Evaluasi Penyelenggaraan Diklat Di Pusat Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidikan Dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Malang Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)

Evaluasi Penyelenggaraan Diklat Di Pusat Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidikan Dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Malang Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)

 Eko Subiyantoro 

Widyaiswara Muda Departemen Teknologi Informasi PPPPTK BOE Malang

ABSTRAK

Dalam upaya peningkatan SDM pada suatu organisasi perlu adanya sebuah kegiatan diklat, untuk mengetahui apakah kegiatan diklat telah berhasil perlu adanya sebuah evaluasi. Dalam proses penilaian hasil evaluasi penyelenggaraan diklat yang dilakukan secara manual memiliki banyak kendala, antara lain kesalahan pengisian data dimana dengan banyaknya data yang diinputkan petugas bisa saja salah menginputkan data, banyaknya waktu yang dibutuhkan dalam proses pengumpulan data maupun proses penginputan data.

Dengan kendala yang dihadapi, hasil evaluasi diklat yang didapatkan menjadi kurang efektif. Oleh karena itu dibuatlah sebuah sistem komputasi berbasis website untuk mebantu proses pengolahan evaluasi diklat, serta menggunakan sistem pendukung keputusan yang menggunakan metode analytical hierarchy process untuk menentukan hasil evaluasi diklat.

Dengan menggunakan metode ahp ini akan dilakukan pembobotan pada setiap kriteria dan alternatif untuk melakukan penilaian hasil evaluasi diklat. Data kriteria diperoleh dari unsur penilaian yang ada pada kuisioner evaluasi yang dilakukan secara manual. Pada pengujian dengan 3 sampel data diklat 95% hasil yang diperoleh pada penilaian setiap kriteria adalah sama dan 5% berbeda, tetapi untuk hasil keseluruhan evaluasi diklat 100% memiliki nilai yang sama.

 

Kata Kunci:Evaluasi, Diklat, Analytical hierarchy process, Kriteria, Alternatif

 

 1.     Pendahuluan

Salah satu upaya yang dilakukan suatu organisasi dalam meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki oleh organisasi adalah melakukan suatu pendidikan dan pelatihan (diklat). Karena itu, diklat mempunyai andil yang penting dalam kesuksesan suatu organisasi. Salah satu lembaga yang mengadakan diklat adalah Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK Malang). Untuk mengetahui sejauh mana suatu program diklat berhasil atau membuat suatu perubahan diperlukan suatu evaluasi terhadap kegiatan diklat yang telah dilaksanakan.

Untuk mengevaluasi hasil diklat yang telah dilaksanakan di PPPPTK Malang dilakukan dengan menyebarkan kuisioner kepada para peserta diklat, kemudian data yang telah terkumpul akan diisikan secara manual satu per satu ke dalam Microsoft Excel kemudian data tersebut dihitung untuk mencari hasil evaluasinya. Proses yang dilakukan secara manual ini memiliki banyak kendala yang mungkin terjadi, antara lain kesalahan dalam mengisikan data dimana dengan banyaknya data yang disikankan petugas dapat saja salah mengisikankan data, banyaknya waktu yang dibutuhkan dalam proses pengumpulan data maupun proses pengisian data, serta mengeluarkan banyak biaya dalam proses pencetakan lembar kuisioner. Dengan banyaknya kendala yang dihadapi, hasil evaluasi diklat yang didapatkan menjadi kurang efektif. 

Oleh karena itu perlu dibangun sebuah sistem yang dapat memudahkan petugas dalam melakukan proses pengolahan data evaluasi diklat berdasarkan penilaian dari peserta diklat. Untuk memudahkan memperoleh hasil evaluasi maka digunakan sistem pendukung keputusan atau decision support system, dimana SPK adalah suatu bentuk informasi manajemen yang secara khusus dibuat untuk mendukung perencana stakeholders dalam pengambilan keputusan. Dapat juga dikatakan sebagai sistem komputer yang mengolah data menjadi informasi untuk mengambil keputusan dari masalah semi–terstruktur yang spesifik.

Pada sistem pendukung keputusan yang menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) ini masing-masing kriteria dalam hal ini adalah unsur/faktor penilaian dan alternatif  dalam hal ini adalah penialian terhadap unsur/faktor (Sangat Kurang, Kurang, Cukup, Baik, Sangat Baik) dibandingkan satu dengan yang lainnya sehingga memberikan keluaran nilai intensitas prioritas yang menghasilkan suatu sistem yang memberikan penilaian terhadap evaluasi diklat. Dengan memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang saat ini, salah satunya adalah dengan menggunakan teknologi yang berbasis website, kita dapat membuat sebuah sistem yang terstruktur serta mudah digunakan dan dapat di akses dimana saja. Dengan sistem yang berbasis website ini dapat mempermudah peserta dalam pengisian kuisioner evaluasi diklat secara online, kemudian petugas bisa langsung memperoleh hasil evaluasi diklat dari kuisioner yang diisikan oleh peserta.

 

 2.     Tinjauan Pustaka

 2.1Diklat PPPPTK Malang

Pusat pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan/Vocational Education Development Center (PPPPTK) Malang terdiri atas sembilan departemen diantaranya ialah departemen bangunan, teknik pengerjaan logam, mesin & cnc, listrik & elektro, teknologi informasi, otomotif, ototronik, edukasi dan PLH (Pendidikan Lingkungan Hidup). PPPPTK Malang memiliki beberapa program seperti pendidikan dan pelatihan untuk guru-guru SMK serta pendidikan dan pelatihan peserta diklat maupun kursus sesuai dengan bidang kompetensi keahliannya. Untuk lembaga pelatihan pada setiap kompetensi, PPPPTK Malang menggunakan kurikulum diklat dimana peserta pelatihan beserta para pendidik pelatihan berpedoman terhadap kompetensi sesuai dengan jobsheet plan masing-masing, pembagian jobsheet plan berbeda sesuai dengan kesepakatan penyusunan program keahlian bidang kurikulum.

Kurikulum diklat termasuk dalam teknologi pendidikan yang konsepnya sama dengan pendidikan klasik, yaitu menekankan isi kurikulum tetapi diarahkan bukan pada pemeliharaan dan pengawetan ilmu tersebut tetapi pada penguasaan kompetensi. Penyusunan jadwal pendidikan dan pelatihan para peserta program di PPPPTK Malang disesuaikan dengan materi kompetensi diklat teori maupun materi kompetensi diklat praktik yaitu satu minggu untuk teori dan satu minggu untuk praktik. Dilihat dari jadwal program pelatihannya, penyusunan program pelatihan tersebut sejalan dengan ciri khas sebuah kurikulum teknologis dimana pembelajaran sering dipandang sebagai sebuah proses mereaksi terhadap stimulus yang diberikan ke para peserta oleh karena tujuan-tujuan pengajaran telah ditentukan sebelumnya. Baik tujuan, pelaksanaan, pengetahuan tentang hasil, organisasi bahan ajar maupun evaluasi ditekankan efisiensi dan efektivitasnya yang berorientasi untuk pencapaian kompetensi.

Peserta program diklat di (PPPPTK) Malang akan memperoleh dua sertifikat setelah menyelesaikan studi sesuai keahlian tertentu dibidang mereka diantaranya sertifikat pemenuhan pelatihan program diklat dan sertifikat pemenuhan kompetensi. Keberhasilan belajar peserta ditentukan oleh kompetensi individu mereka juga terhadap sikap masing-masing peserta diklat saat menjalankan proses diklat. Dilihat dari substansinya secara garis besar atas kesesuaian model konsep kurikulum, kurikulum di (PPPPTK) Malang sesuai dengan standar penerapan kompetensi dalam bidang kompetensi kurikulum kejuruan walaupun konsep kurikulum teknologis yang diterapkan memiliki beberapa kekurangan selain kelebihannya untuk membentuk peserta yang memiliki kompetensi khusus. Kelemahan konsep kurikulum teknologis terletak jika bahan ajar yang disampaikan terlalu kompleks atau membutuhkan penguasaan tingkat tinggi yang mencakup analisis, sintesis, dan evaluasi juga bahan ajar yang bersifat efektif.

2.2Evaluasi Program

Evaluasi program adalah pengumpulan informasi secara hati-hati mengenai suatu program atau beberapa aspek program untuk membuat keputusan yang perlu mengenai program. Evaluasi program dapat memasukkan beberapa jenis evaluasi, minimal 35 jenis evaluasi yang berbeda, seperti untuk penilaian kebutuhan, akreditasi, analisa biaya/manfaat, efektivitas, efisiensi, formatif, sumatif, tujuan, proses, hasil, dan sebagainya. Jenis evaluasi yang dijalankan untuk memperbaiki program tergantung pada apa yang dibutuhkan untuk mempelajari program tersebut (Bastian, 2007:59).Dalam membuat simulasi mata pelajaran perencanaan pelayaran kapal laut berbasis mobile maka di perlukan tiga komponen penting dala actionScritp yaitu :

a.       Event(Kejadian): Merupakan peristwa yang terjadi untuk memicu sebuah aksi pada sebuah objek

b.      Action: Merupakan aksi atau kerja yang dekenakan atau diberikan pada suatu objek

c.       Target: Merupakan objek yang dikenai oleh aksi

2.3Sistem Pendukung Keputusan (SPK)

Sistem pendukung keputusan adalah sistem berbasis komputer yang membantu para pengambil keputusan mengatasi berbagai masalah melalui interaksi langsung dengan sejumlah database dan perangkat analitik. Tujuan dari sistem adalah untuk menyimpan data dan mengubahnya ke informasi yang terorganisir yang dapat diakses dengan mudah, sehingga keputusan–keputusan yang diambil dapat dilakukan dengan cepat, akurat, dan murah.

Sistem pendukung keputusan ini beroperasi dalam konteks sistem informasi global untuk melayani unit bisnis yang spesifik dalam suatu perusahaan. Sistem pendukung keputusan tidak terlepas dari sistem informasi global yang lebih komprehensif. Sistem pendukung keputusan yang berhasil harus mempercepat aliran informasi ke pengambil keputusan. Data yang disimpan harus berkesimbangunan secara terjadwal dan dapat diakses dengan mudah (Wibisono, 2003:129).

Dari definisi tersebut, dapat diindikasikan empat karakteristik utama dari SPK, yaitu :

a.       SPK menggabungkan data dan model menjadi satu bagian.

b.      SPK di rancang untuk membantu para manajer (pengambil keputusan) dalam proses pengambilan keputusan dari masalah yang bersifat semi structural (atau tidak terstruktur).

c.       SPK lebih cenderung dipandang sebagai penunjang penilaian manajer dan sama sekali bukan untuk menggantikannnya.

d.      Teknik SPK dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas dari pengambil keputusan.

 2.4AHP

AHP dikembangkan oleh Dr. Thomas L. Saaty dari Wharton School Of Business pada tahun 1970-an untuk mengorganisasikan informasi dan judgment dalam memilih alternatif yang paling disukai (Saaty, 1983). Dengan menggunakan AHP, suatu persoalan yang akan dipecahkan dalam suatu kerangka berfikir yang terorganisir, sehingga memungkinkan dapat diekspresikan untuk mengambil keputusan yang efektif atas persoalan tersebut. Pesoalan yang kompleks dapat disederhanakan dan dipercepat proses pengambilan keputusannya.

Prinsip kerja AHP adalah penyederhanaan suatu persoalan kompleks yang tidak terstruktur, stratejik, dan dinamik menjadi bagian-bagiannya, serta menata dalam suatu herarki. Kemudian tingkat kepentingan suatu variabel diberi nilai numerik secara subjektif tentang arti penting variabel tersebut secara relatif disbanding dengan variabel yang lain. Dari berbagai pertimbangan tersebut kemudian dilakukan sintesa untuk menetapkan variabel yang memiliki prioritas tinggi dan berperan untuk mempengaruhi hasil pada sistem tersebut.

Secara grafis, persolan keputusan AHP dapat dikontruksikan sebagai diagram bertingkat, yang dimulai dengan goal/sasaran, lalu kriteria level pertama, subkriteria dan akhirnya alternative.

AHP memungkinkan pengguna untuk memberikan nilai bobot relatif dari suatu kriteria majemuk (atau alternative majemuk terhadap suatu kriteria) secara intuitif, yaitu dengan melakukan perbandingan berpasangan (pairwise comparisons). Dr. Thomas L. Saaty, pembuat AHP, kemudian menentukan cara yang konsisten untuk mengubah perbandingan berpasangan/pairwise, menjadi satu himpunan bilangan yang merepresentasikan prioritas relatif dari setiap kriteria dan alternatif (Marimin, 2004:76).

 

2.5PHP

 

PHP adalah salah satu bahasa pemrograman yang berjalan dalam sebuah webserver dan berfungsi sebagai pengolah data pada sebuah server. Untuk membuat website yang dinamik dan mudah untuk diupdate setiap saat dari browser, dibutuhkan sebuah program yang mampu mengolah data dari komputer client atau dari komputer server itu sendiri, dengan menggunakan program PHP, sebuat website akan lebih interaktif dan dinamis (Madiun, 2011 : 216).

2.6MySQL

 MySQL (My Structure Query Language) atau yang biasa dibaca “mai-se-kuel” adalah sebuah program pembuat database yang bersifat open source dan berjalan di semua platform baik Windows maupun Linux. Selain itu, MySQL juga merupakan program pengakses database yang bersifat jaringan sehingga dapat digunakan untuk aplikasi Multi User (Banyak Pengguna).

Sebagai sebuah program penghasil database, MySQL tidak dapat berjalan sendiri tanpa adanya sebuah aplikasi lain (interface). Oleh karena itu harus ada software pendukung antara lain PHP (Paper Hipertext Preposesor), Visual Delphi, Visual Basic, Cold Fusion, dan lain-lain.

MySQL memiliki layer utama seperti layer DOS yaitu memiliki prompt utama yang disebut mysql, tetapi sekarang ada suatu program dump yang dibuat seperti web berjalan di bawah server database yang disebut PhpMyAdmin. Untuk memprogram database lewat prompt harus paham dan hafal mengenai perintah query tetapi dengan PhpMyAdmin pengaksesan akan terasa singkat dan lebih mudah karena sudah ada grafik interface yang memudahkan dalam pembuatan database serta pengaksesan perintah-perintah Query (Articlecenter.org, 2011).

 

2.7ERD

 Entity Relationship Diagram (ERD) digunakan untuk mengidentifikasi data yang akan diambil, disimpan, dan dipanggil kembali untuk keperluan-keperluan tertentu dalam mendukung kegiatan yang dilakukan oleh organisasi. ERD juga digunakan untuk mengidentifikasi asal data yang dibutuhkan dan dilaporkan. Untuk mempermudah dalam perancangan database, maka digunakan ERD. ERD diutamakan untuk pemodelan dari desain konseptual. ERD menggambarkan struktur dan keterkaitan tabel-tabel data yang menyusun database secara detail. ERD merupakan representasi data sebagai entitas, atribut, dan relasi.

Sifat hubungan atau relasi antarentitas dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu hubungan Satu-ke-Satu (One-to-One Relationship), Satu-ke-Banyak (One-to-Many Relationship) dan Banyak-ke-Banyak (Many-to-Many Relationship). One-to-One relationship akan terjadi jika setiap entitas dalam suatu himpunan entitas hanya berhubungan dengan satu entitas pada himpunan entitas lain, san sebaliknya. One-to-Many relationship terjadi jika setiap entitas dalam suatu himpunan entitas dapat berhubungan dengan beberapa entitas pada himpunanentitas lain, tetapi tidak sebaliknya. Many-to-Many relationship terjadi jika setiap entitas dalam suatu himpunan entitas dapat berhubungan dengan beberapa entitas pada himpunan entitas lain, demikian juga sebaliknya (Marimin, Hendri Tanjung, & Haryo Prabowo, 2006 : 111).

2.8Flowchart

 

Flowchart merupakan respresentasi secara grafik dari suatu algoritma atau prosedur untuk menyelesaikan suatu masalah. Dengan menggunakan flowchart akan memudahkan kita untuk melakukan pengecekan bagian-bagian yang terlupakan dalam analisis masalah. Disamping itu flowchart juga berguna sebagai fasilitas untuk berkomunikasi antara pemrogram yang bekerja dalam tim suatu proyek. Flowchart ada dua macam, yaitu flowchart sistem merupakan flowchart yang menggambarkan suatu sistem peralatan komputer yang digunakan dalam proses pengolahan data dan perhubungan antara peralatan tersebut. Flowchart sistem digunakan untuk menggambarkan urutan langkah dalam memecahkan masalah, tetapi hanya berisi prosedur dalam sistem yang dibentuk, sedangkan flowchart program merupakan flowchart yang menggambarkan urutan logika dari suatu prosedur pemecahan masalah (Utami dan Sukrisno, 2005 : 24).

 

3.     Rancangan Sistem

3.1Diagram Blok

 Berikut Diagram blok dari sistem

 

 

3.2Perhitungan Metode AHP

Pada tahap perhitung metode AHP ini akan dilakukan pairwise comparison (matriks perbandingan berpasangan) untuk menghasilkan bobot relative antar kriteria dan alternatif kemudian melakukan pengecekan apakah penilaian dalam melakukan perbandingan berpasangan sudah konsisten atau tidak, bobot/nilai yang didapat dari hasil perbandingan inilah yang akan menjadi dasar untuk melakukan penilaian hasil evaluasi diklat. Adapun tahapan-tahapan perhitungan metode AHP sebagai berikut :

  1. Memberikan bobot nilai perbandingan berpasangan

 

 

 

Tabel 1 Bobot nilai alternatif

Kode Alternatif

Bobot Nilai

Kode Alternatif

ALT1

(1) Mendekati sedikit lebih penting dari

ALT2

ALT1

(2) Sedikit lebih penting dari

ALT3

ALT1

(3) Mendekati lebih penting dari

ALT4

ALT1

(4) Lebih penting dari

ALT5

ALT2

(3) Mendekati sedikit lebih penting dari

ALT3

ALT2

(4) Sedikit lebih penting dari

ALT4

ALT2

(5) Mendekati lebih penting dari

ALT5

ALT3

(3) Mendekati sedikit lebih penting dari

ALT4

ALT3

(4) Sedikit lebih penting dari

ALT5

ALT4

(3) Mendekati sedikit lebih penting dari

ALT5

 

  1. Membuat matriks perbandingan berpasangan

 

Tabel 2 Matriks alternatif

 

ALT1

ALT2

ALT3

ALT4

ALT5

ALT1

1

1

2

3

4

ALT2

1

1

3

4

5

ALT3

0.5

0.333

1

3

4

ALT4

0.333

0.25

0.333

1

3

ALT5

0.25

0.2

0.25

0.333

1

Jumlah

3.0833

2.7833

6.5833

11.33

17

 

            Pada data tabel diatas setiap perbandingan antar kriteria/alternatif yang sama akan bernilai 1.

 

 

  1. Matriks Nilai Vektor Prioritas/Vektor Eigen

 

Tabel 3 Matriks nilai alternatif

 

ALT1

ALT2

ALT3

ALT4

ALT5

Jumlah

Eigen Vektor

ALT1

0.3243

0.3592

0.3037

0.2647

0.2352

1.4874

0.2974

ALT2

0.3243

0.3592

0.4556

0.3529

0.2941

1.7863

0.3572

ALT3

0.1621

0.1197

0.1518

0.2647

0.2352

0.9338

0.1867

ALT4

0.1081

0.0898

0.0506

0.0882

0.1764

0.5132

0.1026

ALT5

0.0810

0.0718

0.0379

0.0294

0.0588

0.2791

0.0558

 

Pada tabel diatas merupakan pembagian tiap sel dari nilai perbandingan dengan jumlah kolom pada tabel matrik perbandingan berpasangan, untuk kolom jumlah didapatkan dengan menjumlahkan setiap baris pada tabel, sedangkan kolom vektor eigen didapatkan dengan pembagian kolom jumlah dengan banyaknya data kriteria/alternatif.

 

 

 

  1. Menghitung konsistensi nilai Vektor Eigen

Seteleh mendapatkan hasil Vektor Eigen pada masing-masing tabel kriteria/alternatif maka dilakukan perkalian antara kolom jumlah pada tabel matriks perbandingan dengan kolom vektor eigen kemudian dilakukan penjumlahan dari hasil perkalian untuk mendapatkan lamda maksimal (λmaks). Setelah itu dilakukan perhitungan untuk mencari apakah nilai yang didapat sudah konsisten.

Perhitungan nilai konsistensi alternatif

λmaks = 5.2536

n (jumlah alternatif) = 5

CI = ((λmaks-n)/(n-1)) = ((5.0905-5)/(5-1)) = 0.0634

CR = (CI/IR) = 0.0634/1.12 = 0.0566

0.0566 < 0.100, karena nilai CR < 0.100 maka perbandingan berpasangan memiliki konsistensi yang sesuai.

 

 

4.     Hasil dan Pembahasan

 

4.1Pengujian Metode AHP

Pada proses pengujian metode ahp ini, bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan metode ahp terhadap sistem yang dibuat sudah sesuai dengan perhitungan metode ahp secara manual. Untuk pengujian ini akan diambil contoh perhitungan manual pada alternative, kemudian hasilnya akan dibandingkan dengan perhitungan yang dilakukan di dalam sistem yang dibuat.

Berdasarkan perhitungan manual pada data alternatif yang telah dipaparkan pada bab 3, maka diperoleh nilai vektor eigen/bobot nilai dari setiap alternative sebagai berikut :

 

Tabel 4 Nilai Vektor Eigen perhitungan manual

Kode Alternatif

Nilai Vektor Eigen

ALT1

0.4162

ALT2

0.2617

ALT3

0.1611

ALT4

0.0985

ALT5

0.0624

 

Hasil perhitungan data alternatif yang dilakukan oleh sistem adalah sebagai berikut :

 

 

Gambar 2 Nilai vektor eigen perhitungan sistem

Berdasarkan perbandingan yang dilakukan, nilai vektor eigen data alternatif yang dihitung secara manual dan nilai vektor eigen data alternatif yang dilakukan oleh sistem menghasilkan nilai yang sama, sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan perhitungan metode ahp pada sistem sudah benar.

 

4.2Analisa Perbandingan Hasil Evaluasi Antara Manual Dan Sistem

 

Pada analisa ini akan membahas tentang hasil evaluasi diklat yang diperoleh dari evaluasi secara manual dan dengan sistem yang menggunakan metode ahp. Pada analisa ini, contoh yang diambil adalah hasil evaluasi yang telah dilaksanakan sebelumnya, yaitu diklat PLC Aplikasi PT. Bentoel yang diikuti oleh 7 orang peserta.

a.        Hasil Manual

 

 

Gambar 3 Hasil evaluasi manual

b.       Hasil Sistem

 

 

Gambar 4 Hasil evaluasi sistem

 

 

Dari hasil perbandingan antara hasil evaluasi manual dan dengan sistem, hasil yang diperoleh adalah nilai untuk setiap kriteria terdapat beberapa perbedaan anatara hasil manual dan sistem, tetapi untuk hasil keseluruhan nilai yang diperoleh adalah sama.

 

5.     Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian pembuatan aplikasi evaluasi penyelenggaraan diklat di PPPPTK Malang menggunakan metode analytical herarchy process (AHP) berbasis web yaitu :

a.       Pada sistem ini dapat melakukan pengolahan evaluasi diklat, petugas dapat membuat daftar diklat yang akan dievaluasi dan daftar peserta yang akan menilai diklat, kemudian melihat hasil evaluasinya.

b.      Perancangan kriteria diperoleh dari unsur penilaian  penyelenggaraan diklat yang ada pada kuisioner evaluasi diklat sedangkan alternatif diperoleh dari nilai terhadap setiap unsur penilaian, kemudian dilakukan proses perbandingan berpasangan antar setap kriteria dan alternatif. Kemudian dicari nilai bobot prioritas dari setiap komponen yang dijadikan nilai penentu dari evaluasi diklat.

c.       Metode ini dapat diterapkan pada proses pencarian hasil evaluasi, proses perhitungan dari sistem aplikasi ini adalah setiap nilai bobot kriteria akan dikalikan dengan nilai bobot  dari setiap alternatif. Kemudian hasilnya akan dikalikan dengan banyaknya jumlah alternatif yang dipilih oleh peserta, kemudian hasil dari setiap alternatif akan dibandingkan alternatif mana yang memiliki nilai terbesar, maka alternatif itulah yang akan menjadi hasil penilaian dari kriteria penilaian diklat. Berdasarkan perbandingan hasil evaluasi diklat secara manual dan dengan menggunakan aplikasi dengan metode ahp ini menggunakan 3 sampel hasil evaluasi yang telah dilaksanakan di PPPPTK Malang, bahwa 95% hasil penilaian pada setiap kriteria yang diperoleh adalah sama dan 5% berbeda, perbedaan ini terjadi karena adanya perbedaan perhitungan penentuan hasil evaluasi yang dilakukan secara manual dan dengan sistem, tetapi 100% hasil akhir penilaian dari evaluasi diklat yang diperoleh adalah sama.

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Anneahira, 2012. Pengertian Website. (http://www.anneahira.com/pengertian-website.html ,diakses tanggal 22 Desember 2013)

 

Articlecenter.org, 2012. Pengertian mysql. (http://www.articlecenter.org/pengertian-mysql-my-structure-query-language, diakses tanggal 22 Desember 2013)

 

Bastian, Indra. 2007. Akuntansi untuk LSM dan partai politik. Jakarta: PT Penerbit Erlangga.

 

Brigida, 2012. Langkah-langkah metode AHP. (http://informatika.web.id/langkah-langkah-metode-ahp.htm ,diakses tanggal 22 Desember 2013)

 

Camie, 2013. Pengertian Aplikasi. (http://www.mlarik.com/2013/07/pengertian-aplikasi-komputer.html, diakses tanggal 22 Desember 2013,)

 

Madiun, Madcoms. 2011. Dreamweaver CS5 PHP-MySQL untuk Pemula. Mengenal PHP, Tipe Data, Variabel dan Operator. Yogyakarta : C.V Andi Offset (Penerbit Andi).

 

Marimin. 2004. Teknik dan aplikasi pengambilan keputusan kriteria majemuk. Jakarta : Grasindo.

 

Marimin., Hendri Tanjung, & Haryo Prabowo. 2006. Sistem informasi manajemen sumber daya manusia. Jakarta : Grasindo.

 

Ramadhan, Arief. 2005. Seri pelajaran komputer internet dan aplikasinya. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

 

Riadi, Muchlisin. 2012. Pendidikan dan Pelatihan. (http://www.kajianpustaka.com/2012/11/pendidikan-dan-pelatihan.html, diakses tanggal 22 Desember 2013)

 

Siagian, Sondang P. 1992. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Utami, Emi., Sukrisno. 2005. 10 langkah belajar logika dan lagoritma menggunakan bahasa C dan C++ di GNU/Linux. Yogyakarta: CV Andi Offset.

 

Wibisono, Dermawan. 2003. Riset bisnis panduan bagi praktisi dan akademisi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

 

Wijaya. 1990. Administrasi Kepegawaian Suatu Pengantar. Jakarta: CV Rajawali Pers.

 

Yuhefizar. 2008. 10 jam menguasai internet: teknologi dan aplikasinya. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

 

Optimal Power Flow (OPF) Menggunakan Jaringan Saraf Tiruan

OPTIMAL  POWER  FLOW ( OPF  )

MENGGUNAKAN  JEJARING  SYARAF  TIRUAN

 

 Joko  Pitono 

Widyaiswara Madya, PPPPTK BOE - Malang 

Jl.Teluk Mandar Arjosari Tromol Pos 5 Malang 65102 Telp. 0341 491239

Email : j_pitono@yahoo.com

 

 Abstrak

 Dua metoda yakni Lagrange Relaxation untuk Unit Commitment dan Linear Programming Optimal Power Flow( LP OPF )  untuk Economic Dispatch telah digunakan secara luas sebagai simulation tools bagi para peneliti maupun para pendidik dalam memecahkan masalah OPF secara off-line.  Kelemahan metoda ini adalah tidak mampu beradaptasi secara on-line dengan perubahan beban.  Paper ini menyajikan kombinasi keduanya dengan Jejaring Syaraf Tiruan ( JST )  untuk memperoleh solusi terbaik dalam memecahkan masalah OPF agar dapat digunakan secara on-line. Obyek penelitian memanfaatkan Standard IEEE-9 Bus Test System, yang mempunyai 3 generator dan 3 bus beban.  Kombinasi beban pada ketiga bus beban digunakan sebagai input, sedangkan kombinasi daya ketiga pembangkit yang dihasilkan dari running LP OPF digunakan sebagai target dalam melatih 6 lapis backpropagation JST dengan sigmoidal transfer function. Hasil solusi optimal yang diperoleh dari pengujian JST dibandingkan dengan hasil penggunaan LP OPF. Model JST yang dihasilkan sangat berguna sebagai pedoman perencanaan biaya operasional dan keandalan sistem tenaga listrik yang selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan ketenagalistrikan oleh para pengelola sistem tenaga listrik.

Katakunci :  BusBeban ; JejaringSyarafTiruan; OptimalPowerFlow; UnitPembangkit.    

 

Pendahuluan

            OPF merupakan tool yang sangatberguna di dalam energi manajemen sistem sa'at ini untuk menopang pengelolaan operasional sistem tenaga listrik secara ekonomis. Solusi OPF dalam bentuk pemrograman dengan pendekatan matematis telah banyak digunakan diantaranya : K.S.Pandya,2006,  telah menyajikan beberapa methoda optimalisasi yaitu, (1) Linear Programming (LP) method, (2) Newton-Raphson (NR) method, (3) Quadratic Programming (QP) method, (4) Nonlinear Programming (NLP) method, (5) Interior Point (IP) methodyang digunakan untuk menyelesaikan masalah OPF. Dalam banyak kasus, formulasi matematik sangat baik digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang      sederhana, tetapi jika digunakan untuk menyelesaikan masalah pada sistem tenaga listrik skala besar mempunyai beberapa kelemahan diantaranya  sangat lemah dalam penanganan batasan-batasan secara kuantitative, sangat susah untuk mencapai konvergensi, hanya diperoleh lokal optimasi, hanya diperoleh optimasi tunggal dalam eksekusi simulasi tunggal, lambat jika jumlah variabel dan polanya banyak sehingga sulit dioperasikan secara on-line dan memerlukan komputasi yang besar. Dengan memanfaatkanJST, kelemahan-kelemahan di atas dapat diperbaiki terutama dalam hal batasan-batasan secara kualitative dan dengan JST dapat  diperoleh multiple optimal solutions dalam eksekusi simulasi tunggal. JST  merupakan Artificial Intelligence tool untuk aplikasi on-line yang dapat memproses informasi secara parallel dan dapat menjalankan komputasi nonlinier pada durasi waktu yang pendek (Bansial and Thukaram, 2003). JST telah banyak digunakan  pada Power Systems (Swarup, 2006; Arunagiri, 2006), dan (Shaikh dan Balasubramanian, 2003) terutama  padawilayah aplikasi-aplikasi  pattern classification yang berbasis pada data historis. Sekali dilatih dalam durasi waktu tertentu JST dapat memberikan hasil yang cukup akurat sesuai dengan tingkat kesalahan yang direkomendasikan dengan waktu yang pendek untuk aplikasi-aplikasi on-line. Investigasi dilakukan pada Standard IEEE-9 Bus Test System (Hartati dan El-Hawary, 2001) yang mempunyai tiga beban dan tiga generator serta enam saluran transmisi. Data-data historis yang digunakan untuk melatih JST diperoleh dari hasil running LP OPF  menggunakan Matpower versi 3.2 (Zimmerman D. Ray dan Murilloa E. Carlos, 2007) dengan 52 pola atau variasi beban pada ketiga bus dengan memperhitungkan kerugian daya pada transmisi.

 

Metodologi

          Untuk memperoleh data historis yang digunakan dalam melatih JST, dilakukan proses seperti gambar 1 di bawah ini,

 

Gambar 1. Alur Data Historis

 

Kombinasi beban aktif (P) dilakukan pada 3 bus beban, sedangkan beban reaktif (Q) diasumsikan tetap atau tidak ada perubahan.Dilakukan running OPF untuk memperoleh kombinasi pembangkitan yang optimal. Untuk menyelesaikan masalah OPF dibutuhkan persamaan nonlinear, uraian optimalisasi serta keamanan operasi dari suatu sistem daya. Permasalahan OPF secara umum dapat dinyatakan seperti di bawah ini.

  dengan asumsi bahwa,

 Persamaan load flow,

 adalah jumlah bus

Fungsi fuel cost dituliskan sebagai berikut,     

 

 State variable vector x terdiri :

 

Control variable vector u  terdiri dari :

 Kombinasi beban dan kombinasi pembangkitan digunakan sebagai input dan target dalam training JST. Data input dan target yang digunakan pada JST terlebih dahulu dinormalisasi dalam rentang antara 0 dan 1. JST yang digunakan dalam penelitian ini adalah JST backpro (Somasundaram dan Manickavasagam, 2002). JST yang dihasilkan akan diuji coba dan hasilnya dibandingkan dengan hasil software OPF yang berbasis UC dan ED.

 

Plant  Obyek  Penelitian

                         Gambar 2, IEEE-9 Bus  Test  System mempunyai 3 unit pembangkit yang terpasang pada bus 1, bus 2 dan bus 3  yang digunakan sebagai target pelatihan JST. Kombinasi beban pada bus 9, bus 7 dan bus 5 digunakan sebagai input pelatihan yang dimulai dari beban minimum 10 MW hingga beban maksimum 800 MW dengan interval 80 MW.

                Gambar 2. IEEE-9 Bus  Test  System

           

Tabel 1, memperlihatkan nilai resistance, reactance dan susceptance, yang digunakan untuk perhitungan kerugian daya pada transmisi

         Tabel 1.   Line Parameter    


 

 Tabel 2 , menunjukkan daya aktif dan daya reaktif setiap pembangkit serta cost function coefficients yang digunakan untuk perhitungan obyective function value yang merupakan biaya pembangkitan daya dalam melayani permintaan pembebanan.

Tabel 2.   Generator Operating Limits and  Quadratic Cost Function Coefficients

 

Simulasi  danAnalisis Hasil

          Berdasar pada hasil-hasil percobaan diperoleh desain jejaring yang digunakan untuk pelatihan dan pengujian yaitu jejaring yang mempunyai enam lapis yang terdiri dari 3 node input sebagai masukan variasi beban pada load bus, 5 node pada hidden layer1, 7 node pada hidden layer2, 7 node pada hidden layer3, 5 node pada hidden layer4 dan 3 keluaran untuk memperoleh hasil variasi pembangkitan generator  yang paling optimal.

 Gambar 3.  Visualisasi Perangkat Lunak

Semakin besar node yang ada pada hidden layer, jaringan hanya mampu mengenali pola-pola yang telah dilatihkan sedangkan pola yang tidak dilatihkan dikenali dengan kesalahan yang relatif besar. Jika node pada hidden layer terlalu sedikit jaringan akan cepat jenuh artinya bahwa tingkat kesalahan tidak akan  berkurang  walaupun  iterasi  yang  dicapai  tinggi. Secara lengkap desain dan konstruksi jaringan terlihat pada Gambar 4.

 

Gambar 4.  Desain   Jaringan  357753

          Pelatihan JST dimulai dengan cara mengambil pola pelatihan yang terkecil atau 25 pola dengan tingkat toleransi kesalahan besar hingga pola pelatihan yang lebih besar atau 52 pola pelatihan dengan toleransi kesalahan kecil. Learning rate dimulai dari 0.1 dan jika terjadi kejenuhan pada pelatihan secara bertahap dinaikan hingga maksimum 0.25. Momentum ditetapkan 0.80000 untuk memperoleh proses pelatihan yang stabil. Data Pelatihan  sebanyak 52 pola   diperoleh dari kombinasi pola biner seperti terlihat pada tabel 3,

 Tabel 3.   Kombinasi Pembebanan

 

Kombinasi beban yang bernilai 1  mempunyai variasi antara 10 hingga 800 MW dengan interval 80 MW (10 pola), sedangkan beban yang bernilai 0 diasumsikan bahwa pada bus yang bersangkutan tidak dibebani. Pengambilan data sampling dengan menggunakan kombinasi ini dimaksudkan agar setiap bus beban pernah dilatih dengan beban  minimal (10 MW) sampai beban maksimal ( 800 MW ). Semakin kecil interval variasi beban akan semakin banyak jumlah pola yang dilatihkan sehingga akan membuthkan waktu yang relatif lama pada sa'at pelatihan tetapi akan diperoleh hasil pengujian dengan kesalahan yang kecil.

 Hasil  Pengujian                                

Kesalahan                            :  0.000066

 

       Pada saat hasil pengujian menghasilkan kesalahan (MSE) sebesar 0,000066, pelatihan dihentikan karena JST sudah jenuh artinya bahwa iterasi  tetap berjalan tetapi kesalahan tidak menjadi lebih kecil atau tidak ada perubahan. Kesalahan terbesar terjadi pada beban total 290 MW ( baris ke 7 dari bawah ) yaitu 1,66 MW atau 0,57 %.

 

Kesimpulan

          Paper ini mempresentasikan solusi OPF agar dapat dioperasikan secara on-line sebagai upaya antisipasi terhadap perubahan beban dan dapat digunakan dalam pengoperasian sistim tenaga listrik real time. Dengan demikian biaya operasional pada suatu sistem tenaga listrik dapat diperkirakan sesuai dengan fluktuasi harga bahan bakar dalam kurun waktu tertentu.Hal ini sangat berguna sebagai pedoman perencanaan biaya operasional dan keandalan pada sistem tenaga listrik yang selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan ketenagalistrikan oleh para pengelola sistem tenaga listrik.Untuk memperkecil toleransi kesalahan dapat dilakukan pelatihan berikutnya dengan cara menambah pola pelatihan. Semakin banyak pola  yang dilatih semakin kecil kesalahan yang diperoleh tetapi membutuhkan waktu yang relatif lama. Untuk mempercepat keberhasilan pelatihan pola-pola yang komplek (mempunyai perbedaan nilai yang besar)  dapat dilakukan normalisasi data pada kedua sisi yaitu sisi input dan sisi  target.

 

 Daftar Pustaka

 

Arunagiri,A; Venkatesh,B., 2006, Artificial Neural Network Approach – an Application to Radial Load Flow Algorithm, Vol.3-No.14 - July 25,  IEICE Electronics Express, page :  353 – 360

Bansilal;  Thukaram,D., 2003,  Artificial Neural Network Application to Power System Voltage Stability Improvement,  0-7803-7651-X/03, IEEE.

Haque Tarafdar,M., 2005, Application of Neural Network in power system : A Review, Vol.6 – June,  PWASET.

Hartati, R.S.; El-Hawary, M.E.,2001,Optimal active power flow solutions using a modified Hopfieldneural network”,  Electrical and Computer Engineering, Vol.1, pp. 189 – 194

Kumari Sailaja,M.; Sydulu,M., 2008, An Improved Evolutionary Computation Technique for Optimal Power Flow Solution, Vol. 3, no. 1 - April, International Journal of Innovations in Energy Systems and Power, page : 32 - 45

Pandya,K.S.; Joshi,S.K., 2006,  A Survey of Optimal Power Flow Methods, JATIT, page : 450 - 458

Shaikh  Azim Fouzul;  Balasubramanian,R.,2003,Neural Networks Technique Applicability for Voltage Stability of Power Systems “. 0-7803-7952-7/03/S17.00 ,IEEE

 

Somasundaram,P.; Manickavasagam,R., 2002, Coordinated Secondary Voltage Controller using Artificial Neural network, Proceeding of IASTED International conference on Power and Energy System, page : 392 – 397

Swarup,K.S., 2006,  Swarm Intelligence Approach to The Solution of Optimal Power Flow, Sept – Oct., J. Indian Inst., page :  439 – 455

Zimmerman D. Ray; Murilloa E. Carlos, 2007, User's Manual A Matlab Power System Simulation Package,  Version 3.2 – September 21, PSERC

 

 

Rancang bangun Aplikasi sistem Kontrol Masa kadaluarsa Obat

 Rancang Bangun Aplikasi Sistem Kontrol Masa Kadaluarsa Obat

 Abdul Munif, S.Pd.,S.S.T. M.Kom

Widyaiswara Madya

(munvedcmlg@yahoo.com)

  Abstrak

 Kebutuhan program aplikasi di zaman sekarang ini tentunya sangat penting.  Pengontrolan masa kadaluarsa obat pada apotek merupakan bagian yang penting pada apotek untuk memisahkan antara obat yang layak dikonsumsi dan tidak layak.  Selama ini masih banyak apotek yang melakukan rekapan masa kadaluarsa obat menggunakan buku sehingga banyak penumpukkan obat kadaluarsa yang tersimpan karena pemantauan obat yang sangat lama.

Mengacu pada permasalahan diatas maka timbul sebuah solusi untuk mempermudah dalam mengelola operasional apotek yaitu pembuatan Sistem Kontrol Masa Kadaluarsa Obat Menggunakan Microsoft Visual Basic 6.0. Dengan batasan masalah, menentukan kadaluarsa berdasarkan tanggal, tidak berdasarkan suhu, kelembaban ruangan atau kadar obat. Aplikasi ini berfungsi sebagai penyimpanan data kadaluarsa obat, membuat laporan kadaluarsa obat yang dapat di kirim ke email serta konfirmasi melalui sms online, menampilkan data kadaluarsa obat yang masih memiliki stok dalam bentuk grafik dan dapat mengetahui traksaksi penjualan obat pada apotek. Dari transaksi penjualan tersebut maka aplikasi dapat merekap penjualan obat dengan menampilkan grafik.

Dari angket kuesioner yang telah dibagikan pada 10 apotek wilayah Kec. Kedungkandang dan Kec. Sukun Kota Malang, bahwa dari 10 apotek masih menggunakan cara manual dalam pengontrolan masa kadaluarsa obat dan berpendapat setuju dengan adanya aplikasi sistem kontrol masa kadaluarsa karena sangat membantu apoteker dan obat yang akan diberikan ke konsumen lebih terjamin.

 Kata kunci: Kadaluarsa Obat, Aplikasi, Apotek

 

1. Pendahuluan

Saat ini apotek masih melakukan rekapan masa kadaluarsa obat menggunakan buku sehingga banyak penumpukkan obat kadaluarsa yang tersimpan karena pemantauan obat yang sangat lama.  Aplikasi sistem komputer merupakan perangkat lunakkomputer yang memanfaatkan kemampuan komputer langsung untuk melakukan suatu tugas yang diinginkan pengguna.

Berdasarkan hasil survey 10 Apotekpada Kec. Kedung Kandang dan Kec. Sukun, Kota Malang tentang kadaluarsa obat pada beberapa apotek, menjelaskan bahwa dari 10 apotek tersebut belum mempunyai aplikasi pengontrolan masa kadaluarsa obat. Melalui aplikasi komputer yang akan dibuat diharapkan dapat mempermudah dalam mengelola data dan informasi obat seperti menampilkan, mencari dan mengontrol obat-obat yang telah kadaluarsa, sehingga obat yang dijual dan dikonsumsi oleh konsumen lebih terjamin. Pengontrolan obat dapat dilakukan dengan pembacaan barcode setiap obat datang dari supplier.  Kemudian data tersebut secara otomatis akan tersimpan data masa expired-nya.

 2. Tinjauan Pustaka

2.1 Apotek

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Kepmenkes RI) No. 1332/MENKES/SK/X/2002, tentang Perubahan atas Peraturan MenKes RI No. 922/MENKES/PER/X/1993 mengenai Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, yang dimaksud dengan apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian penyaluran perbekalan farmasi kepada masyarakat. Pekerjaan kefarmasian yang dimaksud sesuai dengan Ketentuan Umum Undang-undang Kesehatan No. 23 tahun 1992, meliputi pembuatan, pengolahan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, penyimpanan dan penyerahan obat atau bahan obat; pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan perbekalan farmasi lainnya dan pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi.(ISTN,2007)

 2.2 Apoteker dan Asisten Apoteker

Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus pendidikan profesi dan telah mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai Apoteker (Kepmenkes No. 1027 tahun 2004 tentang Standart Pelayanan Kefarmasian di apotek). Asisten Apoteker yaitu tenaga kesehatan yang berijazah sekolah asisten apoteker atau sekolah menengah farmasi, akademi farmasi jurusan farmasi politeknik kesehatan, akademi analisis farmasi dan makanan politeknik kesehatan.  Asisten apoteker melakukan pekerjaan kefarmasian di apotek dibawah pengawasan apoteker. (Hartini, 2006:29)

 2.3 Penyimpanan Obat

Penyimpanan obat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan kegiatan kefarmasian, baik farmasi rumah sakit maupun farmasi komunitas.  Penyimpanan obat adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengan cara menempatkan obat yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari pencurian serta dapat menjaga mutu obat. Terdapat beberapa tujuan dilakukannya kegiatan penyimpanan obat, antara lain adalah memelihara mutu obat, menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab, menjaga ketersediaan stok obat serta memudahkan untuk pencarian dan pengawasan.

Jika penyimpanan obat dalam jumlah besar, misalnya pada gudang distributor, hendaknya tersedia ruang penerimaan, ruang karantina, ruang penyimpanan dan ruang penyerahan yang cukup dan terpisah.  Bagi obat-obat narkotika, bahan mudah terbakar atau meledak, obat khusus seperti obat kanker dan obat berbahaya lainnya, harus memerlukan penanganan baik untuk melindungi obatnya dari faktor yang memepengaruhi mutu maupun kerusakan atau kehilangan, maupun untuk melindungi petugas dari bahaya kejadian yang tidak diinginkan. Penyimpanan obat-obat narkotika disimpan dalam almari khusus sesuai dengan Permenkes No. 28 tahun 1978 untuk menghindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti penyalahgunaan obat-obat narkotika.  Penyusunan obat dilakukan dengan cara alphabetis untuk mempermudah pengambilan obat saat diperlukan.

Pengeluaran barang di apotek menggunkan sistem FIFO (First In First Out), demikian pula halnya obat-obat yang mempunyai waktu kadaluarsa yang lebih singkat disimpan paling depan untuk memungkinkan diambil terlebih dahulu (First Expire First Out) atau FEFO (Kepmenkes No. 1027 tahun). (Hartini, 2006:46-47)

 2.4 Obat Kadaluarsa

Kadaluarsa obat adalah kondisi obat bila konsentrasinya sudah berkurang antara 25-30% dari konsentrasi awalnya.  Tanggal kadaluarsa adalah tanggal yang dipilih oleh pabrik yang memproduksi obat untuk menjamin potensi yang dipilih pabrik yang memproduksi obat untuk menjamin potensi yang penuh dan kemanan dari obat sebelum tanggal kadaluarsa tersebut.  Tanggal kadaluarsa bukanlah tanggal yang ditentukan oleh pemerintah maupun departemen kesehatan dan tanggal ini tidak menunjukkan berapa lama suatu obat layak untuk dikonsumsi.  Obat dapat kadaluarsa sebelum tanggal kadaluarsa yang ditetapkan oleh pabrik apabila telah mengalami perubahan warna dan bentuk karena terurainya zat kimia pada obat. (Hartini, 2006:55)

Expiration date atau tanggal kadaluarsa mulai banyak muncul pada kemasan obat sejak 1979, setelah undang-undang yang mengharuskan pabrik obat mencantumkan tanggal kadaluarsa diberlakukan di AS, yang akhirnyamenular ke seluruhdunia.   Umumnya tanggal kadaluarsa ditulis 2 hingga 3 tahun sejak obat dikemas. Dengan pencantuman tanggal kadaluarsa berarti pabrik pembuatnya menjamin bahwa hingga tangggal tersebut obat masih terjaga potensi dan keamanannya bila digunakan. Jaminan berlaku selama obat berada dalam kemasannya dan disimpan dalam kondisi normal. (Sartono,2000:23)

 2.5 Sistem Kontrol

Sistem adalah kombinasi dari beberapa komponen yang bekerja bersama- sama dan melakukan suatu sasaran tertentu, sedangkan kontrol diartikan sebagai mengekang dan menguasai. Jadi sistem kontrol  proses adalah sistem pengendalian suatu parameter dari berbagai macam proses. Dasar untuk analisis suatu sistem adalah mengasumsikan hubungan sebab-akibat untuk komponen sistem.  Masukan data atau input data adalah rangsangan dari luar yang diterapkan kesebuah sistem untuk memperoleh tanggapan tertentu dari sistem pengaturan.  Masukan juga sering disebut respon keluaran yang diharapkan  keluaran atau output dari sistem kontrol adalah tanggapan sebenarnya yang didapatkan dari suatu sistem kendali. Sistem kontrol aplikasi manual merupakan sistem pengendalian dimana faktor manusia dalam aksi pengendaliannya yang dilakukan pada sistem tersebut. Peran manusia yang dalam menjalankan pengontrolan atau pemantauan data. (Andriani, 2014)

 2.6 SMS Online

Awalnya kita mengenal mediatelephone sebagai media komunikasi jarak jauh, namun karena harus menggunakan kabel dan bentuknya yang lumayan besar, tetapi membatasi orang-orang yang kesehariannya banyak beraktivitas diluar.  Karena adanya kebutuhan manusia akan berkomunikasi menjadi penting, maka muncullah ponsel dengan nama handphone yang menyediakan fasilitas telephone dan sms, serta bentuknya yang kecil membuat proses komunikasi lebih mudah, cepat, praktis, dan murah.  Namun, penggunaan sms pada telephone seluler bisa digunakan apabila pulsa anda mencukupi.  Sedangkan jika menggunakan sms online hanya membutuhkan jaringan koneksi ke internet.

Sms online adalah sms  yang dilakukan melalui jaringan internet sehingga memungkinkan dan memudahkan untuk mengirim sms dengan jumlah banyak, dapat mengirim teks ke luar negeri, semua dikirim tanpa dengan gratis tanpa adanya biaya.Ada beberapa situasi yang menjadi alasan memakai sms online yaitu jika handphone tidak mempunyai pulsa, kehabisan batrei handphone, atau dengan aktivitas dan kesibukan yang selalu harus berada di depan layar komputer atau laptop.  Solusi dari masalah diatas bisa diatasi dengan layanan sms online. (Syukur,1999:25)

 2.7 Visual Basic

Visual Basic yaitu bahasa pemrograman (Language Program), juga disebut sebagai sara (Tool) untuk menghasilkan program-program aplikasi berbasis Windows.  Secara Umum ada beberapa manfaat yang diperoleh dari pemakaian program Visual Basic, diantaranya. (Yuswanto, 2003:2) :

a.       Dipakai dalam membuat program aplikasi berbasis Windows

b.       Dipakai dalam membuat obyek-obyek pembantu program, seperti:FasilitasHelp, kontrol ActiveX, aplikasi Internet, dan sebagainya

c.       Digunakan untuk menguji program (Debugging) dan menghasilkanprogram akhir EXE yang bersifat Executable, atau dapat langsung dijalankan

 2.8Xampp

XAMPP merupakan singkatan dari X (empat system operasi apapun), Apache, MySQL, PHP, Perl. XAMPP adalah tool yang menyediakan paket perangkat lunak dalam satu buah paket.  Dalam paket XAMPP sudah terdapat Apache (web server), MySQL (database), PHP (server side scripting), Perl, FTP server, phpMyAdmin dan berbagai pustaka bantu lainnya. Versi XAMPP terbaru pada saat ini adalah Versi 1.8.1 (untuk windows) yang terdiri atas apache 2.4.3, MySQL 5.5.27, PHP 5.4.7, phpMyAdmin 3.5.2.2, perl. (Boss, 2013)

 3. Metodologi Penelitian

3.1 Metode Pengumpulan Data

Guna memperoleh data yang diperlukan dalam penyusunan Tugas Akhir ini, penulis menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut:

a.       Metode Observasi

Suatu metode pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan langsung terhadap obyek penelitian, penelitian dalam hal ini adalah apotek.

b.       Metode Wawancara

Metode ini dilakukan wawancara langsung kepada pihak yang bersangkutan, dalam hal ini adalah pihak apotek

 3.2Rancangan Sistem

Sistem kontrol masa kadaluarsa obat adalah pengontrolan masa kadaluarsa obat yang tidak layak konsumsi dan dijual yang dapat dilakukan setiap saat oleh user dan dapat di kirim berupa laporan ke email atau sms, juga didalam aplikasi ini data obat dan transaksi penjualan.

Setelah dilakukan penelitian dari beberapa apotek bahwa setiap apotek mempunyai kebijakkan sendiri dengan waktu pelaksanaan pengecekkan stok obat kadaluarsa.  Ada yang melakukan pengecekkan rutin setiap hari, satu minggu sekali, satu minggu tiga kali, satu bulan sekali dan maksimal tiga bulan sekali.  Jadi kesimpulannya, peraturan stok opname obat kadaluarsa (Expired Date) setiap apotek berbeda-beda, semua tergantung kebutuhan dan kebijakkan masing-masing apotek.

Pada sistem kontrol masa kadaluarsa obat yang akan dbuat, dilakukan pengecekkan stok obat kadaluarsa seminggu satu kali.  Dengan melakukan pengecekkan stok obat seminggu satu kali maka obat yang sudah kadaluarsa dapat segera dipisahkan dari obat-obat yang masih layak jual dan konsumsi.

 3.2.1 Diagram Blok

Pada sistem ini yaitu admin dapat mengirimkan data laporan setiap bulan melalui email. Komputer di haruskan memiliki akses internet berupa modem atau router untuk mengirim laporannya menggunakan email. Pengiriman via email dengan format pengisian input email penerima, subjek, isi pesan, mengambil file lampiran untuk dikirim dan kirim pesan.   Setelah data terkirim admin mengirimkan sms dengan menggunakan sms online sebagai sarana mengirim notifikasi bahwa email telah terkirim. Format dalam mengirim sms online yaitu dengan input nomer handphone penerima, mengisikan isi pesan dan mengisikan kode keamanan setelah itu kirim sms.

 

        Gambar 1. Diagram Blok Sistem Kontrol Masa Kadaluarsa Obat

 3.2.2 Use Case

Dalam sistem kontrol masa kadaluarsa obat terdapat dua aktor yaitu admin dan kasir.  Aktor admin dapat menjalankan penginputan data obat, data supplier, membuat laporan kadaluarsa, menampilkan grafik kadaluarsa, merekap transaksi obat terjual, dan menampilkan grafik data obat yang telah terjual.  Aktor kasir dapat menjalankan penginputan data transaksi.

 

           Gambar 2. Use Case Sistem Kontrol Masa Kadaluarsa Obat

 3.2.3DFD

Kebutuhan fungsionalitas DFD:

a.    Sistem dapat membuat data obat

b.    Sistem dapat membuat data transaksi penjualan

c.     Sistem dapat membuat menyimpan data obat dan data transaksi penjualan

d.    Sistem dapat membuat data laporan

 

Gambar 3. DFD Level 0

 

 

 Gambar 4. DFD Level 1

 3.2.4Flowchart

Penjelasan flowchart di bawah ini dalah saat program dijalankan yang di mulai awal login, penginputan data obat, pencarian data, menampilkan grafik dan transaksi penjualan.

 

 

      Gambar 5. Flowchart Sistem Kontrol Masa Kadaluarsa Obat

4. Hasil dan Pembahasan

4.1 Perancangan Form Obat

Form ini menjelaskan prosedur berjalannya aplikasi saat proses pengecekkan kadaluarsa, pengiriman email  laporan dan menampilkan grafik.

4.1.1 Masa Kadaluarsa Obat

Menentukan masa kadaluarsa obat berdasarkan perhitungan hari.  Dan bila telah melewati tanggal masa kadaluarsa obat, maka terdapat tulisan pada kolom “kadaluarsa” menjadi ”tidak bisa dipakai”.

Gambar 6. Mengatur Masa Kadaluarsa Obat

 4.1.2 Warna Pada Kolom Kadaluarsa dan Stok Obat

Mengatur warna saat hari H kadaluarsanya menjadi merah dan terdeteksi menjadi obat “Tidak Bisa Dipakai” dan Apabila stok sudah habis atau nol, maka kolom akan berubah dengan background warna merah dan tulisan berwarna kuning.

 Gambar 7. Mengatur Warna Kadaluarsa dan Stok Obat

 4.1.3 Kirim Email

Form email berfungsi untuk mengirim laporan data obat kadaluarsa atau rekapan data transaksi penjualan setiap bulannya (sesuai kebutuhan apotek masing-masing).

 Gambar 8. Proses Kirim Email

 4.1.4 Grafik Kadaluarsa

Grafik ini tampil dari stok obat kadaluarsa yang masih ada pada apotek dan jangka waktu untuk menampilkan grafik telah ditentukan sesuai kebutuhan apotek.


Gambar 9. Grafik Obat Kadaluarsa

 4.1.5 Grafik Data Obat Terjual

Grafik ini tampil dari hasil perhitungan total pada tabel grafik dan jangka waktu untuk menampilkan grafik telah ditentukan sesuai kebutuhan apotek.


Gambar 10. Grafik Data Obat Terjual

 4.2Perancangan Form Transaksi Penjualan

Form transaksi penjualan digunakan untuk transaksi penjualan obat pada konsumen, dengan menginputkan barcode atau nama obat sesuai permintaan konsumen dan data transaksi akan tersimpan pada database penjualan.

 

Gambar 11. Form Transaksi Penjualan

5. Kesimpulan

Setelah dilakukan uji coba dan analisa program, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1.       Setelah penelitian dan analisa lapangan untuk mendapatkan data awal, setelah itu dilakukan perancangan dfd dan flowchart, kemudian  pembuatan aplikasi dapat jelaskan dari awal pembuatannya yaitu dimulai dari pembuatan database apotek dengan lima tabel yang terdiri admin, obat, detail_jual, penjualan, dan supplier. Selanjutnya pembuatan sistem yaitu dengan satu module dan sebelas form yang terdiri form admin, form maen, form obat, form suplier form email, form sms online, form jual, form reminder, form grafik, form FormGrafik1, form FormGrafik.

2.       Langkah pemakaian jika login sebagai admin yaitu dapat mengolah data obat, membuat laporan data obat, membuat data supplier, mengirim laporan data obat melalui email disertai konfirmasi sms, menampilkan grafik data stok obat kadaluarsa dan hasil laporan transaksi penjualan dapat diolah menjadi grafik data obat yang terjual. Pada kasir hanya dapat melakukan transaksi penjualan.

 

Daftar Pustaka

Andriani, Evi. 2014. “Definisi Sistem Kontrol”. http://eviandrianimosy.blogspot.com- /2010/05/definisi-sistem-kontrol.html. Diakses tanggal 02 juni 2014.

 Anneahira, 2013. “Metode dan Tips Dalam Penggunaan SMS Online. http://www.Anneahira.com/text message -online.htm.  Diakses tanggal 02 Juli 2014.

 Boss. 2013. “Definisi XAMPP”.  http://blog.bosscript.com/definition-xampp-is.html.  Diak-  ses 15 April 2014.

 Gandham, Satish. 2011. “DefinisiEmail”. http://internet.artikel.com/definisi-email.html. Di-akses 02 Juli 2014.

 Hartini, Yustina Sri. 2006. Apotek. Yogyakarta : Universitas of Sanata Dharma.

 ISTN,Farmasi.Pengertian,Tugasdan Fungsi Apotek”.http://farmasi istn.Blogspot.- com/2007/11/pengertian-tugas-dan-fungsi-apotek.html. Diakses 10 Desember 2013.

 Kasim,fauzi.2013.ISO InformasiSpesialiteObat Indonesia. Jakarta : PT ISFI Penerbitan

 Munerva, Fadly. “DefinisidanSimbol Flowchart”. http://www.academia.edu/4580660/2definisi_dan_simbol_Flowchart. . Diakses 07 Juli 2013.

 Nugraha, Khamdan. 2011.Data Flow Diagram. Semarang : Media Pustaka.

 Sartono. 2000. ObatWajibApotek. Jakarta : GramediaPustakaUtama.

 Yuswanto. 2003. Pemrograman Dasar Microsoft Visual Basic. Surabaya: Katalog Publikasi.

Desain Pembelajaran E-learning

DESAIN PEMBELAJARAN E-LEARNING

 

PENY ISWINDARTI, S.Kom.,MT

Widyaiswara Madya

 

Abstrak

E-learning dibuat dengan tujuan tertentu oleh individu maupun instansi dan diharapkan memenuhi tujuan oleh peserta. Keberhasilan pembelajaran dalam e-learning ditentukan oleh tujuan  dan perencanaan yang matang. Seringkali proses pembelajaran e-learning tidak diselesaikan sampai tuntas oleh peserta dengan berbagai macam alasan atau penyebab. Salah satunya tidak sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Mendefinisikan produk, membuat desain dan sub desain instruksional, yang didahului dengan analisis kondisi, analisis karakteristik peserta, analisis materi, analisis sumber daya, dan penetapan tujuan yang jelas, akan membantu keberhasilan e-learning.

Dengan perencanaan yang matang melalui tahapan-tahapan yang jelas, tujuan dibuatnya e-learning akan tercapai karena semua pihak yang berkepentingan mempunyai acuan yang sama.

 

Kata kunci : desain instruksional, e-learning

 

 PENDAHULUAN

Keberhasilan pembelajaran dalam e-learning ditentukan oleh tujuan yang jelas, analisis kondisi dan perencanaan yang matang. Seringkali proses pembelajaran berhenti di tengah jalan, peserta yang tidak melanjutkan lagi atau non aktif,  karena pelaksanaan tidak sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Pembelajaran maya atau e-learning tidak sekedar memasukkan materi melalui internet, tetapi bagaimana materi yang sudah diunggah, peserta yang terdaftar, evaluasi, komunikasi dan sebagainya dikelola dengan baik sehingga pembelajaran e-learning sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan baik oleh penyelenggara maupun peserta. Untuk itu, sebelum menjalankan e-learning perlu dilakukan analisis kondisi dan perencanaan yang matang, dan sasaran/tujuan pembelajaran.

 

PEMBAHASAN

Tahapan dari e-learning dapat dilihat pada gambar 1, yang dimulai dari pendefinisian konten atau definisi produk, tahap ke-2 adalah membuat desain intruksional, ke-3 menyusun semua materi ke dalam semua format (dokumen, gambar, dan sebagainya), ke-4 menggabungkan semua format konten ke dalam sebuah aplikasi (misalnya eXe, hot potatoes), dan terakhir menunggah konten ke dalam platform e-learning seperti Moodle.

 

Gambar 1.  Tahap pembuatan konten

 

Pada tahap pertama dan kedua, sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran pada saat berlangsung.

  

1.      Definisi produk

 

Gambar 2. Definisi Produk

 

Ada 7 (tujuh) hal yang perlu didefinisikan pada tahap ini, yaitu:

 1.       1. Project Title/What

     Menemukan judul topik yang mencerminkan isi dan sasaran

2.       2. Objective/What for

     Menjelaskan tujuan secara umum

3.       3. Target group/For whom

     Mendefinisikan peserta potensial yang menjadi target pada training/diklat

4.       4. Place/Where

     Menjelaskan kegiatan tempat dilaksanakan kegiatan

5.       5. Project Stakeholder/Who

   Menjelaskan siapa (individu atau instansi) yang mendukunung atau  bertanggung jawab pada kegiatan tersebut.

6.       6. Time Frame/When

     Menjelaskan waktu dimulai dan diakhiri kegiatan pembelajaran tersebut.

7.       7. Budget/How

      Membuat daftar kebutuhan anggaran untuk pelaksanaan training/diklat

 

Gambar 3. Contoh Definisi Produk

  

2.      Desain Instruksional

Adalah suatu rancangan proses pembelajaransecara sistematis untuk mencapai hasil pembelajaran yang efektif dan sesuai target.

Kegunaan Desain Instruksional :

          Meluruskan arah belajar mengajar.

          Menghindari penghamburan energi, biaya, waktu dan sumber daya lainnya.

          Menghindari revisi yang tidak perlu.

          Menghindari kegagalan mencapai kebutuhan peserta belajar.

 Berisi judul, tujuan, deskripsi, materi, target, persyaratan peserta, anggaran, durasi, waktu pelaksanaan, metodologi pembelajaran, aktivitas, mode of learning, delivery, pacing/urutan, kontak person/instruktur.

 

Contoh Desain Intruksional.

 

Dari desain intruksional didetailkan lagi ke dalam format sub desain instruksional, yang berisi rincian/detail pelaksanaan sebagai acuan instruktur dan peserta dalam proses pembelajaran.

 

Gambar 4. Format sub desain instruksional

 

 Contoh sub desain instruksional

 

 

 

Untuk sampai pada perencanaan berupa definisi produk dan desain instruksional di atas, sebelumnya perlu dilakukan analisis kondisi, analisis karakteristik peserta dan tujuan dibuatnya e-learning.

 

a.       Analisis Kondisi

Analisis kondisi bertujuan adalah agar dapat menentukan kebutuhan akan training/pembelajaran yang akan di lakukan.Sebelum dilakukan penyelenggaraan pembelajaran e-Learning dilakukan need assesment karena:

1.       Untuk menemukan kondisi saat ini (initial condition) yang terjadi

2.       Mendefinisikan keinginan yang akan dicapai

3.       Mendefinisikan gap

4.       Menentukan langkah terbaik dalam pemecahan masalah yang dihadapi

Kelayakan perlu dilihat baik dari sisi kelayakan teknis, operasional, ekonomi, dan sosial.

Pernyataan dan pertanyaan yang perlu dijawab dalam analisis kondisi ini adalah :

·         Content and objective : Apakah isi dari pembelajaran? Apa tujuan yang akan dicapai?

·         Learning context : Bagaimanakah suatu pembelajaran itu terintegrasi terhadap suatu sistem ?

·         Learning environment and conditions :Dimanakah pembelajaran ini akan dilakukan? Dan media apa yang digunakan?

·         Resource : sumber daya manusia, finansial, materi dan sebagainya.

 

b.      Analisis Karakteristik Peserta

 Pertanyaan yang harus diidentifikasi pada saat analisis karakteristik peserta yaitu :

          Siapa peserta pelatihan ?

          Apa yang harus diketahui dari peserta pelatihan saat mengembangkan materi pelatihan ?

          Apakah kebutuhan peserta melalui pelatihan ?

 

c.       Analisis Materi

          Materi apa yang diajarkan ?

          Materi apa yang penting dan apa yang hanya sekedar tambahan ?

 

  d.      Analisis Sumber Daya

1.       Sumber daya apa saja yang tersedia untuk pelatihan ?

          Orang

          Waktu

          Anggaran

          Materi, dll.

2.       Sumber daya tambahan apa yang dibutuhkan ?

3.       Kendala organisasi apa yang ditemui ?

 

 e.       Learning Objective / Tujuan Pembelajaran

Mengapa learning objective diperlukan, karena berfungsi

          Menjadikan suatu training berjalan secara efisien, dimana seluruh aktivitas mendukung tercapainya tujuan.

          Sebagai dasar evaluasi dan pengembangan berlanjut.

          Menyediakan bagi pembelajar suatu acuan untuk melakukan kontrol terhadap hasil yang didapat.

Area tujuan meliputi:

          Kognitif (pengetahuan)

          Afektif (sikap)

          Psikomotorik (keterampilan)

 

 KESIMPULAN :

1.       Analisis kondisi, analisis karakteristik peserta, analisis materi,  analisis sumber daya, dan penetapan tujuan s dibuatnya e-learning adalah hal  yang harus dilakukan sebelum membuat e-learning.

2.       Tahap yang dilakukan sebelum menyusun konten ke dalam aplikasi dan mengunggah ke internet, yaitu mendefisinikan produk dan membuat desain dan sub desain instruksional.

 

 Referensi :

1. Module 1, E-learning 2nd Layer Training IGI
2. Pfeiffer, Education - Making Sense of Online Learning A Guide for the Beginners and the Truly Skeptical, Patti Shank, 2004
 3. http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/PRODI._ILMU_KOMPUTER/196603252001121-MUNIR/PJJ_TIK/PJJ_TIK-Learning_Management_System_%28LMS.pdf

 

 

 

 

Optimalisasi Pembuatan Dupak Menggunakan Aplikasi Dupak WIdyaiswara Berbasis VBA

OPTIMALISASI PEMBUATAN DUPAK MENGGUNAKAN APLIKASI DUPAK WIDYAISWARA BERBASIS VISUAL BASIC for APPLICATIONS (VBA)

 

PENY ISWINDARTI, S.Kom.,MT

Widyaiswara Madya

 

Abstrak

Widyaiswara dalam menjalankan tugas, tanggung jawab dan wewenang untuk mendidik, mengajar dan/atau melatih PNS pada Lembaga Diklat Pemerintah, berkewajiban mencatat dan menginventarisasi seluruh kegiatan yang dilakukan untuk kelancaran penilaian dan penetapan angka kredit. Dari hasil catatan dan inventarisasi seluruh kegiatan tersebut secara hirarki Widyaiswara wajib mengajukan usul penetapan angka kredit ke Tim Penilai. Berdasarkan data di sekretariat Widyaiswara PPPPTK BOE Malang, salah satu alasan usulan  penetapan angka kredit ditolak atau tidak dinilai oleh Tim Penilai karena alasan administrasi, seperti : redaksi Surat Tugas dan SPMK tidak sama, tanggal Surat Tugas tertulis setelah kegiatan dimulai, tanggal SPMK tertulis sama dengan Surat Tugas dan sebagainya.  Hal tersebut sangat merugikan Widyaiswara karena kegiatan dan usulan yang sudah dibuat tidak diakui sebagai angka kredit. Untuk kelancaran proses pengajuan angka kredit Widyaiswara, diharapkan ada sistem atau aplikasi yang dapat membantu mempercepat administrasi Dupak (Daftar Usul Penetapan Angka Kredit), meminimalisasi kesalahan seperti tanggal, format dan sebagainya serta sistem yang menstandarkan prosedur administrasi. Untuk itu dibuatlah aplikasi yang dapat memenuhi harapan tersebut,

Penelitian ini didesain dengan sekali input dalam sebuah tampilan, format yang diperlukan sesuai peraturan dapat dicetak langsung. Aplikasi dibuat  berbasis Visual Basic for Applications (VBA) untuk memberikan solusi optimalisasi dupak.

Penggunaan aplikasi dupak dapat mempercepat dan meminimalisasi kesalahan administrasi Dupak karena form yang sudah baku dalam setiap sheet.  WI secara individu lebih termotivasi menyelesaikan administrasi Dupak tanpa ketergantungan tenaga administrasi.

 Kata kunci : Optimalisasi Dupak, Visual Basic for Applications (VBA)

 

PENDAHULUAN

    Berdasarkan Permenpan RB no. 14/2009, Perkalan 3/2010, dan Peraturan Bersama LAN&BKN no. 1&2 tahun 2010, yang mengatur tentang kewidyaiswaraan, Dupak (Daftar Usul Penetapan Angka Kredit) adalah kewajiban yang harus diusulkan oleh Widyaiswara dalam menjalankan tugas, tanggung jawab dan wewenang untuk mendidik, mengajar dan/atau melatih PNS pada Lembaga Diklat Pemerintah untuk memperoleh angka kredit sebagai syarat kenaikan pangkat dan jabatan. Secara sistem, Dupak tersebut akan dinilai oleh Tim Penilai baik oleh Tim Penilai Instansi maupun Tim Penilai Pusat.

     Berdasarkan data di sekretariat Widyaiswara PPPPTK BOE Malang, salah satu alasan dupak ditolak atau tidak dinilai oleh Tim Penilai karena alasan administrasi, seperti : redaksi Surat Tugas dan SPMK tidak konsisten, tanggal Surat Tugas tertulis setelah kegiatan dimulai, tanggal SPMK tertulis sama dengan Surat Tugas, tidak ada nomor surat, dan sebagainya. Hal tersebut sangat merugikan Widyaiswara karena kegiatan dan usulan yang sudah dibuat tidak diakui sebagai angka kredit, sehingga menghambat kenaikan pangkat dan/atau jabatan, bahkan membuat widyaiswara diberhentikan dari jabatan widyaiswara apabila angka kredit yang dipersyaratkan oleh peraturan tidak terpenuhi.

    Untuk mempercepat, meminimalisir kesalahan administrasi dan menstandarkan format dupak sesuai peraturan, agar tidak menghambat karier widyaiswara, dibuatlah aplikasi dupak berbasis Visual Basic for Applications (VBA).

TAHAP PEMBUATAN APLIKASI

     Pembuatan aplikasi ini merupakan penelitian teknologi informasi dalam pemrosesan teks, untuk mendapatkan aplikasi yang optimal. Setiap sistem aplikasi yang baik berarti bahwa sistem tersebut dapat dipercaya, memberikan indikasi terhadap perubahan yang lebih baik dalam proses pembuatan dupak, dan menghasilkan sistem yang dapat mempengaruhi pengguna untuk tidak melakukan kesalahan yang berulang.

     Bahasa yang digunakan untuk men-developt seluruh komponen pada sistem aplikasi ini adalah VBA yang built-in dengan EXCEL pada paket MS-OFFICE mulai dari tahun 2003 hingga tahun terkini. Dipilihnya bahasa pemrograman VBA ini karena sebagian besar atau hampir seluruh komputer yang menjalankan sistem operasi WINDOWS yang terdapat MS-OFFICE didalamnya dapat dipastikan aplikasi dapat dijalankan dengan baik tanpa harus meng-install software bahasa pemrograman dari luar, disamping sintak VBA yang cukup sederhana, mudah dilogika dan dapat dengan cepat mengenali kesalahan yang terjadi ketika program dijalankan, melalui high-light lokasi terjadinya kesalahan.

 

1.    Mendesain format/layout semua unsur kegiatan sesuai Peraturan Bersama LAN&BKN no. 1&2 tahun 2010 pada sheet Microsoft Excel.

   Misalnya format Surat Tugas (ST) dan Surat Pernyataan Melaksanakan Kegiatan butir kegiatan mengikuti diklat dan memperoleh sertifikat/STTPP minimal 30 jam pelajaran.

 

 

Gambar 1. Format Surat Tugas (ST) dan Surat Pernyataan Melaksanakan Pendidikan dan Pelatihan pada butir kegiatan mengikuti diklat dan memperoleh sertifikat/STTPP minimal 30 jam pelajaran.

 

2.       Menuliskan source code/script pada menu Developer > Visual Basic. Untuk mengaktifkan menu Developer:  File > Option > Customize Ribbon > centang Developer pada Main Tabs.

 

 

Gambar 2. Source code butir kegiatan mengikuti diklat.

 

 

Gambar 3. Source code butir kegiatan melaksanakan tatap muka di depan kelas

 

Gambar 4. Source code butir kegiatan membuat KTI dalam bentuk buku sebagai editor

 

 

Gambar 5. Source code butir kegiatan mengikuti seminar/lokakarya sebagai peserta/moderator/anggota panitia

 

Source code inilah yang menghubungkan antara inputan pada sheet dengan format/layout pada nomor 1 .

Proses ini dilakukan untuk format semua butir kegiatan widyaiswara.

 

 

3.       Input identitas Kepala Pusat dan widyaiswara

Setiap unsur kegiatan (Utama dan Penunjang) dibuat dalam satu sheet, sehingga identitas dimasukkan dalam tiap sheet. Proses pengisian ini hanya dilakukan satu kali pada range yang berwarna merah untuk Kepala Pusat dan hijau untuk widyaiswara, kecuali ada perubahan pangkat atau jabatan dan gelar.

 

Gambar 6. Range inputan identitas Kapus

 

 

 

Gambar 7. Range inputan identitas widyaiswara

 

4.       Input redaksi pelaksanaan kegiatan (nomor surat tugas, tanggal, nama kegiatan, nomor SPMK, tempat kegiatan, tanggal pelaksanaan, nomor kode bukti kegiatan, jumlah jam, materi, dan sebagainya) mengikuti diklat, melaksanakan dikjartih, melakukan kegiatan penunjang, dan pengembangan profesi. Isian dilakukan pada kolom yang berwarna hijau, kemudian klik “Proses dan Simpan” setelah selesai mengisi.

 

           

Gambar 8. Inputan butir kegiatan mengikuti diklat dan melaksanakan tatap muka di depan kelas

 
 

Gambar 9. Inputan membuat KTI dalam bentuk buku sebagai editor dan non buku dimuat dalam website

 

            

Gambar 10. Inputan mengikuti seminar/lokakarya sebagai moderator/peserta/anggota panitia

 

 HASIL APLIKASI

Hasil dari pemrosesan adalah format yang sudah terisi lengkap baik Surat Tugas maupun Surat Pernyataan Melaksanakan Kegiatan sesuai Peraturan Bersama LAN&BKN no. 1&2 tahun 2010 dan siap dicetak.

 

            

Gambar 11. Surat Tugas dan Surat Pernyataan Melaksanakan Pendidikan dan Pelatihan yang siap cetak.

 
 

Gambar 12. Surat Tugas dan Surat Pernyataan Melaksanakan Kegiatan Pengembangan dan Pelaksanaan Diklat yang siap cetak.

 

Demikian juga untuk hasil Surat Tugas dan Surat Pernyataan Melaksanakan Kegiatan butir kegiatan pengembangan profesi dan penunjang.

 

 KESIMPULAN :

Dengan aplikasi dupak widyaiswara berbasis Visual Basic for Applications (VBA), dapat mempercepat dan meminimalisasi kesalahan administrasi Dupak karena form yang sudah baku dalam setiap sheet. Data yang tidak konsisten tidak akan terjadi, karena proses input yang dilakukan dalam satu tampilan akan memudahkan pengecekan, dan setelah diproses hasilnya akan terhubung ke semua range yang sudah didesain sesuai dengan peraturan widyaiswara yang ada. WI secara individu lebih termotivasi menyelesaikan administrasi Dupak tanpa ketergantungan tenaga administrasi.

  

Referensi :

·       1. Permenegpan Nomor 14 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka

Kreditnya

·          2. Peraturan Bersama Kepala Lembaga Administrasi Negara dan Kepala Badan Kepegawaian

Negara nomor 1 tahun 2010 nomor 2 tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya 

·          3. Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 3tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis

Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya

·           4.  No Name,2011, Microsoft Excel 2010 Pemrograman VBA, Yogyakarta : Penerbit ANDI

 

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG