Kebutuhan Air Bersih Rumah Tangga

Kebutuhan Air Bersih Rumah Tangga

Oleh : Drs. Hery Tarno, Dipl. HBT, MT

Widyaiswara Madya, PPPPTK BOE Malang

 

Abstrak

Air bersih adalah merupakan kebutuhan pokok bagi menusia untuk keperluan mandi, mencuci, memasak, minum dll. Oleh karena itu persediaan air bersih yang layak dan dalam jumlah cukup adalah mutlak diperlukan. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang tepat untuk suatu rumah tangga, harus direncanakan dengan benar agar distribusi air dalam rumah mendapatkan debit dan tekanan air yang cukup pada setiap ujung pipa. Kebutuhan airrata rata untuk satu orangnya berkisar antara 80 – 200 liter/Orang/Hari, serta sumber air harus dapat menjamin debitnya. Dalam perancangan sistem perpipaan air bersih memerlukan data-data yaitu : Kebutuhanair per Hari/Orang,sumber air dengan kapasitas yang memenuhi, dan sistem distribusi yang digunakan untuk mengalirkan air dari tangki menuju peralatan plambing. Kebutuhan air bersih dalam rumah tangga akan terasa nyaman apabila penghuni memperoleh kualitas air bersih yang layak, debit dan tekanan air pada ujung pipa memenuhi persyaratan minimal, dan tidak pernah kehabisan air bersih setiap kali diperlukan.

Kata Kunci : Debit, Tekanan

 

Pendahuluan

Air adalah merupakan kebutuhan pokok bagi manusia dan juga diperlukan hampir pada semua jenis makanan. Tanpa makanan seseorang bisa bertahan sekitar 2 bulan, tanpa air hanya bisa bertahan selama beberapa hari. Air dalam tubuh untuk melakukan tugas-tugas penting. Ia bekerja sebagai pelarut dan transportasi, membantu dalam ekskresi produk metabolik beracun dan garam melalui ginjal dan mengatur suhu tubuh.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang tepat untuk suatu rumah tangga, harus direncanakan dengan benar agar distribusi air dalam rumah berjalan lancar dan efisien. Sistem perpipaan yang banyak belokannya kurang baik, karena akan mengurangi tekanan dan debit pada ujung pipa. Oleh karena itu yang perlu diperhatikan dalam merencanakan sistem air bersih bagi suatu bangunan rumah tinggal adalah :

1.    Kebutuhan Air.Kebutuhanyaitu menghitung berapa banyak kebutuhan air dalam rumah per hari. Sebagai referensi adalah dengan menghitung kebutuhan air rata rata untuk satu orangnya berkisar antara 80 – 200 liter per orang per hari. Suatu contoh, dalam satu rumah tinggal dihuni oleh 5 orang, maka kebutuhan air bersihnya antara 400 – 1000 liter/hari.

2.    Sumber Air. Debit air yang berasal dari suatu sumber harus dapat memenuhi kebutuhan air bersih dalam keluarga dalam satu rumah tangga serta memenuhi persyaratan sebagai sumber air menurut peraturan yang berlaku, debit air sumbernya dan tentu saja kontinyuitasnya. Sumber air ini bisa berasal dari sumur dangkal, PDAM atau sumber-sumber lain. Kecuali sumber air dari PDAM, pada umumnya air ditampung dalam suatu tangki air (dalam tanah) yang nantinya didistribusikan ke titik-titik keluaran dengan menggunakan pompa atau sistem gravitasi. Dari sisi volume, tangki penampung air ini bisa bervariasi, tergantung dari debit air yang akan mengisi tangki air tersebut.

3.    Sistem pengaliran (distribusi). Sistem distribusi menyatakan bagaimana supaya air bersih yang telah memenuhi persyaratan tersebut dapat didistribusikan ke ujung pipa (peralatan plambing, kran dll.) dengan debit dan tekanan minimal yang memenuhi. Minimal 1.5 kPa. Pipa yang digunakan untuk mendistribusikan air ini bisa menggunakan Pipa Galvanis, Polyvinyl Chloride (PVC), Polyethyelene (PE), Polybutyelene (PB), atau Acrylonitrite Butadiene Styerene (ABS). Polyphropiline Reinforce (PPR), Stainlessteel, dll. Untuk pipa instalasi dari PVC, instalasi harus terlindung dari sinar matahari dan temperatur yang lebih dari 50 ºC.

Dimensi pipa yang digunakan untuk distribusi air bersih menyesuaikan dengan hasil perencanaan, sedangkan dimensi pipa untuk memenuhi kebutuhan air peralatan plambing seperti : Kloset duduk, mesin cuci dll. Ukuran diameter pipa minimalnya menyesuaikan dengan persyaratan dari alat plambing tersebut. Untuk lebih sederhananya, besarnya diameter minimal untuk pipa distribusi utama dalam suatu rumah tinggal adalah 1 inchi. Pemasangan alat sambung sesuai dengan jenis pipa yang digunakan harus dilakukan dengan cara yang benar untuk mendapatkan hasil yang optimal. Untuk memudahkan pengecekkan, perawatan dan keamanan maka diusahakan instalasi dipasang/diletakkan di luar dinding atau di tempat tertentu (shaft) dengan menggunakan klem.

Penggunaan pompa air kemungkinan juga diperlukan apabila mengisi tangki atas dari bak penampung bawah. Penggunaan pompa air langsung dihubungkan dengan pipa air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dilarang, karena akan mengurangi tekanan/debit air bagi jalur pipa pelanggan berikutnya. Untuk meningkatkan tekana air pada suatu jaringan, dapat dipergunakan pompa dorong yang dipasang setelah tangki air. Apabila digunakan pompa dorong, letak tangki air tidak harus di atas, melainkan bisa pada semua level.

Di Indonesia, air dari perusahaan daerah air minum (PDAM) Khusus untuk air minum tidak layak untuk langsung diminum. Oleh karena itu air dari PDAM dapat digunakan sebagai air minum jika dilakukan perlakuan khusus, seperti dimasak dan diendapkan, ozonisasi dll. Pada saat ini sudah banyak perusahaan yang menyediakan air khusus untuk minum dalam bentuk kemasan.

Kesimpulan

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang tepat untuk suatu rumah tangga, harus direncanakan dengan benar agar distribusi air dalam rumah berjalan lancar dan efisien, dalam arti debit dan tekanan air memenuhi persyaratan minimal yang dibutuhkan pada setiap ujung pipa. Dalam perencanaan sistem air bersih harus diperhatikan Kebutuhan airrata rata untuk satu orangnya berkisar antara 80 – 200 liter per orang per hari, dan sumber air harus dapat menjamin debit dan kontinyuitasnya. Pada umumnya pipa distribusi yang digunakan antara lain : Pipa Galvanis, Polyvinyl Chloride (PVC), Polyethyelene (PE), Polybutyelene (PB), atau Acrylonitrite Butadiene Styerene (ABS). Polyphropiline Reinforce (PPR), Stainlessteel.

 

Daftar Pustaka

agathaastyarini, 2012, Makalah Air Bersih, http://athaagatha.wordpress.com/ 2012/11/;

http://uripsantoso.wordpress.com/2010/01/18/kualitas-dan-kuantitas-air-bersih-untuk pemenuhan-kebutuhan-manusia-2;

http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-16528-2208100660-Chapter2.pdf;

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/rekayasa_lingkungan/bab2_sistem_pe- nyedian_air_bersih.pdf;

Kuehn Thomas, Dr., Wasser trinken, aber richtig, https://www.google.co.id/............... http%3A%2F%2Fwww.apimanu.com%2FWasser-trinken-aber-richtig..............

Reca Denis, 2010, Kualitas dan Kuantitas Air Bersih Untuk Pemenuhan Kebutuhan Manusia, Jakarta

 

 

 

 

MENGAPA DI INDONESIA BANYAK BANGUNAN RUNTUH SAAT GEMPA?

MENGAPA DI INDONESIA BANYAK BANGUNANRUNTUH SAAT GEMPA?

 
 

 

Oleh: SUWARDAYA AJI

 

 

 

Sedikitnya 44.000 rumah di Jawa Barat yang tersebar di empat belas kabupaten/kota, rusak berat akibat gempa pada 2 September 2009. Rumah-rumah rusak akibat gempa berkekuatan 7,3 skala Richter. (Kompas. 2009. Tanpa Struktur Tahan Gempa, 44.000 Rumah Rusak. regional.kompas.com. 24 Nopember 2014).

 

 

 

"Kita cenderung berfokus pada ukuran gempa bumi, namun kematian justru lebih terkait dengan kualitas bangunan. Kemiskinan, dan bahkan pemerintahan yang buruk serta korupsi, menjadi pengganda akibat dari bencana alam. Itulah mengapa bagian selatan Asia Tengah menjadi salah satu tempat yang paling rapuh di dunia.".(Tabita Diela. 2013. Peneliti: Kematian Erat Kaitannya dengan Kualitas Bangunan! properti.kompas.com. 24 Nopember 2014).

 

 

 

A.     Mengapa Indonesia rawan gempa?

 

Dari teori tektonik lempeng dijelaskan bahwa permukaan bumi ini terbagi menjadi kira-kira dua puluh pecahan besar yang disebut lempeng. Lempeng tersebut sifatnya kaku dan lempeng-lempeng itu bergerak dan berinteraksi diatas astenosfer yang lebih cair yang akan menimbulkan gempa.

 

 

 

 

Gambar 1.  Lempeng utama bumi.

 

Lempeng-lempeng tektonik utama bumi adalah: lempeng Afrika, Antarktika, Australia, Eurasia, Amerika Utara, Amerika Selatan dan lempeng Pasifik. Secara geografis Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng utama bumi yaitu lempeng Australia, Eurasia, dan Pasifik. Lempeng Eurasia dan Australia bertumbukan di barat pulau Sumatera, selatan pulau Jawa sampai dengan selatan kepulauan Nusa Tenggara, dan berbelok ke arah utara ke Maluku. Antara lempeng Australia dengan Pasifik terjadi tumbukan di sekitar pulau Papua. Pertemuan antara ketiga lempeng itu terjadi di sekitar pulau Sulawesi. Hal itulah penyebab sering terjadinya gempa bumi Indonesia.

 

 

 

B.    Bagaimana filosofi bangunan tahan gempa?

 

Filosofi bangunan tahan gempa adalah bangunan yang didesain apabila terjadi gempa bumi, bangunan harus tetap menjamin keamanan (keselamatan) dan kenyamanan penghuni, pengguna bangunan yang berada di dalamnya. Bangunan tahan gempa filosofinya dapat dijelaskan sebagai berikut:

 

   Bangunan tidak mengalami kerusakan pada elemen struktural maupun non-struktural saat terjadi gempa ringan.

 

   Bangunan boleh mengalami kerusakan yang dapat diperbaiki pada elemen non-struktural, sedangkan elemen struktural tidak boleh mengalami kerusakan pada saat terjadi gempa sedang.

 

   Bangunan boleh mengalami kerusakan pada elemen struktural dan non-struktural, tetapi bangunan tidak boleh runtuh pada saat terjadi gempa kuat.

 

 

 

 

Gambar 2.  Kerusakan bangunan akibat gempa bumi.

 

 

 

C.    Ketidaktepatan pendetailan konstruksi.

 

Bangunan direncanakan dengan suatu kombinasi pembebanan yang terdiri dari beban mati, beban hidup dan beban sementara yang dapat berupa gempa. Berawal dari pembebanan itu dan kondisi lingkungan maka bangunan direncanakan oleh konsultan dan dibangun oleh kontraktor. Banyak tenaga kerja bangunan di Indonesia yang pendidikannya tidak sesuai bidangnya dan hanya berdasarkan pengalaman yang tidak memadai serta kurangnya disiplin dalam mentaati peraturan bangunan.

 

 

 

Di Indonesia gempa bumi merupakan salah satu fenomena alam yang sering terjadi, yang hampir selalu menelan cukup banyak korban jiwa. Korban jiwa tersebut bukan diakibatkan secara langsung oleh gempa, tetapi diakibatkan oleh keruntuhan bangunan pada saat terjadi gempa. Runtuhnya bangunan saat terjadi gempa akan menimpa orang yang berada didalamnya yang dapat menimbulkan luka-luka bahkan korban jiwa.

 

 

 

Jiwa manusia tidak ternilai harganya dibandingkan dengan harta benda. Untuk itu korban jiwa saat terjadinya gempa harus dapat dikurangi dengan membuat suatu bangunan dengan konstruksi yang benar. Keruntuhan bangunan terutama yang dibangun dengan konstruksi beton bertulang salah satunya dikarenakan ketidaktepatan dari pendetailan konstruksi.

 

 

 

D.    Bagaimana seharusnya detail konstruksi?

 

Banyak berbagai sebab keruntuhan bangunan saat terjadi gempa bumi hal ini dapat dilihat pada beberapa contoh pendetailan yang tidak baik dari:

 

   Aspek perencanaan.

 

Kekurangpahaman perencana akan persyaratan detailing dan material untuk bangunan. Dari aspek perencanaan ada beberapa contoh ketidakpahaman perencana konstruksi seperti terlihat pada penjelasan dan foto berikut ini.

 

   Penulangan pada pertemuan kolom dengan balok.

 

 

 

 

Gambar 3.  Pertemuan kolom dengan balok di gambar perencanaan.

 

Dari gambar rencana pertemuan konstruksi kolom dengan balok dan kolom dengan balok gevel ini tersebut ada beberapa kekurangan:

 

Pengakhiran tulangan longitudinal kolom pada pertemuan kolom dengan balok ataupun balok gevel tidak ada penjangkaran.

 

     Pada pertemuan kolom dengan balok tersebut tidak dipasang sengkang.

 

 

 

Dari kekurangan konstruksi tersebut ada beberapa yang perlu diperbaiki:

 

Pengakhiran tulangan kolom pada pertemuan kolom dengan balok diperlukan penjangkaran sepanjang panjang penyaluran.

 

Gambar 4.  Pengakhiran tulangan kolom pada balok.

 

Pada pertemuan tersebut penulangan kolom perlu dipasang sengkang. Sengkang harus dipasang sepanjang kolom, termasuk pada pertemuan dengan sloof, balok atau konstruksi lainnya.

 

 

 

 

Gambar 5.  Penulangan pada pertemuan kolom dengan balok.

 

 

 

   Aspek pelaksanaan.

 

Kekurangpahaman kontraktor akan standar pelaksanaan bangunan. Ditinjau dari aspek pelaksanaan ada beberapa contoh ketidakpahaman atau bahkan ketidaktahuan pelaksana konstruksi di lapangan seperti terlihat pada foto-foto berikut ini:

 

   Penulangan sloof dan kolom.

 

Dari dua foto pelaksanaan penulangan sloof dan kolom berikut ini ada beberapa kekurangannya:

 

    Diameter dan jemis tulangan utama tidak memenuhi persyaratan.

 

Jarak dan pemasangan sengkang yang terlalu jarang, tidak teratur (miring dan tegak).

 

Tidak dipasang “beton tahu” (beton pengganjal tulangan untuk membentuk pelindung beton untuk tulangan) pada sloof yang menyentuh pada pondasi.

 

 

 

 

Gambar 6.  Penulangan pertemuan sloof dengan kolom.

 

Tidak dipasang tulangan penyambung pada pertemuan konstruksi berbentuk “T” ini. Tulangan sloof atau balok yang akan diakhiri ujungnya tidak ada penjangkaran yang cukup.

 

 

 

 

Gambar 7.  Penulangan pertemuan sloof dengan sloof dan           ring balok dengan ring balok.

 

Dari konstruksi penulangan di lapangan tersebut ada beberapa hal yang perlu diperbaiki:

 

  Diameter tulangan longitudinal pondasi, balok, kolom dan konstruksi struktural lainnya minimal 12 mm ulir.

 

     Pemasangan sengkang pertama dan terakhir yang dipasang pada sloof atau balok maksimal 50 mm dari permukaan kolom.

 

 

 

 

Gambar 8.  Pemasangan sengkang pertama dan terakhir balok.

 

Untuk mengantisipasi retak miring di dekat tumpuan maka perlu dipasang tulangan geser lentur yang berupa sengkang. Sengkang dipasang minimal sejauh 2d (d tinggi efektif balok) atau 1/5 bentang.

 

 

 

 

Gambar 9.  Penulangan geser lentur pada balok.

 

Letak kait sengkang pada balok dan kolom posisi pemasangannya tidak satu garis (berputar posisinya).

 

 

 

 

Gambar 10.  Pemasangan sengkang balok dan kolom.

 

Beton tahu merupakan salah satu cara untuk membuat ukuran ketebalan dari pelindung beton untuk tulangan pada bagian bawah dan samping konstruksi beton bertulang.

 

 

 

 

Gambar 11.  Pelindung beton pada sloof, ring balok dan kolom.

 

Pertemuan sloof dengan sloof atau ring balok dengan ring balok perlu dipasang tulangan penyambung “L” yang panjang ujung-ujungnya dibuat sebesar panjang penyaluran tulangan tarik. Pemasangan tulangan penyambung adalah salah satu ujung tulangan penyambung pada bagian tarik dan ujung satunya berada pada daerah tekan.

 

 

 

 

Gambar 12.  Tulangan penyambung L antara kolom-balok dan balok-balok.

 

 

 

   Sengkang.

 

Dari foto sengkang yang ada di lapangan berikut ini ada beberapa kekurangan:

 

     Bentuk sengkang dan ukuran kait sengkang tidak sesuai dengan rencana dan tidak memenuhi persyaratan?

 

     Ukuran radius bengkokan sengkang tidak sesuai persyaratan.

 

 

 

 

Gambar 13.  Sengkang yang dibuat di lapangan.

 

Dari sengkang yang dibuat di lapangan tersebut ada beberapa yang perlu diperbaiki:

 

  Kait standar untuk tulangan sengkang dan kait pengikat dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

 

Batang D-16 dan yang lebih kecil, bengkokan 90° ditambah perpanjangan 6db pada ujung bebas kait.

 

Batang D-25 dan yang lebih kecil, bengkokan 135° ditambah perpanjangan 6db, namun tidak kurang dari 50 mm pada ujung bebas kait.

 

 

 

 

Gambar 14.  Kait standar untuk sengkang.

 

Kait gempa untuk kait pada sengkang, sengkang tertutup, atau pengikat silang yang mempunyai bengkokan tidak kurang dari 135º. Kait harus diberi perpanjangan 6dbnamun tidak kurang dari 75 mm yang mengait tulangan longitudinal dan mengarah pada bagian dalam sengkang atau sengkang tertutup.

 

 

 

 

Gambar 15.  Kait sengkang gempa.

 

   Sambungan lewatan sloof.

 

Pelaksanaan penyambungan pada sloof ini ada kekurangannya:

 

     Panjang sambungan lewatan pada sloof ini tidak memenuhi syarat panjangnya, bentuk kaitnya.

 

 

 

 

Gambar 16.  Sambungan lewatan pada sloof yang tidak sesuai aturan.

 

Dari sambungan lewatan yang dilaksanakan di lapangan tersebut ada beberapa yang perlu diperbaiki:

 

     Sambungan lewatan tulangan dalam kondisi tarik.

 

Panjang minimum sambungan lewatan tarik harus diambil berdasarkan persyaratan kelas yang sesuai tetapi tidak kurang dari 600 mm untuk tulangan polos dan 300 mm untuk tulangan ulir.

 

Ujung dari tulangan yang disambung dapat dibuat kait ataupun tanpa kait.

 

 

 

 

Gambar 17.  Sambungan lewatan tulangan dalam kondisi tarik.

 

 

 

   Aspek pengelolaan.

 

Kekurangpahaman perencana, kontraktor dan masyarakat akan pengelolaan selama pelaksanaan pembangunan. Ditinjau dari aspek pengelolaan ada beberapa contoh ketidaktahuan pelaksana konstruksi di lapangan seperti terlihat pada foto-foto berikut ini dan pertanyaan:

 

Bagaimana kualitas pelaksanaan pembangunan rumah tinggal seperti dalam foto-foto berikut ini?

 

 

 

 

Gambar 18.  Pelaksanaan pembangunan rumah tinggal.

 

 

 

Dari pelaksanaan bangunan tersebut ada beberapa yang perlu diperbaiki:

 

     Untuk menjaga kualitas pelaksanaan perlu adanya spesifikasi material yang jelas, tahapan pelaksanaan yang benar, tenaga kerja yang mempunyai kompetensi, manajemen pelaksanaan dan pengawasan yang terus menerus yang ketat serta mentaati peraturan bangunan yang berlaku.

 

 

 

E.     Kerusakan gedung akibat gempa.

 

Berikut ini ada beberapa foto tentang kerusakan bangunan akibat gempa bumi:

 

   Kerusakan pada pertemuan kolom dengan balok yang diakibatkan tidak dipasang sengkang pada tempat tersebut.

 

 

Gambar 19.  Kerusakan pada pertemuan kolom dengan balok.

 

   Kerusakan pada kolom yang diakibatkan kurangnya kekangan sengkang.

 

 

 

 

Gambar 20.  Kerusakan kolom karena kurangnya kekangan sengkang.

 

   Kerusakan pada kolom yang diakibatkan oleh kurangnya lekatan antara beton dengan tulangan (penggunaan tulangan polos).

 

 

 

 

Gambar 21.  Kerusakan kolom karena kurangnya lekatan.

 

   Kerusakan pada pertemuan kolom dengan ring balok yang diakibatkan tidak memadainya sambungan kolom dengan ring balok.

 

 

 

 

Gambar 22.  Dinding roboh karena kurangnya ikatan pada ring balok3.

 

   Kerusakan konstruksi beton bertulang oleh korosi yang diakibatkan oleh tipisnya pelindung beton untuk tulangan, pengecoran yang keropos.

 

 

 

 

Gambar 23.  Korosi pada konstruksi beton bertulang karena pelindung beton tipis.

 

 

 

 


 

 

KEPUSTAKAAN

 

 

 

Direktur Jenderal Cipta Karya. Juni 2006. Pedoman Teknis Rumah dan Bangunan Gedung Tahan Gempa.

Build Earthquake Resistant Houses. Change Construction Practice Permanently.  www.buildchange.org. 10 Desember 2013.

Iswandi Imran dan Bambang Boediono. 2010. Mengapa Gedung-gedung Kita Runtuh Saat Gempa. KK-RS, FTSL Institut Teknologi Bandung, Seminar HAKI 2010. 30 Juli 2010.

Kompas. 2009. Tanpa Struktur Tahan Gempa, 44.000 Rumah Rusak. regional.kompas.com. 24 Nopember 2014).

Roberto Leon, Dr. Earthquake Engineering. www.sem.cee.vt.edu.  16 Desember 2013.

Tabita Diela. 2013. Peneliti: Kematian Erat Kaitannya dengan Kualitas Bangunan! properti.kompas.com. 24 Nopember 2014).

Tektonika Lempeng. id.wikipedia.org. 9 Nopember 2011.

PENGOPERASIAN MESIN ROUTER

PENGOPERASIAN MESIN ROUTER

Oleh: Amin Suminto (Widyaiswara Madya PPPPTK BOE Malang).

 

Abstraksi:

Dalam hal ini kita membahas tentang mesin router tangan listrik (router), yang sering digunakan baik oleh tukang kayu hingga ke perusahan furniture besar. Mesin router memiliki fungsi untuk membuat macam-macam profil, sponing kusen pintu maupun jendela , alur, dan meratakan pinggir kayu .

 

Untuk alat mesin frais tangan atas (router) ini biasa dipakai atau digunakan dengan kisaran waktu yang tidak terlalu lama atau terus menerus, karena mesin ini bertenaga listrik sedang bila dipakai terus-menerus akan mudah panas dan mudah rusak, akhirnya usia pemakaian efektif mesin tangan frais atas menjadi sangat pendek.

Dalam pemakaian mesin frais tangan atas ini harus betul-betul diperhatikan dan ditaati manual langkah-langkah yang baik dan benar, agar tidak terjadi kesalahan dan kecelakaan yang berarti terhadap pengguna atau pemakai mesin ini, benda kerja yang dikerjakan, mesin frais yang dipakai, dan lingkungan kerja disekelilingnya.

 

Kata kunci: furniture, frais, router, efektif.

 

Cara Pengoperasian Mesin Frais Tangan Atas atau Router adalah:

Mesin  Frais Tangan Atas (Router).

Mesin frais tangan digunakan untuk membuat profil, memingul benda kerja, meratakan pelapis sintetik (formika), membuat alur dan banyak pengerjaan lainnya. Jenis pengerjaan menentukan jenis pisau yang digunakan.

Prinsip dasarnya mirip dengan mesin bor vertikal namun kepala pisaunya memiliki bentuk dan desain yang berbeda. Karena router ini berfungsi untuk membuat alur pada permukaan kayu maka pisau berada pada posisi vertikal ke arah bawah. (berbalikan dengan mesin profile (spindle). Mesin Router didesain dengan kecepatan putar (rpm) jauh lebih tinggi dari mesin bor biasa.

Mesin ini adalah salah satu dasar dari semua mesin kayu yang saat ini terdapat di pabrik ataupun perusahaan penjual mesin.

Banyak beberapa desain mesin menggabungkan fungsi dasar dari mesin di atas sehingga timbul nama mesin baru. Namun apabila anda sudah mengerti prinsip kerja dari mesin-mesin di atas akan sangat mudah untuk memahami cara kerja dari mesin yang lain.

Mesin ini bisa digunakan untuk membuat kombinasi bentuk sesuai dengan keinginan.

Diantaranya untuk membuat  Panil, Profile, Sponing dan Alur. Sehingga lebih efektif memakai jenis mesin Router.

                                   

                                         

                                                         Gambar 1. Bagian Mesin Router.

        Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

 

 

Nama-nama bagian Mesin diantaranya:

1.   1.   Tombol pengatur naik turun pisau     5. Alat Penentu dalam

2.   2.  Carbon Bruss                                      6. Alat Penentu dalam

3.   3.  Rumah Mesin Router Motor               7. Tombol Tekan bebas /      terkunci   

4.   4.  Kipas                                                    8. Tombol Tekan bebas / terkunci

 

 

 

 

 

 

 

                             

                                                                                       

                                                                                          Gambar 2. Alat Bantu.

                                              Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

1.    -  Macam-macam profil pinggir kayu

 

            

          Gambar 3. Macam-macam model profil.

                                              Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

2.  -   Memasang Pisau Router

 

-     Pasangan Pisau Router ke dalam plat cakar (cengkam) dan kuncikan mur erat-erat dengan menggunakan dua buah kunci pas berlawanan.

                                    

 Gambar 4. Cara pemasangan pisau router.

                                         Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

-     Gambar di bawah adalah dipandang dari bawah bagaimana cara menggunakan kedua kunci pas tersebut dan arah panah untuk membuka dan untuk mengunci.

 

                 

                                                                                                Gambar 5. Tampak dari bawah.

                                                   Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

1.    Tombol pengatur naik turun pisau

2.    Pengumpil untuk membuka/mengunci

3.    Alat penentu dalam

4.    Tombol tekan

  

                                                  

                                                                         Gambar 6. Cara penyetel kedalaman pisau.

                                  Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

-       Membuat alur  terusan dengan menggunakan alat penghantar lurus

 


                                                                                   Gambar 7. Cara pembuatan alur.

                                            Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

4.  -    Penghantar Hias

 

Gunanya untuk membuat alur lengkung (pada serat kayu) dado (melintang serat) atau menghias tepi-tepi lengkung. Roda penghantar menggeser

lengkung-lengkung dan memastikan pemotongan baik. Terutama untuk pekerjaan fantasi dan variasi hiasan.

 

                                                                                        Gambar 8. Penghantar hias / lengkung.

                                                     Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

5.  -    Pengantar Lurus

Gunanya adalah sebaliknya untuk memotongan langsung atau kalau diinginkan pemotongan alur bundar, aturlah jarak yang diinginkan antara pisau dengan penghantar lurus.

                            

                                                                                    

                                                                                      Gambar 9. Penghantar lurus.

                                        Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

-       Detail penghantar lurus sesuai dengan gambar sebelah kiri.

                                         

 

`Gambar 10. Penjelasan Penghantar lurus.

                                              Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

-       Pergunakanlah kacamata pengaman dan kedua tangan kiri dan kanan waktu mengoperasikan mesin router.

                               

Gambar 11. Pemakaian Keselamatan kerja.

                                                Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

6.  Gerakan Router

-       Gerakan router seperti arah panah sebelah kiri.

 

Jagalah kersihan alat dan benda kerja setiap saat.

 

Hidupkan atau matikan mesin ketika alat tidak kontak dengan benda kerja.

 

-       Pengantar hias selalu ditekan ke arah benda kerja agar roda antar dapat mengikuti bentuk benda kerja dengan baik.

                                  

                                    Gambar 12. Penghatar hias.

                                                            Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

7.  Membuat Lengkungan dengan Sablon

-       Buatlah terlebih dahulu Sablon sesuai dengan rencana.

-       Pasang plat antar bulat ke dalam router

-       Tentukan dalamnya pisau

-       Doronglah sesuai dengan Sablon.

 

                      

                                                 Gambar 13. Penghantar/sablon lengkungan.

                                                Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

8.  Pemeliharaan / Perawatan

-       Buka dan periksalah Karbon.

Gantilah jika sudah aus, jagalah kebersihan karbon jangan sampai lepas dari pegangannya (minimun 6 mm).

Kedua buah karbon sebaiknya diganti pada waktu yang sama.

                     

                                                                            Gambar 14. Carbon bruss.

                                                            Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

-     Gunakanlah obeng untuk membuka tutup karbon seperti terlihat pada gambar sebelah kiri

                         

                                    Gambar 15. Penggunaan alat yang benar.

                                              Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

-       Keluarkan karbon beserta pegangannya, priksa dan gantilah dengan yang baru bila sudah aus. Kemudian tutup kembali seperti semula.

                       

                                

 

                                   Gambar 16. Pemeriksaan karbon bruss.

                                                           Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

-       Membuat lengkungan dengan sablon

Buatlah terlebih dahulu sablon sesuai dengan rencana.

Pasang plat antar bulat ke dalam router.

Tentukan dalamnya pisou.

Doronglah sesuai dengan sablon.

                                                         

                                       

                                       Gambar 17. Pembuatan lengkungan dengan sablon.

                                                               Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

  1. Statis Router

Mesin ini sangat aman dan menguntungkan bagi pekerja, apabila yang kita kerjakan itu berganda karena benda kerja berada diatas meja sehingga efektif untuk pengerjaannya.

                      

 

                                  Gambar 18. Mesin Router tetap / statis.

                                                        Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

Keuntungan Statis

Keuntungan model ini adalah sangat aman dalam suatu pekerjaan dimana mata pisau keluar, sedangkan rumah atau body berada dibawah meja. Dengan cara dimatikan dengan sekrup dan bagian bawah daun meja.

 

                                  

                     Gambar 19. Meja mesin Router tetap/statis.

                                Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

Perawatan

Bukalah dan periksa carbon.
Gantilah jika sudah aus, jagalah kebersihan Karbon dan jangan sampai lepas dari pegangannya (minimum 6 mm).

 

Lalu bersihkan dengan angin kompresor agar debu dan kotoran keluar dari mesin. Kemudian masukkan pada kotak/box mesin supaya lebih mudah dalam penyimpanan.

               

                    

                                               Gambar 20. Pemeriksaan Carbon bruss.

                                                        Sumber: BukuTeknikPerkayuanRevisiKetigaoleh Budi Martono.

 

Kesimpulan:

Mesin router tangan listrik merupakan alat tangan yang digunakan untuk membuat profil dan menghias benda kerja kayu, namun bisa juga digunakan untuk pekerjaan lain seperti membentuk sisi tebal kayu, membuat alur, membuat sponing, dan masih banyak lagi. cara kerja mesin ini tidak jauh berbeda dengan mesin tangan listrik yang lain. Sistem mesin router tangan listrik hampir sama dengan mesin bor tangan listrik, yang membedakan adalah pisau dan kecepatan berputar.

Untuk Penggunaan mesin router tangan atas ini harus betul-betul diperhatikan dan ditaati manual langkah-langkah yang baik dan benar, agar tidak terjadi kesalahan dan kecelakaan yang berarti terhadap pengguna atau pemakai mesin ini, benda kerja yang dikerjakan, mesin router yang dipakai, dan lingkungan kerja disekelilingnya.

 

  

         Referensi

Mesin Tangan Industri Kayu, A. Dodong Budianto

Buku Teknik Perkayuan Revisi Ketiga oleh Budi Martono.

          http://ardana-genesis.blogspot.com/2014/03/mesin-router-tangan-listrik-router.html

 

 

ANALISIS PERCEPATAN WAKTU DAN BIAYA PROYEK DENGAN MENGGUNAKAN METODE CRASHING

 ANALISIS PERCEPATAN WAKTU DAN BIAYA PROYEK  DENGAN MENGGUNAKAN METODE CRASHING

Cahyo Kuncoro*

 

ABSTRAK

         Analisis waktu dan biaya pelaksanaan proyek merupakan unsur penting dalam pelaksanaan suatu proyek, terjadinya keterlambatan dalam suatu pelaksanaan proyek akan menyebabkan pembiayaan melampaui batas anggaran yang direncanakan, bila jadwal dan waktu tidak terkendali sebagaimana mestinya maka akan merugikan berbagai pihak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari waktu pelaksanaan konstruksi yang optimal dan mengevaluasi biaya atau dana pelaksanaan konstruksi dalam kaitannya dengan waktu pelaksanaan yang telah dioptimalkan pada pelaksanaan pembangunan Gedung Pendidikan dan Pelatihan Tahap IV P4TK / VEDC Malang Adapun metode yang digunakan untuk menganalisis adalah dengan menggunakan metode Crashing,  Kurva S, Diagram batang atau Gant Chart. Pada pelaksanaan pembangunan Gedung Pendidikan dan Pelatihan Tahap IV P4TK /VEDC Malang terjadi percepatan waktu pelaksanaan proyek sehingga terjadi pengurangan biaya dari anggaran yang sudah direncanakan. Konsep nilai hasil atau yang lebih dikenal dengan earned value method, yang secara umum dapat juga dikenal sebagai teknik integritas biaya dan waktu, mempunyai konsep dasar tentang penilaian progres pelaksanaan lapangan dengan skala yang terdiri dari dua variabel yaitu biaya dan waktu  sehingga dari hasil penelitian terjadi selisih biaya sebesar Rp 51.793.943.77  yang didapat dari rencana anggaran semula sebesar Rp 958.990.797.23 menjadi Rp 1.010.784.741.00 . Berdasarkan perhitungan waktu didapatkan perkiraan waktu total proyek adalah 213 hari. Sedangkan menurut rencana sesuai dengan schedule selesainya proyek adalah 303 hari, sehingga terjadi percepatan waktu sebesar 90 hari dari rencana semula.

Kata kunci : biaya dan konsep nilai hasil, percepatan, waktu pelaksanaan

 

Pendahuluan

       Pada industri konstruksi ketentuan mengenai biaya, mutu dan waktu penyelesaian pekerjaan konstruksi sudah terikat di dalam kontrak dan ditetapkan sebelum pelaksanaan pekerjaan konstruksi dikerjakan. Seperti diketahui, waktu penyelesaian yang dibutuhkan untuk proses pekerjaan konstruksi selalu dicantumkan dalam dokumen kontrak karena akan berpengaruh penting terhadap nilai pelelangan dan pembiayaan pekerjaannya sendiri.

Waktu pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang tidak terkendali  sebagaimana mestinya akan dapat menyebabkan pemilik akan mengalami kesulitan biaya dalam penyelesaian pekerjaan suatu proyek, demikian pula dengan kontraktor akan dapat mengalami kerugian biaya sehingga kontraktor dalam hal ini harus selalu berusaha untuk mengendalikan waktu pelaksanaan  yang dituangkan dalam jadwal rencana kerja yang telah ditentukan, dalam proses pekerjaan konstruksi tanpa mengabaikan pengendalian mutu. Waktu, biaya dan mutu ketiganya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan .

Rangkaian dalam kegiatan konstruksi adalah saling berurutan dan saling berkaitan. Dalam perencanaan suatu proyek, seorang pengambil keputusan seringkali dihadapkan pada suatu pilihan dalam menetapkan sumber daya yang tepat, misalnya jumlah tenaga kerja, peralatan, metode dan teknologi untuk melaksanakan suatu kegiatan proyek konstruksi.

Setiap pemilihan aktivitas yang ditetapkan akan bermuara pada waktu, biaya, dan mutu dari suatu kegiatan proyek. Untuk proyek konstruksi pada umumnya mutu merupakan elemen yang harus tetap dipertahankan agar selalu sesuai dengan perencanaan, sedangkan apabila terjadi adanya keterlambatan waktu pelaksanaan proyek atau karena atas permintaan dari owner/pemilik proyek untuk mempersingkat waktu pelaksanaannya, maka perlu dilakukan usaha percepatan waktu pelaksanaan proyek.

Pelaksanaan 35 Proyek Pemerintah Mengalami Keterlambatan Serius. Lembaga donor yang tergabung dalam CGI, seperti Bank Dunia, ADB, JBIC menemukan adanya 35 proyek yang dimonitor Bappenas menglami keterlambatan serius dalam pelaksanaannya. Keterlambatan tersebut selain disebabkan keterlambatan penerbitan dokumen anggaran pengeluaran pembangunan, masalah pembebasan tanah, tidak mencukupinya dana pendamping dalam bentuk rupiah, lemahnya manajemen proyek, jaminan simpanan (backlog) yang cukup tinggi, dan adanya penolakan sebagian masyarakat di beberapa daerah. Proyek Departemen Kimpraswil yang mengalami keterlambatan serius antara lain Segara Anakan Conservation & Development Project, Northern Sumatera Irrigation Agricultural Sector (ADB) dan Bili-Bili Irrigation (JBIC), Kompas, 2003.

 Dengan perencanaan yang tepat, maka seluruh kegiatan proyek dapat dimulai  dan selesai pada waktu yang secepatnya dengan alokasi waktu yang cukup, dengan biaya yang serendah mungkin, serta dengan mutu yang dapat diterima.

1. Kurva S Sebagai Pengendali Proyek

       Curve S dapat dimanfaatkan untuk mengungkapkan secara grafis arus kas pembiayaan suatu proyek konstruksi. Hal tersebut dimungkinkan karena lazimnya pembiayaan pembayaran untuk kontraktor didasarkan pada prestasi kemajuan pekerjaan, baik secara berkala bulanan/persentase prestasi.

Arus kas pembiayaan konstruksi dapat dilihat pada Gambar 1.

 

Gambar 1. Arus kas pembiayaan konstruksi (Dipohusodo, 1996)

Untuk mendapatkan kemajuan pekerjaan menurut curve (a), kontraktor harus mampu membiayai kegiatannya terlebih dahulu sesuai curve (b), selanjutnya dilakukan realisasi pembayaran kepada kontraktor yang pada gambar diestimasikan sesuai dengan curve (c).

Ada 2 cara pengolahan jadwal pekerjaan proyek (Badri, 1991), yaitu :

a. Network Planning

Sistem ini dimaksudkan untuk merencanakan dan mengendalikan sejumlah besar kegiatan yang memiliki hubungan ketergantungan kompleks dalam masalah design-engineering, konstruksi, dan pemeliharaan. Usaha-usaha ditekankan untuk mencari metode yang dapat memperkecil biaya dalam hubungannya dengan kurun waktu penyelesaian suatu kegiatan.

b. Bar Chart

Diagram balok/bar chart disusun dengan maksud mengidentifikasi unsur waktu dan urutan dalam merencanakan suatu kegiatan, yang terdiri dari saat mulai dan saat penyelesaian. Agar ukuran yang digunakan untuk setiap pekerjaan dalam menghitung bobot sama, maka satuan tiap pekerjaan dinyatakan dalam satuan uang (rupiah).

2. Jalur Kritis

       Untuk menentukan kegiatan yang bersifat kritis, dan kemudian menentukan jalur kritis, dapat dilakukan hitungan ke depan (Forward Analysis) dan hitungan ke belakang (Backward Analysis). Hitungan ke depan (Forward Analysis) dilakukan untuk mendapatkan besarnya Earliest Start (ES) dan Earliest Finish (EF). Sebagai kegiatan predecessor adalah kegiatan i, sedangkan kegiatan yang dianalisis adalah kegiatan j, (Bennett, 1996).

Besarnya ESjdan EFj dihitung sebagai berikut :

 ESj = ESi + SSij atau

ESj  = EFi + FSij                                                                        (1)                    

EFj = ESi + SFij atau Efj = EFi + FFij atau ESj + Dj            (2)

Catatan :

a. Jika ada Iebih dan satu anak panah yang masuk dalam suatu kegiatan, maka diambil nilai terbesar.

b. Jika tidak ada diketahui FSij atau SSijdan kegiatan non splitable, maka ESj dihitung dengan cara berikut:

ESj = EFj – Dj                                                                      (3)                                                    

Perhitungan ke belakang (Backward Analysis) dilakukan untuk mendapatkan besarnya Latest Start (LS) dan Latest Finish (LF), sebagai kegiatan successor adalah kegiatan j sedangkan kegiatan yang dianalisis adalah kegiatan i.

Besarnya nilai LSj dan LFj dihitung sebagai berikut:

 LFi = LFj -  EFij atau

LFi =  LSj – FSij                                                                    (4)

 LSi = LSj - SSij atau

LSj =  LFj -  SFij atau LFi – Di                                            (5)

 

Catatan :

a. Jika ada lebih dari satu anak panah yang masuk dalam suatu kegiatan, maka   diambil nilai terkecil.

b. Jika tidak ada diketahui FFij atau FSij dan kegiatan non splitable, maka LFj dihitung dengan cara berikut:

LFj = Lsi – Di                                                                            (6)                                                                   

Jalur kritis ditandai oleh beberapa keadaan sebagai berikut:

 ES = LS                                                                                      (7)

 SF = LF                                                                                      (8)

 LF - ES = Durasi kegiatan                                                      (9)

 

3. Metode Percepatan Proyek

        Untuk mempercepat pelaksanaan proyek dilapangan ada beberapa metode yang bisa digunakan yaitu :

Ø Metode Crashing

Ø TCTO (Time Cost Trade Of Analysis)

Ø Metode Fast Track

Ø Metode Least Cost Analysis

 

a.    Metode Crashing

            Kondisi yang paling sering di alami pada suatu proyek konstruksi adalah terbatasnya waktu pelaksanaan. Berdasarkan kenyataan yang ada dilapangan, sering terjadi perpanjangan waktu pelaksanaan akibat kurang cermatnya perencanaan, kurang rapinya manajemen pelaksanaan, kurang logis dan realitisnya hubungan antar aktivitas yang membawa dampak perpanjangan waktu serta membengkaknya biaya penyelesaian proyek.

     Dasar pertimbangan seorang manajer proyek dalam memutuskan  percepatan waktu dengan menggunakan  metode        crashing adalah sebagai berikut :

a)   Waktu pelaksanaan proyek yang sudah terlambat dari jadwal semula,  sehingga perlu dilakukan percepatan waktu.

b)    Waktu proyek normal dipercepat dengan menerapkan metode Crashing agar waktu penyelesaian lebih awal untuk meningkatkan performance dan profil dari pengembang/kontraktor.

Cara crashing hampir selalu berarti peningkatan biaya. Pertambahan biaya yang diakibatkan percepatan waktu/crashing adalah jumlah biaya langsung untuk menyelesaikan atau melaksanakan kegiatan dengan durasi yang dipercepat.

 Project crashing ini melibatkan empat langkah yaitu :

1.    Tentukan critical path normal dan identifikasi aktivitas kritis.

2.    Hitung crash cost per periode untuk seluruh aktivitas dalam jaringan proyek (dengan asumsi bahwa crash cost bersifat linier), rumus yang digunakan adalah :

      

3. Pilih aktivitaspada jalur kritis yang memililki crash cost/periode minimum. Percepat aktivitas tersebutsemaksimalmungkin atau sesuaikan dengan batas waktu yang diinginkan.

               4.    Periksalah, apakah aktivitas yang dipercepat tersebut masih merupakan aktivitas kritis. Seringkali, percepatan                    pada jalur kritis dapat menyebabkan jalur lain yang tidak kritis menjadi jalur kritis. Apabila jalur kritis tersebut  masih              tetap menjadi jalur terpanjang, maka ulangi langkah 3, jika tidak tentukan jalur kritis baru dan ulangi langka 3.

Metode Penelitian

     Pada penelitian ini menggunakan dengan metode deskriptif yaitu pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif (Whitney 1960).

Pembahasan

   a. Analisa Jaringan (Network Analysis)

         Untuk mengontrol atau mengendalikan suatu kegiatan proyek bisa dilakukan dengan menggunakan Kurve S, sehingga dengan menggunakan Kurve S diharapkan kegiatan proyek bisa selesai sesuai dengan waktu yang direncanakan. Namun demikian untuk lebih teliti lagi dalam mengontrol kegiatan proyek tersebut bisa dibuat analisa jaringan atau jaringan kerja, karena dengan adanya jaringan kerja maka pelaksana bisa mengetahui mana pekerjaan yang harus didahulukan atau diprioritaskan.

            Pada umumnya jaringan kerja hanya dibuat oleh kontraktor yang berskala Nasional atau Internasional, sedangkan untuk kontraktor kecil atau kontraktor daerah cukup menggunakan dengan kurva S saja. Pembuatan jaringan kerja dalam pelaksanaan pembangunan gedung diklat ini dibuat  dari master schedule pelaksanaan yang ada dari kontraktor menjadi diagram batang (Gant Chart), kemudian dijabarkan kedalam analisa jaringan.

        b. Mencari Jalur Kritis.

Jalur kritis dapat dicari dengan terlebih dahulu menghitung ealiest start time (ES), latest start (LS), earliest finish (EF) dan latest finish (LF).

- ES adalah waktu memulai suatu pekerjaan yang tercepat tanpa harus mengganggu penyelesaian pekerjaan yang mendahuluinya,

- EF adalah waktu menyelesaikan suatu pekerjaan yang tercepat,

- LS adalah waktu yang paling lambat untuk memulai suatu pekerjaan tanpa harus menunda waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan,

- LF adalah waktu yang paling lambat untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tanpa harus menunda waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan.

• Aturan dalam menghitung ES dan EF:

Hanya ada satu basis aturan untuk menghitung ES dan EF, yaitu : sebelum suatu pekerjaan dapat dimulai, seluruh pekerjaan yang mendahuluinya harus telah diselesaikan. Dengan kata lain, mencari jalur terpanjang dalam setiap aktivitas dapat menentukan ES. EF dihitung dengan formula :

EF = ES + t

Untuk menghitung ES dan EF seluruh pekerjaan, dimulai dari awal sampai ke akhir proyek (forward pass).

 

Kesimpulan

     Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan data tentang percepatan waktu dan biaya dalam pembangunan gedung pendidikan dan pelatihan P4TK / VEDC Malang tahap 4 dengan metode crashing maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Perencanaan waktu pelaksanaan proyek pembanguanan gedung pendidikan dan pelatihan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan / P4TK Malang selama 24 minggu, sedangkan waktu pelaksanaan dilapangan (existing) selama 21 minggu dan setelah dipercepat dengan metode crashing menjadi 17 minggu atau setara dengan 117 hari. Selisih antara waktu perencanaan dengan waktu percepatan adalah 29,16% sedangkan selisih antara waktu pelaksanaan (existing) dengan waktu percepatan adalah 19,05%.
  2. Perencanaan biaya pelaksanaan proyek pembanguanan gedung pendidikan dan pelatihan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan / P4TK Malang selama 21 minggu adalah Rp 958.990.793,- sedangkan biaya percepatan selama 17 minggu adalah Rp 966.635.861,- sehingga setelah dilakukan percepatan pada lintasan kritis terjadi selisih antara biaya perencanaan dengan biaya percepatan sebesar Rp 7.645.064,- atau ada kenaikan biaya 0,79%.
  3. Berdasarkan hitungan konsep nilai hasil (earned value) diketahui curve S biaya progres berada diatas biaya aktual pekerjaan dan curve S biaya pekerjaan sesuai dengan rencana, maka dapat disimpulkan bahwa pekerjaan atau pelaksanaan proyek pembangunan gedung pendidikan dan pelatihan pada Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan / P4TK Bidang Otomotif dan Elektronika Malang tidak mengalami keterlambatan maupun pertambahan biaya. Indek kinerja jadwal pada minggu pertama sampai dengan minggu ke sepuluh sesuai dengan rencana yaitu lebih dari 1.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alifen, R, S., Analisa ”What If” Sebagai Metode Antisipasi Keterlambatan Durasi  Proyek, http://puslit.petra.ac.id/journal/civil.

Badri, S., 1991, Dasar-dasar Network Planning, Penerbit Renika Cipta, Yogyakarta.

Dipohusodo, I., 1996, Manajemen Proyek dan Konstruksi, Cetakan kedua, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Ervianto, W.I., 2004, Manajemen Proyek Konstruksi, Penerbit ANDI, Yogyakarta.

Harold, K., Ninth Edition., Project Management A Systems Approach to Planning, Scheduling, and Controlling, John Wiley & Sons, Inc.

Hartono, H, 2005, Analisis Percepatan Waktu dan Biaya Pada Pembangunan Gedung FKIP UMS dengan Presedence Diagram Method, dinamika TEKNIK SIPIL, Volume 5, Nomor 1, Januari.

Imam, K., Operation Management,http://elearning.unej.ac.id.

 

PENERAPAN SELF ASSESSMENT DALAM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN Studi Kasus pada Diklat Plumbing And Heating bagi Kandidat Kompetitor Asean Skills Competition (ASC)

PENERAPAN SELF ASSESSMENT DALAM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN

Studi Kasus pada Diklat Plumbing And Heating bagi Kandidat Kompetitor Asean Skills Competition (ASC)

 

 

Oleh: Supono, S.Pd., ST., MT.

 

Widyaiswara Madya pada Program Studi Plambing dan Sanitasi Departemen Bangunan PPPPTK Bidang Otomotif dan Elektronika Malang

 

 

 

Abstrak

 

Belajar merupakan proses transfer sikap, pengetahuan, dan keterampilan kepada peserta didik. Keberhasilan pembelajarandipengaruhi banyak hal agar kegiatan tersebut bisa mencapai tujuan secara maksimal. Mulai dari kesiapan peserta didik, sarana, bahan ajar, metode, pengayaan, sampai dengan cara evaluasinya.

 

Belajar keterampilan memerlukan pendekatan yang berbeda bila dibandingkan dengan belajar yang menitik beratkan aspek pengetahuan. Sebagai contoh, pembelajaran keterampilan bagi kandidat competitor yang akan mengikuti lomba Asean Skills Competition (ASC).  Asean Skills Competition (ASC) adalah ajang kompetisi untuk menunjukkan keunggulan keterampilan bagi para competitor yang berasal dari Negara-negara Asean. Ada strategi tertentu untuk mempersiapkan competitor yang akan berlomba, khususnya dalam hal pembelajarannya. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan menerapkan self assesment  (penilaian diri) pada proses belajarnya..

 

Self assesment  (penilaian diri) adalah menilai hasil belajar peserta didik dengan cara melibatkan mereka dalam penilaian. Self assessment mencakup dua elemen kunci dalam setiap penilaian hasil belajar yaitu pertama, penentuan kriteria atau standar yang diterapkan untuk menilai hasil belajar peserta didik dan kedua, melakukan penilaian terhadap sejauh mana hasil belajar telah dicapai berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

 

Dari penerapan self assesment diketahui bahwa self assessment dapat menimbulkan motivasi yang tinggi bagi peserta didik dalam belajar, karena mereka mengetahui dengan jelas target belajar yang harus diraih. Di samping itu, dengan menerapkan  self assessment mereka dapat memahami posisi kompetensi yang sudah mereka raih, baik itu kelebihan dan kelemahannya sehingga bisa menentukan target tujuan dan rencana tindakan pada pembelajaran berikutnya.

 

Kata kunci: Self Assessment, Pembelajaran Keterampilan

 

 

 

Pendahuluan

 

Sejak tahun 2000, PPPPTK Bidang otomotif dan Elektronika Malang mendapat kepercayaan dari Kemnakertrans RI untuk mempersiapkan kandidat kompetitor yang berlomba pada Asean Skills Competition (ASC). Lomba ini diadakan setiap 2 tahun sekali. Untuk menghadapi ASC ke-9 yang diselenggarakan di Jakarta tahun 2012, ada beberapa bidang lomba yang kandidatnya dipersiapkan oleh PPPPTK Bidang otomotif dan Elektronika Malang yaitu Brick Laying, Wall and Floor Tiling, dan Plumbing and Heating. Kepercayaan ini diberikan kepada PPPPTK Bidang otomotif dan Elektronika Malang karena beberapa bidang lomba tersebut biasanya bisa meraih medali dan penghargaan, baik itu medali emas, medali perak, medali perunggu, maupun penghargaan Diploma Certificates.

 

Prestasi terbaik yang pernah diraih oleh para peserta lomba ASC yang dipersiapkan oleh PPPPTK Bidang otomotif dan Elektronika Malang itu sebenarnya tidak terlepas dari model pembelajaran yang diterapkan kepada peserta didik, dan juga termasuk di dalamnya adalah cara mengevaluasi hasil belajarnya. Salah satu cara yang diterapkan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta adalah self assessment atau penilaian diri. Pendekatan evaluasi ini dipilih karena ternyata dari pengalaman sebelumnya terbukti bahwa cara ini lebih memberikan pengaruh yang positif bagi perkembangan belajar peserta didik, terutama hasil belajarnya. Berikut ini akan dipaparkan teori dan konsep self assessment, tahap-tahap pelaksanaan, refleksi dari tahapan pelaksanaan, kesimpulan dan saran.

 

Self Assessment (Penilaian Diri)

 

Menurut Boud & Falchikov(1989), self-assessment(penilaian diri) yaitumenilai peserta didik dengan cara melibatkan mereka dalam membuat penilaian tentang belajar mereka sendiri, terutama tentang prestasi mereka dan hasil dari pembelajaran mereka. Self assessment memberikan kontribusi pada proses belajar peserta didik terutama untuk mengarahkan semua kemampuannya dalam mencapai target belajar yang telah ditentukan. Disamping itu self assessment juga dapat dipergunakan untuk melakukan perbaikan terhadap kompetensi peserta didik yang diketahui belum mencapai hasil seperti yang diharapkan selama proses belajar berlangsung. Tentu saja hasil self assessment juga bisa dipakai untuk menentukan nilai akhir dari peserta didik.

 

Penggunaan istilah self assessment mencakup dua elemen kunci dalam setiap penilaian hasil belajar yaitu pertama, penentuan kriteria atau standar yang diterapkan untuk menilai hasil belajar peserta didik dan kedua, melakukan penilaian terhadap sejauh mana hasil belajar telah dicapai berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Dalam kasus yang akan dibahas berikut ini, sebagian besar kriteria ditentukan oleh pengajar berdasarkan acuan yang sudah ada. Sedangkan peserta didik hanya terlibat dan melakukan self assessment terhadap hasil belajar yang telah mereka lakukan, kecuali kriteria aspek waktu.

 

Penerapan self assessment dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Keuntungan penerapan self assessment di kelas antara lain:

 

a.  dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik, karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri.

 

b.  peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya, karena ketika mereka melakukan penilaian, harus melakukan introspeksi diri terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya.

 

c.  dapat mendorong membiasakan dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur, karena mereka dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan penilaian.

 

Biasanya ada kecenderungan peserta didik akan menilai diri terlalu tinggi dan subyektif. Oleh karena itu self assessment harus dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan objektif. Menurut Komalasari (2010: 167) penilaian diri (self assessment) oleh peserta didik di kelas perlu dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

 

a.  menentukan kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai

 

b.  menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan

 

c.  merumuskan format penilaian, dapat berupa pedoman penskoran, daftar tanda cek atau skala penilaian.

 

d.  meminta siswa untuk melakukan penilaian diri

 

e.  guru mengkaji hasil penilaian secara acak, untuk mendorong siswa supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif

 

f.   menyampaikan umpan balik kepada siswa berdasarkan hasil kajian terhadap sampel penilaian yang diambil secara acak

 

Sementara itu Rolheiser dan Ross (2011) membagi langkah-langkah melakukan self assessment ke dalam empat tahap yaitu:

 

a.  Tahap 1 yaitu melibatkan peserta didik dalam mendefinisikan kriteria yang akan digunakan untuk menilai kinerja mereka.Langkah-langkah khusus untuk memandu tahap ini adalah sebagai berikut:

 

·      peserta didikmelakukan curah pendapat (brainstorming) untuk menentukan kriteria penilaian

 

·      guru dan peserta didikberdiskusi untuk menentukan kriteria penilaian yang telah didapat dari hasil curah pendapat (brainstorming) peserta didik

 

·      menggunakan bahasa peserta didik untuk bersama-sama mengembangkan kriteria atau rubrik penilaian.

 

b.  Tahap 2 yaitu mengajarkan kepada peserta didikcara menerapkan kriteria yang telah dibuat untuk menilai pekerjaan mereka sendiri. Langkah-langkah spesifik pada tahap ini adalah sebagai berikut:

 

·      menunjukkan contoh-contoh kasus yang biasanya dinilai

 

·      peserta didik melakukan praktekmenilai sebuah kasus menggunakan kriteria yang telah dibuat.

 

c.  Tahap 3 yaitu memberi umpan balik kepada peserta didik terhadap self assessment yang telah mereka lakukan. Langkah-langkah spesifik yang dapat memandu tahap ini adalah:

 

·      menyediakan data pembanding atau hasil penilaian yang sudah ada

 

·      diskusi tentang persamaan dan perbedaan antara self assessment yang telah dilakukan peserta didik dengan pedoman acuan penilaian atau penilaian yang dilakukan orang lain.

 

d.  Tahap 4yaitu membantu peserta didik untuk mengembangkan tujuan yang lebihbaik dan membuat rencana tindakan. Langkah-langkah spesifik yang dapat memandu tahap ini adalah:

 

·      peserta didik mengidentifikasi kekuatanatau kelemahan yang didasarkan pada data pembanding

 

·      peserta didik menentukan tujuan

 

·      guru memandu peserta didik untuk mengembangkan tindakan yang spesifik untuk mencapai tujuan mereka

 

·      mencatat tujuan yang ingin diraih oleh peserta didik dan rencana tindakannya.

 

Penerapan Self Assessment (Penilaian Diri) dalam Pembelajaran Keterampilan

 

Penerapan self assessment pada diklat Plumbing and Heating bagi kandidat kompetitor Asean Skills Competition (ASC) ini, langkah-langkahnya mengadopsi teori yang dikemukan oleh Rolheiser dan Ross (2011), yaitu terdiri dari empat tahap. Namun demikian kegiatan pada setiap tahapnya mengalami modifikasi, disesuaikan dengan situasi dan kondisi pembelajaran keterampilan. Misalnya pada tahap satu, saat awal pelajaran dimulai tidak langsung membuat kriteria penilaian, namun kepada peserta diklat dijelaskan terlebih dahulu tujuan belajar, kompetensi yang ingin dicapai dan tentu saja cara menilainya.

 

Pelaksanaan pembelajaran ini dilakukan pada tanggal 21 Nopember 2011 sampai dengan tanggal 25 Nopember 2011 dengan jumlah peserta diklat sebanyak 3 (tiga) orang. Pekerjaan yang dilakukan oleh peserta diklat yaitu membuat instalasi pipa air bersih, instalasi pipa air kotor, instalasi pipa air panas dan instalasi pipa gas. Semua instalasi pipa tersebut harus terpasang pada dinding papan. Bahan dan sambungan pipa yang digunakan yaitu untuk instalasi pipa air bersih menggunakan pipa galvanis dengan sambungan ulir, instalasi pipa air kotor menggunakan pipa PVC dengan sambungan lem PVC, instalasi pipa air panas menggunakan pipa tembaga dengan sambungan brazing (perak) dan instalasi pipa gas menggunakan pipa besi hitam (BMS) dengan sambungan las dan ulir. Di samping itu dalam pekerjaan tersebut juga ada pekerjaan spesifik yaitu membengkok pipa tembaga dan membengkok pipa BMS.

 

Tahap 1

 

Pada tahap 1 ini, kegiatan dimulai dengan pekerjaan menggambar. Peserta diklat menyalin dan menggambar ulang pekerjaan yang akan dikerjakan dengan skala: 1:5. Maksud dari kegiatan ini adalah bahwa peserta diklat diharapkan lebih memahami maksud dari gambar kerja yang akan dikerjakan secara detail, baik mengenai bahan pipa, sambungan pipa, ukuran, detail belokan, dan lain-lain. Setelah menggambar gambar detail, selanjutnya mereka bisa menghitung kebutuhan bahan berupa pipa, fitting dan bahan-bahan tambahan seperti kertas gosok, bahan tambah las, batang perak, dan lain-lain.

 

Sebelum gambar kerja dikerjakan, langkah berikutnya yaitu menentukan kriteria penilaian. Untuk menilai pekerjaan yang akan dikerjakan oleh peserta diklat ini, kriteria penilaian mengadopsi dari pedoman penilaian dari World Skills Competition (WSC) ke 41 tahun 2011 di London Inggris dengan beberapa perubahan dan penyesuaian dengan kondisi yang ada. Jadi pada tahap ini proses penentuan kriteria penilaian lebih difokuskan pada pemahaman aspek, bobot, dan kriteria penilaian kepada peserta diklat. Aspek, bobot, dan kriteria penilaian ditampilkan seperti pada Tabel 1.  Ada satu pengecualian yaitu aspek waktu yaitu bahwa peserta diklat menentukan sendiri waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan pekerjaan itu. Keputusan waktu yang diperlukan ditentukan setelah ketiga peserta diklat tersebut berdiskusi diantara mereka, dan menyepakati total waktunya yaitu 9 jam.

 

Tabel 1. Aspek, Bobot, dan Kriteria Penilaian

 

No

Aspek

Bobot

Kriteria

Nilai

    A.         

Ukuran

42

a. x ≤ 1 mm

1.00

b. 1 mm < x ≤ 2 mm

0.50

c. 2 mm < x ≤ 3 mm

0.25

d. x > 3 mm

0.00

    B.         

Tes Tekanan

12

a. 0 bocor

1.00

b. 1 bocor

0.50

c. 2 bocor

0.25

d. > 2 bocor

0.00

    C.         

Kualitas Sambungan

10

Mengikuti gambar sambungan di Buku Manual untuk Kompetitor dan Expert

    D.         

Radius

6

a. x < 1 mm

1.00

b. 1 mm < x < 1.5 mm

0.50

c. 1.5 mm < x < 2 mm

0.25

d. x > 2 mm

0.00

    E.         

Keselamatan Kerja

6

Lihat keterangan di bawah

    F.         

Ketegakan dan Kedataran

10

a. x ≤ ± 0.20

1.00

b. ± 0.20 < x ≤ ± 0.30

0.50

c. ± 0.30 < x ≤ ± 0.40

0.25

d. x > ± 0.40

0.00

   G.         

Penggunaan Material

4

a. Setiap penambahan pipa sepanjang 1 m, dikurangi 1.0

b. Setiap penambahan 1 fitting dikurangi 0.5

    H.         

Waktu

6

a. + ≤ 5 menit

1.00

b. > 5 menit

0.00

     I.          

Pekerjaan sesuai Gambar

4

a. semua bagian sesuai gambar

1.00

b. ada yang tidak sesuai gambar

0.00

Total

100

 

 

 

Kriteria dan nilai aspek keselamatan kerja:

 

Kaleng thinner terbuka ketika tidak dipakai = -1; thinner tercecer = -1; kaleng lem PVC terbuka ketika tidak dipakai = -1; lem PVC tercecer = -1; botol gas tidak ditutup = -2; potongan pipa tercecer = -1; pipa terjepit ketika ditinggalkan = -1; tidak memakai alat pelindung diri = -1; tidak memberi oli ketika mengulir = -1; oli tercecer di lantai = -1; alat atau bahan tidak tertata rapi = -1; meninggalkan benda panas = -2

 

Semua bentuk penilaian pada pekerjaan ini diusahakan bersifat obyektif, sehingga siapapun yang menilai diharapkan mendapatkan hasil penilaian yang sama dan tidak bisa. Semua aspek penilaian bisa diukur dengan alat ukur atau kriteria yang jelas misalnya aspek ukuran diukur dengan meteran, aspek tes tekanan diukur dengan pompa tekan, aspek kualitas sambungan dengan menggunakan contoh atau gambar sambungan dengan keputusan ya atau tidak, aspek radius dengan menggunakan plat mal dan batang logam dengan diameter 1 mm, 1.5 mm, dan 2 mm, aspek keselamatan kerja dengan melihat daftar hal-hal yang harus diperhatikan sewaktu praktek, aspek ketegakan dan kedataran dengan menggunakan waterpas digital, aspek penggunaan material dengan melihat jumlah tambahan bahan yang digunakan, aspek waktu dengan menjumlahkan total waktu yang digunakan, dan aspek pekerjaan sesuai gambar kerja diukur dengan membandingkan hasil pekerjaan dengan gambar kerja.

 

Tahap 2

 

Pada tahap kedua ini peserta diklat diajari cara mengukur pekerjaan yang akan mereka lakukan berdasarkan kriteria yang telah dibuat. Misalnya mengukur aspek ukuran. Ukuran panjang diukur dari as pipa sampai garis referensi, baik ke arah tegak maupun ke arah datar. Aspek ukuran tersebut diukur dengan menggunakan peralatan ukur seperti meteran, siku berpelurus, dan waterpas kecil.

 

Langkah berikutnya adalah menentukan bagian atau titik yang akan diukur. Hal pertama yang dilakukan adalah membuat format atau tabel. Setiap aspek dibuatkan satu tabel. Berikutnya mendiskripsikan setiap titik yang diukur pada setiap aspeknya. Setelah itu peserta diklat diajari cara memasukkan hasil pengukuran ke dalam format penilaian.

 


Setelah semua kriteria dan cara mengukurnya dipahami oleh peserta diklat, maka mereka bisa melakukan atau mengerjakan pekerjaannya berdasarkan gambar kerja. Di sinilah mulai nampak fungsi dari pemahaman kriteria penilaian oleh peserta diklat, yaitu ketika mereka  mengerjakan pekerjaannya. Peserta diklat akan terbantu dan dipandu oleh pengetahuan dan keterampilan yang harus dicapai melalui kriteria penilaian yang telah mereka ketahui. Dengan demikian semangat dan motivasi kerja akan terarah untuk mencapai kualitas kerja yang terbaik. Dan hasil akhir pekerjaan peserta diklat seperti pada Gambar 1.

 

 

 

 

 

 

 Gambar 1: Hasil Kerja

Sesudah peserta diklat menyelesaikan pekerjaannya, langkah selanjutnya adalah mereka  menilai pekerjaannya sendiri. Pelaksanaan pengukuran terhadap pekerjaan mereka tidak bisa dilakukan sendiri. Mereka melakukannya bertiga. Dua orang membantu melakukan pengukuran, sedangkan satu orang lainnya yang merupakan pemilik pekerjaan tersebut mencatat hasil pengukuran pada format yang telah dibuat, seperti pada Gambar 2.

 

 

 

 

Gambar 2: Penilaian Hasil kerja

Kegiatan berikutnya adalah membuat perhitungan berdasarkan kriteria, misalnya setelah dilakukan pengukuran tes kebocoran, diketahui instalasi pipa galvanis ada kebocoran pada 2 titik, maka nilainya adalah 4 dikalikan 0.25 sama dengan 1. Titik-titik atau bagian yang lain diukur dan dihitung dengan cara yang sama seperti itu. Langkah terakhir pada tahap ini adalah membuat rekapitulasi total, sehingga didapatkan hasil akhir dengan skala nilai antara 0 sampai dengan 100 dan dihitung juga prosentase pencapaiannya. Rekapitulasi hasil penilaian dari ketiga peserta didik ditampilkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Penilaian

 

No

Aspek

Nilai Max.

Perolehan Nilai

Peserta A

Peserta B

Peserta C

Nilai

%

Nilai

%

Nilai

%

  A.           

Ukuran

42

2,73

5,93

27,75

66,08

33,33

79,34

  B.           

Tes Tekanan

12

12

100

8

66,67

12

100

  C.           

Kualitas Sambungan

10

5,12

51,2

9,28

92,8

9,68

96,8

  D.           

Radius

6

3,89

69,75

4,94

82,85

5,57

92,85

  E.           

Keselamatan Kerja

6

6

100

6

100

6

100

  F.           

Ketegakan dan Kedataran

10

3,4

34

6,21

62,05

8,45

84,48

 G.           

Penggunaan Material

4

4

100

4

100

4

100

  H.           

Waktu

6

3

50

6

100

6

100

   I.            

Pekerjaan sesuai Gambar

4

4

100

3

75

4

100

Total

100

33,18

-

77,17

-

89,02

-

 

Tahap 3

 

Setelah data pengukuran dan penilaian diperoleh, hasil akhir sudah direkapitulasi, maka hasil tersebut perlu dikalibrasi atau dikontrol kembali oleh pengajar untuk mendapatkan hasil  pengukuran dan penilaian yang valid. Pengontrolan kembali dilakukan pada aspek, titik atau bagian tertentu secara acak. Fungsi kontrol ini adalah untuk melihat ketepatan dan kebenaran penilaian yang telah dilakukan oleh peserta diklat. Disamping itu fungsi kontrol ini juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri kepada peserta diklat. Peserta diklat akan merasa pecaya diri bila hasil dari pengukuran yang dilakukan oleh pengajar sama dengan yang dilakukannya, baik mengenai cara maupun hasilnya. Sehingga hal ini akan mempengaruhi cara bekerja mereka pada pekerjaan berikutnya, tentunya menjadi lebih baik.

 

Langkah berikutnya adalah pemberian umpan balik kepada peserta diklat tentang hasil kerja yang telah mereka lakukan. Pemberian umpan balik dimulai dari membahas keselamatan kerja. Masalah keselamatan kerja merupakan hal yang pokok dalam bekerja, baik menyangkut masalah keselamatan orang yang bekerja, alat yang dipakai bekerja, bahan yang dikerjakan, maupun keselamatan lingkungan tempat bekerja. Umpan balik berikutnya yaitu masalah cara kerja yang dilakukan oleh peserta diklat. Umpan balik ini merupakan hal-hal yang harus diperhatikan dan diperbaiki pada pekerjaan berikutnya menyangkut sikap dan cara dalam bekerja, misalnya teknik mengelas, cara menggunakan alat, dan lain-lain. Selanjutnya adalah umpan balik menyangkut hasil kerja. Pengajar menunjukkan kembali hasil kerja yang baik sesuai kriteria yang sudah ditentukan, misalnya sambungan ulir yang benar, sambungan las yang benar, dan lain-lain.

 

Tahap 4

 

Berdasarkan rekapitulasi penilaian hasil kerja yang sudah dikerjakan oleh peserta diklat dan umpan balik yang diberikan oleh pengajar, maka dari sana peserta diklat bisa membuat dan menentukan kelemahan dan kelebihan tentang hasil kerja yang telah diperoleh. Peserta diklat menganalisis sendiri hal-hal yang menurut mereka sudah dicapai dan hal-hal yang belum dicapai dan masih memungkinkan untuk ditingkatkan pada proses belajar berikutnya. Sebagai contoh yaitu peserta A. Pada Tabel 3 ditunjukkan hasil analisis kelemahan dan kelebihan yang dilakukan peserta A.

 

Tabel 3. Daftar Kelebihan dan Kelemahan Peserta A.

 

No

Aspek

Kelebihan

Kelemahan

1.          

Ukuran

-

Setiap sambungan kelebihan ukuran 2 mm – 4 mm

2.          

Tes Tekanan

Tidak ada sambungan yang bocor

-

3.          

Kualitas Sambungan:

 

·   Pipa tembaga

-

Di setiap sambungan ada pasta dan timah yang meluber

 

·   Pipa galvanis

-

Di setiap sambungan pipa galvanis ada kekurangan dan kelebihan ulir 1 mm – 3 mm

 

·   Pipa BMS

-

Sambungan las BMS kurang baik dan tidak membentuk alur

4.          

Sudut dan Radius

-

Sudut dan radius kurang sesuai dengan gambar dan ada belokan dengan R longgar 2 mm

5.          

Ketegakan dan Kedataran

-

Banyak yang kurang tegak dan datar disebabkan karena gambar dinding tidak tepat

6.          

Waktu

Pengerjaan pipa galvanis dan pipa BMS sesuai dengan waktu yang ditentukan

Pengerjaan gambar, pipa PVC, dan pipa tembaga waktunya melebihi yang ditentukan

 

Langkah terakhir dari proses self assessment adalah setiap peserta diklat membuat rencana tindakan untuk pekerjaan selanjutnya. Rencana tindakan yang spesifik ini adalah semacam komitmen dari peserta diklat untuk melakukan tindakan yang lebih baik pada pekerjaan selanjutnya. Pengajar bisa berperan untuk membantu peserta diklat dalam proses ini. Daftar rencana tindakan yang dibuat peserta diklat ditampilkan seperti pada tabel 4.

 

Tabel 4. Daftar Rencana Tindakan Perbaikan Peserta A.

 

No

Aspek

Tujuan

Rencana Tindakan Perbaikan

1.          

Ukuran                  

Membuat ukuran antar as pipa sesuai dengan yang ditentukan

·      Pipa galvanis sebelum dipotong ditentukan titik potongnya, kemudian buat ulir sesuai ukuran standar

·      Pipa tembaga dipotong sesuai dengan ukuran sebelum dibrazing

·      Pipa PVC dipotong sesuai dengan ukuran

·      Pipa BMS sebelum disambung dengan las, ukur panjangnya dengan teliti agar tidak ada kelebihan panjang saat dilas.

2.          

Kualitas Sambungan

Membuat sambungan pipa sesuai dengan kriteria yang ditentukan

·     Bersihkan pasta yang ada pada pipa tembaga sebelum dipatri agar timah tidak meluber

·     Pipa BMS sebelum dilas, diberi tanda dengan kapur agar bisa membentuk alur

3.          

Sudut dan Radius

Membuat sudut dan radius sesuai kriteria

·     Sudut dan radius harus diperhatikan dengan cara mengukurnya harus tepat.

4.          

Ketegakan dan Kedataran

Membuat instalasi pipa yang tegak dan datar

·     Ketegakan dan kedataran pipa harus selalu dikontrol dengan waterpas saat pemasangan.

5.          

Waktu

Mengerjakan pekerjaan masih dalam toleransi waktu yang ditentukan

·     Kecepatan pengerjaan pipa dan gambar lebih ditingkatkan.

 

Refleksi                               

 

Dalam penerapan self assessment yang telah dilakukan pada semua tahapan pembelajaran mulai tahap 1 sampai dengan tahap 4 dapat dikemukakan beberapa hal sebagai refleksi dari kegiatan yang telah dilakukan yaitu:

 

a.  beberapa hal yang menjadi kunci penerapan self assessment adalah keterlibatan peserta diklat dalam menyusun kriteria penilaian, pemahaman mereka terhadap kriteria penilaian, dan cara mengukur hasil kerja mereka berdasarkan kriteria penilaian yang telah dibuat.

 

b.  hasil pengamatan pengajar terhadap peserta diklat secara kualitatif terlihat bahwa mereka bekerja dengan motivasi yang tinggi berdasarkan kriteria yang sudah mereka ketahui. Mereka mengerahkan segala kemampuannya untuk mencapai hasil yang optimal dengan panduan kriteria yang ada. Salah satu contohnya bisa dilihat pada aspek keselamatan kerja pada daftar rekapitulasi penilaian. Mereka tidak ada yang melanggar rambu-rambu keselamatan kerja yang telah dibuat, karena pedomannya jelas sehingga mereka cenderung untuk mematuhinya.

 

Kesimpulan

 

Dari tahapan penerapan self assessment  yang telah dilakukan di atas dapat disimpulkan seperti berikut ini:

 

a.    self assessment dapat menimbulkan motivasi yang tinggi bagi peserta diklat dalam bekerja karena mereka mengetahui dengan jelas target belajar yang harus diraih.

 

b.    penerapan self assessment dapat dilakukan peserta diklat dengan baik pada setiap tahapnya dan peserta diklat dapat memahami posisi kompetensi yang sudah mereka raih, baik itu kelebihan dan kelemahannya sehingga bisa menentukan target tujuan dan rencana tindakan pada pembelajaran berikutnya.

 

Saran

 

Berdasarkan kajian teori, tahapan pelaksanaan, refleksi, dan kesimpulan yang telah dikemukakan, ada beberapa saran yang bisa disampaikan yaitu:

 

a.    untuk pembelajaran keterampilan diusahakan kriteria penilaian bersifat obyektif dan terukur sehingga siapapun yang melakukan pengukuran dan penilaian tidak mengalami bias.

 

b.    meskipun dalam self assessment ini keterlibatan peserta didik lebih dominan, namun pengajar tetap harus melakukan pendampingan secara optimal.  Self assessment jangan dijadikan alasan oleh pengajar untuk mengurangi tanggung jawabnya dalam menilai hasil belajar peserta didik.

 

Referensi

 

Boud, D. & Falchikov, N. 1989. Quantitative studies of student self-assessment in higher education: a critical analysis of findings. http://www.springerlink.com/content/x7h8l15 v0q573856/

 

Komalasari, K. 2010. Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi. Penerbit: PT Refika Aditama. Bandung.

 

Rolheiser , C. and Ross, J. A. 2011. Student Self-Evaluation: What Research Says And What Practice Shows.http://www.cdl.org/resource-library/articles/self_eval.php

 

Worldsklills International. 2011. Technical Description Plumbing and Heating. Assessment Criteria of Joint Quality. Skill 15 Plumbing and Heating. Manual for Experts and Competitors.

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG