ANTI LOCK BREAKE-SYSTEM (ABS ) PADA KENDARAAN

Print
Category: Ototronik
Last Updated on Tuesday, 21 April 2015 Published Date Written by mtoyibu

Anti Lock Breake-System (ABS ) Pada Kendaraan
Drs. Moch Toyibu, MT.  (Widyaiswara Departemen Ototronik PPPPTK BOE Malang)

toyibu.g61@gmail.com


ABSTRAK

Pada kendaraan dengan system rem konvensional dimana gaya pengereman didapatkan dari besarnya gaya injakan kaki yang teruskan oleh system hdraulis rem ke unit mekanisme rem  maka akan diperoleh unjuk kerja dalam bentuk perlambatan kendaraan yang besarnya sangat tergantung oleh tekanan hidraulis, gaya gesek mekanisme rem dan traksi roda.

Unjuk kerja pengereman akan memperoleh secara optimal jika memenuhi syarat tidak terjadi slip, laju kendaraan stabil dan sifat kendali baik. Dalam kenyataannya di perjalanan terutama saat traksi kecil dan pengereman panik maka akan terjadi besarnya pengereman lebih besar dari traksi sehingga terjadi lock-brake yang mengakibatkan perlambatan kecil dan sifat kendali sangat kecil.

Dalam artikel ini ditunjukkan bagaimana terjadi lock-brake (slip) dan ABS (Anti-lock Brake System) dipasang pada kendaraan sehingga dapat mencegah terkuncinya roda (Lock-brake)

 Kata Kunci :Slip, Lock-Brake, ABS (Anti-lock Brake System)

 

A. Pengertian ABS

 Anti Lock-Breake System (ABS)Pada Kendaraan adalah suatu sistem yang merupakan pengembangan dari sistem rem pada kendaraan dimana dengan pemasangan sensor putaran roda maka dapat diketahui apakah roda terjadi slip akibat perlambatan (Lock-Brake) dan kelengkapan lain dipasang juga  unit aktuator serta elektronic control unit (ECU), sehingga sensor dapat memberikan sinyal ke ECU untuk diolah sedemikian rupa dan menghasilkan sinyal output ke aktuator guna mengkondisikan roda tidak terjadi slip selama pengereman pada semua kondisi permukaan jalan (kering - licin).

Keterangan :

 1.      Unit hidraulis

 2.      Sensor putaran roda

 3.      Kontrol unit ABS

 4.      Silinder master

 5.      Kaliper

 6.      Lampu kontrol ABS

 

B. Mengapa Lock breake ?

Lock breake adalah suatu kejadian/keadaan pada saat pengereman berlangsung roda berhenti berputar sedangkan kendaraan masih memiliki kecepatan. Keadaan seperti ini terjadi dikarenakan gaya pengereman lebih besar dari pada besarnya traksi ban, semakin kecil traksi semakin mudah terjadi lock-breake seperti ditunjukkan dengan ilustrasi pada gambar berikut untuk menjelaskannya.

 

Gaya pengereman ”FR didapatkan dari proses gesekan antara permukaan tromol dan kanvas rem yang besarnya tergantung dari koefisien gesek antra kanvas rem dengan tromol (µR) dan gaya normal yang bekerja pada sepatu/kanvas (N) :

 

 

 

 Traksi ban ”FTdidapatkan dari proses gesekan antara permkaan jalan dan permukaan ban yang besarnya tergantung dari koefisien gesek antara ban dengan permukaan jalan (µJ) dan berat kendaraan (W) :

 

 

 

Terjadi lock-breake jika

 

 

 

Semakin kecil ”µJ” maka semakin kecil traksinya yang mengakibatkan dengan gaya pengereman yang kecil saja terjadi lock-breake (slip pengereman), pada keadaan demikian laju kendaraan tidak stabil saat pengereman (yawing) dan jarak pengereman bertambah jauh.

 

Untuk memperbaiki keadaan tersebut agar gaya rem tidak lebih besar dari traksi sehingga tidak terjadi lock-breake (slip) dan laju kendaraan tetap stabil walaupun kondisi permukaan jalan licin sekalipun, maka dikembangkan teknologi ABS unuk mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan (slip) selama proses pengereman berlangsung.


C. Tujuan ABS

Sistem rem kendaraan dilengkapi dengan ABS untuk  memperbaiki kinerja sistem rem antara lain :

  1. Kemampuan pengendalian stir baik saat pengereman penuh.
  2. Stabilitas kendaraan tetap baik saat pengereman pada semua kondisi jalan.
  3. Jarak pengereman sekecil mungkin dapat tercapai.

 

 D. Komponen ABS dan fungsinya

Komponen ABS terdiri dari Sensor putaran roda, Kontrol Unit ABS dan Unit Aktuator  yang memiliki  fungsi masing-masing  sehingga sistem dapat bekerja sesuai dengan tujuan  yang akan dicapai :

1. Sensor putaran, membangkitkan sinyal listrik de-ngan menginduksikan arus bolak balik berdasarkan putaran roda.

2. Kontrol unit ABS,  menerima sinyal dari sensor dan selanjutnya :

  • Menghitung percepatan / perlam-batan roda, menghitung besaran slip dan menentukan kecepatan reverensi kendaraan.
  • Menetapkan sinyal listrik untuk mengendalikan katup regulator tekanan.
  • Rangkaian keamanan memeriksa fungsi dari sinyal in put sebelum dan selama katup regulator tekanan bekerja sehingga fungsi ABS berhenti dan lampu menyala.

3. Unit hidraulis, menerima sinyal action dari kontrol unit ABS untuk melakukan regulasi tekanan rem umum nya pada tiga posisi kerja di setiap roda :

  • Mempertahankan tekanan pada silinder roda.
  • Menurunkan tekanan pada silinder roda walaupun pedal rem tetap diinjak.
  • Menaikkan tekanan pada silinder roda.

 

E. Siklus kerja ABS

Proses pengaturan dalam sistem anti blokir (ABS) merupakan rangkaian proses tertutup yang berlangsung berulang-ulang :.

 

 

        1. Tekanan dari silinder (1), mengalir melalui katup elektro magnetis (2) ke kaliper (3).
        2. Sensor putaran roda (4) mengukur putaran dan mengirim sinyal putaran tersebut ke kontrol
             unit ABS (5).

3. Kontrol unit ABS (5) mengolah sinyal putaran dan menetapkan sinyal out put dan mengirim  ke katup elektro magnetis (2).

4. Katup elektro magnetis (2) ber dasarkan sinyal out put dari kontrol unit mengatur tekanan  rem dari silinder master ke kaliper sesuai dengan kebutuhan (menaikkan, menahan dan menurunkan tekanan).

 

 

 

Daftar Pustaka :

1.    ………,. Automotive Handbook, Robert Bosch Gmbh, Stuttgart. 2000

2.    ……… ,  Bremsenlagen fur Kraftfahrzeuge, BOSCH 1994.

3.    Drs. Moch Toyibu MT, Modul Pelatihan Sistem Rem Dengan ABS/ASR/ESP, Departemen Ototronik PPPPTK BOE - VEDC Malang. 2012.

 

 

 

 

 

 

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG