping itu dapat juga dibuat teksture dengan efek-efek tertentu sehingga menampilkan permukaan beton yang lebih menarik.

Adapun finishing permukaan beton dapat diaplikasikan seperti hard finish, epoxy, grinding, finishing sudut dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                   

   Gbr.10.Finishing sudut

D.           Pekerjaan Finishing Kering

  • Pekerjaan Wall Paper                                                                                             Wallpaper dinding adalah bahan pelapis dinding terbuat dari bahan plastic atau kertas dengan desain dan pola tertentu yang digunakan untuk melapisi dinding bangunan sebagai bagian akhir dari pekerjaan finishing. Kelemahan dari wallpaper adalah mudah robek, jika kotor sulit dibersihkan dan jika tembok lembab wallpaper akan rusak.

                    

 

Gbr. 11.Contoh pasangan wallpaper pada dinding.

  •  Pekerjaan karpet                                                                                                          Karpet adalah salah satu pekerjaan finishing kering dan diaplikasikan pada lantai dan memiliki media yang harus kering dan bersih. Biasanya dipasang di hotel-hotel, mesjid, kantor atau ruang khusus untuk umum yang bersifat exklusif.

 

Gbr.11.Contoh pasangan karpet pada lantai.

 

 

  • Pekerjaan parket                                                                                                                   Parket adalah salah satu finishing pelapis lantai terutama pada ruang tidur, dansa, senam atau restauran. Arket memberikan nilai dekorasi yang sangat tinggi pada sebuah bangunan. Kelemahan pekerjaan finishing ini adalah tidak tahan terhadap kelembaban.  

 

                                         

 

            Gbr. 12.Contoh pasangan parket

 

  •   Pekerjaan dinding partisi papan gipsum                                                                       Papan gipsum atau gypsum board merupakan material pelapis interior untuk dinding pembatas dan plafon gipsum, serta dapat diaplikasikan sebagai pelapis dinding bata. Kelemahan dari pelapisi dinding gipsum jika terkena basah atau air maka papan gipsum menjadi hitam dan rusak. 

Kesimpulan.

Pekerjaan Finishing adalah merupakan proses pekerjaan akhir dalam rangka memperbaiki, menutupi atau melapisi,meningkatkan keawetan bangunan serta memperindah sebuah pekerjaan bangunan. pekerjaan finshing diupayakan se efisien mungkin untuk menekan biaya pekerjaan yaitu dengan meningkatkan kualitas pekerjaan sebelumnya. pekerjaan finishing meliputi pekerjaan finishing basah dan finishing kering

 

Daftar Pustaka.

Susanta, Gatut, Panduan Lengkap Membangun Rumah,Jakarta,  Penebar Swadaya, 2001.

PPPPTK/VEDC, Job Sheet, Pemasangan Tegel Keramik, Malang 2010

Sudarwati, Memilih, Memasang, Merawat Keramik ,Jakarta,Penebar Swadaya, 2006

Susanta, Gatut, Lantai,Jakarta,  Penebar Swadaya, 2007.

Susanta, Gatut, Dinding ,Jakarta,  Penebar Swadaya, 2007

Ismaya, Bayu dkk, Mengatasi Kerusakan Rumah ,Jakarta,  Penebar Swadaya, 2006

Kusjuliadi , Danang. Membangun Rumah Kuat dan Artistik, Jakarta,  Penebar Swadaya, 2007

http://properti.kompas.com/read/2012/05/16/17053023/7.Langkah.Mengganti.Lantai.Parket.yang.Rusak

http://blog.ubinkayu.com/info/renovasi

http://www.pasangkarpetkantor.com/2010_11_01_archive.html 

Cara Pembengkokan Pada Proses Pengolahan Kursi Rotan

CARA PEMBENGKOKAN  PADA PROSES PEMBUATAN KURSI ROTAN 

Cahyo Kuncoro, Widyaiswara PPPPTK BOE Malang

 

Abstraksi

          Rotan merupakan hasil hutan non kayu yang mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi dan dapat digunakan hampir disemua segi kehidupan manusia, tetapi lebih dikenal secara umum digunakan untuk mebel atau furniture. Rotan merupakan bahan  baku dalam pembuatan produk mebel yang  masih digemari  oleh masyarakat  luas.  Salah satunya berupa kursi yang  digunakan sebagai fasilitas tempat duduk. Hal tersebut didasari oleh keunggulan bahan baku rotan yang  mudah dibentuk  dan dilengkungkan atau dibengkokkan. Penggunaan teknologi  dalam pengolahan rotan merupakan salah satu kunci berkembangnya industri furniture terutama  di  sebagian  pulau Jawa. Teknologi  yang  digunakan  pun menyesuaikan dengan sifat mekanis rotan.

          Salah satu penggunaan teknologi tersebut berupa teknik pelengkungan/bending rotan yang mampu menciptakan berbagai macam bentuk organis yang berkesan dinamis pada desain kursi rotan. Keunggulan bahan rotan pun menjadi  alasan mengapa  sampai  saat  ini  kursi berbahan rotan  tetap  digandrungi  oleh  peminatnya. Kelebihan  tersebut disebabkan oleh sifat rotan yang ringan, mampu menyerap pewarna dengan baik, serta elastis sehingga mudah dibentuk dan menghasilkan ragam desain yang sesuai dengan karakter tanaman tersebut.

 

Kata kunci: Rotan, Elastisitas, Teknik Pelengkungan, Kursi

 

PENDAHULUAN

Hutan Indonesia memiliki potensi hasil hutan bukan kayu yang cukup tinggi. Walaupun demikian, hasil hutan bukan kayu (HHBK) masih kurang optimal dimanfaatkan karena pengusahaan hutan selama ini cenderung terorientasi pada hasil hutan kayu. Penggunaan teknologi  dalam pengolahan kursi  merupakan bagian  dari  proses terciptanya bentuk yang sesuai dengan kebutuhan desain. Dalam hal ini, bahan baku yang  digunakan  dalam pengolahan adalah  rotan  dengan mengaplikasikan  teknologi sederhana  berupa sistem  bending. Teknik  ini  dilakukan untuk  mendapatkan bentuk lengkung yang maksimal. Kajian Sistem pelengkungan pada Proses Pengolahan Kursi Rotan di pulau Jawa ini muncul dengan alasan bahwa rotan sebagai bahan alam yang memiliki sifat elastisitas tinggi memiliki kemampuan untuk dapat menahan tekanan tertentu dengan perlakuan pelengkungan guna menciptakan variasi bentuk pada komponen kursi rotan yang berasal dari kawasan pulau Jawa, proses  pembengkokan rotan  dapat disampaikan  dengan pemaparan  yang  mudah dipahami.

Tujuan  yang  hendak  dicapai  melalui  penulisan  ini  adalah  bagaimana proses berlangsungnya dimulai  dari  pengolahan  rotan  mentah  sampai  menjadi  bahan  baku  siap  pakai  yang dimanfaatkan oleh pengrajin maupun disainer untuk dijadikan sebuah produk pelengkap kebutuhan interior dalam kasus ini berupa kursi sebagai fasilitas duduk.

 

PEMBAHASAN

1.    Karakteristik Rotan

Rotan  berwarna  kuning  langsat  atau  kuning  keputih-putihan  kecuali  beberapa jenis  seperti  Rotan Semambu (coklat kuning)  dan Rotan Buyung  (kecoklat-coklatan). Rotan yang bagus memantulkan cahaya sehingga menimbulkan kilap. Kilap dan suram dapat memberikan  ciri  yang  khusus  dari  suatu jenis  rotan  serta dapat  menambah keindahan dari rotan tersebut. Kilap rotan tergantung pada struktur anatomi, kandungan zat ekstraktif, sudut datangnya sinar, kandungan air, lemak dan minyak. Makin tinggi kadar air maka makin suram, makin tinggi lemak dan minyak maka makin suram. Sifat khusus yang dimiliki rotan adalah ke-elastisitannya yang mampu menahan  gaya/tekanan tertentu. 

Karakter elastis tersebut yang menjadikan daya tarik rotan untuk dibuat berbagai macam produk kerajinan dan mebel. Karena rotan mempunyai sifat yang fleksibel, terdapat berbagai  macam  keuntungan dalam pengolahannya menjadi  sebuah  produk  furnitur.

Rotan dapat ditempel menggunakan lem dan dapat digabungkan dengan material lain dengan cara  dipaku. Rotan mempunyai beberapa kriteria  dari  segi  pengolahan, dari bahan mentah menjadi bahan yang siap diolah menjadi produk furnitur. Rotan mentah, masih mengandung air getah dan berwarna hijau atau kekuning-kuningan. Kemudian mengalami tahap penggorengan, penjemuran  dan pengeringan, maka  jenis  tersebut dikenal sebagai rotan asalan atau rotan Washed and Sulfure.

Di samping rotan asalan yang telah siap diolah menjadi produk kerajinan maupun furnitur, terdapat pula bagian-bagian lain dari tanaman rotan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan furnitur khususnya kursi. Bagian tersebut di antaranya adalah rotan bulat/ketam yang pada umumnya digunakan dalam pembuatan rangka furnitur.

Kemudian kulit rotan atau yang dikenal dengan peel sebagai bahan untuk berbagai jenis anyaman  dan seringkali  digunakan  untuk  bahan  pengikat.  Hati  rotan, untuk bahan berbagai perabotan keranjang serta tali pengikat. Dan yang terakhir berupa limbah kulit rotan sebagai keperluan industri pengisian jok kursi dan lainnya.

2.    Penggunaan Rotan Sebagai Bahan Baku Kursi

      Rotan dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan perabot rumah

tangga. Beberapa  di  antaranya berupa kursi, meja, dan perabot lainnya. Hanya terdapat beberapa  jenis  rotan  yang  dapat  dijadikan bahan  untuk  membuat kursi. Rotan telah dikenal sejak lama dan digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi perlengkapan hidup sehari-hari. Penggunaannya dikarenakan  karakteristik  rotan  yang  memiliki  tingkat keuletan serta kekokohan. Di samping itu, rotan mudah menyesuaikan bentuk dengan tingkat kerumitan desain yang tinggi. Hampir seluruh bagian rotan dapat digunakan baik sebagai konstruksi kursi, pengikat, maupun komponen desainnya.

 

3.    Proses Pengolahan Rotan

Proses pengolahan rotan batang setengah jadi adalah pengerjaan lanjutan dari rotan asalan menjadi barang setengah jadi yang siap digunakan untuk keperluan pembuatan barang, furniture atau perabot. Rotan yang dijadikan sebagai bahan baku industri produk jadi rotan adalah rotan yang yang telah melalui pengolahan. Kegiatan pengolahan adalah pengerjaan lanjutan dari rotan bulat (rotan asalan) menjadi barang setengah jadi dan barang jadi atau siap dipakai atau dijual. 

Tahapan pengolahan rotan ini sering juga disebut merunti yang prosesnya adalah sebagai berikut :

 

A.   PENGGORENGAN.

Bertujuan untuk menurunkan kadar air dan untuk mencegah terjadinya serangan jamur. Cara penggorengannya adalah potongan batang rotan diikat menjadi suatu bundelan, kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang berbentuk sedemikian rupa (pada bagian bawahnya terdapat tungku untuk memanaskan campuran solar dan minyak kelapa).

 

B.   PENGGOSOKAN DAN PENCUCIAN. 

Rotan yang telah digoreng, ditiriskan beberapa menit lalu digosok dengan kain perca (sabut kelapa) yang dicampur dengan serbuk gergaji dan tanah atau pasir, agar sisa kotoran terutama getah yang masih menempel pada kulit rotan dapat dilepaskan, sehingga kulit rotan menjadi bersih dan akan dihasilkan warna rotan yang berwarna cerah dan mengkilap.

 

 

 

 

 

C.   PENGERINGAN.

Pengeringan dilakukan dengan menjemur rotan pada panas matahari sampai kering dengan kadar air berkisar 15% – 19%. Pada rotan manau dan rotan semambu, menunjukkan bahwa lama pengeringan secara alami dari kedua jenis rotan tersebut berkisar 22 hari sampai 65,3 hari. Dalam tahap ini rotan sudah dapat dipergunakan sebagai bahan baku dengan istilah rotan asalan. Akan tetapi kebanyakan rotan jenis batang  cane diproses untuk dipoles dengan menghilangkan kulit luarnya dan menyeragamkan ukuran.

 

 

 

D.   PENGUPASAN DAN PEMOLESAN.

     Pengupasan dan pemolisan umumnya dilakukan pada rotan batang pada keadaan kering,      dengan menggunakan alat poles berupa kain amplas berbentuk selendang  yang                      berputar gunanya adalah untuk menghilangan kulit rotan tersebut, sehingga diameter dan         warna menjadi lebih seragam dan merata.

 

E.   PENGAWETAN.

    Proses perlakuan kimia atau fisis terhadap rotan yang bertujuan meningkatkan masa pakai rotan merupakan hal yang terjadi saat pengawetan rotan. Selain berfugsi untuk mencegah atau memperkecil kerusakan rotan akibat oganisme perusak, juga memperpanjang umur pakai rotan. Bahan pengawet yang digunakan harus bersifat racun terhadap organisme perusak (pada rotan basah maupun rotan kering), permanen dalam rotan, aman dalam pengangkutan dan penggunaannya, tidak bersifat korosif, tersedia dalam jumlah banyak dan murah. Serangan bubuk rotan dapat dikenal karena adanya tepung halus bekas gerekan bubuk tersebut. Serangga ini paling banyak ditemukan menyerang rotan antara lain Dinoderus minutus Farb., Heterobostrychus aequalis Wat., dan Minthea sp.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

F.  PELURUSAN . 

Dilakukan dengan menekuk rotan pada dua buah tonggak agar batang rotan menjadi lurus dan mudah untuk disusun atau diikat dalam satu bendel ikatan yang siap untuk didistribusikan.

 

 

 

 

 

 

 

       4.    Proses Pelengkungan Rotan

 

Pada tahap ini, rotan mengalami proses pelengkungan sesuai dengan kebutuhan yang  diinginkan. Pembengkokan dilakukan menggunakan  bantuan  panas  dengan di steam terlebih dahulu. Kemudian setelah tercapai waktu pemanasan selama 1-2 jam, rotan  dilengkungkan menggunakan  catok  sesuai  dengan  bentuk  yang dikehendaki. Setelah dilengkungkan, rotan  didiamkan  sampai  dingin dengan diberi  penahan agar bentuk lengkungannya tidak berubah.

Pelengkungan rotan dapat  dilakukan  dengan cara  dipanaskan menggunakan kompor semprot.  Jika menggunakan  teknik  ini, rotan  yang  dipanaskan tidak  boleh sampai gosong. Teknik ini menggunakan drum yang diisi air sekitar 2/3 bagiannya dan menutup  lubang  keluarnya  uap pada drum. Kemudian kompor dinyalakan untuk memanaskan air dalam drum sampai mendidih dan uap air disalurkan melalui selang pada tabung berdiameter sekitar 30-35 cm dengan panjang 3-3,5 m. Setelah mendidih dan panas,  tabung  kemudian  diisi rotan dan dibiarkan kurang  lebih selama  satu jam sampai rotan menjadi lentur dan siap untuk dilengkungkan.

Namun  kini, para  pelaku  industri  olahan  rotan  berskala menengah ke atas

menggunakan teknik pemanasan rotan dengan bantuan gelombang micro. Hal tersebut  dilakukan untuk  menghindari  terjadinya  retak atau  cacat pada potongan  rotan. Gelombang  mikro  berupa  gelombang  elektromagnetik  yang  berukuran sangat kecil dengan frekuensi antara  300  MHz dan 300  GHz.  Rotan yang  mengalami proses pemanasan  menggunakan  gelombang  mikro  dimasukkan  pada  wadah berupa oven.

 

5.                                5. Kursi Rotan

    Pemilihan rotan sebagai bahan pembuatan furnitur kursi merupakan solusi dari kekurangan yang  dimiliki  oleh bahan  kayu maupun besi.  Rotan memiliki berat yang ringan sehingga  mudah  untuk  dipindahkan.  Sifat rotan  yang  kuat dan tahan lama menjadikannya banyak  digemari  oleh  masyarakat. Kekerasan/elastisitas  rotan membuatnya mudah untuk  dibentuk  sehingga  produk rotan  memiliki  banyak perkembangan bentuk.  Rotan dapat menyerap pewarna  dengan  baik  namun tetap memunculkan karakternya. Cocok digunakan pada negara yang beriklim tropis karena rotan memiliki sifat menyerap dingin. Berbeda hal nya dengan bahan kayu dan besi yang berat. Maka tak heran bahwa furnitur terutama kursi yang terbuat dari bahan rotan lebih dipilih dan disukai. Dari beberapa jenis kursi rotan yang ditemui di industri olahan rotan di Jawa, desainnya  memiliki  motif  yang menarik,  berbeda dari pola  anyaman  rotan pada umumnya. Dengan  cara menyusun hati  rotan  secara  vertikal, horisontal, diagonal, organis ataupun melingkar. Maka terciptalah pola atau motif rotan yang memiliki nilai estetik, sehingga produk furnitur berupa berbagai macam kursi yang dibuat oleh perajin di  pulau Jawa  memiliki tempat  dihati  konsumen manca negara.  Tidak  kalah  pentingnya adalah  peran desainer yang  menjadi  inspirasi  bagi  para  perajin furnitur kursi  rotan di Jawa. Dengan memproduksi kursi hasil rancangannya di kawasan sentra industri rotan di pulau Jawa, secara  langsung  mampu mengangkat  daerah tersebut  dengan segala potensinya untuk tampil dikancah industri furnitur rotan nasional maupun internasional.

Pemilihan rotan sebagai bahan pembuatan furnitur kursi merupakan solusi dari kekurangan yang  dimiliki  oleh bahan  kayu maupun besi.  Rotan memiliki berat yang ringan sehingga  mudah  untuk  dipindahkan. Sifat rotan  yang  kuat dan tahan lama menjadikannya banyak  digemari  oleh  masyarakat. Kekerasan/elastisitas  rotan membuatnya mudah untuk  dibentuk  sehingga  produk rotan  memiliki  banyak perkembangan bentuk.  Rotan dapat menyerap pewarna  dengan  baik  namun tetap memunculkan karakternya. Cocok digunakan pada negara yang beriklim tropis karena rotan memiliki sifat menyerap dingin. Berbeda hal nya dengan bahan kayu dan besi yang berat. Maka tak heran bahwa furnitur terutama kursi yang terbuat dari bahan rotan lebih dipilih dan disukai.

Dari beberapa jenis kursi rotan yang ditemui di industri olahan rotan di Jawa, desainnya  memiliki  motif  yang menarik,  berbeda dari pola  anyaman  rotan pada umumnya. Dengan  cara menyusun hati  rotan  secara  vertikal, horisontal, diagonal, organis ataupun melingkar. Maka terciptalah pola atau motif rotan yang memiliki nilai estetika, sehingga produk furnitur berupa berbagai macam kursi yang dibuat oleh perajin di  Jawa  memiliki tempat  dihati  konsumen mancanegara.  Tidak  kalah  pentingnya adalah  peran desainer yang  menjadi  inspirasi  bagi  para  perajin furnitur kursi  rotan di Jawa. Dengan memproduksi kursi hasil rancangannya di kawasan sentra industri rotan di Jawa, secara  langsung  mampu mengangkat  daerah tersebut  dengan segala potensinya untuk tampil dikancah industri furnitur rotan nasional maupun internasional.

Terlepas dari keunggulan kursi rotan pada umumnya, kursi rotan yang diproduksi di  beberapa  kawasan  industri  olahan rotan  di  Jawa  memiliki  keunggulan  yang menjadikannya laris  di  pasar Eropa.  Keunggulan  tersebut  di  antaranya  adalah desain yang  simpel  berkesan natural  namun up  to date menyesuaikan  dengan tren  yang berkembang.  Penggunaan cara pembengkokan dapat menghasilkan  keleluasaan  bentuk yang sesuau dengan keinginan.

Proses finishing pun menampilkan warna-warna yang lebih bervariasi, sehingga kesan kuno furnitur rotan dapat ter-kamuflase-kan. Gaya nya pun dapat disesuaikan dengan desain interior agar terlihat memiliki kesatuan dan terpenuhinya elemen-elemen desain. Sehingga  furniture rotan dapat membuat gaya yang sesuai dengan tempat di mana ia diletakan. Dari gaya etnik yang berkesan kuno sampai desain furnitur kontemporer.

Di samping hal tersebut, proses pembuatan kursi dengan melengkungkan rotan sesuai  desain yang  dikehendaki  menjadikan kursi  rotan  tidak  terlihat kaku.  Finishing yang detail, halus dan menggunakan bahan yang aman merupakan poin penting dari populernya furniture kursi  rotan  di Jawa. Finishing yang  halus terbukti  mampu memperhatikan kenyamanan pengguna. Karena di samping harus memiliki nilai estetika yang tinggi, kursi berbahan rotan pun harus memenuhi syarat kenyamanan baik secara ergonomi maupun penggunaan bahan finishing yang berkualitas tinggi.

 

KESIMPULAN

 1. Rotan memiliki  berat yang  ringan, kekerasan atau elastisitasnya  rotan  menunjukkan              bahwa bahan ini mampu menahan gaya tertentu sehingga mudah untuk dilengkungkan.

 2. Karakter rotan  lainnya menjadikan rotan sebagai  bahan pengganti  kayu  dalam                      pembuatan kursi.

 3. Teknik pelengkungan atau bending rotan merupakan salah satu cara yang sudah ada              sejak lama  digunakan  untuk  membuat komponen-komponen  melengkung pada perabot      rumah tangga  terutama  kursi pada industri mebel  di  kawasan sekitar Jawa.

3.                    4. Dengan penggunaan teknologi tersebut, bentuk yang dihasilkan akan terkesan dinamis.                 Pada  pumumnya  teknik  pelengkungan rotan  dapat  menggunakan  bantuan panas.

4.                  5. Tingkat ke elastisitasan  rotan  dapat  mencapai  kelengkungan yang  maksimal sampai                membentuk  lingkaran. Keunggulan ini  lah yang  membuat  kursi  rotan di Jawa                                memiliki  desain yang  menarik  dan bernilai  lebih. Di  samping  hal  tersebut,                                  finishing secara detail dengan memberikan warna yang variatif, dapat menunjang desain               kursi.

 

 

Daftar Perpustakaan

http://rattanwikipedia.blogspot.com/

https://bamboeindonesia.files.wordpress.com/2012/06/teknologi-budidaya-rotan-dan-bambu.pdf

http://pustekolah.org/data_content/attachment/PELENGKUNGAN ROTAN_DENGAN_GELOMBANG_MIKRO.pdf.

 

https://jualfurniturerotan.files.wordpress.com/2014/04/kursi-tamu-blimbing-1.jpg

 

http://noerdblog.wordpress.com/2011/11/23/alasan-konsumen-membeli-mebel-kursi-rotan/.

 

https://noerdblog.wordpress.com/2011/06/20/pengolahan-rotan/

 

International Network for Bamboo and Rattan. Transfer of Technology Model, Rattan Furniture Making Unit

http://jubilee101.com/subscription/pdf/Furniture/Rattan-Furniture-Making---10pages.pdf

 

Iyus Kusnaedi, Ajeng Sekar Pramudita, Sistem Bending Pada Proses Pengolahan Kursi Rotan Cirebon, Jurnal Rekajiva 1, Desain Interior Itenas, No. 02, Vol.01, Januari 2013.

 

     Krisdianto dan Jasni (2006): Pelengkungan dalam Industri Pengolahan Rotan. Info Hasil Hutan. Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor [PDF].

KONSTRUKSI ATAP KAYU

KONSTRUKSI ATAP KAYU

Hartiyono (Widyaiswara Madya )

Departemen Bangunan PPPPTK BOE / VEDC Malang

 

       
   
 
 

ABSTRAK

Atap merupakan bagian dari bangunan gedung (rumah) yang letaknya berada dibagian paling atas, sehingga untuk perencanaannya atap ini haruslah diperhitungkan dan harus mendapat perhatian yang khusus dari si perencana (arsitek). Karena dilihat dari penampakannya ataplah yang paling pertama kali terlihat oleh pandangan setiap yang memperhatikannya. Untuk itu dalam merencanakan bentuk atap harus mempunyai daya arstistik.

 Bisa juga dikatakan bahwa atap merupakan mahkota dari suatu bangunan rumah. Atap sebagai penutup seluruh ruangan yang ada di bawahnya, sehingga akan terlindung dari panas, hujan, angin dan binatang buas serta keamanan.

Atap merupakan bagian dari struktur bangunan yang berfungsi sebagai penutup/pelindung bangunan dari panas terik matahari dan hujan sehingga memberikan kenyamanan bagi pengguna bangunan. 

Kata kunci : pelindung panas, hujan dan kenyamanan
 

1.        Latar Belakang

Kontruksi kuda-kuda ialah suatu susunan rangka batang yang berfungsi untuk mendukung beban atap termasuk juga beratnya sendiri dan sekaligus dapat memberikan bentuk pada atapnya. Bottom of FormTop of FormBottom of FormKonstruksi kuda-kuda adalah susunan rangka batang yang berfungsi mendukung beban atap termasuk juga beratnya sendiri, sekaligus dapat memberikan bentuk pada atap.
Kuda-kuda merupakan penyangga utama pada struktur atap. Struktur ini termasuk dalam klasifikasi struktur framework (truss), secara umumnya kuda - kuda terbuat dari kayu, bambu, baja, dan beton bertulang.

 

2.  Pembagian Strukur Atap

2.1   Komponen Penyusun Atap

Tiga komponen penyusun atap:

A.  Struktur atap (rangka atap dan penopang rangka atap)

B.  Penutup atap (genteng,polikarbonat)

C.  Pelengkap atap (talang horizontal/vertikal dan lisplang)

 

A.  Struktur Atap (rangka atap dan penopang rangka atap)

Struktur atap adalah bagian bangunan yang menahan /mengalirkan beban-beban dari atap. Struktur atap terbagi menjadi rangka atap dan penopang rangka atap. Rangka atap berfungsi menahan beban dari bahan penutup atap sehingga umumnya berupa susunan balok –balok (dari kayu/bambu/baja) secara vertikal dan horizontal –kecuali pada struktur atap dak beton. Berdasarkan posisi inilah maka muncul istilah gording,kasau dan reng. Susunan rangka atap dapat menghasilkan lekukan pada atap (jurai dalam/luar) dan menciptakan bentuk atap tertentu.

Penopang rangka atap adalah balok kayu yang disusun membentuk segitiga,disebut dengan istilah kuda-kuda. Kuda-kuda berada dibawah rangka atap,fungsinya untuk menyangga rangka atap. Sebagai pengaku,bagian atas kuda-kuda disangkutkan pada balok bubungan,sementara kedua kakinya dihubungkan dengan kolom struktur untuk  mengalirkan beban ke tanah.

 

Atap dan bagian-bagiannya

  • Gording

Gording membagi bentangan atap dalam jarak-jarak yang lebih kecil pada proyeksi horizontal. Gording meneruskan dari penutup atap, reng, usuk, orang, beban angin, beban air hujan pada titik-titik buhul kuda-kuda. Gording berada diatas kuda-kuda, biasanya tegak lurus dengan arah kuda-kuda. Gording menjadi tempat ikatan bagi usuk, dan posisi gording harus disesuaikan dengan panjang usuk yang tersedia.

 

·         Jurai

Pada pertemuan sudut atap terdapat batang baja atau kayu atau framewort yang disebut jurai. Jurai dibedakan menjadi jurai dalam jurai luar.

 

·         Usuk/kasao

Usuk berfungsi menerima beban dari penutup atap dan reng meneruskan ke gording. Usuk terbuat dari kayu dengan ukuran 5/7 cm dan panjang maksimal 4m. Usuk dipasang dengan jarak 40 s.d 50 cm antara satu dengan yang lainnya pada arah tegak lurus gording. Usuk akan terhubung dengan gording dengan menggunakan paku. Pada kondisi tertentu usuk harus dibor dahuku sebelum dipaku untuk menghindari pecah pada ujung-ujung usuk.

 

·         Reng

Reng berupa batang kayu berukuran 2/3 cm atau 3/5 cm dengan panjang sekitar 4 m. Reng menjadi tumpuan langsung penutup atap dan meneruskannya keusuk / kasao. Pada atap dengan penutup dari asbes, seng atau sirap reng tidak digunakan. Reng akan digunakan pada atap dengan penutup dari genteng. Reng akan dipasang tegak lurus usuk dengan jarak menyesuaikan dengan panjang guna dari (genteng).

 

·         Penutup

Penutup adalah elemen paling luar dari struktur atap.Penutup atap harus mempunyai sifat kedap air, bias mencegah terjadinya rembesan air selama kejadian hujan. Sifat tidak rembes ini diuji dengan pengujian serapan air dan rembesan.

 

B.       Penutup atap (genteng,polikarbonat)

Penutup merupakan bagian yang menutupi atap secara keseluruhan sehingga terciptalah ambang atas yang membatasi kita dari alam luar. Ada berbagai pilihan penutup atap dengan pilihan bentuk dan sifat yang berbeda. Dua faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam pemilihannya adalah faktor keringanan material agar tidak terlalu membebani struktur bangunan dan faktor keawetan terhadap cuaca (angin,panas,hujan). Faktor lain adalah kecocokan/keindahan terhadap desain rumah. Ukuran dan desain dari penutup atap juga memberi pengaruh pada struktur,misalnya konstruksi kuda-kuda,ukuran reng,dan sudut kemiringan.

 

C.       Pelengkap atap (talang horizontal/vertikal dan lisplang)

Elemen pelengkap pada atap selain berfungsi struktural juga estetis.

 

1.     Talang
Saluran air pada atap yang berfungsi mengarahkan air agar jatuh ketanah disebut talang. Talang dipasang mendatar mengikuti tiris atap kemudian dialirkan ke bawah melalui pipa vertikal.

 

2.     Lisplang
Dari segi konstruksi, lisplang menciptakan bentukan rigid (kokoh, tidak berubah) dari susunan kasau. Pada pemasangan rangka penahan atap, batang-batang kasau hanya ditahan oleh paku dan ada kemungkinan posisinya bergeser. Disinilah lisplang berfungsi untuk mengunci susunan kasau tersebut agar tetap berada pada tempatnya. Dari segi estetika, lisplang berfungsi menutupi kasau yang berjajar dibawah susunan genteng/bahan penutup atap lain. Maka tampilan atap pada bagian tepi akan terlihat rapi oleh kehadiran lisplang.

 

2.2         Perancangan Atap Yang Baik Menurut Iklim

Atap dapat dikatakan berkualitas jika strukturnya kuat/kokoh dan awet/tahan lama. Faktor iklim menjadi bahan pertimbangan penting dalam merancang bentuk dan konstruksi atap/bangunan.

Keberadaan atap pada rumah sangat penting mengingat fungsinya seperti payung yang melindungi sisi rumah dari gangguan cuaca (panas, hujan dan angin). Oleh karena itu,sebuah atap harus benar-benar kokoh/kuat dan kekuatannya tergantung pada struktur pendukung atap. Mengacu pada kondisi iklim perancangan atap yang baik ditentukan 3 faktor, yakni jenis material,bentuk/ukuran,dan teknik pengerjaan.

 

2.3    Jenis Material Struktur Dan Penutup Atap

Penentuan material tergantung pada selera penghuni,namun harus tetap memerhatikan prinsip dasar sebuah struktur yaitu harus kuat,presisi,cukup ringan,dan tidak over design. Atap yang kuat harus mampu menahan besarnya beban yang bekerja pada elemen struktur atap.

Ada 3 jenis beban yang bekerja pada atap yaitu:

1.      beban berat sendiri (bahan rangka,penopang rangka,dan penutup atap),

2.      beban angin tekan dan angin hisap,dan

3.      beban bergerak lain (berat manusia saat pemasangan dan pemeliharaan).

 

D.   Kesimpulan

            Atap merupakan bagian mahkota bangunan. Atap berfungsi sebagai bagian dari keindahan dan pelindung bangunan dari panas dan hujan. Kemiringan untuk genteng kemiringan minimal 35  s/d 65 derajat, kalau atap menggunakan seng atau alumunium kemiringannya 18 – 20 derajat. Kuda-kuda merupakan bagian yang memberi bentuk pada atap bangunan. Jarak antara kuda – kuda biasanya tidak lebih dari 3 m, kadang sampai 4m supaya ukuran gording dan balok bubungan tidak terlalu besar. Konstruksi rangka atap artinya dimulai dari menghitung kebutuhan bahan, membuat dan memasang konstruksi sehingga menjadi satuan konstruksi rangka atap pada bangunan .

 

 E.  Daftar pustaka

·         Pekerjaan kayu dengan alat tangan mesin, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta, Indonesia.

 

·         KONSTRUKSI KAYU,

Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan 1978 

 

·         Gambar Gambar Bangunan, Sugihardjo BAE.                        

EVALUASI KEPUASAN PESERTA DIKLAT TERHADAP KOMPETENSI WIDYAISWARA PROGRAM STUDI PLAMBING DAN SANITASI DEPARTEMEN BANGUNAN P4TK BIDANG OTOMOTIF DAN ELEKTRONIKA MALANG

EVALUASI KEPUASAN PESERTA DIKLAT TERHADAP KOMPETENSI WIDYAISWARA PROGRAM STUDI PLAMBING DAN SANITASI DEPARTEMEN BANGUNAN P4TK BIDANG OTOMOTIF DAN ELEKTRONIKA MALANG

 

Supono

Widyaiswara Madya, Departemen Bangunan PPPPTK BOE Malang

 

Abstrak. Sebagai aparatur negara, Widyaiswara harus memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan tuntutan tugas mereka. Menurut Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 5 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Widyaiswara menyebutkan bahwa standar kompetensi Widyaiswara terdiri dari: (1) Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran, (2) Kompetensi Kepribadian, (3) Kompetensi Sosial, dan (4) Kompetensi Substantif.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kepuasan dan tingkat kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara yang terdiri dari Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran, Kompetensi Kepribadian, dan Kompetensi Substantif.

Penelitian ini dilakukan pada peserta diklat sebanyak 34 orang yang sedang mengikuti diklat di Program Studi Plambing dan Sanitasi Departemen Bangunan PPPPTK BOE Malang pada bulan Mei 2012 sampai dengan bulan September 2012. Data kepuasan dan kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara yang terdiri dari Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran, Kompetensi Kepribadian dan Kompetensi Substantif diambil menggunakan kuesioner. Jawaban kuesioner dari responden dianalisis dengan rerata responden, dan Importance Performance Analysis (IPA).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata tingkat kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara sebesar 4,38 dan nilai ini termasuk kategori puas, sedangkan tingkat kepentingan peserta diklat sebesar 4,68 dan nilai ini termasuk kategori sangat penting. Hasil Importance Performance Analysis (IPA) menunjukkan bahwa variabel Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran berada pada kuadran I, artinya bahwa variabel tersebut tidak memuaskan peserta padahal peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Variabel Kompetensi Kepribadian berada pada kuadran II, artinya variabel tersebut telah memuaskan peserta dan peserta juga menganggap keberadaannya sangat penting. Sedangkan variabel Kompetensi Substantif berada pada kuadran III, artinya variabel tersebut tidak memuaskan peserta tetapi peserta menganggap keberadaannya tidak penting

 

Kata Kunci: Kepuasan Peserta Diklat, Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran, Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Substantif

 

 

Menurut Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara nomor 14 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya disebutkan bahwa Widyaiswara adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk mendidik, mengajar dan/atau melatih PNS pada Lembaga Diklat Pemerintah. Dari peraturan tersebut sangat jelas terlihat peran dan fungsi dari seorang Widyaiswara yaitu Widyaiswara merupakan ujung tombak dalam pembinaan dan pengembangan aparatur negara.

Ada tuntutan yang logis dari besarnya tugas Widyaiswara untuk bisa menjalankan kewajiban-kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya. Widyaiswara harus mempunyai kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan bidang spesialisasinya. Kompetensi ini harus ada pada seorang Widyaiswara agar kegiatan diklat bisa berjalan lancar dan menghasilkan keluaran (output) diklat yang bermutu. Tuntutan mutu ini sudah menjadi keharusan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi, karena lingkungan lokal, nasional, regional, dan bahkan global menuntut hal yang demikian.

Jaminan mutu yang diberikan oleh Widyaiswara harus dijaga secara terus menerus keberlangsungannya untuk memenuhi ketercapaian tujuan diklat. Seorang Widyaiswara akan bisa memberikan pelayanan yang bermutu apabila kompetensi yang dimilikinya mumpuni. Widyaiswara dapat dianggap kompeten jika pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang dimilikinya dapat diwujudkan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Dengan demikian, kompetensi yang dimiliki oleh setiap Widyaiswara akan menunjukkan kualitas Widyaiswara yang sebenarnya. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan maupun sikap profesional dalam menjalankan fungsi sebagai Widyaiswara.

Widyaiswara harus memilki standar kompetensi agar dapat bisa memerankan fungsinya dengan baik. Standar adalah kesepakatan-kesepakatan yang telah didokumentasikan yang di dalamnya terdiri antara lain mengenai spesifikasi-spesifikasi teknis atau kriteria-kriteria yang akurat yang digunakan sebagai peraturan, petunjuk, atau definisi-definisi tertentu untuk menjamin suatu barang, produk, proses, atau jasa sesuai dengan yang telah dinyatakan. Saat ini, jabatan fungsional Widyaiswara sudah mempunyai standar kompetensi tersendiri dan dibuat dalam bentuk aturan yaitu Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Standar Kompetensi Widyaiswara. Pada pasal 1 disebutkan bahwa standar kompetensi Widyaiswara adalah kemampuan minimal yang secara umum dimiliki oleh seorang Widyaiswara dalam melaksanakan tugas, tanggungjawab dan wewenangnya untuk mendidik, mengajar, dan/atau melatih PNS. Sedangkan pasal 5 menyebutkan bahwa standar kompetensi Widyaiswara terdiri atas: (1) kompetensi pengelolaan pembelajaran; (2) kompetensi kepribadian; (3) kompetensi sosial; dan (4) kompetensi substantif.

Untuk mencapai kompetensi yang standar, Widyaiswara harus melakukan uji kompetensi untuk menguji kompetensinya. Sudah ada peraturan yang mengatur tentang hal itu, tetapi sampai saat ini masih belum dilaksanakan, yaitu peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor: 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Sertifikasi Widyaiswara. Namun demikian peraturan tersebut segera akan diberlakukan. Setiap Widyaiswara mulai sekarang dituntut untuk bersiap dalam rangka menyongsong pemberlakuan peraturan tersebut. Kesadaran tentang standar kompetensi sebenanya adalah juga kesadaran tentang mutu. Sehingga apabila Widyaiswara bisa lulus pada uji kompetensi, seharusnya Widyaswara tersebut juga bermutu dan pada akhirnya membawa dampak pada kualitas keluaran (output) diklat.

Kondisi ideal dari seorang Widyaiswara yang disebutkan di atas, pada kenyataannya tidak selalu sama seperti yang diharapkan. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kompetensi Widyaiswara belum sepenuhnya baik. Temuan penelitian yang dilakukan oleh Waspodo (1999) pada diklat SPAMA di Pusdiklat Pegawai Depdikbud, Sawangan, Jawa Barat menyebutkan bahwa Widyaiswara kurang memiliki kompetensi kependidikan, pelaksanaan pembelajaran menjadi kurang bermutu sehingga mengakibatkan pembelajaran diklat menjadi monoton dan kurang menarik. Senada dengan hasil penelitian ini, Harun (2000) meneliti diklat SDM PT POS Indonesia (Persero) yang diselenggarakan di Pusdiklatpos Bandung,  salah satu temuannya mengatakan bahwa  kompetensi Widyaiswara masih rendah dalam pelaksanaan PBM. Penelitian yang dilakukan oleh Pranoto (2003) juga menyebutkan bahwa kompetensi Widyaiswara di bidang kependidikan (mendidik, mengajar, mengembangkan kurikulum, training need assessment, membimbing peserta dan Widyaiswara yang muda, memilih dan menggunakan metoda & media, manajemen kelas, menggembangkan bahan ajar, menulis modul, mengevaluasi program, proses, hasil dan dampak pembelajaran) masih kurang mengembirakan.

Diklat dapat dikategorikan sebagai layanan jasa. Karena peserta diklat mendapatkan manfaat dari produk yang tidak terlihat. Seperti yang dikemukakan oleh Kotler (1997) dalam Nasution (2001) bahwa jasa (service) adalah aktivitas atau manfaat yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apapun. Produksinya mungkin terikat atau tidak pada produk fisik. Proses belajar mengajar merupakan aktivitas yang berusaha untuk mentransfer ilmu, sikap, dan keterampilan kepada peserta diklat.

Di dalam proses belajar mengajar terdapat interaksi yang aktif antara peserta diklat dengan Widyaiswara. Komunikasi dilakukan dengan model dua arah. Hal ini dimaksudkan agar transfer ilmu, sikap, dan keterampilan dapat lebih optimal. Bila materi yang diajarkan adalah keterampilan, model komunikasi dua arah ini akan lebih intensif lagi.

Setelah proses belajar mengajar dilakukan, maka peserta diklat akan merasakan transfer ilmu, sikap, dan keterampilan dari Widyaiswara. Kondisi ideal seharusnya bahwa peserta diklat mendapatkan ilmu, sikap, dan keterampilan seperti yang telah ditentukan sebelum pelajaran dimulai. Selain itu peserta diklat juga akan mempunyai pengalaman belajar yang menyenangkan selama mengikuti diklat. Perasaan dan persepsi peserta diklat terhadap Widyaiswara selama mengikuti diklat, semuanya terangkum dalam rasa kepuasan peserta diklat. Secara mutlak, ada dua kemungkinan yang dirasakan peserta diklat yaitu rasa puas dan tidak puas.

Bila ditelaah lebih jauh, kepuasan peserta diklat terhadap Widyaiswara, sebenarnya cerminan dari tingkat kompetensi yang dimiliki oleh Widyaiswara itu sendiri. Kompetensi yang dimiliki oleh Widyaiswara akan menunjukkan kualitas yang dimilikinya. Semakin kompeten seorang Widyaiswara, maka mestinya dia juga akan semakin berkualitas dan pada gilirannya akan membuat peserta diklat merasa puas. Seperti pendapat yang dikemukakan oleh Feigenbaum (1986) dalam Nasution (2001) bahwa kualitas adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full custumer satisfaction). Suatu produk dikatakan berkualitas apabila dapat memberi kepuasan sepenuhnya kepada konsumen, yaitu sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen atas suatu produk. Dalam hal ini yang dimaksud produk adalah layanan dari Widyaiswara yang merupakan cerminan dari kompetensinya, sedangkan konsumen adalah peserta diklat yang merasakan kinerja dari Widyaiswara berdasarkan kompetensi standar yang telah dimilikinya.

Dalam penelitian ini yang akan diteliti dan menjadi variabel adalah kompetensi pengelolaan pembelajaran, kompetensi kepribadian dan kompetensi substantif. Hal ini disebabkan karena penelitian ini mengambil sudut pandang dari peserta diklat yaitu apa yang dirasakan peserta diklat atau persepsi peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara. Sedangkan kompetensi sosial tidak diteliti karena kompetensi tersebut pengambilan datanya dari sudut pandang rekan sejawat.

Disamping itu pada kompetensi pengelolaan pembelajaran pada sub kompetensi Membuat Garis-garis Besar Program Pembelajaran (GBPP)/Rancang Bangun Pembelajaran Mata Diklat (RBPMD) dan Satuan Acara Pembelajaran (SAP)/Rencana Pembelajaran (RP); dan pada kompetensi substantif pada sub kompetensi Menulis KTI Yang Terkait Dengan Lingkup Kediklatan Dan/Atau Pengembangan Spesialisasinya, tidak termasuk dalam sub variabel penelitian ini karena sub kompetensi tersebut tidak bisa diambil datanya karena tidak berkaitan dengan peserta diklat.

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis tingkat kepuasan dan kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi pengelolaan pembelajaran Widyaiswara; menganalisis tingkat kepuasan dan kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi kepribadian Widyaiswara; menganalisis tingkat kepuasan dan kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi substantif Widyaiswara.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan bertujuan untuk menggambarkan ciri tertentu dari suatu fenomena. Metode penelitian deskriptif digunakan untuk mengumpulkan data dan memberikan gambaran atau penegasan suatu konsep atau gejala dan juga menjawab pertanyaan – pertanyaan sehubungan dengan status subyek penelitian pada saat ini, misalnya sikap atau pendapat terhadap individu, organisasi, dan sebagainya. Penelitian ini menggunakan kuesioner untuk mengetahui tanggapan peserta Diklat tentang kepentingan dan kepuasan terhadap kompetensi Widyaiswara yang kemudian dianalisis dengan Importance Performance Analysis (IPA).

Populasi  pada penelitian ini adalah peserta diklat yang mengikuti diklat di Program Studi Plambing dan Sanitasi, Departemen Bangunan, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Bidang Otomotif dan Elektronika Malang pada Tahun Anggaran 2012. Jumlah populasi pada penelitian ini sebanyak 34 orang. Rincian peserta diklat ditampilkan pada tabel di bawah.

 Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling jenuh. Menurut Sugiyono (2010), teknik sampling jenuh/sensus adalah teknik sampling apabila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Sehingga sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah keseluruhan dari jumlah populasi.

Pada penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan yaitumetode kuesioner yang digunakan untuk mengambil data tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan peserta diklat terhadapkompetensi Widyaiswara Prodi Plambing dan Sanitasi Departemen Bangunan. Sedangkan metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah:

a. Analisis deskriptif

Bagian ini menyajikan distribusi frekuensi skor dan mean masing-masing item variabel dan aspek. Untuk mendeskripsikan nilai mean setiap variabel dan aspek dalam penelitian ini digunakan dengan interval kelas yang diperoleh dari hasil perhitungan.

Nilai skor jawaban responden dalam penelitian ini mengacu pada skala 5 poin dari Likert, sehingga nilai skor jawaban responden tertinggi adalah 5 dan untuk nilai skor terendah adalah 1. Sedangkan jumlah kelas/kategori yang digunakan dalam penyusunan kriteria tersebut disesuaikan dengan skala yang digunakan yaitu 5 kelas. Sehingga interval yang diperoleh untuk setiap kelas (5-1) : 5 = 0,8. Dengan demikian kriteria untuk mendeskripsikan nilai mean yang diperoleh setiap variabel dan aspek dapat disusun seperti berkut ini:

 

 

b. Importance Performance Analysis (IPA).

Analisis ini dilakukan terhadap peserta menggunakan kuesioner kepuasan dan kepentingan. Terdapat dua dimensi dalam diagram Cartesius yakni sumbu mendatar X (tingkat kepuasan) dan sumbu tegak Y (tingkat kepentingan). Indikator kepuasan dan kepentingan kompetensi Widyaiswara dijabarkan ke dalam 4 (empat) kuadran. Arti masing-masing kuadran sebagai berikut:

Kuadran I. Dalam kuadran ini penanganannya perlu diprioritaskan, karena ketersediaannya dinilai sangat penting, sedangkan tingkat pelaksanaannya belum memuaskan, atau tingkat kepuasan rendah.

 

Kuadran II. Indikator pada kuadran ini perlu dipertahankan, karena tingkat pelaksanaannya telah sesuai dengan kepentingan. Pada kuadran ini tingkat kepentingan tinggi dan tingkat kepuasan tinggi, sehingga telah memuaskan peserta diklat.

Kuadran III. Indikator pada kuadran ini tingkat kepentingannya rendah (dinilai kurang penting), tingkat kepuasannya juga rendah. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaannya sudah sesuai dengan tuntutan kepentingan yang rendah.

Kuadran IV. Indikator dalam kuadran ini dinilai kurang penting, namun pelaksanaanya telah memuaskan bahkan berlebihan. Menunjukan bahwa, tingkat kepentingan rendah namun tingkat kepuasan tinggi, yang mana kualitas pelaksanaannya melebihi harapan peserta.

HASIL

Deskripsi Frekuensi Kepuasan

Analisis ini menggunakan tabel distribusi frekuensi tanggapan responden pada variabel kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara. Terdapat 3 variabel yang diukur pada kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara yakni: Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran (X1), Kompetensi Kepribadian (X2), dan Kompetensi Substantif (X3), serta kepuasan peserta diklat terhadap seluruh variabel yaitu kepuasan terhadap Kompetensi Widyaiswara (X).

 

Secara umum peserta diklat sudah puas terhadap kompetensi Widyaiswara, karena  56,2% responden menyatakan puas dan 41,6% menyatakan sangat puas, hanya 2,1% yang menyatakan kurang puas dan 0,1% menyatakan tidak puas. Kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara ini ditunjang oleh variabel:

a. Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran (X1). Peserta sudah merasa puas terhadap kompetensi pengelolaan pembelajaran karena 60,4% merasa puas, dan 34,8% responden menyatakan sangat puas; hanya 4,5% menyatakan kurang puas dan 0,2% menyatakan tidak puas.

b. Kompetensi Kepribadian (X2). Peserta sudah merasa puas terhadap kompetensi kepribadian, karena 45,0% merasa puas, dan 53,2% responden menyatakan sangat puas; hanya 1,8% menyatakan kurang puas.

c. Kompetensi Substantif (X3). Peserta sudah merasa puas terhadap kompetensi substantif, karena 63,2% merasa puas, 36,8% responden menyatakan sangat puas.

 

Peserta diklat sudah merasa puas terhadap kompetensi pengelolaan pembelajaran, karena 60,9% merasa puas, dan 33,8% responden menyatakan sangat puas; hanya 5,0% menyatakan kurang puas dan 0,3% menyatakan tidak puas. Kepuasan peserta terhadap Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran ini terbagi menjadi 5 aspek yaitu:

 a.   Menyusun Bahan Ajar (X1.1). Peserta sudah merasa puas terhadap aspek ini, karena 67,6% merasa puas, dan 31,4% responden menyatakan sangat puas; hanya 1,0% menyatakan kurang puas.

b.   Menerapkan Pembelajaran Orang Dewasa (X1.2). Peserta sudah merasa puas terhadap aspek ini, karena 56,6% merasa puas, dan 36,8% responden menyatakan sangat puas; hanya 6,6% menyatakan kurang puas.

 c.   Melakukan Komunikasi yang Efektif dengan Peserta (X1.3). Peserta sudah merasa puas terhadap aspek ini, karena 50,0% merasa puas, dan 44,1% responden menyatakan sangat puas; hanya 4,4% menyatakan kurang puas dan 1,5% . menyatakan tidak puas.

d.   Memotivasi Semangat Belajar Peserta (X1.4). Peserta sudah merasa puas terhadap aspek ini, karena 62,7% merasa puas, dan 33,3% responden menyatakan sangat puas; hanya 3,9% menyatakan kurang puas.

 e.   Mengevaluasi Pembelajaran (X1.5). Peserta sudah merasa puas terhadap aspek ini, karena 67,6% merasa puas, dan 23,5% responden menyatakan sangat puas; hanya 8,8% yang menyatakan kurang puas.

 

Peserta diklat sudah merasa puas terhadap Kompetensi Kepribadian, karena 45,4% merasa puas, dan 53,1% responden menyatakan sangat puas; hanya 1,5% menyatakan kurang puas. Kepuasan peserta terhadap kompetensi kepribadian ini terbagi menjadi 2 aspek yaitu:

a.    Menampilkan Pribadi yang Diteladani (X2.1).Peserta sudah merasa puas terhadap aspek ini, karena 46,3% merasa puas, dan 52,9% responden menyatakan sangat puas; hanya 0,7% yang menyatakan kurang puas.

Melaksanakan Kode Etik dan Menunjukkan Etos Kerja sebagai Widyaiswara yang Profesional (X2.2).Peserta sudah merasa puas terhadap aspek ini, karena 44,4% merasa puas, dan 53,3% responden menyatakan sangat puas; hanya 2,3% menyatakan kurang puas.

 

Hanya ada 1 aspek yang bisa diambil datanya dari kompetensi substantif ini berdasarkan persepsi peserta diklat yaitu aspek Menguasai Keilmuan dan Keterampilan Mempraktekkan sesuai dengan Materi Diklat yang Diajarkan, sehingga nilai kepuasannya sama antara variabel dan aspeknya yaitu bahwa peserta diklat sudah merasa puas terhadap kompetensi substantif, karena 59,6% merasa puas, dan 36,8% responden menyatakan sangat puas; hanya 3,7% menyatakan kurang puas.

Deskripsi Frekuensi Kepentingan

Sama seperti analisis yang digunakan pada analisis frekuensi kepuasan, analisis ini juga menggunakan tabel distribusi frekuensi tanggapan responden pada variabel kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara. Terdapat 3 variabel yang diukur pada kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara yakni: Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran (Y1), Kompetensi Kepribadian (Y2), dan Kompetensi Substantif (Y3), serta kepentingan peserta diklat terhadap seluruh variabel yaitu kepentingan terhadap Kompetensi Widyaiswara (Y).

 

Secara umum peserta diklat mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap kompetensi Widyaiswara, karena 32,3% responden menyatakan penting dan 67,6% menyatakan sangat penting, hanya 0,1% yang menyatakan kurang penting. Kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara ini ditunjang oleh variabel:

a. Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran (Y1). Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap kompetensi pengelolaan pembelajaran karena 31,0% merasa penting, dan 69,0% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting.

b. Kompetensi Kepribadian (Y2). Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap kompetensi kepribadian, karena 28,5% merasa penting, dan 71,3% responden menyatakan sangat penting; hanya 0,2% menyatakan kurang penting.

c. Kompetensi Substantif (Y3). Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap kompetensi substantif, karena 37,5% merasa penting, dan 62,5% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting.

 

Peserta diklat mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran, karena 30,0% responden menyatakan penting, dan 70,0% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting. Kepentingan peserta terhadap Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran ini terbagi menjadi 5 aspek yaitu:

 a.   Menyusun Bahan Ajar (Y1.1). Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap aspek ini, karena 32,4% merasa penting, dan 67,6% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting.

b.   Menerapkan Pembelajaran Orang Dewasa (Y1.2). Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap aspek ini, karena 28,7% merasa penting, dan 71,3% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting.

 c.   Melakukan Komunikasi yang Efektif dengan Peserta (Y1.3). Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap aspek ini, karena 16,2% merasa penting, dan 83,8% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting.

d.   Memotivasi Semangat Belajar Peserta (Y1.4). Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap aspek ini, karena 43,1% merasa penting, dan 56,9% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting.

 e.   Mengevaluasi Pembelajaran (Y1.5). Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap aspek ini, karena 29,4% merasa penting, dan 70,6% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting.

 

Peserta diklat mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap Kompetensi Kepribadian, karena 29,6% responden menyatakan penting, 70,3% responden menyatakan sangat penting; hanya 0,2% responden yang menyatakan kurang penting. Kepentingan peserta terhadap Kompetensi Kepribadian ini terbagi menjadi 2 aspek yaitu:

a.    Menampilkan Pribadi yang Diteladani (Y2.1).Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap aspek ini, karena 32,4% merasa penting, dan 67,6% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting.

Melaksanakan Kode Etik dan Menunjukkan Etos Kerja sebagai Widyaiswara yang Profesional (Y2.2).Peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap aspek ini, karena 26,8% merasa penting, dan 72,9% responden menyatakan sangat penting; hanya 0,3% menyatakan kurang penting.

 

Hanya ada 1 aspek yang bisa diambil datanya dari Kompetensi Substantif ini berdasarkan persepsi peserta diklat yaitu aspek Menguasai Keilmuan dan Keterampilan Mempraktekkan sesuai dengan Materi Diklat yang Diajarkan, sehingga nilai kepentingannya sama antara variabel dan aspeknya yaitu bahwa peserta mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap aspek ini, karena 39,3% merasa penting, dan 60,7% responden menyatakan sangat penting; tidak ada responden yang menyatakan kurang penting.

Importance Performance Analysis (IPA)

Berdasarkan analisis terlihat bahwa kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara yang terdiri dari Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran, Kompetensi Kepribadian, dan Kompetensi Substantif berada menyebar pada kuadran yang ada. Rata-rata total kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara sebesar 4,38 dan rata-rata kepentingannya sebesar 4,68. Adapun penjelasannya adalah seperti berikut ini:

 

a.    Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran (1).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara, peserta diklat merasa puas dan IPA berada pada kuadran I, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,28 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,70 (di bawah rata-rata total kepuasan (4,38) dan di atas rata-rata total kepentingan (4,68) peserta). Variabel tersebut tidak memuaskan peserta padahal peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta tidak puas terhadap variabel Pengelolaan Pembelajaran.

b.   Kompetensi Kepribadian (2).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara, peserta diklat merasa puas dan IPA berada pada kuadran II, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,52 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,70 (di atas rata-rata total kepuasan (4,38) dan di atas rata-rata total kepentingan (4,68) peserta). Sehingga variabel tersebut telah memuaskan peserta dan peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta puas terhadap variabel Kompetensi Kepribadian.

c.    Kompetensi Substantif (3).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara, peserta diklat merasa tidak puas dan IPA berada pada kuadran III, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,33 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,63 (di bawah rata-rata total kepuasan (4,38) dan di bawah rata-rata total kepentingan (4,68) peserta). Variabel tersebut tidak memuaskan peserta tetapi peserta juga menganggap keberadaannya tidak penting. Artinya peserta tidak mempermasalahkan terhadap variabel Kompetensi Substantif.

Selanjutnya untuk kompetensi Widyaiswara pada Pengelolaan Pembelajaran dapat dianalisis lagi berdasarkan kelima aspeknya. Rata-rata total kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara aspek Pengelolaan Pembelajaran sebesar 4,28 dan rata-rata kepentingannya sebesar 4,70. Kelima aspek tersebut berada menyebar pada semua kuadran yang ada. Adapun rincian penjelasannya adalah seperti berikut ini:

 

a.    Aspek Menyusun Bahan Ajar (A).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Pengelolaan Pembelajaran Widyaiswara aspek Menyusun Bahan Ajar, peserta diklat merasa tidak puas dan IPA berada pada kuadran IV, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,30 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,68 (di atas rata-rata total kepuasan (4,28) dan di bawah rata-rata total kepentingan (4,70) peserta). Sehingga aspek tersebut telah memuaskan peserta walaupun pelaksanaannya dianggap terlalu berlebihan oleh peserta. Artinya peserta merasa puas terhadap aspek Menyusun Bahan Ajar.

b.   Aspek Menerapkan Pembelajaran Orang Dewasa (B).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Pengelolaan Pembelajaran Widyaiswara aspek Menerapkan Pembelajaran Orang Dewasa peserta diklat merasa puas dan IPA berada pada kuadran II, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,30 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,71 (di atas rata-rata total kepuasan (4,28) dan di atas rata-rata total kepentingan (4,70) peserta). Sehingga aspek tersebut telah memuaskan peserta dan peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta merasa puas terhadap aspek Menerapkan Pembelajaran Orang Dewasa.

c.    Melakukan Komunikasi yang Efektif dengan Peserta (C).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Pengelolaan Pembelajaran Widyaiswara aspek Melakukan Komunikasi yang Efektif dengan Peserta, peserta diklat merasa puas dan IPA berada pada kuadran II, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,37 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,84 (di atas rata-rata total kepuasan (4,28) dan di atas rata-rata total kepentingan (4,70) peserta). Sehingga aspek tersebut telah memuaskan peserta dan peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta merasa puas terhadap aspek Melakukan Komunikasi yang Efektif dengan Peserta.

d.   Aspek Memotivasi Semangat Belajar Peserta (D).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Pengelolaan Pembelajaran Widyaiswara aspek Memotivasi Semangat Belajar Peserta, peserta diklat merasa tidak puas dan IPA berada pada kuadran IV, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,29 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,57 (di atas rata-rata total kepuasan (4,28) dan di bawah rata-rata total kepentingan (4,70) peserta). Sehingga aspek tersebut telah memuaskan peserta walaupun pelaksanaannya dianggap terlalu berlebihan oleh peserta. Artinya peserta merasa puas terhadap aspek Memotivasi Semangat Belajar Peserta.

e.    Aspek Mengevaluasi Pembelajaran (E).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara aspek Mengevaluasi Pembelajaran, peserta diklat merasa puas dan IPA berada pada kuadran III, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,15 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,71 (di bawah rata-rata total kepuasan (4,28) dan di atas rata-rata total kepentingan (4,70) peserta). Aspek tersebut tidak memuaskan peserta padahal peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta tidak puas terhadap aspek Mengevaluasi Pembelajaran.

Untuk kompetensi Kepribadian Widyaiswara dapat dianalisis lagi berdasarkan kedua aspeknya. Rata-rata total kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara aspek Kepribadian sebesar 4,52 dan rata-rata kepentingannya sebesar 4,70. Kedua aspek tersebut berada pada kuadran yang berbeda. Adapun rincian penjelasannya adalah seperti berikut ini:

 

a.       Aspek Menampilkan Pribadi yang Diteladani (A).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Kepribadian Widyaiswara aspek Menampilkan Pribadi yang Diteladani, peserta diklat merasa puas dan IPA berada pada kuadran IV, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,52 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,68 (di bawah rata-rata total kepuasan (4,52) dan di bawah rata-rata total kepentingan (4,70) peserta). Sehingga aspek tersebut telah memuaskan peserta walaupun pelaksanaannya dianggap terlalu berlebihan oleh peserta. Artinya peserta merasa puas terhadap aspek Menampilkan Pribadi yang Diteladani

b.   Aspek Melaksanakan Kode Etik dan Menunjukkan Etos Kerja Sebagai Widyaiswara yang Profesional (B).

Berdasarkan pada frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Kepribadian Widyaiswara aspek Melaksanakan Kode Etik dan Menunjukkan Etos Kerja Sebagai Widyaiswara yang Profesional peserta diklat merasa tidak puas dan IPA berada pada kuadran I, karena rata-rata kepuasan peserta sebesar 4,51 dan rata-rata kepentingan peserta sebesar 4,73 (di bawah rata-rata total kepuasan (4,52) dan di atas rata-rata total kepentingan (4,70) peserta). Aspek tersebut tidak memuaskan peserta padahal peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta tidak puas terhadap aspek Melaksanakan Kode Etik dan Menunjukkan Etos Kerja Sebagai Widyaiswara yang Profesional.

 

PEMBAHASAN

Secara umum peserta diklat sudah merasa puas terhadap kompetensi Widyaiswara Program Studi Plambing dan Sanitasi, Departemen Bangunan PPPPTK BOE Malang. Hal ini bisa dilihat dari hasil analisis deskriptif yang menyatakan bahwa 56,2% responden menyatakan puas dan 41,6% menyatakan sangat puas, hanya 2,1% yang menyatakan kurang puas dan 0,1% yang menyatakan tidak puas.Hasil yang hampir sama ditemukan pada analisis deskriptif untuk variabel kompetensi Widyaiswara yang meliputi Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran, Kompetensi Kepribadian, dan Kompetensi Subsantif. Analisis lebih lanjut kepuasan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara ditemukan bahwa kepuasan peserta diklat termasuk kategori puas dengan rerata 4,38.

Fakta di atas menunjukkan bahwa sebenarnya sebagian besar Widyaiswara yang ada di Program Studi Plambing dan Sanitasi Departemen Bangunan PPPPTK BOE Malang mempunyai kompetensi yang memadai. Hal ini dibuktikan dengan adanya banyaknya peserta diklat yang menyatakan puas dan sangat puas terhadap kompetensi yang dimiliki oleh Widyaiswara. Memang harus diakui bahwa ada sebagian kecil peserta diklat yang menyatakan kurang puas dan tidak puas terhadap kompetensi Widyaiswara. Hal ini bisa dijadikan bahan introspeksi Widyaiswara untuk terus selalu melakukan peningkatan terhadap kompetensi yang dimilikinya.

Dari analisis tingkat kepentingan peserta diklat, secara umum diketahui bahwa  peserta diklat mempunyai tingkat kepentingan yang tinggi terhadap kompetensi Widyaiswara Program Studi Plambing dan Sanitasi, Departemen Bangunan PPPPTK BOE Malang. Hal ini bisa dilihat dari hasil analisis deskriptif yang menyatakan bahwa 32,2% responden menyatakan penting dan 67,6% menyatakan sangat penting, hanya 0,1% yang menyatakan kurang penting. Hasil yang hampir sama ditemukan pada analisis deskriptif untuk variabel kompetensi Widyaiswara yang meliputi kompetensi pengelolaan pembelajaran, kompetensi kepribadian, dan kompetensi subsantif. Analisis lebih lanjut kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara ditemukan bahwa kepentingan peserta diklat termasuk kategori sangat penting dengan rerata 4,68.

Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa peserta diklat mempunyai kepentingan yang tinggi terhadap kompetensi Widyaiswara Program Studi Plambing dan Sanitasi, Departemen Bangunan PPPPTK BOE Malang. Hal ini dibuktikan dengan adanya banyaknya peserta diklat yang menyatakan penting dan sangat penting terhadap kompetensi yang dimiliki oleh Widyaiswara. Hanya sebagian kecil peserta diklat yang menyatakan kurang penting. Dan juga dengan memperhatikan rerata tingkat kepentingan peserta diklat terhadap kompetensi Widyaiswara sebesar 4,68, hal ini menunjukkan bahwa peserta diklat mempunyai harapan yang tinggi terhadap kompetensi yang dimiliki Widyaiswara, baik menyangkut keilmuannya maupun metode mengajarnya.

Dari hasilImportance Performance Analysis (IPA) untuk Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran menunjukkan bahwa kompetensi tersebut berada pada kuadran I. Variabel tersebut tidak memuaskan peserta padahal peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta tidak puas terhadap variabel Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran. Fakta ini menunjukkan bahwa kompetensi Pengelolaan Pembelajaran dari Widyaiswara perlu mendapat perhatian di masa mendatang agar dapat memuaskan peserta diklat.

Selanjutnya hasilImportance Performance Analysis (IPA) untuk Kompetensi Kepribadian didapatkan hasil bahwa kompetensi tersebut berada pada kuadran II. Hal ini berarti bahwa variabel tersebut telah memuaskan peserta dan peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta puas terhadap variabel Kompetensi Kepribadian. Sehingga prestasi tersebut harus dipertahankan ketika melayani peserta diklat pada masa mendatang.

Sedangkan hasilImportance Performance Analysis (IPA) diketahui bahwa Kompetensi Substantif berada pada kuadran III. Hal ini berarti bahwa variabel tersebut tidak memuaskan peserta, tetapi peserta menganggap keberadaannya kurang penting. Artinya peserta merasa tidak puas terhadap variabel Kompetensi Substantif tetapi peserta tidak mempermasalahkannya. Ini artinya bahwa upaya untuk meningkatkan atau memperbaiki kompetensi tersebut prioritasnya rendah.

Sementara itu Importance Performance Analysis (IPA) lebih lanjut untuk Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran pada aspek-aspeknya ditemukan hal-hal seperti berikut ini:

 

a.       Aspek Mengevaluasi Pembelajaran berada pada kuadran I. Aspek tersebut tidak memuaskan peserta padahal peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Sehingga Widyaiswara harus memperhatikan lebih serius terhadap aspek itu di masa mendatang agar dapat memuaskan peserta diklat.

b.      Aspek Menerapkan Pembelajaran Orang Dewasa dan aspek Melakukan Komunikasi yang Efektif dengan Peserta berada pada kuadran II. Hal ini menunjukkan bahwa kedua aspek tersebut telah memuaskan peserta dan peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Sehingga prestasi tersebut harus dipertahankan ketika melayani peserta diklat pada masa mendatang.

c.       Aspek Menyusun Bahan Ajar dan aspek Memotivasi Semangat Belajar Peserta berada pada kuadran IV. Kedua aspek tersebut telah memuaskan peserta walaupun pelaksanaannya dianggap terlalu berlebihan oleh peserta. Sehingga pada kedua aspek ini sebenarnya tidak diperlukan upaya perbaikan atau peningkatan yang sifatnya segera untuk memenuhi kepuasan peserta diklat, karena kondisinya telah melampaui harapan peserta diklat. Namun demikian tetap harus dijaga untuk memuaskan kepada peserta diklat pada kedua aspek ini di masa mendatang.

Sedangkan Importance Performance Analysis (IPA) lebih lanjut untuk Kompetensi Kepribadian pada aspek-aspeknya ditemukan hal-hal seperti berikut ini:

 a.       Aspek Melaksanakan Kode Etik dan Menunjukkan Etos Kerja Sebagai Widyaiswara yang Profesional berada pada kuadran I. Aspek tersebut tidak memuaskan peserta padahal peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Sehingga Widyaiswara harus memperhatikan lebih serius terhadap aspek itu di masa mendatang agar dapat memuaskan peserta diklat.

b.       Aspek Menampilkan Pribadi yang Diteladani  berada pada kuadran IV. Aspek tersebut telah memuaskan peserta walaupun pelaksanaannya dianggap terlalu berlebihan oleh peserta. Sehingga pada aspek ini sebenarnya tidak diperlukan upaya perbaikan atau peningkatan yang sifatnya segera untuk memenuhi kepuasan peserta diklat, karena kondisinya telah melampaui harapan peserta diklat. Namun demikian tetap harus dijaga untuk memuaskan kepada peserta diklat pada aspek ini di masa mendatang.

 

Dari analisis deskriptif dan Importance Performance Analysis (IPA) diketahui bahwa hasil rerata kepuasan secara deskriptif ternyata masih harus dikonfirmasikan lagi dengan hasil Importance Performance Analysis (IPA) agar fakta tersebut tidak menjebak atau menimbulkan kesalahan dalam mengambil kesimpulan. Sebagai contoh, hal ini bisa kita lihat pada Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran. Rerata kepuasan peserta diklat sebesar 4,28 dan nilai ini termasuk dalam kategori puas. Namun apabila hal ini dilihat pada hasil Importance Performance Analysis (IPA), ternyata kompetensi tersebut berada pada kuadran I (tidak memuaskan dan perlu mendapat penyelesaian segera). Sehingga harus diambil sikap yang hati-hati untuk menyimpulkan fenomena yang ada di lapangan. Artinya bahwa peserta diklat sebenarnya sudah merasa puas dengan kondisi yang ada namun ternyata hal tersebut pada kenyataannya masih berada di bawah harapannya. Atau sebaliknya bisa saja kompetensi Widyaiswara berada pada kuadran yang tidak memerlukan lagi perhatian (kuadran III), namun pada kenyataannya peserta diklat tidak puas. Saling keterkaitan analisis inilah diperlukan agar kedua kondisi tersebut jelas permasalahannya sehingga penyelesaian masalahnyapun menjadi jelas.

Temuan-temuan pada penelitian ini ternyata tidak sejalan dengan hasil-hasil penelitian terdahulu. Seperti hasil penelitian oleh Waspodo (1999), Harun (2000), dan Pranoto (2003) yang menemukan bahwa kompetensi Widyaiswara rendah. Salah satu temuannya adalah bahwa Widyaiswara kurang memiliki kompetensi kependidikan, pelaksanaan pembelajaran menjadi kurang bermutu sehingga mengakibatkan pembelajaran diklat menjadi monoton dan kurang menarik. Hal ini akan berbanding terbalik apabila kita melihat pada hasil penelitian ini. Rerata kepuasan peserta diklat pada penelitian ini menunjukkan angka 4,38 dan nilai ini masuk kategori memuaskan. Sehingga temuan ini menunjukkan bahwa kompetensi para Widyaiswara di Program Studi Plambing dan Sanitasi Departemen Bangunan PPPPTK BOE Malang sudah memuaskan peserta diklat.

Perbedaan temuan pada penelitian ini barangkali disebabkan oleh latar belakang dari Widyaiswara. Sebagaian besar Widyaiswara yang ada di PPPPTK BOE Malang mempunyai latar belakang kependidikan dan mempunyai spesialisasi di bidangnya, sehingga temuan pada penelitian ini menguatkan kondisi tersebut. Artinya latar belakang pendidikan Widyaiswara yang ada di PPPPTK BOE Malang, khususnya di Program Studi Plambing dan Sanitasi Deparemen Bangunan turut memberi andil terhadap kepuasan kepada peserta diklat. Fakta ini didukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Sujarwo (2006) dengan judul Optimalisasi Penerapan Konsep Andragogi Dalam Diklat Aparatur Pemerintah Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Lulusan di Badan Diklat Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu temuannya adalah bahwa faktor-faktor yang menjadi kendala optimalisasi penerapan konsep andragogi dalam diklat aparatur pemerintah antara lain: a). sebagian besar Widyaiswara tidak memiliki pengalaman pendidikan yang berlatar belakang pendidikan, sehingga dalam pengelolaan kelas dalam proses pelatihan kurang kondusif dan kaku. b). sebagian besar Widyaiswara merupakan mantan pejabat dari beberapa intansi pemerintah, sehingga masih ada Widyaiswara yang berpenampilan seperti pejabat.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan , maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1.   Rerata tingkat kepuasan peserta diklat sebesar 4,38 dan nilai ini termasuk kategori puas, artinya peserta diklat merasa puas dengan kompetensi Widyaiswara. Sedangkan rerata tingkat kepentingan peserta diklat sebesar 4,68 dan nilai ini termasuk kategori sangat penting, artinya peserta diklat menganggap sangat penting terhadap kompetensi Widyaiswara.

2.   Hasil analisis frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap variabel Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran menunjukkan bahwa rerata tingkat kepuasan peserta diklat sebesar 4,28, hal ini berarti bahwa peserta diklat merasa puas terhadap variabel Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran. Hasil Importance Performance Analysis (IPA) pada Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran menunjukkan bahwa variabel tersebut berada pada kuadran I. Variabel tersebut tidak memuaskan peserta padahal peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta tidak puas terhadap variabel Pengelolaan Pembelajaran.

3.   Hasil analisis frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap variabel Kompetensi Kepribadian menunjukkan bahwa rerata tingkat kepuasan peserta diklat sebesar 4,52, hal ini berarti bahwa peserta diklat merasa sangat puas terhadap variabel Kompetensi Kepribadian. Hasil Importance Performance Analysis (IPA) pada Kompetensi Kepribadian menunjukkan bahwa variabel tersebut berada pada kuadran II. Sehingga variabel tersebut  telah memuaskan peserta dan peserta menganggap keberadaannya sangat penting. Artinya peserta puas terhadap variabel Kompetensi Kepribadian.

4.   Hasil analisis frekuensi kepuasan peserta diklat terhadap variabel Kompetensi Substantif menunjukkan bahwa rerata tingkat kepuasan peserta diklat sebesar 4,33, hal ini berarti bahwa peserta diklat merasa sangat puas terhadap variabel Kompetensi Substantif. Hasil Importance Performance Analysis (IPA) pada Kompetensi Substantif menunjukkan bahwa variabel tersebut berada pada kuadran III. Variabel tersebut tidak memuaskan peserta tetapi peserta juga menganggap keberadaannya tidak penting. Artinya peserta tidak mempermasalahkan terhadap variabel Kompetensi Substantif.

Saran

1.   Semua pihak, terutama Widyaiswara untuk mencermati hasil analisis Importance Performance Analysis (IPA) ini terutama variabel Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran, karena variabel ini perlu mendapat perhatian untuk dicarikan pemecahannya agar pada diklat berikutnya dapat memuaskan peserta diklat.

2.   Pada penelitian berikutnya disarankan agar semua variabel dan aspek dari kompetensi Widyaiswara diteliti semuanya agar didapatkan kesimpulan yang lebih baik. Di samping itu jumlah populasi diperbanyak agar tingkat generasisasinya lebih luas dan lebih akurat.

DAFTAR RUJUKAN

Harun, C.Z. 2000. . Pendidikan dan Pelatihan sebagai Sarana Pengembangan Sumber Daya Manusia di PT POS Indonesia (Persero), Analisis Sistem Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan di Pusdiklatpos Bandung, (Online), (http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd-1202105-084810/, diakses 3 Nopember 2010)

Nasution, M.N. 2001. Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management). Penerbit Ghalia Indonesia. Jakarta.

Pranoto, J. 2003. Perspektif Jabatan Fungsional Widyaiswara dalam Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Negeri Sipil, (Online), (http://perpustakaan.upi.edu/abstrak/administrasi/upload/juni_pranoto_perspektif_jabatan_fungsional_Widyaiswara_dalam_pendidikan_dan_pelatihan_pegawai_negeri_sipil.pdf, diakses 3 Nopember 2010)

Sugiyono. 2008. Statistika untuk Penelitian. Penerbit Alfabeta. Bandung.

Sujarwo. 2006. Optimalisasi Penerapan Konsep Andragogi Dalam Diklat Aparatur Pemerintah Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Lulusan Di Badan Diklat Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, (Online), (http://eprints.uny.ac.id/4393/), diakses 21 Juni 2011.

Waspodo, M. 1999. Peranan Widyaiswara Dalam Implementasi Kurikulum Diklat SPAMA : Studi Deskriptif Analitik Pada Implementasi Kurikulum Diklat SPAMA Di Pusdiklat Pegawai Depdikbud, Sawangan, Jawa Barat, (Online), (http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd-0922106-092226/, diakses 3 Nopember 2010

_______Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 14 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya

_______ Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Standar Kompetensi Widyaiswara

_______ Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor: 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Sertifikasi Widyaiswara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG