ANALISIS KARAKTER HAMBATAN ALIRAN

ANALISIS KARAKTER HAMBATAN ALIRAN

Suwardi

Widyaiswara  Program Keahlian Las dan Fabrikasi

di PPPPTK/VEDC Malang

 

Abstract: To determine losses of flow resistance is arranged hydraulic installation pipes of different lengths. Fluid flows into the pipe and the pressure loss and the amount of fluid that flows in each pipe measured. The experiments concluded that the long pipe obtained a major obstacle and the amount of fluid flow is small. While in the short pipe was obtained barriers that small and the amount of fluid flowing in it big. Thus concluded that the losses on the pipe depends on the length of the pipe, the greater the length the pipe is the greater the pipe resistance.

Key words: installation pipe, different length, losses

1.Pendahuluan

1.1. Latar belakang

Pengalaman telah menunjukkan bahwa hidrolika sebagai cara modern untuk perpindahan energi tidak terelakkan lagi pentingnya.

Penggerak dan pengontrol hidrolik telah menjadi sesuatu yang penting berkenaan dengan otomasi dan mekanisasi.Sekarang sebagian mesin modern dikendalikan oleh sisitem hoidrolik baik sebagian atau seluruhnya. Penggunaan sisitem hidrolik untuk pengendalian dan pengaturan memungkinkan diterapkan otomasi pada berbagai bidang penting.

Meskipun sistem hidrolik dapat diterapkan secara luas, namun karena belum diketahui oleh banyak kalangan maka penggunaannya sampai saat ini masih sangat terbatas. Bagi siapapun yang memutuskan atau mempertimbangkan untuk menggunakan sisitem hidrolik bagi sisitem transmisi tenaga dan gerakan hidrolika tidaklagi merupakan ilmu yang baru.

Didalam sistem hidrolik terdapat hambatan aliran yang tidak bisa diabaikan. Fluida yang mengalir melalui pipa-pipa dan saluran  yang semakin lama menjadi panas. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa timbulnya panas adalah akibat fluida yang mengalir didalam pipa.

1.2.Identifikasi masalah

Fluida yang mengalir didalam pipa semakin lama menjadi semakin panas akibat gesekan antara pipa dan fluida atau akibat pergeseran pada fluida itu sendiri. Oleh karena itu perlu diperoleh suatu cara agar gesekan tidak terlalu besar sehingga efisiensi instalasi juga besar.

1.2. Rumusan masalah

Karakteristik hambatan aliran ditentukan dengan melakukan suatu percobaan pada instalasi hidrolik pada mana panjang saluran hidrolik divariasikan dan diukur hambatan pada masing-masing saluran.     

2. Kajian teori

 

Pada sistem hidrolik tertutup tekanan fluida (dalam keadaan diam) pada dinding bejana adalah sama pada semua titik.

Jika fluida dalam keadaan diam dalam suatu pipa dibawah suatu tekanan, kemudian tekanan statik atau tekanan dinding adalah sama pada semua titik, sebagai contoh pada semua titik dimana pengukuran dilakukan diperoleh tekanan yang sama.

Jika fluida dalam pipa bergerak pada arah panah, kemudian tekanan yang diukur dalam arah aliran berangsur-angsur menjadi turun.

Penurunan tekanan ini disebabkan oleh hambatan aliran yang terjadi pada setiap aliran dalam pipa.

Penurunan tekanan tergantung pada gesekan dalam fluida, gesekan fluida dengan dinding pipa, dan selanjutnya juga tergantung pada bengkokan.

Faktor-faktor berikut mempengaruhi turunnya tekanan antara lain kecepatan aliran, jenis aliran, laminar atau turbulen, diameter pipa, kekentalan fluida, kekasaran dinding, volume aliran, variasi dalam penampang pipa, tikungan, katup.

3. Temuan dan pembahasan

 

 

Untuk menjawab masalah diatas disusun sistem hidrolik seperti tergambar.

Data hasil percobaan ditunjukkan pada tabel berikut.

Katup pengontrol aliran(posisi)

Penurunan tekanan(bar) untuk pipa 10x1

Aliran fluida Q(l/min)

 

250mm

500mm

750mm

250mm

500mm

750mm

1

1,2

2,4

3,6

2,4

2

1,6

3

1

2

3

3

2,6

2

5

0,8

1,6

2,4

3,6

3,2

2,8

8

0,6

1,2

1,8

4,2

3,6

3

 Dari tabel percobaan terbaca bahwa pada posisi katup pengontrol 1 penurunan tekanan 1,2 bar untuk panjang 250 mm dan debitnya 2,4 l/min, penurunan tekanan 2,4 bar untuk panjang 500 mm dan debitnya 2 l/min, penurunan tekanan 3,6 bar untuk panjang 750 mm dan debitnya 1,6 l/min.

4. Kesimpulan dan rekomendasi

Dengan melihat data percobaan terhadap hambatan aliran disimpulkan:

Semakin panjang saluran atau pipa maka hambatan yang terjadi akan menjadi semakin besar pula.

Rekomendasi yang bisa diberikan adalah instalasi saluran atau pemipaan fluida sedapat mungkin tidak panjang agar efisiensi dari energi tetap tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Banathy, B.H. 2005. Hydraulics/Vocational Trainings Course. BEF Berlin.

Bruner, J. 2006. Hydraulics Trainer. Lohr am Mains: Rexroth Bosch Group.

Cunningsworth, A. 1995. Grundlagen und Komponenten der Fluidtechnik. Lohr am Mains: Rexroth Bosch Group.

ANALISIS KARAKTER KATUP NON ARUS BALIK

ANALISIS KARAKTER KATUP NON ARUS BALIK

Suwardi

Widyaiswara  Program Keahlian Las dan Fabrikasi

di PPPPTK/VEDC Malang

Abstract: the character of a non-backflow valve be determined. The non-backflow valve mounted on hydraulic installation and cooperate with direction control valve. In the valve position 0, trace the flow is from the pressure P gets a work instalation, the return flow from the tank behind the B to T. The number of streams on T1 is 0 l / min, the amount of flow on T2 is an average of 5.1 l / min , the amount of flow T3 = 0 l / min. By looking at the flow resistance of the experimental data to conclude: In non backflow valve flow always in one direction despite changing the position of the flow regulator valve.Rekomendation given is non-backflow valve can be used to prevent backflow from the pump to the hydraulic system.

Key words: non-backflow valve, one direction, , hydraulic system.

1.Pendahuluan

1.1. Latar belakang

Pengalaman telah menunjukkan bahwa hidrolika sebagai cara modern untuk perpindahan energi tidak terelakkan lagi pentingnya.

Penggerak dan pengontrol hidrolik telah menjadi sesuatu yang penting berkenaan dengan otomasi dan mekanisasi.Sekarang sebagian mesin modern dikendalikan oleh sisitem hoidrolik baik sebagian atau seluruhnya. Penggunaan sisitem hidrolik untuk pengendalian dan pengaturan memungkinkan diterapkan otomasi pada berbagai bidang penting.

Meskipun sistem hidrolik dapat diterapkan secara luas, namun karena belum diketahui oleh banyak kalangan maka penggunaannya sampai saat ini masih sangat terbatas. Bagi siapapun yang memutuskan atau mempertimbangkan untuk menggunakan sisitem hidrolik bagi sisitem transmisi tenaga dan gerakan hidrolika tidaklagi merupakan ilmu yang baru.

Didalam sistem hidrolik terdapat satu komponen yang disebut katup non arus balik dimana katup tersebut hanya bisa meneruskan aliran pada satu arah sedang pada arah yang berlawanan akan terblokir.

1.2. Identifikasi masalah

Pada sebuah instalasi hidrolik terutama pada bagian tekan akan selalu terisi minyak pada saat instalasi bekerja, namun apabila pompa berhenti bekerja aliranpun juga berhenti dan mengalir kembali ke pompa sehingga saluran akan kosong dan digantikan oleh udara. Sudah barang tentu hal tersebut tidak diinginkan, untuk itu perlu adanya peralatan yang menahan minyak pada waktu pompa berhenti sehingga tidak terjadi kekosongan pada saluran.

1.3. Rumusan masalah

Untuk menahan arus balik salah satu penyelesaiannya adalah dengan menerapkan katup non arus balik. Namun demikian karakter dari katup non arus balik perlu diselidiki agar karakter yang dimilikinya bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ada pada instalasi hidrolik terutama untuk menahan arus balik.   

2. Kajian teori

Katup non arus balik yang dioperasikan secara pilot hidrolik digunakan untuk memungkinkan fluida mengalir dalam satu arah dan memblokirnya pada arah sebaliknya.Suatu fluida pengontrol digunakan untuk memungkinkan fluida mengalir pada arah yang berlawanan.Fluida pengontrol digunakan untuk menghilangkan pemblokiran pada katup.

Katup non arus balik yang dioperasikan secara pilot hidrolik terdiri dari bagian komponen penting fungsional bodi, plunger pilot, katup torak, pegas, tutup ujung, perapat.

Fluida mengalir dari A ke B.Aliran menemui hambatan yang sangat kecil(pegas katup piston).Plunger pilot mengambil posisinya pada bagian kiri bodi.

Aliran dari B ke A tidak dimungkinkan sebab katup piston memblokir aliran fluida.9gb. 1).Jika fluida dialirkan dari B ke A katup piston (3) harus diangkat dari dudukannya. Ini dilakukan dengan memukul plunger pilot (2) melalui saluran control x. Plunger pilot (2)  mengangkat katup torak melawan tegangan pegas dan tekanan yang bekerja padanya.Gaya yang meningkat yang diperlukan untuk melakukan ini diperoleh dari tekanan control yang bekerja pada permukaan Ax(gb.2).

Unit tenaga membagikan fluida bertekanan . Dalam posisi netral katup saluran 3/2, aliran fluida bertekanan terblokir ;  dalam kasus katup saluran 4/2 aliran dilepaskan pada silinder sisi batang torak.

Batang torak tidak bergerak masuk sebab Katup non aliran balik yang bekerja secara pilot hidrolik memblokir aliran fluida bertekanan dari silinder ke kalup saluran 4/2.

Setelah menggerakkan katup saluran 3/2, fluida control dilepaskan dan katup piston membuka(tidak terblokir).

Fluida mengalir bebas dari silinder luwat katup saluran 4/2 menuju tangki.

Dalam posisi netral katup saluran 3/2, katup non aliran balik memblokir aliran fluida, torak tetap tinggal diam dalam silinder.

Dengan menggerakkan katup saluran 4/2 (posisi 1) mengijinkan fluida mengalir dengan bebas melalui katup non aliran balik menuju silinder. Batang torak bergerak keluar.

3. Temuan dan pembahasan

 

Untuk menjawab masalah diatas disusun sistem hidrolik seperti tergambar.Pada Pu1 berkuasa tekanan pada motor atau unit tenaga. Dengan pengaturan katup pengatur arah  diperoleh tekanan pada pu2 dan pu3 pada waktu torak bergerak keluar atau masuk.

Data hasil percobaan ditunjukkan pada tabel berikut.

Posisi katup 4/2

Jejak aliran

Jumlah aliran T1(l/min)

Jumlah aliran T2(l/min)

Jumlah aliran T3(l/min)

Pu1(bar)

Pu2(bar)

Pu3(bar)

 

0

PA

B→T

0

5,2

0

50

0

45

0

5,1

0

50

0

44,5

0

5,2

0

50

0

43,8

 

1

P→B

A→T

0

5,1

0

50

41,5

0

0

5,2

0

50

40

0

0

5

0

50

42

0

 

Pada posisi katup 0, jejak alirannya adalah dari bagian tekanan P kebagian kerja A, arus kembalinya dari bagian balik B ke tangki T. Jumlah aliran pada T1 adalah 0 l/min, jumlah aliran pada T2 adalah rata-rata 5,1 l/min, jumlah aliran T3 = 0 l/min. Tekanan pada pu1= 50 bar, pada pu2= 0 bar, dan pada pu3 = 44 bar.

Pada posisi katup 1, jejak alirannya adalah dari bagian tekanan P kebagian kerja B, arus kembalinya dari bagian balik A ke tangki T. Jumlah aliran pada T1 adalah 0 l/min, jumlah aliran pada T2 adalah rata-rata 5,1 l/min, jumlah aliran T3 = 0 l/min. Tekanan pada pu1= 50 bar, pada pu2= 41,5 bar, dan pada pu3 = 0 bar.

4. Kesimpulan dan rekomendasi

Dengan melihat data percobaan terhadap hambatan aliran disimpulkan:

Pada katup non arus balik aliran senantiasa selalu pada satu arah kendati posisi katup pengatur aliran berubah ubah.

Rekomendasi yang diberikan adalah katup non arus balik bisa digunakan untuk mencegah aliran balik dari sistem hidrolik ke pompa.

DAFTAR PUSTAKA

Banathy, B.H. 2005. Hydraulics/Vocational Trainings Course. BEF Berlin.

Bruner, J. 2006. Hydraulics Trainer. Lohr am Mains: Rexroth Bosch Group.

Cunningsworth, A. 1995. Grundlagen und Komponenten der Fluidtechnik. Lohr am Mains: Rexroth Bosch Group.

ANALISIS KARAKTER KATUP PENGONTROL ARAH

ANALISIS KARAKTER KATUP PENGONTROL ARAH

Suwardi

Widyaiswara  Program Keahlian Las dan Fabrikasi

di PPPPTK/VEDC Malang

 

Abstract: Characteristics of directions  controlling valve will be determined. In the hydraulic system completed  with directions controlling  valve in front of and behind the piston valve during running and at the time the piston was on the outer death point. At the time the piston moves out, the pressure in front of and behind the valve pressure all comes down to 0 bar, at the time the piston reaches top dead point , outside pressure before the valve is equal to the pressure of work, while the pressure behind the piston is equal to 0 bar as it relates to the tank.

Key words: directions controlling valve, piston, outer death point.

1.Pendahuluan

1.1. Latar belakang

Pengalaman telah menunjukkan bahwa hidrolika sebagai cara modern untuk perpindahan energi tidak terelakkan lagi pentingnya.

Penggerak dan pengontrol hidrolik telah menjadi sesuatu yang penting berkenaan dengan otomasi dan mekanisasi.Sekarang sebagian mesin modern dikendalikan oleh sisitem hoidrolik baik sebagian atau seluruhnya. Penggunaan sisitem hidrolik untuk pengendalian dan pengaturan memungkinkan diterapkan otomasi pada berbagai bidang penting.

Meskipun sistem hidrolik dapat diterapkan secara luas, namun karena belum diketahui oleh banyak kalangan maka penggunaannya sampai saat ini masih sangat terbatas. Bagi siapapun yang memutuskan atau mempertimbangkan untuk menggunakan sisitem hidrolik bagi sisitem transmisi tenaga dan gerakan hidrolika tidaklagi merupakan ilmu yang baru.

Didalam sistem hidrolik terdapat peralatan yang disebut katup pengontrol arah yang berfungsi untuk mengontrol arah aliran fluida sehingga piston bergerak keluar atau bergerak masuk dalam silinder, atau juga untuk menggerakkan motor hidrolik berputar kearah kanan atau kiri.

1.2. Identifikasi masalah

Pada katup pengontrol arah  perlu dicari karakteristiknya sehubungan dengan kecepatan torak pada waktu keluar atau masuk.

1.3. Rumusan masalah

Karakteristik katup pengontol arah ditentukan dengan menerapkannya bersama sama dengan silinder kerja ganda.Pada percobaan dengan katup pengatur arah ini akan diukur tekanan fluidanya didepan dan dibelakang silinder, dan diukur pula tekanan sebelum maupun sesudah katup pengatur arah.

 2. Kajian teori

Katup jalan 4/3 terdiri dari bagian komponen penting fungsional berikut:

Badan, spool,pegas penekan, elemen perapat

 

Spool dalam katup jalan 4/3 (4 sambungan, 2 posisi operasi)mengijinkan aliran dari P>A dan B>T jika dalam posisi netral. Jika tombol digerakkan  aliran dari P>B A>T terbuka. Dengan demikian aliran fluida datang dari A diarahkan lewat saluran didalam badan katup. Jika tombol penggerak dilepaskan pegas tekan mengembalikan spool ke posisi netral.

Katup jalan 4/3digunakan untuk mengontrol silinder kerja ganda.(pemampatan dan pelepasan, aliran umpan dan aliran balik).

3. Temuan dan pembahasan

 

 

Untuk menjawab masalah diatas disusun sistem hidrolik seperti tergambar.Pada Pu1 berkuasa tekanan pada motor atau unit tenaga. Dengan pengaturan katup pengatur arah  diperoleh tekanan pada pu2 dan pu3 pada waktu torak bergerak keluar atau masuk.

Data hasil percobaan ditunjukkan pada tabel berikut.

Silinder

Posisi katup pengatur arah

Pu1(bar)

Pu2(bar)

Pu3(bar)

Bergerak keluar

0

0

0

Mencapai titik mati luar

↑↓

30

30

0

Bergerak kedalam

20

10

20

Mencapai titik mati dalam

30

0

30

 

Pada waktu torak bergerak keluar tekanan tekanan pu1, pu2, dan pu3 semuanya turun menjadi 0 bar, pada waktu torak mencapai titik mati luar tekanan pu1 dan pu2 = 30 bar, sedangkan pu3 adalah 0 bar karena berhubungan dengan tangki.

Pada waktu torak bergerak kedalam pu1 dan pu3 sebesar 20 bar, sedangkan pu2 sebesar 10bar, pada waktu torak mencapai titik mati dalam pu1 dan pu3 sebesar 30 bar, sedangkan pu2 hanya 0 bar karena berhubungan dengan tangki.

4. Kesimpulan dan rekomendasi

Dengan melihat karakteristik data percobaan terhadap katup pengatur arah disimpulkan:

Pada waktu torak bergerak keluar semua tekanan menjadi nol karena hambatan yang terjadi pada silinder kerja ganda sangat kecil, dan setelah mencapai titik mati luar aliran berhenti sehingga tekanan yang mendorong torak meningkat sampai 30 bar, bagian keluaran yang tersambung dengan tangki tekanan menjadi 0bar.

Pada waktu torak bergerak kedalam semua tekanan menjadi turun kendati tidak mencapai  nol karena adanya hambatan yang terjadi pada silinder kerja ganda pada bagian dalaml, dan setelah mencapai titik mati dalam aliran berhenti sehingga tekanan yang mendorong torak meningkat sampai 30 bar, bagian keluaran yang tersambung dengan tangki tekanan menjadi 0bar.

Rekomendasi yang bisa diberikan adalah untuk memperluas bidang penggunaan, katup pengatur arah perlu dikombinasikan dengan peralatan lain dalam operasinya misal dengan selenoid untuk kenyamanan dalam operasinya.

DAFTAR PUSTAKA

Banathy, B.H. 2005. Hydraulics/Vocational Trainings Course. BEF Berlin.

Bruner, J. 2006. Hydraulics Trainer. Lohr am Mains: Rexroth Bosch Group.

Cunningsworth, A. 1995. Grundlagen und Komponenten der Fluidtechnik. Lohr am Mains: Rexroth Bosch Group.

ANALISIS KARAKTER KATUP CEKIK

ANALISIS KARAKTER KATUP CEKIK

Suwardi

Widyaiswara  Program Keahlian Las dan Fabrikasi

di PPPPTK/VEDC Malang

 

Abstract: In a choke valve is determined the characteristics of the valve. The choke valve is mounted on the hydraulic system, then the level of choke valve opening, the pressure difference between the front and rear pressure choke valve, and the amount of fluid flowing per unit time are determined as the variables measured. Obtained from experiments that by opening the choke valve greater at the same pressure differential obtained an increasingly large number of fluid  flow.At the same choke valve opening with Δp that becoming  smaller , the number of flow per unit time is also reduced.

Key words: choke valve, opening, pressure different

1.Pendahuluan

1.1. Latar belakang

Pengalaman telah menunjukkan bahwa hidrolika sebagai cara modern untuk perpindahan energi tidak terelakkan lagi pentingnya.

Penggerak dan pengontrol hidrolik telah menjadi sesuatu yang penting berkenaan dengan otomasi dan mekanisasi.Sekarang sebagian mesin modern dikendalikan oleh sisitem hoidrolik baik sebagian atau seluruhnya. Penggunaan sisitem hidrolik untuk pengendalian dan pengaturan memungkinkan diterapkan otomasi pada berbagai bidang penting.

Meskipun sistem hidrolik dapat diterapkan secara luas, namun karena belum diketahui oleh banyak kalangan maka penggunaannya sampai saat ini masih sangat terbatas. Bagi siapapun yang memutuskan atau mempertimbangkan untuk menggunakan sisitem hidrolik bagi sisitem transmisi tenaga dan gerakan hidrolika tidaklagi merupakan ilmu yang baru.

Didalam sistem hidrolik terdapat peralatan yang disebut katup cekik yang berfungsi mengatur jumlah fluida yang mengalir dari pompa ke sistem, ini diperlukan sebagai contoh untuk mengatur kecepatan jalan torak atau putaran motor.

1.2. Identifikasi masalah

Pada katup cekik perlu dicari karakteristiknya untuk mendapatkan kriteria yang cocok dalam penggunaannya.

 1.3. Rumusan masalah

Karakteristik katup cekik ditentukan dengan menerapkan cekik dalam sistem hidrolik, dimana tingkat pembukaan katup cekik, perbedaan tekanan tekanan antara didepan dan belakang katup cekik, dan jumlah fluida yang mengalir setiap satuan waktu menjadi variabel yang diukur.

2. Kajian teori

Katup cekik

Pada sistem hidrolik katup cekik berfungsi untuk mengatur jumlah aliran fluida yang melalui katup tersebut. Adapun konstruksinya adalah sebagai berikut.

 

 

Sedangkan prinsip kerjanya sebagai berikut ini.

Dalam posisi mula-mula kerucut(poppet) tertekan oleh tekanan pegas kedalam mulut lubang. Akibat cairan yang mengalir masuk dengan tekanan pu membuka kerucut (permukaan gelang A), sehingga timbul gaya:

 F = pu . A (N).

Pu = tekanan didepan kerucut (bar).

A = permukaan bundar kerucut (cm2).

Tegangan yang diberikan pada kerucut bisa diatur dengan menggunakan sekrup pengatur dan pegas tekan. Jika gaya F dengan berangsur-angsur melebihi tegangan yang ditentukan (tekanan pembuka), kemudian kerucut terangkat dari dudukannya. Fluida yang terperangkap kemudian mengalir tanpa tekanan melalui lubang berbentuk gelang dan masuk kedalam tangki.

3. Temuan dan pembahasan

 

Untuk menjawab masalah diatas disusun sistem hidrolik seperti tergambar.Pada P1 berkuasa tekanan pada motor atau unit tenaga. Dengan pengaturan katup cekik diperoleh tekanan yang bervariasi pada p2, bekerja bersama-sama dengan katup pembatas tekanan (2). Debit minyak yang mengalir ditampung pada gelas ukur(6).

Data hasil percobaan ditunjukkan pada tabel berikut.

Katup cekik terbuka ½ putaran

Katup cekik terbuka 1 putaran

Katup cekik terbuka 1 ½ putaran

P2(bar)

P1(bar)

Δp(bar)

Q(l/min)

P2(bar)

P1(bar)

Δp(bar)

Q(l/min)

 20

50

30

Q(l/min)

 20

50

30

3,3

 20

50

30

5,1

25

50

25

6,3

25

50

25

3

25

50

25

4,5

30

50

20

6

30

50

20

2,7

30

50

20

3,9

35

50

15

3,9

35

50

15

2,4

35

50

15

3,5

40

50

10

3,6

40

50

10

1,8

40

50

10

3

45

50

5

3,2

45

50

5

1,5

45

50

5

2,1

 20

50

30

2,7

 

Katup cekik terbuka ½ putaran pada Δp=30bar jumlah aliran yang diperoleh adalah Q=3.3 l/min, katup cekik terbuka 1 putaran pada Δp=30bar jumlah aliran yang diperoleh adalah Q=5,1 l/min, Katup cekik terbuka 1½ putaran pada Δp=30bar jumlah aliran yang diperoleh adalah Q=6.3l/min,

Dengan demikian terbaca bahwasanya dengan membuka katup cekik semakin besar pada perbedaan tekanan yang sama diperoleh jumlah aliran yang semakin besar pula.

Pada pembukaan katup cekik yang sama dengan Δp yang semakin kecil jumlah alirannya persatuan waktu juga berkurang.

4. Kesimpulan dan rekomendasi

Dengan melihat karakteristik katrup cekik dalam hasil percobaan disimpulkan bahwa katup cekik cocok dipergunakan untuk mengatur jumlah aliran pada sisstem hidrolik.

Rekomendasi yang bisa diberikan adalah untuk memperluas bidang penggunaan, katup cekik perlu dikombinasikan dengan peralatan lain misal dengan katup non arus balik.

DAFTAR PUSTAKA

Banathy, B.H. 2005. Hydraulics/Vocational Trainings Course. BEF Berlin.

Bruner, J. 2006. Hydraulics Trainer. Lohr am Mains: Rexroth Bosch Group.

Cunningsworth, A. 1995. Grundlagen und Komponenten der Fluidtechnik. Lohr am Mains: Rexroth Bosch Group.

ANALISIS KARAKTER SIRKIT BY-PASS

ANALISIS KARAKTER SIRKIT BY-PASS

Suwardi

Widyaiswara  Program Keahlian Las dan Fabrikasi

di PPPPTK/VEDC Malang

 

Abstract:At 4/3 way valve will be determined its character during the neutral position. For this goal an experiments is installed and the pressure on pi, p2, p3 are measured. In the first valve position, trace the flow is from the pressure P gets a job, the return flow from the tank behind the B to T. Pressure on pu1 = 50 bar, on pu2 = 30 bar, and at pu3 = 0 bar. In the second valve position, trace the flow is from the pressure P gets a job B, flow through the return of part A into the tank T. The pressure on pu1 = 50 bar, on pu2 = 0 bar, and the pu3 = 30 bar. In the valve position 0, trace the flow is from the pressure P B to tank T. By the by-pass line pressure rise in the neutral position can be prevented visible of pressure pressure on pu1 = 0 bar, on pu2 = 0 bar, and the pu3 = 0 bar. The recommendations given are by-pass channel suitable for use in installations that use a hydraulic valve which has a neutral position toward, thus the durability of the installation can be protected from damage increased pressure in the neutral position.

Key words: by-pass, one direction, neutral position.

1.Pendahuluan

1.1. Latar belakang

Pengalaman telah menunjukkan bahwa hidrolika sebagai cara modern untuk perpindahan energi tidak terelakkan lagi pentingnya.

Penggerak dan pengontrol hidrolik telah menjadi sesuatu yang penting berkenaan dengan otomasi dan mekanisasi.Sekarang sebagian mesin modern dikendalikan oleh sisitem hoidrolik baik sebagian atau seluruhnya. Penggunaan sisitem hidrolik untuk pengendalian dan pengaturan memungkinkan diterapkan otomasi pada berbagai bidang penting.

Meskipun sistem hidrolik dapat diterapkan secara luas, namun karena belum diketahui oleh banyak kalangan maka penggunaannya sampai saat ini masih sangat terbatas. Bagi siapapun yang memutuskan atau mempertimbangkan untuk menggunakan sisitem hidrolik bagi sisitem transmisi tenaga dan gerakan hidrolika tidaklagi merupakan ilmu yang baru.

Didalam sistem hidrolik sewaktu sistem bekerja pompa terus mensuplai fluida kepada sistem, selanjutnya tenaga fluida dirubah menjadi tenaga mekanik berupa putaran atau gerak lurus. Pada waktu pesawat dalam keadaan diam pompa terus bekerja sehingga tekanan dalam sistem terus meningkat dan menjadi beban pada sistem.

1.2. Identifikasi masalah Pada sebuah instalasi hidrolik terutama pada saat netral tekanan meningkat tinggi sedang pesawat dalam keadaan diam, oleh karena itu tekanan yang terus meningkat akan menjadi beban bagi sistem.

1.3. Rumusan masalah

Pada posisi netral tekanan terus meningkat terlalu tinggi. Untuk itu perlu ada solusi pada instalasi hidrolik yang mencegah peningkatan tekanan secara berkelanjutan.

2. Kajian teori

Katup saluran 4/3 terdiri dari bagian komponen penting fungsional berikut:

Body, spul, pegas penekan.

Katup saluran 4/3 terdiri dari bagian komponen penting fungsional berikut:

Body, spul, pegas penekan.

Sistem ini mempunyai keuntungan berikut:

1.Dalam posisi netral by-pass(posisi kerja 0) fluida dapat mengalir leluasa, sebagai contoh tanpa peningkatan temperature pada tangki.

2.Torak kerja dapat diberhentikan dalam setiap posisi kendati jika gaya luar bekerja padanya.

Jika pada posisi netral by-pass katup saluran 4/3(4 sambungan,3 posisi kerja) membuka aliran dari P ke T, A dan B terblokir. Dengan menarik tongkat (knob) kearah luar diperoleh posisi maju (1, aliran dari P ke A dan dari B keT terbuka. Setelah melepaskan tongkat penggerak (knob) pegas bekerja pada dua sisi spul menyebabkan spul kembali ke posisi netral by-pass(0).

Katup saluran 4/3 dengan posisi netral by-pass dan dua posisi aliran digunakan untuk mengontrol silinder kerja ganda atau motor hidrolik.

3. Temuan dan pembahasan

 

Untuk menjawab masalah diatas disusun sistem hidrolik seperti tergambar.Pada Pu1 berkuasa tekanan pada motor atau unit tenaga. Dengan pengaturan katup pengatur arah  diperoleh tekanan pada pu2 dan pu3 pada waktu torak bergerak keluar atau masuk.

Data hasil percobaan ditunjukkan pada tabel berikut.

Silinder hidrolik

Pu1(bar)

Pu2(bar)

Pu3(bar)

Katup 4/3

Arah aliran

Katup 4/3

Posisi operasi

Gerak keluar

50

30

0

P-A-B-T

1

Behenti

0

0

0

P-T

0

Gerak kedalam

50

0

30

P-B-A-T

2

 

Pada posisi katup 1, jejak alirannya adalah dari bagian tekanan P kebagian kerja A, arus kembalinya dari bagian balik B ke tangki T. Tekanan pada pu1= 50 bar, pada pu2= 30 bar, dan pada pu3 = 0 bar.

Pada posisi katup 2, jejak alirannya adalah dari bagian tekanan P kebagian kerja B, arus kembalinya dari bagian balik A ke tangki T. Tekanan pada pu1= 50 bar, pada pu2= 0 bar, dan pada pu3 = 30 bar.

Pada posisi katup 0, jejak alirannya adalah dari bagian tekanan P B ke tangki T.

4. Kesimpulan dan rekomendasi

Dengan melihat data percobaan terhadap posisi katrup netral disimpulkan:

Dengan saluran by-pass kenaikan tekanan pada posisi netral bisa dicegah terlihat dari tekanan tekanan pada pu1= 0 bar, pada pu2= 0 bar, dan pada pu3 = 0 bar.

Rekomendasi yang diberikan adalah saluran by-pass cocok digunakan pada instalasi hidrolik yang menggunakan katup pengatur arah yang memiliki posisi netral,dengan demikian keawetan dari instalasi bisa dijaga dari kerusakan akiban peningkatan tekanan pada posisi netral.

 

DAFTAR PUSTAKA

Banathy, B.H. 2005. Hydraulics/Vocational Trainings Course. BEF Berlin.

Bruner, J. 2006. Hydraulics Trainer. Lohr am Mains: Rexroth Bosch Group.

Cunningsworth, A. 1995. Grundlagen und Komponenten der Fluidtechnik. Lohr am Mains: Rexroth Bosch Group.

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG