INVERTER DC 12V KE AC 220V

INVERTER DC 12V KE AC 220V

Nurhadi Budi Santosa, M.Pd.

Widyaiswara PPPPTK BOE Malang

 

 Abstrak

 Inverter adalah perangkat elektronika yang digunakan untuk mengubah arus listrik searah (Direct Current) menjadi arus listrik bolak balik (Alternating Current). Output suatu inverter dapat berupa tegangan AC dengan bentuk gelombang sinus (sine wave), sinus modifikasi (sine wave modified) dan gelombang kotak (square wave).

Dalam merakit Inverter, pertama yang harus disiapkan adalah skema inverter yang akan dirakit. Dalam merakit harus dipasang  komponen yang kecil dan mempunyai ketinggian yang terrendah terlebih dahulu. Setelah itu baru dipasang komponen yang lebih tinggi, demikian seterusnya.

Setelah rangkaian Inverter selesai dirakit, berikutnya adalah pengukuran dan pengetesan fungsi dari rangkaian Inverter ini dengan Oscilloscope. Jika pengukuran frekuensi kurang atau lebih dari 50Hz, bisa mengatur VR1 (100K) untuk menepatkan agar frekuensi tepat 50Hz.

Inverter yang dibuat disini masih sederhana, dimana bentuk gelombang keluaran dari transformator berbentuk kotak. Ini menyebabkan Inverter tidak bisa dipakai untuk beban Induktif semisal pompa air, kulkas atau mesin cuci.

 

Kata Kunci : Inverter, sine wave modified, Square wave

 

Pengertian Inverter

Pengertian Inverter disini adalah perangkat elektronika yang digunakan untuk mengubah arus listrik searah (Direct Current) menjadi arus listrik bolak balik (Alternating Current). Inverter mengkonversi tegangan DC dari perangkat seperti baterai, solarcell atau sumber tegangan yang lain menjadi tegangan AC. Tegangan DC biasanya yang dipakai adalah   12 V atau 24 V dengan keluaran tegangan AC 220 V seperti tegangan jaringan listrik PLN pada umumnya.

            Output suatu inverter dapat berupa tegangan AC dengan bentuk gelombang sinus (sine wave), sinus modifikasi (sine wave modified) dan gelombang kotak (square wave). Inverter dalam proses konversi tegangn DC menjadi tegangan AC membutuhkan suatu penaik tegangan berupa step up transformer.

Sine wave inverter, yaitu inverter yang memiliki tegangan output dengan bentuk gelombang sinus murni. Inverter jenis ini dapa memberikan supply tegangan ke beban (Induktor) atau motor listrik dengan efisiensi daya yang baik.

            Sine wave modified inverter, yaitu inverter dengan tegangan output berbentuk gelombang kotak yang dimodifikasi sehingga menyerupai gelombang sinus. Inverter jenis ini memiliki efisiensi daya yang rendah apabila digunakan untuk mensupplay beban induktor atau motor listrik.

            Square wave inverter, yaitu inverter dengan output berbentuk gelombang kotak, inverter jenis ini tidak dapat digunakan untuk mensupply tegangan ke beban induktif atau motor listrik.

 

 Merakit Inverter

            Pertama yang harus disiapkan adalah skema inverter yang akan dirakit. Banyak skema inverter yang dapat di lihat di internet dan dapat dipraktekkan untuk dibuat. Namun banyak yang enggan untuk mencobanya karena ragu-ragu antara jadi dan gagal.

            Disini akan penulis tunjukkan salah satu skema rangkaian inverter yang telah penulis coba dan berhasil dengan baik. Serta akan diterangkan bagaimana cara merakit dan mengetesnya.

Skema rangkaian inverter seperti gambar berikut.


Gambar 1. Skema rangkaian Inverter

 Berikut adalah rancangan PCB (Printed Circuit Board), dan tata letak komponen dari skema rangkaian Inverter diatas.

Gambar 2. PCB Inverter

Gambar diatas memperlihatkan contoh rancangan PCB dan tata letak komponennya. Rancangan PCB ini sudah dicoba dan berhasil dengan baik. Silahkan yang mau mencobanya untuk membuat PCB nya terlebih dahulu.

Kita dapat membuat PCB dengan model cetak sablon, hanya memang perlu waktu. Atau mengingat jumlah komponen hanya sedikit tidak terlalu komplek kita bisa membuat di PCB lubang untuk IC (Integrated  Circuit) yang banyak dijual dipasaran. Gambar PCB lubang untuk IC seperti terlihat pada gambar dibawah.

Sebelum merakit, sebaiknya siapkan dulu peralatan untuk menyolder, dan siapkan juga komponen yang dibutuhkan untuk dirakit. Tidak boleh ketinggalan ialah PCB nya, apakah versi cetak ataupun PCB lubang.

Gambar 3. PCB Lubang

 Rakit atau pasanglah komponen yang kecil dan mempunyai ketinggian yang terrendah terlebih dahulu. Misalkan jika ada kabel jumper, lebih baik dipasang paling awal dulu. Berikutnya adalah resistor, jika ada resistor yang ¼ watt dan ½ watt, maka yang dipasang adalah yang ¼ watt terlebih dahulu. Setelah itu pasanglah IC (CD 4047) akan lebih baik lagi jika menggunakan socket. Jika menggunakan socket, yang dipasang atau disolder duluan adalah socketnya terlebih dahulu. Sementara IC CD4047 dipasang ke socketnya paling terakhir saja. Ini berguna melindungi IC agar tidak rusak saat menyoder karena terlalu panas, atau terkena listrik statis.

Berikutnya pasanglah komponen VR1  (Variable Resistor), kapasitor C2, LED, Mosfet IRFP 140 dan terakhir kapasitor C1. Selanjutnya solderlah atau pasang kabel untuk ke aki/baterai atau ke sumber tegangan dan kabel yang ke Transformator. Disini kita mencoba menggunakan Transformator CT 9V atau 12V / 5 Ampere. Gambar rangkaian Inverter yang selesai dirakit seperti gambar dibawah.

 

Gambar 4. Inverter yang telah dirakit

 

 Pengetesan

Setelah rangkaian Inverter selesai dirakit, berikutnya adalah pengukuran dan pengetesan fungsi dari rangkaian Inverter ini. Berikut pengukuran dengan menggunakan Oscilloscope.

Langkah pertama ukurlah keluaran R4 dan R5 yaitu kaki yang terhubung ke Gate Mosfet, dengan menggunakan Oscilloscope double Chnnel. Harusnya kalau rangkaian bekerja dengan baik, penampakan dilayar Oscilloscope harus bisa menampilkan gelombang kotak seperti gambar berikut.

Gambar 5. Pengukuran dengan Oscilloscope

 Dari gambar diatas terlihat dua buah gelombang kotak yang berbeda fasa 180o antara satu dengan yang lainnya. Gelombang ini keluaran dari IC CD4047 (Monostable/Astable Multivibrator). Terlihat dilayar hasil pengukuran frekuensinya sebesar 50,12 Hz dengan Duty Cycle 50,02%. Ini sudah sangat dekat dengan yang diharapkan dari rangkaian Inverter ini yaitu frekuensi 50Hz dan Duty Cycle 50%.

Jika pengukuran frekuensi kurang atau lebih dari 50Hz, bisa mengatur VR1 (100K) untuk menepatkan agar frekuensi sebesar 50Hz. Pengukuran disini menggunakan Oscilloscope Digital sehingga bisa menampilkan frekuensi yang terukur dan Duty Cycle. Apabila menggunakan Oscilloscope analog, maka perlu melihat lebih teliti lagi agar frekuensi tepat 50Hz dengan cara mengitung periode sinyalnya yaitu sekitar 20mS. Atau dapat menggunakan Frequency Counter untuk mengukur frekuensi keluaran IC CD4047.

Apabila tidak tersedia Oscilloscope maupun Frequency Counter, dapat dipergunakan cara berikut untuk mendapatkan frekuensi inverter sekitar 50Hz, yaitu dengan cara mengatur VR1 pada posisi trimpot di tengah putaran.

Selanjutnya hubungkan keluaran rangkaian Inverter ini ke Transformator, sesuai seperti gambar skema. Dimana kaki drain Mosfet keduanya dihubungkan ke transformator pada bagian sekunder (AC 12V) dan CT dari Transformator ke sumber tegangan (baterai/aki). Periksalah keluaran Transformator yaitu bagian primer ( antara 0 dan 220V AC) dengan multimeter. Perhatikan untuk mengukur bagian ini, posisi saklar pemilih multimeter pada posisi AC diatas tegangan 220V.

Jika tegangan pada bagian primer transformator sudah keluar dan terukur sekitar 220V AC, maka langkah selanjutnya adalah mengetes Inverter ini dengan beban lampu pijar. Bisa di bebani lampu pijar 15W, 25 W atau 60W. Saat dibebani lampu, perhatikan tegangan keluaran transformator, jika tegangan turun (drop) coba besarkan transformatornya, mungkin kurang besar dayanya. Bisa dicoba menggunakan transformator 12V CT 10A.

 

Kelebihan dan kekurangan

Kelebihan dari Inverter model ini adalah :

  • Rangkaian sederhana
  • Tidak banyak membutuhkan komponen
  • Komponen murah dan mudah didapat dipasaran
  • Keberhasilan tinggi

 Kekurangannya adalah :

  • Bentuk gelombang keluaran kotak, tidak cocok untuk beban Induktif (Pompa air, Kulkas, dll)
  •  Daya yang dihasilkan masih terbatas
  • Semakin besar beban, semakin besar transformator yang dibutuhkan

 

Kesimpulan

Inverter adalah perangkat elektronika yang digunakan untuk mengubah arus listrik searah (Direct Current) menjadi arus listrik bolak balik (Alternating Current). Inverter mengkonversi tegangan DC dari perangkat seperti baterai, solarcell atau sumber tegangan yang lain menjadi tegangan AC.

Inverter yang dibuat disini masih sederhana, dimana bentuk gelombang keluaran dari transformator berbentuk kotak. Ini menyebabkan Inverter tidak bisa dipakai untuk beban Induktif semisal pompa air, kulkas atau mesin cuci. Selain itu dayanya juga masih belum besar. Namun demikian kalau untuk menyalakan atau dibebani lampu pijar maupun TL sudah cukup bagus.

  

Referensi :

 

Circuit Today, How an Inverter works, http://www.circuitstoday.com/how-an-inverter-works, diakses tanggal 9 Maret 2015.

 

Elektronika Dasar, Inverter DC ke AC, http://elektronika-dasar.web.id/artikel-elektronika/inverter-dc-ke-ac/, diakses tanggal 10 Maret 2015

 

Indrianto Onki Nur, Rangkaian Inverter DC 12 V To AC 220 V 100 W, http://elektronikaunej.blogspot.com/2013/12/rangkaian-inverter-dc-12-v-to-ac-220-v.html, diakses tanggal 10 Maret 2015

 

 NN, Inverter sederhana 60 Watt, http://telecomeng.blogspot.com/2011/05/small-inverter.html, diakses tanggal 12 Mei 2015

MEMASANG/MENDIRIKAN TIANG DISTRIBUSITEGANGAN RENDAH

MEMASANG/MENDIRIKAN TIANG DISTRIBUSI
TEGANGAN RENDAH

 

Oleh: A`ang Rahardyan Witarsa, ST

Widyaiswara spesialisasi Listrik

di P4TK BOE Malang

 

 

Abstrak

Pekerjaan instalasi listrik untuk jaringan listrik tenaga rendah dikerjakan tanggungjawab PLN selaku perusahaan listrik negara. Untuk menyalurkan listrik dari pembangkit sampai ke beban kerumah tangga dan ke industri. Dalam proses penyaluran dibutuhkan penghantar atau kabel listrik, untuk memasang dan menyalurkan kabel dibutuhkan tiang sebagai penyangga kabel bebas dari gangguan.

 

Keyword: Pemasangan JTR

 

Materi

1)   Merencanakan Dan Mempersiapkan Pendirian Tiang Listrik Beton

2)   Mendirikan Tiang Listrik Beton.

3)   Memasang Tiang Penopang dan memasang kawat tambat

4)   Mengidentifikasi Masalah Penanaman Tiang Listrik Beton.

5)   Membuat Laporan Penanaman Tiang

 

Merencanakan Dan Mempersiapkan Pendirian Tiang Listrik Beton

 

1.       Syarat-syarat Mendirikan Tiang Listrik Beton.

Tiang listrik merupakan salah satu komponen penunjang pada jaringan distribusi dan berfungsi sebagai alat penopang / pemegang kabel hantaran atau saluran. Dalam penggunaannya pada jaringan distribusi, tiang listrik ini harus ditanam. Untuk dapat menanam tiang listrik ini ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi yaitu:

(a)Titik tiang di lokasi sudah harus ditetapkan berdasarkan gambar rencana

(b)Pembuatan lubang untuk penanaman tiang pada titik pasang yang telah ditentukan.

(c)Penanaman tiang kedalam tanah minimum harus sedalam 1/6 X Panjang tiang.

(d)Pendirian/Penegakan tiang harus menggunakan Tackle berkaki tiga lengkap dengan katrol rantainya atau yang sejenis.

(e)Penegakan tiang harus tegak lurus(Vertikal) dengan menggunakan Water pass atau Uning-unting dan tiang satu dengan yang lainnya harus lurus segaris.

(f)  Khusus untuk tanah lembek, pemasangan tiang diperkuat dengan pondasi yang memenuhi standar konstruksi.

 

2.       Pembuatan Gambar Rencana Mendirikan Tiang

Gambar rencana adalah bahasa teknik dalam bentuk  lambang–lambang yang dipergunakan untuk memberikan informasi mengenai bentuk, ukuran, jumlah dan cara membuat      sesuatu. Untuk membuat gambar rencana mendirikan tiang, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah :

(a)Survey terlebih dahulu wilayah/daerah yang akan ditanami tiang .Hal ini bertujuan untuk menentukan titik tanam tiang dan jumlahnya.

(b)Tentukan jarak tanam antar tiang minimal 40 meter.

(c)Tentukan jenis tiang yang akan dipakai sesuai kebutuhan.

(d)Setelah semua lengkap, masukkan kedalam format laporan survey seperti contoh dibawah ini.


 

LAPORAN SURVEY PEMATOKAN TIANG LISTRIK

 

PROYEK   :………………………………………………………..

KONTRAK :………………………………………………………..

PRIODE   :…………………………………………………………

 

3.    Jenis Konstruksi SUTR

 

a) Konstruksi Tiang Penyangga (TR-1)

Pada jaringan tegangan rendah yang lurus atau dengan sudut belok maksimum 15 derajat, dipakai konstruksi tiang penyangga atau penggantung kabel.

 

b) Konstruksi Tiang Sudut (TR-2)

Jaringan dengan sudut belok lebih besar dari 15 derajat sampai dengan 90 derajat, dipakai konstruksi TR-2 ini. Sudut belok.

 

 

c) Konstruksi Tiang Awal (TR-3)

Pada awal jaringan yaitu tempat dipasangnya trafo distribusi, dipakai konstruksi TR-3.

 

 

 

 

 

d) Konstruksi Tiang Akhir (TR-4)

Pada ujung jaringan dipasang konstruksi TR-4

 

e) Konstruksi Tiang Penegang (TR-5)

Secara umum pada setiap 5 gawang panjang jaringan lurus diperlukan konstruksi penegang, yang dikenal sebagai konstruksi TR-5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dibawah ini adalah contoh pembuatan gambar rencana untuk penanaman tiang listrik .

 

 

 

4.       Cara Menghubungi Pihak Berwenang / Terkait

Dalam pelaksanaan penanaman tiang listrik, agar dapat berjalan dengan lancar perlu menghubungi pihak terkait yang kemungkinan terlibat dalam pekerjaan tersebut. Pihak terkait / berwenang yang perlu dihubungi adalah seperti Kelurahan ,RW,RT dan masyarakat yang tanahnya digunakan untuk pekerjaan penanaman tiang listrik tersebut.

Teknis pelaksanaannya adalah dengan cara membuat surat Pernyataan atau Persetujuan agar disetujui oleh semua pihak dan dapat dijadikan pedoman untuk pelaksanaan pekerjaan penanaman tiang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5.       Menetukan dan Menyiapkan Peralatan dan Alat-alat Keselamatan Kerja

Sebelum melaksanakan pekerjaan penanaman tiang perlu dipersiapkan alat-alat yang dipergunakan / dibutuhkan antara lain :

 

 

Alat Keselamatan kerja :

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6.       Memeriksa Tiang Listrik Secara Visual

Tiang listrik yang telah dilangsir dan dikumpulkan pada suatu tempat  perlu diperiksa keadaannya.Salah satu bentuk pemeriksaannya adalah dengan cara memeriksa secara Visual yaitu proses pemeriksaan pada tiang yang akan ditanam dengan cara melihat langsung bentuk, keadaan fisik dan ukuran panjang tiang apakah telah sesuai dengan yang terdapat dalam gambar kerja.

 

7.       Menyusun Perencanaan Kerja

Agar pekerjaan penanaman tiang dapat berjalan sesuai dengan jadual yang telah ditetapkan maka perlu disusun perencanaan kerja mulai dari persiapan/survey sampai pada pelaporan hasil pekerjaan . Dibawah ini diberikan contoh untuk penanaman 46 tiang listrik oleh 30 Pekerja dalam waktu 10 hari kerja.

Uraian Pekerjaan

Tanggal

 

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Persiapan/Survey

X

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pematokan/Steaking

X

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Distribusi Tiang 

 

X

X

 

 

 

 

 

 

 

Penggalian  Lubang

 

 

 

X

X

X

 

 

 

 

Penanaman Tiang

 

 

 

 

 

 

X

X

X

 

Final Check

 

 

 

 

 

 

 

 

 

X

                           

 

Keterangan : Tanda X  adalah lama waktu pengerjaan.

 

 

 

Kesimpulan

        Mendirikan tiang distribusi jaringan tegangan rendah dengan beberapa cara yang telah disebutkan diatas. Pendirian tiang distribusi tenaga rendah harus seijin PLN sebagai penyedia jaringan listriknya.

 

Daftar Pustaka, Referensi

 

 

Jaka Kiryanta, ST, Drs. Sudarsono MT; Modul Instalasi Jaringan Tegangan Rendah. 2009

Alat Ukur Kumparan Putar

Alat Ukur Kumparan Putar

Oleh : Hendro Hermanto, Widyaiswara PPPPTK BOE Malang

email : hendro@vedcmalang.or.id

 

Abstrak

Alat untuk mengukur besaran listrik ada beberapa jenis, bisa dilihat dari cara menampilkan hasil ukur serta bagaimana pengubahan dari besaran yang diukur kedalam penunjukkannya. Alat ukur kumparan putar adalah merupakan salah satu pengubah besaran listrik kedalam gerakan jarum. Alat ukur kumparan putar (Moving Coil Meter) juga sering disebut dengan d’Arsonval meter, bagian kumparan dari sistem ini yang bergerak. Karena cara kerjanya yang seperti demikian,maka alat ukur kumparan putar hanya digunakan untuk mengukur besaran listrik arus searah,jika digunakan secara langsung. Prinsip kerja dari pengubahan dari besaran listrik ke gerakan jarum berdasarkan sistim induksi.

 

Kata kunci : kumparan putar, d’arsonal, induksi

 

Alat ukur listrik dibedakan beberapa jenis, antara lain dibedakan atas penampilnya. Alat ukur dengan penampil jarum yang biasa disebut sebagai alat ukur konvensional dan ada alat ukur berpenapil digital berbentuk angka yang siap dibaca.

 

Alat ukur berpenampil jarum sering juga disebut dengan alat ukur analog. Untuk menggerakkan jarum, besaran yang diukur harus diubah menjadi gerakan. Ada banyak prinsip pengubahan besaran listrik menjadi gerakan, salah satunya adalah kumparan putar..Gambar 1 memperlihatkan perbedaan alat ukur berpenampil analog dan digital.

 

Gambar 1 Alat Ukur Analog dan Digital

 

Alat ukur analog terdapat simbol yang membedakan jenis penggerak dari penggerak yang satu dengan yang lainnya.

 

Gambar 2 berikut ini memperlihatkan simbol alat ukur yang berpenggerak kumparan putar.

 

 

Gambar 2. Simbol Alat Ukur Kumparan Putar

 

Alat ukur kumparan putar (Moving Coil Meter) juga sering disebut dengan d’Arsonval meter ( d’Arsonval diambil dari nama seorang ilmuwan Perancis bernama Jacques-Arsène d'Arsonval (8 Juni 1851 – 31 December1940). Pada prinsipnya terdiri dari magnet tetap dan kumparan, kumparan kawat yang dialiri listrik berada dalam medan magnet akan timbul gerakan

 

Gambar 3. Arah medan magnet

 

Dalam gambar 3 diperlihatkan arah medan magnet dari kutub utara menuju kutub selatan. Pada gambar 4 memperlihatkan medan listrik yang timbul disekeliling penghantar yang dialiri arus. Putaran medan listrik disekeliling penghantar dapat ditentukan dengan tangan kanan. Kawat penghantar digenggam sedemikian rupa, ibu jari kearah arus mengalir, maka jari-jari yang lain menunjukkan arah medan listrik.

 

 

Gambar 4. Arah medan listrik sekeliling penghantar.

 

Jika penngantar berarus berada dalam medan magnet maka penghantar tersebut akan bergerak. Proses bergeraknya penghantar dapat dijelaskan seperti pada gambar 5.

 

  

Gambar 5. Penghantar bergerak dan kaidah tangan kiri (gambar kanan)

 

Jika arah arus dalam penghantar meninggalkan kita (tanda penghantar x ) , maka medan listrik berbutar kaearah ke kiri. Ini sejalan dengan kaidah tangan kiri. Untuk menentukan arah gerak, tangan dengan 4 jari rapat dan ibu jari 900 terhadap telunjuk, diletakkan dibawah kutub utara. Telapap tangan tertembus medan magnet, keempat jari menunjuk arah arus dalam penghantar maka ibu jari menunjuk arah gerak (F) penghantar (gambar 5 kanan) Medan magnet dari kutub utara disisi kanan penghantar akan saling menguatkan, pada sisi kiri akan saling melemahkan. Maka penghantar akan bergerak ke kiri.

 

Untuk implementasi untuk alat ukur dapat dilihat pada gambar 6. 

 


Gambar 6. Kumparan menggerakkan Jarum

 

Secara gambar potongan terlihat dua buah penghantar, keduanya berarus dengan arah yang berlawanan. Pada posisi kedua penghantar di kiri dan di kana (horisontal) maka penghantar sisi kiri akan bergerak ke atas dan penghantar sisi kanan akan bergerak ke bawah. Maka secara bersamaan akan menghasilkan gerakan memutar ke kanan. Jarum yang dilekatkan pada penggerak ini akan bergerak ke kanan.

 

Bagian-bagian alat ukur kumparan putar diperlihatkan pada gambar 7

 

 

Gambar 7 Bagian-bagian Alat Ukur Kumparan Putar

Karena alat ukur ini bekerja berdasarkan kemagnetan, maka pada saat pengukuran harus dipastikan tidak ada sumber-sumber magnet dan elektro magnet disekitar alat ukur. Hal ini untuk menjaga gerakan jarum hanya dipengaruhi oleh arus yang mengalir dalam kumparan penghantar saja.

 

Kesimpulan

 

Pergerakan jarum disebabkan medan listrik yang dibangkitkan oleh aliran listrik yang berada dalam medan magnet. Kedua medan saling tolak, maka terbangkit gerakan. Kekuatan gerak tergantung dari besar arus yang melewati kumparan. Karena dalam sistim ini kumparan yang bergerak,maka disebutlah sebagai “alat ukur kumparan putar”

 

Daftar Pustaka

Heinz Haeberle, Fachkunde Informationselektronik , Wuppertal; Verlag Europa Lehrmittel,1984

 “________”,670 Moving Coil Instrument DC Ammeter,[online],(http://zjapeks.en.made-in-china.com/product/vqfJQBEUOKpX/China-670-Moving-Coil-Instrument-DC-Ammeter.html/, diakses tanggal 2/26/2014)

 “________”,XL5135 Digital Ammeter,[online],( http://www.ecvv.com/product/2634415.html/, diakses tanggal 2/26/2014)

 

Perluasan Batas Ukur Amper meter

Perluasan Batas Ukur Ampermeter

Oleh Drs.Hendro Hermanto,M.T. Widyaiswara PPPPTK BOE Malang

email : hendro@vedcmalang.or.id

 

Abstrak :

Pengukuran kuat arus dengan menggunakan Ampermeter, pada Ampermeter ber-batas ukur tunggal,terkadang perlu untuk mengukur arus yang lebih besar. Maka cara yang dilakukan dengan memperluas batas ukur (BU). Seperti pada Multimeter, batas ukur terdapat beberapa besaran,misalkan 25mA,250mA dan 500mA dan lain-lain. Pada Ampermeter dilakukan dengan menambahkan tahanan paralel atau shunt. Pada Ampermeter dengan BU yang banyak,untuk memindahkan BU perlu dilakukan langkah tertentu.

Kata kunci : Ampermeter, Batas Ukur, Tahanan Paralel

Hubungan Ampermeter

Ampermeter digunakan untuk mengukur kuat arus, pemasangan Ampermeter dihubung seri dengan beban. Jika arus yang diukur lebih besar dari kemampuan maksimumnya, maka kita berbicara masalah memperluas batas ukur.

Karena ampermeter dihubung seri dengan beban, maka tegangan jatuh (drop voltage) harus sekecil mungkin, sehingga tidak mengurangi tegangan di beban. Untuk itu Ampermeter harus memiliki tahanan dalam sekecil mungkin.

Gambar 1. Rangkaian Pengukuran Arus

Jika arus beban melebihi kemampuan Ampermeter, maka bata ukur ampermeter diperluas atau dinaikkan. Caranya dengan memasang tahanan/resistor secara paralel terhadap Ampermeter. Dengan arti lain, arus yang melebihi kemampuan ukur ampermeter dilewatkan tahanan paralel tersebut`

Memperbesar Kemampuan Ukur

Gambar 2. Tahanan Paralel untuk Perluasan BU

Sebagai misal, ampermeter berkemampuan ukur (batas ukur) 25mA dengan tegangan jatuh saat FSD (Full Scale Display) 0,3V untuk mengukur arus 1A, maka tahanan yang harus dipasang paralel pada ampermeter sebesar :

Gambar 3. Perhitungan Rsh

Arus IR = 1A, maka

Arus yang harus disimpangkan ke Rsh sebesar

Ish = IRIA

     = 1A – 25mA

     = 975mA

Karena tegangan jatuh pada Ampermeter saat FSD = 0,3V,maka besarnya

      = 

      = 0,3Ω

Ampermeter dengan beberapa BU

Gambar 4. Ampermeter dengan 4 BU

Implementasi sederhana Ampermeter dengan beberapa batas ukur dengan memasang tahanan paralel (shunt) Rsh beberapa dengan nilai yang berbeda. Seperti diperlihatkan Gambar 4, terdapat 3 buah tahanan paralel yang dihubingkan dengan saklar putar.

Maka masing-masing tahanan paralelnya sebesar :

        = 

        = 

        = 

Implementasi lain yang digunakan pada Multimeter Sanwa tipe YX-360TR,

Gambar 5. Bagian Ampermeter pada Multimeter YX-360TR

Terlihat pada Gambar 5, meter yang berkemampuan ukur hanya 47µA dapat mengukur arus sampai 2,5mA hingga 250mA.

Keamanan pada Ampermeter

Berbeda dengan Voltmeter, yang saat perpindahan satu batas ukur ke batas ukur lainnya, Voltmeter dalam kondisi terputus, sehingga aman (Gambar 6a). Gambar memperlihatkan saat proses perubahan dari BU1 ke BU2, ada saatnya kondisi saklar tidak di BU1 dan tidak pula di BU2, berarti Voltmeter dalam kondisi tidak terhubung, atau off.

Gambar 6. Perpindahan Batas Ukur

Pada Gambar 6b, misalkan posisi BU ada di 1A, ternyata arus yang mengalir hanya 300mA, maka BU harus dipindah ke BU 500mA. Pada saat pensaklaran, saklar masih mengambang, tidak di BU1A dan belum sampai di BU500mA. Ini mengakibatkan arus yang sebesar 300mA akan mengalir semuanya ke meter. Sedangkan meter hanya boleh dilewati arus sebesar 25mA, maka meter akan putus.

Gambar 7. Langkah Perrubahan BU Ampermeter

Untuk menghindari hal ini, maka untuk mengubah batas ukur Ampermeter, dari BU satu ke BU yang lain, bisa saja tegangan sumber dimatikan. Tapi dalam aplikasinya di industri, ini akan mematikan sistem, hal ini harus dihindari. Maka untuk memindah BU Ampermeter dalam keadaan arus mengalir, sebelum saklar BU dipindah, terminal Ampermeter harus dihubung singkat (Gambar 7-2), setelah selesai pensaklaran(Gambar 7-3)., jumper penghubung singkat dilepas(Gambar 7-4).

Kesimpulan

Ampermeter dalam rangkaian dihubungkan seri dengan beban yang diukur. Untuk menaikkan batas ukur, maka kelebihan arus yang diukur dilewatkan tahanan yang disambung paralel terhadap meter. Dalam pelaksanaan perubahan batas ukur terminal Ampermeter harus dihubung singkat.

Daftar Pustaka

Heinz Haeberle, Fachkunde Informationselektronik , Wuppertal; Verlag Europa Lehrmittel,1984

Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Asrizal Amir(Widyaiswara P4TK-BOE Malang)

 

Abstrak

Persaingan kompetensi kerja regional masyarakat ekonomi Asia pada tahun ke depan semakin ketat. Selain pengetahuan dan ketrampilan kerja hal pokok lain yang harus ditanggapi dengan serius oleh tenaga kerja adalah sikap atau perilaku dalam menanggapi masalah dasar tentang kesehatan dan keselamatan kerja. Dari data diberbagai Negara, hazard dan resiko yang menimpa seseorang terbanyak adalah diarea kerja, perjalanan dan lingkung keseharian. Oleh karenanya sesuai UU no 14 tahun 1970 telah  diatur bagaimana tata cara dan berikap dalam proses kerja.

Berikut akan dibahas tentang sejarah ketenaga kerjaan, peraturan, langkah-langkah yang harus dilakukan oleh karyawan maupun perusahaan menanggapi masalah kesehatan dan keselamatan kerja K3.

Kata kunci: K3, UU, perusahaan dan karyawan 

 

Hukum dan regulasi keselamatan 

Pada awal abad kesembilan belas berkumpulah para pekerja sebagian besar anak-anak dari seantero penduduk Britania Raya. Menjadi  awal kehidupan, mereka bekerja berjam-jam lamanya untuk mengabdi pada majikan yang jahat atau pada sang mandor.  Untuk menjaga kesehatan dan moral para pekerja anak-anak pada tahun 1802 oleh Robert Peel diperkenalkan upaya pengurangan jam kerja para pemagang (pekerja anak-anak) untuk 12 jam kerja per hari agar dapat menjaga dan memulihkan kondisi mereka.

Gambar 1: K3 PPE

Pada tahun 1833 kemudian perusahaan melakukan perubahan kebijakan dengan pembatasan jam kerja per minggu bagi anak usia 13 tahun sampai 18 tahun menjadi 69 jam setiap minggunya.  Dengan diperkenalkannya pabrik pada tahun1833, dilakukanlah penunjukan empat Inspektur pabrik yang bekerja full time. Mereka diizinkan untuk dapat mempekerjakan sejumlah asisten kecil yang diberi tanggung jawab untuk memeriksa pabrik di seluruh Inggris, Skotlandia, Irlandia dan Wales.Ini pekerjaan tambahan,sebagai isyarat bagi pekerja laki-laki dalam mempelopori modernisasi pengawasan HSE (Health and Safety Executive), penegakkan hukum keselamatan ini akhirnya disahkan oleh parlemen, hal yang paling penting dari sebuah peraturan keselamatan dan kesehatan terutama di Indonesia telah disahkan oleh pemerintah pada tahun 1970 yang disebut dengan undang-undang tentang Keselamatan Kerja.

Kisah pembuatan perundangan dari beberapa negara di Eropa terutama dibuat oleh parlemennya. Peraturan perundang-undangan yang telah disahkan oleh parlemen, dalam masa perjalanan akhirnya disyahkan menjadi undang-undang. Jika dalam perjalanan dan pelaksanaanya tidak sesuai dengan hukum negara maka siapapun dapat berakibatdituntut  oleh pengadilan dan kemungkinan hukuman penjara bagi pelakunya. Sekarang kita akan melihat delapan peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk industri elektroteknik.

 Keselamatan dan Kesehatan Kerja 1970

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan undang-undang yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan di tempat kerja, namun baru-baru ini undang-undang yang paling penting adalah keselamatan dan kesehatan kerja.Tujuan dari UU ini adalah untuk memberikan kerangka hukum dalam memotivasi dan mendorong usaha keselamatan dan kesehatan kerjadengan standar  tinggi; UU menempatkan tanggungjawab keselamatan ditempat kerja adalah berlaku untuk semua karyawan maupun pemilik perusahaan. Perusahaan berkewajiban untuk merawat keselamatan dan kesehatan kerja karyawan.

Untuk melakukan kewajiban ini maka kebijakan yang diberlakukan adalah:

  • situasi dan kondisi tempat kerja dan standar kebersihan harus tetap dijaga;
  • bangunan pabrik, peralatan dan perlengkapannya dipelihara secara terus menerus dengan baik
  • peralatan keselamatan yang diperlukan, seperti Alat Pelindung Diri (APD).
  • pelindung debu, asap dan pengaman mesin adalah akan sia-sia bila cara menggunakannyatidak benar (tidak sesuai prosedur);
  • para pekerja dilatih untuk menggunakan peralatan dan penyelamatan pabrik

Karyawan memiliki tugas untuk menjaga keselamatan dan kesehatan kerja mereka sendiri, bahwa orang lain mungkin dapat juga akan terpengaruh oleh tindakan mereka yang baik.

Gambar 2: Kebakaran akibat listrik

Untuk melakukan hal ini semua,mereka harus:

  • bertindak yang sewajarnya untuk menghindari cedera pada diri sendiri atau
  • orang lain, karena cedera akan mempengaruhi produktivitas kerja mereka;
  • bekerja sama dengan perusahaan, membantu untuk selalu mematuhi
  • ketentuan yang di persyaratan;
  • tidak mengganggu atau menyalahgunaan apapun disediakan untuk melindungi keselamatan dan kesehatan kerja mereka.

Kegagalan dalam mematuhi UU K3 adalah merupakan tindakan kriminal dan setiap pelanggaran hokum dapat mengakibatkan denda berat, penjara atau keduanya.

 Penyelenggaraan K3

Hukum dan peraturan harus ditegakkan jika keduannya diberlakukanefektif. Sistemkontrol dalam K3 berasal dari Health dan Safety Executif ( HSE ) yang bertugas dalam pengawasan hukum. K3dibagi menjadi beberapa spesialisasi atau bagian misalnya: Hiperkes (Higiene Perusahaan dan Kesehatan) kerja bagi Dokter Perusahaan; Pengawasan Instalasi; Instalasi Penyalur Petir;  Pesawat Tenaga dan Produksi serta lainnya.Setiap bagian lokal atau unit kerjainspektur dapat mengunjungi tempat-tempat karyawan bekerja. Para pengawas K3 telah diberi kekuasaan luas untuk membantu mereka dalam mentaati hukum. Mereka dapat melakukan inspeksi :

Gambar 3: Kecelakaan Kerja

  • Memasuki ruang atau wilayah kerja tanpa pemberitahuan dan melakukan
  • investigasi, mengambil sampel pengukuran  atau foto;
  • Membawabukti atau informasi dari masyarakat;
  • Memeriksa catatan dan dokumen yang diperlukan oleh undang-undang;
  • Memberikan informasi dan saran kepada karyawan atau majikan tentang keselamatan di tempat kerja
  • Menuntut pembongkaran atau pemusnahan peralatan apapun, materiatau keberadaan apasajayang mungkin dapat menyebabkan cedera serius;
  • Mengeluarkan pernyataan yang akan meminta perusahaan untuk melakukan perbaikan, dalamjangka waktu tertentu pada pelanggaranringandari undang-undang;
  • Mengeluarkan pemberitahuan larangan, meminta perusahaan untuk menghentikan segera setiap kegiatan yang mungkin mengakibatkan cedera serius, sampai situasi tersebut diperbaiki.

 Menuntut semua orang yang gagal mematuhi tugas keselamatan mereka, termasuk pengusaha, karyawan, disainer, produsen, pemasok dan wiraswastawan.mempunyai empat hal penting yang perlu diperhatiakan, yaitu:

  1. Pengenalan dalam upaya-upaya untuk mempengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja.
  2. Tata-tertib dalam penunjukan penasehat keselamatan kerja
  3. Tata-tertib dalam penunjukan komandan kebakaran dan kondisi darurat
  4. Penyediaan informasi keselamatan dan kesehatan kerja berkaitan dengan perwakilan yang dipersyaratkan oleh beberapa persyaratan atau hukum.

Implikasi kesehatan dan keselamatan kerja pada pengenalan teknologi baru

  • Hak berupa penyediaan informasi yang memadai. Untuk memudahkan para utusan perwakilan keselamatan dalam melaksanakan funsinya
  • Tentang kecelakaan yang terjadi namun bukan informasi yang membeberkan data individu. Berupa masalah yang dapat dilanjutkan ke pengadilan, Melanggar keamanan nasional dan Melanggar larangan yang ditetapkan oleh hokum.
  • Hak alokasi waktu kerja khusus diberikan untuk: Menerima pelatihandan Melaksanakan fungsi perwakilan.
  • Fungsi perwakilan keselamatan kerja adalah: Memberikan gambaran kepada perusahaan tentang adanya bahaya dan insiden yang dapat mempengaruhi kesehatan dan keselamatan kerja. Bersama majikan mengangkat, masalah-masalah lain yang berpengaruh terhadap keselamtan dan kesehatan kerja.
  • Menjadi penghubung dan menerima informasi dari inspektur HSE.
  • Menyelidiki potensi bahaya dan kecelakaan.

Semua tempat kerja yang mempekerjakan lima orang atau lebih harus menampilkan jenis poster seperti contoh yang ditunjukkan pada Gambar 1.2. Untuk meningkatkan promosi langkah-langkah keselamatan dan kesehatan kerja yang memadahi, maka perusahaan harus berkomunikasi dengan perwakilan karyawan bidang keselamatan.

Perusahaan yang mempekerjakan lebih dari 20 orang biasanya dapat dibentuk komite keselamatan yang terdiri dari petugas keamanan dan perwakilan karyawan selanjutnya biasanya dinominasikan sebagai serikat pekerja. Petugas keamanan adalah biasanya bekerja waktu penuh dalam peran tersebut

Perusahaan kecil mungkin juga akan mempekerjakan pengawas keamanannya, walaupun sudah memiliki tugas lain dalam perusahaan atau sebagai langkah alternatif mereka bisa bergabung dengan  kelompok petugas keselamatan“safety group.

Gambar 4: Luka Bakar

Perusahaan kecil mungkin juga akan mempekerjakan pengawas keamanannya, walaupun sudah memiliki tugas lain dalam perusahaan atau sebagai langkah alternatif mereka bisa bergabung dengan  kelompok petugas keselamatan“safety group“. Kelompok keselamatan ini kemudian dapat berbagi biaya (kontribusi) atau pengetahuan (sharing) untuk mempekerjakan seorang penasehat keselamatan atau safety officer. Anggota kelompok seyogyanya saling mengunjungi antar perusahaan secara bergiliran. Seorang karyawan yang menengarahi atau dapat membaca situasi akan terjadinya mara-bahaya harus secepatnya melaporkan kepada petugas perwakilan keamanan setempat. Maka safety group  harus menyampaikaninformasi situasi bahaya pada komite keselamatan untuk selanjutnya akan diambil tindakan pencegahan atau penyelamatan. Ini berarti merupakan masukan positip untuk dapat selalu mengubah (mengembangkan) kebijakan perusahaan atau prosedur dalam membuat modifikasi terhadap perangkat K3. Semua tindakan komite keselamatan harus didokumentasikan dan dicatat sebagai bukti bahwa perusahaan menanggapi serius tentang K3.

Berikut tugas komite keselamatan kerja:

  • Bekerja berdasarkan agenda, harus di distribusikan paling tidak dalam pertemuan komite seminggu sekali.
  • Memiliki prosedur baku untuk mengangkat permasalahan yaitu sebelum. pengawas turun tangan menyelesaikan atau  tidak dan belum ada hasilnya.
  • Mengembangakan sistem untuk mengukur keefektifan dengan:

1). Mencatat semua masalah yang di angkat.

2). Menemukan masalah baru yang dapat diangkat pada setiap pertemuan.

3). Mencatat dalam jumlah pekerjaan yang di selesaikan sejak pertemuan terakhir.

  • Meminta penjelasan atas penundaan penyelesaian pekerjaan.
  • Menyetujui program-program inspeksi dan meminta laporannya

 

Keamanan listrik, aturan kualitas dan kontinuitas

 

Keamanan listrik, aturan kualitas dan kontinuitas diterbitkan oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Instansi ini adalah membuat peraturan perundang-undangan yang diberlakukan sebagai hukum negara. Perundang-undangan dirancang untuk memastikan pasokan energi listrik yang tepat dan aman mulai pembangkitan hingga pada titik terminal beban milik konsumen. Pernyataan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan undang-undang keselamatan kerja tahun 1970.

Gambar 5:Bagaimana kena strum 

Tujuan perusahaan

Langkah-langkah keselamatan dan kesehatan adalah tujuan bersama bagi semua unsur manajemen perusahaan dan karyawan di semua tingkatan. Perusahaan akan melaksanakan langkah keselamatan dan kesehatan dengan harapan tidak akan menyebabkan risiko bagi anggotanya, karyawan atau masyarakat umum. Untuk tujuan ini perusahaan mengambil kebijakan bahwa tanggung jawab untuk keselamatan dan kesehatan di tempat kerja akan disampaikan pada seluruh karyawan dengan cara seperti yang diuraikan di bawah.

 Tanggung jawab perusahaan

Perusahaan bertanggung jawab untuk mendukung setiap usaha dalam memenuhi kewajiban hukum dibawah keselamatan dan kesehatan kerja dengan  memastikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja karyawan serta untuk masyarakat umum. Perhatian khusus akan diberlakukan ketentuan sebagai berikut :

atan

 

  • Peralatan pabrik dan sistem kerjanya yang aman.
  • Aman untuk pengaturan penggunaan, penanganan, penyimpanan dan transportasi  bahan dan zat.
  • Informasi yang memadahi, instruksi, pelatihan dan pengawasan untuk memungkinkan semua karyawan diberikan kontribusi positif kepada mereka sendiri tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di tempat kerja dan untuk menghindari bahaya.
  • Tempat pekerjaan aman dan akses kerja juga aman.
  • Sebuah lingkungan kerja yang sehat.
  • Layanan kesejahteraan yang memadahi.
  • Cat: Harus dibuat acuan manual keselamatan yang tepat .

 

 Tanggung jawab karyawan

Setiap karyawan bertanggung jawab untuk memastikan bahwa pekerjaan yang dilakukan dirinya sendiri dengan cara aman, oleh anggota lain serta masyarakat umum tetap mematuhi nasihat dan petunjuk tentang keselamatan dan kesehatan kerja. Jika setiap karyawan menganggap bahwa bahaya keselamatan dan kesehatan ada didepannya maka tanggung jawab lain yaitu untuk melaporkan hal tersebut keatasannya atau melalui perwakilan atau orang lain bila memungkinkan.

 Tanggung jawab manajemen dan pengawas

Manajemen dan pengawas atau supervisor disemua tingkatan diharapkan menjadi teladan dalam berperilaku aman dengan tetap menjaga kelangsungan keselamatan karyawan, khususnya dengan melakukan cara:

  • Membagi pengetahuan tentang peraturan keselamatan dan kesehatan serta
  • petunjuk praktis yang diperlukan untuk menjamin keselamatan karyawan di tempatkerja.
  • Memperkenalkan peraturan pada karyawan dengan petunjuk praktek tersebut dan memberikan bimbingan tentang hal-hal keselamatan,
  • memastikan bahwa karyawan bertindak atas instruksi dan saran yang diberikan. Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.I. No. Per.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. General manager atau  yang setara bertanggung jawab atas perusahaan untuk perbaikan atau pelaporan dari setiap bahaya keamanan yang menjadi perhatian mereka.

 

Konsultasi bersama

Konsultasi bersama mengenai masalah kesehatan dan keselamatan adalah penting. Perusahaan akan memahami stafnya, atau wakil mereka, untuk suatu pengaturan yang memadahi dalam konsultasi bersama melalui langkah-langkah upaya untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan di tempat kerja  dan membuat serta memelihara aturan yang dapat memuaskan bagi partisipan atau karyawan yang terlibat dalam pengawasan tindakan tersebut.

Masing-masing perwakilan perusahaan awalnya dianggap sebagai fungsi dan peran Perwakilan Keselamatan yang digambarkan dalam Kesehatan dan Keselamatan Kerja Undang-Undang.

Gambar 6: Konsultasi bersama 

Wakil-wakil saling berbagi tanggung jawab manajerial untuk dapat memastikan kesehatan dan keselamatan anggota mereka dan bertanggung jawab untuk menjadi perhatian manajemen tentang segala kekurangan di perusahaan terutama tentang masalah kesehatan dan pengaturan keamanan. Perusahaan sejauh ini sudah cukup praktis memberikan perwakilan dengan fasilitas dan pelatihan agar mereka dapat melaksanakan tugas ini.

 Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Undang-undang tahun 1970 tentang K3 ditindak lanjuti Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.I. No. Per.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Gambar 7: K3 menjadi tanggung jawab kita bersama 

Tanggung jawab akhirnya berpihak pada direksi dan manajer perusahaan jika mempekerjakan lebih dari lima karyawan dan dapat juga menyelenggarakan secara pribadi tetapi tetapbertanggung jawab atas kegagalan dalam mengontrol keselamatan dan kesehatan kerjanya.Manajemen keselamatan dan kesehatan kerja sesuai peraturan tahun 1996 diatas memberitahu kita bahwa manajemen harus memeriksa tempat kerja secara sistematis, prosedur kegiatan dan manajemen keselamatan yang pembentukannya melalui proses asesmen risiko. Sebuah catatan sangat menentukan semua penilaian risiko oleh karena itu harus disimpan di tempat yang aman dan disiapkan untuk inspektur HSE, diperlukan sebagai laporan. Informasi ini harus dikomunikasikan setiap saat kepada seluruh staf yang selalu berubah. Jika dalam pola perilaku kerja perlu keteladanan maka untuk kepentingan keamanan direkomendasikan catatan penilaian resiko diletakkan di tempat kerja. 

Risiko yang mungkin memerlukan penilaian formal didunia industri elektroteknik, diantaranya: 

Gambar  8: Bahaya ketinggian 

1). Bekerja di ketinggian.

2). Menggunakan alat-alat listrik.

3). Benda yang jatuh.

4). Bekerja ditempat terbatas.

5). Listrik dan cedera pribadi.

6). Bekerja dengan peralatan atau mesin tetap hidup

7). Menggunakan peralatan menyewa

8). Penanganan manual, mendorong,  menarik dan mengangkat.

9). Kondisi lapangan, benda jatuh, debu, cuaca, air, kecelakaan dan cedera.

Dan risiko lain saat bekerja dengan barang dengan spesifikasi khusus maupun tempat aktivitas bekerjanya.

Pengawasan zat berbahaya terhadapkesehatan

Peraturan Control of Substances Hazardous to Health (COSHH) diterbitkan pada tahun 1988 dan dipaksakan diterapkan pada Oktober 1989. Modifikasi dan peninjauan kembali diberlakukan pada tahun 1994 dengan beberapa perbaikan, dan modifikasi terbaru tahun 2002.COSHH merupakan kontrol yang menguntungkan bagi masyarakat,  adanya sikap berbahaya di tempat kerja. Peraturan mensyaratkan perusahaan harus menilai resiko kesehatan bila bekerja dengan bahan berbahaya.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2001 tentang pengelolaan bahan berbahaya dan beracun adalah petunjuk bagi semua karyawan untuk dipahami dan dilakukan.Pelatihan teknis mempergunakan Alat Pelindung Diri akan mengurangi risiko dan memberikan perlindungan pribadi sehingga karyawan tidak akan membahayakan diri sendiri atau orang lain melalui paparan zat yang berbahaya. Karyawan juga harus tahu bagaimana tentang prosedur pembersihan, penyimpanan dan pembuangan yang aman dan prosedur darurat apa yang harus diikuti. Informasi yang diperlukan harus tersedia untuk siapa saja yang berusaha menerapkan K3 serta bekerja dengan zat berbahaya.

 Zat-zat berbahaya meliputi:

  • Zat yang mengeluarkan asap akan menyebabkan sakit kepala atau pernapasan terganggu.
  • Perbuatan manusia yang dapat menyebabkan gangguan kulit atau mata iritasi ( misalnya:atap, isolasi).
  • Asam yang menyebabkan kulit terbakar dan iritasi pernapasan (misalnya baterai mobil yang mengandung asam sulfat encer).
  • Pelarut menyebabkan kulit dan pernapasan Iritasi ( pelarut yang kuat digunakan untuk semen bersama-sama saluran pipa PVC dan tabung).

Asap dan gas yang menyebabkan sesak napas ( pembakaran PVC  mengeluarkan racun asap).

Semen dan debu kayu menyebabkan masalah pernapasan dan mata iritasi

Asbes, meskipun pasokan dan penggunaannya paling mudah tapi berbahaya dan sekarang dilarang

Dalam amandemen terbaru mereka, COSHH fokus hanya untuk memberikan nasehat dan bimbingan serta membangun pemahaman agar para kontraktor memperhatikankeamanan dan mengontrol penggunaan produk asbes.  Dimana perusahaanmenyediakan APD relevan,maka karyawan berkewajiban menggunakan dan menjaga keselamatan diri dan juga lingkungannya

Personal Protective Equipment (PPE) atau Alat Pelindung Diri (APD)

APD adalah semua peralatan yang dirancang untuk dipakai, atau dimiliki untuk melindungi terhadap resiko keselamatan dan kesehatan kerja. Termasuk sebagian besar jenis pakaian pelindung, kacamata pelindung mata, kaki dan kepala, pelindung rambut, jaket dan pakaian dengan visibilitas tinggi. Sesuai regulasi K3, pengusaha harus menyediakan APD gratis dari biaya apapun dan karyawan harus memakainya sesuai dengan prosedur dan tepat. Tanda-tanda peringatan keamanan adalah tanda peringatan dari beberapa jenis APD yang digunakan di tempat khusus.Bagian tubuh yang rentan membutuhkan perlindungan diantaranya adalah kepala, mata, telinga,paru-paru, dada,tangan dan kaki dan sebagai tambahanyang perlu dipertimbangkan yaitu perlindungan kemungkinan jatuh

Gambar 9.: Beberapa APD 

 

Kesimpulan :

  1. Diharapkan semua lembaga diklat atau lembaga yang mengerahkan tenaga kerja aktif melaksanakan K3 secara terus menerus dan terprogram
  2. Direksi perusahaan atau pimpinan lembaga berkewajiban memfasilitasi peralatan dan sosialisasi K3 pada semua karyawannya termasuk tenaga kerja yang baru masuk
  3. Sekolah terutama yang berafiliasi bidang pendidikan kejuruan

 

Referensi :

  1. Willem Maes, Marine Electrical Knowledge, Antwerp Maritim Academy, Belgia 2013.
  2. Trevor Linsley, Basic Electrical Installation Work, Fifth Edition, Elsevier Ltd. 2008.
  3. Brian Scaddan, Electrical Installation Work,6th ed. Elsevier Ltd.,Italy, 2008

 

 

 

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG