Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Pada Diklat Kompetensi Guru SMK di PPPPTK BOE Malang

Print
Category: Listrik & Elektronika
Last Updated on Friday, 18 December 2015 Published Date Written by Herry Sudjendro

Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Pada Diklat Kompetensi Guru SMK di PPPPTK BOE Malang.

 

Oleh: Drs. Herry Sudjendro, M.T

 

Hakekat Pembelajaran

Pembelajaran (lerning) adalah suatu proses yang akan membuat seseorangberubah menjadi lebih baik atau lebih meningkat sesuatunya dari sebelumnya. Pembelajaran adalah sebuah proses yang menuntut pengorbanan dari diri sendiri berupa kerja keras melalui berbagai upaya yang harus dilakukan. Karena pembelajaran adalah proses yang menuntut pengorbanan, kita bukan hanya dituntut kerja keras tetapi tetapi  juga ditintut untuk mau dan siap menghadapi resiko dalam proses perubahan yang dilakukan (Taufik Bahaudin, PT Elex Media Komputindo : 2007)

 

Hakekat Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih. Keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri.

Pembelajaran kooperatif menuntut persyaratan : 1) peserta diklat yang tergabung dalam suatu kelompok harus merasa bahwa mereka adalah bagian dari sebuah tim dan mempunyai tujuan bersama yang harus dicapai, 2) peserta diklat tergabung dalam suatu kelompok harus merasa bahwa masalah yang mereka hadapi adalah masalah kelompok dan bahwa berhasil tidaknya kelompok itu akan menjadi tanggung jawab bersama oleh seluruh anggota kelompok itu, dan 3) untuk mencapai hasil yang maksimum, para peserta diklat yang tergabung dalam kelompok itu harus berbicara satu sama lain dalam mendiskusikan masalah yang dihadapi. Akhirnya, para peserta diklat yang tergabung dalam suatu kelompok harus menyadari bahwa setiap pekerjaan individu mempunyai akibat langsung pada keberhasilan kelompoknya.

Pada pembelajaran kooperatif peserta diklat dalam kelompoknya harus beranggapan bahwa mereka merupakan kesatuan yang saling memiliki,  bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya dan harus merasa bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama. Di samping itu anggota kelompok memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama. Kelompok juga akan diadakan evaluasibagi semua anggota kelompok. Anggota kelompok berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajar. Secara individual diminta mempertanggungjawabkan apa yang telah dihasilkan dalam kelompok kooperatif.

Menurut Kagan (1994), pembelajaran kooperatif mempunyai banyak manfaat,yaitu:

1)    dapat meningkatkan pencapaian dan kemahiran kognitif peserta didik

2)    dapat meningkatkan kemahiran sosial dan memperbaiki hubungan sosial

3)    dapat meningkatkan keterampilan kepemimpinan

4)    dapat meningkatkan kepercayaan diri

5)    dapat meningkatkan kemahiran teknologi.

 

Hakekat  Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw

Darsono (2000: 24), pengertian pembelajaran secara umum adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa sehingga tingkah laku siswa kearah yang lebih baik. Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah pembelajaran di mana siswa belajar dalam kelompok bertanggung jawab atas  penguasaan materi belajar yang ditugaskan kepadanya lalu mengajarkan bagian tersebut pada anggota kelompok lain  ( Lembar Ilmu Pendidikan:1999).

Pembelajaran tipe jigsaw ini merupakan bagian dari pembelajaran kooperatif yang merupakan pembelajaran kelompok di mana setiap anggota bertanggung jawab atas penguasaan materi tertentu dan mengajarkannya kepada anggota kelompoknya setelah adanya mempelajari dengan kelompok ahli masing-masing.

 

a.    Hakekat Pembelajaran Kooperatif type Jigsaw

Pembelajaran kooperatif type jigsaw adalah jenis pembelajaran kooperatif teridiri  dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggungjawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian terebut kepada anggota lain dalam kelompok (Arend : 1997). Jigsaw menggabungkan konsep pengajaran pada teman sekelompok atau sebaya dalam usaha membantu belajar. Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggungjawab untuk pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Ibrahim (2001:21) jigsaw telah dikembangkan dan diuji cobakan oleh Ellot Aronson dan kemudian diadaptasi oleh slavin. Dalam penerapan jigsaw, peserta diklat dibagi berkelompok dengan lima atau enam anggota kelompok belajar heterogen. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari, menguasai bagian tertentu bahan yang diberikan kemudian menjelaskan pada anggota kelompoknya. Dengan demikian terdapat rasa saling membutuhkan dan harus bekerjasama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan. Para anggota dari kelompok lain yang bertugas mendapat topic yang sama berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut. Kelompok ini disebut kelompok ahli. Kemudian anggota tim ahli kembali ke kelompok  asal dan mengajarkan apa yang telah dipelajarinya dan didiskusikan didalam klompok ahlinya untuk diajarkan kepada anggota kelompoknya sendiri. Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Diagram Kelompok Jigsaw

Kelompok Ahli  adalah kelompok yang  memiliki satu anggota dari kelompok asa.  Gambar 1.  Adalah ilustrasi kelompok jigsaw.  Para anggota dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan topik yang sama dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yang ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk mempelajari topik mereka. Setelah pembahasan selesai , para anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok semula ( asal ) dan berusaha mengajarkan pada anggota kelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan di kelompok ahli. Selanjutnya diakhir pembelajaran, peserta diklat diberi kuis secara individu yang mencakup topik materi yang telah dibahas. Kunci tipe jigsaw  adalah interdependensi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan kuis dengan baik.

1)    Kerangka Model Jigsaw

a)    Tahap Pendahuluan

(1)   Review, apersepsi, motivasi

(2)   Menjelaskan pada peserta diklat tentang model pembelajaran yang dipakai dan menjelaskan manfaatnya.

(3)   Pembentukan kelompok

(4)   Setiap kelompok terdiri dari 4-6 peserta diklat dengan kemampuan yang heterogen

(5)   Pembagian materi/soal pada setiap anggota kelompok

b)    Tahap Penguasaan

(1)    Peserta diklat dengan materi /soal sama bergabung dalam kelompok ahli dan berusaha manguasai materi sesuai dengan soal yang diterima

(2)   Widyaiswara  memberikan bantuan sepenuhnya

c)    Tahap Penularan

(1)   Setiap peserta diklat kembali ke kelompok asalnya

(2)   Tiap peserta diklat dalam kelompok saling menularkan dan menerima

(3)   materi dari peserta diklat lain

(4)   Terjadi diskusi antar peserta diklat dalam kelompok asal

(5)   Dari diskusi, peserta diklat memperoleh jawaban soal

d)    Penutup

(1)   Widyaiswara  bersama peserta diklat membahas soal

(2)   Kuis/Evaluasi

Evaluasi adalah menilai, membandingkan, menyimpulkan, mempertentangkan, mengkritik, mendeskripsikan, membedakan, menerangkan, memutuskan, menafsirkan, menghubungkan, membantu. ( Suharsimi Arikunto, 2002:138). Penilaian dalam pembelajaran kooperatif dilakukan dengan tes atau kuis tentang bahan pembelajaran. Dalam banyak hal, butir-butir tes pada kuis ini harus merupakan satu jenis tes obyektif paper and pencil, sehingga butir-butir itu dapat diskor di kelas atau segera setelah tes diberikan. Cara menentukan skor individual menurut Slavin(dalam Pembelajaran Kooperatif, 2001:56)

2)    Kelebihan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw:

a)    Dapat mengembangkan hubungan antar pribadi posistif diantara peserta diklat yang memiliki kemampuan belajar berbeda

b)    Menerapka bimbingan sesama teman

c)    Rasa harga diri peserta diklat yang lebih tinggi

d)    Memperbaiki kehadiran

e)    Penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar

f)     Sikap apatis berkurang

g)    Pemahaman materi lebih mendalam

h)    Meningkatkan motivasi belajar

3)    Kelemahan metode kooperatif jigsaw

a)    Jika widyaiswara  tidak meningkatkan agar peserta diklat selalu menggunakan ketrampilan-ketrampilan kooperatif dalam kelompok masingmasing maka dikhawatirkan kelompok akan macet

b)    Jika jumlah anggota kelompok kurang akan menimbulkan masalah, misal jika ada anggota yang hanya membonceng dalam menyelesaikan tugas-tugas dan pasif dalam diskusi

c)     Membutuhkan waktu yang lebih lama apalagi bila ada penataan ruang belum terkondisi dengan baik , sehingga perlu waktu merubah posisi yang dapat juga menimbulkan gaduh


 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto,Suharsimi, 1988, Penilaian Program Pendidikan, Yogyakarta : PT. Bina Aksara

Dalyono,M, 2001, Psikologi Pendidikan, jakarta: Rineka Cipta

Depdiknas, 2004,Standar Kemampuan Nasioanal, Jakarta : Direktorat Pendidikan menengah Kejuruan

Depdiknas, 2004, Kurikulum SMK Edisi 2004 Bagian 2, Jakarta : Direktorat Pendidikan menengah Kejuruan

Dirjen Dikdasmen, 2004, Kurikulum SMK Edisi 2004, Jakarta : Dirjen Dikdasmen

Faisal, Sanapiah, 1982, metodologi penelitian Pendidikan, Surabaya : Usaha nasional

Mundilarto, Rustam, 2004, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Dirjen Dikti

Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning Theory, Research, and Practice. USA The Jhons Hopkins University.

Tim Pengembang BPPLSP Regional III, 2004, Pelatihan Pamong Belajar Ahli Berbasis Kemampuan, Ungaran : BPPLSP Regional III

 

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG