Desain Ruangan Untuk Rumah Anda

Desain Ruangan Untuk Rumah Anda

Disusun oleh : Drs. Andreas Mulyono,MT

Widyaiswara P4 TK BOE Malang

A.  Abstrak.

Di tahun 2015 ini, trend properti menunjukkan semakin bertambahnya minat masyarakat terhadap rumah minimalis. Selain karena harganya yang lebih murah dibanding dengan rumah tipe standar, rumah minimalis juga menawarkan konsep hunian yang simpel namun tetap nyaman bagi penghuninya.

Dalam membuat rumah minimalis, tentunya pembaca memerlukan perencanaan mengenai desain interior rumah yang diinginkan, sehingga gambar denah rumah minimalis harus dikreasikan supaya nantinya pembagian ruang dalam rumah sesuai dengan yang benar-benar diinginkan.

1.  Desain kamar tidur utama klasik.

2.  Desain Kamar tidur utama modern

3.  Desain Kamar tidur utama minimalis

4.  Desain Kamar tidur anak perempuan

5.  Desain Kamar tidur anak laki-laki.

6.  Desain Ruang Tamu

7.  Desain Ruang Keluarga/ruang makan

8.  Desain Kamar Mandi Utama

9.  Desain Kamar Mandi Anak

10.         Desain Dapur

Kata kunci : desain ruang rumah anda

B.Pembahasan.

1.  Desain kamar tidur utama klasik.

Mengangkat desain klasik, tetapi penuh sentuhan nuansa elegan yang membuat kamar utama ini terasa sangat istimewa. Selain itu, perpaduan warna yang lembut dengan lantai kayu, juga semakin membuat kamar tidur ini terasa nyaman.

Kamar utama ini sangat luas, dengan konsep modern yang memadukan warna dominan cokelat dan putih . Menariknya, kamar ini memiliki tembok kaca dengan sebuah tirai yang bisa dibuka, untuk melihat pemandangan keluar dengan lebih leluasa.

Desain kamar tidur utama klasik

2.  Kamar utama modern

Konsep modern ini terasa elegan dengan paduan warna hitam, krem, dan juga merah.  Kamar ini terasa lega karena tak terlalu banyak barang yang diletakan didalamnya, selain karena ukurannya yang memang cukup luas.

 

Desain Kamar Tidur utama modern

 

 

 

3.  Kamar utama minimalis

Seperti halnya kamar hotel bintang 5 kelas Luxury, kamar ini terlihat sangat mewah dan elegan. Kamar ini tak hanya sebagai tempat istirahat, tetapi juga ada space untuk sekedar menonton TV sambil bersantai, dan juga meja kerja yang berada di sisi kamar.

Desain Kamar tidur utama

4.  Desain Kamar tidur anak perempuan

    Model Tempat Tidur Minimalis yang Cantik nan Elegan Seiring dengan perkembangan model rumah dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, tentu ada beberapa furniture.Almari Pakaian dan meja belajar adalah merupakan barang yang biasanya terdapat pada ruang kamar tidur anak anak kita semua.

    Desain Kamar Tidur anak, rumah minimalis modern telah menjadi primadona sebagian orang karena desainnya yang menawan namun simpel.

Desain Kamar tidur anak perempuan

 5.Desain Kamar tidur anak laki-laki.  

    Konsep untuk desain kamar tidur anak saat ini memang sangat banyak ragamnnya. Mulai dari desain yang mewah hingga yang sederhana, mungkin semuanya bisa anda direalisasikan tergantung berapa budget dan kemampuan finansial anda. Sifat anak-anak yang fleksibel dan sedikit manja membuat semua keinginannya harus diwujudkan termasuk ketika si anak menginginkan desain kamar tidurnya. pada umumnya anak-anak menginginkan kamar tidur yang berwarna warni dan memiliki ciri khas tersendiri. untuk itu kami akan meberikan contoh desain kamar tidur anak yang bisa anda jadikan referensi untuk medesain kamar anak anda.

Desain Kamar tidur anak laki-laki.  

6.  Desain Ruang Tamu

Setiap penghuni pasti mendambakan ruang tamu yang asri dan nyaman. Ruang yang biasa dipakai menerima tamu dan terkadang  tempat untuk berkumpul anggota keluarga.  Kondisi ruang tamu mewakili dan mencerminkan kepribadian penghuni rumah sehingga harus selalu tertata cantik dan terjaga kebersihannya. Di bawah ini contoh beberapa gambar desain ruang tamu rumah minimalis.

 

Desain Ruang Tamu

 

 

7.  Desain Ruang Keluarga/ruang makan

Area ruang keluarga dan ruang makan merupakan dua tempat berbeda fungsi yang sering dijadikan dalam satu ruangan. Perkembangan model-model desain seperti ini tak luput dari kesadaran para pemilik hunian untuk mendapatkan kesan lega dan lapang pada rumah idaman mereka.

Penyekatan antara satu ruangan dengan ruang lain menggunakan tembok mulai ditinggalkan karena memperkuat kesan sempit, kecil, dan sumpek. Alternatifnya, anda bisa memilih desain rumah minimalis dengan konsep penyatuan antara ruang kelurga dengan ruang makan. Bahkan kalau space rumah anda tidak terlalu besar, penyatuan antara ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang makan bisa saja dilakukan. Anda hanya tinggal menggunakan lemari TV yang simpel, atau divider, atau bisa juga menggunakan tirai minimalis untuk memisahkan ruang tamu dengan ruang keluarga. jadi, meskipun tidak dibatasi dengan tembok, namun area dalam rumah anda masih tetap terjaga privasi nya.

Kali ini, kita mencoba lebih berfokus pada ruang keluarga dan ruang makan saja dengan asumi ada area lain untuk ruang tamu di rumah anda.Namun, desain ruang keluarga juga bisa alih fungsi menjadi ruang tamu.

Desain Ruang Keluarga/ruang makan

8.  Desain Kamar Mandi Utama

Kamar mandi merupakan suatu ruangan yang penting juga untuk dimiliki oleh tiap rumah. Kamar mandi bisa disesuaikan desain dan ukurannya sesuai kebutuhan masing-masing. Jika rumah memiliki ukuran yang kecil atau tidak terlalu luas, maka kamar mandi bisa dibuat dengan ukuran yang sesuai juga. Tapi kebanyakan sekarang ini orang menerapkan kamar mandi minimalis sederhana untuk rumahnya. Selain tidak terlalu banyak makan tempat, model kamar mandi sederhana juga memiliki nilai lebih dalam desainnya. Desain interior kamar mandi yang minimalis cenderung lebih simpel dan juga lebih modern.

Adanya kamar mandi dengan desain yang minimalis memberikan tampilan yang berbeda untuk interior rumah. Salah satu dampak baik adanya kamar mandi dengan desain yang minimalis adalah menghemat pengeluaran uang dan juga dapat menghemat space rumah yang bisa dimanfaatkan untuk ruangan lain. Itulah mengapa banyak orang sekarang memanfaatkan perkembangan desain interior untuk diaplikasi di tiap ruangan pada rumah mereka. Meskipun kamar mandi sifatnya pribadi, tapi tidak ada salahnya jika didesain sedemikian bagus untuk menyenangkan hati penghuninya.

Karena memiliki konsep yang minimalis dan juga modern, kamar mandi dengan model minimalis menjadi pilihan yang disukai. Selain karena terlihat lebih modern, pemakaian perabotannya juga terkesan lebih elegan dan juga mewah. Namun jika memiliki kebatasan ukuran, kamar mandi dengan ukuran yang kecil juga bisa menjadi pilihan jalan keluarnya. Tapi meskipun kecil, tapi untuk terlihat lebih nyaman harus memperhatikan beberapa aspek seperti pemakaian pada cat dindingnya. Konsep yang paling mendasar dalam kamar mandi dengan model minimalis sederhana adalah pemakaian aspek fungsionalits serta aksesoris ruangan yang cenderung lebih simpel dan memiliki fungsi penggunaan yang tinggi.

Seperti misalnya pada lemari. Beberapa model kamar mandi dengan konsep sederhana dan minimalis menggunakan lemari gantung dan tidak diletakkan di lantai. Hal ini berfungsi untuk memberikan space di bawahnya  yang bisa digunakan untuk toilet. Atau pada tutup lemari diganti dengan yang terbuat dari cermin. Sehingga selain berfungsi untuk bercermin, cermin juga dapat memberikan efek luas pada kamar mandi yang ukurannya kecil. Atau ada lagi kamar mandi yang sederhana lebih menggunakan shower ketimbang bak mandi, dan menggunakan gantungan ketimbang menggunakan rak.

Dengan memiliki ukuran yang terbatas, tentu saja diperlukan cara atau ide yang tepat untuk memberikan ruang kamar mandi tidak menjadi semakin sempit. Pemilihan perabotan yang paling dibutuhkan adalah cara yang tepat untuk mengurangi menggunakan perabotan yang berlebihan untuk diletakkan di kamar mandi. Pilih yang simpel dan juga tidak terlalu besar ukurannya. Hindari menggunakan rak dan gunakan gantungan untuk menggantung handuk atau pakaian mandi. Bak yang kecil juga menjadi solusi yang bagus. Pilih juga ubin lantai yang ukurannya besar agar memberikan kesan luas pada kamar mandi.

Meletakkan ubin dengan arah diagonal akan memberikan efek luas pada kamar mandi. Hindari menggunakan warna cat tembok yang gelap. Sebaiknya pakai cat tembok yang berwarna terang agar ruang kamar mandi terkesan lebih luas. Anda bisa memberikan sedikit nilai artistic untuk ruang kamar mandi anda. Seperti misalnya dengan memasang cermin dengan bingkai atau bentuk yang unik. Atau bisa memilih cermin yang terbuat dari kayu atau batu pada bingkainya. Desain kamar mandi yang sederhana dan juga minimalis hanya menekankan pada nilai fungsional serta ditambah pada nilai estetika itu saja.

 

Desain Kamar Mandi Utama

9.    Desain Kamar Mandi Anak

Kamar mandi merupakan salah satu ruangan yang tentunya wajib ada dalam sebuah hunian. Keberadaan yang sangat krusial, tentunya menjadi salah satu alasan mengapa desain dari kamar mandi semakin mengalami perkembangan yang semakin bagus. Dan pada kesempatan kali ini, kami mencoba untuk sedikit membahas mengenai Desain Kamar Mandi Anak yang mungkin bisa menjadi salah satu sumber inspirasi bagi Anda.

Sebagian orang mungkin kesulitan mengajak atau membujuk anak  untuk mandi, karena desain kamar mandi anak yang dimiliki tidak sesuai dengan kesenangan mereka, hal ini tentunya akan mengurangi  minat mereka untuk pergi ke kamar mandi. Untuk itu di perlukan suatu desain kamar mandi anak yang bagus, agar orang tidak perlu lagi susah-susah mengajak anak  untuk mandi.

Ukuran dari bak kamar mandi dan beberapa perlengkapan kamar mandi juga harus disesuaikan dengan minat dari anak  nantinya. Misalnya saja bagi yang memiliki anak perempuan.Tentunya bisa menambahkan beberapa aksesoris seperti boneka, handuk bergambar kartoon kesukaan mereka, atau bahkan gambar cartoon kesukaan mereka pada dinding kamar mandi.

Sementara untuk anak laki-laki bisa dengan menambahkan berbagai karakter idola anak kecil kesukaan anak. Sehingga sang anak tidak lagi takut masuk ke kamar mandi namun merubahnya seolah berada di tempat bermain saja. Untuk membuat sebuah Desain Kamar Mandi Anak, bisa didapatkannya dari beberapa sumber. Seperti sumber media baca ataupun media internet.Orang bisa dengan mudah mencontoh karakteristik desain kamar mandi untuk anaknya tersebut. Karena seperti diketahui, saat ini sudah banyak contoh desain kamar mandi anak yang bisa kita tiru dan di aplikasikan dalam desain rumah anda.

 

Desain Kamar Mandi Anak

 

C.    Kesimpulan :

·         Tata letak dan desain interior tiap ruang berperan penting dalam menciptakan kesan rumah  yang elegan .nyaman,dan modern.Penulis telah menyajikan bebrapa gambar desain tiap ruang rumah modern yang dapat dijadikan referensi bagi pembaca dalam merencanakan denah rumah yang sesuai. Dengan tiga buah kamar tidur yang saling berdekatan akan membuat orang tua mudah dalam memperhatikan aktivitas anak.

 

·         Rumah minimalis modern dengan konsep yang disatukan dari berbagai konsep yang ada seperti yang telah penulis sebutkan tersebut dapat dijadikan acuan bagi pembaca dalam merancang hunian yang ideal untuk ditinggali. Penentuan konsep yang dilakukan sejak awal akan memudahkan dalam membuat rancangan desain tiap ruang  rumah minimalis sehingga nantinya rumah yang diinginkan benar-benar bisa dirasakan kenyamanannya serta memiliki kesan yang elegan.

Referensi :

1.  http://3.bp.blogspot.com/-4ACIXKloncw/Usg8eZobyOI/AAAAAAAAAJ4/_yk3H6UOg4o/s1600/design+kamar+tidur+anak+laki-laki.jpg

2.  http://minimalisdesainrumah.blogspot.com/2013/02/desain-kamar-mandi-minimalis-modern.html

3.  http://www.rumah4minimalis.com/2014/02/desain-kamar-mandi-anak-minimalis.html

     4.  http://rumahminimalisanda.com/gambar-denah-rumah-minimalis-1-lantai-3-kamar-tidur-sederhana-modern/

BAHAN PENUTUP ATAP PADA BANGUNAN / RUMAH

BAHAN PENUTUP ATAP PADA BANGUNAN / RUMAH

Hartiyono (Widyaiswara Madya )

Departemen Bangunan PPPPTK BOE / VEDC Malang

 

Bahan Atap Rumah.jpg - 63.11 KB

 

ABSTRAK

 

Atap merupakan bagian dari bangunan gedung (rumah) yang letaknya berada dibagian paling atas, sehingga untuk perencanaannya atap ini haruslah diperhitungkan dan harus mendapat perhatian yang khusus dari si perencana (arsitek).Karena dilihat dari penampakannya ataplah yang paling pertama kali terlihat oleh pandangan setiap yang memperhatikannya.Untuk itu dalam merencanakan bentuk atap harus mempunyai daya arstistik.Bisa juga dikatakan bahwa atap merupakan mahkota dari suatu bangunan rumah. Atap sebagai penutup seluruh ruangan yang ada di bawahnya, sehingga akan terlindung dari panas, hujan, angin dan binatang buas serta keamanan.

 

Atap merupakan bagian dari struktur bangunan yng berfungsi sebagai penutup/pelindung bangunan dari panas terik matahari dan hujan sehingga memberikan kenyamanan bagi penggunaan bangunan. 

 

Kata kunci : Bahan, Penutup atap, Bangunan/Rumah

 

 

 

A.           Latar Belakang

 

Pembangunan sarana dan prasarana fisik, terutama perumahan ataupun gedung tentu membutuhkan penutup atap. Pengertian umum tentang atap adalah  suatu bahan yang menutupi bagian atas perumahan dan berfungsi sebagai pelindung bangunan terhadap pengrusakan yang disebabkan oleh siraman air hujan, terpaan sinar matahari, serta tiupan angin. Oleh karena itu sangat dibutuhkan bahan penutup atap yang baik, yaitu penutup atap yang memenuhi persyaratan kuat, ringan dan kedap air. Atap rumah biasanya menggunakan seng atau genteng. Genteng merupakan bahan bangunan sebagai alternatif pengganti seng yang dibuat dari campuran, semen, pasir dan air dengan komposisi tertentu.

 

Pemakaian genteng beton oleh masyarakat cukup beralasan karena hanya membutuhkan sedikit pemeliharaan, mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan konstruksi, mampu memikul beban yang berat, tahan terhadap temperatur yang tinggi dan tahan terhadap serangan api serta tahan korosi.

 

 

 

B.         Perancangan Atap Yang Baik

 

Atap dapat dikatakan berkualitas jika strukturnya kuat/kokoh dan awet/tahan lama.Faktor iklim menjadi bahan pertimbangan penting dalam merancang bentuk dan konstruksi atap/bangunan.

 

Keberadaan atap pada rumah sangat penting mengingat fungsinya seperti payung yang melindungi sisi rumah dari gangguan cuaca (panas, hujan dan angin). Oleh karena itu,sebuah atap harus benar-benar kokoh/kuat dan kekuatannya tergantung pada struktur pendukung atap. Mengacu pada kondisi iklim perancangan atap yang baik ditentukan 3 faktor, yakni jenis material,bentuk/ukuran,dan teknik pengerjaan.

 

 

 

1.           Jenis Material Struktur Dan Penutup Atap

 

Penentuan material tergantung pada selera penghuni,namun harus tetap memerhatikan prinsip dasar sebuah struktur yaitu harus kuat,presisi,cukup ringan,dan tidak over design. Atap yang kuat harus mampu menahan besarnya beban yang bekerja pada elemen struktur atap.

 

Ada 3 jenis beban yang bekerja pada atap yaitu:

 

a.      beban berat sendiri (bahan rangka,penopang rangka,dan penutup atap),

 

b.      beban angin tekan dan angin hisap,dan

 

c.      beban bergerak lain (berat manusia saat pemasangan dan pemeliharaan).

 

Pemilihan bahan tertentu harus diikuti oleh pengetahuan yang lengkap akan karakteristik setiap bahan.

 

1.         Bentuk & ukuran

 

Dibandingkan hujan dan panas,angin merupakan faktor yang paling

 

 diperhitungkan demi menjamin atap yang kuat. Beberapa masalah akibat angin kencang antara lain:penutup atap yg terbang,gording terlepas,kuda-kuda terangkat,dan kolom kayu bergeser atau terangkat.

 

Atap yang baik adalah yang dapat menerima beban angin yang sama dari segala arah (idealnya adalah bentuk atap bulat). Bentuk ini sangat berpengaruh pada besarnya tekanan angin yang bekerja pada bangunan. Semakin tinggi bangunan akan semakin besar tekanan angin. Tekanan angin bekerja lebih ringan bila tinggi bangunan lebih kecil dari setengah lebar bangunan.Kemiringan atap yang memberikan beban angin yg rendah adalah antara 10°-30°. Untuk sudut yang lebih besar dari dari 30°,perlu kekuatan yg lebih baik dan penutup yg sesuai.

 

 

 

2.            Teknik Pengerjaan

 

Penutup atap dari seng dan asbes gelombang harus diikat pada gording dengan paku paling sedikit 6 paku tiap 1 m2.

 

 genteng harus diikat dengan kawat tiap 5 jalur genteng, sedangkan untuk genteng yang ada lubangnya dapat dipakukan ke reng.

 

Pengerjaan atap harus dibuat secermat mungkin sesuai dengan karakteristik yang mengikuti setiap jenis bahan.Beberapa contoh persyaratan berikut ini harus diikuti.

 

a.      Bentang Maksimal

 

Setiap jenis material memiliki karakteristik tersendiri.Rangka atap baja memiliki kemampuan bentang lebih panjang daripada material kayu. Baja atau kayu,dapat disambung dengan sambungan khusus dengan memerhatikan dimensi/ukuran batang dan perilaku gaya pada batang yang akan disambung.

 

b.       Teknik Sambungan

 

Kekuatan sambungan antar elemen yang digunakan untuk rangka juga harus diperhatikan. Misalnya,kayu yang mempunyai keterbatasan ukuran maka penyambungan yang baik dan benar adalah kunci kekuatan atap.

 

 

 

 

 

Ada 2 metode menyambung kayu,yaitu :

 

1.  Baut (tanpa plat/dengan plat T/dengan plat L) pilih diameter yang tepat agar kayu tidak pecah ketika dibaut. Jumlah baut disesuaikan dengan kekuatan struktur yang akan membebani sambungan tersebut dan dimensi kayunya.

 

2.  Paku dimensi paku disesuaikan dengan dimensi kayu,yakni 2x ketebalan kayu yg disambung.

 

 

 

3.     Pemasangan

 

Kerapian pemasangan penutup atap (presisi), jika menggunakan genteng, maka

 

jarak reng harus sesuai spesifikasi dan rekomendasi dari produsen.Beberapa contoh pengerjaan atap yang tidak cermat sering terjadi pada jurai dalam, yaitu terdapatnya sambungan tekuk ke bagian dalam; susunan atap yang tidak berpresisi; atau bidang atap yang bergelombang akibat dari pemasangan reng yg tidak rapi.Semua ini mengakibatkan munculnya gangguan pada atap dan mempengaruhi kekuatan atap.

 

 

 

4.  Keawetan material

 

Awet atau tidaknya atap dikaitkan dengan faktor lingkungan termasuk cuaca dan organisme perusak yang dapat menyebabkan menurunnya kemampuan struktur. Misalnya,serangan rayap terhadap kayu. Kayu yang diserang akan terlihat masih utuh meski bagian dalamnya keropos. Maka,untuk menciptakan atap yang kuat perlu dilakukan teknik perlindungan terhadap material bangunan. Contohnya,sebelum digunakan kayu harus diberi treatment yang dapat meningkatkan daya tahan kayu. Bahan dari metal biasanya diberi coating atau lapisan khusus yang melindungi material dari korosi atau karat.

 

 

 

C.        Macam dan Jenis penutup atap

 

1. Atap ijuk dan alang-alang

 

Kalau Anda pernah ke Bali, pasti akan sangat familiar dengan bahan atap ijuk yang diigunakan pada arsitektur tradisional Bali. Boleh saja Anda gunakan jenis atap ini apabila ingin membuat bangunan dengan nuansa tradisional atau vernakular.Atap ijuk dibuat dari serabut palem aren. Ijuk digunakan sebagai bahan penutup atap dengan dibentuk ikatan sepanjang 120cm dan diameter 6cm. Ikatan tersebut dijepit dengan bilah bambu, lalu diikatkan ke reng. Lapisan ijuk minimal 2 lapis, semakin tebal lapisannya akan semakin lama daya tahannya. Atap ijuk dengan kualitas yang baik bisa mencapai umur hingga 30 tahun.

 

 

 

2. Atap Rumbia

 

Atap Rumbia terbuat dari helai daun rumbia yang dirangkaikan hingga berbentuk sisir lalu diikat pada sebatang tongkat atau bambu yang berfungsi sebagai reng setiap 20 cm. Atap rumbia hanya memiliki daya tahan sekitar 3-4 tahun.

 

Baik atap ijuk dan alang-alang mempunyai kelebihan terutama pada aspek estetika dan nuansa tradisionalnya.Kelemahannya adalah ketersediaan bahan dengan kualitas yang baik di pasaran, sistem pemasangan yang sedikit rumit, dan umur yang relatif pendek (untuk bahan atap rumbia).

 

 

 

 

3. Atap Sirap.

 

Sirap yang tersedia di pasaran terbuat dari 2 jenis bahan.Sirap alami yang berbahan dasar kayu dan sirap buatan yang berbahan dasar fiber-cement.Sirap kayu terbuat dari kayu kelas awet yang berserat lurus, bebas dari mata kayu dan retak. Terdapat sirap kayu kecil dengan panjang 50-60cm, lebar 7-10cm, tebal 1-3cm, dan sirap kayu besar yang berbentuk seperti papan dengan panjang 40-93cm, lebar 10-47cm, tebal 3-5mm. Sedangkan sirap buatan dari bahan fiber-cement tersedia dalam ukuran yang bermacam-macam. Cara pemasangan sirap alami dan sirap buatan hampir sama. Sirap dipasang selang-seling sebanyak 2,3, atau 4 lapis dengan dipaku pada reng. Terdapat juga sirap tradisional yang terbuat dari bambu yang dibelah, lalu dipotong sepanjang 40cm dan diruncingkan ujungnya.Atap sirap banyak dipergunakan untuk bangunan-bangunan dengan style kolonial.Selain itu, seperti telah dibahas pada bagian pertama, atap sirap mempunyai kelebihan bisa dipasang pada atap dengan sudut yang hampir mendekati vertikal.Kekurangannya adalah pada aspek biaya.Atap sirap alami cukup mahal karena harus terbuat dari kayu dengan kualitas baik.

 

 

 

4. Atap Asbes

 

Asbes sering digunakan untuk bangunan berbiaya rendah.Tidak hanya karena harga materialnya yang murah.Atap asbes juga memerlukan rangka atap yang lebih jarang.Asbes langsung dipasang pada gording, sehingga tidak memerlukan usuk dan reng.

 

Asbes tersedia dalam 2 jenis, yaitu asbes gelombang besar dan asbes gelombang kecil. Untuk asbes gelombang besar, ukuran yang tersedia adalah panjang 100, 125, 150, 180, 210, 240, 270, 300cm, dengan lebar 108cm. Untuk asbes gelombang besar, overlap sambungan di ujung adalah 25cm, dan 8 cm di bagian tepi. Untuk asbes gelombang kecil, ukuran yang tersedia adalah 150, 180, 210, 240, 270, 300cm dengan lebar 105cm. Untuk asbes gelombang kecil, overlap sambungan di ujung adalah 25cm dan 7,5cm di bagian tepi.

 

 

 

5. Atap Seng dan Aluminium Gelombang

 

Atap seng gelombang tersedia dalam ukuran 183 x 76cm, sedangkan atap aluminium gelombang tersedia dalam ukuran 200 x 83,6cm dengan tebal 0.5, 0.7, 0.8, atau 1.0 mm. Ketika dipasang memerlukan overlap sebesar 20cm pada bagian panjang, dan 11,4 cm pada bagian tepi.

 

 

 

 

6. Atap Metaldeck

 

Atap jenis ini mempunyai banyak nama alias d pasaran, yaitu spandek, bondek, trimdek, kliplok, hingga galvalum dan zincalume yang sebetulnya lebih ke arah nama jenis material penyusunnya. Atap metal deck ini biasa dipergunakan untuk bangunan-bangunan dengan bentang atap lebar, misalnya pabrik, swalayan, dll.Tersedia dalam lebar 600mm s/d 1000mm dengan berbagai jenis profil permukaan. Panjangnya biasanya hampir tidak terbatas, karena supplier material ini dapat langsung membawa mobil yang memuat roll material ke lokasi proyek.

 

Atap asbes, seng, aluminium, dan metaldeck mempunyai karakter yang hampir sama. Kelebihannya adalah biaya yang hemat dan beban konstruksi yang ringan.Tapi kelemahannya juga cukup banyak, yang pertama adalah aspek estetika.Asbes dan seng sudah terlanjur identik dengan rumah bagi golongan yang kurang mampu. Yang kedua adalah atap asbes dan seluruh atap dengan bahan dasar metal mempunyai sifat meneruskan radiasi panas matahari yang cukup besar pada ruangan di bawahnya. Kelemahan lain adalah bahan metal akan berisik apabila ditimpa hujan. Bahan asbes sendiri cukup banyak dihindari, karena partikelnya yang diduga bersifat karsinogenik, yaitu menyebabkan kanker.Untuk mengatasi kelemahan berbagai jenis atap lembaran ini, lahirlah jenis atap yang berbahan dasar bitumen selulose.

 

Selain itu saat ini juga sudah tersedia material serupa asbes gelombang asbestos free (partikel penyebab kanker) yang terbuat dari bahan fiber-cement.Kandungan semen dalam jenis material ini menimbulkan karakteristik material yang waterproof, kuat, dan memiliki insulasi panas yang cukup baik.             

 

 

 

7. Atap Bitumen Selulose

 

Jenis material atap ini, terbuat dari fiber selulosa, bitumen, dan resin, memiliki berbagai kelebihan.Atap ini lentur, sehingga mudah dibentuk menyesuaikan bentuk atap, berbobot ringan sehingga tidak membebani konstruksi bangunan, insulasi panas yang baik karena karakteristik bahan penyusunnya, tidak bising ketika ditimpa hujan, dan memiliki variasi warna yang cukup banyak.Apakah ada kelemahannya?Tentu ada, yaitu relatif lebih mahal daripada jenis atap lembaran lainnya.Tersedia dalam lembaran dengan cetakan berbentuk seperti genteng atau asbes gelombang dengan berbagai warna.

 

 

 

D.        Kesimpulan

 

Dalam kondisi lingkungan sangat memegang peranan penting. Lingkungan dengan kerimbunan pepohonan dapat meredusir panas dan menghasilkan temperatur lingkungan yang lebih rendah dari sekitarnya yang tidak terlindung oleh kerimbunan pohon. Dengan demikian memberikan konstribusi positif bagi pengaruh kenyamanan di dalam suatu bangunan.

 

 

 

Bentuk atap yang tidak memiliki sirkulasi udara di dalam atap, memberikan konstribusi panas di ruang dibawahnya, yang mempengaruhi kenyamanan. Namun tanpa upaya memberikan sirkulasi udara yang baik, akan menurunkan kwalitas bangunan itu sendiri.

 

 

 

E.        Referensi

 

-     Frank, W.,Raumklima und thermische Behaglichkeit Berlin, Verlag Wilhelm Ernst & Sohn K.G.1975.

 

-     Iqbal, M.,An Introduction to Solar Radiation, Aca-demic Press, Canada. 1983.

 

-     Koentjaraningrat,Kebudayaan Jawa, Jakarta, PNBalai Pustaka. 1984.

 

-     K Ismunandar, R,Joglo Arsitektur Rumah Tradisio-nal Jawa, Semarang, Dahara Prize. 1990.

 

-     Mehra, S.R.,Umdruck zur Vorlesung: Bauphysik f ̧rStudenten des Bauingenieurwesens Univ.Stuttgart, Stuttgart. 1998.

 

-     Purwanto, L.M.F.,Arsitektur Pemukiman Tropis,Handout Program Pasca Sarjana S2, MagisterTeknik Arsitektur, Universitas Katolik Soegi-japranata. 2005.

PENGGUNAAN ALAT BANTU CEKLIS AUDIT INTERNAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENEMUKAN EVIDEN DALAM AUDIT INTERNAL BAGI PESERTA DIKLAT AUDIT INTERNAL GURU SMK DI PPPPTK BIDANG OTOMOTIF DAN ELEKTRONIKA MALANG

PENGGUNAAN ALAT BANTU CEKLIS AUDIT INTERNAL  UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENEMUKAN EVIDEN DALAM AUDIT INTERNAL BAGI PESERTA DIKLAT AUDIT INTERNAL GURU SMK DI PPPPTK BIDANG OTOMOTIF DAN ELEKTRONIKA MALANG

 

 Dalono

 

PPPPTK/VEDC Malang, Jl. Teluk Mandar Arjosari Malang

 

Dalono_arwana@yahoo.com.au.

 

 ABSTRAK

 

        Salah satu profil Sekolah Menengah Kejuruan bertaraf internasional sekolah tersebut harus memiliki Sertifikat Sistem Manajemen Mutu ( SMM ) ISO 9001 : 2000 yang diperoleh dari lembaga indipenden yang menyelenggarakan sertifikasi untuk lembaaga/ institusi yang mengimplementasikan SMM ISO 9001 : 2000

 

        Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan ( PPPPTK ) bidang Otomotif dan Elektronika Malang tahun 2008, struktur program diklatnya adalah: (1) Teknik Audit dengan waktu 10 jam @ 45 menit, (2) Ceklis dan tela’ah standar ISO 9001 : 2000 dengan waktu 10 jam @ 45 menit, (3) Praktek Audit dengan waktu 10 jam @ 45 menit, dan (4) Laporan Audit dengan waktu 10 jam @ 45 menit  ( Program Diklat 2008 ).  Sebagai persyaratan peserta, ( 1 ) peserta barasal dari wakil – wakil Unit Kerja SMK, ( 2 ) pernah mengikuti pemahaman SMM ISO 9001 : 2000, ( 3 ) Sudah bekerja di SMK asal minimal 2 tahun. ( Program Diklat 2008 )

 

      Kemampuan peserta diklat  dalam memanfaatkan ceklis Audit Internal pada sa’at ini masih rendah sehingga tidak dapat mengungkap eviden secara obyektif. Dalam Proses diklat Audit Internal peneliti belum memanfa’atkan ceklis Audit Internal sebagai alat Bantu proses diklat Audit Internal

 

Hipotesis penelitian tindakan dikat adalah: melalui pemanfaatan alat bantu berupa ceklis audit internal dapat meningkatkan kemampuan peserta diklat guna menemukan eviden dalam kegiatan praktek Audit Internal bagi peserta diklat Audit Internal

 

        Berdasarkan tindakan dan refleksi yang dilakukan dari Tindakan awal ke  tindakan siklus I dari 2.23 menjadi 2.54, meningkan sebesar 7.75%.  Berdasarkan standar nilai PPPPTK Malang pada saat kondisi awal ke tindakan siklus I ada kenaikan kemampuan peserta sebesar 31.82 % . Tindakan Siklus I dan II rata – rata nilai yang diperoleh dari 22 responden sebesar 2.63 berarti naik sebesar 2.25 %.  Berdasarkan standar nilai PPPPTK Malang pada tindakan siklus I ke Tindakan Siklus II terjadi peningkatan kemampuan sebesar 36.36 %. Dengan demikian secara teoritik dan emperik menunjukan hasil positip, hipotesis melalui pemanfaatan alat bantu berupa ceklis audit internal dapat meningkatkan kemampuan peserta diklat guna menemukan eviden dalam kegiatan praktik Audit Internal bagi peserta diklat Audit Internal, diterima.

 

Kata kunci: Alat Bantu, Sistem Manajemen Mutu, ISO 9001:2000, Ceklis, Audit Internal

 

 PENDAHULUAN

 

                        Kompetensi yang harus dikuasai peserta Diklat Audit Internal meliputi Teknik Audit, Pembuatan Ceklis Audit, Tela’ah standar ISO 9001:2008, Praktek Audit dan Pembuatan Laporan Audit. Dalam pelaksanaan Praktek Audit Internal peserta harus menggunakan Ceklis Audit Internal sebagai alat bantu untuk mendapatkan bukti fisik peluang perbaikan kinerja organisasi. Kemampuan peserta diklat dalam memanfaatkan ceklis Audit Internal pada saat ini masih rendah sehingga ceklis tidak dapat mengungkap bukti fisik secara obyektif. Dalam Proses Diklat Audit Internal peneliti belum memanfaatkan ceklis Audit Internal yang mengacu pada persyaratan standar ISO 9001:2008 mulai pasal 4 sampai dengan pasal 8 sebagai alat Bantu proses Diklat Audit Internal.

 

            Kemampuan peserta Diklat dalam membuat ceklis Audit Internal pada saat ini masih rendah sehingga ceklis tidak dapat mengungkap bukti fisik secara obyektif. Diharapkan kemampuan peserta diklat dalam menganalisis pasal – pasal ISO 9001 : 2008 disesuaikan dengan kegiatan-kegiatan di SMK menjadi kunci agar supaya peserta Diklat mampu membuat ceklis Audit Internal. Sedangkan tujuan umum penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan peserta Diklat dalam menemukan bukti Audit Internal sebagai bahan untuk mengidentifikasi peluang-peluang menemukan upaya perbaikan bagi organisasi.Sedangkan tujuan secara khusus dalam pendidikan dan pelatihan tersebut untuk meningkatkan kemampuan peserta guna menemukan bukti-bukti obyektif dalam kegiatan praktek Audit Internal melalui pemanfaatan alat bantu ceklis Audit Internal.

 

Menjadi suatu keharusan peneliti memaanfaatkan ceklis Audit Internal untuk digunakan peserta Diklat sebagai alat bantu untuk mendapatkan bukti peluang perbaikan organisasi dalam pelaksanaan  praktek Audit Internal.Peneliti memanfaatkan ceklis Audit Internal untuk digunakan sebagai alat bantu mengajar peserta Diklat untuk mendapatkan bukti peluang perbaikan organisasi dalam pelaksanaan praktek Audit Internal.

 

Pengertian Pendidikan dan Pelatihan

 

Menurut Pusdiklat Pegawai Depdiknas 2003Pendidikan dan Pelatian didfinisikan sebagai bagian dari manajemen sumberdaya manusia (MSM) yang mencakup pendayagunaan sumber daya manusia, manajemen peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan manajemen lingkungan kerja sumber daya manusia. Peningkatan kemampuan sumber daya manusia adalah pengalaman belajar yang terorganisasi, yang dilaksanakan dalam waktu tertentu, untuk meningkatkan kemungkinan bagi pegawai, peningkatan kinerja dan berkembang dalam organisasi. Peningkatan kemampuan sumberdaya manusia terdiri atas pelatihan, pendidikan dan pengembangan atau apapun istilah yang dipakai untuk mengidentifikasi perbedaannya.

 

Diklat Audit Internal

 

Diklat Audit Internal yang telah didesain Pusat Pengembangan pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) bidang Otomotif dan Elektronika Malang tahun 2008, bertujuan: (1) mempersipan petugas audit internal di Institusinya, (2) meningkatkan pemahaman standar ISO 9001 : 2008 melalui pembuatan ceklis dan daftar pertanyaan, (3) pembekalan keterampilan audit melalui praktik audit internal, dan (4) pembekalan pembuatan laporan hasil audit internal. Sedangkan struktur program Diklatnya adalah: (1) Teknik Audit dengan waktu 10 jam @ 45 menit, (2) Ceklis dan telaah standar ISO 9001:2008 dengan waktu 10 jam @ 45 menit, (3) Praktek Audit dengan waktu 10 jam @ 45 menit, dan (4) Laporan Audit dengan waktu 10 jam @ 45 menit (Program Diklat 2008). Sebagai persyaratan peserta, (1) peserta barasal dari wakil-wakil Unit Kerja SMK, (2) pernah mengikuti pemahaman SMM ISO 9001:2008, (3) Sudah bekerja di SMK asal minimal 2 tahun (Program Diklat 2008).

 

Alat Bantu Mengajar

 

Alat bantu mengajar atau media pembelajaran ada beberapa pengertian seperti yang disampaikan Rossi dan Breidle (1966) dalam Sanjaya (2007) media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah, dan sebagainya. Alat-alat tersebut apabila digunakan dan diprogramkan untuk pendidikan dan pelatihan maka merupakan media pembelajaran. Selanjutnya Sanjaya (2007) menyatakan bahwa media pengajaran meliputi perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat keras adalah alat-alat yang dapat mengantarkan pesan seperti overhead proyektor, radio, televisi dan sebagainya. Perangkat lunak adalah isi program yang mengandung pesan seperti informasi yang terdapat pada transparasi atau buku dan bahan-bahan cetakan lainnya, materi yang disuguhkan dalam bentuk bagan, grafik, diagram, tabel termasuk didalamnya adalah checklist dan question card.

 

Audit Internal

 

Audit Internal merupakan bagian dari suatu proses Implementasi Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9000:2008 pada suatu Institusi, apakah institusi itu merupakan Institusi Negeri maupun Institusi Swasta baik yang bergerak dalam bidang jasa maupun produk berupa barang. Tidak menutup kemungkinan untuk Institusi yang bergerak dalam bidang jasa pendidikanpun dapat mengimplementasikan sistem ini.

 

Pengertian audit adalah suatu proses secara sistematis, mandiri, terdokurnentasi untuk memperoleh bukti objektif dan menilainya secara objektif untuk menentukan kriteria audit telah dipenuhi.Audit internal, kadang-kadang dinamakan audit pihak kesatu, dilakukan oleh, atau atas nama, organisasi sendiri untuk tujuan internal dan dapat merupakan dasar bagi pernyataan diri organisasi tentang kesesuaiannya persyaratan terpenuhi

 

Dalam standar ISO 19011 versi tahun 2008 menyatakan rangkaian ISO 9000 dan ISO 14000 dari Standar Internasional menekankan pentingnya audit sebagai suatu alat manajemen untuk memantau dan memverifikasi keefektifan penerapan kebijakan mutu dan atau lingkungan organisasi. Audit juga bagian dari kegiatan asesmen kesesuaian seperti sertifikasi/registrasi eksternal dan penilaian rantai pasokan dan survaillance.

800x600 Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 st1\:*{behavior:url(#ieooui) } /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman","serif";}

METODOLOGI

 

Kerangka berfikir penelitian tindakan Diklat diuraikan dalam bentuk diagram proses seperti dalan gambar1

 


   Hipothesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian tindakan Diklat adalah: melalui pemanfaatan alat bantu berupa ceklis audit internal dapat meningkatkan kemampuan peserta Diklat guna menemukan bukti-bukti dalam kegiatan praktek Audit Internal bagi peserta Diklat Audit Internal yang diselenggarakan oleh PPPPTK bidang Otomotif dan Elektronika Malang

 

HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN

 

Kondisi Awal

 

       Kondisi awal tanpa perlakuan mehasikan hasil yang kurang memuaskan ditinjau dari dasar analisis nilai rata – rata menunjukan jumlah nilai responden dibawah rata – rata nilai sebanyak 16 responden  dari 22 responden atau setara 72.27 %, sedangkan yang mendapat nilai diatas nilai rata – rata sebanyak 6 responden dari 22 responden atau setara dengan 27. 27 %

 

 

       
   
 
 

Sumber: Data Analisis

Gragik 2: Standar Nilai PPPPTK Malang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Siklus I

 

       Reflaksi Tindakan Siklus I, bila dibandingkan dengan kondisi awal.  Maka tindakan siklus I jauh lebih baik, nilai rata – rata kondisi awal sebesar 2.23 sedangkan pada Tindakan Siklus I nilai rata – rata sebesar 2.54 atau ada kenaikan sebesar 7.75 %.  Sedangkan berdasar pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dan pengamat ada perbedaan yang sangat jelas antara kegiatan kondisi awal dengan kegiatan pada tindakan siklus I, pada kondisi awal suasan serba tidak teratur masing – masing responden saling tergantung pada responden lain, sementara pada tindakan siklus I masing – masing kelompok bekerja sesuai dengan tanggung jawab dan wewenang masing. Suasana audit sangat kondosif, ini membuktikan antara teori dan kenyataan terbukti ada peningkatan kemampuan

 

responden. Lebih jelas dapat dilihat Grafik 4.5: Nilai kondisi awal dan Siklus I, seperti berikut ini:

 

       
   
 
 

Sumber: Data Analisis

Gragik3:Nilai Kondisi awal dan Siklus I Malang

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

       Ditinjau dari perolehan nilai pada kondisi awal yang memperoleh nilai dengan kata gori cukup sebesar 22 responden atau sebesar 100 %, sedangkan pada kondisi Tindakan Siklus I yang memperoleh nilai dengan kata gori cukup sebanyak 15 respoden atau sebasar 68.18 % terdapat penurunan sebasar 21. 82 %.  Sedang responden mendapat nilai baik sebanyak 7 responden atau sebesar 21.82 %., dengan demikian sacara kuantitas ada kenaikan kualitas sebasar 21.82 %.

 

Siklus II

 

Reflaksi Tindakan Siklus II, bila dibandingkan dengan Tindakan SiklusI.  Maka tindakan siklus II jauh lebih baik, nilai rata – rata Tindakan Siklus sebesar 2.54 sedangkan pada Tindakan Siklus I nilai rata – rata sebesar 2.63 atau ada kenaikan sebesar 2.25 %.  Sedangkan berdasar pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dan pengamat ada perbedaan yang sangat jelas antara kegiatan Tindakan Siklus I dengan kegiatan pada tindakan siklus II, pada TindakanSiklus I suasana sudah cukup baik, sedang pada tindakan siklus II situasi jauh lebih baik, masing – masing kelompok bekerja sesuai dengan tanggung jawab dan wewenang masing. Suasana audit sangat kondosif, ini membuktikan antara teori dan kenyataan terbukti ada peningkatan kemampuan responden.Lebih jelas dapat dilihat Grafik 4: Nilai kondisi siklus I dan Siklus II, seperti berikut ini:

 

 

       
 
 
   

Sumber: Data Analisis

Gragik 5:Nilai Tindakan Siklus I danTindakan Sklus II PPPPTK Malang

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Hasil analisis pada kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II menunjukan hasil kenaikan yang siknifikan yaitu dari nilai rata-rata 2,23 menjadi 2,54 dan menjadi 2,63.

 

Dengan demikian melalui pemanfaatan alat bantu berupa ceklis audit internal dapat meningkatkan kemampuan peserta Diklat guna menemukan bukti-bukti dalam kegiatan praktek Audit Internal bagi peserta Diklat Audit Internal yang diselenggarakan oleh PPPPTK bidang Otomotif dan Elektronika Malang, Maka hipotesis yang diajukan terbukti

 

PENUTUP

Simpulan

 

        Berdasarkan tindakan dan refleksi yang dilakukan dari Tindakan awal nilai rata – rata dari 22 responden menunjukan sebesar 2.23 sedangkan nilai rata – rata pada tindakan siklus I menjadi 2.54 atau meningkan sebesar 7.75%.  Ditinjau dari perolehan nilan berdasarkan standar nilai PPPPTK Malang pada saat kondisi awal semua responden mendapat kata gori cukup atau sama dengan 100%.  Pada tindakan siklus I responden yang mendapat kata gori Cukup sebanyak 15 respondek atau setara 68.18 %, responden yang mendapat kata gori Baik sebanyak 7 responden atau setara 31.82 %.  Dengan demikian ada kenaikan kemampuan peserta sebesar 31.82 % dari kondisi awal ke kondisi tindakan siklus I.   Dibandingkan dengan Tindakan Siklus I dan II rata – rata nilai yang diperoleh dari 22 responden sebesar 2.63 berarti naik sebesar 2.25 %.  Ditinjau dari perolehan nilan berdasarkan standar nilai PPPPTK Malang pada saat pada tindakan siklus I responden yang mendapat kata gori Cukup sebanyak 15 responden atau setara 68.18 %, responden yang mendapat kata gori Baik sebanyak 7 responden atau setara 31.82 %.  Pada Kondisi Tindakan Siklus II responden yang mendapat kata gori Cukup sebanyak 7 respondek atau setara 31.82 %, responden yang mendapat kata gori Baik sebanyak 15 responden atau setara 68.18 %  atau terjadi peningkatan kemampuan responden sebesar 36.36 %.

 

      Dengan demikian secara teoritik dan emperik menunjukan hasil positip, dengan demikian hipotesis melalui pemanfaatan alat bantu berupa ceklis audit internal dapat meningkatkan kemampuan peserta diklat guna menemukan eviden dalam kegiatan praktik Audit Internal bagi peserta diklat Audit Internal yang diselenggarakan PPPPTK Malang bertempat di SMK Negeri 2 Manado,  diterima.

 

Saran

 

Bagi PPPPTK Malang

 

Perlu dilakukan Penelitian Tindakan Diklat serupa dengan variabel tetap maupun variabel bebas yang berbeda untuk dapat meningkat mutu diklat di organisasi ini.

 

Bagi Kepala Sekolah

 

Dalam implementasi SMM ISO 9001 : 2000, untuk mendapatkan eviden dalam audit internal para auditor untuk selalu menggunakan dan mengembangkan Ceklis Audit Internal dalam upaya meningkatkan kenerja organisasi.

 

Bagi Guru

 

Guna terus meningkatkan kompetensi sebagai seorang auditor internal, sangat penting penguasaan pasal – pasal standar ISO 9001 : 2000 di identifikasikan dengan proses – proses disertai bukti fisik yang terjadi di Sekolah.  Oleh karena Standar ini bersifat jenerik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim, 2006. Petunjuk Pelaksanaan Program Imbal Swadaya Persiapan SMK Internasional 2.2.38 – PS , Direktorat Pembinaan SMK, Jakarta

 

Anonim, 2007. Salinan Permen  Pendidikan Nasional No: 8 tentang: Organisasi dan Tata kerja Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

 

Anonim, 2000, Persyaratan Standar ISO 19011 : 2000, ISO/IEC, London.

 

Hasan, A.S.K. 1999. Penerapan Total Quality Management dan ISO 9000 dalam Pendidikan Teknik, Jilid 1 - 4, LPTK dan ISPI, Malang.

 

PPPPTK. 2008. Panduan Diklat Audit Internal, PPPPTK bidang Otomotif dan Elektronika,  Malang.

 

PPPPTK. 2008. Dokumen Mutu, PPPPTK bidang Otomotif dan Elektronika,  Malang.

 

Supriyanto, A dan Rohmat, A . 2002. Pengembangan dan Implementasi Total Quality Management pada Sistem Layanan Akademik, Jilid 9, LPTK dan ISPI, Malang.

 

Usman, H. 2006. Sistem Manajemen Mutu Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jilid 13, LPTK dan ISPI, Malang.

 

Wiraadmadja,R. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas, PT kenanga Rosedakarya, Bandung.  

ANALISIS PERCEPATAN WAKTU DAN BIAYA PROYEK DENGAN MENGGUNAKAN METODE CRASHING

ANALISIS PERCEPATAN WAKTU DAN BIAYA PROYEK  DENGAN MENGGUNAKAN METODE CRASHING

Singgih Budi Sayogo, Widyaiswara Madya PPPPTK BOE Malang

 

 

ABSTRAK

               Analisis waktu dan biaya pelaksanaan proyek merupakan unsur penting dalam pelaksanaan suatu proyek, terjadinya keterlambatan dalam suatu pelaksanaan proyek akan menyebabkan pembiayaan melampaui batas anggaran yang direncanakan, bila jadwal dan waktu tidak terkendali sebagaimana mestinya maka akan merugikan berbagai pihak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari waktu pelaksanaan konstruksi yang optimal dan mengevaluasi biaya atau dana pelaksanaan konstruksi dalam kaitannya dengan waktu pelaksanaan yang telah dioptimalkan pada pelaksanaan pembangunan Gedung Pendidikan dan Pelatihan Tahap IV P4TK / VEDC Malang Adapun metode yang digunakan untuk menganalisis adalah dengan menggunakan metode Crashing,  Kurva S, Diagram batang atau Gant Chart. Pada pelaksanaan pembangunan Gedung Pendidikan dan Pelatihan Tahap IV P4TK /VEDC Malang terjadi percepatan waktu pelaksanaan proyek sehingga terjadi pengurangan biaya dari anggaran yang sudah direncanakan. Konsep nilai hasil atau yang lebih dikenal dengan earned value method, yang secara umum dapat juga dikenal sebagai teknik integritas biaya dan waktu, mempunyai konsep dasar tentang penilaian progres pelaksanaan lapangan dengan skala yang terdiri dari dua variabel yaitu biaya dan waktu  sehingga dari hasil penelitian terjadi selisih biaya sebesar Rp 51.793.943.77  yang didapat dari rencana anggaran semula sebesar Rp 958.990.797.23 menjadi Rp 1.010.784.741.00 . Berdasarkan perhitungan waktu didapatkan perkiraan waktu total proyek adalah 213 hari. Sedangkan menurut rencana sesuai dengan schedule selesainya proyek adalah 303 hari, sehingga terjadi percepatan waktu sebesar 90 hari dari rencana semula.

Kata kunci : biaya dan konsep nilai hasil, percepatan, waktu pelaksanaan

 

Pendahuluan

       Pada industri konstruksi ketentuan mengenai biaya, mutu dan waktu penyelesaian pekerjaan konstruksi sudah terikat di dalam kontrak dan ditetapkan sebelum pelaksanaan pekerjaan konstruksi dikerjakan. Seperti diketahui, waktu penyelesaian yang dibutuhkan untuk proses pekerjaan konstruksi selalu dicantumkan dalam dokumen kontrak karena akan berpengaruh penting terhadap nilai pelelangan dan pembiayaan pekerjaannya sendiri.

Waktu pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang tidak terkendali  sebagaimana mestinya akan dapat menyebabkan pemilik akan mengalami kesulitan biaya dalam penyelesaian pekerjaan suatu proyek, demikian pula dengan kontraktor akan dapat mengalami kerugian biaya sehingga kontraktor dalam hal ini harus selalu berusaha untuk mengendalikan waktu pelaksanaan  yang dituangkan dalam jadwal rencana kerja yang telah ditentukan, dalam proses pekerjaan konstruksi tanpa mengabaikan pengendalian mutu. Waktu, biaya dan mutu ketiganya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan .

Rangkaian dalam kegiatan konstruksi adalah saling berurutan dan saling berkaitan. Dalam perencanaan suatu proyek, seorang pengambil keputusan seringkali dihadapkan pada suatu pilihan dalam menetapkan sumber daya yang tepat, misalnya jumlah tenaga kerja, peralatan, metode dan teknologi untuk melaksanakan suatu kegiatan proyek konstruksi.

Setiap pemilihan aktivitas yang ditetapkan akan bermuara pada waktu, biaya, dan mutu dari suatu kegiatan proyek. Untuk proyek konstruksi pada umumnya mutu merupakan elemen yang harus tetap dipertahankan agar selalu sesuai dengan perencanaan, sedangkan apabila terjadi adanya keterlambatan waktu pelaksanaan proyek atau karena atas permintaan dari owner/pemilik proyek untuk mempersingkat waktu pelaksanaannya, maka perlu dilakukan usaha percepatan waktu pelaksanaan proyek.

Pelaksanaan 35 Proyek Pemerintah Mengalami Keterlambatan Serius. Lembaga donor yang tergabung dalam CGI, seperti Bank Dunia, ADB, JBIC menemukan adanya 35 proyek yang dimonitor Bappenas menglami keterlambatan serius dalam pelaksanaannya. Keterlambatan tersebut selain disebabkan keterlambatan penerbitan dokumen anggaran pengeluaran pembangunan, masalah pembebasan tanah, tidak mencukupinya dana pendamping dalam bentuk rupiah, lemahnya manajemen proyek, jaminan simpanan (backlog) yang cukup tinggi, dan adanya penolakan sebagian masyarakat di beberapa daerah. Proyek Departemen Kimpraswil yang mengalami keterlambatan serius antara lain Segara Anakan Conservation & Development Project, Northern Sumatera Irrigation Agricultural Sector (ADB) dan Bili-Bili Irrigation (JBIC), Kompas, 2003.

 Dengan perencanaan yang tepat, maka seluruh kegiatan proyek dapat dimulai  dan selesai pada waktu yang secepatnya dengan alokasi waktu yang cukup, dengan biaya yang serendah mungkin, serta dengan mutu yang dapat diterima.

1. Kurva S Sebagai Pengendali Proyek

       Curve S dapat dimanfaatkan untuk mengungkapkan secara grafis arus kas pembiayaan suatu proyek konstruksi. Hal tersebut dimungkinkan karena lazimnya pembiayaan pembayaran untuk kontraktor didasarkan pada prestasi kemajuan pekerjaan, baik secara berkala bulanan/persentase prestasi.

Arus kas pembiayaan konstruksi dapat dilihat pada Gambar 1.

                 

Gambar 1. Arus kas pembiayaan konstruksi (Dipohusodo, 1996)

Untuk mendapatkan kemajuan pekerjaan menurut curve (a), kontraktor harus mampu membiayai kegiatannya terlebih dahulu sesuai curve (b), selanjutnya dilakukan realisasi pembayaran kepada kontraktor yang pada gambar diestimasikan sesuai dengan curve (c).

Ada 2 cara pengolahan jadwal pekerjaan proyek (Badri, 1991), yaitu :

a. Network Planning

Sistem ini dimaksudkan untuk merencanakan dan mengendalikan sejumlah besar kegiatan yang memiliki hubungan ketergantungan kompleks dalam masalah design-engineering, konstruksi, dan pemeliharaan. Usaha-usaha ditekankan untuk mencari metode yang dapat memperkecil biaya dalam hubungannya dengan kurun waktu penyelesaian suatu kegiatan.

b. Bar Chart

Diagram balok/bar chart disusun dengan maksud mengidentifikasi unsur waktu dan urutan dalam merencanakan suatu kegiatan, yang terdiri dari saat mulai dan saat penyelesaian. Agar ukuran yang digunakan untuk setiap pekerjaan dalam menghitung bobot sama, maka satuan tiap pekerjaan dinyatakan dalam satuan uang (rupiah).

2. Jalur Kritis

       Untuk menentukan kegiatan yang bersifat kritis, dan kemudian menentukan jalur kritis, dapat dilakukan hitungan ke depan (Forward Analysis) dan hitungan ke belakang (Backward Analysis). Hitungan ke depan (Forward Analysis) dilakukan untuk mendapatkan besarnya Earliest Start (ES) dan Earliest Finish (EF). Sebagai kegiatan predecessor adalah kegiatan i, sedangkan kegiatan yang dianalisis adalah kegiatan j, (Bennett, 1996).

Besarnya ESjdan EFj dihitung sebagai berikut :

 ESj = ESi + SSij atau

ESj  = EFi + FSij                                                                     (1)                    

EFj = ESi + SFij atau Efj = EFi + FFij atau ESj + Dj               (2)

Catatan :

a. Jika ada Iebih dan satu anak panah yang masuk dalam suatu kegiatan, maka diambil nilai terbesar.

b. Jika tidak ada diketahui FSij atau SSijdan kegiatan non splitable, maka ESj dihitung dengan cara berikut:

ESj = EFj – Dj                                                                         (3)                                                    

Perhitungan ke belakang (Backward Analysis) dilakukan untuk mendapatkan besarnya Latest Start (LS) dan Latest Finish (LF), sebagai kegiatan successor adalah kegiatan j sedangkan kegiatan yang dianalisis adalah kegiatan i.

Besarnya nilai LSjdan LFjdihitung sebagai berikut:

 LFi = LFj -  EFij atau

LFi =  LSj – FSij                                                                      (4)

 LSi = LSj - SSij atau

LSj =  LFj -  SFij atau LFi – Di                                                 (5)

 

Catatan :

a. Jika ada lebih dari satu anak panah yang masuk dalam suatu kegiatan, maka   diambil nilai terkecil.

b. Jika tidak ada diketahui FFijatau FSijdan kegiatan non splitable, maka LFjdihitung dengan cara berikut:

LFj = Lsi – Di                                                                           (6)                                                                   

Jalur kritis ditandai oleh beberapa keadaan sebagai berikut:

 ES = LS                                                                                  (7)

 SF = LF                                                                                  (8)

 LF - ES = Durasi kegiatan                                                      (9)

 

3. Metode Percepatan Proyek

        Untuk mempercepat pelaksanaan proyek dilapangan ada beberapa metode yang bisa digunakan yaitu :

Ø Metode Crashing

Ø TCTO (Time Cost Trade Of Analysis)

Ø Metode Fast Track

Ø Metode Least Cost Analysis

 

a.    Metode Crashing

            Kondisi yang paling sering di alami pada suatu proyek konstruksi adalah terbatasnya waktu pelaksanaan. Berdasarkan kenyataan yang ada dilapangan, sering terjadi perpanjangan waktu pelaksanaan akibat kurang cermatnya perencanaan, kurang rapinya manajemen pelaksanaan, kurang logis dan realitisnya hubungan antar aktivitas yang membawa dampak perpanjangan waktu serta membengkaknya biaya penyelesaian proyek.

     Dasar pertimbangan seorang manajer proyek dalam memutuskan  percepatan waktu dengan menggunakan  metode crashing adalah sebagai berikut :

a)    Waktu pelaksanaan proyek yang sudah terlambat dari jadwal semula,  sehingga perlu dilakukan percepatan waktu.

b)    Waktu proyek normal dipercepat dengan menerapkan metode Crashing agar waktu penyelesaian lebih awal untuk meningkatkan performance dan profil dari pengembang/kontraktor.

Cara crashing hampir selalu berarti peningkatan biaya. Pertambahan biaya yang diakibatkan percepatan waktu/crashing adalah jumlah biaya langsung untuk menyelesaikan atau melaksanakan kegiatan dengan durasi yang dipercepat.

     Project crashing ini melibatkan empat langkah yaitu :

1.    Tentukan critical path normal dan identifikasi aktivitas kritis.

2.    Hitung crash cost per periode untuk seluruh aktivitas dalam jaringan proyek (dengan asumsi bahwa crash cost bersifat linier), rumus yang digunakan adalah :

    

3.    Pilih aktivitaspada jalur kritis yang memililki crash cost/periode minimum. Percepat aktivitas tersebut semaksimal mungkin atau sesuaikan dengan batas waktu yang diinginkan.

4.    Periksalah, apakah aktivitas yang dipercepat tersebut masih merupakan aktivitas kritis. Seringkali, percepatan pada jalur kritis dapat menyebabkan jalur lain yang tidak kritis menjadi jalur kritis. Apabila jalur kritis tersebut  masih tetap menjadi jalur terpanjang, maka ulangi langkah 3, jika tidak tentukan jalur kritis baru dan ulangi langka 3.

 

Metode Penelitian

     Pada penelitian ini menggunakan dengan metode deskriptif yaitu pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif (Whitney 1960).

Pembahasan

   a. Analisa Jaringan (Network Analysis)

         Untuk mengontrol atau mengendalikan suatu kegiatan proyek bisa dilakukan dengan menggunakan Kurve S, sehingga dengan menggunakan Kurve S diharapkan kegiatan proyek bisa selesai sesuai dengan waktu yang direncanakan. Namun demikian untuk lebih teliti lagi dalam mengontrol kegiatan proyek tersebut bisa dibuat analisa jaringan atau jaringan kerja, karena dengan adanya jaringan kerja maka pelaksana bisa mengetahui mana pekerjaan yang harus didahulukan atau diprioritaskan.

            Pada umumnya jaringan kerja hanya dibuat oleh kontraktor yang berskala Nasional atau Internasional, sedangkan untuk kontraktor kecil atau kontraktor daerah cukup menggunakan dengan kurva S saja. Pembuatan jaringan kerja dalam pelaksanaan pembangunan gedung diklat ini dibuat  dari master schedule pelaksanaan yang ada dari kontraktor menjadi diagram batang (Gant Chart), kemudian dijabarkan kedalam analisa jaringan.

        b. Mencari Jalur Kritis.

Jalur kritis dapat dicari dengan terlebih dahulu menghitung ealiest start time (ES), latest start (LS), earliest finish (EF) dan latest finish (LF).

- ES adalah waktu memulai suatu pekerjaan yang tercepat tanpa harus mengganggu penyelesaian pekerjaan yang mendahuluinya,

- EF adalah waktu menyelesaikan suatu pekerjaan yang tercepat,

- LS adalah waktu yang paling lambat untuk memulai suatu pekerjaan tanpa harus menunda waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan,

- LF adalah waktu yang paling lambat untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tanpa harus menunda waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan.

• Aturan dalam menghitung ES dan EF:

Hanya ada satu basis aturan untuk menghitung ES dan EF, yaitu : sebelum suatu pekerjaan dapat dimulai, seluruh pekerjaan yang mendahuluinya harus telah diselesaikan. Dengan kata lain, mencari jalur terpanjang dalam setiap aktivitas dapat menentukan ES. EF dihitung dengan formula :

EF = ES + t

Untuk menghitung ES dan EF seluruh pekerjaan, dimulai dari awal sampai ke akhir proyek (forward pass).

 

Kesimpulan

     Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan data tentang percepatan waktu dan biaya dalam pembangunan gedung pendidikan dan pelatihan P4TK / VEDC Malang tahap 4 dengan metode crashing maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Perencanaan waktu pelaksanaan proyek pembanguanan gedung pendidikan dan pelatihan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan / P4TK Malang selama 24 minggu, sedangkan waktu pelaksanaan dilapangan (existing) selama 21 minggu dan setelah dipercepat dengan metode crashing menjadi 17 minggu atau setara dengan 117 hari. Selisih antara waktu perencanaan dengan waktu percepatan adalah 29,16% sedangkan selisih antara waktu pelaksanaan (existing) dengan waktu percepatan adalah 19,05%.
  2. Perencanaan biaya pelaksanaan proyek pembanguanan gedung pendidikan dan pelatihan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan / P4TK Malang selama 21 minggu adalah Rp 958.990.793,- sedangkan biaya percepatan selama 17 minggu adalah Rp 966.635.861,- sehingga setelah dilakukan percepatan pada lintasan kritis terjadi selisih antara biaya perencanaan dengan biaya percepatan sebesar Rp 7.645.064,- atau ada kenaikan biaya 0,79%.
  3. Berdasarkan hitungan konsep nilai hasil (earned value) diketahui curve S biaya progres berada diatas biaya aktual pekerjaan dan curve S biaya pekerjaan sesuai dengan rencana, maka dapat disimpulkan bahwa pekerjaan atau pelaksanaan proyek pembangunan gedung pendidikan dan pelatihan pada Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan / P4TK Bidang Otomotif dan Elektronika Malang tidak mengalami keterlambatan maupun pertambahan biaya. Indek kinerja jadwal pada minggu pertama sampai dengan minggu ke sepuluh sesuai dengan rencana yaitu lebih dari 1.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alifen, R, S., Analisa ”What If” Sebagai Metode Antisipasi Keterlambatan Durasi  Proyek, http://puslit.petra.ac.id/journal/civil.

Badri, S., 1991, Dasar-dasar Network Planning, Penerbit Renika Cipta, Yogyakarta.

Dipohusodo, I., 1996, Manajemen Proyek dan Konstruksi, Cetakan kedua, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Ervianto, W.I., 2004, Manajemen Proyek Konstruksi, Penerbit ANDI, Yogyakarta.

Harold, K., Ninth Edition., Project Management A Systems Approach to Planning, Scheduling, and Controlling, John Wiley & Sons, Inc.

Hartono, H, 2005, Analisis Percepatan Waktu dan Biaya Pada Pembangunan Gedung FKIP UMS dengan Presedence Diagram Method, dinamika TEKNIK SIPIL, Volume 5, Nomor 1, Januari.

Imam, K., Operation Management,http://elearning.unej.ac.id.

Kompas, 2003, Kreditor CGI : Pelaksanaan 35 Proyek Pemerintah Mengalami  Keterlambatan Serius.

Nasmul Islam, M, dkk, 2004, Crashing Project Time with Least Cost : A Linear Programming Approach, Journal of Business Research, Volume 6.

Nazir, M., 2005,  Metode Penelitian, Penerbit Ghalia Indonesia, Bogor.

 

Soeharto, I., 1999, Menejemen Proyek (Dari Konseptual Sampai Operasinal), Penerbit Erlangga, Jakarta.

 

Tjaturono, Nadjaji A. dan Indrasurya B. M., 2002, Penerapan Sistim Modul dan Metode Fast Track Sebagai Alternatif dalam Peningkatan Efektivitas dan Efisiensi Pembangunan Rumah Menengah, Proceeding Seminar Nasional Pascasarjana II ITS – 2002.

 

Triana, D., 2004, Analisis Metode Crashing Dalam Perencanaan Waktu Dan Biaya Proyek Konstruksi (Studi Kasus Proyek Pembangunan Jembatan Pasir Keranji Indragiri Hulu), Universitas Islam Indonesia,Yogyakarta.

MANAJEMEN RESIKO DALAM PROYEK KONSTRUKSI

MANAJEMEN RESIKO DALAM PROYEK KONSTRUKSI

Cahyo Kuncoro*

 

Abstrak

Resiko adalah variasi dalam hal-hal yang mungkin terjadi secara alami atau kemungkinan terjadinya peristiwa diluar yang diharapkan yang merupakan ancaman terhadap properti dan keuntungan finansial akibat bahaya yang terjadi. Manajemen risiko merupakan Pendekatan yang dilakukan terhadap risiko yaitu dengan memahami, mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko suatu proyek. Hasil studi menunjukkan bahwa manajemen risiko sangat penting dilakukan bagi setiap proyek konstruksi untuk menghindari kerugian atas biaya, mutu dan jadwal penyelesaian proyek. Melakukan tindakan penanganan  yang dilakukan terhadap risiko yang mungkin terjadi (respon risiko) dengan cara : menahan risiko (risk retention), mengurangi risiko (risk reduction), mengalihkan risiko (risk transfer), menghindari risiko (risk avoidance).

Kata Kunci : Manajemen resiko, proyek konstruksi

 

 Pendahuluan

Proyek konstruksi merupakan suatu bidang yang  dinamis dan mengandung risiko. Risiko            dapat memberikan  pengaruh terhadap produktivitas, kinerja, kualitas dan batasan biaya dari proyek. Risiko            dapat  dikatakan suatu akibat yang mungkin terjadi secara tak terduga. Walaupun suatu kegiatan telah direncanakan sebaik mungkin, namun tetap mengandung ketidak pastian bahwa nanti akan berjalan sepenuhnya sesuai rencana. Risiko pada proyek konstruksi bagaimanapun tidak dapat dihilangkan tetapi dapat dikurangi atau ditransfer dari satu pihak kepihak lainnya (Kangari,1995). Bila risiko terjadi akan berdampak pada terganggunya kinerja proyek secara keseluruhan  sehingga dapat menimbulkan kerugian terhadap biaya,  waktu dan kualitas pekerjaan. Para pelaku dalam industri konstruksi sekarang ini makin menyadari akan pentingnya memperhatikan risiko pada proyek- proyek yang ditangani karena kesalahan dalam memperkirakan dan menangani risiko akan menimbulkan dampak negatif, baik secara langsung maupun tidak  langsung pada proyek konstruksi. Resiko dapat menyebabkan pertambahan biaya dan keterlambatan jadwal penyelesaian proyek.

 

A.   Risiko

Risiko merupakan variasi dalam hal ini yang mungkin terjadi secara alami didalam suatu situasi (Fisk,1997). Risiko adalah ancaman terhadap kehidupan properti atau keuntungan finansial akibat bahaya yang terjadi (Duffield & Trigunarsyah, 1999). Secara umum risiko dikaitkan dengan kemungkinan (probabilitas) terjadinya peristiwa diluar yang diharapkan (Soeharto, 1995).

Jadi risiko adalah   variasi dalam hal-hal yang mungkin terjadi secara            alami atau kemungkinan terjadinya peristiwa diluar yang diharapkan yang merupakan  ancaman terhadap properti dan keuntungan finansial akibat bahaya yang terjadi. Secara umum risiko dapat diklasifikasikan menurut  berbagai sudut pandang yang tergantung dari kebutuhan  dalam penanganannya (Rahayu, 2001) :

 

1. Resiko murni dan risiko spekulatif (Pure risk and speculative risk) yaitu dimana risiko murni dianggap sebagai suatu ketidakpastian yang dikaitkan dengan adanya suatu luaran (outcome)  yaitu kerugian. Contoh risiko murni kecelakaan kerja di proyek. Karena itu risiko murni dikenal dengan nama risiko statis. Risiko spekulatif mengandung dua keluaran yaitu kerugian (loss) dan keuntungan (gain). Risiko spekulatif dikenal sebagai risiko dinamis. Contoh risiko spekulatif pada perusahaan asuransi jika risiko yang dijamin terjadi maka pihak asuransi akanmengalami kerugian karena harus menanggung uang pertanggungan sebesar nilai kerugian yang terjadi tetapi bila risiko yang dijamin tidak terjadi maka perusahaan akan  meperoleh keuntungan.

 

2. Resiko terhadap benda dan manusia, dimana risiko terhadap benda adalah risiko yang menimpa  benda seperti rumah terbakar sedangkan risiko terhadap manusia adalah risiko yang menimpa manusia seperti risiko hari tua, kematian dan sebagainya.

 

3. Resiko fundamental dan risiko khusus (fundamental risk and particular risk)

adalah risiko fundamental adalah risiko  yang kemungkinannya dapat timbul pada hampir sebagian besar anggota Masyarakat dan tidak dapat disalahkan pada  seseorang atau beberapa orang sebagai penyebabnya, contoh risiko fundamental : bencana alam, peperangan. Risiko khusus adalah risiko yang bersumber dari peristiwa peristiwa yang mandiri dimana sifat dari risiko ini adalah tidak selalu bersifat bencana, bisa dikendalikan atau umumnya dapat diasuransikan.

Contoh risiko khusus : jatuhnya kapal terbang, kandasnya kapal dan sebagainya.

 

B.   Jenis resiko

Resiko-resiko yang terdapat pada proyek konstruksi sangat banyak, namun tidak semua resiko tersebut perlu diprediksi dan diperhatikan untuk memulai suatu proyek karena hal itu akan memakan waktu yang lama. Oleh karena itu pihak pihak didalam proyek kontruksi perlu untuk memberi prioritas pada risiko- risiko yang penting yang akan memberikan pengaruh terhadap keuntungan  proyek.

Menurut  (Wideman, 1992) risiko-risiko tersebut adalah:

1.                Resiko External, tidak dapat diprediksi (tidak dapat dikontrol)           yaitu :

a.    Perubahan peraturan perundang- undangan,

b.    Bencana alam : badai, banjir, gempa bumi,

c.    Akibat kejadian pengrusakan dan sabotase,

d.    Pengaruh lingkungan dan sosial, sebagai akibat dari proyek,

e. Kegagalan penyelesaian proyek External, dapat diprediksi (tetapi  tidak dapat dikontrol) contohnya :

a)  Resiko pasar,

b)  Operasional (setelah proyek selesai),    

c) Pengaruh lingkungan,

d)  Pengaruh sosial, 

e)  Perubahan mata uang,

 f) Inflasi, 

g)  Pajak

2.              Resiko    Internal, non teknik (tetapi umumnya dapat dikontrol) yaitu :

a)  Manajemen,

b)  Jadwal yang terlambat, 

c)  Pertambahan biaya, 

d)  Cash flow, 

e)  Potensi kehilangan atas manfaat dan keuntungan teknik (dapat dikontrol)  misalnya:

           (a) Perubahan teknologi,

           (b) Resiko-resiko spesifikasi atas teknologi proyek,

           (c) Desain

           (d)  Hukum, timbulnya kesulitan akibat dari :

§Lisensi,

§Hak paten, 

§Gugatan dari luar,

§Gugatan dari dalam,

§Hal-hal tak terduga

 

Manajemen Resiko dalam Proyek Konstruksi (Mastura Labombang) menurut Flanagan dan Norman(1993), resiko-resiko dalam proyek konstruksi adalah :

  1. Penyelesaian yang gagal sesuai desain yang telah  ditentukan atau penetapan waktu konstruksi.
  2. Kegagalan untuk memperoleh gambar perencanaan, detail perencanaan atau ijin dengan waktu yang tersedia.
  3. Kondisi tanah yang tak terduga.
  4. Cuaca yang sangat buruk.
  5. Pemogokan tenaga kerja.
  6. Kenaikan harga yang tidak  terduga untuk tenaga kerja danbahan.
  7. Kecelakaan yang terjadi dilokasi yang menyebabkan luka.
  8. Kerusakan yang terjadi pada  struktur akibat cara kerja yang jelek.
  9. Kejadian tidak terduga  (banjir, gempa bumi, dan lain–lain).
  10. Klaim dari kontraktor akibat kehilangan dan biaya akibat keterlambatan produksi karena detail desain oleh tim desain.
  11. Kegagalan dalam penyelesaian proyek dengan budget  yang telah ditetapkan.

Sumber–sumber resiko (Flanagan & Norman, 1993) :

1. Timbulnya inflasi,

2. Kondisi tanah yang tidak terduga,

3. Keterlambatan material,

4. Detail desain yang salah, seperti ukuran yang salah dari gambar yang  dibuat oleh arsitek.

 

 

C.   Proyek konstruksi

Proyek konstruksi adalah suatu rangkaian kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan dan umumnya berjangka pendek serta jelas waktu awal dan akhir kegiatannya. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, ada suatu proses yang mengolah sumber daya proyek menjadi suatu hasil kegiatan berupa bangunan.

Proses yang terjadi dalam rangkaian kegiatan tersebut tentunya melibatkan pihak-pihak yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung. Menurut Ervianto ( 2002), proyek konstruksi mempunyai tiga karakteristik yang dapat dipandang secara tiga dimensi yaitu :

1. Bersifat unik : tidak pernah terjadi rangkaian kegiatan yang sama persis

   (tidak ada proyek yang identik, yang ada adalah proyek sejenis), proyek  bersifat sementara dan       selalu melibatkan    buruh / pekerja yang berbeda-beda.

2. Dibutuhkan sumber daya : setiap proyek konstruksi membutuhkan sumber    daya  yaitu tenaga kerja, uang, peralatan,    metode dan material.

3. Organisasi : setiap organisasi mempunyai keragaman tujuan di dalamnya   terlibat sejumlah individu dengan         keahlian yang bervariasi.

Langkah awal yang harus dilakukan adalah menyatukan fisi menjadi satu tujuan  yang ditetapkan organisasi dalam proses          mencapai batasan/kendala yaitu (triple  constraint) diantaranya besar biaya (anggaran) dan yang dialokasikan, mutu dan jadwal yang harus dipenuhi.

 

Kesimpulan

1. Dalam setiap proyek konstruksi sangat penting dilakukan manajemen risiko untuk    untuk menghindari kerugian atas biaya, mutu dan jadwal proyek.

2. Manajemen resiko merupakan Pendekatan yang dilakukan terhadap risiko yaitu

    dengan memahami, mengidentifikasi dan mengevaluasi resiko suatu proyek.

    Kemudian mempertimbangkan apa yang akan dilakukan terhadap dampak yang  ditimbulkan dan kemungkinan      pengalihan resiko kepada pihak lain atau  mengurangi resiko yang terjadi.

3. Penilaian     resiko  yang dilakukan meliputi : 

a.    Identifikasi resiko, 

b.   Memahami kebutuhan atau

c.   Mempertimbangkan resiko,

d.   Menganalisis dampak dari risiko tersebut / evaluasi resiko,

e.   Menetapkan siapa yang bertanggung jawab terhadap risiko tertentu (alokasi 

     resiko).

4. Melakukan tindakan penanganan yang dilakukan terhadap risiko  yang mungkin

     terjadi (respon resiko) dengan cara : 

     a.    Menahan resiko (risk retention),

     b.    Mengurangi risiko (risk reduction),

     c.    Mengalihkanrisiko (risk transfer),

     d.    Menghindari resiko (risk avoidance).

 

Daftar Pustaka

 

Duffield,C&Trigunarsyah,B.1999. Project Management- Conception To Completion. Engineering Education Australia (EEA).   Australia.

Ervianto.A.U Dan Joshua, M. (2001). Manajemen Proyek kontruksi  Andi, Yogyakarta

Flanagan,R &Norman,G.1993, Risk Management and Construction. Blackwell Science, London.

Kangari, R. 1995. Risk Management Perceptions and Trendsof U.S. Construction.  Journal of Construction Engineering and Management. ASCE. December.

Kerzner, H. 2001. Project Management. Seventh Edition.John Wiley & Sons, Inc. New York.

Rahayu, P.H. 2001. Asuransi Contractor’s All  Risk sebagai Alternatif Pengalihan Risiko Proyek Dalam Industri Konstruksi Indonesia.

Sandyavitri A, Manajemen Resiko di Proyek Konstruksi, Media Komunikasi Teknik Sipil No.1, 2009

Seminar Nasional ManajementKonstruksi 2001. FakultasTeknik Universitas katolik Parahyangan. Bandung.

Soeharto, I. 1995. Manajemen Proyek dari konseptual sampai operasional. Erlangga. Jakarta.

Well Stam, D Van, et.al., 2004. Project Risk Management: anessential tool for managing and controlling project, Kogan Page,London and Sterling VA.

 Wideman, Max.R.1992. Project And Program Risk Management: A Guide To Managing Project Risk Opportunities. Project Management Institute. Amerika.

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG