Penerapan Instruksi Siklus Belajar 5E Untuk Meningkatkan Sikap Ilmiah Dalam Pengembangan & Penulisan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kurikulum Berbasis Bidang Karir Pekerjaan

Print
Category: Listrik & Elektronika
Last Updated on Tuesday, 21 April 2015 Published Date Written by asmuniv

Penerapan Instruksi Siklus Belajar 5E Untuk Meningkatkan Sikap Ilmiah Dalam Pengembangan & Penulisan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kurikulum Berbasis Bidang Karir Pekerjaan

 

Penulis:

ASMUNIV

Widyaiswara PPPPTK-VEDC Malang

asmuniv@gmail.com

 

ABSTRAKSI

Konsep kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi (KBK), yang mengubah paradigma baru dalam proses instrukdi pembelajaran. Di tingkat pendidikan menengah, peran guru tidak lagi satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi merupakan bagian integral dalam sistem pembelajaran. Tuntutan terhadap pelayanan pembelajaran di masa depan banyak disebabkan oleh perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karenanya, konsep instruksi pembelajaran saat ini pun harus berubah dari guru mengajar menjadi siswa belajar. Asumsi pergeseran itu bertitik tolak pada siswa yang diharapkan mampu meningkatkan kemampuan dirinya dalam memperkaya ilmu pengetahuan, sikap, dan keterampilan berdasarkan kompetensi yang ada pada kurikulum. Model pembelajaran yang sesuai dengan pemikiran terebut adalah dengan pendekatan konstruktivisme.

Model pembelajaran Learning Cycle (pembelajaran siklus) adalah model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered). Model Pembelajaran Learning Cycle 5E merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivistik yang terdiri atas 5 tahap: pembangkitan minat (engagement), eksplorasi (exploration), penjelasan (explanation), elaborasi (elaboration), dan evaluasi (evaluation).

Tujuan penulisan artikel ini adalah membantu proses pembelajaran dengan menerapkan model siklus belajar 5E untuk pengembangan dan penulisan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) serta meningkatkan hasil belajar siswa.

Kata Kunci: Learning Cycle, engagement, exploration, explanation, elaboration, evaluation, RPP, hasil belajar.

Latar Belakang

Paradigma bidang karir pekerjaan di masa depan menuntut multidisipler pengetahuan, sehingga menyebabkan instruksi pembelajaran mengalami pergeseran dari paradigma teacher-oriented menjadi student-oriented. Untuk itu, peran guru bergeser dari apa yang akan dipelajari berubah menjadi bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa. Pengalaman belajar siswa dapat diperoleh melalui serangkaian kegiatan, yaitu bagaimana siswa mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif dengan teman (kolaboratif), lingkungan dan nara sumber lain (Depdiknas, 2003).

Kurikulum bebasis kompetensi merupakan realisasi pendekatan pembelajaran problem based learning dan project based learning, dimana dalam proses pembelajarannya siswa banyak dilibatkan dalam kegiatan penyelidikan melalui proses inkuiri, dengan mengembangkan interaksi antara siswa dengan guru dan siswa lainnya. Siswa diarahkan sehingga dapat menghubungkan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan ilmiah yang ditemukannya pada berbagai sumber, siswa menerapkan materi pemebelajaran untuk mengajukan pertanyaan, siswa menggunakan pengetahuannya dalam pemecahan masalah, perencanaan, membuat keputusan, diskusi kelompok, dan siswa memperoleh asesmen yang konsisten dengan metode pendekatan aktif dalam proses belajarnya. Pengembangan kemampuan siswa dalam berpikir dan bekerja ilmiah berlandaskan inkuiri dapat dilakukan dengan pengenalan pemahaman secara konseptual. Pemahaman secara konseptual ini dapat dikembangkan melalui pendekatan siklus belajar yang dilakukan secara rutin oleh guru.

Pendekatan Siklus Belajar 5E

Learning Cycle merupakan model pembelajaran sains yang berbasis konstuktivistik. Model ini dikembangkan oleh J. Myron Atkin, Robert Karplus dan Kelompok SCIS (Science Curriculum Improvement Study), di Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat sejak tahun 1967 (Dean Zollman & N. Sanjay Rebello, 1998: 1). Teori konstruktivisme memandang bahwa belajar merupakan suatu proses membangun pengetahuan sedikit demi sedikit, yang kemudian hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil atau diingat. Manusia harus mengonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata (Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, 2007: 115-116).

Menurut Soebagio, dkk (2001: 50) Learning Cycle merupakan suatu model pembelajaran yang memungkinkan siswa menemukan konsep sendiri atau  memantapkan konsep yang dipelajari, mencegah terjadinya kesalahan konsep, dan memberikan peluang kepada siswa untuk menerapkan konsep-konsep yang telah dipelajari pada situasi baru. Implementasi model pembelajaran Learning Cycle dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan kontruktivisme dimana pengetahuan dibangun pada diri peserta didik. Beberapa keuntungan diterapkannya model pembelajaran Learning Cycle adalah:

1.      Pembelajaran bersifat student centered.

2.      Informasi baru dikaitkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa.

3.      Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah.

4.      Proses pembelajaran menjadi lebih bermakna karena mengutamakan pengalaman nyata.

5.      Menghindarkan siswa dari cara belajar tradisional yang cenderung menghafal.

6.      Membentuk siswa yang aktif, kritis, dan kreatif

Thomas E. Lauer (2003: 518) menuturkan Learning Cycle pada mulanya terdiri dari tiga fase yaitu exploration, introduction dan application-concept. Tiga fase tersebut saat ini berkembang menjadi lima fase yang dikenal dengan nama 5E (engagement, exploration, explanation, elaboration/extention, dan evaluation). Langkah-langkah dalam setiap fase pembelajaran Learning Cycle 5E dijelaskan oleh Anthony W. Lorsbach (2002) sebagai berikut:

1.      Fase Pembangkitan Minat (Engagement)

Pada fase ini guru dapat menggali pengetahuan awal siswa dengan menfokuskan perhatian dan minat siswa terhadap topik yang dibahas, memunculkan pertanyaan dan memperoleh respons dari siswa. Fase ini juga berguna untuk mengidentifikasi miskonsepsi atau salah konsep dalam pemahaman siswa. Pada saat menggali pengetahuan awal, untuk identifikasi masalah yang bertententangan, guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting atau melakukan demontrasi.

Berdasarkan pertanyaan atau demonstrasi siswa diharapkan memiliki jawaban yang berbeda dengan siswa lain sehingga menimbulkan konflik kognitif pada siswa. Dari respons siswa, guru dapat mengetahui pemahaman awal siswa tentang konsep yang dibahas sebelum pembelajaran.

Contoh pertanyaan fase pembangkitan minat dimensi pengetahuan:

  • Guru menyuruh salah satu peserta didik untuk mematikan salah satu saklar lampu penerangan ruang, kemudian guru bertanya kepada peserta didik lainnya tentang:
  1. Apakah nama dari piranti listrik yang dapat digunakan untuk menghidupkan dan mematikan lampu?
  2. Sebutkan siapakah penemu pertama kali hukum kelistrikan tegangan!
  3. Jelaskan apa yang terjadi jika saklar listrik mengalami kerusakan!
  4. Tunjukkan di mana contoh penerapan piranti saklar, sekering pada peralatan listrik/elektronik!
  5. Pada saat kapan piranti saklar, sekering tidak perlu/diperlukan dalam suatu peralatan listrik/elektronik?
  • Mengarahkan tema pembelajaran dengan melibatkan semua Peserta didik aktif, yaitu dengan “memberikan satu permasalahan agar Peserta didik berfikir kritis”.

Fokus utama pada fase ini guru berperan sebagai pembangkit ingatan (memori) siswa berkenaan dengan pengetahuan sebelumnya, seperti fakta, difinisi, objek, peristiwa, atau pertanyaan-pertanyaan apa yang akan digunakan oleh guru sebagai pemicu rasa keingintahuan peserta didik yang akan dilibatkan didalam konsep pembelajaran.

2.      Fase Eksplorasi (Exploration)

Pada fase ini siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengerjakan Lebar Kerja Siswa (LKS) tanpa pengajaran langsung dari guru. Pada fase ini siswa belajar melalui aksi dan reaksi mereka sendiri dalam situasi baru. Siswa mengeksplorasi materi dan gagasan baru dengan bimbingan minimal dari guru. Pengalaman baru memunculkan pertanyaan dan masalah yang tidak dapat dipecahkan dengan gagasan-gagasan siswa yang sudah ada.

Fase eksplorasi juga dapat membawa siswa pada identifikasi suatu pola keteraturan dalam fenomena yang diteliti. Selama fase eksplorasi, siswa diberi kesempatan untuk bekerjasama dengan siswalainnya tanpa instruksi dari guru melalui kegiatan diskusi. Fase eksplorasi memberikan kesempatan pada siswa untuk menyuarakan gagasan-gagasan yang bertentangan, yang dapat menimbulkan perdebatan dan analisis dari alasan munculnya gagasan mereka. Analisis tersebut dapat mengarahkan cara diskusi untuk menguji gagasan lainnya melalui prediksi. Pada fase ini guru berperan sebagai fasilitator.

Pada fase ini peserta didik juga dapat melakukan ekperimen berkenaan dengan pokok bahasan untuk menemukan hubungan dimensi pengetahuan faktual kedalam dimensi pengetahuan konseptual, kemudian ditunjukkan kepada guru untuk didiskusikan didalam kelas.

3.  Fase Penjelasan (Explanation)

Kegiatan pada fase explanation diawali dengan pengenalan konsep baru yang digunakan pada kegiatan yang diperoleh dari fase eksplorasi. Konsep baru pada fase ini dapat dijelaskan dan diperkenalkan oleh guru, melalui internet, buku bacaan, film atau media lainnya. Selama fase eksplanasi guru memotivasi siswa untuk menjelaskan konsep yang dibahas dengan kata-kata sendiri, mengajukan fakta dan klarifikasi terhadap penjelasannya, dan mendengarkan secara kritis penjelasan siswa. Fase eksplanasi selalu mengikuti fase eksplorasi dan berkaitan langsung dengan pola yang ditemukan selama kegiatan eksplorasi.

Fase ini juga merupakan fase diskusi klasikal, siswa didalam kelompoknya menjelaskan konsep hasil temuannya, menunjukkan bukti dan klarifikasi penjelasan terhadap hasil temuan kelompok lainnya, serta membandingkan argumen yang mereka miliki dengan argumen dari siswa lain. Penjelasan apa yang diperlukan guru dari peserta didik untuk mengembangkan ide-ide mereka dalam mencapai kesimpulan atau generalisasi, dan mengkomunikasikan apa yang mereka ketahui terhadap siswa lain tentang tema pembelajaran.

Pada fase ini guru mendorong peserta didik untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri, meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan mereka, dan mengarahkan kegiatan diskusi (brainstorm). Pada fase ini peserta didik menemukan pengertian dari konsep yang telah dipelajari, dan saling mendengar secara kritis penjelasan antar peserta didik atau guru.

Peserta didik mempresentasikan hasil diskusinya. Jika dalam mempresentasikan belum benar tentang konsep yang dijelaskan, kemudian guru memberi definisi dan penjelasan tentang konsep yang dibahas

4.   Fase Elaborasi (Elaboration)

Setelah peserta didik dengan fase-fase diatas, berikutnya peserta didik dituntut untuk mengaplikasikan konsep/keterampilan ″sesuai dengan tema″ dan menemukan persalahan dalam situasi baru, serta bagaimana yang peserta didik lakukan untuk menerapkan pemahaman dan keterampilan konseptual, prosedural dan metakognitif guna memecahkan permasalahan, membuat keputusan, melakukan tugas, atau memahami pengetahuan baru?. Pada fase ini siswa mengaplikasikan konsep (melakukan ekperimen) yang mereka dapatkan untuk menyelesaikan/memecahkan masalah. Fase ekperimen membutuhkan penyelidikan/artikel, pengumpulan data dan analisis hasil.

Fase elaborasi disebut juga aplikasi konsep. Pada fase ini siswa menerapkan konsep atau keterampilan pada situasi baru. Fase ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk menggunakan konsep-konsep yang telah diperkenalkan untuk menyelidiki konsep-konsep lebih lanjut. Penerapan konsep diarahkan pada kehidupan sehari-hari.

5.   Fase Evaluasi (Evaluation)

Fase evaluasi dapat dilakukan pada seluruh pengalaman belajar siswa. Aspek yang dievaluasi pada fase ini adalah pengetahuan atau keterampilan, aplikasi konsep, dan perubahan proses berpikir siswa. Fase evaluasi memberikan kesempatan kepada siswa untuk menilai cara belajarnya, mengevaluasi kemajuan belajar dan proses pembelajaran. Evaluasi dapat dilakukan secara tertulis pada akhir pembelajaran atau secara lisan berupa pertanyaan selama pembelajaran berlangsung.

Evaluasi dapat juga dilakukan melalui pemberian tes (quiz) atau open-ended question di akhir pembelajaran untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari. Guru mengamati pengetahuan atau pemahaman peserta didik dalam hal penerapan konsep baru, mendorong peserta didik melakukan evaluasi diri, mendorong peserta didik memahami kekurangan/kelebihannya dalam kegiatan pembelajaran yang sudah dilakukan.

Pada fase evaluasi, peserta didik dapat juga melakukan refleksi berkenaan dengan belajarnya sendiri dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban dengan menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh sebelumnya. Kemudian mengambil kesimpulan atas situasi belajar yang dilakukannya, dan menganalisis kekurangan/kelebihannya dalam kegiatan pembelajaran.

Fase-fase pembelajaran sains menggunakan model siklus pembelajaran (Learning Cycle) 5E, Linda Lacy (2005) memberikan gambaran kegiatan-kegiatan secara rinci yang dapat dilakukan oleh guru dan siswa dapat dilihat pada tabel berikut:

Penerapan Pendekatan Inkuiri Melalui Tahapan Pembelajaran 5E

Pendekatan inkuiri termasuk dalam kelompok active learning dan sangat relevan digunakan pada model siklus pembelajaran 5E, yaitu: (a) Engage, (b) Explore, (c) Explain, (d) Elaborate, dan (e) Evaluate. Adapun penjelasan masing-masing langkah sebagai berikut.

 

TAHAPAN PENDEKATAN SIKLUS BELAJAR 5E


 

PERAN GURU SIKLUS BELAJAR 5E


 

FASE SIKLUS BELAJAR 5E SISWA

 

Kesimpulan

1.     Pembelajaran siklus belajar atau learning cycle 5E (LC 5E) dan inkuiri bebas dimodifikasi, keduanya dapat diterapkan pada materi elektrolisis. Hal ini didukung oleh prestasi belajar pada ranah afektif dengan dan psikomotor.

2.     Kemampuan berpikir analisis memberikan pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar aspek kognitif. Siswa dengan kemampuan analisis tinggi akan memiliki kemampuan untuk menguraikan dan menghubungkan antara bagian dengan cermat sehingga kesimpulan yang diambil semakin tepat, dengan demikian akan membantu siswa mencapai prestasi belajar kognitif yang maksimal.

3.     Pada pembelajaran kimia materi elektrolisis kreativitas memberikan pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar aspek kognitif. Siswa dengan kreativitas tinggi akan memiliki kemampuan kelancaran dalam berpikir, kelenturan, berpikir orisinal, dan dapat berpikir rinci (elaborasi) dalam mengemukakan gagasan-gagasan atau ide-idenya untuk menyelesaikan masalah. Dengan kemampuan tersebut akan membantu siswa mencapai prestasi belajar kognitif yang maksimal.

4.     Nilai rata-rata prestasi belajar aspek kognitif siswa dengan kemampuan berpikir analisis tinggi dan rendah yang dikenai pembelajaran siklus belajar 5E dan inkuiri bebas dimodifikasi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.

Rekomendasi & Saran:

Model pembelajaran siklus belajar dapat dijadikan salah satu alternatif dalam proses pembelajaran sains untuk meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar sains siswa, dan agar tidak terjadi miskonsepsi pada pemahaman siswa, untuk itu guru sebaiknya memberikan penekanan pada konsep-konsep penting dalam materi pelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Aryulina, D. 2007. Implementasi of 5e Learning Cycle To Increase Students Inquiry Skill and Biology Understanding. Universitas bengkulu.
  2. Azizah, K. 2008. Penerapan Biologi Berbasis Inkuiri Dengan Model Pembelajaran Learning Cycle Untuk Meningkatkan Kemampuan Bekerja Ilmiah Dan Hasil Belajar Siswa Kelas X-2 Ma Al-Ittihad. Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang.
  3. DEPDIKNAS. 2006. Standar Minimum Nasional Yang Harus Dicapai Peserta Didik. Nomor 47. http://google.co.id (21 Oktober 2011).
  4. Fajaroh dan Dasna, 2008. Pembelajaran dengan Model Siklus Belajar (Learning cycle). sahaka.multiply.com (26 November 2011).
  5. Mulyadi, E. 2009.Optimalisasi VCD Pembelajaran Fisika Melalui Model Kooperatif Sebagai Upaya Peningkatan Kinerja dan Prestasi Siswa Kelas XI di SMK. http://suhadinet.wordpress.com (20 April 2012).
  6. Mulyasa. E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik dan Implementasi. Bandung :Remosa Rosdakarya.
  7. Sardiman. 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
  8. Suherman, E. 2002.Hakikat Pembelajaran. UPI. Bandung Rapi,K., N. 2008. Implementasi Siklus Belajar Hipotesis-deduktif Untuk Meningkatkan Sikap Ilmiah dan Keterampilan Proses IPA Di SMAN 4.
  9. Singaraja. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 Tahun. Juli 2008.
  10. Wena, M. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta : Bumi Aksar


 

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG