Kerja Sama Antar Lembaga Menjadi Pisau Tajam Departemen Elektronika dalam Memajukan Sistim Pendidikan di Indonesia

Print
Category: Listrik & Elektronika
Last Updated on Monday, 23 February 2015 Published Date Written by Miftahu Soleh

Kerja Sama Antar Lembaga Menjadi Pisau Tajam Departemen Elektronika dalam Memajukan Sistim Pendidikan di Indonesia

 

 Dr. Miftahu Soleh, M.Sc

Widyaiswara PPPPTK BOE Malang

email: solehvedc@gmail.com

 

ABSTRAK

Permendikbud nomor 41 tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) pasal 2 dan 3 menyatakan bahwa PPPPTK mempunyai tugas melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan bidangnya. Dalam melaksanakan tugasnya PPPPTK menyelenggarakan fungsi: (a) penyusunan program pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan; (b) pengelolaan data dan informasi peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan; (c) fasilitasi dan pelaksanaan peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan; (d) pelaksanaan kerja sama di bidang pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan; (e) evaluasi program dan fasilitasi peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan; dan (f) pelaksanaan urusan administrasi PPPPTK.

PPPPTK sebagai institusi pusat pengembangan pendidik dan tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugasnya menyusun program pengembangan dan pemberdayaan serta melaksanakan peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan harus memperhatikan kebutuhan riil di masyarakat yang senantiasa terus meningkat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian pelaksanaan kerja sama antar lembaga menjadi suatu keniscayaan yang harus dilakukan.

Departemen Elektronika dalam menjalankan fungsinya mengusung Visi menjadi Unit Kerja yang mampu menggerakkan perubahan di era globalisasi bagi pendidikan dan pelatihan kejuruan kompetensi keahlian teknik elektronika, teknik instalasi tenaga listrik dan otomasi industri di Indonesia sesuai standar internasional. Sedangkan misi yang dikembangkan adalah sebagai berikut: (1) Melatih pendidik dan tenaga kependidikan, tenaga industri dan masyarakat dengan pengetahuan dan ketrampilan kejuruan dan pembuatan teaching aid (Software dan Hardware) untuk kompetensi keahlian teknik elektro; (2) Melaksanakan sistem sertifikasi dan uji kompetensi materi pneumatik; (3) Melaksanakan teaching factory untuk menciptakan kompetensi pendidik  dan tenaga kependidikan sesuai kebutuhan industri; (4) Berperan aktif dalam pengembangan institusi pendidikan dan pelatihan yang ada di pemerintah daerah, industri dan masyarakat.

 

Pendahuluan

Departemen Elektronika terdiri dari 3 program studi, yaitu: (1) Program studi Mekatronik dengan kepala program studi Drs. Agus Salim, MT; (2) Program studi Elektronika Industri dengan kepala program studi Ahmad Rofiq, ST, MT; (3) Elektronika Komunikasi dengan kepala program studi Drs. Rugiyanto, MT. Disamping itu departemen Elektronika juga memiliki workshop yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan pengembangan berbagai model teaching aid.

Kegiatan dilihat dari tempat pelaksanaannya, ada kegiatan yang dilaksanakan di dalam area PPPPTK BOE Malang (in the job training), tetapi ada pula kegiatan yang dilaksanakan di luar area PPPPTK BOE Malang, misalnya di sekolah, di industri atau di tempat dimana peserta didik bekerja (on the job training).

 

Melatih Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Tenaga Industri dan Masyarakat

Kegiatan Departemen Elektronika untuk melatih pendidik dan tenaga kependidikan dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan (upgrade) dan menyesuaikan kompetensi dengan perkembangan IPTEK terkini (update) dengan pembiayaan dari anggaran DIPA. Rata-rata frekuensi penyelenggaraan Diklat di setiap program studi antara 2-3 kali per tahun.

 

Gambar 1. Diklat Kompetensi Elektronika Analog

 

Jumlah peserta diklat setiap kelasnya rata-rata 12 orang, sehingga jumlah guru yang dapat menikmati program ini masih sangat terbatas.

Kegiatan pendidikan dan pelatihan (Diklat) di Departemen Elektronika diselenggarakan dengan pola berbasis Mapping Kompetensi. Calon peserta diklat dapat memilih kompetensi apa yang diminati dan di level yang mana, setelah yang bersangkutan melakukan evaluasi diri secara on-line. Struktur diklat disusun berdasarkan spektruk Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ditambah dengan beberapa kompetensi yang bersifat pengembangan pada Bidang Studi Keahlian Teknologi dan Rekayasa.

Periode tahun 2013 Departemen Elektronika akan menyelenggarakan Diklat Kompetensi dengan mata diklat Instalasi Penerangan dan Tenaga Listrik Bangunan Sederhana, Elektropneumatik, Pengoperasian PLC, Sistim Mikroprosesor dan Mikrokontroller, Teknik Pemrograman Mikrokontroller, Teknik Pemrograman Mikroprosessor, dan Teknik Elektronika Analog yang terbagi dalam 9 kelas. Durasi diklat ditempuh selama 100 JP. Disamping diklat untuk para pendidik (guru), departemen elektro juga menyelenggarakan diklat untuk para tenaga kependidikan (teknisi, dll).

Setiap diklat kompetensi diakhiri dengan Uji Kompetensi (UK) dengan penilaian pada aspek pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan keterampilan (skill). Peserta uji kompetensi yang dianggap kompeten jika lulus pada ketiga aspek yang diujikan. Bagi peserta yang kompeten akan diberikan Sertifikat Kompetensi yang dapat dimaknai bahwa yang bersangkutan telah kompeten dan kepadanya diberikan hak untuk mengajar kompetensi tersebut. Sertifikat UK dikeluarkan oleh Lembaga Uji Kompetensi Guru (LUKG) PPPTK BOE Malang.

Departemen Elektronika juga menyelenggarakan diklat kompetensi bagi masyarakat luas yang membutuhkan. Beberapa masyarakat dunia industri yang pernah ikut ambil bagian antara lain dari PT Unilever Tbk, PT INKA, PT Medco, PT Multistrada, PT Holchim, PT Semen Gresik, PT Schulman, PT Bentoel, KONSUIL, Perum Jasa Tirta, dll. Diklat di industri dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi para teknisi agar dapat menjalankan tugas sesuai jobdes yang diberikan. Disamping itu hasil diklat juga digunakan sebagai dasar penentuan jenjang karir mereka. Keuntungan bagi departemen elektro adalah para WI/instruktur dapat meng-update keilmuan dan keterampilannya dengan perkembangan teknologi terkini yang ada di industri.

 

Gambar 2. Training Basic Techniques Teknisi PT Unilever, Tbk

 

Melaksanakan sistem sertifikasi dan uji kompetensi

Sertifikasi kompetensi adalah proses pemberian sertifikasi kompetensi yang dilakukan secara sistematis dan obyektif melalui uji kompetensi yang mengacu pada standar kompetensi kerja baik yang bersifat nasional maupun internasional. Dengan memiliki sertifikasi kompetensi  maka seseorang akan mendapatkan bukti pengakuan tertulis atas kompetensi yang dikuasainya.

Berdasarkan UU Jasa Konstruksi No. 18 Th. 1999 dan Perpres No. 8 Th. 2012, dinyatakan bahwa tenaga kerja yang melaksanakan pekerjaan keteknikan yang bekerja pada pelaksana konstruksi harus memiliki sertifikat keterampilan dan keahlian kerja. PPPPTK BOE Malang menjadi salah satu tempat untuk uji keterampilan yang diselenggarakan oleh sebuah Badan Sertifikasi Keterampilan (BSK) yang mendapat akreditasi dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN).

Departemen Elektronika bekerjasama dengan asosiasi kelistrikan, seperti Persatuan Kontraktor Listrik Nasional (PAKLINA), Asosiasi Kontraktor Ketenagalistrikan Indonesia (AKLINDO), Asosiasi Perusahaan Kontraktor Elektrikal dan Mekanikal Nasional (APKENAS), dll menyelenggarakan uji keterampilan bidang kelistrikan. Sertifikat keterampilan dikeluarkan oleh LPJKN.

Departemen Elektronika bekerjasama dengan PT. Festo juga menyelenggarakan uji sertifikasi di bidang otomasi industri yang meliputi kompetensi keahlian kontrol pneumatik, kontrol elektropneumatik, PLC, dan mekatronik. Sertifikat keterampilan dikeluarkan oleh PT. Festo.

 

Gambar 3. Uji keterampilan bidang kelistrikan

 

Melaksanakan teaching factory

Kerja sama antar lembaga (KAL) yang dilaksanakan Departemen Elektronika meliputi kerjasama di bidang pendidikan bagi pendidik dan tenaga kependidikan, instruktur, pengembangan model pendidikan, pengembangan model teaching aid, jasa konsultansi, dan lain-lain. Teaching factory merupakan salah satu bentuk kerja sama dengan masyarakat untuk mengembangkan alat bantu mengajar yang diperuntukkan bagi para pendidik di sekolah maupun para instruktur diklat di industri. Teaching factory juga menjadi arena pembelajaran bagi para siswa SMK yang sedang melaksanakan program PSG (Pendidikan Sistim Ganda) atau prakerin.

Dalam rangka untuk menciptakan kompetensi pendidik  dan tenaga kependidikan sesuai kebutuhan industri, maka Departemen Elektronika menyelenggarakan training bagi guru-guru untuk merencanakan dan membuat sendiri alat bantu pengajaran (teaching aid) yang berupa trainer di bidang elektronika dan kelistrikan.

 

Gambar 4. Training pembuatan teaching aid

 

Berperan aktif dalam pengembangan institusi pendidikan dan pelatihan yang ada di pemerintah daerah, industri dan masyarakat

Departemen Elektronik menjadi tempat training center (TC) bagi para kandidat yang dipersiapkan mengikuti lomba skill, mulai dari tingkat nasional (LKS), Asia Tenggara (ASEAN-Skill Competition), hingga tingkat dunia (WorldSkill Competition). Beberapa bidang lomba yang dilatihkan antara lain Mechatronics, Mobile Robotic, Electrical Installation, Electronics Application. Disamping menjadi tempat TC bagi para kandidat lomba ASEANSkill dan WorldSkill, Departemen Elektronika juga menjadi tempat TC bagi peserta lomba Tukang Listrik yang diselenggarakan oleh PT Semen Gresik.

 

Gambar 5. Pemusatan Latihan bidang lomba Mechatronics

 

Pasca mempersiapkan peserta lomba di even WorldSkill Competition, tahap selanjutnya adalah menjadi Expert lomba hingga tingkat dunia yang ditugaskan kepada para Widyaiswara/Instruktur di Departemen Elektronika. Tugas sebagai expert pada event WorldSkill disamping sebagai pembimbing lomba, juga harus bersiap menjadi juri pada lomba tersebut.

 

Gambar 6. WordlSkill Competition bidang lomba Mechatronics 2013 di Leipzig, Jerman

 

Departemen Elektronik  bekerjasama dengan Akademi Angkatan Laut (AAL) menyelenggarakan kegiatan praktik dan pembimbingan tugas akhir bagi para kadet. Mahasiswa AAL yang terlibat  adalah mereka yang sudah berada pada semester akhir. Di akhir kegiatan praktik, ada proyek yang menjadi contoh aplikasi dari teori yang dipelajarinya.

 

Gambar 7. Kegiatan praktik labbagi para kadet AAL

 

Exchange Student (Mahasiswa Jerman)

Salah satu bentuk kerjasama antar lembaga yang dilakukan oleh Departemen Elektronika adalah berupa Joint Program VEDC Malang dengan EST Tettnang, Jerman. Mahasiswa EST tingkat akhir mengembangkan projek (sesuai permintaan Departemen Elektronika) di Malang selama maksimum 6 bulan, bisa dikerjakan secara individu maupun berkelompok.

Proyek terbaru dikerjakan oleh 3mahasiswa membuat proyek akhir di PPPPTK BOE Malang, yang dibimbing oleh Bp. Akhmad Rofiq, yaitu: (1) Infoterminal sistem yang dipasang pada departemen Listrik & Elektronika,dikerjakan oleh Daniel Dreher dan Felix Bohna; serta (2) Pembuatan Model Pembelajaran sistem pengukuran sensor posisi yang bisa diprogram,dikerjakan oleh Alaxander Sterk. Di akhir pengerjaan proyek, dipresentasikan di depan sivitas akademika PPPPTK BOE Malang, dan diuji langsung oleh 2 dosen pembimbing dari EST Tettnang.

 

Gambar 8. Presentasi TA mahasiswa magang dari EST Tettnang, Jerman

 

SMK Indonesia

Salah satu bentuk kerjasama antar lembaga yang dilakukan oleh Departemen Elektronika adalah mendukung dilaksanakannya  program SMK Indonesia. SMK Indonesia adalah sekolah model dalam bentuk joint program SMK Indonesia diprakarsai oleh VEDC Malang bersama empat SMK di Malang, yaitu SMKN 5 Malang, SMKN 8 Malang, SMKN 12 Malang dan SMKN 1 Singosari, yang menjadi sekolah rujukan dalam pelaksanaan kurikulum 2013. Beberapa prinsip penyelenggaraan SMK Indonesia adalah pembelajaran berbasis kerja, borderless system, penajaman karakter, lulusan dengan sertifikasi kompetensi industri, berorientasi kerja dan kompetisi tingkat regional dan internasional.

Departemen Elektronika bekerjasamadengan SMKN 8 Malangmembuka paket keahlian Teknik Mekatronika. Di SMK Indonesia, siswa akan diajak lebih banyak praktek langsung ke masyarakat,dengan komposisi pembelajaran 50% teori dan 50% praktek. Selain membekali siswa dengan akademik, SMK Indonesia juga memberikan bekal pendidikan karakter dengan menggandeng Rindam. Model joint program diharapkan akan terjadi optimalisasi sumberdaya, baik pendanaan, SDM, sarana dan prasarana. Implementasi SMK Indonesia di VEDC Malang ini merupakan perpaduan program diklat peningkatan kompetensi guru dengan program pembelajaran dan pengajaran peserta didik SMK yang dapat menghasilkan performance guru sekaligus peserta didik dalam satu program (Suwarno, Malang Post, 21.08.2013).

 

Gambar 9. Rancangan proses pembelajaran SMK Indonesia program keahlian Teknik Mekatronika yang diakhiri dengan uji sertifikasi industri

 

Pengembangan Kurikulum SMK 2013

Departemen Elektronika berpartisipasi dalam mengembangkan kurikulum SMK 2013 bekerjasama dengan Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (PSMK) untuk bidang studi keahlian (BSK) Teknologi dan Rekayasa dengan program studi keahlian (PSK) Teknik Elektronika yang terdiri dari paket keahlian (PK) Teknik Elektronika Audio Video, Teknik Elektronika Industri, Teknik Elektronika Komunikasi, Teknik Mekatronika, dan Teknik Ototronik, serta BSK Teknologi Informasi dan Telekomunikasi dengan PSK Teknik Telekomunikasi yang meliputi PK Teknik Transmisi Telekomunikasi, Teknik Suitsing dan Teknik Jaringan Akses.

Ruh pengembangan kurikulum SMK 2013 antara lain adalah konstruksi membangun kompetensinya lebih dipertegas. Penguasaan kompetensi keterampilan di-drive oleh kompetensi religius dan sosial sebagai dasar membangun karakter. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) di-break down dalam Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD). KD dilengkapi dengan uraian materi dan indikator kemudian menjadi dasar penyusunan silabus. Bersasarkan silabus inilah para guru membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG