Berita

METODE PENGAWETAN KAYU

Print
Category: Bangunan
Created on Wednesday, 17 July 2013 Last Updated on Thursday, 10 October 2013 Published Date Written by Hartiyono

Hartiyono (Widyaiswara Madya Departemen Bangunan PPPPTK BOE / VEDC Malang)

ABSTRAK
Keawetan kayu berhubungan erat dengan pemakaiannya. Kayu dikatakan awet bila mempunyai umur pakai lama. Kayu berumur pakai lama bila mampu menahan bermacam-macam factor perusak kayu. Dengan kata lain: keawetan kayu ialah daya tahan suatu jenis kayu terhadap factor-faktor perusak yang datang dari luar tubuh kayu itu sendiri. Kayu diselidiki keawetannya pada bagian kayu terasnya, sedangkan kayu gubalnya kurang diperhatikan. Pemakaian kayu menentukan pula umur keawetannya. Kayu, yang awet dipakai dalam konstruksi atap, belum pasti dapat bertahan lama bila digunakan di laut, ataupun tempat lain yang berhubungan langsung dengan tanah. Demikian pula kayu yang dianggap awet bila dipakai di Indonesia. Serangga perusak kayu juga berpengaruh besar. Kayu yang mampu menahan serangga rayap tanah, belum tentu mampu menahan serangan bubuk. Oleh karena itu tiap-tiap jenis kayu mempunyai keawetan yang berbeda pula. Misalnya keawetan kayu meranti tidak akan sama dengan keawetan kayu jati. Ada kalanya pada satu jenis kayu terdapat keawetan yang berbeda, disebabkan oleh perbedaan ekologi tumbuh dari pohon tersebut.


A.  Latar  Belakang
Kayu telah menjadi bagian dari kehidupan manusia, karena kayu telah banyak digunakan sebagai alat perlengkapan sehari – hari mengingat karasteristik khas kayu khas yang tidak jumpai pada bahan lain, yaitu tersedia hampir diseluruh dunia, penampilan sangat dekoratif dan alami, mudah diperoleh dalam berbagai bentuk dan ukuran, relatif mudah dalam pengerjaan, serta ringan.Disisi lain, dari sekitar 4000 jenis kayu Indinesia sebagian besar (80 – 85%) berkelas awet rendah (III,  IV,  dan  V) dan hanya sedikit yang berkelas awet tinggi. Kayu tidak awet memiliki kelemahan antara dapat dirusak atau dilapuk oleh organisme perusak kayu, akibatnya umur kayu menjadi menurun.Padahal nilai jenis suatu kayu untuk keperluan bagunan kerumahan perangkat interior sangat ditentukan oleh keawetanya. Karena bagaimanapun kuatnya kayu tersebut penggunaannya tidak akan berarti jika umur pakainya pendek.
Fenomena inilah yang mendorong upaya untuk melakukan pengawetan kayu, diantaranya dengan melapisi kayu menggunakan bahan beracun sehingga kayu tidak terserang oleh organisme perusak tidak menimbulkan masalah secara teknis namun juga secara ekonomis.Selain itu kerusakan kayu oleh organisme perusak mengakibatkan komponen bangunan harus diganti.
Demikian pula kayu yang dianggap awet bila dipakai di Indonesia. Serangga perusak kayu juga berpengaruh besar. Kayu yang mampu menahan serangga rayap tanah, belum tentu mampu menahan serangan bubuk. Oleh karena itu tiap-tiap jenis kayu mempunyai keawetan yang berbeda pula. Misalnya keawetan kayu meranti tidak akan sama dengan keawetan kayu jati. Ada kalanya pada satu jenis kayu terdapat keawetan yang berbeda, disebabkan oleh perbedaan ekologi tumbuh dari pohon tersebut.

B. Tujuan 
Metode Pengawetan Kayu bertujuan untuk:
1.    Mengetahui cara pengawetan kayu
2.    Mengetahui proses pengawetan kayu.
3.  Memanfaatkan pemakaian jenis-jenis kayu yang keawetannya rendah.

C. Prinsip prinsip metode pengawetan kayu
Untuk pengawetan yang baik perlu diperhatikan prinsip prinsip di bawah ini:
1. Pengawetan kayu harus merata pada seluruh bidang kayu.
2. Penetrasi dan retensi bahan pengawet diusahakan masuk sedalam dan sebanyak mungkin di  dalam kayu.
3. Dalam pengawetan kayu bahan pengawet harus tahan terhadap pelunturan (faktor bahan pengawetnya).
4. Faktor waktu yang digunakan.
5. Metode pengawetan yang digunakan.
6. Faktor kayu sebelum diawetkan, meliputi jenis kayu, kadar air kayu, zat ekstraktif yang dikandung oleh kayu serta sifat-sifat lainnya.
7. Faktor perlatan yang dipakai serta manusia yang melaksanakannya.

 D. Jenis pengawetan kayu.
1. Pengawetan remanen atau sementara (prophylactis treatment) bertujuan menghindari serangan perusak kayu pada kayu basah (baru ditebang) antara lain blue stain, bubuk kayu basah dan serangga lainnya. Bahan pengawet yang dipakai antara lain NaPCP (Natrium Penthaclor Phenol), Gammexane, Borax, baik untuk dolok maupun kayu gergajian basah.

2. Pengawetan permanent bertujuan menahan semua faktor perusak kayu dalam waktu selama mungkin. Yang perlu diperhatikan dalam pengawetan, kayu tidak boleh diproses lagi (diketam ataupun digergaji, dibor, dan lain-lain), sehingga terbukanya permukaan kayu yang sudah diawetkan. Bila terpaksa harus diolah, maka bekas pemotongan harus diberi bahan pengawet lagi. Adapun bahan pengawet yang dapat dipakai untuk pengawetan remanen (sementara). Pengawetan remanen umumnya hanya menggunakan metode pelaburan dan penyemprotan, sedangkan pengawetan tetap dapat menggunakan semua metode, tergantung bahan pengawet yang dipakai serta penetrasi dan retensi yang diinginkan. Sehingga pengawetan dapat lebih efektif dan waktu pemakaiannya dapat selama mungkin.
Ada 2 macam metode pengawetan yang pokok:
 1. Pengawetan metode sederhana :
   1.1 Metode Rendaman
Kayu direndam di dalam bak larutan bahan pengawet yang telah ditentukan konsentrasi (kepekatan) bahan pengawet dan larutannya, selama beberapa jam atau beberapa hari. Waktu pengawetan (rendaman) kayu harus seluruhnya terendam, jangan sampai ada yang terapung. Karena itu diberi beban pemberat dan sticker. Ada beberapa macam pelaksanaan rendaman, antara lain rendaman dingin, rendaman panas, dan rendaman panas dan rendaman dingin. Cara rendaman dingin dapat dilakukan dengan bak dari beton, kayu atau logam anti karat. Sedangkan cara rendaman panas atau rendaman panas dan dingin lazim dilakukan dalam bak dari logam.
Bila jumlah kayu yang akan diawetkan cukup banyak, perlu disediakan dua bak rendaman (satu bak untuk merendam dan bak kedua untuk membuat larutan bahan pengawet, kemudian diberi saluran penghubung). Setelah kayu siap dengan beban pemberat dan lain-lain, maka bahan pengawet dialirkan ke bak berisi kayu tersebut. Cara rendaman panas dan dingin lebih baik dari cara rendaman panas atau rendaman dingin saja. Penetrasi dan retensi bahan pengawet lebih dalam dan banyak masuk ke dalam kayu. Larutan bahan pengawet berupa garam akan memberikan hasil lebih baik daripada bahan pengawet larut minyak atau berupa minyak, karena proses difusi. Kayu yang diawetkan dengan cara ini dapat digunakan untuk bangunan di bawah atap dengan penyerang perusak kayunya tidak hebat.

Kelebihan :
a. Penetrasi dan retensi bahan pengawet lebih banyak
b. Kayu dalam jumlah banyak dapat diawetkan bersama
c. Larutan dapat digunakan berulang kali (dengan menambah konsentrasi bila berkurang)

Kekurangan:
a. Waktu agak lama, terlebih dengan rendaman dingin
b. Peralatan mudah terkena karat
c. Pada proses panas, bila tidak hati - hati kayu bisa terbakar
d. Kayu basah agak sulit diawetkan

1.2 Metode Pencelupan
kayu dimasukkan ke dalam bak berisi larutan bahan pengawet dengan konsentrasi yang telah ditentukan, dengan waktu hanya beberapa menit bahkan detik. Kelemahan cara ini: penetrasi dan retensi bahan pengawet tidak memuaskan. Hanya melapisi permukaan kayu sangat tipis, tidak berbeda dengan cara penyemprotan dan pelaburan (pemolesan). Cara ini umumnya dilakukan di industri-industri penggergajian untuk mencegah serangan jamur blue stain. Bahan pengawet yang dipakai Natrium Penthachlorophenol. Hasil pengawetan ini akan lebih baik bila kayu yang akan diawetkan dalam keadaan kering dan bahan pengawetnya dipanaskan lebih dahulu.

Kelebihan :
a. Proses sangat cepat
b. Bahan pengawet dapat dipakai berulang kali (hemat)
c. Peralatan cukup sederhana


Kekurangan :
a. Penetrasi dan retensi kecil sekali, terlebih pada kayu basah
b. Mudah luntur, karena bahan pengawet melapisi permukaan kayu sangat tipis.

1.3  Metode Pemulasan
Cara pengawetan ini dapat dilakukan dengan alat yg sederhana. Bahan pengawet yang masuk dan diam di dalam kayu sangat tipis. Bila dalam kayu terdapat retak-retak, penembusan bahan pengawet tentu lebih dalam. Cara pengawetan ini hanya dipakai untuk maksud tertentu,yaitu:
a. Pengawetan sementara di daerah ekploatasi atau kayu-kayu gergajian untuk mencegah serangan jamur atau bubuk kayu basah.
b. Untuk membunuh serangga atau perusak kayu yang belum banyak dan belum merusak kayu (represif).
c. Untuk pengawetan kayu yang sudah terpasang. Cara pengawetan ini hanya dianjurkan bila serangan perusak kayu tempat kayu akan dipakai tidak hebat (ganas).

Kelebihan :
a. Alat sederhana, mudah penggunaannya
b. Biaya relatif murah

Kekurangan :
a. Penetrasi dan retensi bahan pengawet kecil
b . Mudah luntur

1.4 Metode Pembalutan
cara pengawetan ini khusus digunakan untuk mengawetkan tiang-tiang dengan menggunakan bahan pengawet bentuk cream (cairan) pekat, yang dilaburkan/diletakkan pada permukaan kayu yang masih basah. Selanjutnya dibalut sehingga terjadilah proses difusi secara perlahan-lahan ke dalam kayu.


Kelebihan :
a. Peralatan sederhana
b. Penetrasi lebih baik, hanya waktu agak lama
c. Digunakan untuk tiang-tiang kering ataupun basah

 Kekurangan :
a. Pemakaian bahan pengawet boros
b. Jumlah kayu yang diawetkan terbatas, waktu membalut lama
c. Membahayakan mahluk hidup sekitarnya (hewan dan tanaman)

 2. Pengawetan metode khusus :
Proses vakum dan tekanan (cara modern) :
Proses ini ada 2 macam menurut kerjanya :
2.1. Proses sel penuh antara lain :
•       Proses Bethel
•       Proses Burnett

2.2. Proses sel kosong antara lain :
•       Proses Rueping
•       Proses Lowry
Keduanya berbeda pada pelaksanaan permulaan. Proses Rueping langsung memasukkan bahan pengawet dengan tekanan sampai ± 4 atmosfer, kemudian dinaikkan sampai sekitar 7-8 atmosfer. Sedangkan pada proses lowry tidak digunakan tekanan awal, tapi tekanan langsung sampai 7 atmosfer. Beberapa jam kemudian tekanan dihentikan dan bahan pengawet dikeluarkan dan dilakukan vakum selama 10 menit untuk membersihkan permukaan kayu dari larutan bahan pengawet.

E.  Urutan Kerja Dalam Pengawetan
Ada dua macam urutan kerja pada proses pengawetan kayu :
1. Urutan kerja pada proses pengawetan sel penuh :
•     Kayu dimasukkan ke dalam tangki pengawet, tangki ditutup rapat agar jangan terjadi kebocoran.
•     Dilakukan pengisapan udara (vakum) dalam tangki sampai 60 cm/Hg, selama kira-kira 90 menit, agar udara dapat keluar dari dalam kayu.
•     Sambil vakum dipertahankan, larutan pengawet kayu dimasukkan ke dalam tangki pengawet hingga penuh.
•     Setelah penuh, proses vakum dihentikan kemudian diganti dengan proses tekanan sampai sekitar 8 – 15 atmosfer selama kurang lebih 2 jam.
•     Proses penekanan dihentikan dan bahan pengawet kayu dikeluarkan dari tangki kembali ke tangki persediaan.
•     Dilakukan vakum terakhir sampai 40 cm/Hg, selama 10 – 15 menit, dengan maksud untuk membersihkan permukaan kayu dari bahan pengawet.

2. Urutan kerja pada proses pengawetan sel kosong :
•     Kayu dimasukkan ke dalam tangki pengawet, tangki ditutup rapat.
•     Tanpa vakum, langsung pemberian tekanan udara sampai 4 atmosfer, selama 10 – 20 menit.
•     Sementara tekanan udara dipertahankan, larutan bahan pengawet dimasukkan ke dalam tangki pengawet hingga penuh.
•     Kemudian tekanan ditingkatkan sampai 7 – 8 atmosfer selama beberapa jam
•     Tekanan dihentikan dan bahan pengawet dikeluarkan.
•    Dilakukan vakum 60 cm/Hg, selama 10 menit untuk membersihkan permukaan kayu dari kelebihan bahan pengawet.
Perbedaan proses sel penuh dan sel kosong ialah sebagai berikut :
1. pada proses sel penuh bahan pengawet dapat mengisi seluruh lumen sel
2. sedangkan pada sel kosong hanya mengisi ruang antar sel.

Kelebihan :
a. Penetrasi dan retensi tinggi sekali (memuaskan)
b. Waktunya relatif singkat sekali
c. Dapat mengawetkan kayu basah dan kering
Kekurangan :
a. Modal yang diperlukan besar
b. Perlu ketelitian dan pengerjaan yang tinggi
c. Cara ini hanya sesuai untuk perusahaan yang komersial.

F.     Proses Akhir Pengawetan Kayu
Ada 3 hal yang perlu diperhatikan pada akhir proses pengawetan kayu :
1.    Pembongkaran kayu dari tumpukan dalam bak celup (rendaman) harus dilakukan dengan hati-hati, jangan sampai terjadi kerusakan kayu yang mengakibatkan tergoresnya permukaan yang telah terlapiskan bahan pengawet.
2.    Untuk pengeringan kayu setelah diawetkan, dapat digunakan pengeringan secara alami atau buatan. Hanya perlu diperhatikan, tidak semua bahan pengawet dapat dikeringkan secara pengeringan buatan (dry kiln). Sebab dengan pengeringan yang mendadak, bahan pengawet akan menguap dari dalam kayu, yang berarti pelunturan bahan pengawet. Biasanya bahan pengawet larut minyak dan berupa minyak mengijinkan pengeringan akhir dengan kiln. Setelah kayu benar-benar kering, penggunaan dapat dilakukan.
3.    Penyimpanan sementara sebelum kayu dipakai harus dilakukan di tempat terlindung dan terbuka bagi sirkulasi udara. caranya seperti penyusunan kayu gergajian dengan menggunakan sticker

G. Kesimpulan
Pengawetan kayu sudah sejak lama mendapat perhatian dari pemerintah terbukti dengan keluarnya berbagai peraturan, namun kesadaran masyarakat dalam hal ini masih rendah, dimana salah satu penyebabnya adalah kurangnya minat konsumen untuk memakai kayu awetan.
Pemakaian kayu yang diawetkan dapat menghemat pemakaian kayu sebesar 5,6 – 7,6  per tahun, atau setara dengan areal hutan seluas 38.000 – 51.000 Ha dengan potensi 150/ ha.
Upaya pengawetan kayu memeberikan keuntungan secara ekonomi.Disadari atau tidak munculnya ilmu pengawetan kayu merupakan suatu terobosan penting untuk menyelamatkan hutan dari eksploitasi tanpa henti dan menjadi solusi menipisnya hutan.


H. Referensi :
http://www.tentangkayu.com/2008/07/pengawetan-kayu.html
http://forum.kompas.com/properti/219044-cara-mengawetkan-kayu.html
http://www.ilmusipil.com/cara-pengawetan-kayu-bahan-bangunan
http://rizalarchie.blogspot.com/2013/03/metode-pengawetan-kayu.html
http://www.ilmutekniksipil.com/struktur-kayu/cara-pengawetan-kayu

Copyright 2017. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG