Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Sebagai Upaya Peningkatan Hasil Diklat Programmable Logic Controller Tingkat Lanjut

Print
Category: Listrik & Elektronika
Last Updated on Thursday, 07 May 2015 Published Date Written by supaat

 Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Sebagai Upaya PeningkatanHasil Diklat Programmable Logic Controller Tingkat Lanjut

Supaat

Widyaiswara Madya PPPPTK BOE Malang

email: supaat2001@yahoo.com

 

Abstrak

Pendidikan dan Pelatihan PLC tingkat lanjut bagi peserta diklat, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi dalam bidang teknologisistem kontrol mesin di Industri, khususnya bagipeserta diklat program keahlian Listrik Instalasi tentang cara pemrograman dengan PLC.   Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan profil kemampuan yang belum dikuasai sebagaimana dimaksud dalam standar profil kompetensi yang berlaku sesuai keahliannya.  Proses penyelenggaraan pendidikan dan latihan Programmable Logic Controller Tingkat lanjut ini menerapkan strategi pembelajaran kooperatif model Jigsaw.  Pada siklus ke-1,kegiatan pembelajaran diawali dengan  penyampaian teori tentang gambaran PLC, cara konfigurasi hardware dan praktik membuat program aplikasi serta membentuk kelompok berdasarkan pertimbangan evaluasi tahap awal. Dari hasil evaluasi siklus I untuk masing-masing peserta diklat adalah skor rata-rata meliputi teori dan praktik.  Untuk siklus ke-2 pelatihan dilakukan dengan memberikan tugas praktik berupa job sheet yang isinya berupa tugas perencanaan kontrol mesin di industri dengan jalan membuat struktur program dulu lalu di praktikan.  Dalam kegiatan praktik pemrograman, peserta diklat diberikan arahan dan bimbingan oleh pengajar sekaligus menerapkan strategi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, dimana kelompok heterogin II dibentuk berdasarkan pertimbangan evaluasi siklus I.  Dari data penelitian dapat ditunjukkan bahwa melalui penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil praktik Programmable Logic Controller tingkat lanjut bagipeserta diklat jurusan Listrik Instalasi.  Hal tersebut ditunjukkan darihasil nilai rata-rata kondisi  awal sebesar X = 65,58 dibandingkan dengan hasil nilai rata-rata dari evalusi diklat pada siklus I X = 72,50.  Hal ini terjadi peningkatan 10,55%.  Nilai rata-rata dari hasil evaluai diklat pada siklus II sebesar X = 77,50, maka apabila dibandingkan dengan evaluasi diklat pada siklus I terjadi peningkatan (antara siklus I dan siklus II ) sebesar 6,90%.  Peningkatan secara keseluruhan antara siklus II terhadap kondisi awal adalah sebesar 18,18 %.

 

Kata kunci :Programmable Logic Controller, profil kompetensi, job sheet,  kooperatif, jigsaw, siklus 1, siklus 2

 


 

A.     Pendahuluan

Proses belajar mengajar merupakan penentu keberhasilan dalam mencapai tujuan pendidikan dan pelatihan. Peserta diklat yang mengikuti penataran diharapkan mengalami perubahan baik dalam bidang pengetahuan, ketrampilan, dan sikap. Perubahan tersebut dapat tercapai apabila ditunjang berbagai macam faktor yang dapat menghasilkan perubahan untuk meningkatkan hasil diklat.  Hasil diklat merupakan alat untuk mengukur sejauh mana peserta diklat menguasai materi yang telah diajarkan.  Oleh karena itu, hasil diklat merupakan faktor yang paling penting dalam proses pendidikan dan latihan.

Hasil evaluasi penyelenggaraan pendidikan dan latihan Programmable Logic Controller Tingkat lanjut yang diselenggarakan di PPPPTK/VEDC Malang menunjukkan bahwa hasil diklat Programmable Logic Controller tingkat lanjut masih rendah dan belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Rendahnya hasil diklat Programmable Logic Controller tingkat lanjut ini diduga karena belum menerapkan strategi pembelajaran kooperatif model Jigsaw dan masih menerapkan model pembelajaran konvensional.  Apabila peserta dikelompokkan dalam beberapa kelompok kecil cenderung pembagian kelompok adalah asal, tidak dirancang berdasarkan metoda belajar kelompok yang baik.  Pembagian kelompok cenderung dilakukan pada saat pelaksanaan praktik, besar kecilnya kelompok serta jumlah kelompok dibentuk berdasarkan analisis kecukupan peralatan praktik yang tersedia.

Oleh karena itu pada penelitian ini akan diterapkan strategi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw bagi peserta diklat di PPPPTK BOE Malang.  Dan diharapkan setelah menerapkan strategi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil diklat Programmable Logic Controller tingkat lanjut.

 

B.    Deskripsi Kondisi Awal

Kondisi awal adalah kondisi dimana peserta diklat dievaluasi kemampuan awal sebelum widyaiswara menerapkan strategi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Hasil evaluasi kondisi awal yang dilaksanakan pada awal pelaksanaan pendidikan dan latihan PLC tingkat lanjut menunjukkan bahwa hasil diklat PLC masih rendah dan belum menunjukkan hasil yang memuaskan yaitu dengan nilai rata-rata 65,58.  Hasil Evaluasi kondisi awal dapat dilihat seperti pada tabel dibawah. Nama peserta tidak ditampilkan untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan.

Tabel 1. Nilai kondisi awal

No

No Responden

Nilai

1

01

58

2

02

77

3

03

58

4

04

80

5

05

77

6

06

74

7

07

55

8

08

60

9

09

78

10

10

76

11

11

35

12

12

58

Σx

786

 

Nilai rata-rata kondisi awal peserta diklat Programmable Logic Controller (PLC) tingkat lanjut adalah

:

Jadi nilai rata-rata peserta pada kondisi awal dalah enam puluh lima koma lima puluh delapan (65,58). Nilai terendah adalah 35,00 dan nilai tertinggi adalah 80,00.

Nilai awal tersebut ditampilkan dalam bentuk grafik, maka akan ditampilkan nilai kondisi awal seperti gambar grafik di bawah ini :

Gambar 1. Grafik nilai kondisi awal diklat PLC tingkat lanjut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Nilai terendah dan tertinggi kondisi awal diklat PLC tingkat lanjut

 


 

C.    Hasil diklat

Hasil evaluasi diklat pada siklus I yang tertera pada tabel dibawah adalah nilai rata-rata secara kuantitatf yang didapat dari nilai rata-rata antara nilai individual berupa test teori dan praktik.  Nilai praktik diambil dari nilai individual yang didapat dari hasil penilaian pada lembar kerja (jobsheet) masing-masing anggota kelompok, sedangkan nilai individual teori diambil dari hasil evaluasi test tertulis yang diadakan pada akhir siklus I.  Nilai teori dan praktik dijumlahkan kemudian dibagi dua.  Hasilnya adalah nilai rata-rata hasil evaluasi diklat siklus I.

Tabel 2 Hasil Evaluasi Siklus I

No

No Responden

Nilai

1

01

66

2

02

77

3

03

63

4

04

85

5

05

76

6

06

77

7

07

64

8

08

80

9

09

79

10

10

82

11

11

58

12

12

63

Σx

870

 

Apabila ditampilkan dalam grafik, maka akan terlihat kurva hasil evaluasi siklus I seperti gambar 3 di bawah:

Gambar 3. Hasil Evaluasi Diklat pada Siklus I

 

 

Nilai rata-rata yang diperoleh peserta pada siklus I adalah:

Jadi nilai rata-rata peserta diklat pada siklus I adalah tujuh puluh  dua koma lima puluh (72,50), nilai terendah lima puluh delapan (58,00) serta nilai tertinggi adalah delapan puluh lima (85,00).

Gambar di bawah menampilkan nilai terendah, tertinggi dan nilai rata-rata yang diperoleh dari evaluasi diklat pada siklus I.

 

 

 

Gambar4. Nilai terendah, rata-rata dan tertinggi siklus I

 

Dari data pada tabel 2 di atas dapat dilihat rentang nilai hasil evaluasi diklat pada siklus I seperti yang ditampilkan tabel rentang nilai perolehan dan frekuansi seperti terlihat pada tabel 3 di bawah ini.

 

Tabel 3 Tampilan hasil diklat berdasarkan rentang nilai Siklus I

No

Rentang

Frequensi

1

51 – 60

1

2

61 – 70

4

3

71 – 80

5

4

81 – 90

2

5

91 - 100

0

 

Dari data pada tabel 3 tersebut di atas bisa ditampilkan dalam bentuk grafik seperti gambar di bawah:

 

Gambar 5. Rentang Nilai Siklus I

 

Deskripsi Hasil Siklus II

a. Apersepsi :

Peserta diklat dikelompokkan menjadi kelompok heterogen II yang masing-masing kelompok terdiri dari empat orang dengan keanggotaan yang berbeda dengan keanggotaan pada siklus I.  Anggota dipilih berdasarkan hasil evaluasi pada siklus I dengan tetap mempertimbangkan tingkat kecerdasannya. Kelompok kelompok ini disebut kelompok heterogin II.

b. Kegiatan Inti

Diklat Programmable Logic Controller tingkat lanjut dengan menerapkan strategi kooperatif tipe jigsaw .

c. Penutup : Diklat pada siklus II diakhiri dengan evaluasi

 

Hasil Pengamatan

a  Hasil Diklat

Tabel 4 Hasil Evaluasi Siklus II

No

No Responden

Nilai

1

01

68

2

02

82

3

03

69

4

04

90

5

05

83

6

06

80

7

07

68

8

08

82

9

09

82

10

10

90

11

11

68

12

12

68

Σx

930

Hasil evaluasi diklat tindakan siklus II dapat dilihat pada tabel di atas. Apabila ditampilkan dalam grafik, maka akan terlihat kurva hasil evaluasi siklus I seperti gambar 6 di bawah:

Gambar 6. Hasil Evaluasi Diklat Siklus II

Nilai rata-rata yang diperoleh peserta diklat pada siklus II adalah:

Jadi nilai rata-rata adalah peserta diklat Programmable Logic Controller pada siklus II adalah 77,50. Nilai terendah dari hasil evaluasi siklus II adalah 68,00 sedangkan nilai tertinggi adalah 90,00. Data tersebut di atas dapat digambarkan seperti grafik di bawah :

Gambar 7. Nilai terendah, tertinggi dan rata-rata siklus II.

 

Dari tabel 4 di atas bisa ditampilkan dalam bentuk tabel yang memperlihatkan rentang nilai dan frekuensi seperti tabel 5 di bawah.

Tabel 5 Hasil diklat berdasarkan rentang nilai Siklus II


No

Rentang

Frequensi

1

51 – 60

0

2

61 – 70

5

3

71 – 80

1

4

81 – 90

6

5

91 - 100

0

 

Dari data pada tabel 5 tersebut diatas bisa ditampilkan dalam bentuk grafik seperti gambar di bawah:

Gambar 8. Rentang Nilai Siklus II

 

D. Pembahasan

a. Belum diterapkannya strategi pembelajaran kelompok tipe jigsaw pada diklat Progammable Logic Controller (PLC) tingkat lanjut bagi peserta diklat  mengakibatkan hasil diklat PLC rendah.

b. Pada siklus I diterapkan strategi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.  Peserta diklat dibagi dalam kelompok heterogin I dengan komposisi peserta diklat dipilih berdasarkan tingkat kecerdasan yang diambil dari hasil evaluasi kondisi awal. Masing-masing kelompok terdiri dari enam orang

Dilihat dari hasil evaluasi siklus I menunjukkan adanya peningkatan hasil diklat PLC Tingkat lanjut .

c. Dengan menerapkan strategi pembelajaran kooperatif dengan pendekatan Student Teams Achievments Devision (STAD) pada siklus II dimana tiap kelompok heterodin II terdisi dari empat orang yang dipilih berdasarkan tingkat kecerdasan yang diambil dari hasil evaluasi siklus I, dilihat dari hasil evaluasi pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan hasil diklat PLC dibandingkan dengan hasil diklat PLC pada siklus I.

Dari analisis data diatas dapat digambarkan grafik yang menggambarkan nilai rata-rata antara kondisi awal, siklus I dan siklus II seperti yang ditampilkan dalam grafik sebagai berikut :

Gambar 9 Grafik nilai rata-rata diklat PLC Tingkat lanjut

 

Dengan menerapkan strategi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada diklat PLC Tingkat lanjut secara kualitatif terjadi peningkatan hasil diklat.  Lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar grafik di bawah yang menggambarkan peningkatan baik nilai terendah , tertinggi dan rata-rata dari peserta diklat PLC Tingkat lanjut .

Gambar 10. Grafik peningkatan nilai evaluasi diklat PLC Tingkat lanjut

 

 


 

Kesimpulan:

1.    Penerapan strategi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang terdiri dari kelompok heterogin II yang terdiri dari empat orang yang dipilih berdasarkan hasil evaluasi siklus I, mendapatkan hasil diklat yang lebih baik dibandingkan dengan strategi pembelajaran kooperatif pendekatan STAD dengan komposisi kelompok heterogin I, dimana kelompok heterogin I dipilih berdasarkan hasil pretest.

2.    Berdasarkan hasil pengujian hipotesis ditunjukkan nilai rata-rata kondisi  awal sebesar X = 65,58 dibandingkan dengan hasil nilai rata-rata dari evalusi diklat pada siklus I sebesar X = 72,50. Hal ini terjadi peningkatan 10,55%. Nilai rata-rata dari hasil evaluasi diklat pada siklus II sebesar X = 77,50, apabila dibandingkan dengan evaluasi diklat pada siklus I terjadi peningkatan (antara siklus I dan siklus II ) sebesar 6,90%.  Peningkatan secara keseluruhan antara siklus II terhadap kondisi awal adalah sebesar 18,18 %.

 

Saran:

1.    Hendaknya widyaiswara menerapkan strategi pembelajaran kooperatif dengan pendekatan STAD sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil diklat dan keterlibatan peserta diklat secara aktif dalam proses belajar mengajar.

2.  Strategi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat digunakan sebagai suatu cara yang efektif dalam melatih peserta diklat untuk bersosialisasi dengan peserta diklat yang lain karena akan menumbuhkan suasana yang salih asah, asih, asuh.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto,Suharsimi, 1988, Penilaian Program Pendidikan, Yogyakarta : PT. Bina Aksara

Dalyono,M, 2001, Psikologi Pendidikan, jakarta: Rineka Cipta

Depdiknas, 2004,Standar Kemampuan Nasioanal, Jakarta : Direktorat Pendidikan menengah Kejuruan

Depdiknas, 2004, Kurikulum SMK Edisi 2004 Bagian 2, Jakarta : Direktorat Pendidikan menengah Kejuruan

Dirjen Dikdasmen, 2004, Kurikulum SMK Edisi 2004, Jakarta : Dirjen

Dikdasmen Faisal, Sanapiah, 1982, metodologi penelitian Pendidikan, Surabaya : Usahanasional

Mundilarto, Rustam, 2004, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Dirjen Dikti

Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning Theory, Research, and Practice.USA The Jhons Hopkins University.

Tim Pengembang BPPLSP Regional III, 2004, Pelatihan Pamong Belajar Ahli Berbasis Kemampuan, Ungaran : BPPLSP Regional III

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG