PENGGUNAAN VARIASI METODE MENGAJAR DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIKLAT SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9001:2008 DI PPPPTK BIDANG OTOMOTIF DAN ELEKTRONIKA MALANG

PENGGUNAAN VARIASI METODE MENGAJAR DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIKLAT SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9001:2008
DI PPPPTK BIDANG OTOMOTIF DAN ELEKTRONIKA MALANG

 

Dalono

VEDC Malang, Jl Teluk Mandar Arjosari Malang

Email : dalono_arwana@yahoo.com.au

 

 

ABSTRAK

 

Suatu kenyataan bahwa banyak pengajar yang melakukan pengajaran dengan berapi-api atas penguasaan materi hanya dengan orasi-orasi saja tanpa memperhatikan keterlibatan peserta dalam keaktifannya, misal dengan memberikan peluang bagi peserta pendidikan dan pelatihan untuk mencoba menyampaikan paparan, mendiskusikan isi materi untuk mengkonsolidasikan pemahaman. Terjadi kesenjangan bahwa tingkat kemampuan peserta yang rendah dikarenakan kemonotonan metode yang digunakan oleh pengajar, pada akhirnya melalui pendidikan dan pelatihan yang melaksanakan variasi aktivitas maka peserta akan mendapatkan pengalaman yang berharga dan pemahaman akan didapatkan.

 

Penelitian tindakan pendidikan dan pelatihan ini memiliki tujuan sebagai berikut: a. meningkatan hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 di PPPPTK/VEDC Malang. b. mengidentifikasi pengaruh penggunaan metode yang bervariasi terhadap peningkatan hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 di PPPPTK/VEDC Malang

 

 

 

Dampak positif terhadap peningkatan hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan yang antara lain ditandai dengan:

 

Ketuntasan belajar pada; kondisi awal sebesar 39.47 %,  siklus 1 sebesar 100 %, siklus 2 sebesar 100 %. Nilai rata-rata pada kondisi awal adalah 2.17; nilai rata-rata siklus 1 adalah 2,48; nilai rata-rata siklus 2 adalah 2,73). Tingkat keberhasilan pendidikan dan pelatihan bila dibandingkan dengan sasaran mutu PPPPTK/VEDC Malang antara lain: pada kondisi awal adalah 0 %, pada siklus 1 adalah 32 %, sedangkan pada siklus 2 adalah 87 %.

 

Penggunaan metode mengajar yang bervariasi (ceramah, Tanya Jawab, Kerja Kelompok, Diskusi, Penugasan, dan Latihan atau Dril) memiliki pengaruh yang positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi peserta pendidikan dan pelatihan.

 

Berdasarkan data empirik maka hipotesis tindakan yang menyatakan melalui penggunaan metode mengajar yang bervariasi dapat meningkatkan hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 yang diselenggarakan oleh PPPPTK bidang Otomotif dan Elektronika Malang bertempat di SMK Negeri 2 Bondowoso diterima.

 

 

 

Kata Kunci: Vriasi, Metode Mengajar, Diklat, Sistem Manajemen Mutu,ISO 9001;2008

 

PENDAHULUAN

 

Kemampuan berinteraksi dan metode yang dipilih oleh pengajar untuk menyampaikan suatu pesan kepada audiennya (penerima pesan) tentu akan menjadi hambatan bagi audiennya dalam memahami isi pesan dan akhirnya membuahkan masalah terutama sehubungan dengan serapan pemahaman atau hasil belajar.

 

Suatu kenyataan bahwa banyak pengajar yang melakukan pengajaran dengan berapi-api atas penguasaan materi hanya dengan orasi-orasi saja tanpa memperhatikan keterlibatan peserta dalam keaktifannya, misal dengan memberikan peluang bagi peserta pendidikan dan pelatihan untuk mencoba menyampaikan paparan, mendiskusikan isi materi untuk mengkonsolidasikan pemahaman.

 

Pengajar diharapkan memanfaatkan strategi pembelajaran dengan memperhatikan pola induk belajar setiap peserta pendidikan dan pelatihan agar semua bentuk perbedaan kebiasaan atau kareteristik ketertarikan peserta dalam kemudahan memahami isi pesan yang disampaikan oleh pembicara atau pengajar dapat terwadahi dengan cara membuat variasi aktivitas dan tidak dengan cara yang monoton dalam menyampaikan materi. Hal itu dapat ditempuh melalui penggunaan metode yang bervariasi dalam mengajar.

 

Berdasarkan uraian diatas maka terjadi kesenjangan bahwa tingkat kemampuan peserta yang rendah dikarenakan kemonotonan metode yang digunakan oleh pengajar, pada akhirnya melalui pendidikan dan pelatihan yang melaksanakan variasi aktivitas maka peserta akan mendapatkan pengalaman yang berharga dan pemahaman akan didapatkan.

 

Untuk memecahkan masalah tentang rendahnya kemampuan peserta pendidikan & pelatihan dan masih kurang variasinya metode pembelajaran yang digunakan oleh pengajar maka diperlukan penelitian tindakan untuk meningkatkan kemampuan peserta pendidikan dan pelatihan.

 

Penelitian tindakan pendidikan dan pelatihan ini memiliki tujuan sebagai berikut: a. meningkatan hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 di PPPPTK/VEDC Malang. b. mengidentifikasi pengaruh penggunaan metode yang bervariasi terhadap peningkatan hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 di PPPPTK/VEDC Malang.

 

Pendidikan dan Pelatihan

 

Beberapa pakar mengkonsepkan pengertian tentang gabungan antara peristilahan pendidikan dan pelatihan. Menurut Pusdiklat Pegawai Depdiknas 2003Pendidikan dan Pelatian didfinisikan sebagai bagian dari manajemen sumberdaya manusia (MSM) yang mencakup pendayagunaan sumberdaya manusia, manajemen peningkatan kemampuan sumberdaya manusia dan manajemen lingkungan kerja sumberdaya manusia. Leonard Nadler (1980) mendefinisikan bahwa pendidikan dan pelatihan adalah pengalaman belajar yang disiapkan oleh organisasi untuk meningkatkan kinerja pegawai pada saat sekarang. Sementara menurut Robert L. Graigh (1996) pendidikan dan pelatihan merupakan pengalihan pengetahuan dan ketrampilan dari seseorang kepada orang lain. Sebenarnya intinya dari sekian pakar tentang konsep pengertian tersebut adalah peningkatan kemampuan sumberdaya manusia yang menjadi bagian dari pengalaman belajar yang teroganisasi, yang dilaksanakan dalam waktu tertentu, untuk meningkatkan kemungkinan bagi pegawai, peningkatan kinerja dan berkembang dalam organisasi.

 

Hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan merupakan capaian akhir dari suatu periode tertentu yang berupa perubahan tingkah laku dan biasanya disebut dengan kemampuan atau kompetensi yang diukur dengan ukuran tertentu. Dengan demikian belajar dapat membawa suatu perubahan pada individu peserta pendidikan dan pelatihan. Perubahan ini merupakan pengalaman tingkah laku dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Pengalaman dalam belajar merupakan pengalaman yang dituju pada hasil yang akan dicapai peserta pendidikan dan pelatihan dalam proses belajar di tempat pelatihan. Menurut Poerwodarminto (1991), prestasi belajar adalah hasil yang dicapai (dilakukan, dekerjakan), dalam hal ini prestasi belajar merupakan hasil pekerjaan, hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian kerja serta perjuangan yang membutuhkan pikiran.

 

Menurut Pasaribu (1986) pengajaran tidak memberikan kekuatan baru kepada anak yang sebelumnya tidak memilikinya dan secara sempit juga tidak memindahkan sesuatu kepadanya, melainkan hanya membangkitkan dan mendorong kekuatan-kekuatan dalam kegiatannya dan memimpinnya serta mengasahkan kepada macam-macam nilai, karena peserta belajar tidak dapat menemukan kekuatannya sendiri. Alvin W. Howard dalam Rostiyah (1989:4) memberikan definisi tentang mengajar adalah suatu aktivitas untuk mencoba menolong/membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan skill, attitudes, ideals (cita-cita), appreciations dan knowledge.

 

Metode

 

Metode adalah merupakan cara atau jalan yang harus ditempuh untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan tujuan untuk, dalam belajar metode digunakan dengan tujuan untuk mendapatkan pengetahuan, kecakapan dan keterampilan (Slameto, 1987 : 84). Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) bergantung pada cara/mengajar gurunya. Mengingat metode mengajar banyak ragamnya, kita sebagai pendidik tentu harus memiliki metode mengajar yang beraneka ragam, agar dalam proses belajar mengajar tidak menggunakan hanya satu metode saja, tetapi harus divariasikan, yaitu disesuaikan dengan tipe belajar siswa dan kondisi serta situasi yang ada pada saat itu, sehingga tujuan pengajaran yang telah dirumuskan oleh pendidik dapat terwujud/tercapai.

 

Sebagai kerangka berfikir dalam penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Diklat (PTD) sebenarnya merupakan konversi dari classroom action research. Dalam penelitian tindakan ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam I Wayan Dasna, 2007: 9) yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Oleh karena itu kondisi awal peserta Diklat harus diidentifikasi terlebih dahulu agar tindakan yang dilakukan oleh peneliti sesuai dengan yang diharapkan dapat dilakukan, selanjutnya kondisi akhirnya diidentifikasi pula, untuk mendapatkan hasil simpulan dari penelitian tindakan Diklat tersebut.

 

Hipotesis dalam penelitian adalah: melalui penggunaan metode mengajar yang bervariasi dapat meningkatkan hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 yang diselenggarakan oleh PPPPTK bidang Otomotif dan Elektronika Malang bertempat  di SMK Negeri 2 Bondowoso.

 

 

 

 

 

METODE PENELITIAN

 

Setting Penelitian

 

Waktu penelitian tindakan Diklat adalah waktu berlangsungnya penelitian tindakan pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 di PPPPTK/VEDC Malang mulai persiapan hingga penyusunan laporan direncanakan mulai tanggal 1 September sampai dengan 23 Oktober 2010. Pengambilan data penelitian tindakan diklat tentang penggunaan metode mengajar yang bervariasi dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta pendidikan pelatihan dilaksanakan pada tanggal 21 September 2010 di SMK Negeri 2 Bondowoso.

 

Subyek Penelitian

 

Sebagai subyek penelitian tindakan pendidikan dan pelatihan tentang penggunaan metode mengajar yang bervariasi adalah semua peserta pendidikan dan pelatihan program pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 yang terdiri dari pengelola sekolah, guru, tenaga adminitrasi, dan tenaga pembatu pelaksana yang berasal dari SMK Negeri 2 Bondowoso.

 

Sumber Data

 

Sumber data yang dipergunakan dalam penelitian tindakan Diklat berasal dari data primer berupa nilai kemampuan peserta pendidikan dan pelatihan, hasil pengamatan proses.

 

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

 

Data kuantitatif dari hasil pembelajaran pendidikan dan pelatihan dengan menggunakan teknik tes. Untuk data kualitatif menggunakan teknik pengamatan selama pelaksanaan pendidikan dan pelatihan berlangsung.

 

Validasi Data

 

Validasi data dalam penelitian tindakan pendidikan dan pelatihan ini menyesuaikan dengan data yang direncanakan yaitu data kuantitatif dan data kualitatif.

 

 Analisa Data

 

Analisis data menggunakan analisis diskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai tes kondisi awal dengan nilai tes akhir siklus 1, dan nilai tes akhir siklus1 dengan nilai tes akhir siklus 2. Sedangkan data kualitatif hasil pengamatan maupun hasil perbuatan kerja kelompok menggunakan analisis diskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi dan refleksi dari tiap-tiap siklus

 

Prosedur Penelitian

 


 

HASIL PENELITIAN

Deskripsi Kondisi Awal

 

Kondisi kemampuan peserta sejumlah 76 orang pada saat awal secara umum oleh peneliti dapat diperlihatkan pada hasil tes terendah yang mencapai nilai 1.40 sebanyak 1 orang, nilai tertinggi 2,30 sebanyak 3 orang (yang mencapai ketuntasan belajar 60.53 %) dan nilai rata-rata 2.17.

 

Deskripsi Hasil Siklus 1

 

1.    Perencanaan Tindakan : Agar peserta pendidikan dan pelatihan mendapatkan prestasi belajar yang baik, maka pengajar (peneliti) membuat apersepsi. Dalam kegiatan inti peneliti melaksanakan pengajaran dengan menggunakan beberapa metode mengajar yang divariasikan. Metode yang digunakan dalam kegiatan inti pada siklus 1 anatara lain metode ceramah, metode tanya jawab, metode kerja kelompok dan dilanjutkan dengan diskusi dan metode penugasan. Sedangkan pada penutup dilakukan tes formatif untuk melihat tingkat keberhasilan belajar peserta pendidikan dan pelatihan.

 

2.    Pelaksanaan Tindakan : Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I yang dilaksanakan pada tanggal 21 Septembert 2010 di kelas program pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 dengan jumlah peserta 76 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Tindakan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 pada siklus pertama ini secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut: a) pengkondisian peserta, b) Penyampaian ceramah materi awal dan diselingi tanya jawab, c) Tugas kelompok, d) Presentasi hasil kerja kelompok, e) konsolidasi materi, f) tes formatif.

 

3.    Hasil pengamatan : a) Proses Pendidikan dan Pelatihan (Hasil pengamatan selama proses pendidikan dan pelatihan yang berlangsung pada siklus 1, b) Hasil Pendidikan dan Pelatihan diuraikan sebagai berikut:

 

·         Nilai terendah pada hasil tes dengan nilai 2,00 sebanyak 3 orang, nilai tertinggi 2.40 sebanyak 2orang dan nilai rata-rata 2,48.

 

·         Frekuensi nilai kompetensi akhir pada siklus 1 pada skala nilai 0 – 0,99 sejumlah 0 orang, skala nilai 1 – 1,99 sejumlah 0 orang, skala nilai 2 – 2,54 sejumlah 52 orang, skala nilai 2,55 – 3,54 sejumlah 24 orang, sedangkan pada skala nilai 3,55 – 4,0 tidak seorangpun yang mencapainya.

 

 ·         Persentase ketuntasan belajar peserta pendidikan dan pelatihan 100 %.

 

·         presentase keberhasilan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan sesuai dengan target sasaran mutu PPPPTK/VEDC Malang pada siklus 1 ini sejumlah 32 %.

 

4.    Refleksi : refleksi ini dikaji dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif/ komparatif dengan cara membandingkan proses Diklat pada kondisi awal dengan siklus 1 dan hasil Diklat pada kondisi awal dengan siklus 1. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dari refleksi ini maka dapat dilihat pada tabel dibawah.

 

 

 

NO

KONDISI AWAL

SIKLUS 1

1

Tindakan

 

·     Pengajar (peneliti) belum menggunakan metode mengajar yang bervariasi

·      peneliti telah menggunakan metode mengajar yang bervariasi yaitu ceramah, tanya jawab, kerja kelompok, diskusi, dan penugasan

2

Proses pendidikan dan pelatihan

 

·     Peserta nampak pasif dan cenderung diam 

·     Peserta cenderung mengantuk

·     Banyak peserta pendidikan dan pelatihan yang memperlihatkan keaktifannya

·     Setiap orang berkontribusi terhadap keaktifan kelompok

·     Terjadi dinamika kelompok yang tinggi

·     Kerja kelompok 1 kali

3

Hasil pendidikan dan pelatihan

 

·      Kondisi nilai terendah 1.40 dan tertinggi 2,0 sedangkan nilai rata-rata 2,17

·     46 orang mencapai nilai ketuntasan minimal (setara dengan 39,47 %)

·     Keberhasilan pelaksanaan Diklat 0 % (dari hasil tes awal tidak ada yang mencapai kualifikasi Baik)

·     Kondisi nilai terendah 2.00 dan tertinggi 3,00 sedangkan nilai rata-rata 2,48

·     76 orang dari 76 mencapai nilai ketuntasan belajar (setara dengan 100 %)

·     Terjadi peningkatan prestasi belajar dari hasil nilai akhir formatif pada siklus 1.

·     Peningkatan nilai rata-rata sebesar 0.31 dan peningkatan ketuntasan Diklat sebesar 32 %.

·     Keberhasilan Diklat 32 %

 

 

 

Deskripsi Hasil Siklus 2

 

Siklus 2 ini pada tahap perencanaan dan tindakan kegiatan yang ditempuh hampir sama walaupu ada pengembangan pada metode yang digunakan misal frekeuensi kerja kelompok dengan jumlah anggota diubah dan latihan diperbanyak. Oleh karena itu hasil refleksainya pengamatannya dan refleksinya sebagai berikut:

 

1.    Hasil pengamatan : Hasil Pendidikan dan Pelatihan diuraikan sebagai berikut:

 

a.    Nilai terendah pada hasil tes dengan nilai 2,20 sebanyak 3 orang, nilai tertinggi 3,40 sebanyak 2 orang dan nilai rata-rata 2,73

 

b.    Frekuensi nilai kompetensi akhir pada siklus 1 pada skala nilai 0 – 0,99 dan 1 – 1,99 tidak ada, skala nilai 2 – 2,54 sejumlah 10 orang, skala nilai 2,55 – 3,54 sejumlah 66 orang, sedangkan pada skala nilai 3,55 – 4,0 tidak ada.

 

c.Persentase ketuntasan belajar peserta pendidikan dan pelatihan 100 %.

 

d.    presentase keberhasilan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan sesuai dengan target sasaran mutu PPPPTK/VEDC Malang pada siklus 1 ini sejumlah 87 %.

 

2.    Refleksi : dengan cara membandingkan proses Diklat pada siklus 1 dengan siklus 2 dan hasil Diklat pada siklus 1 dengan siklus 2.

 

 

 

NO

SIKLUS 1

SIKLUS 2

1

Tindakan

 

·     Peneliti menggunakan metode ceramah yang dipadu dengan metode kerja kelompok, diskusi, tanya jawab dan penugasan, namun belum menggunakan metode latihan

·      Peneliti telah menggunakan metode mengajar yang bervariasi yaitu ceramah, tanya jawab, kerja kelompok, diskusi, penugasan dan terutama latihan

2

Proses pendidikan dan pelatihan

 

·     Peserta aktif secara berkelompok

·     Dinamika kelompok tinggi

·     Keaktifan peserta belum optimal masih ada yang tidak ikutserta dalam kegiatan diskusi.

·     Banyak peserta pendidikan dan pelatihan aktif

·     Setiap orang aktif dalam kegiatan interaksi kelompok

·     Dinamika kelompok yang sangat tinggi

·     Setiap individu menjadi berkontribusi terhadap hasil karena penerap kegiatan latihan

·     Frekuensi kerja kelompok sebanyak 3 kali

3

Hasil pendidikan dan pelatihan

 

·      Kondisi nilai terendah 2.00 dan tertinggi 3,00 sedangkan nilai rata-rata 2,48

·      76 orang dari 76 mencapai nilai ketuntasan belajar (setara dengan 100 %)

·      Presentase ketuntasan belajar mencapai 32 %

·      Keberhasilan pelaksanaan Diklat sesuai dengan sasaran mutu 32 %

·     Kondisi nilai terendah 2,20 dan tertinggi 3,40 sedangkan nilai rata-rata 2,73

·     Mencapai nilai ketuntasan belajar 100 %

·     Terjadi peningkatan prestasi belajar dari hasil nilai akhir formatif pada siklus 2.

·     Peningkatan nilai rata-rata sebesar 10 %

·     Keberhasilan pelaksanaan Diklat 87 % (kenaikan 55% dari 32 % ke 87 %)

·     Terjadi peningkatan prestasi belajar yang berarti dari hasil nilai akhir formatif pada siklus 2

 

 

 

Pembahasan

 

Menggunakan analisis deskripsi komporatif dengan cara membandingkan antara kondisi awal, siklus 1 dan siklus 2.

 

1.  Tindakan pendidikan dan pelatihan

 

KONDISI AWAL

SIKLUS 1

SIKLUS 2

·     Pengajar (peneliti) belum menggunakan metode mengajar yang bervariasi


 

·      Peneliti dalam menyampaikan pemahaman ke peserta Diklat telah menggunakan metode mengajar yang bervariasi yaitu ceramah, tanya jawab, kerja kelompok, diskusi, dan penugasan

Peneliti dalam menyampaikan pemahaman ke peserta Diklat telah menggunakan metode mengajar yang bervariasi yaitu ceramah, tanya jawab, kerja kelompok (ada kelompok kecil dan besar), diskusi, penugasan dan terutama latihan

 

 

2.  Proses pendidikan dan pelatihan

 

 

 

KONDISI AWAL

SIKLUS 1

SIKLUS 2

·      Peserta nampak pasif dan cenderung diam sebagai pendengan pasif.

·      Peserta cenderung mengantuk


 

·      Sudah banyak peserta pendidikan dan pelatihan yang memperlihatkan keaktifannya.

·      Setiap orang berkontribusi terhadap keaktifan kelompok.

·      Banyak peserta pendidikan dan pelatihan aktif

·      Setiap orang aktif dalam setiap kegiatan interaksi kelompok

·      Dinamika kelompok yang sangat tinggi.

·       

·      Terjadi dinamika kelompok yang tinggi.

·      Frekuensi kerja kelompok 1 kali

·      Setiap individu menjadi berkontribusi terhadap hasil karena penerapan kegiatan latihan

·      Frekuensi kerja kelompok 3 kali

 

 

 

3.  Hasil pendidikan dan pelatihan

 

 

 

KONDISI AWAL

SIKLUS 1

SIKLUS 2

·      Kondisi nilai terendah 1.40 dan tertinggi 2,30 sedangkan nilai rata-rata 2,17

·     46 orang mencapai nilai ketuntasan minimal (setara dengan 39,47 %)

·      Keberhasilan pelaksanaan Diklat 0 % (dari hasil tes awal tidak ada yang mencapai kualifikasi Baik)

·     Kondisi nilai terendah 2.00 dan tertinggi 3,00 sedangkan nilai rata-rata 2,48

·     76orang dari 76 mencapai nilai ketuntasan belajar (setara dengan 100 %)

·     Peningkatan nilai rata-rata sebesar 0.31

·     Peningkatan ketuntasan Diklat sebesar 32 %.

·     Keberhasilan pelaksanaan Diklat 32 %

·     Peningkatan keberhasilan Diklat 32 % (dari 0 % ke 32 %)

·     Terjadi peningkatan prestasi belajar dari hasil nilai akhir formatif pada siklus 1.

·     Kondisi nilai terendah 2,20 dan tertinggi 3,40 sedangkan nilai rata-rata 2,73

·     Seluruh peserta pendidikan dan pelatihan mencapai nilai ketuntasan belajar 100 %

·     Terjadi peningkatan prestasi belajar dari hasil nilai akhir formatif pada siklus 2.

·     Peningkatan nilai rata-rata sebesar 10.08 %

·     Keberhasilan pelaksanaan Diklat 87 %

·     Kenaikan keberhasilan Diklat 55% (dari 32 % ke 87 %)

 

 

 

Hasil Penelitian

 

Bila dilihat dari kondisi awal peserta, siklus 1 dan siklus 2 maka terjadi peningkatan hasil belajar peserta melalui pengkajian data nilai rata-rata (2.17, 2.48, 2.73), ketuntasan hasil belajar (39,47 % - 100 % - 100 %), frekuensi (lihat tabel 4.5. dan 4.8) dan keberhasilan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan (0 % - 32 % - 87 %)

 

PENUTUP

 

Kesimpulan

 

1.    Dampak positif terhadap peningkatan hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan yang antara lain ditandai dengan:

 

a.      Ketuntasan belajar pada:

 

1)                              kondisi awal sebesar 39.47 %

 

2)                              siklus 1 sebesar 100 %

 

3)                              siklus 2 sebesar 100 %

 

b.      Nilai rata-rata pada kondisi awal adalah 2.17; nilai rata-rata siklus 1 adalah 2,48; nilai rata-rata siklus 2 adalah 2,73)

 

c.      Tingkat keberhasilan pendidikan dan pelatihan bila dibandingkan dengan sasaran mutu PPPPTK/VEDC Malang antara lain: pada kondisi awal adalah 0 %, pada siklus 1 adalah 32 %, sedangkan pada siklus 2 adalah 87 %.

 

2.    Penggunaan metode mengajar yang bervariasi (ceramah, Tanya Jawab, Kerja Kelompok, Diskusi, Penugasan, dan Latihan atau Dril) memiliki pengaruh yang positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi peserta pendidikan dan pelatihan.

 

3.    Berdasarkan data empirik maka hipotesis tindakan yang menyatakan melalui penggunaan metode mengajar yang bervariasi dapat meningkatkan hasil belajar peserta pendidikan dan pelatihan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 yang diselenggarakan oleh PPPPTK bidang Otomotif dan Elektronika Malang bertempat di SMK Negeri 2 Bondowoso diterima.

 

Saran

 

  1. Bagi peserta pendidikan dan pelatihan

 

a.    Untuk melaksanakan kegiatan interaksi secara aktif dan lebih proaktif untuk menciptakan dinamika kelompok yang tinggi.

 

b.    Aktivitas yang tinggi dimaksudkan untuk mendinamikakan kelompok dalam berinteraksi, sehingga motivasi belajar dan bersaing dalam kelompok menjadi tercipta.

 

  1. Bagi sekolah asal peserta pendidikan dan pelatihan

 

a.    Mendapatkan kontribusi kompetensi melalui peserta yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekolah.

 

b.    Dapat memeberikan masukan yang berarti dalam persiapan dan pengelolaan dokumen maupun rekaman di sekolah.

 

 

  1. Bagi PPPPTK/VEDC Malang

 

a.    Mendapatkan kontribusi kompetensi widyaiswara sebagai bagian dari upaya pengembangan sumber daya manusia.

 

b.    Mendapatkan pengalaman yang dapat disebarluaskan bagi pemanfaatan pendidikan dan pelatihan, disamping itu kredibiltas meningkat.

 

c.    Lebih aktif untuk mengontrol dan melaksanakan tindakan penelitian Diklat sekontinyu dan seajeg mungkin.

 

d.    Merencanakan program penelitian tindakan Diklat secara rutin.

 

 Bagi pengajar dan peneliti

 

a.    Untuk mengembangkan diri agar mendapatkan mutu dan dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan diri.

 

b.    Mendapatkan pengalaman belajar dalam menghadapi segala karakter situasi interaksi dalam mendewasakan diri.

 

c.    Diperlukan adanya penelitian tindakan Diklat lebih lanjut.

 

d.    Dalam menghasilkan keberhasilan belajar peserta pendidikan dan pelatihan dapat menggunakan metode mengajar yang bervariasi.

 

 DAFTAR KEPUSTAKAAN

 

Astu, Mundiatun, Fatmawati. 1996. Metode Kerja Kelompok. PPPGT/VEDC Malang.

 

Ahmad Rohani, Abu Ahmadi. 1995. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta. Rineka Cipta.

 

Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung. Sinar Baru Algesindon.

 

Daryanto, Mundiatun, Suryanto. 1995. Metode Latihan. PPPGT/VEDC Malang.

 

Hartono. 31 Januari 07. Strategi Pembelajaran Active Learning. Situs Pendidikan - The education articles archieve box. http://edu-articles.com

 

I Wayan Dasna, Ach. Fatchan. 2007. Penelitian Tindakan Kelas dan Karya Ilmiah. Malang. Pusat Penelitian Pendidikan, Lembaga Pendidikan – Universitas Negeri Malang.

 

Idama, Tutik, Fatmawati. 1995. Metode Tanya Jawab. PPPGT/VEDC Malang

 

Jusuf Djajadisastra. 1985. Metode-Metode Mengajar 1. Bandung. Penerbit Angkasa.

 

Jusuf Djajadisastra. 1985. Metode-Metode Mengajar 2. Bandung. Penerbit Angkasa.

 

Nasution. 1986. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Bandung. Jemmars.

 

Ngalim Purwanto. 1987. Ilmu Pendidikan. Teori dan Praktis. Bandung. Remaja Karya.

 

Pepak. 2000. Prinsip Dasar Dalam Metode Mengajar. http://pepak.sabda.org.

 

Pasaribu & Simanjuntak. 1986. Didaktik Metodik. Bandung. Tarsito.

 

Rostiyah. 1989. Didaktik Metodik. Bina Aksara. Jakarta.

 

Rustam, Mundilarto. 2004. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan Dan Ketenagaan Perguruan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.

 

Soebagio Atmodiwirio. 2002. Manajemen Pelatihan. Jakarta. PT Ardadizya Jaya.

 

Soedijarto. 1989. Menuju Pendidikan Nasional Yang Relevan Dan Bermutu. (Kumpulan tulisan tentang pemikiran dan usaha meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan nasional). Jakarta. Balai Pustaka.

 

Sukmadinata, NS. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

 

Suryanto, Daryanto, Tutik. 1995. Metode Diskusi. PPPGT/VEDC Malang

 

Syaiful Bahri Djamarah. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta. Rineka Cipta.

 

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka.

 

Tutik, Astu, Idama. 1995. Metode Ceramah. PPPGT/VEDC Malang.

 

Winarno Surakhmad. 1986. Pengantar Interaksi Mengajar –p Belajar. Dasar dan Teknik Metodologi Pengajaran. Bandung. Tarsito.

 

Wiraadmadja, R. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung.. PT Kenanga Rosedakarya..

Jenis Alat Pemotong untuk Pekerjaan Teknologi Kayu

Jenis Alat Pemotong untuk Pekerjaan Teknologi Kayu

Amin Suminto (Widyaiswara MadyaPPPPTK BOE. Malang

 

Abstraksi:

 

Alat pemotong pada Teknologi Kayu adalah alat yang harus diketahui, dimengerti, dan dipahami oleh  semua pengguna, maka dari itu semoga semua ini bisa menjadikan bekal atau pedoman pengguna dalam memakai alat-alat pemotang dengan sesuai dan benar.

 

Adapun Jenis Alat Pemotong untuk Pekerjaan Teknologi Kayu adalah: 1. Gergaji Gorok Potong, 2. Gergaji Gorok Belah, 3. Gergaji Punggung, 4. Gergaji Lubang/Kompas, 5. Gergaji Halus Jepang, 6. Gergaji Finir, 7. Gergaji Bentang Belah, 8. Gergaji Bentang Potong, 9. Gergaji Bentang Kurva, 10. Gergaji Besi, 11. Gergaji Gurat.

 

Biasanya dalam pemakaian alat-alat ini sembarangan saja dan tidak sesuai dengan jenis dan kegunaannya yang mengakibatkan usia penggunaan alat-alat ini tidak maksimal (cepat  rusak dalam jangka waktu yang relatif singkat), dan benda kerja yang dihasilkan juga tidak maksimal atau kurang sempurna.

 

Dengan adanya panduan dan penjelasan ini, agar usia alat-alat pemotong pada Teknologi Kayu jauh lebih panjang (lebih awet) dan benda kerja yang dihasilkan jauh lebih baik dan sempurna, serta pengguna alat-alat tersebut jauh lebih ringan dan lebih mudah memakainya.

Kata Kunci: gorok, punggung, kompas, halus jepang, finir, kurva, gurat.

 

Jenis Alat Pemotong untuk Pekerjaan Teknologi Kayu adalah Gergaji sebagai berikut:

 

1.    Gergaji Gorok Belah:

Pada umumnya gergaji ini mempunyai kemiringan sudut gigi 60º.

Gunanya: Untuk membelah kayu sejajar dengan serat kayu.

 
           

 

 

 

                   

                             Gambar 1. Bentuk gigi gergaji belah.

 

2.    Gergaji Potong/ Gergaji Gorok:

Gergaji ini mempunyai kemiringan sudut gigi 45º

Gunanya : Untuk memotong kayu.

 

     
   

 

       

           Gambar 2. Bentuk Gergaji Potong/ Gergaji Gorok

 

3.    Gergaji Punggung:

Karena gergaji tersebut mempunyai punggung guna untuk membatasi dalam pemotongan.

Gunanya:Untuk pemotongan yang halus

 
 

 

 

 

                       

                         Gambar 3. Bentuk Gergaji Punggung.

 

4.    Gergaji Punggung Jenis Lain:

Alat ini dipergunakan untuk memotong kayu dengan ukuran-ukuran yang tertentu (kecil) dengan hasil yang lebih halus. Gergaji ini sering digunakan pada pembuatan konstruksi hubungan ekor burung.

 

 
                                                                                  

 

                     

 

 

 

Gambar 4. Bentuk Gergaji Punggung.

 

5.    Gergaji  Lubang /Gergaji Kompas:

Daun gergaji ini agak tebal. Gunanya untuk membuat lubang

 
              

 

 

 

  

       

 

            Gambar 5. Bentuk Gergaji  Lubang /Gergaji Kompas.

 

6.    Gergaji Halus Jepang:

Gergaji ini pada prinsipnya sama dengan gergaji punggung.

 

 
                                                                 

 

 

 

 

 

 

                          Gambar 6. Bentuk Gergaji Halus Jepang.

 

7.    GergajiFinir:

Gunanya: Untuk memotong lembaran yang tipis. 

 

 
                                                                                                    

 

  

 

                               

 

                                         Gambar 7. Bentuk Gergaji Finir.

 

8.    Gergaji Bentang Belah:

Sama dengan gergaji belah hanya saja berlainan

pegangan.

Gunanya:Untuk membelah kayu sejajar serat.

 

 
                                                                                               

 

 

 

Gambar 8.  Bentuk Gergaji Bentang Belah.

 

9.    Gergaji  Kurwa:

Gunanya: Untuk menggergaji kurva-kurva bulat.

Gergaji ini pada prinsipnya sama dengan gergaji belah bentang yang terdiri dari daun baja dengan gigi yang telah dikikir. Alat ini berfungsi untuk bentuk-bentuk lengkung atau bentuk bulat.

 

 
                                         

 

 

 

 

                                             

                 

                                     Gambar 9.  Bentuk Gergaji  Kurwa.

 

10. Potong Bentang Potong:

Untuk gergaji ini sangat terbatas dalam pemotongan.

Gunanya: Untuk memotong kayu.

                                 

 

       Gambar 10.  Bentuk Potong Bentang Potong.

 

11. Gergaji  Besi:

                                Gunanya:Untuk memotong benda-benda logam.

 

                                                                                  

 

                                               Gambar 11.  Bentuk Gergaji  Besi.

 

12. Gergaji Gurat:

Gergaji Gurat tertutama dipakai untuk tempat-tempat terlalu sempit, biasanya gigi-giginya dibentuk sedemikianrupa, sehingga memotong dalam tiap arah gerak gergaji (2 arah/maju mundur).

 

 
                                                                                                                        

 

 

                      

  

Gambar 12.  Bentuk Gergaji Gurat.

 

13. Mal Potong Miring:

Mal ini dapat dibuat sendiri

Gunanya : Memberi tanda dalam penggergajian potongan miring.

 
 

 

 

 

      

                   

                   Gambar 13.  Bentuk Mal Potong Miring.

 

14. Klem Gergaji:

Gunanya:Untuk menjepit daun gergaji yang akan ditajamkan.

Alat ini dapat digunakan sebagai landasan/penjepit gergaji pada saat ditajamkan atau dikikir.

 

 
 

 

 

 

 

  

 

          Gambar 14.   Bentuk Klem Cara menajamkan Gergaji.

 

15. Meluruskan  / Meratakan Gigi Gargaji:

Mengikir rata pucuk-pucuk sisi gergaji dapat dilakukan dengan sebuah kikir halus yang dipasang dalam sepotong kayu.

 
 

     

 

 

 

 

                       

                                 

                           

                               Gambar 15.   Cara Meluruskan / Meratakan Gigi Gargaji.

 

Kesimpulan:

Dalam pemakaian alat-alat ini sembarangan saja dan tidak sesuai dengan jenis dan kegunaannya yang mengakibatkan usia penggunaan alat-alat ini tidak maksimal (cepat  rusak dalam jangka waktu yang relatif singkat), dan benda kerja yang dihasilkan juga tidak maksimal atau kurang sempurna.

 

Diadakannya panduan dan penjelasan ini, agar usia alat-alat pemotong pada Teknologi Kayu jauh lebih panjang (lebih awet) dan benda kerja yang dihasilkan jauh lebih baik dan sempurna, serta pengguna alat-alat tersebut jauh lebih ringan dan lebih mudah memakainya.

 

 

 

Referensi:

Job sheet KerjaKayu no. 35700109 G Tahun 1988 olehHartiyono.

BukuTeknikPerkayuanRevisiKetiga, oleh Budi Martono.

 

 

PENGGUNAAN DYNAMIC PROGRAMMING UNTUK MEMILIH JALUR TRANSPORTASI DENGAN BIAYA MINIMUM

 PENGGUNAAN DYNAMIC PROGRAMMING UNTUK MEMILIH JALUR TRANSPORTASI DENGAN BIAYA MINIMUM

 

 Supono

Widyaiswara Madya, Departemen Bangunan PPPPTK BOE Malang

 

 Abstrak

 Apabila kita akan melakukan perjalanan dengan jarak yang jauh dan tidak ada alat transportasi yang langsung sampai ke tempat tujuan, maka perjalanan tersebut dapat kita tempuh dengan cara berantai. Perjalanan berantai artinya bahwa tiket yang kita beli hanya untuk dipakai sampai ke kota berikutnya, sedangkan untuk menuju kota selanjutnya lagi kita harus membeli tiket baru. Pada perjalanan berantai dimungkinkan adanya beberapa pilihan jalur yang bisa kita lalui untuk bisa sampai ke kota tujuan. Dalam kondisi seperti itu, biasanya kita akan menentukan salah satu jalur yang terbaik yang akan kita lalui dengan mempertimbangkan aspek tertentu. Aspek tersebut misalnya biaya, jarak tempuh, waktu tempuh, kemudahan memilih moda transportasi, maupun kenyamanan dalam perjalanan. Kita mengharapkan bahwa dari setiap aspek yang kita pilih, kita mendapatkan kondisi yang optimal.

Untuk menghitung hasil yang optimal dari setiap aspek dari perjalanan itu, kita bisa memakai suatu teknik yang dinamakan Dynamic Programming atau Program Dinamik.Pada pembahasan ini, aspek yang kita bahas adalah permilihan jalur transportasi dengan memperhatikan biaya perjalanan yang minimum.

Kata Kunci: Dynamic Programming, Jalur Transportasi, Biaya Minimum

 

 Pendahuluan

Metode Dynamic Programming (Program Dinamik) ini pertama kali dikembangkan oleh Richard E. Bellman pada tahun 1957. Dynamic Programming atau Program Dinamik adalah suatu teknik matematika yang digunakan untuk mengoptimalkan proses pengambilan keputusan secara bertahap-ganda. Dalam teknik ini, keputusan yang menyangkut suatu persoalan dioptimalkan secara bertahap dan bukan sekaligus. Jadi, inti dari teknik ini adalah membagi satu persoalan menjadi beberapa bagian persoalan yang dalam program dinamik disebut tahap, kemudian memecahkan tiap tahap dengan mengoptimalkan keputusan atas tahap sampai seluruh persoalan telah terpecahkan. Keputusan optimal atas seluruh persoalan ialah kumpulan dari sejumlah keputusan optimal atas seluruh tahap yang kemudian disebut sebagai kebijakan optimal.

Pendekatan Program Dinamik didasarkan pada prinsip optimasi yang mengatakan kurang lebih demikian, “Suatu kebijakan optimal mempunyai sifat bahwa apapun keadaan dan keputusan awal, keputusan berikutnya harus membentuk suatu kebijakan optimal dengan memperhatikan keadaan dari hasil keputusan pertama”. Prinsip ini mengandung arti bahwa:

a. Kita diperkenan untuk mengambil keputusan yang terbaik bagi tahap persoalan yang masih tersisa tanpa melihat kembali keputusan yang diambil pada tahap yang sudah berlalu.

b. Dalam rangkaian keputusan yang telah diambil, hasil dari masing-masing tergantung pada hasil keputusan sebelumnya dalam rangkaian.

 

Prosedur Perhitungan

Teknik perhitungan program dinamik terutama didasarkan pada prinsip optimasi recursive (bersifat pengulangan) yang diketahui sebagai prinsip optimalisasi (principle of optimality). Proses ini mengandung arti bahwa bila dibuat keputusan multistage mulai pada tahap tertentu, keputusan untuk tahap-tahap selanjutnya tergantung pada ketetapan tahap permulaan tanpa menghiraukan bagaimana diperoleh suatu ketetapan tertentu tersebut. Untuk memudahkan pemahaman prinsip optimalisasi, dipakai pemecahan masalah jalur optimum. Bila fn(S) merupakan biaya total minimum yang dihubungkan dengan jalur optimum dalam network, notasi Caj adalah biaya yang terlibat dalam pergerakan dari kota asal pada tahap tertentu ke kota berikutnya dalam tahap selanjutnya. Kemudian persamaan untuk keputusan optimal dapat dinyatakan sebagai berikut:

 fn(S) = minimum [ csj + fn-1(j)] ,     pada kasus ini n = 1, 2, 3, 4.

(s,j) dalam jalur

Di mana fn(S) adalah biaya minimum perjalanan dari kota asal dalam satu tahap ke kota terakhir. Langkah singkat ini dinamakan sebagai sebuah rekursive algorithm, dan persamaan rumusnya dinamakan reqursive equation. Sebuah objek disebut berulang (rekursif, recursive) jika setiap objek mengandung dirinya sendiri atau didefinisikan dengan dirinya sendiri. Hubungan ini dapat ditemukan tidak hanya dalam matematika, tetapi juga pada kehidupan sehari-hari. Dalam matematika, definisi rekursif sebuah fungsi adalah definisi fungsi yang menggunakan fungsi tersebut.

Kasus (Pemilihan Jalur Transportasi dengan Biaya Minimum)

Misalnya, suatu hari kita mau mengadakan perjalanan ke suatu kota ke arah barat. Perjalanan berantai merupakan satu - satunya cara yang ada pada transportasi umum untuk mengadakan perjalanan dari Timur menuju ke arah Barat. Pada peta digambarkan jalur perjalanan yang ada. Dari peta tersebut diketahui juga bermacam - macam jalur perjalanan berantai yang ada seperti pada gambar 1.

           

 Setiap kotak pada peta merupakan sebuah State, dan selanjutnya dalam tulisan ini kita sebut dengan istilah Kota. Simbol untuk State adalah s. Dan setiap State diberi nomor untuk memudahkan kita dalam melakukan operasi hitung. Kemudian jalur perjalanan dibagi menjadi empat stage atau Tahap seperti pada gambar 2.

          

 Angka-angka di antara kotak merupakan biaya perjalanan antar kota. Simbol untuk biaya adalah c, sedangkan s adalah kota asal dan j adalah kota tujuan. Jadi csj menunjukkan  biaya perjalanan dari kota asal s ke kota tujuan j. Nilai biaya perjalanan antar kota dibuat dalam angka kecil (satuan dan puluhan) untuk memudahkan hitungan.

 

Proses Perhitungan

Untuk memudahkan perhitungan, kita gunakan tabel. Ada satu tabel untuk setiap Stage n (Tahap n). Jadi untuk menyelesaikan perhitungan ini akan ada 4 tabel yaitu tabel 1, 2, 3, dan 4.Setiap tabel dibagi lagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu tabel sebelah kiri dan tabel sebelah kanan.

           

 Tabel sebelah kiri mempunyai baris untuk setiap State masukan (dalam pembahasan ini kita namakan Entering State/Kota Asal), dan juga mempunyai kolom untuk Tujuan (Decision). Tujuan (Decision) ini merupakan Kota Tujuan yang ada pada tahap berikutnya. Contoh untuk n = 1 atau kita sebut Tabel 1, ada dua baris untuk kota 8 dan kota 9, dan hanya ada satu kolom untuk kota 10, dimana kolom tersebut merupakan tujuan dari kota 8 dan kota 9. Pada pojok tabel sebelah kiri atas, terdapat simbol s yang merupakan simbol untuk Entering State/Kota Asal dan simbol j untuk Tujuan (Decision).

Untuk mengisi angka di dalam tabel, kita mulai dengan mengisi kolom pertama.Pada baris pertama kita isi dengan angka 8. Angka ini menunjukkan Kota Asal 8. Sedangkan pada baris kedua kita isi dengan angka 9 (Kota Asal 9). Kemudian pada baris Judul dibawah Tujuan (Decision), kita isi dengan angka 10.Angka 10 ini merupakan tujuan dari kota 8 dan kota 9.

Berikutnya, kita mengisi isian pada baris pertama kolom kedua. Angka di dalam sel ini merupakan biaya dari kota 8 ke kota 10 ditambah dengan jumlah total biaya perjalanan minimum dari kota 10 sampai kota terakhir.Sebagai catatan bahwa kota 10 merupakan kota terakhir, sehingga perjalanan berhenti di kota 10. Dengan demikian sudah tidak ada lagi biaya yang dikeluarkan untuk melakukan perjalanan (biayanya 0).Biaya dari kota asal (s) ke kota tujuan (j) diberi simbol csj. Sedangkan jumlah total biaya perjalanan minimum pada kota berikutnya diberi simbol fn-1(j).Biaya perjalanan dari kota 8 ke kota 10 adalah 1, sedangkan jumlah total biaya perjalanan minimum dari kota 10 sampai kota terakhir adalah 0 (karena perjalanan berhenti di kota 10). Sehingga perhitungan pada sel ini adalah 1 + 0 = 1.Untuk mengisi sel pada baris kedua kolom kedua, langkah perhitungannya sama dengan cara mengisi sel pada baris pertama kolom kedua.

Langkah selanjutnya yaitu kita memilih jumlah total yang paling kecil pada setiap baris. Caranya yaitu membandingkan angka-angka dalam sel yang ada di bawah kota-kota tujuan (Decision/Tujuan). Kemudian kita pilih angka yang paling kecil. Angka ini merupakan biaya terkecil atau minimum dan selanjutnya kita beri simbol fn(s). Sedangkan kota tujuan (Decision) yang memberikan biaya terkecil ini kita beri simbol jn(s). Kedua hitungan tersebut kita taruh pada tabel sebelah kanan. Untuk memperjelas isian pada sel-sel yang ada di tabel sebelah kanan pada tabel 1, kita bisa lihat asal usul dari setiap angka yang ada dalam sel tersebut. Sebagai tambahan, untuk saat ini warna kuning yang ada pada beberapa sel dalam tabel 1 ini kita abaikan terlebih dahulu. Dan akan kita jelaskan pada akhir perhitungan. Sampai di sini perhitungan untuk tabel 1 sudah selesai.

Proses perhitungan kita lanjutkan pada Tabel 2 (n = 2). Untuk masuk ke kota tujuan (dalam hal ini adalah kota 8 dan kota 9), kita dapat memilih dari salah satu kota yaitu dari kota 5, kota 6, atau kota 7. Untuk menempatkan kota-kota asal tersebut dalam tabel kita memerlukan tiga baris. Sedangkan kota-kota tujuan kita tempatkan pada kolom. Dengan demikian kita memerlukan dua kolom.

           

 Proses perhitungan Tabel 2 ini sebenarnya sama dengan proses perhitungan pada Tabel 1. Namun ada beberapa hal yang perlu dijelaskan di sini. Kita mulai dengan sel baris pertama kolom pertama yaitu asal usul penjumlahan 7 + 1. Angka 7 adalah biaya dari kota 5 ke kota 8, sedangkan angka 1 adalah total jumlah biaya minimum sampai ke kota 8 (angka ini bisa kita lihat pada kolom terakhir baris pertama pada Tabel 1). Penjumlahan pada sel-sel berikutnya di bawah kota tujuan 8, asal usulnya dan cara menghitungnya sama seperti itu. Hal ini berlaku juga untuk kota tujuan 9.

Selanjutnya adalah memilih biaya yang paling minimum. Contoh, kita lihat pada baris pertama. Pada sel di bawah kolom kota tujuan 8, hasil penjumlahan 7 + 1 adalah 8. Kemudian hasil ini kita bandingkan dengan hasil penjumlahan yang ada pada sel di bawah kota tujuan 9 (yaitu 5 + 4 = 9). Dari kedua hasil tersebut kita pilih angka yang paling kecil yaitu 8. Dan selanjutnya angka 8 tersebut kita tempatkan pada baris pertama kolom terakhir (kolom kedua dari tabel sebelah kanan).

Angka-angka yang ada pada kolom pertama tabel bagian kanan adalah merupakan kota tujuan(Decision), dimana kota tersebut bisa dijangkau dengan biaya yang minimum. Sebagai contoh kita lihat pada baris pertama pada Tabel 2. Cara menentukann kota tujuan (Decision) dengan biaya yang minimum yaitukita membandingkan hasil penjumlahan pada sel di bawah kota tujuan 8 dengan kota tujuan di bawah kota 9. Dalam contoh ini adalah 7 + 1 = 8 dibandingkan dengan 5 + 4 = 9. Dengan demikian kita memilih angka 8. Selanjutnya kita lihat sel dimana angka 8 ini berada, kemudian kita lihat ke atas (Tujuan/Decision). Ternyata kota tujuannya adalah kota 8. Nah angka 8 inilah yang kita tempatkan pada sel baris pertama kolom pertama pada tabel sebelah kanan Tabel 2. Untuk sel-sel di bawahnya pada kolom yang sama di isi dengan cara seperti di atas.

Analisa perhitungan untuk n = 3, kita tampilkan pada Tabel 3. Cara perhitungannya secara prinsip sama dengan Tabel 2. Sebagai catatan disini bahwa ada dua sel yang kosong. Hal ini disebabkan karena tidak adanya jalur dari kota 2 ke kota 7 dan jalur dari kota 4 ke kota 5. Sekali lagi kita lihat bahwa hanya data yang berasal dari Tabel 2 kolom terakhir yang kita masukkan untuk menghitung pada Tabel 3 ini. Sebenarnya inilah kunci dari semua perhitungan program dinamik.

          

Proses perhitungan berakhir pada n = 4 (Tahap 4). Hasil perhitungannya kita tampilkan pada Tabel 4. Di sana kita dapat melihat bahwa biaya minimum adalah f4(1) = 17 untuk j4(1) = 3. Artinya bahwa total biaya perjalanan yang paling minimum sebesar 17, dengan jalur dari kota 1 ke kota 3.

           

 

Jalur Transportasi dengan Biaya Minimum

Untuk menentukan jalur tansportasi yang mempunyai biaya minimum, kita harus menelusuri melalui tabel yang pernah kita buat. Caranya dengan melihat sel-sel pada setiap tabel yang diberi tanda warna kuning. Kita mulai dengan Tabel 4 (n = 4). Di sana kita menemukan bahwa jalur dengan biaya minimal adalah jalur dari kota 1 ke kota 3. Selanjutnya kita lihat  pada tabel 3 (n = 3). Kita bisa mengetahui bahwa dari kota 3 (baris kedua pada tabel), biaya yang paling minimum adalah kita melanjutkan perjalanan ke kota 7. Berikutnya kita lihat pada tabel 2 (n = 2). Pada tabel 2 kita bisa melihat bahwa ketika kita berangkat dari kota 7, jalur yang membutuhkan biaya minimum adalah menuju ke kota 9. Dan dari kota 9 kita mengakhiri perjalanan di 10. Sebagai kesimpulan, jalur perjalanan yang membutuhkan biaya yang minimum adalah jalur dari kota 1 ke kota 3, kemudian ke kota ke 7, selanjutnya ke kota 9, dan berakhir di kota 10. Dengan total biaya 5 + 7 + 1 + 4 = 17. Jalur transportasi yang mempunyai biaya minimum tersebut bisa kita lihat pada gambar 3.

           

 

Kesimpulan

Program dinamik (Dynamic Programming ) adalah suatu teknik matematika yang digunakan untuk mengoptimalkan proses pengambilan keputusan secara bertahap-ganda. Inti dari teknik ini adalah membagi satu persoalan menjadi beberapa bagian persoalan yang disebut tahap, kemudian memecahkan tiap tahap dengan mengoptimalkan keputusan atas tahap sampai seluruh persoalan telah terpecahkan. Keputusan optimal atas seluruh persoalan ialah kumpulan dari sejumlah keputusan optimal atas seluruh tahap yang kemudian disebut sebagai kebijakan optimal.

Salah satu penggunaan program dinamik (Dynamic Programming) adalah untuk menghitung hasil yang optimal dari setiap aspek dari perjalanan berantai. Perjalanan berantai artinya bahwa tiket yang kita beli hanya untuk dipakai sampai ke kota berikutnya, sedangkan untuk menuju kota selanjutnya lagi kita harus membeli tiket baru. Pada perjalanan berantai dimungkinkan adanya beberapa pilihan jalur yang bisa kita lalui untuk bisa sampai ke kota tujuan. Dalam kondisi seperti itu, biasanya kita akan menentukan salah satu jalur yang terbaik yang akan kita lalui dengan mempertimbangkan aspek tertentu.

 Pada pembahasan ini, aspek yang dibahas adalah permilihan jalur transportasi dengan memperhatikan biaya perjalanan yang minimum. Dari pembahasan diketahui bahwa jalur perjalanan yang membutuhkan biaya yang minimum adalah jalur dari kota 1 ke kota 3, kemudian ke kota ke 7, selanjutnya ke kota 9, dan berakhir di kota 10. Dengan total biaya 5 + 7 + 1 + 4 = 17.

 

 Referensi

Siagian, P. 2006. Penelitian Operasional. Teori dan Praktek. Jakarta, Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).

Wagner, Harvey.M. 1978. Principles of Operations Research. New Delhi, Prentice Hall of India Private Limited.

Yamit, Zulian. 2003. Manajemen Kuantitatif untuk Bisnis (Operations Research). Yogyakarta, Penerbit: BPFE-Yogyakarta.

 

 

KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN BAGI KEPALA SEKOLAH

KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN BAGI KEPALA SEKOLAH

 

Bambang Wijanarko

 

Abstraksi

 

Kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang lebih  memfokuskan/menekankan pada pembelajaran. Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepada semua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensinya.Kepemimpinan pembelajaran sangat penting dan signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa.Butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran menyarankan bahwa kepemimpinan pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh: (a) figur kepala sekolah yang mampu berpikir, bersikap, dan bertindak sebagai pemimpin pembelajaran, (b) kultur pembelajaran yang dikembangkan melalui pembangunan komunitas belajar di sekolah, dan (c) sistem/struktur yang utuh dan benar. Perilaku kepala sekolah (pemimpin pembelajaran), guru, dan karyawan berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan keefektifan (effectiveness).Siapapun yang ingin menjadi pemimpin pembelajaran harus memiliki 12 kompetensi sebagai berikut: (1) mengartikulasikan pentingnya visi, misi, dan tujuan sekolah yang menekankan pada pembelajaran, (2) mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum, (3) membimbing pengembangan dan perbaikan proses belajar mengajar yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan kelas, (4) mengevaluasi kinerja guru dan mengembangannya, (5) membangun komunitas pembelajaran, (6) menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional, (7) melayani kegiatan siswa, (8) melakukan perbaikan secara terus menerus, (9) menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif, (10) memotivasi, mempengaruhi, dan mendukung prakarsa, kreativitas, inovasi, dan inisiasi pengembangan pembelajaran, (11) membangun teamwork yang kompak, dan (12) menginspirasi dan memberi contoh.

 

Kata Kunci: Kepemimpinan, pembelajaran, kepala sekolah

            

 

A.  Pendahuluan

      Kepemimpinan pembelajaran yang kuat di sekolah, diulas oleh Hallinger dan Heck (1993). Mereka mereview mengenai beberapa penelitian empirik peran kepemimpinan pembelajaran dalam menghasilkan capaian lulusan yang baik. Mereka menyimpulkan bahwa meskipun kepemimpinan pembelajaran tidak secara langsung berkaitan dengan kegiatan pembelajaran, namun pengaruhnya terhadap pencapaian hasil belajar dapat terjadi. Kepemimpinan pembelajaran mencakup perilaku-perilaku kepala sekolah dalam merumuskan dan mengkomunikasikan tujuan sekolah, memantau, mendampingi, dan memberikan umpan balik dalam pembelajaran, membangun iklim akademik, dan memfasilitasi terjadinya komunikasi antar staf.

 Pengaruh kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) terhadap peningkatan hasil belajar siswa sudah tidak diragukan lagi. Sejumlah ahli pendidikan telah melakukan penelitian tentang pengaruh kepemimpinan pembelajaran terhadap peningkatan hasil belajar. Mereka menyimpulkan peningkatan hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan pembelajaran.Artinya, jika hasil belajar siswa ingin dinaikan, maka kepemimpinan yang menekankan pada pembelajaran harus diterapkan. Untuk lebih jelasnya, berikut dibahas tentang arti, tujuan, pentingnya kepemimpinan pembelajaran, butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran, dan kontribusi kepemimpinan pembelajaran terhadap hasil belajar.

A.     Kepemimpinan Pembelajaran

Kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran. Komponen-komponen kepemimpinan pembelajaran meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen, penilaian, pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah.

1)     Tujuan Kepemimpinan Pembelajaran

      Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepada siswa dan siswa mampu mengembangkan potensinya untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui dan sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen.

    Dengan kata lain, tujuan kepemimpinan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi pembelajaran agar terjadi peningkatan  prestasi belajar, kepuasan belajar, motivasi belajar, keingintahuan, kreativitas, inovasi, jiwa kewirausahaan, dan kesadaran untuk belajar sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni berkembang dengan pesat.

2)     Pentingnya Kepemimpinan Pembelajaran

     Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan disekolah karena mampu: (1) meningkatkan prestasi belajar siswa secara signifikan; (2) mendorong dan mengarahkan warga sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa; (3)  memfokuskan kegiatan-kegiatan warga sekolah untuk menuju pencapaian visi, misi, dan tujuan sekolah; dan (4) membangun komunitas belajar warga dan bahkan mampu menjadikan sekolahnya sebagai sekolah belajar (learning school).

Sekolah belajar memiliki perilaku-perilaku sebagai berikut: memberdayakan warga sekolah seoptimal mungkin; memfasilitasi warga sekolah untuk belajar terus dan berulang-ulang; mendorong kemandirian setiap warga sekolahnya; memberi kewenangan dan tanggungjawab kepada warga sekolahnya; mendorong warga sekolah untuk akuntabel terhadap proses dan hasil kerjanya; mendorong teamwork yang (kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah/cepat tanggap terhadap pelanggan utama yaitu siswa); mengajak warga sekolah untuk menjadikan sekolah berfokus pada layanan siswa; mengajak warga sekolah untuk siap dan akrab menghadapi perubahan, mengajak warga sekolah untuk berpikir sistem; mengajak warga sekolah untuk komitmen terhadap keunggulan mutu, dan mengajak warga sekolah untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus.

B.    Model-model Kepemimpinan Pembelajaran

Butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran tercakup dalam model-model berikut ini.

a.     Model Hallinger dan Murphy

Model Hallinger dan Murphy (1985), terdiri 3 dimensi dan 11 deskriptor yang dapat diringkas seperti tabel 1 berikut.

Dimensi

Deskriptor

Merumuskan misi

Merumuskan tujuan sekolah

Mengkomunikasikan tujuan sekolah

Mengelola Program pembelajaran

Mensupervisi dan mengevaluasi pembelajaran

Mengkoordinasikan kurikulum

Memonitor kemajuan pembelajaran siswa

Membangun iklim sekolah

Mengkontrol alokasi waktu pembelajaran

Mendorong pengembangan profesi

Memfokuskan pencapaian visi

Menyediakan insentif bagi guru

Menetapkan standar akademi

Memberikan insentif bagi siswa

Tabel 1. Dimensi dan Deskriptor

b.     Model Murphy 

Murphy (1990), mengembangkan 4 dimensi kepemimpinan yang selanjutnya diurai menjadi 16 peran atau perilaku. Kerangka kerja (model) tersebut diringkas seperti tabel 2 berikut.

Dimensi

Peran atau Perilaku

Mengembangkan misi dan tujuan

Merumuskan tujuan sekolah

Mengkomunikasikan tujuan sekolah

Mengembangkan fungsi produksi pendidikan

Mendorong pembelajaran bermutu

Mensupervisi pembelajaran

Mengontrol alokasi waktu pembelajaran

Mengkoordinasikan kurikulum

Memonitor kemajuan pembelajaran siswa

Mendorong iklim pembelajaran akademis

Membangun standar harapan positif

Memfokuskan pencapaian visi

Menyediakan insentif bagi guru dan siswa

Mendorong pengembangan profesi

Mengembangkan lingkungan kerja yang mendukung

 

 

Menciptakan lingkungan kerja yang tertib dan aman

Memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara bermakna

 

Mengembangkan kolaborasi  dan ikatan kohesif diantara staf

Menjamin sumber-sumber dari luar mendukung pencapaian tujuan sekolah

Membangun ikatan antara sekolah dengan keluarga siswa

Tabel 2. Dimensi dan Peran atau Perilaku

c.  Model Weber 

Weber (1996), mengidentifikasi lima domain utama kepemimpinan pembelajaran tanpa menguraikannya lagi secara lebih detil. Ke lima domain utama tadi adalah: (1) merumuskan misi sekolah, (2) mengelola kurikulum dan pembelajaran, (3) mendorong terciptanya iklim belajar yang positif, (4) mengobservasi dan memperbaiki pembelajaran, dan (5) melakukan penilaian program pembelajaran.

d.  Model Jones

Jones membagi kepemimpinan pembelajaran atas empat kuadran (A, B, C, dan D) seperti gambar berikut ini.

       Gambar 1. Kuadran Kepemimpinan Pembelajaran

e.  Model Direktorat Tenaga Kependidikan

Direktorat Tenaga Kependidikan (2009), memberikan 12 kompetensi pemimpin pembelajaranyaitu:(1) mengartikulasikan pentingnya visi, misi, dan tujuan sekolah yang menekankan pada pembelajaran, (2) mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum, (3) membimbing pengembangan dan perbaikan proses belajar mengajar yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan kelas, (4) mengevaluasi kinerja guru dan mengembangkannya, (5) membangun komunitas pembelajaran, (6) menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional, (7) melayani kegiatan siswa, (8) melakukan perbaikan secara terus menerus, (9) menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif, (10) memotivasi, mempengaruhi dan mendukung prakarsa, kreativitas, inovasi, dan inisiasi pengembangan pembelajaran, (11) membangun teamwork yang kompak, dan (12) menginspirasi dan memberi contoh.

Tidak ada model yang sempurna. Setiap model memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Model yang terbaik untuk diterapkan adalah model yang cocok dengan kebutuhan sekolah.

C.Kontribusi Kepemimpinan Pembelajaran terhadap Hasil Belajar

Pengaruh kepemimpinan pembelajaran tidak langsung bekerja pada proses pembelajaran di kelas, namun dengan kepemimpinan pembelajaran akan terbangun iklim akademik yang positif, komunikasi yang baik antar staf, perumusan tuntutan akademik yang tinggi, tekad untuk mencapai tujuan sekolah.

a)     Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin dan Manajer Konflik

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dan keberlangsungan suatu organisasi adalah pemimpin. Dalam konteks persekolahan, pemimpin yang dimaksud adalah kepala sekolah dengan tugas sebagai pemimpin dan pengelola.

Selaku orang yang memimpin, seorang kepala sekolah dituntut untuk melakukan aktivitas kepemimpinan. Kepemimpinan kepala sekolah yang dimaksud adalah usaha kepala sekolah dalam mempengaruhi,mendorong, membimbing, dan menggerakkan guru, staf, siswa, orang tua siswa dan pihak lain yang terkait untuk bekerja/berperan serta guna mencapaitujuan yang telah ditetapkan.

Dalam permendikbud (2007) dikemukakan pengelola sekolah, seorang kepala sekolah dituntut untuk mampu mengatur agar seluruh potensi sekolah berfungsi secara optimal. Dalam konteks manajemen konflik, maka mengelola konflik adalah juga “mengatur” potensi konflik dalam organisasi sekolah agar tetap optimal. Agar konflik dapat dikelola, maka peran yang dapat dilakukan Kepala Sekolah dapat dikategorikan dalam 3 bentuk:

1)  Peranan yang bersifat interpersonal, yaitu peran interaksi yang harus dilakukan pimpinan terhadap stake holder internal maupun eksternal. Menurut Siagian peran yang harus ditampilkan meliputi : (1) selaku simbol keberadaan organisasi. Peranan ini berupa aktivitas interaksi dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat legal dan seremonial; (2) selaku pemotivator. Peran ini berupa tanggung-jawab untuk memotivasi dan memberikan arahan kepada bawahannya; (3) selaku penghubung. Peran sebagai penghubung ini, untuk membentuk jaringan luas dengan memberi perhatian khusus bagi mereka yang mampu berbuat sesuatu bagi organisasi dan juga bagi pihak yang memiliki informasi yang diperlukan bagi organisasi.

2)  Peranan informasional, yaitu peran yang terkait dengan lalu lintas informasi. Menurut Siagian, peran tersebut terbagi atas tiga bentuk yakni : (1) pemantau arus informasi. Dalam hal ini, pemimpin harus mengambil langkah-langkah agar informasi yang bermutu yang diterima; (2) diseminator informasi. Peran ini menuntut pimpinan untuk memahami makna informasi yang diterima untuk disalurkan pada orang dalam organisasi; (3) juru bicara organisasi, yaitu penyalur informasi pada pihak luar organisasi.

3)  Peran pengambil keputusan, yang meliputi empat bentuk peran: (1) peran entrepreneur yaitu peran yang menuntut pemimpin untuk mampu mengkaji secara terus menerus situasi yang dihadapi oleh organisasi untuk dicari peluang yang dapat dimanfaatkan; (2) peredam gangguan, yaitu peran yang menuntut pimpinan untuk mampu mengambil tindakan korektif apabila organisasi menghadapi gangguan serius yang apabila tidak ditangani akan berdampak negatif kepada organisasi; (3) pembagi sumber daya, yaitu peran untuk mengalokasikan sumber dana dan daya organisasi; (4) perunding bagi organisasi, yaitu peran yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin dengan pihak-pihak yang berada di luar organisasi.

Dari ketiga peran di atas nampak pentingnya peran pemimpin dalam kaitannya dengan interaksi dengan orang “dalam” maupun orang “luar”. Sebagaimana definisi konflik sebagai sebuah interaksi, maka interaksi pemimpin dengan bawahan ini perlu dikelola secara baik agar dapat menjadi interaksi yang fungsional.

b)     Kepala sekolah sebagai Manajer dan Pemimpin

Kepala Sekolah sebagai manajer

       Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai manajer. Mulyasa, (2005: 103) mengemukakan bahwa kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerja sama atau kooperatif, memberikan kesempatan kepada para tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya, dan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam berbagai kegiatan yang menunjang program sekolah.

1)  Memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerja sama atau kooperatif dimaksudkan bahwa dalam peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolah, kepala sekolah harus mementingkan kerja sama dengan tenaga kependidikan dan pihak lain yang terkait dalam melaksanakan setiap kegiatan. Sebagai manajer kepala sekolah harus mau dan mampu memdayagunakan seluruh sumber daya sekolah dalam rangka mewujudkan visi, misi dan mencapai tujuan. Kepala sekolah harus mampu bekerja melalui orang lain (wakil-wakilnya), serta berusaha untuk senantiasa mempertanggungjawabkan setiap tindakan. kepala sekolah harus mampu menghadapi berbagai persoalan di sekolah, berusaha untuk menjadi juru penengah dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh para tenaga kependidikan yang menjadi bawahannya, serta berusaha untuk mengambil keputusan yang memuaskan bagi semua.

2)  Memberi kesempatan kepada para tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya, sebagai manajer kepala sekolah harus meningkatkan profesi secara persuasif dan dari hati ke hati. Dalam hal ini, kepala sekolah harus bersikap demokratis dan memberikan kesempatan kepada seluruh tenaga kependidikan untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Misalnya memberi kesempatan kepada bawahan untuk meningkatkan profesinya melalui berbagai penataran dan lokakarya sesuai dengan bidangnya masing-masing.

3)Mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan, dimaksudkan bahwa kepala sekolah harus berusaha untuk mendorong keterlibatan semua tenaga kependidikan dalam setiap kegiatan di sekolah (partisipatif). Dalam hal ini kepala sekolah bisa berpedoman pada asas-asas, yaitu: tujuan, keunggulan,  mufakat,kesatuan,persatuan,empirisme,keakraban,dan  integritas.
Kemampuan menyusun program sekolah harus diwujudkan dalam:
a) pengembangan program jangka panjang, baik program akademis maupun nonakademis, yang dituangkan dalam kurun waktu lebih dari lima tahun; b) pengembangan program jangka menengah, baik program akademis maupun nonakademis, yang dituangkan dalam kurun waktu tiga sampai lima tahun; c) pengembangan program jangka pendek, baik program akademis maupun nonakademis, yang dituangkan dalam kurun waktu satu tahun (program tahunan), termasuk pengembangan rencana anggaran pendapatan belanja sekolah (RAPBS). Dalam pada itu, kepala sekolah harus memiliki mekanisme yang jelas untuk memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan program secara periodik, sistemik, dan sistematik.

  Kemampuan menyusun organisasi personalia sekolah harus diwujudkan dalam pengembangan susunan personalia sekolah; pengembangan susunan personalia pendukung, seperti pengelola laboratorium, perpustakaan, dan pusat sumber belajar (PSB); serta penyusunan kepanitiaan untuk kegiatan temporer, seperti panitia penerimaan peserta didik baru (PSB), panitia ujian, dan panitia peringatan hari-hari besar keagamaan yang ada pada satuan pendidikan.
Kepala Sekolah sebagai Pemimpin

Pemimpin pada dasarnya mempunyai pokok pengertian sebagai sifat, kemampuan, proses, dan atau konsep yang dimiliki oleh seseorang sedemikian rupa sehingga ia diikuti atau dipatuhi, dihormati dan disayangi oleh orang lain dan orang lain itu bersedia dengan penuh keikhlasan melakukan perbuatan atau kegiatan yang dikehendaki oleh seseorang tersebut.
Bertolak dari dasar pengertian tersebut, terdapat beberapa batasan yang dikemukakan oleh beberapa cendikiawan sebagai berikut:

Menurut Arifin Abdulrahman:

“Kepemimpinan sebagai kemampuan seseorang untuk menggerakkan orang-orang mengikuti pemimpin”.

Menurut Charles B. Hicks & Irene Place :

“Leadership is the art of influencing human behavior, the ability to handle people”.

Menurut James A. F. Stoner:

“Leadership may be defined as the process of influencing and directing the task related activities of group member”.
Dari berbagai pengertian tersebut di atas dapat ditarik intinya bahwa kepemimpinan itu adalah sesuatu yang dimiliki oleh seseorang sehingga orang tersebut mampu menggerakkan orang-orang melakukan perbuatan atau tindakan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Kepemimpinan dalam organisasi kerja disebut dengan istilah kepemimpinan kerja, yaitu suatu kepemimpinan yang bersifat sebagai proses pengarahan terhadap pencapaian tujuan dan pembinaan atas tenaga atau orang-orang yang terlibat dalam proses pencapaian tujuan itu dengan cara mempengaruhi, memotivasi
, dan mengendalikannya.
    Berbicara masalah kepemimpinan tidak lengkap jika tidak membicarakan sekaligus subyeknya yaitu pemimpin
: orang yang karena sesuatu sebab dapat memiliki kekuasaan, kewenangan, kewibawaan, dan kekuatan lain serta dipatuhi dan diikuti sekelompok orang. Dimasyarakat terdapat dua jenis pemimpin, pertama pemimpin formal dan kedua pemimpin informal. Ditinjau dari segi kemasyarakatan, yang disebut pemimpin formal adalah orang-orang yang menduduki jabatan dalam pemerintahan, sedangkan pemimpin informal adalah orang-orang yang tidak menduduki jabatan pemerintahan, tetapi memiliki pengikut, dipatuhi, dan ditaati sekelompok orang. Secara popular sebutan demikian identik dengan sebutan “sesepuh” masyarakat. Faktor yang paling menonjol dalam diri pemimpin informal adalah kewibawaan. Dengan kewibawaan yang ada itulah ia diikuti, ditaati serta dipatuhi oleh orang-orang.

     Orang berusaha menumbuhkan wibawa pribadi, tetapi kurang menghayati adanya sumber yang harus digali, bahkan karena kurang kesadaran terhadapnya, orang serius menggunakan “kekerasan” untuk mencoba supaya “berwibawa”. Mungkin untuk beberapa saat yang relative singkat dapat berhasil, tetapi hal ini biasanya tidak dapat bertahan lama. Sebagai contoh dapat dikemukakan misalnya seorang atasan suatu unit kerja yang selalu datang ketempat kerja terlambat, suatu hari memarahi bawahan yang datang terlambat bahkan si bawahan ini dihukum dengan dipotong pendapatannya.

D.   Kesimpulan

     -  Kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran.

- Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepada semua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensinya.

-   Kepemimpinan pembelajaran sangat penting signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa.

- Butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran menyarankan bahwa kepemimpinan pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh: (a) figur kepala sekolah yang mampu berpikir, bersikap, dan bertindak sebagai pemimpin pembelajaran, (b) kultur pembelajaran yang dikembangkan melalui pembangunan komunitas belajar di sekolah, dan (c) sistem/struktur yang utuh dan benar.

- Perilaku kepala sekolah (pemimpin pembelajaran), guru, dan karyawan berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan keefektifan (effectiveness).

- Siapapun yang ingin menjadi pemimpin pembelajaran harus memiliki 12 kompetensi sebagai berikut: (1) mengartikulasikan pentingnya visi, misi, dan tujuan sekolah yang menekankan pada pembelajaran, (2) mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum, (3) membimbing pengembangan dan perbaikan proses belajar mengajar yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan kelas, (4) mengevaluasi kinerja guru dan mengembangannya, (5) membangun komunitas pembelajaran, (6) menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional, (7) melayani kegiatan siswa, (8) melakukan perbaikan secara terus menerus, (9) menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif, (10) memotivasi, mempengaruhi, dan mendukung prakarsa, kreativitas, inovasi, dan inisiasi pengembangan pembelajaran, (11) membangun teamwork yang kompak, dan (12) menginspirasi dan memberi contoh.

 

Referensi:

-   Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 Tanggal 17 April 2007, Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah

-     Weber L. 1996. Leading The Instructional Program. Clearing House ofEducational Management.

-     Mulyasa.E (2005). Menjadi Guru Profesional. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.

- Murfpy.J (1990) Preparing school Admistrators for the twenty-first century: The reform agenda In.B.Mitchel&L.L.Cuningham(Eds). Educational Leadership and changing Contects of families, Comonites, and Schools.Chicago: University of Chicago Press.

-  James A.F. Stoner (2012). Managing Climate change Busines Risks and Consequences. Leadership for Global Sustainability. Pulblisher: Palgrave macmilan.

-     Fink, Elaine and B. Resnicl, Lauren (2003). Developing Principals as Instructional Leaders.

KERUSAKAN KAYU AKIBAT PROSES PENGERINGAN

KERUSAKAN KAYU AKIBAT PROSES PENGERINGAN

Hartiyono (Widyaiswara Madya )

Departemen Bangunan PPPPTK BOE / VEDC Malang

 

Abstrak

     Perkembangan teknologi pengeringan kayu di Indonesia sangat pesat, mulai dari cara alami sampai penggunaan mesin pengering kayu modern. Tahapan proses pengeringan kayu secara umum, yaitu pemanasan awal pengeringan sampai titik jenuh serat, pengeringan sampai kadar air akhir, pengkondisian penyamaan atau pemerataan kadar air kayu (equalizing), dan pendinginan Ada beberapa cacat kayu dalam proses pengeringan, yaitu retak ujung dan permukaan; pengerasan kayu; retak dalam; perubahan bentuk; cacat kadar air tidak merata; dan perubahan warna kayu.

      Kata kunci : pengeringan, proses, cacat kayu.

 

1.        Pendahuluan

Perkembangan teknologi pengeringan kayu di Indonesia sangat pesat, mulai dari cara alami dengan memanfaatkan matahari sampai penggunaan mesin-mesin pengering kayu canggih dan modern.

Umumnya kesalahan utama yang sering terjadi adalah lemahnya perencanaan awal, yaitu perkiraan kapasitas produksi dan besarnya modal investasi yang terhitung dalam bentuk biaya pengoperasian mesin. Juga keterampilan operator sangat penting karena kesalahan pengendalian proses pengeringan berarti kerugian, seperti kayu pecah, melengkung, atau retak-retak. Lebih parah lagi bila terjadi kesalahan memilih mesin pengering, yang akan membawa kerugian investasi dan bahan kayu yang cacat.

 

2. Tujuan
Kayu sebagai bahan alam yang populer, mudah didapat, dan murah mampu ditingkatkan nilai ekonominya melalui pemberian perlakuan awal dengan proses pengeringan kayu yang baik, mudah, dan murah sehingga mudah dilakukan dan terjangkau bagi produsen maupun konsumen kayu.

3  . Manfaat
Kayu melalui proses pengeringan dapat menurunkan kadar air kayu sehingga terbentuk dimensi kayu yang stabil, mudah dalam pengerjaannya, dan menghindari cacat pada kayu sehingga nilai ekonomi dan nilai pakai kayu akan meningkat sehingga harga jual kayu akan semakin tinggi.

 

4. Dalam garis besar kerusakan yang timbul disebabkan oleh 3 hal :

4.1.        Akibat penyusutan kayu

4.2.        Serangan jamur pembusuk

4.3.        Bahan kimia di dalam kayu (zat ekstraktif)

 

4.1. Kerusakan Akibat Penyusutan Kayu

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

Terjadi pada saat kayu mengering. Umumnya pada pengeringan dengan kiln atau secara alami dapat timbul kerusakan akibat penyusutan ini, disebabkan kurang hati-hati dalam pelaksanaan. Di antara ketiga golongan kerusakan kayu, kerusakan oleh penyusutan adalah yang paling banyak terjadi. Hal ini perlu mendapat perhatian, agar kerusakan tersebut dapat dicegah dengan jalan menurunkan suhu atau menaikkan kelembaban udara. Kerusakanny biasanya bisa berupa retak pecah atau yang lainnya.

Cacat-cacat serupa yang diakibatkan penyusutan antara lain adalah :

·         Pecah ujung (end checks) dan pecah permukaan (surface checks)

·         Pecah dimulai pada bagian ujung kayu dan menjalar sepanjang papan

·         Retak di bagian dalam kayu (honeycombing)

·         Casehardening

·         Bentuk mangkok (cupping) : perubahan bentuk melengkung pada arah lebar kayu

·         Bentuk busur (bowing) : perubahan bentuk melengkung pada arah memanjang kayu

·         Menggelinjang (twist)

·         Perubahan bentuk penampang kayu (diamonding)

Cacat-cacat bentuk ini sukar dihindari, tetapi dapat dikurangi dengan cara penumpukan yang baik dan meletakkan beban pemberat pada bagian atas tumpukan serta tidak memberikan suhu yang terlalu tinggi selama proses pengeringan.

 

4.2. Kerusakan Akibat Serangan Jamur Pembusuk

 

 
 

 

 

 

 

 

 


Kerusakan ini terjadi pada permulaan pengeringan. Jamur itu sendiri sebenarnya telah melekat sebelum kayu tersebut dikeringkan dalam kiln. Yang banyak diserang umumnya adalah bagian kayu gubal. Karena jamur dapat tumbuh subur pada suhu yang rendah dan kelembaban yang tinggi, maka untuk mengendalikan kerusakan ini ialah dengan mempercepat pengeringan pada suhu lebih tinggi. Umumnya kerusakan ini hanya mengubah warna kayu, tidak menurunkan sifat mekanik kayu.

4.3. Kerusakan Akibat Bahan Kimia Di Dalam Kayu

 

                

 

5.  Kesimpulan

Teknologi pengeringan kayu yang cukup dikenal, yaitu Solar Kiln, Conventional Kiln, Vacuum Kiln dan Dehumidification Kiln. Proses pengeringan kayu secara umum melalui beberapa tahap, yaitu pemanasan awal (preheating); pengeringan sampai titik jenuh serat; pengeringan sampai kadar air akhir; pengkondisian (conditioning); penyamaan atau pemerataan kadar air kayu (equalizing); dan pendinginan (cooling down). Cacat pengeringan kayu dapat diakibatkan oleh faktor kondisi kayu sebelum diproses; mesin dan teknologi pengeringannya; atau kemampuan operator oven.

 

6. Referensi

Arganbright, D.G. 1989. Drying Process.In:Arno P. Schniewind, Robert W. Cahn dan Michael B. Bever (Eds.), Concise Encyclopedia of Wood & Wood-Based Materials,. Pergamon Press,Oxford, England. Budianto, A. Dodong. 1996. Sistem Pengeringan Kayu. Penerbit Kanisius, Semarang. Tsoumis, G. 1991. Science and Technology of Wood; Structure, Properties, Utilization. Van NostrandReinhold, New York. Wood Handbook. Wood as an Engineering. 1999. Forest Product Laboratory.

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG