PERANCANGAN CATALYTIC CONVERTER DENGAN BAHAN TEMBAGA BERBENTUK SARANG LEBAH UNTUK MENGURANGI EMISI GAS BUANG

Print
Category: Ototronik
Last Updated on Tuesday, 04 July 2017 Published Date Written by Sudaryono

PERANCANGAN CATALYTIC CONVERTER

DENGAN BAHAN TEMBAGA BERBENTUK SARANG LEBAH UNTUK MENGURANGI EMISI GAS BUANG

 

 Oleh : Sudaryono, Spd

(Widyaiswara Muda – P4TK BOE Malang)

 

 

ABSTRAK

Untuk mengurangi polusi udara yang mengandung toksisitas dari mesin pembakar internal digunakan  alat yang disebut Catalytic Converter. Catalityc Converter berfungsi untuk mengurangi kadar emisi Hidrokarbon (HC), Carbon Monoksida (CO), dan Nitrogen Oksida (NOX) dengan cara mengoksidasi dan mereduksi zat tersebut menjadi CO2, H2O dan N2 yang ramah lingkungan.Namun dengan harga mahal dan sulit untuk di dapatkan maka tidak semua kendaraan bermotor menggunakan teknologi tersebut. Dikarenakan katalis tersebut terbuat dari logam mulia antara lain Paladium, Platinum, dan Rhodium. Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan membuat katalis dari material tembaga (Cu).  Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui perubahan kadar Emisi antara kendaraan bermotor yang menggunakan Catalytic Converter berbahan tembaga dan tanpa menggunakan Catalytic Converter.

Metode yang di pakai adalah metode experimental dengan membandingkan hasil percobaan emisi gas buang sebelum melewati Catalytic Converter dan sesudah melewati Catalytic Converter. Proses penelitian diawali dengan perancangan Desain Chasing Catalytic Converter, Pembuatan Katalis dan pelaksanaan pengujian yang terdiri dari pengujian tanpa Catalytic Converter dan dengan Catalytic Converter yang diakhiri dengan analisa data dan pengambilan kesimpulan.

Terdapat penurunan Emisi gas HC sebesar 23.449 %pada Catalytic Converterberbahan tembaga dibandingkan tanpa catalytic, serta terjadi penurunan CO sebesar 32,284% pada setiap tingkatan Catalytic Converter. Penggunaan plat tembaga bermodel sarang lebah mampu menetralisir emsi gas buang HC dan CO dengan prosentase penurunan yang cukup baik.

 

Kata kunci: Catalytic Converter, Tembaga.

 

PENDAHULUAN

Kontribusi emisi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara terbesar mencapai 60-70%, dibanding dengan industri yang hanya berkisar antara 10-15%. Sedangkan sisanya berasal dari rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan/ladang dan lain-lain. Hal ini diakibatkan oleh laju pertumbuhan kendaraan bermotor yang tinggi. Sebagian besar kendaraan bermotor tersebut menghasilkan emisi gas buang yang buruk, baik akibat perawatan yang kurang memadai ataupun dari penggunaan bahan bakar dengan kualitas kurang baik [2].

Peningkatan polusi udara dari sektor transportasi sangat signifikan dan bedampak pada kehidupan dan lingkungan saat ini. Sebuah kendaraan dari proses bekerjanya dapat menghasilkan polutan berupa gas Carbon monoksida (CO), Hidrokarbon (HC), Nitorgen oksida (NOx), Sulfur Oksida (SO2) dan Timbal (Pb) yang sering disebut sebgai polutan primer Salah satu polutan udara yang berbahaya dan sangat dominan jumlahnya adalah gas Carbon Monoksida yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar dan udara motor bensin yang tidak sempurna [20].

Gas carbon Monoksida dihasilkan dari proses pembakaran yang tidak sempurna akibat dari pencampuran bahan bakar dan udara yang terlalu kaya. Boleh dikatakan bahwa terbentuknya CO sangat tergantung dari perbandingan campuran bahan bakar yang masuk dalam ruang bakar. Menurut teori bila terdapat oksigen yang melebihi perbandingan campuran ideal (teori) campuran menjadi terlalu kurus maka tidak akan terbentuk CO. Tetapi kenyataannya CO juga terjadi dan dihasilkan pada saat kondisi campuran terlalu kurus.Proses terjadinya CO :

             2C + O2 bereaksi 2CO

            2CO + O2 bereaksi CO2

 Akan tetapi reaksi ini sangat lambat dan tidak dapat merubah seluruh sisa CO menjadi CO2 [16].

 

Mengingat bahaya emisi gas buang khusunya Carbon Monoksida tersebut yang biasa menyebabkan kematian bagi manusia yang menghirupnya, maka perlu usaha-usaha untukmengendalikan dan mengurangi pencemaran udara agar dampak negatif bagi manusia dapat dikurangi dan diminimalkan. Langkah-langkah dan usaha yang dilakukan untuk mengurangi gas buang yang berbahaya pada kendaraan bermotor sudah banyak dilakukan terutama di negara-negara maju (USA, Eropa). Metode dan teknik yang dilakukan ada beberapa macam, antara lain dengan memodifikasi beberapa bagian dari kendaraan bermotor. pendekatan yang biasanya dilakukan dan dipakai dalam mengurangi gas buang kendaraan bermotor antara lain: modifikasi mesin, modifikasi penggunaan bahan bakar atau system bahan bakarnya, modifikasi pada saluran gas buang (penambahan Catalytic Converter).

Secara umum dengan merujuk pada program EST, untuk mengontrol atau mengurangi polutan udara dari kendaraan bermotor (internal combustion engine) dapat dilakukan dengan cara modifikasi pada mesin, modifikasi penggunaan bahan bakar atau sistem bahan bakarnya dan modifikasi pada saluran gas buang. [11].

Untuk mengurangi toksisitas dari mesin pembakar internal digunakan alat yang disebut catalytic Converter. Alat ini telah digunakan di USA sejak 1975 karena peraturan EPA yang semakin ketat tentang gas buang kendaraan bermotor. Alat ini mengkonversi senyawa-senyawa toksit dalam gas buang menjadi zat-zat yang kurang toksit atau tidak toksit.

Catalytic Converter merupakan sebuah converter (pengubah) yang menggunakan media yang bersifat katalis, dimana media tersebut diharapkan dapat membantu atau mempercepat terjadinya proses perubahan suatu zat (reaksi kimia) sehingga gas seperti CO dapat teroksidasi menjadi CO2 [15]. Media katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri. Media yang biasa digunakan sebagai katalis adalah logam yang mahal dan jarang seperti Palladium, Platinum dan Stainless Steel [7]. Logam-logam mulia tersebut memiliki aktifitas spesifik yang tinggi, namun memiliki tingkat volatilitas besar, mudah teroksidasi dan mudah rusak pada suhu 500 – 900 derajat Celicius sehingga mengurangi aktifitas katalis. Selain itu logam-logam mulia tersebut mempunyai kelimpahan yang rendah dan harga yang cukup mahal.

Pemasangan Catalytic Converter pada saluran gas buang yang menggunakan bahan logam katalis Pd, Pt dan Rh dengan penyangga alumina, silica dan keramik, saat ini memerlukan biaya yang cukup mahal dalam pembuatannya, sulit di dapat dan kurang cocok digunakan di Indonesia yang bahan bakarnya masih ada yang mengandung Pb. Jenis Catalytic Converter ini dapat mengkonversi emisi gas buang (CO, HC dan NOx) cukup tinggi (80 - 90%) [19].

Oleh sebab itu penggunaan logam transisi yang mempunyai kelimpahan yang tinggi dan harga relatif murah dapat menjadi salah satu alternatif. Beberapa oksida logam transisi yang cukup aktif dalam mengoksidasi emisi gas CO antara lain : CuO, NiO dan Cr2O3. Beberapa bahan yang diketahui sebagai katalis oksidasi yaitu Platinum. Plutonium, nikel, Mangan,Chromium dan oksidanya dari logam-logam tersebut. Sedangkan beberapa logam diketahui sebagai katalis reduksi, yaitu besi, tembaga, nikel paduan dan oksida dari bahan-bahan tersebut [13].

Disamping itu beberapa logam yang diketahui efektif sebagai bahan katalis oksida dan reduksi mulai dari yang besar sampai yang kecil adalah Pt, Pd, Ru > Mn, Cu > > Ni > Fe > Cr > Zn dan oksida dari logam-logam tersebut [5]. Penelitian yang dilakukan oleh Dwyer dengan menggunakan skala laboratorium menunjukkan bahwa aktifitas Catalytic Copper Chromite yang merupakan campuran antara CuO dengan Cr2O3 lebih baik daripada campuran tunggalnya dalam mengosidasi CO. Disamping itu masih ada logam katalis yang lebih murah, mudah dikerjakan dan mudah didapat untuk dijadikan catalityc converter antara lain : CuO/zeolite alam, Cu-Al2O3, Cu, Mn, Mg danZeolit Alam, Catalytic Converter jenis ini mampu mengurangi emisi gas buang (CO, HC,Nox) cukup tinggi antara 16% sampai 80%.

Mengingat bahaya emisi gas buang tersebut, maka perlu usaha-usaha untuk mengendalikan dan mengurangi pencemaran udara agar dampak negatif bagi manuisa dapat dikurangi dan diminimalkan.

Salah satu teknologi rekayasa untuk mengurangi emisi gas buang yang berbahaya adalah dengan melakukan pemasangan Catalytic Converter pada system pembuangan gas kendaraan bermotor yang bertujuan mampu menurunkan kadar gas buang HC, CO dan NOx. Hal ini menjadikan tembaga sebagai salah satu alternatif pengganti logam mulia dalam katalis.

Dari hasil penelaahan  tersebut penulis dapat membuat suatu catalytic converter dengan bahan tembaga berbentuk sarang lebah untuk mengurangi emisi gas buang yang mempunyai kelebihan material mudah di dapatkan, harganya relatif murah dan proses pembuatanya yang mudah.

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui perubahan kadar Emisi antara kendaraan bermotor yang menggunakan Catalytic Converter berbahan tembaga dan tanpa menggunakan Catalytic Converter.

 

 METODE PENELITIAN

 

1.     Desain Penelitian

Metode yang di pakai adalah metode experimental, untuk membandingkan hasil percobaan emisi gas buang sebelum melewati Catalytic Converter dan sesudah melewati Catalytic Converter berbahan tembaga.

 

2.     Proses persiapan

Proses persiapan yang dilakukan antara lain :

 

Desain Chasing Catalytic Converter

Perancangan chasing untuk katalis ini di sesuaikan dengan engine stand yang sudah ada, seperti: menyamakan iner diameter pipa saluran gas buang pada engine stand, menyamakan tebalnya plat sebagai rumah katalis supaya panas dapat tersalurkan secara merata.

 

 Gambar 1.  Dimensi Chasing Catalytic

 

Pembuatan Katalis

Plat tembaga di persiapkan dengan panjang tiap lembar 80 cm dengan lebar 40cm. Kemudian plat tembaga di marking dengan pensil dan penggaris sesuai ukuran yaitu panjang 80cm, lebarnya 10cm. Barulah di dapat potongan plat tembaga yang siap untuk di buat zig-zag (sirip-sirip).

 

 Gambar 2. Proses pembentukan sirip (zig-zag)

 

 

 Gambar 3. Proses pembentukan lingkaran

 

 

 Gambar 4. Proses pemasangan sirip katalis

 

 Gambar 5. Katalis yang sudah jadi dan siap untuk di uji

 

 

3.     Pelaksanaan Pengujian

     a.     Persiapan Pengujian

Alat Ukur

Alat ukur emisi gas buang yang digunakan adalah Gas Analyser Ultra 4/5 Gas Analyzer Type IM 2400 dengan spesifikasi :

·      Pengukuran kadar O2   : 0-25 % Vol

·      Pengukuran kadar CO   : 0-9.99 % Vol

·      Pengukuran kadar CO2: 0-19.9 % Vol

·      Pengukuran kadar HC   : 0 - 9999 ppm (part per million)

·      NOx                                : 0

 

 

 Gambar 6. Gas Analyzer Ultra (Lab. Ototronik VEDC malang)

 

Engine

Spesifikasi Engine Stand:

Toyota Avanza 1.300 cc

Engine                                 : 4 silider, 16 katup DOHC

System bahan bakar           : EFI (Electric Fule Injection)

Diameter x langkah             : 72.0 mm x 79.7 mm

Volume  Silinder                  : 1.289 cc

 

     

Gambar 7.  Engine Stand Toyota Avanza tahun 2005

 

b.     Prosedur Pengujian

Engine di tune-up dengan membersihkan filter udara, mengganti oli mesin dengan yang baru dan mengganti busi baru yang standart supaya hasil pengujian optimal.

Pemanasan mesin selama 10 menit yang bertujuan untuk mempersiapkan mesin pada kondisi kerja.

 

Pengujian tanpa Catalytic Converter.

Pengukuran ini memiliki tujuan untuk mengetahui jumlah emisi gas buang yang di cetak oleh gas analyzer. Data yang didapatkan dalam proses pengukuran ini di gunakan sebagai pembanding dengan data dari pengukuran dengan mengunakan Catalytic Converter. Langkahnya sebagai berikut:

·      Mesin dalam keadaan menyala dalam kondisi idel 1.000  rpm.

·      Masukan porbe sensor kedalam kenalpot sedalam 250 mm dan tunggu 10 menit.

·      Pasang alat ukur temperatur pada badan knalpot kemudian lihat hasilnya.

·    Setelah mengambil data dari alat ukur temperatur secara bersamaan maka mulailah mengambil data pada monitor gas analyzer dengan cara mencatat data pada kertas yang di sediakan.

·    Kemudian langkah yang sama di lakukan kembali dengan putaran mesin yang berbeda yaitu: 1000 rpm, 2000 rpm, 2500 rpm, dan 3500 rpm. Setelah langkah tersebut selesai maka pengukuran emisi gas buang tanpa katalis telah selesai.

 

 Gambar  8.  Pengujian Tanpa Menggunakan Catalytic Converter

 

Pengujian dengan Catalytic Converter.

Setelah pengukuran pertama selesai maka pengukuran kedua dilakukan seperti berikut:

·   Setelah mesin di matikan dan sudah dalam keadaan temperatur mesin tidak panas, langkah awal mulai untuk melepaskan cover chasing katalis dengan membuka screw pengunci, kemudian masukan Catalytic Converter ke dalam chasing setelah itu di tutup oleh cover dan kunci dengan screw. Pastikan sambungan dalam kondisi rapat dan tidak ada kebocoran.

·   Setelah unit Catalytic Converter sudah terpasang dengan benar, mesin dihidupkan kembali lalu pengukuran di ulangi kembali sesuai pengukuran yang pertama.

·   Pengukuran di lakukan berbagai variasi putaran seperti pada pengujian pertama

 

 Gambar  9.  pengujian dengan menggunakan Catalytic Converter

 
 

c.     Prosedur Pengambilan Data

Data di ambil dari nominal angka yang tertera pada monitor Gas Analyzer, dengan cara mencatat secara langsung tiap variabel yang di ukur, bersamaan dengan pengambilan data temperatur (°C) chasing katalis. Diantara gas analisis yang tertera adalah HC, CO, CO2, O2dan lamda.

 

d.     Analisa Data

Data yang diperoleh akan di analisa secara Deskriptif dengan melihat melalui tampilan grafik-grafik yang ada untuk mengetahui seberapa berarti pengaruh variasi – variasi yang di lakukan dalam penelitian ini terhadap emisi gas buang HC dan CO.

 

e.     Tempat Penelitian

Pengujian dilakukan di Laboratorium Autotronik Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Otomotif dan Elektronika – VEDC,  Malang.

 

f.       SkemaPengujian.

 

 Gambar 10. Skema pengujian Emisi Gas Buang

 

HASIL PENELITIAN

AnalisaEmisi Gas BuangHidrocarbon (HC)

Hidrokarbon yang dihasilkan oleh sisa pembakaran berasal dari bahan bakar yang tidak habis terbakar.Penyebab timbulnya HC antara lain rasio (perbandingan) udara dan bahan bakar kurang tepat dan lenyapnya panas pada dinding ruang bakar sehingga menyebabkan campuran bahan bakar dan udara sulit terbakar dengan berkurangnya temperatur.

Dengan pemasangan Catalytic Converter pada saluran gas buang diharapkan konsentrasinya menurun, karena pengaruh Hidrokarbon pada manusia sangat mengganggu serta bisa menyebabkan menurunya daya penglihatan (asap). Jika kondisi tersebut berlangsung pada waktu yang lama maka akan mengakibatkan kerusakan pada syaraf.

 

 Gambar 11.  Grafik hubunganantara Emisi HC denganVariabelputaran

 

Penggunaan bahan katalis sebagai Catalytic Converter dapat mengurangi HC yang dikeluarkan dari knalpot. Dengan melihat grafik diatas menujukan bahwa emisi HC secara keseluruhan mengalami penurunan konsentrasi pada setiap variasi putaran yang terbukti bahwa pemasangan Catalytic Converter pada saluran gas buang dapat menurunkan kadar Hidrokarbon yang dihasilkan oleh motor bakar. Adapun proses oksidasi yang terjadi dalam knalpot adalah:

             CH  +  C2 → H2O + CO2

 
 AnalisaEmisi Gas BuangCarbon Monoksida (CO)

Polutan emisi gas CO yang di keluarkan oleh motor bakar di hasilkan dari proses pembakaran yang kurang sempurna, untuk campuran kaya konsentrasi CO pada gas buang akan meningkat sedangkan untuk campuran miskin konsentrasi CO pada gas buang akan menurun. Polutan CO mempunyai sifat yang tidak berwarna, tidak berbau dan beracun, bila terhirup manusia dalam paparan jam dapat menyebabkan kematian. Dengan pemasangan katalis berbahan tembaga sebagai Catalytic Converter diharapkan mampu mengurangi kandungan zat yang bersifat toksin.

 

 Gambar 12.  Grafik hubunganantaraEmisi CO dengan Variable putaran

 

   Dari gambar 12 menunjukan bahwa emisi CO secara keseluruhan mengalami penurunan konsentrasi pada setiap variasi putaran. Penurunan tersebut akibat dari pemasangan Catalytic Converter. Dari gambar di atas terlihat bahwa penurunan emisi CO terbesar adalah pada Catalytic Converter Double (dualapisan), Hal tersebut disebabkan kadar dan luasan penampang tembaga lebih besar yang mampu mengoksidasi emisi CO lebih besar. Sesuai gambar 12 diatas ditemukan data grafik yang menunjukan naik turunya prosentasi emisi CO itu disebabkan oleh kurang homogennya campuran bahan bakar dan udara yang di gunakan untuk proses pembakaran. Adapun proses oksidasi yang terjadi dalam knalpot adalah :

             2CO + O2 → 2CO2

 

Analisa Emisi Gas buang Carbon Dioksida(CO2)

Emisi CO2 yang dikeluarkan oleh motor bakar dihasilkan dari proses pembakaran yang kurang sempurna. Untuk campuran kaya konsentrasi CO2 ­pada gas buang akan meningkat sedangkan untuk campuran miskin konsentrasi CO2 pada gas buang sangat kecil. Polutan CO2 mempunyai sifat tidak berwarna, tidak berbau dan beracun, bila terhirup oleh manusia untuk paparan 8 jam dapat menyebabkan kematian. Dengan pemasangan katalis tembaga sebagai Catalytic Converter dapat dilihat pada gambar 13 bahwa bahan katalis tembaga dapat menekan kadar polutan (emisi CO2) yang keluar darik nalpot, terliahat dari grafik perbandingan dengan kondisi tanpa adanya Catalytic Converter (sebelum memasuki Catalytic Converter).

 

 Gambar  13.  Grafik hubunganantaraEmisi CO2dengan Variable putaran

 

Secara umum dapat dilihat dari gambar 4.3 bahwa pengaruh tembaga terhadap emisi CO2 dapat mengoksidasi dengan baik, hal ini disebabkan karena tembaga meningkatkan luas permukaan katalis yang mendukung. Untuk menjadi katalis yang dapat mengoksidasi CO menjadi CO2 dengan baik, sehingga emisi gas buang yang keluar dari knalpot lebih rendah dari pada sebelum memasuki Catalytic Converter.

 

AnalisaEmisi Gas Oksigen(O2)

Konsentrasi dari oksigen di gas buang kendaraan berbanding terbalik dengan konsentasi CO2. Untuk mendapatkan proses pembakaran yang sempurna, maka kadar oksigen harus mencukupi untuk setiap molekul Hidrokarbon. Untuk mengurangi HC, maka dibutuhkan sedikit tambahan udara atau Oksigen untuk memastikan bahwa semua molekul bensin dapat bertemu dengan molekul Oksigen untuk bereaksi sempurna.

 

 Gambar  14. Grafik hubunganantaraEmisi O2dengan Variabel putaran

 

Menurut data penelitian sebelumnya, Catalytic Converter dengan material tembaga dan kuningan prosentase O2 pada variasi katalis 12 keping sel lebih tinggi dibandingkan dengan katalis 6 keping sel.

Akan tetapi menurut reaksi reduksi, katalisakan mengabsorpsi menyimpan atom nitrogen dan membebaskan oksigen dalam bentuk gas oksigen. Atom nitrogen yang tersimpan akan bereaks idengan atom nitrogen lainya. Berikut ini reaksinya

 ReduksiNOx            :

 2NO+2CO                N2+  2CO2

 

Analisa kada rprosentase penurunan emisi gas buang pada katalis

 

Ø Emisigas Buang tanpa Catalytic Converter

 Tabel  1.   Emisi Gas Buang tanpa Catalytic Converter

 

Ø EmisiGas Buang dengan Catalytic Converter

 Tabel 2.  Emisi Gas Buang dengan Catalytic Converter

 

 

 
 

KESIMPULAN

Dari eksperimen, analisa dan diskusi dapat ditarik beberapa kesimpulan tentang pengaruh pemasangan Catalytic Converter pada saluran gas buang dengan menggunakan bahan Tembaga (Cu) sebagai berikut:

1.  Penggunaan plat tembaga bermodel sarang lebah mempunyai hasil yang lebih baik dibandingkan tanpa menggunakan katalis. Ditinjau dari emisi berikut :

-    Emisi gas HC mengalami penurunan yang cukup baik dengan menunjukan prosentase penurunan sebesar 23.449 %, di bandingkan tanpa adanya katalis.

 - Emisi gas CO mengalami penurunan yang sangat baik dengan menunjukan prosentase penurunan sebesar 32.284 %, dibandingkan tanpa adanya katalis.

 

2.  Setelah melakukan penelitian dengan penggunaan Catalytic Converter (plat tembaga bermodel sarang lebah) dengan perbedaan tingkatan pada saluran gas buang, hasil yang didapat mampu menetralisir emsi gas buang HC dan CO dengan prosentase penurunan yang cukup baik.

 

SARAN

 1.  Untuk selanjutnya membentuk katalis model sarang lebah dapat di bentuk dengan lebih rapi dan lebih rapat lagi celah antara sirip-siripnya, hal ini menyebabkan meningkatnya efisiensi reduksi dan mengoksidasi gas buang.

 

2.  Model katalis (sarang lebah) yang sama tetapi dengan material berbeda untuk penelitan selanjutnya.

 

 DAFTAR PUSTAKA

 [1]  Aryanto A, Razif M, 2000, study penggunaan tembaga (Cu) sebagai Catalytic Converter pada knalpot sepeda motor dua tak terhadap emisi gas CO (jurnal), Teknik Lingkungan, ITS.

[2]  Badan Pengendalian Dampak lingkungan (2002), Sumber Dan Standart Emisi Gas Buang.

[3]  Chusnul. M 2005, Study Penggunaan Katalis CuO/yAL203 sebagai Catalytic Converter Untuk Mereduksi Emisi CO, ITS, Surabaya.

[4]  Dirjen perhubungan darat, 2000, program langit biru dan konservasi energi (jurnal).

[5]  Dowden D.A., atall, 1970, Catalytic Hand Book, Verlag New York, Inc

[6]  Edward F. Obret. 1973. Unternal Combution Engine And Air Polution. Harper & Row. Publisher. New York.

[7]  Heinz Heisler , 1995, advanced technology hodder headline group, London.

[8]  Heisler H., 1995, Advanced Engine Tecnology Hodder Headline Group, London.

[9]  Intisari, 1999, upaya mengurangi emisi gas buang kendaraan bermotor (jurnal).

[10]  Irawan, Bagus, Subri Muhammad. 2005. Unjuk Kemampuan Catalytic Converter Dengan Katalis Kuningan Untuk Mereduksi Gas Hydrocarbon Motor Bensin. Laporan Penelitian. UNIMUS

[11]  Irawan B. , 2003, Rancang Bangun Catalytric Converter dengan Material Substrat Tembaga (Cu) untuk Mereduksi Emisi Gas CO, Tesis MIL UNDIP

[12]  Irawan RM Bagus. 2006. Pengaruh katalis Tembaga Dan Crom Terhadap Emisi Gas Carbonmonoksida Dan Hidrokarbon Pada Kendaraan Motor Bensin. Laporan Penelitian. UNIMUS.

[13]  Obert. Erdward F. , 1973, Internal Combustion Engine and Air Pollution, Third Edition. Harper & Row, Publisher, Inc, New York

[14]   PPPPTK, VEDC 2012, Laboratorium Ototronik

[15]   Springer – Verlag New York Inc, 1970, catalyst hand book. Walfe Scintific Book, London – England

[16]  Swisscontact, 2003, Clean Air Project. Jakarta

[17]   Toyota Training Center, 2000, Emission Control Step Two.

[18]   V.A.W Heller, 1995, Fundamental Motor Vehicle Technology, edisi ke-4, FIMI Stanley Thone (publisehers) Ltd.

[19] Warju, 2006, Pengaruh Penggunaan Catalytic Concerter Tembaga berlapis Mangan Terhadap Kadar Polutan Motor Bensin Empat Langkah. Institut Teknologi Surabaya

[20]  Wisnu Arya Wardhana :"Dampak Pencemaran Lingkungan", ISBN 979-533-251-1, Andi Offset, Yogyakarta, 1995.

(http://www.howcatalyticconverter.html)

(http://www.nextgreencar.com/caremissions.php)

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG