MENGENAL LEBIH DEKAT LPG (LIQUIFIED PETROLEUM GAS) SEBAGAI BAHAN BAKAR UNTUK KOMPOR GAS

MENGENAL LEBIH DEKAT LPG (LIQUIFIED PETROLEUM GAS) SEBAGAI BAHAN BAKAR UNTUK KOMPOR GAS

 

Oleh: Supono, S.Pd., ST., MT.

Widyaiswara Madya pada Program Studi Plambing dan Sanitasi Departemen Bangunan PPPPTK Bidang Otomotif dan Elektronika Malang

 

Abstrak

Saat ini LPG (Liquified Petroleum Gas) banyak digunakan oleh masyarakat, terutama untuk bahan bakar kompor gas. Kelebihan pemakaian LPG sebagai bahan bakar bila dibandingkan dengan bahan bakar lainnya (misalnya kayu bakar ataupun minyak tanah) yaitu mudah dalam penggunaan, lebih bersih, dan lebih murah (karena disubsidi pemerintah).

Namun, di samping beberapa kelebihan yang dimiliki oleh LPG, ada satu hal yang harus diwaspadai oleh pemakainya yaitu bahwa LPG bisa menimbulkan ledakan. Akibat ledakan tabung LPG banyak menimbulkan kerugian, tidak hanya materi, tetapi bisa menyebabkan timbulnya korban jiwa.

Kecelakaan akibat meledaknya tabung LPG sebenarnya bisa dicegah bahkan dihindari sama sekali. Upaya yang bisa dilakukan antara lain pemasangan instalasi gas yang baik (tidak terjadi kebocoran).  Selain itu, pemahaman para pengguna LPG terhadap sifat-sifat LPG juga sangat penting. Hal ini diperlukan apabila terjadi kebocoran LPG, maka mereka bisa melakukan tindakan yang tepat untuk menanganinya, sehingga tidak menimbulkan bahaya ledakan.

Ada beberapa sifat LPG yang perlu diketahui yaitu wujud gas, massa jenis (density),  specific gravity, temperatur nyala (ignition temperature) dan batas nyala (Flammable Range).

 

Kata Kunci: LPG(Liquified Petroleum Gas), Bahan Bakar, Kompor Gas, Sifat Gas

 

 

A.   Pendahuluan

Kata elpiji berasal dari pelafalan singkatan bahasa Inggris yaitu LPG (Liquified Petroleum Gas, arti secara harfiah yaitu "gas minyak bumi yang dicairkan"). LPG atau kita sering menyebut gas elpiji berasal dari hasil pengolahan minyak bumi. Di alam ini, minyak bumi (petroleum) ditemukan bersama-sama dengan gas alam (natural gas). Kemudian minyak bumi dipisahkan dari gas alam. Minyak bumi yang telah dipisahkan dari gas alam disebut juga minyak mentah (crude oil). Minyak mentah merupakan campuran yang kompleks dengan komponen utama alkana dan sebagian kecil alkena, alkuna, siklo-alkana, aromatik, dan senyawa anorganik. Meskipun kompleks, untungnya terdapat cara mudah untuk memisahkan komponen-komponennya, yakni berdasarkan perbedaan nilai titik didihnya. Proses ini disebut destilasi bertingkat. Untuk mendapatkan produk akhir sesuai dengan yang diinginkan, maka sebagian hasil dari destilasi bertingkat perlu diolah lebih lanjut melalui proses konversi, pemisahan pengotor dalam fraksi, dan pencampuran fraksi.

Dalam proses destilasi bertingkat, minyak mentah tidak dipisahkan menjadi komponen-komponen murni, melainkan ke dalam fraksi-fraksi, yakni kelompok-kelompok yang mempunyai kisaran titik didih tertentu. Hal ini dikarenakan jenis komponen hidrokarbon begitu banyak dan isomer-isomer hidrokarbon mempunyai titik didih yang berdekatan. Sehingga bisa dikatakan bahwa berdasarkan titik didih inilah minyak mentah mengalami pemisahan menjadi bahan-bahan lainnya. Berdasarkan suhunya, secara berturut-turut dimulai bagian paling bawah, minyak mentah akan terpisah menjadi residu (>3000C), minyak berat, yang digunakan sebagai bahan kimia (150-3000C), solar (105-1500C), kerosin (85-1050C), bensin/gasolin (50-850C), dan gas (0-500C). Bagian terakhir yang berupa gas inilah asal usulnya LPG (tentunya setelah melalui pengolahan lanjutan) yang sehari-hari kita gunakan, salah satunya untuk bahan bakar kompor gas.

B.   Jenis dan Komponen LPG

Menurut Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi No. 25K/36/DDJM/1990 spesifikasi LPG dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu LPG campuran (mixed LPG), LPG Propana (Prophene LPG), dan LPG Butana (Buthene LPG).

LPG yang dipakai untuk bahan bakar kompor gas adalah jenis LPG campuran. LPG ini merupakan salah satu produk yang dipasarkan oleh Pertamina Direktorat Pembekalan Dan Pemasaran Dalam Negeri (Dit. PPDN), dengan merk dagang LPG (Liquid Petroleum Gas). Komponen utama dari LPG adalah Propana (C3H8) dan Butana (C4H10). Disamping itu, LPG juga mengandung senyawa hidrokarbon ringan yang lain dalam jumlah kecil, yaitu Etana (C2H6) dan Pentana (C5H12).

C.   Sifat-Sifat LPG

Berikut ini sifat-sifat LPG yang perlu diketahui agar kita bisa mengunakannya dengan aman.

1.  Wujud

Gas elpiji yang ada di dalam tabung, wujudnya cair dan sebagian berwujud uap. Namun apabila gas tersebut dikeluarkan dari tabung, wujudnya berubah menjadi gas. Wujud awal dari LPG adalah gas. Namun di pasaran dijual dalam bentuk cair.  Mengapa bisa seperti itu? demikian penjelasannya. Pada dasarnya untuk bahan yang berwujud gas berlaku ketentuan seperti ini: “Wujud gas akan berubah menjadi wujud cair apabila temperatur diperkecil atau tekanannya diperbesar”. Dengan adanya perubahan wujud akibat temperatur dan tekanan, maka volume gas juga berubah. Volume gas yang berwujud cair akan menjadi lebih kecil apabila dibandingkan dengan volume gas ketika masih berwujud gas. Rasio antara volume gas bila menguap dengan gas dalam keadaan cair bervariasi tergantung komposisi, tekanan dan temperatur, tetapi biasanya sekitar 250:1.

Kemampuan gas bisa berubah wujud menjadi cair merupakan kelebihan dari bahan-bahan gas yaitu volumenya bisa menjadi mengecil. Kelebihan ini diaplikasikan terutama untuk menyimpan dan mengirim gas dalam tangki, dimana dengan cara tersebut secara ekonomi sangat menguntungkan.

Berdasarkan cara pencairannya, LPG dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. LPG Refrigerated

LPG Refrigerated adalah LPG yang dicairkan dengan cara didinginkan (titik cair Propan adalah sekitar -42°C, dan titik cair Butan sekitar -0.5°C). Cara pencairan LPG jenis ini umum digunakan untuk mengapalkan LPG dalam jumlah besar. Misalnya, mengirim LPG dari negara Arab ke Indonesia. Dibutuhkan tanki penyimpanan khusus yang harus didinginkan agar LPG tetap dapat berbentuk cair serta dibutuhkan proses khusus untuk mengubah LPG Refrigerated menjadi LPG Pressurized.

b. LPG Pressurized

LPG Pressurized adalah LPG yang dicairkan dengan cara ditekan dengan tekanan (pressure) sekitar 4-5 kg/cm2. LPG jenis ini disimpan dalam tabung atau tanki khusus bertekanan tinggi. LPG jenis inilah yang banyak digunakan dalam berbagai aplikasi di rumah tangga dan industri, karena penyimpanan dan penggunaannya tidak memerlukan penanganan khusus seperti LPG Refrigerated. Tekanan uap ELPIJI cair dalam tabung yang diproduksi oleh Pertamina sekitar 5.0 – 6.2 Kg/cm2.

Jumlah gas diukur berdasarkan volumenya (V) dengan satuan m3. Tetapi apabila gas tersebut berwujud cair, maka jumlah gas diukur berdasarkan massanya (m) dengan satuan kilogram (kg), sebagai contoh seperti kalau kita membeli LPG ukuran 3 kg.

LPG dipasarkan dalam bentuk cair dalam tabung-tabung logam bertekanan. Untuk memungkinkan terjadinya ekspansi panas (thermal expansion) dari cairan yang dikandungnya, tabung LPG tidak diisi secara penuh, hanya sekitar 80-85% dari kapasitasnya.

2.  Massa Jenis (density)

Kepadatan massa atau kepadatan material atau massa jenis adalah massa per satuan volume. Simbol yang paling sering digunakan untuk kerapatan ρ (disebut rho). Massa jenis gas yaitu banyaknya massa (kg) dari gas yang mempunyai volume sebesar 1,0 m3 pada kondisi tertentu (diukur pada suhu 00C, dan tekanan 1013 mbar / 1,013 kg/cm2). Massa jenis gas propan adalah 2,004 kg/m3, gas butan adalah 2,703 kg/m3, dan udara sebesar 1,293 kg/m3. Dari sini kita bisa tahu bahwa dengan volume yang sama yaitu 1,0 m3, massa propan, butan dan udara berbeda-beda. Massa butan lebih besar bila dibandingkan dengan massa propan, massa propan lebih besar daripada massa udara, dan massa kedua gas tersebut (butan dan propan) lebih besar daripada massa udara. Pengetahuan tentang massa jenis ini penting untuk memahami perilaku gas bila gas tersebut terlepas di udara bebas, apakah gas tersebut naik ke atas atau turun ke bawah (dan akan berada di atas permukaan tanah).

3.  Specific Gravity

Specific gravity adalah perbandingan antara massa jenis fluida (fluid density) dengan massa jenis  fluida tertentu (specified reference density). Yang digunakan sebagai fluida pembanding bisa berbeda-beda. Misalnya untuk cairan, maka sebagai fluida pembandingnya (reference density) adalah air pada suhu 4oC. Sedangkan untuk gas, sebagai fluida pembandingnya adalah udara (biasanya pada suhu 200C). Specific gravity merupakan sebuah perbandingan, sehingga specific gravity tidak mempunyai satuan.

Meskipun pengertiannya tidak sama persis (tetapi pada dasarnya adalah sama), ada yang menterjemahkan specific gravity dengan massa jenis relatif (relative density). Selanjutnya dalam tulisan ini untuk menyebut istilah specific gravity kita gunakan istilah massa jenis relatif.

 Massa jenis relatif gas adalah perbandingan antara massa jenis gas dengan massa jenis udara (udara luar atau udara bebas). Massa jenis relatif udara adalah 1. Angka ini didapat dari massa jenis udara dibandingkan dengan massa jenis udara itu sendiri, yaitu 1,293 kg/m3 : 1,293 kg/m3 sama dengan 1. Dengan cara yang sama kita bisa menghitung massa jenis relatif dari propan yaitu 2,004 kg/m3 : 1,293 kg/m3 sama dengan 1,55 dan massa jenis relatif dari butan adalah sebesar 2,09. Apabila massa jenis relatif dari suatu gas lebih kecil daripada 1, maka gas tersebut akan naik ke udara. Namun apabila massa jenis relatifnya lebih kecil dari 1, maka gas tersebut akan turun ke tanah (mencari/mengalir ke tempat yang lebih rendah).

Dengan mengetahui bahwa massa jenis relatif gas propan dan butan lebih besar dari udara, maka apabila kita menyimpan LPG harus memberi ventilasi yang diletakkan rata dengan tanah/lantai (bila memungkinkan) atau dinaikkan sedikit. Hal ini dimaksudkan apabila ada kebocoran LPG, gas tersebut bisa cepat keluar dan bercampur dengan udara bebas. Di samping itu, dengan alasan yang sama seperti dia atas, kita jangan menyimpan tabung LPG di ruangan bawah tanah.

4.  Temperatur Nyala (Ignition Temperature)

Temperatur nyala dari bahan bakar gas pada umumnya antara 4500C sampai dengan 6500C. Dengan temperatur seperti itu, gas yang diletakkan di udara bebas akan menjadi panas dan akan terjadi pembakaran. Temperatur nyala untuk propan adalah 5100C, sedangkan butan adalah 4600C. Dari data ini kita bisa tahu bahwa apabila ada LPG yang terlepas atau bocor dari tabung gas ke udara bebas, gas tersebut tidak akan terbakar dengan sendirinya. Karena temperatur udara bebas biasanya sekitar 270C. Untuk menimbulkan nyala pada peralatan yang menggunakan bahan bakar gas, misalnya kompor gas, kita menggunakan alat penyala atau api penyala. Apabila temperatur udara bebas ini minimal sama dengan temperatur nyala, maka gas tersebut berada dalam  kondisi autoignition temperature yaitu temperatur terendah dimana bahan akan terbakar dengan sendirinya tanpa diberi sumber nyala.

5.  Batas Nyala (Flammable Range)

Batas nyala (Flammable Range) atau disebut jugabatas meledak (Explosive Range) adalah perbandingan campuran (dalam bentuk prosentase) antara gas dengan udara, dimana pada batas tersebut dapat terjadi nyala api atau ledakan. Untuk bisa terjadi nyala api atau ledakan, besarnya perbandingan antara uap gas dan udara tidak memiliki nilai (angka) yang tunggal, tetapi merupakan nilai-nilai yang mempunyai batas bawah dan batas atas. Jadi apabila terjadi campuran antara gas dan udara dalam rentang nilai bawah dan nilai atas, maka akan terjadi nyala api atau ledakan. Nilai batas nyala bawah disebut juga Lower Explosive Limit (LEL) yaitu batas minimal konsentrasi uap bahan bakar di udara dimana bila ada sumber api, gas tersebut akan terbakar. Sedangkan nilai batas atas atau Upper Explosive Limit (UEL) yaitu batas konsentrasi maksimal uap bahan bakar di udara dimana bila ada sumber api, gas tersebut akan terbakar. Batas nyala (Flammable Range) untuk propan adalah antara 2,4% sampai dengan 9,6% dan butan antara 1,9% sampai dengan 8,6%.  Ini artinya bahwa misalnya terjadi campuran 2,4% propan dengan 97,6% udara, maka campuran tersebut akan dapat menyala, tetapi jumlah gas propan ini merupakan jumlah yang minimal. Apabila jumlah propan kurang dari 2,4%, maka tidak akan terjadi nyala. Demikian sebaliknya, apabila jumlah propan lebih dari 9,6% juga tidak akan terjadi nyala. Sebagai contoh terjadi campuran 15% propan dan 85% udara, maka tidak akan terjadi nyala. Jadi kesimpulannya bahwa meskipun ada sumber api tetapi karena perbandingan campuran antara propan dengan udara di bawah atau di atas batas nyala (Flammable Range) , maka tidak akan terjadi pembakaran.

Dengan mengetahui batas nyala (flammable range) dari gas, kita bisa mencegah dan mengantsipasi bahaya dari LPG (elpiji) tersebut. Dengan mengetahui bahwa gas akan terbakar apabila mempunyai campuran dengan udara dengan perbandingan tertentu, maka apabila ada gas yang bocor, salah satu tindakan sederhana yang bisa lakukan adalah dengan membuka pintu atau jendela atau berusaha mengipas-ngipas gas tersebut agar keluar ruangan. Hal ini dimaksudkan gas tersebut komposisi campurannya kurang dari 1,9% (untuk gas propan). Dengan demikian gas tersebut tidak bisa terbakar, meskipun ada sumber api.

D.   Kesimpulan

Dari uraian tentang LPG seperti di atas bisa diambil beberapa kesimpulan yaitu:

1.    LPG berasal dari hasil pengolahan minyak bumi. Minyak bumi (petroleum) ditemukan bersama-sama dengan gas alam (natural gas). Kemudian minyak bumi dipisahkan dari gas alam dan menjadi minyak mentah (crude oil). Selanjutnya minyak mentah diolah dengan proses yang disebut destilasi bertingkat. Dari proses pengolahan tersebut dihasilkan residu, minyak berat, solar, kerosin, bensin/gasolin, dan gas. Bagian terakhir yang berupa gas inilah asal usulnya LPG (tentunya setelah melalui pengolahan lanjutan) yang sehari-hari kita gunakan, salah satunya untuk bahan bakar kompor gas.

2.    LPG dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu LPG campuran (mixed LPG), LPG Propana (Prophene LPG), dan LPG Butana (Buthene LPG).

3.    LPG yang ada di dalam tabung, wujudnya cair dan sebagian berwujud uap. Namun apabila gas tersebut dikeluarkan dari tabung, wujudnya berubah menjadi gas. Wujud awal dari LPG adalah gas. Namun di pasaran dijual dalam bentuk cair. Berdasarkan cara pencairannya, LPG dapat dibedakan menjadi dua yaitu pertama, LPG Refrigerated adalah LPG yang dicairkan dengan cara didinginkan (titik cair Propan adalah sekitar -42°C, dan titik cair Butan sekitar -0.5°C). Kedua,  LPG Pressurized adalah LPG yang dicairkan dengan cara ditekan dengan tekanan (pressure) sekitar 4-5 kg/cm2.

4.    Massa jenis gas propan adalah 2,004 kg/m3, gas butan adalah 2,703 kg/m3, dan udara sebesar 1,293 kg/m3. Pengetahuan tentang massa jenis ini penting untuk memahami perilaku gas bila gas tersebut terlepas di udara bebas, apakah gas tersebut naik ke atas atau turun ke bawah (dan akan berada di atas permukaan tanah).

5.    Massa jenis relatif dari propan yaitu 1,55 dan massa jenis relatif dari butan adalah sebesar 2,09. Dengan mengetahui bahwa massa jenis relatif gas propan dan butan lebih besar dari udara, maka apabila kita menyimpan LPG harus memberi ventilasi yang diletakkan rata dengan tanah/lantai (bila memungkinkan) atau dinaikkan sedikit. Hal ini dimaksudkan apabila ada kebocoran LPG, gas tersebut bisa cepat keluar dan bercampur dengan udara bebas. Di samping itu, dengan alasan yang sama seperti dia atas, kita jangan menyimpan tabung LPG di ruangan bawah tanah.

6.    Temperatur nyala dari bahan bakar gas pada umumnya antara 4500C sampai dengan 6500C. Temperatur nyala untuk propan adalah 5100C, sedangkan butan adalah 4600C. Apabila ada LPG yang terlepas atau bocor dari tabung gas ke udara bebas, gas tersebut tidak akan terbakar dengan sendirinya. Karena temperatur udara bebas biasanya sekitar 270C. Untuk menimbulkan nyala pada peralatan yang menggunakan bahan bakar gas, misalnya kompor gas, kita menggunakan alat penyala atau api penyala.

7.    Batas nyala (Flammable Range) atau disebut jugabatas meledak (Explosive Range) adalah perbandingan campuran (dalam bentuk prosentase) antara gas dengan udara, dimana pada batas tersebut dapat terjadi nyala api atau ledakan. Batas nyala (Flammable Range) untuk propan adalah antara 2,4% sampai dengan 9,6% dan butan antara 1,9% sampai dengan 8,6%.

 Daftar Pustaka:

Siegfried, B. dkk. 2006. Fachkunde Sanitaertechnik. Verlag Europa-Lehrmittel, Haan-Gruiten. Germany.           

http://www.rismaka.net/2010/08/mengenal-lpg-atau-elpiji.html

http://www.sukses-mandiri.com/news/1/Mengenal-Sifat-sifat-LPG

http://merulalia.wordpress.com/2010/07/14/proses-terjadinya-api/

http://www.altenergy.com/technology/lpgproperties.htm

SIFAT KIMIA KAYU

SIFAT KIMIA KAYU

Drs. Cahyo Kuncoro, MT. Widyaiswara Madya, PPPPTK/VEDC Malang

 

      Susunan kimia kayu digunakan sebagai pengenal ketahanan kayu terhadap serangan makhluk perusak kayu. Selain itu dapat pula menentukan pengerjaan dan pengolahan kayu, sehingga didapat hasil yang maksimal. Pada umumnya komponen kimia kayu daun lebar dan kayu daun jarum terdiri dari 3 unsur :

§  Unsur karbohidrat terdiri dari selulosa dan hemiselulosa.

§  Unsur non-karbohidrat terdiri dari lignin.

§  Unsur yang diendapkan dalam kayu selama proses pertumbuhan

dinamakan zat ekstraktif. (Dumanauw.J.F, 1993)

 

Tabel 1.  Komposisi Unsur Kayu

 

 

 

 

 

Sumber (Haygreen.J.G, 1987)

 

1.     Komposisi Kimia Kayu

1.1.  Zat – zat makromolekul

       Sel kayu terutama terdiri atas selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Dimana selulosa membentuk kerangka yang dikelilingi oleh senyawa-senyawa lain yang berfungsi sebagai matriks (hemiselulosa) dan bahan-bahan yang melapisi (lignin). Sepanjang menyangkut komponen kimia kayu, maka perlu dibedakan antara komponen-komponen makromolekul utama dinding sel selulosa, poliosa (hemiselulosa) dan lignin, yang terdapat pada semua kayu, dan komponen-komponen minor dengan berat molekul kecil (ekstraktif dan zat-zat mineral). Perbandingan dan komposisi kimia lignin dan poliosa berbeda pada kayu lunak dan kayu keras, sedangkan selulosa merupakan komponen yang seragam pada semua kayu. (Sjostrom.E, 1993).

 

Gambar 1. Bagan Umum Komponen Kayu

Sumber : Fengel. D, 1995

 

Unsur-unsur penyusun kayu tergabung dalam sejumlah senyawa organik:

selulosa, hemiselulosa dan lignin. Proporsi lignin dan hemiselulosa sangat bervariasi di antara spesies-spesies kayu, dan juga antara kayu keras dan

kayu lunak.

 

Tabel 2.  Komponen Kimia Menurut Golongan Kayu

 

     Sumber : Kollmann dan Cote (1968) (Haygreen.J.G, 1987)

 

1)   Selulosa

       Jelas bahwa pemanfaatan selulosa secara tradisional yang terpenting, yang merupakan setengah dari zat penyusun kayu, adalah sebagai bahan baku untuk produksi kertas. Dalam berbagai bentuk pulp, selulosa mewakili bahan baku untuk produksi berbagai tipe kertas dan karton, dan juga menghasilkan produk-produk selulosa yang dimodifikasi. (Hohnholz.J.H, 1988).

       Selulosa merupakan komponen kayu yang terbesar, yang dalam kayu lunak dan kayu keras jumlahnya mencapai hampir setengahnya. Selulosa merupakan polimer linear dengan berat molekul tinggi yang tersusun seluruhnya atas β-D-glukosa. Karena sifat-sifat kimia dan fisiknya maupun struktur supramolekulnya maka ia dapat memenuhi fungsinya sebagai komponen struktur utama dinding sel tumbuhan. (Fengel.D, 1995).

       Bahan dasar selulosa ialah glukosa, dengan rumus C6H12O6. Molekulmolekul glukosa disambung menjadi molekul-molekul besar, panjang dan berbetuk rantai dalam susunan menjadi selulosa. Selulosa merupakan bahan dasar yang penting bagi industri-industr yang memakai selulosa sebagai bahan baku, misalnya : pabrik kertas, pabrik sutera tiruan dan lain sebagainya. (Dumanauw.J.F, 1993).

 

2)    Poliosa (Hemiselulosa)

       Persentase dalam kayu lembek lunak (softwood) rata-rata lebih rendah (15-25%). Di samping itu, strukturnya dibedakan dalam dua tipe kayu. Dalam kayu keras dan tanaman tahunan yang dominan adalah jenis pentose (terutama xilan), sedangkan dalam hemiselulosa kayu lunak yang dominan adalah jenis hexosa mudah diisolasi dari kayu dan lebih mudah dihidrolisis dibandingkan tanaman yang kadang-kadang terikat rapat oleh selulosa. Dalam pulp kertas atau dalam kertas, hemiselulosa berperanan sebagai perekat alam dan memperkuat ikatan antara serat ke serat. (Hohnholz.J.H, 1988).

       Beberapa polisakarida kayu secara ekstensif dapat larut di dalam air. Jenis pohon tropis tertentu membentuk suatu getah secara spontan, yang dikeluarkan berupa cairan kental pada bagian yang diberi luka/goresan dan setelah pengeringan getah tersebut akan mengeras, getah-getah yang mengeras tersebut yang berbentuk kecil-kecil kaya akan polisakarida. Sebagai contoh dari getah ini adalah getah arabic, yang terdiri dari polisakarida yang dapat larut dalam air. (Sjostrom.E, 1993).

       Jumlah hemiselulosa dari berat kering kayu biasanya antara 20 dan 30%. Komposisi dan struktur hemiselulosa dalam kayu lunak secara khas berdeda dari kayu keras. Perbedaan-perbedaan yang besar juga terdapat dalam kandungan dan komposisi hemiselulosa antara batang, cabang, akar dan kulit kayu. Seperti halnya selulosa kebanyakan hemiselulosa berfungsi sebagai bahan pendukung dalam diding sel. (Sjostrom.E, 1995).

 

3)    Lignin

       Lignin adalah komponen makromolekuler dinding sel ketiga. Lignin tersusun dari satuan-satuan fenilpropan yang satu sama lain dikelilingi berbagai jenis zat pengikat. Persentase rata-ratanya dalam kayu lunak adalah antara 25-35% dan dalam kayu keras antara 20-30%. Perbedaan struktural yang terpenting dari lignin kayu lunak dan lignin kayu keras, adalah bahwa lignin kayu keras mempunyai kandungan metoxil (- OCH3) yang lebih tinggi. (Hohnholz.J.H, 1988).

       Lignin adalah suatu polimer yang kompleks dengan berat molekul tinggi, tersusun atas unit-unit fenilpropan. Meskipun tersusun atas karbon, hydrogen dan oksigen, lignin bukanlah suatu karbohidrat dan bahkan tidak ada hubungannya dengan golongan senyawa tersebut. Sebaliknya, lignin pada dasarnya adalah suatu fenol. Lignin sangat stabil dan sukar dipisahkan dan mempunyai bentuk yang bermacammacam karenanya susunan lignin yang pasti didalam kayu tetap tidak menentu.

 

       Lignin terdapat di antara sel-sel dan di dalam dinding sel. Di antara selsel, lignin berfungsi sebagai perekat untuk mengikat sel-sel bersamasama. Dalam dinding sel, lignin sangat erat hubungannya dengan selulosa dan berfungsi untuk memberikan ketegaran pada sel. Lignin juga berpengaruh dalam mempertinggi sifat racun kayu yang membuat kayu tahan terhadap serangan cendawan dan serangga.

 

                                        Gambar 2. Bentuk Umum Lignin  (Sumber : Haygreen.J.G, 1987)

 

1.1.    Zat – zat Berat Molekul Rendah

       Di samping komponen-komponen dinding sel, terdapat juga sejumlah zat-zat yang disebut bahan tambahan atau ekstraktif kayu. Meskipun komponen-komponen tersebut hanya memberikan saham beberapa persen pada massa kayu, komponen tersebut dapat memberikan pengaruh yang besar pada sifat-sifat dan kualitas pengolahan kayu. Beberapa komponen, seperti ion-ion logam tertentu, bahkan sangat penting untuk kehidupan pohon.

 

       Zat-zat berat molekul rendah berasal dari golongan senyawa kimia yang sangat berbeda hingga sukar untuk membuat sistem klasifikasi yang jelas tetapi komprehensif. Klasifikasi yang mudah dapat dibuat dengan membaginya ke dalam zat organic dan anorganik. Bahan organik lazim disebut dengan ekstraktif, sedangkan bahan anorganik disebut dengan abu. (Fengel.D, 1995)

 

1)        Zat Ekstraktif

       Zat ekstraktif umumnya adalah zat yang mudah larut dalam pelarut seperti : eter, alkohol, bensin dan air. Banyaknya rata-rata 3 – 8% dari berat kayu kering tanur. Termasuk di dalamnya minyak-minyakan, resin, lilin, lemak, tannin, gula, pati, dan zat warna. Zat ekstraktif memiliki arti yang penting dalam kayu karena :

·         Dapat mempengaruhi sifat keawetan, warna, bau, dan rasa suatu jenis kayu.

·         Dapat digunakan untuk mengenal suatu jenis kayu. (Dumanauw. J. F, 1993).

       Kandungan dan komposisi ekstraktif berubah-ubah di antara spesies kayu. Tetapi juga terdapat variasi yang tergantung pada tapak geografi dan musim. Pada sisi lain, komposisi ekstraktif dapat digunakan untuk determinasi kayu-kayu tertentu yang sukar dibedakan secara anatomi. Komposisi ekstraktif dapat berubah selama pengeringan kayu, terutama senyawa-senyawa tak jenuh, lemak dan asam lemak terdegradasi. Fakta ini penting untuk produksi pulp karena ekstraktif tertentu dalam kayu segar mungkin menyebabkan noda kuning (gangguan getah) atau penguningan pulp. Ekstraktif dapat juga mempengaruhi kekuatan pulp, perekatan dan pengerjaan akhir kayu maupun sifat-sifat pengeringan. (Fengel.D, 1995)

 

 

 

2)    Abu

       Di samping persenyawaan-persenyawaan organik, di dalam kayu masih ada beberapa zat organik, yang disebut bagian-bagian abu (mineral pembentuk abu yang tertinggal setelah lignin dan selulosa habis terbakar). Kadar zat ini bervariasi antara 0,2 – 1% dari berat kayu. (Dumanauw.J.F, 1993).

       Kayu hanya mengandung komponen-komponen anorganik dengan jumlah yang agak rendah, diukur sebagai abu yang jarang melebihi 1% dari berat kayu kering. Namun kandungan abu dalam tugi, daun, dan kulit dapat jauh lebih tinggi. Abu ini asalnya terutama dari berbagai garam yang diendapkan dalam dinding-dinding sel dan lumen. Endapan yang khas adalah berbagai garam-garam logam, seperti karbonat, silikat, oksalat, dan fosfat. Komponen logam yang paling banyak jumlahnya adalah kalsium diikuti kalium dan magnesium. (Sjostrom.E, 1995).

 

DAFTAR PUSTAKA

Dumanauw, J. F. 2001. Mengenal Kayu. Yogyakarta: Kanisius.

Fengel, D. 1995. Kayu: Kimia, Ultrastruktur, Reaksi – reaksi. Yogyakarta:

Universitas Gajah Mada Press.

Haygreen, J. G. 1987. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu: Suatu Pengantar. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press.

Hohnholz, J. H. 1988. Menuju Kelestarian Hutan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Sjostrom, E. 1995. Kimia Kayu: Dasar – dasar dan Penggunaan. Jilid 2. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press.

Sjostrom, E. 1993. Wood Chemistry, Fundamentals and Applications. Second Edition. New York: Academic Press.

 

 

 

Pengukuran Dan Pematokan (Setting Out) Lengkungan Horisontal Metode Interseksi (The Intersection Method)

Pengukuran Dan Pematokan (Setting Out)

 Lengkungan Horisontal

 Metode Interseksi (The Intersection Method)

 DRS. SURYANA, MT

 WIDYAISWARA DEPARTEMEN BANGUNAN

 

     A. Pengukuran Dan Pematokan Lengkungan Horisontal

Pada pelaksanaan pengukuran dan pematokan garis lurus, hasil garis tengah yang telah kita buat akan menyatu pada titik-titik pertemuan (intersection point). Pada akhirnya garis lurus tersebut akan dihubungkan dengan lengkungan horisondal dan lengkungan vertikal yang akan dilaksanakan pengukuran dan pematokan sesuai dengan gambar kerja. Ukuran jarak datar antara titik pertemuan yang  dianggap hal tersebut merupakan perkiraan panjang awal dari pada jalan yang akan dibangun.

B.   Metode Interseksi (the Intersection Method)

Metode interseksi adalah salah satu metode yang sederhana dan efektif untuk membuat lengkungan pada daerah datar dan tidak terhalang. Dalam pelaksanaan metode ini diperlukan peralatan manual yang sederhana seperti roll meter baja, pen ukur, yalon, trifot yalon, nivo kotak, benang nilon, palu besi 1 kg, sedangkan bahan yang harus dipersiapkan adalah patok kayu, paku payung, spidol permanent. Metode ini dapat dengan mudah dikerjakan oleh Juru ukur dengan dua orang pembantu.

      C.     Langkah Kerja Metode Interseksi

            1.    Langkah kerja pertama

Memasang patok pada titik dimana kedua garis lurus bertemu (intersection point P1) . Kemudian tentukan titik tangen awal (TP awal) dantitik tangen akhir (TP akhir). Titik tangen awal adalah tempat dimana kita memulai membuatlengkungan, dan titik tangen akhir adalah tempat kita mengakhiri garis lengkungan.Bagi panjang tangen dalam divisi- divisi yang sama panjang, dengan interval jarak datar 5m,kemudianpasangyalon di sepanjang garis tangen sesuai dengan titik-titk yang telah diukur.


Dengan tangen yang panjang, kita akan memperoleh lengkungan yang panjang dengan diameter yang besar. Cara terbaik menentukan berapa panjang tangen adalah melalui pengalaman-pengalaman. Mari kita perhatikan pertemuan sudut antara dua tangen berikut:

Sudut pertemuan yang besar (i) akan memberikan lengkungan radius yang besar dengan mudah. Panjang tangen kemudian dapat dibuat lebih pendek(dengan catatanpanjang tidak kurang 20m). Sudut pertemuan yang kecil akan memberikan kelengkungan yang tajam dengan radius yang kecil. Pada situasi tertentu, garis tangen harus dibuat lebih panjang (30, 40, 50 atau 60m), hal ini untuk memperbesar radius lengkungan. Kadang-kadang kita ingin mengatur panjang tangen untuk mengontrol dimana garis tengah lengkungan berada. (lihatlah dibagian bawah: Pengaturan Posisi Lengkungan).

2.  Langkah kerja kedua

Berilah notasi huruf referensi pada masing-masing tongkat ukur (Yalon) sebagaimana terlihat pada gambar dibawah. Amati garis sepanjang a – a dan dengan bantuan seorang pembantu pemegang yalon yang harus segaris lurus dengan garis pandang tadi. Sementara pembantu kedua berdiri di b dengan cara yang sama mengamati b – b sehingga segaris lurus. Kemudian pembantu pertama bergerak sepanjang garis pandang  a – a dan berhenti ketika bertemu dengan garis pandang b – b. Beri tanda titik pertemuan tersebut dengan patok. Hal ini merupakan titik pertama dalam pembuatan lengkungan.

3.  Langkah kerja ketiga 

Dengan cara yang sama ulangi lagi langkah kerja ke 2 dengan melihat garis b – b sementara pembantu yang lain melihat garis pandang c – c sehingga diperoleh titik lengkungan kedua.

 

 4.  Langkah kerja keempat 

Selesaikan dengan cara yang sama dengan mengulang-ulang langkahkerjakedua sehingga diperoleh titi-titik lengkungan, kemudian gunakan titik lengkungan ini untuk membuat titik-titiklengkungan dengan interval jarak datar 5m. Amati kembali lengkungan tersebut dan pastikan bahwa semua titik membentuk lengkungan yang halus.

D. Mengatur Kembali Posisi Lengkungan

Kita akan selalu memperoleh titik lengkungan lebih sedikit dari pada jumlah yalon di sepanjang tangen. Sebagai contoh 5 yalon akan menetapkan 4 titik lengkungan (lihat gambar dibawah). Jumlah yalon yang genap akan memberikan jumlah ganjil titik lengkungan.  Juga titik tengah lengkungan akan berlawanan dengan titik pertemuan garis P1. Dimana tengah-tengah dua garis interseksi adalah pertengahan tengah titik tengah lengkungan (sebagaimana terlihat pada garis 3-3 & 4-4 dan 2-2 & 3-3).  

 

 

                        DAFTAR PUSTAKA

1.    Markus Gerig, Vermesungskunde und Feldmessen Fur das Baugewerbe, SKBU Zurich, 1984.

2.    Soetomo Wongsotjitro, Ilmu Ukur Tanah, Kanisius, Yogyakarta, 1980.

3.    W. Schofield, Engineering Surveying 2, Second Edition, London, 1984.

4.    Ir. Indra Simarga, M. Surv. Sc, Pengukuran dan Pemetaan Pekerjaan Konstruksi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1997.

5.    S G Brighty, Setting Out A Gide For Site Engineers, Granada, London, 1975

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

OPTIMALISASI HASIL DIKLAT FINISHING KAYU SISTEM MELAMIN MELALUI PRAKTIK PEMBUATAN FRAGMEN BAGI PESERTA DIKLAT GURU SMK DI PPPPTK BOE MALANG

OPTIMALISASI HASIL DIKLAT FINISHING KAYU SISTEM MELAMIN MELALUI PRAKTIK PEMBUATAN FRAGMEN BAGI PESERTA DIKLAT GURU SMK DI PPPPTK BOE MALANG

Oleh: Budi Martono*

Abstract: Wood finishing job iseach otherBasic CompetencyonExpertise Competencyof Wood Construction Technique on Expertise Study Program Building Techniquebased on ExpertiseSpectrume of Dikmenjurmust be managed by training participant on SMK. The reality, there are still many Teacher of SMK teaching onexpertise competencymentioned not yet controlled by either, so that training participant not be able achieve minimum of competency standard required by both. Action research with the tittle Optimalization of Training Result on Melamine System of Wood Finishing through Fragment Made Practice for Training Participant at PPPPTK BOE Malang focused on12 Participant of Wood Finishing Training. The research result show there is improvement of average score on each step start from pre condition result = 2,15; 1st cycle = 2,56; 2nd cycle = 2,76; and the final condition = 3,00. There is an improvement even if it is few, but the result of final condition of the measurement show all of the participant who has graduated at good qualification with the lowest grade achieved is 2,87and the highest grade achieved is 3,13. So, method of fragment made practice be able to optimize training result on wood finishing of melamine system.

Key words: optimize training result, melamine system of wood finishing job, fragment made practice.

 

Melaksanakan pekerjaan finishing kayu merupakan salah satu Standar Kompetensi pada Kompetensi Keahlian Teknik Konstruksi Kayu dan Teknik Furnitur pada Program Studi Keahlian Teknik Bangunan berdasarkan Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan tahun 2008. Kompetensi tersebut merupakan salah satu standar minimal yang harus dikuasai oleh peserta diklat (siswa) di SMK untuk Kompetensi Keahlian Teknik Konstruksi Kayu dan Teknik Furnitur.

Kenyataannya masih banyak guru SMK yang mengajar pada kompetensi keahlian Teknik Konstruksi Kayu dan Teknik Furnitur untuk Standar Kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu belum menguasai dengan sangat baik standar kompetensi tersebut, sehingga peserta diklat tidak dapat meraih standar kompetensi minimal yang disyaratkan dengan baik.

Diklat Tingkat Menengah Finishing Kayu merupakan salah satu diklat dalam lingkup Program Studi Teknologi Kayu yang sering diselenggarakan dan mendapat animo banyak dari guru-guru SMK Program Studi Keahlian Teknik Bangunan, tetapi pada Kompetensi Dasar Melaksanakan Pekerjaan Melamine secara rata-rata mendapat hasil diklat yang belum optimal (kualifikasi cukup).

Kondisi akhir yang diharapkan untuk peserta diklat sebagai subyek yang diteliti adalah seluruh peserta diklat dapat lulus dengan kualifikasi baik yaitu antara nilai 2,55 – 3,54. Kondisi akhir yang diharapkan untuk peneliti (Widyaiswara) adalah dapat memperbaiki metode pembelajaran pada Kompetensi Dasar Melaksanakan Pekerjaan Melamin dengan metode praktik pembuatan fragmen sebanyak 2 lembar tripleks untuk sistem melamin natural transparan dan 2 lembar tripleks untuk sistem melamin warna transparan pewarnaan cara langsung yang berukuran A4 (21x29,5) cm bagi setiap peserta diklat.

Salah satu solusi untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran finishing kayu sistem melamin yaitu melalui metode pembelajaran praktik pembuatan fragmen bagi peserta diklat pada 2 lembar tripleks untuk sistem melamin natural transparan dan 2 lembar tripleks untuk sistem melamin warna transparan pewarnaan cara langsung yang berukuran A4 (21x29,5) cm bagi setiap peserta.

Dari permasalahan dan harapan tersebut di atas maka peneliti mencoba untuk mencari solusi melalui penelitian yang berjudul: ”OptimalisasiHasil Diklat Finishing Kayu Sistem Melamin Melalui Praktik Pembuatan Fragmen Bagi Peserta Diklat Guru SMK di PPPPTK BOE Malang”

Permasalahan dirumuskan melalui identifikasi pada latar belakang, berikut ini: Belum optimalnya hasil pembelajaran finishing kayu sistem melamin; Belum tepatnya metode mengajar yang diterapkan untuk pembelajaran finishing kayu sistem melamin; Belum lengkapnya peralatan yang mendukung optimalnya hasil pembelajaran finishing kayu; Belum terkondisinya bengkel untuk praktik finishing kayu secara baik; Belum digunakannya teknik aplikasi bahan finishing kayu yang tepat.

Pembatasan masalah perlu dilakukan untuk penelitian ini, dengan  pertimbangan supaya dapat menemukan solusi pemecahan masalah secara spesifik dan teknis.

Dalam penelitian tindakan pada umumnya dapat diambil variabel bebas atau independen (x) lebih dari satu, tetapi untuk penelitian ini hanya diambil satu variabel bebas atau independen (x) yaitu praktik pembuatan fragmen.

Variabel terikat atau dependen (y) untuk penelitian tindakan pada umumnya dapat ditentukan lebih dari satu variabel terikat atau dependen, namun untuk penelitian ini diambil hanya satu variabel terikat atau dependen (y) yaitu optimalisasi hasil diklat finishing kayu sistem melamin.

Dari penjelasan di atas, maka rumusan masalahnya sebagai berikut: Apakah melalui praktik pembuatan fragmen dapat mengoptimalkan hasil diklat finishing kayu sistem melamin bagi peserta diklat guru SMK di PPPPTK BOE Malang?

Tujuan Umum penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan hasil diklat finishing kayu sistem melamin.

Secara khusus tujuan penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan hasil diklat finishing kayu sistem melamin melalui praktik pembuatan fragmen.

Manfaat penelitian ini terdiri dari dua hal, yaitu kegunaan teoritis yang berkaitan dengan teori pembelajaran dalam kediklatan dan pengetahuan yang mendukung untuk mendapatkan kompetensi pekerjaan finishing kayu sistem melamin. Sedangkan kegunaan praktis ditujukan bagi peserta diklat sebagai subyek penelitian untuk mendapatkan cara belajar secara efektif dalam menguasai kompetensi finishing kayu sistem melamin sehingga dapat diterapkan untuk pilihan metode mengajar di SMK. Juga bermanfaat bagi widyaiswara sebagai peneliti untuk dapat mengembangkan salah satu metode mengajar yaitu metode praktik melalui pembuatan fragmen. Begitu juga manfaat bagi institusi, yaitu dengan memfasilitasi kegiatan pengembangan profesi widyaiswara melalui penelitian adalah menumbuhkan citra baik institusi sebagai pusat pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan khususnya untuk guru-guru SMK.

Pengertian diklat diuraikan dari sumber yang diambil dari internet berikut ini: (http://www.bkn.go.id/penelitian.htm)

Secara garis besar, Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) dapat diartikan sebagai akuisisi dari pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), dan sikap (attitudes) yang memampukan manusia untuk mencapai tujuan individual dan organisasi saat ini dan di masa depan (Bambrough, 1998:1).

Dalam terminologi lain, Diklat dipisahkan secara tegas, yakni Pendidikan dan Pelatihan. MenurutNasution (2000:71), Pendidikan adalah suatu proses, teknis dan metode belajar mengajar dengan maksud mentransfer suatu pengetahuan dari seseorang kepada orang lain sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan menurut Pont (1991:46), Pelatihan adalah mengembangkan orang-orang sebagai individu dan mendorong mereka menjadi lebih percaya diri dan berkemampuan dalam hidup dan pekerjaannya.

Dalam perspektif Ahwood dan Dimmoel (1992:32), pendidikan lebih bersifat teoritis dalam pengetahuan umum, sosial dan berkiblat pada kebutuhan perorangan. Sedangkan pelatihan adalah suatu proses pengembangan keterampilan pegawai untuk melakukan pekerjaan yang sedang berjalan dan pekerjaan di masa yang akan datang. Paralel dengan terminologi teoritis di atas, Nadler dan Nadler dalam Atmosoeprapto (2000:29), Mondy dan Noe (1989:224-225), serta Megginson (1985:229) mendefinisikan Diklat sebagai berikut :

Pendidikan adalah proses pembelajaran untuk mempersiapkan seseorang untuk mampu mengidentifikasi pekerjaan, menambah wawasan dan pengetahuan. Pelatihan adalah proses pembelajaran yang terkait dengan pekerjaan spesifik saat ini, proses desain, keahlian, dan teknis pekerjaan untuk mempertahankan dan meningkatkan efektifitas masing-masing individu dan kelompok dalam suatu organisasi.

Pengembangan merupakan proses pembelajaran untuk pertumbuhan seseorang, mengaplikasikan informasi, penge-tahuan, dan keahlian, serta lebih sering dikaitkan dengan pendidikan level manajerial dalam area yang lebih luas, seperti komunikasi, kepemimpinan, motivasi, dan lain-lain.

Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa pendidikan lebih bersifat umum dan untuk kebutuhan seseorang, sedangkan pelatihan lebih bersifat khusus dan bertujuan untuk pengembangan keterampilan pegawai sehingga mampu melakukan pekerjaan yang sedang berjalan dan yang akan datang.

Finishing kayu merupakan proses akhir dari seluruh tahap produksi di industri perabot kayu, rotan, dan bagian bangunan yang berbahan dari kayu dengan cara melapisi permukaan benda kerja dengan suatu zat/resin dalam proses aplikasi ke permukaan yang akan mengering dan membentuk suatu lapisan tipis.

Finishing merupakan lapisan paling akhir pada permukaan kayu. Proses ini bertujuan untuk (1) memberikan nilai estetika yang lebih baik pada perabot kayu dan jugaberfungsiuntuk menutupi beberapa kelemahan kayu dalam hal warna, tekstur atau kualitas ketahanan permukaan pada material tertentu. Tujuan kedua adalah (2) untuk melindungi kayu dari kondisi luar (cuaca, suhu udara, dll.) ataupun benturan dengan barang lain. Dengan kata lain untuk menambah daya tahan dan keawetan produk kayu (http://tentangkayu.blogspot.com).

Finishing melamin natural transparan, disebut pula melamine clear, adalah salah satu jenis finishing berbahan baku 2 komponen. Lapisannya mempunyai ketebalan yang bagus, hingga dapat menutup serat kayu. Jarak antara serat kayu menjadi rata halus. Demikian pula, sesuai dengan sebutannya natural transparan, ia memiliki penampilan yang bening hingga warna kayu asli kelihatan alami bahkan makin cemerlang dan hidup (Agus Sunaryo, 1997: 113-115).

Tahapan kerja untuk aplikasi finishing melamin natural transparan seperti pada Gambar 1 Gambar 1. Tahapan Aplikasi Finishing Melamine Natural Transparan

Catatan : Ruang harus ada sirkulasi udara dan dihindarkan dari debu dan lalu lalang orang;Perbandingan campuran antara base dengan hardener 10:1; Top – coat dapat diulangi dengan diamplas dahulu dengan amplas no. 400.

Sedangkan finishing melamin warna transparan adalah jenis finishing yang memiliki keindahan pola serat kayu yang hangat dengan latar belakang warna nuansa yang sesuai. Zat pewarna yang dipakai dalam proses finishing melamine warna transparan adalah jenis pewarna yang tembus pandang (Agus Sunaryo,1997:120-123).

Proses pengerjaan atau disebut juga dengan istilah aplikasi di dalam finishing, pada umumnya dilakukan dengan pengaosan dengan kain kaos, penguasan dengan kuas bulu, pengerolan dengan rol bulu, penyemprotan dengan pistol semprot/spray-gun, pencelupan dalam bak finishing. Sedangkan aplikasi finishing yang dipilih untuk penelitian ini adalah aplikasi penyemprotan dengan pistol semprot (spray-gun) menggunakan bahan finishing melamin.

Tahapan kerja untuk aplikasi finishing melamin natural warna transparan pewarnaan langsung adalah seperti pada Gambar 2.

Gambar 2. Tahapan Aplikasi Finishing Melamine Warna Transparan Pewarnaan Cara Langsung

Catatan : Ruang harus ada sirkulasi dan dihindarkan dari debu serta lalu lalang orang;Perbandingan campuran antara base dengan hardener 10:1; Top – coat dapat diulangi dengan diamplas dahulu dengan amplas no. 400.

Fragmen adalah bagian atau pecahan sesuatu (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, 1994) yang digunakan sebagai uji coba atau latihan finishing berjumlah empat lembar tripleks berukuran selebar kertas A4 (21x29,5) cm, untuk sistem melamin transparan 2 lembar tripleks dan sistem melamin warna transparan 2 lembar tripleks bagi setiap peserta diklat yang berjumlah 12 orang.

Berdasarkan hasil pembelajaran peserta Diklat Tingkat Menengah Finishing Kayu pada Materi Finishing Kayu Sistem Melamin yang telah beberapa kali dilaksanakan pada periode yang lalu, didapatkan hasil secara rata-rata belum optimal yaitu dengan kualifikasi cukup.

Sedangkan kompetensi finishing kayu merupakan salah satu kompetensi kejuruan untuk mata diklat produktif, termasuk di dalamnya adalah finishing kayu sistem melamin ini harus dikuasai oleh peserta diklat yaitu Guru-guru di SMK pada Program Studi Keahlian Teknik Bangunan.

Supaya hasil pembelajaran peserta Diklat Tingkat Menegah Finishing Kayu pada Materi Finishing Kayu Sistem Melamin mendapatkan hasil sangat baik maka dianggap perlu untuk segera dilaksanakan langkah-langkah optimalisasi pada proses pembelajarannya.

Berdasarkan analisis ini diduga untuk dapat mengoptimalkan hasil diklat Finishing Kayu Sistem Melamin bagi peserta diklat supaya mendapatkan hasil sangat baik maka dapat dilakukan melalui praktik pembuatan fragmen.

Skema kerangka berpikir dapat dilihat pada Gambar 3.

 

 Gambar 3. Skema Kerangka Berpikir

 Melalui praktik pembuatan fragmen dapat mengoptimalkan hasil diklat finishing kayu sistem melamin bagi peserta diklat guru SMK di PPPPTK Bidang Otomotif dan Elektronika Malang.

Tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah membuat fragmen yang digunakan sebagai uji coba atau latihan finishing berjumlah empat lembar tripleks berukuran selebar kertas A4 (21x29,5) cm, untuk sistem melamin transparan 2 lembar tripleks dan sistem melamin warna transparan 2 lembar tripleks bagi setiap peserta diklat yang berjumlah 12 orang.

METODE

Penelitian dilaksanakan pada Diklat Tingkat Menegah Finishing Kayu bagi Guru SMK periode 10 Maret s.d. 4 April 2008 bertempat di bengkel Prodi Teknologi Kayu P4TK Bidang Otomotif dan Elektronika Malang.

Subyek penelitian adalah Peserta Diklat Tingkat Menengah Finishing Kayu bagi Guru SMK periode 10 Maret s.d. 4 April 2008 sebanyak 12 peserta yang berasal dari beberapa SMK yang tersebar di seluruh Indonesia.

Tabel 1. Nilai Pre test dan Post test

 Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan non tes. Data tes diambil dari hasil tes tertulis pada pre test dan post test peserta Diklat Tingkat Menengah Finishing Kayu bagi Guru SMK periode 10 Maret s.d. 4 April 2008.

Data non tes didapatkan dari hasil wawancara dan pengamatan terhadap peserta Diklat sebagai subyek yang diteliti.

Untuk mengumpulkan data tes tertulis diambil dari Daftar Nilai peserta. Sedangkan alat pengumpul data non tes dibuatkan Panduan Pengamatan terhadap peserta diklat sebagai subyek penelitian.

Validasi data diperlukan agar diperoleh data yang valid dari subyek penelitian. Validasi data kuantitatif yang berasal dari Daftar Nilai Peserta akan divalidasi instrument/ kriteria penilaian hasil pembelajarannya. Untuk melakukan hal tersebut di atas maka dibuatlah kisi-kisi agar terpenuhi validitas teorinya.

Data kualitatif yang dikumpulkan dari hasil wawancara dan pengamatan terhadap subyek penelitian dapat divalidasi melalui triangulasi sumber dan metode.

Analisis data kuantitatif menggunakan analisis deskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai pre test, dan pengamatan sebelum dilakukan tindakan yang diasumsikan sebagai kondisi awal dengan nilai yang dihasilkan pada siklus 1. Untuk siklus 2, nilai yang dibandingkan adalah nilai siklus 1 dengan nilai siklus 2.

Data kualitatif yang didapatkan dari pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan membandingkan hasil pengamatan proses diklat dari kondisi awal, siklus 1, dan siklus 2.

Seluruh peserta diklat dapat menguasai kompetensi finishing kayu sistem melamin secara optimal sehingga menghasilkan kualifikasi baik. Skala

Penilaian peserta diklat menurut standar institusi adalah seperti pada Tabel 2.

Tabel 2. Skala penilaian

 

 Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan (action research), dalam hal ini adalah metode penelitian diklat yaitu melakukan penelitian dalam proses pembelajaran untuk mendapatkan hasil yang optimal bagi peserta diklat.

Tindakan yang dilakukan terdapat pada 2 siklus. Siklus 1 adalah membandingkan hasil finishing kayu langsung ke benda kerja berupa barang jadi dengan hasil tindakan pertama melalui pembuatan fragmen finishing kayu sistem melamin natural transparan dan warna transparan pada tripleks yang pertama.

Pengamatan dilaksanakan terhadap proses dan hasil akhir finishing sistem melamin melalui pembuatan fragmen yang pertama dan kedua oleh peneliti serta mencatat hasil pengamatan secara deskriptif.

Refleksi yang dilakukan pada siklus 1 yaitu membandingkan hasil finishing kayu langsung ke benda kerja berupa barang jadi dengan finishing melalui pembuatan fragmen dengan mengamati hasil akhir dari proses finishing, sebagai perbandingan hasil kondisi awal dengan kondisi siklus 1.

Pada siklus 2 dilakukan perencanaan tindakan pada kegiatan inti berupa pembuatan fragmen finishing sistem melamin dengan mengamati dan membandingkan hasil akhir dari proses finishing pada pembuatan fragmen pertama dengan fragmen kedua, serta mencatat hasil tersebut secara deskriptif.

HASIL

Untuk mengawali suatu kegiatan diklat yang akan masuk pada kegiatan belajar mengajar, maka dilakukan pre-test guna mengetahui kondisi awal seluruh peserta diklat terhadap materi diklat yang akan diterima. 

Hasil pre-test ini digunakan sebagai data pada kondisi awal peserta Diklat Tingkat Menengah Finishing Kayu bagi Guru SMK periode 10 Maret s.d. 4 April 2008 selaku obyek penelitian, seperti terlihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Pre-test Peserta Diklat

 

  Perencanaan pada siklus 1 meliputi pengarahan tentang langkah kerja pembuatan fragmen finishing, pembuatan fragmen finishing pada tripleks 1, pengamatan proses finishing, penilaian hasil finishing, dan refleksi darihasil pengamatan pada tindakan yang dilaksanakan pada siklus 1.

Untuk mengetahui secara lebih terperinci tentang kegiatan pada siklus 1, maka dijelaskan tahapan kegiatan mulai dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, hasil pengamatan, dan refleksi seperti uraian berikut ini:

Perencanaan tindakan pada siklus 1 meliputipengarahan tentang langkah kerja pembuatan fragmen finishing pada tripleks 1, yang dimulai dari persiapan permukaan kayu, pengisian pori-pori kayu, pewarnaan cara langsung untuk tripleks yang difinishing melamin warna transparan, pelapisan antar media menggunakan melamine sanding sealer, pelapisan akhir permukaan menggunakan melamine clear.

Perencanaan tindakan ini juga meliputi pembuatan lembar pengamatan yang nantinya digunakan oleh peneliti pada saat peserta diklat melaksanakan kegiatanpembuatan fragmen finishing pada tripleks 1.

Lembar pengamatan ini digunakan untuk mengobservasi dan menilai hasil kegiatan setiap peserta diklat yang dicapai pada setiap tahap tindakan di siklus 1 maupun siklus 2.

Pelaksanaan tindakan pada siklus 1 adalah pembuatan fragmen finishing pada tripleks 1, yang dimulai dari persiapan permukaan kayu, pengisian pori-pori kayu, pewarnaan cara langsung untuk tripleks yang difinishing melamin warna transparan,pelapisan antar media menggunakan melamine sanding sealer, pelapisan akhir permukaan menggunakan melamine clear.

Dari hasil pelaksanaan tindakan ini, maka peneliti menggunakan lembar pengamatan untuk melaksanakan observasi guna menilai setiap peserta diklat dalam melaksanakan kegiatan pembuatan fragmen finishing pada tripleks 1.

Pengamatan dilaksanakan terhadap setiap peserta diklat yang sedang dalam proses finishing dan hasil akhir finishing sistem melamin melalui pembuatan fragmen yang pertama oleh peneliti serta mencatat hasil pengamatan secara deskriptif dan ditulis apa adanya, belum ada refleksi maupun kesimpulan. Hasil pengamatan oleh peneliti terhadap setiap peserta diklat, disajikan secara lengkap dan terperinci dalam lampiran.

Hasil pengamatan tersebut di atas dicatat hasilnya pada lembar pengamatan yang dirangkum dalam penilaian kualitatif  seperti pada Tabel 4.

Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Pengamatan Siklus 1 terhadap Peserta Diklat

 

 Tindakan yang dilaksanakan pada siklus 1 ini yaitu setiap peserta diklat melaksanakan pembuatan fragmen finishing kayu sistem melamin natural transparan dan warna transparan pada tripleks 1, dengan hasil penilaian seperti pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil Fragmen Tripleks 1 untuk Melamine Natural Transparan

 

Tabel 6. Hasil Fragmen Tripleks 1 untuk Melamine Warna Transparan

 

 Tabel 7. Hasil Rata-rataFragmen Triplek 1

 

 Berdasarkan hasil pengamatan dan penilaian yang disajikan dalam Tabel 7. pada siklus 1 bisa diperoleh kesimpulan sementara bahwa hasil pembuatan fragmen finishing kayu sistem melamin pada tripleks 1, didapatkan hasil paling rendah adalah2,10(kualifikasi Cukup)danpaling tinggi2,92 (kualifikasi Baik) serta nilai rata-rata kelasnya adalah2,56 (kualifikasi Baik).

Hasil nilai kondisi awal yang rata-rata kelasnya adalah 2,15 bila dibandingkan dengan hasil tindakan pertama yang rata-rata kelasnya adalah 2,56 maka didapatkan peningkatan indikator kinerja sebesar 0,41 dan secara rata-rata kelas mendapat kualifikasi baik.

Perencanaan pada siklus 2 meliputipengarahan tentang langkah kerja pembuatan fragmen finishing, pembuatan fragmen finishing pada tripleks 1, pengamatan proses finishing, penilaian hasil finishing, dan refleksi dari hasil pengamatan pada tindakan yang dilaksanakan pada siklus 2.

Untuk mengetahui secara lebih terperinci tentang kegiatan pada siklus 2, maka dijelaskan tahapan kegiatan mulai dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, hasil pengamatan, dan refleksi seperti uraian berikut ini:

Perencanaan tindakan pada siklus 2 meliputipengarahan tentang langkah kerja pembuatan fragmen finishing pada tripleks 2, yang dimulai dari persiapan permukaan kayu, pengisian pori-pori kayu, pewarnaan cara langsung untuk tripleks yang difinishing melamin warna transparan, pelapisan antar media menggunakan melamin sanding sealer, pelapisan akhir permukaan menggunakan melamine clear.

Perencanaan tindakan ini juga meliputi pembuatan lembar pengamatan yang nantinya digunakan oleh peneliti pada saat peserta diklat melaksanakan kegiatan pembuatan fragmen finishing pada tripleks 2.

Lembar pengamatan ini digunakan untuk mengobservasi dan menilai hasil kegiatan setiap peserta diklat yang dicapai pada setiap tahap tindakan di siklus 1 maupun siklus 2.

Pelaksanaan tindakan pada siklus 2 adalah pembuatan fragmen finishing pada tripleks 2, yang dimulai dari persiapan permukaan kayu, pengisian pori-pori kayu, pewarnaan cara langsung untuk tripleks yang difinishing melamin warna transparan, pelapisan antar media menggunakan melamine sanding sealer, pelapisan akhir permukaan menggunakan melamine clear. Dari hasil pelaksanaan tindakan ini, maka peneliti menggunakan lembar pengamatan untuk melaksanakan observasi guna menilai setiap peserta diklat dalam melaksanakan kegiatan pembuatan fragmen finishing pada tripleks 2.

Pengamatan dilaksanakan terhadap setiap peserta diklat yangsedang dalam proses finishing dan hasil akhir finishing sistem melamin melalui pembuatan fragmen yang pertama oleh peneliti serta mencatat hasil pengamatan secara deskriptif dan ditulis apa adanya, belum ada refleksi maupun kesimpulan

Hasil pengamatan oleh peneliti terhadap setiap peserta diklat, disajikan secara lengkap dan terperinci dalam lampiran.

Hasil pengamatan tersebut di atas dicatat hasilnya pada lembar pengamatan yang dirangkum dalam penilaian kualitatif  seperti pada Tabel 8.

 Tabel 8. Rekapitulasi Hasil Pengamatan Siklus 2 Terhadap Peserta Diklat

 

 Tindakan yang dilaksanakan pada siklus 2 ini yaitu setiap peserta diklat melaksanakan pembuatan fragmen finishing kayu sistem melamin natural transparan dan warna transparan pada tripleks 1, dengan hasil penilaian seperti pada Tabel 9.

 Tabel 9. Hasil Fragmen Tripleks 2 untuk Melamin Natural Transparan

 

 Tabel 10. Hasil Fragmen Tripleks 2 untuk Melamin Warna Transparan

 

 Tabel 11. Hasil Rata-rata Fragmen Tripleks 2

 

 Berdasarkan hasil pengamatan dan penilaian yang disajikan dalam Tabel11. pada siklus 2 bisa diperoleh kesimpulan sementara bahwa hasil pembuatan fragmen finishing kayu sistem melamine pada tripleks 2, didapatkan hasil paling rendah adalah 2,55 (kualifikasi Baik) dan paling tinggi 3,03 (kualifikasi Baik) serta nilai rata-rata kelasnya adalah2,76 (kualifikasi Baik).

Hasil nilai rata-rata pada Siklus 2 yang didapat dari hasil rata-rata fragmen tripleks 2 adalah 2,76 bila dibandingkan dengan hasil nilai rata-rata pada Siklus 1 yang rata-rata kelasnya adalah 2,56 maka didapatkan peningkatan indikator kinerja sebesar 0,20 dan secara rata-rata kelas mendapat kualifikasi baik

Pembahasan tiap siklus dan antar siklus merupakan pembahasan oleh peneliti tentang pelaksanaan tindakan yang dimulai dari kondisi awal ke siklus 1 dan dari siklus 1 ke siklus 2 dan selanjutnya dari siklus 2 ke kondisi akhir.

Data kondisi awal didapatkan dari nilai pre-test yang berbentuk essay test maupun objective test dan selanjutnya  dirata-rata yang menggambarkan kondisi awal peserta diklat sebagai subyek penelitian.

Data tindakan terdiri dari nilai pembuatan fragmen pada lembar tripleks 1 pada siklus 1 dan nilai pembuatan fragmen pada lembar tripleks 2 pada siklus 2. Nilai pada siklus 1 didapatkan dari penilaian peneliti pada saat subyek penelitian selesai pembuatan fragmen pada lembar tripleks1. Nilai pada siklus 2 didapatkan dari penilaian peneliti terhadap hasil pembuatan fragmen pada lembar tripleks 2 yang telah dilakukan oleh subyek penelitian.

Data kondisi akhir didapatkan dari hasil rata-rata setiap subyek penelitian terhadap nilai post-test berbentuk essay test dan nilai hasil finishing perabot kayu.

Antara data kondisi awal dengan data tindakan pertama dibandingan dan dilihat hasilnya. Apakah antara data kondisi awal dengan data tindakan pertama menunjukkan peningkatan? Begitu juga antara data tindakan pertama dengan tindakan kedua, apakah menunjukkan kenaikan yang berarti? Selanjutnya data kondisi akhir dibandingkan dengan data tindakan kedua, data tindakan pertama, dan data kondisi awal, apakah menunjukkan kecenderungan meningkat? Data tersebut di atas diolah dengan MS Exell dan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram batang.

Hasil penelitian disajikan mulai dari hasil pengukuran kondisi awal, hasil pengukuran tindakan pertama, hasil pengukuran tindakan kedua, dan hasil kondisi akhir dalam bentuk tabel dan diagram batang yang diolah dengan MS Exell.

Data tersebut di atas dalam bentuk tabel rekapitulasi dari hasil pengukuran kondisi awal, tindakan pada siklus 1, tindakan pada siklus 2, dan hasil kondisi akhir yang dapat dilihat pada Tabel 12. Rekapitulasi pengukuran dari kondisi awal sampai dengan kondisi akhir.

Tabel 12.

Rekapitulasi pengukuran dari kondisi awal sampai dengan kondisi akhir

           Dari hasil pengukuran kondisi awal terdapat 5 peserta yang mempunyai kualifikasi kurang dengan nilai 1,40dan sebanyak 3 peserta mendapat nilai 1,80,serta terdapat seorang peserta yang mendapatkan nilai 1,95. Berikutnya juga terdapat 5 peserta yang mendapat  kualifikasi Cukup dengan nilai 2,20 dan 2,40 masing-masing untuk 2 peserta dan seorang mendapat nilai 2,35. Dengan demikian belum seluruh peserta memenuhi target yang diinginkan untuk kondisi akhir yaitu dengan kualifikasi minimal baik (nilai antara 2,55 sampai dengan 3,54). 

 

 Grafik 1. Hasil pengukuran kondisi awal

 Dari hasil pengukuran tindakan pertama terdapat 4 peserta yang mempunyai kualifikasi cukup dengan nilai 2,25 sebanyak 3 peserta dan seorang peserta dengan nilai 2.10,  selebihnya yaitu 12 peserta mempunyai kualifikasi baik, dengan nilai 2,60 dan 2,65 masing-masing seorang peserta serta  nilai 2,70 untuk 4 peserta. Dengan demikian masih 4 peserta yang belum memenuhi target yang diinginkan untuk kondisi akhir yaitu dengan kualifikasi minimal baik (nilai antara 2,55 sampai dengan 3,54).

 

 Grafik 2. Hasil pengukuran tindakan pertama pada siklus 1

 Dari hasil pengukuran tindakan kedua terdapat seluruh peserta mempunyai kualifikasi baik dengan nilai 2,55 untuk 1 peserta; 2,56 untuk 3 peserta; 2,76 untuk 1 peserta; 2,80 untuk 3 peserta; 2,83 untuk 1 peserta; 2,85 untuk 1 peserta; dan paling tinggi dengan nilai 3,02 untuk 1 peserta. Dengan demikian seluruh peserta telah memenuhi targetyang diinginkan untuk kondisi akhir yaitu dengankualifikasi minimal baik (nilai antara 2,55 sampai dengan 3,54).

 

 Grafik3. Hasil pengukuran tindakan kedua pada siklus 2

 Dari hasil pengukuran kondisi akhir terdapat seluruh peserta telah mempunyai kualifikasi baik dengan nilai 2,87 untuk 1 peserta; 2,90 untuk 1 peserta; 2,96 untuk 2 peserta; 2,97 untuk 1 peserta; 2,99 untuk 1 peserta; 3,02 untuk 1 peserta; 3,07 untuk 1 peserta; 3,08 untuk 1 peserta; 3,11 untuk 1 peserta; 3,12 untuk 1 peserta; dan yang paling tinggi mendapat nilai 3,13 untuk 1 peserta. Dengan demikian seluruh peserta telah memenuhi target yang diinginkan untuk kondisi akhir yaitu dengan kualifikasi minimal baik(nilai antara 2,55 sampai dengan 3,54).

 

 Grafik 4. Hasil pengukuran kondisi akhir

Perbandingan hasil pengukuran rata-rata setiap tahapan ini adalah melihat tingkat kenaikan nilai/indikator kinerja mulai dari hasil pengukuran kondisi awal, hasil pengukuran tindakan pertama pada siklus 1, hasil pengukuran pada tindakan kedua pada siklus 2, dan hasil pengukuran kondisi akhir. Dengan demikian , hasil pengukuran rata-rata tersebut bisa dibandingkan setiap tahapannya, apakah terdapat peningkatan nilai/indikator kinerja yang baik? Ternyata hasilnya menunjukkan adanyapeningkatan nilai rata-rata kelas, hal ini ditunjukkan oleh nilai-nilai yang meningkat seperti berikut ini: 2,15  2,56 → 2,76 → 3,00.

 

 Grafik 5. Hasil pengukuran rata-rata setiap tahapan

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mulai dari pengukuran kondisi awal, pengukuran tindakan pertama pada siklus 1, pengukuran tindakan kedua pada siklus 2, dan pengukuran kondisi akhir, menunjukkan ada kecenderungan yang posistif  yaitu ada kenaikan nilai rata-rata/indikator kinerja yang baik, dan akhirnya telah memenuhi harapan/target yaitu pada kondisi akhir seluruh peserta diklat/subyek penelitian dapat lulus dengan kualifikasi minimal baik yaitu diantara nilai/angka 2,55 – 3,54.

Peneliti menyampaikan rekomendasi bahwa berdasarkan simpulan tersebut di atas yang menunjukkan ada kecenderungan yang posistif yaitu ada kenaikan nilai rata-rata/indikator kinerja yang baik, dan akhirnya telah memenuhi harapan/target penelitian yaitu pada kondisi akhir seluruh peserta diklat/subyek penelitian dapat lulus dengan kualifikasi minimal baik, maka optimalisasi hasil Diklat Finishing KayuSistem Melamin melaluipraktik pembuatan fragmen bagi peserta Diklat Guru SMK di PPPPTK BOE Malang dapat diaplikasikan pada proses pembelajaran diklat sejenis berikutnya.

Beberapa saran dari peneliti berdasarkan pengalaman melaksanakan penelitian tindakan ini hingga menghasilkan simpulan dan implikasi/rekomendasi, maka dapat disampaikan seperti berikut ini:

Sebaiknya peneliti dan subyek penelitian telah mempunyai referensi dan pengalaman yang berkaitan dengan materi finishing kayu sistem melamin sehingga memperlancar dan mempermudah dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar maupun penelitian.Peneliti sebaiknya mempersiapkan alat pengumpul data penelitian dengan lebih terperinci dan lengkap sehingga mudah dalam penggunaannya

DAFTAR RUJUKAN

Agus Sunaryo, SH.,MBA. 1997.Reka Oles Mebel Kayu.Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Pupuh Fathurrohman, Prof., M.Sobry Sutikno, M.Pd. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: PT. Refika Aditama.

Rochiati Wiriaatmadja, Prof.Dr. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas: Untuk meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung: PPS-UPIbekerjasama dengan PT. Remaja Rosdakarya Offset.

Sugiyono, Prof.Dr. 2008. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. Cetakan Ketiga 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka.

http://www.bkn.go.id/penelitian/buku%20penelitian%202003/Buku%20Efektivitas%20Diklat%20%20Struktural/3BABII.htm

ardhana12.wordpress.com/2008/01/25/belajar-penelitian-tindakan-kelas-yuuuk/

http://www.andragogi.com/document/psikologi_pendidikan.html


 

Jenis Kayu untuk Bahan Konstruksi Bangunan

Jenis Kayu untuk Bahan Konstruksi Bangunan

 

Hartiyono (Widyaiswara Madya )

Departemen Bangunan PPPPTK BOE / VEDC Malang

 

Abstrak

Kayu merupakan satu dari beberapa bahan konstruksi yang sudah lama dikenal masyarakat,didapatkan dari semacam tanaman yang tumbuh di alam dan dapat diperbaharui secara alami. Faktor-faktor seperti kesederhanaan dalam pengerjaan, ringan, sesuai dengan lingkungan (environmental compatibility) telah membuat kayu menjadi bahan konstruksi yang dikenal di bidang konstruksi ringan (light construction). Penggunaan kayu sebagai bahan konstruksi tidak hanya didasari oleh kekuatannya saja, akan tetapi juga didasari oleh segi keindahannya.

Secara alami kayu memiliki bermacam-macam warna dan bentuk serat, sehingga untuk bangunan exposematerial kayu tidak banyak memerlukan perlakuan tambahan. Pada perkembangan teknik penggunaan kayu struktural perlu diperhatikan sifat-sifat dan jenis-jenis kayu serta faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan kayu, sambungan dan alat-alat penyambung serta keawetan kayu. Keterbatasan penggunaan kayu selama ini terjadi dikarenakan keterbatasan kayu alami yang lurus dan relative panjang sudah jarang didapatkan, serta kayu dengan tingkat kekuatan yang tinggi sudah semakin berkurang. Oleh karena itu, maka teknologi sambungan dan komposit material sangat penting pada perancangan struktur kayu.

    

     Sifat Sifat Kayu

Kayu berasal dari berbagai jenis pohon yang memiliki sifat-sifat yang berbeda-beda.  Bahkan dalam satu pohon, kayu mempunyai sifat yang berbeda-beda.  Dari sekian banyak sifat-sifat kayu yang berbeda satu sama lain, ada beberapa sifat yang umum terdapat pada semua jenis kayu yaitu :

1.    Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan dinding selnya terdiri dari senyawa kimia berupa selulosa dan hemi selulosa (karbohidrat) serta lignin (non karbohidrat).

2.            Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan jika diuji menurut tiga arah utamanya (longitudinal, radial dan tangensial).

3.            Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, yaitu dapat menyerap atau melepaskan kadar air (kelembaban) sebagai akibat perubahan kelembaban dan suhu udara disekelilingnya.

4.            Kayu dapat diserang oleh hama dan penyakit dan dapat terbakar terutama dalam keadaan kering.

Ada banyak sekali jenis-jenis kayu. Dalam konstruksi dan pemakaian kayu sebagai bagian dari konstruksi bangunan seseorang harus benar-benar mengetahui dan memahami sifat-sifat serta jenis-jenis kayu yang biasa digunakan sebagai konstruksi bangunan itu sendiri.

Kayu memiliki kelebihan sebagai berikut:

1.   Mudah didapatkan di toko-toko material.

2.   Banyak dikuasai oleh tukang lokal.

3.   Bahan kayu dapat dibentuk, dipotong, dan digunakan secara fleksibel.

Kelebihan-kelebihan dari kayu sebagai bahan konstruksi bangunan itu sendiri tentu memberikan keuntungan bagi kita sendiri, namun dibalik kelebihan-kelebihannya itu kayu juga memiliki kekurangan-kekurangan. Berikut kekurangan dari kayu:

1.  Mudah terbakar, dan dapat dimakan rayap.

2.  Dapat mengembang dan menyusup.

3.   Bentang atap dengan konstruksi kayu seringkali terbatas karena ukuran kayu di  pasaran adalah 4 meter.

4. Harga kayu semakin lama semakin mahal karena semakin berkurangnya stok kayu dari alam.

Dibawah ini beberapa jenis kayu yang bisa dipergunakan untuk bahan konstruksi bangunan :

1. Kayu jati

Kayu ini sering dianggap sebagai kayu dengan serat dan tekstur paling indah. Karakteristiknya yang stabil, kuat dan tahan lama membuat kayu ini menjadi pilihan utama sebagai material bahan bangunan. Termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II dan Kelas Kuat I, II. Kayu jati juga terbukti tahan terhadap jamur, rayap dan serangga lainnya karena kandungan minyak di dalam kayu itu sendiri. Tidak ada kayu lain yang memberikan kualitas dan penampilan sebanding dengan kayu jati.
            Pohon Jati bukanlah jenis pohon yang berada di hutan hujan tropis yang ditandai dengan curah hujan tinggi sepanjang tahun. Sebaliknya, hutan jati tumbuh dengan baik di daerah kering dan berkapur di Indonesia, terutama di pulau Jawa. Jawa adalah daerah penghasil pohon Jati berkualitas terbaik yang sudah mulai ditanam oleh Pemerintah Belanda sejak tahun 1800 an, dan sekarang berada di bawah pengelolaan PT Perum Perhutani. Semua kayu jati kami disupply langsung dari Perhutani dari TPK daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kami tidak memakai kayu jati selain dari 2 daerah tersebut.Harga kayu jati banyak dipengaruhi dari asal, ukuran dan kriteria batasan kualitas kayu yang ditoleransi, seperti: ada mata sehat, ada mata mati, ada doreng, ada putih.

Penentuan kualitas kayu jati yang diinginkan seharusnya mempertimbangkan type aplikasi finishing yang dipilih. Selain melindungi kayu dari kondisi luar, finishing pada kayu tersebut diharapkan dapat memberikan nilai estetika pada kayu tersebut dengan menonjolkan kelebihan dan kekurangan kualitas kayu tersebut.

2. Kayu Merbau

Kayu mwerbau termasuk salah satu jenis kayu yang cukup keras dan stabil sebagai alternatif pembanding dengan kayu jati. Merbau juga terbukti tahan terhadap serangga. Warna kayu merbau coklat kemerahan dan kadang disertai adanya highlight kuning. Merbau memiliki tekstur serat garis terputus putus. Pohon merbau termasuk pohon hutan hujan tropis. Termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II dan Kelas Kuat I, II. Merbau juga terbukti tahan terhadap serangga. Warna kayu merbau coklat kemerahan dan kadang disertai adanya highlight kuning. Kayu merbau biasanya difinishing dengan melamin warna gelap / tua. Merbau memiliki tekstur serat garis terputus putus. Pohon merbau termasuk pohon hutan hujan tropis. Pohon Merbau tumbuh subur di Indonesia, terutama di pulau Irian / Papua. Kayu merbau kami berasal dari Irian / Papua.

3.  Kayu Bangkirai

Kayu bengkirai termasuk jenis kayu yang cukup awet dan kuat. Termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II, III dan Kelas Kuat I, II. Sifat kerasnya juga disertai tingkat kegetasan yang tinggi sehingga mudah muncul retak rambut dipermukaan. Selain itu, pada kayu bangkirai sering dijumpai adanya pinhole. Umumnya retak rambut dan pin hole ini dapat ditutupi dengan wood filler. Secara struktural, pin hole ini tidak mengurangi kekuatan kayu bangkirai itu sendiri. Karena kuatnya, kayu ini sering digunakan untuk material konstruksi berat seperti atap kayu. Kayu bangkirai termasuk jenis kayu yang tahan terhadap cuaca sehingga sering menjadi pilihan bahan material untuk di luar bangunan / eksterior seperti lis plank, outdoor flooring / decking, dll. Pohon Bangkirai banyak ditemukan di hutan hujan tropis di pulau Kalimantan. Kayu berwarna kuning dan kadang agak kecoklatan, oleh karena itulah disebut yellow balau. Perbedaan antara kayu gubal dan kayu teras cukup jelas, dengan warna gubal lebih terang. Pada saat baru saja dibelah/potong, bagian kayu teras kadang terlihat coklat kemerahan.

4. kayu kamper

Telah lama menjadi alternatif bahan bangunan yang harganya lebih terjangkau. Meskipun tidak setahan lama kayu jati dan sekuat bangkirai, kamper memiliki serat kayu yang halus dan indah sehingga sering menjadi pilihan bahan membuat pintu panil dan jendela. Karena tidak segetas bangkirai, retak rambut jarang ditemui. Karena tidak sekeras bangkirai, kecenderungan berubah bentuk juga besar, sehingga, tidak disarankan untuk pintu dan jendela dengan desain terlalu lebar dan tinggi. Termasuk kayu dengan Kelas Awet II, III dan Kelas Kuat II, I. Pohon kamper banyak ditemui di hutan hujan tropis di kalimantan. Samarinda adalah daerah yang terkenal menghasilkan kamper dengan serat lebih halus dibandingkan daerah lain di Kalimantan.

5.  Kayu kelapa

Adalah salah satu sumber kayu alternatif baru yang berasal dari perkebunan kelapa yang sudah tidak menghasilkan lagi (berumur 60 tahun keatas) sehingga harus ditebang untuk diganti dengan bibit pohon yang baru. Sebenarnya pohon kelapa termasuk jenis palem. Semua bagian dari pohon kelapa adalah serat /fiber yaitu berbentuk garis pendek-pendek. Anda tidak akan menemukan alur serat lurus dan serat mahkota pada kayu kelapa karena semua bagiannya adalah fiber. Tidak juga ditemukan mata kayu karena pohon kelapa tidak ada ranting/ cabang. Pohon kelapa tumbuh subur di sepanjang pantai Indonesia. Namun, yang paling terkenal dengan warnanya yang coklat gelap adalah dari Sulawesi. Pohon kelapa di jawa umumnya berwarna terang.

6.  Kayu meranti merah

jenis kayu keras, warnanya merah muda tua hingga merah muda pucat, namun tidak sepucat meranti putih. selain bertekstur tidak terlalu halus, kayu meranti juga tidak begitu tahan terhadap cuaca, sehingga tidak dianjurkan untuk dipakai di luar ruangan. Termasuk kayu dengan Kelas Awet III, IV dan Kelas Kuat II, IV. Pohon meranti banyak ditemui di hutan di pulau kalimantan

7.  Kayu Karet,

 dan oleh dunia internasional disebut Rubber wood pada awalnya hanya tumbuh di daerah Amzon, Brazil. Kemudian pada akhir abad 18 mulai dilakukan penanaman di daerah India namun tidak berhasil. Lalu dibawa hingga ke Singapura dan negara-negara Asia Tenggara lainnya termasuk tanah Jawa.Warna Kayu
Kayu karet berwarna putih kekuningan, sedikit krem ketika baru saja dibelah atau dipotong. Ketika sudah mulai mengering akan berubah sedikit kecoklatan.
Tidak terdapat perbedaan warna yang menyolok pada kayu gubal dengan kayu teras. Bisa dikatakan hampir tidak terdapat kayu teras pada rubberwood.Densitas
Kayu karet tergolong kayu lunak - keras, tapi lumayan berat dengan densitas antara 435-625 kg/m3 dalam level kekeringan kayu 12%.
Kayu Karet termasuk kelas kuat II, dan kelas awet III, sehingga kayu karet dapat digunakan sebagai substitusi alternatif kayu alam untuk bahan konstruksi


8.  Kayu gelam

sering digunakan pada bagian perumahan, perahu,
Kayu bakar, pagar, atau tiang tiang sementara. Kayu gelam dengan diameter kecil umumnya dikenal dan dipakai sebagai steger pada konstruksi beton, sedangkan yang berdiameter besar biasa dipakai untuk cerucuk pada pekerjaan sungai dan jembatan. Kayu ini juga dapat dibuat arang atau arang aktif untuk bahan penyerap.

 

Kayu ini banyak digunakan untuk bahan bangunan rumah, kantor, gedung, serta bangunan lainnya. Berdasarkan catatan, kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera Bagian Selatan dan Kalimantan.Jenis ini dikenal dengan nama daerah ulin, bulian, bulian rambai, onglen, belian, tabulin dan telian.Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter samapi 120 cm, tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m. Kayu Ulin berwarna gelap dan tahan terhadap air laut.
Kayu ulin banyak digunakan sebagai konstruksi bangunan berupa tiang bangunan, sirap (atap kayu), papan lantai,kosen, bahan untuk banguan jembatan, bantalan kereta api dan kegunaan lain yang memerlukan sifat-sifat khusus awet dan kuat. Kayu ulin termasuk kayu kelas kuat I dan Kelas Awet I.

9.  Kayu Akasia (acacia mangium),

 mempunyai berat jenis rata-rata 0,75 berarti pori-pori dan seratnya cukup rapat sehingga daya serap airnya kecil. Kelas awetnya II, yang berarti mampu bertahan sampai 20 tahun keatas, bila diolah dengan baik. Kelas kuatnya II-I, yang berarti mampu menahan lentur diatas 1100 kg/cm2 dan mengantisipasi kuat desak diatas 650 kg/cm2. Berdasarkan sifat kembang susut kayu yang kecil, daya retaknya rendah, kekerasannya sedang dan bertekstur agak kasar serta berserat lurus berpadu, maka kayu ini mempunyai sifat pengerjaan mudah, sehingga banyak diminati untuk digunakan sebagai bahan konstruksi maupun bahan meibel-furnitur.

Kesimpulan

1. Kayu merupakan bahan bangunan memiliki banyak kelebihan untuk digunakan    material dan konstruksi bangunan karena mudah ditemukan dan mudah dibentuk sesuai keperluan.

2.   Kayu memiliki kuat tarik dan kuat lentur serta kekuatannya yang lain yang cukup baik untuk digunakan sebagai bahan bangunan.

3.   Kayu memiliki beberapa jenis sambungan yang dapat diterapkan  untuk kayu sebagai bahan konstruksi bangunan.

4.   Kayu memiliki tekstur yang khas yang dapat dimanfaatkan. Berdasarkan kelas mutunya, kayu karet, tata dan tusam dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan struktural, sedangkan yang lain dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan non struktural.Kayu yang diteliti baik yang berasal dari hutan tanaman (HTI) maupun dari tanaman rakyat tergolong kelas kuat III-V, hanya karet dan gmelina tergolong kelas kuat II-III.

 

Sumber refrensi :
       http://kampuzsipil.blogspot.com/2011/11/mengenal-jenis-dan-ciri-kayu-yang.html

http://kontruksibangunan-kb1.blogspot.com/2013/03/jenis-dan-ciri-kayu-untuk-bahan-konstruksi.html

http://sisfo.itp.ac.id/bahanajar/bahanajar/Mulyati/Struktur%20Kayu/Materi%20Pertemuan%20I,II,III.pdf

http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND.TEKNIK_SIPIL/196012241991011-NANDAN_SUPRIATNA/KB_D-3/Sambungan_Kayu.pdf

http://illbeyourpaparazzi.blogspot.com/2011/04/kayu-sebagai-bahan-bangunan.html

 

 

 

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG