PENCEMARAN AIR AKIBAT LIMBAH RUMAH TANGGA

PENCEMARAN AIR AKIBAT LIMBAH RUMAH TANGGA

Hartiyono (WidyaiswaraMadya )

DepartemenBangunan PPPPTK BOE / VEDC Malang

 

 

ABSTRAK

Air tidak dapat di gunakan lagi untuk keperluan rumah tangga, air yang sudah tercemar dankemudian tidak dapat di gunakan lagi sebagai penunjang kehidupan manusia, akan menimbulkan dampak sosial yang sangat luas dan akan memakan waktu lama untuk memulihkannya, padahal air yang di butuhkan untuk keperluan rumah tangga sangat banyak. Air tidak dapat digunakan untuk keperluan industri, kalau air sudah tercemari air tersebut tidak bisa di gunakan untuk keperluan industri usaha untuk meningkatkan kehidupan manusia tidak akan tercapai. Air tidak dapat di gunakan untuk keperluan pertanian, karena airnya sudah tercemar maka tidak bisa digunakan lagi sebagai irigasi, untuk pengairan di persawahan dan kolam perikanan, karena adanya senyawa anorganik yang mengakibatkan perubahan drastis pada pH air.

Kata kunci : Air , Industri , Manusia

 

A.     Pendahuluan

Pada saat ini manusia kurang akan kesadaran lingkungan sendiri. Banyak di antara mereka yang kurang mengerti akan kebersihan lingkungan, sehingga mereka dengan mudahnya membuat limbah yang sangat berbahaya bagi lingkungan. Seperti halnya aktivitas sehari-hari yang kita lakukan seperti mandi, mencuci dan berbagai aktifitas lain yang kita anggap sepele namun menghasilkan sisa buangan ternyata dapat membahayakan bagi manusia dan lingkungan khususnya lingkungan laut. Dari sekian banyak aktifitas manusia ternyata yang paling berbahaya adalah limbah rumah tangga. Walaupun kita tidak hidup di wilayah pesisir dan banyak limbah industri yang tidak diolah juga dapat membahayakan perairan laut tapi melihat banyaknya penduduk Indonesia dengan limbah rumah tangga yang tidak diolah serta di hasilkan setiap hari. Dapat dikatakan keruksakan karena limbah rumah tangga lebih besar dari pada limbah industri.

 

B.  Pengertian Pencemaran

pencemaran adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain kedalam air atau udara, dan /atau berubahnya tatanan (komposisi) air/udara oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas udara/air menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.

 

C. Sumber Limbah Rumah Tangga

Limbah rumah tangga merupakan limbah yang dihasilkan oleh satu rumah atau beberapa rumah. Sumber limbah rumah tangga adalah sebagai berikut:

a)            Limbah Organik,

berdasarkan pengertian secara kimiawi limbah organik merupakan segala limbah yang mengandung unsur Karbon (C), sehingga meliputi limbah dari mahluk hidup (misalnya kotoran hewan dan manusia seperti tinja (feaces) bepungsi mengandung mikroba potogen, air seni (urine) umumnya mengandung Nitrogen dan Posfor) sisa makanan (sisa-sisa sayuran, wortel, kol, bayam, salada dan lain-lain) kertas, kardus, karton, air cucian, minyak goreng bekas dan lain-lain. Limbah tersebut ada yang mempunyai daya racun yang tinggi, misalnya: sisa obat, baterai bekas, dan air aki. Limbah tersebut tergolong (B3) yaitu bahan berbahaya dan beracun, sedangkan limbah air cucian, limbah kamar mandi, dapat mengandung bibit-bibit penyakit atau pencemar biologis seperti bakteri, jamur, virus, dan sebagainya. Namun secara teknis sebagian orang mendefinisakan limbah organik sebagai limbah yang hanya berasal dari mahluk hidup (alami) dan sifatnya mudah busuk. Artinya bahan-bahan organik alami namun sulit membusuk/atau terurai, seperti kertas, dan bahan organik sintetik (buatan) yang sulit membusuk atau terurai.

b)            Limbah Anorganik,

 berdasarkan pengertian secara kimawi, limbah yang tidak mengandung unsur karbon, seperti logam (misalnya besi dari mobil bekas atau perkakas dan almunium dari kaleng bekas atau peralatan rumah tangga), kaca dan pupuk anorganik (misalnya yang mengandung unsure nitrogen dan fospor). Limbah-limbah ini tidak memiliki unsur karbon sehingga tiak dapat di urai oleh mikro organism. Seperti halnya limbah organik, pengertian limbah organik yang sering diterapkan dilapangan umumnya limbah anorganik dalam bentuk padat (sampah) agak sedikit berbeda dengan pengertian diatas secara teknis limbah anorganik di definisikan sebagai limbah yang tidak dapat atau sulit terurai atau busuk secara alami oleh miro organism pengurai. Dalam hal ini bahan organic seperti plastic, karet, kertas, juga dikelompokan sebagai limbah anorganik. Bahan-bahan tersebut sulit terurai oleh mikroorganisme sebab unsur karbonnya memebentuk rantai kimia yang kompleks dan panjang.

Klasifikasi limbah padat (sampah) menurut istilah teknis ada 6 kelompok, yaitu:

1.    Sampah Organik mudah busuk (garbage), yaitu limbah padat semi basah berupa bahan-bahan organic yang mudah busuk.

2.    Sampah Anorganikdan organic tak membusuk (rubbish) yaitu limbah padat anorganik atau organic cukup kering yang sulit terurai oleh mikro organisme, sehingga sulit membusuk, misalnya kertas, plastik kaca dan logam.

3.    Sampah abu (ashes), yaitu limbah padat yang berupa abu, biasanya hasil pembakaran.

4.    Sampah bangkai binatang (bead animal), yaitu semua limbah yang berupa bangkai binatang.

5.    Sampai sapuan (street sweeping), yaitu limbah padat hasil sapuan jalanan yang berisi berbagai sampah yang tersebar di jalanan.

6.    Sampah industry (industry waste), yaitu sebuah limbah padat buangan industri.

D. Dampak Limbah Rumah Tangga

Air tidak dapat di gunakan lagi untuk keperluan rumah tangga, air yang sudah tercemar dan ke mudian tidak dapat di gunakan lagi sebagai penunjang kehidupan manusia, akan menimbulkan dampak sosial yang sangat luas dan akan memakan waktu lama untuk memulihkannya, padahal air yang di butuhkan untuk keperluan rumah tangga sangat banyak. Air tidak dapat digunakan untuk keperluan industri, kalau air sudah tercemari air tersebut tidak bisa di gunakan untuk keperluan industri usaha untuk meningkatkan kehidupan manusia tidak akan tercapai. Air tidak dapat di gunakan untuk keperluan pertanian, karna airnya sudah tercemar maka tidak bisa digunakan lagi sebagai irigasi, untuk pengairan di persawahan dan kolam perikanan, karena adanya senyawa anorganik yang mengakibatkan perubahan drastis pada pH air.Dampak dari pembungan limbah padat organik yang berasal dari kegiatan rumah tangga, limbah padat organik yang didegradasi oleh mikroorganisme akan menimbulkan bau yang tidak sedap (busuk) akibat penguraian limbah tersebut menjadi yang lebih kecil yang di sertai dengan pelepasan gas yang berbau tidak sedap. Limbah organic yang menghasilkan yang mengandung protein akan menghasilkan bau yang tidak sedap lagi (lebih busuk) karena protein yang yang mengandung gugus amin itu akan terurai menjadi gas ammonia.Dampak dalam kesehatan yaitu dapat menyebabkan dan menimbulkan penyakit, potensi bahaya kesehatan yang dapat di timbulkan adalah: penyakit diare dan tikus, penyakit ini terjadi karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan yang tidak tepat. Penyakit kulit seperti kudis dan kurap.

Berikut ini dampak negative dari limbah rumah tangga yang masuk ke dalam lingkungan laut:

a)              Eutrofikasi, penyebab terbesar adalah sungai yang bermuara di laut, limbah yang terbawa salah satu adalah bahan kimia yang di gunakan sebagai pupuk alam pertanian maupun limbah dari perternakan dan manusia, salahsatu yang paling sering di temukan adalah detergen. Eutropikasi adalah perairan menjadi terlalu subur sehingga terjadi ledakan junlah alga dan fitoplankton yang saling berebut mendapat cahaya untuk fotosintesis. Karena terlalu banyak maka alga dan fitoplankton di bagian bawah akan mengalami kematian secara massal, serta terjadi kompetensi dalam mengkonsumsi O2 karena terlalu banyak organisme pada tempat tersebut. Sisa respirasi menghasilkan banyak CO2 sehingga kondisi perairan menjadi anoxic dan menyebabkan kematian massal pada hewan-hewan di perairan tersebut.

 

b)  Peningkatan emisi CO2 akibat dari banyaknya kendaraan, penggunaan listrik berlebihan serta buangan industri akan memberikan efek peningkatan kadar keasaman laut. Peningkatan CO2 tentu akan berakibat buruk bagi manusia terkait dengan kesehatan pernapasan, Salah satu fungsi laut adalah sebagai penyerap dan penetral CO2 terbesar di bumi. Saat CO2 di atmosfer meningkat maka laut juga akan menyerap lebih banyak CO2 yang mengakibatkan meningkatnya derajat keasaman laut. Hal ini mempengaruhi kemampuan karang dan hewan bercangkang lainnya untuk membentuk cangkang. Jika hal ini berlangsung secara terus menerus maka hewan-hewan tersebut akan punah dalam jangka waktu yang dekat.

 

c)   Plastik, yang menjadi masalah terbesar dan paling berbahaya. Banyak hewan yang hidup pada atau di laut mengkonsumsi plastik karena kesalahan, Karena tidak jarang plastik yang terdapat di laut akan tampak seperti makanan bagi hewan laut. Plastik tidak dapat di cerna dan akan terusberada pada organ pencernaan hewan ini, sehingga menyumbat saluran pencernaan dan menyebabkan kematian melalui kelaparan atau infeksi. Plastik terakumulasi karena tidak mudah terurai, plastik akan photodegrade (terurai oleh cahaya matahari) pada paparan sinar matahari, tetepi hanya dapat terjadi dalam kondisi kering. Sedangkan dalam air plastik hanya akan terpecah menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, namun tetap tetep polimer, bahkan sampai ke Pe tingkat molekuler. Ketika pertikel-pertikel plastik mengambang hingga seukuran zooplankton dan di konsumsi oleh hewan lain yang lebih besar, dengan cara inilah plastik kedalam rantai makanan. Banyak dari potongan plastik ini berakhir di perut burung-burung laut dan hewan laut lain termasuk penyu. Bahan beracun yang digunakan dalam pembuatan bahan plastik dapat terurai dan masuk ke lingkungan ketika terkena air. Racun ini bersifat hidrofobik (berkaitan dengan air) dan menyebar di permukaan laut. Dengan demikian plastik jauh lebih mematikan di laut dari pada di darat. Kontaminan hidrifobik juga dapat terakumulasi pada jarak lemak, sehingga racun pelasti diketahui mengganggu system endokrin ketika di konsumsi, serta dapat menekan system kekebalan tubuh atau menurun tingkat reproduksi.

E. Cara Penanggulangan Pencemaran Limbah Rumah Tangga

Cara penanggulangan pencemaran limbah rumah tangga yang efektif supaya tidak merusak pada lingkungan dan menjadikan lingkungan tetap bersih dan terhindar dari bibit penyakit yakni dengan cara:

 

a)    Dengan cara di daur ulang

Di jual ke pasar loak atau tukang rongsokan yang bisa lewat di depan rumah-rumah. Cara ini bisa menjadikan limbah atau sampah yang semula bukan apa-apa sehingga bisa menjadi barang yang ekonomis dan bisa menghasilkan uang. Dapat juga di jual kepada tetangga kita yang menjadi tukang loak atau pemulung. Barang-barang yang dapat di jual antara lain kertas-kertas bekas, Koran bekas, majalah bekas, ban bekas, radio tua, TV tua dan sepeda yang using.

 

b)   Dengan cara pembakaran

Cara ini adalah cara yang paling mudah untuk di lakukan karena tidak membutuhkan usaha yang keras. Cara ini bisa di lakukan dengan cara membakar limbah-limbah padat misalnya kertas-kertas dengan menggunakan minyak tanah lalu di nyalakan apinya. Kelebihan cara membakar ini adalah: mudah dan tidak membutuhkan usaha keras, membutuhkan tempat atau lokasi yang cukup kecil, dapat di gunakan sebagai sumber energy baik untuk pembangkit uap air panas, listrik dan pencairan logam.

 

c)    Dengan cara pengomposan

Merupakan proses biokimia, yaitu zat organik dalam limbah di pecah, menghasilkan humas yang bermanfaat untuk memperbaiki strutur tanah.

 

d)   Pemisahan

Yaitu dengan cara pengambilan bahan tertentu kemudian diperoses lagi sehingga mempunyai nilai ekonomis.

 

e)    Dengan cara pembusukan

 Limbah tersebut untuk mendapatkan kompos, pada proses ini, aka nada energi organik yang terbuang dalam bentuk panas dan gas polusi yang terjadi mencakup udara, tanah, dan air yang terjadi dari proses pembusuksn bahan organik, karena aktivitas dari mikroorganisme potogen yang berbahaya bagi hewan dan manusia. Pencemaran secara kimia terjadi karena pelapisan ion negatif dari pembusukan yang membuat gas-gasdan senyawa beracun.Penumpukan sampah dengan ketebalan-ketebalan tertentu kemudian diurug dengan tanah yang bisa disebut land fillsystem. Metode ini merupakan cara yang paling diunggulkan sampai saat ini, sekalipun hanya dapat mengurai bau dari 40%. Dan masalah ini tidak akan pernah tuntas mengingat bau adalah gas yang bersifat ringan dan segera mengisi ruangan.  

 

F. KESIMPULAN

Jadi pada dasarnya pencemaran bersumber dari limbah rumah tangga yang dirasa sangat berbahaya bagi lingkungan, dan limbah rumah tangga tersebut dapat ditanggulangi dengan 5 cara:

1. Dengan cara daur ulang.

2.  Dengan cara pembakaran.

3.  Dengan cara pengomposan.

4.  Dengan cara pemisahan.

5. Dengan cara pembusukan.

 

G. DAFTAR PUSTAKA

Wardhana, W.A. (2001). Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Andi.

Mulia, R.M. (2005). Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sastrawijaya, A.T (2000). Pencemaran Lingkungan. Jakarta: Rineka Cipta.

Kristanto, Philip. (2002). Ekologi Industri. Jogjakarta: Andi.

http://noviresbioku.blogspot.com/2010/05/limbah-rumah-tangga-dan-pencemaran.html

http://fajarnugrahablogspotcom.blogspot.com/2011/07/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

http://www.anneahira.com/artikel-pencemaran-air.htm

KONTRUKSI SAMBUNGAN EKOR BURUNG (DOVE TAIL JOINT) PADA KONTRUKSI KAYU

KONTRUKSI SAMBUNGAN EKOR BURUNG

(DOVE TAIL JOINT) PADA KONTRUKSI KAYU

Oleh : Amin Suminto (WI.  Departemen Bangunan)

 

Abstraksi:

 

Sambungan ekor burung (dove tail joint) pada furnitur kayu(kayu masif)yaitu sambungan sudut yang paling bagus dan sangat digemari oleh banyak orang, karena sambungan sudut ini sambungan sudut yang paling sulit dibandingkan sambungan-sambungan sudut yang lain.

Agar dalam pembuatan sambungan ekor burung ini tidak sering terjadi kesalahan pada waktu melakukan pembagian lubang maupun pen ekor burungnya, maka sebaiknya dibuat acuan perhitungan pembagian lubang dan pen ekor burung yang sama besarnya dan benar. 

Disini dibuatkan acuan atau langkah-langkah cara melukis pada benda kerja dan membuat sambungan sudut ekor burung yang benar dan bagus, agar hasilnya sangat memuaskan.  

Kata kunci: Dove tail joint, masif, lubang, pen ekor. 

 

1. Kontruksi ekor burung

Ekor burung adalah sambungan sudut yang sudah lama dikenal. Terutama digunakan untuk benda dari kayu masif. Kadang-kadang juga digunakan pada benda kerja dari bahan block board (kayu olahan).

 

2. Sambungan ekor burung sederhana/ terbuka

Pada ekor burung sederhana bagian hubungannya, pen dan lubangnya terbuka. Karena pen ekor burung berbenruk baji, sambungan ini dapat dilem tanpa pres. Kalau diinginkan terlihatnya sisi depan verstek (perabot masif), maka ekor burung yang pertama dapat dipotong verstek. Ekor burung sederhana digunakan pada laci, rak, perabot masif.

 

2.1.        Pembagian ekor burung dilakukan pada garis tengah  

           ekor burung (lihar gambar):

 

Digunakan rumus:

Jumlah pen ekor burung       =         

(Lebar kayu) / (3 x ½ tebal kayu)

                  Jumlah pen sisi lain              =  Jumlah pen ekor burung + 1

      Jumlah bagian                       =  (2 x jumlah pen) + (1 x jumlah pen yang lain)

1 bagian                                 =  (lebar kayu) / (Jumlah bagian)

       Kemiringan ditentukan seperti terlihat pada gambar.

Contoh: 

Lebar papan 120 mm,   tebal papan 20 mm. 

Jumlah pen ekor burung          = 120 / (3 x ½ x 20)  

                                                   =  120 / 30   

                                                   = 4                                                   

Jumlah pen sisi lain                 =  4 + 1 = 5 

Jumlah bagian                          =  (2 x 4) + (1 x 5)

                                                   = 8 + 5 = 13

1 bagian                                    =  120 / 13        

                                                    = 9,2 mm

                                                     

Kemungkinan 1 = Pembagian ekor burung

                         

 

                           

 

1.    Pembagian ekor burung, dilakukan pada sisi dalam.

      Lubang dan pen dibagi sama lebar. Cara kedua ini lebih mudah daripada cara yang pertama, tetapi pen sisi samping/ tepi lebih lebar.

 

Pembagian ekor burung         =   (Lebar kayu)  / (Tebal kayu)

                                                   =  120 / 2 

                                                   =   6 + 1 = 7                                                                       

      Jika hasilnya gasal, bisa dibulatkan ke atas atau ke bawah. kemiringan ekor burung                dilakukan dengan siku-siku swai yang sudah disetel kemiringannya dengan perbandingan       = 1 : 7

 

Kemungkinan 2

 

                           

 

 2.2. Ekor burung setengah tertutup / terbenam:

Sambungan ini dipakai jika ekor burung tidak dikehendaki kelihatan pada satu sisi. Tebal yang menutupi hendaknya 1/3 sampai ¼ tebal kayu.

 

Penutup ini menutup kepala kayu pen ekor burung. Pembagian ekor burung dapat dilakukan seperti cara di atas tetapi tebal kayu T diganti A. Jika ekor burung setengah  tertutup digunakan pada papan laci muka yang miring, harus diperhatikan, setengah pen ekor burung dan pen sisi lain sejajar dengan arah serat samping.

 

Kemungkinan 1

              


Kemungkinan 2

 

                            

                         

 

2.3. Ekor burung tersembunyi (verstek):

Ekor burung verstek disebut juga ekor burung tersembunyi. Sangat jarang digunakan karena elemen penghubung tidak kelihatan, maka sambungan ekor burung dapat diganti dengan sambungan yang lebih praktis misalnya pen bulat atau pen isian.

                   

 

2.4. Pengerjaan Konstruksi Ekor Burung dengan Mesin:

Ekor burung manual (dikerjakan dengan tangan) membutuhkan wakyu banyak. Jika dikehendaki sambungan ekor burung dalam jumlah banyak, kita mengerjakannya dengan mesin ekor burung.

 

Sebuah pisau frais (girik) ekor  burung pada mesin girik atas melalui pengantar menggirik langsung dengan satu kali jalan pen dan lubangnya.

 

Melalui bentuk pisau dihasilkan dasar ekor burung terbuka atau setengah tertutup. Pada kontruksi ½ ekor burung tertutup, dasar ekor burung (yang bundar) akan tertutup sehingga tidak ada bedanya dengan ekor burung manual.

                         

 

2.5. Kontruksi Ekor Burung Memanjang dan Menyudut:

Baik untuk kontruksi yang menahan tarikan. Kedalaman ekor burung 1/3 tebal papan. Untuk hubungan di tengah seperti lidah alur. Titik henti alur ekor burung dari ujung 7 mm. Bila terlalu lebar, sambungan pada bagian ini akan terbuka kalau kayu menyusut.

                         

 Kesimpulan:

 Agar dalam pembuatan sambungan ekor burung ini tidak sering terjadi kesalahan pada waktu melakukan pembagian lubangmaupun pen ekor burungnya, maka sebaiknya dibuat acuan perhitungan pembagian lubang dan pen ekor burung yang sama besarnya dan benar.

Disini dibuatkan acuan atau langkah-langkah cara melukis pada benda kerja dan membuat sambungan sudut ekor burung yang benar dan bagus, agar hasilnya sangat memuaskan. 

 

Referensi :

-          Yuswanto, 2000, Finishing Kayu, Yayasan Kanisius, Jogyakarta.

-          Herbst, 2005, HOLZTECHNIK Fahkunde EUROPA LEHRMITTEL,

halaman 211 s.d 215.

Produktivitas pekerja pada pengerjaan atap baja ringan di perumahan Green Hills Malang

PRODUKTIVITAS PEKERJA PADA PENGERJAAN ATAP BAJA RINGAN

DI PERUMAHAN GREEN HILLS MALANG

 

Oleh: Drs. Dwi Tanto, ST, MT. Widyaiswara P4TK BOE Malang

 

ABSTRAK

Kendala utama bagi perusahaan konstruksi baja ringan Inersia Construktion dewasa ini dalam usaha pengembangan produktivitas pekerjaan konstruksi, adalah belum adanyastandar produktivitas untuk pengerjaan rangka atap baja ringan, karena setiap perusahaan mempunyai karakter dan ke kususanmasing-masing. Penelitian ini menganalisis pengaruh upah yang diterima pekerja, pendidikan, kemampuan kerja dan disiplin kerja terhadap produktivitas pekerja struktur rangka atap baja ringan di  Perumahan Green Hills Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah pekerja rangka atap baja ringan pada proyek pembangunan yang sedang berlangsung,  Pembangunan Perumahan di Green Hills dengan pekerja yang berjumlah 37 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling jenuh, artinya sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah keseluruhan dari jumlah populasi. Analisis data menggunakan regresi berganda.

Hasil penelitian dan analisa data menunjukkan bahwa upah yang diterima pekerja, pendidikan, kemampuan kerja serta disiplin kerja berpengaruh signifikan terhadap produktivitas pekerjaan struktur rangka atap baja ringan di  Perumahan Green Hills Malang  sebesar 64,2%, dan sisanya 35,8% dijelaskan oleh variable yang tidak dimasukkan dalam model.

Guna meningkatkan produktivitas kerja, maka manajemen pelaksanaan proyek konstruksi perlu memperhatikan kemampuan kerja karyawan/ pekerja, dengan kemampuan pekerja yang memadai akan mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik, untuk membangkitkan semangat kerja manajemen harus memperhatikan upah selain itu perlu adanya peraturan yang tegas guna meningkatkan kedisiplinan para pekerja.

 

Kata kunci : upah, pendidikan, kemampuan kerja, disiplin kerja dan produktivitas

 

 

Pendahuluan.

 

Perkembangan Teknologi membawa perubahan yang baik dan benar terhadap kemajuan di bidang konstruksi. baja ringan memiliki potensi besar untuk melindungi kerusakan alam yang makin drastis akibat penggunaan kayu yang berlebihan. Selain itu material ini juga menawarkan solusi yang sesungguhnya ekonomis dibandingkan dengan penggunaan material seperti kayu.

Rangka atap baja ringan diciptakan untuk memudahkan perakitan dan konstruksi. Dengan sistem pabrikasi (pemasangan) yang begitu efisien dan praktis, rangka kuda kuda atap baja ringan dapat memenuhi tuntutan akan efisiensi waktu dalam penyelesaian suatu gedung. Baja ringan merupakan baja mutu tinggi yang memiliki sifat ringan dan tipis namun memililki fungsi setara baja konvensional. Rangka atap baja ringan yang di produksi denganroll forming system/cold forming system tahan terhadap rayap, tidak mudah muai, tahan karat danuntuk mengatasi kelemahan pada rangka atap kayu dan rangka atapbaja konvensional Sekaligusuntuk menjawab kebutuhan rangka atapmasa depan. Rangka atap baja ringan diciptakan untuk memudahkan perakitan dan konstruksi. Meskipun tipis baja ringan memiliki kekuatan tarik 550 Mpa, sementara baja biasa sekitar 300 Mpa.

Berkaitan dengan pemasangan konstruksi baja ringan, diperlukan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan khusus dengan harapan untuk memperoleh hasil yang terbaik. Oleh sebab itu perlu dilakukan suatu pengukuran produktivitas di lapangan yang bertujuan untuk mengetahui tolok ukur produktivitas yang telah dicapai dan merupakan dasar dari perencanaan bagi peningkatan produktivitas pemasangan konstruksi baja ringan di masa datang.

 

Sumber Daya Manusia memegang peranan yang sangat penting, sebab dengan tidak adanya tenaga kerja/karyawan yang profesional/kompetitif, perusahaan tidak dapat melakukan aktivitasnya secara maksimal meskipun semua peralatan modern yang diperlukan telah tersedia. Bertitik tolak dari karyawan sebagai sumber daya manusia itulah, maka perusahaan perlu mengetahui bahwa tenaga kerja memerlukan penghargaan serta diakui keberadaannya, juga prestasi kerja yang mereka ciptakan dan harga diri yang mereka miliki karena sumber daya manusia bukan mesin yang siap pakai. Salah satu cara memberikan penghargaan terhadap prestasi kerja karyawan yaitu dengan melalui upah. Tingkat pendidikan karyawan sangat penting untuk diperhatikan karena tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi pola pikir, sikap dan tingkah laku mereka.

Tujuan dari penelitian yang dilakukan ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengaruh presepsi upah yang diterima pekerja terhadap produktivitas pekerjaan struktur rangka atap

2.    Untuk mengetahui pengaruh pendidikan terhadap produktivitas pekerjaan struktur rangka atap

3.    Untuk mengetahui pengaruh kemampuan kerja terhadap produktivitas pekerjaan struktur rangka atap

4.    Untuk mengetahui pengaruh disiplin kerja terhadap produktivitas pekerjaan struktur rangka atap

 

Berdasarkah hasil kajian tersebut, penelitian ini ingin menguji apakah presepsi upah, pendidikan, kemampuan kerja dan disiplin kerja memberikan kontribusi terhadap produktivitas pekerjaan struktur rangka atap baja ringan di perumahan Geen Hills Kota Malang.         Dipilihnya lokasi perumahan Geen Hills sebagai obyek penelitihan adalah karena pada perumahan ini menggunakan bahan atap dari rangka kayu dan rangka baja ringan pada type rumah yang sama, dengan durasi pembangunan pada setiap unit rumah sekitar 3 – 4 bulan untuk pekerjaan konstruksi type Klasik 60 dengan luas atap 91,50 m²,  berdasarkan data lapangan dapat diketahui untuk pekerjaan atap rangka kayu diselesaikan dalam waktu 3 minggu dan untuk atap baja ringan diperlukan waktu 1 minggu, Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis akan melakukan sebuah penelitian tentang produktivitas tenaga kerja pada pengerjaan atap baja ringan di sebuah proyek Pembangunan Perumahan Green Hills, Malang, Jawa Timur.

Penelitianpresepsi upah, pendidikan, kemampuan kerja dan disiplin kerja terhadap produktivitas pekerjaan struktur rangka atap

Produktivitas diartikan sebagai tingkatan efisiensi dalam memproduksi barang atau jasa. (Iman Soeharto, 1995 ;294). “ Produktivitas adalah suatu pendekatan interdisipliner untuk menentukan tujuan yang efektif, pembuatan rencana, aplikasi penggunaan cara yang produktif untuk menggunakan sumber-sumber secara efisien, dan tetap menjaga adanya kualitas yang tinggi.

Mengingat bahwa pada umumnya proyek berlangsung dengan kondisi yang berbeda-beda, maka dalam merencanakan tenaga kerja hendaknya dilengkapi dengan analisis produktivitas dan indikasi variable yang mempengaruhi (Iman Soeharto, 1995).

Upah merupakan faktor yang sangat penting bagi perusahaan, karena jumlah upah atau balas jasa yang diberikan perusahaan kepada karyawannya akan mempunyai pengaruh yang tidak kecil terhadap jalannya perusahaan.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Dalam Bab I Pasal 1 angka 30 dijelaskan Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan,

pendidikan menurut Undang–undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah sebagai berikut : “Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang”.

Menurut (Gibson, 1984), kemampuan menunjukkan potensi orang untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan. Kemampuan berhubungan erat dengan kemampuan fisik dan mental yang dimiliki orang untuk melaksanakan pekerjaan. Kemampuan (ability).  (Bolman et al. 1999) juga menyatakan bahwa kemampuan individu untuk menjadi lebih bernilai, terkendali, dan lebih efektif harus dengan dukungan pelatihan, pengalaman.

untuk memperoleh kemampuan dalam melaksanakan pekerjaan dapat melalui pendidikan yang relevan dengan pekerjaan. Pelatihan memang mutlak perlu dilakukan karena manfaatnya tidak hanya bagi karyawan yang bersangkutan seperti memberikan kepada seseorang kepercayaan diri, meningkatkan pengetahuan, keterampilan sehingga akan dapat meningkatkan prestasi kerjanya yang pada akhirnya akan terwujud produktivitas kerja yang baik

Disiplin yang baik mencerminkan besarnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Hal ini mendorong kegairahan kerja, semangat kerja dan terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat. Menurut (Hasibuan, 2006,193) kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku. ketidakdisiplinan karyawan di dalam suatu perusahaan maka, secara tidak langsung akan berakibat negatif bagi pihak perusahaan tersebut. Adapun akibat dari ketidakdisiplinan karyawan didalam suatu perusahaan menurut (Kartono, 2000,178) adalah sebagai berikut :

a    Target Produksi Tidak Tercapai

b    Biaya Produksi Semakin Besar

c    Tujuan Jangka Panjang Terhambat

(Aprilian, T. 2010) melakukan penelitian dengan judul Analisis Produktivitas Tenaga Kerja Pada Pekerjaan Struktur Rangka Atap Baja (Studi Kasus Proyek Pembangunan Rumah Sakit Dr. Moewardi, Surakarta Jawa Tengah). Dengan menggunakan analisis regresi berganda ditemukan bukti bahwa variabel yang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap besarnya tingkat produktivitas tenaga kerja adalah variabel kesesuaian upah, pengalaman kerja dan variabel keahlian pekerja.

(Hidayat, F. 2009) melakukan penelitian tentang Motivasi Pekerja Pada Proyek Konstruksi Di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, secara umum, tingkat kebutuhan pekerja adalah physiological need (kebutuhan fisik) karena mereka masih melakukan pekerjaan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar.

 

Metode

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian penjelasan (explanatory) dengan pendekatan survei. Penelitian eksplanatif (explanatory research) yaitu penelitian yang berusaha menjelaskan hubungan kausal dan menguji keterkaitan yang terjadi antara fakta-fakta  Metode survei adalah merupakan upaya pengumpulan informasi secara sistematis dari sebagian populasi yang dianggap dapat mewakili populasi tertentu dengan menggunakan kuesioner sebagai alat bantu pengambilan data primer dari responden (Palestin, 2008).

Populasi dalam penelitian ini adalah pekerja pada sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung, pada proyek Pembangunan Perumahan di Green Hills, Malang .Selanjutnya teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling jenuh. Teknik sampling jenuh / sensus adalah teknik penentuan sample bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel menurut (Sugiyono, 2010).Sehingga sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah keseluruhan dari jumlah popluasi yaitu seluruh pekerja pada sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung, pada proyek Pembangunan Perumahan di Green Hills, Malang yang berjumlah 37 orang.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, yang mana merupakan teknik pengumpulan data dengan memberi daftar pertanyaan tertulis kepada responden untuk memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian.  Kuesioner tersebut diberikan langsung kepada pekerja responden pekerja rangka baja ringan pada sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung, pada proyek Pembangunan Perumahan di Green Hills, Malang.  Hal ini bertujuan untuk mengumpulkan fakta-fakta yang berupa pendapat atau persepsi.

    

Bagan Alir Penelitian

Berdasarkan rumusan permasalahan berikut  adalah gambaran skema kerangka pikir dari kajian empirik  untuk penelitian pengaruh penggunaan rangka baja ringan terhadap produktifitas proyek, seperti pada gambar 1.Diagram alir penelitian.

 

 

Gambar 1. Diagram Alir Kerangka Pemikiran.

 

Dari uraian yang disampaikan, maka model penelitian ini digambarkan pada gambar 2. sebagai berikut :

 

Gambar 2. Model Penelitian

 

presepsi upah (X1), tingkat pendidikan (X2), kemampuan kerja (X3), dan disiplin kerja (X4) terhadap produktivitas kerja pada sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung, pada proyek Pembangunan Perumahan di Green Hills, Malang (Y).

 

HASIL PENELITIAN

 

Dalam proses validasi dilakukan beberapa kali perubahan susunan? Bentuk pertanyaan pada kuesioner, sehingga didipatkan suatu susunan pertanyaan pertanyaan yang mudah dimengerti dan dipahami oleh responden, dan akhirnya akan diperoleh kuesioner yang dapat mengungkapkan tujuan kuesioner secara keseluruhan dan untuk pengujian menggunakan 30 responden. Menurut Arikunto (2004) suatu instrument dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan mengungkapkan data variabel yang diteliti secara tepat. Dalam penelitian ini uji validitas dilakukan dengan teknik korelasi product moment pearson’s. Suatu item dinyatakan valid jika indek korelasi product moment pearson (r) ≥ 0,3. (Sugiyono, 2002)

Hasil uji validitas item instrumen dapat dilihat pada Tabel 1.

 

 

 
 

Tabel 1. Uji Validasi Instrumen

 


 

 
 

Sumber: data primer 2014

 

 

  

Berdasarkan hasil uji validitas yang dilakukan terhadap item instrumen yang digunakan dalam penelitian,

menunjukan bahwa semua item instrumen penelitian dapat dikatakan

valid, karena telah memenuhi kriteria pengujian validitas item instrumen yang digunakan yaitu nilai indeks korelasi product moment pearson          (r) ≥ 0,3.

Alat ukur dikatakan memiliki reliabilitas apabila instrumen yang digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Hal ini berarti reliabilitas berhubungan dengan

konsistensi, akurasi atau ketepatan peramalan dari hasil riset. Menurut

menghasilkan data yang sama. Hal ini berarti reliabilitas berhubungan dengan

konsistensi, akurasi atau ketepatan peramalan dari hasil riset. Menurut

konsistensi, akurasi atau ketepatan peramalan dari hasil riset. Menurut Malhotra (1996) suatu instrument dikatakan handal apabila nilai Alpha Cronbach besarnya sama atau lebih besar    dari 0,6.

 

 
 

Tabel 2. Uji Reliabilitas Item Instrumen

 

 

 


 

 

 

                Sumber : Data Primer, 2014

 

 

Pada Tabel 2. Hasil uji reliabilitas yang dilakukan terhadap item instrumen yang digunakan dalam penelitian menunjukan bahwa semua item instrumen penelitian dapat dikatakan reliabel, karena telah memenuhi kriteria pengujian reliabilitas item instrument yang digunakan, yaitu nilai Alpha Cronbach lebih besar atau sama dengan 0,6.

 

Deskripsi Jawaban Responden

Bagian ini menyajikan distribusi frekuensi skor masing-masing item variabel dan mean setiap item variabel. Untuk mendeskripsikan nilai mean setiap butir, indikator dan variabel dalam penelitian ini digunakan kriteria dengan interval kelas yang diperoleh dari hasil perhitungan :

 

 

Nilai skor jawaban responden dalam penelitian ini mengacu pada skala 5 poin dari Likert, sehingga nilai skor jawaban responden tertinggi adalah 5 dan untuk nilai skor jawaban terendah adalah 1, sedangkan jumlah kelas/kategori yang digunakan dalam penyusunan kriteria tersebut disesuaikan dengan skala yang digunakan yaitu 5 kelas, sehingga interval yang diperoleh untuk setiap kelas adalah (5-1) : 5 = 0,8. Dengan demikian kriteria untuk mendiskripsikan nilai mean yang diperoleh setiap butir, indikator maupun variabel dapat disusun sebagai berikut, lihat pada Tabel 3.

 

 

Tabel 3. Nilai Skor dan Kategori

Sumber : Sudjana (2001)

 

Berikut ini akan dipaparkan hasil analisis diskriptif terhadap variabel-variabel penelitian berdasarkan persepsi 37 orang responden melalui kuesioner yang disebarkan.

 

Upah  (X1)

Berdasarkan data yang terkumpul melalui kuesioner terlihat bahwa distribusi frekuensi dari item-item variabel upah di sajikan tampak pada tabel 4.  dibawah ini :

 

Tabel  4. Distribusi frekwensi variable Upah (X1)

 

 

Sumber data primer 2014

 

Berdasarkan tabel 4. dapat dijelaskan bahwa indeks persepsi rerata responden terhadap upah adalah 3,24. Hal ini berarti pekerja memberikan persepsi yang cukup baik berkaitan dengan upah yang diterimanya. Persepsi responden terhadap upah tercermin dari rerata tiap-tiap indikator. Dari ketiga indikator yang terkuat membentuk upah adalah upah yang diterima sudah termasuk asuransi kesehatan dengan nilai rerata sebesar 3,38. artinya asuransi kesehatan dan kecelakaan kerja sudah termasuk dalam upah yang dibayarkan. bonus dan upah tambahan akan diberikan perusahaan,

Indikator kedua yang membentuk upah adalah upah yang diterima sudah termasuk asuransi dengan nilai rerata sebesar 3,19. artinya upah yang diterima saat ini sudah termasuk asuransi kesehatan dan kecelakaan kerja, dimana upah yang diterima dipotong untuk jamsostek.

Indikator terakhir yang membentuk upah adalah upah yang diterima sesuai dengan tingkat kemampuan dengan nilai rerata sebesar 3,14 artinya upah yang diterima saat ini sudah sesuai dengan tingkat kemampuan/ keahlian, dimana upah yang diterima senilai Rp  75.000,- / hari.

 

Kemampuan kerja (X3)

Berdasarkan data yang terkumpul melalui kuesioner, terlihat bahwa distribusi frekuensi dari item-item variabel kemampuan kerja tampak pada Tabel 5.

 

Tabel  5.  Distribusi frekwensi variable kemampuan kerja (X3)

 

 

Sumber data primer 2014

Berdasarkan tabel 5. dapat dijelaskan bahwa indeks persepsi rerata responden terhadap kemampuan kerja adalah 3,60 Hal ini berarti pekerja memberikan persepsi yang baik berkaitan dengan kemampuan kerja. Persepsi responden terhadap kemampuan kerja tercermin dari rerata tiap-tiap indikator. Dari keempat indikator yang terkuat membentuk kemampuan kerja adalah gambar kerja proyek yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pekerjakan dengan nilai rerata sebesar 3,70. artinya dalam pelaksanaan pekerjaan, gambar kerja sebagai pedoman kerja dilihat bila ada masalah.

Indikator kedua yang membentuk kemampuan kerja adalah  menghadapi masalah di tempat kerja dengan nilai rerata sebesar 3,57. artinya pekerja dalam menghadapi suatu masalah lingkungan di tempat kerja, mampu untuk segera menyelesaikan.

Indikator ketiga yang membentuk kemampuan kerja adalah menangani masalah pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya dan wewenang dengan nilai rerata sebesar 3,51. artinya dalam mengatasi masalah pekerjaan di proyek mampu menangani antara individu dsan rekan kerja.

Indikator keempat yang membentuk kemampuan kerja adalah memahami tugas dan tanggung jawab masalah konstruksi dilapangan dengan nilai rerata sebesar 3,65. artinya pekerja benar memahami tugas, tanggung jawab dan hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan konstruksi dilapangan, dimana mampu mengatasi masalah konstruksi dilapangan hingga pekerjaan selesai dengan tanpa kesalahan

 

Disiplin Kerja (X4)

Berdasarkan data yang terkumpul melalui kuesioner, terlihat bahwa distribusi frekuensi dari item-item variabel disiplin kerja tampak pada Tabel 6.

 

Tabel 6. Distribusi frekwensi variable Disiplin kerja  (X4)

 

 

 

 

Sumber data primer 2014

 

Berdasarkan tabel 6. dapat dijelaskan bahwa indeks persepsi rerata responden terhadap disiplin kerja adalah 3,19. Hal ini berarti pekerja memberikan persepsi yang cukup baik berkaitan dengan disiplin kerja. Persepsi responden terhadap disiplin kerja tercermin dari rerata tiap-tiap indikator. Dari kelima indikator yang terkuat membentuk disiplin kerja adalah menetapkan tahapan standar yang ditetapkan perusahaan dengan nilai rerata sebesar 3,43 artinya pekerja dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi/ proyek, selalu menerapkan SOP sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan oleh perusahaan.

Indikator kedua yang membentuk disiplin kerja adalah  menerima sangsi bila hadir terlambat dengan nilai rerata sebesar 3,08. artinya jika terlambat hadir bersedia dikenakan sanksi administrasi sesuai dengan peraturan yang berlaku, dalam kondisi ini pekerja menerima sangsi

administrasi bila terlambat hadir 15 menit – 1 jam  (pemotongan seper lima dari gaji yang diterima).

Indikator ketiga yang membentuk disiplin kerja adalah  mengenakan APD (Alat Pelindung Diri) bila masuk pada areal kerja dengan nilai rerata sebesar 3,03 artinya bila tidak mengenakan APD (Alat Pelindung Diri) maka anda tidak boleh masuk pada areal kerja. Kondisi dilapangan menunjukan bahwa pekerja memberikan pernyataan bahwa menggunakan APD dalam bekerja bila ditegur.

Indikator keempat kehadir kerja adalan pekerja menerapkan tahapan standar perusahaan dalam pekerjaan dengan nilai rerata sebesar 3,30 artinya  dalam bekerja selalu hadir tepat waktu, sesuai ketentuan perusahaan.

Indikator keempat yang membentuk disiplin kerja adalah ketidak disiplinan berakibat negatif pada pekerjaan dengan nilai rerata sebesar 3,11 artinya  ketidak disiplinan dalam suatu pekerjaan, secara tidak langsung akan berakibat negatif bagi pekerjaan tersebut (pekerjaan terlambat dan terjadi incident), kondisi dilapangan menunjukan bahwa pekerja cukup disiplin dalam menyelesaikan pekerjaan.

 

Produktivitas Kerja (Y)

Produktivitas kerja dari masing-masing pekerja dinilai oleh mondor sebagai pengawas pekerjaan. Hasil distribusi frekuensi dari item-item variabel produktivitas kerja tampak pada

Tabel 7.

 

Tabel  7. Distribusi frekwensi Produktivitas kerja  (Y)

Sumber data primer 2014

 

Berdasarkan tabel 7. dapat dijelaskan bahwa indeks persepsi rerata responden terhadap produktivitas kerja adalah 3,45 Hal ini berarti mandor memberikan persepsi yang baik berkaitan dengan produktivitas kerja para pekerjanya. Persepsi mandor terhadap produktivitas kerja tercermin dari rerata tiap-tiap indikator. Dari kelima indikator yang terkuat membentuk produktivitas kerja adalah penggunaan peralatan dengan nilai rerata sebesar 3,57 artinya pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan dibantu dengan menggunakan peralatan listrik portebel.

 Indikator kedua yang membentuk produktivitas kerja adalah  jadual/ sekedul dengan nilai rerata sebesar 3,46 artinya dalam melaksanakan tugas mengikut jadual yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

Indikator ketiga yang membentuk produktivitas kerja adalah menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dengan nilai rerata sebesar 3,51 artinya artinya pimpinan/mandor memberikan jawaban bahwa pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan selalu tepat waktu

Indikator keempat yang membentuk produktivitas kerja adalah kerja sama dengan nilai rerata sebesar 3,62, artinya dalam melaksanakan tugas mematuhi perintah pimpinan/mandor.

Indikator kelima yang membentuk produktivitas kerja adalah pekerjaan melebihi standart yang telah ditentukan sehingga dapat memuaskan perusahaan dengan nilai rerata sebesar 3,51 artinya pimpinan/mandor memberikan jawaban bahwa  pekerjaan yang dikerjakan pekerja cukup melebihi standart kerja yang telah ditentukan sehingga dapat memuaskan perusahaan

 

Uji Asumsi Klasik

Model pengujian hipotesis berdasarkan analisis regresi yang digunakan dalam penelitian ini harus memenuhi asumsi klasik agar menghasilkan nilai parameter yang sahih. Asumsi klasik tersebut antara lain uji normalitas, multikolinearitas dan heteroskedastisitas.

 

Uji Normalitas

Untuk mengetahui apakah data

sampel berdistribusi normal dapat diketahui dengan uji kolmogorov-smirnov. Pengambilan keputusan bahwa data tersebut berdistribusi normal jika nilai sig. uji kolmogorov-smirnov > 0.05, maka distribusi data dikatakan normal. Hasil pengujian normalitas data disajikan pada Tabel 8.  berikut:

 

         Tabel  8.  Hasil Pengujian Normalitas

 

 Sumber : Data Primer Diolah 2014

 

Berdasarkan pada Tabel 8. diperoleh kesimpulan bahwa data sampel yang diambil telah mengikuti sebaran distribusi normal, karena nilai Asymp. Sig. (2-tailed) > 0.05.

 

Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas adalah penunjukkan adanya hubungan linear diantara variabel independen.  Kondisi ini harus dihindari agar hasil pengujian tidak bias. Pengujian multikolinearitas dalam penelitian ini akan menggunakan nilai varian inflation factor (VIF) yang diperoleh dari pengujian hipotesis.  Apabila nilai VIF lebih besar dari 10 berarti terjadi masalah yang berkaitan dengan multikolinearitas, sebaliknya model regresi tidak mengandung multikolinearitas jika nilai VIF-nya dibawah 10. Hasil pengujian multikolinearitas ini disajikan pada tabel 9. dibawah ini.

                      

Tabel  9.  Hasil Pengujian Multikolinearitas

 

  

Sumber : Data Primer Diolah 2014

 

 

Berdasarkan pada tabel 9. tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwa model regresi dalam penelitian ini tidak mengandung gejala (masalah) multikolinearitas, karena nilai varian Inflation Factor (VIF) adalah dibawah batas kriteria tentang adanya masalah multikolinearitas, yaitu 10. Dengan

demikian, data tersebut dapat memberikan informasi yang berbeda untuk setiap variabel independennya.

 

Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas dalam penelitian ini diuji dengan metode

Korelasi Spearman’s rho antara nilai residu (disturbance error) dari hasil regresi dengan masing-masing variabel independennya. Apabila nilai korelasi Spearman’s rho dibawah 0,7 berarti model regresi menunjukkan tidak adanya permasalahan heteroskedastisitas. Sebaliknya, jika nilai korelasi Spearman’s rho diatas 0,7 berarti model regresi menunjukkan adanya permasalahan heteroskedastisitas (Gujarati, 1992). Hasil pengujian asumsi Heteroskedastisitas ini disajikan pada  tabel 10 di bawah ini.


            Tabel 10  Heteroskedastisitas

 

   Sumber : Data Primer, 2014


Hasil analisis korelasi Spearman’ rho pada tabel 10 diatas menunjukkan bahwa antara varian pengganggu (unstandardized residual) dengan setiap variabel independen tidak ada yang menunjukkan nilai diatas 0,7. Ini berarti bahwa varian faktor pengganggu variabel prediktor adalah sama atau konstan, sehingga heterokedastisitas tidak terjadi dalam model regresi penelitian ini.

 

Analisis Regresi Berganda

Analisis ini digunakan untuk mengetahui pengaruh upah (X1), tingkat pendidikan (X2), kemampuan kerja (X3), dan disiplin kerja (X4) terhadap produktivitas kerja (Y). Tabel berikut adalah hasil perhitungan dari uji regresi berganda dengan bantuan Statistical Package for Social Science (SPSS) 15.0 for windows.

 

             Tabel 11. Rekapitulasi hasil analisa regresi berganda

         

    Sumber : Data Primer, 2014

 

 

Berdasarkan Tabel 11. dapat dijelaskan bahwa Uji F dalam penelitian ini digunakan untuk menguji ketepatan atau keberartian model penelitian. Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa nilai F dalam penelitian ini sebesar 14.372 dengan nilai probabilitas sebesar 0.000 dan signifikan pada alpha (α) sebesar 5% (0,05). Hal ini mempunyai makna bahwa upah, tingkat pendidikan, kemampuan kerja, dan disiplin kerja mempunyai pengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja.

Koefisien Determinasi R² (R Square) yang dibentuk dalam pengujian ini memiliki nilai 64,2%, artinya perubahan pada variabel produktivitas kerja dapat dijelaskan oleh variabel upah, tingkat pendidikan, kemampuan kerja, dan disiplin kerja sebesar 64,2%, sedangkan sisanya 35,8% dijelaskan oleh variabel yang tidak dimasukkan dalam model

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bentuk model persamaan sebagai beri kut:

Y =  1, 232 + 0.113 X1 + 0.404 X2 + 0.476 X3 + 0.316 X4

 

Besarnya nilai konstanta sebesar 1,232 menunjukan bahwa apabila variabel independen konstan atau sama dengan nol maka produktivitas kerja sebesar  1,232

Besarnya nilai koefisien upah sebesar 11,3% dan pengaruh ini arahnya positif. Hal ini mempunyai makna bahwa apabila upah yang diterima sesuai dengan tingkat kemampuan, pemberian bonus bila pekerjaan cepat dan sempurna dan upah yang diterima sudah termasuk asuransi, maka akan meningkatkan produktivitas kerja sebesar 11,3%.

Besarnya nilai koefisien tingkat pendidikan sebesar 40,4% dan pengaruh ini arahnya positif. Hal ini mempunyai makna bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan pekerja akan meningkatkan kinerja pegawai sebesar 40,4%

Besarnya nilai koefisien kemampuan kerja sebesar 47,6% dan pengaruh ini arahnya positif. Hal ini mempunyai makna bahwa apabila mengerjakan sesuai dengan gambar kerja, dapat mengatasi masalah pekerjaan permasalahan dilapangan, menghadapi masalah lingkungan tempat kerja dan memahami pelaksanaan pekerjaan di lapangan, maka akan meningkatkan produktivitas kerja sebesar 47,6%.

Besarnya nilai koefisien disiplin kerja sebesar 31,6% dan pengaruh ini arahnya positif. Hal ini mempunyai makna bahwa apabila pekerja menerima sangsi bila hadir terlambat, mengenakan APD (Alat Pelindung Diri) bila masuk pada areal kerja, kehadiran yang tepat waktu, menerapkan tahapan pekerjaan standar dan kedisiplinan dalam pekerjaan maka akan meningkatkan produktivitas kerja sebesar 31,6%.

 

Pengujian Hipotesis

Seperti tampak pada tabel 5.20, diperoleh nilai t hitung untuk variabel upah sebesar 1.052 dengan probabilitas sebesar 0,301. Nilai probabilitas tersebut lebih kecil dari signifikan statistik pada α = 5%, sehingga menolak H0 yang artinya bahwa upah berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja.

Nilai t hitung untuk variabel tingkat pendidikan sebesar 3.635 dengan probabilitas sebesar 0,001. Nilai probabilitas tersebut lebih kecil dari signifikan statistik pada α = 5%, sehingga menolak H0 yang artinya bahwa tingkat pendidikan berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja.

Nilai t hitung untuk variabel kemampuan kerja sebesar 4.288 dengan probabilitas sebesar 0,000. Nilai probabilitas tersebut lebih kecil dari signifikan statistik pada α = 5%, sehingga menolak H0 yang artinya bahwa kemampuan kerja berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja.

Nilai t hitung untuk variabel disiplin kerja sebesar 2.955 dengan probabilitas sebesar 0,006. Nilai probabilitas tersebut lebih kecil dari signifikan statistik pada α = 5%, sehingga menolak H0 yang artinya bahwa disiplin kerja berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja.

                                                                 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan dan Saran

 

kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut ;

1.a. Upah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja pada sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung, pada pengerjaan atap baja ringandi Perumahan Green Hills, Malang, Jawa Timur, sebesar 11,3% sehingga untuk meningkatkan produktivitas kerja, dibutuhkan sebuah dorongan atau motivasi dalam bentuk pemenuhan kebutuhan. Pemenuhan kebutuhan bagi pekerja dapat berupa pemberian upah yang merupakan balas jasa yang berupa uang atau balas jasa lain yang diberikan perusahaan kepada pekerjanya.

b. Tingkat pendidikan/  keahlian mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja rangka atap baja ringan pada sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung, pada proyek Pembangunan Perumahan di Green Hills, Malang, Jawa Timur, sebesar 40,4% sehingga Tingkat pendidikan/  keahlian karyawan sangat penting untuk diperhatikan karena tingkat pendidikan/ keahlian yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi pola pikir, sikap dan tingkah laku mereka.

c. Kemampuan kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja pada sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung, pada pengerjaan atap baja ringan proyek Pembangunan Perumahan di Green Hills, Malang, Jawa Timur, sebesar 47,6% sehingga untuk meningkatkan produktivitas kerja, dibutuhkan kemampuan yang tinggi dari pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya

d. Kedisiplinan kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja pada sebuah proyek pembangunan yang sedang berlangsung, pada pengerjaan atap baja ringan proyek Pembangunan Perumahan di Green Hills, Malang, Jawa Timur, sebesar 31,6% sehingga untuk meningkatkan produktivitas kerja, dibutuhkan tingkat kedisiplinan yang tinggi dari pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya

 

2.a Berdasarkan hasil perhitungan, maka didapat persamaan regresi sebagai berikut :

              Y = 1.232 + 0.113. X1 + 0.404 .X2 + 0.476. X3 + 0.316 .X4 

    Yang menggambarkan bahwa :

     Produktivitas = 1.232 + 0.113 . Upah + 0.404 . Pendidikan + 0.476.

                              Kemampuan kerja + 0.316 . Disiplin

 

 

Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka saran dan implikasi penelitian ini adalah

1.    Manajemen pelaksanaan proyek konstruksi perlu memperhatikan kemampuan kerja karyawan, dengan mempunyai keahlian pekerja dapat mengatasi permasalahan konstruksi dan lingkungan di dilapangan dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan.

2.    Guna membangkitkan motivasi kerja, pekerja ikut serta dalam manajemen pelaksana proyek (ikut memiliki saham), sehingga dengan menjadi bagian dari manajemen, pekerja akan termotivasi untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan tepat waktu sehingga akan mendapatkan keuntungan dari proyek yang dikerjakan.

3.    Besarnya pengaruh upah, tingkat pendidikan, kemampuan kerja, dan disiplin kerja terhadap produktivitas kerja sebesar 64,2% dan sisanya 35,8% dipengaruhi oleh faktor atau variabel lain yang tidak dimasukan dalam model penelitian ini. Hal ini dapat dijadikan sebagai dasar bagi peneliti yang akan datang untuk menambah variabel penelitian.


 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto Suharsini, 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Penerbit Rineka Cipta, Edisi Revisi VI, Cetakan XIII, Jakarta.

Aprilian, T. 2010. Analisis Produktivitas Tenaga Kerja Pada Pekerjaan Struktur Rangka Atap Baja (Studi Kasus Proyek Pembangunan Rumah Sakit Dr. Moewardi, Surakarta Jawa Tengah). SKRIPSI (Tidak Dipublikasikan), Surakarta, Universitas Sebelas Maret

Bolman, Lee, G. Deal, and Terry, E. 1999. 4 Steeps to Keeping Change Efforts Heading in The Right Direction, Journal for Quality & Participation (QCJ), Vol: 22, ISS: 3, Page: 6-11.

Deierlein, Bob. 1996. Pop Quiz: How to Peg a Productive Mechanic, Journal World Wastes (WWA), vol: 39, ISS: 11, Page: 13-15.

Dessler, G. 1996. Manajemen Personalia. Erlangga, Jakarta.

Gibson. 1997. Manajemen. Penerjemah: Zuhad Ichyaudin. Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Grossman Robert J, 2000. Emotions at Work, Journal of Health Forum, (HPF) Vol : 43 Iss:5.

Hidayat,F. 2009. Motivasi Pekerja Pada Proyek Konstruksi Di Kota Bandung. Media Teknik Sipil, Volume IX, Januari 2009.

Iman. Soeharto, 1995. Manajemen Proyek : Dari Konseptual Sampai Operasional. Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

Kartono, Kartini. 1992. Kepemimpinan dalam Manajemen, Jakarta: Rajawali Press.

Kriswanto Joni, Penanggulangan Multikolinearitas 2, jonikriswanto.blogspot.com, 21 Desember 2007

Kriswanto Joni, Uji Asumsi Klasikjonikriswanto.blogspot.com 21 Desember 2007.

Lestari, Andri Reni. 2001. Pengaruh faktor Motivasi dan kediplinan Terhadap Prestasi Kerja Pegawai Pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tulungagung. Tesis. Universitas Brawijaya. Malang

Martoyo, Susilo, 1994. Manajemen Sumber Daya Manusia, BPFE-UGM, Yogyakarta.

Merryardani dan Leo Willyanto. 2008. Relevansi Pemberlakuan Standar Sertifikasi Ketrampilan Mandor Dan Tukang Pada Proyek Konstruksi Indonesia. Tugas Akhir S1 Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung

Muchdarsyah. Sinungan., 2003. Produktivitas Apa Dan bagaimana. Jakarta : Bumi Aksara.

Randy K. Chiu dan Vivienne dan Wai Mei Luk dan Thomas Li-Ping Tang.,2002. Retaining and motivating employees Compensation preferences in Hong Kong and China. Personnel Review, Vol. 31 No. 4, pp. 402-431.

Robbins, Stephen P., 1996. Perilaku Organisasi, Jilid I, PT.Prenhallindo, Alih Bahasa: Hadyana Pujaatmaka, Jakarta.

Saydam, Gouzali. 1996. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Ketiga. Cetakan Pertama. Jakarta :Balai Pustaka

Sugiyono,  2007,  Metode Penelitian Administrasi,  Penerbit Alfabeta,  Cetakan ke 15, Bandung.

Soedarmayanti. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia Reformasi Birokrasi dan Manajemen Pegawai Negeri Sipil. Bandung : PT. Rafika Aditama.

Undang-undang No : 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

Wikianswers, What_is_explanatory_research, wiki.answers.com, 12 Januari 2008.

Widdy Vinsensius, Uji Korelasi, vinsensiuswiddy.wimamadiun.com, 5 Januari 2007.

Winardi. 1990. Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta: Renika Cipta

 

Zaeni Asyhadie, 2007. Hukum Kerja, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada.

MEMBENTUK SIKAP PESERTA DIDIK MELALUI PENGEMBANGAN BUDAYA SEKOLAH MENURUT IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

MEMBENTUK SIKAP PESERTA DIDIK MELALUI PENGEMBANGAN BUDAYA SEKOLAH  MENURUT  IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

 Bambang Wijanarko

 Abstraksi

 Kebudayaan  merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliknya melalui belajar. Pengembangan budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk pembentukan sikap peserta didik serta seluruh stakeholders pendidikan, seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh warga sekolah. Pengembangan budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami, yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsur dan stakeholder sekolah baik itu kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah. Pengembangan budaya sekolah pada akhirnya juga berkaitan sangat erat dengan pembentukan sikap peserta didik dan menciptakan suasana sekolah yang kondusif bagi seluruh peserta didik dilingkungan sekolah.

 Kata kunci : pembentukan sikap peserta didik, pengembangan budaya sekolah

 A.  Pendahuluan

 Belum semua sekolah memahami pentingnya budaya sekolah. Hal ini terlihat pada fakta bahwa belum semua sekolah memiliki program pengembangannya. Kondisi ini terjadi karena sebagian kepala sekolah belum memahami dan terampil dalam merencanakan, melaksanakan pengembangan, dan mengukur efektivitas pengembangan budaya sekolah. Hal itu tidak berarti kepala sekolah tidak memperhatikan pengembangannya. Pada kenyataannya banyak kepala sekolah yang sangat memperhatikan akan pentingnya membangun suasana sekolah, suasana kelas, membangun hubungan yang harmonis untuk menunjang terbentuknya norma, keyakinan, sikap, karakter, dan motif berprestasi sehingga tumbuh menjadi sikap berpikir warga sekolah yang positif. Hanya saja kenyataan itu sering tidak tampak pada dokumen program pengembangan budaya.

 Penyebaran dan perkembangannya berproses seiring dengan perkembangan kehidupan. Stolp dan Smith (1994 ) menyatakan budaya sekolah berkembang bersamaan dengan sejarah sekolah. Wujudnya dalam bentuk norma, nilai-nilai, keyakinan, tata upacara, ritual, tradisi, mitos yang dipahami oleh seluruh warga sekolah. Karena perbedaan tingkat keyakinan, norma, dan nilai-nilai yang diyakini oleh warga sekolah telah menyebabkan sekolah miliki tradisi berbeda-beda.

 B.Tujuan Pengembangan Budaya Sekolah

 Tujuan pengembangan budaya sekolah adalah untuk membangun suasana sekolah yang kondusif melalui pengembangan komunikasi dan interaksi yang sehat antara kepala sekolah dengan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah. Beberapa manfaat yang bisa diambil dari upaya pengembangan budaya sekolah, diantaranya : (1) Menjamin kualitas kerja yang lebih baik; (2) Membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horizontal; (3) Lebih terbuka dan transparan; (4) Menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi; (5) meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan; (6) jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki; dan (7) dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK.

 C.Kerangka Pengembangan Budaya Sekolah

 Hubungan antara unsur dalam peran kepala sekolah terhadap penguatan budaya sekolah dapat dilihat dalam gambar berikut:

                                                    

             Gambar 1. Diagram pengembangan budaya sekolah

 Pada diagram pengembangan budaya sekolah, kepala sekolah bertugas mengembangkan kondisi sekolah yang kondusif. Kondisi itu memerlukan komunikasi dan interaksi antara kepala sekolah dengan pendidik, orang tua peserta didik, tenaga kependidikan dan peserta didik harmonis. Kerja sama yang baik semua pihak diharapkan dapat menunjang pengembangan interaksi yang positif menumbuhkan pola pikir dan pola tindak dalam bentuk terhadap norma, nilai-nilai yang sekolah junjung. Di samping itu, diharapkan  dengan dukungan sekolah yang kondusif para pemangku kepentingan memiliki keyakinan bahwa sekolahnya dapat mewujudkan prestasi terbaik karena ditunjang dengan motif berprestasi yang tinggi.

 Untuk lebih memahami bidang garapan yang menjadi tantangan membangun sekolah yang kondusif ada 3 (tiga) hal utama yaitu :

 (1). Mengembangkan keharmonisan hubungan yang direalisasikan dalam komunikasi, kolaborasi untuk meningkatkan partisipasi.

 

   Gambar 2. Bidang garapan membangun sekolah yang kondusif

 (2). Mengembangkan keamanan baik secara psikologis, fisik, sosial, dan keamanan kultural. Sekolah menjaga agar setiap warga sekolah nyaman dalam komunitasnya.

 (3). Mengembangkan lingkungan sekolah yang agamis, lingkungan fisik sekolah yang bersih, indah, dan nyaman, mengembangkan lingkungan sekolah yang kondusif secara akademik. Pendidik dan peserta didik memiliki motif berprestasi serta keyakinan yang tinggi untuk mencapai target belajar yang bernilai dengan suasana yang berdisiplin dan kompetitif.

 Untuk mendukung ini kepala sekolah hendaknya memperhatikan kemampuan diri dalam mengendalikan kepribadian, prilaku, dan sikap kepemimpinan kepala sekolah yang mendukung sehingga semua pihak dapat menjaga harmoni kerja sama yang baik. Keterampilan lain yang diperlukan adalah membangun kreasi dalam memberikan pelayanan agar memenuhi harapan semua pihak.

 Tinggi rendahnya semangat kerja sama, kepatuhan terhadap norma atau nilai-nilai yang baik, kebiasaan baik, kayakinan yang tinggi, motif berprestasi guru dan siswa sangat bergantung pada karakter kepemimpinan kepala sekolah.

   Dalam menunjang pengembangan budaya sekolah, Fullan (2001) menyatakan Pengembangan budaya sekolah hendaknya mengacu pada 5 (lima) prinsip yaitu :

 1).Selalu berorientasi pada pencapain tujuan; mengembangkan visi dengan jelas dan kandungannya menjadi milik bersama.

2). Menerapkan kepemimpinan partisipatif dengan memperluas peran pendidik dalam pengambilan keputusan.

 3) Berperan sebagai kepala sekolah yang inovatif dengan meningkatkan keyakinan bahwa pendidik dapat mengembangkan prilaku yang mendukung perubahan. 4).Memerankan kepemimpinan yang meyakinkan pendidik sehingga mereka berpersepsi bahwa kepala sekolahnya “benar” menunjang efektivitas mereka bekerja. 5). Mengembangkan kerja sama yang baik antar pendidik dalam interaksi formal maupun informal. Bagi kepala sekolah aspek mana pun kembali ke pemikiran awal yang menyatakan bahwa seluruh unsur kebudayaan berkembang melalui proses belajar. Oleh karena itu inti dari pengembangan kultur adalah membangun hubungan yang baik, meningkatkan keamanan sekolah secara fisik maupun psikologis, meningkatkan lingkungan yang kondusif. Untuk itu kepala sekolah dan seluruh pemangku kepentingan perlu terus belajar karena konteks budaya sekolah terus berubah tanpa henti. Dari uraian itu dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pengembangan budaya sekolah menjadi penentu keberhasilan meningkatkan lulusan yang bermutu.

  Karena itu, kepala sekolah penting memperhatikan prinsip utama sebagai berikut:

 (a). Budaya merupakan norma, nilai, keyakinan, ritual, gagasan, tindakan, dan karya sebagai hasil belajar.

 (b). Perubahan budaya mencakup proses pengembangan norma, nilai, keyakinan, dan tradisi sekolah yang dipahami dan dipatuhi warga sekolah yang dikembangkan melalui komunikasi dan interaksi sehingga mengukuhkan partisipasi.

 (c). Untuk dapat mengubah budaya sekolah memerlukan pemimpin inspiratif dan inovatif dalam mengembangkan perubahan perilaku melalui proses belajar.

 (d).Efektivitas perubahan budaya sekolah dapat terwujud dengan mengembangkan sekolah sebagai organisasi pembelajar melalui peran kepala sekolah menjadi teladan.

 (e). Mengembangkan budaya sekolah memerlukan ketekunan, keharmonisan, dan perjuangan tiada henti karena budaya di sekitar sekolah selalu berubah ke arah yang tidak selalu sesuai dengan harapan sekolah.

 D. Model Strategi Pengelolaan Budaya Sekolah

 Pengembangan budaya sekolah tidak lepas dari budaya masyarakat di sekitarnya. Oleh karena itu pengembangan budaya sebaiknya berdasarkan kebutuhan sekolah yang di dalamnya terdapat kepala sekolah, pendidik, dan peserta didik yang terintegrasi pada budaya yang berkembang di lingkungannya. Di samping budaya sekolah merupakan bagian dari budaya lingkungan sekitarnya, sekolah harus dapat berfungsi sebagai agen pengembang budaya lingkungan. Sekolah dalam fungsinya sebagai agen perubahan budaya perlu merumuskan rencana, strategi pengembangan, dan monitoring dan evaluasi pembangunan budaya sekolah dengan menggunakan model pengembangan sebagai berikut:

 Langkah pertama adalah Analisis Lingkungan eksternal dan internal. Pada tahap ini apabila dilihat dari model analisis lingkungan adalah mengidentifikasi peluang dan ancaman yang datang dari budaya sekitar sekolah. Di samping itu analisis lingkungan diperlukan untuk mengidentifikasi kekuatan kelemahan dari dalam. Dari analisis lingkungan akan diperoleh sejumlah masalah yang sekolah perlu selesaikan.

 Langkah Kedua adalah merumuskan strategi yang meliputi penetapan visi-misi yang menjadi arah pengembangan, tujuan pengembangan, stategi pengembangan, dan penetapan kebijakan. Arah pengembangan dapat dijabarkan dari visi-dan misi menjadi indikator pada pencapaian tujuan. Contoh dalam pengembangan keyakinan akan dibuktikan dengan sejumlah target yang tinggi pada setiap indikator pencapaian. Contoh ini dapat dijabarkan lebih lanjut pada model operasional penguatan nilai kerja sama dan yang kompetitif. Misalnya sekolah membagi kelompok kerja dengan semangat kebersamaan, namun antar kelompok dikondisikan agar selalu berkompetisi untuk mencapai target yang terbaik. Oleh karena itu, sekolah secara internal tidak mengembangkan model kompetisi individual karena dapat mengurangi makna pengembangan nilai kebersamaan dan kekompakan. Program kerja berbasis kolaborasi pada model ini dapat dikukuhkan melalui penetapan kelompok kerja yang ditetapkan dalam surat tugas dari kepala sekolah sebagai pemangku kebijakan. Selanjutnya sekolah dapat mengembangkan model lain yang dipandang lebih inovatif dan sesuai dengan kebutuhan sekolah.

 Langkah ketiga; Implementasi strategi, langkah ini harus dapat menjawab bagaimana caranya sekolah melaksanakan program. Jika pada model pertama sekolah berencana untuk mengembangkan nilai kebersamaan melalui pelaksanaan kegiatan kolaboratif dan kompetitif, maka sekolah hendaknya menyusun strategi pada kegiatan yang mana yang dapat dikolaborasikan dan dikompetisikan.

 Sekolah dapat memilih bidang yang akan dikolaborasikan bersifat kompetitif dari berbagai bidang kegiatan sebagaimana yang telah dipelajari. Contoh, sekolah berencana untuk mengembangkan lingkungan fisik sekolah yang nyaman. Pada kegiatan ini diperkukan nilai kebersamaan, semangat berkolaborasi, semangat berpartisipasi dari seluruh pemangku kepentingan di sekolah. Pengembangan nilai harus diwujudkan dalam kepatuhan atas kesepakatan yang dituangkan dalam peraturan. Oleh karena itu pengembangan budaya sekolah sangat erat kaitannya dengan peraturan dan kepatuhan seluruh warga sekolah pada pelaksanaan kegiatan sehari-hari di sekolah.

 Pada langkah ketiga, peran kepala sekolah yang penting adalah;

 (1) Menetapkan kebijakan atas kesepakatan bersama.

(2) Merealisasikan strategi.

 (3) Melaksanakan perbaikan proses berdasarkan data yang diperoleh dari pemantauan. (4) Melakukan evaluasi kegiatan berbasis data hasil pemantauan.

 Memperhatikan kelima langkah kegiatan yang penting dalam pelaksanaan strategi mengisyaratkan bahwa kepala sekolah perlu memahami benar tentang: (1) kebutuhan pengembangan budaya sekolah, (2) tujuan pelaksanaan, (3) indikator dan target keberhasilan, (4) memastikan bahwa rencana dapat diimplementasikan, (5) memastikan bahwa proses pelaksanaan dan hasil pengembangan budaya sekolah sesuai dengan yang diharapkan.

 Langkah keempat adalah monitoring dan evaluasi. Langkah ini merupakan bagian dari sistem penjaminan mutu. Kepala sekolah melalui monitoring memenuhi kewajiban untuk memastikan bahwa proses pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana. Jadwal pelaksanaan memenuhi target waktu. Tahap pelaksanaan sesuai dengan yang direncanakan. Lebih dari itu hasil yang diharapkan sesuai dengan target.

 Jika dalam proses pelaksanaan dan hasil yang dicapai meleset dari target maka kepala sekolah segera melakukan perbaikan proses agar hasil akhir yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan.

 Perhatikan data elemen perubahan yang menjadi tantangan kepala sekolah dalam mengubah kebiasaan pendidik dalam mengendalikan proses pembelajaran. Terdapat tradisi yang melekat pada pelaksanaan pembelajaran dan ini dapat dilihat dalam banyak pengalaman guru mengajar di dalam kelas. Pembelajaran berpusat pada guru. Tantangan baru mengubah tradisi itu menjadi pembelajaran berpusat pada peserta didik. Upaya pengembangan budaya sekolah seyogyanya mengacu kepada beberapa prinsip berikut ini.

 a). Berfokus pada Visi, Misi dan Tujuan Sekolah. b). Penciptaan Komunikasi Formal dan Informal. c). Memperhitungkan resiko karena setiap perubahan mengandung resiko yang harus ditanggung. d) Menggunakan strategi yang jelas dan terukur . e). Memiliki komitmen yang kuat. f) Mengevaluasi keterlaksanaan dan keberhasilan budaya sekolah. Selain mengacu kepada sejumlah prinsip di atas, upaya pengembangan budaya sekolah juga seyogyanya berpegang pada asas-asas berikut ini: (1) Kerjasama tim/team work. (2) Menunjuk pada kemampuan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab. (3) Keinginan merujuk pada kemauan atau kerelaan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab untuk memberikan kepuasan terhadap peserta didik dan masyarakat. (4) Kegembiraan (happiness). Nilai kegembiraan ini harus dimiliki oleh seluruh personil sekolah dengan harapan kegembiraan yang kita miliki akan berimplikasi pada lingkungan dan iklim sekolah yang ramah dan menumbuhkan perasaan puas, nyaman, bahagia dan bangga sebagai bagian dari personil sekolah. 5) Rasa hormat merupakan nilai yang memperlihatkan penghargaan kepada siapa saja baik dalam lingkungan sekolah maupun dengan stakeholders pendidikan lainnya. (6) Kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam lingkungan sekolah, baik kejujuran pada diri sendiri maupun kejujuran kepada orang lain. (7) Disiplin merupakan suatu bentuk ketaatan pada peraturan dan sanksi yang berlaku dalam lingkungan sekolah. (8) Empati adalah kemampuan menempatkan diri atau dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain namun tidak ikut larut dalam perasaan itu. (9) Pengetahuan dan kesopanan para stakeholder sekolah yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari siapa saja akan memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain.

E. Penjaminan Keterlaksanaan dan Keberhasilan Pengembangan Budaya

     Sekolah

 Setiap program kegiatan perlu ada penjaminan keterlaksanaan dan keberhasilan. Hal ini dimaksudkan sebagai kontrol agar kegiatan dapat dilaksanakan sesuai dengan perencanaan. Proses penjaminan bisa berupa bisa berupa kegiatan monitoring/pengawasan dan evaluasi keterlaksanaan program perubahaan yang telah ditentukan. Demikian juga dengan penjaminan keterlaksanaan dan keberhasilan pengembangan budaya sekolah. Selanjutnya untuk melaksanakan proses penjaminan keberhasilan budaya sekolah pun kepala sekolah perlu membentuk tim monitoring dan evaluasi yang beranggotakan sekurang-kurangnya empat orang berasal dari unsur pendidik, Komite Sekolah dan Pengawas Sekolah sebagai Pembina teknis. Untuk memenuhi kelengkapan pelaksanaan kegiatan ini kepala sekolah perlu memimpin tim untuk menyusun instrument monitoring dan evaluasi program pengembangan budaya sekolah

 D. Kesimpulan

 Tantangan utama kepala sekolah dalam mengembangkan budaya sekolah adalah membangun suasana sekolah yang kondusif melalui pengembangan komunikasi dan interaksi yang sehat antara kepala sekolah dengan peserta didik, pendidik, staf, orang tua siswa, masyarakat, dan pemerintah. Komunikasi dan interaksi yang sehat memilki dua indikator yaitu intensitas dan kedalaman materi yang dibahas. Di samping itu, kepala sekolah perlu mengembangkan komunikasi multi arah untuk mengintegrasikan seluruh sumber daya secara optimal. Dalam menunjang pengembangan budaya sekolah kepala sekolah hendaknya menegakkan lima prinsip sebagai berikut: 1.Selalu berorientasi pada pencapain tujuan; mengembangkan visi misi dengan jelas. 2. Menerapkan kepemimpinan partisipatif dengan memperluas peran pendidik dalam pengambilan keputusan. 3.Berperan sebagai kepala sekolah yang inovatif dengan meningkatkan keyakinan bahwa pendidik dapat mengembangkan prilaku yang mendukung perubahan. 4. Memerankan kepemimpinan yang meyakinkan pendidik sehingga mereka berpendapat bahwa kepala sekolahnya “benar” menunjang efektivitas mereka bekerja. 5. Mengembangkan kerja sama yang baik antar pendidik dalam interaksi formal maupun informal. Keberhasilan pengembangan budaya sekolah ditentukan dengan efektivitas komunikasi dan interaksi kepala sekolah dengan pemangku kepentingan sehingga membangkitkan kepatuhan, disiplin, dan motif berpartisipasi untuk mewujudkan keunggulan.

 Referensi :

 -     Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81 A Tahun 2013. Tentang Implementasi Kurikulum. Jakarta : Kemdikbud

 -     Koentjaraningrat. 1987. Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan, Gramedia. Jakarta.

-     Fullan Michael, 2001. Leading in A Culture of Change, Jossey-Bass, San Francisco.

-     http://budaya-sekolah.blogspot.com/

-     https://www.google.com/search?q=budaya+sekolah&tbm=isch&tbo=u&source

-     Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013. Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar Dan Menengah. Jakarta : Kemdikbud

-     Stolp, Stephen .1994. Leadership for School Culture, Eric Digest. USA

- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Peraturan Menteri   Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2013 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar Dan Menengah. Jakarta : Kemendikbud

KAJIAN MANAJEMEN PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

KAJIAN

MANAJEMEN PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

 

Dalono

Departeman Bangunan, PPPPTK BOE/VEDC Malang

dalono_arwana@yahoo.com.au

 

ABSTRAK

       Berdasar Peraturan Pemerintah No 66 tahun 2010 pasal 1, ayat (15) Sekolah Menengah Kejuruan, yang selanjutnya disingkat SMK, adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang    menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama atau setara SMP atau MTs.

Sekolah Menengah Kejuruan sebagai bagian dari intitusi pendidikan tentunya berkewajiban menerapkan PP tersebut dalam mengelola institusinya. Pertanyaan mendasarnya tentu saja bagaimana caranya? Sekolah membutuhkan sebuah sistem yang telah terbukti mampu (proven) memayungi kriteria serta kebijakan institusi sekolah serta menstandarisasi proses pengelolaan, pemeliharaan serta peningkatan mutu sekolah.

        Berdasarkan amanat PP No. 66 pasal 58B ayat (1) dan (2) bahwa kepala sekolah / madrasah menjalankan manajemen berbasis sekolah / madrasah untuk dan  atas  nama Gubernur/Bupati/Walikota atau Menteri Agama. Manajemen berbasis  sekolah / madrasah merupakan kewenangan kepala sekolah / madrasah menentukan secara mandiri untuk satuan pendidikan yang dikelolanya dalam bidang manajemen, yang meliputi : a. Rencana strategis dan operasional; b.  Struktur organisasi dan tata kerja; c. Sistem audit dan pengawasan internal; dan d. Sistem penjaminan mutu internal.

Sistem Manjemen Mutu ISO 9001 : 2008 memberikan garansi meliputi ;

a.  Adanya konsistensi pelaksanaan / aktifitas di organisasi dan mampu telusur.

b.  Adanya Aspek Pengendalian Dan Pencegahan.

c.  Dilihat dari aspek pembelajaran dan tumbuh kembang organisasi.

d.  Adanya Pemastian Mutu .

      Dengan demikian SMM ISO 9001 : 2008 sangat sesuai sebagai bagian strategi pengembangan Sistem Manajemen Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan yang sesuai dengan budaya sekolah dalam pengelolaan sekolah berdasarkan Sistem Manajemen Mutu yang diakui secara internasional

 

Kata kunci: Sekolah Menengah Kejuruan, Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Sistem Manajemen Mutu, ISO 9001:2008

 

I.    Pendahuluan

A.   Latar Belakang

Berdasar Peraturan Pemerintah No 66 tahun 2010 pasal 1, ayat (15) Sekolah Menengah Kejuruan, yang selanjutnya disingkat SMK, adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang    menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama atau setara SMP atau MTs.

Pasal 58B, ayat 1 dan 2 PP No. 66 Tahun 2010 yang berbunyi ; Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan  dasar, dan/atau pendidikan menengah   yang   diselenggarakan oleh Pemerintah   atau   pemerintah   daerah menggunakan tata kelola sebagai berikut: a) kepala sekolah/madrasah menjalankan manajemen berbasis sekolah/madrasah untuk dan  atas  nama Gubernur/Bupati/Walikota atau Menteri Agama sesuai dengan ketentuan peraturan perundang - undangan. Manajemen berbasis  sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan kewenangan kepala sekolah/madrasah menentukan secara mandiri untuk satuan   pendidikan   yang dikelolanya dalam bidang manajemen, yang meliputi: a) rencana strategis dan operasional; b) struktur organisasi dan tata kerja; c) sistem audit dan pengawasan internal; dan d). sistem penjaminan mutu internal.

        Seiring dengan berjalannya era globalisasi, Sumber Daya Manusia Indonesia semakin dituntut untuk memiliki keunggulan dan daya saing. Dunia pendidikan, sebagai institusi yang memiliki peran peningkatan SDM memegang fungsi penting dalam merealisasikan hal tersebut. Pemerintah yang merupakan stakeholder dominan dunia pendidikan, menyadari tentang pentingnya peran tersebut dengan mengeluarkan kebijakan - kebijakan yang bersifat peningkatan mutu dunia pendidikan.

        Sekolah Menengah Kejuruan sebagai bagian dari intitusi pendidikan tentunya berkewajiban menerapkan PP tersebut dalam mengelola institusinya. Pertanyaan mendasarnya tentu saja bagaimana caranya? Sekolah membutuhkan sebuah sistem yang telah terbukti mampu (proven) memayungi kriteria serta kebijakan institusi sekolah serta menstandarisasi proses pengelolaan, pemeliharaan serta peningkatan mutu sekolah.

 

  B, Tujuan

   

Manajemen Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan yang sesuai dengan budaya sekolah dalam pengelolaan sekolah berdasarkan Sistem Manajemen Mutu yang diakui secara internasional.

 

C.     Permasalahan

Bagaimana meimplementasikan Sistem Manajemen Pendidkan Sekolah Menengah Kejuruanyang sesuai dengan budaya sekolah dalam pengelolaan sekolah berdasarkan Sistem Manajemen Mutu yang diakui secara internasional.

 

II.   MANAJEMEN PENDIDIKAN SEKOLAH MENEGAH KEJURUAN

A.   Tuntutan Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 Ayat (3) mengamanatkan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan  satu  sistem  pendidikan  nasional,  yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang - undang. Atas dasar amanat tersebut telah diterbitkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

        Sesuai dengan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.  Sedangkan  Pasal  3  menegaskan  bahwa  pendidikan  nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

        Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2010, tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan. Pasal 1 ayat (1) dan (2), Pengelolaan pendidikan    adalah    pengaturan   dalam   penyelenggaraan   sistem nasional oleh Pemerintah, provinsi, pemerintah kabupaten/kota, penyelenggara pendidikan yang didirikan masyarakat, dan satuan pendidikan agar   proses   pendidikan dapat  berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Penyelenggaraan   pendidikan   adalah   kegiatan pelaksanaan komponen sistem pendidikan pada satuan atau program pendidikan pada jalur, jenjang, dan   jenis   pendidikan   agar   proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

       Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan merupakan driven utama bagi dunia pendidikan yang memaksanya untuk memperhatikan mutu secara terpadu dan komprehensif. PP No. 19 Tahun 2005 berbicara mengenai 8 kriteria, yaitu isi, proses, kompetensi, pendidik dan kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan.

Pasal 58B, ayat 1 dan 2 PP No. 66 Tahun 2010 yang berbunyi ; Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan  dasar, dan/atau pendidikan menengah   yang   diselenggarakan oleh Pemerintah   atau   pemerintah   daerah menggunakan tata kelola sebagai berikut: a) kepala sekolah/madrasah menjalankan manajemen berbasis sekolah/madrasah untuk dan  atas  nama Gubernur/Bupati/Walikota atau Menteri Agama sesuai dengan ketentuan peraturan perundang - undangan. Manajemen berbasis  sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan kewenangan kepala sekolah/madrasah menentukan secara mandiri untuk satuan   pendidikan   yang dikelolanya dalam bidang manajemen, yang meliputi: a) rencana strategis dan operasional; b) struktur organisasi dan tata kerja; c) sistem audit dan pengawasan internal; dan d). sistem penjaminan mutu internal.

 

B.     Sistem Manajemen Mutu

a)      Apa itu Mutu ?

Mutu di definisikan kemampuan untuk memenuhi persyaratan-persyartan . Kebutuhan atau harapan yang ditetapkan secara langsung /eksplisit atau tidak langsung/implisit, oleh organisasi atau perorangan yang menerima suatu produk (pelanggan) berdasarkan karakteristik yang dimiliki oleh suatu produk.

Karakteristik produk : Fungsional yaitu terkait dengan kegunaan, Temporal yaitu seperti tepat waktu, ketersediaan, akurat dll, Phisikal yaitu seperti mekanik, elektrik, kimia ,fisika dll, Sensory yaitu berkaitan dengan panca indra, Behavorial yaitu berkaitan dengan sifat seperti sopan santun, disiplin, kejujuran dll, Ergonomic yaitu berkaitan dengan keselamatan, kenyamanan dan kesehatan.

 

b)      Memenuhi persyaratan pelanggan

Setiap organisasi baik bersifat profit maupun non profit, memiliki kriteria produk yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggannya. Untuk dapat memenuhi persyaratan tersebut organisasi harus mengembangkan metode untuk mengukur kinerja dan mengkoreksi terhadap penyimpangan terhadap standar yang telah ditetapkan.

 

c)      Sesuai dengan kegunaan

Pengertian ini dikembangkan oleh Dr. Joseph Juran yang berfokus pada orientasi pasar dan pelanggan.

 

d)      Memuaskan pelanggan dengan biaya yang kompetitif.

Kemampuan produsen untuk memuaskan pelanggannya pada atas dasar tingkat laba tertentu, dan membidik atas dasar segmen pasar tertentu.

 

e)      Keseluruhan gabungan karakteristik produk baik barang dan jasa

Dengan strategi pemasaran, rekayasa, pembuatan dan pemeliharan(after sales  service) yang diterapkan guna memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan.

       Definisi mutu tersebut diatas merupakan jabaran/identifikasi awal dari  organisasi baik profit maupun non profit untuk memberikan pelayaan terbaiknya kepada pelanggannya. Oleh sebab itu, organisasi harus mampu melakukan identifikasi kebutuhan dan harapan pelanggannya sehingga produk yang dihasilkan dapat diterima dengan baik oleh pelanggannya.

      Bagaimana produk organisasi ber “mutu”, maka organisasi harus memiliki sistem yang mampu mengukur mutu. Apakah yang disebut sistem, sistem adalah suatu proses/aktivitas yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, pengukuran dan peninjauan serta tindak lanjut untuk meningkatkan yang telah dicapainya.

      Sistem manajemen adalah adanya  ARAH (Kebijakan) dan TUJUANNYA (Sasaran) pada organisasi agar sistem berjalan dengan baik.Jadi Sistem manajemen Mutu adalahSistem yang digunakan untuk menetapkan Kebijakan (policy) atau pernyataan resmi oleh manajemen puncak berkaitan dengan perhatian dan arah organisasinya di bidang mutu dan sasaran mutu  segala sesuatu yang terkait dengan mutu dan dijadikan sasaran (target) pencapaian dengan menetapkan ukuran atau kriteria pencapainnya.

 

III.           KJIAN SISTEN YANG SESUAI

1.  Mengapa SMM ISO 9001:2008 ?

SMM ISO 9001:2008 adalah nomor acuan pada seri standar Internasional yang menjabarkan kriteria tentang sistem manajemen mutu. Pada standar tersebut terdapat persyaratan yang mendasar bagi organisasi apapun yang berminat untuk menerapkan standar ini. Standar ini merupakan seri ISO yang menjadi Best Seller dan diadopsi secara luas oleh organisasi dan sekolah di seluruh dunia.

Keberhasilan seri ISO 9001:2008 disebabkan pada sistem yang diterapkan dilandasi oleh suatu sistem yang konsisten, sistem pengendalian dan pencegahan serta upaya peningkatan secara berkelanjutan.

Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008lahirsebagaibentukpenyempurnaanatas SMM ISO 9001:2000.Adapunperbedaanantaraversi 2000 dengan2008secarasignifikanlebih  menekankan   pada  efektifitas   proses  yang  dilaksanakan   dalam  organisasi tersebut.Jikapadaversi2000 mengatakanharusdilakukancorrectivedanpreventive action,makaversi2008 menetapkanbahwaprosescorrectivedan preventiveaction yang  dilakukan  harus  secara  efektif  berdampak  positif  pada  perubahan  proses yangterjadidalamorganisasi.Selainitu, penekananpadacontrolprosesoutsourcing menjadibagianyangdisorotidalamversiterbaruISO9001ini.

 

 

 

2.  Prinsip Dasar Penerapan SMM ISO 9001:2008

Penerapan standar sistem manajemen merupakan langkah strategis bagi suatu organisasi sekolah. Penerapan standar ini dipengaruhi oleh : a) Kondisi lingkungan organisasi, perubahan lingkungan organisasi serta resiko yang berkaitan dengan lingkungan. b) Kebutuhan organisasi yang menerapkannya. c) Tujuan organisasi. d)Produk yang dihasilkan. e) Tenaga kerja. f) Ukuran struktur organisasi.

     Penerapannya tidak bermaksud menstandarkan suatu organisasi sekolah dengan organisasi sekolah lainnya atau menyeragamkan bentuk dan isi dari dokumentasi sistem manajemen yang dikembangkan organisasi sekolah. Jadi dalam hal ini, sistem manajemen milik suatu organisasi sekolah, belum tentu dapat digunakan oleh organisasi sekolah lain, atau hanya sekedar 'copy paste' dengan cara mengambil dokumen suatu sekolah untuk dipakai di sekolah lain. Meski terkadang hal ini kadang terjadi juga, sebagai upaya suatu organisasi sekolah mengejar semata sertifikat tanpa memiliki makna apa-apa bagi pengembangan organisasi sekolahnya atau lebih jauh dalam upaya menumbuhkan budaya mutu bagi organisasi.

      Standar sistem manajemen mutu ini juga dapat digunakan secara internal, maupun eksternal dalam menilai kemampuan suatu organisasi memenuhi kebutuhan pelanggan, undang-undang dan peraturan yang terkait dengan produk dan persyaratan organisasi. Hal ini artinya, terdapat hal mendasar yang harus dipahami organisasi bahwa penerapan standar ini harus berupaya untuk :  a) Memenuhi persyaratan pelanggan. b) Patuh terhadap undang-undang dan peraturan yang terkait produk. c) Patuh terhadap kebijakan atau peraturan yang ada dalam organisasi.

      Selain itu, yang harus dipikirkan adalah buatlah sistem sesuai kebutuhan organisasi sekolah, bukan membuat sistem sekedar memenuhi atau 'rasa takut' saat proses audit sertifikasi. Pengalaman di lapangan, kondisi ini seringkali terjadi bahwa sistem kadang dibangun bukan menjadi kebutuhan organisasi sekolah, tetapi hanya semata sertifikasi. Hal inilah menjadi langkah salah kaprah dalam penerapan sistem manajemen mutu.

 

3.  Manfaat Penerapan SMM ISO 9001:2008

        Sistem manajemen mutu (SMM) ISO 9001: 2008  merupakan sistem manajemen dengan pendekatan kepada kepuasan pelanggan. Pelanggan pada sistem manajemen mutu adalah pelanggan internal, pelanggan eksternal, pihak yang berkepentingan (interested parties). Pendekatan Sistem Manajemen Mutu  memberikan manfaat yang sangat besar bagi setiap organisasi yang menerapkannya. Manfaat tersebut terlihat dengan :

 

a.  Adanya konsistensi pelaksanaan/ aktifitas di organisasi dan mampu telusur.

Apabila SMM dilaksanakan dengan benar manfaat yang dirasakan adalah :

1.    Memberikan pendekatan praktik  yang terbaik (Best Practice) yang sistematis untuk pencapaian manajemen mutu.

2.    Memastikan konsistensi operasi untuk memelihara mutu produk (barang dan jasa).

3.    Menetapkan kerangka kerja untuk proses peningkatan mutu lebih lanjut dengan membakukan proses guna memastikan konsistensi dan mampu telusur serta meningkatkan hubungan antar fungsi unit kerja/departemen pada organisasi yang mempengaruhi mutu.

b.  Adanya Aspek Pengendalian Dan Pencegahan

           Kunci pokok untuk menjaga mutu adalah pengendalian produk yang tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan mencegah produk yang jelek sampai di tangan pelanggan. Oleh karena itu, sistem tersebut perlu : 1) Menentukan secara jelas tanggungjawab dan wewenang dari personel kunci yang mempengaruhi mutu. 2) Mendokumentasikan prosedur secara baik dalam rangka menjalankan operasi  proses bisnis pada aktifitas proses menghasilkan produk (product operation). 3) Menerapkan sistem dokumentasi yang efektif melalui mekanisme dengan sistem audit internal dan tinjauan manajemen secara berkelanjutan.

c.  Dilihat dari aspek pembelajaran dan tumbuh kembang organisasi.

         Tantanganeksternalantaralainterkaitdengan arusglobalisasi dan berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi,kebangkitan industrikreatif dan budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional. Arus globalisasi akan menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdaganganmodern seperti dapat terlihatdiWorldTradeOrganization(WTO),Association of Southeast Asian Nations(ASEAN)Community,Asia-Pacific Economic  Cooperation  (APEC),  dan  ASEAN  Free  Trade  Area (AFTA).Tantanganeksternaljuga terkait dengan pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan imbas teknosains serta mutu, investasi,dan transformasi bidang pendidikan.Lembaga Pendidikan sebaiknya sudah menerapkan Sistem Manajemen Mutu agar membantu lembaga dalam meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan (peserta didik) melalui penyediaan jaminan mutu yang lebih baik.

1.  Nilai kompetisi dan image lembaga pendidikan semakin meningkat dengan sertifikasi ISO 9001:2008.

2.  Penerapan ISO 9001:2008 akan meningkatkan produktifitas, efisiensi, efektifitas operasional dan mengurangi biaya yang ditimbulkan peserta didik tidak lulus (reject) atau peserta didik dengan kompetensi rendah dan tidak bermanfaat.

3.  Membuat sistem kerja dalam suatu lembaga menjadi standar kerja yang terdokumentasi dan mempunyai aturan kerja yang baik sehingga memudahkan dalam pengendalian.

4.  Dapat berfungsi sebagai standar kerja untuk melatih guru dan karyawan yang baru.

5.  Menjamin bahwa proses yang dilaksanakan sesuai dengan sistem manajemen mutu yang ditetapkan.

6.  Akan memudahkan kepala sekolah dalam pencapaian target karena sudah dipersiapkannya target yang terukur dan rencana pencapaiannya.

7.  Meningkatkan semangat dan moral bagi guru dan karyawan karena adanya kejelasan tugas dan wewenang (Job Description) dan hubungan antar bagian yang terkait sehingga guru dan karyawan dapat bekerja dengan efisien dan efektif.

8.  Dapat mengarahkan guru dan karyawan agar berwawasan Mutu dalam memenuhi permintaan pelanggan, baik internal (peserta didik) maupun eksternal (stakeholder).

 

d.  Adanya Pemastian Mutu :

         Organisasi/sekolah memiliki sistem pemastian mutu yang terstruktur dan sistematis  yang dapat digunakan untuk :

1.  Alat bantu mengukur produktifitas dan kinerja SDM.

2.  Biaya yang efektif dan efisien karena adanya konsistensi dan keandalan pelaksanaannya.

3.  Sarana bekerja dengan benar dan terkendali di setiap waktu.

4.  Sistem Manajemen  dengan kinerja optimal karena adanya Sistem PDCA (Plan, Do, Check dan Action) yang mengendalikan mutu produk secara sistematis.

5.  Setiap personel memiliki tanggungjawab,wewenang dan kompetensi yang jelas di bidang tugasnya dalam melaksanakan aktifitas di organisasi/ sekolah.

         Manfaat ini akan terlihat dari data dan informasi yang tercatat dan  selalu terpantau serta diinformasikan kepada seluruh personel terhadap perkembangan kinerja organisasi baik yang telah  mencapai sasaran mutu maupun yang belum. Sehingga data dan informasi merupakan alat yang sangat penting dalam penerapan SMM baik untuk kepentingan internal (internal audit) maupun  eksternal (audit oleh pelanggan maupun surveyland oleh lembaga sertifikasi).

 

IV.          PENUTUP

1.    Kesimpulan

        Berdasarkan amanat PP No. 66 pasal 58B ayat (1) dan (2) bahwa kepala sekolah/madrasah menjalankan manajemen berbasis sekolah/madrasah untuk dan  atas  nama Gubernur/Bupati/Walikota atau Menteri Agama. Manajemen berbasis  sekolah/madrasah merupakan kewenangan kepala sekolah/madrasah menentukan secara mandiri untuk satuanpendidikan yang dikelolanya dalam bidang manajemen, yang meliputi: a. Rencana strategis dan operasional; b.  Struktur organisasi dan tata kerja; c.Sistem audit dan pengawasan internal; dan d. Sistem penjaminan mutu internal.

Sistem Manjemen Mutu ISO 9001:2008 memberikan garansi meliputi;

a.    Adanya konsistensi pelaksanaan/ aktifitas di organisasi dan mampu telusur.

b.    Adanya Aspek Pengendalian Dan Pencegahan.

c.    Dilihat dari aspek pembelajaran dan tumbuh kembang organisasi.

d.    Adanya Pemastian Mutu .

      Dengan demikian SMM ISO 9001:2008 sangat sesuai sebagai bagian strategi pengembangan Sistem Manajemen Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan yang sesuai dengan budaya sekolah dalam pengelolaan sekolah berdasarkan Sistem Manajemen Mutu yang diakui secara internasional

 

2.    Rekomendasi

Untuk mengimplementasikan SMM ISO 9001:2008 dalam suatu organisasi satuan pendidikan perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1.    Menentukan komitmen manajemen penerapan SMM ISO 9001:2008.

2.    Pembentukan Stering Comity yang terdiri dari unsur manajemen sekolah, berfungsi untuk menentukan Strategi dan pembentukan Tim Kerja SMM ISO 9001:2008.

3.    Penetapan Wakil Manajemen mutu untuk mendevelopment Sistem Manajemen Mutu.

4.    Analisis SWOT, untuk menentukan posisi organisasi.

5.    Rumuskan visi dan misi serta tujuan organisasi secara jelas, dan sosialisasikan visi dan misi tersebut.

6.    Pelatihan kesadaran mutu dan persyaratan standar kepada tim kerja.

7.    Sosialisasi kesadaran mutu dan persyaratan standar.

8.    Penyusunan dokumen mutu, kebijakan mutu, sasaran mutu, pedoman mutu, prosedur mutu, instruksi kerja, formulir.

9.    Sosialisasi dokumen mutu dan pencanangan implementasi SMM ISO 9001 : 2008.

10.  Pelatihan Audit Internal.

11.  Audit Internal.

12.  Pree audit dan audit sertifikasi.

13.  Perbaikan berkelanjutan.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

VEDC Malang,  Bahan Ajar pemahaman Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008, PusatPengembangandan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Otomotif dan elektronika Malang, tahun 2012.

____________, Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan Pemerintah No. 17 Tahun 2010 tentang pengelolaan danPenyelenggaraan pendidikan Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2010, tentang Perubahan atas Peraturan.

____________,   Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 

____________,Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Komite Teknik ISO/TC 176, Persyaratan Standar Sistem Manajemen Mutu ISO 9001: 2008, Edisi ke empat

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG